BAB II KAJIAN TEORI
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
2) Aspek Sintaksis a) Bentuk Kalimat
Bentuk kalimat pada wacana TSK banyak menggunakan kalimat aktif. Kalimat aktif umumnya digunakan agar seseorang menjadi objek dari tanggapannya. Dalam wacana TSK kalimat banyak menempatkan subjek sebagai hal yang ingin ditonjolkan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim menjadi subjek dalam Khilafah Silmi yang diwacanakan. Berikut merupakan kutipan beberapa bentuk kalimat dalam wacana TSK.
Di bawah ini terdapat beberapa kalimat aktif yang digunakan oleh penulis dalam rangka upaya menempatkan subjek sebagai hal yang ingin ditonjolkan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim menjadi subjek dalam Khilafah Silmi yang diwacanakan. Terlihat dari data (125), penulis esai menyampaikan tentang pandangan penulis bahwa Khilafah adalah keniscayaan.
(125)Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. (7)Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. (Paragraf 5 kalimat 3 dan 7) Dalam kalimat 3, penulis esai menggunakan kalimat aktif dengan kata ganti mereka menjadi subjek. Penulis dalam hal ini ingin
178
menonjolkan kata tersebut. Dalam paragraf tersebut dijelaskan bahwa Khilafah adalah keniscayaan yang tidak boleh diingkari, apalagi dibenci. Seperti halnya temuan data (124) aspek semantik rincian bahwa Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai keadilan sosial, subjek mereka dalam hal ini adalah orang-orang yang menentang konsep Khilafah tersebut.
Kemudian dalam kalimat 7, penulis esai menggunakan kata ganti aku sebagai subjek. Namun, menurut peneliti, cara penulisan dalam menulis kata ganti itu keliru. Jika dilihat dari referennya, kata ganti aku mengacu pada Allah, karena kalimat lengkapnya adalah Sesungguhnya aku mengangkat Khalifah di bumi. Jika aku dalam kalimat tersebut mengacu pada diri penulis, Emha Ainun Najib, bagaimana penulis dalam mengangkat Khalifah, sedangkan ia punya pandangan bahwa Khilafah adalah desain Tuhan. Khilafah adalah wilayahnya, Khalifah adalah manusia yang mengatur wilayah itu.
Selanjutnya dalam data (126), penulis menggunakan kalimat aktif untuk menjelaskan mengenai kemungkinan yang terjadi jika HTI mewujudkan cita-citanya.
(126)Para Wali membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”.
(Paragraf 6 kalimat 4)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat aktif dengan kata Para Wali menjadi subjek. Seperti halnya temuan data esai TPTM yang membahas mengenai lagu Lir Ilir dalam data (114).
Kalimat itu diulang sama persis dengan kalimat sebelumnya yang terdapat dalam wacana TPTM. Lirik syair tersebut diciptakan Sunan Kalijaga. Subjek Para Wali salah satunya adalah Sunan Kalijaga sebagai subjek. Penggunaan kalimat aktif tersebut sebagai upaya
179
penulis dalam menekankan bahwa Khilafah adalah benih yang dapat disesuaikan di wilayah yang beragam. Salah satunya di Indonesia, disemaikan oleh Para Wali tersebut.
Beberapa kutipan kalimat di atas merupakan kutipan kalimat aktif yang digunakan oleh penulis dalam wacana TSK.
Kalimat aktif yang dibentuk dalam kutipan wacana di atas dapat dilihat dari predikat kalimat. Semua predikat kalimat terbentuk dari awalan me-. Kutipan kalimat aktif di atas memperlihatkan penulis lebih menonjolkan subjek.
Selain kalimat aktif, terdapat juga kalimat pasif yang digunakan. Kalimat pasif tersebut digunakan oleh penulis umumnya digunakan untuk menunjukkan bahwa keadaan dunia saati ini hubungannya dengan Khilafah. Seperti halnya terlihat dalam data (127) di bawah ini.
(127)Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh
“udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan.
(Paragraf 7 kalimat 6)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada dunia yang begitu luas menjadi objek dari konsep Silmi. Dalam kalimat tersebut, penulis menjelaskan mengenai keadaan dunia yang saat ini sudah diayomi oleh Khilafah Silmi. Jika sebelumnya dalam temuan data (122) aspek semantik latar penulis beranggapan bahwa ada pihak tertentu yang sengaja menciptakan kondisi agar manusia, khususnya umat Islam takut terhadap Khilafah.
Bahkan menurut penulis kondisi saat ini yang terjadi adalah Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme.
Dalam data (127) tersebut penulis berupaya menyampaikan kepada pembaca bahwa tidak perlu ada yang ditakutkan seperti halnya dalam data (122), karena keadaan dunia yang saat ini sudah diayomi oleh
180
Khilafah Silmi. Hal ini juga mendukung pendapat sebelumnya dalam temuan data (124) aspek semantik rincian tentang Khilafah yang diasumsikan sebagai desain Tuhan.
Selanjutnya dalam data (128), penulis menggunakan kalimat pasif untuk menekankan kembali tentang Khilafah adalah desain Tuhan dengan manusia sebagai Khalifah.
(128)Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. (Paragraf 9 kalimat 1)
Dalam kalimat tersebut penulis esai menggunakan kalimat pasif dengan menitikberatkan pada manusia objek dari penciptaan Allah sebagai Khalifah. Dalam kalimat tersebut, penulis menjelaskan mengenai Khilafah adalah desain Tuhan sebagai kalimat tesis dalam esai TSK. Hal ini mengacu kepada firman Allah yang diungkapkan yaitu “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Penulis menjadikan manusia sebagai hal yang ditonjolkan untuk menekankan kepada pembaca bahwa memang manusia tidak bisa mengingkari konsep Khilafah, di manapun, kapanpun, siapapun. Karena penulis menggunakan objeknya adalah setiap manusia.
b) Kohesi (Gramatikal) (1) Pengacuan
Dalam sebuah wacana, mekanisme kohesi itu dapat dilihat dari penggunaan referensi. Referensi (pengacauan) merupakan salah satu bentuk kohesi gramatikal. Pengacuan (referensi) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu dengan mengacu pada satuan lingual lain. Dalam wacana pengacuan anafora, pengacuan katafora, pengacuan katafora, pengacuan persona, pengacuan demonstratif, dan pengacuan komparatif.
181
(a) Anafora
(129)Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. (2)Tidak tega mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. (3)Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia.
(Paragraf 5 kalimat 1 s.d 3)
Pengacuan anafora yang terdapat pada kutipan data (129), yaitu akhiran –nya pada kata nasibnya. Dalam kalimat tersebut menjelaskan mengenai keprihatinannya kepada kelompok yang anti Khilafah. Ketika anti Khilafah, berarti menurut penulis sama saja dengan anti Tuhan. Akhiran –nya dalam kata tersebut mengacu pada teman-teman yang anti Khilafah. Pengacuan anafora selanjutnya yang digunakan adalah kata ganti mereka. Kata ganti tersebut juga mengacu kepada subjek yang sama dengan pengacuan sebelumya, yaitu teman-teman yang anti Khilafah. Penggunaan pengacuan ini adalah upaya penulis dalam mendukung tesis esai yaitu tentang Khilafah adalah desain Tuhan yang tidak perlu ditakuti karena adanya Khilafah dibarengi dengan manusia sebagai Khalifahnya.
(b) Katafora
(130)Khilafah adalah UUD-nya Allah swt.
(Paragraf 6 kalimat 3)
Kutipan data (130) di atas adalah pengacuan katafora dengan akhiran -nya pada kata UUD-nya yang mengacu kepada kata Allah swt. yang disebutkan setelahnya. Kalimat ini memberikan pesan secara eksplisit bahwa Khilafah adalah keniscayaan yang tidak bisa tidak. Dalam kalimat tersebut menggunakan ungkapan UUD sebagai desain Khilafah. Seperti halnya temuan data (129), penulis mencoba menguatkan pendapat sebelumnya mengenai Khilafah yang tidak perlu ditakuti.
182
(c) Persona
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga).
(i) Pronomina persona pertama
(131)Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa kelengkapan pengetahuan. (6)Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya. (Paragraf 3 kalimat 5 dan 6)
Pengacuan persona yang terdapat pada kutipan data (131) yaitu dalam bentuk persona pertama yang terwujud dalam kata saya. Kata saya merupakan pronomina persona yang mengacu pada diri sendiri (tunggal) yaitu penulis, yaitu Emha Ainun Najib. Dalam kalimat tersebut, penulis mencoba mengungkapkan mengenai teman-teman yang anti terhadap Khilafah. Penulis menekankan bahwa yang mengungkapkan hal itu adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain. Hal ini sejalan dengan temuan data (129) mengenai keprihatinannya kepada kelompok yang anti Khilafah. Ketika anti Khilafah, berarti menurut penulis sama saja dengan anti Tuhan.
(132)Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. (Paragraf 5 kalimat 1)
Pengacuan persona yang terdapat pada kutipan data (132) yaitu dalam bentuk persona pertama yang terwujud dalam kata saya. Kata saya merupakan pronomina persona yang mengacu pada diri sendiri (tunggal) yaitu penulis, yaitu Emha Ainun Najib.
183
Pengacuan ini konteksnya sama dengan temuan data (131) mengenai teman-teman yang anti terhadap Khilafah.
(ii) Pronomina persona kedua
(133)Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh
“udkhulu fis-silmi kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan. (Paragraf 7 kalimat 6)
Kutipan paragraf data (133) di atas menggunakan pengacuan persona kedua tunggal seperti terlihat dalam klausa masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan membersamakan. Satuan lingual –mu yang terdapat pada kata kemampuanmu merupakan pronomina persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan yang mengacu pada pembaca. Penggunaan pronomina ini sebagai upaya penulis esai menekankan pesan bahwa konteks Silmi cakupannya luas. Tidak terbatas hanya untuk orang-orang yang mendukung konsep Khilafah saja, tetapi untuk semua kalangan untuk mempersatukan dan membersamakan. Bahkan, bukan hanya untuk kaum muslim, karena ketika mengacunya kepada pembaca adalah tidak terbatas oleh agama.
(134)Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah? (3)Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh rahmatan lil’alamin. (Paragraf 11 kalimat 2 dan 3)
Kutipan data (134) di atas menggunakan pengacuan persona kedua yaitu pada kalimat 2 seperti terlihat dalam kalimat Jadi, wahai dunia, apa yang kau takutkan dari Khilafah?
Pronomina persona kedua tunggal bentuk bebas kau mengacu pada unsur lain yang berada dalam teks yang disebutkan sebelumnya, yaitu dunia. Selain itu, pada kalimat 3 yang berbunyi Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh
184
rahmatan lil’alamin pun terdapat pronomina persona kedua jamak bentuk bebas kalian yang mengacu pada unsur lain yang berada dalam teks yang disebutkan sebelumnya, yaitu wahai dunia.
Dalam hal ini, mengacu pada temuan data (121) dan (122) aspek semantik latar bahwa dunia yang dimaksud adalah mengenai keadaan saat ini yaitu adanya ketakutan kepada Khilafah. Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme dan Terorisme.
(iii) Pronomina persona ketiga
(135)Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. (3)Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia.
(Paragraf 5 kalimat 2 dan 3)
Kutipan paragraf di atas merupakan kutipan paragraf dari wacana dengan kode (TSK). Pada paragraf 1 di atas penulis esai menggunakan pengacuan persona ketiga yaitu pada kalimat 3 yaitu Sebab mereka menentang konsep paling mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Pronomina persona ketiga tunggal bentuk bebas mereka mengacu pada unsur lain yang berada dalam teks yang disebutkan sebelumnya, yaitu teman-teman yang anti-Khilafah. Penggunaan pronomina tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan mengenai pandangan penulis bahwa Khilafah adalah keniscayaan dan desain Tuhan.
(d) Pengacuan Demonstratif
Dalam wacana TSK terdapat pronomina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina tempat (lokasional). Berikut ini disajikan beberapa kutipan wacana yang menunjukkan pengacuan demonstratif yang digunakan.
(136)Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. (Paragraf 8 kalimat 1)