• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risalah Kebijakan. Implementasi Penilaian Hasil Belajar oleh Guru pada Siswa Sekolah Dasar. Ringkasan Temuan. Nomor 20, September 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Risalah Kebijakan. Implementasi Penilaian Hasil Belajar oleh Guru pada Siswa Sekolah Dasar. Ringkasan Temuan. Nomor 20, September 2021"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Penilaian Hasil Belajar oleh Guru pada Siswa Sekolah Dasar

Banyak guru telah memahami konsep penilaian secara umum sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, meskipun belum secara utuh.

Umumnya penyampaian nilai rapor pada aspek sikap didasarkan pada catatan perilaku. Tetapi, catatan perilaku setiap siswa sulit didapatkan sehingga sebagian guru memberikan nilai deskripsi sikap yang sama kepada beberapa siswa.

Guru menganggap penilaian aspek pengetahuan dan keterampilan dalam bentuk deskripsi kurang lengkap, karena hanya memuat dua kompetensi dasar. Selain itu, mayoritas orang tua siswa tidak memahami maksud penilaian bentuk deskripsi tersebut sehingga mengabaikannya.

Proses penilaian saat BDR mengalami banyak kendala dan kredibilitas hasil penilaiannya pun diragukan.

Pemerintah perlu memberikan fleksibilitas kepada guru dalam memilih mekanisme pembelajaran maupun penilaian.

Ringkasan Temuan

Nomor 20, September 2021

Risalah Kebijakan

(2)

Konteks

Sistem penilaian pada Kurikulum 2013 berbeda dengan kurikulum sebelumnya, khususnya pada jenjang sekolah dasar (SD). Perubahan sistem penilaian tersebut membawa tantangan bagi pendidik. Utsman (2014) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perubahan sistem penilaian dalam Kurikulum 2013 membuat para pendidik bingung, karena sistem penilaian tradisional yang selama ini sudah dianggap mapan dan mudah untuk dilakukan, tiba-tiba harus berubah dengan bentuk penilaian alternatif berupa penilaian autentik. Kesulitan lain yang dihadapi oleh guru dalam melakukan penilaian yakni penerapan penilaian autentik yang terdiri dari aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, hasil evaluasi yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (2018) menunjukkan bahwa salah satu kesulitan pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah dalam perencanaan, pelaksanaan, pengolahan, pemanfaatan, dan pelaporan penilaian.

Permasalahan dalam implementasi penilaian oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah menyebabkan capaian hasil belajar siswa kurang optimal, khususnya pada jenjang SD. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kemampuan peserta didik untuk berpikir logis dan rasional yang ditunjukkan dalam hasil AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia) dan benchmark internasional melalui skor TIMSS (Trends International Mathematics and Science Study). Hasil AKSI secara nasional pada kompetensi Matematika menunjukkan, siswa yang mempunyai nilai kurang sebesar 77,13%, nilai cukup sebesar 20,58%, dan nilai baik sebesar 2,29%. Pada kompetensi membaca, 46,83% siswa mempunyai nilai kurang, 47,11% memiliki nilai cukup, dan 6,06% bernilai baik. Sedangkan pada kompetensi sains, siswa yang mempunyai nilai kurang sebesar 73,61%, bernilai cukup sebanyak 25,38%, dan bernilai baik sebanyak 1,01% (Pusat Penilaian Pendidikan, 2016). Sementara itu, tahun 2015 Indonesia mengikuti TIMSS pada tingkat kelas 4 SD dengan mata pelajaran yang diujikan Matematika dan IPA. Pada mata pelajaran Matematika, peringkat Indonesia berada pada urutan ke-45 dari 50 negara dengan skor 397, dan pada mata pelajaran IPA berada di urutan ke-47 dari 50 negara dengan skor yang sama 397 (Nizam, 2016).

Berdasarkan permasalahan tersebut, Pusat Penelitian Kebijakan melakukan penelitian tentang implementasi penilaian hasil belajar oleh guru pada siswa jenjang SD. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method (kuantitatif dan kualitatif). Metode pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survei online, sedangkan metode pengumpulan data secara kualitatif dilakukan melalui wawancara dan diskusi kelompok terpumpun (DKT). Variabel dalam penelitian ini adalah implementasi penilaian hasil belajar oleh guru yang terdiri dari: (i) tingkat pemahaman guru terhadap konsep penilaian; (ii) penyampaian nilai rapor pada penilaian aspek sikap; (iii) penyampaian nilai rapor pada penilaian aspek pengetahuan dan keterampilan yang dilaporkan dalam bentuk nilai dan predikat; (iv) implementasi ketiga fungsi penilaian, yaitu assessment of learning, assessment as learning, assessment for learning; dan (v) implementasi penilaian pada masa belajar dari rumah (BDR).

Fokus penelitian ini yaitu penilaian harian yang dilakukan oleh guru kelas pada aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Daerah sasaran dalam penelitian ini terdiri dari lima kabupaten/kota di wilayah Jabodetabek, yaitu Kota Jakarta Pusat, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang, dan Kota Bekasi. Subjek dalam penelitian ini adalah guru SD kelas 1 sampai dengan kelas 6, di SD negeri maupun swasta yang menerapkan Kurikulum 2013. Jumlah informan pada wawancara dan DKT masing-masing sebanyak 7 guru perwakilan dari lima daerah sasaran. Jumlah responden survei online sebanyak 4.250 guru yang tersebar pada lima daerah sasaran.

(3)

Banyak guru telah memahami konsep penilaian sesuai tuntutan Kurikulum 2013. Berdasarkan DKT, informasi dari narasumber mengatakan antara 35%-50% guru yang benar-benar memahami konsep penilaian secara utuh, sisanya menguasai sebagian bahkan tidak menguasai.

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki pemahaman sepenuhnya atas konsep penilaian yang harus dilakukan, baik pada aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Adapun hasil penelitian Pusat Penelitian Kebijakan (2019) menemukan bahwa sekitar 50% guru sudah memahami secara utuh dan sekitar 45% guru memahami sebagian teknik penilaian serta pengolahan dan pelaporan penilaian pada aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Grafik 1).

Berdasarkan hasil DKT, memang ditemukan banyak guru yang belum memahami konsep penilaian secara utuh. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan pemahaman guru tentang konsep penilaian ini belum optimal, yaitu: (i) banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan;

(ii) kompetensi instruktur dalam pelatihan kurang memadai; (iii) kompleksitas bentuk penilaian pada Kurikulum 2013 di mana terdapat berbagai macam bentuk penilaian yang harus dipahami oleh guru; dan (iv) inkonsistensi antara proses pembelajaran dan penilaian, karena pembelajaran dilaksanakan secara tematik, sedangkan penilaian dilakukan untuk masing-masing mata pelajaran.

Banyak guru telah memahami konsep penilaian sesuai dengan Kurikulum 2013, meskipun belum secara utuh.

Dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa umumnya guru memberikan nilai deskripsi

Umumnya penyampaian nilai rapor pada aspek sikap berdasarkan catatan perilaku. Tetapi, tidak setiap siswa memiliki catatan perilaku sehingga deskripsi nilai sikap kerap sama untuk beberapa siswa.

Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 47% guru selalu melakukan pengolahan penilaian sikap pada rapor berdasarkan catatan perilaku siswa (Grafik 2). Selain itu, masih banyak guru yang jarang dan bahkan tidak menyampaikan catatan sikap dan perilaku siswa kepada orang tuanya, khususnya yang sifatnya negatif. Sebanyak 47,4% guru selalu menyampaikan catatan sikap dan perilaku positif siswa, namun hanya 30,3% guru yang selalu menyampaikan catatan sikap dan perilaku negatif siswa kepada orang tua/wali pada saat penyampaian nilai rapor (Grafik 2). Dari data tersebut terlihat bahwa lebih banyak guru yang memberikan catatan sikap dan perilaku positif siswa dibandingkan dengan guru yang memberikan catatan sikap dan perilaku negatif siswa.

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

Teknik penilaian aspek sikap

Pengolahan dan pelaporan penilaian aspek

sikap

Teknik penilaian aspek pengetahuan

Pengolahan dan pelaporan penilaian aspek

pengetahuan

Teknik penilaian aspek keterampilan

Pengolahan dan pelaporan penilaian aspek

keterampilan 54%

43%

3%

49% 47%

4%

61%

37%

2%

51%

45%

4%

55%

43%

2%

48% 48%

4%

Grafik 1 Persepsi Guru tentang Pemahaman Berbagai Macam Teknik Penilaian serta Pengolahan dan Pelaporan Penilaian

Sumber: Pusat Penelitian Kebijakan (2019)

Memahami Memahami sebagian Tidak memahami

(4)

Mayoritas guru berpendapat perlu memunculkan nilai predikat (bentuk nilai A, B, C, D dan E) pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 95% guru memilih sangat setuju dan setuju untuk memunculkan nilai predikat pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3).

Berdasarkan hasil DKT, para guru berpendapat penilaian dalam bentuk deskripsi kurang komunikatif dan informatif karena tidak memberikan informasi secara menyeluruh terkait capaian pembelajaran siswa pada setiap KD. Penilaian dalam bentuk deskripsi juga dinilai kurang komprehensif karena hanya mencantumkan deskripsi pada dua KD saja, yaitu KD tertinggi dan KD terendah (Tabel 1).

Penilaian aspek pengetahuan dan keterampilan dalam bentuk deskripsi dianggap kurang menyeluruh karena hanya memuat dua kompetensi dasar dan juga mayoritas orang tua siswa tidak memahami maksudnya.

Dari hasil wawancara diperoleh informasi bahwa umumnya guru memberikan nilai deskripsi sikap yang sama kepada beberapa siswa. Setelah diperdalam melalui DKT, terungkap bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pertama, guru kesulitan mendapatkan catatan perilaku setiap siswa. Kedua, dalam panduan dan pelatihan guru dijelaskan bahwa guru diperbolehkan setidak-tidaknya mencatat sikap dan perilaku hanya yang menonjol saja. Ketiga, nilai sikap minimal baik merupakan persyaratan untuk kenaikan kelas.

Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 47% guru selalu melakukan pengolahan penilaian sikap pada rapor berdasarkan catatan perilaku siswa (Grafik 2). Selain itu, masih banyak guru yang jarang dan bahkan tidak menyampaikan catatan sikap dan perilaku siswa kepada orang tuanya, khususnya yang sifatnya negatif. Sebanyak 47,4% guru selalu menyampaikan catatan sikap dan perilaku positif siswa, namun hanya 30,3% guru yang selalu menyampaikan catatan sikap dan perilaku negatif siswa kepada orang tua/wali pada saat penyampaian nilai rapor (Grafik 2). Dari data tersebut terlihat bahwa lebih banyak guru yang memberikan catatan sikap dan perilaku positif siswa dibandingkan dengan guru yang memberikan catatan sikap dan perilaku negatif siswa.

Mengenai nilai deskripsi, banyak guru berpendapat bahwa tidak perlu memunculkan nilai deskripsi pada nilai rapor. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 50% guru memilih sangat setuju dan setuju tidak memunculkan nilai deskripsi pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3). Adapun jika nilai deskripsi dimunculkan dalam nilai rapor, mayoritas guru berpendapat bahwa seluruh KD perlu juga untuk dimunculkan dalam nilai rapor. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas guru (lebih dari 75%) setuju dan sangat setuju jika nilai deskripsi seluruh capaian KD dimunculkan pada nilai rapor, baik pada penilaian aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3).

Sementara itu, berdasarkan hasil DKT dan wawancara, penyampaian hasil penilaian dalam bentuk deskripsi mempunyai beberapa permasalahan, seperti: (i) deskripsi kompetensi dasar (KD) dituliskan berdasarkan capaian nilai tertinggi dan terendah saja, sehingga tidak diketahui bagaimana capaian KD secara keseluruhan; (ii) banyak guru yang tidak memahami makna dari penilaian deskriptif tersebut; (iii) hampir semua orang tua/wali tidak memahami makna dari penilaian deskriptif tersebut, sehingga mayoritas orang tua/wali mengabaikannya. Hal ini mengakibatkan penilaian dalam bentuk deskripsi dinilai kurang bermakna karena kurang komunikatif, informatif, dan komprehensif.

Deskripsi penilaian sikap pada rapor berdasarkan

catatan

Menyampaikan catatan sikap dan perilaku positif kepada orang tua

Menyampaikan catatan sikap dan perilaku negatif kepada orang tua 0%

20%

40%

60%

80%

100% 0,2%

9,0%

43,8%

47,0%

0,2%9,0%

43,4%

47,4%

3,3%

26,1%

40,3%

30,3%

Grafik 2 Penyampaian Nilai Rapor pada Penilaian Aspek Sikap kepada Orang Tua Siswa

Selalu Sering Kadang-kadang Tidak Pernah

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

6,4%

7,2%

9,3%

10,3%

19,2%

27,7%

44,6%

43,6%

66,4%

67,7%

46,5%

46,8%

23,4%

21,1%

75,8% 4,8%

3,9%

2,5%

2,4%

0,9%

1,0%

0,3%

67,9% 0,5%

Keterampilan Pengetahuan Keterampilan Pengetahuan Keterampilan Pengetahuan Tidak memunculkan

nilai deskripsi pada nilai rapor

Memunculkan nilai deskripsi seluruh KD

pada nilai rapor

Memunculkan nilai predikat pada

nilai rapor

Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Grafik 3 Penyampaian Hasil Penilaian Aspek Pengetahuan dan Keterampilan pada nilai Rapor

(5)

Fungsi penilaian pada Kurikulum 2013 terdiri dari tiga, yaitu assessment of learning, assessment for learning dan assessment as learning. Assessment of learning adalah penilaian terhadap apa yang telah dicapai oleh siswa. Assessment for learning adalah penilaian untuk mengidentifikasi kesulitan yang mungkin dihadapi peserta didik dan menemukan strategi untuk membantu peserta didik sehingga lebih mudah memahami dan membuat pembelajaran menjadi efektif.

Assessment as learning merupakan penilaian yang menekankan pada keterlibatan peserta didik untuk secara aktif berpikir mengenai proses belajar dan hasil belajarnya sehingga berkembang menjadi pembelajar yang mandiri (Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, 2016). Hasil survei menunjukkan masih terdapat sekitar 30% lebih guru yang kadang-kadang bahkan tidak pernah

Sebagian guru belum memahami dan mengimplementasikan fungsi penilaian, khususnya sebagai assessment for learning dan assessment as learning.

Mayoritas guru berpendapat perlu memunculkan nilai predikat (bentuk nilai A, B, C, D dan E) pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 95% guru memilih sangat setuju dan setuju untuk memunculkan nilai predikat pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3).

Mengenai nilai deskripsi, banyak guru berpendapat bahwa tidak perlu memunculkan nilai deskripsi pada nilai rapor. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 50% guru memilih sangat setuju dan setuju tidak memunculkan nilai deskripsi pada nilai rapor, baik pada aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3). Adapun jika nilai deskripsi dimunculkan dalam nilai rapor, mayoritas guru berpendapat bahwa seluruh KD perlu juga untuk dimunculkan dalam nilai rapor. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas guru (lebih dari 75%) setuju dan sangat setuju jika nilai deskripsi seluruh capaian KD dimunculkan pada nilai rapor, baik pada penilaian aspek pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 3).

Sementara itu, berdasarkan hasil DKT dan wawancara, penyampaian hasil penilaian dalam bentuk deskripsi mempunyai beberapa permasalahan, seperti: (i) deskripsi kompetensi dasar (KD) dituliskan berdasarkan capaian nilai tertinggi dan terendah saja, sehingga tidak diketahui bagaimana capaian KD secara keseluruhan; (ii) banyak guru yang tidak memahami makna dari penilaian deskriptif tersebut; (iii) hampir semua orang tua/wali tidak memahami makna dari penilaian deskriptif tersebut, sehingga mayoritas orang tua/wali mengabaikannya. Hal ini mengakibatkan penilaian dalam bentuk deskripsi dinilai kurang bermakna karena kurang komunikatif, informatif, dan komprehensif.

Mata Pelajaran

Matematika

Ananda sangat baik menjelaskan data diri peserta didik dan lingkungannya yang disajikan dalam bentuk diagram batang

serta sudah baik menjelaskan dan menentukan ukuran sudut dengan menggunakan

busur derajat

Ananda sangat baik menghubungkan gaya dengan

gerak pada peristiwa di lingkungan sekitar serta sudah

baik menerapkan sifat-sifat cahaya dan ketertarikan dengan

indra penglihatan

Ananda sudah sangat baik mengumpulkan data diri peserta didik dan lingkungan dan menyajikan dalam bentuk

diagram batang serta cukup mampu mengidentifikasi

hubungan antar garis menggunakan model konkret

Ananda sangat baik membuat skema siklus hidup beberapa

jenis mahluk hidup yang ada di lingkungan sekitarnya, dan slogan upaya

pelestarian serta sudah baik menyajikan laporan hasil

percobaan tentang sifat-sifat cahaya Ilmu

Pengetahuan Alam

76

79

94

96

85

94 A

A

B

A

KKM Nilai Predikat Pengetahuan Nilai Predikat Keterampilan

Hanya terdapat 2 KD pada penilaian bentuk deskripsi

Tabel 1 Informasi pada penilaian bentuk deskriptif pada aspek pengetahuan dan keterampilan dalam rapor hanya memuat dua KD

(6)

Pada masa BDR, sebagian besar guru tetap melakukan penilaian dalam setiap proses pembelajaran, namun tidak semua guru melakukan tindak lanjut atas hasil penilaian yang telah dilakukan. Hasil survei menunjukkan guru yang mengatakan selalu dan sering melakukan penilaian dalam setiap proses pembelajaran yakni sebesar 94,1%. Namun, guru yang selalu melakukan tindak lanjut atas hasil penilaian yang telah dilakukan hanya sekitar 24,5% (Grafik 6).

Berdasarkan hasil DKT, penilaian yang sering dilakukan oleh guru hanya memfokuskan pada pengukuran hasil belajar yang digunakan untuk mengategorikan siswa dan melaporkan hasil penilaiannya. Hasil penilaian belum digunakan untuk mendiagnosis kelebihan dan kekurangan siswa dalam menguasai suatu materi. Hal ini salah satunya disebabkan karena fungsi assessment as learning belum dijelaskan pada saat pelatihan atau sosialisasi. Bahkan pada panduan penilaian, langkah-langkah penerapan assessment as learning belum dijabarkan secara rinci.

Selain itu, mayoritas guru belum memahami penerapan jenis-jenis penilaian berdasarkan fungsinya.

Penilaian sikap sulit dilakukan pada masa pembelajaran dengan metode BDR. Hasil survei menunjukkan, mayoritas guru (lebih dari 90%) menjawab setuju dan sangat setuju bahwa penilaian aspek sikap sulit dilakukan pada masa BDR (Grafik 5). Selain itu, mayoritas guru juga (lebih dari 91%) menjawab setuju dan sangat setuju bahwa penilaian pengetahuan dan keterampilan mempunyai banyak kendala (Grafik 5). Berdasarkan hasil DKT, diungkapkan bahwa beberapa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan penilaian pada masa BDR, yaitu ketersediaan perangkat pembelajaran (gawai), akses internet kurang memadai, dan siswa tidak mampu membeli kuota internet.

Pada penilaian pengetahuan dan keterampilan, tingkat kepercayaan hasil penilaian harian juga diragukan. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas guru (lebih dari 93%) menjawab setuju dan sangat setuju bahwa siswa dibantu mengerjakan dalam pelaksanaan penilaian harian, baik pada penilaian pengetahuan maupun keterampilan (Grafik 5). Pada hasil DKT diungkapkan bahwa guru tidak mengetahui dengan pasti apakah siswa betul-betul menjawab soal secara mandiri atau karena dibantu oleh orang lain.

Mayoritas guru berpendapat bahwa proses penilaian saat BDR mengalami banyak kendala dan kredibilitas hasil penilaiannya pun diragukan.

0%

20%

40%

60%

80%

100%

18,4%

51,2%

28,3%

2,0%

14,4%

51,3%

32,2%

2,1%

12,7%

50,9%

33,8%

2,6%

Assessment

of Learning Assessment for

Learning Assessment as

Learning

Siswa dibantu mengerjakan dalam pelaksanaan penilaian harian keterampilan Penilaian keterampilan banyak kendala Siswa dibantu mengerjakan dalam pelaksanaan penilaian harian pengetahuan Penilaian pengetahuan banyak kendala

Penilaian sikap sulit dilakukan

Selalu Sering Kadang-kadang Tidak Pernah

Grafik 4 Implementasi Fungsi Penilaian oleh Guru

0% 20% 40% 60% 80% 100%

21,7%

23,7%

23,9%

26,0%

24,3%

71,4%

67,9%

70,2%

66,4%

66,4%

6,8%

8,4%

5,9%

7,4%

9,1%

Grafik 5 Persepsi Guru tentang Kendala Penilaian pada Masa BDR

Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

(7)

Pada masa BDR, sebagian besar guru tetap melakukan penilaian dalam setiap proses pembelajaran, namun tidak semua guru melakukan tindak lanjut atas hasil penilaian yang telah dilakukan. Hasil survei menunjukkan guru yang mengatakan selalu dan sering melakukan penilaian dalam setiap proses pembelajaran yakni sebesar 94,1%. Namun, guru yang selalu melakukan tindak lanjut atas hasil penilaian yang telah dilakukan hanya sekitar 24,5% (Grafik 6).

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Menggalakkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan guru melakukan penilaian. Selain itu, guru juga perlu diberikan fleksibilitas dalam pemilihan mekanisme pembelajaran dan penilaian.

1.

Rekomendasi

Berdasarkan beberapa temuan di atas, kajian ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut.

Kemendikbud, dinas pendidikan, maupun sekolah perlu lebih intensif mengadakan pelatihan secara virtual khususnya terkait penilaian. Selain itu, untuk mengatasi inkonsistensi antara proses pembelajaran dan penilaian, pemerintah perlu memberikan kebebasan kepada guru dalam memilih mekanisme pembelajaran sesuai dengan kenyamanan guru, apakah secara tematik atau setiap mata pelajaran.

Guru perlu melakukan penilaian aspek sikap pada awal tahun ajaran serta menyampaikan catatan sikap dan perilaku siswa kepada orang tua/wali sekurang-kurangnya pada setiap semester.

2.

Sekolah sebaiknya mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa pada awal tahun ajaran di mana salah satu agendanya adalah untuk menggali informasi terkait sikap dan perilaku siswa di rumah. Informasi ini dapat digunakan sebagai catatan sikap dan perilaku awal yang dituliskan pada jurnal penilaian sikap oleh guru serta sebagai bahan dasar pembinaan guru terhadap siswa. Selain itu, guru sebaiknya meluangkan waktu untuk menyampaikan catatan sikap dan perilaku siswa yang baik maupun yang kurang baik kepada orang tua/wali secara lisan minimal satu semester sekali, yaitu pada saat pengambilan rapor.

Kemendikbud perlu mengubah formula nilai deskripsi pada aspek pengetahuan dan keterampilan dengan memunculkan seluruh nilai KD di dalam rapor.

3.

Penilaian sikap sulit dilakukan pada masa pembelajaran dengan metode BDR. Hasil survei menunjukkan, mayoritas guru (lebih dari 90%) menjawab setuju dan sangat setuju bahwa penilaian aspek sikap sulit dilakukan pada masa BDR (Grafik 5). Selain itu, mayoritas guru juga (lebih dari 91%) menjawab setuju dan sangat setuju bahwa penilaian pengetahuan dan keterampilan mempunyai banyak kendala (Grafik 5). Berdasarkan hasil DKT, diungkapkan bahwa beberapa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan penilaian pada masa BDR, yaitu ketersediaan perangkat pembelajaran (gawai), akses internet kurang memadai, dan siswa tidak mampu membeli kuota internet.

Pada penilaian pengetahuan dan keterampilan, tingkat kepercayaan hasil penilaian harian juga

0,1%

5,8%

40,1%

54,0%

6,7%

23,2%

45,7%

24,5%

Selalu Sering Kadang-kadang Tidak Pernah

Melakukan penilaian dalam setiap

pembelajaran pada masa BDR Melakukan tindak lanjut penilaian dalam setiap pembelajaran

pada masa BDR

Grafik 6 Persepsi Guru tentang Pelaksanaan Penilaian dalam Proses Pembelajaran pada Masa BDR

keterampilan dengan memunculkan seluruh nilai KD, namun sebagai lampiran sehingga isi rapor tidak tebal.

(8)

Risalah Kebijakan ini merupakan hasil dari penelitian/kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Pusat Penelitian Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kompleks Kemdikbud-Ristek, Gedung E, Lantai 19

Tim Penyusun Ikhya Ulumudin Rahmah Astuti Erni Hariyanti Kusuma Wijayanti Siska Lismayanti

Kemendikbud perlu memberikan materi khusus tentang fungsi penilaian sebagai assessment of learning, assessment for learning, maupun assessment as learning serta mendorong pemanfaatan fungsi penilaian dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

4.

Pemberian materi terkait dengan fungsi penilaian dapat dilakukan secara virtual dengan mengundang narasumber atau instruktur yang kompeten. Selain itu, Kemendikbud juga perlu memperjelas khususnya tentang langkah-langkah assessment for learning dan assessment as learning, sehingga pemanfaatan fungsi penilaian dalam meningkatkan mutu pembelajaran dapat dioptimalkan.

Pada panduan penilaian disebutkan bahwa pengisian rapor untuk nilai deskripsi aspek pengetahuan dan keterampilan hanya memunculkan dua KD saja, yaitu nilai tertinggi dan terendah. Namun, hal ini dinilai tidak informatif dan tidak komprehensif karena siswa dan orang tua/wali murid tidak dapat mengetahui capaian pada KD lainnya. Oleh karena itu, Kemendikbud perlu mengubah formula nilai deskripsi pada aspek pengetahuan dan

Daftar Pustaka

Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar. (2016). Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar.

Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar. (2018). Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar.

Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan.

Nizam. (2016). Ringkasan Hasil-Hasil Asesmen Belajar dari UN, PISA, TIMSS, INAP.

Mutu Pembelajaran. Jakarta: Puslitjak.

Pusat Penelitian Kebijakan. (2019). Kajian Pemanfaatan Hasil Belajar dalam Meningkatkan

https://puspendik.kemdikbud.go.id/inap-sd/kategori. Diakses tanggal 14 Februari 2019.

Pusat Penilaian Pendidikan. (2016). Statistika Hasil AKSI Tingkat Nasional.

Utsman. (2014). Penilaian Otentik Berbasis Kurikulum 2013. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan dengan Tema “Pengembangan Pendidik:

Implementasi Asesmen Otentik Pendidikan dalam Rangka Meningkatkan Kompetensi dan Kinerja Profesional Berkelanjutan”. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

keterampilan dengan memunculkan seluruh nilai KD, namun sebagai lampiran sehingga isi rapor tidak tebal.

Referensi

Dokumen terkait

(2) Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah Aplikasi Sistem Informasi Persediaan bahan baku dan suku cadang untuk mengatasi beberapa permasalahan pengelolaan

Stres akademik adalah stres pada mahasiswa yang bersumber dari proses belajar mengajar atau hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar, meliputi: tekanan untuk naik kelas,

Dari sensor tersebut diketahui terdapat dua komponen yaitu, Tranceiver sebagai pengirim suara ultrasonik menuju objek yang ingin diketahui jaraknya dan suara

MEMBUAT PROJECT “JUST

Meskipun dasar daripada demokrasi Indonesia adalah demokrasi politik dan ekonomi, namun Hatta secara lebih rinci membahas mengenai konsep demokrasinya itu dalam

Penelitian ini berbeda hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2013) yaitu tidak terdapat pengaruh faktor usia terhadap kadar asam urat, seseorang

Berdasarkan point 3 tersebut maka akan dilakukan pelelangan ulang dengan tahapan dimulai dari pengumuman pengadaan barang dan jasa sesuia dengan ketentuan dalam Perpres 54 tahun

Dari berbagai definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud anak dengan gangguan emosi dan tingkah laku adalah anak yang secara menyolok dan