• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN GAYA BAHASA SARKASME PADA STAND UP COMEDY ABDUR DI YOUTUBE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGGUNAAN GAYA BAHASA SARKASME PADA STAND UP COMEDY ABDUR DI YOUTUBE"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammdiyah Makassar

Oleh:

ULFARESKI 105331107017

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH MAKASSAR

2021

(2)

v

(3)

vi

(4)

vii

SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ulfareski

NIM : 105331107017

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi :Penggunaa Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand Up Comedy Abdur di Youtube

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapa pun. Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Agustus 2021

Yang Membuat Pernyataan

Ulfareski

(5)

viii

SURAT PERJANJIAN Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ulfareski

NIM : 105331107017

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai skripsi ini selesai, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam penyusunan skripsi ini saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbig yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Agustus 2021

Yang Membuat Pernyataan

Ulfareski

(6)

ix

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Bagi siapapun yang memiliki impian,

Dunia dapat menjadi fantasi, dan kita bisa menjadi lebih baik

Karena kita bermimpi dengan mata yang terbuka lebar.

Kupersembahkan karya ini kepada:

Kedua orang tuaku, saudaraku, keluarga besarku, dan semua orang yang telah mendukung dan mendo’akanku, dan mendukungku dengan ikhlas dalam mewujudkan

harapan penulis.

(7)

x ABSTRAK

ULFARESKI. 2021. Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand Up Comedy Abdur di Youtube. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Kegururan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Syahruddin dan pembimbing II Anzar.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk dan makna gaya bahasa sarkasme pada stand up comedy Abdur di youtube. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan gaya bahasa sarkasme pada stand up comedy Abdur di Youtube.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka yang memaparkan hasil kajian pustaka dan olah pikir peneliti mengenai suatu masalah. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Subjek utama dalam penelitian ini adalah gaya bahasa sarkasme dalam stand up comedy Abdur. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Peneliti terlebih dahulu mengamati dan menyimak pembawaan materi yang dilakukan Abdur.

Hasil analisis data dan bahasa, ditemukan jumlah keseluruhan data sebanyak 18 kutipan yang termasuk ke dalam bentuk-bentuk gaya bahasa sarkasme tersebut antara lain: dog, nepotisme, terumbu karang, anak setan, bonggol, preman, bangsat, bajingan, cumi-cumi, berhala, simpanan pejabat. Penggunaan 18 kutipan yang termasuk dalam bentuk gaya bahasa sarkasme dalam stand up comedy Abdur di youtube bermakna kasar, cacian, hinaan, umpatan serta makian yang diungkapkan dengan cara yang jenaka namun memiliki pesan yang tersampaikan dengan baik sebagai kritikan dan sindiran kepada berbagai pihak.

Kata Kunci : Gaya bahasa, Sarkasme, Stand Up Comedy.

(8)

xi

KATA PENGANTAR

Bissmillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu

Syukur Alhamdulillah penulis sampaikan kehadirat Allah Subuhana Wa Ta‟ala, yang telah memberikan kesehatan yang tidak ternilai, kesempatan yang tidak terbatas, dan kekuatan yang selalu dilimpahkan dalam wujud rahmat, serta berkat hidayah-Nya sehingga penulis masih terhindar dari mara bahaya yang selalu ada dalam kehidupan.

Tak lupa pula sholawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salam sekeluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang shalih. Karena hubungan antara manusia dan agama merupakan hubungan totalitas. Kedua sifat tersebut dihayati oleh manusia sekaligus dalam menempuh kehidupan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, keberhasilan

bukan semata-mata diraih oleh penulis sebagai penulis. Begitu banyak

pengalaman-pengalaman yang menjadi sebuah pelajaran bagi penulis dalam

mengerjakan skripsi ini. Tidak sedikit kendala dan hambatan yang penulis hadapi,

namun berkat ketabahan, kesabaran, dan keihklasan serta kemauan dan kerja keras

disertai bantuan dan do’a dari berbagai pihak yang memberikan dukungan baik

moril maupun material sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dengan

baik. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan

ucapan terima kasih kepada:

(9)

xii

1. Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku Rektor Universitas Muhammdiyah Makassar

2. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammdiyah Makassar

3. Dr. Munirah, M.Pd, selaku ketua jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammdiayh Mkassar

4. Dr. Syahruddin, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk memberi waktu serta ilmu pengetahuan dengan penuh kebijaksanaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

5. Dr. Anzar, M.Pd., selaku pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk memberi waktu serta ilmu pengetahuan dengan penuh kebijaksanaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

6. Terima kasih kepada orang tua yang telah menyekolahkan penulis sampai sekarang serta do’a yang tidak ada putus-putusnya demi kesuksesan dan masa depan penulis yang lebih baik kedepannya. Semoga keduanya diberikan kesehatan dan rahmat dari Allah subhana wa ta‟ala.

Pada saat penyusunan skripsi ini, penulis dibantu oleh Allah subhana wa ta‟ala. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada saya sendiri Ulfareski selaku penulis skripsi ini.

Penulis berharap skripsi yang sederhana ini dapat menjadi tambahan bagi

pembaca yang mempelajari lebih jauh tentang menulis karya ilmiah. Seperti

(10)

xiii

pepatah mengatakan “tak ada daging yang tak retak”, penulis sadar skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran bagi semua pihak penulis harapkan demi perbaikan makalah ini.

Akhir kata penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah Subuhana Wa Ta‟ala yang senantiasa meridoi segala usaha kita. Aamiin.

Makassar, Juli 2021

Penulis

(11)

xiv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERJANJIAN ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... vivii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Kajian ... 7

D. Manfaat Kajian ... 7

E. Definisi Istilah ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Kajian Pustaka ... 10

1. Penelitian Relevan ... 10

2. Pembahasan Materi ... 11

B. Kerangka Pikir ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A. Rancangan Penelitian ... 26

(12)

xv

B. Data dan Sumber Data ... 27

C. Teknik Pengumpulan Data ... 28

D. Teknik Analisis Data ... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Hasil Penelitian ... 32

B. Pembahasan ... 49

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 54

A. Simpulan ... 54

B. Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 56

LAMPIRAN

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada kehidupan manusia, bahasa adalah salah satu bagian penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. bahasa digunakan dalam setiap aktivitas, karena dengan menggunakan bahasa, manusia dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. Jadi, mempelajari dan mengkaji bahasa adalah suatu hal yang penting untuk diterapkan karena dengan begitu dapat melestarikan bahasa tersebut.

Menurut Kridalaksana dan Djoko Kentjono (dalam Chaer, 2014, p.

32), bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengenali diri. Peranan utama bahasa yakni sebagai alat komunikasi antar manusia. Bahasa sebagai alat perantara antar anggota masyarakat dalam satu kelompok dan alat komunikasi (Tarigan, 1987, pp. 22–23). Belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di dunia ini, (Crystal dalam Chaer, (2014, p. 33)

Sejalan dengan Kridalaksana, definisi bahasa menurut para ahli yang

lain sama-sama mencoba mengungkapkan hakikat kebahasaan. Nah,

membahasa mengenai hakikat bahasa, Anderson Anderson (dalam Tarigan,

2015, pp. 2–3) mengungkapkan bahwa terdapat delapan hakikat dasar bahasa,

diantaranya: bahasa adalah suatu sistem, bahasa adalah vokal (bunyi ujaran),

bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suka (arbytari symbols), setiap

(14)

bahasa memiliki sifat unik dan bersifat khas, bahasa dibentuk dari kebiasaan- kebiasaan, bahasa adalah alat komunikasi, bahasa berkaitan erat dengan budaya tempatnya berada, dan bahasa itu berubah-ubah.

Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, bahasa digunakan untuk berbicara. Kedudukan bahasa dalam kehidupan manusia tidak bisa tergantikan. Kedudukan bahasa selaku media komunikasi sudah masuk ke segala sendi kehidupan manusia. Bahasa merupakan linguistik yang bidang konsumsinya jelas banyak ditetapkan oleh faktor- faktor non- linguistik. Seperti aspek suasana, siapa pembicara, pendengar, dan dimana, juga menjadi aspek dalam penentuan penerapan bahasa. Kedudukan bahasa selaku media komunikasi masuk di bermacam bidang antara lain bidang pembelajaran, jenjang ekonomi, politik, keagamaan, perniagaan, dll., terhitung pula dalam dunia komedi. Bahasa memiliki kedudukan yang bernilai dalam komedi, yakni sebagai media interaksi komedi, antara komedian serta pemirsa atau penonton. Lewat media bahasa, pemirsa yang memandang maupun mendengar komedi akan tertawa. Dalam pemanfaatan bahasa, komedian memanipulasi bahasa semau hatinya, bertujuan untuk membuat pemirsa atau penonton tertawa. Manipulasi bahasa yang dicoba, semacam pemakaian akronim, gaya bahasa, bahasa slang serta sebagainya.

Pada pemakaian bahasa selaku alat komunikasi tentunya tidak

terlepas dari gaya bahasa. Gaya bahasa dapat dideskripsikan sebagai metode

seseorang untuk menyuarakan benak atau isi pikiran, gagasan, inspirasi,

perasaan, dll., dengan memanfaatkan kata ataupun kalimat yang khas dengan

(15)

bertujuan agar menarik, pengaruhi, dan meyakinkan. Pemakaian gaya bahasa sangat mendominasi atau menonjol dalam banyak komedi. Menurut Al- Ma’ruf (2009, p. 9) “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan gagasan dan perasaan dengan bahasa khas sesuai dengan kreativitas, kepribadian, dan karakter pengarang untuk mencapai efek tertentu, yakni efek estetik atau efek kepuitisan dan efek penciptaan makna pemakaian”. Bisa dikatakan peran pemakaian gaya bahasa, baik secara lisan ataupun tertulis, yakni sebagai penguatan terhadap maksud yang hendak dituturkan. Yang terkadang menjadi masalah, tidak seluruh orang yang menerima pesan ataupun pikiran tersebut memahami arti sesungguhnya dari pesan yang disampaikan. Uraian yang kurang pas pada arti suatu ujaran bisa memunculkan salah penafsiran ataupun pemahaman.

Agar memahami makna dari ujaran yang paling mendekati maksud dari penutur, lawan tutur maupun petutur wajib mencermati identitas konteks yang menunjang ujaran tersebut, sebab pada hakikatnya konteks mempengaruhi arti suatu ujaran. Ciri-ciri konteks seperti penutur, lawan bicara, subjek yang akan dibahas, situasi dan kondisi, dan sebagainya. Gaya bahasa digunakan agar bahasa yang digunakan tidak kaku dan lebih rileks.

Gaya bahasa memberikan efek keindahan dan kemudahan bagi mitra komunikasi untuk memahami bahasa yang digunakan. Gaya bahasa ini termasuk hiperbola, metafora, ironi dan sebagainya, termasuk sarkasme.

Sarkasme adalah gaya bahasa yang kasar, tetapi sering digunakan

dalam komedi. Menurut Keraf (2010, p. 144) kata sarkasme diturunkan dari

(16)

kata Yunani sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “mengigit bibir karena marah”, “berbicara karena kepahitan”. Gaya bahasa sarkasme biasa dipakai untuk menghina orang lain sebagai bahan komedinya. Pemanfatan gaya bahasa sarkasme hampir digunakan oleh seluruh jenis komedi, mulai dari Ludruk yang berkembang di Jawa Timur, Ketoprak yang berkembang di Jawa Tengah, Lenong dari Betawi, termasuk dalam Stand up comedy ( Komedi tunggal).

Ramon (2016, p. 5) Stand up comedy adalah salah satu bentuk pertunjukan komedi modern. Biasanya, seorang komikus muncul di depan penonton melakukan Jokes, berbicara langsung kepada mereka dan menghadapi reaksi penonton secara langsung dan seketika. Sejarah lahirnya Stand up comedy dimulai sekitar tahun 1800-an di Amerika yang saat itu masih berwujud pertunjukan teater dan salah satunya yang pernah tercatat adalah yang bernama The Minstrel Show yang diselenggarakan oleh Thomas Dartmouth “Daddy” Rice. The Minstrel Show memulai karirnya sebelum perang saudara terjadi di Amerika.(Papana, 2016, p. 1)

Saat itu belum ada pengeras suara seperti mikrofon, komikus bercanda dengan slapstick (gerakan tubuh) atau yang lebih dikenal dengan lelucon fisik. Meski begitu, peristiwa ini mampu bertahan hingga abad ke-20.

Ketenaran Stand up comedy mengalami pasang surut. Meski mengalami

pasang surut Stand up comedy tetap bertahan, hingga terus menyebar di

Indonesia pada abad ke-20. Pada awal abad 20 Stand up comedy mengalami

(17)

perkembangan yang sangat pesat di Indonesia. Perkembangan tersebut tidak lepas dari banyaknya kompetisi Stand up comedy yang diadakan oleh komunitas Stand up comedy di Indonesia.(Nuryanto, 2014).

Perkembangan teknologi saat ini juga ikut andil dalam perkembangan Stand up comedy, misalnya jika dulu kita hanya bisa menonton Stand up comedy di TV dengan waktu tayang yang telah ditentukan, sekarang kita bisa menonton Stand up comedy dimana saja dan kapan saja. Semua itu bisa dilakukan karena saat ini sudah banyak platform media sosial yang bisa digunakan untuk menayangkan stand up comedy, contohnya YouTube. Stand up comedy merupakan salah satu jenis komedi yang sulit dilakukan, karena menuntut wawasan dan kecerdasan yang lucu.

Meski Stand up comedy menuntut kecerdasan, penggunaan sarkasme atau penggunaan bahasa kasar dalam komedi tidak bisa ditinggalkan. Dalam Stand up comedy Abdur, salah satu komikus yang menjadi alumni dari acara stand up comedy di salah satu televisi swasta di Indonesia, penggunaan sarkasme untuk mengkritik orang lain tidak bisa ditinggalkan. Penggunaan sarkasme tidak membuat orang yang dikritik marah, bahkan membuat orang tersebut tertawa juga.

Abdur sendiri adalah seorang stand up comedya-an yang berasal dari

timur Indonesia, dalam stand up comedy-nya sering kali dia menggunakan

majas sindiran sebagai bentuk protesnya terhadap pemerintah Indonesia yang

terkadang menghiraukan kampung halamannya dengan pembawaan komedi

sehingga sindiran yang ingin diutarakannya tersampaikan dalam bentuk

(18)

komedi yang menghibur. Salah satu alasan peneliti tertarik untuk meneliti penggunaan sarkasme yang dilakukan Abdur, karena dalam stand up comedy- nya, Abdur jarang menggunakan sindiran kasar seperti sarkasme, dia lebih sering menggunakan satire yang jenis sindirannya memiliki kemiripan dengan sarkasme, namun tidak disertai dengan iringan umpatan kasar. Contoh penggunaan majas sindiran yang dilakukan Abdur misalnya saat dia menyindir pembayaran PPN dengan mengatakan “Ini sama seperti tidur, tapi kalau tutup mata bayar”. Selain itu, penulis juga tertarik karena Abdur menggunakan logat orang timur yang terdengar unik. Berdasarkan alasan tersebut, maka penelitian ini mengambil judul “Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand up comedy Abdur di Youtube”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka rumusan masalah yang perlu dikaji adalah:

1. Bagaimana bentuk gaya bahasa sarkasme pada Stand up comedy Abdur di Youtube?

2. Bagaimana makna gaya bahasa sarkasme pada Stand up comedy Abdur di Youtube?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin di capai adalah:

1. Mendeskripsikan bentuk gaya bahasa sarkasme pada Stand up comedy

Abdur di Youtube.

(19)

2. Mendeskripsikan makna gaya bahasa sarkasme pada Stand up comedy Abdur di YouTube.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoritis yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

a. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan pengetahuan bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran gaya bahasa sarkasme.

b. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tambahan tentang studi gaya bahasa sarkasme dalam Stand up comedy.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

a. Pembaca

Memberi wawasan kepada pembaca tentang penggunaan gaya sarkasme.

b. Peneliti

Sebagai bahan kajian pustaka dan referensi selanjutnya, khususnya mengenai penelitian gaya bahasa sarkasme.

E. Definisi Istilah

Setiap istilah akan diuraikan untuk memudahkan pemahaman dalam

penelitian ini. Hal ini dilakukan guna menghindari salah tafsir dari pembaca

(20)

dan mengerucutkan langsung pada permasalahan. Berikut penjabaran dari definisi istilah tersebut.

1. Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.(Keraf, 2010, p. 1)

2. Gaya bahasa adalah cara pengungkapan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.(Keraf, 2010, p. 113) 3. Sarkasme adalah gaya yang mengandung kepahitan dan celaan getir,

menyakiti hati dan kurang enak didengar.(Keraf, 2010, p. 143)

4. Stand up comedy atau pelawak tunggal adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya disebut komikus membawa lawakannya diatas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung dengan cara bermonolog mengenai suatu topik.(Lanin, 2011)

5. YouTube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibua oleh tiga

mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs web ini

memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi

video.(Hopkins, 2006)

(21)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Ada beberapa penelitian terdahulu yang relevan atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu sebagai berikut:

a. Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Edi Setiawan (2018) yang berjudul “Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme Pada Komunitas Motor”.

Pada penelitian ini menjelaskan tentang makna gaya bahasa sarkasme serta fungsi penggunaan gaya bahasa sarkasme pada komunitas motor.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Fadli Winata Rachmat (2017) yang berjudul “Penggunaan Sarkasme dalam Pergaulan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar”. Fokus peneliti dalam penelitian ini adalah pada pemerolehan bahasa sarkasme dan faktor penyebab bahasa sarkasme ini hadir dan menjadi kebiasaan.

c. Penelitian yang dilakukan Endah Rospitasari (2019) yang berjudul

“Analisis Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand up comedy Pandji Pragiwaksono”. Penelitian ini berfokus pada bentuk, makna dan tujuan gaya bahasa sarkasme dalam Stand up comedy.

d. Penelitian yang dilakukan Dwi Fitri Haryanto yang berjudul “Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme pada Film The Raid:Berandal”. Fokus penelitian ini adalah bentuk dan penggunaan bahasa sarkasme dalam film The Raid:

Berandal.

(22)

2. Pembahasan Materi a. Pengertian Gaya Bahasa

Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, disamping pilihan kata atau diksi, ada juga yang disebut dengan gaya bahasa atau lebih seringnya dikenal dengan istilah majas. Peranan gaya bahasa ini, jika digunakan dalam karya sastra maka akan memberikan dampak keindahan untuk karya tulis. (Djafar, 2020, p. 2)

Pengertian gaya bahasa menurut Tarigan (1985, p. 5)gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca.

Definisi gaya bahasa menurut Harimurti (dalam Pradopo, 1993, p.

265) adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam bertutur atau menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu untuk memperoleh efek tertentu. Efek yang dimaksud dalam hal ini adalah efek estetis yang menghasilkan nilai seni.

Definisi gaya bahasa menurut Achmadi (1988, pp. 155–156), adalah

kualitas penglihatan, sudut pandang seseorang, karena ini mencerminkan cara

pengarang memilih dan menempatkan kata-kata dan kalimat dalam

mekanisme esainya. Gaya bahasa menciptakan keadaan suasana hati tertentu,

misalnya kesan baik atau buruk, senang, tidak enak, dan sebagainya yang

diterima pikiran dan perasaan karena gambaran tempat, objek, atau kondisi

tertentu.

(23)

Albertine (2005, p. 51), mengemukakan bahwa gaya bahasa adalah bahasa yang bersumber dari bahasa yang biasa digunakan dalam gaya tradisional dan gaya literal untuk menggambarkan orang atau benda. Dengan menggunakan gaya bahasa, eksposur imajinatif menjadi lebih segar dan lebih berkesan. Gaya bahasa meliputi: arti kata, gambar, perumpamaan, dan simbol serta alegori. Arti kata-kata meliputi antara lain: arti denotatif dan konotatif, kiasan, parodi dan sebagainya; sedangkan perumpamaan biasanya meliputi antara lain: simile, metafora dan personifikasi.

Dalam definisi gaya menurut Luxemburg dkk (1989, p. 105), gaya bahasa merupakan sesuatu yang memberi ciri unik pada suatu teks. Teks pada gilirannya dapat berdiri sebagai individu yang berbeda dari individu lain.

Definisi gaya bahasa menurut Keraf (2010, p. 115) gaya bahasa yang

baik itu harus mengandung tiga unsur yaitu kejujuran, sopan santun dan

menarik. Dikatakannya bahwa dalam hal gaya ini kita mengenal dua istilah

yaitu “bahasa retorik” (rhetorical device) dan “bahasa kias” (figure of

speech). Bahasa retorik atau gaya bahasa dan bahasa kias merupakan

penyimpangan dari bahasa. Berdasarkan pendapat tersebut, bisa kita

simpulkan jika gaya bahasa menggunakan ragam bahasa yang unik dan dapat

diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang menyimpang namun dalam

artian baik dari pemakaian bahasa sehari-hari atau yang lebih dikenal dengan

bahasa khas dalam sastra. Gaya bahasa yakni sebuah bentuk pengungkapan

pikiran atau imajinasi selayak dengan tujuan dan dampak yang akan

dciptakan.

(24)

b. Jenis-Jenis Gaya Bahasa

1) Gaya Bahasa (Majas) perbandingan

Bahasa majemuk komparatif adalah majas yang menyatakan perbandingan. Perbandingan diekspresikan dengan berbagai cara tergantung pada bahasa yang digunakan. Majas perbandingan dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

a) Majas Personifikasi

Majas personifikasi adalah majas yang seolah-olah menjadikan benda mati selayaknya makhluk hidup.

b) Majas Tropen

Majas tropen adalah majas yang memakai kata-kata yang tepat atau sejajar untuk mendeskripsikan kondisi atau pengertian tertentu.

c) Majas metafora

Majas ini ialah majas yang memanfaatkan suatu benda atau objek untuk menggambarkan sifat yang ingin diutarakan.

d) Majas Asosiasi

Majas asosiasi merupakan majas yang digunakan untuk membuat perbandingan antara dua objek berbeda yang dianggap sama, misalnya ditandai dengan menggunakan kata bagaikan, seperti ataupun bak.

e) Majas Hiperbola

Bahasa hiperbolik adalah kiasan yang mengungkapkan suatu kata

dengan cara yang dilebih-lebihkan, terkadang perbandingannya tidak

masuk akal.

(25)

f) Majas Eufemisme

Bahasa eufemisme adalah jenis kiasan yang menggunakan kata- kata sopan atau padanan yang lebih halus untuk menggantikan kata yang kurang etis.

2) Gaya bahasa (majas) Pertentangan

Bahasa pertentangan adalah bahasa majas yang menggunakan kata kiasan yang bertentangan dengan fakta sebenarnya. Majasa ini terbagi atas beberapa bagian, diantaranya:

a) Majas Paradoks

Majas paradoks merupakan majas yang membandingkan situasi sebenarnya dengan kebalikannya.

b) Majas Litotes

Majas litotes biasanya digunakan merendahkan diri, walaupun situasi yang sebenarnya terjadi berbanding terbalik dari apa yang diungkapkan.

c) Majas Antitesis

Majas antitesis merupakan kiasan yang menggabungkan kata yang saling bertentangan.

3) Gaya bahasa (majas) sindirian

Sindiran adalah majas yang menggunakan kata kiasan untuk

mengekspresikan sindiran kepada sesuatu atau seseorang. Majas sindiran

dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

(26)

a) Majas Ironi

Majas ironi merupakan majas yang menggunakan ungkapan bertentangan dengan fakta, biasanya majas ini seakan-akan memberi pujian tetapi sebenarnya merupakan suatu sindiran

b) Majas Sinisme

Majas sinisme adalah majas yang menyampaikan sindiran secara langsung pada objek yang dimaksud.

c) Majas Sarkasme

Majas sarkasme adalah majas sindirian yang menggunakan ungkapan kata kasar. Penggunaan majas ini bisa saja melukai perasaan orang yang sedang mendengarnya.

d) Majas Satire

Majas satire hampir sama dengan majas sarkasme karena sama- sama menyampaikan sindiran dengan keras dan kasar, namun majas satire menggunakan kata-kata ungkapan dalam sindirannya.

e) Majas Innuendo

Majas innuendo adalah majas yang mengungkapkan sindiran dengan mengecilkan fakta yang sebenarnya.

4) Gaya bahasa (majas) penegasan

Majas penegasan merupakan majas yang menggunakan kata kiasan

untuk meningkatkan pengaruh kepada pembacanya supaya menyetujui

sebuah ujaran, atau kejadian. Majas penegasan dapat dikembangkan lagi

menjadi majas-majas berikut ini:

(27)

a) Majas Pleonasme

Majas pleonasme merupakan majas yang menggunakan kata bermakna sama untuk menegaskan sesuatu.

b) Majas Repetisi

Majas repetisi adalah majas yang menggunakan kata berulang pada kalimat.

c) Majas Klimaks

Majas klimaks adalah majas yang digunakan untuk mengurutkan gagasan dari yang terendah sampai tertinggi.

d) Majas Antiklimaks

Berkebalikan dengan majas klimaks. Majas antiklimaks adalah majas mengurutkan gagasan dari tinggi ke rendah.

c. Gaya Bahasa Sarkasme

Bahasa sarkasme adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kasar, mencela, bisa ironis tetapi dengan cara yang pahit dan menyakitkan.

Bentuk majas ini terkadang sulit dibedakan dengan kiasan ironi yang

sebenarnya hampir mirip. Namun, sebenarnya sarkasme dalam bahasa

Indonesia berbeda dengan sarcasm dalam bahasa Inggris. Sarkasme dalam

bahasa Inggris berarti menggunakan ironi atau menyatakan kebalikan dari apa

yang sebenarnya ingin kita katakan. Di sini, gaya bahasanya disebut ironi dan

sarkasme cenderung menggunakan kata-kata yang lebih langsung seperti

sinisme.

(28)

Keraf (2010, p. 143) mengungkapkan bahwa sarkasme ialah suatu acuan yang lebih kasar dari ironi yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Terkadang ironi memang digunakan dalam majas ini. Namun, sarkasme bertujuan untuk menyerang, sementara ironi bisa jadi memberikan dampak lucu atau justru iba.

Sejalan dengan Keraf, Waluyo (2010, p. 86) berpendapat bahwa sarkasme adalah penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik. Dapat disimpulkan bahwa majas sarkasme adalah gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata keras yang mengandung kepahitan.

Pendapat lain datang dari Ratna (2013, p. 447), yang mengungkapkan jika sarkasme adalah gaya bahasa yang terdiri atas sindiran kasar. Ungkapan ini menggambarkan dengan jelas bahwa gaya bahasa sarkasme menyakiti hati dan kurang enak didengar. (Afrinda, 2017, p. 64)

Lalu, Waridah (2016, p. 376), juga menjelaskan jika sarkasme merupakan gaya bahasa sindiran yang kasar. Dari hal ini dapat di simpulkan jika gaya bahasa sarkasme memang difungsikan sebagai ajang mengkritik namun dengan ucapan yang pedas dan menyakiti hati.

Menurut beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulakn jika gaya

bahasa sarkasme adalah acuan yang lebih kasar dari ironi dan penggunaan

katanya memang ditujukan untuk menyindir atau mengkritik orang lain secara

keras dan menyakiti hati. Contoh penggunaan sarkasme adalah saat debat dan

pilihan akhir lainnya yang biasanya sulit untuk dilewati. Beberapa profesi

seperti aparat kepolisian yang menangani pelaku kekerasan biasanya akan

(29)

terpaksa menggunakan gaya bahasa tersebut untuk mendapatkan kerja sama tersangka.

d. Pengertian Stand up comedy

Stand up comedy atau pelawak tunggal adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya disebut komikus membawa lawakannya diatas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung dengan cara bermonolog mengenai suatu wacana.

Menurut Ramon (2016), seorang ahli dan pelopor Stand up comedy di Indonesia, Stand up comedy adalah salah satu bentuk pertunjukan komedi, di mana komedian tampil di depan penonton dan berbicara langsung kepada mereka. Ramon juga menambahkan, setiap komikus harus membawa materi original (karya asli sendiri).

Perbedaan antara Stand up comedy dengan seni komedi lainnya adalah comedy yang mengutamakan komedi anti rasial (SARA) dan memiliki aturan yang harus dilakukan oleh sebuah komedi. Berbeda dengan seni komedi lain yang sering kali tidak memiliki peraturan, dalam Stand up comedy ada lima peraturan yang wajib ditaati oleh komikus, yaitu:

1) Jangan mencoba menjadi lucu

Tujuan Stand up comedy bukan untuk menertawakan atau mempermalukan diri sendiri agar orang lain bisa tertawa, melainkan untuk membuat penonton menikmati atau menertawakan topik atau materi yang dibawakan oleh komikus tersebut.

2) Jangan menceritakan lawakan basi

(30)

Lelucon adalah sesuatu yang dikatakan seseorang untuk memancing tawa. Inti dari tidak menceritakan lelucon adalah tidak menceritakan lelucon murahan. Murah berikut adalah lelucon yang tidak informatif, tidak umum atau memberikan lelucon yang banyak orang dengar. Makna lelucon yang tidak informatif adalah lelucon yang berisi lelucon sesaat, dan tidak memuat informasi yang dapat diserap untuk masa depan.

Makna lelucon yang tidak biasa merupakan lelucon yang terkadang tidak dapat diterima oleh kelompok tertentu, dan hal ini biasanya dipengaruhi oleh tradisi. Poin utama dari bagian ini adalah mengajak dan melatih komikus untuk menjadi komikus kreatif, dan menjadi komikus cerdas dengan lelucon berkualitas yang dapat dipahami semua orang.

3) Serius

Seorang komikus harus tampil serius, tidak memperlihatkan ekspresi atau mimik kaku dan canggung, dan komikus harus bermartabat ketika berdiri di depan penonton, tidak galak karena akan membawa citra buruk bagi pendengarnya, dan berdampak negatif pada komikus yaitu kehilangan perhatian. dan pengendalian diri yang mengarah pada penampilan yang buruk.

4) Jangan bercerita bertele-tele

Lelucon yang disampaikan tidak boleh terlalu panjang dan bertele-

tele, karena akan membuat penonton / penonton merasa bosan dan bingung

dengan apa yang akan dikatakan komikus. Seorang komikus harus lugas,

ringkas dan jelas. Isi materi yang disajikan tidak panjang, namun dapat

mendeskripsikan dan memberikan pemahaman terhadap materi yang disajikan.

(31)

5) Santai

Seorang komikus harus membuat penonton / penontonnya merasa rileks, sehingga bisa melepaskan penat, bukan membuat penontonnya tegang, kewalahan, bingung atau takut. Seorang komikus juga harus tenang dan leluasa dalam menyampaikan materi, jika tidak santai penyampaian materi tidak akan berlangsung mulus.

Selain itu, dalam Stand up comedy, komikus akan berhadapan langsung dengan penonton, penonton akan memberikan tanggapan spontan terhadap komikus. Ketika lelucon yang dibawakan tidak lucu (Bomb) atau membosankan, penonton akan mulai mengganggu komikus atau yang biasa disebut Heckling. Tentu saja respon seperti ini akan membuat komikus menjadi stress atau tertekan.

e. Istilah dalam Stand up comedy

1) Set Up adalah bagian pertama dari joke, yang menyiapkan orang untuk tertawa.

2) Punch Line adalah bagian kedua dari joke, yang membuat orang tertawa.

3) One Liner adalah bit singkat yang terdiri dari satu sampai tiga kalimat saja.

4) Call back adalah teknik yang menggunakan punch line pada bit-bit sebelumnya sebagai punch line pada bit sekarang.

5) Rule of Three adalah teknik penggunaan tiga kalimat, dua kalimat awal

digunakan sebagai set up, satu kalimat terakhir digunakan sebagai punch

line.

(32)

6) Act Out adalah menunjukkan dengan gerakan. Act out sering digunakan dalam Stand up comedy karena mudah dan keberhasilan tinggi.

7) Impersonation adalah teknik peniruan tokoh, biasanya yang sudah terkenal. Peniruan bisa gaya bicara, gerak tubuh, dan kata-kata khasnya.

8) Comparisons adalah penyampaian joke dengan melakukan pembandingan dua hal atau lebih.

9) Riffing adalah mengajak penonton untuk berinteraksi. Biasanya menjadikan penonton sebagai objek joke.

10) Gimmick adalah alat bantu atau hal lain di luar Stand up comedy yang digunakan untuk joke. Biasanya sebagai punch line.

11) Heckler adalah pengganggu dalam Stand up comedy. Heckler biasanya berteriak saat set up sedang dibawakan, meneriakkan punch line sebelum komikus mengutarakannya, atau bahkan menyuruh komikus untuk turun dengan kalimat “Huu... atau Turun”.

B. Kerangka Pikir

Gaya bahasa atau majas dalam pembuatan puisi atau cerita fiksi

dapat memberikan efek keindahan dan estetika. Secara umum gaya bahasa

terbagi atas beberapa kelompok seperti perbandingan, pertentangan, sindiran

dan penegasan. Maing-masing dari keempat gaya bahasa ini terbagi lagi

menjadi beberapa bagian yang lain. Gaya bahasa, selain memberikan efek

keindahan, beberapa gaya bahasa juga memberikan kesan atau konotasi

tertentu tergantung di mana gaya bahasa ini digunakan, atau situasi apa dia

(33)

digunakan. Seperti gaya bahasa sindiran misalnya, gaya bahasa ini terbagi atas tiga bagian yaitu ironi, sinisme dan sarkasme.

Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis penggunaan gaya

bahasa sarkasme dalam stand up comedy, ini dikarenakan seiring

berkembangnya jaman, membuat gaya bahasa juga banyak digunakan dalam

berbagai bidang contohnya seperti bidang hiburan seeperti penyanyi, penulis

novel, penyair hingga stand up comedy. Oleh karena itu, untuk mengetahui

bagaimana penggunaan sarkasme dalam stand up comedy berdasarkan uraian

di atas, maka kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai

berikut

(34)

22

Bagan Kerangka Pikir

Gaya Bahasa

Sinisme

Penegasan

Ironi Sarkasme Satire

Stand Up Comedy

Analisis

Temuan

Perbandingan Pertentangan Sindiran

Innuendo

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian

Lexy j. Moleong (2007), mendefinisikan penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan melalui uraian dalam bentuk kata- kata dan bahasa, dalam konteks alamiah tertentu dan dengan menggunakan berbagai cara alamiah. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat definisi, deskripsi atau implikasi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, karakteristik dan hubungan antar fenomena yang dimiliki.

Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitiannya adalah menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang masalah manusia dan sosial, bukan untuk mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu kenyataan seperti yang dilakukan oleh penelitian kuantitatif dengan positivisme.

2. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi studi kualitatif

sekaligus membatasi penelitian guna memilih mana data yang relevan dan

mana yang tidak relevan (Moleong, 2007). Batasan penelitian kualitatif lebih

didasarkan pada tingkat kepentingan / urgensi permasalahan yang dihadapi

(36)

dalam penelitian ini. Penelitian ini akan difokuskan pada “Penggunaan Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand up comedy Abdur di YouTube” yang objek utamanya merupakan Stand up comedy dari Abdur di YouTube.

B. Data dan Sumber Data

Subroto (dalam Al-Ma’ruf, 2012, p. 13), menyatakan bahwa data adalah semua informasi atau bahan yang disediakan oleh alam yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji untuk memberikan jawaban atas masalah yang sedang dipelajari. Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud kata, kalimat, dan wacana yang terdapat dalam Stand up comedy Abdur yang menggunakan bahasa sarkasme.

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer yaitu data utama yang diseleksi atau diperoleh langsung dari sumbernya tanpa perantara (Siswanto, 2010, p. 70). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Stand up comedy Abdur yang diunggah melalui kanal YouTubenya januari 2019.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau lewat perantara, tetapi bersandar kepada kategori atau parameter yang menjadi rujukan (Siswanto, 2010, p. 71). Data sekunder dalam penelitian ini adalah artikel mengenai Stand up comedy dari internet.

C. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Subroto dalam Al-Ma’ruf (2012, p. 256), teknik simak dan

catat adalah suatu teknik yang menempatkan peneliti sebagai instrumen kunci

(37)

dengan melakukan penyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data. Teknik pengumpulan data merupakan langkah strategis.

Dalam sebuah, penelitian jika pengumpulan data tidak berjalan dengan baik maka penelitian tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Mengingat tujuan dari penelitian itu sendiri adalah untuk memperoleh data, maka teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan studi dokumentasi. Dalam hal ini, wacana stand up comedy Abdur di YouTube adalah sumber data utama atau menjadi sumber primer dalam penelitian ini.

Kajian kepustakaan dalam penelitian ini dilakukan dengan penghayatan secara langsung dan pemhaman arti secara rasional. Untuk melaksanakan hal tersebut, maka dibuatlah langkah-langkah studi dokumentasi yang berfungsi sebagai instrument peneltian. Teknik studi dokumentasi diterapkan dengan langkah-langkah di bawah ini:

1. Peneliti menonton secara kritis sumber data dalam penelitian ini, yaitu Stand up comedy Abdur di YouTube. Hal ini dimaksudkan menjadi langkah pertama untuk memahami apa isi pesan dalam stand up comedy tersebut.

2. Peneliti menonton ulang stand up comedy tersebut guna mencari dan

mencatat data-data yang dinginkan. Dalam hal ini, data-data tersebut

adalah berbagai kata, frasa, dan wacana yang termasuk kedalam

penggunaan gaya bahasa.

(38)

3. Peneliti memperhatikan kembali data-data yang termasuk gaya bahasa, lalu menyimpulkan data-data yang termasuk ke dalam gaya bahasa sarkasme.

D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam menemukan gaya bahasa sarkasme pada Stand up comedy Abdur di YouTube adalah analisis kualitatif.

Moleong (2007, p. 3), mengemukakan bahwa analisis kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku objek dan subjek yang diamati. Oleh karena itu, analisis kualitatif dalam penelitian ini yaitu, peneliti akan mendeskripsikan bentuk gaya bahasa sarkasme yang digunakan dalam stand up comedy Abdur di YouTube dengan menggunakan analisis triangulasi.

Menurut Susan Stainback (dalam Sugiyono, 2014) tentang triangulasi, simulasi ini bukan untuk menentukan kebenaran tentang fenomena sosial yang sama, namun bertujuan untuk meningkatkan pemahaman seseorang tentang apa yang yang telah diteliti. Triangulasi dalam penelitian ini digunakan sebagai sarana agar peneliti lebih paham dengan data dan fakta yang dimilikinya.

Jadi, setelah peneliti menganalisis data yang di dapatkan dari stand

up comedy, peneliti harus melakukan analisis ulang dan mendalam untuk

mengetahui data tersebut benar-benar data yang dibutuhkan. Adapun

langkah-langkah yang digunakan dalam analisis triangulasi adalah:

(39)

1. Reduksi Data

Data mentah yang diperoleh dari hasil studi dokumentasi akan sangat banyak sehingga perlu dilakukan reduksi data, yaitu mencatat secara rinci dan teliti setiap data yang didapatkan. Pada penelitian ini, data yang didapatkan dengan menonton stand up comedy akan dikumpulkan dengan memilah hal- hal yang pokok, dengan memfokuskan terhadap data yang penting khususnya berupa kata, frasa, hingga wacana yang berhubungan dengan gaya bahasa sindiran,

2. Penyajian Data

Setelah reduksi data dilakukan, data yang telah melalui pengecekan ulang tadi dikumpulkan. Lalu selanjutnya akan dimasukkan kedalam instrumen sesuai rumusan yang telah diklasifikasikan dalam hal ini karena data yang didapat dan dikumpulkan adalah gaya bahasa sindiran, saat penyajian data maka akan dipilah ulang sehingga yang tersisa adalah data yang mencakup tentang gaya bahasa sindiran jenis sarkasme, dan selanjutnya adalah mendeskripsikan data tersebut.

3. Penarikan Kesimpulan

Langkah terakhir dalam analisis data ini adalah penarikan

kesimpulan dan verivikasi data. Kesimpulan yang diambil merupakan hasil

proses analisis dari deskripsi kritis tentang Penggunaan Gaya Bahasa

Sarkasme Stand up comedy Abdur di YouTube. Jadi, semua data yang telah

didapatkan dan dipilah tadi dalam langkah ini akan di deskripsikan sesuai

(40)

dengan rumusan yang telah ada sejak awal, yaitu bentuk penggunaan gaya

bahasa sarkasme dan makna dari bentuk penggunaan bahasa tersebut.

(41)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Bentuk Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand up comedy Abdur di Youtube Data penelitian pada penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam Stand up comedy Abdur, diambil dari beberapa channel Youtube yang mengunggah video saat Abdur melakukan stand up-nya. Berdasarkan analisis terhadap data penelitian yang berupa video-video yang di unggah di Youtube, Stand up comedy Abdur, penggunaan gaya bahasa sarkasme ternyata bukanlah hal sering dia lakukan,, mengingat hampir semua penampilan Stand up comedy- nya ditayangkan di TV sehingga penggunaan bahasa sarkasme kadang tidak dilakukan untuk menghindari penyensoran dari pihak TV itu sendiri. Namun, meskipun begitu, ada beberapa ungkapan kasar yang dilakukan oleh Abdur dalam Stand up comedy-nya. Bentuk-bentuk penggunaan bahasa sarkasme itu sebagai berikut:

Kutipan 1.

“Saya yang Under dia yang Dog.” (Pada menit 1:33, video 1)

Bentuk gaya bahasa sarkasme pada kutipan 1 berbunyi kata umpatan dengan perumpamaan seekor hewan dalam hal ini kata Dog yang dalam bahasa Indonesia adalah Anjing.

Kutipan 2.

“Kaliankan sudah biasa Nepotisme.” (Pada menit 2:42, video 2)

(42)

Bentuk gaya bahasa sarkasme pada kutipan 2 berbunyi kata makian kepada seseorang yang suka berlaku curang dalam melakukan sesutau, dalam hal ini katanya berbunyi Nepotisme.

Kutipan 3.

“Di sini saja anak pesantren, di hotel Anak setan.” (Pada menit 3:31, video 3)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 5 adalah berupa kata umpatan yang berupa makhluk astral dalam hal ini Anak setan.

Kutipan 4.

“Abdur, dasar bonggol.” (Pada menit 3:57, video 3)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 4 adalah berupa umpatan yang diumpamakan sebagai bagian dari pohon atau kayu dalam hal ini bonggol.

Kutipan 5.

“Hei! Kalian muka-muka Terumbu karang.” (Pada menit 6:52, video 4)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 5 adalah berupa makian yang diumpamakan sebagai gundukan batu seperti koral yang menjadi tempat berkumpulnya ikan di bawah laut, dalam hal ini Terumbu karang.

Kutipan 6.

“Tanpa saya beginipun, itu muka sudah preman.” (Pada menit 1:08,

video 5)

(43)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 6 berupa perumpamaan dengan perbandingan frasa dalam hal ini muka preman.

Kutipan 7.

“Kalau tidak tau, makanya sekolah.” (Pada menit 4:04, video 5)

Bentuk penggunaan gaya bahasa pada kutipan 7 adalah bentuk makian terhadap seseorang tentang pengetahuan dalam hal ini berisikan perintah untuk bersekolah.

Kutipan 8.

“Hei, bro Bangsat nih, berarti dulu kita mati demi bendera yang salah.” (Pada menit 6:25, video 5)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 8 adalah bentuk cacian yang kasar dengan penggunaan kalimat Bro Bangsat nih.

Kutipan 9.

“Bajingan mereka, kita mati demi bendera ini, kita ganti dengan ini.”

(Pada menit 6:25, video 5)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 9, adalah bentuk cacian yang sangat kasar dengan penggunaan kalimat Bajingan mereka.

Kutipan 10.

“Yang lain roasting putri dulu, saya roasting cumi-cumi.” (Pada menit

0:30 video 6)

(44)

Bentuk penggunaan sarkasme pada kutipan 10 menggunakan ungkapan kata kasar dengan perumpamaan hewan sebagai objeknya dalam hal ini cumi-cumi.

Kutipan 11.

“Kiki saya cikungunyanyah nih! Jangan gigit lagi dong.” (Pada menit 0:50, video 6)

Bentuk penggunaan sarkasme pada kalimat di kutipan 11 berupa isyarat kasar yang diberikan dalam hal ini mengisyaratkan hewan penyebab cikungunyanyah yaitu nyamuk.

Kutipan 12.

“Dur, Dur, Roasting berhala saja pake nge-blank.” (Pada menit 1:14, video 6)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 12 menggunakan bentuk makian kasar berupa benda sembahan dalam hal ini kata berhala.

Kutipan 13.

“Gak ada akhlak kau!” ( Pada menit 2:24, video 6)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kalimat di kutipan 13, menggunakan ungkapan kasar dalam hal ini yaitu sindiran untuk kelakuan seseorang.

Kutipan 14.

“Ada orang timur jelek satu.” (Pada menit 2:46, video 6)

(45)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 14, menggunakan bahasa kasar yang menghina fisik orang lain dalam hal ini orang jelek.

Kutipan 15.

“Dari jauh kita lihat macam logo Geprek Bensu.” (Pada menit 3:35, video 6)

Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 15, menggunakan ungkapan makian perumpamaan sebuah benda dalam hal ini logo Geprek Bensu.

Kutipan 16.

“Jadi Kiky ini semacam tanah. Kau tanah pejabat atau simpanan pejabat kau ini.” (Pada menit 4:54, video 6)

Bentuk penggunaan kalimat sarkasme pada kutipan 16, menggunakan cacian yang sangat kasar dalam hal ini tanah dan simpanan pejabat.

Kutipan 17.

“Bagaimana Kiki rasanya viral pake karya orang lain?” (Pada menit 5:46, video 6)

Bentuk penggunaan bahasa sarkasme pada kalimat dalam kutipan 17 yaitu berupa celaan dalam hal ini viral pake karya orang lain.

Kutipan 18.

“Penasaran, otaknya ada tidak sih?” (Pada menit 6:53, video 6)

(46)

Bentuk gaya bahasa sarkasme pada kalimat dalam kutipan 18, menggunakan celaan yang sangat kasar, dalam hal ini yaitu otaknya ada tidak sih?

2. Makna Gaya Bahasa Sarkasme pada Stand up comedy Abdur di Youtube Gaya bahasa sarkasme seringnya digunakan untuk menghina orang lain, biasanya penggunaan gaya bahasa sarkasme berupa makian, celaan, kritikan yang menyakiti hati. Namun, dalam Stand up comedy semua hinaan hingga celaan yang di ungkapkan atau di utarakan biasanya bersifat komedi, walaupun ungkapan itu sepertinya menyakiti hati. Bentuk sarkasme yang digunakan dalam komedi biasanya berupa satire, namun khusus penelitian ini akan mengambil gaya bahasa sarkasme yang ditemukan dalam Stand up comedy yang dilakukan oleh Abdur saat membawakan materi. Bentuk penggunaan gaya bahasa sarkasme yang digunakan Abdur pasti memiliki makna-makna tersendiri, seperti pemaparan berikut ini:

Kutipan 1.

“Saya yang Under Dzawin yang Dog” (Pada menit ke- 1:33).

Penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 1 ini termasuk ke

dalam penggunaan secara tidak langsung walaupun diucapkan dengan sengaja

bukan sebagai umpatan namun celaan kepada orang lain. Dalam hal ini, kata

Dog adalah kata dalam bahasa Inggris yang apabila diterjemahkan ke dalam

bahasa Indonesia, makan berarti Anjing. Anjing sendiri menurut Kamus Besar

Bahasa Indonesia merupakan hewan menyusui (mamalia) yang biasa

dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dan sebagainya. Penggunaan kata

(47)

ini dirasa kasar karena hewan Anjing untuk masyarakat Indonesia identik dengan hewan yang haram dan menjijikkan.

Kata ini diucapkan oleh Abdur saat menceritakan perumpaan dia dengan temannya yang bernama Dzawin seakan-akan mereka adalah tim underDog jika dalam dunia sepak bola. “Sebenarnya battle ini adalah battle antara tim yang aman dan tim yang tidak aman, ibarat di sepak bola saya dan Dzawin ini tim underdog, saya yang under Dzawin yang Dog.” Dengan penggunaan kata Dog yang dipahami semua orang sebagai Anjing, jadi secara tidak langsung Abdur mengemukakan bahwa temannya yang bernama Dzawin ini adalah orang yang menjijikkan dan haram untuk mendapatkan reaksi tawa dari para penonton.

Kutipan 2.

“Kaliankan sudah biasa Nepotisme.” (Pada menit ke- 2:42).

Penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 2 termasuk ke dalam penggunaan secara tidak langsung yang diucapkan secara sengaja sebagai bentuk hinaan dan kritikan kepada seseorang. Nepotisme sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah. Penggunaan ini dirasa kasar karena Nepotisme adalah sesuatu yang tercela,namun kata ini ditujukan untuk mengkritik.

Kata ini diucapkan Abdur saat menceritakan tentang bagaimana

kantor pemerintah dikampung halamannya dihitung berdasarkan pohon

(48)

tempat mereka berdiri, karena kantor pemerintahan di sana tidak menyediakan ruang tunggu. “Orang antri itu berdasarkan pohon, iya, jadi petugasnya panggil orang tu enak. Pak Marten kedondong satu, ya masuk!

Eh? Nona Marta, ini masih pohon kedondong, pohon asam nanti, sebentar. Itu yang di pojok, di bawah pohon beringin itu, kalian masuk saja, kaliankan sudah biasa Nepotisme.”

Pada paragraf itu dapat dilihat dan dimaknai jika Abdur sedang memberi kritikan pedas dengan menggunakan kaata Nepotisme dalam materi Stand up comedynya. Dan terlihat dari kalimat terakhir, Abdur mengkritik salah satu partai terkenal di Indonesia dengan menggunakan istilah pohon beringin yang menjadi ciri khas partai tersebut. Kesimpulannya, Abdur memang dengan sengaja menggunakan kata-kata tersebut untuk mengkritik tingkah anggota partai ini yang dianggap sangat memalukan karrena hobi melakukan Nepotisme.

Kutipan 3.

“Di sini saja anak pesantren, di hotel Anak setan.” (Pada menit ke- 3:31).

Penggunaan sarkasme pada kutipan ini adalah kata setan, menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia setan merupakanroh jahat (yang selalu

menggoda manusia supaya berlaku jahat) atau kata untuk menyatakan

kemaraham dan sumpah serapah. Jadi, kata setan memang kata yang sering

atau umum digunakan dalam memaki seseorang.

(49)

Abdur menggunakan kata ini saat dia menceritakan kelakuan temannya yang bernama Dzawin yang memiliki perilaku berbeda saat dihadapan orang banyak dan dihadapan orang dekatnya, laludia menggambarkan kelakuan Dzawin itu dengan kata ini. “Dzawin itu pintar sekali mengaji, cuman jarang solat. Di sini saja anak pesantren, di hotel Anak setan.” Kata Abdur kepada penonton.

Penggunaan gaya bahasa sarkasme ini, dianggap sangat kasar karena secara tidak langsung Abdur menggambarkan temannya yang bernama Dzawin sebagai orang yang memiliki tingkah laku buruk dibalik sisi baik yang selalu dia perlihatkan.

Kutipan 4.

“Abdur, dasar bonggol” (Pada menit ke- 3:57).

Penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 5 termasuk sebagai makian kasar yang ditujukan untuk seseorang, dalam hal ini kata bonggol.

Bonggol sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia adalah bonjol pada batang kayu atau daging pada tengkuk atau punuk. Perumpamaan benda terhadap penampilan manusia itu adalah hal yang kasar.

Kata ini diucapkan Abdur saat dia menceritakan pengalamannya

belajar mengaji, dia yang belum tahu mengaji di maki menggunakan kata

bonggol oleh guru mengajinya di kampung. “Guru ngaji saya itu, kalau saya

baca ayat salah-salah begitu dia pasti langsung marah. Abdur, dasar

bonggol!” Dengam penggunaan kata bonggol ini, secara tidak langsung guru

(50)

yang mengajar Abdur mengaji ini menggambarkan Abdur sebagai bagian pohon yang tidak berguna.

Kutipan 5.

“Hei! Kalian muka-muka Terumbu karang..” (Pada menit ke- 6:52).

Penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kutipan 3 termasuk ke dalam penggunaan secara tidak langsung dengan tidak sengaja sebagai bentuk makian kepada seseorang. Kata Terumbu karang adalah kata yang dipakai sebagai makian pada kutipan ini, Terumbu karang sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan ekosistem bawah laut yang dibangun oleh zat yang dihasilkan oleh sekelompok biota laut hingga membentuk struktur semacam batu kapur, menjadi habitat hidup berbagai satwa laut. Dalam pandangan umum, mengumpamakan penampilan seseorang dengan benda yang dianggap buruk memang adalah sebuah makian dan hinaan, untuk itulah kata ini masuk kedalam penggunaan gaya bahasa sarkasme.

Kata ini diucapkan Abdur saat dia memperaktekkan kejadian saat ibunya memarahi anak-anak yang ingin mengajak saudara Abdur untuk memancing. Jadi, menurut Abdur, sejatinya kata ini diucapkan oleh ibunya sebagai bentuk makian. “Hei! Kalian muka-muka Terumbu karang, kalian kalau mau hitam jangan ajak saya punya anak, pergi ajak aspal jalan sana.”

Dengan penggunaan kata Terumbu karang ini, maka secara tidak langsung

ibu dari Abdur menggambarkan anak-anak itu sebagai benda biota laut yang

menjadi habitat ikan.

(51)

Kutipan 6.

“Tanpa saya beginipun, itu muka sudah preman.” (Pada menit ke- 1:08).

Penggunaan kalimat sarkasme pada kutipan 6 adalah kalimat sarkasme yang ditujukan untuk menghina fisik wajah seseorang. Preman sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebuah sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, perampas, dan sebagainya). Pemakaian kata preman dalam kalimat ini sangat kasar karena dalam pandangan umum masyarakat, preman adalah orang-orang yang bertindak kurang baik dan memiliki wajah yang selalu mengintimidasi.

Abdur mengatakan kalimat ini saat menceritakan pengalamannya syuting dan berperan sebagai preman namun oleh sutradaranya dia diperintahkan untuk mengubah penampilan dan gaya rambutnya agar terlihat seram. “Kepala digambar begini karena kemarin ada syuting jadi preman, padahal saya sudah bilang di sutradara sa bilang Pak tanpa saya beginipun, itu muka sudah preman”

Abdur menggunakan kata preman ini dimaksudkan untuk memberikan hinaan kepada dirinya sendiri yang merasa bahwa dia sudah sangat seram atau sangar dan menakutkan walaupun penampilannya tidak diubah, secara tidak langsung Abdur menggambarkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang memiliki tampang seperti preman.

Kutipan 7.

“Kalau tidak tau, makanya sekolah.” (Pada menit ke- 4:04).

(52)

Penggunaan kalimat sarkasme pada kutipan 7 memiliki makna kasar sebagai bentuk penghinaan kepada seseorang. Dalam kalimat ini memiliki makna tersirat jika seseorang itu bodoh karena tidak mengetahui perihal suatu wacana atau pembicaraan. Sekolah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.

Abdur menggunakan kalimat ini saat menjelaskan tentang perbedaan bendera Australia dan Selamdia Baru yang menurut penuturannya akan diganti karena memiliki banyak kesamaan. “Perdana menteri Jhon Key ini bilang bendera mereka terlalu mirip dengan bendera Australi makanya mereka mau ganti bendera kebangsaan. Kalian tau’kan berndera Selandia Baru seperti apa, bendera Australi seperti apa, tauk’kan? Kalau tidak tau, makanya sekolah!” Penggunaan kalimat perintah dalam kutipan ini mengisyaratkan seseorang yang bodoh karena tidak bersekolah, karena sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu, maka orang yang bersekolah dipandang sebagai orang yang cerdas, jadi secara tidak langsung Abdur mengatakan bahwa orang yang tidak tahu perbedaan bendera Selandia Baru dan Australia adalah orang yang bodoh.

Kutipan 8.

“Hei, bro Bangsat nih, berarti dulu kita mati demi bendera yang salah.” (Pada menit ke-6:25)

Penggunaan gaya bahasa sarkasme pada kalimat dalam kutipan 8

dianggap sangat kasar dan bentuk umpatan yang secara langsung ditujukan

(53)

kepada seseorang, umunya digunakan saat dalam keadaan emosi. Kata Bangsat sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kepinding atau kutu busuk. Dalam pandangan masyarakatr, kutu adalah hewan yang terkenal sebagai serangga parasit yang suka mengisap darah binatang ataupun manusia, atau juga terkenal sebagai hama.

Abdur menggunakan kata ini saat memberikan opininya tentang reaksi para pahlawan di dalam kubur jika berndera Indonesia diganti juga karena memiliki kesamaan dengan bendera Monako. “Mereka yang sudah mati, di alam kubur mereka akan saling curhat begitu. Oi, Bro! Bangsat nih!

Berarti dulu kita mati demi bendera yang salah.” Penggunaan kata Bangsat dalam kalimat tersebut adalah sebagai bentuk umpatan yang katanya dilayangkan oleh para pahlawan kepada para pemerintah jika mengganti bendera Indonesia. Jadi, secara tidak langsung Abdur berpendapat bahwa jika mengganti bendera Indonesia itu tidak ada gunanya karena masalah di Indonesia tidak akan selesai hanya karena benderanya diganti, orang yang berpendapat bahwa bendera harus diganti tidak lain dan tidak bukan hanyalah hama seperti kutu.

Kutipan 9.

“Bajingan mereka.” (Pada menit ke- 6:33)

Penggunaan sarkasme pada kutipan 9 ini dianggap sangat kasar

karena sebagai umpatan dan makian yang secara langsung ditujukan terhadap

seseorang. Bajingan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(54)

merupakan sebutan untuk penjahat atau pencopet namun dalam cakapan berarti orang yang kurang ajar.

Abdur menggunakan kata ini masih sebagai reaksi jika bendera Indonesia diganti. “Bajingan mereka, kita mati demi bendera yang ini, mereka ganti jadi ini, sia-sia.” Tutur Abdur sebagai contoh reaksi para pahlawan tehadap wacana jika bendera Indonesia diganti. Makna dari kalimat ini adalah Abdur secara tidak langsung menggambarkan bahwa yang menuturkan wacana perihal mengganti bendera kebangsaan adalah orang yang kurang ajar.

Kutipan 10.

“Yang lain roasting putri dulu, saya roasting cumi-cumi.” (Pada menit ke- 0:30)

Penggunaa gaya bahasa sarkasme dalam kalimat pada kutipan di atas

dianggap kasar karena mengumpakan seseorang sebagai hewan yaitu cumi-

cumi. Cumi-cumi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah binatang

laut, termasuk golongan binatang lunak, tidak bertulang belakang,

menggunakan kepala sebagai alat untuk bergerak, mempunyai sepuluh belalai

di sekeliling mulut dan kantong tinta yang terdapat di atas usus besar dan

bermuara di dekat anus, yang berkontraksi dan mengeluarkan cairan hitam

apabila ada serangan, dagingnya kenya berwarna putih. Namun, dalam kata

kiasan cumi-cumi adalah penggambaran terhadap seseorang yang berprofesi

sebagai penjahat, mata-mata, dan pengkhianat.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

(3) Memaparkan hasil penelitian analisis superstruktur wacana stand up comedy academy sebagai bahan ajar pembelajaran Bahasa Indonesia sekolah menengah atas kelas X. Jenis

The objectives of this study were to find out which utterances in stand-up comedy performances in Indonesia show the function of stand-up comedy, to describe the types of

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya bahasa sarkasme yang digunakan, dan faktor yang mempengaruhi penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam film Crows

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kalimat transformasi tunggal dalam ujaran video Stand Up Comedy Indra Frimawan. Teori yang diaplikasikan yaitu kaidah

Bahasa humor dalam acara Stand up Comedy menyampaikan pikiran atau informasi yang berupa masalah cinta, musik, keluarga, sosial, dan lain sebagainya.. Dalam humor,

Deskripsi Data Penelitian Berikut adalah deskripsi data penelitian yang berkaitan dengan masalah gaya bahasa sarkasme tuturan teman sebaya di Semester VII A Sore Bahasa dan Sastra

Jurnal Nomosleca, Oktober 2022; 8 2 © 2022 Unmer Malang 132 RESEARCH ARTICLE KRITIK SATIRE PADA PEJABAT NEGARA INDONESIA MELALUI ROASTING STAND-UP COMEDY KIKY SAPUTRI DI YOUTUBE

In this study, the researcher wanted to examine Stand Up Comedy Indonesia on Kompas TV because Kompas brought a new concept in the world of Indonesian comedy by presenting comedy which