II. 1 Komunikasi
II. 1. 1 Definisi Komunikasi
Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya “Komunikasi adalah penyampaian pesan melalui media elektronik,” atau terlalu luas, misalnya “Komunikasi adalah interaksi antara dua mahluk hidup atau lebih,” sehingga para peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan, tanaman, dan bahkan jin (Mulyana, 2007: 64). Banyak definisi komunikasi bersifat khas, mencerminkan paradigma atau perspektif yang digunakan ahli-ahli komunikasi tersebut dalam mendekati fenomena komunikasi.
Paradigma ilmiah (objektif, mekanistik, positivistik) yang penelaahannya berorientasi pada efek komunikasi tampak dominan, mengasumsikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab-abikat, yang mencerminkan pengirim pesan atau yang biasa disebut komunikator/sumber/pengirim/enkoder (yang aktif) untuk mengubah pengetahuan, sikap atau perilaku komunikate/penerima pesan/sasaran/khalayak/dekoder (atau yang dalam wacana komunikasi di Indonesia sering disebut komunikan) yang pasif (Mulyana, 2007: 64).
Tubbs dan Moss mendefinisikan komunikasi sebagai “proses penciptaan makna antara dua orang (komunikator 1 dan komunikator 2) atau lebih”, sedangkan Gudykunst dan Kim mendefinisikan komunikasi (antarbudaya) sebagai “proses transaksional, simbolik yang melibatkan pemberian makna antara orang-orang (dari budaya yang berbeda)” . Sedangkan Harold Laswell mengatakan bahwa “cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) “Who Says, What In Which Channel, To Whom, With What Effect?” Atau siapa
mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dengan pengaruh bagaimana (Mulyana, 2007: 69).
Menurut Onong Uchjana Effendy (2001:2), komunikasi adalah suatu proses memberi signal menurut aturan aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara dan diubah. Dan sebuah definisi singkat dibuat oleh Harold D. Laswell, bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan: siapa yang menyampaikan (komunikator), apa yang disampaikan (pesan), melalui saluran apa (media), kepada siapa (komunikan), dan apa pengaruhnya (efek) (Effendy, 2006:10).
II. 1. 2 Bentuk Komunikasi
Bentuk-bentuk komunikasi dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Komunikasi vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas atau komunikasi dari pimpinan ke bawahan dan dari bawahan ke pimpinan secara timbal balik.
2. Komunikasi horisontal
Komunikasi horisontal adalah komunikasi secara mendatar, misalnya komunikasi antara karyawan dengan karyawan dan komunikasi ini sering kali berlangsung tidak formal yang berlainan dengan komunikasi vertikal yang terjadi secara formal.
3. Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal yang sering juga dinamakan komunikasi silang yaitu seseorang dengan orang lain yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam kedudukan dan bagian (Effendy, 2000 : 17).
Pendapat lainnya menyebutkan, komunikasi dapat mengalir secara vertikal atau lateral (menyisi). Dimensi vertikal dapat dibagi menjadi ke bawah dan ke atas. Komunikasi vertikal ke bawah adalah komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu kelompok atau organisasi ke suatu tingkat yang lebih bawah. Kegunaan dari pada komunikasi ini memberikan penetapan tujuan, memberikan instruksi pekerjaan, menginformasikan kebijakan dan prosedur pada bawahan, menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian dan mengemukakan umpan balik terhadap kinerja (Robbins, 2008 : 314-315).
Komunikasi vertikal ke atas adalah komunikasi yang mengalir ke suatu tingkat yang lebih tinggi dalam kelompok atau organisasi digunakan untuk memberikan umpan balik kepada atasan, menginformasikan mereka mengenai kemajuan ke arah tujuan dan meneruskan masalah-masalah yang ada. Sedangkan dimensi lateral, komunikasi yang terjadi di antara kelompok kerja yang sama, diantara anggota kelompok-kelompok kerja pada tingkat yang sama, diantara manajer-manajer pada tingkat yang sama (Robbins, 2008 : 314-315).
II. 1. 3 Proses Komunikasi
Komunikasi antar manusia (human communication) adalah suatu proses pertukaran informasi yang bentuknya ditentukan oleh banyak faktor seperti; bahasa, pengalaman, latar belakang pendidikan, latar belakang sosial dan budaya, dan kemampuan individu dalam berkomunikasi. Harold D. Laswell, dalam bukunya "Power and Personality" mengatakan bahwa suatu model komunikasi akan menjawab masalah : Siapa, mengatakan apa, dalam saluran apa, kepada siapa, berakibat apa. Beberapa tahun kemudian satu model komunikasi dengan sembilan elemen telah dikembangkan. Dua elemen menggambarkan pihak-pihak utama dalam komunikasi yaitu pengirim dan penerima. Sedang dua elemen lagi menunjukkan alat-alat utama komunikasi yaitu pesan dan media. Empat elemen yang lain lagi menunjukkan fungsi utama komunikasi, yaitu penulisan dalam bentuk sandi (encoding), membaca tulisan sandi (decoding), tanggapan dan umpan balik. Elemen yang terkhir itu menunjukkan adanya gangguan dalam sistem tersebut (Wallschlaeger, 1992: 324).
Gambar 1. 1 Diagram Proses Komunikasi
Sumber : “Basic Visual Concepts and Principles”, 1992 : 344. Elemen-elemen tersebut :
1. Pengirim : Pihak yang mengirim pesan kepada pihak lain (yang juga disebut sumber atau komunikator.)
2. Penulisan dan bentuk sandi (encoding): adalah proses mengungkapkan pendapat kedalam bentuk-bentuk simbolik.
3. Pesan : Serangkaian simbol yang dikirim oleh pengirim.
4. Media : Saluran-saluran komunikasi yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan dari pengirim kepada penerima.
5. Pembacaan sandi (decoding) : Proses ketika penerima mengartikan simbol-simbol yang dikirim oleh pengirim.
6. Penerima: Pihak yang menerima pesan yang dikirim oleh pihak lain (juga disebut pendengar atau tujuan).
7. Tanggapan: Serangkaian reaksi dari penerima setelah melihat atau mendengar pesan-pesan yang dikirim oleh pengirim.
8. Umpan balik: Bagian dari tanggapan penerima bahwa penerima itu mengkomunikasikan kembali kepada pengirim.
9. Gangguan: Yang dimaksud dalam hal ini adalah gangguan.atau distorsi yang tak terduga selama proses komunikasi, mengakibatkan penerima memperoleh pesan berbeda dari yang dikirimkan pengirim (Wallschlaeger, 1992: 345).
Model-model diatas menekankan faktor-faktor yang penting dalam komunikasi yang ampuh (efektif). Pengirim harus tahu mana yang ingin mereka jangkau dan tanggapan apa yang mereka inginkan. Mereka harus pandai menyandikan pesan, serta memperhitungkan bagaimana khalayak sasaran itu membaca simbol pesan mereka. Selain itu, secara ideal, mereka harus menyediakan saluran-saluran umpan balik sehingga bisa mengetahui tanggapan khalayak terhadap pesan mereka (Wallschlaeger, 1992: 346).
Supaya suatu pesan ampuh (efektif), maka proses penyandian pesan dari pengirim harus berhubungan dengan proses pembacaan sandi dan penerimanya. Wilbur Schramm, seorang ahli komunikasi melihat bahwa pesan harus merupakan simbol-simbol penting yang dikenal dengan baik oleh penerima. Apabila pengalaman pengirim makin mirip dengan penerima, nampak pesan pengirim akan lebih mempan. Suatu sumber dapat menyandikan pesan-pesannya dan pihak penerima dapat membaca sandi itu hanya dengan berdasarkan pengalaman masing-masing. Komunikasi yang mempan paling tidak memiliki/menimbulkan lima hal yaitu: pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan (Wallschlaeger, 1992: 346).
Komunikasi tidak saja berupa tulisan atau bahasa verbal, namun dapat juga berupa bentuk-bentuk visual yang berupa kode atau sistem kode. Kita mengenal abjad atau tanda baca sebagai bahasa verbal, bahasa tubuh (gesture) dan bahasa tangan sebagai bahasa non verbal, kode morse atau semaphore berupa komunikasi nonverbal, pictogram yang merepresentasikan objek dan konsep, dan lain sebagainya (Wallschlaeger, 1992: 346).
Charles Wallschlaeger dalam bukunya “Basic Visual Concepts and Principles” mengembangkan pemikiran-pemikiran komunikasi visual, termasuk mengembangkan model komunikasi David K Berlo yang lebih dalam membahas model untuk menjelaskan dan membantu pembuatan pesan verbal maupun visual yang dapat dimanfaatkan oleh desainer, seniman, dan arsitek.
Model ini dapat menjelaskan struktur logis dalam menerangkan langkah demi langkah proses komunikasi yang berupa pesan visual sehingga mengembangkan kemungkinan yang semakin besar agar seorang pengamat dapat mengerti dan memberi umpan balik yang diharapkan. Berikut ini langkah-langkah dalam menjelaskan model tersebut;
1. Sumber (penyandian)
Sumber adalah individu atau kelompok pengirim pesan, dalam hal ini, pesan dapat disampaikan oleh desainer, seniman maupun arsitek. Pengirim pesan dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti nilai budaya, kreativitas, pengetahuan, pendidikan, sikap, kemampuan memaknai sandi, dan asosiasi.
2. Pesan
Pesan dapat berupa suatu pernyataan, ide maupun perasaan-perasaan yang ingin dikomunikasikan. Kode-kode pesan tersebut berupa bentuk fisik dan figur dari pesan, yang dapat berupa bahasa verbal, visual, maupun gabungan keduanya
yang tersusun dari tanda-tanda, simbol, struktur atau syntaks. Pesan-pesan visual tersebut dapat berupa foto, ilustrasi, image, produk, dan lain sebagainya.
3. Saluran
Saluran adalah media untuk menyampaikan pesan pesan, yang melibatkan panca indra Indera Penglihatan (Mata), Indera Pendengaran (Telinga), Indera Penciuman (Hidung), Indera Pengecapan (Mulut), Indera Peraba (Tangan), yang dapat dilakukan oleh berbagai media maupun material (berupa hasil cetak, film, televisi, buku, majalah, dll.)
4. Penerima (Pemaknaan sandi)
Merupakan individu atau kelompok yang dimaksud atau ditunjuk untuk menerima pesan. Penerima komunikasi visual ini dapat berupa sekelompok massa dengan karakter yang berbeda-beda, maupun suatu kelompok yang lebih kecil dengan karakter dan latar belakang yang khusus. Penerima pesan, sama dengan pengirim pesan atau sumber juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti nilai budaya, kreativitas, pengetahuan, pendidikan, sikap, kemampuan memaknai sandi, dan asosiasi (Wallschlaeger, 1992: 360).
Gambar 1. 2 Model komunikasi visual David K Berlo yang dikembangkan oleh Charles Wallschlaeger
Sumber: “Basic Visual Concepts and Principles”, 1992 : 377.
Teori komunikasi menyatakan bahwa sistem kode harus memuat simbol-simbol lengkap dengan hubungan antara simbol-simbol-simbol-simbol tersebut, maksudnya antara simbol dan hubungan dengan yang diwakilinya harus memiliki kesamaan interpretasi bagi pengamatnya. Desainer, juga seniman dan arsitek menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan dalam bentuk komunikasi visual, sehingga harus memilih bentuk-bentuk yang tepat pada rancangannya untuk menyampaikan maksud yang ingin disampaikannya (Wallsclaeger, 1992: 381).
II. 1. 4 Fungsi Komunikasi
Rudolph F. Verderber mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi sosial, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan.
Kedua, fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau
tidak melakukan sesuatu pada saat tertentu, seperti: apa yang akan kita makan pagi hari, apakah kita akan kuliah atau tidak, bagaimana belajar untuk menghadapi tes. Menurut Verderber, sebagian keputusan ini dibuat sendiri, dan sebagian lagi dibuat setelah berkonsultasi dengan orang lain. Sebagian keputusan bersifat emosional, dan sebagian lagi melalui pertimbangan yang matang. Semakin penting keputusan yang akan dibuat, semakin hati-hati tahapan yang dilalui untuk membuat keputusan. Verderber menambahkan, kecuali bila keputusan itu bersifat reaksi emosional, keputusan itu biasanya melibatkan pemrosesan informasi, berbagi informasi, dan dalam banyak kasus, persuasi, karena kita tidak hanya perlu memperoleh data, namun sering juga untuk meperoleh dukungan atas keputusan kita (Mulyana, 2007: 5).
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi: keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat (Mulyana, 2007: 5).
Ada empat fungsi komunikasi berdasarkan kerangka yang dikemukakan William I. Gorden. Keempat fungsi dalam komunikasi tersebut, yakni komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental, tidak saling meniadakan (nutually exclusive). Fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan (Mulyana, 2007: 5). Berikut ini adalah penejelasan tentang keempat fungsi komunikasi tersebut :
1. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama (Mulyana, 2007: 6).
Implisit dalam fungsi komunikasi sosial ini adalah fungsi komunikasi kultural. Para Ilmuwan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannnya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Benar kata Edward T. Hall bahwa “budaya adalah komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya” (Mulyana, 2007: 6).
Pada satu sisi, komunikasi merupakan mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk suatu kelompok, misalnya “Laki-laki tidak gampang menangis, tidak bermain boneka,” “Anak perempuan tidak bermain pistol-pistolan, pedang-pedangan, atau mobil-mobilan,” “Jangan makan dengan tangan kiri,” “Jangan melawan orangtua, “Duduklah dengan sopan,” “Jangan menatap mata atasan,” “Bersikaplah ramah kepada tamu,” “Jangan membicarakan kebesaran dunia di dalam masjid,” dan sebagainya. Budaya ini bahkan mempengaruhi kita setelah kita mati. Pengurusan orang yang meninggal apakah mayatnya dikafani atau dalam peti mati, setelah itu apakah ada tahlilan atau tidak, juga bergantung pada norma-norma budaya yang berlaku pada komunitas kita (Mulyana, 2007: 7).
Sebagian kesulitan komunikasi berasal dari fakta bahwa kelompok-kelompok budaya atau subkultur-subkultur dalam suatu budaya mempunya perangkat norma berlainan. Misalnya, terdapat perbedaan dalam norma-norma komunikasi antara kaum militer dengan kaum sipil, kaum abangan dengan kaum santri, kaum konservatif dengan kaum radikal, penduduk kota dengan penduduk desa, warga Nadhatul Ulama (NU) dengan warga Muhammadiyah, dan bahkan antara generasi tua dengan generasi muda (Mulyana, 2007: 8).
Oleh karena fakta atau rangsangan komunikasi yang sama mungkin dipersepsi secara berbeda oleh kelompok-kelompok berbeda kultur atau subkultur, kesalahpahaman hampir tidak dapat dihindari. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa berbeda itu buruk. Kematangan dalam budaya ditandai dengan toleransi atas perbedaan. Mengutuk orang lain karena mereka berbeda adalah tanda kebebalan dan kecongkakan (Mulyana, 2001: 8).
Komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi dilakukan untuk pemenuhan-diri, untuk merasa terhibur, nyaman dan tenteram dengan diri-sendiri dan juga orang lain. Dua orang dapat berbicara berjam-jam, dengan topik yang berganti-ganti, tanpa mencapai tujuan yang pasti. Pesan-pesan yang mereka pertukarkan mungkin hal-hal yang remeh, namun pembicaraan itu membuat keduanya merasa senang. Kita bisa memahami mengapa seseorang yang mengemukakan persoalan pribadinya kepada orang lain yang dipercayainya merasa beban emosionalnya berkurang. Komunikasi fatik semcam ini dapat sekaligus berfungsi sebagai mekanisme untuk menunjukkan ikatan sosial dengan orang yang bersangkutan, apakah sebagai sahabat, teman sejawat, kerabat, mantan dosen, dan sebagainya (Mulyana, 2007: 19).
2. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi ekspresif
Erat kaitannya dengan komunikasi sosial adalah komunikasi ekspresif yang dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut dikomunikasikan terutama melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati,
gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan dengan kata-kata, namun terutama lewat perilaku nonverbal. Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya dengan membelai kepala anaknya. Seorang atasan menunjukkan simpatinya kepada bawahannya yang istrinya baru meninggal dengan menepuk bahunya (Mulyana, 2007: 24).
Perasaan bahkan juga bisa diungkapkan dengan memberi bunga, misalnya sebagai tanda cinta atau kasih sayang atau ketika kita ingin menyatakan selamat kepada orang yang berulang tahun, lulus menjadi sarjana, atau menikah, atau juga menyatakan simpati dan duka-cita kepada orang yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Emosi kita juga dapat kita salurkan lewat bentuk seni seperti puisi, novel, musik tarian, atau lukisan. Puisi “Aku” karya Chairil Anwar mengekspresikan kebebasannya dalam berkreasi. Harus diakui, bahwa musik juga dapat mengeskpresikan perasaan, kesadaran, dan bahkan pandangan hidup (ideologi) manusia (Mulyana, 2007: 25).
3. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi ritual
Erat kaitannya dengan komunikasi ekspresif adalah komunikasi ritual yang biasanya dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukakn upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup , yang disebut para antropolog sebagai rites of passage , mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun (nyanyi Happy Birthday dan pemotongan kue), pertunangan (melamar, tukar cincin), siraman, pernikahan (ijab-qabul, sungkem kepada orang tua, sawer, dan sebagainya), ulang tahun perkawinan, hingga upacara kematian (Mulyana, 2004: 27).
Komunikasi ritual sering juga bersifat ekspresif, menyatakan perasaan terdalam seseorang. Orang menziarahi makam Nabi Muhammad, bahkan menangis di dekatnya, untuk menunjukkan kecintaan kepadanya. Para siswa yang menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) mencium bendera merah putih, sering dengan berlinang airmata, dalam pelantikan mereka, untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada nusa dan bangsa, terlepas dari apakah kita setuju terhadap perilaku mereka atau tidak (Mulyana, 2007: 28).
Kegiatan ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok. Ritual menciptakan perasaan tertib (a sense of order) dalam dunia yang tanpanya kacau balau. Ritual memberikan rasa nyaman akan keteramalan (a sense of predictability). Bila ritual tidak dilakukan orang menjadi bingung, misalnya bila dua orang bertemu pada hari lebaran dan orang pertama mengulurkan tangan, sedangkan orang kedua sekadar memandangnya, kebingungan atau ketegangan muncul. Bahkan substansi kegiatan ritual itu sendiri yang terpenting, melainkan perasaan senasib sepenanggungan yang menyertainya, perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, yang bersifat “abadi,” dan bahwa kita diakui dan diterima dalam kelompok (agama, etnik, sosial) kita (Mulyana, 2007: 30).
Hingga kapanpun ritual tampaknya akan tetap menjadi kebutuhan manusia, meskipun bentuknya berubah-ubah, demi pemenuhan jati-dirinya sebagai individu, sebagai anggota komunitas sosial, dan sebagai salah satu unsur dari alam semesta. Salah satu ritual modern adalah olahraga. Sebagaimana dikemukakan Michael Novak dalam bukunya The Joy Sports (1976), olah raga, khususnya kompetisi tingkat dunia, mirip dengan upacara keagamaan. Peristiwa itu mencakup tata cara yang hampir dianggap suci dan harus dipatuhi. Di samping itu, peristiwa itu juga menggunakan lambang-lambang seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum, tempat-tempat “suci” yangdikhususkan bagi pemain, pelatih, penonton, juga batasan waktu, dan sebagainya (Mulyana, 2007: 33).
4. Fungsi komunikasi sebagai komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Bila diringkas, maka kesemua tuujuan tersebut dapat disebut membujuk (bersifat persuasif). Komunikasi yang berfungsi memberitahukan atau menerangkan (to
inform) mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan
pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak diketahui (Mulyana, 2007: 33).
Sebagai instrumen, komunikasi kita tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut. Studi komunikasi membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam komunikasi kita untuk bekerja lebih baik dengan orang lain demi keuntungan bersama. Komunikasi bersifat sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka-panjang (Mulyana, 2007: 34).
Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali mempunyai fungsi-fungsi yang tumpang tindih, meskipun salah satu fungsi-fungsinya sangat menonjol dan mendominasi. Menjawab apa fungsi komunikasi dalam kehidupan kita, ternyata sebenarnya terdapat berbagai macam jawaban. Manusia tentu saja dapat mengkonseptualisasikan serta mampu mengembangkan pandangan pandangannya mengenai masalah ini berdasarkan bacaan ataupun pengamatan atas peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi di sekitar kita (Mulyana, 2007: 38).
II. 2 Komunikasi Antarbudaya
II. 2. 1 Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Pembicaraan tentang komunikasi antarbudaya tak dapat dielakkan dari pengertian kebudayaan (budaya). Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak dapat dipisahkan, “harus dicatat bahwa studi komunikasi antarbudaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi” (William B. Hart II, 1996). Kita juga dapat memberikan definisi komunikasi antarbudaya yang paling sederhana yakni,
komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan (Liliweri, 2001: 9-13).
Dengan pemahaman yang sama, maka komunikasi antarbudaya dapat diartikan melalui beberapa pernyataan sebagai berikut:
1. Komunikasi antarbudaya adalah pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya.
2. Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
3. Komunikasi antarbudaya merupakan pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan secara lisan
atau tertulis atau metode lainnya yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya.
4. Komunikasi antarbudaya adalah pengalihan informasi dari seorang yang kebudayaan tertentu kepada seorang yang berkebudayaan lain. 5. Komunikasi antarbudaya adalah pertukaran makna yang berbentuk
simbol yang dilakukan dua orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya.
6. Komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan pesan yang dilakukan seorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek tertentu.
7. Komunikasi antarbudaya adalah setiap proses pembagian informasi, gagasan atau perasaan di antara mereka yang berbeda latar belakang budayanya. Proses pembagian informasi itu dilakukan secara lisan dan tertulis, juga melalui bahasa tubuh, gaya atau tampilan pribadi, atau bantuan hal lain di sekitarnya yang memperjelas pesan. (Liliweri, 2001: 9-10).
Kita dapat melihat bahwa proses perhatian komunikasi dan kebudayaan, terletak pada variasi langkah dan cara berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok manusia. Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, bagaimana menjajagi makna dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi manusia (Liliweri, 2001: 9-10).
Hammer (1989) mengutip perumpamaan Wilbur Schramm (1982), menggambarkan bahwa lapangan studi komunikasi itu ibarat sebuah oasis, dan studi komunikasi antarbudaya itu dibentuk oleh ilmu-ilmu tentang kemanusiaan yang seolah nomadik lalu bertemu di sebuah oase. Ilmu-ilmu sosial “nomadik” itu adalah antropologi, sosiologi, psikologi dan hubungan internasional. Oleh karena itu sebagian besar pemahaman tentang komunikasi antarbudaya bersumber dari ilmu-ilmu tersebut sebagaimana terlihat dalam beberapa definisi berikut ini:
1. Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam buku Larry A. Samovar dan Richard E. Porter Intercultural Communication, A
Reader – komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara
orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, antar kelas sosial. (Samovar dan Porter, 1976: 25). 2. Samovar dan Porter juga mengatakan bahwa komunikasi
antarbudaya terjadi diantara prosedur pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. (Samovar dan Porter, 1976: 4)
3. Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpibadi, dan kelompok, dengan tekanan pada
perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. (Dood, 1991 : 5).
4. Komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, konstektual yang dilakukan sejumlah orang- yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu – memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan. (Lustig dan Koester Intercultural
Communcation Competence,1993).
5. Intercultural communication yang disingkat “ICC” mengartikan komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi antara seorang anggota dengan kelompok yang berbeda kebudayaan.
6. Guo-Ming Chen dan William J. Starosta mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok (Liliweri, 2001: 10-11). Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan :
1) dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam suatu konteks, dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
2) melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
3) sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4) menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara (Liliweri, 2001: 11-12).
Pengertian-pengertian komunikasi antarbudaya tersebut membenarkan sebuah hipotesis proses komunikasi antarbudaya, bahwa semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kita kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Jadi harus ada jaminan terhadap akurasi interpretasi pesan-pesan verbal maupun non verbal. Hal ini disebabkan karena ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal, misalnya derajat pengetahuan, derajat kesulitan dalam permalan, derajat ambiguitas, kebingungan,
suasana misterius yang tak dapat dijelaskan, tidak bermanfaat, bahkan nampak tidak bersahabat (Liliweri, 2001: 12).
Dengan demikian manakala suatu masyarakat berada pada kondisi kebudayaan yang beragam maka komunikasi antarprobadi dapat menyentuh nuansa-nuansa komunikasi antarbudaya. Di sini, kebudayaan yang menjadi latar belakang kehidupan, akan mempengaruhi perilaku komunikasi manusia. Oleh karena itu di saat kita berkomunikasi antarpribadi dengan seseorang dalam masyarakat yang makin majemuk, maka dia merupakan orang yang pertama dipengaruhi oleh kebudayaan kita (Liliweri, 2001: 12).
II. 2. 2 Asumsi-Asumsi Dasar Komunikasi Antarbudaya
Sitaram dan Codgell mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dengan orang lain akan berhasil kalau kita mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi, dan jangan lupa, menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang mereka. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa praktek komunikasi antarbudaya sudah berlangsung sepanjang kehidupan manusia meskipun sistematisasi komunikasi antarbudaya baru terjadi tatkala Edward T. Hall memulai penyelidikan tentang interaksi antarbudaya di sekitar tahun 1950-an (Liliweri, 2001: 14).
Komunikasi antarbudaya adalah merupakan salah satu kajian dalam ilmu komunikasi. Hammer (1995) meminjam pendapat Hall, mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai salah satu kajian dalam ilmu komunikasi karena:
1. secara teoritis memindahkan fokus dari satu kebudayaan kepada kebudayaan yang dibandingkan.
2. Membawa konsep aras makro kebudayaan ke aras mikro kebudayaan. 3. Mengubungkan kebudayaan dengan proses komunikasi.
4. Membawa perhatian kita kepada peranan kebudayaan yang menpengaruhi perilaku
(Liliweri, 2001: 14).
Sebuah teori – termasuk teori komunikasi – berbeda dengan hukum – termasuk hukum komunikasi ; kalau hukum dapat diterapkan secara universal maka teori hanya dapat diterapkan dalam suatu lingkungan atau situasi tertentu.
Situasi dimana suatu teori – termasuk teori komunikasi – dapat diterapkan disebut asumsi, dan hanya dengan asumsi orang akan mampu memberikan batas –batas bagi penerapan sebuah teori (Liliweri, 2001: 15)
Dengan kata lain, asumsi sebuah teori komunikasi merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid, tempat di mana sebuah teori komunikasi dapat diaplikasikan. Atas cara berpikir yang sama maka dapat dikatakan, asumsi sebuah teori komunikasi antarbudaya merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid tempat di mana teori-teori komunikasi antarbudaya itu dapat diterapkan (Liliweri, 2001: 15).
Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita mengenal beberapa asumsi, yaitu:
1. komunikasi antarbudaya di mulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan
2. dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi 3. gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
4. komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian 5. komunikasi berpusat pada kebudayaan
6. efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2001: 15-16).
II. 2. 3 Tujuan Komunikasi Antarbudaya
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Dalam studi komunikasi, terutama teori informasi, diajarkan bahwa tingkat ketidaktentuan itu akan berkurang manakala kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi tersebut (Liliweri, 2001: 15-16). Gudykunstt dan Kim (1984) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita tidak kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas telasi antar pribadi. Dalam buku Liliweri yang berjudul “Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya” (2001: 19-20) usaha untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalu tiga tahap interaksi, yakni :
1. pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi);
2. initial contact and impression, yakni tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal tersebut; misalnya kita bertanya pada diri kita sendiri; Apakah kita seperti mereka? Apakah mereka mengerti kita? Apakah kita merasa rugi waktu kalau berkomunikasi dengan mereka (orang lain)?;
3. closure, mulai membuka diri kita yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit. Teori atribusi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan menyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dia .
Edward T. Hall mengatakan: “Komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi.” Dalam tema atau bagian uraian tentang kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi; dan kedua, hanya dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan, dan kebudayaan hanya akan eksis jika ada komunikasi (Liliweri, 2001: 21).
Dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi. Demikian pula dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antara komunikator dengan komunikan, mencipatakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat kesetiakawanan, persahabatan dan hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi (Liliweri, 2001: 22).
II. 2. 4 Persepsi Dalam Komunikasi Antarbudaya
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain, persepsi adalah cara kita mengubah energi-energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna. Secara umum dipercaya
bahwa orang-orang berperilaku sedemikian rupa sebagai hasil dari cara mereka mempersepsi dunia yang sedemikian rupa pula (Mulyana, 2005: 25).
Perilaku-perilaku ini dipelajari sebagian dari pengalaman budaya mereka. Baik dalam menilai kecantikan atau melukiskan salju, kita memberikan respons kepada stimuli tersebut sedemikian rupa sebagaimana yang budaya kita telah ajakarkan kepada kita. Kita cenderung memperhatikan, memikirkan dan memberikan respons kepada unsur-unsur dalam lingkungan yang penting bagi kita. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi ini (Mulyana, 2005: 25).
Untuk memahami dunia dan tindakan-tindakan orang lain, kita harus memahami kerangka persepsinya. Dalam komunikasi antarbudaya yang ideal kita akan mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Tetapi karakter budaya yang cenderung memperkenalkan kita kepada pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan oleh karenanya membawa kita kepada persepsi yang berbeda-beda atas dunia eksternal (Mulyana, 2005: 26).
Tiga unsur sosio-budaya mempunyai pengaruh yang besar dang langsung atas makna-makna yang kita bangun dalam persepsi kita. Unsur-unsur tersebut adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), pandangan dunia (world view), dan oraganisasi sosial (social organization). Ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi kita dan makna yang kita bangun dalam persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subjektif. Kita semua mungkin melihat entitas sosial yang sama dan menyetujui entitas sosial tersebut dengan menggunakan istilah-istilah yang objektif, tetapi makna objek atau peristiwa tersebut bagi kita tentu sangat berbeda (Mulyana, 2005: 26).
a. Sistem-sistem Kepercayaan, Nilai, dan Sikap.
Kepercayaan secara umum dapat dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan subjektif yang diyakini individu bahwa suatu objek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan tersebut melibatkan hubungan antara objek yang dipercayai dan karakteristik-karakteristik yang membedakannya. Derajat kepercayaan kita mengenai suatu peristiwa atau objek yang memiliki karakteristi-karakteristik tertentu menunjukkan tingkat kemungkinan subjektif kita dan konsekuensinya, juga menunjukkan kedalaman atau intesitas kepercayaan kita (Mulyana, 2005: 26).
Budaya memainkan suatu peranan penting dalam pembentukan kepercayaan. Dalam komunikasi antarbudaya tidak ada hal yang benar atau hal yang salah sejauh hal-hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan. Bila seseorang percaya bahwa suara angin dapat menuntun perilaku seseorang ke jalan yang benar, kita tidak dapat mengatakan bahwa kepercayaan itu salah; kita harus dapat mengenal dan menghadapi kepercayaan tersebut bila kita ingin melalkukan komunikasi yang sukses dan memuaskan (Mulyana, 2005: 26).
Nilai-nilai adalah aspek evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluatif ini meliputi kualitas-kualitas seperti kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan, dan kesenangan. Meskipun setiap orang mempunyai suatu tatanan nilai yang unik, terdapat pula nilai-nilai yang cenderung menyerap budaya. Nilai-nilai itu dinamakan nilai-nilai budaya (Mulyana, 2005: 27).
Nilai-nilai budaya biasanya berasal dari isu-isu filosofis lebih besar yang merupakan bagian dari suatu milieu budaya. Nilai-nilai ini umumnya normatif dalam arti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi rujukan seseorang anggota budaya tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang benar dan yang salah, yang sejati dan palsu, positif dan negatif, dan lain sebagainya (Mulyana, 2005: 27).
Nilai-nilai dalam suatu budaya menampakkan diri dalam perilaku para anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut. Nilai-nilai ini disebut nilai-nilai normatif. Kebanyakan orang melaksanakan perilaku-perilaku normatif; sedikit orang tidak. Orang yang tak melaksanakan perilaku normatif mungkin mendapat sanksi informal ataupun sanksi yang sudah dibakukan.
Perilaku-perilaku normatif juga tampak pada Perilaku-perilaku-Perilaku-perilaku sehari-hari yang menjadi pedoman bagi individu dan kelompok untuk mengurangi atau menghindari konflik (Mulyana, 2005: 27).
Kepercayaan dan nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan isi sikap. Kita boleh mendefinisikan sikap sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk merespons suatu objek secara konsisten. Sikap itu dipelajari dalam suatu konteks budaya. Bagaimanapun lingkungan kita, lingkungan itu akan turut membentuk sikap kita, kesiapan kita untuk merespons, dan akhirnya perilaku kita (Mulyana, 2005: 27).
b. Pandangan Dunia ( World View )
Dalam pandangan dunia (world view) meskipun konsep dan urainnya abstrak, merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam aspek-aspek perseptual komunikasi antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu budaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam, alam semesta, dan masalah-masalah lainnya yang berkenaan dengan konsep mahluk. Pandangan dunia membantu kita untuk mengetahui posisi dan tingakatan kita dalam alam semesta. Oleh karena pandangan dunia begitu kompleks, kita sulit melihatnya dalam suatu interaksi antarbudaya (Mulyana, 2005: 28).
Isu-isu pandangan dunia bersifat abadi dan merupakan landasan paling mendasar dari suatu budaya. Pandangan dunia sangat mempengaruhi budaya. Efeknya seringkali tak kentara dalam hal-hal yang tampak nyata dan remeh seperti pakaian, isyarat, dan perbendaharaan kata. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu, dan banyak aspek budaya lainnya. Dengan cara-cara yang tak terlihat dan tidak nyata, pandangan dunia sangat mempengaruhi komunikasi antarbudaya, oleh karena sebagai anggota suatu budaya setiap pelaku komunikasi mempunyai pandangan dunia yang tertanam dalam pada jiwa yang sepenuhnya dianggap benar dan ia otomatis menganggap bahwa pihak lainnya memandang dunia sebagaimana ia memandangnya (Mulyana, 2005: 28-29).
II. 2. 4. 1 Proses-Proses Verbal
Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana kita berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata kata yang kita gunakan. Proses-proses ini
(bahasa verbal dan pola-pola berpikir) secara vital berhubungan dengan persepsi
dan pemberian serta pernyataan makna (Mulyana, 2005: 30).
II. 2. 4. 2 Bahasa Verbal
Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunitas geografis atau budaya. Objek-objek, kejadian-kejadian, pengalaman-pengalaman, dan perasaan-perasaan mempunyai suatu label atau nama tertentu semata-mata karena suatu komunitas orang, atas kehendak mereka, memutuskan untuk menamakan hal-hal tersebut demikian. Karena bahasa merupakan suatu sistem tak pasti untuk menyajikan realitas secara simbolik, maka makna kata yang digunakan bergantung pada berbagai penafsiran (Mulyana, 2005: 30).
Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berpikir. Maka, bahasa berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman untuk melihat realitas sosial. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan, dan turut serta dalam membentuk pikiran manusia (Mulyana, 2005: 30).
II. 2. 4. 3 Pola-pola berpikir
Proses-proses mental, bentuk-bentuk penalaran, dan pendekatan-pendekatan terhadap pemecahan masalah yang terdapat dalam suatu komunitas, merupakan suatu komponen penting budaya. Kecuali bila mereka mempunyai pengalaman bersama orang-orang lain dari budaya lain yang mempunyai pola berpikir yang berbeda, kebanyakan orang menganggap bahwa setiap orang berpikir dengan cara yang sama (Mulyana, 2005: 30).
Kita juga harus menyadari bahwa terdapat perbedaan-perbedaan budaya dalam aspek-aspek berpikir. Perbedaan-perbedaan ini dapat dijelaskan dengan membandingkan pola-pola berpikir Barat dan pola-pola berpikir Timur. Di Barat umumnya orang berpikir bahwa ada suatu hubungan yang langsung antara konsep-konsep mental dan dunia realitas yang nyata. Orientasi ini menuntut pertimbangan-pertimbangan logis dan rasionalitas. Pandangan Timur sebagaimana dicontohkan dengan pandangan pemeluk agama Tao, ternyata menunjukkan bahwa bagi mereka, manusia tidak dianugerahi rasionalitas yang segera (Mulyana, 2005: 31).
Kebenaran tidak ditemukan dengan pencarian aktif dan penerapan cara-cara berpikir Aristotelian. Sebaliknya, orang harus menunggu, dan bila kebenaran memang harus diketahui, maka kebenaran itu akan menampakkan diri. Perbedaan utama dalam kedua pandangan ini terdapat pada bidang kegiatan. Bagi orang-orang Barat, kegiatan manusia itu penting dan akhirnya akan menuntun kepada penemuan kebenaran. Dalam tradisi pemeluk agama Tao, kebenaran merupakan agen yang aktif, dan bila kebenaran itu harus diketahui, kebenaran akan muncul melalui kegiatan penampakan diri kebenaran tersebut (Mulyana, 2005: 31).
Pola-pola berpikir suatu budaya mempengaruhi bagaimana individu-individu dalam budaya itu berkomunikasi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi bagaimana setiap orang merespons individu-individu dari suatu budaya lain. Kita tidak dapat mengharapkan setiap orang untuk menggunakan pola-pola berpikir yang sama, namun memahami bahwa terdapat banyak pola berpikir dan belajar menerima pola-pola tersebut akan memudahkan komunikasi antarbudaya kita (Mulyana, 2005: 31).
II. 2. 4. 4 Proses-Proses Nonverbal
Proses-proses verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Walaupun tidak terdapat kesepakatan tentang bidang proses nonverbal ini, kebanyakan ahli setuju bahwa hal-hal berikut mesti dimasukkan: isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, postur dan gerakan tubuh, sentuhan, pakaian, artefak, diam, ruang, waktu, dan suara. Dalam proses-proses nonverbal yang
relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat tiga aspek yang akan dibahas:
perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu,
dan penggunaan dan pengaturan ruang (Mulyana, 2005: 31).
II. 2. 5 Perilaku Nonverbal
Sentuhan sebagai bentuk komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi nonverbal merupakan suatu produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum lelakinya biasa berjabatan tangan dalam pegaulan sosial; di Amerika Serikta kaum wanita jarang berjabatan tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan lawan jenis) ti tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu pelanggaran sosial. Kita dapat membayangkan masalah-masalah yang akan timbul bila orang tidak memahami kelainan-kelainan ini (Mulyana, 2005: 32).
Sebagai suatu komponen budaya, ekspresi nonverbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Sebagaimana telah kita pelajari bahwa kata stop dapat berarti berhenti, kita pun telah mempelajari bahwa lengan yang diangkat lurus di udara dengan telapak tangan menghadap ke muka sering berarti hal yang sama (Mulyana, 2005: 32).
Karena kebanyakan komunikasi nonverbal berlandaskan budaya, apa yang dilambangkannya seringkali merupakan hal yang telah budaya sebarkan kepada anggota-anggotanya. Misalnya lambang nonverbal untuk bunuh diri berbeda-beda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Di Amerika Serikat hal itu dilambangkan dengan jari yang diarahkan ke pelipis, di Jepang dilambangkan dengan tangan yang diarahkan ke perut, dan di New Guinea dilambangkan dengan tangan pada leher (Mulyana, 2005: 32).
Lambang-lambang nonverbal dan respons-respons yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan kita: bagaimana kita
mengirim, menerima, dan merespons lambang-lambang nonverbal tersebut (Mulyana, 2005: 32).
II. 2. 5. 1 Konsep Waktu
Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, ddan pentingnya atau kurang pentingnya waktu. Sebagai contoh, kebanyakan budaya Barat memandang waktu sebagai langsung dan berhubungan dengan ruang dan tempat. Kita terikat oleh waktu dan sadar akan adanya masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Dalam budaya Amerika dominan bahkan kita pun menemukan kelompok-kelompok yang mempersespsi waktu dengan cara yang aneh bagi orang-orang asing. (Mulyana, 2005: 33).
Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banyak perbedaan mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya dan perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi (Mulyana, 2005: 33).
II. 2. 5. 2 Penggunaan Ruang
Cara orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antarpersona disebut proksemika (proxemics). Proksemika tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Penting disadari bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara-cara yang berbeda pula dalam menjaga jarak ketika bergaul dengan sesamanya (Mulyana, 2005: 33).
Bila kita berbicara dengan orang yang berbeda budaya, kita harus dapat memperkirakan pelanggaran-pelanggaran apa yang baka terjadi, menghindari pelanggaran-pelanggaran tersebut, dan meneruskan interaksi kita tanpa memperlihatkan rekassi permusuhan. Orientasi fisik juga dipengaruhi oleh budaya, dan turut menentukan hubungan-hubungan sosial (Mulyana, 2005: 33).
Kita juga cenderung menentukan hierarki sosial dengan mengatur ruang. Kesalahpahaman mudah terjadi dalam peristiwa-peristiwa antarbudaya ketika dua orang, masing-masing berperilaku sesuai dengan budayanya masing-masing, tak
memenuhi harapan pihak lainnya. Cara kita mengatur ruang merupakan suatu fungsi budaya. Pemahaman atas perbedaan-perbedaan budaya ini akan menolong kita mengetahui sumber-sumber masalah yang potensial, sedangkan pemahaman atas persamaan-persamaannya akan membantu kita menjadi lebih dekat kepada pihak lain dan pihak lain pun merasa lebih dekat kepada kita (Mulyana, 2005: 35).
II. 3 PERILAKU BUDAYA II. 3. 1 Perilaku Verbal
Perilaku verbal adalah sebuah bentuk perilaku komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Ada aturan-aturan yang berlaku untuk setiap bahasa yaitu fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatis (Lusiana, 2002: 19).
Bentuk yang paling umum dari bahasa verbal manusia ialah : bahasa terucapkan. Bahasa tertulis adalah sekedar cara untuk merekam bahasa terucapkan dengan membuat tanda-tanda pada kertas maupun pada lembaran tembaga dan lain-lain. Penulisan ini memungkinkan manusia untuk merekam dan menyimpan pengetahuan sehingga dapat digunakan di masa depan atau ditransmisikan kepada generasi-generasi berikutnya (Lusiana, 2002:19).
II. 3. 2 Perilaku Nonverbal
Perilaku komunikasi nonverbal memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, walaupun hal ini sering kali tidak kita disadari. Padahal kebanyakan ahli komunikasi akan sepakat apabila dikatakan bahwa dalam interaksi tutup muka umumnya, hanya 35 persen dari “social context” suatu pesan yang disampaikan dengan kata-kata. Maka ada yang mengatakan bahwa bahasa verbal penting tetapi bahasa nonverbal tidak kalah pentingnya, bahkan mungkin lebih penting, dalam peristiwa komunikasi (Lusiana, 2002: 21).
Pesan atau perilaku nonverbal menyatakan pada kita bagaimana menginterprestasikan pesan-pesan lain yang terkandung didalamnya, misalnya : apa orang yang menyatakan pesan itu serius, bercanda, mengancam dan lain-lain. Hal demikian disebut : “second-order message” atau “meto-communication”
(Gregory Bateson), yakni merangka yang mengelilingi pesan sehingga merupakan pedoman untuk penafsiran (Lusiana, 2002: 21).
Untuk merumuskan pengertian “komunikasi nonverbal”, biasanya ada beberapa defenisi yang digunakan secara umum :
1. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa kata-kata.
2. Komunikasi nonverbal terjadi bila individu berkomunikasi tanpa menggunakan suara.
3. Komunikasi nonverbal adalah setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang diberi makna oleh orang lain.
4. Komunikasi nonverbal adalah suatu mengenai ekspresi, wajah, sentuhan, waktu, gerak, syarat, bau, erilaku mata dan lain-lain (Lusiana, 2002: 21).
Komunikasi nonverbal adalah proses yang dijalani oleh seorang individu atau lebih pada saat menyampaikan isyarat-isyarat nonverbal yang memiliki potensi untuk merangsang makna dalam pikiran individu atau individu-individu lain (Lusiana, 2002: 21).
II. 3. 2. 1 Macam-macam Perilaku Nonverbal
Dalam perilaku nonverbal dapat dibagi lagi secara garis besar ke dalam: 1. Penampilan (Objecties)
2. Gerakan badaniah (Kinesics) 3. Persepsi Inderawi (Sensorics)
4. Penggunaan ruang jarak (Proxemics)
5. Penggunaan waktu (Chronemics) (Lusiana, 2002: 24).
Berdasarkan jurnal yang berjudul Komunikasi Antarbudaya karangan Lusiana A. Lubis (2002: 25-26) berikut adalah pembahasan tentang contoh-contoh perilaku nonverbal, khususnya dalam konteks antar budaya.
1. Penampilan (Objecties)
Untuk memutuskan apakah akan memulai pembicaraan dengan orang lain, tidak jarang kita dipengaruhi oleh penampilan. Kadang-kadang kesimpulan tentang kecerdasan, status sosial, pekerjaan seseorang ditarik dari bagaimana ia menampilkan dirinya. Misalnya : cara berpakaian.
2. Gerakan Badaniah (Kinesics)
Dalam beberapa tahun terakhir, buku-buku dan artikel mengenai ‘bahasa badan’ (body language) telah memusatkan perhatian pada cara-cara manusia menggunakan gerak isyarat badan sebagai suatu bentuk komunikasi. Studi sistematik yang berupaya untuk menformalisasikan dan mengkordifikasikan perilaku badaniah ini disebut “Kinesics”. Studi Kinesics mempelajari bagaimana isyaratisyarat nonverbal ini, baik yang sengaja maupun tidak, dapat mempengaruhi komunikasi. Salah satu contoh adalah : kita menyatakan sikap kepada orang-orang lain dengan beberapa cara, misalnya : kita menunjukkan bahwa kita menyukai seseorang dengan menghadapkan badan kita padanya, bukan dengan mengelak. Juga mencondongkan badan kita kepada orang lain menandakan sikap positif kepadanya atau bisa juga sikap agresif.
3. Persepsi Inderawi (Sensorics) a. Rabaan atau Sentuhan
Kebudayaan mengajarkan pada anggota-anggotanya sejak kecil tentang siapa yang dapat kita raba, bilamana dan dimana kita bisa raba atau sentuh. Dalam banyak hal juga, kebudayaan mengajarkan kita bagaimana nafsirkan tindakan perabaan atau sentuhan. Dalam hal berjabatan tangan juga ada variasi kebudayaannya. Di negara jerman orang berjabat tangan hampir pada setiap kali pertemuan, sehingga sedikit modifikasinya dari satu situasi ke situasi yang lain. Tetapi di AS, jabatan tangan lebih digunakan untuk menunjukkan perasaan, misalnya jabatan tangan yang kuat, lemah, atau sensual. (Lusiana, 2002:25)
b. Penciuman (Olfaction)
Indera penciuman dapat berfungsi sebagai saluran untuk membangkitkan makna. Beberapa contoh yang ada dibawah ini melukiskan peranan penciuman dalam berbagai kebudayaan.
Di negara-negara yang penduduknya tidak terlalu banyak mengkonsumsikan daging, ada anggapan bahwa orang-orang AS mengeluarkan bau yang tidak enak karena terlalu banyak makan daging. Persepsi mengenai bau memang berbeda antar satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Jika orang AS merupakan
pencerminan dari kebudayaan yang anti bau, maka di beberapa negara Arab, prianya mengingingkan kaum wanitanya untuk mempunyai bau alam, yang dianggap sebagai perluasan dari pribadi individu (Lusiana, 2002:25).
4. Penggunaan Ruang Jarak (Proxemics)
Cara kita menggunakan ruang jarak sering kali menyatakan kepada orang lain sesuatu mengenai diri kita secara pribadi maupun kebudayaan. Aturan-aturan dan prosedur- prosedur yang menentukan ruang jarak dipelajari sebagai bagian dari masing-masing kebudayaan.
Contoh penggunaan ruang jarak di kantor-kantor. Orang AS lebih suka ada meja yang membatasi dirinya dengan orang lain. Dalam kebudayaan lainnya seperti Amerika Latin atau Israel, meja dianggap membatasi komunikasi, sehingga orang berusaha untuk mendekati pihak yang diajak berbicara (Lusiana, 2002:25).
5. Sikap terhadap Waktu (Chronemics)
Kebiasaan – kebiasaan bisa berbeda pada macam-mcam kebudayaan dalam hal :
a. Persiapan berkomunikasi b. Saat dimulainya komunikasi
c. Saat proses komunikasi berlangsung d. Saat mengakhiri.
II. 4 Kerangka Konsep
Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena yang sama. Konsep dibangun dari teori-teori yang digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti (Bungin, 2008: 57).
Adapun konsep atau variabel yang terdapat di dalam penelitian ini adalah Tanggapan Masyarakat Lingkungan II Kelurahan Sei Sikambing C II Kecamatan Medan Helvetia Tentang Perilaku Budaya Anak Punk di Kelurahan Sei Sikambing C II Medan Helvetia.
II. 5 Model Teoritis
Gambar 1. 3 Model Teoritis Penelitian
Komunikasi Komunikasi Antarbudaya Perilaku Budaya Perilaku Verbal Perilaku Nonverbal Penampilan Gerakan Badaniah Persepsi
II. 6 Operasional Variabel
Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan diatas, maka dibentuklah operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian sebagai berikut:
Variabel Penelitian Indikator
Tanggapan Masyarakat Lingkungan II Kelurahan Sei Sikambing C II Kecamatan Medan Helvetia Tentang Perilaku Budaya Anak Punk di Kelurahan Sei Sikambing C II Medan Helvetia.
1. Perilaku Verbal
a. Topik pembicaraan b. Frekuensi Berkomunikasi c. Kejelasan Isi
d. Waktu Penyampaian Pesan e. Suasana Penyampaian Pesan f. Isi Pesan
2. Perilaku Non Verbal a. Penampilan
b. Gerakan Badaniah c. Persepsi Inderawi
d. Penggunaan Ruang Jarak e. Penggunaan Waktu 1. Jenis Kelamin
2. Usia 3. Pendidikan 4. Pekerjaan
II. 7 Defenisi Operasional
Definisi operasional merupakan suatu petunjuk pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel-variabel. Adapun yang menjadi definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
A. Tanggapan Masyarakat Tentang Perilaku Budaya :
1. Perilaku Verbal, yaitu bentuk perilaku komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Dalam hal ini kaitannya adalah perilaku verbal yang terjadi pada anak
punk di Kelurahan Sei Sikambing C II Medan yang dapat
menjadi tanggapan masyarakat. Adapun faktor faktor yang dapat diteliti dari perilaku verbal tersebut adalah :
a. Topik Pembicaraan
Topik Pembicaraan sangat mempengaruhi proses komunikasi antara komunikan dan komunikator, dalam hal ini adalah topik pembicaraan yang dilakukan oleh masyarakat Lingkungan II Sei Sikambing C II dengan anak punk yang berada di Kelurahan Sei Sikambing C II tersebut.
b. Frekuensi Berkomunikasi
Frekuensi berkomunikasi juga menentukan tanggapan masyarakat terhadap kelompok punk tersebut. Semakin sering berkomunikasi dengan kelompok punk tersebut, tentu secara tidak langsung akan ada penilaian tersendiri terhadap perilaku budaya mereka.
c. Kejelasan Isi
Kejelasan isi pesan sewaktu berkomunikasi juga mempengaruhi seseorang dalam memahami maksud dari pesan yang disampaikan lawan bicaranya sewaktu berkomunikasi.
d. Waktu Penyampaian Pesan
Waktu penyampaian pesan juga dapat mempengaruhi pemahaman seseorang terhadap pesan yang disampaikan oleh si pemberi pesan.
e. Suasana Penyampaian Pesan
Dalam menyampaikan pesan, suasana juga tidak kalah berperan penting. Apakah sewaktu dalam penyampaian pesan suasananya santai, terbuka, dll.
f. Isi Pesan
Merupakan kumpulan informasi yang dapat menjadi suatu pertimbangan dan masukan dalam menilai pesan
yang disampaikan. Apakah bermanfaat atau tidak, menarik untuk didengarkan, bersifat positf atau negatif dan lain sebagainya.
2. Perilaku Nonverbal, yaitu proses yang dijalani oleh seorang individu atau lebih pada saat menyampaikan isyarat-isyarat nonverbal yang memiliki potensi untuk merangsang makna dalam pikiran individu atau individu-individu lain. Dalam hal ini kaitannya adalah perilaku nonverbal yang terjadi pada anak punk di Kelurahan Sei Sikambing C II Medan yang dapat menjadi tanggapan masyarakat.
a. Penampilan
Penampilan dari anak punk dapat dinilai dari cara mereka berpakaian dan bergaya.
b. Gerakan badaniah
Yaitu cara anak punk menggunakan gerak isyarat badan sebagai suatu bentuk komunikasi.
c. Persepsi Inderawi
Yaitu cara anak punk menggunakan indera rabaan, sentuhan, dan penciuman mereka ketika berkomunikasi. d. Penggunaan Ruang Jarak
Yaitu bagaimana anak punk menggunakan ruang jarak dalam berkomunikasi dengan.
e. Penggunaan Waktu
Yaitu seberapa lama durasi yang digunakan selama berkomunikasi dengan anak punk
B. Karakteristik Responden :
a. Jenis Kelamin, yaitu jenis kelamin dari responden laki-laki atau perempuan.
b. Usia, yaitu umur atau usia dari responden dengan rentang usia mulai dari 20 – 60 tahun.
c. Pendidikan, yaitu tingkat pendidikan terakhir responden mulai dari SMP, SMA, Diploma, Sarjana (S1), dan Sarjana (S2)
d. Pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan dari responden seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Swasta, Wiraswasta, Mahasiswa, dan lain-lain.