• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH JAWA TENGAH BULAN DESEMBER 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH JAWA TENGAH BULAN DESEMBER 2015"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

No. 04/01/33/Th.X, 04 Januari 2016

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI DAN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

J

AWA

T

ENGAH

B

ULAN

D

ESEMBER

2015

A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

NILAI TUKAR PETANI (NTP) DESEMBER 2015 SEBESAR 102,03 ATAU TURUN 0,04 PERSEN

 Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah bulan Desember 2015 mengalami penurunan 0,04 persen, yaitu dari posisi 102,07 menjadi 102,03. Hal ini disebabkan karena perubahan indeks harga yang diterima petani (It) lebih kecil dibandingkan dengan perubahan indeks harga yang dibayar petani (Ib). It mengalami kenaikan 0,84 persen, dari posisi 122,76 pada bulan November 2015 menjadi 123,79 pada bulan Desember 2015. Sementara Ib mengalami kenaikan 0,88 persen, dari posisi 120,27 menjadi 121,32.

 Dari 5 (lima) sub sektor pertanian komponen penyusun NTP, 3 (tiga) sub sektor mengalami penurunan indeks yaitu : sub sektor Tanaman Pangan turun 0,12 persen , sub sektor Peternakan turun 0,63 persen dan sub sektor Perikanan turun 0,30 persen. Sedangkan sub sektor lainnya mengalami kenaikan yaitu sub sektor Hortikultura naik 0,30 persen dan sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,65 persen.

 Secara umum, Indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan indeks sebesar 0,84 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kenaikan It dipengaruhi oleh kenaikan It pada 5 (lima) sub sektor, yaitu : sub sektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,85 persen, sub sektor Hortikultura naik sebesar 1,22 persen, sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 1,49 persen, sub sektor Peternakan naik sebesar 0,10 persen dan sub sektor Perikanan naik sebesar 0,67 persen.

 Indeks harga yang dibayar petani pada bulan Desember 2015 mengalami kenaikan 0,88 persen bila dibandingkan dengan bulan November 2015. Kenaikan itu dipengaruhi oleh kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,14 persen dan kenaikan Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen.

 Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan sebesar 0,46 persen atau dari posisi 107,46 menjadi 107,95 dibanding NTUP bulan sebelumnya.

 Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) atau IHK perdesaan di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan atau terjadi inflasi perdesaan sebesar 1,14 persen. Inflasi terjadi disebabkan naiknya indeks harga kelompok Bahan Makanan sebesar 2,24 persen, kelompok Makanan Jadi 0,65 persen, Kelompok Perumahan 0,33 persen, kelompok Sandang 0,12 persen, kelompok Kesehatan 0,21 persen, kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga naik sebesar 0,01 persen dan kelompok Transportasi dan Komunikasi sebesar 0,04 persen.

 Dari 33 provinsi (termasuk DKI Jakarta) yang dilaporkan, perubahan NTP Desember 2015 terhadap NTP November 2015 ternyata sangat beragam. Kenaikan indeks NTP terjadi di 12 provinsi, sedangkan 21 provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 1,09 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 0,98 persen.

(2)

1. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah

ilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. Penghitungan indikator ini diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib) yang dinyatakan dalam persentase. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) antara produk pertanian yang dijual petani dengan barang dan jasa yang dibutuhkan petani dalam berproduksi dan konsumsi rumah tangga.

Dengan membandingkan kedua perkembangan angka tersebut, maka dapat diketahui apakah peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan petani dapat dikompensasi dengan penambahan pendapatan petani dari hasil pertaniannya. Atau sebaliknya, apakah kenaikan harga jual produksi pertanian dapat menambah pendapatan petani yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan para petani. Semakin tinggi nilai NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Mulai Desember 2013 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergeseran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian diperdesaan, serta perluasan cakupan subsektor pertanian dan provinsi dalam

penghitungan NTP, agar penghitungan Perbedaan antara NTP tahun dasar 2007=100 dengan NTP tahun dasar 2012=100 adalah meningkatnya cakupan jumlah komoditas baik pada paket komoditas It maupun Ib. Penghitungan NTP (2012=100) juga mengalami perluasan khususnya pada Subsektor Perikanan.

Selain NTP Perikanan secara umum yang dihitung di 33 provinsi termasuk Provinsi DKI Jakarta, Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) juga disajikan secara terpisah.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di perdesaan di wilayah Jawa Tengah pada bulan Desember 2015, NTP Jawa Tengah mengalami penurunan indeks 0,04 persen dibanding NTP November yaitu dari posisi 102,07 menjadi 102,03. Besarnya indeks NTP tersebut disebabkan karena perubahan indeks harga produk pertanian yang diterima petani lebih kecil dibanding dengan perubahan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani.

Penurunan NTP pada bulan Desember 2015 juga disebabkan oleh penurunan 3 (tiga) sub sektor NTP yaitu : NTP sub sektor Tanaman Pangan turun 0,12 persen, NTP sub sektor Peternakan turun 0,63 persen dan NTP sub sektor Perikanan turun 0,30 persen.

Sedangkan NTP yang mengalami kenaikan yaitu : NTP sub sektor Hortikultura naik 0,30 persen dan sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,65 persen.

2

. Indeks Harga Yang Diterima Petani (It)

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menunjukkan fluktuasi harga yang beragam dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani.

Gambar 1 NTP Jawa Tengah

November – Desember 2015 (2012 = 100)

Gambar 2

Perubahan NTP Jawa Tengah per Subsektor November – Desember 2015 (2012 = 100)

100,00 100,40 100,80 101,20 101,60 102,00 102,40

November 2015 Desember 2015

102,07 102,03

- 0,04%

-0,12 0,30

0,65

-0,63 -0,30

-0,80 -0,60 -0,40 -0,20 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80

TP Horti TPR Ternak Ikan

(3)

Pada Desember 2015, secara umum It mengalami kenaikan indeks yang cukup signifikan sebesar 0,84 persen dibandingkan dengan It November 2015, yaitu: dari 122,76 menjadi 123,79. Kenaikan It terjadi pada5 (lima) sub sektor, yaitu : Tanaman Pangan naik 0,85 persen, sub sektor Hortikultura naik 1,22 persen, sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 1,49 persen, sub sektor Peternakan naik 0,10 persen dan sub sektor Perikanan naik sebesar 0,67 persen.

3. Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib)

elalui Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan khususnya petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Desember 2015, Ib tercatat naik sebesar 0,88 persen bila dibandingkan November 2015, yaitu dari 120,27 menjadi 121,32. Kenaikan Ib terjadi pada 5 (lima) sub sektor penyusun NTP yaitu: Ib sub sektor Tanaman Pangan naik 0,97 persen; Ib sub sektor Hortikultura naik

0,91 persen; Ib sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,83 persen, Ib sub sektor Peternakan naik 0,74 persen, dan Ib sub sektor Perikanan naik 0,97 persen.

4. NTP Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)

ada bulan Desember 2015 NTPP mengalami penurunan indeks sebesar 0,12 persen.

Penurunan NTPP disebabkan karena indeks yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,85 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani mengalami kenaikan , yaitu sebesar 0,97 persen.

Kenaikan Ib disebabkan oleh naiknya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,17 persen dan naiknya Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,40 persen.

Gambar 3

Indeks Yang Diterima Petani Jawa Tengah per Subsektor dan Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

Gambar 4

Perubahan Indeks Yang Dibayar Petani Jawa Tengah per Sub sektor November – Desember 2015 (2012 = 100)

Tabel 1

NTP Subsektor Tanaman Pangan Jawa Tengah dan Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

119,00 120,00 121,00 122,00 123,00 124,00 125,00 126,00 127,00

TP Horti TPR Ternak Ikan

124,98 121,35 121,70 121,82 123,52

126,04 122,83 123,51 121,95 124,35

November 2015 Desember 2015

0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00

TP Horti TPR Ikan Ternak

0,97

0,91 0,83 0,97

0,74

No Nov'15 Des'15 Perub Des'15

thd Nov'15 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 124,98 126,04 0,85

1. Padi 118,59 119,24 0,55

2. Palawija 142,07 144,23 1,52

II. Indeks Dibayar Petani 122,47 123,65 0,97

1. Konsumsi Rumah Tangga 124,12 125,57 1,17

2. BPPBM 118,17 118,64 0,40

III. Nilai Tukar Petani 102,05 101,93 -0,12

Rincian (2)

(4)

b. Subsektor Hortikultura (NTPH)

ilai Tukar Petani subsektor Hortikultura (NTPH) pada Desember 2015 dilaporkan terjadi kenaikan indeks sebesar 0,30 persen. Hal ini terjadi karena indeks yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,22 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan indeks yang dibayar petani, dimana Ib mengalami kenaikan sebesar 0,91 persen.

Kenaikan yang terjadi pada It disebabkan oleh perubahan indeks harga pada kelompok Sayur-sayuran naik sebesar 2,73 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan It yaitu: kelompok Buah-buahan turun sebesar 0,08 persen dan kelompok Tanaman Obat turun 1,65 persen.

Penurunan Ib disebabkan oleh kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,12 persen dan kenaikan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,38 persen.

c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)

ada Desember 2015 NTPR mengalami kenaikan indeks sebesar 0,65 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks yang diterima petani sebesar 1,49 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan indeks yang dibayar petani, yaitu sebesar 0,83 persen.

Kenaikan pada Ib terjadi karena naiknya indeks sub kelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,11 persen dan naiknya indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,26 persen.

d. Subsektor Peternakan (NTPT)

TP sub sektor Peternakan pada bulan Desember 2015 dilaporkan mengalami penurunan sebesar 0,63 persen. Penurunan ini terjadi karena perubahan Ib yang lebih tinggi dibandingkan dengan perubahan It. Indeks harga yang diterima petani naik 0,10 persen sementara indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,74 persen.

Kenaikan yang terjadi pada It disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok sub sektor Peternakan yaitu: hasil ternak naik 1,61 persen. Sedangkan kelompok subsektor lain mengalami penurunan ,yaitu : ternak besar turun 0,15 persen, ternak kecil turun 0,22 persen dan unggas turun sebesar 0,13 persen.

Tabel 3

NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat dan Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

Desember 2014 – Januari 2015 (2012 = 100) Tabel 2

NTP Subsektor Hortikultura Jawa Tengah dan

Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

Tabel 4

NTP Subsektor Peternakan Jawa Tengah dan Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

No Nov'15 Des'15 Perub Des'15

thd Nov'15 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 121,35 122,83 1,22 1. Sayur-sayuran 108,92 111,89 2,73 2. Buah-buahan 136,29 136,18 -0,08 3. Tanaman Obat 123,76 121,72 -1,65 II. Indeks Dibayar Petani 121,33 122,43 0,91 1. Konsumsi Rumah Tangga 124,61 126,00 1,12

2. BPPBM 113,55 113,98 0,38

III. Nilai Tukar Petani 100,02 100,32 0,30 Rincian

(2)

No Nov'15 Des'15 Perub Des'15

thd Nov'15 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 121,70 123,51 1,49

1. TPR 121,70 123,51 1,49

II. Indeks Dibayar Petani 120,78 121,79 0,83

1. Konsumsi Rumah Tangga 124,66 126,04 1,11

2. BPPBM 113,44 113,73 0,26

III. Nilai Tukar Petani 100,76 101,42 0,65

Rincian (2)

No Nov'15 Des'15 Perub Des'15

thd Nov'15 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 121,82 121,95 0,10

1 Ternak Besar 124,68 124,49 -0,15

2 Ternak Kecil 111,89 111,64 -0,22

3 Unggas 123,55 123,38 -0,13

4 Hasil Ternak 121,95 123,91 1,61

II. Indeks Dibayar Petani 116,24 117,10 0,74

1. Konsumsi Rumah Tangga 124,88 126,25 1,09

2. BPPBM 110,47 110,98 0,47

III. Nilai Tukar Petani 104,80 104,14 -0,63

Rincian (2)

(5)

Sementara itu, kenaikan yang terjadi pada Ib disebabkan karena kenaikan pada BPPM sebesar 0,47 persen yaitu dari 110,47 persen menjadi 110,98 persen dan IKRT mengalami kenaikan sebesar 1,09 persen yaitu dari 124,88 persen menjadi 126,25 persen.

e. Subsektor Perikanan (NTN)

ada bulan Desember 2015, NTN mengalami penurunan indeks sebesar 0,30 persen.

Penurunan indeks NTN ini disebabkan karena indeks yang diterima petani naik sebesar 0,67 persen lebih rendah dibandingkan dengan indeks yang dibayar petani naik sebesar 0,97 persen.

Kenaikan yang terjadi pada It disebabkan oleh perubahan indeks harga pada kelompok budidaya yang naik 0,92 persen dan kelompok Perikanan Tangkap mengalami penurunan sebesar 0,36 persen.

Kenaikan yang terjadi pada Ib disebabkan karena naiknya IKRT sebesar 1,57 persen dan naiknya BPPBM sebesar 0,11 persen.

5. NTUP Sub Sektor

ilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.

Pada Desember 2015 terjadi kenaikan NTUP sebesar 0,46 persen dari posisi 107,46 menjadi 106,95. Hal ini karena kenaikan It sebesar 0,84 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks BPBBM sebesar 0,04 persen. Kenaikan NTUP disebabkan oleh naiknya NTUP di 4 (empat) sub sektor penyusun NTUP, yaitu sub sektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,45 persen, subsektor Hortikultura naik sebesar 0,84 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 1,23 persen dan subsektor Perikanan naik sebesar 0,56 persen. Sedangkan sub sektor lainnya mengalami penurunan, yaitu : subsektor Peternakan sebesar 0,36 persen.

Tabel 5

NTP Subsektor Perikanan Jawa Tengah dan Perubahannya November – Desember 2015 (2012 = 100)

Tabel 6

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor, dan PersentasePerubahannya, Desember 2015

(2012=100)

No Nov'15 Des'15 Perub Des'15

thd Nov'15 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 123,52 124,35 0,67

1 Tangkap 131,26 130,79 -0,36

2 Budidaya 121,80 122,92 0,92

II. Indeks Dibayar Petani 120,08 121,25 0,97 1. Konsumsi Rumah Tangga 125,02 126,98 1,57

2. BPPBM 113,48 113,61 0,11

III. Nilai Tukar Petani 102,87 102,56 -0,30

Rincian (2)

Sub Sektor Nov'15 Des'15 Perub Des'15 thd Nov'15 (%)

(1) (2) (3) (4)

1.Tanaman Pangan 105,76 106,24 0,45 2.Hortikultura 106,87 107,76 0,84 3. Tanaman Perkebunan Rakyat 107,28 108,60 1,23 4.Peternakan 110,28 109,88 -0,36 5. Perikanan 108,85 109,46 0,56 a. Tangkap 108,49 107,94 -0,51 b. Budidaya 108,93 109,82 0,82

Jawa Tengah 107,46 107,95 0,46

(6)

6. Indeks Harga Konsumen Perdesaan

erubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka Inflasi/ Deflasi di wilayah perdesaan. Pada Desember 2015, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) atau IHK di daerah perdesaan di Provinsi Jawa Tengah mengalami kenaikan atau terjadi inflasi sebesar 1,14 persen. Inflasi dipicu oleh naiknya semua kelompok, yaitu: kelompok Bahan Makanan sebesar 2,24 persen, kelompok Makanan Jadi 0,65 persen, kelompok Perumahan 0,33 persen, kelompok Sandang 0,12 persen, kelompok Kesehatan 0,21 persen, kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga naik 0,01 persen dan kelompok Transportasi dan Komunikasi 0,04 persen.

7. Perbandingan Antar Provinsi

ari 33 provinsi yang dilaporkan, perubahan NTP Desember 2015 terhadap NTP November 2015 ternyata sangat beragam. Kenaikan nilai NTP terjadi di 12 provinsi, dan 21 provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi Desember 2015 terjadi di Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 1,09 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi pada Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 0,98 persen.

Tabel 8

NTP 33 Provinsi dan Persentase Perubahannya (%) November – Desember 2015 (2012 = 100)

Tabel 7

IHK Perdesaan Jawa Tengah dan Perubahannya (%) November – Desember 2015 (2012 = 100)

Rincian

Nov'15 Des'15 Perub Des'15 thd Nov'15 (%)

(1) (2) (3) (4)

Konsumsi Rumah Tangga 124,54 125,96

1,14

a. Bahan Makanan 134,76 137,77

2,24

b. Makanan Jadi 116,59 117,34

0,65

c. Perumahan 119,97 120,36

0,33

d. Sandang 120,19 120,33

0,12

e. Kesehatan 113,16 113,40

0,21

f. Pendidikan, Rekreasi & Olah raga110,39 110,40

0,01

g. Transportasi dan Komunikasi 122,21 122,27

0,04

No Provinsi Nov'15 Des'15 Perub Nov'15

thd Des'15 (%)

(1) (2) (3) (4) (5)

1 SUMUT 99,54 100,62 1,09

2 DKI 97,97 98,77 0,82

3 JAMBI 95,15 95,72 0,61

4 MALUKU UTARA 102,89 103,46 0,56

5 PAPUA BARAT 99,93 100,35 0,43

6 SULTRA 100,64 101,01 0,36

7 RIAU 94,70 95,03 0,35

8 YOGYAKARTA 103,01 103,34 0,32

9 GORONTALO 104,10 104,41 0,29

10 MALUKU 102,34 102,61 0,27

11 SULTENG 99,62 99,82 0,20

12 JABAR 107,20 107,24 0,04

13 SULSEL 106,42 106,39 -0,02

14 JATENG 102,07 102,03 -0,04

15 BANTEN 107,53 107,45 -0,07

16 KALBAR 96,12 96,03 -0,09

17 SULUT 96,93 96,85 -0,09

18 LAMPUNG 104,04 103,84 -0,19

19 NTB 106,43 106,22 -0,20

20 KEPRI 98,99 98,78 -0,21

21 BALI 105,41 105,13 -0,27

22 SUMSEL 96,30 96,03 -0,28

23 NAD 98,41 98,13 -0,28

24 SUMBAR 98,06 97,75 -0,32

25 KALTENG 98,13 97,74 -0,40

26 JATIM 106,56 106,13 -0,41

27 KALSEL 99,44 99,03 -0,41

28 BENGKULU 93,44 92,96 -0,51

29 SULBAR 106,47 105,71 -0,72

30 KALTIM 98,02 97,31 -0,73

31 PAPUA 96,80 96,08 -0,73

(7)

Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%)Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%)Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%)Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%)Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%)Nov'15Des'15Perub Des'15 thd Nov'15 (%) (2)(3)(4)(5)(6)(7)(8)(9)(10)(11)(12)(13)(14)(15)(16)(17)(18)(19) I.Indeks Diterima Petani124,98126,040,85121,35122,831,22121,70123,511,49121,82121,950,10123,52124,350,67122,76123,790,84 II.Indeks Dibayar Petani122,47123,650,97121,33122,430,91120,78121,790,83116,24117,100,74120,08121,250,97120,27121,320,88 1.Konsumsi Rumah Tangga124,12125,571,17124,61126,001,12124,66126,041,11124,88126,251,09125,02126,981,57124,54125,961,14 a. Bahan Makanan134,75137,902,34134,11136,972,13134,71137,522,08135,11138,012,15137,58142,533,60134,76137,772,24 b. Makanan Jadi116,56117,320,65116,69117,460,66116,70117,460,65116,55117,280,62115,58116,340,66116,59117,340,65 c. Perumahan119,37119,750,32119,74120,120,32119,59119,980,32121,33121,730,33118,29118,840,46119,97120,360,33 d. Sandang119,42119,540,11120,33120,480,12121,10121,270,13120,62120,760,12118,84118,950,10120,19120,330,12 e. Kesehatan114,90115,160,22112,19112,420,20112,14112,350,19112,37112,590,19114,43114,700,24113,16113,400,21 f. Pendidikan, Rekreasi & Olah raga110,06110,070,01110,58110,600,01109,71109,720,01110,71110,710,01113,76113,790,02110,39110,400,01 g. Transportasi dan Komunikasi120,59120,650,05123,03123,090,04121,06121,120,05122,96123,010,05134,68134,690,01122,21122,270,04 2.BPPBM118,17118,640,40113,55113,980,38113,44113,730,26110,47110,980,47113,48113,610,11114,23114,670,38 a. Bibit125,48125,590,08108,74109,800,98105,33105,620,27110,59111,100,46110,13110,130,00114,13114,580,40 b. Obat-obatan & Pupuk110,06110,150,08112,34112,500,14106,80106,900,10106,60107,681,02112,66112,900,21109,25109,620,34 c. Sewa Lahan, Pajak & Lainnya118,52118,50-0,02117,72117,820,08109,34109,32-0,01108,46108,520,05111,53111,540,01114,10114,130,02 d. Transportasi139,64139,62-0,02119,33119,430,08122,35122,380,03122,49122,45-0,03134,50134,43-0,06127,59127,600,01 e. Penambahan Barang Modal117,20117,680,41115,16115,430,24116,52116,520,00109,99110,020,02113,40113,470,06114,66114,890,20 f. Upah Buruh Tani120,95121,930,81112,56113,230,59117,67118,470,68118,06118,060,00111,22111,450,20117,47118,080,52 III.Nilai Tukar Petani102,05101,93-0,12100,02100,320,30100,76101,420,65104,80104,14-0,63102,87102,56-0,30102,07102,03-0,04 105,76106,240,45106,87107,760,84107,28108,601,23110,28109,88-0,36108,85109,460,56107,46107,950,46IV. Nilai Tukar Usaha Pertanian

Jawa Tengah (1)

Tanaman PanganHortikulturaTanaman Perkebunan RakyatPeternakanPerikanan Rincian

(8)

B. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH DESEMBER 2015

RATA-RATA HARGA GABAH DI TINGKAT PETANI GKG NAIK

2,89%

DAN GKP NAIK

0,89%

 Survei Harga Produsen Gabah di Jawa Tengah pada Desember 2015 mencatat 97 observasi transaksi penjualan gabah di 17 kabupaten terpilih. Komposisi observasi gabah bulan ini masih didominasi oleh transaksi penjualan Gabah Kering Panen (GKP) yaitu sebanyak 64 observasi (65,98%) diikuti kelompok Gabah Kering Giling sebanyak 20 observasi (20,62%) dan kelompok gabah kuaitas rendah sebanyak 13 observasi (13,40%).

Di tingkat petani, harga Gabah tertinggi Desember 2015 tercatat Rp. 5.900,00 per kg berasal dari transaksi kelompok gabah kualitas GKG dengan varietas Ciherang yang berasal dari Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati dan kulaitas GKP dengan varietas Ciherang di Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Sedangkan harga terendah di tingkat petani ditemukan seharga Rp. 4.000,00 per kg berasal dari kelompok Gabah Kering Panen varietas Umbul di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.

Di tingkat penggilingan, harga gabah tertinggi Desember 2015 tercatat Rp. 5.950,00 per kg berasal dari kelompok dan varietas yang sama dengan di tingkat petani yaitu kelompok gabah kualitas GKG dengan varietas Ciherang yang berasal dari Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Demikian pula untuk Harga terendah di tingkat penggilingan ditemukan pada kelompok Gabah Kering Panen varietas Umbul di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang seharga Rp. 4.050,00,- per Kg.

Rata-rata harga gabah GKG di tingkat petani pada Desember 2015 mengalami kenaikan sebesar 2,89 persen dari Rp. 5.406,09/Kg pada November menjadi Rp.5.562,50/Kg. Demikian pula untuk gabah kualitas GKP juga mengalami kenaikan sebesar 0,89 persen dari Rp. 5.057,92/Kg pada November menjadi Rp.

5.102,73/Kg pada Desember.

i penghujung akhir tahun 2015 Survei Harga Produsen Gabah di Jawa Tengah berhasil mencatat sebanyak 97 observasi transaksi penjualan gabah di 17 kabupaten terpilih kecuali kabupaten Demak dan Kendal belum ditemukan transaksi penjualan gabah. Dari 97 transaksi penjualan gabah yang berhasil dicatat, komposisi jumlah observasi masih didominasi oleh transaksi penjualan Gabah Kering Panen (GKP) yaitu sebanyak 64 observasi (65,98%) diikuti kelompok Gabah Kering Giling sebanyak 20 observasi (20,62%) dan kelompok gabah kualitas rendah sebanyak 13 (13,40%).

Tabel 9.

Jumlah Observasi, Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan HPP Menurut Kelompok Kualitas Desember 2015 Kelompok

Kualitas Jumlah Observasi

Harga di Tingkat Petani

(Rp/Kg) Harga di Tingkat

Penggilingan (Rp/Kg)

Terendah Tertinggi HPP*) Terendah Tertinggi HPP*)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

GKG 20 5.300,00 5.900,00 - 5.325,00 5.950,00 4.600,00

20,62 (Cilacap, Sragen,

Pati) ( Pati) (Sragen) ( Pati)

GKP 64 4.000,00 5.900,00 3.700,00 4.050,00 5.940,00 3.750,00

65,98 (Semarang) (Grobogan) (Semarang) (Grobogan)

Kualitas

Rendah 13 4.550,00 4.700,00 - 4.620,00 4.785,00 -

13,40 (Sukoharjo) (Sukoharjo, Pemalang) (Sukoharjo) (Pemalang)

Keterangan

(9)

*) HPP berdasarkan Inpres No.5 Tahun 2015 tanggal 17 Maret 2015, diberlakukan mulai bulan Maret 2015

Dari 97 observasi transaksi harga penjualan gabah yang berhasil dikumpulkan selama Desember 2015, terbanyak berasal dari Kabupaten Sukoharjo sebanyak 13 observasi (13,40%), diikuti Kabupaten Banyumas dan Karanganyar masing-masing sebanyak 10 observasi (10,31%), Kabupaten Pati sebanyak 9 observasi (9,28%), Kabupaten Kebumen sebanyak 8 observasi (8,25%), Kabupaten Grobogan sebanyak 7 observasi (7,22%) dan selebihnya 41,24 persen tersebar di 11 kabupaten lainnya..

Dari sejumlah 84 pemantauan harga gabah kualitas GKG dan GKP yang berhasil diobservasi selama Desember 2015 tidak ditemukan kasus harga di bawah HPP. Sementara itu untuk gabah kualitas rendah yang berpotensi mengalami harga di bawah HPP, bulan ini harganya masih di atas HPP GKP.

Tabel 10.

Jumlah dan Persentase Observasi Harga Gabah di Bawah HPP Menurut Kelompok Kualitas, Desember 2015

Kelompok

Kualitas Jumlah

Observasi Petani Penggilingan

observasi % observasi %

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

GKG 20 - - - -

GKP 64 - - - -

GKG dan GKP 84 - - - -

1. Rata-rata Komponen Mutu Menurut Kelompok

ata-rata Kadar Air (KA) gabah di Jawa Tengah, pada Desember 2015 menunjukkan kadar mutu yang bervariatif dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata KA kelompok gabah kualitas GKG tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 11,53 persen sedangkan bulan ini tercatat 12,14 persen.

Namun untuk rata-rata KA kelompok GKP mengalami penurunan dari 17,04 persen pada November menjadi 16,95 persen pada Desember.

Rata-Rata Kadar Hampa (KH) bulan Desember 2015 juga menunjukkan kualitas yang bervariatif. Kelompok gabah kualitas GKG mengalami penurunan dari 2,41 persen pada November menjadi 2,30 persen. Sedangkan kelompok gabah kualitas GKP bulan Desember ini naik pada angka 6,21 persen dari 5,53 persen pada November.

Tabel 11

Rata-Rata Komponen Mutu Menurut Kelompok Kualitas November – Desember 2015

Kelompok

Kualitas Jumlah Observasi

Kadar Air (%) Kadar Hampa (%) November Desember November Desember

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

GKG 20 11,53 12,14 2,41 2,30

GKP 64 17,04 16,95 5,53 6,21

Kualitas

Rendah 13 27,58 24,43 3,97 9,35

(10)

2. Rata-rata Harga Gabah Menurut Kelompok Kualitas

ata-rata harga gabah GKG di tingkat petani pada Desember 2015 megalami kenaikan sebesar 2,89 persen dari Rp. 5.406,09/Kg pada November menjadi Rp. 5.562,50/Kg. Sementara rata-rata harga kelompok GKP bulan ini kembali mengalami kenaikan sebesar 0,89 persen dari Rp. 5.057,92/Kg pada November menjadi Rp. 5.102,73/Kg.

Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah kelompok GKG pada Desember 2015 juga mengalami kenaikan yaitu sebesar 2,77 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat Rp. 5.461,41/Kg menjadi Rp.

5.612,75/Kg, Sementara kelompok kualitas GKP mengalami kenaikan 0,94 persen dari Rp. 5.113,83/Kg pada November menjadi Rp.5.162,11/Kg pada Desember 2015.

Tabel 12

Rata-Rata Harga Gabah di Tingkat Petani dan Tingkat Penggilingan Menurut Kelompok Kualitas, November - Desember 2015 Kelompok

Kualitas

Tingkat Petani (Rp/Kg) Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) November Desember Perubahan November Desember Perubahan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

GKG 5.406,09 5.562,50 2,89 5.461,41 5.612,75 2,77

GKP 5.057,92 5.102,73 0,89 5.113,83 5.162,11 0,94

Kualitas

Rendah 4.675,00 4.625,38 -1,06 4.700,00 4.702,31 0,05

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini diharapkan aplikasi sistem pakar diagnosis penyakit THT berbasis web dengan menggunakan metode certainty factor ini dapat digunakan oleh masyarakat

d) Alokasi waktu telah diisi akan tetapi tidak sesuai dengan waktu pertemuan. e) Standar Kompetensi telah diisi sesuai dengan standar kompetensinya. f) Kompetensi

279 Meskipun peran dari aspek eksternal keluarga ini lebih cenderung sifatnya pendukung pada peran keluarga dalam pemenuhan hak-hak anak, namun cukup membantu keluarga

Metode ini bekerja dengan melakukan operasi baris elementer terhadap matrik yang diperoleh dari system persamaan linear yang diketahui.. Pada saat implementasi dalam program

Pengukuran kandungan timbal dalam sampel kangkung darat dan kangkung air dimulai dengan pengukuran absorbansi larutan standar timbal (Pb) menggunakan Spektrofotometri

Telekomunikasi Indonesia Tbk adalah baik jika dilihat dari net profit margin, return on asset, dividend payout ratio, price earning ratio, price book value, walaupun

4) Perubahan paradigma dan prinsip dasar untuk yang melayani: a) Mendengar suara Tuhan langsung mengenai masalah dll. b) Menolong orang lain untuk mendengar suara Tuhan

antigen dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan tes PCR Swab. Sebagai informasi, metode RT LAMP ini diperkirakan memiliki sensitivitas 94% dan hanya memerlukan