27
Universitas Kristen Petra
BAB 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Objek Penelitian
Dalam penelitian ini, objek dependen yang digunakan yaitu FDI.
Berdasarkan Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang FDI, penanaman modal asing meliputi penanaman modal asing secara langsung yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia.
Jika dilihat dari data FDI dari BKPM 2012, sektor pertambangan menempati realisasi investasi tertinggi sebesar 4,3 miliar dolar AS (17,3 persen), Kompas (2013) mengatakan bahwa di sektor pertambangan migas sekitar 70 persen dikuasai pihak asing, sedangkan pertambangan tembaga dan emas sekitar 85 persen dikuasai oleh asing. Kedua disusul oleh sektor transportasi 2,8 miliar miliar dolar AS (11,4 persen), hal ini wajar karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas. Sektor-sektor berikutnya disumbang oleh sector kimia 2,8 miliar dolar AS (11,4 persen), industri logam dasar 2,5 miliar dolar AS (10 persen), dan lainnya disumbang berbagai sektor seperti pertanian, pendidikan, dan lain-lain (49,9 persen). Berikut merupakan gambaran komposisi sekor penyumbang FDI.
Grafik 4.1 Komposisi FDI menurut sektor (USD)
Sumber : Kompas (2013)
Bila dikaji berdasarkan negara asal penyumbang FDI di tahun 2012 berikut adalah gambar grafiknya.
17%
12%
11%
10%
50%
Sektor-sektor FDI Indonesia
Pertambangan Transportasi Kimia Logam lainnya
28
Universitas Kristen Petra
Grafik 4.2 Negara penyumbang FDI (miliyar USD) Tahun 2012
Sumber : Kompas (2013)
Jika dilihat dari periode 1994-2012, FDI di Indonesia selalu berfluktuatif dari tahun ke tahun. Grafik FDI 4.1 menunjukan penurunan FDI pada tahun-tahun tertentu dan peningkatan FDI di tahun-tahun lainnya, tetapi bila dilihat secara linear, pergerakan FDI mengikuti trend meningkat.
Grafik 4.3 Pergerakan FDI dengan Garis Linear
Sumber : BPKM (nd)
FDI di Indonesia banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah faktor politik. Jika dilihat dari fakta sejarah Indonesia, ada beberapa presiden yang turun maupun naik diluar masa pemilu yang dikarenakan oleh
Singapore Jepang Korea Selatan
Amerika Serikat
Mauritius 4,9
2,5
1,9
1,2 1,1
Nilai Investasi (miliyar USD)
Nilai Investasi (miliyar USD)
0,00 5000,00 10000,00 15000,00 20000,00 25000,00 30000,00
1994 1999 2004 2009
FDI
FDI Linear (FDI) MillionUSD
29
Universitas Kristen Petra
tuntutan maupun ketidakstabilan politik yang mengharuskan pergantian presiden.
Hal ini memungkinkan untuk memberikan pengaruh kepada Investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Pergantian presiden baik melalui pemilu maupun turun secara paksa dan pemilu pada periode setelah tahun 1994 adalah pada tahun 1998, 1999, 2001, 2004, dan 2009. Tahun 1998 adalah pergantian dari Presiden Soeharto kepada B.J Habibie, tahun 1999 adalah dari Presiden B.J Habibie kepada Presiden Abdurrahman Wahid, tahun 2001 adalah pergantian Presiden Abdurrahman Wahid kepada Presiden Megawati, tahun 2004 adalah Presiden Megawati kepada Presiden Bambang Susilo Yudhoyono, dan terakhir tahun 2009 adalah tahun terpilihnya kembali Presiden Bambang Susilo Yudhoyono. Jika dilihat dari grafik 4.3, dapat dilihat pada tahun-tahun pergantian presiden tahun 2001, 2004, 2009 FDI mengalami penurunan yang signifikan.
Grafik 4.2 Pergantian presiden (PP) dengan FDI
Sumber : BPKM dan Wikipedia (nd)
Jika dilihat dari tahun-tahun pergantian presiden dan pergerakan FDI di Indonesia, dapat dilihat bahwa pada saat tahun krisis moneter yang disertai pergantian pemerintahan Presiden Soeharto dan masuknya pemerinthan Presiden BJ Habibie, FDI di Indonesia terlihat mengalami kenaikan yang cukup tajam.
Bahkan pada saat tahun 1999, dimana tahun tersebut Indonesia mengalami pergantian presiden ke tiga kali yaitu Presiden BJ Habibie dengan Presiden Abdurrahman Wahid realisasi FDI naik hampir dua kali lipat yaitu dari sebesar
0,00 5000,00 10000,00 15000,00 20000,00 25000,00 30000,00
1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
FDI
FDI
year
PP Miliyar USD
30
Universitas Kristen Petra
$4.685.700.000 menjadi $8.229.900.000. Krisis moneter yang ditandai dengan makin merosotnya nilai tukar rupiah pada 1997, telah memaksa Indonesia untuk meminta bantuan IMF. Ada berbagai persyaratan yang diajukan IMF dan harus dipenuhi oleh Indonesia, diantaranya adalah privatisasi BUMN, pencabutan subsidi dan regulasi perbankan yang memungkin asing untuk memiliki bank di Indonesia. Respon pemerintah terhadap persyaratan IMF ini, salah satunya diwujudkan pada tahun 1999, dimana pemerintah membuat aturan bahwa asing bisa memiliki 99 persen saham perbankan.
Akan tetapi jika dilihat dari pergantian presiden tahun-tahun berikutnya yaitu tahun 2001, 2004, dan 2009 FDI di Indonesia semuanya terlihat mengalami penurunan. Hal ini menggambarkan pada tahun-tahun pemilihan atau pergantian presiden Indonesia investor cenderung untuk menahan dananya untuk mencegah adanya Political Risk. Jika dilihat dari grafik 4.2, setahun setelah pergantian presiden FDI menunjukkan gejolak yang tinggi. Jadi investor cenderung untuk menunggu suasana politik reda lalu melakukan investasi.
Jika dilihat secara umum lonjakan FDI di Indonesia dapat dilihat pada tahun 2007 setelah sebelumnya hanya mengalami fluktuasi dikisaran angka yang sama. Lonjakan FDI ini sangat berhubungan erat dengan perubahan kebijakan pemerintah yang lebih meningkatkan investasi dengan adanya Instruksi Presiden No. 3 tahun 2006 tentang paket kebijakan perbaikan iklim investasi di Indonesia baik asing maupun dalam negeri.
FDI juga dalam perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan GDP GNP di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan prosesnya yang berkelanjutan merupakan keinginan dari setiap negara yang sedang berkembang, ini dibutuhkan demi kelangsungan pembangunan ekonomi dan dalam rangka menarik investor asing di negara tersebut. Berikut adalah tabel perbandingan jumlah GDP dan GNP dengan FDI di Indonesia selama periode 1994-2012.
.
31
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.1 Deskripsi Perkembangan GDP dan FDI di Indonesia selama periode 1994-2012
Tahun GDP ($ USD) FDI ($ USD)
1994 $190.594.090.909,09 $3.771.200.000,00 1995 $196.929.809.358,75 $6.698.400.000,00 1996 $205.308.854.385,23 $4.628.200.000,00 1997 $128.414.389.571,32 $3.473.400.000,00 1998 $95.446.000.000,00 $4.685.700.000,00 1999 $140.001.000.000,00 $8.229.900.000,00 2000 $150.196.000.000,00 $9.877.400.000,00 2001 $141.255.000.000,00 $3.509.400.000,00 2002 $172.975.000.000,00 $3.082.600.000,00 2003 $234.772.458.818,10 $5.445.300.000,00 2004 $256.836.883.304,55 $4.572.700.000,00 2005 $285.868.610.016,59 $8.911.000.000,00 2006 $364.570.525.997,05 $5.991.700.000,00 2007 $432.216.737.774,86 $10.341.400.000,00 2008 $510.244.548.959,97 $14.871.400.000,00 2009 $539.579.959.052,70 $10.815.200.000,00 2010 $709.266.023.255,22 $13.771.000.000,00 2011 $846.483.465.279,18 $18.906.000.000,00 2012 $878.192.879.854,37 $24.600.000.000,00
Sumber : World Bank dan BPKM (nd)
Dilihat dari pergerakan GDP di Indonesia, GDP di Indonesia hanya mengalami penurunan di tahun 1997, 1998, dan tahun 2001. Dapat dilihat pergerakan GDP di Indonesia jauh lebih stabil dari pada pergerakan FDI. Jika dilihat dari tabel 4.1, GDP di Indonesia mempunyai hubungan atas pergerakan FDI di Indonesia. Kecuali pada tahun 1998, pergerakan GDP dan FDI memiliki hubungan yang signifikan, yaitu pada saat GDP turun FDI Indonesia juga turun.
Sebaliknya pada beberapa tahun saat GDP mengalami kenaikan FDI juga mengalami kenaikan.
Jika dilihat dari fakta pada saat krisis tahun 1998 justru disaat GDP Indonesia sedang turun FDI terlihat mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena beberapa daerah justru menunjukkan kenaikan GDP dan menarik perhatian Investor. Provinsi Irian Jaya justru tumbuh sebesar 12,7%, demikian juga kota Batam dengan pertumbuhan ekonomi 3,5%. Penurunan FDI kebanyakan hanya terjadi di ibu kota Jakarta dan beberapa daerah lain seperti Sumatra dan
32
Universitas Kristen Petra
Kalimantan. Jakarta sendiri mengalami menuruan drastis yaitu dari sebelumnya tahun 1997 6136,1 juta USD turun menjadi 1700,1 juta USD, sedangkan di daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Irian Jaya mengalami kenaikan.
Tabel 4.2 Deskripsi Perkembangan GNP terhadap FDI dari tahun 1994-2012
Tahun GNP ($ USD) FDI ($ USD)
1994 $155.307.136.363.636,00 $3.771.200.000,00 1995 $161.158.968.804.159,00 $6.698.400.000,00 1996 $168.852.832.563.995,00 $4.628.200.000,00 1997 $104.733.767.861.619,00 $3.473.400.000,00 1998 $30.058.623.069.623,00 $4.685.700.000,00 1999 $50.339.802.816.901,40 $8.229.900.000,00 2000 $38.882.084.418.968,20 $9.877.400.000,00 2001 $134.253.924.914.676,00 $3.509.400.000,00 2002 $160.212.995.911.150,00 $3.082.600.000,00 2003 $145.803.167.641.326,00 $5.445.300.000,00 2004 $153.566.082.042.288,00 $4.572.700.000,00 2005 $167.169.318.413.021,00 $8.911.000.000,00 2006 $188.174.217.391.304,00 $5.991.700.000,00 2007 $202.669.994.520.548,00 $10.341.400.000,00 2008 $216.480.000.000.000,00 $14.871.400.000,00 2009 $226.760.000.000.000,00 $10.815.200.000,00 2010 $292.540.000.000.000,00 $13.771.000.000,00 2011 $344.190.000.000.000,00 $18.906.000.000,00 2012 $356.260.000.000.000,00 $24.600.000.000,00
Sumber : BPS dan BPKM (nd)
Sama hal nya dengan GDP, GNP di Indonesia juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. GNP hanya mengalami penurunan tajam di tahun 1998-2000 selanjutnya GNP cenderung meningkat. Jika dibandingkan dengan FDI tahun 1998-2000 disaat GNP mengalami penurunan tajam , FDI justru meningkat secara signifikan. Begitu pula dengan tahun 2003 dimana saat GNP turun FDI tahun tersebut justru meningkat. Hal ini menggambarkan bahwa GNP mempunyai hubungan yang signifikan terhadap FDI.
Seperti yang di bahas di bab sebelumnya GDP dinilai kurang untuk menggambarkan perekonomian suatu negara karena tidak menggambarkan kekayaan warga negara suatu bangsa. Produk Nasional Bruto atau GNP
33
Universitas Kristen Petra
merupakan Produk Domestik Bruto (GDP) dengan mengeluarkan faktor pendapatan neto terhadap luar negeri. Pendapatan neto atas faktor luar negeri ialah pendapatan atas faktor produksi warga negara Indonesia yang dihasilkan di luar negeri dikurangi pendapatan atas faktor produksi warga negara asing yang dihasilkan di Indonesia. Dari angka-angka terlihat bahwa pada setiap tahun GNP selalu lebih kecil dari GDP. Artinya nilai produksi orang asing di Indonesia lebih besar daripada nilai produksi orang Indonesia di luar negeri. Ini merupakan fenomena umum bagi suatu negara berkembang. Bagi negara-negara maju, GNP mereka biasanya lebih besar dari GDP nya.
Pada tahun 1989, produk nasional bruto Indonesia adalah sebesar
$103.710.200 dan pada tahun selanjutnya produk nasional bruto terus meningkat yang diakibatkan oleh perekonomian Indonesia yang sangat kondusif. Pada tahun 1998, produk nasional bruto Indonesia turun drastis menjadi sebesar $348.409.500 Hal ini disebabkan karena pada tahun 1997-1998 Indonesia dan beberapa negara- negara lainnya mengalami krisis moneter, sehingga roda perekonomian tidak berjalan dengan baik. Pada tahun 2001, produk nasional bruto Indonesia meningkat menjadi sebesar $1.376.774.000 dan terus meningkat sampai tahun 2006 menjadi sebesar $1.731.202.800. Hal ini disebabkan oleh perekonomian Indonesia yang semakin hari semakin membaik, baik tingkat konsumsi masyarakat; investasi; pengeluaran pemerintah dan net-ekspor.
Jika mengkaji hubungan nilai kurs USD USD terhadap FDI, tabel 4.3 dapat memaparkanpergerakan yang cukup fluktuatif antarakurs USD rupiah terhadap dollar Amerika selama periode 1994-2012.
Tabel 4.3 Deskripsi Nilai kurs USD USD terhadap FDI Periode 1994-2012
Tahun
KURS USD tethadap dollar
FDI ($ USD)
1994 IDR 2.200,00 $3.771.200.000,00 1995 IDR 2.308,00 $6.698.400.000,00 1996 IDR 2.383,00 $4.628.200.000,00 1997 IDR 3.989,00 $3.473.400.000,00 1998 IDR 11.591,00 $4.685.700.000,00 1999 IDR 7.100,00 $8.229.900.000,00 2000 IDR 9.595,00 $9.877.400.000,00
34
Universitas Kristen Petra
2001 IDR 10.298,00 $3.509.400.000,00 2002 IDR 9.318,00 $3.082.600.000,00 2003 IDR 8.573,00 $5.445.300.000,00 2004 IDR 8.934,00 $4.572.700.000,00 2005 IDR 9.710,00 $8.911.000.000,00 2006 IDR 9.166,00 $5.991.700.000,00 2007 IDR 9.136,00 $10.341.400.000,00 2008 IDR 9.676,00 $14.871.400.000,00 2009 IDR 10.398,00 $10.815.200.000,00 2010 IDR 9.084,00 $13.771.000.000,00 2011 IDR 8.779,00 $18.906.000.000,00 2012 IDR 9.380,00 $24.600.000.000,00
Sumber : BI dan BPKM (nd)
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat perkembangan kurs rupiah terhadap dollar Amerika yang mengalami fluktuatif selama periode 1994-2012 hal ini menunjukan bahwa mata uang negara Indonesia memang tidak stabil. Apabila dilihat secara keseluruhan dari tahun 1994-2012 rupiah kita cenderung mengalami depresiasi.
Pada tahun 1997, kurs rupiah terhadap US$ berada pada posisi 3.989/US$
kemudian terdepresiasi tajam menjadi 11.591/US$ pada tahun 1998. Hal ini disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997. Sepanjang tahun 1999, perkembangan nilai kurs relatif lebih stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya meskipun kurs terlihat mengalami tekanan yang cukup berarti. Hal ini tidak terlepas dari efek krisis moneter yang masih terasa (Laporan Tahunan BI, 1999). Pada tahun 2004, nilai kurs Rupiah terhadap US$ cukup fluktuatif dengan kecenderungan melemah yaitu dari posisi 8.573/US$ pada tahun 2003 ke posisi 8.934/US$ pada tahun 2004. Hal ini diakibatkan oleh siklus kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh beberapa negara seperti China dan AS, kebijakan China untuk memperlambat ekspansi ekonomi dan melambungnya harga minyak dunia (Laporan Perekonomian Indonesia, 2004). Pada tahun 2011, kurs Rupiah terhadap US$ mengalami apresiasi dari tahun sebelumnya dimana, pada tahun 2010 kurs Rupiah berada pada posisi 9.084/US$ dan pada tahun 2011 menjadi 8.779/US$. Hal ini dapat terjadi karena tekanan sentimen melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis utang Eropa dan menurut salah satu pialang valas, investor asing banyak
35
Universitas Kristen Petra
yang melarikan dananya dari Indonesia, terutama dari bursa saham yang dalam lima hari terakhir asing terus menjual bersih, sehingga mereka banyak membeli Dolar dan melepas Rupiah (detik finance, 2011).
Variabel terakhir adalah upah minimum. Pangestu (2008), menyatakan bahwa kalangan investor di masamendatang sudah mulai mempertimbangkan wilayah-wilayah dengan patokanupah yang rendah. Jika dilihat dari tabel 4.3, dapat dilihat upah minimum di Indonesia selalu naik tiap tahunnya, hal ini wajar karena diikuti dengan inflasi Indonesia yang tergolong tinggi yang menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok terus naik.
Tabel 4.4 UMR di Jakarta dari tahun 1994-2012.
Tahun UMR DKI JKT FDI ($ USD)
1994 IDR 31.290,00 $3.771.200.000,00 1995 IDR 36.820,00 $6.698.400.000,00 1996 IDR 40.740,00 $4.628.200.000,00 1997 IDR 135.353,00 $3.473.400.000,00 1998 IDR 153.971,00 $4.685.700.000,00 1999 IDR 179.528,00 $8.229.900.000,00 2000 IDR 344.257,00 $9.877.400.000,00 2001 IDR 426.257,00 $3.509.400.000,00 2002 IDR 591.266,00 $3.082.600.000,00 2003 IDR 631.554,00 $5.445.300.000,00 2004 IDR 671.550,00 $4.572.700.000,00 2005 IDR 711.843,00 $8.911.000.000,00 2006 IDR 819.100,00 $5.991.700.000,00 2007 IDR 900.560,00 $10.341.400.000,00 2008 IDR 972.604,00 $14.871.400.000,00 2009 IDR 1.069.865,00 $10.815.200.000,00 2010 IDR 1.118.009,00 $13.771.000.000,00 2011 IDR 1.290.000,00 $18.906.000.000,00 2012 IDR 1.529.150,00 $24.600.000.000,00
Sumber : Wikipedia dan BPKM (nd)
36
Universitas Kristen Petra
4.2 Analisis Data
4.2.1 Pembentukan Model Regresi
Pembentukan model regresi dilakukan untuk melihat pengaruh Political Risk, GDP, GNP, Kurs USD, dan wage costsecara parsial dan bersama-sama terhadap FDI. Seberapa besar variabel independen mempengaruhi variabel dependen dihitung dengan menggunakan persamaan garis regresi berganda.
Berikut adalah hasil regresi awal dengan menggunakan Eview6 yang telah diolah.
Tabel 4.5 Hasil Regresi Awal
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 9.75E+09 2.67E+09 3.652353 0.0029
PEMILU -1.09E+08 1.74E+09 -0.062713 0.9509
GDP 7.71E-08 4.96E-08 1.554747 0.1440
GNP -3.48E-10 1.08E-10 -3.228078 0.0066
KURS -456375.8 310315.2 -1.470685 0.1652
WAGE 6094.482 3153.201 1.932792 0.0753
R-squared 0.867419 Mean dependent var 8.75E+09
Adjusted R-squared 0.816426 S.D. dependent var 5.83E+09 S.E. of regression 2.50E+09 Akaike info criterion 46.36662 Sum squared resid 8.11E+19 Schwarz criterion 46.66486 Log likelihood -434.4829 Hannan-Quinn criter. 46.41709
F-statistic 17.01058 Durbin-Watson stat 1.870916
Prob(F-statistic) 0.000027
Berdasarkan hasil regresi pada Tabel 4.5 terlihat bahwa hanya variabel GNP yang signifikan, tetapi nilai R2 menunjukan hasil yang tinggi yaitu 86,7%.
Bukti empiris ini menjadi tidak terkonfirmasi, karena seharusnya R2 yang tinggi didukung juga dengan banyaknya signifikansi yang tercapai.Oleh karena itu, dibutuhkan kajian lebih lanjut tentang data yang digunakan, apakah telah memenuhi asumsi kelayakan penggunaan regresi. Oleh karena itu akan dilakukan uji asumsi klasik terhadap data regresi ini.
37
Universitas Kristen Petra
4.2.2 Uji Asumsi Klasik
Sampel yang dipakai dalam peneltitian berupa data makroekonomi dan politik selama 1 tahun. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, perlu dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu yang meliputi normalitas data, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi yang dilakukan sebagai berikut.
4.2.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi baik variabel independent maupun varabel dependen memiliki distribusi data normal atau tidak.Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2001).Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan Jarque-Bera test.Berikut disajikan hasil uji normalitas dari Eviews 6.
Gambar 4.1 Tabel Jaeque-Bera
Nilai probabilitas Jarque-Bera adalah 0,612527 atau lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05.Hasil ini menunjukkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki distribusi yang normal dan menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi normalitas.
0 1 2 3 4 5 6
-4.0e+09 -2.0e+09 0.00000 2.0e+09 4.0e+09
Series: Residuals Sample 1994 2012 Observations 19 Mean 2.11e-06 Median -2.06e+08 Maximum 4.16e+09 Minimum -3.36e+09 Std. Dev. 2.12e+09 Skewness 0.316324 Kurtosis 2.388875 Jarque-Bera 0.612527 Probability 0.736193
38
Universitas Kristen Petra
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresiditemukan adanya korelasi antar variable independen.Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Variabel orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol (Ghozali, 2001). Berikut adalah hasil perhitungan dengan metode VIF dimana VIF = 1 / ( 1 – R2 ) = 7,5187 atau lebih dari tingakt VIF 5.
Oleh karena itu model ini dapat atau sudah layak untuk di gunakan kareana tidak terdapat variabel yang mengalami multikolinearitas
4.2.2.3 Uji Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Model yang baik adalah yang homoskedastisitas (Ghozali, 2001).
Dalam penelitian ini, uji heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Berikut akan disajikan hasil uji Glejser dengan menggunakan Eviews 6.
Tabel 4.6 Uji White Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 1.247083 Prob. F(5,13) 0.3430
Obs*R-squared 6.159101 Prob. Chi-Square(5) 0.2910 Scaled explained SS 2.002304 Prob. Chi-Square(5) 0.8488
Dilihat dari Prob F yang telah di uji melalui Eviews hasilnya adalah 0,3430 atau lebih besar dari 5%. Hasil ini menunjukkan bahwa model regresi ini layak dipakai karena bersifat homoskedastisitas.
39
Universitas Kristen Petra
4.2.2.4 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara residual pada periode sekarang dengan periode sebelumnya.Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi.Jika terjadi korelasi antara residual, maka terdapat autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya (Ghozali,2003). Dalam penelitian ini, untuk melihat ada tidaknya autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji LM test.
Tabel 4.7 LM Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 4.515489 Prob. F(2,11) 0.0370
Obs*R-squared 8.566161 Prob. Chi-Square(2) 0.0138
Berdasarkan hasil uji LM test diatas, menunjukkan besarnya Prob. F(2,11) sebesar 0.0370 dan Prob. Chi-Square(2) adalah sebesar 0.0138. Keduanya lebih kecil dari level signifikan 5%. Hal ini mengatakan bahwa model regresi ini terdapat autokorelasi.
Untuk mengatasi masalah Autokorelasi, akan dilakukan prosedur Lag data.
Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa variabel independen membutuhkan waktu untuk mempengaruhi variabel dependen. Lag yang diambil adalah t-1, atau 1(satu) tahun yang lalu, artinya variabel independen diasumsikan membutuhkan waktu 1 tahun untuk mempengaruhi variabel dependen.
4.3 Hasil Regresi Berganda setelah di Lag
Setelah dilakukan lag terhadap variabel independen, maka berikut hasil Regresi yang baru.
Tabel 4.8 Hasil Regresi setelah di Lag
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
40
Universitas Kristen Petra
C 8.81E+09 2.57E+09 3.425419 0.0050
PP 4.20E+09 1.70E+09 2.474610 0.0292
GDP 1.26E-07 4.86E-08 2.588218 0.0237
GNP -2.66E-10 1.04E-10 -2.561175 0.0249
KURS -776509.2 304995.8 -2.545966 0.0257
UMR 8090.080 3089.860 2.618268 0.0225
R-squared 0.881526 Mean dependent var 9.02E+09
Adjusted R-squared 0.832162 S.D. dependent var 5.87E+09 S.E. of regression 2.40E+09 Akaike info criterion 46.29958 Sum squared resid 6.93E+19 Schwarz criterion 46.59638 Log likelihood -410.6963 Hannan-Quinn criter. 46.34051
F-statistic 17.85769 Durbin-Watson stat 1.967978
Prob(F-statistic) 0.000035
4.4 Uji Hipotesis
Berdasarkan tabel coefficients diatas maka model regresi yang dapat dibentuk adalah :
FDI t = 881.000.000 + 4.200.000.000 PP t-1 + 0,0000126 GDPt-1 – 0,0000000266 GNPt-1 – 776509,2 KURS USDt-1 + 8090,08 UPAHt-1 + e
Dari hasil hipotesis diatas dapat dilihat arah hubungan dari masing-masing variabel yaitu PP, GDP, dan Upah memiliki arah hubungan positif terhadap variabel FDI. Sedangkan variabel GNP dan Kurs memiliki arah hubungan negatif terhadap FDI.
4.5 Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu.
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai adjusted R-square model ini adalah sebesar 0.832162 yang menunjukkan bahwa variasi variabel independen mampu menjelaskan 83,2% variasi variabel dependen, sedangkan sisanya yaitu sebesar 16,8% dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel independen. Nilai koefisien
41
Universitas Kristen Petra
korelasi (R) sebesar 0.881526menunjukkan bahwa kuat hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 88,1%.
Untuk taraf signifikansi 5% semua variabel yang diuji berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini sesuai dengan nilai R2 yang tinggi yaitu sebesar 0,881526.
4.6 Uji t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara parsial didalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2001).
Hasil hipotesis penelitan pengaruh PP, GDP, GNP, Kurs USD USD, dan Upah tenaga kerja terhadap FDI secara parsial akan dibahas sebagai berikut :
1. Pergantian Presiden
Dari persamaan regresi, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari Pilpres adalah sebesar 0.0292 yang menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H1diterima. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara variabel Pemilu terhadap FDI.
2. GDP
Dari persamaan regresi, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari GDPadalah sebesar 0.0237 yang menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H1diterima. Hal ini menunjukkanterdapat pengaruh signifikan antara variabel GDP terhadap FDI.
3. GNP
Dari persamaan regresi, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari GDPadalah sebesar 0.0249 yang menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H1diterima. Hal ini menunjukkanterdapat pengaruh signifikan antara variabel GNP terhadap FDI.
4. Kurs USD
Dari persamaan regresi, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari KURS USDUSD adalah sebesar 0.0257 yang menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H1diterima. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara variabel KURS USD terhadap FDI.
42
Universitas Kristen Petra
5. UMR
Dari persamaan regresi, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas dari wage costadalah sebesar 0.0225yang menunjukkan nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H1diterima. Hal ini menunjukkanterdapat pengaruh signifikan antara variabelwage cost terhadap FDI.
4.7 Uji F
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independent yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap semua variabel dependen (Ghozali,2001).
Uji F dilakukan dengan membandingkan Nilai F statistik dengan taraf signifikansi,dimana nilai F statistik adalah sebesar 17.85769. Niliai F statistik lebih besar dari taraf signifikansi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maka variabel independent yang meliputi Pergantian Presiden, GDP, GNP, Kurs USD, dan UMR secara simultan berpengaruh secara signifikanterhadap FDI di Indonesia.
4.8 Analisis dan Pembahasan
Secara umum, hasil empiris pada regresi membuktikan bahwa variabel political risk, GDP, GNP, kurs USD dan UMR berpengaruh secara signifikan baik parsial maupun bersama-sama. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dikemukakan oleh Singh dan Jun (1995) dalam mengamati beberapa variabel yang diduga mempengaruhi masuknya FDI di negara-negara berkembang yaitu Political Risk, GDP, GNP, Kurs USD, dan wage cost merupakan variabel-variabel yang paling menentukan terhadap masuknya FDI di suatu negara.
Jika dilihat dari arah hubungan, terlihat bahwa tingkat FDI berjalan searah dengan resiko politik. Artinya, investor asing sejauh ini yakin bahwa pimpinan yang terpilih memiliki andil positif untuk memajukan Indonesia. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Delloitte (2012) yang menemukan bahwa pergantian kekuasaan/pemilihan presiden mempunyai dampak yang signifikan untuk kegiatan ekonomi, industri, dan pada minat investor asing.Artinya pelaku investor akan sensitif dengan gejolak-gejolak politik di tanah air yang terjadi
43
Universitas Kristen Petra
tahun lalu (t-1) atau dengan kata lain dampak FDI baru terasa setaun setelah pergantian presiden. Jika dilihat dari tahun-tahun pergantian presiden dan pergerakan FDI di Indonesia, dapat dilihat bahwa pada saat Indonesia mengalami pergantian presiden barulah tahun depannya FDI cenderung mulai meningkat.
Hal ini menggambarkan pada tahun-tahun pemilihan atau pergantian presiden Indonesia investor cenderung untuk menahan investasinya untuk mencegah adanya Political Risk.
Begitu pula dengan GDP, hasil regresi menguraikan bahwa variabel GDP memiliki hubungan yang signifikan secara positif terhadap nilai FDI. Hal ini menunjukkan bahwa minat investor asing akan bertambah jika GDP Indonesia meningkat. Hal ini sesuai dengan teori Kesit Bambang (2003) yang menyatakan bahwa besarnya produk domestik bruto atau GDP suatu negara tiap tahun merupakan salah satu indikator pengukuran ekonomi mengenai besarnya pasar negara tujuandan menarik investasi bagi warga asing.
Variabel berikutnya adalah Kurs USD. Hasil regresi menguraikan bahwa variabel Kurs USD memiliki hubungan yang signifikan secara negatif terhadap nilai FDI. Jadi saat rupiah menguat atau rupiah mengalami apresiasi FDI pun meningkat. Hasil penelitian menemukan bahwa investor akan tertarik untuk berinvestasi pada saat rupiah mengalami apresiasi dan dalam hal ini investor berekspektasi perekonomian Indonesia memiliki prospek yang baik.Jika dilihat dari fakta kurs USD rupiah dengan USD, di beberapa tahun seperti 1999, 2005, 2007, 2010, 2011 saat kurs USD Indonesia menguat FDI juga mengalami kenaikan yang signifikan akan tetapi ada kalanya pada saat tahun 2002 dan 2006 yaitu saat rupiah mengalami apresiasi justru FDI menurun. Hal ini sesuai dengan penelitian Froot and Stein (1991) yang berpendapat bahwa hanya pada tingkat tertentu exchange rate atau kurs USD dapat mempengaruhi FDI.Hal ini sesuai mengingat pada tahun 2002 dan 2006 kurs USD tidak mengalami apresiasi yang signifikan.
Berdasarkan koefisien yang dihasilkan lewat Regresi, terdapat hasil yang perlu dikaji lebih dalam, yakni hubungan antar GNP dan FDI serta UMR dengan FDI. Hasil regresi menguraikan bahwa variabel GNP memiliki hubungan signifikan yang secara negatif terhadap FDI. Hal ini menggambarkan bahwa saat
44
Universitas Kristen Petra
GNP turun FDI justru mengalami kenaikan. Hal ini perlu di uji lebih lanjut mengingat menurut Thompson (1980) mengatakan bahwa ahli ekonomi cenderung untuk mengukur pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan GNP riil perkapita.
Variabel terakhir yang perlu di uji lebih lanjut adalah upah,hasil regresi menguraikan bahwa variabel upah memiliki hubungan yang signifikan secara positif dengan nilai FDI. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Sukirno (1985) yang menyatakan bahwa penurunan biaya tenaga kerja tentunya akan meningkatkan keuntunganyang diperoleh investor dan tentunya akan menjadi daya tarik bagi investor untukmelakukan investasi di negara tersebut. Jika dibandingkan dengan hasil regresi yang menyatakan bahwa UMR memiliki hubungan signifikan positif, hal ini dapat disebabkan karena Indonesia merupakan negara dengan kenaikan upah minimum yang cukup rendah dan kemungkinan tidak terlalu mempengaruhi keputusan Investor. Departemen of Labor and Employment National Wages and Produktivity Commission(2012) menemukan bahwa Upah di Indonesia terendah ke tiga di Asia, dimana Kamboja menempati peringkat pertama dalam upah terendah dan Vietnam di peringkat kedua.
Peringkat upah minimum yang lebih tinggi dari Upah di Indonesia adalah China lalu diikuti diatas China yaitu Thailand. Akan tetapi jika dilihat dari periode setelah 2012 kemungkinan barulah Investor akan terpengaruh signifikan secara negatif. Survey yang dilakukan Salary Trends Survey tahun 2013/2014 Indonesia menempati urutan ke 9 dalam masalah kenaikan upah dan kemungkinan akan mulai mempengaruhi keputusan Investor.
Setelah di uji bersama-sama variabel-variabel tersebut semua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini sesuai dengan penelitian Singh dan Jun (1995) dalam mengamati beberapa variabel yang diduga mempengaruhi masuknya FDI di negara-negara berkembang yaitu Political Risk, GDP, GNP, Kurs USD, dan wage cost merupakan variabel-variabel yang paling menentukan terhadap masuknya FDI di suatu negara.