50
PENAMPILAN GALUR-GALUR PADI DI LAHAN RAWA LEBAK PROVINSI SUMATERA SELATAN
(APPEARANCE OF SWAMP RICE LINES LOWLAND OGAN KOMERING ILIR IN DISTRICT SOUTH SUMATRA.)
Oleh
Suparwoto, Waluyo, Usman Setiawan 1) dan Supartopo 2) 1) Peneliti pada BPTP Sumatera Selatan
2) Peneliti pada Kebun Percobaan Muara Bogor Email : [email protected]
ABSTRACT
Swamp rice varieties is still limited with the Rice Research Institute continues to create strains for swamp rice in order to increase production. One component technology that has a real role in improving production and quality of agricultural commodities is a high yielding varieties, including varieties that are adaptive and high yield potential in swampy lowlands. The research was carried out in the Garden Experiments Kayuagung, Village Sidakersa, Ogan Komering Ilir, South Sumatra in mid valley, starting in the dry season of 2011. Rice lines/varieties under study as many as 11 lines and 3 varieties for comparison are: Ciherang, Inpara 3 and Inpara 5. The study is based on randomized block design with 3 replications, 4 m x 5 m wide swath, spacing of 25 cm x 25 cm, the age of 30 HSS seed, planted 2-3 seedlings/clump. Fertilizing is done 3 times ie at the time of planting (0 HST) to 300 kg / ha ponska, 4 MST 100 kg / ha urea and 7 MST 100 kg / ha of urea given spread. Variables observed were: plant height, number of productive tillers, number of grains per panicle, the percentage content of grain per panicle, 1000 grain weight and yield of unhusked paddy milled / box after removed a line edge. Data analysis using analysis of variance followed by Duncan test at 5% level. The results showed that the strains tested have the ideal height for shallow lowlands and middle regions, and the early maturing strains.
Selected rice lines namely 13134-5 B-MR-1-KA-1 (3.3 tons gkg / ha), B 10 891 B-Mr.- KN-3-4-1-1-TP-1 (3, 25 tons gkg / ha), 13132-8 B-MR-1-KA-1 (3.0 tons gkg / ha), B 115 867 F-TP-11-2-2 (3.0 ton gkg / ha) significantly different with Ciherang, inpara 3 and inpara 5 as the comparator with the results 2.3 to 2.7 ton gkg / ha.
Key words: Appearance of rice lines, lowland swamp
ABSTRAK
Varietas padi rawa masih terbatas maka Balai Besar Penelitian Tanaman Padi terus membuat galur-galur untuk padi rawa guna untuk meningkatkan produksi. Salah satu komponen teknologi yang memiliki peran nyata dalam meningkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian adalah varietas unggul, diantaranya varietas unggul yang adaptif dan berpotensi hasil tinggi di lahan rawa lebak. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Kayuagung, Desa Sidakersa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada lebak tengahan, dimulai pada musim kemarau tahun 2011. Galur/varietas yang diteliti sebanyak 11 galur dan 3 varietas sebagai pembanding yaitu : Ciherang, Inpara 3 dan Inpara 5. Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan, luas petak 4 m x 5 m, jarak tanam
51
25 cm x 25 cm, umur bibit 30 HSS, ditanam 2-3 bibit/rumpun. Pemupukan dilakukan 3 kali yaitu pada saat tanam (0 HST) 300 kg/ha ponska, 4 MST 100 kg/ha urea dan 7 MST 100 kg/ha urea diberikan secara disebar. Peubah yang diamati adalah : tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, , jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah kering giling/petak setelah dihilangkan satu baris pinggir. Analisis data menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa galur-galur yang diuji mempunyai tinggi tanaman yang ideal untuk daerah lebak dangkal dan tengahan, dan berumur genjah. Galur-galur yang terpilih yaitu galur B 13134-5-MR-1-KA-1 (3,3 ton gkg/ha), B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 (3,25 ton gkg/ha), B 13132-8-MR-1-KA-1 (3,0 ton gkg/ha), B 115867 F-Mr-11-2-2 (3,0 ton gkg/ha) berbeda nyata dengan Ciherang, Inpara 3 dan Inpara 5 sebagai pembanding dengan hasil yang dicapai 2,3-2,7 ton gkg/ha.
Kata kunci : Penampilan galur, padi, rawa lebak
PENDAHULUAN
Lahan rawa khususnya lahan rawa lebak merupakan salah satu sumber daya lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan pertanian tanaman pangan. Peningkatan kebutuhan pangan secara ekstensifikasi maupun intensifikasi diarahkan di luar pulau Jawa karena memungkinkan untuk peningkatan tersebut diantaranya Provinsi Sumatera Selatan. Lahan lebak di Sumatera Selatan yang sudah dimanfaatkan sekitar 368.690 ha dari 2,98 juta ha sehingga masih mempunyai potensi untuk meningkatkan usaha tanaman pangan (Puslitbangtanak, 2002).
Pada tahun 2009 luas panen padi di Sumatera Selatan mencapai 746.465 ha dengan rata-rata produktivitas 4.187 ton/ha (Badan Pusat Statistik Sumsel, 2010). Bila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi secara nasional masih tergolong rendah, karena secara nasional sudah mencapai 4.999 ton/ha. Hal ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan petani masih relatif sederhana, masih banyak penggunaan varietas lokal, varietas unggul tidak berlabel, dan penggunaan pupuk sangat tergantung dengan keadaan ekonomi petani serta penggunaan varietas yang sama dalam jangka waktu yang lama dan penurunan kualitas sumberdaya lahan. Menurut Arifin et al., (1999) mengatakan bahwa varietas yang ditanam secara terus-menerus dalam skala luas akan menimbulkan hama/penyakit (strain baru) sehingga dapat menurunkan resistensi tanaman, berkurangnya produksi bahkan gagal panen. Banjir dan tinggi genangan air merupakan faktor penghambat dan bahaya bagi pertumbuhan tanaman padi. Selain itu, kesuburan tanah yang rendah, kemasaman tanah, keracunan dan defisiensi hara juga merupakan masalah yang penting di lahan rawa lebak. Selain itu permasalahan yang sering dialami petani adalah kebanjiran pada
52
saat padi masih dipersemaian sehingga petani kekurangan bibit dalam melakukan usahataninya. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut maka Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi menyediakan galur-galur padi untuk lahan rawa lebak.
Adapun tujuannya untuk memperoleh beberapa galur-galur padi yang mempunyai potensi hasil tinggi dan dapat beradaptasi baik di lahan rawa lebak.
METODOLOGI
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Kayuagung, Desa Sidakersa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada lebak tengahan, dimulai pada musim kemarau (Maret-Oktober) 2011. Galur/varietas yang diteliti sebanyak 11 galur dan 3 varietas sebagai pembanding yaitu :
No Galur/varietas No Galur/varietas
1 Ciherang-sub-1 8 B 13135-1-MR-2-KA-1
2 PSBRC82-sub-1 9 B 13135-1-MR-2-KA-2
3 B 115867-Mr-11-2-2 10 B 13138-7-MR-2-KA-1 4 B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 11 B 13138-7-MR-2-KA-2
5 B 13132-8-MR-1-KA-1 12 Ciherang
6 B 13134-4-MR-1-KA-1 13 Inpara 3 7 B 13134-5-MR-1-KA-1 14 Inpara 5
Persemaian dilakukan pada kondisi tanah yang tidak tergenang air di pematang sawah pada bulan April 2011. Persemaian dilakukan dua kali pindah. Persemian pertama tanah dibersihkan dan digemburkan dengan cangkul. Benih direndam dalam air selama 24 jam. Benih disebar 50 g per m2, lalu ditutup dengan rumput/alang- alang. Untuk mencegah hama orong-orong diberikan Dharmafur sebanyak 10 gr/m2. Setelah berumur 21 hari, bibit dipindahkan kepersemaian ke-2 pada bulan Mai 2011 karena air belum juga surut. Bibit ditanam pada bulan Juni 2011 dengan umur bibit 30 hari setelah semai (HSS). Luas plot 4 m x 5 m.
Persiapan lahan dimulai pada bulan Maret untuk rawa tengahan. Persiapan tanah pertama kali dengan menebas/memancah gulma dengan menggunakan parang kemudian sisa tanaman dikumpulkan dibuat galengan di sekeliling petak sawah.
Pengolahan tanah tidak dilakukan pada lahan rawa lebak tengahan, setelah pengolahan lahan selesai dilakukan penanaman. Penanaman dilakukan dengan menggunakan bibit dari persemaian ke-2 umur bibit 30 HST. Jarak tanam 25 cm x 25 cm dan jumlah bibit 2-3 bibit/rumpun.
Pemupukan dilakukan 3 kali yaitu pada saat tanam (0 HST) 300 kg/ha ponska, 4 MST 100 kg/ha urea dan 7 MST 100 kg/ha urea diberikan secara disebar.
53
Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan apabila diperlukan sesuai keadaan di lapang. Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam, sedangkan penyiangan pertama dan kedua dilakukan masing-masing pada 30 hari dan 60 hari setelah tanam. Bila perlu dilakukan penyiangan ketiga, tergantung keadaan di lapangan.
Panen dilakukan apabila padi sudah menguning lebih 80% matang pada waktu kadar air 20-25%. Tanaman padi dipanen dengan menggunakan sabit gergaji kemudian dirontokan, selanjutnya dijemur sampai kadar air 14%.
Penentuan sampel dilakukan secara acak, masing-masing varietas sebanyak 10 tanaman. Data yang dikumpulkan meliputi : tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur panen (80% tanaman menguning), Jumlah gabah per malai, Jumlah gabah isi per malai, Bobot 1000 butir, Hasil gabah kering per plot. Hasil gabah diambil dengan membuat petak contoh bersih dengan memisahkan satu baris rumpun tanaman di sekeliling petak percobaan. Metoda yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Analisis data menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji duncan pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman dari galur B 115867 F-Mr-11-2-2, B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1- Mr-1 dan B 13135-1-MR-2-KA-1 tidak berbeda nyata dengan varietas Ciherang, Inpara 3 dan inpara 5 sebagai pembanding dengan rata-rata tinggi tanaman 103,1 cm, 100,5 cm dan 98,2 cm. Tinggi tanaman terendah dicapai oleh varietas Inpara 5 yaitu 76,9 cm. Sebagai varietas pembanding Ciherang, Inpara 3 dan Inpara 5 tinggi tanamannya juga berbeda nyata. Berdasarkan deskripsi Inpara 3 baik ditanam di rawa lebak tinggi tanamannya bisa mencapai 108 cm dan Inpara 5 lebih pendek dari inpara 3 hanya 92 cm (Balai Besar Penelitian Padi, 2008). Galur-galur yang dikaji semuanya bisa ditanam di lahan rawa lebak karena tidak menunjukkan kerebahan, baik untuk ditanam di lebak dangkal dan tengahan. Bervariasinya tinggi tanaman dari varietas yang dikaji disebabkan oleh faktor genetik dari masing-masing galur dan faktor lingkungan. Tinggi pendeknya tananam berkaitan dengan ketahanan tanaman terhadap kerebahan. Karakter tinggi tanaman merupakan salah satu karakter agronomi yang harus diperhatikan, karena jika tanaman terlalu tinggi maka tanaman
54
akan mudah rebah. Tanaman yang tinggi cenderung untuk rebah pada saat panen, karena rendahnya daya topang tanah. Tanaman padi yang mengalami kerebahan di lahan rawa lebak akan mengalami permasalahan apabila terlambat panen bulir padi akan tumbuh maka kualitas padi akan turun. Menurut Waluyo (2004) dalam Bakri et al. (2006), lahan rawa lebak mempunyai struktur tanah amorf dan terdapat lumpur yang dalam, akibatnya daya topang tanah rendah, tanaman yang tinggi cenderung untuk rebah. Disisi lain jika tanaman terlalu pendek maka tanaman akan rentan terhadap rendaman yang sering terjadi di lahan rawa lebak. Galur-galur yang diuji tergolong mempunyai tinggi tanaman yang ideal untuk lahan lebak.
Jumlah anakan produktif per rumpun
Galur-galur yang diuji mempunyai anakan produktif rata-rata 13-16 batang/rumpun. Galur-galur yang mempunyai anakan produktif terbanyak adalah B 13132-8-MR-1-KA-1 dan B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 yaitu 16 batang/rumpun lebih banyak dari varietas pembanding Ciherang, inpara 3 dan inpara 5 (13,9-14,3 batang), berdasarkan deskripsi dari Inpara 3 dan Inpara 5 jumlah anakan produktif bisa mencapai 17-18 batang/rumpun. (Balai Besar Penelitian Padi, 2011). Sedangkan galur B 13138-7-MR-2-KA-2, B 13134-4-MR-1-KA-1, B 115867 F-Mr-11-2-2 dan PSBRC82- sub-1 tidak berbeda nyata dengan inpara 3, inpara 5 dan Ciherang dengan anakan produktif rata-rata 13,8-15,2 batang/rumpun (Tabel 1). Berdasarkan deskripsi inpara 3 dan inpara 5 bisa mencapai 17-18 batang/rumpun. Maka galur-galur yang diuji dan varietas ciherang, inpara 3 dan inpara 5 sebagai pembanding menunjukkan anakan produktif lebih rendah dibandingkan dengan deskripsinya. Hal ini disebabkan pada saat pembentukan anakan produktif atau pengisian bulir kekurangan air karena curah hujan berkurang. Kendala ini merupakan salah satu kendala alami budidaya tanaman padi di lahan lebak. Menurut Lesmana et al. (2004), salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tanaman padi tinggi adalah kondisi anakan produktif yang banyak.
Umur panen
Umur bibit galur dan varietas Ciherang, Inpara 3 dan inpara 5 ditanam 30 hari setelah semai dengan persemaian dua kali pindah. Umur panen galur-galur yang diuji dan varietas pembanding tergolong genjah. Umur panen varietas pembanding ciherang dan inpara 3 lebih pendek sekitar 87-89,7 HST berbeda nyata dengan galur- galur yang diuji dan varietas inpara 5. Umur panen galur yang tidak berbeda nyata
55
dengan umur panen inpara 5 ( 94,7 HST) adalah Ciherang-sub-1, PSBRC82-sub-1, dan B 13132-8-MR-1-KA-1 rata-rata 91,3-93,0 HST. (Tabel 1).
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan umur panen dari galur-galur/varietas yang diuji di lahan lebak, MK 2011
No Galur/varietas Tinggi tanaman (cm)
Jumlah anakan produktif (btg)
Umur panen (80%)(HST) 1 Ciherang-sub-1 91,7 c 13,4 a 92,3 b
2 PSBRC82-sub-1 78,7 b 15,2 b 93,0 b
3 B 115867 F-Mr-11-2-2 103,1 d 14,5 b 98,3 c 4 B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-
1-Mr-1
100,5 d 16,0 bc 101,3 d 5 B 13132-8-MR-1-KA-1 85,1 b 16,1 c 91,3 b 6 B 13134-4-MR-1-KA-1 79,5 b 13,8 b 97,7 c 7 B 13134-5-MR-1-KA-2 81,5 b 13,5 ab 99,7 c 8 B 13135-1-MR-2-KA-1 98,2 d 13,1 a 100,3 d 9 B 13135-1-MR-2-KA-2 93,3 c 13,5 a 101,3 d 10 B 13138-7-MR-2-KA-1 87,2 c 13,1 a 95,3 c 11 B 13138-7-MR-2-KA-2 93,3 c 14,0 b 96,0 c
12 Ciherang 84,6 b 13,9 b 87,0 a
13 Inpara 3 89,2 c 14,3 b 89.7 a
14 Inpara 5 76,9 a 14,3 b 94,7 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolam yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 5%.
Tabel 2. Rata-rata jumlah gabah/malai, jumlah gabah isi/malai dan berat 1000 butir gabah dari galur-galur/varietas yang diuji di lahan lebak, MK 2011
No Galur/varietas Jlh gabah/malai (btr)
Jlh gabah isi/malai (btr)
Bobot 1000 butir gabah (gr)
1 Ciherang-sub-1 90,3 c 66,9 a 27,5 a
2 PSBRC82-sub-1 70,1 b 78,6 b 28,5 b
3 B 115867 F-Mr-11-2-2 88,1 c 81,1 c 29,1 c 4 B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-
1-Mr-1
92,9 c 81,6 c 29,8 d 5 B 13132-8-MR-1-KA-1 93,0 c 80,5 c 29,8 d 6 B 13134-4-MR-1-KA-1 81,2 b 73,4 b 28,1 b 7 B 13134-5-MR-1-KA-2 87.2 c 82,6 c 29,5 c 8 B 13135-1-MR-2-KA-1 79,9 b 79,1 b 27,8 b 9 B 13135-1-MR-2-KA-2 83,5 b 80,3 c 29,1 c 10 B 13138-7-MR-2-KA-1 85,8 b 78,7 b 29,0 c 11 B 13138-7-MR-2-KA-2 80,2 b 78,5 b 28,8 c
12 Ciherang 71,4 b 77,7 b 28,7 c
13 Inpara 3 70,3 b 74,5 b 26,8 a
14 Inpara 5 68,9 a 73,5 b 28,3 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolam yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 5%.
56 Jumlah gabah per malai
Jumlah gabah per malai yang ditunjukkan oleh galur-galur yang diuji rata-rata 70,1-93,0 butir berbeda nyata dengan varietas pembanding inpara 5( 68,9 butir). Galur Ciherang-sub-1, B 115867 F-Mr-11-2-2, B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1, B 13132-8- MR-1-KA-1 dan B 13134-5-MR-1-KA-2 tidak berbeda nyata terhadap jumlah gabah per malai tetapi berbeda nyata dengan varietas pembanding (Tabel 2). Jumlah gabah per malai merupakan komponen yang sangat penting dalam menentukan komponen hasil.
Persentase gabah isi per malai
Persentase gabah isi per malai dari galur-galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding Ciherang, Inpara 3 dan Inpara 5 yaitu galur B 115867 F- Mr-11-2-2, B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1, B 13132-8-MR-1-KA-1, B 13134-5-MR-1- KA-2 dan B 13135-1-MR-2-KA-2 berkisar 80,3%-82,6% dan berbeda nyata dengan lainnya (Tabel 2). Tinggi rendahnya persentase gabah isi per malai disebabkan oleh perbedaan tanggapan dan ketahanan tiap galur/varietas terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan terutama pada fase reproduktif dan pemasakan.
Dikemukakan oleh Simanulang (2001) bahwa jumlah gabah isi per malai berhubungan nyata dengan hasil tanaman tetapi sangat dipengaruhi oleh gabah hampa.
Bobot 1000 butir gabah
Bobot 1000 butir gabah dari galur yang diuji berbeda nyata dengan varietas pembanding yaitu galur B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 dan B 13132-8-MR-1-KA-1 rata-rata 29,8 gram, sedangkan Ciherang rata-rata 28,7 gram, Inpara 3 rata-rata 26,8 gram dan inpara 5 rata-rata 28,3 gram. (Tabel 2).
Tabel 3. Rata-rata hasil gabah kering giling/plot (kg/20 m2) dari galur-galur/varietas yang diuji di lahan lebak, MK 2011
No Galur/varietas Hasil gabah kerig giling/plot (kg)
Konversi Hasil gabah per ha (ton gkg/ha)
1 Ciherang-sub-1 4,5 a 2,25 a
2 PSBRC82-sub-1 6,0 c 3,0 c
3 B 115867 F-Mr-11-2-2 6,0 c 3,0 c
4 B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 6,5 c 3,25 c
5 B 13132-8-MR-1-KA-1 6,0 c 3,0 c
6 B 13134-4-MR-1-KA-1 5,8 b 2,9 b
7 B 13134-5-MR-1-KA-1 6,6 c 3,3 c
8 B 13135-1-MR-2-KA-1 6,2 c 3.1 c
9 B 13135-1-MR-2-KA-2 5,7 b 2,8 b
57
10 B 13138-7-MR-2-KA-1 4,5 a 2,25 a
11 B 13138-7-MR-2-KA-2 5,6 b 2,8 b
12 Ciherang 5,4 b 2,7 b
13 Inpara 3 4,7 b 2,35 b
14 Inpara 5 4,6 b 2,3 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolam yang sama berarti tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 5%.
Hasil gabah
Varietas inpara 2, dan inpara 3 sebagai pembanding. dari galur-galur yang diuji merupakan varietas yang dianjurkan untuk daerah rawa yang toleran terhadap tanah masam dan keracunan Fe dan Al. Hasil galur B 115867 F-Mr-11-2-2, B 10891 B-Mr- 3-KN-4-1-1-Mr-1, B 13132-8-MR-1-KA-1 dan B 13134-5-MR-1-KA-1 berbeda nyata dengan varietas pembanding. Hasil gabah tertinggi dicapai oleh galur B 13134-5-MR- 1-KA-1 (3,3 ton gkg/ha), B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 (3,25 ton gkg/ha), B 13132-8- MR-1-KA-1 (3,0 ton gkg/ha), B 115867 F-Mr-11-2-2 (3,0 ton gkg/ha), B 13135-1-MR-2- KA-1 (3,1 ton gkg/ha), PSBRC82-sub-1 (3,0 ton gkg/ha) (Tabel 3). Galur B 13134-5- MR-1-KA-1 (3,3 ton gkg/ha), B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 (3,25 ton gkg/ha), B 13132-8-MR-1-KA-1 (3,0 ton gkg/ha), B 115867 F-Mr-11-2-2 (3,0 ton gkg/ha) didukung oleh komponen hasil persentase gabah isi per malai rata-rata 81,1-82,6%, bobot 1000 butir gabah rata-rata 29,1-29,8 gram dan jumlah gabah per malai rata-rata 87,2-93,0 butir. Hasil yang dicapai oleh galur-galur/varietas yang diuji tergolong rendah.
Rendahnya hasil gabah tersebut diakibatkan pada saat pengisian bulir terjadi kekurangan air karena curah hujan sedikit hanya 40,5 mm dengan satu hari hujan pada bulan Juli 2011 bahkan sampai bulan Agustus tidak ada curah hujan. (Gambar 1).
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember
curah hujan (mm) hari hujan
Gambar 1. Grafik curah hujan di lokasi penelitian
58 KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Galur-galur yang diuji mempunyai tinggi tanaman yang ideal untuk daerah lebak dangkal dan tengahan, dan berumur genjah
2. Galur-galur yang terpilih yaitu galur B 13134-5-MR-1-KA-1 (3,3 ton gkg/ha), B 10891 B-Mr-3-KN-4-1-1-Mr-1 (3,25 ton gkg/ha), B 13132-8-MR-1-KA-1 (3,0 ton gkg/ha), B 115867 F-Mr-11-2-2 (3,0 ton gkg/ha) berbeda nyata dengan Ciherang, inpara 3 dan inpara 5 sebagai pembanding dengan hasil yang dicapai 2,3-2,7 ton gkg/ha.
3. Penampilan dari galur-galur dan varietas yang diuji terhadap pertumbuhan maupun hasil gabah sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dari masing-masing galur dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z ; Sowono, S ; Roesmarkam ; Suliyanto dan Sartino. 1999. Uji adaptasi varietas galur harapan padi sawah berumur sedang. Dalam : Roesmiyanto (ed). Prosiding Seminar Hasil Penelitian /Pengkajian BPTP Karang Ploso.
Badan Litbang Pertanian Malang.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumsel. 2010. Sumatera Selatan dalam angka 2009.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan, Palembang.
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2008. Info padi tahun 2008. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.
Bakri dan R.H. Susanto. 2006. Keragaan produksi beberapa varietas padi hasil mutasi radiasi di daerah rawa lebak di Kecamatan Rambutan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Jurnal Tanaman Tropika 9 (1) : 24-29.
59
Lesmana, O.S, H.M. Toha, I.Las dan B. Suprihanto. 2004. Varietas unggul baru padi.
Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.
Puslitbangtanak. 2002. Anomali iklim. Evaluasi dampak, peramalan dan teknologi antisipasinya. Untuk menekan resiko penurunan produksi. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor
Simanulang, Z.A. 2001. Kriteria seleksi untuk sifat agronomis dan mutu. Dalam Bambang Prayudi dkk (Ed). Prosiding Seminar Nasional Hasil-hasil penelitian/pengkajian Spesifik lokasi. BPTP Jambi.