• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK 2019"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1 I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Produktifitas hutan tanaman salah satunya sangat tergantung pada kualitas benih yang digunakan untuk pembuatan bibit/ tanaman. Budidaya tanaman hutan sebaiknya menggunakan benih unggul. Benih dapat dikatakan unggul bilamana mempunyai kualitas genetik yang unggul (baik) berdasarkan sifat-sifat tertentu sesuai dengan tujuan pengusahaan hutan. Benih unggul didapatkan/ dihasilkan melalui serangkaian hasil kegiatan penelitian bidang pemuliaan dan biotekhnologi tanaman hutan (Irawan dkk., 2012)

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta merupakan salah satu institusi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang melakukan penelitian bidang Pemuliaan Pohon dan Biotekhnologi untuk menghasilkan benih unggul tanaman kehutanan yang mempunyai produktifitas tinggi sesuai dengan tujuan pengelolaan. Sampai dengan saat ini BBPBPTH telah menghasilkan benih unggul dari beberapa jenis tanaman kehutanan yang ditujukan untuk menghasilkan kayu dan non kayu. Beberapa jenis tanaman yang dilakukan penelitian untuk memperoleh benih unggul adalah jenis akasia dan eukaliptus, sengon, jati, jabon putih dan jabon merah, pulai, merbau, kayu putih, murbai, nyamplung, araucaria (Leksono, 2015).

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPK) Palembang sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah, mempunyai mandat untuk melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pada semua bidang fokus kegiatan khususnya yang berada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Lampung dan Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai daya dukung terhadapt pogram penelitian dan pengembangan yang dilakukan, BP2LHK Palembang mempunyai beberapa Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan Kebun Penelitian sebagai tempat untuk melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan melalui pembangunan demplot dan ujicoba perlakuan penelitian. Wilayah KHDTK dan Kebun Penelitian tersebut berada dalam wilayah KPH (KPHP Muara Dua, KPHP Benakat dan Bukit Cogong, KPHL Banyuasin), sehingga beberapa plot penelitian yang terdapat dalam KHDTK dan

(2)

2 Kebun Penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai contoh model pengembangan suatu jenis tanaman di dalam pengelolaan KPH.

Sebagai langkah kongkrit dalam pemasyarakatan benih unggul dan hasil- hasil penelitian bidang pemuliaan dan biotekhnologi tanaman hutan maka BP2LHK Palembang melakukan kegiatan “Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK” yang sekaligus bisa berfungsi sebagai demoplot pembangunan tanaman hutan yang telah menggunakan benih unggul.

B. Tujuan Pengembangan

Tujuan kegiatan jangka panjang adalah demplot tanaman unggulan hasil pemuliaan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai “show window” pengelolaan hutan produktivitas tinggi.

Tujuan yang ingin dicapai untuk kegiatan tahun 2019 adalah diketahuinya potensi pertumbuhan tanaman umur 2,5 tahun dan produksi daun serta minyak kayu putih dari daun umur 9 bulan setelah pemangkasan di KHDTK Kemampo.

C. Luaran

Keluaran yang diharapkan adalah terbangunnya demplot tanaman unggulan hasil pemuliaan Badan Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dapat dijadikan sebagai “show window” pengelolaan hutan produksi tinggi.

Sedangkan keluaran yang diharapkan tahun 2019 adalah :

1. Terpeliharanya plot tanaman kayu putih seluas 3 hektar di KHDTK Kemampo.

2. Data dan informasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman umur 3 tahun.

3. Uji coba pemanenan daun dan produksi minyak kayu putih dari daun berumur 9 bulan setelah pemangkasan batang

D. Dampak Kegiatan

Beberapa dampak dari adanya pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman unggulan hasil pemuliaan di KHDTK khususnya untuk pengembangan jenis tanaman kayu putih adalah sebagai berikut:

(3)

3 1. Pembangunan plot tanaman kayu putih yang berada di luar sebaran alaminya (di luar lokasi sumber benihnya), khususnya pengembangan di wilayah Sumatera pada umumnya dan di wilayah Sumatera Selatan pada khususnya, dapat dijadikan sebagai referensi data dan informasi produktivitas benih unggul hasil pemuliaan bilamana dikembangkan di luar sebaran alaminya (sumber benihnya). Sehingga, apabila nantinya akan dikembangkan dalam skala besar (massal) khususnya di wilayah Sumatera Selatan, maka taksiran produktivitas yang diperkirakan akan mendekati yang sebenarnya.

2. Pada tahun 2019 akan dilakukan kegiatan produksi atau pemanenan daun hasil dari pertunasan baru setelah pemangkasan batang bulan Desember 2018.

Hasil produksi daun ini dilanjutkan dengan proses penyulingan minyak kayu putih. Hasil yang didapatkan digunakan sebagai dasar penentuan luas dan rotasi panen untuk pengembangan tanaman kayu putih di Sumatera Selatan.

3. KHDTK Kemampo termasuk dalam wilayah KPHL dan dekat dengan pemukiman masyarakat. Plot tanaman unggulan hasil pemuliaan dapat dijadikan sebagai contoh untuk bisa diaplikasikan skala massal sebagai komoditas utama bisnis KPH dalam rangka untuk mewujudkan sentra-sentra pengembangan bisnis baru.

4. Selain itu, plot yang ada juga bisa digunakan sebagai contoh bagi masyarakat sekitar untuk pengembangan tanaman kayu putih secara swadaya yang secara langsung ataupun tidak akan memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar melalui produksi HHBK minyak kayu putih dan HHBK jenis lainnya.

E. Relevansi dengan IKK Eselon I KLHK

Kegiatan pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK mempunyai relevansi dengan rencana strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan periode 2015-2019 yaitu pada rencana strategis “memanfaatkan potensi Sumberdaya hutan dan lingkungan hutan secara lestari untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan” dimana komponen utama yang di laksanakan adalah dengan menggalakkan/

meningkatkan produksi hasil hutan khususnya hasil hutan bukan kayu.

(4)

4 Kegiatan pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK melalui pembangunan demoplot tanaman unggulan bertujuan untuk memberikan bukti dan sekaligus show window budidaya tanaman hutan yang mempunyai produktifitas tinggi. Kegiatan ini tidak secara langsung meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sesuai dengan rencana strategis 2015-2019 karena memang program kegiatan yang dilaksanakan bukanlah skala operasional lapangan. Namun, nilai penting yang nantinya dapat diambil adalah adanya pembelajaran dan bukti kongkrit bagi masyarakat dan pelaku usaha sektor kehutanan lainnya bahwasanya Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menghasilkan benih unggul yang mempunyai produktifitas yang tinggi dan layak untuk dikembangkan sebagai komoditas bisnis. Dengan adanya demoplot ini diharapkan masyarakat ataupun pelaku usaha sektor kehutanan lainnya mau untuk menggunakan benih unggul hasil pemuliaan dan mengembangkan budidaya tanaman hutan sendiri dalam rangka untuk meningkatkan produksi hasil hutan yang secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lokasi kegiatan Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan yang dilaksanakan di KHDTK sudah sangat tepat dan sesuai dengan rencana strategis Kementerian. Seluruh KHDTK yang dikelola oleh Badan Litbang dan Inovasi pada dasarnya merupakan areal KPHP/L. Konsentrasi kegiatan di KHDTK sekaligus mendorong terselenggaranya kemandirian KPHP/ L dalam mewujudkan rencana bisnis masing-masing KPHP/L pada tingkat tapak. Hal ini sesuai dengan tahapan pembangunan tahun 2015-2019, dimana pada tahun 2016 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan setidaknya 229 KPH harus sudah mulai untuk diintervensi secara langsung untuk mendorong produksi kayu, HHBK dan jasa lingkungan air. Adanya demoplot budidaya tanaman unggulan dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan jenis tanaman unggulan yang bisa dikembangkan skala bisnis operasional besar pada lahan-lahan di KPH.

(5)

5 II. TINJAUAN PUSTAKA

Pembangunan hutan tanaman baik produksi kayu maupun non kayu di tuntut untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomi tinggi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Produksi hasil hutan yang tinggi di dapatkan melalui kolaborasi antara beberapa aspek pengelolaan hutan yaitu: Penggunaan benih unggul, aplikasi teknik silvikultur intensif dan perlindungan hutan. Kolaborasi diantara beberapa aspek tersebut yang saling mendukung dan melengkapi sudah banyak memberikan bukti kongkrit dari keberhasilan pembangunan hutan tanaman.

Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi merupakan salah satu institusi lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan bidang “hutan” dan “kehutanan”

dalam upaya untuk peningkatan produktifitas hutan baik secara khusus bagi pengelola hutan dan secara umum bagi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Balai Besar Penelitian Biotekhnologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan yang terdapat di Yogyakarta telah melakukan serangkaian kegiatan bidang Biotekhnologi dan Pemuliaan tanaman hutan dengan tujuan akhir untuk menghasilkan benih unggul tanaman hutan baik untuk produksi kayu maupun non kayu sesuai dengan tujuan pengusahaan hutan. Beberapa jenis tanaman yang dilakukan penelitian untuk memperoleh benih unggul adalah jenis akasia dan eukaliptus, sengon, jati, jabon putih dan jabon merah, pulai, merbau, kayu putih, murbai, nyamplung, araucaria.

Salah satu hasil kegiatan Penelitian Biotekhnologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan adalah telah diperolehnya benih unggul tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi). Kayu putih merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak atsiri yang umumnya dihasilkan dari daun melalui proses penyulingan. Kayu putih termasuk dalam famili Myrtaceae yang se-famili dengan Eucalyptus dan merupakan salah satu sumber minyak atsiri yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Kayu putih merupakan tumbuhan perdu yang mempunyai batang pohon kecil dengan banyak anak cabang yang menggantung ke bawah. Daunnya berbentuk lancip dengan tulang daun yang sejajar. Bunga kayu putih berwarna merah, sedangkan kulit batang kayunya berlapis-lapis dengan permukaan

(6)

6 terkelupas. Tanaman kayu putih tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang spesifik. Pohon kayu putih dapat tumbuh baik dari ketinggian 5 - 450 m di atas permukaan laut (Lutony, 1994).

Berbagai sumber menyebutkan bahwa kebutuhan minyak kayu putih dalam negeri Indonesia belum dapat dipenuhi dari sumber produksi sendiri. Kebutuhan minyak kayu putih dalam negeri adalah sebesar 1.500 ton minyak kayu putih setiap tahun. Kemampuan produksi minyak putih dalam negeri baru terpenuhi sekitar 450 ton yang berasal dari 24.000 hektar areal tanaman kayu putih.

Sehingga setiap tahun terdapat kekurangan pasokan minyak kayu putih sebesar 1.000 ton yang pemenuhannya melalui impor minyak eukaliptus dari Tiongkok.

Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya peluang untuk pengembangan industri minyak kayu putih masih terbuka lebar (Kartikawati dan Rimbawanto, 2012).

Upaya peningkatan pemenuhan kebutuhan minyak kayu putih diupayakan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui peningkatan produktivitas biomassa/ daun dan rendemen. Upaya yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah peningkatan biomassa dan rendemen melalui kegiatan biotekhnologi dan pemuliaan tanaman kayu putih yang telah dimulai tahun 1995. Program pemuliaan dan biotekhnologi melalui kegiatan seleksi dan hibridisasi diarahkan untuk menghasilkan benih unggul kayu putih yang mempunyai rendemen minyak dan kandungan sineol yang tinggi. Kedua faktor tersebut digunakan sebagai indikator peningkatan kualitas dan kuantitas produksi minyak kayu putih. (BBPBPTH, 2014).

Saat ini Balai Besar Penelitia Biotekhnologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta telah menghasilkan benih unggul generasi 1 (F1) hasil program pemuliaan pohon yang mempunyai produktifitas tinggi. Benih unggul hasil dari kegiatan pemuliaan mempunyai potensi produksi kayu putih dengan kadar sineol 65-73% dan rendemen minyak sebesar 2,05-4,7%. Produktivitas ini jauh lebih tinggi bilamana dibandingkan dengan tanaman kayu putih pada umumnya yang mempunyai kandungan sineol 50-60% dan rendemen minyak 0,6-1%. Artinya penggunaan benih unggul kayu putih bisa meningkatkan produksi kandungan sineol sebesar 25,45% dan rendemen minyak sebesar 159,61% bila dibandingkan dengan tanaman kayu putih pada umumnya (BBPBPTH, 2014; Susanto, 2014).

(7)

7 Benih unggul kayu putih dengan produktifitas tinggi hasil dari program pemuliaan pohon telah dihasilkan dari kebun benih yang dibangun di Indramayu, Purwodadi, Ponorogo dan Mojokerto. Tahapan selanjutnya adalah pengembangan tanaman kayu putih dalam bentuk budidaya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan kayu putih. Sampai saat ini, pengelolaan tanaman kayu putih terdapat di Indonesia bagian timur yaitu di Maluku sekitar 120.000 hektar dengan pengelolaan tanaman alam yang masih sederhana dan apa adanya. Tanaman dibiarkan tumbuh tanpa sentuhan teknologi atau perawatan intensif dan sistem produksi penyulingannya pun masih skala kecil dan sederhan. Kondisi semacam ini menghasilkan produksi minyak kayu putih sebesar 100 ton per hektar. (Susanto, 2014). Selain di Maluku, tanaman kayu putih juga dikembangkan di Jawa oleh Perum Perhutani seluas 18.000 hektar dengan produktivitas 300 ton minyak/

tahun dan Dinas Kehutanan DIY yang seluas 4.000 hektar dengan produksi 50 ton/ tahun.

Budidaya dan pengelolaan tanaman kayu putih mempunyai prospek dan peluang yang menjanjikan bilamana bisa dikembangkan pada lahan-lahan yang kurang produktif terutama lahan-lahan dalam Kesatuan Pengelolaa Hutan (KPH) yang ada di Indonesia khususnya pengembangan pada lahan hutan di Indonesia Bagian Barat (Sumatera). Data dan informasi (Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Hutan, 2012) luas lahan KPH yang belum terbebani izin pengusahaan hutan pada tahun 2012, terdapat 848.038,47 Ha untuk lahan KPHP se-Sumatera dan Bangka Belitung. Luas lahan tersebut merupakan 16,52%

dari total luas lahan keseluruhan KPH (baik KPHP dan KPHL) yang ada di seluruh Indonesia.

Tabel 1. Luas lahan KPHP yang terdapat di Sumatera dan Bangka Belitung

No KPHP Luas Tot.

(Ha) Izin Pemanfaatan

Hutan (Ha) Luas yg belum ada izin (Ha)

1 Mandailing natal (SUMUT) 159166 96598.46 62567.54

2 Muko-muko (Bengkulu) 78274 26911.76 51362.24

3 Lalan (Muba) 265953 148275.22 117677.78

4 Lakitan ((musirawas) 76776 34499.5 42276.5

5 Way Terusan (Lampung Tengah) 12500 0 12500

6 Muara Dua (Lampung) 49134 47586.05 1547.95

7 Gedong Wani (Lampung Timur) 30243 0 30243

8 Tasik Besar Serkap (Riau) 513276 358417.39 154858.61

(8)

8

9 Kampar Kiri (Riau) 143783 33824.12 109958.88

10 Tebing Tinggi (Riau) 69747 24780.91 44966.09

11 Limau (Unit VII) (Jambi) 121102 821.05 120280.95

12 Merangin (Jambi) 76137 15177.07 60959.93

13 Sungai Sembulan (Bangka Tengah) 39413 574 38839

Jumlah 1635504 787465.53 848038.47

Total seluruh KPH (KPHP dan KPHL) se-Indonesia 5134494 Sumber: Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Hutan (2012)

Bilamana areal KPHP yang belum terbebani izin tersebut dilakukan penanaman kayu putih dengan benih yang biasa maka dibutuhkan luasan sebesar 56.000 Ha untuk mendukung kekurangan pasokan kebutuhan minyak kayu putih 1.000 Ha. Namun jumlah luasan yang dibutuhkan akan semakin berkurang bilamana benih yang dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya adalah benih unggul hasil kegiatan pemuliaan pohon. Dengan kapasitas peningkatan rendemen sebesar 159% bila dibandingkan dengan benih asalan, maka hanya dibutuhkan sekitar 2.133 Ha lahan KPH untuk pemenuhan kekurangan kebutuhan minyak kayu putih sebesar 1.000 ton.

Selain itu, pengembangan pembangunan kayu putih dalam pemberdayaan lahan produksi di lahan KPH khususnya di Sumatera mempunyai beberapa keuntungan yaitu:

a. Tanaman kayu putih mempunyai tingkat persebaran yang tinggi, mampu bertahan hidup pada lahan marginal dan adaptabilitas yang tinggi pada lahan yang baru.

b. Kemampuan daya tahan hidup (persentase hidup) yang tinggi merupakan hal yang sangat menguntungkan apabila digunakan sebagai tanaman rehabilitasi yang umumnya merupakan area marginal.

c. Perkembangbiakan tanaman kayu putih relatif mudah dan murah, didukung oleh benih yang berukuran sangat kecil, berlimpah dan tidak mengalami keterbatasan benih karena kegagalan produksi.

d. Kayu putih dapat dikembangbiakan dengan teknik perbanyakan vegetatif (stek pucuk, cangkok, kultur jaringan) sebagai alternatif teknik pembiakan dan digunakan untuk menghasilkan keturunan dengan nilai genetik yang

(9)

9 sama dengan induknya. Teknik perbanyakan vegetatif sederhana dengan stek pucuk telah menghasilkan tingkat keberhasilan yang tinggi.

e. Kayu putih diusahakan untuk menghasilkan hasil hutan bukan kayu berupa minyak kayu putih yang dihasilkan dari proses penyulingan daun.

Pengembangan hasil hutan bukan kayu memberikan banyak manfaat yaitu:

a. Pengambilan hasil hutan bukan kayu mampu memberikan kontribusi penutupan lahan yang cukup lama bila dibandingkan dengan pemungutan hasil kayu, b. Sebagai daya dukung terhadap pemerintah dalam program

“cadangan karbon”, c. Pengusahaan minyak kayu putih bisa dilakukan skala rumah tangga dengan melibatkan unsur masyarakat sekitar.

f. Produksi daun kayu putih sebagai komoditi utama proses penyulingan sudah mulai bisa dilaksanakan pada periode umur produksi 2-5 tahun.

Periode produksi yang relatif lebih cepat akan sangat menguntungkan bagi pelaku usaha karena sistem pengembalian modal yang lebih cepat dan menghasilkan laba yang lebih tinggi.

g. Kayu putih sebagai penghasil minyak dari proses penyulingan daun, maka produksi daun tinggi yang diusahakan melalui kegiatan pemangkasan.

Pemangkasan menghasilkan tanaman kayu putih berukuran “perdu”

dengan potensi daun yang berlimpah. Tanaman pokok kayu putih berukuran “perdu” ini memberikan kesempatan bagi pengelolaan hutan kolaboratif sistem tumpangsari dengan masyarakat sekitar. Modifikasi jarak tanam dengan memberikan ruang tumbuh optimal untuk pemanfaatan tanaman pertanian akan mengoptimalkan pengelolaan hutan secara bijaksana.

h. Teknik budidaya sudah dikuasai, didukung oleh benih unggul kayu putih produksi tinggi juga sudah tersedia. Maka proses daya dukung pengembangan kayu putih akan lebih mudah.

Dalam perkembangannya, pengembangan suatu jenis tanaman pada daerah baru kadangkala mempunyai nilai yang berbeda dari taksiran target produksi yang telah di tetapkan. Beberapa tantangan dalam budidaya dan

(10)

10 pengembangan tanaman kayu putih adalah sebagai berikut (Badan Litbang Kehutanan, 2014):

1. Umumnya tanaman kayu putih dijumpai sebagai tegakan murni dan tumbuh pada dataran rendah. Perbedaan lokasi tempat tumbuh dan kondisi geografis mempengaruhi perbedaan waktu pembungaan, pembuahan serta pertumbuhan. Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan, sifat minyak dan reproduksi pada tanaman kayu putih ini perlu dikaji lagi.

2. Teknik silvikultur baik berupa pengaturan jarak tanam, pemeliharaan tanaman, model budidaya kolaboratif, maupun metode pemanenan daun perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui produktivitas pangkasan dan minyak yang optimal.

3. Produksi minyak kayu putih di Indonesia masih menggunakan cara tradisional.

Diperlukan sosialisasi yang tepat untuk menghasilkan minyak kayu putih sesuai standar SNI dan EOA. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap petani tradisional sangat penting untuk membangkitkan kembali produksi minyak kayu putih di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Potensi untuk dikembangkannya tanaman kayu putih di Indonesia dan Sumatera khususnya cukup besar. Oleh karena itu, perlu upaya sosialisasi dan produksi secara massal benih hasil pemuliaan tanaman kayu putih harus segera diupayakan untuk memenuhi defisit kebutuhan minyak kayu putih tersebut.

Sebagai langkah kongkrit dalam upaya sosialisasi dan “show window” benih unggul kayu putih yang telah dihasilkan oleh BBPBPTH Yogyakarta, maka diperlukan adanya demplot pembangunan tanaman kayu putih produktifitas tinggi.

Pembangunan demplot ini tanaman unggulan kayu putih hasil pemuliaan ini nantinya menerapkan segala aspek pengelolaan silvikultur intensif mulai dari awal (perbenihan dan persemaian) sampai pada tahapan pengelolaan produksi daun sebagai bahan utama penyulingan minyak kayu putih

(11)

11 III. RENCANA KEGIATAN

A. Ruang Lingkup

Kegiatan pengembangan tanaman unggulan hasil pemuliaan di KHDTK merupakan upaya untuk “klarifikasi” dan “sosialisasi” produktifitas tanaman unggul yang telah tersedia dan dihasilkan oleh Badan Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tanaman unggul tersebut berasal dari sumber benih yang dihasilkan dari serangkaian kegiatan pemuliaan pohon yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun oleh Balai Besar Penelitian Biotekhnologi dan Pemulian Tanaman Hutan Yogyakarta. Kegiatan pengembangan tanaman unggulan untuk jenis tanaman kayu putih memanfaatkan benih hasil dari KBS generasi ke-1 (F1) yang terdapat di Gunung Kidul. Berdasarkan data dan informasi hasil penelitian, benih unggul tersebut mempunyai potensi produksi kayu putih dengan kadar sineol 65- 73% dan rendemen minyak sebesar 2,05-4,7%.

Kegiatan utama pengembangan adalah pembangunan plot inti berupa tanaman kayu putih hasil dari benih unggul F-1 di KHDTK Kemampo.

Pembangunan plot tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo ini telah di bangun pada tahun 2016 seluas 3 hektar dengan jarak tanam yamg berbeda yaitu 2x2m, 3x2m dan 4x2m. Kegiatan pengembangan yang dilakukan pada tahun 2018 adalah mengarah pada dua kegiatan utama yaitu kegiatan pemeliharaan tanaman utama kayu putih dan kegiatan yang mengarah pada ujicoba produksi minyak kayu putih..

B. Aspek Teknis

Pembangunan plot tanaman kayu putih telah selesai dilakukan pada akhir tahun 2016 di KHDTK Kemampo dengan luas 3 hektar. Pola tanam yang dilakukan pada saat penanaman adalah menggunakan jarak tanam yang berbeda yaitu jarak tanam 2x2m, 3x2m dan jarak tanam 4x2m, dimana masing-masing pola tanam mempunyai luasan 1 hektar. Perbedaan pola jarak tanam berhubungan dengan ruang tumbuh yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kayu putih. Jarak tanam terbaik dapat memberikan pertumbuhan dan

(12)

12 perkembangan yang optimal bagi tanaman, produksi tunas dan daun yang banyak serta mempunyai kandungan rendemen minyak dan xineol terbaik.

Pola tanam 2x2m dimaksudkan untuk model pengelolaan tanaman kayu putih murni (sistem monokultur). Pola tanam 3x2m dan 4x2m dimaksudkan untuk model pengelolaan tanaman campuran kayu putih dengan jenis tanaman HHBK lainnya, dimana perbedaan diantara kedua pola tanam tersebut adalah pada bagian spasial ruang tumbuh yang bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan tanaman kayu putih.

Pada akhir tahun 2018, tanaman kayu putih yang terdapat di KHDTK Kemampo berumur 2 tahun. Pada umur tersebut, tanaman kayu putih sudah dapat dilakukan kegiata pemanenan daun. Pemanenan ini sekaligus berfungsi sebagai upaya untuk pemotongan batang utama dengan tujuan untuk menumbuhkan tunas baru. Pertumbuha tunas baru ini adalah modal dasar utama bagi tanaman kayu putih untuk dapat dipanen pada periode tahapan berikutnya.

Kegiatan yang ada dimaksudkan untuk kegiatan model pemangkasan batang yang menghasilkan pertumbuhan tunas dan produksi daun terbanyak. Data dan informasi yang di dapatkan, digunkan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk kegiatan pemangkasan batang tanaman kayu putih umur 2 tahun skala operasional. Produksi daun hasil dari beberapaperlakuan yang ada, dilakukan kegiatan penyulingan untuk menghasilkan minyak kayu putih.

C. Aspek Sosial

Kegiatan pengembangan tanaman unggulan hasil pemuliaan di KHDTK secara sosial tidak terdapat kegiatan yang bersifat khusus. Namun kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan aspek sosial adalah penggunaan ataupun keterlibatan tenaga kerja lokal secara langsung dalam setiap kegiatan pengelolaan tanaman. Beberapa kegiatan yang melibatkan tenaga kerja lokal adalah seperti kegiatan pemeliharaan tanaman (penebasan, penyemproan herbisida, pemupukan), kegiatan pemangkasan batang tanaman pokok serta kegiatan penyulingan daun kayu putih untuk menghasilkan minyak kayu putih.

Keterlibatan tenaga kerja lokal dalam setiap aspek pengelolaan tanaman di lapangan mempunyai manfaat utama yaitu: a. Tenaga kerja lokal adalah petani/

(13)

13 masyarakat sekitar kawasan hutan. Keterlibatan dalam pengelolaan secara langsung dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui penerimaan pendapatan dari setiap kegiatan yang dilakukan. b. Keterlibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan pengelolaan secara tidak langsung merupakan proses pembelajaran pengelolaan tanaman HHBK bagi masyarakat sekitar yang nantinya dapat diaplikasikan secara individu pada lahan masing-masing masyarakat. c.

Proses pembelajaran pengelolaan tanaman yang terjadi secara tidak langsung ini nantinya akan memudahkan dalam proses pengembangan tanaman secara massal pada lingkungan masyarakat sekitar.

D. Aspek Ekonomis

Kegiatan pengembangan tanaman unggulan hasil pemuliaan yang berhubungan dengan aspek ekonomis adalah nilai produksi secara ekonomi yang bisa dimanfaatkan atau dihasilkan pada masing-masing pola tanam yang ada. Nilai ekonomi pada tanaman kayu putih berhubungan dengan nilai biomassa daun tanaman kayu putih yang bisa di hasilkan dari masing-masing pola jarak tanam ataupun produksi daun kayu putih yang bisa dihasilkan dari masing-masing perlakuan seperti daun kayu putih hasil dari perlakuan pemupukan tanaman dan pemangkasan batang.

Aspek ekonomi lain yang bisa dilakukan adalah berhubungan dengan produksi minyak kayu putih. Daun hasil kegiatan pemanenan dari masing-masing perlakuan tanaman digunakan sebagai bahan baku kegiatan penyulingan.

Penyulingan merupakan proses untuk mendapatkan minyak kayu putih dengan menggunakan prinsip destilasi. Daun kayu putih di masak (kukus) dalam tangki pengukus kapasitas 100 kg. Kegiatan pengukusan dilakukan selama + 3-4 pada suhu 120oC. Pemasakan menggunakan bahan bakar kayu yang banyak terdapat di KHDTK Kemampo. Hasil dari kegiatan penyulingan ini adalah minyak kayu putih yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bisa di perjual-belikan.

(14)

14 IV. RANCANGAN/ DESAIN PENGEMBANGAN

Kegiatan Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan pada prinsipnya dilakukan melalui pembangunan plot tanaman yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Pembangunan plot tanaman unggulan hasil pemuliaan jenis tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi) telah dilakukan pada bulan Desember tahun 2016 di KHDTK Kemampo dengan pola jarak tanam yang berbeda yaitu jarak tanam 2x2m, 3x2m dan jarak tanam 4x2m. Hasil kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 adalah kegiatan rutin pemeliharaan tanaman yang dilakukan 3 kali dalam setahun, pertumbuhan tanaman pada umur 1 tahun mempunyai rerata tinggi 125,2cm dan rerata diameter 13,4mm. Hasil kegiatan yang dilakukan pada tahun 2018 adalah kegiatan rutin pemeliharaan tanaman sebanyak 3 kali dalam setahun, aplikasi pemupukan dosis 75-100gr mempunyai pertumbuhan diameter batang dan tajuk yang terbaik, pertumbuhan tanaman kayu putih yang ideal adalah pada jarak tanam 2x2m, pemangkasan batang terbaik yang dilakukan pada umur 1,5 tahun untuk membentuk jumlah tunas, pertumbuhan tinggi dan diameter terbaik adalah pada ketinggian 80cm dari permukaan tanah. Uji coba proses produksi daun pada tanaman umur 2 tahun di dapatkan produksi daun (campuran daun dan ranting kecil) sekitar 3,2kg/pohon dan produksi minyak kayu putih dengan rendemen 0,8%.

Kegiatan teknis yang akandilakukan pada tahun 2019 mengarah pada dua kegiatan utama yaitu kegiatan pemeliharaan tanaman utama kayu putih dan kegiatan ujicoba produksi minyak kayu putih. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2019 adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman memegang peranan yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok. Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk menjaga tanaman pokok (kayu putih) dari persaingan dengan tumbuhan pengganggu (gulma), dimana keberadaan gulma secara langsung ataupun tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui persaingan perebutan unsur hara dan cahaya.

(15)

15 Kegiatan pemeliharaan tanaman dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun.

Beberapa elemen kegiatan pemeliharaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Penebasan

Penebasan merupakan kegiatan penyiangan ataupun pemotongan tumbuhan pengganggu (gulma) termasuk trubusan tanaman tingkat tinggi yang muncul dari bekas tunggak hasil kegiatan penyiapan lahan. Kegiatan ini dilakukan secara total manual dengan menggunakan parang tebas pada plot yang ada seluas 3 Ha.

b. Penyemprotan herbisida

Penyemprotan herbisida dimaksudkan untuk memberikan racun bagi tumbuhan pengganggu (gulma) agar keberadaannya benar-benar mati. Herbisida yang digunakan adalah herbisida sistemik berbahan aktif gliphosat 480AS dengan dosis 5lt/ha atau setara dengan dosis 150-200ml herbisida dalam satu tangki penyemprot kapasitas 15 liter.

c. Pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman

Pada periode pertengahan dan akhir tahun 2019, dilakukan kegiatan pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman pokok kayu putih.Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada pola jarak tanam yang berbeda. Variabel yang diamati untuk pengamatan dan pengukuran tanaman kayu putih adalahpertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter), kehadiran serangan hama penyakit tanaman, lebar tajuk serta potensi produksi daun. Data dan informasi yang di diperoleh digunakan sebagai basis data pertumbuhan tanaman, kapasitas produksi daun setelah pemangkasan.

2. Kegiatan Uji coba produksi

Kegiatan uji coba produksi dimaksudkan untuk menguji produksi minyak kayu putih dari tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo pada saat tanaman berumur 3 tahun dan tunas hasil pemangkasanberumur 9 bulan. Data dan informasi ini digunakan sebagai basis data produksi minyak setiap periode umur tanaman. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan adalah:

a. Kegiatan pemangkasan batang

(16)

16 Pemangkasan batang merupakan pemotongan bagian atas batang tanaman pada ketinggian tertentu yang ditujukan untuk memproduksi tunas baru dalam jumlah yang banyak.Kegiatan pemotongan skala massal telah dilakukan pada periode November/Desember 2018. Tunas baru hasil pemotongan batang, dipelihara untuk nantinya dapat menghasilkan daun yang berlimpah sebagai bahan produksi daun kayu putih. Masing-masing tanaman pastinya akan mempunyai respon yang berbeda terhadap pemangkasan batang. Respon tanaman terbaik adalah tanaman yang mempunyai potensi terubusan terbanyak dan masing-masing terubusan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta menghasilkan daun yang rimbun.

b. Kegiatan penyulingan

Pada periode trubusan umur 9 bulan setelah pemangkasan diadakan proses pemanenan daun sebagai bahan penyulingan. Produksi daun dari masing- masing sampel tanaman dilakukan penimbangan untuk mengetahui produktivitas daun dari masing-masing tanaman.

(17)

17 V. HASIL KEGIATAN

Kegiatan Pengembangan Tanaman Unggulan Hasil Pemuliaan di KHDTK pada tahun 2019 difokuskan pada 2 kegiatan utama yaitu kegiatan pemeliharaan plot tanaman kayu putih tahun 2016 seluas 3 hektar di KHDTK Kemampo serta kegiatan yang bertujuan untuk produksi daun dan penyulingan daun kayu putih untuk menghasilkan minyak kayu putih. Beberapa kegiatan yang dilakukan pada tahun 2019 adalah sebagai berikut:

A. Pemeliharaan tanaman kayu putih

Pemeliharaan tanaman dimaksudkan sebagai salah satu bagian dari pengelolaan tanaman yang bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman kayu putih. Pemeliharaan tanaman kayu putih pada tahun 2019 dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada periode Juli 2019 dan November 2019.

Kegiatan ini mencakup dua aspek kegiatan utama yaitu kegiatan pembebasan tanaman terhadap gulma serta kegiatan penyemprotan herbisida. Disamping itu juga dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung pengumpulan data dan informasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kayu putih.

1. Pembebasan Gulma

Gulma merupakan tumbuhan lain yang keberadaannya tidak diharapkan dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Gulma dapat berupa tumbuhan bawah ataupun tumbuhan tingkat tinggi. Keberadaan gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama melalui mekanisme persaingan serta perebutan ruang dan cahaya.

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan melakukan penebasan gulma secara total manual dengan menggunakan parang tebas. Untuk tanaman tingkat tinggi (seru, akasia, talok) yang berupa anakan sampai pada tanaman tingkat tiang dilakukan penebasan langsung. Sedangkan untuk tanaman tingkat tinggi yang berupa trubusan, dilakukan pemangkasan trubusan dan pelukaan batang pokok atau bahkan bilamana parang yang digunakan mampu, sekaligus dilakukan penebangan pada batang pokok tanaman tingkat tinggi tersebut.

(18)

18 Setelah semua gulma di lakukan penebasan, kemudian dilakukan aplikasi penyemprotan herbisida. Penyemprotan herbisida dilakukan setelah 1-2 minggu kegiatan penebasan selesai dilakukan. Hal ini dimaksudkan bahwa pada periode waktu tersebut, tanaman yang telah tertebas dalam periode aktif untuk tumbuh dan mengeluarkan tunas baru. Aplikasi penyemprotan herbisida menggunakan herbisida sistemik dengan kandungan kimiawi tinggi berbahan aktif gliphosat 525 AS dosis 160ml/ tangki penyemprot. Untuk lebih mengoptimalkan daya kerja herbisida, ditambahkan bahan kimiawi berbahan aktif Metil Metsulfuron 20%

dengan dosis 100gr/ 5 liter herbisida. Aplikasi herbisida dosis tinggi dan penambahan Metil Metsulfuron ditujuakan agar gulma tumbuhan tingkat tinggi benar-benar mati.

Setelah semua gulma di lakukan penebasan, kemudian dilakukan aplikasi penyemprotan herbisida. Penyemprotan herbisida dilakukan setelah 1-2 minggu kegiatan penebasan selesai dilakukan. Hal ini dimaksudkan bahwa pada periode waktu tersebut, tanaman yang telah tertebas dalam periode aktif untuk tumbuh dan mengeluarkan tunas baru. Aplikasi penyemprotan herbisida menggunakan herbisida sistemik dengan kandungan kimiawi tinggi berbahan aktif gliphosat 525 AS dosis 160ml/ tangki penyemprot. Untuk lebih mengoptimalkan daya kerja herbisida, ditambahkan bahan kimiawi berbahan aktif Metil Metsulfuron 20%

dengan dosis 100gr/ 5 liter herbisida. Aplikasi herbisida dosis tinggi dan penambahan Metil Metsulfuron ditujuakan agar gulma tumbuhan tingkat tinggi benar-benar mati.

(a) (b)

Gambar 1. Kegiatan pemeliharaan tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo sebelum (a) dan sesudah (b) pemeliharaan

(19)

19 2. Pengamatan dan pengukuran Tanaman Umur 3 Tahun

Pengamatan dan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan tanaman dilakukan setelah kegiatan pemeliharaan tanaman selesai dilakukan. Kegiatan ini dilakukan pada periode bulan Desember 2019 bertepatan dengan tanaman berumur 3 tahun. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara periodik. Pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman dilakukan pada petak ukur permanen (PUP) yang telah dibuat sebelumnya (2017). Petak ukur dibuat sebanyak 3 petak ukur pada masing-masing jarak tanam dan masing-masing petak ukur terdapat sampel tanaman sebanyak 100 tanaman. Petak ukur ini dibuat sebagai petak ukur permanen dan tidak dilakukan perlakuan apapun pada tanaman yang diamati.

Pengukuran pertumbuhan tanaman pada umur 3 tahun adalah mengukur variable pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman. Hasil pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman kayu putih umur 3 tahun terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rerata pertumbuhan tanaman kayu putih umur 3 tahun di KHDTK Kemampo

No Jarak Tanam

Tinggi (m)

Riap Tinggi (m/tahun)

Diameter (cm)

Riap Diameter (cm/tahun)

1 2x2 m 4,44 1,48 7,07 2,36

2 2x3 m 4,86 1,62 8,39 2,80

3 2x4 m 4,25 1,42 6,80 2,27

Rerata 4,52 1,51 7,42 2,47

Berdasarkan data dan informasi pda Tabel 2 nampak bahwasanya rerata umum pertumbuhan tinggi tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo pada umur 3 tahun adalah 4,52m dengan riap 1,51m/ tahun dan rerata umum pertumbuhan diameter adalah 7,42cm dengan riap diameter 2,47cm/tahun. Nilai riap pertumbuhan tanaman ini mempunyai nilai yang hampir sama bila dibandingkan dengan data riap pertumbuhan tanaman pada umur 2 tahun yaitu sebesar 1,44m untuk pertumbuhan tinggi dan sebesar 2,51cm untuk pertumbuhan diameter.

Pertumbuhan tinggi tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo mempunyai nilai yang lebih baik bila dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman di tempat/

(20)

20 lokasi lainnya pada umur yang sama. Subagio (2018) mengemukakan bahwa pertumbuhan tanaman kayu putih umur 3 tahun di KPH Gundih (Perum Perhutani) adalah sebesar 4,1m dan di PT. Bukit Asam (BA) adalah 3,7m. Sedangkan pertumbuhan diameter mempunyai nilai yang kurang bila dibandingkan dengan kayu putih yang terdapat di KPH Gundih dan PT. BA yaitu sebesar 7,5 cm dan 9,1cm. Namun pertumbuhan tinggi dan diameter bukanlah merupakan tolok ukur utama dalam budidaya tanaman kayu putih. Produksi daun merupakan variabel utama dalam budidaya kayu putih, karena nantinya hanya bagian daun dan ranting-ranting kecil yang digunakan sebagai bahan baku penyulingan yang menghasilkan minyak kayu putih.

Pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo umur 3 tahun mempunyai nilai yang terbaik pada jarak tanam 3x2m yaitu dengan nilai 4,86m untuk tinggi dan 8,39cm untuk diameter. Pertumbuhan tanaman terbaik berikutnya adalah pada jarak tanam 2x2 yang mempunyai nilai yang tidak berbeda jauh dengan nilai pertumbuhan tinggi dan diameter pada jarak tanam 4x2m. Pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbaik pada jarak tanam 3x2 ini mempunyai nilai yang sama pada saat tanaman berumur 2 tahun.

Gambar 2. Diagram pertumbuhan tanaman kayu putih umur 2 tahun di KHDTK Kemampo pada berbagai jarak tanam

Pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kayu putih meningkat seiring dengan bertambahnya jarak tanam sampai dengan jarak 3 meter. Namun, bilamana jarak tanam di tambah lagi menjadi 4 meter, maka pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman mengalami penurunan. Pola pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kayu putih umur 3 tahun pada jarak tanam yang berbeda ini

(21)

21 mempunyai pola yang sama dengan pola pertumbuhan pada tahun sebelumnya (umur 2 tahun), sehingga di yakinkan data dan informasi pada tahun-tahun berikutnya akan mempunyai kecenderungan pola pertumbuhan yang sama.

Pertumbuhan tanaman kayu putih baik pada berbagai jarak tanam mempunyai pertumbuhan yang linier dimana terjadi peningkatan pertumbuhan tinggi dan diameter untuk setiap tahunnya. Data dan informasi pertumbuhan tanaman kayu putih ini masih memerlukan data dan informasi pertumbuhan tanaman pada umur yang lebih tua untuk memastikan masa titik puncak pertumbuhan tanaman yang mempunyai pengertian bahwa pada titik puncak tersebut pertumbuhan tanaman akan stagnan.

(a)

Gambar 3. Grafik pertumbuhan tinggi (a) dan diameter (b) tanaman kayu putih selama 3 (b) tahun pada jarak tanam yang berbeda

(22)

22 B. Produksi daun dan Penyulingan

Produksi daun kayu putih merupakan unsur utama yang harus diketahui bilamana melakukan budidaya tanaman kayu putih. Daun yang dihasilkan, nantinya akan dilakukan proses penyulingan untuk menghasilkan minyak kayu putih. Produksi daun setiap tanaman dan minyak kayu putih yang dihasilkan (kualitasn dan kuantitas) ini nantinya akan menentukan seberapa luas lahan, bibit serta anggaran yang diperlukan untuk pengelolaan budidaya kayu putih skala besar dalam rangka memenuhi kebutuhan kuota minyak kayu putih.

Kegiatan produksi dan penyulingan daun kayu putih pada dasarnya dalam tahapan ujicoba sudah dilaksanakan pada tahun 2017 di saat tanaman kayu putih berumur 1 tahun. Produksi daun di dapatkan dari bebegrapa tanaman kayu putih yang mempunyai pertumbuhan yang superior. Data dan informasi hasil dari kegiatan uji coba ini di dapatkan informasi potensi produksi daun tanaman kayu putih umur 1 tahun adalah berkisar antara 1-1,5 kg/ tanaman. Ujicoba penyulingan daun kayu putih yang dihasilkan dari benih unggul menghasilkan rendemen minyak sebesar 0,9%. Sebagai pembanding, juga dilakukan ujicoba penyulingan pada tanaman kayu putih yang berasal dari sumber benih asalan, menghasilkan minyak kayu putih dengan rendemen 0,5%.

Kegiatan ujicoba produksi dan penyulingan minyak kayu putih pada tahun 2018 dilakukan dengan meng-integrasikan teknik silvikutur. Beberapa teknik silvikultur yang diujicobakan adalah pemupukan tanaman, teknik pemangkasan batang dan produksi daun berdasarkan variasi daun kayu putih. Variasi bentuk daun hanya menyumbang perbedaan pada berat satuan daun yang berbeda, namun berat produksi daun dan rendemen minyak kayu putih mempunyai nilai yang sama yaitu rerata 3,37 kg daun dan rendemen 0,755%. Pemupukan tanaman tidak memberikan pengaruh pada produksi daun, namun pemupukan dosis 75gr/ tanaman mempunyai nilai rendemen yang terbaik yaitu 1,02% yang lebih baik 45% bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa pupuk). Penyulingan daun murni dengan tidak menyertakan ranting yang biasanya mempunyai bobot 20%, menghasilkan rendemen minyak 1,3% dengan peningkatan sebesar 85,71%

bila dibandingkan dengan penyulingan kotor (daun dan ranting).

(23)

23 Selain itu, pada tahun 2018 juga dilakukan ujicoba produksi daun periode 6 bulan setelah pemangkasan batang pada ketinggian 140cm dari permukaan tanah.

Hasil kegiatan ini di dapatkan informasi adanya nilai produksi daun sebesar 2,55 kg dengan rendemen 0,9%. Pemanenan pada periode umur 6 bulan ini merupakan periode yang terlalu awal untuk dilakukan pemanenan daun. Subagio (2018) mengemukakan bahwa pemanenan daun setelah pemangkasan selayaknya dilakukan periode minimal 9 bulan setelah pemangkasan, dengan pertimbangan bilamana dilakukan pemanenan sebelum 9 bulan, maka rendemen minyak kayu putih yang di dapatkan akan rendah.

(a) (b)

Gambar 4. Kegiatan pemanenan daun kayu putih umur 9 bulan setelah pemangkasan (a) dan proses penimbangan daun yang di panen (b).

Pada tahun 2019 dilakukan kegiatan pemanenan daun kayu putih sesuai dengan anjuran pemanenan yaitu setiap 9 bulan. Ujicoba pemanenan dilakukan pada sampel tanaman sebanyak 25 pohon yang diambil secara acak. Hasil pemanenan dan penimbangan daun, di dapatkan dengan pemanenan daun umur 9 bulan menghasilkan rerata produksi daun sebesar 4,64+1,19 Kg. Produksi daun pada umur 9 bulan ini mempunyai nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan pemanenan pada umur 6 bulan setelah pangkas yaitu sebesar 2,55 Kg. Dengan

(24)

24 demikian bilamana menunda produksi 3 bulan setelah umur 6 bulan akan menghasilkan produksi daun dengan peningkatan sebesar 81,96%.

Beberapa hasil penelitian produksi daun kayu putih telah di sampaikan oleh beberapa peneliti. Lukito (2011) mengemukakan bahwa produksi daun pada tanaman kayu putih umur 3 tahun di Madiun (Jawa Timur) yang belum pernah dilakukan pemangkasan adalah sebesar 5,88 Kg. Lebih lanjut Lukito (2011b) mengemukakan produksi daun kayu putih di Madiun (Jawa Timur) pada berbagai tingkatan umur tanaman yaitu 10 tahun 2,16Kg; 17 tahun 3,68Kg; 23 tahun 3,87kg; 30 tahun 2,68Kg; 36 tahun 3,24Kg dan 42 tahun 2,32kg. Mansur (2017) menyatakan bahwa produksi daun tanaman kayu putih di lokasi tambang batubara (PT. BA) adalah rerata sebesar 1 Kg setiap periode pemanenan 9 bulan.

Subagio (2018) mengemukakan bahwa rendemen minyak kayu putih hasil dari penyulingan yang dilakukan di PT. BA sebesar 5,1% dengan sineol 70,05%

dan yang dilakukan di KPH Gundih sebesar 5,1% dengan kandungan sineol 57,87%. Penyulingan minyak kayu putih yang dilakukan di KHDTK Kemampo umumnya mempunyai rendemen sekitar 0,7-1,3% dan potensi sineol > 65%. Nilai rendemen minyak kayu putih yang tinggi pada tanaman di KHDTK Kemampo mengindikasikan bahwa :

1. Potensi rendemen minyak kayu putih di KHDTK Kemampo sudah sesuai dengan potensi genetik dari sumber benih asalnya. Seperti diketahui, bahwasanya tanaman di KHDTK Kemampo di kembangkan dengan menggunakan benih unggul hasil dari B2P2BPTH Yogyakarta yang di tengarai mempunyai rendemen 1,3-1,5% dan kadar sineol >65%.

2. Nilai potensi genetik rendemen minyak kayu putih yang berada pada range yang sama walaupun berbeda ekologinya (Yogyakarta dan Palembang) mengindikasikan bahwa rendemen minyak kayu putih lebih besar dipengaruhi oleh faktor genetik bila dibandingkan dengan faktor lingkungan.

3. Tanaman kayu putih yang dikembangkan di lahan marginal berkemungkinan mempunyai potensi sineol yang lebih baik daripada dikembangkan di lahan yang optimal. Kondisi stress tanaman akibat di tanam pada lahan marginal, akan melakukan aktifitas metabolit sekunder

(25)

25 yang lebih aktif dan pada akhirnya akan menghasilkan kualitas kandungan sineol yang lebih baik.

Perbedaan nilai rendemen minyak kayu putih yang dikembangkan di Yogyakarta dan di KHDTK Kemampo tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor.

Guenther (1987) dalam Khabibi (2011) mengemukakan bahwa perlakuan terhadap bahan baku, jenis alat penyulingan, perlakuan minyak atsiri setelah ekstraksi, pengemasan dan penyimpanan bahan ataupun produk berpengaruh terhadap hasil penyulingan minyak atsiri. Nurdjannah (2006) juga mengemukakan bahwa selain faktor-faktor tersebut di atas, cara penyulingan, lingkungan tempat tumbuh, waktu pemetikan bahan dan penanganan bahan sebelum penyulingan juga mempengaruhi rendemen dan mutu minyak kayu putih yang dihasilkan. Idrus dkk (2017) mengemukakan bahwa dengan materi daun yang sama tetapi menggunakan alat suling yang berbeda, menghasilkan rendemen minyak yang berbeda namun kualitas minyak kayu putih berdasarkan SNI dan GC-MS yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan hasil. Baharuddin dan Taskirawati (2009) mengemukakan bahwa rendemen minyak kayu putih mempunyai nilai yang tinggi bilamana di tanam di daerah yang kering bila dibandingkan dengan daerah yang basah. Siahaya dkk (2006) Mengemukakan bahwa kandungan sineol, rendemen, berat jenis dan putaran optik minyak kayu putih juga tergantung dari faktor lingkungan seperti kelerengan lahan, pemeliharaan tanaman, lama penyimpanan daun sebelum di suling.

(26)

26 VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Plot tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo sampai dengan umur 3 tahun telah dipelihara dengan baik

2. Pertumbuhan tanaman terbaik pada jarak tanam 2x3 m yaitu sebesar 4,86m untuk pertumbuhan tinggi dan 8,39cm untuk diameter

3. Produksi daun tanaman kayu putih pada umur 9 bulan setelah pemangkasan yaitu 4,64+1,19 Kg atau menghasilkan produksi daun dengan peningkatan sebesar 81,96% dibandingkan produksi umur 6 bulan.

B. Saran

Berdasarkan data dan informasi di atas, pengembangan budidaya tanaman kayu putih di KHDTK Kemampo mempuyai teknik silvikultur yang tersendiri. Bilamana dilakukan pengembangan budidaya kayu putih secara massal, maka periode pemanenan daun bisa dilakukan secara periodik setiap 9 bulan sekali.

(27)

27 DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Kehutanan. 2014. Seri 5 IPTEK Kehutanan. Badan Litbang Kehutanan. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Baharuddin, Taskirawati, I. 2009. Buku Ajar Hasil Hutan Bukan Kayu. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Tidak dipublikasikan.

BBPBPTH. 2014. Budidaya dan Prospek Pengembangan Kayu Putih (Melaleuca cajuputi). IPB Press. Bogor.

Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Hutan. 2012.

Data dan Informasi Pemanfaatan Hutan Tahun 2012. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan. Kementerian Kehutanan.

Idrus, S., Torry, F. R., Tehubijuluw, R. V. 2017. Pengaruh Ketel Penyulingan Terhadap Efektivitas, Rendemen dan Kualitas Minyak Kayu Putih.

Booklet Seminar Nasional Teknologi Industri Hijau 2, 18 Mei 2017 di Hotel Santika Premiere Semarang. Kementerian Perindustrian. Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri. Jawa Tengah.

Kartikawati, N. K., A. Rimbawanto. 2012. Potensi Pengembangan Industri Minyak Kayu Putih. Departemen Kehutanan. Badan Litbang Kehutanan.

Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor.

Khabibi, J. 2011. Pengaruh penyimpanan daun dan volume air penyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak kayu putih. Skripsi Departemen Hasil Hutan Institut Pertanian Bogor.TidakDipublikasikan.

Lukito, M. 2011. Model Pendugaan Biomassa Tanaman Kayu Putih. Jurnal Agri Teknologi. 12(2):1-17.

Lukito, M. 2011b. Estimasi Produksi Basah Daun Minyak Kayu Putih (Studi Kasus BKPH Sukun KPH Madiun). Jurnal Agri Teknologi. 12(1):36-48.

Mansur, I. 2017. Kayu Putih Untuk lahan Marjinal.

https://www.forestdigest.com/detail/140/kayu-putih-untuk-lahan- marjinal. Diakses tanggal 3 Desember 2019.

Nurdjannah N. 2006. Minyak Ylang-ylang dalam aromaterapi dan prospek pengembangannya di Indonesia. Di dalam: Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 18-20 September 2006 . Solo.

Siahaya, T. E., Siahaya, J., Wagiman, S. 2006. Pengaruh Kelerengan, Pemeliharaan Tanaman dan Lama Penyimpanan Daun Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kayu Putih. Jurnal Kehutanan Unmul 2(1):100-113.

Subagio, A. A. 2018. Pertumbuhan Tanaman Kayu Putih di Lahan Pasca Tambang Batubara dan Produksi Minyak Atsirinya. Thesis Sekkolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Tidak di publikasikan.

Susanto, I. 2014. Memuliakan Pohon Kayu Putih. Kompas Siang Edisi Sabtu, 9 Agustus 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Group Faktor Kelemahan, faktor prioritas yang menjadi kelemahan utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB

Arahan wilayah untuk 5 jenis komoditas unggulan yaitu ubi kayu, ubi jalar, padi, jagung, kacang tanah didasarkan pada pertimbangan analisis LQ > 1, SSA >

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Uji Keunggulan Genotipe Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Hasil Pemuliaan Tanaman IPB dalam Rangka Pelepasan

1) Seleksi klon sukun unggulan untuk kegiatan pengembangan lebih lanjut dilakukan di plot uji klon sukun di Gunungkidul dengan berdasarkan beberapa kriteria yaitu

Arahan wilayah untuk 5 jenis komoditas unggulan yaitu ubi kayu, ubi jalar, padi, jagung, kacang tanah didasarkan pada pertimbangan analisis LQ > 1, SSA >

Teknik pengendalian gulma dan kebakaran hutan tanaman penghasil kayu pertukangan • Diperolehnya teknik silvikultur 2 jenis unggulan dan 1 jenis alternatif penghasil

1) Seleksi klon sukun unggulan untuk kegiatan pengembangan lebih lanjut dilakukan di plot uji klon sukun di Gunungkidul dengan berdasarkan beberapa kriteria yaitu

Komoditas Unggulan Tanaman Pangan No Kecamatan Komoditas Unggulan Tanaman Pangan 1 Gunuang Omeh - 2 Suliki Kacang tanah 3 Bukik Barisan - 4 Guguak Jagung 5