MATERI VIII INFAQ DAN ZAKAT
A. Hikmah Infaq dan Zakat
Pada bagian terdahulu kita telah mengenal konsep bersih dan kotor dalam Islam yang salah satunya adalah tazkiyyah, yaitu bersih dari kotoran hati, kotoran tak tampak, kotoran yang bersifat spiritual. Dalam harta kita ada juga kotoran semacam ini. Harta yang kotor akan mengotori jiwa kita, menimbulkan penyakit hati. Rasulullah SAW bersabda bahwa penyakit hati yang paling berbahaya adalah penyakit wahan yaitu mencintai dunia, mencintai harta hingga melalaikan akhirat.
Oleh karena itu harta kita harus kita bersihkan. Caranya adalah dengan menyisihkan harta yang bukan hak kita. Di dalam harta kita ada hak orang lain yaitu hak kaum fakir miskin. Harta ini kalau kita makan akan mengotori jiwa kita karena kita berarti memakan hak orang lain. Tanpa disadari kita telah berubah menjadi orang yang rakus, orang yang tamak, orang yang egois yang tidak peduli orang lain.
Karena itulah Allah mengatur bagiamana zakat seorang muslim harus ditasharufkan (dibelanjakan), salah satunya adalah melalui infaq dan zakat. Jadi infaq dan zakat adalah metode spiritual untuk membersihkan kotoran-kotoran yang melekat pada harta kita, kotoran yang melekat pada jiwa kita yang disebabkan oleh harta. Jika hati kita bersih maka hidup kita pun akan terang. Kita terbebas dari dibudaki oleh harta. Kita merasa cukup dan kemudian mau berbagi dengan orang lain.
B. Dasar Hukum Infaq dan Zakat
اَهُّيَأَٰٓ َي َنيِذَّلٱ َنِ م مُكَل اَن ۡج َر ۡخَأ َٰٓاَّمِم َو ۡمُتۡبَسَك اَم ِت َبِ يَط نِم ْاوُقِفنَأ ْا َٰٓوُنَماَء ِض ۡرَ ۡلۡٱ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al Baqarah: 267)
َو َنيِذَّلٱ َنو ُزِن ۡكَي َبَهَّذلٱ
َو َةَّضِفۡلٱ ِليِبَس يِف اَهَنوُقِفنُي َلَ َو
َِّللّٱ َبَف مُه ۡرِ ش ٖميِلَأ ٍباَذَعِب
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS. At Taubah [9]: 34).
َنيِعِكا َّرلا َعَم اوُعَك ْرا َو َةاَك َّزلا اوُتآ َو َة َلََّصلا اوُميِقَأ َو
Artinya: "Dan janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu menyembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya. (42) Dan tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." (43) (QS. Al-Baqarah [2]: 43).
C. Infaq
Setelah bersyahadat dan melakukan shalat, apa lagi yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Berinfak, atau bersedakah. Yaitu memberikan harta kita di jalan Allah.
Jalan Allah itu apa maksudnya? Jalan Allah adalah membantu sesama dan membiayai perjuangan agama Allah. Seorang muslim itu gemar berderma, gemar bersedekah, bahkan
pasti bersedakah atau berinfaq di jalan Allah. Itulah ciri ketiga setelah bersyahadat dan menjalankan shalat. Demikianlah yang diperintahkan Allah dalam surat al-Baqarah:
َكِل َذ ُب َتِكۡلٱ ۡلِ ل ى ٗدُه َِۛهيِف ََۛبۡي َر َلَ
َنيِقَّتُم ٢
َنيِذَّلٱ ِب َنوُنِم ۡؤُي
ِبۡيَغۡلٱ َنوُميِقُي َو
َة وَلَّصلٱ
َنوُقِفنُي ۡمُه َنۡق َز َر اَّمِم َو ٣
(2). Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanyam, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3). (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Q.S Al-Baqarah: 2-3).
اَهُّيَأَٰٓ َي َنيِذَّلٱ َنِ م مُكَل اَن ۡج َر ۡخَأ َٰٓاَّمِم َو ۡمُتۡبَسَك اَم ِت َبِ يَط نِم ْاوُقِفنَأ ْا َٰٓوُنَماَء ِض ۡرَ ۡلۡٱ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al Baqarah: 267)
Infak/shadaqah yang kita berikan telah mensucikan harta kita sehingga harta tersebut membawa keberkahan dan kemanfaatan. Ada orang yang banyak harta, tapi hidupnya penuh masalah. Hartanya membawa malapetaka. Kenapa? Salah satunya adalah harta yang ia makan adalah harta kotor. Harta yang tak pernah dikeluarkan infaqnya. Harta yang kita sedekahkan tidak akan membuat kita miskin. Bahkan akan menambah harta itu. Itu bukan kata saya, bukan kata manusia. Tapi janji Allah, Tuhan yang maha memenuhi janji. Bahkan Allah menyatakan bahawa apa yang kita infakkan dihitung sebagai hutang di sisi Allah yang akan Allah bayarkan. Allah berfirman:
نَّم اَذ يِذَّلٱ ُض ِرۡقُي ََّللّٱ
ُهَفِع َضُيَف اٗنَسَح اًض ۡرَق ۥ
ُهَل
َٰٓۥ َو ٗۚٗة َريِثَك اٗفاَع ۡضَأ َُّللّٱ
ُضِبۡقَي
َنوُعَج ۡرُت ِهۡيَلِإ َو ُطُ صۡبَي َو ٢٤٥
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah [2]: 245).
Berinfak ini sifatnya anjuran, bukan suatu paksaan. Besarnya juga tidak ada ketentuan. Namun dalam kondisi tertentu, dimana seorang muslim memiliki harta dalam jumlah tertentu (nishab), anjuran ini berubah menjadi wajib yang disebut dengan zakat.
Jumlah minimal yang harus diberikan pun ditentukan oleh Allah.
D. Zakat Fitrah
Setahun sekali, setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan, setiap muslim wajib menunaikan zakat fithrah. Setelah sebulan ia melatih nafsunya dengan menahan makan minum dan segala hal yang membatalkan puasa, kini saatnya menyempurnakan amal dengan berderma pada sesama. Bahkan diwajibkan pula kepada setiap muslim yang sekalipun dia masih bayi dan tentunya tidak wajib baginya menjalankan puasa. Jadi zakat fitrah wajib atas setiap muslim, laki-laki perempuan, besar kecil, asalkan:
1. Hidupnya menjumpai bulan Ramadhan dan Syawal.
Dengan demikian, orang yang meninggal pada bulan Ramadhan, atau bayi yang lahir pada tanggal 1 Syawal maka tidak wajib zakat/dizakati. Demikian juga orang yang masuk Islam pada tanggal 1 Syawal dia juga tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah pada tahun itu.
2. Mempunyai kelebihan rezeki selain untuk mencukupi kebutuhan pokoknya.
Bagi anak kecil atau orang yang tak mampu, sementara itu ada yang menanggung nafkah dan biaya hidupnya, maka wajib bagi penanggung nafkah itu untuk menzakatkannya, Rasulullah SAW bersabda:
اَّنلا َلِتاَقُأ ْنَأ متْرِمُأ : َلاَق لمسو هيلع الله َّلَّ َص ِالله َلْو مسَر َّنَأ اَمم ْنَْع مالله َ ِضِ َر َرَ معُ ِنْبا ْنَع َس
مالله َّلا
ِ ا َ َلَ
ِ ا َلا ْنَأ او مدَه ْشَي َّتََّح َو ،ِالله ملْو مسَر ًادَّمَحمم َّنَأَو
اوملَعَف اَذ اَف ،َةَكاَّزلا اومتْؤميَو َةَلا َّصلا اوممْيِقمي ِ
َلاَعَت ِالله َلََّع ْمم مبُا َسِحَو ِمَلا ْس لاا ِِقَ ِبِ َّلا ِ ا ْممهـملاَوْمَأَو ْ مهُمءاَمِد ِِنِّم اومم َصَع َ ِلَِذ ِ
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah Subhanahu wata’ala. (HR.
Bukhari no. 25; Muslim no. 22)
Kapan waktu mengeluarkan zakat fithrah?
Zakat fitrha bisa diberikan kepada yang berhak, atau melalui petugas/lembaga zakat (amil) terhitung mulai tanggal 1 Ramadhan hingga pelaksanaan shalat Idul Fithri.
Berapa besar zakat fithrah?
Zakat fithrah pada dasarnya berupa makanan pokok di daerah setempat. Besarnya adalah 2,5 kg. Namun demikian dalam konteks kekinian, para ulama kontemporer berijtihad bisa juga diganti dengan uang seharga makanan pokok tersebut.
Apakah boleh mengeluarkan lebih dari itu?
Tentu saja boleh dan sangat baik. Allah Maha Bijaksana, apakah kelebihannya nanti akan dihitung dan diberi balasan sebagai zakat atau shadaqah. Yang pasti dari sisi misi dan fungsinya, berderma lebih banyak tentu akan membawa manfaat yang lebih banyak pula bagi kaum dhuafa. Ini tentu tindakan terpuji.
E. Zakat Harta
Seorang muslim dianjurkan untuk berbagi. Itulah prinsip dasarnya. Pada saat kita mendata rezeki, berapa pun jumlahnya, sebaiknya kita bersedakah, sebagaimana firman Allah:
َنومقِفنمي ْم مهٰ َنْْق َزَر اَّمِمَو
“…. dan (seorang mutaqin itu) menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah [2]: 3).
Namun jika harta seseorang sudah mencapai jumlah tertentu, anjuran ini berubah menjadi wajib. Dia harus menyedakahkan hartanya dengan jumlah minimal yang telah ditentukan Allah. Jumlah tertentu inilah yang disebut dengan nishab. Dan sedekah yang diwajibkan dengan jumlah minimal yang ditentukan itu disebut zakat. Jadi zakat dipungut atas harta yang sudah berlebih dari kebutuhan pokok. Allah berfirman:
ۡسَي َو ِلُق َنوُقِفنُي اَذاَم َكَنوُل َوۡفَعۡلٱ
ُنِ يَبُي َكِل َذَك َُّللّٱ
ُمُكَل ِت َيَٰٓ ۡلۡٱ َفَتَت ۡمُكَّلَعَل
َنو ُرَّك
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
(Qs. Al Baqarah: 219).
Jika telah memiliki harta sejumlah ini kemudian tidak berzakat, maka diancam dengan siksa Allah:
َو َنيِذَّلٱ َنو ُزِن ۡكَي َبَهَّذلٱ
َو َةَّضِفۡلٱ ِليِبَس يِف اَهَنوُقِفنُي َلَ َو
َِّللّٱ َبَف مُه ۡرِ ش ٖميِلَأ ٍباَذَعِب
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS. At Taubah [9]: 34).
Jumlah tertentu itu telah dimilik atau dihitung secara akumulatif dalam setahun, sebagaimana sabda Rasulullah: Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun). (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani)
Jadi nishab adalah atas minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, dihitung dari harta yang melebihi kebutuhan pokok. Jumlah minimal harta tersebut dihitung secara akumulatif, atau dimilik dalam setahun. Kecuali pertanian yang dihitung dan dikeluarkan zakatnya pada setiap kali panen. Jadi nishab dihitung dari harta bersih. Dengan demikian, tentu tak ada lagi pertanyaan: prosentase zakat itu diambil dari harta bersih atau harta kotor?
Tentu saja dari harta bersih. Karena zakat itu diwajibkan atas harta yang telah mencapai jumlah tertentu tadi yang disebut nishab. Jika zakat diprosentase atas harta kotor tentu akan memberatkan mereka yang sisa pendapatan bersihnya sangat minimal. Namun demikian, jika ada yang merasa mempunyai kelonggaran, atau dengan kesadaran sendiri ingin mengeluarkan zakat dari prosentase harta kotor tentu zakat diperbolehkan. Itu termasuk ihsan, berbuat baik yang melampaui apa yang seharusnya.
Berinfak sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan yang berjudul: Infaq di Jaln Allah sifatnya anjuran, bukan suatu paksaan. Besarnya juga tidak ada ketentuan. Namun dalam kondisi tertentu, dimana seorang muslim memiliki harta dalam jumlah tertentu (nishab), anjuran ini berubah menjadi wajib yang disebut dengan zakat. Jumlah minimal yang harus diberikan pun ditentukan oleh Allah. Allah berfirman:
ۡذُخ ۡمُهَّل ٞنَكَس َكَت وَلَص َّنِإ ۡمِهۡيَلَع ِ لَص َو اَهِب مِهيِ ك َزُت َو ۡمُه ُرِ هَطُت ٗةَقَدَص ۡمِهِل َو ۡمَأ ۡنِم
َو َُّللّٱ ٌميِلَع ٌعيِمَس ١٠٣
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S At-Taubah: 103).
Sekian persen dari harta yang kita miliki adalah hak orang lain, hak fakir miskin. Jika kita tidak berikan dan tetap kita makan, maka berarti kita makan hak orang lain yang tentunya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan kita. Allah berfirman:
َٰٓيِف َو َو ِلِئَٰٓاَّسلِ ل ٞ قَح ۡمِهِل َو ۡمَأ ِمو ُر ۡحَمۡلٱ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Az-Zariyat [51]: 19)
Secara lebih rinci, harta yang dikenakan wajib zakat adalah harta yang memenui beberapa unsur sebagai berikut:
Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:
1. Harta yang dimiliki adalah harta halal.
2. Telah mencapai nishab. Nishab adalah batas minimal harta setelah dikurangi kebutuhan pokok, termasuk utang, yang dikenakan wajib zakat.
3. Harta yang mencapai nishab tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
4. Harta yang mencapai nishab tersebut telah dimiliki selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab. Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan dimana zakatnya dikeluarkan setiap kali panen.
Jadi yang dikenakan zakat, harta yang mencapai nishab itu adalah harta yang di luar kebutuhan pokok. Dengan memiliki harta yang mencapai nishab ini kita sudah termasuk orang yang cukup, bahkan berkelebihan yang wajib menyantuni orang lain. Allah berfirman:
ۡسَي َو ِلُق َنوُقِفنُي اَذاَم َكَنوُل َوۡفَعۡلٱ
ُنِ يَبُي َكِل َذَك َُّللّٱ
ُمُكَل ِت َيَٰٓ ۡلۡٱ َفَتَت ۡمُكَّلَعَل
َنو ُرَّك
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
(Qs. Al Baqarah: 219).
Kekayaan yang kita tumpuk dan kita tidak keluarkan zakatnya maka akan membawa malapetaka dan azab Allah. Allah berfirman:
اَهُّيَأَٰٓ َي۞
َنيِذَّلٱ َنِ م ا ٗريِثَك َّنِإ ْا َٰٓوُنَماَء َب ۡحَ ۡلۡٱ
ِرا َو ِناَب ۡه ُّرلٱ َل َو ۡمَأ َنوُلُكۡأَيَل
ِساَّنلٱ ِب
ِلِط َبۡلٱ
ِليِبَس نَع َنوُّدُصَي َو َِّللّٱ
َو َنيِذَّلٱ َنو ُزِن ۡكَي َبَهَّذلٱ
َو َةَّضِفۡلٱ ِليِبَس يِف اَهَنوُقِفنُي َلَ َو
َِّللّٱ
َبَف مُه ۡرِ ش ٖميِلَأ ٍباَذَعِب
٣٤
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS. At-Taubah [9]: 34).
Ketentuan nishab dan zakat masing-masing harta dapat dilihat pada tabel berikut:
No Jenis Harta Nishab Besar Zakat Ketentuan
1 Emas 20 dinar (85 gram) 2,5% Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
2 Perak 200 dinar
(595 gram) 2,5% Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
3 Kambing 40 ekor 1 ekor
kambing
Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
4 Sapi/Kerbau 30 ekor 1 ekor sapi/kerbau
Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
5 Unta 5 ekor 1 ekor kambing
Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
6 Perdagangan Setara 85 gram emas
(keuntungan + barang
dagangan + piutang lancar – utang = 85 gram emas)
2,5% Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
7 Pertanian 5 wasaq (653 kg)
5% – 10% Langsung zakat setiap kali panen
8 Harta karun (rikaz)
Tidak memakai nishab
langsung kena zakat 20%
Langsung zakat ketika mendapatkan
9 Tambang (ma’din)
85 gram 2,5% Dimiliki setahun, baru kena zakat di akhir tahun
10 Profesi 85 gram
(pendapat kotor – kebutuhan pokok dan utang
= jika diakumulasi setahun senilai 85 gram emas
2,5% Jika disetahunkan mencapai nishab, maka zakat di akhir tahun, tapi lebih baik zakatnya dicicil per bulan
Beberapa ulama berpendapat kepemilikan setahun maksudnya adalah harta yang sudah nishab itu. Tapi menurut saya untuk hati-hati dihitung sejak awal memiliki harta, meski di awal tahun belum nishab jika di akhir tahun memenuhi nishab maka wajib zakat.
F. Penerima (mustahiq) Zakat
Harta zakat tidak boleh diberikan kepada sembarang orang. Namun harus diberikan kepada orang-orang tertentu sebagaimana yang diatur oleh Allah dalam surat at-Taubah ayat 60 sebagai berikut:
1. Fakir, yaitu mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. Ada juga yang mendefinisikan fakir sebagai orang yang tidak punya pekerjaan dan tentu saja tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
2. Miskin, yaitu mereka yang pekerjaan atau memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
3. Amil, yaitu mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
4. Mu'allaf, yaitu mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.
5. Hamba sahaya, yaitu budak yang ingin memerdekakan dirinya.
6. Gharimin, yaitu mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.
7. Fisabilillah, yaitu mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya.
8. Ibnus Sabil, yaitu mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.
LATIHAN VIII
1. Apa hikmah infak dan zakat?
2. Kapan waktu mengeluarkan zakat fithrah dan berapa besarnya?
3. Apa yang dimaksud dengan nishab?
4. Jelaskan waktu mengeluarka zakat, besar nisab dan besar zakat untuk harta-harta berikut: 1) emas, 2) perak, 3) pertanian, 4) perdagangan, 5) profesi
5. Siapa saja yang berhak menerima zakat?
KUNCI JAWABAN VIII
1. Apa hikmah infak dan zakat?
Jawaban: Infak dan zakat adalah cara untuk membersihkan harta kita, sebuah cara untuk membersihkan jiwa kita dari rasa cinta yang berlebihan kepada harta. Infak dan zakat juga berfaedah untuk mengasah kepedulian kita kepada sesama dengan membantu orang lain yang kesusahan.
2. Kapan waktu mengeluarkan zakat fithrah dan berapa besarnya?
Jawaban: Zakat fithrah dapat dikeluarkan mulai dari tanggal 1 Ramadhan hingga pelaksanaan shalat idul fithri. Besar zakat fithrah adalah makanan pokok sebesar 2,5 kg atau 3,4 liter atau uang seharga tersebut.
3. Apa yang dimaksud dengan nishab?
Nishab adalah batas minimum harta bersih yang wajib dikeluarkan zakatnya.
4. Jelaskan waktu mengeluarka zakat, besar nisab dan besar zakat untuk harta-harta berikut: 1) emas, 2) perak, 3) pertanian, 4) kambing, 5) sapi/kerbau, 6) unta, 7) perdagangan, 8) profesi. (untuk besar zakat hewan cukup sebutkan khusus awal nishab saja)
Jawaban: 1) nishab emas 85 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, 2) nishab perak 595 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, 3) nishab pertanian 653 kg, waktu zakat per panen, besar zakat 5%-10%, 4) nishab kambing 40 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor kambing, 5) nishab sapi/kerbau 30 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor, nishab unta 5 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor, 6) nishab perdagangan seharga 85 gram emas, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, nishab zakat profesi seharga emas 85 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%.
5. Siapa saja yang berhak menerima zakat?
Jawaban: yang berhak menerima zakat adalah: fakir, miskin, amil, mualaf, budak, gharim, sabililah, ibnu sabil.
RANGKUMAN VIII
1. Cinta harta merupakan penyakit hati yang sangat membahayakan. Orang yang cinta harta akan menjadi orang yang rakus, tak pernah merasa cukup dan tidak peduli terhadap sesama. Infak dan zakat adalah cara untuk membersihkan harta kita, sebuah cara untuk membersihkan jiwa kita dari rasa cinta yang berlebihan kepada harta. Infak dan zakat juga berfaedah untuk mengasah kepedulian kita kepada sesama dengan membantu orang lain yang kesusahan.
2. Zakat fithrah merupakan cara penting dalam membersihkan jiwa kita dan menyempurnkan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Zakat fithrah dapat dikeluarkan mulai dari tanggal 1 Ramadhan hingga pelaksanaan shalat idul fithri.
Besar zakat fithrah adalah makanan pokok sebesar 2,5 kg atau 3,4 liter atau uang seharga tersebut.
3. Di dalam harta kita ada hak orang miskin. Harta ini harus kita keluarkan dan diberikan kepada yang berhak. Jika tidak maka berarti kita memakan hak orang lain yang tentunya akan mengotori jiwa kita. Karena itulah jika harta kita sudah mencapai batas tertentu yang disebut nishab maka wajib dikeurakan zakatnya. Jadi nishab adalah batas minimum harta bersih yang wajib dikeluarkan zakatnya.
4. Beberapa ketentuan harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:
1) nishab emas 85 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, 2) nishab perak 595 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, 3) nishab pertanian 653 kg, waktu zakat per panen, besar zakat 5%-10%, 4) nishab kambing 40 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor kambing, 5) nishab sapi/kerbau 30 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor, nishab unta 5 ekor, waktu zakat per tahun, besar zakat 1 ekor, 6) nishab perdagangan seharga 85 gram emas, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%, nishab zakat profesi seharga emas 85 gram, waktu zakat per tahun, besar zakat 2,5%.
5. Orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) ada delapan golongan, yaitu: fakir, miskin, amil, mualaf, budak, gharim, sabililah, ibnu sabil.