BAB II KAJIAN TEORI
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
2) Aspek Sintaksis a) Bentuk Kalimat
Bentuk kalimat berhubungan dengan berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat ini digunakan sebagai strategi untuk mengarahkan pandangan pembaca melalui makna yang terbentuk melalui sebuah satuan kalimat. Dalam
76
penelitian ini, bentuk kalimat yang menjadi fokus penelitian adalah bentuk kalimat aktif dan bentuk kalimat pasif. Berikut ini beberapa kutipan kalimat aktif dan kalimat pasif yang digunakan dalam wacana Esai tentang Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com.
Bentuk kalimat pada wacana KIKS banyak menggunakan kalimat aktif. Kalimat aktif umumnya digunakan agar seseorang menjadi objek dari tanggapannya. Dalam wacana KIKS kalimat banyak menempatkan subjek sebagai hal yang ingin ditonjolkan.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim menjadi subjek dalam Khilafah Silmi yang diwacanakan. Berikut merupakan kutipan beberapa bentuk kalimat dalam wacana KIKS.
Di bawah ini terdapat beberapa kalimat aktif yang digunakan oleh penulis dalam rangka upaya menempatkan subjek sebagai hal yang ingin ditonjolkan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim menjadi subjek dalam Khilafah Silmi yang diwacanakan. Terlihat dari data (13), penulis esai menyampaikan tentang konsep silmi yang menjadi tesis dari wacana tersebut.
(13)Konsep Silmi membukakan jalan agar seorang tukang jahit di pinggir jalan bisa diterima oleh Allah tanpa menjadi warga negara sebuah Negara Khilafah. (Paragraf 19 kalimat 1)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat aktif dengan frasa ‘konsep silmi’ menjadi subjek. Penulis dalam hal ini ingin menonjolkan frasa tersebut. Konsep silmi menekankan bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya, karena dengan berbagai macam manusia yang ada, salah satunya seperti yang dicontohkan oleh penulis yaitu tukang jahit, bisa diterima oleh Allah, seperti dituliskan dalam kutipan tersebut.
77
Selanjutnya dalam data (14), penulis menggunakan kalimat aktif untuk menjelaskan mengenai kemungkinan yang terjadi jika HTI mewujudkan cita-citanya.
(14)Kalau HTI hendak “mensurgakan” NKRI, saya tidak bisa menemukan jalan sejarahnya kecuali harus melakukan pengambil-alihan kekuasaan, revolusi total atau kudeta: membubarkan Parlemen dan Pemerintahan, mengganti Presiden dengan Khalifah, meredesain sistem pemerintahannya hingga pola pasarnya, kebudayaannya, dari BI hingga Bank Plecit. (Paragraf 12 kalimat 2)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menempatkan HTI sebagai subjek, yang menunjukkan bahwa HTI adalah hal yang ingin ditonjolkan. Kalimat tersebut bisa saja menggunakan kalimat pasif dengan NKRI sebagai subjeknya. Namun, penulis ingin menekankan bahwa HTI sebagai subjek jika ingin mewujudkan cita-citanya di NKRI, harus melalui proses pengambil-alihan kekuasaan dengan cara revolusi dan kudeta.
Selanjutnya dalam data (15), penulis menggunakan kalimat aktif untuk menjelaskan mengenai maksud dan tujuan HTI.
(15)Hizbut Tahrir tampaknya memaksudkan
“Udkhulu fil-Islami Kaffah”: membangun sistem Islam besar nasional dan global. (Paragraf 15 kalimat 1)
Jika dalam data sebelumnya penulis menempatkan HTI sebagai subjek terkait dengan proses pengambil-alihan kekuasaan, kalimat dalam data (15) ingin menonjolkan bahwa HTI sebagai subjek mempunyai maksud membangun sistem Islam besar nasional dan global. Ini menunjukkan penulis mengonfirmasi bahwa memang HTI memandang konsep Khilafah sebagai sistem ketatanegaraan.
78
Beberapa kutipan kalimat di atas merupakan kutipan kalimat aktif yang digunakan oleh penulis dalam wacana KIKS.
Kalimat aktif yang dibentuk dalam kutipan wacana di atas dapat dilihat dari predikat kalimat. Semua predikat kalimat terbentuk dari awalan me-. Kutipan kalimat aktif di atas memperlihatkan penulis lebih menonjolkan subjek.
Selain kalimat aktif, terdapat juga kalimat pasif yang digunakan. Kalimat pasif tersebut digunakan oleh penulis umumnya digunakan untuk menunjukkan bahwa HTI sebagai organisasi adalah korban dari pemerintah. Seperti halnya terlihat dalam data (16) di bawah ini.
(16)Katakanlah HTI dibubarkan oleh otoritas Negara, itu tidak berarti manusianya menjadi “stateless”, aktivisnya menjadi “persona non grata.” (Paragraf 1 kalimat 1)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada HTI sebagai korban.
Penggunaan kaimat pasif ini mendukung pendapat yang sebelumnya di bagian latar, bahwa Indonesia sebagai negara yang menganut asas demokrasi dalam menjalankan pemerintahan serta menjunjung tinggi kebebasan berpendapat setelah era reformasi, menurut penulis setiap orang atau kelompok berhak memperjuangkan keyakinannya.
Selanjutnya dalam data (17), penulis menggunakan kalimat pasif untuk menjelaskan mengenai contoh kasus kesulitan jika memang Khilafah sebagai sistem ketatanegaraan merupakan hal yang harus ditegakkan di Indonesia.
(17)Seorang Muslim tukang ojek, penjual jajan di perempatan jalan, petani di dusun atau sales dan Satpam, tidak bisa saya bayangkan akan ditagih oleh Allah hal-hal
79
mengenai Negara Islam dan Khilafah. (Paragraf 16 kalimat 1)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada seorang muslim yang menjadi contoh kasus, seperti tukang ojek, penjual jajan, petani, sales, dan satpam. Sebenarnya bisa saja penulis meletakkan subjeknya, Allah, di awal kalimat. Tetapi, penulis memang ingin menonjolkan bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya, karena dengan berbagai macam manusia yang ada.
Selanjutnya dalam data (18), penulis menggunakan kalimat pasif untuk menjelaskan mengenai konsep Khilafah Silmi.
(18)Setiap hamba Allah dilindungi oleh-Nya dengan
“la yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani manusia melebihi kadar kemampuannya).
(Paragraf 17 kalimat 1)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada hamba Allah yang berfungsi sebagai objek diletakkan di depan. Hal ini masih berkaitan dan sebenarnya juga mendukung data (17), bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya tidak harus didirikan. Hal itu karena manusia sebagai hamba Allah dibebani hanya sesuai dengan kemampuannya.
Selanjutnya dalam data (19), penulis menggunakan kalimat pasif untuk menjelaskan mengenai realitas keberagaman manusia.
(19)Seorang kuli pasar mungkin hanya akan ditanya beberapa hal: aqidahnya, hubungannya dengan Nabi dan Al-Qur`an, apakah ia mencuri harta orang, menghina
80
martabat sesama manusia, atau memisahkan nyawa dari jasad manusia. (Paragraf 17 kalimat 2)
Data (19) di atas masih berkaitan dengan data sebelumnya yaitu data (18) dan (19). Dalam data (19) penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada seorang muslim yang menjadi contoh kasus, seperti tukang kuli pasar.
Penulis ingin menonjolkan bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya, karena dengan berbagai macam manusia yang ada.
Konsep Khilafah Silmi dengan segala kemudahannya dapat dijadikan sebagai alternatif.
Beberapa kutipan kalimat di atas merupakan kutipan kalimat pasif yang digunakan oleh penulis dalam wacana Esai tentang Khilafah Karya Emha Ainun Najib di Caknun.com.
Kalimat pasif yang dibentuk dalam kutipan wacana di atas dapat dilihat dari predikat kalimat. Semua predikat kalimat terentuk dari awalan di-. Kutipan penggunaan kalimat pasif di atas memperlihatkan penulis lebih menonjolkan objek.
b) Kohesi (Gramatikal) (1) Pengacuan
Dalam sebuah wacana, mekanisme kohesi itu dapat dilihat dari penggunaan referensi. Referensi (pengacauan) merupakan salah satu bentuk kohesi gramatikal. Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain. Dalam wacana pengacuan anafora, pengacuan katafora, pengacuan katafora, pengacuan persona, pengacuan demonstratif, dan pengacuan komparatif.
(a) Anafora
81
Pengacuan anafora adalah pengacuan yang merujuk silang pada unsur yang disebutkan terdahulu. Berikut ini disajikan beberapa kutipan yang menyatakan pengacuan anafora.
Penggunaan anafora di bawah ini bertujuan mendukung adanya kesatuan gagasan tentang konsep Khilafah Silmi.
(20)Kalau HTI hendak “mensurgakan” NKRI, saya tidak bisa menemukan jalan sejarahnya kecuali harus melakukan pengambil-alihan kekuasaan, revolusi total atau kudeta: membubarkan Parlemen dan Pemerintahan, mengganti Presiden dengan Khalifah, meredesain sistem pemerintahannya hingga pola pasarnya, kebudayaannya, dari BI hingga Bank Plecit. (Paragraf 12 kalimat 2) Pengacuan anafora yang terdapat pada kutipan data (20), yaitu akhiran –nya pada kata ‘sejarahnya’. Dalam kalimat tersebut yang menjelaskan mengenai kemungkinan HTI jika ingin mewujudkan cita-citanya di NKRI, harus melalui proses pengambil-alihan kekuasaan dengan cara revolusi dan kudeta. Akhiran –nya dalam kata tersebut merujuk pada proses HTI hendak “mensurgakan” NKRI. Hal ini mendukung temuan data sebelumnya dalam aspek semantik rincian dan aspek sintaksis bentuk kalimat aktif.
(21)Katakanlah yang beliau-beliau lakukan adalah
“minadhdhulumati ilannur”, membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetapi momentum dan adegan-adegan pengambil-alihan kekuasaannya, saya tidak mampu mensimulasi kemungkinan bisa dihindarkannya dari konflik-konflik besar, bahkan dengan sesama Kaum Muslimin sendiri, sampai mungkin juga pertumpahan darah tidak kecil-kecilan seperti tawuran anak-anak Sekolah Unggul. (Paragraf 13 kalimat 1)
Pengacuan anafora yang terdapat pada kutipan data (21) yaitu anafora dalam bentuk persona yang terwujud dalam kata
‘beliau-beliau’. Penggunaan anafora persona merujuk pada orang-orang HTI yang sedang berupaya mewujudkan cita-cita
82
khilafahnya di Indonesia. Hal ini mendukung gagasan yang terdapat dalam data (6) pada analisis latar bahwa penulis esai masih berprasangka baik, bahwa jika HTI tujuannya adalah baik, dalam hal ini digambarkan oleh penulis dengan membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetap proses pengambil alihan kekuasaannya adalah hal buruk. Di sini terlihat bahwa penulis mulai konsisten dengan pemahaman Khilafah sebagai sistem ketatanegaraan. Ini menunjukkan kepaduan dengan data sebelumnya.
(22)Sangat meyakini kebenaran Islam dan gagah berani menerapkannya. (Paragraf 15 kalimat 2)
Pengacuan anafora yang terdapat pada kutipan data (22) yaitu anafora dengan akhiran –nya dalam kata ‘menerapkannya’.
Akhiran –nya pada kalimat itu mengacu kepada kebenaran Islam. Hal ini mendukung gagasan mengenai pemaknaan Udkhulu fil-Islami Kaffah oleh Hizbut Tahrir yang berarti membangun sistem Islam besar nasional dan global. Pengacuan anafora ini mendukung analisis data (15) dalam aspek sintaksis bentuk kalimat aktif.
(b) Katafora
Katafora adalah pengacuan yang merujuk silang pada unsur yang disebutkan kemudian. Berikut ini disajikan beberapa kutipan dari wacana KIKS.
(23)Memang demikianlah sejak didirikan 1953 oleh beliau Syaikh Taqiyudin An-Nabhani hingga dibawa ke Bogor dan Indonesia 1980-an oleh Syaikh Abdurahman Al-Baghdady. (Paragraf 10 kalimat 3) Pengacuan katafora yang terdapat pada kutipan data (23) yaitu kata beliau mengacu kepada nama Syaikh Taqiyudin An-Nabhani yang disebutkan setelahnya. Nama yang disebutkan tersebut adalah pendiri Hizbut Tahrir. Upaya penulis dalam hal
83
ini adalah ingin menekankan bahwa memang Khilafah yang dicita-citakan oleh kelompok Hizbut Tahrir adalah berkaitan dengan sistem ketatanegaraan. Dalam hal ini jelas untuk mengonfirmasi pada data (4) dan (5) aspek semantik latar.
(24)Seorang Ibu penjual jamu bisa masuk surga tanpa menunggu berhasilnya perjuangan Khilafah Dunia.
(Paragraf 19 kalimat 2)
Pengacuan katafora yang terdapat pada kutipan data (24) yaitu akhiran –nya dalam kata ‘berhasilnya’ yang disebutkan setelahnya. Akhiran –nya tersebut merujuk pada frasa
‘perjuangan khilafah dunia’. Upaya penulis dalam hal ini adalah ingin menekankan bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya, karena dengan berbagai macam manusia yang ada. Analisis ini untuk menguatkan analisis sebelumnya yang terdapat pada data (17), (18) dan (19) aspek sintaksis bentuk kalimat.
(c) Persona
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang.
Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga).
(i) Pronomina persona pertama
(25)Saya tidak perlu setuju atau tidak atas
‘ideologi’ Khilafah, karena itu adalah niscaya. (Paragraf 6 kalimat 1)
84
(26)Saya tidak punya kemungkinan lain kecuali menjadi (dijadikan) Khalifah di Bumi oleh Pencipta Bumi, alam semesta dan saya. (Paragraf 6 kalimat 2) Pengacuan persona yang terdapat pada kutipan data (25) dan (26) yaitu dalam bentuk persona pertama yang terwujud dalam kata ‘saya’. Kata saya merupakan pronomina persona yang mengacu pada diri sendiri (tunggal) yaitu penulis, yaitu Emha Ainun Najib. Hal ini mendukung gagasan yang terdapat dalam data (4) pada analisis semantik latar. Dalam paragraf tersebut penulis esai mempunyai pandangan bahwa Khilafah adalah keniscayaan. Namun pandangan tersebut bukan sebagai sistem kenegaraan. Hal itu terbukti dengan korelasi ‘kepastian’
yang dimaksud adalah bahwa setiap manusia yang diciptakan oleh Allah menjadi Khalifah. Berarti, tempat untuk dihuninya adalah Khilafah.
(ii) Pronomina persona kedua
Dalam wacana KIKS, tidak ditemukan pengacuan yang menggunakan pronomina persona kedua.
(iii) Pronomina persona ketiga
(27)Katakanlah yang beliau-beliau lakukan adalah “minadhdhulumati ilannur”, membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetapi momentum dan adegan-adegan pengambil-alihan kekuasaannya, saya tidak mampu mensimulasi kemungkinan bisa dihindarkannya dari konflik-konflik besar, bahkan dengan sesama Kaum Muslimin sendiri, sampai mungkin juga pertumpahan darah tidak kecil-kecilan seperti tawuran anak-anak Sekolah Unggul. (Paragraf 13 kalimat 1)
Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (27) yaitu pronomina dalam bentuk persona ketiga yang terwujud dalam kata ‘beliau-beliau’. Penggunaan persona tersebut merujuk pada orang-orang HTI yang sedang berupaya mewujudkan cita-cita
85
khilafahnya di Indonesia. Hal ini mendukung gagasan yang terdapat dalam data (6) pada analisis latar dan data (21) pada analisis anafora bahwa penulis esai mulai konsisten dengan pemahaman Khilafah yang dimaksud adalah sebagai sistem ketatanegaraan. Ini menunjukkan penguatan dengan data sebelumnya.
(28)Setiap hamba Allah dilindungi oleh-Nya dengan “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani manusia melebihi kadar kemampuannya. (Paragraf 17 kalimat 1)
Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (28) yaitu pronomina persona ketiga yang berwujud lekat kanan –nya dalam kata ‘kemampuannya’. Penggunaan lekat kanan tersebut merujuk pada manusia sebagai makhluk Allah. Analisis ini mendukung data (18) apspek sintaksis bentuk kalimat bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan dengan segala kerumitannya tidak harus didirikan.
Hal itu karena manusia sebagai hamba Allah dibebani hanya sesuai dengan kemampuannya.
(29)Seorang kuli pasar mungkin hanya akan ditanya beberapa hal:aqidahnya, hubungannya dengan Nabi dan Al-Qur`an, apakah ia mencuri harta orang, menghina martabat sesama manusia, atau memisahkan nyawa dari jasad manusia. (Paragraf 17 kalimat 2)
Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (29) yaitu pronomina persona ketiga yang berwujud lekat kanan –nya dan penggunakan pronomina ketiga tunggal ia. Penggunaan lekat kanan yang terdapat pada kata aqidahnya dan hubungannya tersebut merujuk pada contoh seorang kuli pasar sebagai realitas keragaman manusia di Indonesia. Penggunaan pronomina ketiga tunggal ia pun merujuk pada hal yang sama.
Hal ini mendukung data (18) dan (19) aspek sintaksis bentuk
86
kalimat bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan.
(30)Seseorang mungkin hanya hafal Al-Fatihah dan beberapa ayat pendek, pengetahuannya sangat awam terhadap tata nilai Islam. (3)Tetapi hidupnya sungguh-sungguh, kebergantungannya kepada Allah mendarah-daging. (4)Tidak pandai dan ‘alim, tapi kejujuran perilakunya ajeg. (5)Tidak canggih shalat dan bacaan Qur`annya, tapi santun, menyayangi manusia dan alam, tidak menyakit siapa-siapa dan tidak merusak apa-apa.
(Paragraf 18 kalimat 2)
Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (30) yaitu pronomina persona ketiga yang berwujud lekat kanan –nya dalam beberapa kata. Penggunaan lekat kanan tersebut merujuk seorang muslim. Analisis ini mendukung data (29) di atas bahwa dengan realitas keragaman manusia di Indonesia, Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan.
(d) Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini dan sekarang), lampau (seperti kemarin dan dulu), akan datang (seperti besok dan yang akan datang), dan waktu netral (seperti pagi dan siang). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (sini, ini), agak jauh dengan pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara (sana), dan menunjuk tempat secara eksplisit (Surakarta, Yogyakarta).
Dalam wacana KIKS terdapat pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Berikut
87
ini disajikan beberapa kutipan wacana yang menunjukkan pengacuan demonstratif yang digunakan.
(31)Memang demikianlah sejak didirikan 1953 oleh beliau Syaikh Taqiyudin An-Nabhani hingga dibawa ke Bogor dan Indonesia 1980-an oleh Syaikh Abdurahman Al-Baghdady. (Paragraf 10 kalimat 3) Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (31) yaitu demonstratif tempat (lokasional) eksplisit yaitu pada kata Bogor dan Indonesia dan demonstratif waktu (temporal) netral yaitu 1980-an. Penggunaan demonstratif tersebut menunjukkan penulis ingin menegaskan bahwa yang Hizbut Tahrir sebagai tentara pembebasan adalah memang HT yang pada tanhun 1980-an dibawa oleh Syaikh Taqiyudin An-Nabh1980-ani di Bogor, sehingga menjadi Hizbut Tahrir Indonesia. Hal ini mendukung data (23) aspek sintaksis pengacuan katafora bahwa Khilafah yang dicita-citakan oleh kelompok Hizbut Tahrir adalah berkaitan dengan sistem ketatanegaraan. Dalam hal ini jelas untuk mengonfirmasi pada data (4) dan (5) aspek semantik latar.
(e) Pengacuan Komparatif
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk atau wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya. Berikut ini disampaikan pengacuan komparatif yang digunakan dalam wacana KIKS untuk menciptakan kepaduan wacana.
(32)Organisasi hanyalah alat: pisau dapur untuk mengiris bawang, hanyalah payung untuk berlindung dari hujan, hanyalah kendaraan untuk mencapai suatu tujuan. (Paragraf 2 kalimat 3)
88
Pengacuan yang terdapat pada kutipan data (32) mengacu pada perbandingan persamaan antara organisasi dalam hal ini HTI dengan pisau dapur, payung, dan kendaraan. Dalam analisis sebelumnya yang terdapat dalam data (7) aspek semantik rincian, penulis ingin menyampaikan gagasan terkait HTI sebagai organisasi, bisa salah, sehingga diperbaki dengan pengetahuan dan ilmu. Jadi pemerintah tidak perlu membubarkan organisasi tersebut.
(33)Tingkat dan pola kepatuhan mereka kepada Syariat Allah seperti pohon, mengalirnya air, berhembusnya angin: patuh kepada Tuhan secara alamiah, naluriah, karena kejujuran terhadap kemanusiaannya, namun tanpa akalnya menemukan dan menyadari bahwa itu adalah ketaatan kepada Syariat-Nya. (Paragraf 25 kalimat 1)
Sementara itu, satuan lingual seperti pada data (33) di atas mengacu pada perbandingan persamaan antara tingkat dan pola kepatuhan mereka kepada Syariat Allah dengan ciri-ciri atau sifat yang sama dengan pohon, mengalirnya air, berhembusnya angin. Pengacuan ini mendukung analisis data (30) dan data (29) sebelumnya bahwa dengan realitas keragaman manusia di Indonesia, Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan. Hal itu karena umat muslim di Indonesia patuh kepada syariat Allah secara alamiah, naluriah bagaikan pohon, mengalirna air, dan sebagainya, tanpa tegaknya khilafah sebagai sistem kenegaraan.
(2) Perangkaian (Konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Berkaitan dengan hal itu, penulis juga menggunakan konjungsi untuk menunjang kepaduan tulisannya dalam wacana. Konjungsi dalam bahasa
89
Indonesia dikelompokkan menjadi: (a) konjungsi kordinatif (b) konjungsi subordinatif (c) konjungsi korelatif dan (d) konjungsi antar kalimat.
Konjungsi yang digunakan dalam wacana KIKS adalah konjungsi kordinatif, konjungsi subordinatif, konjungsi korelatif, dan konjungsi antar kalimat. Berikut ini disajikan pemakaian konjungsi dalam wacana KIKS.
(a) Koordinatif
(34)Seorang kuli pasar mungkin hanya akan ditanya beberapa hal: aqidahnya, hubungannya dengan Nabi dan Al-Qur`an, apakah ia mencuri harta orang, menghina martabat sesama manusia, atau memisahkan nyawa dari jasad manusia. (Paragraf 17 kalimat 2)
Data (34) di atas menunjukkan konjungsi yang digunakan dalam wacana dengan kode (KIKS). Konjungsi yang digunakan adalah konjungsi koordinatif melalui konjungtor atau yang menyatakan makna pemilihan. Penulis ingin menekankan bahwa tukang kuli pasar tidak akan ditanyakan bagaimana sistem khilafah sebagai sistem kenegaraan, oleh karena itu penulis ingin menonjolkan bahwa Islam tidak mewajibkan mendirikan Khilafah sebagai sistem kenegaraan.
Selain itu, konjungsi lain yang digunakan adalah konjungsi tapi. Konjungsi ini terlihat pada data (35) di bawah ini.
(35)Tidak canggih shalat dan bacaan Qur`annya, tapi santun, menyayangi manusia dan alam, tidak menyakit siapa-siapa dan tidak merusak apa-apa.
(Paragraf 18 kalimat 5)
Data tersebut menunjukkan kalimat menggunakan konjungsi koordinatif melalui konjungtor tapi yang menyatakan makna pertentangan. Ini menguatkan analisis data sebelumnya,
90
bahwa jangankan kewajiban mendirikan khilafah sebagai sistem kenegaraan bagi umat Islam. Muslim tidak canggih shalat dan bacaan Qur`annya, yang penting adalah santun, menyayangi manusia dan alam, tidak menyakit siapa-siapa dan tidak merusak apa-apa.
(b) Subordinatif
(36)Saya tidak perlu setuju atau tidak atas
‘ideologi’ Khilafah, karena itu adalah niscaya. (Paragraf 6 kalimat 1)
Data (36) di atas menggunakan konjungsi subordinatif sebab melalui konjungtor karena yang menyatakan makna sebab. Penggunaan konjungsi subordinatif tersebut untuk menekankan analisis sebelumnya yaitu dalam data (4) aspek semantik latar, penulis esai mempunyai pandangan bahwa Khilafah adalah keniscayaan yang berarti kepastian dan tidak boleh tidak. Jadi tidak bisa ditolak. Namun hal ini karena konteksnya penulis memandang khilafah tersebut bukan sebagai sistem kenegaraan. Di sini terlihat bahwa penulis tidak konsisten dalam memahami konsep khilafah yang sedang dibahas.
(37)Katakanlah yang beliau-beliau lakukan adalah “minadhdhulumati ilannur”, membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetapi momentum dan adegan-adegan pengambil-alihan kekuasaannya, saya tidak mampu mensimulasi kemungkinan bisa dihindarkannya dari konflik-konflik besar, bahkan dengan sesama Kaum Muslimin sendiri, sampai mungkin juga pertumpahan darah tidak kecil-kecilan seperti tawuran anak-anak Sekolah Unggul. (Paragraf 13 kalimat 1)
Data (37) di atas menggunakan konjungsi subordinatif melalui konjungtor sampai yang menyatakan makna hasil dan konjungtor seperti yang menyatakan makna perbandingan.
Konjungtor pertama ingin menekankan jika HTI tetap ingin
91
menegakkan sistem kenegaraan khilafah, akan ada hasil yang
menegakkan sistem kenegaraan khilafah, akan ada hasil yang