BAB 2
PENINGKATAN RASA PERCAYA DAN HARMONISASI ANTAR KELOMPOK MASYARAKAT
02 - 2
I. Permasalahan yang Dihadapi
Seperti kita ketahui bersama, secara geografis dan demografis, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini mempunyai kemajemukan dan kebhinnekaan agama, sosial, budaya, politik, ekonomi. Indonesia terdiri atas lebih dari 17.500 pulau besar-kecil, jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, berbagai suku bangsa dan bahasa daerah serta adat istiadat. Keanekaragaman dan kemajemukan tersebut merupakan bentuk rahmat Tuhan yang kita syukuri. Namun, yang perlu diwaspadai oleh seluruh komponen bangsa adalah disintegrasi bangsa akibat adanya perubahan pada tataran global, regional, dan nasional.
Pada era Indonesia yang sedang berubah saat ini, dalam menghadapi perubahan pada tataran global, regional, nasional, dan tingkat lokal, diperlukan suatu sikap dan komitmen dalam rangka peningkatan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pengaruh globalisasi dengan ekonomi pasar bebas dan pengaruh budaya luar dapat mengusik adat budaya masyarakat kita. Ekses negatif reformasi dapat memunculkan ketidakadlilan, menurunnya kesediaan untuk saling menghargai/ menghormati perbedaan, kecenderungan primordialisme yang diwarnai fanatisme etnik, agama dan kedaerahan. Berbagai ekses negatif proses berdemokrasi dapat menimbulkan kerawanan sosial dan potensi kesenjangan. Pengelolaan sumberdaya-alam perlu memperhatikan kesejahteraan masyarakat sehingga dapat dihindari munculnya kekecewaan yang berdampak negatif bagi kehidupan berbangsa.
Peran Pemerintah sebagai fasilitator dan mediator dalam penyelesaian konflik horizontal di beberapa daerah belum optimal karena penyelesaian konflik itu masih diwarnai oleh koordinasi yang masih terkendala, terutama antara lembaga Pemerintah dengan masyarakat. Institusi masyarakat yang “mengatur diri sendiri” (self-regulating society) baik dalam hal norma, budaya, maupun etikanya, sebagaimana yang sudah terbangun di negara-negara demokrasi maju memang masih perlu dikembangkan. Ketertinggalan ini masih menjadi kendala sehingga masyarakat tidak mudah untuk membangun konsensus yang kuat apabila terjadi perselisihan antarkelompok masyarakat.
Sejumlah anggota masyarakat ternyata belum mampu secara tulus untuk bersikap toleran atas perbedaan pendapat di ruang publik yang terbuka. Kekerasan, ancaman, intimidasi, dan aksi teror masih sering digunakan untuk menyampaikan pesan dan aspirasi sekelompok masyarakat kepada masyarakat lainnya yang dianggap berbeda.
Konflik ternyata juga bisa diawali oleh kurang mampunya masyarakat menerima kekalahan dari sebuah persaingan politik. Hal ini masih cukup nyata terlihat sebagai gejala yang muncul pascapilkada. Walaupun sejumlah besar pilkada dapat diselenggarakan secara sangat baik, di beberapa wilayah, pilkada masih diikuti oleh konflik berkepanjangan yang diwarnai oleh kekerasan, ancaman dan perusakan, baik terhadap kelompok lawan politik, maupun terhadap KPUD yang bersangkutan. Persoalan yang terkait dengan konflik persaingan politik yang mengarah pada tindakan anarkis sebagaimana terjadi dalam pilkada tersebut perlu diantisipasi agar hal itu tidak terjadi pada penyelenggaraan Pemilu 2009 mendatang. Selain itu, perlu diantisipasi berbagai hasutan dan gangguan dari pihak-pihak tertentu yang hendak memanfaatkan situasi pada saat penyelenggaraan pemilu.
pihak-02 - 4
pihak yang mengharapkan proses hukum mampu menyelesaikan persoalan ataupun perselisihan pihak-pihak yang bersengketa.
Pemerintah yang demokratis mesti bertindak tegas apabila kekerasan telah menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ketidakpuasan, demi melindungi kepentingan masyarakat lebih luas. Kekerasan yang tidak diselesaikan secara tegas berdasarkan hukum akan menjadi preseden bagi kekerasan lain, yang pada akhirnya akan menciptakan kondisi chaos dan anarkis di dalam masyarakat luas. Pemerintah senantiasa berupaya bertindak secara bijaksana untuk menegakkan hukum, dengan tetap berempati terhadap segala kekurangan di dalam suatu masyarakat yang sedang mengembangkan demokrasi.
II. Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapai Secara umum, Pemerintah memfokuskan pelaksanaan kebijakan untuk meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakat melalui: pertama, memelihara kepercayaan masyarakat terhadap langkah-langkah kebijakan Pemerintah melalui komunikasi yang terbuka dan penegakan hukum secara tegas; kedua, meningkatkan kualitas dan kapasitas lembaga pemerintah pusat; ketiga, menjamin akses masyarakat yang seluas-luasnya pada media informasi yang independen; keempat, terus mendorong pemberdayaan masyarakat sipil serta meningkatkan pendidikan nilai-nilai luhur kebangsaan dan demokrasi kepada masyarakat luas; kelima, meningkatkan koordinasi antarlembaga pemerintah, baik di pusat maupun dengan daerah.
Secara umum penerapan sejumlah kebijakan yang persuasif, tidak memihak, proaktif, dan berimbang dari Pemerintah telah mampu mengurangi dan menghilangkan dampak-dampak negatif dari konflik yang berdimensi politik di daerah-daerah yang rawan terhadap munculnya konflik vertikal dan horizontal. Pada tahun 2007 dan paruh pertama 2008 keadaan yang stabil dan damai dapat dipelihara di NAD, Papua, Maluku dan Poso, suatu situasi yang sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 2005.
terbuka. Keadaan ini jelas merupakan konsekuensi positif dari telah diletakkannya fondasi perdamaian yang kukuh sejak penandatanganan MoU antara Pemerintah dan GAM pada tanggal 15 Agustus 2005, yang kemudian berlanjut dengan pemberlakuan UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh. Penandatangan MoU di Helsinki menghasilkan kesepakatan untuk menciptakan perdamaian yang tulus, berkelanjutan, komprehensif dan bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia 1945. UU PA sangatlah akomodatif terhadap aspirasi politik masyarakat Aceh dengan antara lain menyetujui pembentukan partai lokal dan calon independen, menyetujui penerapan syariat Islam, menyetujui adanya dana alokasi khusus, serta sangat memperhatikan pembagian yang adil terhadap hasil-hasil pengelolaan kekayaan sumber daya alam di Aceh. Pemerintah juga sudah menerbitkan PP No. 20 Tahun 2007 tentang Partai Politik Lokal di Aceh.
Pada sisi penyempurnaan proses politik dan budaya demokrasi, kepercayaan masyarakat Aceh juga terbukti makin kuat terhadap Pemerintah Pusat pascaPilkada Gubernur Aceh yang dinilai jujur dan demokratis pada akhir tahun 2006. Pilkada ini ternyata kemudian menjadi contoh dan baromoter bagi pilkada-pilkada lain di tingkat kabupaten/kota di seluruh Aceh. Semua keberhasilan ini sangat penting bagi keberlanjutan pembangunan semua bidang di Aceh pada khususnya dan dapat menjadi salah satu barometer bagi upaya peningkatan harmonisasi kehidupan seluruh komponen bangsa pada umumnya. Meskipun di masa lalu Aceh pernah terpuruk cukup jauh ke dalam arus separatisme, dengan upaya yang serius dan kebijakan yang tepat, keadaan damai dan stabil dapat dipulihkan secara signifikan. Semua keberhasilan ini menunjukkan bahwa itikad baik Pemerintah dan penerapan kebijakan rekonsiliasi yang tepat dengan disertai prioritas pembangunan yang terarah ternyata dapat membawa perbaikan yang signifikan bagi pulihnya persatuan bangsa.
02 - 6
di luar kemampuan Pemerintah untuk memenuhinya. Dalam rangka penanganan masalah di Provinsi Papua dan Papua Barat, Pemerintah telah menerbitkan PP No. 24 Tahun 2007 tentang Perubahan Nama Provinsi Irian Jaya Barat menjadi Provinsi Papua Barat. Pada tahun 2008 Pemerintah menerbitkan Perpu No.1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang menjadi dasar hukum keberadaan Provinsi Papua Barat. Sebelumnya, Pemerintah telah menerbitkan Inpres No. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang sering disebut sebagai New Deal Policy for Papua. Inpres ini diterbitkan setelah Pemerintah mempertimbangkan berbagai masukan dan aspirasi masyarakat Papua. Kebijakan tersebut memprioritaskan pemantapan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan akses masyarakat pada pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pelaksanaan kebijakan perlakuan khusus (affirmative action) bagi putra-putri asli Papua, serta peningkatan infrastruktur dasar untuk pengembangan wilayah-wilayah potensial. Kebijakan ini mendapatkan respons positif dari masyarakat Papua. Pelaksanaan kebijakan ini diharapkan dapat menjadi agenda yang efektif dan didukung penuh oleh para gubernur terpilih sebagai hasil pilkada yang dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2006 dengan aman dan tertib.
Majelis Rakyat Papua (MRP) saat ini telah secara signifikan melaksanakan perannya dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Papua. Lembaga ini dibentuk melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 Tahun 2004 tentang MRP pada tanggal 23 Desember 2004 dan dilantik pada Oktober 2005. Dalam rangka meningkatkan kualitas peran dan fungsinya, Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan program pengembangan kapasitas untuk MRP agar eksistensinya memberikan manfaat bagi masyarakat daerah.
peningkatan secara terus-menerus upaya dialog dan komunikasi efektif serta pendampingan terhadap masyarakat, pemberlakuan Inpres No. 6 Tahun 2003 cukup mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah, serta menjadi salah satu pilar yang sangat penting bagi pemulihan keadaan damai yang berkelanjutan di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Setiap Pemerintah daerah diharapkan segera mempersiapkan dan melaksanakan exit strategy sebagai kegiatan tindak lanjut dan keberlanjutan hasil yang telah dicapai melalui pelaksanaan empat tahun Inpres No. 6 tahun 2003, sehingga pada tahun 2008 ini dan tahun 2009 mendatang Maluku dan Maluku Utara sudah dapat sepenuhnya berjalan secara normal dan mandiri.
Dalam hal penyelenggaraan pilkada di Maluku Utara, meskipun terjadi perselisihan yang cukup tajam mengenai hasil Pilkada Gubernur Maluku Utara antara KPU dan KPUD pada akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, dengan mempertimbangkan aspek politik dan hukum, Pemerintah telah menetapkan pemenang Pilkada Gubernur Maluku Utara. Diharapkan semua pihak berbesar hati untuk menerima keputusan Pemerintah sehingga gubernur yang baru dapat segera melaksanakan tugasnya secara seksama untuk kepentingan seluruh masyarakat Maluku Utara.
02 - 8
yang sudah tercapai, sekaligus diharapkan dapat memberikan sumbangan pada proses demokratisasi yang sedang berlangsung.
Terkait dengan kesadaran politik masyarakat, secara umum sudah dipahami, bahwa salah satu sarana penting untuk mengukur adanya kemajuan ataupun kemunduran dalam kesadaran politik masyarakat dan peningkatan rasa saling percaya antarkelompok masyarakat adalah keberhasilan penyelenggaraan pilkada, baik dari segi kredibilitas proses penyelenggaraannya maupun dari kemampuan masyarakat menerima hasil-hasil yang dicapai dalam pilkada. Pilkada merupakan proses yang melibatkan sejumlah besar masyarakat secara langsung. Tinjauan berbagai segi terhadap penyelenggaraan pilkada membuat kita cukup berbesar hati, bahwa kedewasaan masyarakat ternyata cukup tinggi dalam berpolitik. Hal ini dapat dibuktikan dari pilkada di berbagai daerah yang melibatkan masyarakat dengan heterogenitas sosial budaya yang sangat tinggi serta dari berbagai golongan dan partai politik yang ternyata umumnya berakhir dengan sukses dan aman. Dialog, kampanye, perdebatan antar calon, sampai dengan momen pemilihan calon, telah memberikan pembelajaran demokrasi yang penting bagi semua anggota masyarakat.
masyarakat atas hak dan kewajiban sebagai warganegara terutama dalam menghadapi penyelenggaraan Pemilu 2009 mendatang agar pemilu itu berjalan aman dan damai.
Untuk mengatasi perselisihan tentang keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Pemerintah telah melakukan upaya persuasif melalui serangkaian kegiatan dan dialog, agar masalah itu tidak menimbulkan keresahan dalam kehidupan beragama serta tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat. Merespons persoalan JAI ini, pada tanggal 9 Juni 2008 Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Jaksa Agung Nomor 3 Tahun 2008, KEP-033/A/JA/6/2008 dan Nomor 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan Warga Masyarakat. SKB tentang Ahmadiyah ini diharapkan dapat menjadi pedoman bersama seluruh anggota masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan persoalan Ahmadiyah secara damai, jauh dari kekerasan, dan dalam semangat persaudaraan. Pada saat-saat sedang meluasnya kontroversi tentang ajaran Ahmadiyah ini, Pemerintah tetap menjaga sikap bijaksana dengan tetap menghormati urusan keyakinan agama dan kepercayaan warganegara. Pemerintah menginginkan agar persoalan Ahmadiyah diselesaikan tanpa kekerasan. Setiap tindakan kekerasan akan berhadapan dengan hukum.
02 - 10
Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah.
Pemerintah juga terus melakukan pembinaan ideologi dan pengawasan pembangunan dengan melaksanakan kegiatan utama berupa Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air yang bekerja sama dengan ormas, LSM, dan lembaga nirlaba lainnya. Tujuannya adalah mengembangkan dan memperkuat wawasan kebangsaan masyarakat dengan mengoptimalkan peran serta ormas, LSM, dan lembaga nirlaba lainnya. Sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 telah dilaksanakan kerja sama program wawasan kebangsaan dan cinta tanah air dengan 467 ormas, 180 ormas, dan 205 ormas masing-masing untuk tahun 2005, 2006 dan 2007. Upaya kemitraan dan kerja sama dengan ormas akan terus dilaksanakan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang untuk membangun pemahaman dan komitmen kebangsaan yang semakin baik. Berkenaan dengan penanganan pascakonflik di beberapa daerah seperti Papua, NAD, Poso, Maluku dan Kalimantan telah dilakukan pemfasilitasan pembentukan forum kerukunan umat beragama (FKUB) di 21 provinsi, 127 kabupaten, dan 36 kota. Pemerintah juga telah memfasilitasi pembentukan Forum kewaspadaan dini masyarakat (FKDM) di 15 provinsi dan 61 kabupaten/kota, pembentukan Komunitas intelijen daerah (Kominda) di 33 provinsi dan 425 kabupaten/kota, serta forum pembauran kebangsaan (FPK) di provinsi NAD dan Lampung. Mengenai hal lain yang terkait dengan konteks persatuan dan kesatuan bangsa, Pemerintah menerbitkan pula PP No. 77 tahun 2007 tentang lambang daerah sebagai tanda identitas dalam NKRI yang menggambarkan potensi daerah, harapan masyarakat daerah, dan semboyan yang melukiskan semangat untuk mewujudkan harapan dimaksud.
kegiatan-kegiatan sosialisasi politik yang sudah dicanangkan bersama KPU, terutama di dalam menghadapi berbagai proses pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan Pemilu 2009.
Apabila selama beberapa tahun awal pascareformasi persatuan nasional yang mencerminkan kebersamaan bangsa terlihat sangat menurun, perselisihan antar komponen bangsa merebak di berbagai daerah, baik yang menyangkut permasalahan kesukuan, keagamaan maupun kedaerahan, maka dewasa ini perselisihan itu sudah memperlihatkan gejala mereda. Kondisi konflik beberapa tahun terakhir sebenarnya wajar sebagai gejala sosial dari besarnya perubahan sistem politik dan hubungan kelembagaan yang terjadi. Walaupun oleh sebagian pihak kondisi ini dirasa mempunyai korelasi dengan mulai pudarnya penghayatan masyarakat kepada falsafah dan dasar negara Pancasila, banyak pula pihak yang tidak sependapat dengan hal ini. Alasannya adalah bahwa pencapaian yang sudah terjadi dalam sistem politik demokrasi Indonesia justru memperlihatkan kemajuan yang jauh lebih besar dalam hal pengamalan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
02 - 12
Selain terus melindungi kemerdekaan lembaga-lembaga pers dan media massa, Pemerintah terus memperbaiki diri dalam memberi pelayanan informasi kepada publik secara langsung. Seperti pada tahun-tahun lalu, Pemerintah juga tetap meyakini dan sangat menyadari peran bidang komunikasi dan informasi dalam memelihara suasana harmonis dan saling percaya di dalam masyarakat. Peningkatan kualitas layanan informasi dan adanya perluasan akses masyarakat terhadap informasi yang objektif menjadi prasyarat yang sangat penting untuk menjaga harmonisasi di dalam masyarakat. Pemerintah telah dan akan terus melaksanakan kegiatan pelayanan dan penyebarluasan informasi publik bidang polhukam, perekonomian, kesejahteraan rakyat, dan mengelola pendapat umum melalui media cetak, media elektronik, forum dialog, diskusi, seminar, sarasehan, media luar ruang, media tradisional, serta pertunjukan rakyat. Di samping itu, dalam menyebarkan informasi publik, Pemerintah mengembangkan dan memanfaatkan juga jalur kelembagaan komunikasi sosial, kelembagaan komunikasi Pemerintah, komunikasi kelembagaan Pemerintah daerah, dan jalur kemitraan media.
Dalam merajut kembali komunikasi yang berkualitas dengan provinsi dan kabupaten/kota, pada tahun 2005 Pemerintah memberikan bantuan sarana komunikasi kepada 12 kabupaten untuk daerah perbatasan dan daerah tertinggal. Pada tahun 2007 Pemerintah memberikan bantuan dana kegiatan operasional penyebarluasan informasi publik kepada seluruh dinas/badan/bagian infokom/humas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Demikian pula, dengan wilayah pulau-pulau terluar, diperlukan adanya peningkatan pemberdayaan masyarakatnya dalam rangka pemantapan ketahanan nasional, peningkatan kewaspadaan nasional, serta kesadaran kebangsaan masyarakat.
sarana alternatif penyedia informasi dari isu, rumor, bahkan provokasi yang tidak bertanggung jawab dari kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan menciptakan kekacauan, dan konflik berdimensi kekerasan yang berkepanjangan. Sampai dengan tahun 2008 telah dibangun dan dikembangkan media center di 10 provinsi dan 25 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
III. Tindak Lanjut yang Diperlukan
Untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan pembangunan karakter rakyat yang kuat, Pemerintah tetap menempatkan empat pilar penting konsensus bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman tertinggi kehidupan sosial politik seluruh bangsa. Seluruh anggota masyarakat dan organisasi masyarakat sipil hendaknya menghindarkan diri dari sikap-sikap dan perilaku ingin menang sendiri dan tidak mudah tergoda untuk melakukan tindakan main hakim sendiri dalam menyelesaikan persoalan apa saja yang muncul di dalam kehidupan sosial politik.
Pemerintah meyakini, bahwa hanya dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang tercakup di dalam keempat pilar kebangsaan di ataslah, kita akan dapat terus memelihara arah yang benar yaitu arah yang telah disepakati oleh para pendahulu, para bapak pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia. Seluruh unsur bangsa Indonesia perlu memperbarui komitmen bersama untuk mengembangkan identitas dan karakter bangsa dengan merevitalisasi kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
02 - 14
meskipun UUD telah mengalami beberapa kali perubahan, bahwa dalam Pembukaan atau Mukadimah UUD negara selalu dicantumkan Pancasila sebagai dasar negara. Perumusan Pancasila mengalami perubahan pada berbagai UUD, tetapi esensinya tetap tidak berubah.
Pasca bergulirnya gerakan reformasi, Pancasila dilalaikan oleh banyak pihak. Pancasila tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan politik dan tidak lagi digunakan sebagai kerangka penyelesaian masalah nasional. Bahkan banyak pihak bersikap sinis dan takut ditertawakan jika berbicara tentang Pancasila. Untuk mengatasi pemikiran tersebut kiranya dan sudah saatnya Pancasila diangkat kembali di tengah hiruk pikuknya permasalahan bangsa, untuk selanjutnya diimplementasikan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila akan tetap efektif sebagai pedoman bangsa apabila Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga. Pluralitas bangsa Indonesia sudah menjadi kenyataan sehingga perlu kekuatan pemersatu melalui payung semangat Bhinneka Tunggal Ika. Kekuatan pemersatu bukan diposisikan sebagai penyatuan keragaman budaya bangsa, melainkan menjadi semangat dan simbol bagi bekerjanya secara demokratis setiap tradisi dan budaya yang ada. Pancasila sebagai pedoman bangsa justru menemukan efektivitasnya bagi penguatan jati diri dan peningkatan produktivitas bangsa. Untuk menghadapi fenomena mulai dilupakannya Pancasila, diperlukan upaya untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang didasari oleh pemahaman dan penghayatan yang sama atas nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa sekaligus sumber semangat dan kekuatan bangsa sudah seharusnya dijadikan acuan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara. Oleh karena itu, Pancasila perlu disosialisasikan secara berkesinambungan dalam penyelenggaraan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara saat ini dan ke depan yang melibatkan seluruh komponen bangsa.
Amendemen I, II, III dan IV UUD 1945 telah menjadikan konstitusi Indonesia menjadi sebuah konstitusi yang lebih baik, demokratis, dan modern yang berfungsi sebagai panduan dasar dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan berbangsa untuk mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang adil dan makmur dalam wadah NKRI. Semua komponen bangsa wajib memahami, menghayati, dan melaksanakan seluruh ketentuan UUD 1945 yang telah disempurnakan itu yang memiliki makna dan membawa manfaat nyata bagi bangsa.
Proses sejarah perjalanan bangsa secara jelas menggambarkan bahwa pada dasarnya keberadaan bangsa dan negara ini dilandasi oleh kesadaran, semangat, dan tekad. Sejarah menunjukkan bagaimana perjuangan kita sejak tahun 1908 Budi Utomo, tahun 1928 Sumpah Pemuda, hingga kini yang merupakan bukti dari kesadaran dan spirit. Dengan kesadaran yang demikian, ada komitmen yang dituangkan dalam tekad yang puncaknya terjadi pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan lahirnya NKRI dari satu proses sejarah tentang keberadaan bangsa Indonesia.
Derasnya arus globalisasi dengan isu-isu global yang berkembang pada saat ini sebagai satu keniscayaan yang harus direspons mau tidak mau, suka tidak suka pengaruh global akan masuk. Yang penting, bagaimana secara konsisten kita mengorientasikan respons kita terhadap isu global yang memang tidak mungkin tidak masuk karena keniscayaan. Agar orientasi respons isu global tetap berada pada nilai-nilai yang disepakati bersama dan tidak keluar dari kesadaran, semangat tentang keberadaan kita sebagai bangsa yang kemudian bernegara perlu dijaga agar tetap berada dalam bingkai NKRI.
02 - 16
dengan dinamika masyarakat. Pendekatan humanis perlu lebih dikedepankan, kebebasan menyatakan pendapat perlu ditambahkan dan tidak lagi menggunakan pendekatan indoktrinatif. Pancasila bukan milik seseorang atau golongan atau sekedar penemuan satu orang, melainkan benar-benar mempunyai akar di dalam sejarah dan batin seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah RI dengan tegas menyatakan bahwa Pancasila berfungsi sebagai jatidiri dan wujud kepribadian seluruh bangsa. Pancasila janganlah hanya dimiliki, tetapi harus dipahami dan dihayati agar dapat diamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah tetap akan melanjutkan langkah-langkah kebijakan sebelumnya untuk memperbaiki kualitas, kapasitas, dan kredibilitas semua instansi pemerintah dan terus mendorong penegakan supremasi hukum di dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan bersama. Pemerintah juga senantiasa siap memfasilitasi upaya bersama apa saja yang berkaitan dengan peningkatan kesadaran dan pemahaman warganegara untuk berpartisipasi secara aktif dalam mendorong kehidupan kebangsaan yang lebih harmonis dan toleran. Penguatan ruang publik akan tetap menjadi prioritas pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah akan terus meningkatkan koordinasi antarlembaga dalam memelihara suasana damai di daerah yang rawan konflik, dan tidak akan ragu-ragu bertindak tegas untuk menghentikan upaya untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa oleh pihak mana saja. Tindakan adu domba, intimidasi, pemaksaan kehendak melalui kekerasan tidak akan dibiarkan tanpa tindakan hukum dari pihak yang berwenang. Pemerintah akan melakukan pemetaan secara terus-menerus untuk mengantisipasi situasi pro dan kontra atas keseluruhan format dan agenda politik dalam rangka penyelenggaraan Pemilu 2009.
berbahaya bagi persatuan bangsa dan memelihara harmonisasi kehidupan sosial di wilayah tertentu.
Persatuan bangsa dan proses konsolidasi demokrasi adalah dua sisi dari satu mata uang yang harus dipelihara oleh semua anggota masyarakat Indonesia. Apabila salah satu dari kedua hal di atas gagal untuk dijaga secara baik, hal itu berarti seluruh kehidupan sosial politik masyarakat berada dalam bahaya. Hal ini sudah terbukti di sepanjang sejarah Republik Indonesia sejak hari pertama kemerdekaan. Oleh karena itulah, Pemerintah tidak akan menoleransi upaya pemecahbelahan bangsa kita yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Pemerintah juga tidak akan membiarkan terjadinya tindakan ekstrakonstitusional, seperti tindakan-tindakan anarkis dalam menyampaikan pendapat atau mengekspresikan ketidakpuasan oleh kelompok-kelompok tertentu, baik yang berlatar belakang isu keagamaan maupun yang berkaitan dengan isu sosial ekonomi tertentu.
Reformasi politik yang dilakukan untuk menuju Indonesia baru yang demokratis harus bergerak seiring dan searah dengan pencerahan terus menerus terhadap penghayatan kita pada nilai-nilai keindonesiaan. Kita percaya bahwa demokratisasi dan pemantapan persatuan nasional merupakan nilai-nilai yang saling memperkuat kemajuan dan dinamika masyarakat Indonesia di tengah-tengah dinamika pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Persatuan nasional yang tidak memperhatikan nilai-nilai demokratisasi justru akan menjadi bumerang, sedangkan demokratisasi yang tidak terkelola secara baik dapat berubah menjadi anarki yang juga akan berujung pada ketidakharmonisan di dalam masyarakat.
02 - 18