SKRIPSI
Diajukan Sebagai Bagian Dari Persyaratan Mendapatkan Gelar
Sarjana Pendidikan Bahasa Jepang
Oleh:
Yudhi Dwi Permadi
1100867
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Oleh:
Yudhi Dwi Permadi
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan pada Departemen Pendidikan Bahasa Jepang
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra
©Yudhi Dwi Permadi 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dan dicetak ulang,
iii
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
Analisis Gaya Bahasa Sarkasme Dalam Film Crows Zero (Dilihat Dari Sudut Pandang Psikolinguistik)
(Yudhi Dwi Permadi, 2015, 76 halaman)
Penelitian ini menganalisis penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam bahasa Jepang yang dilakukan dari sudut pandang psikolinguistik. Karena penggunaan gaya bahasa setiap individu dalam berbahasa beraneka ragam tergantung pada kepribadian nya. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya bahasa sarkasme yang digunakan, dan faktor yang mempengaruhi penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam film Crows Zero. Penelitian ini di dasari teori verbal thought Vygotsy dan teori stimulus response Thorndike.
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa dalam film Crows Zero terdapat 23 kata yang terdiri dari [surume], [temee], [baka yarou], [hima jin], [chikin], [binbo nin], [dame kuchi], [aho yarou], [kuso chibi ta], [baka], [saitei], [kubi toru], [hanpa], [kuso yarou], [tobokenjanee], [baka ittenjanee], [nie], [kitanai mimi], [kuso], [busaiku], [buta yarou], [kuso gaki], [kusottare]. Lalu faktor yang mempengaruhi penggunaan gaya bahasa sarkasme kebanyakan adalah stimulus fisik yang bersifat negatif. Sarkasme seluruhnya digunakan sebagai respon negatif dari stimulus. Walaupun stimulus yang bersifat positif, responnya pasti bersifat negatif.
ABSTRACT
The Analysis Of Sarcasm In Crows Zero Movie (From The Psycholingustic Of View)
(Yudhi Dwi Permadi, 2015, 76 pages)
This research analyzed the use of sarcasm of Japanese language from the psycholinguistic point of view. because the use of the clanguage style of each person will vary depending on the personality. The purpose of this study was to determine the style of language used sarcasm, and the factors that inbfluence the use of language style sarcasm in the movie Crows Zero. This study is based on Vygotsky's theory of verbal thought and stimulus response theory Thorndike.
Based on the analysis, it can be concluded that in the film there are 23 words Crows Zero consisting of [surume], [temee], [baka yarou], [hima jin], [chikin], [binbo nin], [dame kuchi], [aho yarou], [kuso chibi ta], [baka], [saitei], [kubi toru], [hanpa], [kuso yarou], [tobokenjanee], [baka ittenjanee], [nie], [kitanai mimi], [kuso], [busaiku], [buta yarou], [kuso gaki], [kusottare]. Then the factors that affect the use of sarcasm is mostly physical stimulus is negative. Sarcasm entirely used as a negative response from stimulus. Although the stimulus is positive, the response is negative definite.
v
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
要旨
映画 ク ZERO け 冷評分析 (心理言語学 視点)
ユ ド マ
本研究 日本語 冷評 使用 い 心理言語学 視点 分析 た あ 修辞法 使用各人 人格 様々 種類 存在 い 本研究 目的 映画 ク ZERO け 冷評 知 使用 影響 与
要因 明 あ 本研究 Vygotski verbal thought 理論
Thorndike Stimulus Response 理論 基 い い
分析 結果 映画 ク ZERO 中 言葉 冷評 あ
内訳 メ メエ 野郎 マ人 ン
貧乏人 メ口 野郎 クソちび太
最低 首取 ン クソ野郎 け
言 匂 汚 耳 クソ
ブサ ク ブ 野郎 クソ クソッ あ そ
冷評 使用 影響 与 要因 否定物理刺激物 あ 冷評 全部刺激物 否定応答 わ 肯定刺激物 応答 否定 あ
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Penelitian ...1
B. Masalah Penelitian ...6
C. Tujuan Penelitian ...7
D. Manfaat Penelitian ...7
E. Struktur Organisasi Skripsi ...8
BAB II LANDASAN TEORITIS ...10
A. Gaya Bahasa ...10
B. Psikolinguistik ...15
C. Proses Bahasa Berbahasa ...19
D. Kerangka Pemikiran..……….21
E. Penelitian Terdahulu ...22
F. Film Crows Zero ...23
BAB III METODE PENELITIAN ...30
A. Metode Penelitian...30
B. Situasi Sosial Dan Nara Sumber ...31
C. Pengumpulan Data ...32
D. Prosedur Penelitian...34
E. Langkah - Langkah Analisis Data ...35
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ...36
A. Hasil Penelitian ...36
xii
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI...73
A. Simpulan ...73
B. Rekomendasi ...74
DAFTAR PUSTAKA ...75
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk sosial yang pada kehidupannya tidak dapat
lepas dari komunikasi. Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Dengan
Bahasa kita dapat menyampaikan ide, perasaaan, dan informasi. Bahasa juga
bisa menjadi sebuah media pembelajaran. Bila seorang pembaca, penulis, atau
pendengar bisa mengerti satu sama lain, maka fungsi dari sebuah bahasa telah
tercapai.
Terdapat ribuan bahasa yang tercatat ada di bumi ini. Namun,
perkiraan tepatnya tergantung pada perubahan sembarang antara perbedaan
bahasa dan dialek. Setiap bahasa memiliki keunikannya tersendiri, baik
dalam penulisan maupun pengucapan. Hal inilah yang menjadi penyebab
mempelajari sebuah bahasa asing menjadi tidak mudah. Selain itu dari suatu
bahasa muncul variasi-variasi baru yang membuat sebuah bahas menjadi
semakin sulit untuk di pelajari.
Setiap bahasa memiliki beragam bentuk konteks kalimat yang tersusun
dari ribuan kata yang ada. Ribuan kata ini disusun sesuai keinginan dan
pemikiran penutur bahasa agar menjadi sebuah konteks kalimat berisi
pengertian gagasan yang memiliki maksud. Konteks-konteks kalimat ini
beragam dan selalu memiliki pengertian indah dan buruk. Bahasa dapat
menjadi indah apabila isinya dipilih dari kata-kata yang dapat membuat orang
berdecak kagum, sedangkan bahasa dapat menjadi buruk apabila kata-katanya
disusun dari kata-kata bermakna buruk.
Sudah menjadi hal wajar manusia memiliki rasa, benci ataupun
pertentangan pada apapun. Berbahasa merupakan penyampaian pikiran atau
perasaan dari orang yang membicarakan mengenai masalah yang dihadapi
dalam kehidupannya. Dengan bahasa yang merupakan alat penyampai ide
2
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pertentangan saat menyampaikan ide maupun perasaannya. Cara
menyampaikan ide maupun perasaan bisa berupa kritik, saran, sindiran
bahkan hinaan. Dalam menyampaikan pendapat tersebut tentunya setiap orang
akan berbeda – beda, tergantung keadaan psikologis si pengguna bahasa. Ilmu
yang mengkaji struktur berbahasa dan prilaku berbahasa atau proses
berbahasa disebut psikolinguistik (Chaer 2009, hlm 5). Menurut Slobin 1974
(dalam Chaer 2009, hlm 5) Psikolinguistik adalah ilmu yang mencoba
menguraikan proses proses psikologi yang berlangsung ketika seseorang
mengucapkan kalimat kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi
dan bagaimana kemampuan berbahasa itu di peroleh oleh manusia. Maka
secara teoritis tujuan psikolinguistik adalah mencari satu teori yang secara
linguistic bias diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat
bahasa dan pemerolehannya yang dapat dirasakan dengan pikiran, sedangkan
peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons).
Stimulus dan respons adalah dua hal yang membentuk terjadinya suatu proses
berbahasa. (Thorndike dalam chaer 2009, hlm 86)
Menurut Keraf (2001, hlm 113) gaya bahasa adalah cara
mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan
jiwa kepribadian penulis (pemakai bahasa). Dalam bahasa Jepang gaya bahasa
dikenal dengan istilah 修辞法 „shuujihou‟ yang artinya : 言葉 用
い 効果的 表現 め 技法„kotoba o takumini mochiite koukatekini
hyougen suru tame no gihou‟ (Teknik untuk mengekspresikan bahasa secara
efektif dan menggunakannya dengan terampil) (Nihongo Hyakka Daijiten
1995, hlm 869). Dengan kata lain penggunaan gaya bahasa tertentu dapat
mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu. Penggunaannya pun akan
berbeda tiap orangnya, tergantung pada jiwa kepribadian pemakainya.
Ada banyak ragam gaya bahasa yang dalam pembagiannya mewakili
isi yang disampaikan. Gaya bahasa dibagi kedalam 4 kelompok, yakni gaya
bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan gaya bahasa pertautan dan
tersebut penulis tertarik untuk meneliti kalimat yang termasuk gaya bahasa
pertentangan dari film Crows Zero. Berikut Jenis gaya bahasa yang termasuk
dalam kelompok gaya bahasa pertentangan yang di kemukakan oleh Tarigan
dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Gaya Bahasa”
Sebagian besar gaya bahasa pertentangan mengandung unsur kritikan
penolakan dan hinaan. Dalam bahasa Jepang gaya bahasa pertentangan di
kenal dengan istilah 対処法 (Taishohou) yang berarti 情勢 対 適当
処 置 こ ‟Jousei ni taishite tekitou na shochi o suru koto’
(Tindakan yang pantas terhadap sebuah situasi.) (koujiten 1973, hlm 1337)
Sarkasme, merupakan gaya bahasa yang termasuk dalam gaya bahasa
pertentangan. Menurut Kerraf pada tahun 1985 Kata sarkasme berasal dari
bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja sarkasein yang
berarti „merobek – robek daging seperti anjing‟,‟menggigit bibir karena marah‟ atau „berbicara dengan kepahitan‟. Yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah 冷 評 (reihyou) yang artinya 冷 淡 躰 道 批 判 こ
(kritikan dengan sikap dingin) (Koujiten 1973 hlm 2342)
Penulis menemukan contoh kalimat yang termasuk sarkasme dari film
Crows Zero oleh beberapa pemain central pada film ini. Pada dasarnya film
Crows Zero ini bercerita tentang pertikaian baik internal maupun external
sekolah khusus laki – laki yang di fokuskan kepada Genji sebagai pemeran
utama yang berlatar belakang anak dari seorang bos besar Yakuza yang
diperintahkan oleh ayahnya tersebut untuk menguasai sekolahnya yaitu
Suzuran yang terkenal sebagai sekolah khusus laki – laki yang dimana semua
muridnya merupakan berandalan hingga di juluki Crows atau gagak. Hampir
seluruh isi film berisi tentang pertikaian siswa yang memiliki latar belakang
dan keadaan yang berbeda – beda untuk menjadi orang terkuat di sekolah.
Yang tentunya di dalam film ini banyak terdapat kalimat yang termasuk gaya
4
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1. : え スルメ!
Yari sugi janeezo, surume!
Jangan lebay, cumi!
(Crows Zero)
Konteks :
Data 1 ini terbentuk oleh peristiwa fisik dengan peristiwa fisik.
Stimulusnya adalah salah seorang dari sesama murid baru di SMA Suzuran
dengan sombong menganggap bahwa dia yang akan menjadi yang terkuat di
Suzuran. Proses berbahasa pada kalimat ini, pertama – tama Tokoh
(Kirishima) harus mengetahui surume ス ル メ „surume’ (Cumi cumi) itu
botak dan pantas untuk dijadikan hinaan kepada orang botak
Tokoh yang mendapatkan perlakuan buruk yakni peristiwa fisik
memberikan respon yang sama kepada lawan bicara. Dalam hal ini
penggunaan gaya bahasa yang dilakukan oleh tokoh merupakan respon dari
stimulus yang telah di terima. Karena menurut Poerwadarminta 1976 (dalam
Tarigan 1985, hlm 92) Sarkasme adalah sejenis gaya bahasa yang
mengandung olok – olok atau sindiran pedas menyayat hati. Dan ciri utama
gaya bahasa sarkasme ialah selalu mengandung kepahitan, celaan yang getir,
menyayat hati dan kurang enak di dengar. Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya
bahasa sarkasme sering digunakan untuk mengejek atau mengolok – olok
lawan bicara. Seperti pada contoh berikutnya :
2. :バカ野郎!ふ け アホ野郎!
baka yarou! Fuzakenna aho yarou!
Dasar orang bodoh ! Jangan main – main orang tolol!
Data ini dibentuk oleh peristiwa fisik dengan peristiwa fisik.
Stimulusnya adalah Ken yang tidak menyetorkan uang sewa yang telah Ken
kumpulkan, sehingga sambal menampar Yakuza ini menyumpahi Ken dengan
kata バカ (bodoh) dan アホ (tolol). Proses berbahasa pada kalimat ini adalah
tokoh harus mengetahui makna バカ野郎 dan アホ野郎 dan kedua, tokoh
juga harus tahu bahwa stimulus yang diberikan lawan bicara adalah stimulus
negatif, yakni telat menyetorkan uang sewa.
Tokoh yang mendapatkan perlakuan buruk yakni peristiwa fisik
memberikan respon yang sama kepada lawan bicara. Dalam hal ini
penggunaan gaya bahasa yang dilakukan oleh tokoh merupakan respon dari
stimulus yang telah di terima.
Berdasarkan kedua contoh tersebut dapat disimpulkan bagaimana
fikiran dan bahasa merupakan 2 hal yang saling mempengaruhi satu sama lain
seperti teori verbal tought yang dikemukakan oleh Vygotsky 1968 (dalam
Chaer 2009, hlm 55 – 56) dan proses berbahasa itu dibentuk dari 2 peristiwa
yang saling berhubungan yaitu peristiwa mental dan peristiwa fisik dimana
peristiwa mental adalah segala hal yang bisa di rasakan oleh fikiran dan
peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respon)
seperti teori stimulus response yang dikemukakan Thorndike (dalam Chaer
2009, hlm 86).
Walaupun dalam praktiknya di dalam dunia pendidikan pembelajaran
tentang gaya bahasa yang bisa dibilang kasar ini sangat kurang, karena
pandangan negatif akan fungsi dan penggunaannya, namun terlepas dari akan
digunakan atau tidaknya gaya bahasa tersebut sebagai pembelajar bahasa
Jepang memang sudah seharusnya mengetahui berbagai macam bentuk
kalimat dan memahami makna yang dikandungnya. Pembelajar juga
seharusnya mengetahui apa saja kalimat yang mengandung makna kasar.
6
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
fokus studi adalah menjadi keharusan untuk mengetahui kalimat kasar agar
disaat nanti mengajarkan bahasa Jepang kepada pembelajar bahasa Jepang
sudah tentu tahu kapan dan dimana bahasa yang baik maupun yang buruk itu
diucapkan.
Ada pula penelitian yang berjudul “Aspect of Sarcasm” (2006) yang ditulis oleh mahasiswa Kiryu Junior College, Koichi Kojima yang mengkaji
aspek – aspek penggunaan gaya bahasa sarkasme dan satire oleh Semuel
Gulliver, tokoh utama dalam buku Gulliver‟s Travel karya Jonathan Smith.
Dalam penelitiannya disebutkan aspek yang mempengaruhi penggunaan gaya
bahasa sarkasme dan satire itu diantaranya keadaan social tokoh dengan
lingkungnnya, kondisi moral dan kebijakan pemerintah pada saat itu.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menganalis gaya bahasa yang
sarkasme yang digunakan pada film yang berjudul Crows Zero dengan kajian
linguistik karena penulis beranggapan gaya bahasa tersebut berkaitan dengan
berbagai aspek yang berhubungan dengan sang pengguna bahasa seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Dan juga penulis berharap dengan adanya
analisis ini akan menambah kaidah keilmuan khususnya dalam bidang
linguistik, terutama dalam gaya bahasa sarkasme.
B. Masalah Penelitian
1. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang penulis buat dalam penelitian ini adalah
:
a. Penulis hanya akan menganalisis gaya bahasa sarkasme yang
terdapat dalam film Crows Zero.
b. Penulis hanya akan menganalisis faktor apa yang
mempengaruhi penggunaan gaya bahasa sarkasme pada film
2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini antara
lain sebagai berikut:
a. Gaya bahasa sarkasme apa saja yang terdapat dalam Film
Crows Zero?
b. Faktor apa yang mempengaruhi penggunaan gaya bahasa
sarkasme yang terdapat dalam Film Crows Zero dari segi
psikolinguistik
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini antara lain sebagai
berikut:
a. Untuk mengetahui gaya bahasa Sarkasme apa saja yang
terdapat dalam film Crows Zero.
b. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi
penggunaan gaya bahasa sarkasme yang terdapat pada film
Crows Zero dari segi psikolonguistik
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang baik dapat memberikan manfaat,baik bagi peneliti
sendiri maupun bagi orang lain. Adapun manfaat dari di tulisnya
penelitian ini
a. Manfaat Teoritis
1. Diharapkan penelitian ini dapat menambah khazanah
keilmuan terutama dalam ilmu linguistik khusunya dalam
8
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kajian psikolinguistik. Selain itu, penelitian ini juga
diharapkan dapat menambah wawasan mengenai bentuk,
makna, dan penggunaan gaya bahasa sarkasme yang
terdapat dalam film Crows Zero
b. Manfaat Praktis
1. Bagi mahasiswa
Diharapkan penelitian ini dapat membantu pemahaman
mahasiswa tentang majas sarkasme yang ada dalam
bahasa Jepang
2. Bagi Pengajar
Diharapkan penelitian ini dapat bermaanfaat sebagai
bahan masukan dalam materi pembelajaran pada mata
kuliah linguistik atau kebahasaan.
3. Bagi peneliti lainnya
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk
mengadakan penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan kalimat kasar yang ada dalam bahasa Jepang.
E. Struktur Organisasi Skripsi
Secara garis besar sistematika yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu
BAB I Pendahuluan, yang meliputi latar belakang penelitian, rumusan dan
batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi operasional, metode
penelitian, dan sistematika penulisan. Pada BAB II Landasan Teoritis, akan
menjelaskan mengenai teori – teori yang melandasi kegiatan penelitian
termasuk pada hasil penelitian terdahulu yang relevan. Dan juga mengenai
kajian mengenai pengertian gaya bahasa sarkasme. Berikutnya pada BAB III
Metodologi Penelitian pada bab ini akan di bahas mengenai metode
berikutnya pada BAB IV Analisis Data dan Pembahasan, penulis akan
menjelaskan mengenai laporan kegiatan penelitian, sajian data dan hasil
pengolahannya, diikuti pembahasan, dan kesimpulan yang menyatakan
apakah masalah penelitian terjawab atau tidak. Pada bagian pembahasan
disajikan pula hasil telaahan berupa data yang telah dianalisis dan kemudian
ditafsirkan sehingga menghasilkan sebuah teori baru atau teori pendukung
atau sebagai pembuktian dari teori yang sudah ada. Dan yang terakhir pada
BAB V Kesimpulan dan Saran, akan menjabarkan mengenai kesimpulan
tentang jawaban dari masalah yang diteliti apakah terjawab atau tidak.
30
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang metode penelitian, populasi
dan sampel penelitian, pengumpulan data, prosedur penelitian dan analisis
data.
A. Metode Penelitian
Dalam sebuah penelitian metode dapat diartikan sebagai prosedur
yang harus di tempuh untuk menjawab pertanyaan. Fungsi metode adalah
untuk memperlancar sebuah penelitian agar dapat di jalani dengan efektif dan
efisien. Ada banyak metode penelitian yang dapat di pilih untuk di gunakan,
akan tetapi kecocokan antar objek yang di teliti dan metode yang di gunakan
sangat penting. Oleh karenanya pemilihan metode harus di perhatikan, karena
tiap jenis penelitian memiliki pasangan metode yang cocok sesuai dengan
karakteristik penelitian itu sendiri.
Sutedi (2011, hlm. 53) mengemukakan bahwa dalam kegiatan
penelitian metode dapat diartikan sebagai cara atau prosedur yang harus
ditempuh untuk menjawab masalah penelitian. Dan adapun fungsinya adalah
untuk memperlancar pencapaian tujuan secara lebih efektif dan efisien.
Adapun penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Moleong (2007,
hlm. 6) menyatakan bahwa: penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik,
dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan barbagai metode
alamiah.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik tersendiri, antara lain
kualitatif memiliki karakteristik menggunakan metode kualitatif yaitu melalui
pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Dan penelitian kualitatif
juga memiliki karakteristik deskriptif yang datanya berupa kata-kata, gambar
dan bukan angka-angka.
Adapun dalam penelitian ini metode yang digunakan ialah metode
deskriptif. Gay (dalam Sevilla,Consuelo G, DKK 1993, hlm. 71)
mendefinisikan bahwa metode penelitian deskriptif sebagai kegiatan yang
meliputi pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab
pertanyaan yang menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari
pokok suatu penelitian. Penelitian deskriptif menentukan dan melaporkan
keadaan sekarang.
Alasan penulis memilih metode ini karena penelitian yang dilakukan
bertujuan untuk menggambarkan dengan jelas objek yang diteliti secara
alamiah dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk, makna,
penggunaan dan factor penggunaan gaya bahasa sarkasme yang terdapat
dalam film Crows Zero yang ditinjau dari segi psikolinguistik.
B. Situasi Sosial Dan Nara Sumber
Berkaitan dengan populasi dan sampel penelitian, Spradley (dalam
Sugiyono, 2012, hlm. 297) ia menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif
tidak menggunakan istilah populasi, tetapi dinamakan “social situation”
atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place),
pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.
Situasi sosial tersebut, dapat di rumah berikut keluarga dan aktivitasnya, atau
orang-orang di sudut jalan yang sedang mengobrol, atau di tempat kerja, di
kota, desa, di sekolah atau wilayah suatu negara.
Adapun Sugiyono (2012, hlm. 298) ikut menyatakan bahwa sampel
dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai nara
32
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel
teorititis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan film
Jepang dapat pula menggambarkan situasi psikologis tokoh yang terdapat
dalam masyarakat Jepang. Karena film dianggap dapat mewakili gambaran
kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang tersebut. Sehingga populasi
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah situasi psikologis
tokoh (konteks) pada gaya bahasa sarkasme yang digunakan dalam film
Crows Zero. Adapun sampelnya adalah sebagian dari populasi tsb.
Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah snowball sampling. Sugiyono (2012 hlm. 300) menyatakan bahwa
snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang
pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan
karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu
memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi yang dapat
digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel sumber
data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama
menjadi besar.
Oleh karena itu dapat dipahami bahwa teknik snowball sampling yang
digunakan dalam penelitian ini, dimaksudkan untuk mencari sampel situasi
psikologis tokoh (konteks) gaya bahasa sarkasme yang digunakan dalam film
Crows Zero yang awalnya berjumlah sedikit, dan jika dirasa kurang maka
akan ditambah seiring dengan kebutuhan penulis agar dapat mencapai hasil
penelitian yang baik.
C. Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Sutedi (2011, hlm. 179) menyatakan bahwa data penelitian dapat
diperoleh dari berbagai sumber yang disebut sumber data, dan dalam kajian
linguistik sifatnya dapat bersifat lisan dan tertulis (Nadar, 2009, hlm. 107).
Film atau dalam penelitian ini disebut dengan drama, dapat juga dijadikan
sumber data lisan yang tidak natural. Sehingga data yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan penggunaan gaya bahasa sarkasme yang terdapat
dalam dialog film Crows Zero yang ditinjau dari segi psikolinguistik.
2. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk
mengumpulkan atau menyediakan berbagai data yang diperlukan dalam
kegiatan penelitian (Sutedi, 2011, hlm. 155). Instrumen penelitian yang dapat
digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah format data. Sutedi (2011,
hlm. 178) menyatakan bahwa format data merupakan salah satu instrumen
dalam bentuk tabel yang terdiri dari lajur dan kolom.
Selain format data, Moleong (2007, hlm. 37) juga menyebutkan bahwa
dalam penelitian kualitatif “tape recorder”, catatan lapangan, peneliti adalah
instrumen itu sendiri. Instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini
adalah film Crows Zero dengan durasi 129 menit.
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dari sumber data
lisan adalah metode simak yang dilanjutkan dengan teknik rekam dan teknik
catat (Nadar, 2009, hlm. 108). Sehingga dalam penelitian ini akan dilakukan
pengamatan dan pencatatan penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam film
Crows Zero. Dengan dilakukan teknik pengumpulan data primer yang
ditempuh dengan cara, antara lain:
a. Memfokuskan diri pada pemecahan masalah yang akan diteliti
b. Mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dan mendukung
34
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
c. Data yang dikumpulkan kemudian disusun dan diolah secara terperinci
dan disaring isinya dan diambil bagian-bagian yang dianggap
pentinguntuk mendukung keobjektifan penelitian ini. (Harahap, hlm.
47)
D. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan serangkaian langkah yang akan
ditempuh dalam pelaksanaan penelitian. Mengingat pentingnya prosedur
penelitian tesebut, maka akan diuraikan langkah-langkah yang akan
dilaksanakan pada penelitian ini dimulai dari awal penelitian dilakukan
sampai dibuat kesimpulan akhir. Langkah-langkah tersebut antara lain:
1. Menentukan objek penelitian, dalam hal ini penulis memilih kajian
gaya bahasa sarkasme pada penelitian ini
2. Mengumpulkan teori-teori umum yang berkaitan dengan kajian
psikolinguistik
3. Mengumpulkan teori-teori yang berkaitan dengan gaya bahasa
sarkasme
4. Menggali, mengkaji, dan mendalami teori-teori psikolinguistik dan
gaya bahasa sarkasme yang telah diperoleh, kemudian memilih teori
yang sesuai dengan penelitian.
5. Menonton dan menyimak film Crows Zero.
6. Mengumpulkan data yang termasuk gaya bahasa sarkasme dalam film
Crows Zero
7. Mencatat skrip dialog yang selanjutnya dijadikan korpus data pada
film Crows Zero yang mengandung gaya bahasa sarkasme
8. Menganalisis data gaya bahasa sarkasme yang terdapat dalam film
Crows Zero dengan mengklasifikasikan ke dalam faktor yang
mempengaruhinya berdasarkan kajian psikolinguistik.
E. Langkah – langkah Analisis data
Sugiyono (2012, hlm. 335) mengemukakan bahwa analisis data adalah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan
yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami
oleh diri sendiri maupun orang lain.
Tahap-tahap analisis data yang akan dilakukan yaitu sebagai berikut:
1. Mengumpulkan gaya bahasa sarkasme dalam kalimat percakapan yang
terdapat dalam film Crows Zero dengan cara mentranskipnya menjadi
tulisan.
2. Mengidentifikasikan dan mengkaji setiap gaya bahasa sarkasme yang
telah diubah dalam transkip tulisan.
3. Mengklasifikasikan dalam percakapan tersebut sesuai jenis aspek
psikolinguistik.
4. Membuat kesimpulan dari hasil yang diperoleh setelah semua proses
73
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pencapaian yang telah dilakukan dalam penelitian ini adalah telah
diketahuinya jenis-jenis, makna, penggunaan dan faktor penggunaan gaya bahasa
sarkasme yang terdapat dalam sebuah film Jepang berlandaskan beberapa teori
dan kajian yang telah dideskripsikan
5.1 Simpulan
Terdapat 23 kata yang termasuk gaya bahasa sarkasme yang menjadi objek
penelitian yang terdapat dalam film Crows Zero. 23 gaya bahasa sarkasme
tersebut antara lain : 野郎[baka yarou] 4 buah、 [baka] 3 buah、
貧乏人[binbo nin] 3 buah、テメエ[temee] 2 buah、最低[saitei] 2 buah、
クソッ [kusottare] 2 buah、ス メ[surume]、 マ人[hima jin]、
ン[chikin]、 、 メ 口[dame kuchi]、ア ホ 野 郎[aho yarou]、 ク ソ ち
び 太[kuso chibi ta]、 首 取 る[kubi toru]、 ン [hanpa]、 ク ソ 野 郎
[kuso yarou]、とぼけんじゃね [tobokenjanee] 2 buah、 言ってん
じゃね [baka ittenjanee]、匂 [nie]、汚ね 耳[kitanai mimi]、クソ
[kuso]、 ブ サ イ ク[busaiku]、 ブ 野 郎[buta yarou]、dan ク ソ
[kuso gaki] yang masing masing satu buah.
Faktor yang mempengaruhi tokoh dalam film Crows Zero dalam
penggunaan gaya bahasa sarkasme adalah stimulus yang diterima oleh
tokoh yang kebanyakan berupa peristiwa fisik, namun ada juga yang
berupa peristiwa mental. peristiwa tersebut juga cenderung berbentuk hal
yang negatif, walaupun ada beberapa contoh dimana gaya bahasa
sarkasme digunaakan berdasarkan peristiwa positif, kalimat nya tetap
bermakna negatif.. Stimulus juga adalah bagian dari proses berbahasa
yang akan memicu tokoh dalam berbahasa menggunakan gaya bahasa
sarkasme merupakan respon tokoh dari proses berbahasa yang meliputi
proses penerimaan stimulus yang di terima tokoh
5.2 Rekomendasi
Kesulitan yang penulis temui dalam penelitian ini adalah
kurangnya referensi tentang gaya bahasa dan psikolinguistik yang
berbahasa Jepang. Karena banyaknya referensi berbahasa Indonesia yang
membuat penulis kesulitan dalam mengimplementasikannya kedalam
bahasa Jepang. Adapun rekomendasi untuk penelitian seterusnya, karena
referensi pengetahuan gaya bahasa khususnya sarkasme dalam bahasa
Jepang yang masih sangat sedikit, jadi teruslah lakukan penelitian tentang
berbagai macam gaya bahasa pertentangan seperti sinisme, satire , atau
dapat pula melakukan penelitian gaya bahasa sarkasme seperti yang telah
dilakukan dalam penelitian ini, karena bahasa itu tidak statis, jadi akan
selalu berubah penggunaannya, karena penggunaan gaya bahasa itu
tergantung dengan kepribadian penggunanya dan hal itu pasti terjadi pula
pada kebiasaan orang jepang dalam menggunakan gaya bahasa ini. Dapat
pula penelitian ini digunakan sebagai referensi pelitian gaya bahasa
sarkasme dalam rangka mengkontrastifkan penggunaan gaya bahasa
74
Yudhi Dwi Permadi, 2015
ANALISIS GAYA BAHASA SARKASME DALAM FILM CROWS ZERO
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. (2009). Psikolinguistik Kajian Teoritik, Jakarta: Rineka Cipta
Harahap, N. (2008). Analisis Pragmatik Wacana Iklan Surat Kabar. (skripsi).
Universitas Sumatera Utara, Medan.
http://ci.nii.ac.jp/naid/110006392218 26 Januari 2015
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Crows_Zero 20 Oktober 2014
Keraf, Gorys, 2001. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kesaint Blanc.
Kindaichi, Haruhiko. (1995). Nihongo Hyakka Daijiten. Jepang: Taishukan Shoten
Kojima, Koichi. (2006). Aspect of Sarcasm. Jepang:NII Electronic Library Service.
Kridalaksana, Harimurti. (1982). Kamus Linguistik Edisi 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Moleong, L.J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi revisi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya Offset.
Nadar, F.X. (2009). Pragmatik Dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Nakamura, Akira. (1978). Hiyuhyougen Jiten. Tokyo: Kadokawa Shoten
Obashi, Toshio. (1966). Kokugo Jiten. Tokyo: Tokyodoshuppan.
Panandjaja, James. (1997). Folklor Jepang. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
Permana, Y. D (2014) analisis pemakaian danseigo oleh pemeran pria dalam film
animasi Kuroko no Basuke. SKRIPSI sanrjana FPBS UPI. Bandung: Tidak di
terbitkan.
Poerwadarminta, WJS. (1984). Kamus Besar Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Sevilla, C.G. dkk. (1993). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia.
Shinmura, Izuru. (1973). Koujiten. Tokyo: Iwanami Shoten.
Sudjianto dan Ahmad Dahidi. (2009). Pengantar Linguistik Bahasa Jepang. Jakarta:
Sugiyono, (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung :
Alfabeta
Sutedi, Dedi. (2009). Penelitian Pendidikan Bahasa Jepang Cetakan Kedua.
Bandung: UPI PRESS, HumanioraUtama Press.
Tarigan, Henry Guntur. (1984). Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. (1985). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung : IKAPI.
Tim Penyususn Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar