SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman i
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL
(Environmental and Social Management System/ESMS)
PT Margautama Nusantara
NOMOR DOKUMEN : E S M S – DOC 001
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1. KEBIJAKAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL ... 1-1
1.1 Komitmen Perusahaan ... 1-1 1.2 Perbaikan Berkelanjutan dari Perusahaan dan Dukungan Pihak Terkait ... 1-2 BAB 2. IDENTIFIKASI ASPEK DAN DAMPAK ... 2-1 2.1 Penyaringan Awal Proyek dan Kajian Pelingkupan ... 2-1 2.2 Penilaian dan Analisis (Aspek-Dampak) Lingkungan dan Sosial ... 2-2 BAB 3. PROGRAM MANAJEMEN ... 3-1 BAB 4. KAPASITAS DAN KOMPETENSI ORGANISASI ... 4-1 BAB 5. KEADAAN TANGGAP DARURAT ... 5-1 BAB 6. TATA KELOLA PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DAN MEKANISME PENANGANAN KELUHAN ... 6-1
6.1 Rencana Pengelolaan... 6-1 6.1.1 Maksud ... 6-1 6.1.2 Tujuan ... 6-1 6.2 Struktur Organisasi ... 6-1 6.3 Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan ... 6-2 6.4 Kapasitas Organisasi Dalam Pengelolaan Pemangku Kepentingan dan Risiko Sosial
... 6-3
6.5 Pendanaan ... 6-5
6.6 Mekanisme Penanganan Keluhan ... 6-5
BAB 7. PELAPORAN TERKINI KEPADA MASYARAKAT YANG TERKENA DAMPAK ... 7-1
BAB 8. PEMANTAUAN DAN TINJAUAN ... 8-1
BAB 9. LAIN LAIN ... 9-1
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman iii
Tabel 2.2 Kemungkinan ... 2-3 Tabel 2.3 Matriks Risiko ... 2-3 Tabel 2.4 Respon Pengelolaan Risiko ... 2-4 Tabel 4.1 Peran dan Tanggung Jawab Personil untuk melaksanakan ESMS ... 4-2 Tabel 4.2 Matriks Kompetensi ESMS ... 4-4 Tabel 5.1 Peran dan Tanggung Jawab Tim Tanggap Darurat ... 5-2 Tabel 6.1 Kerangka Peran dan Tanggung Jawab Unit Kerja Terkait Tata Kelola Pelibatan
Pemangku Kepentingan dan Penanganan Keluhan ... 6-2 Tabel 7.1 Pelaporan ... 7-1
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Struktur Organisasi bagi Pelaksanaan ESMS pada tahap Konstruksi ... 4-1
Gambar 4.2 Struktur Organisasi bagi Pelaksanaan ESMS pada tahap Operasi ... 4-1
Gambar 5.1 Tim Tanggap Darurat ... 5-2
Gambar 6.1 Kerangka Organisasi Perusahaan untuk Tata Kelola Pemangku Kepentingan dan
Penanganan Keluhan ... 6-1
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman iv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Penilaian dan Analisis Lingkungan dan Sosial ...
Lampiran 2 Rencana Pengelolaan Limbah Non-B3 ...
Lampiran 3 Rencana Pengelolaan Kualitas Udara ...
Lampiran 4 Rencana Pengelolaan Kebisingan ...
Lampiran 5 Rencana Penanganan Tumpahan ...
Lampiran 6 Rencana Penanganan Debu ...
Lampiran 7 Rencana Pengendalian Limbah B3 ...
Lampiran 8 Rencana Penanganan Keluhan ...
Lampiran 9 Analisis Keselamatan Pekerjaan ...
Lampiran 10 Pemeriksaan dan Pelayanan Kesehatan Kerja ...
Lampiran 11 Rekayasa Lalu Lintas ...
Lampiran 12 Sistem Pertolongan Pertama...
Lampiran 13 Rencana Tanggap Darurat ...
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 1-1
selanjutnya disebut Perusahaan) berkomitmen untuk memaksimalkan manfaat lingkungan dan sosial bagi masyarakat warga kota Makassar, dan meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat khususnya mengenai dampak atas pembangunan Jalan Tol Layang A.P. Pettarani Makassar.
1.1 Komitmen Perusahaan
- Selalu mematuhi peraturan, perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang relevan dengan bisnis organisasi terkait dengan lingkungan dan sosial serta peraturan lainnya sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjalankan tata kelola perusahaan yang baik.
- Melakukan upaya berkelanjutan dalam peningkatan, pengelolaan sistem manajemen lingkungan dan sosial yang berkesinambungan.
- Melakukan perlindungan dan pencegahan pencemaran lingkungan dari aktivitas bisnis perusahaan sesuai dengan ketetapan pemerintah dan persyaratan lainnya.
- Mengidentifikasi kemungkinan dampak lingkungan dan sosial yang mungkin terjadi selama prakonstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi serta proses mitigasinya meskipun tindakan perbaikan yang transaparan dapat diterima oleh investor strategis yang relevan.
- Menghindari atau meminimalkan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan dengan mencegah atau meminimalkan polusi dari kegiatan proyek atau mengurangi penggunaan bahan berbahaya dalam kegiatan proyek.
- Memastikan bahwa pengamanan personil dan harta benda dilakukan sesuai dengan prinsip hak asasi yang terkena dampak, dan prinsip restorasi dan mungkin perbaikan status ekonomi masyarakat yang terkena dampak proyek yang terintegrasi. Ke dalam desain proyek selama tahap konstruksi dan operasional.
- Memastikan komitmen dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan untuk dapat
dipahami dan diterapkan.
BAB 1 Kebijakan Lingkungan Dan Sosial
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 1-2
1.2 Perbaikan Berkelanjutan dari Perusahaan dan Dukungan Pihak Terkait
Komitmen di atas sejalan dengan komitmen Perusahaan untuk memelihara dan terus menerus memperbaiki keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Perusahaan, karyawan, dan pihak ketiga terkait lainnya yang terlibat selama tahap konstruksi
operasi proyek harus mempertimbangkan dan menerapkan kebijakan ini. Manajemen Perusahaan
Bertanggung Jawab atas sosialisasi dan kesesuaian kebijakan ini di semua tingkat organisasi dan
dengan pihak terkait lainnya yang bekerja dalam proyek.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 2-1
Proyek telah diklasifikasikan sebagai kategori A yang didasarkan pada potensi risiko dan/atau dampak lingkungan dan sosial yang signifikan yang beragam, tidak dapat dipulihkan atau belum pernah terjadi sebelumnya. Dampak penting potensial tersebut meliputi:
• Dampak Lingkungan - Peningkatan debu - Peningkatan kebisingan - Penurunan estetika lingkungan - Penurunan kualitas udara - Peningkatan getaran - Penurunan kinerja jalan - Kerusakan bangunan
• Dampak Sosial
- Persepsi negatif dari masyarakat - Gangguan kenyamanan masyarakat - Penurunan pendapatan
- Kecemburuan sosial - Gangguan utilitas - Gangguan lalu lintas - Peluang pekerjaan
• Dampak Kesehatan dan Keselamatan
- Kecelakaan dan penyakit di tempat kerja - Insiden yang menimpa masyarakat
Berdasarkan Praturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha
dan/atau Kegiatan Yang Memiliki Wajib AMDAL, proyek ini wajib memiliki dengan panjang jalan tol
4,3 km. Proyek ini telah menyusun KA-AMDAL, AMDAL (Analisa Dampak Lingkungan) dan RKL-
RPL (Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup). AMDAL proyek ini telah disetujui
melalui Surat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar No.
BAB 2 Identifikasi Aspek Dan Dampak
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 2-2
660.4/001/AMDAL/DPM&PTSP/V/2018 tentang Izin Lingkungan Jalan Tol Layang A.P. Pettarani Kota Makassar yang ditetapkan pada tanggal 9 Mei 2018.
Tingkat dampak lingkungan yang timbul pada Proyek Jalan Tol Layang A.P. Pettarani berbeda- beda dalam setiap tahapan. Dampak lingkungan tersebut berupa debu, kebisingan, gangguan lalu lintas, gangguan utilitas, kualitas udara ambient dan getaran dari kegiatan konstruksi cukup signifikan dibandingkan dengan tahap operasi. Situasi yang sama berlaku untuk terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja di tempat kerja selama konstruksi juga berbeda dari tahap operasi. Pada tahap konstruksi, terhadap risiko yang lebih tinggi dari pekerjaan kritis seperti bekerja pada ketinggian, peralatan angkat, penggalian dll.
Pembuangan limbah dan limbah cair juga akan berdampak signifikan selama tahap konstruksi termasuk risiko terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Sejalan dengan risiko lingkungan dan sosial serta karakterisktik dampak dari kegiatan konstruksi dan operasi Proyek Jalan Tol Layang A.P. Pettarani, Penilaian dan Pengelolaan Risiko dan Dampak Lingkungan dan Sosial (PS1), Pekerja dan kondisi Kerja (PS2), Efisiensi Sumber Daya dan Pencegahan Pencemaran (PS3) dan, Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Masyarakat (PS4) juga berlaku untuk proyek ini.
2.2 Penilaian dan Analisis (Aspek-Dampak) Lingkungan dan Sosial
Metode yang digunakan untuk penilaian dan analisis aspek-dampak dalam proyek ini menggunakan konsekuensi dan kemungkinan sebagai faktor utama. Terdapat empat kriteria untuk menetukan konsekuensi dari aspek dan dampak, yaitu: areal, kerugian finansial, dampak pada pekerjaan dan dampak terhadap masyarakat. Sementara untuk kemungkinan, ada 2 kriteria, yaitu:
frekuensi dan sifat dampaknya yang permanen atau temporer. Penilaian pendahuluan sebelumnya dilakukan ketika Uji Kepantasan Sosial dan Lingkungan menjadi rujukan untuk penilaian dan analisis lingkungan dan sosial.
Tabel 2.1 Konsekuensi Konsekuensi Bencana
5
Utama 4
Medium 3
Minor 2
Low 1 Lingkungan Dampak yang
meluas, tidak terbatas dan membutuhkan pemulihan jangka panjang,
meninggalkan
Dampak yang tidak terbatasi dan membutuhkan pemulihan jangka panjang,
meninggalkan kerusakan
Dampak terbatas dekat sumber dan pemulihan jangka menengah
Dampak terbatas dekat sumber dan reversibel jangka pendek (biasanya satu minggu )
Dampak
terbatas
dekat
sumber dan
reversibel
jangka
pendek
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 2-3
yang besar (biasanya menahun)
menahun) bulan) (biasanya
satu shift)
Sosial Dampak sosial yang signifikan atau parah
Dampak sosial meluas sangat serius
Isu sosial lokal yang terus berlanjut
Dampak sosial jangka pendek terhadap penduduk lokal.
Sebagian besar bisa diperbaiki
Kerusakan tingkat rendah yang dapat diperbaiki pada struktur biasa atau masalah sosial lokal
Tabel 2.2 Kemungkinan
Penilaian Kemungkinan terjadinya dampak
Deskripsi Frekuensi
Sangat Sering 5
Menemukan peristiwa berulang selama waktu operasi
Biasanya terjadi sekali seminggu atau lebih dari sekali sebulan Sering
4
Peristiwa mungkin sering terjadi selama waktu operasi
Biasanya terjadi sekali sebulan Mungkin
3
Peristiwa mungkin terjadi selama waktu operasi
Biasanya terjadi sekali atau dua kali setahun
Jarang 2
Peristiwa mungkin tidak terjadi selama waktu operasi
Biasanya terjadi dalam 1-26 tahun Langka
1
Peristiwa mungkin sangat jarang terjadi selama waktu operasi
Lebih dari 26 tahun
Tabel 2.3 Matriks Risiko
Kemungkinan
Konsekuensi Bencana
5
Utama 4
Medium 3
Minor 2
Rendah 1 Sangat Sering
5
Sedang 5 Sering
4
Sedang 4 Mungkin
3
Sedang 6 Jarang
2
Sedang 6 Langka
1
Sedang 4
Sangat Rendah
1
BAB 2 Identifikasi Aspek Dan Dampak
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 2-4
Kemudian, hasil peniaian dari masing-masing faktor digabungkan untuk dikategorikan menjadi empat kategori: Sangat Rendah (1), Rendah (2-4), Sedang (4-6), Tinggi (5-12), atau Kritis (15-25).
Tabel 2.4 Respon Pengelolaan Risiko
Kelas Risiko Respon Manajemen Risiko
Risiko yang secara signifikan melebihi ambang penerimaan risiko dan perlu disegerakan serta perhatian segera
Risiko yang melebihi ambang penerimaan risiko dan memerlukan pemantauan aktif
Sedang Risiko yang berada dibawah ambang batas penerimaan risiko dan tidak memerlukan pengelolaan aktif
Risiko yang berada dibawah ambang batas penerimaan risiko dan tidak memerlukan pengelolaan aktif
Sangat Rendah
Risiko berada di bawah ambang vatas penerimaan risiko dan tidak memerlukan pengelolaan aktif
Berdasarkan uraian di atas disusun kajian risiko terhadap kegiatan, aspek, dan dampak Proyek Jalan Tol Layang A.P. Pettarani. Kegiatan yang dikaji meliputi tahap prakonstruksi, konstruksi, dan operasi.
Berdasarkan hasil kajian risiko, Perusahaan akan menetapkan program manajemen yang akan menjelaskan mitigasi dan tindakan peningkatan kinerja untuk menangani risiko dan dampak lingkungan sosial proyek yang teridentifikasi. Program pengelolaan ini harus konsisten dengan keijakan dan tujuan sistem Manajemen K3L yang diterapkan oleh Perusahaan. Program dapat diterapkan secara luas di seluruh organisasi proyek, termasuk kontraktor dan konsultan dimana perusahaan memiliki kendali atau pengaruh, atau terhadap lokasi, fasilitas, atau kegiatan tertentu.
Bila risiko dan dampak yang diidentifikasi tidak dapat dihindari, perusahaan harus mengidentifikasi
mitigasi dan langkah-langkah kinerja serta menetapkan tindakan yang sesuai untuk memastikan
proyek beroperasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan memenuhi
persyaratan Standar Kinerja (PS) 1 sampai 4. Penjelasan lebih lanjut mengenal mengenai tindakan
untuk mengatasi isu yang diangkat dari proses identifikasi risiko dan dampak dijelaskan lebih lanjut
pada Bab 3 Program Manajemen.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 3-1
mendeskripsikan tentang mitigasi dan pengukuran kinerja yang mencakup identifikasi aspek dan dampak lingkungan dan sosial. Program pengelolaan harus konsisten dengan kebijakan dan tujuan dari sistem manajemen K3L perusahaan. Program diterapkan oleh seluruh organisasi proyek termasuk kontraktor, konsultan, subkontraktor, penyedia barang dan jasa di bawah kendali dan pengaruh perusahaan dan tidak terbatas juga untuk fasilitas unit produksi dan kegiatannya.
Program pengelolaan akan menentukan hasil yang diinginkan dan tindakan-tindakan untuk mengelola isu-isu lingkungan dan sosial yang muncul, mengukur kinerja dangan menetapkan indikator kinerja, target dan kriteria kepatuhan yang akan dipantau pada waktu yang telah ditentukan dan dengan personil dan tanggung jawab untuk melaksanakannya di lapangan.
Adapun topik program-program pengelolaan yang akan disusun dijelaskan dalam daftar dibawah ini dan program-program tersebut telah disusun sebagai lampiran yang merupakan satu kesatuan dengan dokumen ESMS ini.
A. Lingkungan
1) Rencana Pengelolaan Limbah Non-B3 2) Rencana Pengelolaan Kualitas Udara 3) Rencana Pengelolaan Kebisingan 4) Rencana Penanganan Tumpahan 5) Rencana Penanganan Debu 6) Rencana Pengendalian Limbah B3 B. Sosial
1) Rencana Penanganan Keluhan
2) Rencana Pengelolaan Keterlibatan Pemangku Kepentingan C. Kesehatan dan Keselamatan
1) Analisis Keselamatan Pekerjaan (JSA)
2) Pemeriksaan dan Pelayanan Kesehatan Kerja
3) Rekayasa Lalu Lintas
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 4-1
BAB 4. KAPASITAS DAN KOMPETENSI ORGANISASI
Untuk fase Konstruksi dan Operasi Perusahaan telah membangun sebuah bagan Organisasi yang mencakup koordinasi kerja, komunikasi, pelaporan antara masing-masing tanggung jawab fungsi untuk aspek-aspek lingkungan dan sosial. Organisasi ini terdiri dari personil dari perusahaan, para ahli dan kontraktor EPC terpilih. Dalam hal pelaksanaan dari Environmental and Social Management System (ESMS), Direktur Utama memiliki peran sebagai perwakilan utama perusahaan, bertanggung jawab untuk menyetujui kebijakan lingkungan dan sosial dan pelaksanaan ESMS. Pelaksanaannya akan di kelola oleh Manajer Proyek dan kegiatan harian HSE akan di supervisi oleh HSE koordinator. Semua pekerja dalam semua level organisasi, termasuk pihak ketiga, bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan dan program-program ESMS serta memenuhi persyaratan yang ada di ESMS. Manajemen akan memastikan bahwa peran dan tanggung jawab terdefinisi dengan jelas di setiap struktur organisasi. Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 berikut menggambarkan struktur organisasi dalam ESMS.
Gambar 4.1 Struktur Organisasi bagi Pelaksanaan ESMS pada tahap Konstruksi
Struktur Organisasi (Konstruksi)
PT Makassar Metro Network
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 4-2
Gambar 4.2 Struktur Organisasi bagi Pelaksanaan ESMS pada tahap Operasi
Tabel 4.1 Peran dan Tanggung Jawab Personil untuk melaksanakan ESMS
Peran Tanggung Jawab
Direktur Utama
Bertanggung jawab atas semua masalah lingkungan dan sosial dan kepedulian masyarakat. Memastikan ESMS dikembangkan dan dipelihara. Menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk implementasi ESMS dan tujuan HSE untuk mematuhi peraturan perundang-undangan, peraturan, dan perusahaan serta unit bisnis.
Manajer Proyek
Bertanggung jawab untuk memantau kinerja proyek terhadap persyaratan undang-undang dan sasaran lingkungan yang disepakati;
Bertanggung jawab atas arahan tim dan memastikan bahwa program konstruksinya dilaksanakan sesuai dengan semua persyaratan
Struktur Organisasi (Operasional)
PT Makassar Metro Network
BAB 4 Kapasitas Dan Kompetensi Organisasi
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 4-3
Peran Tanggung Jawab
desain dan spesifikasi teknis; Sesuai dengan standar kinerja dan standar peraturan pemerintah Indonesia; Update dan pemeliharaan proyek ESMP; Evaluasi kepatuhan lingkungan dari semua kontraktor (dan subkontraktor) yang mengerjakan proyek; Melakukan audit jadwal kegiatan kontraktor.
Mengelola semua aspek proyek termasuk lingkungan dan sosial dan kepedulian masyarakat. Pastikan ESMS dikembangkan dan dipelihara dan melapor kepada Direktur Utama tențang implementasi ESMS. Mendukung implementasi ESMS dan bertujuan agar K3L dan kebijakan Sosial mematuhi undang-undang. peraturan, dan komitmen Perusahaan dan unit bisnis.
Health, Safety and Environmental
Coordinator
Ditunjuk untuk bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mendukung terkait aspek kesehatan dan keselamatan; Untuk berhubungan dengan pemangku kepentingan terkait; Serta merencanakan, mengarahkan, mengelola, mengkoordinasikan, memantau, dan melaporkan kinerja kesehatan dan keselamatan Proyek secara reguler (harian, mingguan dan bulanan) dan mengambil tindakan untuk menangani masalah kinerja sesuai kebutuhan.
Berkoordinasi terkait dengan aspek lingkungan; Memantau kegiatan konstruksi yang berkaitan dengan aspek lingkungan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar Kinerja dan standar peraturan Pemerintah Indonesia; Bertindak sebagai titik kontak utama antara kontraktor dan tim proyek Klien (Konsorsium) untuk masalah lingkungan; Kumpulkan catatan lingkungan harian mingguan.
Anggota (Semua Karyawan)
Memastikan bahwa sistem manajemen lingkungan dan sosial yang relevan dipertimbangkan dan diterapkan dengan baik dalam semua aktivitas kerja yang dilakukan oleh masing-masing karyawan; Serta mendukung Perusahaan dalam peningkatan kinerja lingkungan dan sosial
Untuk memastikan bahwa semua fungsi pada Tabel 4-1 dapat menerapkan ESMS secara efektif,
diperlukan beberapa tingkat kompetensi minimum. Tabel 4-2 menyajikan matriks kompetensi untuk
fungsi-fungsi tersebut. Pelatihan yang relevan untuk fungsi tersebut akan dilakukan sebelum tahap
konstruksi dimulai. Pelatihan tersebut ditentukan dengan mengidentifikasi kebutuhan petatihan
untuk masing-masing fungsi dengan mengacu pada matriks kompetensi Tabel 4-2 sebagai berikut.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 4-4
Tabel 4.2 Matriks Kompetensi ESMS
Roles/Position
ES M A w ar eness Le ga l Complia nc e ES M S Aspe cts and Ris ks ES M S Audit Em er gen cy Resp on se En vir on m en tal M an ag em en t P lan Pr oce du re So cia l M an ag em en t Plan P ro ce du re
Direktur Utama X X X
Manajer Proyek X X X X X X X
Health, Safety and
Environmental Coordinator
X X X X X X X
Semua Karyawan X X X
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 5-1
BAB 5. KEADAAN TANGGAP DARURAT
Bagian Ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan dan menanggapi keadaan darurat yang dapat menyebabkan ancaman bagi lingkungan atau kesehatan dan keselamatan kerja serta kesejahteraan sosial masyarakat. Manajer Proyek bersama dengan HSE Koordinator akan memberikan panduan kepada setiap karyawan, juga kontraktor (serta subkontraktor) dan konsultan untuk mengidentifikasi keadaan yang tergolong darurat. Setiap pihak harus menunjukan kesiapan, pencegahan, dan respons terhadap keadaan darurat tersebut.
Prosedur kesiagaan dan tanggap darurat bertujuan untuk mengelola risiko dan dampak yang dapat membahayakan lingkungan, personil atau masyarakat. Prosedur ini perlu memperhatikan peraturan daerah yang berlaku mengenal Rencana Tanggap Darurat (RTDI), jika ada. Selain itu, prosedur harus dipersiapkan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, respon kebakaran dan kejadian yang mengancam keselamatan jiwa.
Secara rutin (setiap tiga bulan sekali) Perusahaan melakukan uji coba tanggap darurat dengan skenario kejadian yang bervariasi sesuai dengan potensi kejadian darurat yang tercantum dalam prosedur terkait Dengan uji coba tanggap darurat secara rutin, diharapkan karyawan Perusahaan, konsultan dan kontraktor serta subkontraktor menjadi lebih terampil dalam melakukan tanggap darurat dan mengenali secara lebih baik peralatan tanggap darurat serta penggunaannya. Jika memungkinkan, uji coba akan melibatkan semua pihak yang disebutkan dalam prosedur termasuk perwakilan dari pihak eksternal.
Pemberian pelatihan tanggap darurat akan dilakukan oleh personil terlatih dalam melaksanakan prosedur tangap darurat.
Secara umum tim tanggap darurat disusun dengan struktur sebagaimana tertera pada Gambar 5.1
ini dengan memperhatikan peran dan tanggung- jawab yang tercantum pada Tabel 5.1
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 5-2
Gambar 5.1 Tim Tanggap Darurat
Tabel 5.1 Peran dan Tanggung Jawab Tim Tanggap Darurat
Peran Wewenang dan Tanggung Jawab
Ketua Tim : 1. Menentukan dan memutuskan Kebijakan Tanggap Darurat Perusahaan
2. Mengajukan anggaran dana yang berkaitan dengan sarana dan prasarana tanggap darurat Perusahaan.
3. Mengundang partisipasi seluruh karyawan untuk melangsungkan latihan tanggap darurat di lingkungan Perusahaan.
4. Menjadwalkan pertemuan rutin maupun non-rutin Tim Tanggap Darurat.
5. Menyusun rencana pemulihan keadaan darurat Perusahaan.
Koordinator : 1. Membuat laporan kinerja Tim Tanggap Darurat.
2. Melakukan pemantauan kebutuhan dan perawatan sarana dan prasarana tanggap darurat Perusahaan.
3. Melaksanakan kerja sama dengan pihak terkait yang berkaitan dengan tanggap darurat Perusahaan.
4. Membantu tugas-tugas Ketua Tim apabila Ketua berhalangan.
Anggota (Semua Karyawan)
: Melaksanakan tindakan yang diperlukan selama berlangsungnya
tanggap darurat Perusahaan.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-1
BAB 6. TATA KELOLA PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DAN MEKANISME PENANGANAN KELUHAN
6.1 Rencana Pengelolaan 6.1.1 Maksud
Sebagai antisipasi dari perusahaan agar setiap permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani dan tidak berdampak merugikan perusahaan.
6.1.2 Tujuan
• Menjalin komunikasi dengan masyarakat dan pihak lainnya terkait kegiatan proyek
• Menampung setiap aspirasi dan keluhan masyarakat terkait dampak kegiatan proyek sehingga tidak berkembang menjadi isu-isu yang menyebabkan risiko reputasional dan menimbulkan keresahan masyarakat; dan
• Menangani dan menyelesaikan keluhan masyarakat terkait dampak kegiatan proyek.
6.2 Struktur Organisasi
Gambar 6.1 Kerangka Organisasi Perusahaan untuk Tata Kelola Pemangku Kepentingan dan Penanganan Keluhan
Sejalan dengan struktur organisasi tersebut, Tabel 6-1 berikut merangkum kerangka berbagai peran dan tanggung jawab dari masing-masing unit atau fungsi kerja terkait. Tabel ini menjabarkan
Direktur Utama
Manajer Proyek Manajer Teknik Manajer
Operasional Manajer
Keuangan Marcomm
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-2
peran dan tanggung jawab unit kerja kunci yang dibutuhkan dalam pengelolaan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial, dan dengan mempertimbangkan rencana pengembangan organisasi yang sudah ada, serta sejalan dengan tujuan perusahaan
Tabel 6.1 Kerangka Peran dan Tanggung Jawab Unit Kerja Terkait Tata Kelola Pelibatan Pemangku Kepentingan dan Penanganan Keluhan
Direktur Utama
• Menentukan keputusan yang diambil untuk kepentingan perusahaan Manajer Proyek
• Manajemen risiko pada divisi proyek jalan tol
• Implementasi strategi pelibatan pemangku kepentingan Manajer Teknik
• Manajemen risiko pada divisi teknik jalan tol
• Implementasi strategi pelibatan pemangku kepentingan Manajer Operasional
• Manajemen risiko pada divisi operasional jalan tol
• Implementasi strategi pelibatan pemangku kepentingan Manajer Keuangan
• Manajemen risiko pada divisi keuangan jalan tol
• Implementasi strategi pelibatan pemangku kepentingan Marcomm
• Tata kelola penanganan keluhan masyarakat dan lainnya
• Menyusun strategi komunikasi dengan para stakeholder
Struktur organisasi beserta dengan kerangka peran dan tanggung jawab masing-masing unit atau fungsi kerja di atas efektif untuk diimplementasikan sejak tahap konstruksi sampai dengan tahap operasional jalan tol.
6.3 Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan
Proses pemantauan dan evaluasi merupakan bagian penting dari tata kelola organisasi untuk
pengelolaan pemangku kepentingan dan penanganan keluhan, dengan tujuan sebagai berikut:
BAB 6 Tata Kelola Pelibatan Pemangku Kepentingan Dan Mekanisme Penanganan Keluhan
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-3
1) Proses pemantauan dan evaluasi penting untuk menjaga keberlanjutan tata kelola organisasi, dan memastikan tercapainya tujuan dari pengelolaan pemangku kepentingan dan manajemen risiko yang diusulkan dalam dokumen ini;
2) Melalui proses ini, Perusahaan dapat mengkaji sejauh mana tingkat efektiftasnya maupun kegagalan strategi yang diusulkan sebagai hasil dari studi pemangku kepentingan dan analisa risiko sosial yang telah dilakukan, dan,
3) Selain itu, melalui proses pemantauan dan evaluasi, kebutuhan untuk pembaruan strategi ataupun tata kelola organisasi dapat teridentifikasi.
Kegiatan pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala disesuaikan dengan tahapan pengembangan proyek, dan dengan mempertimbangkan kondisi berikut:
1) Tahap konstruksi merupakan tahap yang krusial dan dinamis sehingga pelaksanaan pemantauan dan evaluasi harus dilakukan secara intens. Oleh karena itu pelaksanaan evaluasi sebaiknya dilakukan setiap 1 bulan sekali secara internal dan 6 bulan sekali oleh pihak eksternal.
2) Dalam pengembangan proyek hingga ke tahap operasi, berpotensi memunculkan isu baru yang dapat menyebabkan perubahan signifikansi risiko sosial terhadap keberlangsungan hidup proyek, sehingga pembaruan strategi manajemen risiko dibutuhkan. Pada tahap operasi pelaksanan evaluasi dilakukan 6 bulan sekali secara internal dan setahun sekal oleh pihak eksternal.
3) Jika terjadi suatu perubahan signifikan pada perencanaan proyek maka akan berpotensi untuk memunculkan isu dan risiko baru terhadap proyek; dan
4) Dinamika perkembangan kondsi dan situasi sosial, ekonomi, dan politik dalam lingkup lokal, regional, nasional, bahkan internasional dapat menimbulkan perubahan pada peta kepentingan dan kekuatan pemangku kepentingan terkait dengan potensi risiko, sehingga pembaruan strategi untuk pelibatan pemangku kepentingan menjadi diperlukan.
6.4 Kapasitas Organisasi Dalam Pengelolaan Pemangku Kepentingan dan Risiko Sosial
Peningkatan kapasitas organisasi dalam tata kelola pelibatan pemangku kepentingan dan
penanganan keluhan dilakukan melalui program pelatihan dan penguatan pengetahuan dan
keterampilan sumberdaya manusia (SDM) di dalam setiap unit kerja terkait. Hal Ini dilakukan
dengan memastikan seluruh SDM yang diberikan peran dan tanggung jawab untuk
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-4
mangimplementasikan strategi tata kelola pelibatan pemangku kepentingan dan manajemen risiko memilki kompetensi yang memadai. Dalam hal ini, setiap SDM yang terkait dengan tugas pengelolaan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial perlu mendapatkan pelatihan secara berkala sesual kebutuhan.
Program pelatihan yang dimaksud terkait dengan kebutuhan Perusahaan dan sejalan dengan tujuan dari pengelolaan pelibatan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial. Berikut kerangka utama program pelatihan untuk menjawab kebutuhan dan memenuhi tujuan tersebut:
1) Strategi pelibatan pemangku kepentingan memberikan peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam merancang dan mengimplementasikan strategi pelibatan pemangku kepentingan. Proses perancangan strategi mulai dari identifikasi isu yang berpotensi berisiko signifkan terhadap Perusahaan dan pemangku kepentingan kunci yang terkait dengan isu tersebut, sampai dengan penentuan strategi pelibatan berdasarkan prioritas kepentingan dan kekuatan pemangku kepentingan terkait;
2) Strategi komunikasi dan partisipasi publik; memberikan peningkatan keterampilan dalam merancang dan mengimplementasikan kegiatan untuk membangun partisipasi komunitas melalui strategi komunikasi dua arah;
3) Pemetaan sosial melalui metode partisipatif, pelatihan ini merupakan tahapan penting dalam identifikasi dan pemutakhiran isu yang berpotensi risiko signifikan bagi Perusahaan, serta kepentingan dan kekuatan pemangku kepentingan yang terlibat dalam isu tersebut;
4) Manajemen konflik; memberikan peningkatan kapasitas dalam mengelola potensi konflik untuk meminimalisasi risiko bagi Perusahaan;
5) Manajemen program; mencakup perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan monitoring evaluasi program;
6) Manajemen data pemangku kepentingan berbasis teknolog sebagai bagian dari tata kelola data dan dokumentasi dari perencanaan dan implementasi strategi pelibatan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial
7) Pengenalan dan pemahaman aspek sosial dan pemangku kepentingan dalam IFC Performance Standards (PS), ISO 26000, dan Global Reporting Initiative (GRI), serta aplikasi dalam tata kelola pelibatan pemangku kepentingan.
Rencana kerja tindak lanjut perlu disusun untuk teknis pelaksanaan kegiatan pelatihan di atas,
disertai metode pelatihan, kurikulum, dan indikator keberhasilan pelatihan. Kerangka kebutuhan
BAB 6 Tata Kelola Pelibatan Pemangku Kepentingan Dan Mekanisme Penanganan Keluhan
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-5
peningkatan kapasitas organisasi yang dijabarkan di sini bersifat dinamis. Untuk itu perlu terus dikaji dan diperbarui, apabila dibutuhkan, sejalan dengan proses monitoring dan evaluasi sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
6.5 Pendanaan
Untuk terlaksananya tata kelola pelibatan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial, alokasi sumber daya keuangan yang memadai adalah bagian penting dari tercapainya keefektifan strategi yang direncanakan. Sumber daya keuangan perlu dialokasikan secara memadai, sesuai dengan rencana tindak lanjut yang akan disusun berdasarkan kerangka kerja dalam dokumen ini.
Beberapa komponen utama dalam pengalokasian sumberdaya keuangan adalah sebagal berikut:
1) Proses perancangan strategi dan penyusunan rencana kerja tindak lanjut tata kelola pelibatan pemangku kepentingan dan manajemen risiko sosial
2) Implementasi strategi yang diusulkan, antara lain konsultasi pemangku kepentingan maupun pertemuan
3) Biaya teknis operasional, SDM, dan administrasi pengorganisasian berbagai unit kerja terkait,
4) Proses monitoring, evaluasi, dan pelaporan; dan
5) Manajemen data pemangku kepentingan berbasis teknologi.
Penyusunan anggaran diakukan setiap tahun seiring dengan pelaksanaan monitoring evaluasi, dan pelaporan.
6.6 Mekanisme Penanganan Keluhan
Perusahaan harus menjalankan mekanisme penanganan keluhan untuk menanggapi masalah atau keluhan yang dajukan oleh individu atau kelompok dalam masyarakat yang terkena dampak operasi Perusahaan. dengan menyediakan standar proses dan langkah-langkah yang efektif dalam menangani keluhan/protes dari para pemangku kepentingan eksternal.
Penanganan keluhan diharapkan akan dapat membantu Proyek dalam membangun dan
memelihara hubungan yang konstruktif dengan masyarakat di sekitar proyek melalui keterlibatan
yang efektif; yaitu menanggapi keluhan masyarakat dengan cara yang adil dan tepat waktu.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 6-6
Mekanisme penanganan keluhan masyarakat adalah suatu proses atau prosedur yang sitematis dalam menerima, menyelidiki dan menanggapi keprihatinan dan keluhan yang terkait dengan kegiatan konstruksi proyek.
Mekanisme Ini, jika secara hati-hati direncanakan dengan baik, diimplementasikan dengan cara yang seharusnya dan didokumentasikan (dengan dukungan manajemen senior dan sumber daya yang tepat) akan memberikan keuntungan bersama yang signifikan bagi proyek dan masyarakat.
Pelaksanaan yang tepat dan efektif juga akan memberikan hasil yang cepat dan efisien dalam memproses penyelesaian sengketa antara proyek dengan semua pihak pemangku kepentingan terkait.
Mekanisme penanganan keluhan ini harus mengacu pada kondisi lokal dan diformulasikan untuk
menerima, menilai, dan menyelesaikan keluhan dari masyarakat maupun dan pemangku
kepentingan eksternal lain. Saluran mekanisme yang sama dapat juga digunakan untuk menerima
umpan balik, permintaan informasi, dan saran, serta untuk mengatasi keluhan terhadap kontraktor
dan subkontraktor. Ketika muncul keluhan yang lebih kompleks dalam proses penyelesainnya pihak
proyek dapat melibatkan pihak ketiga, seperti forum lokal dan forum multi pemangku kepentingan,
badan mediasi nasional dan internasional, mediator independen dan fasilitator dengan keahlian
khusus.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 7-1
BAB 7. PELAPORAN TERKINI KEPADA MASYARAKAT YANG TERKENA DAMPAK
Pelaporan lingkungan dan sosial diperlukan, terutama pada tahap konstruksi dan pasca konstruksi (operasional dan pemeliharaan). Kegiatan ini sangat penting untuk memverifikasi apakah ada kendala atau masalah teknis dari Proyek Jalan Tol Layang A.P. Pettarani, perubahan kualitas lingkungan dan masalah sosial setelah jalan tol dioperasikan. Mekanisme pelaporan aspek lingkungan dan sosial mengikuti tabel di bawah ini.
Tabel 7.1 Pelaporan
No Jenis Laporan Periode Tujuan Ditujukan Disusun oleh 1 Pelaksanaan
ESMP 1 bulan Kepatuhan
terhadap tujuan ESMS
Direktur Utama, Manajer
HSE
2 Pelaksanaan
RKL RPL 6 bulan Kepatuhan
terhadap tujuan peraturan pemerintah
Pemerintah
terkait Direktur Utama, Manajer dan HSE
3 Laporan HSE
Konstruksi Mingguan
Bulanan Kepatuhan terhadap tujuan ESMS
Direktur Utama, Manajer
HSE
4 Report terkait Stakeholder Engagement Plan
Quarterly
Basis Kepatuhan terahdap tujuan ESMS
Direktur Utama Manajer dan HSE
5 Laporan
Kecelakaan Kerja 3x24 hours Kepatuhan terhadap tujuan ESMS
Direktur Utama, Manajer
HSE
6 Laporan Investigasi Kecelakaan
Mengikuti Laporan Kecelakaan
Kepatuhan terhadap tujuan ESMS
Direktur Utama, Manajer
HSE
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 8-1
periodik. Selain mencatat informasi untuk memantau kinerja dan menetapkan kontrol operasional yang relevan, Perusahaan juga akan menggunakan inspeksi internal dan audit (lihat Tabel 8-1), jika relevan, untuk memverifikasi kepatuhan dan kemajuan terhadap hasil yang diinginkan. Audit k3ll akan dilakukan setiap enam bulan dan inspeksi akan dilakukan setiap bulan.
Rincian lebih lanjut tentang audit internal dan inspeksi akan ditentukan dalam prosedur pemantauan yang terdapat dalam setiap dokumen program pengelolaan. Pemantauan biasanya mencakup rekaman untuk melacak kinerja dan membandingkannya dengan tolok ukur atau persyaratan yang telah ditetapkan dalam program manajemen. Perusahaan akan mendokumentasikan hasil pemantauan, mengidentifikasi serta merefleksikannya dalam tindakan perbaikan dan pencegahan yang diperlukan dalam program pengelolaan.
Review kinerja aspek-aspek lingkungan dan sosial dilaporkan secara internal dan periodik kepada Direktur Utama atau secara ekstemal ke dinas pemerintahan terkait sesuai persyaratan dari peraturan yang ada. Berdasarkan hasil dari review kinerja, Direktur Utama selanjutnya akan memberikan arahan yang dibutuhkan ke Manajer dan HSE untuk mengambil tindakan yang tepat dan menjamin bahwa tujuan dari Perusahaan dapat terpenuhi.
Setidaknya satu kali per tahun, tim manajemen akan mengevaluasi kesesuaian, kecukupan, dan keefektifan ESMS dalam suatu pertemuan tinjauan manajemen dan akan membahas termasuk hal- hal sebagai berikut:
1. Meninjau informasi ESMS yang disajikan oleh HSE untuk tinjauan manajemen dan evaluasi keefektifan sistem dalam menerapkan kebijakan lingkungan dan sosial
2. Meninjau temuan dari audit ESMS dan penilalan berkala lainnya.
3. Membahas penyelesaian isu kinerja ESMS.
4. Merekomendasikan atau menyetujui, jika dianggap perlu, revisi yang sesuai atau tindakan perbaikan untuk mendukung perbaikan berkelanjutan dan kesesuaian, kecukupan dan efektivitas ESMS.
5. Mengevaluasi, merencanakan dan / atau menyetujui sumber daya keuangan, teknis, personil dan sumber daya lainnya yang diperlukan untuk menerapkan ESMS secara efektif.
6. Membahas dan memutuskan proses komunikasi eksternal mengenai aspek lingkungan yang
signifikan.
SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (Environmental and Social Management System/ESMS)
Halaman 9-1
BAB 9. LAIN LAIN
Apabila dikemudian hari ditemukan kesalahan dan / atau sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi
lapangan akan dilakukan revisi.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
PENILAIAN DAN ANALISIS
LINGKUNGAN DAN SOSIAL
c. Terjadi tumpahan oli dan solar - Melakukan pemerikasaan kondisi alat A 1 A H N - Melakukan pemerikasaan kondisi alat - Pembatasan Usia Alat
A A
1 2
C D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Peralatan Pengadaan
d. Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengaturan lalu lintas E 3 C H N - Penggunaan safety Cone dan perambuan E 1 D L Y 0-11-1 SHE
e. Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
II. PEKERJAAN DIREKSI KEET
1 Mobilisasai / Demobilisasi Alat a. Tertusuk, tergores material - Dilakukan pengecakan area sebelum dilakukan pekerjaan El 2 B H N - Melakukan handling material dengan aman - Menggunakan APD
El P
2 2
D D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Pelaksana SHE b. Truk mengalami kecelakaan lalu lintas - Dilakukan pengecekan truk sebelum beroperasi A 2 B H N - Mematuhi rambu lalu lintas
- Menggunakan safety belt
A P
2 2
D D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Driver Driver c. Terjadi tumpahan oli dan solar - Melakukan pemerikasaan kondisi alat A 1 A H N - Melakukan pemerikasaan kondisi alat
- Pembatasan Usia Alat
A A
1 2
C D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Peralatan Pengadaan
d. Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengaturan lalu lintas E 3 C H N - Penggunaan safety Cone dan perambuan E 1 D L Y 0-11-1 SHE
e. Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
2 Pembersihan Lahan a. Bagian tubuh terluka karena proses pembersihan menggunakan alat kerja
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
b. Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L
Y Y
0-11-1
SHE SHE 0-11-1
c. Paparan asap dan debu - Penyiraman tanah dengan air E 2 A H N - Penggunaan masker/buff P 1 C L Y 0-11-1 Pelaksana
3 Mobilisasi Material a. Pekerjan tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Memasang warning sign A 4 C E N - Membuat jalur khusus mobilisasi kendaraan El 1 C L Y 0-11-1 Pelaksana
b. Bagian tubuh terluka karena proses pembersihan menggunakan alat kerja
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
c. Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 0-11-1
SHE Pelaksana 4 Pembangunan Direksi Keet a. Bagian tubuh terluka karena proses
pembangunan menggunakan alat kerja
- Melakukan TBM kepada pekerja A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
b. Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 0-11-1
SHE Pelaksana c. Pekerja jatuh dari ketinggian - Menginstal sistem penahan jatuh
- Memasang rambu peringatan
E A
2 2
A A
H H
N N
- Menggunakan APD Full Body Harness P 1 C L Y 0-11-1 SHE
III SURVEYING & STACKING OUT 1
2
Setting alat survei Pengambilan data survei
a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
bermotor pekerjaan
IV. SOIL INVESTIGATION
1 Mobilisasi Alat a Kecelakaan akibat mobilisasi alat -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1
SHE
a Bagian tubuh terluka - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
2 Setting Alat a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman
pekerjaan E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
3 Pekerjaan bore log a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman
pekerjaan E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1
SHE 4 Pembongkaran alat a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1
SHE
c Tanah Longsor - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Tidak menumpuk tanah ditepi galian E 2 D L Y 0-11-1 Pelaksana
V. PEKERJAAN WIDENING (Pelebaran Jalan)
1 Pembongkaran trotoar a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
d Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
e Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y
2 Pembongkaran drainase lama a Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
d Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y
3 Pemasangan drainase baru a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
4 Perkerasan tanah a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y
d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing
atau manuver alat berat) - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan
- Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan A E 2
2 A A H
H N
N - Pengecekan SIA operator
- Clearing area mobilisasi A
El 1 1 D
C L L Y
Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
5 Pengaspalan a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman
pekerjaan E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing
atau manuver alat berat) - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan
- Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan A E 2
2 A A H
H N
N - Pengecekan SIA operator
- Clearing area mobilisasi A
El 1 1 D
C L L Y
Y
0-11-1 SHE
SHE 0-11-1
e Terpapar Aspal - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Penggunaan pakaian lengan panjang
- Penggunaan APD (helm, rompi, sepatu, & sarung tangan)
P 1 D L Y 0-11-1 SHE
P 1 C L Y 0-11-1 SHE
6 Mobilisasi material a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y
d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing
atau manuver alat berat) - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan
- Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan A E 2
2 A A H
H N
N - Pengecekan SIA operator
- Clearing area mobilisasi A
El 1 1 D
C L L Y
Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
VI. PEKERJAAN PEMBERSIHAN (LAND CLEARING)
1 Pembongkaran separator a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman
pekerjaan E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing
atau manuver alat berat) - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan
- Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan A E 2
2 A A H
H N
N - Pengecekan SIA operator
- Clearing area mobilisasi A
El 1 1 D
C L L Y
Y
0-11-1 SHE
SHE 0-11-1
e Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
f Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
2 Pengaspalan a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan
bermotor - Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman
pekerjaan E 3 B H N - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing
atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 SHE
SHE 0-11-1
e Terpapar Aspal - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Penggunaan pakaian lengan panjang
- Penggunaan APD (helm, rompi, sepatu, & sarung tangan)
P 1 D L Y 0-11-1 SHE
P 1 C L Y 0-11-1 SHE
3 Pembongkaran Median a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
b Pekerja tertabrak / terserempet kendaraan bermotor
- Pemasangan rambu dan barricaade untuk pengaman pekerjaan
E 3 B H N -
Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1 SHE
c Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y SHE
d Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
e Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
f Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
g Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
5 Mobilisasi material a Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
d. Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengaturan lalu lintas E 3 C H N - Penggunaan safety Cone dan perambuan E 1 D L Y 0-11-1 SHE
VII. PEKERJAAN BORE PILE
1 Mobilisasi/ Demobilisasi a Tertusuk, tergores material - Dilakukan pengecakan area sebelum dilakukan pekerjaan El 2 B H N - Melakukan handling material dengan aman - Menggunakan APD
El P
2 2
D D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Pelaksana
SHE b Truk mengalami kecelakaan lalu lintas - Dilakukan pengecekan truk sebelum beroperasi A 2 B H N - Mematuhi rambu lalu lintas
- Menggunakan safety belt
A P
2 2
D D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Driver Driver
c Terjadi tumpahan oli dan solar - Melakukan pemerikasaan kondisi alat A 1 A H N - Melakukan pemerikasaan kondisi alat - Pembatasan Usia Alat
A A
1 2
C D
L L
Y Y
0-11-1 0-11-1
Peralatan Pengadaan
d Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengaturan lalu lintas E 3 C H N - Penggunaan safety Cone dan perambuan E 1 D L Y 0-11-1 SHE
e Kemacetan lalu lintas - Rekayasa lalu lintas E 1 D L Y 0-11-1 SHE
2 Setting alat bore pile a Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-1 SHE
Pelaksana 0-11-1
b Tanah ambles akibat mobilisasi alat - Dilakukan perkerasan tanah E 3 C H N - Pemasangan plat El 2 C L Y 0-11-1 Pelaksana
c Terpotong/ tersayat alat kerja - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Memasang Rambu Peringatan A 1 C L Y SHE
d Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
e Lumpur berceceran - Dilakukan penampungan terhadap lumpur E 3 C H N - Menyediakan fasilitas pembersihan El 1 D L Y 0-11-1 Pelaksana
f Kebisingan dan getaran - Pekerja berada didalam batas aman pekerjaan El 2 A H N - Pekerja menggunakan ear muff/ear plug P 2 C L Y 0-11-1
- Operator menggunakan sepatu safety, ear muff/ear plug P 2 C L Y 0-11-1
3 Pekerjaan tulangan a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area kerja A 1 C L Y SHE
b Kegagalan Pengangkatan - Pemeriksaan lifting gear A 2 A H N - Pengikatan oleh pihak kompeten E
E 2 2
C D
L L Y Y
0-11-1
- Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan 0-11-1 SHE
c Crane ambruk - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Inspeksi Crane secara berkala A 1 D L Y 0-11-1
4 Pengecoran a Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengawalan aktivitas kerja dengan menggunakan flagman A 1 D L Y 0-11-1
b Sisa sia cor mengotori badan jalan - Penyiraman setelah dilakukan pengecoran El 2 B H N - Saat pengecoran dilapisi oleh terpal/plastik
- Talang Truck Mixer dilengkapi dengan penutup El El 2
2 D C L
L Y Y
0-11-1 SHE
SHE 0-11-1
- Pembersihan talang setelah penuangan beton El 2 D L Y 0-11-
1 SHE
VIII. PEKERJAAN PILE CAP
1 Pemasangan sheet pile a Kecelakaan kerja karena alat berat (swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-
1 SHE
Pelaksana 0-11-
1
b Kegagalan Pengangkatan - Pemeriksaan lifting gear A 2 A H N - Pengikatan oleh pihak kompeten E
E 2 2
C D
L L Y Y
0-11- 1 - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan
pekerjaan
0-11-
1 SHE
c Tanah ambles akibat mobilisasi alat - Dilakukan perkerasan tanah E 3 C H N - Pemasangan plat El 2 C L Y 0-11-
1 Pelaksana
d Kecelakaan akibat mobilisasi alat - Pengaturan lalu lintas E 3 C H N - Penggunaan safety Cone dan perambuan E 1 D L Y 0-11-
1 SHE
e Tertimpa material sheetpile - Pemasangan rambu peringatan dan barricade area kerja E 4 C E N - Pengawasan area kerja agar tidak terdapat orang
berlalu lalang saat aktivitas pemancangan El 2 C L Y 0-11-
1
f Kebisingan dan getaran - Pekerja berada didalam batas aman pekerjaan El 2 A H N - Pekerja menggunakan ear muff/ear plug P 2 C L Y 0-11- - Operator menggunakan sepatu safety, ear muff/ear plug P 2 C L Y 0-11-1 1
g Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Masker) P 1 D L Y 0-11- SHE
1 2 Penggalian tanah a Kecelakaan kerja karena alat berat
(swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-
1 SHE
Pelaksana 0-11-
b Longsor - Pemilihan metode penggalian E 2 A H N - Pemasangan proteksi tambahan (retaining wall,sandbag) E 2 C L Y 1 Pelaksana
c Terperosok kedalam galian - Pemasangan sign dan barricade pada area galian A 4 C E N - Penambahan penerangan pada area galian
- Sosialisasi saat Safety Induction E A 2
1 C D L
L Y
Y Peralatan
SHE 3 Pengecoran LC a Kecelakaan kerja karena alat berat
(swing atau manuver alat berat)
- TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan
A E
2 2
A A
H H
N N
- Pengecekan SIA operator - Clearing area mobilisasi
A El
1 1
D C
L L Y Y
0-11-
1 SHE
Pelaksana 0-11-
1
- Inspeksi Alat Rutin A 1 C L Y
b Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area
kerja A 1 C L Y SHE
4 Pemasangan Bekisting a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area
kerja A 1 C L Y SHE
b Terjatuh ke galian - Pembuatan akses platform dan tangga yang aman E 1 C L Y
c Kegagalan Pengangkatan - Pemeriksaan lifting gear A 2 A H N - Pengikatan oleh pihak kompeten E
E 2 2
C D
L L Y Y
0-11- 1 - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan
pekerjaan
0-11-
1 SHE
d Crane ambruk - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Inspeksi Crane secara berkala A 1 D L Y 0-11-
1
e Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Masker) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
5 Pemasangan tulangan a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area
kerja A 1 C L Y SHE
b Tertimbun longsor - Tidak menempatkan material di tepi galian El 3 B H N - Pemasangan rambu/ barricade pada sisi tepi galian A 1 C L Y
c Terjatuh ke galian - Pembuatan akses platform dan tangga yang aman E 1 C L Y
d Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Masker) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
e Banjir - Melakukan dewatering pada area galian dan membuat
saluran pembuangan
El 1 D L Y
6 Pengecoran a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area
kerja A 1 C L Y SHE
b Tertimbun material cor - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Pastikan koordinasi saat dilakukan pengecoran A 1 D L Y c Kebisingan atau getaran akibat
penggunaan vibrator - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Penggunaan APD Pendangaran dan sarung tangan P 1 D L Y 7 Dismantling Bekisting a Terjepit, terbentur,tertimpa - TBM sebelum melaksanakan aktivitas pekerjaan A 2 A H N - Menggunakan APD (Helm, Rompi, Sepatu) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
- Memasang Rambu Peringatan dan barricade pada area
kerja A 1 C L Y SHE
b Terjatuh ke galian - Pembuatan akses platform dan tangga yang aman E 1 C L Y
c Kegagalan Pengangkatan - Pemeriksaan lifting gear A 2 A H N - Pengikatan oleh pihak kompeten E
E 2 2
C D
L L Y Y
0-11- 1 - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan
pekerjaan
0-11-
1 SHE
d Crane ambruk - Pemasangan Barricade sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Inspeksi Crane secara berkala A 1 D L Y 0-11-
1
e Paparan debu - Penyiraman sebelum dilakukan pekerjaan E 3 C H N - Menggunakan APD (Masker) P 1 D L Y 0-11-
1 SHE
IX. PEKERJAAN KOLOM
1 Mobilisasi/ Demobilisasi a Tertusuk, tergores material - Dilakukan pengecakan area sebelum dilakukan pekerjaan El 2 B H N - Melakukan handling material dengan aman - Menggunakan APD
El P
2 2
D D
L L
Y Y
0-11- 1 0-11- 1
Pelaksana SHE b Truk mengalami kecelakaan lalu lintas - Dilakukan pengecekan truk sebelum beroperasi A 2 B H N - Mematuhi rambu lalu lintas A 2 D L Y 0-11- Driver