BAB II KAJIAN TEORI
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
4. Analisis Struktur Supra, Makro, dan Mikro dalam Wacana TSK The Scary Khilafah
(1)Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.
(2)Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk
169
dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah.
(3)Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil. Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah.
Ini tahadduts binni’mah, berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan, ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan.
Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.
(4)Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk.
Sampah-sampah alam menjadi rabuk. Timbunan batu-batu menjadi mutiara.
Penjajahan melahirkan kemerdekaan. Kejatuhan menghasilkan kebangkitan.
Penderitaan memberi pelajaran tentang kebahagiaan.
(5)Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah.
Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi.
Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”,
“Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”. (SUB TOPIK)
(6)Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali membumikanUUD-nya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”.
Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah: “lunyu-lunyu yo penekno”.
Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah, terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima. (TEMA/TOPIK)
(7)Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak menakutkan. Apalagi dunia Kalimat
Tesis
170
sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.
(8)Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin.
Kenduri yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya. Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.
(9)Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya, menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian. Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai seluruh alam semesta dipeluknya — tanpa saya pernah memprogramnya.
(10)Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya.
Meskipun dia kasih aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan. Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma numpang enak sebentar.
(11)Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab.
Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada fatamorgana. (FAKTA)
(TSK)
a. Struktur Makro
Berdasarkan bahasa yang digunakan, wacana di atas berisi mengenai konsep Khilafah sebagai desain Tuhan. Hal ini terlihat pada paragraf 6.
171
Pada paragraf ini penulis menyatakan tema/topik tentang konsep Khilafah sebagai bagian dari desain Tuhas yang merupakan sebuah keniscayaan atas kehidupan manusia di alam semesta, tidak terkecuali Indonesia.
Selanjutnya untuk mendukung tema/topik tersebut penulis menguatkan dengan beberapa subtopik. Subtopik wacana di atas terdapat pada paragraf 5 dan 7. Pada paragraf 5 penulis menguatkan tema yaitu Khilafah merupakan konsep paling mendasar yang membuat Tuhan menciptakan manusia. Kemudian pada paragraf 7, penulis menjelaskan lebih rinci mengenai desain Tuhan tersebut dan mengaitkannya dengan sila kelima dalam Pancasila. Subtopik-subtopik tersebut dapat dikatakan mendukung tema/topik wacana yaitu Khilafah sebagai Desain Tuhan.
Selain itu, fakta yang disampaikan penulis juga merujuk pada makna global wacana. Fakta yang disampaikan oleh penulis terletak pada paragraf 8 dan 11. Dalam hal ini fakta yang ditunjukkan berkaitan dengan Khilafah yang terjadi di Indonesia seperti mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah hanya dengan Hizbut Tahrir. Fakta lainnya seperti Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Fakta-fakta yang ditampilkan oleh penulis tersebut mendukung tema/topik umum wacana. Berdasarkan tema/topik, subtopik, dan fakta yang disampaikan penulis dalam wacana dapat dikatakan secara mikro makna wacana di atas adalah konsep Khilafah sebagai desain Tuhan.
b. Struktur Supra
Wacana di atas merupakan wacana yang berada di kolom Khasanah dan ditulis pada bulan Agustus 2017. Berdasarkan struktur yang digunakan, terdapat 6 paragraf pendahuluan yang digunakan penulis. 6 paragraf tersebut adalah paragarf 1 sampai dengan paragraf 6.
172
Wacana di atas memulai pendahuluan dengan menggunakan teknik pertanyaan retoris. Dalam hal ini, penulis esai melontarkan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, namun mengajak pembaca untuk ikut memikirkan latar yang akan membawa kepada permasalahan yang menjadi topik esai. Dalam hal ini penulis esai menyatakan bahwa keadaan saat ini yaitu adanya ketakutan kepada Khilafah. Pada paragraf 1, pertanyaan retoris itu dijawab sendiri oleh penulis, namun jawabannya tidak ada dalam dua pilihan yang ditawarkan pada pertanyaan tersebut.
Kemudian pada paragraf 2, merupakan penjabaran mengenai jawaban yang disampaikan kalimat terakhir paragraf 1. Di akhir paragraf 2, penulis menegaskan kembali keterkaitan antara penjabaran pada paragraf 2 sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan pada paragraf 1. Pada paragaf 3, penulis mengungkapkan alasan mengapa ia menulis esai tentang Khilafah ini. Selanjutnya pada paragraf 4, penulis menjelaskan mengenai semua hal yang diciptakan oleh Tuhan itu tidak ada yang sia-sia. Penulis mendasarkan hal itu pada ayat al Quran “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini.
Selanjutnya pada paragraf 5, penulis menekankan lagi alasan yang diungkapkan pada paragraf 3. Penulis menyayangkan jika anti HTI berarti anti Khilafah. Padahal, penulis mengingatkan kembali tentang konsep Khilafah yang dipahaminya yaitu Khilafah adalah sebuah keniscayaan. Hal ini menunjukkan bahwa bagian pendahuluan pada paragraf 1-5, penulis esai menekankan kembali bahwa Khilafah adalah sebuah keniscayaan yang tidak perlu ditakuti, termasuk di Indonesia.
Pada paragraf 6, penulis esai mencantumkan kalimat tesis berupa Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan atas kehidupan manusia di alam semesta. Kalimat tesis ini berisi gagasan yang mengendalikan arah dan batas dari esai yang akan dibahas pada tubuh
173
esai, dalam hal ini kalimat ini membatasi tentang pemahaman bahwa Khilafah adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, apalagi ditakuti.
Keniscayaan Khilafah ini diungkapkan dengan tempat yang lebih spesifik, yaitu di Indonesia. Hal itu dilihat dari perumpamaan yang digunakan yaitu kutipan dari syair Lir Ilir karya Sunan Kalijaga. Kemudian kalimat tesis di atas dijelaskan dalam tubuh esai pada paragraf 7, 8, 9, dan 10.
Pada paragraf 7 penulis mencoba mengaitkan keniscayaan Khilafah yang diungkapkan pada paragaf sebelumnya dengan hal-hal yang ada di Indonesia dengan memunculkan Sila kelima, dan juga ungkapan yang berasal dari orang Jawa. Pada paragraf 8-10 merupakan penjabaran tesis yang terdapat pada paragraf 6. Paragraf tersebut membahas mengenai Khilafah adalah sebuah keniscayaan, jadi tidak hanya bisa disematkan kepada HTI yang saat ini seolah-olah menjadi penggagas utama Khilafah.
Selain itu, penulis juga menjelaskan mengenai konsep Khalifah dengan memberikan contoh-contohnya.
Selanjutnya, mengakhiri esai tersebut, penulis membuat sebuah penutup yang terdiri dari 1 paragraf yaitu paragraf 11. Paragraf tersebut menyimpulkan bahwa pemahaman yang diuraikan pada kalimat tesis dan bagian isi belum cukup mendalam dipahami oleh kaum muslimin, baik secara individual maupun kolektif. Penulis juga mengingatkan pembaca bahwa tidak perlu takut kepada Khilafah, karena Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin.
c. Struktur Mikro 1) Aspek Semantik
a) Latar
Hal yang melatari pembuat wacana dalam wacana TSK adalah tentang keadaan dunia yang takut terhadap adanya Khilafah.
174
(121)Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah?
Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah. (Paragraf 1)
Pada paragraf di atas, penulis esai menyampaikan dengan menggunakan teknik pertanyaan retoris. Dalam hal ini, penulis esai melontarkan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, namun mengajak pembaca untuk ikut memikirkan latar yang akan membawa kepada permasalahan yang menjadi topik esai. Dalam hal ini penulis esai menyatakan bahwa keadaan saat ini yaitu adanya ketakutan kepada Khilafah. Pada data (121) di atas, pertanyaan retoris itu dijawab sendiri oleh penulis. Namun jawabannya tidak ada dalam dua pilihan yang ditawarkan pada pertanyaan tersebut. Ada dua pilihan jawaban yang diberikan. Pertama, visi Khilafahnya memang salah. Kedua, pihak yang menyampaikan Khilafah kepada dunia yang salah.
Kemudian pada data (122), penulis esai menyampaikan bahwa keadaan saat ini, Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Hal itu terlihat dalam kutipan di bawah ini.
(122)Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah:
dengan segala cara memecah belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum Muslimin sendiri:
Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada Khilafah. (Paragraf 2)
Setelah mengajukan pertanyaan retoris pada data sebelumnya, dalam data (122) penulis memberikan penjelasan lebih rinci mengenai dua pilihan jawaban yang diberikan. Penulis lebih cenderung terlihat megambing-hitamkan pihak di luar kaum muslimin yang tidak disebutkan secara jelas. Penulis hanya menggunakan frasa sejarah
175
dunia dalam menyampaikannya. Jadi, dua pilihan jawaban yang terdapat dalam data (121) bukanlah yang dirinci lebih lanjut oleh penulis dan dibiarkan multitafsir. Penulis beranggapan bahwa ada pihak tertentu yang sengaja menciptakan kondisi agar manusia, khususnya umat Islam takut terhadap Khilafah. Bahkan menurut penulis kondisi saat ini yang terjadi adalah Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme. Dua paham tersebut diketahui sampai saat ini menjadi paham yang beredar dan menjadi adu wacana di dalam masyarakat. Hal inilah yang melatari penulis esai dalam wacana untuk membahas mengenai konsep Khilafah sebagai desain Tuhan.
Kemudian pada data (123), penulis esai menyampaikan bahwa penulis prihatin kepada pihak yang anti Khilafah. Hal itu terlihat dalam kutipan di bawah ini.
(123)Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan, yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”, “Insan”, “Nas”
atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.
(Paragraf 5)
Pada paragraf di atas, penulis esai menyampaikan terkait keprihatinannya kepada kelompok yang anti Khilafah. Hal itu dikarenakan penulis berpandangan bahwa Khilafah adalah keniscayaan seperti dalam temuan data esai KIKS, KN, dan TPTM.
Jika dalam data (122) sebelumnya penulis belum menjelaskan mengenai pilihan jawaban pertanyaan retoris yang disampaikan,
176
peneliti dalam data (123) menemukan keterkaitan dengan pertanyaan retoris tersebut. Dalam data (121) terdapat dua pilihan jawaban yang diberikan. Pertama, visi Khilafahnya memang salah. Kedua, pihak yang menyampaikan Khilafah kepada dunia yang salah. Menurut peneliti, dua pilihan jawaban tersebut sebenarnya adalah jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya sendiri.
Dalam data (123) di atas, penulis menyampaikan bahwa anti HTI berarti anti Khilafah, dan pemahaman itu adalah keliru karena Khilafah adalah keniscayaan. Karena ketika anti Khilafah, berarti menurut penulis sama saja dengan anti Tuhan. Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa HTI mempunyai kemungkinan sebagai kelompok yang salah dalam menyampaikan Khilafah kepada dunia, sehingga terjadi kesalahpahaman. Salah menyampaikannya itu bisa dalam bentuk visi Khilafah yang dimiliki HTI. Seperti halnya temuan data esai TPTM sebelumnya, bahwa penulis dan HTI mempunyai pandangan yang berbeda mengenai Khilafah.
b) Rincian
(124)Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”,
“rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. (Paragraf 7 kalimat 1)
Berdasarkan kutipan data (124), terdapat penanda rincian yang digunakan dengan cara mengulang kata-kata yang memiliki makna yang hampir sama, tetapi dalam wujud yang berbeda. Hal yang dirinci dalam kutipan wacana di atas adalah tentang tujuan Khilafah yang diasumsikan sebagai desain Tuhan. Penulis merinci hal tersebut dengan rincian seperti “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur”. Kata-kata tersebut digunakan oleh penulis untuk merinci tujuan Khilafah tersebut agar lebih jelas dan maksudnya tersampaikan.
Hal ini menekankan kalimat tesis bahwa Khilafah adaha desain Tuhan
177
yang memang tidak perlu ditakuti keberadaannya. Hal itu karena Khilafah bisa disesuaikan Pancasila, seperti halnya temuan data esai KN, terutama seperti yang dirinci dalam data di atas dalam farasa keadilan sosial yang dapat dikaitkan dengan sila kelima dalam Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
c) Nominalisasi
Dalam esai TSK ditemukan 2 data yang menunjukkan nominalisasi. Namun, temuan itu tidak berkaitan dengan fokus pembahasan yaitu tentang Khilafah.
2) Aspek Sintaksis