BAB III
PELAKSANAAN KERJA MAGANG
3.1 Kedudukan dan Koordinasi
Kerja magang dilakukan selama 66 hari di divisi Account Executive ARTEE Group. Divisi Account Executive memiliki tugas dan tanggung jawab menjalin hubungan baik dengan pihak klien melalui berbagai aktivitas komunikasi. Sebagai representasi dari agensi, segala aktivitas komunikasi antar pihak klien (external communication) dengan tim internal agensi (internal communication) merupakan tanggung jawab divisi Account Executive. Selain itu, divisi Account Executive memilik tanggung jawab untuk mengontrol alur serta kinerja tim internal agar sesuai dengan target perusahaan, tenggat waktu, serta brief yang telah dikoordinasikan sebelumnya.
Divisi Account Executive berdiri langsung di bawah pimpinan Chief Operational Officer ARTEE Group yang mendukung jalannya aktivitas perusahaan secara operasional. Divisi Account Executive sendiri dibagi menjadi 2 divisi, yaitu Business Development dan Account Executive. Divisi Business Development berfungsi untuk mencari klien-klien baru dan mengembangkan bisnis agensi.
Sedangkan divisi Account Executive berfungsi untuk menjaga klien-klien yang sudah ada dalam konteks klien jangka panjang serta hubungan baik antar pihak klien dengan agensi. Seorang Account Executive harus memiliki sikap tanggap, disiplin, ramah, dan tanggung jawab sehingga kebutuhan klien terpenuhi dan klien merasa puas dengan hasil dari strategi yang dirancang oleh agensi. Selain itu, seorang Account Executive juga harus cermat dalam memahami kebutuhan kliennya, serta sektor industri dan tren yang ada di industri klien tersebut.
Kedudukan penulis dalam kerja magang divisi Account Executive di ARTEE Group berada di bawah bimbingan Laily Maharani, selaku Chief Operational Officer ARTEE Group. Tugas dan tanggung jawab utama penulis sebagai Account Executive Intern adalah menjadi representasi yang menjadi perantara komunikasi antar klien dengan tim internal ARTEE Group, menghadiri
pertemuan penting antar klien dan calon klien untuk melakukan presentasi dan negosiasi, membuat laporan serta Minutes of Meeting (MOM) dari pertemuan tersebut, menjaga alur kerja tim internal ARTEE Group agar sesuai dengan tenggat waktu dan brief, membantu proses pertahanan klien jangka panjang dalam konteks laporan bulanan dan renacna bulanan (editorial plan), membina hubungan jangka panjang dengan klien, serta berkontribusi dalam proses pitching calon klien. Selama melaksanakan tugas harian, penulis disupervisi oleh David Sianipar selaku Account Executive di ARTEE Group.
3.2 Tugas yang Dilakukan
Divisi Account Executive merupakan divisi yang memegang peranan kunci dalam sebuah industri agensi. Melalui divisi ini, sebuah agensi mendapatkan klien baru serta mendapatkan pendapatan untuk menunjang operasional agensi secara keseluruhan. Tim Account Executive harus memelihara komunikasi yang baik dengan klien yang ada maupun potensial klien untuk menawarkan jasa-jasa yang ada di ARTEE Group. Seorang Account Executive harus berdiskusi dengan klien mengenai ide, konsep, hingga anggaran, serta melakukan Service Level Agreement (SLA) yang dapat mendukung klien agar terjadi hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Selain itu, seorang Account Executive juga harus memiliki sifat yang proaktif dalam menangani masalah-masalah klien sehingga terdapat komunikasi pemasaran yang efektif dan berdampak bagi klien.
Pada awal masa praktik magang, penulis terlebih dahulu diberi perkenalan mengenai ruang lingkup kerja divisi Account Executive di ARTEE Group, serta unit-unit bisnis dan divisi-divisi yang ada di ARTEE Group. Sebagai divisi Account Executive yang akan berhubungan dengan semua divisi, penulis diajak berkenalan oleh seluruh karyawan dari berbagai departemen di ARTEE Group. Kemudian, penulis diberi arahan mengenai alur kerja Account Executive terutama dari proses pencarian klien, pitching, hingga mempertahankan klien (client retaining). Setelah itu, penulis ditugaskan mendampingi Account Executive dalam beberapa klien ARTEE Group. Bentuk dukungan penulis dalam aktivitas sehari-hari sebagai Account Executive Intern antara lain;
⁃ Menjadwalkan dan menghadiri pertemuan dengan klien.
⁃ Membuat catatan pertemuan (Minutes of Meeting/MOM) dari hasil pertemuan tersebut.
⁃ Berkomunikasi dengan klien dalam proses relasi dan koordinasi dengan klien jangka panjang (client retaining) seperti mengecek ulang serta mengirimkan rencana editorial (Editorial Plan) dan laporan media sosial bulanan.
⁃ Menyusun kesepakatan kerja (Service Level of Agreement/SLA) dan linimasa,
⁃ Melakukan penugasan kepada divisi-divisi terkait yaitu creative dan strategist.
⁃ Berkontribusi dalam penyusunan materi presentasi (deck) untuk beberapa proyek pitching yang dilakukan ARTEE Group.
Penulis berkontribusi pada layanan bagi klien jangka panjang maupun klien berbasis proyek selama praktik kerja magang di ARTEE Group, yaitu:
Klien Jangka Panjang (Retainer):
1. Kanimals
2. Cuan Generations 3. Les Elite
4. Sour Sally Group (Sour Sally dan Gulu-Gulu) 5. Doraemon
Klien berbasis proyek (Project based):
6. Instax Indonesia 7. IPCD
8. TMRW by UOB 9. Halim Sakti 10. Astra Finance
Selama proses praktik kerja magang berlangsung, penulis dibimbing dan diberi masukan oleh pembimbing terkait cara berkomunikasi yang baik dengan tim internal dan pihak klien, serta terkait proses revisi yang sesuai dengan standar klien ruang lingkup kerja. Berikut adalah tabel pekerjaan yang dilakukan penulis selama praktik kerja magang di ARTEE Group berlangsung:
Tabel 3. 1 Aktivitas Kerja Magang
No.
Jenis Pekerjaan yang Dilakukan Mahasiswa
MINGGU KE
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1
Mempelajari alur kerja Account Executive dan unit bisnis yang ada di ARTEE Group.
2 Serah terima klien
3
Mempelajari alur kerja dan sistem pengembangan situs web
4
Mengecek dan melakukan pengiriman laporan media sosial bulanan
5
Membantu menyusun materi Proposal & Pitching
6
Terlibat dan memantau
perkembangan Web Development beberapa klien (Cuan Generations, IPCD, dan ASTRA Financial)
7
Mengirim rencana bulanan dan berkomunikasi langsung dengan klien dalam proses revisi
8 Ikut serta dalam proyek pitching 9 Mengikuti Kick-Off Meeting
10
Melakukan penugasan dan menyusun tenggat waktu rencana bulanan dan iklan
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang
Dalam praktik kerja magang di ARTEE Group, penulis melakukan pekerjaan sesuai dengan tanggung jawab dan tugas di divisi Account Executive.
Kegiatan yang dilakukan penulis diantaranya ialah mengatur dan menghadiri rapat, membuat laporan serta notulen rapat dari pertemuan tersebut, mengikuti proyek pitching, dan melaksanakan tugas mempertahankan klien jangka panjang di konteks rencana bulanan, penyusunan proposal, dan laporan bulanan. Selain itu, penulis juga berusaha untuk memahami kebutuhan dan harapan klien dalam rangka perancangan strategi komunikasi digital yang tepat yang nantinya akan diinterpretasikan dalam bentuk poin-poin yang dicatat dalam brief, sehingga tim internal (divisi creative dan digital) dapat mudah memahami dan melakukan langkah berikutnya.
Kemudian, penulis juga harus memahami alur kerja dalam unit bisnis ARTEE Group, serta dapat mengomunikasikan secara efektif dan proaktif mengenai permasalahan klien guna mendukung kebutuhan-kebutuhan klien.
Penulis juga berusaha menjadi perantara komunikasi untuk memenuhi ekspektasi klien dan mengkomunikasikan hal-hal yang dapat ditingkatkan untuk mengoptimalkan brand. Di sisi lain, penulis harus menjalin komunikasi yang baik dengan tim internal, yaitu divisi creative dan digital demi mengurangi adanya miscommunication dan membangun iklim kerja yang kondusif antar divisi.
Menurut Santosa (2009, p. 12), istilah Account Executive sering disebut sebagai ‘layanan sehari-hari’ yang melayani kebutuhan klien sehari-hari dalam sebuah agensi. Seorang Account Executive yang handal menguasai bidang pekerjaannya dan dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan tim internal dan pihak klien (external). Terkadang, kedekatan emosional antar Account Executive dengan klien membuat hubungan tersebut semakin baik dan klien pun tidak mudah pindah ke agensi lain.
Disamping itu, seorang Account Executive juga harus memahami dan mempelajari secara menyeluruh kebutuhan kliennya, termasuk sektor industri klien, kompetitor, serta seluk-beluk bisnis yang dapat digunakan sebagai taktik strategi dan kreatif yang dapat mendukung perkembangan klien. Seorang Account Executive harus memiliki kemampuan untuk menulis cakupan sederhana yang
akurat dengan melibatkan arahan disiplin yang tepat dan mengajukan pertanyaan rinci kepada klien untuk mendapatkan kejelasan seputar hasil pekerjaan (deliverables) dan kebutuhan klien.
Selama melakukan praktik kerja magang di ARTEE Group, penulis menemukan adanya sedikit perbedaan antara konsep utama yang dipelajari penulis di atas dengan berbagai kegiatan yang dipraktikkan. Dalam konteks ini, penulis merasa praktik lebih rumit daripada konsep karena ada beberapa aspek yang perlu dikuasai oleh seorang Account Executive dalam berkomunikasi dengan klien dan tim internal. Cara kerja klien dan sifat tim internal yang berbeda-beda harus dipahami oleh seorang Account Executive demi menjalakan hubungan yang baik tanpa adanya perselisihan dan kesalahpahaman. Karena jumlah klien yang cukup banyak di ARTEE Group kurang sebanding dengan jumlah tim kreatif, penulis harus memikirkan secara strategis slot kerja tim kreatif yang tidak tumpang tindih sehingga tim kreatif dapat menyelesaikan konten visual sesuai dengan tenggat waktu dengan output yang sesuai dengan brief. Selama proses magang di ARTEE Group, penulis juga sering berhadapan dengan klien yang sibuk dan idealis. Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk terus melakukan tindak lanjut (follow-up) agar segala perencanaan dapat dieksekusi sesuai dengan tenggat waktu dengan hasil yang memuaskan. Penulis juga harus memastikan bahwa permintaan-permintaan klien sejalan dengan ruang lingkup kerja dan proses komunikasi antar agensi dengan klien sesuai dengan persetujuan awal di Service Level of Agreement (SLA), untuk menciptakan kesan positif mengenai kinerja agensi. Penulis merasa bahwa komunikasi yang baik dan efektif merupakan kunci utama yang sangat penting.
Dengan keahlian komunikasi dan pengetahuan yang luas, seorang Account Executive dapat mempertahankan hubungan yang baik dengan klien dalam rangka mempertahankan klien jangka panjang, sehingga proses negosiasi dan komunikasi dapat dijalankan dengan baik dan pada akhirnya kepercayaan antar klien kepada ARTEE Group dapat meningkat.
Dalam praktik kerja magang di ARTEE Group, pencarian informasi tidak dilakukan secara mendalam karena hanya untuk mengetahui gambaran umum (profil perusahaan). Informasi secara lengkap akan disediakan dari pihak klien, dan dari informasi tersebut, Account Executive ARTEE Group akan
menginterpretasikan kebutuhan klien dalam bentuk brief yang akan menjadi patokan utama dalam pembuatan konten.
Penulis akan memaparkan studi kasus dengan metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Pada tahap Situation, pihak klien akan menganalisa permasalahan yang dialami perusahaannya dan menjelaskannya kepada pihak agensi. Setelah itu, pada tahap Task, dari permasalahan-permasalahan tersebut akan diturunkan creative brief yang kemudian akan menjadi turunan dari strategi- strategi yang akan diajukan ke pihak klien. Langkah kemudian yaitu Action, pihak agensi akan mengeksekusi semua perencanaan yang telah dilakukan menjadi aksi nyata. Pada tahap terakhir yaitu Result, akan diberikan laporan media bulanan untuk menganalisa hasil-hasil dari kegiatan maupun strategi yang dilakukan. Penulis juga terjun langsung sebagai perwakilan dari ARTEE Group dalam berkomunikasi sehari-hari dalam proses mempertahankan klien. Kemudian, penulis juga harus menjadi perantara komunikasi yang baik antara ARTEE Group dengan klien.
Seperti menurut tanggung jawab Junior Account Executive menurut Lwin dan Aitchison (2005, p. 56), antara lain:
1. Menjadi perwakilan klien dalam agensi, demikian pula sebaliknya.
Seorang Account Executive Junior melakukan kontak harian dengan kedua belah pihak tersebut.
2. Melindungi informasi keinginan klien dengan menerbitkan laporan tertulis setelah setiap pertemuan penting antara klien dengan agensi, serta persetujuan klien dan langkah selanjutnya
Dalam praktik kerja magang di ARTEE Group, penulis mengamati bahwa konsep di atas dengan apa yang penulis kerjakan kurang lebih sudah sesuai. Seperti dalam poin pertama, penulis ikut menginformasikan perubahan konten, desain, linimasa, dan jadwal rapat. Biasanya, kontak dilakukan melalui email dan Whatsapp. Pertemuan penting dilakukan melalui Google Meets, dan dalam pertemuan tersebut, penulis mencatat diskusi secara menyeluruh, umpan balik dari klien, serta langkah selanjutnya yang akan dilakukan dari pihak internal dan klien.
Catatan tersebut kemudian dilaporkan kepada Supervisor dalam bentuk Minutes of Meeting (MOM) yang akan diinformasikan kepada seluruh departemen ARTEE
Client
Media Research
Creative
Account Executive
Group dan pihak klien. Seperti dalam struktur organisasi biro iklan pada umumnya menurut Kelly & Jugenheimer (2006, p. 8):
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi Biro Iklan Pada Umumnya
(Sumber: Kelly & Jugenheimer, 2006)
Dalam praktik magang di ARTEE Group, penulis menemukan adanya sedikit perbedaan antara konsep bagan yang penulis pelajari di atas dengan kegiatan yang penulis praktikan. Tidak semua objek pada bagan di atas terhubung oleh penulis. Media dan Research bukan merupakan bagian yang berhubungan langsung dengan penulis. Di ARTEE Group, Media dan Research ada dibawah divisi Digital.
Segala macam penelitian (Research) dilakukan oleh divisi Digital. Divisi Creative di sisi lain juga harus mempelajari pedoman merek (Brand Guidelines) sebelum pembuatan setiap konten agar sesuai dengan arahan visual (tone and manner) dari klien.
Creative
Account Executive
Klien
Media Research Strategist Gambar 3. 2 Struktur Kerja ARTEE Group
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
Selama praktik kerja magang, penulis mengikuti alur kerja ARTEE Group yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
3.3.1 Pitching
Salah satu tugas penulis selama praktik magang adalah mengikuti proses pitching sebuah klien baru. Proses pitching dimulai dari undangan (pitching invitation), lalu presentasi kredensial dari ARTEE Group yang berisi presentasi profil perusahaan dan unit-unit bisnis yang ada di ARTEE Group. Setelah itu, pihak klien akan melakukan pengarahan (Client Briefing) yang akan menjelaskan semua informasi seputar perusahaan klien, produk-produk yang ada, dan permasalahan yang dihadapi klien. ARTEE Group (divisi strategist dan creative) akan kemudian menyusun presentasi proposal yang berisi strategi, pesan kunci, serta aktivitas- aktivitas yang diajukan kepada klien secara lengkap dan strategis.
ARTEE Group mendasarkan tahapan pemasaran digital menjadi tiga tahap, yaitu:
a. Attract
Merupakan tahap untuk mendapatkan kesadaran merek melalui konten- konten di media sosial, iklan media berbayar, Key Opinion Leaders (KOL)/Influencers, konten offline, serta acara-acara Public Relations.
b. Engage
Merupakan tahap yang diupayakan perusahaan untuk mendapatkan interaksi antar audiens melalui aktivitas digital, promo taktis, dan konten media social.
c. Consider
Tahap Consider merupakan tahap yang diupayakan perusahaan untuk mendapatkan konversi konsumen dan mendorong peningkatan interaksi antar audiens melalui konten-konten harian, konten ulasan, iklan media berbayar, serta arahan berupa Call to Action (CTA) untuk mengunjungi situs web.
Setelah mempresentasikan proposal tersebut, akan ada pengumuman dari pihak klien mengenai agensi yang memenangkan pitching. Langkah selanjutnya adalah kickoff meeting dimana pihak klien akan mempresentasikan beberapa hal penting mengenai perusahaan secara mendalam. Dalam rapat ini juga, pihak klien akan menentukan/menyesuaikan strategi apa saja yang akan diambil dan tidak diambil dari proposal yang telah dirancang ARTEE Group sebelumnya. Kick off meeting idealnya dilakukan satu bulan sebelum kampanye berjalan. Strategi dan aktivitas yang dipilih akan disesuaikan dengan kemampuan dan anggaran klien, lalu akan dilakukan proses negosiasi serta akan disusun sebuah surat kontrak berupa Service Level of Agreements (SLA) yang merupakan persetujuan dari kedua belah pihak.
Selama proses kerja magang, penulis mengikuti beberapa pitching, salah satunya pitching untuk brand Konicare. Selama proses pitching, penulis berkontribusi dalam membuat catatan pertemuan (Minutes of Meeting) dan juga berkontribusi dalam proses pembuatan materi presentasi, dalam hal ini mencari informasi-informasi terkait seputar produk serta insight konsumen. Setelah
beberapa tahapan pitching, karena strategi ARTEE merupakan strategi yang paling menarik dan relevan dengann permasalahan yang dialami Konicare, pada akhirnya ARTEE memenangkan pitching dan Konicare setuju untuk menjadi klien jangka panjang (1 tahun) di ARTEE Group.
3.3.2 Klien Berbasis Proyek
Klien berbasis proyek memiliki periode yang lebih singkat dibanding klien jangka panjang, yaitu selama kurang lebih 3 bulan. Dalam kasus ini, karena terdapat tenggat waktu yang cukup singkat, pihak ARTEE akan langsung merevisi proposal pitching menjadi proposal final lalu melakukan eksekusi akan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan selama masa kampanye. Selama masa kerja magang, penulis sering berkontribusi dalam beberapa aktivitas klien berbasis proyek, terutama dalam pelayanan Website Development, melihat di masa pandemi permintaan aktivasi digital di kalangan brand cukup banyak. Situs web merupakan aset yang penting bagi sebuah perusahaan. Di ranah digital, situs web bagaikan rumah dan media sosial bagaikan jendela-jendelanya. Hal ini dikarenakan data-data di media sosial tidak sedalam dan selengkap di situs web, dan oleh karena itu penting bagi sebuah brand untuk terus mengoptimalkan kualitas situsnya untuk terus memberikan layanan terbaik bagi para konsumen.
Penulis berkontribusi dalam beberapa klien berbasis proyek, antara lain:
a. Peluncuran produk terbaru Instax Square SQ1
Dalam peluncuran produk terbaru Instax, Instax ingin membuat sebuah aktivitas digital launching menggunakan Microsite dan AR Filter yang tujuan akhirnya ingin diarahkan ke pemesanan pemesanan terlebih dahulu di Shopee. Kontribusi penulis adalah dalam pembuatan catatan pertemuan (Minutes of Meeting) dan dalam proses revisi Microsite. Selain itu, penulis juga memahami alur kerja klien berbasis proyek dan ruang lingkup divisi-divisi terkait.
Gambar 3. 3 Microsite Instax SQ1
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
b. TMRW by UOB Amplification dengan komunitas
TMRW menggunakan keterlibatan komunitas untuk meningkatkan kesadaran merek, menambah pengguna dan nasabah baru. Penggunaan komunitas dinilai lebih efektif dibandingkan hanya menggunakan iklan pada umumnya karena komunitas lebih sejalan dengan industri bisnis TMRW. Dengan menggunakan komunitas, tahap kesadaran merek dan amplification lebih dengan mudah dilakukan dengan adanya penambahan nasabah-nasabah baru TMRW. Temuan menarik dari proyek ini adalah, sulitnya mendapatkan amplifikasi yang aktual jika dalam aplikasi masih terdapat banyak bugs atau kecacatan. Komunitas pada akhirnya menjadi ragu dan tidak tertarik untuk mengunduh aplikasi tersebut. Di sisi lain, dari klien berbasis proyek ini, penulis menemukan peluang yang sangat luas dari adanya komunitas-komunitas. Dengan melakukan kerja sama dengan komunitas tersebut, pihak perusahaan akan mendapatkan kesadaran merek yang cukup tinggi dibandingkan dengan hanya menggunakan iklan semata.
c. Sour Sally Buzzers untuk manajemen isu di Twitter
Dalam menanggulangi isu Black Sakura yang beredar di Twitter, Sour Sally menggunakan buzzers sebagai upaya manajemen isu. Dalam komunikasi pemasaran, buzzers adalah orang-orang yang menyuarakan sebuah kepentingan/pendapat demi dampak tertentu. Dalam konteks ini, Sour Sally menggunakan Buzzers untuk mengkomunikasikan pesan-pesan dan membuat Trending Topic dengan pesan #YoghurtnyaIndonesia untuk mengalihkan isu dan mendapatkan citra yang diinginkan.
Gambar 3. 4 Trending Topic #YoghurtnyaIndonesia
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
d. Astra Financial Web Development Revamp
Dalam upaya mengoptimalkan situs web Astra Financial sebagai pusat informasi (information hub), Astra Finance melakukan revamp atau
mengkonstruksi ulang situs web yang sudah ada dengan perjalanan pelanggan (customer journey) dan peta situs (sitemap) yang lebih menarik.
3.3.3 Klien Jangka Panjang
Klien jangka panjang memiliki periode yang lebih lama dibandingkan klien berbasis proyek, yaitu periode 6 bulan ke atas. Setelah proses pitching, pihak agensi akan memindahkan poin-poin dalam proposal menjadi sebuah proposal yang akan menjadi acuan dalam pembentukan renana bulanan yang biasanya dikirim 2 minggu sekali. Poin utama yang dibahas dalam sebuah proposal adalah objective atau target klien. Beberapa klien menginginkan penambahan kesadaran merek, interaksi antar audiens dengan perusahaan (Engagement), bahkan beberapa ingin meremajakan citra merek melalui strategi dan taktik yang akan diimplementasikan di ranah digital. Selama kerja magang, penulis banyak berkontribusi dalam klien jangka panjang dalam konteks penyusunan, pengiriman, hingga revisi sebuah rencana bulanan. Penulis sebagai Account Executive Intern ditugaskan untuk memastikan bahwa rencana bulanan yang disusun oleh tim strategist dan creative telah sesuai dengan brief dan rencana pemasaran bulanan klien.
Pada akhir bulan, penulis menganalisa ulang bersama dengan tim strategist mengenai perkembangan brand di media sosial terutama Instagram. Penulis mencatat hal-hal yang dapat diimprovisasi untuk bulan selanjutnya. Karena beberapa klien merupakan UMKM yang masih membutuhkan AB Testing, ARTEE Group sering melakukan AB Testing melihat algoritma Instagram telah berubah dari penampilan secara kronologikal menjadi sesuai relevansi konten (based on relevance). Untuk meningkatkan tingkat keterlibatan audiens sebuah akun bisnis, ARTEE Group menyarankan untuk melakukan AB Testing untuk mendapatkan insight dan perilaku pelanggan dari para followers, agar konten yang dibuat menjadi lebih menarik bagi para pengikut. Aktivasi digital dalam rencana bulan dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien seperti meningkatkan uji coba produk dan konversi.
Contoh studi kasus yang ditangani oleh penulis akan dijabarkan dengan metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Pada tahap Situation, Les Elite sebagai salah satu klien jangka panjang memiliki beberapa kesenjangan antara konten yang ada dengan target konsumen yaitu Social Economic Status (SES Level).
Pada tahap Task, Aktivitas yang dilakukan saat ulang tahun Les Elite adalah pemberian cuci mobil gratis. Pada akhir bulan saat pembuatan laporan bulanan, ditemukan aktivitas yang dilakukan saat ulang tahun (Giveaway) kurang berdampak kepada rencana pemasaran Les Elite, melihat SES Level Les Elite adalah kaum-kaum A-B yang kurang memiliki usaha (effort) untuk melakukan posting ulang konten yang ada. Karena itu, pada tahap Action, penulis dan pembimbing lapangan merencanakan sebuah aktivasi digital terbaru yang lebih relevan dengan target audiens Les Elite yaitu promo sumpah pemuda dan promo 11.11. Selain itu, penulis dan pembimbing menyarankan untuk mengubah nada warna dan moodboard dari segi visual agar lebih terlihat kesan “elit” dan
“berkelas”. Hasil akhir dari perubahan gaya desain dan aktivasi digital terbaru adalah peningkatan jumlah pengikut dan interaksi antar pengikut dengan perusahaan di Instagram.
Gambar 3. 5 Feeds Lama Les Elite
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
Gambar 3. 6 Feeds Terbaru Les Elite
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
Gambar 3. 7 Laporan Media Sosial Les Elite Bulan Oktober
(Sumber: Data Olahan Laporan, 2020)
Laporan media sosial merupakan aspek yang sangat berpengaruh untuk melihat perkembangan media sosial sebuah brand dari segi peningkatan pengikut, keterlibatan, dan melakukan AB Testing untuk melihat konten-konten yang paling relevan dan menarik bagi audiens. Dalam mempertahankan klien, penting bagi seorang Account Executive untuk memastikan bahwa ruang lingkup kerja agensi tidak melewati batas yang disetujui, dan Service Level of Agreement (SLA) juga harus sesuai karena SLA yang baik menunjukkan seberapa baik kinerja sebuah agensi untuk membantu klien.
3.4 Kendala yang Dihadapi
Selama praktik kerja magang, penulis mengalami beberapa kendala, antara lain klien yang memiliki tuntutan besar yang tidak sesuai dengan Scope of Work sehingga beberapa kali terjadi perdebatan antara klien dengan pihak agensi. Selain itu terdapat ekspektasi klien yang berlebihan, namun anggaran pemasaran yang tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan. Di sisi lain, sebagai anggota divisi Account Executive, penulis juga memiliki kendala dalam menagih pekerjaan kepada divisi Creative, karena beban kerja divisi Creative yang cukup penuh dan bertumpang-tindih antara satu klien dengan klien lainnya. Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) fase 2, penulis juga memiliki kendala dalam berkomunikasi dengan tim karena diberadakannya sistem Work from Home (WFH) sehingga proses komunikasi cenderung terhambat. Selain itu, efisiensi dan efektivitas kerja tim produksi selama Work From Home (WFH) juga terhambat karena dibutuhkannya waktu untuk memberi pengarahan dan berkomunikasi secara jarak jauh.
3.5 Solusi dari Permasalahan
Dari beberapa kendala yang dihadapi penulis, penulis menemukan bahwa penting untuk menekankan ruang lingkup kerja yang telah disetujui di awal untuk menghindari tuntutan klien yang tidak terkondisikan. Selain itu, penulis belajar untuk berfikir kreatif untuk memunculkan ide-ide yang dapat membantu klien di masa pandemic dengan anggaran yang terbatas. Dalam konteks komunikasi dengan
tim internal, penulis belajar untuk lebih memahami tipe orang yang berbeda-beda dan cara menanggapinya agar komunikasi tetap lancar.
Untuk menanggapi hambatan di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penulis tetap berusaha untuk bersiap siaga setiap saat meskipun tidak di jam kerja. Hal ini membantu penulis untuk lebih mengontrol apa yang sedang terjadi dalam proses komunikasi dengan tim internal dan pihak klien. Penulis pun bersyukur karena di masa akhir magang, tidak diberadakan sistem kerja Work From Home (WFH) sehingga komunikasi antar rekan kerja menjadi lebih efisien dan baik.