Pemodelan Sistem Grid Computing Bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Cimahi Grid Computing Modeling System for Small and Medium Micro Enterprises in Cimahi
Wina Witanti 1, Asep Id Hadiana 2
1,2 Jurusan Informatika, Fakultas Sains dan Informatika, Universitas Jenderal Achmad Yani
Cimahi, Jawa Barat, Jurusan Informatika, Fakultas Sains dan Informatika, 2 Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat
Email: [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Pemanfaatan teknologi untuk bisnis merupakan hal yang saat ini tidak dapat diabaikan. Semakin banyak informasi yang mengalir dalam segala bentuknya dapat mengakibatkan kegagalan fokus bisnis apabila tidak dicerna dengan baik. Fasilitas yang ada memungkinkan untuk dimanfaatkan dengan maksimal disertai biaya minimal. Salah satu pemanfaatan teknologi ini adalah dengan adanya grid computing. Grid computing merupakan infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak yang dapat menyediakan akses yang bias diandalkan, konsisten, tahan lama dan tidak mahal terhadap kemampuan komputasi mutakhir yang tersedia.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pun dapat memanfaatkan teknologi ini. UMKM adalah usaha produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro.
Bisnis UMKM mulai dari skala rumahan hingga skala yang lebih besar. UMKM di Kota Cimahi memiliki asset komputasi yang terbatas, oleh karenanya aset ini dapat diorganisasikan sedemikian rupa agar dapat saling termanfaatkan dalam tataran sharing resource. Pada penelitian ini dirancang sebuah model grid computing dalam rangkaian pemanfaatan teknologi informasi yang memiliki harapan dapat meningkatan efisiensi sumberdaya komputasinya.
Kata kunci: Teknologi; grid computing; efisiensi; sharing resouce; UMKM.
ABSTRACT
The use of technology for business is something that cannot be ignored at this time. More information flowing in all forms may result in a failure of business focus if it is not processed properly. Existing facilities allow being utilized with the maximum accompanied by minimal costs. One use of this technology is the existence of grid computing. Grid computing is a hardware and software infrastructure that can provide reliable, consis- tent, durable and inexpensive access to the latest computing capabilities available. Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) can also take advantage of this technology. MSMEs are productive businesses owned by individuals and business entities that have met the criteria for micro-businesses. The MSME business starts from home scale to a larger scale. SMEs in the City of Cimahi have limited computing assets, therefore these assets can be organized in such a way that they can be mutually utilized at the level of resource sharing. In this research, a grid computing model is designed in a series of information technology utilization which has the hope of increasing the efficiency of computing resources.
Keywords - Technology; grid computing; efficiency; sharing resource; MSME.
88
1. PENDAHULUAN
Grid computing adalah istilah yang mengacu pada kombinasi sumber daya komputer dari beberapa domain administratif untuk mencapai tujuan bersama[1]. Teknologi grid computing memungkinkan para peneliti memanfaatkan sumber daya komputasi yang telah ada semaksimal mungkin.
Dengan menggunakan teknologi ini, para pebisnis dapat menggabungkan komputer-komputer yang berada di tempat-tempat yang secara geografis terpisah menjadi suatu kesatuan sistem komputer.
Gabungan banyak komputer ini secara keseluruhan mampu menyediakan sumber daya komputasi yang setara atau bahkan lebih dengan komputer berkategori supercomputer. Lebih lanjut, sistem komputer ini dapat digunakan secara bersama-sama oleh para pebisnis yang juga berasal dari daerah yang lokasinya berlainan dan selain itu juga dapat memanfaatkan sumber daya komputasi yang ada seefisien mungkin secara bersama-sama oleh banyak pebisnis tersebut.
Teknologi grid computing merupakan teknologi yang telah dikembangkan dalam waktu yang panjang. Secara evolusi dapat dilihat pengembangan teknologi sejenis mulai dari Condor[2], kemudian diikuti oleh PVM (Parallel Virtual Machine)[3] dan MPI (Message Passing Interface)[4] sampai dengan Globus Toolkit[5]. Sejak awal, para peneliti di bidang komputasi berkinerja tinggi telah menggunakan dua pendekatan[6] yaitu 1) supercomputer, membangun sebuah komputer dengan teknologi perangkat keras berkinerja tinggi, dan 2) multicomputer, membangun sebuah sistem komputer dengan teknologi jaringan interkoneksi dan perangkat lunak. Pendekatan pertama umumnya menghasilkan sebuah komputer yang berkinerja tinggi, tetapi berharga amat mahal sehingga hanya dapat dimiliki oleh segelintir pihak saja. Pendekatan kedua menghasilkan suatu sistem komputer yang kinerjanya bervariasi sesuai jumlah komputer yang tergabung dan konfigurasi perangkat lunak yang digunakan.
Walaupun harga suatu sistem komputer berkinerja tinggi yang dibangun dengan pendekatan multicomputer lebih terjangkau dibandingkan dengan supercomputer, pemakaiannya masih terbatas. Sistem komputer berbasis jaringan tersebut umumnya diterapkan pada komputer-komputer yang terhubung dalam suatu jaringan lokal (LAN).
Penelitian ini dilakukan sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan layanan teknologi informasi yang murah dan dapat dimanfaatkan secara bersama, demikian juga dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (selanjutnya disingkat dengan UMKM) yang dapat meningkatkan produktivitasnya dengan pemanfaatan teknologi ini. Penelitian sebelumnya pernah dibangun framework[7].
Berkaitan dengan grid computing yang akan dirancang modelnya, maka perlu diteliti sejauh mana efektivitas pemanfaatan teknologi informasi dalam
UMKM, sehingga sharing resource selanjutnya dapat dilakukan, dalam hal ini dapat terjadi pada UMKM yang berada pada cluster yang sama. Pada penelitian terlihat sejauhmana pemanfaatan teknologi informasi dalam sejumlah UMKM satu cluster dan membuat sebuah rancangan model yang diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan grid computing pada UMKM.
Salah satu kendala yang terjadi dalam UMKM adalah masalah keamanan jaringan yang belum tertangani dengan baik. Selain itu, sistem perangkat lunak pendukung yang memungkinkan komputer- komputer tersebut bekerja sebagai satu kesatuan umumnya memiliki konfigurasi yang kompleks sehingga penggunanya harus memiliki keahlian tersendiri sebelum dapat memanfaatkan sistem komputer tersebut. Sejalan dengan perkembangan teknologi Internet dan teknologi-teknologi komputer yang berkaitan lainnya seperti protokol komunikasi data, teknologi keamanan jaringan, teknologi pemrograman terdistribusi, dan teknologi bahasa pemrograman yang independen terhadap arsitektur komputer maka sistem komputer berkinerja tinggi berbasis jaringan menjadi lebih mudah untuk diimplementasikan dan digunakan.
Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah rancangan model grid computing bagi UMKM yang terdiri dari infrastruktur (infrastructure), layanan (service) dan berbagai aplikasi (applications) dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya komputasi agar dapat memaksimalkan teknologi yang saat ini ada.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam pelaksanaan penelitian, didasarkan pada penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan grid computing adalah teknologi komputasi terdistribusi yang memanfaatkan sumber daya yang terhubung melalui jaringan komputer secara bebas tapi terkoordinasi dengan mekanisme tertentu. Dengan menyediakan sumber daya yang dapat dipakai bersama dapat mempermudah akses dan meningkatkan Quality of Service[8]. Sebuah konsep baru yaitu grid computing, juga selaras dengan cloud computing yang dapat menyelesaikan masalah dengan solusi sebuah komputasi yang besar pada sebuah organisasi atau perusahaan. Paradigma cloud computing telah mencapai pada kontribusi yang besar dengan sejumlah besar literatur seperti pada[9] dan perbandingan cloud computing disajikan dalam[10], yang mengenali keduanya sebagai komplikasi dan opsi teknis dan non-teknis cloud computing. Penelitian lain juga menyimpulkan bahwa terdapat model evaluasi kinerja untuk suatu usaha mikro dan kecil didasarkan atas prinsip-prinsip manajemen strategis dengan pendekatan sistem [11].
Pemanfaatan teknologi informasi[12][13], membantu terlaksananya otomatisasi kegiatan dalam organisasi.
2.1 Grid Computing
Grid computing adalah penggunaan sumber daya yang melibatkan banyak komputer yang terdistribusi dan terpisah secara geografis untuk memecahkan persoalan komputasi dalam skala besar.
Grid computing memiliki perbedaan yang lebih menonjol dan diterapakan pada sisi infrastruktur dari penyelesaian suatu proses. Grid computing adalah suatu bentuk cluster (gabungan) komputer-komputer yang cenderung tak terikat batasan geografi. Grid computing menawarkan solusi komputasi yang murah, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya yang tersebar dan heterogen serta pengaksesan yang mudah dari mana saja. Globus Toolkit adalah sekumpulan perangkat lunak dan pustaka pembuatan lingkungan komputasi grid yang bersifat open- source. Dengan adanya lingkungan grid computing ini diharapkan mempermudah dan mengoptimalkan eksekusi program-program yang menggunakan pustaka paralel. Grid computing juga merupakan sebuah ‘virtual supercomputer’ yang mampu mendayagunakan seluruh sumber daya teknologi informasi dan komunikasi dalam suatu jaringan secara optimal. Suatu proses dipecah menjadi beberapa bagian lebih kecil dan dikerjakan secara paralel oleh seluruh komputer sehingga diperoleh kecepatan proses yang sangat tinggi. Ini berbeda dengan ide tradisional dari supercomputer yang memiliki banyak prosesor dan dihubungkan secara lokal dengan bus berkecepatan tinggi. Gambaran cara kerja grid computing adalah seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Cara kerja grid computing
[sumber: https://computer.howstuffworks.com/grid-computing.htm]
Penggunaan grid computing untuk perusahaan- perusahaan akan banyak memberikan manfaat, baik manfaat secara langsung maupun tidak langsung.
Beberapa manfaat tersebut antara lain:
a. Grid computing menjanjikan peningkatan utilitas, dan fleksibilitas yang lebih besar untuk sumberdaya infrastruktur, aplikasi dan
informasi daan juga menjanjikan peningkatan produktivitas kerja perusahaan.
b. Grid computing bisa memberi penghematan uang, baik dari sisi investasi modal maupun operating cost–nya.
Beberapa hambatan yang dialami oleh masyarakat Indonesia dalam mengaplikasikan teknologi grid computing adalah sebagai berikut:
a. Manajemen instansi yang terlalu birokratis menyebabkan keengganan untuk merelakan fasilitas yang dimiliki untuk digunakan secara bersama agar mendapatkan manfaat yan lebih besar bagi masyarakat luas.
b. Masih sedikitnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dalam mengelola grid computing. Contohnya kurangnya pengetahuan yang mencukupi bagi teknisi IT maupun user non teknisi mengenai manfaat dari grid computing.
2.2 Perkembangan UMKM di Indonesia yang Berbasis Digital
Hingga tahun 2015, jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memiliki kemampuan e-commerce hanya sembilan persen dari total 57,9 juta UMKM di Indonesia. Hasilnya Kontribusi UMKM ke PDB hanya mencapai 55,6 persen. Tetapi jika tahun 2020, 6 juta UMKM telah berhasil go digital, artinya jumlah UMKM yang berkemampuan e-commerce meningkat menjadi 10-12 persen yang mendorong tambahan 12 persen kontribusi UMKM ke PDB. Hal ini karena potensi pasar digital yang semakin besar. Transaksi e-commerce dunia tumbuh 20,2 persen per tahun. Tahun 2020 nilai transaksi online di Indonesia pun meningkat sembilan kali lipat menjadi Rp1.850 triliun, dibanding tahun 2015 yang hanya Rp 200 triliun[14]. Gambaran perkembangan UMKM berbasis digital di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Perkembangan UMKM Berbasis Digital di Indonesia
[sumber: Bareksa, Kompas.com - 08/09/2017, 09:59 WIB]
3. METODE PENELITIAN
Langkah-langkah utama yang dilakukan pada penelitian ini adalah merancang arsitektur infrastruktur, arsitektur layanan dan arsitektur
90
aplikasi, setelah dilakukan pengumpulan data, analisis data dan analisis sistem berjalan yang kemudian akan dilakukan perancangan lihat Gambar 3.
Pengumpulan Data
Analisis Sistem Berjalan Perancangan
1. Perancangan arsitektur infrastrukur 2. Perancangan arsitektur layanan 3. Perancangan arsitektur aplikasi
Perancangan arsitektur infrastruktur
Perancangan arsitektur
layanan
Perancangan arsitektur
aplikasi
Gambar 3. Langkah-langkah penelitian
3.1 Perancangan Arsitektur Infrastruktur
Arsitektur infrastruktur grid computing yang dibangun menggunakan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Arsitektur infrastruktur grid yang dimodelkan
3.2 Perancangan Arsitektur Layanan
Sistem grid computing menyediakan layanan yang terbagi dalam lima lapisan. Pada arsitektur layanan yang diberikan dengan menggunakan grid computing dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Arsitektur layanan sistem grid computing
Application layer melibatkan pengguna aplikasi yang digunakan pada grid. Tidak semua aplikasi pengguna dapat digunakan pada grid.
Collective layer bertanggung jawab untuk semua pengelolaan sumber daya global dan untuk interaksi dengan sumber daya yang dimiliki. Protokol collective layer menerapkan berbagai perilaku berbagi/sharing.
Resource layer menggunakan komunikasi dan keamanan protokol (didefinisikan oleh lapisan konektivitas) untuk mengendalikan keamanan negosiasi, inisiasi, monitoring, akuntansi, dan pembayaran untuk berbagi fungsi sumber daya individu.
Connectivity layer berisi komunikasi dan otentikasi protokol inti yang diperlukan untuk transaksi pada jaringan grid yang spesifik. Protokol komunikasi memungkinkan pertukaran data antar sumber daya dari fabric layer. Fungsionalitas paling penting pada connectivity layer adalah: transportasi, routing dan penamaan serta dukungan untuk komunikasi yang aman.
Fabric layer terdiri dari sumber daya fisik yang dibagi dalam grid. Sumber daya ini termasuk sumber daya komputasi, sistem penyimpanan, sumber daya jaringan, katalog, modul perangkat lunak, sensor dan sumber daya sistem lainnya.
3.3 Perancangan Arsitektur Aplikasi
Pada Gambar 6 ditunjukkan prinsip layanan rancangan grid yang diusulkan dalam penelitian ini.
Gambar 6. Prinsip layanan rancangan grid computing
Application layer terdiri atas beberapa aplikasi yang mengakses layanan grid. Tidak semua aplikasi pengguna dapat digunakan pada grid.
Dari perspektif pasar, grid middleware adalah produk software tertentu yang ditawarkan di pasar dalam kondisi perizinan tertentu dan diinstal dan diintegrasikan ke dalam infrastruktur yang ada dari perusahaan yang terlibat.
Resource layer dibangun di atas konektivitas lapisan komunikasi dan autentikasi protokol untuk mendefinisikan protokol yang dapat melakukan inisiasi aman, pemantauan, dan pengendalian berbagi operasi pada sumber daya individu.
4. DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Teknologi grid computing merupakan teknologi yang telah dikembangkan dalam waktu yang panjang. Secara evolusi dapat dilihat pengembangan teknologi sejenis mulai dari Condor 0, kemudian diikuti oleh PVM (Parallel Virtual Machine) 0 dan MPI (Message Passing Interface) 0, sampai dengan Globus Toolkit 0. Sejak awal, para peneliti di bidang komputasi berkinerja tinggi telah menggunakan dua pendekatan 0, 1) superkomputer, membangun sebuah komputer dengan teknologi perangkat keras berkinerja tinggi, dan 2) multikomputer, membangun sebuah sistem komputer dengan teknologi jaringan interkoneksi dan perangkat lunak. Pendekatan pertama umumnya menghasilkan sebuah komputer yang berkinerja tinggi, tetapi berharga amat mahal sehingga hanya dapat dimiliki oleh sedikit pihak saja.
Pendekatan kedua menghasilkan suatu sistem komputer yang kinerjanya bervariasi sesuai jumlah komputer yang tergabung dan konfigurasi perangkat lunak yang digunakan. Walaupun harga suatu sistem komputer berkinerja tinggi yang dibangun dengan pendekatan multikomputer lebih terjangkau dibandingkan dengan superkomputer, pemakaiannya masih terbatas.
Berdasarkan pada definisi Ian Foster, sebuah sistem dapat disebut sebagai grid jika sumber daya komputasi (resources) yang ada di dalamnya “tidak”
dikelola secara terpusat. Sederhananya, terdapat beberapa organisasi berbeda yang masing-masing mengelola resource miliknya. Nantinya, resources dari beberapa organisasi tersebut secara dinamis akan dikelompokkan dalam sebuah Virtual Organizations (VO), untuk menyelesaikan suatu permasalahan tertentu. Dalam implementasinya, resources yang digunakan di dalam sebuah sistem grid tidaklah sedikit dan sifatnya pun heterogen. Karena itu, dibutuhkan interface dan protokol standar yang bersifat terbuka. Dengan cara inilah, resources yang ada tersebut dapat saling berkolaborasi untuk menyelesaikan proses komputasi tertentu.
Resource sharing perlu dikendalikan berdasarkan pada rules (aturan) yang telah disepakati antara penyedia sumberdaya dan pengguna sumberdaya.
Kumpulan individu dan/atau instansi yang diatur oleh rules bersama itu disebut virtual organization (organisasi virtual). Pada penelitian ini dimodelkan pengelompokan berdasarkan pada cluster di UMKM dan dapat divisualisasikan seperti pada Gambar 7.
Gambar 7. Organisasi virtual pada sistem grid computing
Layanan grid computing yang diusulkan memiliki perbedaan karakteristik dengan layanan cloud computing yang saat ini ada. Layanan cloud computing memerlukan bandwith yang besar dan stabil, karena karakteristik cloud computing yang centralized, dimana semua berpusat di cloud dan ini memerlukan koneksi internet yang besar dan sering menimbulkan latency. Dalam hal ini, UMKM pada umumnya memiliki keterbatasan dalam hal koneksi internet yang cepat dan stabil, sehingga model grid computing yang diusulkan dalam penelitian ini merupakan solusinya. Grid computing dibangun dengan jalan menggabungkan sistem-sistem grid computing yang berada di instansi-instansi komersial (bisnis) (GRID-2, 3, 4) menjadi satu kesatuan.
Konfigurasi perangkat keras dan perangkat lunak masing-masing sistem di tingkat instansi dapat berbeda, namun dengan mengoperasikan teknologi grid computing seperti GT4 pada simpul-simpul penghubung dari masing-masing sistem, keseluruhan sistem membentuk satu kesatuan infrastruktur grid computing.
Dengan konfigurasi seperti ini, jika dibutuhkan, pengguna di suatu instansi maka dapat memanfaatkan sumber daya komputasi yang berada di luar instansinya. Jika suatu instansi telah mengimplementasikan suatu teknologi grid computing tertentu seperti SUN Grid Engine (SGE) atau teknologi komputasi berbasis jaringan seperti PVM, MPI, Condor maka sistem GT4 dapat dikonfigurasikan untuk berkoordinasi dengan masing- masing teknologi tersebut. Salah satu prasyarat dari pembentukan grid computing adalah tersedianya suatu backbone jaringan berkapasitas besar untuk menghubungkan simpul-simpul penghubung di masing-masing instansi (harus memiliki lebar pita (mulai 2 Mbps sampai dengan 155 Mbps).
92
Sistem grid dikembangkan berdasarkan pada cluster dan jaringan workstation. Jaringan workstation merupakan kumpulan komputer yang terhubung oleh jaringan area lokal berkecepatan tinggi dan dirancang untuk digunakan sebagai sumber daya komputasi atau pemrosesan data yang terintegrasi. Cluster, seperti sebuah sistem akhir individu merupakan entitas yang homogen dimana penyusunannya berbeda terutama dalam konfigurasi, bukan arsitektur dasarnya dan dikendalikan oleh satu entitas administratif yang memiliki kendali penuh atas setiap sistem ujung. Hanya dengan cluster seperti ini, tidaklah mencukupi bagi pemenuhan kebutuhan penggunaan sistem secara bersama, dengan grid yang memiliki jauh lebih banyak fungsi dan manfaat daripada cluster. Beberapa cluster, sejumlah Personal Computer (PC), sekumpulan basisdata (databases), dan beberapa laptop juga superkomputer semuanya terhubung dalam satu koneksi yang dapat saling berbagi (resource sharing) dalam satu sistem yaitu grid computing. Gambaran umum model infrastriktur sistem grid computing dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Gambaran model infrastruktur grid computing
Pada sistem grid computing terdapat beberapa komponen yang satu sama lain memiliki tanggungjawab masing-masing. Komponen grid computing terdiri dari GRAM (Grid Resource Allocation & Management), RFT/Grid FTP (Reliable File Transfer/ Grid File Transfer Protocol), MDS (Monitoring & Discovery Service) dan GSI (Grid Security Infrastructure) seperti yang dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen Grid Computing Komponen Deskripsi Komponen Grid Resource Al-
location & Manage- ment (GRAM)
Komponen ini bertanggung jawab dalam mengelola seluruh sumber daya komputa- si yang tersedia dalam sistem komputasi grid. Pengelolaan ini mencakup ekseku- si program pada seluruh komputer yang tergabung dalam sistem komputasi grid, mulai dari inisiasi, monitoring, sampai penjadwalan (schedulling) dan koordinasi antar-proses. Sistem GT4 berkemampuan untuk bekerja sama dengan sistem-sistem pengelolaan sumber daya komputasi yang telah ada sebelumnya seperti Con- dor, PVM, atau MPI. Dengan mekanisme ini maka program-program yang telah dibangun sebelumnya tidak perlu dibangun ulang atau kalaupun harus dimodifikasi, modifikasinya minimum, jika akan di- jalankan dalam lingkungan grid computing berbasis GT4.
Reliable File Trans- fer/ Grid File Trans- fer Protocol (RFT/
GridFTP)
Komponen ini memungkinkan penggu- na mengakses data yang berukuran besar dari simpul-simpul komputasi yang ter- gabung dalam sistem grid computing se- cara efisien dan dapat diandalkan. Hal ini penting karena kinerja komputasi tidak saja bergantung pada seberapa cepat komput- er-komputer yang tergabung dalam sistem grid computing ini dapat mengeksekusi program, tetapi juga seberapa cepat data yang dibutuhkan dalam komputasi tersebut dapat diakses. Sebagai catatan bahwa, data yang dibutuhkan oleh suatu proses tidak selalu berada pada komputer yang mengek- sekusi proses tersebut.
Monitoring & Dis- covery Service (MDS)
Komponen ini memungkinkan pengguna sistem GT4 melakukan monitoring pros- es komputasi yang tengah berjalan seh- ingga masalah yang timbul dapat segera diketahui. Sementara itu, aspek discovery dari komponen ini memungkinkan peng- guna mengidenti-fikasi keberadaan suatu sumber daya komputasi berikut karakter- istiknya.
Grid Security Infra-
structure (GSI) Komponen ini bertanggung jawab atas kea- manan sistem grid computing secara kes- eluruhan. Komponen ini pula yang merupa- kan salah satu ciri pembeda teknologi GT4 dengan teknologi-teknologi pendahulunya seperti PVM atau MPI. Dengan diterapkan- nya mekanisme keamanan yang terintegrasi dengan komponen-komponen grid comput- ing lainnya, sistem berbasis teknologi grid computing seperti GT4 dapat diakses oleh publik (WAN) tanpa menurunkan tingkat keamanannya. Sistem keamanan GT4 dibangun atas komponen-komponen standar keamanan yang telah teruji, yang mencakup proteksi data, autentikasi, dele- gasi, dan autorisasi. Konfigurasi dasar GT4 mengasumsikan baik pengguna maupun layanan menggunakan standar keamanan yang menggunakan standar kunci publik X.509.
5. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pada hasil penelitian, maka dapat disimpulkan:
a. Pada pemodelan sistem grid computing diperlukan tiga elemen yaitu hardware dan user grid computing, yang bersifat dinamis karena tergantung pada penerapan grid tersebut, dalam hal ini UMKM. Middleware, yang digunakan dalam analisis dan perancangan model sistem ini adalah Globus Toolkit dan Condor dan brainware yang meliputi pemelihara sistem dan user grid.
b. Pada saat memodelkan sistem grid computing, perlu diperhatikan resource sharing yang harus dikendalikan berdasarkan pada rules (aturan) yang telah disepakati antara penyedia sumberdaya dan pengguna sumberdaya dalam hal ini UMKM dalam sebuah organisasi virtual.
6. UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani yang telah mendanai penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] https://stackoverflow.com/questions/1067987/
what-is-the-difference-between-cloud- computing-and-grid-computing, diakses tanggal 10 Januari 2019 pk 17.00 wib.
[2] M. Litzkow, M. Livney, and M. Mutka, “Condor - a hunter of idle workstations,” in Proc. 8th Int’l Conf. on DCS, 1988.
[3] A. Geist, et. Al., “PVM: Parallel Virtual Machine A User’s Guide and Tutorial for Network Parallel Computing,” MIT Press, 1994.
[4] W. Gropp, E. Lusk, and A. Skjellum, “Using MPI: Portable Parallel Programming with the Message Passing Interface, ” MIT Press, 1995.
[5] I. Foster, and C. Kesselman, “Globus: A Metacomputing Infrastructure Toolkit,”
Int’l J. of Supercomputer Applications, 11 (2), 1998.
[6] D. Reed, and R. M. Fujimoto, “Multicomputer Networks: Message-Based Parallel Processing, ” MIT Press, 1987.
[7] W. Witanti, dan F. Renaldi, “Kerangka Kerja Aplikasi Teknologi Informasi
sebagai Acuan dalam Pengembangan dan Implementasi Teknologi Informasi Berbasis Cloud pada UMKM Cimahi”., in Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KoNIK 2013), Universitas Hasanudin, Makassar, Pebruari 2013.
[8] A. F. Nur Arief, Fitriyani, and I. Ummah,
”Implementasi Sistem Grid Computing Berbasis Cluster di Prodi Ilmu Komputasi Cluster-Based Implementation of Grid Computing in Computational Science“, e-Proceeding of Engineering : Vol.3, No.1 April 2016, p. 1081, 2016.
[9] Mora, Manuel, R. V. O Connor, F. Tsui, and J. Marx Gomez. “Design methods for software architectures in the service- oriented computing and cloud paradigms.”
Software: Practice and Experience 48, no.
2, pp: 263-267, 2018.
[10] Armbrust, Michael, A. Fox, R. Griffith, D.J.
Anthony, R. Katz, A. Konwinski, G.
Lee et al. “A view of cloud computing.”
Communications of the ACM 53, no. 4, pp: 50-58, 2010.
[11] R.Oktavina, “Model Manajemen Strategis Evaluasi Kinerja Usaha Mikro dan Kecil Makanan Ringan, Jurnal Ekonomi Bisnis, Vol. 14 No. 2, pp 88-102, 2009.
[12] W.Witanti, “Kajian Mengenai Pemanfaatan Teknologi Virtualisasi pada Sebuah Perusahaan”., in Seminar Nasional dan Expo Teknik Elektro 2013 (SNETE 2013), Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Agustus 2013.
[13] T. Harihayati, dan W.Witanti, 2012., “Analisis Pemanfaatan Teknologi Informasi dengan Menggunakan Technology Acceptance Model (Studi Kasus Rumah Sakit X)”, in Konferensi Nasional Sistem Informasi 2012 (KNSI 2012), STMIK STIKOM Bali, Denpasar, Pebruari 2012.
[14] INFOGRAFIK, Begini Potensi 6 Juta UMKM Jika Berhasil Go Digital, https://biz.
kompas.com/read/2017/09/08/095925428/
infografik-begini-potensi-6-juta-umkm- jika-berhasil-go-digital, diakses pada tanggal 2 Februari 2019 pk. 13.00 wib.