TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler
Broiler merupakan galur ayam hasil rekayasa teknologi yang memiliki karakteristik ekonomi dan ciri khas pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi ransum rendah, siap potong dalam usia relatif muda dan meng- hasilkan daging yang memiliki serat yang lunak (Bell dan Weaver, 2002). Ciri-ciri ayam broiler memiliki tekstur daging serta kulit yang lembut dan tulang dada yang merupakan tulang rawan yang fleksibel. Broiler merupakan media yang efisien dalam mengubah protein nabati dan bahan lain yang tak lazim untuk selera manusia menjadi daging yang bermutu tinggi dan digemari.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot hidup ayam yaitu konsumsi ransum, kualitas ransum, jenis kelamin, lama pemeliharaan dan aktivitas. Hal ini karena adanya perbedaan kebutuhan nutrisi ayam broiler pada umur yang berbeda. Faktor genetik dan lingkungan juga mempengaruhi laju pertumbuhan komposisi tubuh yang meliputi distribusi bobot, komposisi kimia dan komponen karkas (Soeparno, 1994).
Bobot ayam broiler strain Cobb 500 menurut Vantress (2008) disajikan pada Tabel 1, sedangkan kebutuhan nutrisi broiler pada umur yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 2 dan SNI pakan broiler starter dan finisher pada Tabel 3.
Tabel 1. Bobot Badan Ayam Broiler Strain Cobb 500
Umur Bobot Badan (g)
(Minggu) Jantan Betina Jantan dan Betina
1 170 158 164
2 449 411 430
3 885 801 843
4 1478 1316 1397
5 2155 1879 2017
6 2839 2412 2626
Sumber : Vantress (2008)
Tabel 2. Beberapa Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler pada Tingkat Umur yang Berbeda
Kebutuhan Nutrisi Satuan 0-21 (hari) 22-42 (hari) 43-56 (hari)
Protein % 23 20 18
Energi Metabolis Kkal/kg 3.200 3.200 3.200
Kalsium % 1,00 0,90 0,80
Phosphor % 0,45 0,35 0,30
Natrium % 0,20 0,15 0,12
Khlor % 0,20 0,15 0,12
Magnesium Mg 600 600 600
Kalium % 0,30 0,30 0,30
Sumber: Nation Research Council (1994)
Tabel 3. SNI Pakan Broiler Starter dan Finisher
No Parameter Satuan Startera Finisherb
1 Kadar Air % Maks. 14,0 Maks. 14,0
2 Protein Kasar % Min. 19,0 Min. 18,0
3 Lemak Kasar % Maks. 7,4 Maks. 8,0
4 Serat Kasar % Maks. 6,0 Maks. 6,0
5 Abu % Maks. 8,0 Maks. 8,0
6 Kalsium % 0,90-1,20 0,90-1,20
7 Fosfor Total % 0,60-1,00 0,60-1,00
8 Fosfor tersedia % Min. 0,40 Min. 0,40
9 Total Aflatoksin mg/kg Maks. 50,0 Maks. 50,0
10 Energi Metabolis Kkal/kg Min. 2900 Min. 2900 11 Asam Amino
Lisin % Min. 1,10 Min. 0,90
Metionin % Min. 0,40 Min. 0,30
Metionin+sisitin % Min. 0,60 Min. 0,60
Sumber : aSNI 01-3930-2006
bSNI 01-3931-2006
Ayam broiler menurut Gordon dan Charles (2002) merupakan strain ayam hibrida modern yang berjenis kelamin jantan dan betina yang dikembangbiakkan oleh perusahaan pembibitan khusus. Banyak jenis Strain ayam broiler yang beredar di pasaran yang pada umumnya perbedaan tersebut terletak pada pertu mbuhan ayam, konsumsi pakan, dan konversi pakan (Bell dan Weaver, 2002). Jenis strain tersebut menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2000) adalah Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-broiler, Ross, Marshall ‘’in’’, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo dan Cp 707.
Persyaratan mutu bibit ayam broiler atau DOC menurut SNI (2005) adalah berat DOC per ekor minimal 37 g dengan kondisi fisik sehat, kaki normal, dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ditemukan kelainan bentuk dan cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering. Warna dubur seragam sesuai dengan warna galur, kondisi bulu kering dan berkembang serta jaminan kematian DOC maksimal 2%. Patokan kebutuhan nutrisi ayam broiler menurut NRC (1994) untuk kebutuhan protein umur 0-3 minggu, 3-6 minggu, dan 6-8 minggu berturut turut adalah 23%, 20% dan 18% pada tingkat EMP 3200 kkal/kg. Kebutuhan nutrisi tiap ayam bergantung pada strain masing-masing (Ensminger et al., 1992).
Pertumbuhan dan Bobot Badan
Pertumbuhan adalah suatu proses peningkatan dalam ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian tubuh yang terjadi sebelum lahir (prenatal) dan setelah lahir (postnatal) sampai mencapai dewasa (Ensminger et al., 1992). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan menurut Bell dan Weaver (2002) yaitu galur ayam, jenis kelamin, dan faktor lingkungan yang mendukung.
Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa peningkatan bobot badan mingguan tidak terjadi secara seragam. Setiap minggu pertumbuhan ayam pedaging
mengalami peningkatan hingga mencapai pertumbuhan maksimal, setelah itu mengalami penurunan. Bonnet et al. (1997) menyatakan bahwa PBB ayam pedaging umur 4 s/d 6 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 32 ºC sebesar 515 g/ekor sedangkan pada suhu 22 ºC PBB ayam pedaging sebesar 1084 g/ekor.
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Menurut Rose (1997), pertumbuhan meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh akan peningkatan sel-sel individual dimana pertumbuhan itu mencakup empat komponen utama yaitu adanya peningkatan ukuran skeleton, peningkatan total lemak tubuh dalam jaringan adipose dan peningkatan ukuran bulu, kulit dan organ dalam.
Berdasarkan catatan yang dihimpun oleh World Poultry (2004) selama kurun waktu 20 tahun terakhir, genetik ayam broiler telah mengalami perkembangan yang nyata pada tahun 1984 rataan bobot badan ayam pada umur 5 minggu adalah 1,345 g dan pada umur 7 minggu adalah 2,160 g, sedangkan tahun 2004 pada umur yang sama akan mendapat rataan bobot badan 1,882 g dan 3,052 g. Perbaikan mutu genetik tersebut harus didukung dengan pemberian ransum Cobb untuk ayam jantan sebesar 1,324 g dan ayam betina sebesar 1,195 g (Cobb Breeding Company, 2003).
Karkas Ayam Broiler
Karkas daging ayam merupakan salah satu komoditas penting yang ditinjau dari aspek gizi, sosial budaya dan ekonomi. Industri karkas ayam mempunyai prospek ekonomi yang cukup cerah, karena usaha peternakan ayam relatif mudah dikembangkan, cepat menghasilkan, serta usaha pemotongannya yang sederhana.
Permintaan pasar yang cukup tinggi terhadap karkas ayam broiler maka selain kuantitas, produsen diharapkan menyediakan karkas yang berkualitas (Abubakar 1992; International Meat and Poultry HACCP Aliance 1996).
Karkas ayam adalah bobot tubuh ayam setelah dipotong dikurangi kepala, kaki, darah, bulu serta organ dalam. Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum pemotongan antara lain genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur dan pakan serta proses setelah pemotongan, diantaranya adalah metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, pH karkas, bahan tambahan termasuk enzim pengempuk daging, hormon, antibiotik, lemak intramuskular atau marbling, metode penyimpanan serta macam otot daging (Abubakar et al., 1991 dan
Soeparno, 1994). Dwiyanto et al. (1979) juga menyatakan bahwa salah satu yang mempengaruhi persentase bobot karkas adalah jumlah dan kualitas ransum selain bobot hidup, perlemakan, jenis kelamin, umur dan aktivitas.
Muchtadi dan Sugiyono (1992), menyatakan komponen karkas terdiri dari otot, lemak, tulang dan kulit. Merkley et al.(1980), membagi karkas menjadi lima bagian besar potongan komersial yaitu dada, sayap, punggung, pangkal paha dan paha. Bagian dada banyak disukai konsumen karena serat dagingnya lebih lunak dibandingkan paha atau bagian lainnya. Bagian-bagian tubuh ayam broiler memiliki rasa yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Bagian punggung memiliki tulang yang lebih banyak. Bagian betis lebih keras karena berotot. Sebaliknya, bagian dada lebih empuk dan sedikit mengandung lemak. Faktor yang menentukan nilai karkas meliputi bobot karkas, jumlah daging yang dihasilkan, dan kualitas daging dari karkas yang bersangkutan. Nilai karkas dikelompokan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan jumlah lemak intramuskular dalam otot (Abubakar dan Wahyudi, 1994).
Faktor nilai karkas dapat diukur secara objektif seperti bobot karkas dan daging, dan secara subjektif misalnya dengan pengujian organoleptik atau panel. Daging dada ayam memiliki warna yang agak putih sedangkan daging pada bagian paha berwarna lebih merah, hal ini dikarenakan kandungan mioglobin pada daging paha lebih banyak dari pada bagian dada (Blakely dan Bade, 1991).
Menurut Murtidjo (1987), persentase karkas ayam broiler yang normal berkisar antara 65-75% dari bobot hidup waktu siap potong. Standar Nasional Indonesia (1997) menyatakan ukuran karkas berdasarkan bobotnya yaitu: (1) ukuran kecil: 0,8-1,0 kg, (2) ukuran sedang : (1): 1,0-1,2 kg, (3) ukuran besar: 1,2-1,5 kg.
Hasil dari komponen tubuh broiler berubah dengan meningkatnya umur dan bobot badan (Brake et al., 1993). Perbandingan kalsium dan phosphor yang ditetapkan sebanyak 2:1, tetapi umumnya 1,2:1 dianggap ideal, karena hal ini berkaitan dengan pembentukan tulang untuk tempat melekatnya otot yang menjadi titik awal pertumbuhan ternak (Anggordi,1995).
Pakan Nabati
Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan
daun-daunan yang suka dimakan oleh ayam. Bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa, bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Jagung merupakan sumber energi yang besar bagi pakan.
Bahan pakan nabati banyak yang diberikan pada unggas. Bahan pakan nabati menyebabkan harga ransum dapat ditekan karena biaya pakan pada pemeliharaan ayam diperkirakan mencapai 70% dari total biaya produksi (Suprijatna et al.,2008).
Bahan makanan nabati sebagian besar merupakan sumber energi yang baik. Bahan pakan sumber energi diantaranya adalah jagung, gandum, oat, barlei, beras dan hasil ikutan padi (Amrullah, 2004)
Dedak Halus
Dedak merupakan bahan yang mengandung karbohidrat tinggi tetapi pemakaian dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan kekurangan isoleusin dan treonin (Suprrijatna et al., 2008 dan Wahju, 2004). Dedak halus lebih banyak mengandung serat kasar karena dedak halus didapat dari padi yang ditumbuk (Wahju, 2004). Hadipermata (2007) menyatakan bahwa bekatul adalah lapisan sebelah dalam dari butiran padi, termasuk sebagian kecil endosperm berpati. Namun, karena alat penggiling padi tidak dapat memisahkan antara dedak dan bekatul maka dedak dan bekatul bercampur menjadi satu sehingga disebut dengan dedak atau bekatul saja. Komposisi dedak padi pada pakan broiler dapat mencapai 20-30% tanpa menurunkan performans, tetapi apabila sampai mencapai 40% maka kecepatan pertumbuhan menurun (Farell, 1994). Kelemahannya dedak padi mengandung fitat fosforus yang cukup tinggi yang sulit dicerna oleh unggas.
Jagung
Jagung merupakan bijian yang banyak digunakan untuk pakan unggas karena diperkirakan sekitar sepertiga dari total ransum yang dikonsumsi adalah jagung (Ensminger, 1992). Komposisi kimia jagung menurut NRC (1994) yaitu mengandung bahan kering 89% dengan kandungan energi metabolis 3350 kkal/kg;
8,5% protein; 3,8% lemak; 2,2% serat kasar; 0,28% total fosfor dan 0,08% fosfor non fosfat. McDonal et al. (2002) menyatakan bahwa jagung kuning mengandung pigmen cryptoxanthin, merupakan perkursor vitamin A. Pigmen tersebut berguna dalam pakan unggas sebagai pemberi warna daging dan kuning telur.
Jagung memiliki serat kasar yang rendah, sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Pemakian jagung dalam pakan broiler dapat mencapai taraf 70%. Jagung memiliki lemak yang tidak terlalu banyak.
Lima puluh persen dari jumlah lemak tersebut mengandung asam linolenat, yang merupakan sumber asam lemak esensial dalam ransum unggas. Jagung juga mengandung karoten tetapi memiliki kadar metionin dan lisin yang rendah (Wahju, 2004).
Minyak Nabati
Salah satu bahan makanan unggas pedaging yang kerap digunakan adalah minyak nabati. Minyak nabati yang digunakan oleh kebanyakan unggas pedaging adalah minyak kelapa dan sejenisnya. Minyak dalam ransum unggas selain membantu dalam memenuhi kebutuhan energi yang tinggi, juga menambah selera makan unggas dan mengurangi sifat berdebu.
Penggunaan minyak kelapa dalam penyusunan ransum adalah untuk melengkapi kekurangan energi. Selain itu, bahan ini sangat membantu dalam pembuatan pakan bentuk pellet karena dapat memperlicin atau mempermudahkan keluarnya pakan saat melewati sarang mesin pembuat pakan. Namun, pengunaan minyak nabati yang berlebihan juga akan merusak kualitas pellet yang dihasilkan karena dapat menyebakan pellet mudah pecah dan menaikan kadar debu. Untuk itu sebaiknya minyak nabati tersebut hanya digunakan dalam jumlah yang terbatas.
Campuran minyak pada pakan maksimal dibawah 5%. Apabila berlebihan akan menyebabkan pakan mudah tengik (Widodo, 2010)
Protein Kedelai
Protein kedelai sebagian besar merupakan globulin, mempunyai titik isoelektris 4,1 - 4,6. Globulin akan mengendap pada pH 4,1 sedangkan protein lainnya seperti proteosa, prolamin dan albumin bersifat larut dalam air sehingga diperkirakan penurunan kadar protein tak terekstrak dalam perebusan disebabkan terlepasnya ikatan struktur protein karena panas yang menyebabkan terlarutnya komponen protein dalam air. Protein merupakan senyawa organik yang molekulnya sangat besar dan susunannya kompleks. Tersusun atas rangkaian asam-asam amino.
Apabila protein dihidrolisa, maka akan menghasilkan asam-asam amino yang merupakan penyusun protein. Hidrolisa protein menggunakan larutan asam atau
dengan bantuan enzim. Hidrolisa secara sempurna akan menghasilkan asam amino.
Kegunaan Protein antara lain sebagai Zat pembangun, Zat pengemulsi, Zat Buffer, dan membentuk enzim (Saputri,2009). Bungkil kedelai sesuai sebagai sumber protein dalam pakan karena kandungan lisin yang tinggi, walaupun kandungan sistin dan metionin terbatas (Swick, 2001). Kandungan protein bungkil kedelai 41-50% dan merupakan bahan pakan sumber protein nabati terbaik dibandingkan sumber lain (Suprijatna et al., 2008). Protein kedelai masih memiliki anti tripsin yang dapat diinaktivasi dengan cara pemanasan (Fadli, 2009) selain itu protein ini memiliki keunggulan yaitu dapat menurunkkan kadar trigliserida dalam darah, anti kanker, anti oksidan dan sebagai sistem imun menutut Sugano (2006).
Pemacu Pertumbuhan
Pemacu pertumbuhan atau growth promoter diberikan pada pakan unggas yang bertujuan untuk penggemukan dan meningkatkan palatabilitas pakan sehingga pemanfaatan pakan lebih efisisen. Pemacu pertumbuhan pada umumnya menggunakan antibiotik. Antibiotik berfungsi untuk memacu pertumbuhan dengan cara menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen dalam saluran pencernaan.
Wahju (2004) juga menambahkan bahwa antibiotik mengefektifkan penggunaan zat makanan, mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang menghasilkan amonia berlebihan, memperbaiki absorpsi zat makanan tertentu, mempertinggi penyerapan zat makanan, mempertinggi konsumsi makanan atau air, serta mencegah dan mengobati patologis yang timbul di saluran usus dan bagian lainnya.
Penggunaan antibiotik dapat bersifat buruk bagi ternak, karena resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikroorganisme patogen tertentu serta residu antibiotik akan terbawa dalam produk-produk unggas (Mulyantini, 2010). Sebagai pengganti antibiotik banyak alternatif pemacu pertumbuhan diantaranya adalah probiotik, bahan organik, imunomodulator, asam-asam organik, minyak esensial dan enzim.
Probiotik adalah suatu mikrobial hidup yang diberikan sebagai suplemen pakan dan memberikan keuntungan bagi induk semang dengan cara memperbaiki keseimbangan populasi mikroba usus (Choct, 2000). Bahan organik diantaranya adalah bawang putih dan ekstrak daun Gujava L. Imunomodulator dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Minyak esensial dalam pakan dapat
meningkatkan konsumsi pakan, meningkatkan produksi enzim pencernaan serta menstimulasi antiseptik dan antioksidan.
Vitamin dan Mineral
Vitamin merupakan substansi organik yang dibutuhkan oleh hewan dalam jumlah yang sangat kecil yang berfungsi untuk mengatur berbagai proses dalam tubuh bagi kesehatan, pertumbuhan, produksi dan reproduksi yang normal. Vitamin juga merupakan komponen yang ada dalam makanan tetapi berbeda dengan karbohidrat, protein, lemak, dan air terdapat didalam makanan dalam jumlah yang sedikit, penggunaan yang rendah dapat mengakibatkan penyakit serta tidak bisa disintesis oleh hewan dan harus ada dalam makanan. Di antara vitamin-vitamin ada beberapa pengecualian terhadap satu atau lebih dari klasifikasi di atas. Misalnya, vitamin D yang dapat disintesis pada permukaan kulit oleh radiasi sinar ultra violet dan asam nikotinat (niasin) dalam beberapa hal dapat disintesisi dari triptofan (Wahju, 2004).
Vitamin juga dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K) yang diabsorpsi bersama dengan lemak yang terdapat dalam pakan dan vitamin yang larut dalam air (vitamin B1, B2, B6, B12, niasin, asam pantotenat, asam folat, biotin dan kolin) yang tidak dipengaruhi oleh absorpsi lemak. Vitamin yang ditambahkan dalam pakan unggas biasanya dalam bentuk premix. Premix merupakan istilah untuk bahan biologi aktif yang sudah bercampur secara homogen. Jumlah premix yang biasanya digunakan dalam campuran komposisis pakan adalah 1,0-2,0%.
Mineral secara umum berfungsi sebagai bahan pembentuk tulang dan gigi yang membuat adanya jaringan yang keras dan kuat, mempertahankan keadaan kolodial dari beberapa senyawa yang ada dalam tubuh, menjaga keseimbangan asam dan basa dalam tubuh (Santoso dan Sudaryani, 2009). Zat mineral yang dibutuhkan ternak kurang lebih 3 sampai 5 persen dari tubuh. Hewan tidak dapat membuat mineral sendiri dalam tubuh maka harus disediakan dalam makannya. Defisiensi suatu zat mineral jarang menimbulkan kematian tetapi menurunkan kesehatan.
Mineral merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang tidak banyak tetapi sangat penting untuk pembentukan alat-alat tubuh antara lain pembentukan tulang (Ca dan P) dan darah (Fe). Bahan-bahan sumber mineral antara
lain adalah tepung kerang, tepung batu, tepung tulang dan kapur yang jumlahnya banyak di alam dan dapat diolah. Sumber mineral buatan pabrik antara lain kalsium karbonat, kalsium fosfat, fosfat koloidal dan natrium fosfst monobasic. Vitamin dan mineral biasanya diberikan dalam bentuk premix. Kebutuhan vitamin dan mineral berturut-turut pada ayam broiler berdasarkan umur pemeliharaan dalam tingkat energi metabolis 3200 kkal/kg dan bahan kering 90% dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5 yang bersumber dari NRC (1994).
Tabel 4. Kebutuhan Vitamin pada Ayam Broiler per Kg Pakan
Vitamin 0-3 minggu 3-6 minggu 6-9 minggu
Vitamin A (IU) 1500 1500 1500
Larut D3 (ICU) 200 200 200
Lemak E (IU) 10 10 10
K (mg) 0,50 0,50 0,50
Vitamin B12 (mg) 0,01 0,01 0,01
Larut Biotin (mg) 0,15 0,15 0,12
Air Koline (mg) 1300 1000 750
Folasin (mg) 0,55 0,55 0,50
Niasin (mg) 35 35 25
Asam pantotenat (mg) 10 10 10
Pyridoxine (mg) 3,5 3,5 3,0
Riboflavin (mg) 3,6 3,6 3,0
Tiamin (mg) 1,80 1,80 1,80
Sumber : NRC (1994)
Tabel 5. Kebutuhan Mineral pada Ayam Broiler per kg Pakan
Mineral 0-3 minggu 3-6 minggu 6-9 minggu
Mineral makro Kalsium *(%) 1,00 0,90 0,80
Klorin (%) 0,20 0,15 0,12
Magnesium (mg) 600 600 600
Fosfor nonfitat (%) 0,45 0,35 0,30
Potassium (%) 0,30 0,30 0,30
Natrium (%) 0,20 0,15 0,12
Mineral mikro Tembaga (mg) 8 8 8