• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di provinsi Nusa Tenggara Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Strategi pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di provinsi Nusa Tenggara Barat"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)RINGKASAN EKSEKUTIF. BURHAN, 2009. Strategi Pengembangan Hutan Tanaman Unggulan Lokal di Provinsi NTB. Di bawah bimbingan IDQAN FAHMI dan AGUS MAULANA.. Hutan Indonesia seluas 120,35 juta hektar terus mengalami degradasi dimana tahun 2000-2005 laju degradasi mencapai 1,09 juta hektar per tahun, dengan PDB hanya sebesar Rp. 35.734,10 milyar atau 0,90 % dari PDB Nasional 2007. Kondisi yang sama juga terjadi di Provinsi NTB, dimana sumbangan sektor kehutanan terhadap PDRB NTB menurun dari Rp. 37.314,38 juta tahun 2004 menjadi Rp. 19.042,72 juta tahun 2006. Hutan di Provinsi NTB, dengan luas mencapai 1.069.997.78 Ha (53,09% dari luas daratan) mengalami laju degradasi 71.960 ha/tahun. Penyebab deforestasi disebabkan oleh 4 (empat) faktor yaitu pembalakan legal, konversi ke penggunaan non hutan, pembalakan illegal dan pendudukan illegal dan kebakaran hutan. Laju kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh (1) kebijakan pembangunan hutan tanaman melalui konversi hutan alam yang belum diikuti dengan penyiapan sumber daya yang baik telah mengakibatkan terlantarnya rencana penanaman sementara pemanfaatan konversi hutan alam melalui IPK berjalan dengan cepat dan telah memberikan kontribusi terbesar untuk terciptanya lahan kritis; (2) permintaan atau kebutuhan kayu (demand) lebih besar dibandingkan ketersediaannya (supply) dan adanya kebijakan ekspor kayu bulat mengakibatkan terbukanya pasar untuk kayu illegal logging; (3) kebakaran hutan menyebabkan hilangnya sumber daya hutan; (4) masyarakat di sekitar hutan belum menikmati hasil pembangunan hutan dan termarjinalkan akibat sebagian pola pembangunan hutan cenderung tidak mendorong peran serta masyarakat; (5) tatanan sistem pemerintahan yang semula sentralistis telah berubah menjadi desentralisasi yang memberikan penekanan otonomi urusan di bidang kehutanan belum sepenuhnya diikuti dengan peraturan dan ketentuan di daerah. Kebutuhan kayu NTB yang lebih besar dari kemampuan supply mendorong pemenuhan dari kegiatan illegal. Kasus gangguan keamanan hutan di Provinisi NTB menunjukkan bahwa tekanan terhadap hutan dan hasil hutan masih tinggi. Selain itu kemiskinan penduduk, dimana 40 persen penduduk miskin hidup di dalam dan sekitar hutan yang mempunyai ketergantungan pendapatan langsung dari sumber daya hutan menambah tekanan terhadap hutan. Kerusakan hutan menyebabkan timbulnya lahan kritis dan hutan produksi yang tidak produktif, menyusutnya mata air dan terjadinya defisit air. Salah satu upaya untuk menangani kerusakan hutan dan lahan adalah dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan melalui pembangunan hutan tanaman. Pembangunan hutan tanaman diharapkan secara bertahap akan mengubah lahan kritis menjadi produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan melalui pembangunan hutan tanaman belum mampu mengimbangi laju kerusakan hutan. Beberapa faktor yang menyebabkan lambannya laju rehabilitasi adalah keterbatasan pemerintah.

(2) khususnya anggaran, penggunaan benih berkualitas dan pemilihan jenis tanaman yang digunakan dalam pembangunan hutan tanaman. Penggunaan jenis-jenis tanaman lokal, memiliki kelebihan baik dari segi ekologi, ekonomi maupun sosial. Oleh karena itu perlu analisa yang mendalam tentang pengembangan hutan tanaman unggulan lokal. Beberapa permasalahan dalam pengembangan dan pembangunan hutan tanaman di Provinsi NTB adalah 1). Jenis-jenis tanaman hutan unggulan lokal apa saja yang perlu dikembangkan di Provinsi NTB ?; 2). Faktor-faktor strategi apa yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB ?; 3). Pilihan alternatif strategi apa yang menentukan untuk terus dikembangkan ? dan; 4). Prioritas strategi apa yang digunakan, aktor pelaksana dan tujuan pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB ?. Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1). Menganalisa dan menentukan jenis tanaman hutan unggulan lokal yang akan dikembangkan di Provinsi NTB; 2). Menganalisa faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB; 3). Mengembangkan dan menganalisa strategi-strategi dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB; 4). Menentukan strategi prioritas, aktor/pelaku dan tujuan masing-masing aktor yang direkomendasikan untuk dilaksanakan. Penelitian ini dilaksanakan pada wilayah kerja Dinas Kehutanan Provinsi NTB. Waktu pelaksanaannya dimulai pada bulan Januari sampai dengan April 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penelitian survei melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Untuk pemilihan strategi pengembangan hutan tanaman ungulan lokal yang akan dikembangkan, dilakukan dengan menggunakan SWOT dan AHP. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. Teknik pengambilan contoh dilakukan dengan metode tanpa peluang (non probability) dengan pengambilan contoh secara sengaja (purposive sampling). Metode Pengolahan data dilakukan dengan Metode Pemeringkatan Faktor (MPF) untuk memilih jenis unggulan lokal berdasarkan kriteria produktivitas (riap) tinggi, kayu bernilai ekonomis tinggi, memiliki sebaran alami yang luas, teknologi silvikultur sudah dikuasai, ketersediaan bibit/benih yang banyak, tahan hama penyakit tanaman (HPT), secara sosial dapat diterima masyarakat lokal, dan memiliki kesesuaian dengan syarat tumbuh setempat. Untuk merumuskan strategi pengembangan hutan tanaman unggulan dilakukan dengan Analisis Internal Eksternal, Analisis SWOT, sedangkan untuk menentukan prioritas dilakukan dengan metode AHP. Berdasarkan analisis dengan MPF, terpilih 4 (empat) jenis tanaman unggulan lokal dari 27 jenis tanaman lokal. Tanaman unggulan terpilih yaitu Jati (Tectona grandis L) dengan nilai 5,875, Rajumas (Duabanga molucanna) dengan nilai 5,614, Gaharu (Gyrinops verstegii) dengan nilai 5,536 dan Mahoni (Swietenia macropphylla) dengan nilai 5,493..

(3) Berdasarkan Analisis Internal dan Eksternal diperoleh faktor-faktor strategis baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor strategis internal yang menjadi kekuatan adalah tersedianya kawasan hutan yang dicadangkan untuk pembangunan hutan tanaman, kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan tanaman lokal, keberadaan mitra kehutanan, ketersediaan sumber benih dan bibit, koordinasi instansi terkait yang baik, dukungan transportasi dan sarana transportasi serta kelembagaan petani dan animo masyarakat untuk menanam tanaman kayu. Faktor-faktor strategis internal yang menjadi kelemahan adalah belum terbentuknya lembaga pengelola hutan dalam unit-unit pengelolaan, dukungan anggaran yang rendah, tata usaha kayu yang tidak sederhana, daur tanaman dan waktu tunggu yang lama, rendahnya kualitas SDM Kehutanan dan masyarakat sekitar hutan, dan kualitas hasil hutan yang masih rendah. Faktorfaktor strategis eksternal yang menjadi peluang adalah adanya peraturan perundang-undangan yang mendukung, dukungan dan tuntutan internasional untuk pengelolaan hutan lestari, potensi pasar dan kebutuhan kayu yang tinggi, adanya political will pemerintah mengembangkan sumberdaya lokal, perkembangan teknologi dalam pengembangan hutan tanaman, dan luasnya lahan tidak produktif. Faktor-faktor strategis eksternal yang menjadi ancaman adalah pencurian dan perdagangan hasil hutan illegal, rendahnya akses masyarakat terhadap hutan dan hasil hutan, pertambahan penduduk dan penggunaan lahan sektor lain, pengakuan terhadap kawasan hutan rendah, kebakaran hutan dan gangguan ternak, dan belum tertatanya industri primer hasil hutan. Berdasarkan analisis aktor, aktor-aktor yang memiliki pengaruh dan kepentingan dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal adalah pengusaha/swasta/dunia usaha, pemerintah (pusat/daerah) khususnya instansi kehutanan, masyarakat/petani, LSM/NGO dan Perguruan tinggi/Litbang. Beberapa tujuan pengembangan hutan tanaman unggulan lokal adalah terpenuhinya kebutuhan kayu, peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya hutan dan lingkungan hidup, peningkatan kontribusi ekonomi sektor kehutanan, serta perlindungan dan peningkatan kualitas keanekaragaman hayati lokal. Berdasarkan pendekatan matriks SWOT, diperoleh delapan alternatif strategi melalui Strategi S-O, strategi S-T, strategi W-O dan strategi W-T sebagai berikut : 1) Akselerasi pembangunan hutan tanaman dengan jenis yang sesuai tapak dan tuntutan pasar ; 2) Peningkatan pengelolaan hutan untuk meningkatkan produktivitas hutan; 3) Peningkatan kerjasama para pihak; 4) Peningkatan partisipasi, ruang kelola dan akses masyarakat terhadap hutan dan hasil hutan; 5) Percepatan pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH); 6) Peningkatan pelayanan usaha dibidang kehutanan; 7) Peningkatan pemanfaatan aneka usaha kehutanan; dan 8) Penataan industri primer hasil hutan. Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis dengan menggunakan AHP, dalam Group Faktor Kekuatan, faktor prioritas yang menjadi kekuatan utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB adalah tersedianya areal pencadangan untuk pembangunan hutan tanaman dengan nilai 0,0696, diikuti faktor kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan tanaman lokal dengan nilai 0,0680, kemudian faktor.

(4) ketersediaan sumber benih dan bibit dengan nilai 0,0588, kelembagaan petani dan animo masyarakat menanam tanaman kayu dengan nilai 0,0531, koordinasi instansi terkait yang baik dengan nilai 0,0254, dan dukungan transportasi dan sarana transportasi dengan nilai 0,0219. Dalam Group Faktor Kelemahan, faktor prioritas yang menjadi kelemahan utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB berturut-turut adalah belum terbentuknya lembaga pengelola hutan dalam unit-unit pengelolaan dengan nilai 0,0295, dukungan anggaran yang rendah dengan bobot prioritas 0,0271, tata usaha kayu yang tidak sederhana dengan bobot prioritas 0,0143, daur tanaman dan waktu tunggu yang lama dengan bobot prioritas 0,0188, rendahnya kualitas SDM Kehutanan dan Masyarakat dengan bobot prioritas 0,0140, sedangkan faktor kualitas hasil hutan masih rendah merupakan faktor kekuatan minor dengan nilai 0,0111. Dalam Group Faktor Peluang, faktor prioritas yang menjadi peluang utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB berturut-turut adalah potensi pasar dan kebutuhan kayu yang besar dengan nilai 0,0980, perkembangan teknologi dalam pengembangan hutan tanaman dengan bobot prioritas 0,0635, adanya peraturan perundangundangan yang mendukung dengan nilai 0,0600, adanya political will pemerintah daerah mengembangkan sumber daya lokal dengan bobot prioritas 0,0436, luasnya lahan tidak produktif dengan nilai 0,0440, sedangkan faktor dukungan dan tuntutan internasional untuk pengelolaan hutan lestari merupakan faktor peluang paling kecil dengan nilai 0,0326. Dalam Group Faktor Ancaman, ancaman prioritas/utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB berturut turut adalah pencurian dan perdagangan hasil hutan illegal dengan nilai 0,0690, rendahnya akses masyarakat terhadap hutan dan hasil hutan dengan bobot prioritas 0,0374, pertambahan penduduk dan penggunaan lahan sektor lain dengan bobot prioritas 0,0384, pengakuan terhadap kawasan hutan rendah dengan bobot prioritas, 0,0313, kebakaran hutan dan gangguan ternak dengan bobot prioritas 0,0226, sedangkan faktor belum tertatanya industri primer hasil hutan merupakan faktor ancaman paling kecil dengan nilai 0,0154. Berdasarkan analisis kepentingan Aktor atau pelaku dengan AHP, maka aktor yang memiliki bobot prioritas tertinggi berturut-turut adalah Pemerintah (Pusat/Daerah) dengan bobot prioritas 0,2922, Pengusaha/Swasta/Dunia Usaha dengan bobot prioritas 0,2389, Masyarakat /Petani dengan bobot prioritas 0,1865, LSM/NGO dengan bobot prioritas 0,1433 dan Perguruan Tinggi/Litbang dengan bobot prioritas 0,1392. Ditinjau dari tujuan pengembangan hutan tanaman ungguln lokal, maka tujuan yang memiliki prioritas tertinggi berturut-turut adalah meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan bobot prioritas 0,2612, pemenuhan kebutuhan hasil hutan kayu dan non kayu dengan bobot prioritas 0,2185, meningkatkan kontribusi ekonomi sektor kehutanan dengan bobot prioritas 0,1874, meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya hutan dan lingkungan hidup dengan bobot prioritas 0,1757 dan terakhir perlindungan dan peningkatan kualitas keanekaragaman hayati lokal 0,1572..

(5) Berdasarkan analisis AHP untuk menentukan strategi prioritas pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB, maka strategi prioritas I adalah percepatan pembentukan KPH dengan bobot prioritas 0,1621. Strategi prioritas kedua dan selanjutnya berturut-turut adalah akselerasi pembangunan hutan tanaman dengan jenis yang sesuai tapak dan tuntutan pasar dengan bobot prioritas 0,1595, peningkatan pengelolaan hutan untuk meningkatkan produktivitas hutan dengan bobot prioritas 0,1422, peningkatan partisipasi, ruang kelola, dan akses masyarakat terhadap hutan dan hasil hutan dengan bobot prioritas 0,1393, peningkatan pemanfaatan aneka usaha kehutanan dengan bobot prioritas 0,1089, peningkatan kerjasama parapihak dengan bobot prioritas 0,1044, peningkatan pelayanan usaha dibidang Kehutanan dengan bobot prioritas 0,0931, dan penataan industri primer hasil hutan dengan bobot prioritas 0,0905. Prioritas strategi yang dihasilkan dalam AHP menunjukkan kemampuan setiap strategi untuk memenuhi tujuan pada level sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki, sehingga untuk mencapai masingmasing tujuan, perlu mempertimbangkan strategi yang tepat. Untuk memenuhi tujuan peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kontribusi ekonomi sektor kehutanan, dan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya hutan dan lingkungan hidup, dapat dilakukan dengan strategi percepatan pembentukan KPH. Untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan hasil hutan, maka strategi prioritasnya adalah akselerasi pembangunan hutan tanaman dengan jenis yang sesuai tapak dan tuntutan pasar. Untuk mencapai tujuan perlindungan dan peningkatan keanekaragaman hayati lokal dapat dilakukan dengan strategi peningkatan kerjasama parapihak. Berdasarkan kajian secara keseluruhan, untuk mendukung keberhasilan pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB disarankan kepada Dinas Kehutanan Provinsi NTB agar 1). Untuk melaksanakan strategi percepatan pembentukan KPH, Dinas Kehutanan disarankan untuk mempercepat pembagian dan penetapan wilayah KPH, menyiapkan sarana prasarana, anggaran dan personil dalam institusi KPH serta melakukan sosialisasi dengan stakeholder tentang pembentukan KPH; 2) Untuk meningkatkan kepastian hukum atas kawasan dan menjamin keberlanjutan usaha, perlu segera diusulkan perubahan Penunjukan Kawasan Hutan NTB sesuai dengan hasil tata batas, dan koordinasi dan sosialisasi hasil tata batas, 3). Melakukan review terhadap beberapa peraturan daerah yang dapat menghambat birokrasi dan mempermudah perijinan usaha, dan 4). untuk penelitian lebih lanjut, perlu ditambahkan kajian tentang analisis lokasi pembangunan hutan tanaman unggulan lokal yang sesuai dengan persyaratan tumbuh dan ekologinya.. Kata Kunci : Tanaman Unggulan Lokal, Analisis SWOT, Analisis MPF, Provinsi NTB, AHP..

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Analisis Muitinominal Logit Tahap Evaluasi : Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Terhadap Bentuk Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan HKm pada Kawasan Hutan

 Untuk Provinsi NTB, sumber emisi berasal dari penggunaan bahan bakar untuk. pembangkit listrik oleh PLN

Dikarenakan sistem komunikasi telepon lokal pada kantor BPKAD Provinsi NTB sudah terpasang sebelumnya, maka tugas yang pertama dilakukan adalah troubleshooting, dengan

Struktur perekonomian Provinsi NTB menurut lapangan usaha pada triwulan I-2016 didominasi oleh tiga kategori utama yaitu: Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (21,57

         H. M. ZAINUL MAJDI Diundangkan di Mataram pada tanggal 

(1) Laboratorium Terapi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf d mempunyai tugas melaksanakan layanan terapi bagi peserta didik SLB Autis Provinsi NTB melalui

Untuk menjaga terpenuhinya keseimbangan manfaat lingkungan, manfaat sosial budaya dan manfaat ekonomi, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mempertahankan dan mengelola

Dari Tabel 11 menunjukkan bahwa status hutan lindung dikelola oleh pemerintah kabupaten, sedangkan kawasan konservasi dikelola oleh pemerintah provinsi. Kawasan hutan