1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 PT. Gudang Garam Tbk
A. Profil dan Sejarah Perusahaan GAMBAR 1.1
LOGO PT. GUDANG GARAM TBK.
(sumber: www.gudanggaramtbk.com)
Tipe : Perusahaan Manufaktur Didirikan : 26 Juni 1958
Industri : Manufaktur Tembakau
Alamat : Jl. Semampir II No. 1, Kediri 64121 Jawa Timur, Indonesia
Website : www.gudanggaramtbk.com
Gudang Garam didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Tjoa Ing Hwie.
Berkat kerja keras dan kerajinannya dia mendapatkan promosi dan akhirnya menduduki posisi direktur di perusahaan tersebut. Pada tahun 1956 Ing Hwie meninggalkan Cap 93. Dia membeli tanah di Kediri dan memulai produksi rokok sendiri, diawali denganrokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti nama perusahaannya
2
menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam. PT Gudang Garam Tbk tidak mendistribusikan secara langsung melainkan melalui PT Surya Madistrindo lalu kepada pedagang eceran kemudian baru ke konsumen atau produsen.
B. Visi dan Misi Perusahaan
Visi dari PT. Gudang Garam Tbk adalah sebagai berikut:
Menjadi Perusahaan terkemuka kebanggan nasional yang bertanggung jawab dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham, serta manfaat bagi segenap pemangku kepentingan secara berkesinambungan.
Misi dari PT. Gudang Garam Tbk adalah Catur Dharma Perseroan, yaitu:
1. Kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagaiaan.
2. Kerja keras, ulet, jujur, sehat dan beriman adalah prasyarat kesuksesan.
3. Kesuksesan tidak dapat terlepas dari peranan dan kerja sama dengan orang lain.
4. Karyawan adalah mitra usaha yang utama.
1.1.2 PT. HM Sampoerna Tbk A. Profil dan Sejarah Perusahaan
GAMBAR 1.2
LOGO PT. HM SAMPOERNA TBK.
(sumber: www.sampoerna.com)
3
Tipe : Perusahaan Manufaktur Didirikan : Tahun 1913
Industri : Manufaktur Tembakau
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53 One Pacific Place Fl 16-20 – Semarang
Website : www.sampoerna.com
PT HM Sampoerna Tbk. resmi didirikan pada tahun 1963. Generasi berikutnya, Putera Sampoerna adalah generasi yang membawa HM Sampoerna melangkah lebih jauh dengan terobosan-terobosan yang dilakukannya, seperti perkenalan rokok bernikotin rendah, A Mild dan perluasan bisnis melalui kepemilikan di perusahaan supermarket Alfa, dan untuk suatu saat, dalam bidang perbankan. Pada tahun 2000, putra Putera, Michael, masuk ke jajaran direksi dan menjabat sebagai CEO. Pada Mei 2005, perusahaan ini kemudian diakuisisi oleh Philip Morris International.
B. Visi dan Misi Perusahaan
Visi dari PT. HM Sampoerna Tbk sebagai berikut:
Menawarkan pengalaman merokok terbaik kepada perokok dewasa di Indonesia.
Misi dari PT. HM Sampoerna Tbk sebagai berikut:
1. Memproduksi rokok berkualitas tinggi dengan harga yang wajar bagi perokok dewasa.
2. Memberikan kompensasi dan lingkungan kerja yang baik kepada karyawan dan membina hubungan baik dengan mitra usaha.
3. Memberikan sumbangsih kepada masyarakat luas.
1.1.3 PT. Bentoel International Investama Tbk
4 A. Profil dan Sejarah Perusahaan
GAMBAR 1.3
LOGO PT. BENTOEL INTERNATIONAL INVESTAMA TBK.
(sumber: www.bentoel.co.id)
Tipe : Perusahaan Manufaktur Didirikan : Tahun 1930
Industri : Manufaktur Tembakau
Alamat : Menara Rajawali, Lantai 23, Jl. Mega Kuningan Lot # 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan 12950, Indonesia
Website : www.bentoel.co.id
Dengan pengalaman lebih dari 75 tahun di industri rokok, Grup Bentoel adalah salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia.
Perusahaan induk adalah PT Bentoel Internasional Investama, perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. PT Bentoel Internasional Investama memiliki dua anak perusahaan, yaitu PT. Bentoel Prima dan PT Lestari Putrawirasejati. PT. Bentoel Prima memiliki tiga anak perusahaan yaitu, PT. PDI Tresno, PT. Taman Bentoel, dan PT. Subur Aman. PT. Subur Aman memiliki anak perusahaan yaitu PT. Amiseta. Menyadari pentingnya profesionalisme dalam operasional perusahaan, Grup Bentoel telah mentransformasi dirinya dari sebuah perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang dijalankan secara profesional.
5 B. Visi dan Misi Perusahaan
Visi dari PT. Bentoel International Investama Tbk adalah “Menjadi perusahaan tembakau dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.” Misi dari PT. Bentoel International Investama Tbk adalah “Kita akan mencapai visi kita melalui 4 pilar strategis yaitu Pertumbuhan, Produktivitas, Tanggung Jawab dan Organisasi Juara”.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Dalam dunia ekonomi yang penuh dengan dinamika dan situasi yang terkadang tidak pasti dan banyak kejutan, perusahaan atau badan usaha dianggap sebagai pelaku ekonomi dalam usahanya untuk mendapatkan keuntungan dan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Interaksi antara kedua hal diatas mengharuskan perusahaan mengambil tindakan- tindakan yang tidak akan mereka sesali nantinya dan selalu berusaha menyiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin timbul. Keinginan publik yang semakin meningkat, kompetisi yang semakin banyak, tingkat inflasi yang tinggi, permintaan mengenai akuntabilitas dan transparansi performance sektor publik yang terdengar semakin keras maupun banyaknya keragaman antar bagian dalam organisasi, membuat organisasi sektor publik perlu lebih memperhatikan efektivitas dan efisiensi organisasi mereka agar dapat lebih diterima oleh masyarakat. Oleh sebab itu pengukuran kinerja yang dapat menunjang pencapaian tujuan organisasi sudah menjadi hal yang utama..
Salah satu industri yang sekarang sedang berkembang pesat adalah industri manufaktur tembakau. Keberadaan manufaktur tembakau atau industri rokok di Indonesia memang dilematis. Di satu sisi ia diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi pemerintah karena cukai rokok diakui mempunyai peranan penting dalam penerimaan Negara. Menurut Nota
6
Keuangan RAPBN 2013, perusahaan rokok telah memberikan input yang besar terhadap keuntungan negara secara finansial. Cukai yang dihasilkan pemerintah dari pabrik rokok tahun lalu mampu mencapai angka Rp 73,3 triliun sebagai penerimaan negara. Padahal pendapatan negara dari seluruh pajak PPN sebesar Rp 700 triliun, artinya 10,4 % dari pendapatan negara berasal dari pabrik rokok. Namun di sisi lain dikampanyekan untuk dihindari karena alasan kesehatan. Menurut depdagri.go.id, larangan merokok sudah dilaksanakan dari tahun 2006 secara serentak diseluruh Indonesia yang dimulai dari DKI Jakarta pada tanggal 4 Februari 2006. Peranan industri rokok dalam perekonomian Indonesia saat ini terlihat semakin besar, selain sebagai motor penggerak ekonomi juga menyerap banyak tenaga kerja.
GAMBAR 1.4
Grafik Perkembangan Realisasi Cukai Hasil Tembakau 2007-2011
Sumber : Nota Keuangan RAPBN 2013
7 GAMBAR 1.5
Grafik Jumlah Tenaga Kerja Industri Tembakau 2004-2009
Sumber : www.bps.go.id (Badan Pusat Statistik)
Dari empat perusahaan manufaktur tembakau yang terdaftar di BEI 2010 hanya 3 perusahaan saja yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk dan PT. Bentoel International Investama Tbk karena PT. BAT telah melakukan merger dengan PT. Bentoel International Investama Tbk pada tahun 2009. Jika dilihat dari pendapatan usaha dan total aset, maka tingkat pendapatan usaha yang tertinggi dimiliki oleh PT. HM Sampoerna Tbk dan kemudian disusul oleh PT. Gudang Garam Tbk dan yang ketiga adalah PT. Bentoel International Investama Tbk.
TABEL 1.1
Total Pendapatan Usaha Tahun 2009-2011 Keterangan Pendapatan
Usaha 2009
Pendapatan Usaha 2010
Pendapatan Usaha 2011
PT. Gudang Garam Tbk 32.973.080 37.691.997 41.884.352
PT. HM Sampoerna Tbk 38.972.186 43.381.658 52.856.708
8 PT. Bentoel International
Investama Tbk 7.255.325 8.904.586 10.070.175
Sumber : Laporan Keuangan 2009-2011 PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk
TABEL 1.2 Total Aset Tahun 2009-2011
Keterangan Total Aset 2009
Total Aset 2010
Total Aset 2011
PT. Gudang Garam Tbk 27.230.965 30.741.679 39.088.705
PT. HM Sampoerna Tbk 17.716.447 20.525.123 19.376.343
PT. Bentoel International
Investama Tbk 4.894.434 4.902.597 6.333.957
Sumber : Laporan Keuangan 2009-2011 PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk
Sektor manufaktur tembakau yang merupakan salah satu sektor yang memiliki karakteristik tersendiri membuat pertumbuhannya masih akan terus berlanjut dan termasuk subsektor yang diminati oleh investor. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk selalu memperhatikan kepentingan para pemilik modal dengan jalan menyediakan laporan keuangan secara transparan yang menampilkan bagaimana kinerja perusahaannya.
Sucipto (2003) mengemukakan “Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan penilaian perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang dimainkannya dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Kemungkinan yang lain adalah digunakannya informasi akuntansi bersamaan dengan informasi non akuntansi untuk menilai kinerja manajer atau pimpinan
9
perusahaan.”. Penilaian kinerja selain berguna dalam mengevaluasi past performance juga berguna dalam menilai keberhasilan perusahaan untuk masa mendatang. Kinerja keuangan perusahaan akan memperlihatkan kondisi umum tentang suatu perusahaan dan apa yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Semakin baik kinerja perusahaan tersebut, umumnya mencerminkan semakin baiknya perusahaan tersebut mengelola aset-aset dan modal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Sehingga akan menjadikan perusahaan tersebut semakin menguntungkan sebagai tempat penanaman investasi, serta memberikan tempat yang menjanjikan bagi investor untuk mendapatkan keuntungan dari hasil investasinya.
Salah satu tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba. Untuk memaksimalkan apa yang bisa didapatkan dari informasi yang disajikan dalam laporan keuangan maka dibutuhkan adanya suatu penilaian atau pengukuran terhadap kinerja suatu perusahaan. Fungsi dari penilaian atau pengukuran kinerja adalah sebagai alat bantu bagi manajemen perusahaan dalam proses pengambilan keputusan. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan nilai lebih dapat diukur dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) dipatenkan oleh Stewart & Company, sebuah perusahaan konsultan manajemen keuangan terkemuka yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat. EVA dan MVA adalah pengukuran dengan memperhatikan secara tepat semua faktor-faktor yang berhubungan dengan penciptaan nilai (value) (Fajar, 2008).
10
Salah satu metode yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan adalah dengan menggunakan Economic Value Added (EVA). EVA merupakan ukuran kinerja komprehensif yang menggunakan variabel penganggaran modal dan keuangan, penyusunan sasaran, pengukuran kinerja, komunikasi pemegang saham, dan kompensasi intensif yang dapat meningkat ataupun mengurangi nilai perusahaan (Sri Iswati, 2006). EVA is marketed as a management tool that creats value for a corporation (Palliam, 2006).
Banyak literatur dan penelitian menyebutkan bahwa semakin banyak perusahaan-perusahaan besar menggunakan kinerja EVA sebagai prinsip penuntun dalam kebijakan perusahaan mereka. Sering EVA dianggap sebagai satu ukuran sederhana yang memberikan gambaran yang sebenarnya dari penciptaan kekayaan pemilik saham ( Panggabean, 2005).
Penggunaan metode EVA membuat perusahaan lebih memfokuskan perhatian pada usaha penciptaan nilai perusahaan. Dimana pengertian nilai disini diartikan sebagai nilai daya guna maupun benefit yang dinikmati oleh stakeholder (karyawan, investor, pemilik, pelanggan).
Selain EVA, MVA juga berfungsi sebagai pengukur kinerja keuangan.
Pengukuran MVA menilai dampak tindak manajer atas kemakmuran pemegang sahamnya sejak perusahaan tersebut berdiri, sementara EVA menilai ketidak-efektivan manajer pada perusahaan tersebut (Winarto, Pre- printed). MVA is the difference between the capital contributed to the company by bondholders and share holders and the final market value of the product (Zafiris & Bayldon, 1999).
Nilai MVA dari sebuah perusahaan merupakan hasil dari selisih nilai pasar perusahaan dikurangi oleh komponen biaya yang telah dikeluarkan perusahaan untuk modal investasinya. Nilai pasar perusahaan ditandai dengan perolehan besarnya nilai perusahaan yang dihargai pada pasar saham, yang
11
merupakan pengali antara harga saham dan jumlah saham yang tersedia.
MVA mencerminkan seberapa besar nilai tambah yang berhasil dikapitalisasi dan memperbesar nilai capital yang digunakan oleh perusahaan.
MVA dipilih karena konsep ini merupakan ukuran kinerja keuangan secara eksternal, jadi bukan dari nilai pasar perusahaan yang merupakan hasil kali antara jumlah harga saham yang beredar dengan harga pasarnya. Karena nilai pasar perusahaan memiliki kelemahan yaitu untuk perusahaan go public, nilai pasarnya akan berubah ketika terjadi penjualan saham baru, padahal penambahan pasar dengan cara itu mbukanlah merupakan usaha riil perusahaan, sehingga tidak dapat diakui sebagai prestasi kinerja keuangan perusahaan (Winarto, Pre-print).
Kedua metode ini dapat dijadikan acuan yang lebih baik bagi pemilik modal untuk mempertimbangkan apakah perusahaan tersebut akan memberikan keuntungan atau kerugian terhadap modal yang diinvestasikan.
Para pemilik modal pada akhirnya akan dapat memperhitungkan penambahan ataupun pengurangan nilai yang sebenarnyadari kondisi riil perusahaan dengan pemanfaatan kedua konsep nilai tambah ini.
Dari latar belakang diatas maka pertanyaan yang sangat menarik muncul yaitu Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam pengukuran kinerja keuangan antara metode EVA dan MVA. Dari pertanyaan tersebut maka peneliti membuat penelitian dengan judul : “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) (Pada Industri Manufaktur Tembakau yang Listed di BEI 2010 periode 2007-2011).
12 1.3 Perumusan Masalah
Perumusan masalah dari skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kinerja keuangan PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011 dengan menggunakan EVA?
2. Bagaimana kinerja keuangan PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011 dengan menggunakan MVA?
3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan EVA pada PT.
Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011?
4. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan MVA pada PT.
Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011?
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memliki tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011 dengan menggunakan EVA..
2. Untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT. Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011 dengan menggunakan MVA.
3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan
13
EVA pada PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT.
Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011.
4. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan MVA pada PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk, dan PT.
Bentoel International Investama Tbk dari tahun 2007 sampai tahun 2011.
1.5 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Bidang Akademisi
Mengaplikasikan dan memperdalam ilmu dan teori selama masa kuliah, khususnya mata kuliah manajemen keuangan dan Riset Bisnis Telekomunikasi yang diaplikasikan pada permasalahan nyata melalui analisis kinerja kinerja keuangan perusahaan dengan metode EVA dan MVA dan sebagai tugas akhir (skripsi). Selain itu, kegunaan penelitian ini dapat digunakan untuk masukan pengembangan teori dan juga untuk membantu penelitian lebih lanjut mengenai manajemen keuangan khususnya penilaian kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA).
2. Bagi Bidang Praktisi
Memperkenalkan metode alternatif pengukuran kinerja perusahaan dan menjadi masukan bagi investor untuk melihat gambaran keadaan kinerja perusahaan yang nyata yang telah dicapai perusahaan dalam kurun waktu tertentu.
14 1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Untuk lebih mudah dalam memahami materi yang ada dalam skripsi ini, maka sistematika penulisan skripsi disusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai gambaran umum perusahaan, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan diuraikan tentang teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dan teori penunjung dalam memecahkan masalah yang dicapai.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan diuraikan secara singkat mengenai metode penelitian yang digunakan.
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA
Pada bab ini akan dijelasakan mengenai cara pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data sekunder dan juga menggunakan rumus-rumus akuntansi untuk menghitung EVA dan MVA dari laporan keuangan perusahaan. Selain itu akan dijelaskan mengenai analisis dari hasil pengolahan data berdasarkan data yang diperoleh.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini memberikan kesimpulan dari hasil pembahasan pada bab IV dan memberikan masukan atau saran yang dapat disampaikan kepada perusahaan mengenai analisis masalah yang diteliti oleh penulis.