III.1 Umum
Dalam suatu perencanaan instalasi pengolahan air minum perlu ditentukan kebutuhan air minum di wilayah perencanaan tersebut. Kebutuhan air minum dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu:
1. Daerah pelayanan 2. Periode perencanaan 3. Proyeksi jumlah penduduk
4. Proyeksi berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial 5. Pola pemakaian air penduduk setempat
Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi besar kebutuhan air minum dari wilayah perencanaan dan tentu saja menjadi acuan desain perencanaan instalasi pengolahan air minum yang dibutuhkan.
III.2 Daerah Pelayanan
Kebutuhan air minum di wilayah perencanaan sangat tergantung kepada kondisi daerah pelayanan yang menjadi tujuan perencanaan. Daerah pelayanan yang ditentukan dalam perencanaan ini adalah wilayah Kecamatan Garut Kota, Kecamatan Tarogong Kaler, dan Kecamatan Tarogong Kidul, yang termasuk dalam wilayah perkotaan Garut atau disebut Kota Garut, dengan pertimbangan :
x Merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi
x Merupakan wilayah perkotaan dengan perkembangan yang pesat dan memerlukan pelayanan air bersih yang mencukupi
x Aspek teknis seperti topografi yang menentukan proses distribusi
III.3 Periode Perencanaan
Periode perencanaan merupakan jangka waktu yang diberikan kepada instalasi pengolahan untuk dapat melayani kebutuhan air masyarakat di wilayah perencanaan. Periode perencanaan instalasi pengolahan air minum pada umumnya adalah 20-25 tahun. Pada perencanaan ini ditetapkan 20 tahun sebagai periode perencanaan yaitu hingga tahun 2028. Periode perencanaan ini diambil dengan pertimbangan bahwa perkembangan penduduk di masa mendatang dapat diprediksi dengan lebih baik untuk periode 20 tahun. Selain itu, dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Garut, analisis rencana pengembangan kota berdasarkan proyeksi penduduk dilakukan hingga tahun 2027.
III.4 Proyeksi Jumlah Penduduk
Prediksi jumlah penduduk di masa yang akan datang sangat penting dalam memperhitungkan jumlah kebutuhan air minum di masa yang akan datang.
Prediksi ini didasarkan pada laju perkembangan kota dan kecenderungannya, arahan tata guna lahan serta ketersediaan lahan untuk menampung perkembangan jumlah penduduk.
Dengan memperhatikan laju perkembangan jumlah penduduk masa lampau, maka metode statistik merupakan metode yang paling mendekati untuk memperkirakan jumlah penduduk di masa mendatang. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisa perkembangan jumlah penduduk di masa mendatang yaitu :
1. Aritmatika 2. Geometrik 3. Regresi Linear 4. Eksponensial 5. Logaritmik
III.4.1 Metode Aritmatika
Metode ini biasanya disebut juga dengan rata-rata hilang. Metode ini digunakan apabila data berkala menunjukkan jumlah penambahan yang relatif sama tiap tahun. Hal ini terjadi pada kota dengan luas wilayah yang kecil, tingkat pertumbuhan ekonomi kota rendah dan perkembangan kota tidak terlalu pesat.
Rumus metode ini adalah :
¦
u
N
i
i i
n n
N P r P
T T r P P
1
) 1 (
0
0 ( )
dimana :
Pn = Jumlah penduduk yang diproyeksikan pada tahun ke-n P0 = Jumlah penduduk tahun dasar
r = Kenaikan rata-rata jumlah penduduk Tn = Tahun ke-n
T0 = Tahun dasar N = Jumlah data diketahui
III.4.2 Metode Geometrik
Untuk keperluan proyeksi penduduk, metode ini digunakan bila data jumlah penduduk menunjukkan peningkatan yang pesat dari waktu ke waktu.
Rumus metode geometrik :
N P
P Pi r
r P P
N
i i
i n n
¦
1
) 1 ( 0(1 )
dimana :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun yang diproyeksikan
r = Rata-rata angka pertumbuhan penduduk tiap tahun n = Jangka waktu
N = Jumlah data diketahui
III.4.3 Metode Regresi Linear
Metode regresi linear dilakukan dengan menggunakan persamaan :
2 2
2 2
2
) ( ) (
) (
) (
x x
N
y x xy
b N
x x
N
xy x x
a y
bx a y
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
III.4.4 Metode Eksponensial
Metode eksponensial dilakukan dengan menggunakan persamaan :
2
2) ( )
(
) ln (
) ln (
) ln
1 ( ln
x x
N
y x y
x b N
x b N y
a e a
y bx
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
III.4.5 Metode Logaritmik
Metode logaritmik dilakukan dengan menggunakan persamaan :
2
2 ( ln )
) (ln
ln )
ln (
)]
(ln 1[
ln
x x
N
x y x y b N
x b N y
a
x b a y
¦
¦
¦
¦
¦
¦
¦
III.4.6 Dasar Pemilihan Metode Proyeksi Penduduk
Untuk menentukan metode paling tepat yang akan digunakan dalam perencanaan, diperlukan perhitungan faktor korelasi, standar deviasi dan keadaan perkembangan kota di masa yang akan datang. Koefisien
korelasi dan standar deviasi diperoleh dari hasil analisa dan perhitungan data kependudukan yang ada dengan data penduduk dari perhitungan metode proyeksi yang digunakan.
Korelasi, r, dapat dihitung dengan menggunakan rumus : r2 =
¦ ¦ ¦
2 2 2
) (
) ( ) (
r n
n r
n
P P
P P P
P
Kriteria korelasi adalah sebagai berikut :
x r < 0, korelasi kuat, tetapi bernilai negatif dan hubungan diantara keduanya berbanding terbalik.
x r = 0, kedua data tidak memiliki hubungan.
x r > 1, terdapat hubungan positif dan diperoleh korelasi yang kuat, diantara kedua variabel memiliki hubungan yang berbanding lurus.
Standar deviasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
STD = ( )2
>
( )2/@
1/2»
¼
« º
¬
ª
¦
¦
n
n P P P
Pn n
Metode proyeksi yang dipilih adalah metode dengan nilai standar deviasi terendah dan koefisien korelasi paling besar. Pola perkembangan kota sesuai dengan fungsi kota di masa mendatang juga dijadikan acuan dalam menentukan metode proyeksi. Pada umumnya fungsi sebuah kota dapat menunjukkan kecenderungan pertambahan penduduk di masa mendatang.
III.4.7 Pemilihan Proyeksi Jumlah Penduduk
Dengan menggunakan lima metode yang telah dijelaskan sebelumnya maka diperoleh hasil proyeksi jumlah penduduk hingga tahun 2028 yang ditunjukkan oleh Tabel 3.1. Rincian perhitungan diberikan pada bagian
Tabel 3.1 Analisa Statistik Jumlah Penduduk di Kecamatan Garut Kota
Tahun Metode Aritmatik
Metode Geometrik
Metode Regresi Linear
Metode Eksponensial
Metode Logaritmik 1997
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
113560 114679 115797 116916 118035 119154 120272 121391 122510 123628 124747
113560 114617 115684 116761 117848 118945 120052 121170 122298 123436 124585
111967 113147 114327 115506 116686 117866 119046 120225 121405 122585 123765
112067 113192 114328 115475 116633 117804 118986 120179 121385 122603 123833
111963 113145 114327 115508 116689 117869 119048 120227 121405 122583 123760 R2 0,822866801 0,842698935 0,941456642 0,944349647 0,94126976
R 0,907120059 0,917986348 0,970286886 0,971776541 0,970190579 STD 1510,729313 1385,945809 860,6716097 836,838156 862,0045828 Sumber : Lampiran A
Tabel 3.2 Analisa Statistik Jumlah Penduduk di Kecamatan Garut Kota
Tahun Metode Aritmatik
Metode Geometrik
Metode Regresi Linear
Metode Eksponensial
Metode Logaritmik 1997
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
122517 127512 132507 137502 142497 147493 152488 157483 162478 167473 172468
122517 126577 130772 135107 139584 144210 148990 153927 159029 164299 169745
116931 123005 129080 135155 141229 147304 153378 159453 165528 171602 177677
118389 123448 128724 134224 139960 145941 152178 158681 165462 172532 179905
116907 122995 129081 135163 141243 147319 153392 159462 165530 171594 177655 R2 0,856539826 0,782081348 0,934650072 0,926592687 0,934717409
R 0,925494368 0,884353633 0,96677302 0,962596845 0,966807845 STD 5704,895686 6725,909346 4682,141657 5023,374841 4679,89 Sumber : Lampiran A
Kedua tabel di atas menunjukkan nilai korelasi dan standar deviasi yang berbeda antara kedua kecamatan. Berdasarkan Tabel 3.1., metode proyeksi yang paling tepat digunakan untuk memperkirakan jumlah penduduk
Kecamatan Garut Kota pada masa yang akan datang adalah metode eksponensial karena metode ini memiliki nilai faktor korelasi positif yang paling besar dan nilai standar deviasi paling kecil. Oleh karena itu metode eksponensial dianggap metode yang paling menggambarkan kondisi penduduk Kecamatan Garut Kota 20 tahun mendatang dan akan digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk pada periode perencanaan.
Sedangkan pada Tabel 3.2., metode yang memiliki nilai faktor korelasi positif yang paling besar dan nilai standar deviasi paling kecil adalah metode logaritmik, dan metode ini yang akan digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk Kecamatan Tarogong Kaler dan Tarogong Kidul pada periode perencanaan. Hasil proyeksi penduduk selama periode perencanaan ditunjukkan oleh tabel 3.3 dan gambar 3.4.
Proyeksi penduduk juga perlu mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang dan Wilayah yang telah ditetapkan untuk wilayah perencanaan.
Hasil proyeksi penduduk diharapkan tidak akan melebihi kapasitas maksimum dari wilayah perencanaan. Dalam Rencana Detail Tata Ruang Wilayah ditetapkan beberapa asumsi berdasarkan konsep pola hunian di Kota Garut yang digunakan untuk menentukan jumlah penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh suatu wilayah.
Pemenuhan kebutuhan hunian dilakukan melalui konsep Lingkungan Hunian Berimbang yaitu komposisi 1 : 3 : 6 untuk jumlah kebutuhan rumah menurut tipenya (besar : sedang : kecil). Luas kavling tiap tipe rumah yaitu tipe besar seluas 200 m2, tipe sedang seluas 120 m2, dan tipe kecil seluas 90 m2. Alokasi penggunaan lahan untuk kawasan pemukiman ditetapkan ±35 % dari total luas Kota Garut. Wilayah perencanaan memiliki total wilayah seluas 83,164 km2 dengan alokasi penggunaan lahan untuk huniannya adalah seluas 29,1074 km2. Dengan menggunakan asumsi yang telah ditetapkan dalam RDTR Kota Garut maka:
x Total luas lahan yang dapat digunakan untuk setiap tipe rumah:
Besar : 29,1074km2 2,91074km2 2910740m2 10
1 u
Sedang : 29,1074km2 8,73222km2 8732220m2 10
3 u
Kecil : 29,1074km2 17,46444km2 17464440m2 10
6 u
x Jumlah rumah yang dapat dibangun untuk setiap lahan peruntukan:
Besar : 14554rumah
m 200
m 2910740
2 2
Sedang : 72769rumah
m 120
m 8732220
2 2
Kecil : 194049rumah
m 90
m 17464440
2 2
Total hunian yang ada di lahan perkotaan berdasarkan rencana alokasi adalah 281372 rumah. Dengan asumsi jumlah jiwa per rumah adalah 4 orang maka total penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh wilayah perencanaan adalah 1125488 jiwa.
Tabel 3.3 Proyeksi Jumlah Penduduk Kecamatan Garut Kota 2008-2028
Tahun Metode Aritmatika
Metode Geometrik
Metode Regresi Linear
Metode Eksponensial
Metode Logaritmik 1997 113560 113560 113560 113560 113560 1998 113179 113179 113179 113179 113179 1999 113197 113197 113197 113197 113197 2000 114471 114471 114471 114471 114471 2001 116573 116573 116573 116573 116573 2002 118168 118168 118168 118168 118168 2003 120044 120044 120044 120044 120044 2004 118947 118947 118947 118947 118947 2005 120831 120831 120831 120831 120831 2006 122807 122807 122807 122807 122807 2007 124747 124747 124747 124747 124747 2008 125869 125322 124944 125076 124936 2009 126988 126450 126124 126331 126112 2010 128107 127588 127304 127599 127287 2011 129226 128737 128484 128879 128462 2012 130345 129895 129663 130172 129636 2013 131464 131064 130843 131478 130809 2014 132583 132244 132023 132797 131982 2015 133702 133434 133203 134130 133155 2016 134821 134635 134382 135476 134326 2017 135940 135847 135562 136835 135497 2018 137059 137069 136742 138208 136668 2019 138178 138303 137921 139595 137838 2020 139297 139548 139101 140995 139007 2021 140416 140803 140281 142410 140176 2022 141535 142071 141461 143839 141345 2023 142654 143349 142640 145282 142512 2024 143773 144639 143820 146740 143679 2025 144892 145941 145000 148212 144846 2026 146011 147255 146180 149699 146012 2027 147130 148580 147359 151201 147177 2028 148249 149917 148539 152718 148342 Sumber : Lampiran A
Tabel 3.4 Proyeksi Jumlah Penduduk Kecamatan Tarogong 2008-2028
Tahun Metode Aritmatika
Metode Geometrik
Metode Regresi Linear
Metode Eksponensial
Metode Logaritmik 1997 122517 122517 122517 122517 122517 1998 122345 122345 122345 122345 122345 1999 122112 122112 122112 122112 122112 2000 127573 127573 127573 127573 127573 2001 139741 139741 139741 139741 139741 2002 152550 152550 152550 152550 152550 2003 159675 159675 159675 159675 159675 2004 164485 164485 164485 164485 164485 2005 167090 167090 167090 167090 167090 2006 169785 169785 169785 169785 169785 2007 172468 172468 172468 172468 172468 2008 172295 169274 183751 187593 183713 2009 177290 174860 189826 195609 189768 2010 182285 180630 195901 203968 195820 2011 187280 186591 201975 212684 201869 2012 192275 192748 208050 221773 207916 2013 197270 199109 214124 231250 213959 2014 202265 205680 220199 241132 219999 2015 207260 212467 226274 251436 226036 2016 212255 219479 232348 262181 232070 2017 217250 226721 238423 273385 238101 2018 222245 234203 244497 285067 244129 2019 227240 241932 250572 297249 250154 2020 232235 249916 256647 309951 256176 2021 237230 258163 262721 323196 262196 2022 242225 266682 268796 337007 268212 2023 247220 275483 274870 351409 274225 2024 252215 284574 280945 366425 280235 2025 257210 293965 287020 382084 286243 2026 262205 303665 293094 398411 292247 2027 267200 313686 299169 415437 298248 2028 272195 324038 305244 433189 304247 Sumber : Lampiran A
Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk Kecamatan Garut Kota
100000 105000 110000 115000 120000 125000 130000 135000 140000 145000 150000
1990 2000 2010 2020 2030
Tahun
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Aritmatika Geometrik Regresi Linear Eksponensial Logaritmik
Gambar 3.1 Proyeksi Penduduk Kecamatan Garut Kota
Grafik Proyeksi Jumlah Penduduk Kecamatan Tarogong
100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000
1990 2000 2010 2020 2030 Tahun
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Aritmatika Geometrik Regresi Linear Eksponensial Logaritmik
Gambar 3.2 Proyeksi Penduduk Kecamatan Tarogong
Berdasarkan hasil proyeksi dengan metode proyeksi terpilih, jumlah penduduk pada akhir periode perencanaan adalah 456965 jiwa. Jumlah penduduk ini tidak melebihi jumlah penduduk maksimal yang dapat ditampung oleh wilayah perkotaan daerah perencanaan berdasarkan RDTR Kota Garut sehingga hasil proyeksi dengan menggunakan metode
eksponensial untuk Kecamatan Garut Kota dan metode logaritmik untuk Kecamatan Tarogong Kaler dan Tarogong Kidul dapat digunakan.
III.5 Proyeksi Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial
Proyeksi fasilitas umum dan fasilitas sosial digunakan untuk menentukan kebutuhan air non domestik. Proyeksi dilakukan dengan mengacu kepada karakteristik wilayah perencanaan, RDTR yang telah ditetapkan, dan standar penduduk pendukung untuk setiap fasilitas umum dan fasilitas sosial yang telah ditetapkan oleh Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum.
III.5.1 Fasilitas Pendidikan
Pada umumnya fasilitas pendidikan telah mencukupi kebutuhan dan penyebarannya cukup merata. Dari tingkat SD sampai SMU, fasilitas yang ada telah mencukupi kebutuhan bahkan hingga akhir periode perencanaan.
Hasil proyeksi fasilitas pendidikan ditunjukkan oleh Tabel 3.3.
Tabel 3.5 Proyeksi Fasilitas Pendidikan Fasilitas
Pendidikan
Standar Populasi
2007 2018 2028 Jml
Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas TK, RA 1000 297215 97 382337 382 456965 457 SD, MI 6000 297215 171 382337 171 456965 171 SMP, MTs 25000 297215 44 382337 44 456965 44 SMU, MA,
SMK 30000 297215 39 382337 39 456965 39 PT 70000 297215 3 382337 5 456965 7 Sumber : Lampiran B
III.5.2 Fasilitas Peribadatan
Fasilitas peribadatan sudah cukup menyebar dan memenuhi kebutuhan.
Penambahan fasilitas perlu dilakukan akibat tuntutan pertambahan jumlah penduduk. Jumlah penganut agama Kristen yang cukup banyak menuntut
diperlukan adanya pembangunan gereja. Hasil proyeksi fasilitas peribadatan ditunjukkan oleh Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Proyeksi Fasilitas Peribadatan Fasilitas
Peribadatan
Standar Populasi
2007 2018 2028 Jml
Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas Pondok
pesantren 25000 297215 43 382337 43 456965 43 Mesjid 3000 297215 434 382337 434 456965 434 Langgar 500 297215 515 382337 765 456965 914 Mushola 1000 297215 278 382337 382 456965 457 Gereja 30000 297215 7 382337 13 456965 15 Vihara 30000 297215 1 382337 13 456965 15 Pura 30000 297215 - 382337 13 456965 15 Sumber : Lampiran B
III.5.3 Fasilitas Kesehatan
Fasilitas ini dikembangkan dengan pertimbangan utama tingkat pelayanan yang maksimal dengan mendekati daerah perumahan penduduk. Hasil proyeksi fasilitas kesehatan ditunjukkan oleh Tabel 3.7.
Tabel 3.7 Proyeksi Fasilitas Kesehatan Fasilitas
Kesehatan
Standar Populasi
2007 2018 2028 Jml
Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas
Jml Pddk
Jml Fasilitas Puskesmas
DTP, Puskesmas Lengkap
120000 297215 10 382337 10 456965 10
Puskesmas
Pembantu 10000 297215 13 382337 38 456965 46 Balai
Pengobatan 3000 297215 25 382337 127 456965 152 BKIA 3000 297215 9 382337 127 456965 152 Apotek 10000 297215 21 382337 38 456965 46 Rumah
Sakit 240000 297215 2 382337 2 456965 2 Sumber : Lampiran B
III.5.4 Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Tabel 3.8 Proyeksi Fasilitas Perdagangan dan Jasa Fasilitas
Perdag&Jasa
Standar Populasi
2007 2018 2028
Jml Pddk
Jml Fas
Jml Pddk
Jml Fas
Jml Pddk
Jml Fas Wrg/Toko/Kios 250 297215 6670 382337 6670 456965 6670 Pasar 30000 297215 1 382337 13 456965 15 Bank/Lembaga
Keu. 30000 297215 18 382337 18 456965 18 Koperasi 30000 297215 100 382337 100 456965 100 Rumah makan 7000 297215 67 382337 67 456965 67 Sumber : Lampiran B
III.5.5 Fasilitas Umum, Rekreasi, dan Olahraga
Tabel 3.9 Proyeksi Fasilitas Umum, Rekreasi, dan Olahraga
Fasilitas Umum, Rekreasi, dan OR
Standar Populasi
2007 2018 2028
Jml Pddk
Jml Fas
Jml Pddk
Jml Fas
Jml Pddk
Jml Fas Umum
Instansi/Kantor Pemerintahan (Kabupaten)
297215 38 382337 38 456965 38 Instansi/Kantor
Pemerintahan (Kecamatan)
297215 39 382337 39 456965 39 BUMN/D 297215 7 382337 7 456965 7 Terminal 297215 2 382337 2 456965 2 Rekreasi dan OR
Bioskop 297215 297215 1 382337 1 456965 2 Sanggar Kesenian 9288 297215 32 382337 41 456965 49 Kantor Pos 297215 297215 1 382337 1 456965 2 Kantor Polisi 99072 297215 3 382337 4 456965 5 Hotel/Penginapan 24768 297215 12 382337 15 456965 18 Lapangan OR
(skala lingkungan) 30000 297215 382337 13 456965 15 Lapangan OR 60000 297215 1 382337 6 456965 8 Stadion 250000 297215 382337 2 456965 2 Sumber : Lampiran B
III.5.6 Kegiatan Industri
Kegiatan industri di Kabupaten Garut pada umumnya cukup banyak, diataranya adalah industri penyamakan kulit, industri kerajinan tangan, dan industri pangan yang memproduksi makanan-makanan khas Garut dan menjadi objek wisatawan. Hasil proyeksi kegiatan industri ditunjukkan oleh Tabel 3.10.
Tabel 3.10 Proyeksi Kegiatan Industri Kegiatan
Industri
Standar Populasi
2007 2018 2028 Jml
Pend
Jml Fas
Jml Pend
Jml Fas
Jml Pend
Jml Fas Industri Besar
dan Sedang 1607 297215 185 382337 238 456965 284 Industri Kecil 655 297215 454 382337 584 456965 698 Industri Rumah
Tangga 622 297215 478 382337 615 456965 735 Sumber : Lampiran B
III.6 Proyeksi Kebutuhan Air Minum
Proyeksi kebutuhan air minum dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat menunjang atau menyebabkan pertambahan kebutuhan air minum. Faktor-faktor tersebut adalah :
x Pertambahan jumlah penduduk x Tingkat sosial ekonomi penduduk x Keadaan iklim daerah setempat
x Rencana daerah pelayanan dan perluasannya
Untuk memperkirakan kebutuhan air minum kota maka dapat diklasifikasikan beberapa jenis pemakaian air yaitu adalah :
1. Pemakaian untuk kebutuhan domestik/rumah tangga 2. Pemakaian untuk kebutuhan nondomestik
3. Pemakaian untuk keperluan perkotaan
III.6.1 Standar Kebutuhan Air Minum
Tabel 3.11 Standar Kebutuhan Air Minum Menurut PU Cipta Karya No. Jenis Pemakaian Satuan Kebutuhan
1 Sambungan Rumah L/o/h 150 2 Hidran Umum L/o/h 30
3 Sekolah L/murid/h 10
4 Kantor L/peg/h 10
5 Rumah Sakit L/tt/h 200
6 Puskesmas L/unit/h 2000
7 Pasar m³/hektar/h 12
8 Restoran L/kursi/h 100
9 Hotel/Penginapan L/tt/h 150 Sumber : PU Cipta Karya, 1998
Tabel 3.12 Standar Kebutuhan Air Minum Menurut PPSAB Jawa Barat No. Jenis Pemakaian Satuan Kebutuhan
1 Sambungan Rumah L/o/h 100-200 2 Hidran Umum L/o/h 30-40
3 Sekolah L/murid/h 15-30
4 Kantor L/peg/h 40-80
5 Mesjid L/unit/h 800-2000
6 Langgar L/unit/h 300-1000 7 Gereja L/unit/h 200-600 8 Pura/Vihara L/unit/h 100-500 9 Pesantren L/unit/h 5000
10 Rumah Sakit L/tt/h 200-400 11 Puskesmas L/unit/h 1000-2000 12 Puskesmas Pembantu L/unit/h 800-1200 13 BKIA/RS. Bersalin L/unit/h 600-1000 14 Balai Pengobatan L/unit/h 1000-2000
15 Apotek L/unit/h 100
16 Bank L/unit/h 1100-1500 17 Warung/Toko L/unit/h 6-12 18 Pasar L/unit/h 2500-5000 19 Koperasi L/unit/h 500-1000
20 Asuransi L/unit/h 1100
21 Terminal L/unit/h 2000-4500 22 Supermarket L/unit/h 1500-2500 23 Restoran L/kursi/h 40-140
24 Bioskop L/unit/h 1000-3000 25 Gedung Serba Guna L/unit/h 1000-3000
26 Balai Pertemuan L/unit/h 2000 27 Kantor Pos L/unit/h 2000 28 Kantor Polisi L/unit/h 2000 29 Hotel/Penginapan L/tt/h 75-150 30 Gelanggang Olahraga L/unit/h 1200-1600
31 Industri L/o/h 20-30
Sumber : PPSAB, Jawa Barat
Untuk menentukan jumlah konsumsi air dapat juga digunakan pedoman perencanaan penentuan jumlah konsumsi air yang diberikan oleh Iwaco- Waseco seperti ditunjukkan oleh Tabel 3.13.
Tabel 3.13 Pedoman Perencanaan Jumlah Konsumsi Air (dalam L/org/hari)
Populasi Sat.
Domestik
Non Domestik
Kehilangan Air
Rata- rata SR HU Rata-
rata
>1000000 L/o/h 210 30 120 72 78 240 500000-
1000000 L/o/h 170 30 100 40 35 175 100000-
500000 L/o/h 150 30 90 27 29 146 20000-
100000 L/o/h 90 30 60 12 18 90
<20000 L/o/h 60 30 45 2,5 12 60 Sumber : Iwaco-Waseco, 1990
III.6.2 Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik ialah pemakaian air untuk aktivitas di lingkungan rumah tangga. Penyediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dihitung berdasarkan :
x Jumlah penduduk
x Persentase jumlah penduduk yang akan dilayani x Cara pelayanan air
x Konsumsi pemakaian air
Berdasarkan cara pelayanan air minum maka kebutuhan air domestik terbagi menjadi dua jenis yaitu Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU).
III.6.2.1 Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah
Sambungan rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang menyediakan air langsung ke rumah-rumah dengan menggunakan sambungan pipa-
dalam rumah. Pelayanan air minum dengan menggunakan sambungan rumah ditujukan bagi warga yang telah menempati rumah permanen.
Golongan masyarakat ini akan sanggup membayar air untuk mendapatkan air bersih demi kesehatan. Biasanya yang termasuk golongan ini adalah golongan ekonomi kelas menengah hingga atas.
Selama periode perencanaan, diperkirakan jumlah rumah permanen akan meningkat sesuai dengan fungsi kota yaitu sebagai pusat industri dan permukiman. Fungsi kota ini berpengaruh kepada perekonomian masyarakat yang diperkirakan akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Proyeksi kebutuhan air untuk sambungan rumah ditunjukkan oleh Tabel 3.14.
III.6.2.2 Kebutuhan Air untuk Hidran Umum
Hidran umum adalah jenis sambungan yang menyediakan air melalui kran yang dipasang di suatu tempat tertentu agar mudah dipergunakan oleh masyarakat umum untuk mencukupi kebutuhan mandi, cuci dan minum. Pelayanan air minum ini ditujukan bagi masyarakat dengan golongan ekonomi bawah atau menempati rumah non permanen yaitu rumah yang terbuat dari bambu atau kayu. Golongan ini berpenghasilan rendah dan lebih mengutamakan penggunaan air tanah yang bebas biaya sehingga tingkat penggunaan air dengan sumber air permukaan akan menjadi sangat rendah karena memerlukan biaya.
Jumlah penduduk yang menempati rumah non permanen di masa mendatang akan mengalami penurunan karena diperkirakan akan terjadi peningkatan kondisi perekonomian masyarakat. Proyeksi kebutuhan air untuk hidran umum ditunjukkan oleh Tabel 3.14.
Tabel 3.14 Proyeksi Kebutuhan Air untuk Sambungan Rumah dan Hidran Umum
Jenis Samb.
Standar Keb. Air Minum (L/o/hr)
2007 2018 2028
Pddk (Jiwa)
Keb. Air (L/hr)
Pddk (Jiwa)
Keb. Air (L/hr)
Pddk (Jiwa)
Keb. Air (L/hr) SR 139 237772 33050308 305870 42515930 365572 50814508 HU 30 59443 1783290 7647 2294010 91393 2741790 Total (L/hari) 34833598 44809940 53556298
(L/det) 403,17 518,63 619,86
Sumber : Lampiran B
III.6.3 Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air non domestik merupakan kebutuhan air yang digunakan oleh berbagai fasilitas penunjang kegiatan masyarakat. Jumlah kebutuhan air non domestik selama periode perencanaan ditunjukkan oleh Tabel 3.15.
Tabel 3.15 Proyeksi Kebutuhan Air Non Domestik
Jenis Fasilitas
2007 2018 2028
Jml Fas
Keb. Air Minum
Jml Fas
Keb. Air Minum
Jml Fas
Keb. Air Minum Fasilitas Pendidikan 354 1522650 642 1784993 717 1854557 Fasilitas Peribadatan 1278 759900 1662 854051 1894 911017 Fasilitas Kesehatan 80 53300 343 248642 408 295222
Fasilitas Perdag. &Jasa 6856 7964320 6868 7993681 6870 7999900 Fasilitas Umum,
Rekreasi, dan Olahraga 136 815200 170 861000 186 895744 Kegiatan Industri 1117 1756150 1437 2259109 1717 2700063
Total L/hari 12871520 14001476 14656503 L/dtk 148,98 162,05 169,64 Sumber : Lampiran B
III.6.4 Kebutuhan Air untuk Keperluan Kota
Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan terbagi menjadi dua bagian yaitu untuk :
x Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran adalah hidran yang digunakan untuk mengambil air jika terjadi kebakaran. Menurut Al-Layla (1977), kebutuhan air untuk hidran kebakaran dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = 3860 P(10.01 P) dimana :
Q = debit kebutuhan (L/menit) P = populasi dalam ribuan
Pada perencanaan ini ditentukan bahwa kebutuhan air untuk hidran kebakaran adalah 5 % dari total kebutuhan air.
x Tata Kota
Kebutuhan air untuk tata kota meliputi kebutuhan air bagi pemeliharaan taman-taman di wilayah perencanaan. Jumlah air yang disediakan adalah 5% dari total kebutuhan air.
III.6.5 Rekapitulasi Kebutuhan Air di Wilayah Perencanaan
Total kebutuhan air berdasarkan hasil proyeksi kebutuhan air domestik, kebutuhan air non domestik, serta kebutuhan untuk keperluan perkotaan di wilayah perencanaan ditunjukkan oleh Tabel 3.16.
Tabel 3.16 Rekapitulasi Kebutuhan Air
Jenis 2007 2008 2028
Kebutuhan Domestik
1. Sambungan Rumah 33050308 42515930 50814508 2. Hidran Umum 1783290 2294010 2741790 Total Kebutuhan Air (L/hari) 34833598 44809940 53556298 Total Kebutuhan Air
(L/det) 403,17 518,63 619,86
Kebutuhan Non Domestik
1. Fasilitas Pendidikan 1522650 1784993 1854557 2. Fasilitas Peribadatan 759900 854051 911017 3. Fasilitas Kesehatan 53300 248642 295222 4. Fasilitas Perdagangan dan Jasa 7964320 7993681 7999900 5. Fasilitas Umum, Rekreasi, dan
Olahraga 815200 861000 895744 6. Kegiatan Industri 1756150 2259109 2700063 Total Kebutuhan Air (L/hari) 12871520 14001476 14656503 Total Kebutuhan Air
(L/det) 148,98 162,05 169,64
Kebutuhan Perkotaan
Hidran Kebakaran dan Tata Kota
(L/det) 55,22 68,07 78,95
TOTAL (L/det) 607,37 748,75 868,45
III.6.6 Tingkat Pelayanan
Periode perencanaan selama 20 tahun terbagi menjadi dua tahap dan setiap tahap berlangsung selama 10 tahun. Tingkat pelayanan air minum di setiap tahap berbeda-beda dan di setiap tahap terjadi peningkatan pelayanan.
Kondisi topografi dan tingkat kepadatan penduduk yang berada di wilayah perencanaan menyebabkan keterbatasan dalam pelayanan penyediaan air minum. Berdasarkan faktor-faktor yang menentukan daerah pelayanan maka tingkat pelayanan tiap tahap perencanaan adalah sebagai berikut : x Tahap I (2007-2018) : 40 %
x Tahap II (2018-2028) : 50 %
III.6.7 Tingkat Kehilangan Air
Kehilangan air adalah besarnya selisih air yang diproduksi dengan air yang didistribusikan. Nilai ini perlu diperhitungkan dalam pengolahan air karena dijadikan pedoman untuk melihat performance dari suatu instalasi pengolahan air minum. Semakin besar tingkat kehilangan air maka semakin buruk pula performance dari instalasi pengolahan. Penyediaan air minum dengan jaringan besar biasanya memiliki tingkat kehilangan air yang besar dan sebaliknya.
Penyebab kehilangan air terbagi menjadi dua macam yaitu : x Fisik
Kehilangan air disebabkan oleh jaringan pipa yang sudah rusak, tua dan bocor, kerusakan meter air dan pengaliran air tidak tercatat oleh meter air.
x Administrasi
Kehilangan air disebabkan oleh keberadaan sambungan ilegal dan ketidak akuratan dalam pencatatan administrasif.
Tingkat kehilangan air pada perencanaan ini untuk setiap tahap diperkirakan sebagai berikut :
x Tahap I : 20 % x Tahap II : 20 %
III.6.8 Fluktuasi Kebutuhan Air
Jumlah pemakaian air oleh masyarakat untuk setiap waktu tidak berada dalam nilai yang sama. Aktivitas manusia yang berubah-ubah untuk setiap waktu menyebabkan pemakaian air selama satu hari mengalami perubahan naik dan turun atau dapat disebut juga berfluktuasi. Fluktuasi pemakaian air terbagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Pemakaian hari maksimum
Pemakaian hari maksimum merupakan jumlah pemakaian air terbanyak dalam satu hari selama satu tahun. Debit pemakaian hari maksimum digunakan sebagai acuan dalam membuat sistem transmisi air baku air minum. Perbandingan antara debit pemakaian hari maksimum dengan debit rata-rata akan menghasilkan faktor maksimum, fm.
2. Pemakaian jam puncak
Pemakaian jam maksimum menunjukkan besarnya pengaliran maksimum pada saat jam puncak. Dengan mengetahui nilai pemakaian jam maksimum maka pengoperasian sistem distribusi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ini. Perbandingan antara debit pemakaian jam maksimum dengan debit rata-rata akan menghasilkan faktor puncak, fp. Nilai fm dan fp telah ditetapkan oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Cipta Karya seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 3.17.
Tabel 3.17 Nilai Faktor Maksimum dan Faktor Puncak untuk Beberapa Kategori Kota
Kategori Kota Jumlah Penduduk
Faktor Maksimum
(fm)
Faktor Puncak
(fp) Metro
Besar Sedang Kecil Desa
>1000000 500000-1000000
100000-500000 20000-100000
<20000
1.1 1.1 1.1 1.1 1.1
1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 Sumber : DPU Cipta Karya, 1998
Berdasarkan Tabel 3.17 maka nilai fm dan fp pada perencanaan ini adalah 1.1 dan 1.5.
III.6.9 Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani
Dalam usaha penyediaan air minum, kebutuhan air minum di wilayah perencanaan tidak dapat dilayani secara keseluruhan. Berdasarkan tingkat pelayanan, kebocoran dan nilai fluktuasi yang direncanakan maka dapat diketahui jumlah kebutuhan air terlayani. Nilai ini ditunjukkan oleh Tabel 3.18.
Tabel 3.18 Rekapitulasi Kebutuhan Air Terlayani Jenis Kebutuhan Air 2007
(L/detik)
2018 (L/detik)
2028 (L/detik) Kebutuhan Air Domestik 403,17 518,63 619,86 Kebutuhan Air Non Domestik 148,98 162,05 169,64
Sub Total I 552,15 680,68 789,50
Kebutuhan Air u/ Kep. Kota (10%) 55,22 68,07 78,95
Sub Total II 607,37 748,75 868,45
Tingkat Pelayanan (%) 32,49 40 50 Jumlah Air Terlayani 197,33 299,50 434,23
Persentase Kehilangan Air (%) 26,07 20 20 Jumlah Air Diproduksi 248,78 359,40 521,07 Debit Jam Puncak (f hmax=1.5) 373,17 539,10 781,61 Debit Hari Maks (f dmax=1.1) 273,66 395,34 573,18 Sumber : Lampiran B