• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. Pendahuluan. I.I Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "I. Pendahuluan. I.I Latar Belakang"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

1 I. Pendahuluan

I.I Latar Belakang

Desa Kutambaru merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Munte, kabupaten Karo, Sumatera Utara. Desa Kutambaru secara topografi termasuk daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1.100 mdpl dan luas wilayah 9,27 km2. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat desa Kutambaru adalah bertani meskipun ada juga masyarakat yang melakukan pekerjaan sebagai pedagang dan pegawai.1 Berbicara tentang agama, masyarakat desa Kutambaru secara umum telah memiliki agamanya masing-masing. Sebagian besar masyarakat desa Kutambaru menganut agama Kristen Protestan sedangkan yang lainnya menganut agama Katolik dan Islam.

Masyarakat desa Kutambaru sebagian besar berjemaat di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), sedangkan sisanya terbagi dengan berjemaat di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), Gereja Jemaat Allah Indonesia (GJAI), Mas Pendamai, Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), dan gereja Katolik.2

Jemaat GBKP hadir di desa Kutambaru tahun 1965 karena pekerjaan penginjilan Guru Agama dari kecamatan Munte,3 sebelum GBKP hadir jemaat Kutambaru telah memiliki konsep ke-Tuhanan sebagai pemberi, penyembuh, dan pelindung. Konsep ke-Tuhanan sebagai pemberi, penyembuh, dan pelindung tersebut disebut guru (dukun). Pemahaman ini tetap berlangsung sampai saat ini sekalipun jemaat GBKP Kutambaru telah menganut agama Kristen. Bagi jemaat GBKP Kutambaru, kesembuhan dari sakit masih dipercaya ketika melakukan ritual budaya dan adat yang dipimpin oleh seorang guru. Guru merupakan seseorang yang dianggap memiliki banyak pengetahuan yang mendetail tentang berbagai hal yang

1Wawancara dengan Ruji Sembiring, pada tanggal 20 Juli 2020.

2 Wawancara dengan Kepala Desa Kutambaru Beyamin Sembiring, pada tanggal 11 Juli 2020.

3 Wawancara dengan Dk. Em. Terima Ginting, pada tanggal 11 Agustus 2020

(2)

2

berhubungan dengan kehidupan dan kejadian-kejadian dalam hubungannya dengan kehidupan itu sendiri.4

Jemaat GBKP Kutambaru berasal dari suku karo, dimana mereka juga mempercayai bahwa semua yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan Dibata (Tuhan). Dalam sistem kepercayaan suku Karo yang juga dipercayai oleh jemaat GBKP Kutambaru, maka ada tiga pembagian jenis Dibata, yaitu : 1. Dibata Idatas, disebut juga Guru Batara Atas yang menguasai alam raya/langit, 2. Dibata Itengah, disebut juga Tuan Padukka Niaji yang menguasai bumi atau dunia, 3. Dibata Iteruh, disebut juga Tuan Banua Koling yang menguasai di bawah atau di dalam bumi.5 Dalam kehidupan masyarakat desa Kutambaru dan dipahami juga oleh jemaat GBKP Kutambaru, maka di kenal pembagian nama-nama guru sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Nama-nama guru tersebut adalah guru tua dan guru si nguda/ guru sibeluh nitik wari adalah seorang yang ahli dalam melihat hari baik untuk melaksanakan pesta perkawinan, berburu, memasuki rumah baru, ritual membuat obat-obatan. Guru nendung merupakan peramal yang berbicara kepada roh gaib untuk menemukan penyebab dari sebuah peristiwa yang terjadi namun tidak bisa memberikan jalan keluar. Guru perdiul-diul atau perkata kerahung adalah seorang yang dapat membunyikan siul dari lehernya sendiri untuk menemukan sebuah objek sebagai pusat informasi bagi sebuah peristiwa. Guru si dua lapis pernin matana adalah seorang yang dapat melihat hantu atau roh-roh gaib sehingga dapat mengusir hantu tersebut karena dianggap malapetaka. Guru perselukken seorang yang dapat dimasuki roh yang baru meninggal dunia secara tragis untuk memberikan nasihat kepada keluarga. Guru pertawar adalah penyembuh dengan ramuan obat-obatan. Guru Majak Panteken adalah seorang yang ahli membuat pangir/ langir baik sebagai

4 Sri Alem Br Sembiring, “Guru (Tabib) Dalam Masyarakat Karo: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semsta)” (Medan : USU Medan, 2020), hal. 2.

5 M. Abduh Lubis, “Budaya dan Solidaritas Sosial Dalam Kerukunan Umat Beragama di Tanah Karo”, (UIN Sunan Kalijaga: 2017), hal 246

(3)

3

penyembuh, penolak bala, atau sebagai tangkal.6 Artinya, guru diposisikan berada pada posisi Dibata I Tengah terdapat peran sebagai penyembuh bagi jemaat yang mengalami sakit. Peran itu dilakukan oleh seorang yang disebut guru pertawar dalam praktik erguru.

Jemaat GBKP Kutambaru masih mempercayai kekuatan yang dimiliki oleh guru pertawar ketika mereka mengalami sakit sehingga walaupun mereka sudah menganut agama Kristen, mereka tetap mengunjungi guru pertawar untuk meminta kesembuhan. Praktik ini dapat disebut juga dengan Shamanisme. Shamanisme merupakan cara terkuno bangsa manusia dalam berusaha berhubungan dengan alam ciptaan. Shaman adalah tabib pribumi atau dukun. Bukti tentang praktik-praktik shaman ada di seluruh dunia sejak masa Paleolitikum. Banyak bentuk energi berbeda yang dikenal oleh shaman yang berbeda, seperti energi tumbuh-tumbuhan sampai arah kompas dan roh-roh.7 Pada umumnya, masyarakat desa Kutambaru memahami dan memaknai bahwa istilah Shaman disebut juga dengan dukun.

Dalam pemikiran jemaat GBKP Kutambaru, guru pertawar memiliki pengetahuan yang luas menyangkut kehidupan masyarakat. Guru pertawar juga dapat mengetahui asal-muasal dari sebuah penyakit sehingga dapat menyembuhkan penyakit dengan menggunakan ritual untuk memanggil roh leluhur. Masyarakat desa Kutambaru memahami bahwa semua penyakit ada obatnya.8 Sehingga guru pertawar selalu mendapat peranan besar dalam proses penyembuhan bagi masyarakat Kutambaru yang mengalami sakit.

Berbicara tentang pengobatan dan penyembuhan melalui praktik dukun di masyarakat Karo sudah tidak asing lagi didengar. Karena, cara pengobatan alternatif

6Sri Alem Br Sembiring, “Guru (Tabib) Dalam Masyarakat Karo: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semesta)”. (Medan: USU Medan, 2002), hal.8.

7Michal Levin, Spiritual Intelligence (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), hal. 45

8Rosmaida Sinaga dan Marsella Br Sembiring, “Eksistensi Guru Mbelin Dalam Pengobatan Tradisional Karo di Desa Kidupen Kecamatan Juhar Kabupaten Karo (1970-1990)”, Puteri Hijau Vol. 4 No. 1. 2019. 15

(4)

4

yang sudah dikenal sejak dahulu bahkan sudah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Dalam tulisan Takako Yamaka, menjelaskan bahwa penyakit merupakan sebuah fenomena yang disebabkan oleh makhluk gaib atau kelainan astrologi, dan proses penyembuhannya dapat diobati dengan berobat kepada seorang lha-mo (dukun perempuan) atau lha-ba (pria dukun)9.

Pengobatan tradisional dengan perantaraan dukun umumnya dibarengi dengan mantra-mantra yang dilafalkan oleh seseorang guru pertawar. Pengobatan tradisional ini kerap dilakukan oleh masyarakat Karo dikarenakan ada suatu anggapan dan kepercayaan bahwa nenek moyang zaman dahulu juga tidak mengenal dunia medis atau obat-obatan secanggih saat ini. Pemahaman yang sedemikian rupa sehingga mendorong masyarakat suku Karo khususnya masyarakat desa Kutambaru masih percaya dengan adanya pengobatan tradisional melalui perantara guru pertawar.10

Ritual pengobatan yang dilakukan guru pertawar yaitu dengan membawa orang sakit ke aliran sungai supaya dipangiri yaitu mandi kembang dan jeruk purut yang dibelah menjadi 4 bagian. Pelaksanaan ritual ini diikuti oleh beberapa keluarga dari penderita sakit. Ritual ini merupakan pengobatan yang diikuti dengan meminta pertolongan dari roh-roh gaib atau arwah para leluhur yang telah meninggal dunia.

Proses pengobatan dan penyembuhan tersebut diiringi dengan tabas-tabas (mantra).11 Karena dipercayai dari mantra tersebut seseorang guru pertawar menerima ilham atau penglihatan untuk menyembuhkan seseorang yang sakit.

Memang ada juga gejolak yang terjadi di jemaat GBKP Kutambaru yaitu tidak setuju dengan praktik Shamanisme. Bahkan pertua (penatua) dan diaken di GBKP Kutambaru tampaknya diam saja atau acuh tidak acuh. Karena menurut majelis GBKP Kutambaru, praktik Shamanisme ini telah dibahas ketika Pendalam Alkitab (PA) di setiap sektor dan khotbah-khotbah di ibadah Minggu. Sikap dan

9Takako Yamada, “An Anthropology of Animism and Shamanism”, Published by Akadémiai Kiadó, Budapest, Hungary in 1999.

10Wawancara dengan Diaken Emeritus salah satu perintis GBKP Kutambaru Dk.Em.Drs Terima Ginting, pada tanggal 17 Juni 2020.

11Pdt. Dr. E. P. Ginting, Religi Karo (Kabanjahe: Abdi Kasrya 2007), hal. 98.

(5)

5

peran gereja terhadap praktik Shamanisme ini tidak terlalu tegas dan gereja hanya berfokus kepada pelayanan mimbar, diakonia dan program gereja saja.12 Menyikapi praktik Shamanisme yang masih dilakukan oleh jemaat GBKP Kutambaru, maka GBKP mengambil sikap menolak praktik Shamanisme yang dilakukan jemaat dengan mengambil tindakan pastoral kepada jemaat yang datang ke guru pertawar untuk melakukan pengobatan. Tindakan pastoral ini dilakukan oleh pendeta jemaat. Bagi GBKP, praktik Shamanisme ini dipahami sama dengan praktik okultisme karena memakai ritual dengan mantra dan memanggil roh leluhur yang telah meninggal dunia.13 Dalam tata gereja GBKP, praktik Shamanisme dipahami sebagai tindakan yang bertentangan dengan Firman Allah atau paham yang bertentangan dengan ajaran GBKP.14

Situasi ini menjadi sebuah masalah bagi jemaat GBKP Kutambaru karena di satu sisi, jemaat yang sakit datang ke PUSKESMAS untuk berobat. Akan tetapi setelah mendapat perawatan dan obat dari PUSKESMAS jemaat tidak kunjung sembuh, oleh sebab itu jemaat mengunjungi ke guru pertawar. Ritual dan pengobatan dilakukan bersama guru pertawar dan jemaat mengalami kesembuhan. Kenyataan inilah yang membuat warga jemaat GBKP masih mengunjungi guru pertawar ketika mengalami sakit. Di sisi lain, para pertua (penatua) dan diaken melihat bahwa praktik Shamanisme ini bermanfaat bagi warga jemaat yang sakit. Namun, karena tata gereja menolak praktik Shamanisme ini maka para pertua dan diaken pun tidak berani untuk menyatakan bahwa ada kesembuhan yang dialami oleh jemaat yang berobat ke guru pertawar.

Penelitian tentang praktik Shamanisme telah diteliti oleh Sri Alem Sembiring,15 Dalam tulisannya menyajikan kapasitas Guru Si Baso yang berperan memanggil roh leluhur yang sudah meninggal untuk menyampaikan nasehat positif

12 Wawancara dengan Aman Br Sembiring, pada tanggal 09 Juli 2020.

13 Wawancara dengan Pdt. Alfensius Surbakti pada tanggal 20 Juli 2020.

14 Buku Tata Gereja GBKP Pasal 51:1a.

15Sri Alem Sembiring, “Guru Si Baso” Dalam Ritual Orang Karo: Bertahannya Sisi Tradisional dari Arus Modernisasi, Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI, Vol.1 Desember 2005.

(6)

6

kepada keluarga yang datang meminta nasehat. Sri Alem Sembiring16 dalam penelitiannya menyajikan tentang pengertian dan peran guru dan kosmos pada masyarakat Karo dari perspektif antropologi.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya maka penulis akan mengkaji sikap GBKP terhadap praktik Shamanisme yaitu peran guru pertawar dalam proses penyembuhan sakit bagi jemaat GBKP. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengangkat judul: “Sikap GBKP Terhadap Praktik Shamanisme di Desa Kutambaru”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kajian GBKP Runggun Kutambaru terhadap praktik Shamanisme?

2. Bagaimana sikap GBKP terhadap jemaat yang melakukan praktik Shamanisme?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengkaji praktik Shamanisme terhadap jemaat GBKP Runggun Kutambaru.

2. Mengkaji sikap GBKP terhadap praktik Shamanisme.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dituliskan, maka manfaat penelitian ini dapat digolongkan menjadi 2, yakni :

1. Secara teoritis penelitian ini mampu menambah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa maupun penelitian berikutnya hal yang sama juga diharapkan bermanfaat bagi GBKP dan jemaat berkaitan dengan pemahaman praktik Shamanisme.

2. Secara praktis menambah refrensi mengenai praktik Shamanisme di desa Kutambaru, Kec. Munte dan mengetahui sikap jemaat GBKP Runggun

16 Sri Alem Sembiring, Guru (Tabib) Dalam Masyarakat Karo: Kajian Antropologi mengenai Konsep Orang Karo tentang Guru dan Kosmos (Alam Semesta). Medan: USU.2005

(7)

7

Kutambaru dan menambah literatur di perpustakaan desa juga menjadi tambahan refrensi bagi arsip GBKP Runggun Kutambaru.

3. Secara praktis konkret menjadi tambahan wawasan bagi jemaat dan sadar bahwa praktek Shamanisme merupakan sebuah ritus keyakinan yang bertentangan dengan Firman Tuhan.

1.5 Metode Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode jenis deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif yang mendeskripsikan suatu obyek, fenomena atau setting sosial yang akan dituangkan dalam tulisan bersifat naratif. Pendekatan fenomenologis peneliti berusaha memahami arti daripada suatu peristiwa/ fenomena dan kaitan-kaitannya dengan situasi tertentu.17 Dengan kata lain, penulisan data dan fakta dihimpun dalam bentuk kata atau gambar daripada angka. Akan diungkapkan apa saja yang terjadi dilapangan sesuai dengan fakta (data) yang akan disajikan. Melalui metode ini peneliti akan berupaya menggambarkan keadaan atau suatu sifat yang terjadi selama proses penelitian berlangsung dan kemudian data tersebut akan dikumpulkan, dianalisis dan diabstraksikan.18

1.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi dan wawancara.

Observasi dimaksud adalah salah satu instrumen pengumpulan data berupa pengamatan atau catatan secara teliti dan sistematis mengenai suatu fenomena yang diteliti. Wawancara (interview) merupakan pengumpulan data melalui tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan jemaat, majelis dan jemaat yang pernah melakukan praktik Shamanisme.19

17 I Wayan Suwendra, Metodologi Penelitian Kualitatif, Nilacakra, Bali, 2018, hlm. 29

18 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, CV Jejak, Jawa Barat, 2018, hlm. 11

19 Firdaus Fakhry Zamzam, Aplikasi Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Deepublish), 2018, hal. 104

(8)

8 1.7 Sumber Data dan Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan penulis terbagi atas tiga, yaitu: pertama, reduksi data, dimana proses yang dilakukan oleh peneliti untuk mereduksi data-data untuk menghasilkan data-data yang memiliki nilai temuan dan kebaruan dalam pengembangan teori yang dapat digambarkan dan diverifikasi serta disimpulkan.

Kedua, penyajian data yang berfungsi memudahkan untuk memahami apa yang terjadi,merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan yang dipahami. Ketiga, Penarikan kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dan melahirkan temuan baru.20 Sumber data yaitu data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau pihak pertama. Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian.21

1.8 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini akan dituliskan dalam lima bagian, yakni : Bagian pertama, membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian.

Kedua, penulis akan mendeskripsikan teori Shamanisme dan sikap Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) terhadap praktik Shamanisme. Ketiga, penulis akan memaparkan hasil wawancara yang diperoleh selama penelitian yang bersumber dari jemaat GBKP Runggun Kutambaru dan beberapa majelis. Keempat, penulis akan menganalisa teori-teori yang telah dipaparkan dan data dari hasil penelitian tersebut.

Kelima, penulis akan menulis bagian penutup penelitian dan memaparkan kesimpulan hasil dari pembahasan dan analisis data, serta kontribusi dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.

20 Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi, (Makassar: STT Jaffray, 2018), hal. 56.

21 R.A, Supriyono. Akuntansi Keperilakuan. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2018). Hal.

48

(9)

9 II. Konsep Teori

2.1 Landasan Teori

Teori shamanisme merujuk pada aktivitas perdukunan yang berasal dari kepercayaan masyarakat. Teori ini pertama kali muncul ketika ditemukannya motif manusia setengah hewan di sebuah gua. Teori ini dikembangkan oleh David Lewis- William dan David S. Whitley yang menggabungkan kajian etnografi dengan neuropsycology. Istilah shaman ini merujuk kepada seseorang yang dapat menyembuhkan atau dapat menurunkan hujan. Seorang shaman juga dipercaya dapat menghubungkan dunia nyata dan dunia supranatural. Shamanisme merujuk kepada sebuah ritual yang dilakukan oleh individu maupun kelompok dengan bantuan roh penjaga. Ciri khas shamanistik adalah penggambaran yang dilakukan berdasarkan hasil pengalaman atau bahkan dalam kondisi berhalusinasi sehingga dapat memberikan sebuah kesimpulan. Lewis-William menyatakan bahwa ada tiga tingkatan jenis alam dalam aktivitas shaman, yaitu: pertama, dunia atas yang diyakini didiami oleh roh-roh tertentu, tingkatan kedua adalah dunia nyata yang menjadi tempat tinggal dunia atau manusia, dan yang ketiga adalah alam bawah tanah yang didiami oleh roh-roh tertentu. Hanya seorang shaman lah yang bisa berhubungan dengan kedua roh tersebut.22

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) merupakan gereja yang hadir di Tanah Karo dan merupakan gereja suku Karo dan mendominasi di wilayah Tanah Karo.

Perkembangan jemaat GBKP tidak menutup kemungkinan bahwa jemaat GBKP benar-benar sudah meninggalkan tradisi yang lama seperti, berobat ke dukun dan percaya kepada dukun. GBKP yang ada di desa Kutambaru juga merupakan gereja yang terbesar dan jemaat terbanyak di desa itu pun tidak menutup kemungkinan bahwa jemaat GBKP Kutambaru masih ada yang percaya kepada dukun. GBKP melihat situasi yang ada di Tanah Karo, sehingga GBKP melalui sidang sinode mengeluarkan pernyataan sikapnya melalui Tata Gereja GBKP yang memandang

22 Irsyad Leihitu dan R. Cecep Eka Permana, Jejak Shamanism Pada Gambar Cadas di Maros- Pangkep Sulawesi Selatan, Indonesia, (Maluku: Kapata Arkeologi,2018), hal 2-4.

(10)

10

praktik Shamanisme dipahami sebagai tindakan yang bertentangan dengan Firman Allah atau paham yang bertentangan dengan ajaran GBKP.23Melalui pernyataan sikap GBKP yang tertuang di Tata Gereja, bahwa GBKP menyatakan sikap dengan menolak praktik Shamanisme.

Harfiahnya shamanisme berarti profesi (karya) penyembuhan yang dikerjakan bersama roh-roh. Lévy Bruhl, menyebutnya “the law of mystical participation,” yaitu rasa hubungan spiritual/supranatural yang ada antara setap orang dengan segala sesuatu di alam. Shamanisme bukanlah agama atau ilmu, melainkan aktivitas di dunia fisik namun spiritual. Shamanisme dipandang sebagai penyembuhan supranatural atau teknologi bantuan penyembuhan yang sakral, yang aktivitasnya berpangkal pada pengalaman ahli shaman, dan bukan seperangkat kepercayaan. Terdapat tiga definisi mengenai shaman: luas, menengah dan sempit. Definisi luas sering melihat praktek penyembuhan shaman yang menggunakan trance (kesurupan), tetapi tidak sembuh.

Definisi menengah burusaha membedakan shaman dari praktisi yang menggunakan kondisi kesadaran yang berubah tetapi tidak menyembuhkan klien, dan praktisi lain yang menyembuhkan klien tetapi tidak menggunakan kondisi perubahan kesadaran.

Sedangkan definisi sempit mengecualikan banyak shaman dan dapat menjadi tidak praktis ketika mereka mengaburkan kemampuannya untuk mengenali berbagai ngkat kesadaran yang berubah yang digunakan dalam praktek hidup yang normal

Bagi Augsburger, dalam banyak budaya, shaman adalah seorang pemimpin karismatik yang memiliki klaim dapat berhubungan langsung dengan zona tengah (roh / roh leluhur) yang mampu memberikan penyembuhan, pernyataan profetis dan menopang kekuatan sosial struktur masyarakat. Otoritas dukun muncul dari ketiga fungsinya tadi (penyembuhan, profetis dan penopang), dalam meyakinkan orang lain tentang kekuatan zona tengah dengan melakukan tindakan supranatural, menyampaikan pesan dari roh, dewa dan leluhur. Biasanya ia bekerja secara individu/introvert. Shamanisme di suku Batak Karo, misalnya, manyampaikan peran

23 Buku Tata Gereja GBKP Pasal 51:1a

(11)

11

dukun sebagai imam (parbaringan) yang memerantarai permohonan dan persembahan marga atau tua-tua utama dalam marga kepada leluhur.24

III. Hasil Penelitian

3.1 Gambaran umum jemaat GBKP Runggun Kutambaru

Desa Kutambaru adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Munte, Kabupaten Karo. Adapun batas-batas wilayah Desa Kutambaru kecamatan Munte, sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Desa Tanjung Beringin b. Sebelah Timur : Desa Biaknampe c. Sebelah Selatan : Desa Gunung Saribu d. Sebelah Barat : Desa Sarimunte

Secara topografi termasuk ke dalam daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut (mdpl). Penduduk desa Kutambaru terus mengalami pertumbuhan penduduk. Sesuai dengan data statistik tahun 2015 penduduk Desa Kutambaru berjumlah 2.200 orang. Dengan luas wilayah 9,27 km2, kepadatan penduduk Desa Kutambaru yaitu 237,32/km2. 25

Desa Kutambaru memiliki beberapa gereja yang berdiri, yaitu GMAHK, GpdI, GJAI, R. Katolik, Mas Pendamai, GKMI dan GBKP.26 Jumlah jemaat GBKP Runggun Kutambaru, Klasis Munte sebanyak 548 kepala keluarga, dengan pembagian laki-laki 346, perempuan 346 totalnya 694. Secara keseluruhan anggota jemaat yang terdaftar 718 orang.27 Adapun pelayanan-pelayanan yang ada di GBKP Runggun Kutambaru adalah pelayanan ibadah Minggu, ibadah Anak Sekolah Minggu, ibadah perayaan hari besar gerejawi (natal, paskah, Kenaikan Tuhan Yesus

24 Fiktor Jekson Banoet, SHAMANISME DAN KESURUPAN Teologi Demonik: Eksplorasi Demonologi Sosial dengan Demonologi Spirtis dalam Perspektif Non-Barat dan Implikasi Pastoral Lintas Budaya dan Agama, Volume 1, April 2021, UKDW, Yogyakarta.

25 Profil Desa Kutambaru. Arsip Desa. Dituliskan tahun 2019.

26 Benyamin Sembiring. Wawancara. Kutambaru. 09 Agustus 2021.

27 Data statistik jemaat GBKP Rg. Kutambaru diperoleh dari Sekretaris Runggun.

(12)

12

ke Surga), PA kategorial (Moria / kaum ibu, Mamre / kaum bapa, PERMATA / pemuda/pemudi, Saitun / lansia, Ka-Kr / sekolah minggu).28

3.2 Gambaran Kebudayaan Karo dan Kepercayaan Jemaat GBKP Rg.

Kutambaru

Desa Kutambaru merupakan salah satu desa yang menurut pembagian persebaran suku Karo disebut Karo Gugung. Karo gugung dianggap paling mengerti dan memahami adat Karo karena dari sanalah awal mulal suku Karo berkembang.

Salah satu dialek bahasa Karo berasal dari wilayah ini, yang disebut dengan “Cakap Karo Gunung-gunung” digunaan juga di daerah Munte, Juhar, Tiga Binanga, Kutabuluh dan Mardinding Bangun.29

Kebudayaan asli suku Karo adalah budaya gotong royong dan menjunjung tinggi adat-istiadat Karo. Adat istiadat Karo identik dengan kebersamaan. Suku Karo memiliki adat yang masih dilestarikan sampai saat ini, seperti: upacara adat pernikahan, memasuki rumah baru, peletakan batu pertama untuk pembangunan rumah, upacar adat meninggal dunia, upacara adat jika ada mimpi buruk, praktik penyembuhan secara tradisional. Masyarakat desa Kutambaru masih menjaga erat kebudayaan dan adat-istiadat suku Karo. Pada mulanya, masyarakat Karo menganut kepercayaan agama pemena (perbegu). Agama tersebut mempercayai bahwa konsep Tuhan digambarkan memiliki banyak dimensi. Oleh sebab itu, tempat-tempat yang dianggap memiliki kekuatan masih dapat ditemukan di desa Kutambaru. Sehingga, kepercayaan kuno tersebut masih mempengaruhi dalam kehidupan beragama saat ini.30

Berbicara tentang kepercayaan asli suku Karo, masyarakat desa Kutambaru yang penduduknya sebahagian besar adalah jemaat GBKP. Meskipun sudah terdaftar sebagai anggota GBKP, akan tetapi pengaruh keyakinan kuno tersebut masih

28 Pt. Bp. Jimmi Ginting (Ketua Runggun GBKP Rg. Kutambaru). 10 Agustus 2021.

29 https://text-id.123dok.com/document/eqox5vkq1-karo-timur-karo-jahekaro-dusun-karo-langkat- singalor-lau-karo-baluren-urung-julu.html, diakses pada tanggal 05 September 2021

30 Wawancara dengan Nd. Basenta Br Perangin-Angin, pada tanggal 10 Agustus 2021

(13)

13

mempengaruhi kehidupan jemaat GBKP Runggun Kutambaru. Beberapa hal keyakinan kuno yang sampai saat ini masih dipercaya oleh jemaat GBKP Rg.

Kutambaru seperti, niktik wari, ertambar ku guru sibaso, ercibal, erpangir, dan lain sebagainya. Niktik wari merupakan sesuatu kegiatan dalam merencanakan sesuatu, misalnya pernikahan, kebberangkatan ke tempat jauh, berperang, memasuki rumah baru, melakukan pengobatan. Biasanya selalu disesuaikan harinya dan dilakukan konsultasi bersama guru sibeloh niktik wari (dukun yang bisa mengetahui hari apa yang baik) dan menyarankan kepada masyarakat yang hendak melakukan sesuatu kegiatan. Dalam budaya Karo setiap hari memiliki nama dan makna, nama-nama dan artinya dapat dilihat di kalender suku Karo.31

Ercibal, dimaksudkan sebagai sesuatu kegiatan yang dilakukan di sebuah tempat yang dianggap mistis, seperti kuburan dan pohon besar. Dengan tujuan, para arwah pendahulu ketika diletakkan sebuah makanan, rokok, sirih, minuman maka arwah pendahulu akan menyertai dan melindungi keturunannya. Sedangkan erpangir dilakukan di sebuah sungai mengalir dan dilengkapi dengan jeruk purut, mangkok batu berwarna putih dan bunga-bunga yang harum dengan tujuan membuang sial dan salah satu cara membuang penyakit di dalam tubuh.32

3.3 Pratik Shaminisme di Desa Kutambaru

Praktik shamanisme secara singkat dapat diartikan sebuah praktik yang dilakukan dengan mempercayai kekuatan supranatural terkhusus dalam proses penyembuhan orang sakit. Seperti yang dituliskan di atas, bahwa jemaat GBKP Runggun Kutambaru masih ada yang percaya dan melaksanakan praktik shamanisme tersebut hingga saat ini. Sebagian jemaat masih ada yang pergi berobat ke dukun dan melakukan praktik-praktik shamanisme demi mendapatkan sebuah kesembuhan.

Praktik shamanisme yang masih dilakukan sebagian jemaat GBKP Rg. Kutambaru

31 https://web.karokab.go.id/profil/adat-dan-budaya/725-wari-wari-dan-tahun-karo, diakses pada 12 September 2021.

32 Wawancara dengan T Br Bangun pada tanggal 12 September 2021

(14)

14

seperti, mengobati sebuah penyakit yang sudah lama tidak kunjung sembuh ke dukun, melakukan ritual-ritual mistis dengan tujuan memperoleh sebuah kesembuhan.

Praktik shamanisme itu seperti berobat ke dukun, memberi makan arwah nenek moyang yang dilakukan pada jam 00.00 dan yang memberi makan harus tanpa mengenakan busana atau pun bisa ditutupi dengan kain kafan. Berbagai media yang harus dilengkapi, seperti tampi, nasi putih, ayam berwarna hitam dengan bobot 800 ons, kelapa muda. Dengan tujuan ketika arwah nenek moyang tersebut kenyang, maka arwah tersebut dapat melindungi keluarganya dan mengabulkan permintaan keluarga seperti kesembuhan dari sebuah penyakit.33

Sebagian jemaat GBKP Runggun Kutambaru, masih ada juga yang melakukan ritual buang sial, seperti mimpi buruk, terjadi kecelakaan dan keadaan dukacita. Seperti, meletakkan pakaian seseorang di lokasi kejadian kecelakaan, dengan tujuan supaya penunggu jalan tersebut tidak mencari tumbal ke keluarga yang kecelakaan. Oleh sebab itu, praktik shamanisme tersebut masih dapat ditemui dalam proses perjalanan kehidupan jemaat GBKP Rg. Kutambaru. Menariknya, sebagian jemaat menghalalkan praktik shamanisme tersebut demi sebuah kesembuhan. Ada tanggapan bahwa pada zaman dahulu juga sebelum ada agama praktik ini sudah dilakukan nenek moyang kita, sehingga tradisi tersebut masih ada sampai saat ini dan harus dilestarikan. Pemahaman dan pandangan tersebutlah yang memicu praktik shamanisme ini masih dilakukan oleh sebagian jemaat GBKP Runggun Kutambaru.34 3.4 Sikap GBKP terhadap Praktik Shamanisme

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) merupakan gereja suku yang sudah 128 tahun lamanya berdiri di wilayah Tanah Karo hingga ke luar Pulau Sumatera. Gereja yang sebagaimana mestinya harus menyuarakan suara kenabian dan mempertahankan esensi gereja yang sesungguhnya. Sehingga, GBKP yang disebuat gereja suku Karo tidak menutup mata dengan pengaruh kebudayaan kuno dan kepercayaan kuno. Oleh

33 Wawancara dengan Nd. Tekwa Br Karo, pada tanggal 11 September 2021 34 Wawancara dengan T Ginting, pada tanggal 11 Agustus 2021

(15)

15

sebab itu, GBKP mengeluarkan suara dengan tegas terkait praktik-praktik yang berlawanan dengan ajaran ke-Krsitenan seperti praktik shamanisme tersebut.

Menyikapi hal-hal tersebut, maka GBKP mengeluarkan sikap tegasnya seperti yang tercantum di Buku Konfesi GBKP bab VI, yang berbunyi : ... Oleh karena itu, dalam terang firman Allah, manusia harus menggali, mengembangkan dan melestarikan budaya secara positif, kritis dan realistis untuk kesejahteraan manusia (I Korintus 9:20-21; Yohanes 13:1-20). Sikap GBKP ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:

Kehidupan warga GBKP masih dipengaruhi oleh kepercayaan agama suku Karo yaitu „perbegu‟ (agama pemena), yaitu kepercayaan terhadap roh-roh orang yang sudang meninggal, menjalin komunikasi dengan orang yang sudah meninggal (perumah begu), memberi penghormatan kepada roh-roh orang yang sudah meninggal (memberikan sesajen/cibal-cibalen di kuburan dan tempat-tempat khusus yang dianggap keramat), meminta petunjuk kepada guru mbelin atau guru si baso (dukun yang memiliki jinujung) dalam melaksanakan pesta maupun jika ada anggota keluarga yang mengalami sakit baik lama dan tidak, memanggil hujan dengan upacara yang tidak wajar (dogal-dogal), meminta kesembuhan dari kalimbubu dengan melakukan upacara cabur bulung atau memberikan besi mersik, kepercayaan terhadap mitos dan kekuatan magis dan lain sebagainya. Intinya unsur budaya Karo yang masih menganut kepercayaan kepada roh-roh orang yang sudah meninggal dan benda-benda atau tempat yang dianggap mistik.

Oleh sebab itu, GBKP melakukan beberapa kategori sikap, yakni:

1. Terhadap Warga GBKP

a. Jika ada seorang warga dari sebuah Runggun, yang diduga kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah dan/atau paham pengajarannya bertentangan dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah

(16)

16

penggembalaan umum yang dapat menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus bagi yang bersangkutan.

b. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada:

1) Informasi dari:

a) Warga dari Runggun tersebut,

b) Warga atau pertua atau diakenatau pendeta dari Runggun lain,

yang diterima oleh pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta dari Runggun tersebut. Informasi tersebut disampaikan secara lisan dan/atau tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal. Laporan tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

2) Informasi dari pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta dari Runggun tersebut. Informasi itu belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

c. Bertolak dari informasi tersebut, pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta tersebut melakukan klarifikasi, termasuk kepada terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut. Jika terlapor adalah warga baptisan, maka orang tua/walinya diikutsertakan.

d. Jika informasitersebut tidak benar, pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta tersebut memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada pelapor. Pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta tersebut dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

e. Jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor, pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta itu melakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

f. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta itu berpendapat bahwa informasitersebut benar, atau

(17)

17

jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta itu melaporkan hal itu kepada Majelis Runggun secara lisan dan/atau tertulis.

g. Berdasarkan laporan dari pertua dan/atau diaken dan/atau pendeta itu, Majelis Runggun melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kebenaran laporan itu.

1) Jika Majelis Runggun menyimpulkan bahwa laporan tersebut tidak benar, Majelis Runggun memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada wargaatau pertua atau diakenatau pendeta yang melaporkan.

2) Jika Majelis Runggun menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar, Majelis Runggunmelakukan penilikan dengan mengadakan percakapan pastoral secara optimal dengan terlapor agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat, Majelis Runggun memutuskan bahwa penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

3) Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor yang merupakan warga baptis tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 52.

4) Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor yang merupakan warga sidi tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 53.

2. Terhadap pertua atau diaken

a. Jika ada seorang pertua atau diaken, baik yang aktif maupun yang sudah emeritus,yang melayani di sebuah Runggun, yang diduga kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah dan/atau menganut dan mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, termasuk menyalahgunakan dan/atau mengingkari jabatannya, tidak aktif melaksanakan tugasnya selama enam (6) bulan secara terus-menerus, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah penggembalaan umum yang dapat menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus bagi yang bersangkutan.

(18)

18

b. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada:

1) Informasi dari:

a) Warga dari Runggun tersebut,

b) Warga atau pertua atau diakenatau pendeta dari Runggun lain,

yang diterima oleh pertua atau diakenatau pendeta dari Runggun tersebut.

Informasi tersebut disampaikan secara lisan dan/atau tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal. Informasi tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

2) Informasi dari pertua atau diakenatau pendeta dari Runggun tersebut.

Informasi itu belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

c. Bertolak dari informasiitu, pertua atau diakenatau pendeta tersebut melakukan klarifikasi, termasuk kepada terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasitersebut.

d. Jika informasitersebut tidak benar, pertua atau diakenatau pendeta tersebut memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada pelapor. Pertua atau diakenatau pendeta tersebut dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

e. Jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor, pertua atau diakenatau pendeta itu melakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat.

1) Jika terlapor bertobat, tetapi permasalahan ini diyakini oleh pertua atau diakenatau pendeta itu membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, pertua atau diakenatau pendeta itu harus melaporkannya kepada Majelis Runggun secara lisan dan/atau tertulis. Berdasarkan laporan tersebut Majelis Runggun melanjutkan penggembalaan terhadap yang bersangkutan untuk menolong ia memahami kembali hakikat panggilan

(19)

19

spiritualnya sebagai pertua atau diakendan penerimaan Runggun terhadapnya.

2) Jika terlapor bertobat dan permasalahan ini diyakini oleh pertua atau diakenatau pendeta itu tidak membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

f. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan pertua atau diakenatau pendeta itu berpendapat bahwa laporan tersebut diduga benar, atau jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, pertua atau diakenatau pendeta itu melaporkan hal itu kepada Majelis Runggun secara lisan dan/atau tertulis.

g. Berdasarkan laporan dari pertua atau diakenatau pendeta itu, Majelis Runggun melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kebenaran laporan itu.

1) Jika Majelis Runggun menyimpulkan bahwa laporan tersebut tidak benar, Majelis Runggun memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada warga atau pertua atau diakenatau pendeta yang melaporkan. Majelis Runggun dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

2) Jika Majelis Runggun menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar, Majelis Runggunmelakukan penilikan dengan mengadakan percakapan pastoral secara optimal dengan terlapor agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat tetapi permasalahannya tidak membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, Majelis Runggun memutuskan bahwa penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

(20)

20

3) Jika terlapor bertobat tetapi permasalahannya ternyata membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, Majelis Runggun melanjutkan penggembalaan terhadap yang bersangkutan untuk menolong ia memahami kembali hakikat panggilan spiritualnya sebagai pertua atau diakendan penerimaan Runggun terhadapnya.

4) Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 54 bagi yang aktif dan ke Tata Laksana Pasal 55 bagi yang sudah emeritus.

3. Terhadap Pendeta

a. Jika ada seorang pendeta yang diduga kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah dan/atau menganut dan mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, termasuk menyalahgunakan dan/atau mengingkari jabatannya, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah penggembalaan umum yang dapat menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus bagi yang bersangkutan.

b. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada laporan tentang dugaan dariwarga atau pertua atau diakenatau pendeta yang lain yang diterima oleh Majelis/Badan Pekerja Majelis. Laporan tersebut disampaikan secara lisan dan/atau tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal. Laporan tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

c. Bertolak dari informasiitu, Majelis/Badan Pekerja Majelismelakukan klarifikasi, termasuk kepada terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasitersebut.

d. Jika informasitersebut tidak benar, Majelis/Badan Pekerja Majelismemutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut

(21)

21

diberitahukan kepada pelapor. Majelis/Badan Pekerja Majelis tersebut dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

e. Jika laporan tersebut diakui benar oleh terlapor, Majelis/Badan Pekerja Majelismelakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat.

1) Jika terlapor bertobat, tetapi permasalahan ini diyakini oleh Majelis/Badan Pekerja Majelismembawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, maka Majelis/Badan Pekerja Majelis yang terkait wajib melaporkan hal ini kepada Moderamen. Setelah menerima laporan tersebut, Moderamen menugaskan Biro Pengembangan SDM untuk melakukan perkunjungan pastoraluntuk menentukan kelanjutan pelayanan dari yang bersangkutan. Melalui perkunjungan pastoraltersebut, Biro Pengembangan SDM memberikan rekomendasi kepada Moderamen mengenai pelayanan dari yang bersangkutan, apakah pelayanan yang bersangkutan akan dilanjutkan di tempattersebut atau yang bersangkutan harus menjalani mutasi.

2) Jika terlapor bertobat dan permasalahan ini diyakini oleh Majelis/Badan Pekerja Majelis tidak membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

f. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan Majelis/Badan Pekerja Majelis berpendapat bahwa laporan tersebut diduga benar, atau jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, Majelis/Badan Pekerja Majelis melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kebenaran laporan itu.

1) Jika Majelis/Badan Pekerja Majelismenyimpulkan bahwa laporan tersebut tidak benar, Majelis/Badan Pekerja Majelismemutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada wargaatau pertua

(22)

22

atau diakenatau pendeta yang melaporkan. Majelis/Badan Pekerja Majelisdapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

2) Jika Majelis/Badan Pekerja Majelismenyimpulkan bahwa laporan tersebut benar, Majelis/Badan Pekerja Majelismelakukan penilikan dengan mengadakan percakapan pastoral secara optimal dengan terlapor agar ia bertobat.

a) Jika terlapor bertobat dan Majelis/Badan Pekerja Majelis berpendapat bahwa permasalahan ini tidak membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, penggembalaan umum terhadap yang bersangkutan dinyatakan selesai dan yang bersangkutan dapat melanjutkan pelayanannya di tempat tersebut.

b) Jika terlapor bertobat tetapi Majelis/Badan Pekerja Majelis berpendapat bahwa permasalahan ini benar-benar membawa dampak yang lebih luas bagi kesatuan gereja dan keberlangsungan pelayanan gereja secara menyeluruh, maka Majelis/Badan Pekerja Majelis tersebut wajib melaporkan hal ini kepada Moderamen. Setelah menerima laporan tersebut, Moderamen menugaskan Biro Pengembangan SDM untuk melakukan perkunjungan pastoraluntuk menentukan kelanjutan pelayanan dari yang bersangkutan. Melalui perkunjungan pastoraltersebut, Biro Pengembangan SDM memberikan rekomendasi kepada Moderamen mengenai pelayanan dari yang bersangkutan, apakah pelayanan yang bersangkutan akan dilanjutkan di tempattersebut atau yang bersangkutan harus menjalani mutasi.

c) Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 56.

4. Terhadap Majelis Runggun

a. Jika ada Majelis Runggun dari sebuah Runggun yang diduga mengambil keputusan dan/atau melakukan praktik kehidupan dan pelayanan gerejawi

(23)

23

yang bertentangan dengan Firman Allah dan/atau Tata Gereja GBKP dan/atau ajaran GBKP dan/atau keputusan-keputusan dari Majelis Klasis dan/atau Majelis Sinode, sehingga mengancam keutuhan Runggun dan keutuhan GBKP secara menyeluruh, menyebabkan meluasnya ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, dan menyebabkan meluasnya praktik bergereja yang tidak sesuai dengan Tata Gereja GBKP, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah penggembalaan umum yang menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus bagi Majelis Runggun tersebut.

b. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada 1) Informasi dari:

a) Warga Gereja

b) Majelis Runggun dari Runggun lain, c) BPMK,

d) Moderamen,

yang diterima oleh BPMK dari Klasistersebut. Informasi tersebut disampaikan secara tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal.

Informasi tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

c. Bertolak dari informasiitu, BPMKtersebut melakukan klarifikasi, termasuk kepada terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.

d. Jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor, BPMKtersebut melakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

e. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan BPMKtersebut berpendapat bahwa laporan itu benar, atau jika informasi itu diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, BPMKtersebut melaporkan hal itu kepada Moderamen.

(24)

24

f. Moderamen mengadakan perkunjungan pastoral kepada Majelis Runggun yang bersangkutan dengan melibatkan BPMKtersebut. Dalam perkunjungan pastoral, tim perkunjungan melakukan klarifikasi lagi dan peneguran jika dianggap perlu. Perkunjungan pastoral itu dapat dilakukan lebih dari satu (1) kali.

g. Tim perkunjungan melaporkan hasil akhir perkunjungan pastoralnya kepada Moderamen.

h. Jika Moderamen dalam sidangnya yang melibatkan para pelayan perkunjungan danBPMKtersebut menyimpulkan bahwa laporan itu tidak benar, Moderamen memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada Majelis Runggun terlapor dan pelapor.

Moderamen dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

i. JikaModeramen dalam sidangnya yang melibatkan para pelayan perkunjungan danBPMKtersebut menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar dan terlapor bertobat, Moderamen memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada Majelis Runggun terlapor dan pelapor.

j. JikaModeramen dalam sidangnya yang melibatkan para pelayan perkunjungan danBPMKtersebut menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar, Moderamen melakukan penilikan dengan mengadakan percakapan pastoral secara optimal dengan terlapor agar ia bertobat.

k. Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 57.

5. Terhadap BPMK.

a. Jika ada BPMK dari sebuah Klasis yang diduga mengambil keputusan dan/atau melakukan praktik kehidupan dan pelayanan gerejawi yang bertentangan dengan Firman Allah dan/atau Tata Gereja GBKP dan/atau ajaran GBKP dan/atau keputusan-keputusan dari Majelis Klasis dan/atau Majelis Sinode, sehingga mengancam keutuhan Klasis dan keutuhan GBKP secara menyeluruh, menyebabkan meluasnya ajaran yang bertentangan

(25)

25

dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, dan menyebabkan meluasnya praktik bergereja yang tidak sesuai dengan Tata Gereja GBKP, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah penggembalaan umum yang menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus bagi BPMK tersebut.

b. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada 1) Informasi dari:

a) Warga Gereja b) Majelis Runggun c) BPMK dari Klasis lain d) Moderamen,

yang diterima oleh Majelis Klasis dari Klasis tersebut. Informasi tersebut disampaikan secara tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal. Informasi tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

2) Informasi dari Majelis Klasis tersebut atau Moderamen. Informasi itu belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

c. Bertolak dari informasiitu, Majelis Klasis atau Moderamenmelalui persidangannya melakukan klarifikasi, termasuk kepada terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.

d. Jika informasitersebut diakui benar oleh terlapor, Majelis Klasis atau Moderamen melakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

e. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan Majelis Klasis atau Moderamenberpendapat bahwa laporan itu benar, atau jika informasi itu diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, Moderamen mengadakan perkunjungan pastoral kepada BPMKtersebut. Dalam perkunjungan pastoral,

(26)

26

Moderamen melakukan klarifikasi lagi dan peneguran jika dianggap perlu.

Perkunjungan pastoral itu dapat dilakukan lebih dari satu (1) kali.

f. Jika Moderamen dalam sidangnya menyimpulkan bahwa laporan itu tidak benar, Moderamen memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada BPMKterlapor dan pelapor. Moderamen dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

g. JikaModeramen dalam sidangnya menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar dan terlapor bertobat, Moderamen memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada BPMK terlapor dan pelapor.

h. JikaModeramen dalam sidangnya menyimpulkan bahwa laporan tersebut benar, Moderamen melakukan penilikan dengan mengadakan percakapan pastoral secara optimal dengan terlapor agar ia bertobat.

i. Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 58.

6. Terhadap Moderamen.

a. Jika Moderamen diduga mengambil keputusan dan/atau melakukan praktik kehidupan dan pelayanan gerejawi yang bertentangan dengan Firman Allah dan/atau Tata Gereja GBKP dan/atau ajaran GBKP dan/atau keputusan- keputusan dari Majelis Sinode, sehingga mengancam keutuhan GBKP secara menyeluruh, menyebabkan meluasnya ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah dan ajaran GBKP, dan menyebabkan meluasnya praktik bergereja yang tidak sesuai dengan Tata Gereja GBKP, terhadapnya dapat ditempuh langkah-langkah penggembalaan umum yang menjadi dasar bagi pelaksanaan penggembalaan khusus baginya. Langkah-langkah itu harus didasarkan pada informasi dari:

a) Warga Gereja b) Majelis Runggun c) BPMK

(27)

27

yang diterima oleh Majelis Sinode dalam persidangannya, baik SMS maupun SKMS. Informasi tersebut disampaikan secara tertulis yang dapat disertai dengan bukti-bukti awal. Informasi tersebut belum dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

b. Bertolak dari informasi itu, Majelis Sinode dalam persidangannya, baik SMS maupun SKMS, melakukan klarifikasi kepada Moderamen sebagai terlapor, untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.

c. Jika informasi tersebut diakui benar oleh terlapor, Majelis Sinode melakukan peneguran dan memberikan nasihat kepada terlapor dalam kasih agar ia bertobat. Jika terlapor bertobat, penggembalaan umum terhadapnya dianggap selesai dan hal ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus.

d. JikaMajelis Sinode dalam sidangnya menyimpulkan bahwa informasi tersebut benar dan terlapor bertobat, Majelis Sinode memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai.

e. Jika Majelis Sinode dalam sidangnya menyimpulkan bahwa laporan itu tidak benar, Majelis Sinode memutuskan bahwa kasus ini dianggap selesai, dan hal tersebut diberitahukan kepada terlapor dan pelapor. Majelis Sinode dapat melakukan langkah-langkah penggembalaan umum terhadap pelapor.

f. Jika informasitersebut disangkal oleh terlapor, sedangkan Majelis Sinode dalam persidangannyaberpendapat bahwa laporan itu benar, atau jika informasi itu diakui benar oleh terlapor tetapi ia tidak bertobat, Majelis Sinode dalam sidangnya melakukan penilikan terhadap terlapor agar ia bertobat.

g. Jika penilikan telah dilaksanakan dan terlapor tetap tidak bertobat, proses dilanjutkan ke Tata Laksana Pasal 59.35

Melalui pemahaman dan tulisan yang dirumuskan GBKP, oleh sebab itu GBKP secara tegas dan kritis menyatakan unsur-unsur dan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan Firman Tuhan (misalnya, budaya yang memiliki kepercayaan

35 Tata Gereja GBKP 2015-2025, hal. 57

(28)

28

terhadap magis, mistis dan animistis/kepercayaan terhadap roh-roh) dankebudayaan yang memberkan dampak buruk bagi keutuhan ciptaan Tuhan semuanya di tolak.

GBKP melakukan transformasi (pembaharuan) terhadap budaya dengan terang Firman Tuhan, sehingga melalui kebudayaan manusia dapat dipermuliakan Tuhan.36 3.5 Situasi Kesehatan Jemaat Desa Kutambaru

Desa Kutambaru memiliki 1 Puskesmas yang dimana waktu buka tidak menentu, karena bidan yang menjaga juga hanya satu orang dan beliau bekerja di Puskesmas kecamatan Munte. Puskesmas juga sering tidak menerima pasien dikarenakan kesibukan bidan yang menjaga. Puskesmas desa Kutambaru hanya menerima pelayanan penyakit demam atau influenza, pemeriksaan tensi dan speksi kehamilan. Penyakit ringan sajalah yang diobati oleh bidan desa tersebut.37

Selain pelayanan dari tenaga medis di Puskesmas, pengobatan tradisional dari dukun juga dilakukan oleh sebagian warga jemaat GBKP Rg. Kutambaru. Pekerjaan yang dilakukan dukun tersebut adalah seorang petani dan mengobati penyakit melalui mantra-mantra. Berbeda dengan bidan, dukun tersebut melayani pengobatan kapan saja dan dimana saja. Ketika datang pasien yang ingin berobat jika dukun tidak berada di rumah, temui saja beliau di ladang atau kebunnya. Dukun tradisional tersebut memberikan obat kepada pasien yang ingin disembuhkan. Jika penyakit pasien serius maka dukun akan meminta kepada pasien supaya dirawat di kediaman dukun tersebut hingga sembuh total. Dukun tersebut akan membuat ramuan-ramuan dan mantra untuk menyembuhkan pasien.38

3.5 Tanggapan warga jemaat GBKP Runggun Kutambaru tentang Praktik Shaminsme

Menurut narasumber yang diwawancara, semua manusia tentunya memiliki harapan supaya tetap sehat. Sehingga, ketika penyakit ada di dalam tubuh seseorang dengan cara apa pun pastinya ditempuh supaya mendapatkan kesehatan. Sehingga

36 Buku Saku Pokok-Pokok Pengakuan GBKP. Moderamen GBKP.2016. Kabanjahe

37 Linda Br Ginting. Wawancara. Kutambaru. 10 Agustus 2021

38 Bp. Basenta Tarigan. Wawancara. Kutambaru. 10 Agustus 2021

(29)

29

berobat ke tenaga kesehatan atau pun dukun tradisonal dianggap wajar saja, yang penting mendapatkan kesehatan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap narasumber bahwa pengobatan tradisional adalah pengobatan yang sudah sejak dahulu kala dikenal masyarakat suku Karo. Sedangkan, pengobatan secara dunia medis itu ada sejak kecanggihan zaman dan perkembangan ilmu. Oleh sebab itu, pengobatan tradisional merupakan alternatif yang tepat jika sebuah penyakit tidak sembuh. Pengobatan tradisional yang sudah dikenal masyarakat sejak dahulu masih berfungsi dan berguna hingga sampai saat ini.39

Cara memperoleh pengobatan tradisional akan diperoleh dari kekuatan gaib yang sudah diturunkan kepada seseorang oleh nenek moyangnya. Tentunya, ritual dilakukan dengan membuat sesajen di sebuah tempat yang dianggap keramat atau mistis. Menariknya, dukun tersebut juga memiliki agama atau kepercayaan yang diakui oleh negara Indonesia. Terdapat beberapa jenis cara pengobatan tradisional di masyarakat desa Kutambaru, yakni : pertama, pengobatan dilakukan dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan yang sudah dipilih oeh dukun tersebut dan dianggap mujarab dalam pengobatan. Kumpulan dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan tersebut di olah menjadi sebuah sari bubuk yang disebut sembur, ada juga tumbuh-tumbuhan tersebut diolah menjadi minyak. Kegunaannya untuk mengoleskan minyak tersebut di bagian tubuh yang sakit. Ada juga diolah kedalam bentuk tepung dan dijemur atau disebut sebagai kuning, kegunaannya dioleskan ke seluruh tubuh dengan mencampurkan air hangat/dingin.

Kedua, pengobatan yang dilakukan seorang dukun dengan mengadakan sebuah ritual dan memanggil roh-roh nenek moyang supaya diberikan kekuatan dan dapat menyembuhkan penyakit seseorang/pasien. Pengobatan secara mistik atau tradisional tersebut masih ada digunakan seseorang dalam mengobati sebuah penyakit. Ketika seseorang dukun mulai mengobati dan mengadakan ritual, pasien harus memenuhi syarat-syarat yang diberitahukan oleh dukun. Biasanya, syarat-syarat tersebut dengan mengumpulkan dedaunan, alat mandi kembang dan tikar yang putih.

39 Nd. Tekwa Br Karo. Wawancara. Kutambaru. 11 Agustus 2021

(30)

30

Ketika selesai pengobatan, si dukun akan berbicara kepada pasien supaya tidak boleh melanggar sebuah larangan yang diberitahu kepada pasien. Larangan-larangan tersebut pada umumnya bersifat makanan dan waktu untuk mandi kembang, seperti tidak diperbolehkan makan di saat acara kematian, tidak diperkenankan memakan hewan yang bersisik, tidak diperkenankan memakan hidangan yang sudah dipanaskan (pangan olang-alik).40

Setelah dilakukan proses wawancara kepada beberapa jemaat di GBKP Runggun Kutambaru, terdapat tiga perbedaan dari pandangan oleh narasumber mengenai berobat ke dukun atau tim medis dengan argumennya masing-masing.

Jemaat beranggapan bahwa lebih baik berobat ke tenaga kesehatan daripada dukun atau orang pintar, ada juga jemaat berpendapat bahwa lebih baik berobat ke dukun dari pada ke tenaga kesehatan zaman sekarang, ada pendapat juga bahwa berobat ke dukun dan tenaga kesehatan baik saja digunakan yang terpenting penyakit dapat disembuhkan.

Narasumber yang berpendapat bahwa lebih baik berobat ke tenaga kesehatan dari pada berobat ke dukun mengutarakan pendapatnya bahwa, menurut perkembangan zaman dan kecanggihan alat-alat kesehatan maka berobat ke dukun tidak relevan lagi. Karena tenaga kesehatan pada umunya sudah belajar dan sudah menempuh pendidikan kesehatan. Beliau lebih memilih berobat ke medis dikarenakan lebih akurat dan terjamin dibandingkan ke dukun yang tidak akurat.

Dukun hanya menduga-duga saja sebuah penyakit tanpa berdasarkan pengalaman di bidang kesehatan (medis). Narasumber juga berpendapat, jika berobat ke dukun akan mendapatkan tumbal atau karma yang diberikan Tuhan.41

Narasumber selanjutnya berpendapat lebih baik berobat ke dukun dari pada ke tim medis dengan alasan bahwa sejak dahulu pengobatan ke dukun sudah dilakukan nenek moyang kita. Hasilnya juga, para nenek moyang dahulu sehat-sehat saja dan rata-rata panjang umurnya. Begitu juga sampai saat ini, meskipun peralatan medis

40 Bp. Basenta Tarigan. Wawancara. Kutambaru. 11 Agustus 2021

41 Pt. Basenta Tarigan. Wawancara. Kutambaru. 11 Agustus 2021

(31)

31

sudah banyak tetap lebih relevan berobat ke dukun. Dukun dianggap mendapat wahyu dari roh-roh nenek moyang sehingga mengetahui semua jenis obat-obatan.

Bahkan obat-obatan yang di berikan dukun lebih mujarab karena tanpa adanya bahan- bahan kimia. Sehingga, narasumber tersebut sampai saat ini masih berobat ke dukun dan percaya kekuatan supranatural yang dimiliki dukun.42

Narasumber selanjutnya, menggunakan pengobatan secara medis dan pengobatan tradisional. Karena, medis hanya mengetahui jenis penyakit tetapi dukun juga mengetahui sumber penyakit. Jika berobat ke medis, pastinya medis akan melakukan tindakan seperti suntikan dan infusan jika diperlukan sedangkan dukun tidak mengetahui hal tersebut. Sehingga, tindakan yang tidak diketahui dukun itulah yang harus ditangain oleh tim medis. Tindakan yang diketahui dukun, disitulah saatnya dukun berperan dengan menggunakan mantra dan obat-obat tradisonal.

Sehingga menurut narasumber tersebut, keduanya baik digunakan. Terpenting keadaan pasien atau penderita sakit dapat disembuhkan.43

IV. Analisis

4.1 Praktik Shamanisme

Ciri khas shamanistik adalah penggambaran yang dilakukan berdasarkan hasil pengalaman atau bahkan dalam kondisi berhalusinasi sehingga dapat memberikan sebuah kesimpulan. Lewis-William menyatakan bahwa ada tiga tingkatan jenis alam dalam aktivitas shaman, yaitu: pertama, dunia atas yang diyakini didiami oleh roh-roh tertentu, tingkatan kedua adalah dunia nyata yang menjadi tempat tinggal dunia atau manusia, dan yang ketiga adalah alam bawah tanah yang didiami oleh roh-roh tertentu. Hanya seorang shaman lah yang bisa berhubungan dengan kedua roh tersebut.44

42 Jekmin Tarigan.Wawancara. Kutambaru. 11 Agustus 2021

43 T Br Ginting. Wawancara. Kutambaru. 12 Agustus 2021

44 Irsyad Leihitu dan R. Cecep Eka Permana, Jejak Shamanism Pada Gambar Cadas di Maros-Pangkep Sulawesi Selatan, Indonesia, (Maluku: Kapata Arkeologi,2018), hal 2-4.

(32)

32

Harfiahnya shamanisme berarti profesi (karya) penyembuhan yang dikerjakan bersama roh-roh. Lévy Bruhl, menyebutnya “the law of mysti cal parti cipati on,”

yaitu rasa hubungan spiritual/supranatural yang ada antara setap orang dengan segala sesuatu di alam. Shamanisme bukanlah agama atau ilmu, melainkan aktivitas di dunia fisik ini namun spiritual. Shamanisme dipandang sebagai penyembuhan supranatural atau teknologi bantuan penyembuhan yang sakral. Oleh sebab itu, shamanisme merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dengan melibatkan roh-roh nenek moyang sebagai sarana penyembuhan.

Bagi Augsburger, dalam banyak budaya, shaman adalah seorang pemimpin karismatik yang memiliki klaim dapat berhubungan langsung dengan zona tengah (roh / roh leluhur) yang mampu memberikan penyembuhan, pernyataan profetis dan menopang kekuatan sosial struktur masyarakat. Otoritas dukun muncul dari ketiga fungsinya tadi (penyembuhan, profetis dan penopang), dalam meyakinkan orang lain tentang kekuatan zona tengah dengan melakukan tindakan supranatural, menyampaikan pesan dari roh, dewa dan leluhur. Biasanya ia bekerja secara individu/introvert. Shamanisme di suku Batak Karo, misalnya, manyampaikan peran dukun sebagai imam (parbaringan) yang memerantarai permohonan dan persembahan marga atau tua-tua utama dalam marga kepada leluhur.45

Pada bagian ini, penulis akan melakukan analisis terhadap tanggapan jemaat GBKP Runggun Kutambaru mengenai hal berobat. Menurut teori yang dikemukakan oleh Levy Bruhl, shamanisme atau penyembuhan supranatural merupakan sebuah teknologi bantuan penyembuhan yang sakral, yang aktivitasnya berpangkal kepada pengalaman ahli shaman. Augshburger juga menyatakan bahwa shaman adalah seorang pemimpin karismatik yang memiliki klaim dan dapat berhubungan langsung dengan zona tengah (roh/ roh leluhur) yang mampu memberikan penyembuhan, pernyataan profetis dan menopang kekuatan masyarakat. Peran dukun muncul sebagai penyembuh, profetis dan penopang. Sehingga dukun meyakinkan orang lain

45 Fiktor Jekson Banoet, SHAMANISME DAN KESURUPAN Teologi Demonik: Eksplorasi Demonologi Sosial dengan Demonologi Spirtis dalam Perspektif Non-Barat dan Implikasi Pastoral Lintas Budaya dan Agama, Volume 1, April 2021, UKDW, Yogyakarta.

(33)

33

tentang tindakan supranatural yang mengandung pesan-pesan dari roh dewa dan leluhur, mengobati orang yang sakit.46

Menganalisis tindakan-tindakan dan tanggapan yang dilakukan oleh narasumber, penulis mencoba menganalisis tanggapan tersebut berlandaskan pemahaman GBKP yang diakui di dalam Konfesi GBKP Bab VI tentang budaya.

Buku Saku Konfesi GBKP bab VI menyatakan demikian, ... Oleh karena itu, dalam terang firman Allah, manusia harus menggali, mengembangkan dan melestarikan budaya secara positif, kritis dan realistis untuk kesejahteraan manusia (I Korintus 9:20-21; Yohanes 13:1-20). Sikap GBKP ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:

Kehidupan warga GBKP masih dipengaruhi oleh kepercayaan agama suku Karo yaitu „perbegu‟ (agama pemena), yaitu kepercayaan terhadap roh-roh orang yang sudang meninggal, menjalin komunikasi dengan orang yang sudah meninggal (perumah begu), memberi penghormatan kepada roh-roh orang yang sudah meninggal (memberikan sesajen/cibal-cibalen di kuburan dan tempat-tempat khusus yang dianggap keramat), meminta petunjuk kepada guru mbelin atau guru si baso (dukun yang memiliki jinujung) dalam melaksanakan pesta maupun jika ada anggota keluarga yang mengalami sakit baik lama dan tidak, memanggil hujan dengan upacara yang tidak wajar (dogal-dogal), meminta kesembuhan dari kalimbubu dengan melakukan upacara cabur bulung atau memberikan besi mersik, kepercayaan terhadap mitos dan kekuatan magis dan lain sebagainya. Intinya unsur budaya Karo yang masih menganut kepercayaan kepada roh-roh orang yang sudah meninggal dan benda-benda atau tempat yang dianggap mistik.

4.2 Sikap Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Runggun Kutambaru

Firman Tuhan dengan tegas mengatakan sehubungan penyembahan terhadap allah-allah lain: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di

46 Fiktor Jekson Banote, Shamanisme dan Kesurupan, 01 April 2021, UKDW, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Pada bulan November, distribusi ukuran panjang ikan yang diperoleh di habitat danau mempunyai pola pergeseran selang ukuran yang mirip dengan habitat rawa dan sungai, yaitu 110-130

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

Berdasarkan uraian kajian pustaka di atas, dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas, yaitu: “ Apabila dalam pembelajaran tema indahnya negeriku melalui model

Berdasarkan teori teori yang telah dipaparkan, penulis berasumsi bahwa perpaduan model pembelajaran tipe think pair Square dengan teori Polya dapat meningkatkan

Islam gitu mesti seneng orang Kristen masuk Islam yo podo senennge, tapi katanya kalau keluar dari agama namanya murtad.. Saya sembahyang baru ini mas, susah

(1) Belanja Desa sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 huruf a dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan yang menjadi kewenangan desa, yang penanganannya

Pada kuartal ketiga 2010, volume produksi Adaro Energy mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 10,22 juta ton, atau lebih rendah daripada dua kuartal sebelumnya, karena tingginya