• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

18 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

2.1. Penelitian Terdahulu

Sebelum melakukan penelitian, penulis melakukan literatur review terlebih dahulu. Hal ini digunakan untuk, sebagai gambaran penulis dan juga menghindari kesamaan fokus kajian yang berulang-ulang. Menurut pengamatan sudah ada beberapa penelitian pada sebuah buku, jurnal, skripsi maupun artikel yang telah meneliti tentang tradisi adat ritual Keboan suku Osing Banyuwangi. Berikut adalah beberapa tulisan yang memiliki kesamaan tema yaitu:

Penelitian Pertama yang dijadikan sebagai rujukan berjudul Konstruksi Sosial Upacara adat Karo Suku Tengger Di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan (Ratih & Juwariyah, 2020). Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data observasi, dengan melihat fenomena yangberhubungan langsung maupun tidak langsung dengan subjek dan objekpenelitian; wawancara dengan pelaku; dan studi kepustakaan dan dokumen berupa foto.Penelitian ini menghasilkan bahwa upacara adat memilikiperanan penting dalam menjaga dan membentuk sebuah hubungan sosial.Upacara adat Karo yang dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat suku Tengger yang percaya dengan leluhur, menjadikan masyarakat yang penuhtoleransi, dan mentaati nilai-nilai.

Penelitian kedua dari (Noviandri & Salam, 2017) dengan judul Konstruksi Sosial Tradisi Manggiliang Ghompah Pada Acara Perkawinan Di Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuatan Singingi Provinsi Riau. Tujuan dari penelitian ini difokuskan pada penglihatan, semangat sekaligus makna yang lebih dalam terhadap tradisi Manggiliang ghompah dalam perspektif konstruksi sosial. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan mendalam wawancara dengan 8 orang yang ditentukan dalam Informan purposive sampling disertai bidang dokumentasi. Untuk menegaskan keabsahan data penelitian dilakukan melalui perluasan partisipasi dan triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan proses eksternalisasi masyarakat melihat perkembangan kasus tradisi manggiliang Cerenti ghompah yang tidak lagi menggolongkan masyarakat ke masa depan kemudian sebagai suku matrilineal, maka tradisi Manggiliang ghompah yang objektifikasi adalah terkena budaya baru yaitu katering, kemudian beralih alat dan hiburan yang digunakan pada tradisi ghompah manggiliang telah berubah, begitu juga dengan

(2)

19 internalisasi masyarakat Cerenti dalam memaknai kehadiran manggiliang . tersebut tradisi ghompa.

Penelitian ketiga yang dijadikan sebagai rujukan adalah penelitian yang berjudul Konstruksi Kepemimpinan Atas Tradisi Giri Kedaton Sebagai Identitas Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi nonpartisipan, wawancara dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa identitas sosial sebagai realitas adalah ciptaan manusia kreatif dengan melalui kekuatan konstruksi sosial di sekitarnya yang dikuatkan oleh hadirnya leader melalui regulasi pendukungnya. Proses penguatan identitas yang dikuatkan oleh masyarakat. Konstruksi sosial atas realitas cenderung berlangsung melalui leader secara hirarkis-vertikal, bersifat spasial, yaitu berlangsung dari pimpinan kepada bawahannya. Dalam ekternalisasi, leader (tokoh-tokoh kunci) melakukan adaptasi diri dan mengaktualisasikan stock of knowledge yang dimilikinya terhadap sosiokultural keagamaan masyarakat Kabupaten Gresik. Selanjutnya dalam moment objektivasi, leader dengan pemahaman sosiokultutal keagamaan yang dimiliki telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam internalisasi, leader mensosialisasikan sosiokulturannya melalui interaksi sosial dengan seluruh lapisan masyarakat (Mustakim; Ishomuddin;

Winarjo, 2020).

Keempat penelitian dari (Ayona & Sudrajat, 2020) yang berjudul Konstruksi Sosial Masyarakat Tentang Tradisi Ruwatan Sukerta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil dari penelitian Ayona dan Sudrajat (2020) menunjukkan proses konstruksi sosial dari Peter L. Berger yang dimulai dari tahap ekternalisasi (adaptasi), pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses objektivasi (pelembagaan), yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terakhir tahap internalisasi, dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya.

Penelitian kelima yang digunakan sebagai rujukan adalah penelitian dengan judul Tindakan Diskriminasi Mahasiswa Terhadap Transgender (Fenomenologi Kualitatif Tindakan Diskriminatif Yang Dilakukan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Terhadap

(3)

20 Transgender oleh Fikria Ariba dan Rahesli Humsona (2020). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif fenomenologi dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa adanya deskriminasi terhadap transgender akibat adanya konstruksi sosial yang memunculkan prasangka, streotipe dan kebencian hal ini dikarenakan transgender merupakan sebuah perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma masyarakat. Selain itu, masyarakat Indonesia yang terpapar dengan adanya konstruksi sosial bahwa seorang laki-laki memili kodrat maskulin sedangkan perempuan menjadi feminim, hal ini telah mendarah daging terhadap masyarakat sehingga apabila individu yang berperilaku tidak sesuai kondratnya (transgender) maka individu tersebut akan dinyatakan sebagai individu yang melakukan penyipangan sosial dan harus diberi sanksi sosial berupa pengucilan dan intimidasi yang berakhir sebuah deskriminasi (Ariba &

Humsona, 2020).

Penelitian keenam jurnal yang dijadikan sebagai rujukan, jurnal yang berjudul The Social Construction of Reality Among Profesional Overseas Filipino Workers (OFWs) yang ditulis oleh Jason C. Cocjin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana OFW profesional terlibat dalam membangun identitas baru dan menginternalisasi peran realitas mereka di Thailand. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara tatap muka, audio dan vidio online, seta berbicara melalui aplikasi. Temuan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa peserta (OFWs) mengalami dan terlibat dengan agama Buddha monarki. Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat di Thailand beragama Budda. Institusi yang menjadi darah daging dalam pengetahuan sehari-hari dalam pengetahuan sehari-hari yang menyebabkan OFWs berbagi definisi realitas sosial budaya mereka.pengalaman sosial budaya para peserta (OFW) di Thailand konsisten dengan ajaran agama Buddha tentang kerukunan dan komunitas. Kedua, para peserta mengalami peran dan pengaruh menyeluruh monarki di negara lain institusi Thailand seperti keluarga, pemerintahan, dan tempat kerja. Ketiga, secara keseluruhan, peserta telah menunjukkan bahwa pertemuan awal dan berturut-turut mereka di Thailand adalah penting dalam menciptakan kesadaran.

Interaksi mereka dengan orang-orang yang relevan berperan penting dalam pemahaman mereka tentang pengalaman kondisi sosial yang sebenarnya di Thailand. Kebiasaan budaya Thailand diasimilasi oleh para peserta, seperti berkata wai dan berkata sawadee kah adalah dua praktik yang diinternalisasi dan akhirnya dieksternalisasi oleh semua peserta. Setiap OFWs profesional terlibat dengan orang Thailand di tempat kerja dan

(4)

21 lingkungan umum di reproduksi diri dari lingkungan manusia melalui proses eksternalisasi dan objektivitas baginya untuk membangun realitas objektif (sosial) baru. Dialektik atau keduanya berinteraksi tetapi kekuatan yang kontras sebagian besar terjadi di internalisasi (Cocjin, 2021).

Penelitian ketujuh terdapat jurnal yang berjudul Konstruksi Masyarakat Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Pasca Rehabilitasi. Metode dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan analisis data menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger. Hasil dari penelitian ini mengenai konstruksi masyarakat Desa Badung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang terhadapa orang dengan gangguan jiwa pasca rehabilitasi menunjukkan bahwa masyarakat Desa Badung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap orang dengan gangguan jiwa pasca rehabilitasi. Ada yang berpandangan positif dan ada yang berpandangan negatif. Adapula yang meyakini bahwa orang dalam gangguan jiwa pasca rehabilitasi karena faktor ilmu hitam, faktor keturunan, dan faktor mengonsumsi obat terlarang serta minuman keras (Aprilia, 2019).

Penelitian kedelapan yang dijadikan sebagai rujukan adalah jurnal yang berjudul Polemik Kebhinnekaan Indonesia Pada Informasi Instagram @infia_fact Terkait Patung Kwan Sing Tee Koen Tuban. Penelitian dari Rustono Farady Marta (2017) menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman untuk menjabarkan fenomena tersebut melalui penelaah yang komprhensif. Hasil dari penelitian ini bahwa media sosial itu memiliki pengaruh kuat dikalangan masyarakat khususnya pengguna media istagram, yang merupakan platform paling banyak diminati. Pemberitaan mengenai Patung Jendral di Tuban tersebut tanpa adanya tendensi apapun, hal ini dapat membentuk opini masyrakat yang tidak terkendali dan mewujudkan demonstrasi. Konstruksi realitas pada informasi semakin terpetakkan dengan sangat jelas alurnya. Sekalipun akan ditanggapi berbeda-beda oleh setiap netizen dan sebagaian berusaha merendam secara positif melalui komenntar yang ada. Tetapi hal ini perlu langkah yang strategis agar konstruksi sosial terhadap realitas melalui media sosial tidak membawa dampak yang lebih kompleks dalam kehidupan nyata antar umat manusia indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (Marta, 2017).

Penelitian Kesembilan jurnal yang berjudul Metamorfosis Gotong Royong Dalam Pandangan Konstruksi Sosial yang ditulis oleh Maulana Irfan (2017). Penelitian ini berfokus pada proses metamorfosis gotong royong ditengah arus globalisasi dunia dalam

(5)

22 bentuk sosial media dengan melihat gotong royong dari pandangan teori konstruksi sosial.

Hasil dari penelitian ini adalah gotong royong dianalisi dengan menggunakan teori dialektika konstruksi sosial dari Peter L. Berger. Pertama tahap Eksternalisasi merupakan sebuah pencurahan diri terhadap reallitas sosial, gotong royong dalam tahap ini mencoba meredefinisikan kembali bahwa nilai luhur gotong royong dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kitabisa.com yang mengusung pemahaman gotong royong melalui aktifitas crowfundingnya. Kedua objektivasi merupakan realitas sosial atau produk sosial mengalami institusionalisasi. Pada tahap ini masyarakat memahami bahwa gotong royong tidak hanya sekedar aktifitas fisik, namun lebih kepada solidaritas manusiawi. Hal ini yang menjadikan crowfaunder yang diwakili ekpresi katanya oleh Alfatih Timur seorang Kitabisa.com, mengungkapkan bahwa aktivitas crowdfounding (urunan dana untuk memulai suatu usaha) adalah implementasi gotong royong atau dalam rumusannya Crowfunding = Gotong royong. Ketiga momen internalisasi, dimana individu mengidentifikasikan dirinya ditengah-tengah lembaga dan menjadi anggotanya. Hal ini terkait dengan proses para donatur yang mengindentifikasi dirinya menjadi bagian dari sebuah kelompok yang diyakini. Proses konstruksi sosial ini pada akhirnya membangun sebuah realitas sosial pada masyarakat akan memunculkan proses metamorfosis gotong royong tersebut tanpa menghilangkan nilai-nilai gotong royong (Irfan, 2017).

Penelitian kesepuluh dengan Jurnal yang berjudul Kontruksi Sosial Keagamaan Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid-19 yang ditulis oleh (Ghofur & Subahri, 2020).

Penelitian ini membahas mengenai perilaku keagamaan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam yang jauh berbeda setelah adanya Covid-19. Hal tersebut mengubah tradisi keagamaan dan perilaku beragama masyarakat secara umum. Penelitian ini menggunakan konsepsi teoritik menurut Peter L. Berger dengan konsepsi konstruksi sosial dengan tiga komponennya yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan mengungkap sebuah fenomena perilaku beragama yang terjadi di tengah masyarakat pada masa pandemi Covid- 19 atau Corona. Adapun simpulan dalam penelitian ini ialah, secara eksternal masyarakat melakukan perubahan sosial karena adanya informasi-informasi terkait pandemi Covid- 19, baik melalui gugus tugas yang dibentuk pemerintah, maupun berita-berita yang beredar di televisi dan media sosial. Dari itu masyarakat melakukan objektivasi dengan pembentukan perilaku yang dilakukan secara implisit untuk menanggapi peraturan pemerintah maupun berita yang beredar di media sosial. Internalisasi dilakukan

(6)

23 masyarakat dengan memetik hikmah dalam setiap keadaan yang terjadi. Selanjutnya dari konstruksi sosial keagamaan perspektif tasawuf pada masa pandemi mengasilkan pola perilaku agama: sabar, syukur, tawakal dan muhasabah.

Tabel 2.1 Literatur Review

NO

JUDUL

PENELITIAN PENULIS HASIL

PENELITIAN PERBEDAAN 1. Konstruksi

Sosial Upacara Adat

Karo Suku Tengger Di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Endang Kumala Ratih dan Anik Juwariyah (2020).

Melalui konstruksi sosial upacara Adat

Karo yang

didalamnya terdapat Tari Sodoran, hal tersebut dimaknai oleh masyarakat Suku Tengger sebagai wujud rasa syukur terhadap para leluhur. Ritual tersebut

mendeskripsikan bahwa kehidupan masyarakat Suku Tengger penuh akan toleransi, hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan ritual

tidak hanya

dilakukan oleh Umat Hindu saja tetapi dilakukan oleh agama selain Hindu.

Seperti, agama Islam

Perbedaan dari penelitian ini yaitu lokasi penelitian yang berda serta ritual yang dilakukan juga berbeda.

Penelitian ini akan membahas mengenai

upacara adat Keboan di Desa Aliyan,

Kabupaten Banyuwangi dan mencari

bagaimana kontruksi sosial hadir dalam upacara Keboan.

(7)

24 dan Kristen (Ratih &

Juwariyah, 2020).

2. Konstruksi Sosial Tradisi Manggiliang Ghompah Pada Acara

Perkawinan Di Kecamatan Cerenti

Kabupaten Riau.

Noviandri dan Noor Efni Salam (2017).

Makna dari

Manggiliang

Ghompah adalah sebagai prosesi yang mempunyai nilai tenggang rasa dan bergotong royong, serta kegiatan Manggiliang

Ghompah ini dapat menghilangkan kesenjangan-

kesenjangan dan status sosial yang terdapat didalam masyarakat.

penelitian ini juga tidak menemukan unsur paksaan bagi anggotanya

(Noviandri & Salam, 2017).

Penelitian ini membahas terkait kontruksi sosial ritual Keboan yang dipercayai sebagai warisan leluhur serta sebagai upacara untuk tolak balak bagi Desa Aliyan.

(8)

25 3. Konstruksi

Kepemimpinan Atas Tradisi Giri Kedaton

Sebagai

Identitas Sosial Budaya

Masyarakat Kabupaten Gresik

Mustakim, Ishomuddin, Wahyu Winarjo, dan Khozin (2020).

Identitas sosial sebagai realitas adalah ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstuksi sosial di sekitarnya yang dikuatkan oleh hadirnya leader melalui regulasi pendukungnya.

Proses penguatan identitas yang dilakukan melalui otoritas leader lebih efektif daripada pembentukan identitas oleh masyarakat.

Konstruksi sosial atas realitas cenderung

berlangsung melalui leaders hirarki- vertikal, bersifat spasial yaitu berlangsung dari pimpinan kepada bawahannya (Mustakim;

Ishomuddin;

Winarjo, 2020).

Perbedaan penelitian ini berdapa pada tradisi yang akan dikaji dimana penelitian ini akan mengkaji ritual Keboan yang dilakukan oleh masarakat Suku Osing di Desa Aliyan.

Ritual Keboan berasal dari warisan leluhur yang terus dilakukan

hingga saat ini.

(9)

26 4. Konstruksi

Sosial Masyarakat Tentang Tradisi Ruwatan

Sukerta.

Berlian Ayona dan Arief Sudrajat (2020).

Konstruksi sosial yang terdapat pada masyarakat Dukuh Pakis, terdapat tiga tahap yaitu;

eksternalisasi

(adaptasi), Aktor budaya

memperkenalkan tradisi Ruwatan Sukerta terhadap masyarakat Dukuh Pakis. berikutnya proses obyektivikasi (pelembagaan), yang terlihat dari kontribusi

masyarakat Dukuh Pakis pada saat pelaksanaan tradisi Ruwatan. Dan yang terakhir adalah tahap internalisasi yaitu, masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hal ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai

Penelitian ini membahas mengenai

kontruksi sosial yang terjadi pada ritual Keboan yang ada di Desa Aliyan Kab.

Banyuwangi dengan menggunakan tiga tahap yaitu ekternalisasi, internalisasi dan objektivikasi, sedangkan dalam penelitian dari jurnal tersebut

menggunakan tiga tahap kontruksi sosial untuk melihat kontruksi sosial pada tradisi ruwatan.

(10)

27 ritual pembuang sial

secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai

budaya asli

masyarakat Jawa

harus tetap

dilestarikan atau diuri-uri oleh masyarakat

khususnya Dukuh Pakis Kota Surabaya (Ayona & Sudrajat, 2020).

5. Tindakan Diskriminasi Mahasiswa Terhadap Transgender (Fenomenologi Kualitatif Tindakan Diskriminatif yang dilakukan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Terhadap Transgender)

Fikria Ariba dan Rahesli Humsona (2020).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat diskriminasi terhadap transgender akibat adanya

konstruksi sosial sehingga

memunculkan prasangka, streotipe, dan kebencian dikarenakan dianggap sebagai penyimpangan nilai dan norma

masyarakat. Selain itu, alasan

mahasiswa memberikan diskriminasi terhadap

Penelitian dari jurnal tersebut membahas mengenai perbedaan perilaku atau diskriminasi yang dilakukan mahasiswa terhadap transgender berdasarkan adanya

konstruksi sosial mengenai bias gender yang

berada di

Universitas Sebelas Maret (UNS),

(11)

28 transgender

dikarenakan mereka merasa anggapan transgender dengan transeksual adalah hal yang sama, pribadi seorang transgender terlihat memiliki pribadi yang keras, cemburu, transgender

berperilaku sensitif, dan risih melihat laki-laki berperilaku feminin (Ariba &

Humsona, 2020).

Surakarta.

penelitian yang peneliti lakukan mengenai

kontruksi sosial ritual Keboan yang ada di Desa Aliyan Kab.

Banyuwangi dengan menggunakan tiga tahap kontruksi sosial yaitu

objektivikasi, ekstrenalisasi, dan internalisasi untuk melihat proses dari kontruksi sosial yang terjadi.

6. The Social Construction of Reality Among Professional Overseas Filipino Workers (OFWs) in Thailand

Jason C.

Cocjin (2021).

Hasil penelitian ini adalah bahwa peserta (OFWs) mengalami dan terlibat dengan agama Buddha monarki. Hal ini dikarenakan

mayoritas

masyarakat di Thailand beragama Budda. Institusi yang menjadi darah daging

Penelitian dalam jurnal tersebut menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas

Luckman untuk menjelaskan bagaimana OFWs terlibat dalam

(12)

29 dalam pengetahuan

sehari-hari dalam pengetahuan sehari-

hari yang

menyebabkan OFWs berbagi definisi realitas sosial budaya mereka.pengalaman sosial budaya para peserta (OFW) di Thailand konsisten dengan ajaran agama Buddha tentang kerukunan dan komunitas (Cocjin, 2021).

membangun realitas baru dan menginternalisa si peran realitas

mereka di

Thailand.

Sedangkan dalam penelitian ini

menggunakan teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckman (1990) digunakan untuk menganalisis sebuah

konstruksi sosial ritual atau upacara adat Keboan yang berada di Desa Aliyan.

7. Kontruksi Masyarakat Desa Badung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang

Terhadap Orang Dengan

Gangguan Jiwa

Adela Aprilia (2019).

Hasil penelitian inimengenai konstruksi masyarakat Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pasca

Penelitian dalam jurnal ini

menjelaskan kontruksi masyarakat Desa Badung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang

(13)

30 (ODGJ) Pasca

Rehabilitasi.

rehabilitasi menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pasca rehabilitasi. Ada yang berpandangan positif dan ada yang berpandangan negatif. Adapun konstruksi lainnya yakni Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pasca rehabilitasi karena faktor keturunan, faktor menganut ilmu hitam, dan faktor

mengkonsumsi obat terlarang serta minuman keras (Aprilia, 2019).

terhadap ODGJ pasca

rehabilitasi, sedangkan penelitian ini peneliti akan melihat bagaimana kontruksi sosial terjadi pada ritual Keboan di Desa Aliyan.

8. Polemik Kebhinekaan Indonesia Pada Informasi

Rustono Farady Marta (2017).

Hasil dari penelitian ini adalah media sosial itu memiliki pengaruh kuat di

Penelitian dalam jurnal ini

menggunakan teori kontruksi

(14)

31 Instagram

@infia_fact Terkait Patung Kwan Sing Tee Koen Tuban.

kalangan masyarakat khususnya pengguna media instagram, dimana instagram merupakan salah satu

platform yang sangat diminati oleh

masyarakat modern.

Konstruksi realitas pada

informasi semakin terpetakan dengan sangat

jelas alurnya.

Sekalipun akan ditanggapi

berbeda-beda oleh setiap netizen dan sebagian berusaha meredam secara positif

melalui komentar yang ada, namun perlu

adanya langkah strategis agar konstruksi sosial terhadap realitas melalui media ini tidak membawa dampak yang lebih

sosial Berger digunakan untuk menjabarkan fenomena Polemik Kebhinekaan Indonesia Pada Informasi Instagram

@infia_fact Terkait Patung Kwan Sing Tee Koen Tuban, sedangkan penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial dari Berger

digunakan untuk menjelaskan proses terjadinya kontruksi sosial ritual Keboan di Desa Aliyan.

(15)

32 kompleks dalam

kehidupan nyata antar umat

manusia Indonesia dalam bingkai Bhinneka

Tunggal Ika (Marta, 2017).

9. Metamorfosis Gotong Royong Dalam

Pandangan Konstruksi Sosial

Maulana Irfan (2017).

Nilai-nilai gotong royong yang diduga pudar, ternyata masih ada. Terbukti dari

adanya aktifts spontanitas yang dilakukan

sebagian masyarakat di Indonesia

manakala

ada masalah yang menimpa di lapisan masyarakat kurang beruntung lainnya.

Ini

adalah potret potensi kepedulian sosial sebagai

implementasi gotong royong. Pada

akhirnya bagi para praktisi

pekerjaan sosial, mulai dapat

Penelitian pada jurnal ini membahas bagimana metamorfosis gotong royong dalam

pandangan konstruksi sosial, sedangkan penelitian ini peneliti

menggunakan tiga tahap kontrusi sosial untuk melihat proses dari kontruksi sosial yang terjadi di Desa Aliyan.

(16)

33 mempertimbangkan

aktifitas Crowdfunding adalah implementasi kegotongroyongan sebagai alternatif lain dalam penggalangan dana. Mengingat peran pekerja sosial

“as a mediator”

(Irfan, 2017).

10. Konstruksi Sosial Keagaman Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid- 19.

Abdul Ghofur dan Bambang Subahri (2020).

Masyarakat melakukan

perubahan sosial karena adanya informasi-informasi terkait pandemi Corona, baik melalui gugus tugas yang dibentuk pemerintah maupun dari berita- berita yang beredar di televisi maupun media sosial.

Masyarakat melakukan

objektivasi dengan pembentukan

perilaku yang dilakukan secara implisit untuk menanggapi

Penelitian dari jurnal ini menggunakan tiga tahap dari kontruksi sosial yaitu

objektifikasi, internalisasi dan eksternalisasi untuk melihat perubahan sosial yanb disebabkan oleh virus Covid-19, sedangkan penelitian ini peneliti

menggunakan tiga tahap tersebut untuk melihat proses

(17)

34 peraturan pemerintah

maupun berita yang beredar di media

sosial yang

diterimanya.

Internalisasi yang dilakukan

masyarakat dengan memetik hikmah dalam setiap keadaan yang terjadi.

Selanjutnya dari konstruksi sosial keagamaan

perspektif tasawuf pada masa pandemi dari sisi teologis diyakini bahwa Tuhan sedang menguji hambanya melalui mahluknya berupa Covid-19 (Ghofur & Subahri, 2020).

kontruksi sosial pada ritual Keboan di Desa Aliyan.

2.2. Tinjauan Pustaka

2.2.1. Konstruksi Sosial Sebagai Fenomena

Konstruksi sosial merupakan konstruksi hasil abstraksi terhadap gejala-gejala yang dikonstrusikan dalam pikiran belaka. Menurut Peter Ledwig Berger dan Thomas Luckman konstruksi sosial adalah pembentukan pengetahuan yang diperoleh melalui hasil penemuan sosial. Realitas sosial menurut keduanya terbentuk secara sosial dan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan (Sociology of Knowladge) untuk menganalisa bagaimana proses terjadinya. Hal ini memberikan pemahaman bahwa realitas dengan pengetahuan harus dipisahkan. Mereka mengakui realitas objektif, dengan membatasi

(18)

35 realitas sebagai kualitas yang berkaitan dengan fenomena yang kita anggap berada diluar kemauan kita sebab fenomena tersebut tidak bisa ditiadakan.

Realitas sosial menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckman terbentuk secara sosial, realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran seseorang baik dalam maupun luar realitas tersebut. Realitas mempunyai makna saat realitas tersebut dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif. oleh orang lain sehingga memantapkan realitas tersebut secara objektif. Konstruksi teoritis Berger sebagai sebuah proses sosiologi, realitas mengalami proses dialektika melalui tiga tahap yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Konstruktivisme dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang disekitarnya. Individu kemudian membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihat itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya, dan konstruktivisme semacam inilah dalam buku yang berjudul Tafsir Sosial atas Kenyataan oleh Berger dan Luckman, (Berger & Luckman, 1990) disebut dengan konstruksi sosial.

2.2.2. Ritual dan Keterkaitan Masyarakat Tradisional Terhadap Ritual

Keberadaan ritual-ritual Indonesia tidak terlepas dari kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut masyarakat Indonesia zaman dahulu, begitu pula ketika masuknya agama-agama hindhu dan budha di Indonesia masyarakat juga masih melakukan ritual-ritual seperti adanya sesaji untuk pemujaan kepada para dewa. Ritual sering menjadi hal yang dianggap negatif oleh sebagian kalangan karena sering berkaitan dengan hal-hal yang mistis, padahal pada kenyataannya ritual merupakan wujud dari pelestarian kebudayaan. Animisme merupakan kepercayaan terhadap adanay roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia sendiri.

“Dunia gaib dapat dihadapi dengan berbagai macam perasaan, ialah cinta, hormat, bakti, tetapi juga takut, ngeri dan sebagainya, atau dari campuran perasaan dari segala macam perasaan tadi. Perasaan-perasaan tadi mendorong manusia untuk melakukan hubungan dengan dunia gaib yang kita sebut kelakuan serba religi (Koentjaraningrat, 1990)”.

Keberadaan ritual di seluruh daerah merupakan wujud simbol dalam agama atau religi dan juga simbolisme kebudayaan manusia. Tindakan simbolis dalam upacara

(19)

36 religius merupakan bagian sangat penting dan tidak mungkin dapat ditinggalkan begitu saja. Manusia harus melakukan sesuatu yang melambangkan komunikasi dengan Tuhan. Selain pada agama, adat istiadat pun sangat menonjol simbolismenya, upacara- upacara adat yang merupakan warisan turun temurun dari generasi tua ke generasi muda (Herusatoto, 2001). Upacara-upacara itu dilakukan dalam rangka menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Berikut merupakan bahasan mengenai ritual yang bersangkutan dengan hal gaib (Koentjaraningrat, 1990).

Sesuai dengan etimologisnya, upacara ritual dapat dibagi atas dua kata yakni upacara dan ritual. Upacara adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan sekelompok orang serta memiliki tahapan yang sudah diatur sesuai dengan tujuan acara. Sedangkan yang dimaksud dengan Ritual adalah suatu hal yang berhubungan terhadap keyakinan dan kepercayaan spritual dengan suatu tujuan tertentu.

Menurut Purba dan Pasaribu, dalam buku yang berjudul “Musik Populer”

mengatakan bahwa: Upacara Ritual dapat diartikan sebagai peranan yang dilakukan oleh komunitas pendukung suatu agama, adat-istiadat, kepercayaan, atau prinsip, dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan ajaran atau nilai-nilai budaya dan spritual yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang mereka (Purba & Pasaribu, 2006).

Sedangkan menurut Koentjaraningrat pengertian upacara ritual atau ceremony adalah sistem aktifitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990).

Pada masyarakat Jawa, meraka beranggapan upacara ritual dilakukan agar mereka terlindung dari hal-hal yang jahat. Mereka meminta berkah pada roh, dan meminta pada roh jahat agar tidak mengganggunya. Sisa-sisa ritual seperti itu masih sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat Jawa sekarang. Namun telah beralih fungsi menjadi kesenian rakyat tradional seperti sintren, nini thowok, barongan, tari topeng, dan pertunjukan wayang (Amin, 2002). Sebagian masyarakat jawa masih sangat mensakralkan keberadaan upacara ritual tersebut, seperti di Yogyakarta dan Surakarta. Pada dua tempat tersebut masih sering mengadakan ritual seperti saat 1 muharam atau 1 shura pada penanggalan Jawa.

Begitu pula pada masyarakat Bali khususnya di daerah Trunyan juga masih terdapat upacara seperti halnya di Jawa. Terdapat lima macam upacara di Trunyan Bali yang bersifat keagamaan atau upacara (Panca Yadna) yaitu Dewa Yadna, Pitra Yadna,

(20)

37 Resi Yadna, Buta Yadna, Manusa Yadna. Seperti upacara agama di daerah lain di Trunyan juga terdiri empat bagian yaitu tempat-tempat upacara, saat upacara, benda- benda dan alat upacara dan juga orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.

Semua upacara terdiri dari hal-hal tersebut (James, 1986).

Ritual dan tradisi merupakan salah satu tingkah laku yang didasarkan pada nilai- nilai budaya yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tradisional. Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntutnya harus diperlakukan secara khusus dan terdapat tata cara perlakuan terhadap sesuatu yang disakralkan tersebut. Masyarakat dan kebudayaan (ritual) merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Masyarakat tradisional menggangap ritual sebagai suatu hal sakral yang harus dijalankan terus menerus. Ritual tersebut hadir pada kehidupan masyarakat tradisional akibat dari kepercayaan yang duturunkan dari nenek moyang terhadalu yang terus dilakukan oleh keturunannya, sehigga hal tersebut menjadi suatu kebiasaan atau budaya pada diri mereka.

Ritual menjadi media bagi orang atau komunitas untuk merefleksikan sebagian besar gerakan mereka yang konvensional dan sudah terpola (wajib). Ekspresi dalam ritual pun bukan sekedar kunci yang menentukan dalam rangka memahami bagaimana orang berpikir dan merasakan hubungan tersebut, dan tentang alam serta lingkungan masyarakat di mana mereka berada. Ritual pada masyarakat tradisional dilakukan untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, agar mendapatkan berkah atau rizki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sakral ketika akan turun kesawah, ada yang untuk menolak bahaya yang telah atau diperkirakan akan datang, ritual untuk meminta perlindungan juga pengampunan dari dosa ada ritual untuk mengobati penyakit , ritual karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia. Seperti pernikahan, mulai dari kehamilah, kelahiran, kematian dan ada pula upacara berupa kebalikan dari kebiasaan kehidupan harian, seperti puasa pada bulan atau hari tertentu, kebalikan dari hari lain yang mereka makan dan minum pada hari tersebut.

Kepercayaan dan agama yang disamakan sering menimbulkan perdebatan khususnya pada masyarakat Jawa. Agama itu jelas Tuhannya sedangkan kepercayaan dianggap kabur. Timbul anggapan bahwa agama lebih prestisius dibandingkan kepercayaan. Kepercayaan pada masyarakat Jawa khususnya dianggap minor, sehingga posisinya kurang menguntungkan. Posisi kepercayaan dianggap kurang beragama, padahal pada sebenarnya beragama, banyak orang melakukan hal-hal yang bersifat gaib seperti ritual di Gunung Lawu, Gunung Srandil, Gunung Kemukus, Gunung Kawi

(21)

38 merupakan wujud dari kepercayaan masyarakat Jawa penganut agama Jawa (Endraswara, 2012). Kepercayaan dan juga Agama sangatlah berbeda tidak seperti yang disebutkan pada pada pernyataan di atas. Kedua hal tidak dapat disamakan dalam hal apapun. Agama lebih jelas tujuannya dan terdapat aturan agama-agama didalamnya.

Tujuan dari agama tentunya tertuju pada sang pencipta yaitu Tuhan, sedangkan kepercayaan memang belum jelas ditujukan pada Tuhan atau untuk tujuan tertentu saja.

Seperti tujuan untuk kepentingan duniawi mereka.

Kepercayaan terhadap suatu ritual di Jawa masih sangat dipegang teguh oleh masyarakatnya, misalnya dalam memperingati kematian seseorang masyarakat masih mempercayai adanya slametan, upacara slametan diadakan berurutan, dari hari ke tiga setelah seseorang meninggal, hari ke tujuh, kemudian empat puluh harian, slametan mendak pisan, mendak pindo, dan peringatan kematian seseorang untuk terakhir kali.

Tindakan seperti itu masih dilakukan oleh masyarakat Islam Jawa pada, adanya penggabungan antara kebudayaan Jawa pada masa animisme dengan ajaran agama Islam.

Dalam pelaksanaannya slametan yang sekarang dilakukan sudah tidak menggunakan sesaji-sesaji seperti pada zaman dahulu, pada kenyataan yang terjadi dimasyarakat Jawa doa-doa yang digunakan seperti tahlil dan juga sholawat yang ditujukan sebagai pelengkap doa slametan (Amin, 2002). Dapat diketahui bahwa masyarakat mempercayai ritual selain karena sifatnya yang masih berkaitan dengan agama namun juga adanya kebudayaan sebagai karakteristik yang tidak dapat ditinggalkan. Perpaduan antara kebudayaan dan agama salah satunya terlihat dalam kehidupan masyarakat Islam di Jawa. Mereka memadukan kebudayaan yang ada dengan ajaran agama Islam. Perpaduan yang dapat kita ketahui seperti adanya ritual dalam memperingati setiap kejadian yang ada seperti kelahiran, kematian, dan juga acara-acara seperti memperingati hari besar agama. Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan terhadap ritual didasarkan atas kebudayaan dan juga agama yang saling berhubungan sehingga keberadaan ritual masih tetap dipegang teguh dan dipertahankan sampai sekarang.

2.2.3. Fungsi Ritual Bagi Masyarakat Tradisional

Ritual-ritual yang dilakukan masyarakat tersebut, bukan sematamata tanpa tujuan. Mereka mempunyai tujuan-tujuan tertentu dalam melakukan sebuah ritual.

Ritual dilakukan untuk mendapatkan berkah atau rizki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sakral ketika akan turun kesawah atau ritual pertanian. Ada

(22)

39 yang untuk menolak bahaya yang telah atau diperkirakan akan datang. Upacara mengobati penyakit (rites of healing). Ada juga upacara karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia. Seperti pernikahan, mulai dari kehamilah, kelahiran (rites of passage cyclic rites). Selain itu, ada pula upacara berupa kebalikan dari kebiasaan kehidupan harian (rites of reversal) seperti puasa pada bulan atau hari tertentu (Agus, 2006).

Ritual sebagai kontrol sosial bermaksud mengontrol perilaku kesejahteraan individu bayangan. Semua itu dimaksudkan untuk mengontrol, dengan cara konservatif, perilaku, keadaan hati, perasaan dan nilai-nilai dalam kelompok demi komunitas secara keseluruhan (Sardjuningsih, 2016).

2.2.4. Macam-macam Ritual Tradisional Pada Masyarakat 1. Ritual pertanian

Ritual pertanian ini biasanya dimaksudkan untuk mensyukuri hasil panen dan berharap panen yang akan datang akan lebih baik peruntungannya. Ritual ini meliputi individu dan kelompok. Setiap menjelang tanam, tanaman berbuah, dan menjelang panen, mereka selalu melakukan ritual di rumah ataupun di sawah (Sardjuningsih, 2010).

2. Ritual lingkaran hidup

Ritual lingkaran hidup adalah ritual yang meliputi siklus kehidupan manusia, dari lahir sampai kepada kematian. Seperti halnya upacara lainnya.

Upacara ini juga ada dalam setiap masyarakat lainnya, tetapi bentuk dan jenisnya berbeda-beda pada setiap masyarakat. Ritual lingkaran hidup ini selalu berbentuk selametan. Dimulai dari kehamilan umur 3 bulan dan 6 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan kelahiran, dari umur 1 hari, 6 hari, selapan (potong rambut), 3 selapan, 7 selapan, 9 selapan yang dikenal dengan medun lemah (Tedak siti, Turun lemah kemudian dilanjutkan dengan setahunan) (Sardjuningsih, 2010).

Kemudian dilanjutkan ritual pernikahan, dan terakhir adalah ritual kematian. Selametan orang meninggal salah satu bentuk pengiriman pahala kepada mayit adalah melalui sedekah yang kusus dihadirkan pada mayit. Sedekah ini biasanya dilakukan dalam bentuk selamatan dari ahli waris atau keluarga mayit.

Sebagaimana adat kebiasan yang terjadi di masyarakat. Apabila ada salah seorang muslim meninggal, maka keluarganya menggundang kerabat dan tetangga sekitar untuk berkumpul di rumah keluarga mayit. Ini bertujuan untuk melakukan upacara

(23)

40 selametan atau tahlilan. Biasanya diadakan selama 7 hari berturut-turut, 40 harinya, 100 harinya, setelah setahun atau haulnya (Moh. Saifulloh, 2009).

3. Ritual tolak balak

Upacara tolak balak dimaksud untuk menolak bahaya atau malapetaka bagi masyarakat. Upacara ini pada setiap masyarakat berbeda nama dan bentuknya.

Seperti Sedekah, Nyadran, Laburan, Petik laut, Barikan, Klemen dan lain-lain.

Upacara ini biasanya diselenggarakan di tempat angker atau keramat. Upacara ini di persembahkan kepada nenek moyang, Danyang yang menunggu tempat itu sebagai pelindung dan penjaga desa, supaya desanya terhindar dari mara bahanya.

Upacara ini adalah komunal, sebagian masyarakat terlibat (Sardjuninsih, 2012).

3.2.2. Kerbau Sebagai Simbol Ritual Masyarakat Desa Aliyan

Kerbau merupakan simbol hewan yang dahulu berfungsi sebagai tenaga andalan bagi petani setempat dalam mengerjakan sawahnya. Namun sekarang ini hewan kerbau di Desa Aliyan sudah tidak menjadi andalan petani lagi. Bahkan sudah jarang dijumpai petani yang memiliki kerbau. Pengolahan sawah sudah berganti dengan teknologi mesin. Namun demikian dalam ritual Keboan, hewan kerbau merupakan simbol penting dalam pertanian. Binatang kerbau merupakan binatang yang lekat dengan kebudayaan agraris. Dalam kehidupan agraris, kerbau, sapi, merupakan binatang yang membantu petani dalam mengolah lahan sawahnya. Bahkan dalam mengolah sawah kerbau dianggap lebih kuat daripada sapi. Binatang kerbau di berbagai wilayah di Indonesia menjadi binatang penting dalam ritual adat.

Secara arkeologis telah terbukti bahwa hubungan manusia dan kerbau di Indonesia sudah berlangsung sejak masa prasejarah hingga periode hindu-Budha.

Munculnya konstruksi masyarakat tentang kerbau baru berkembang setelah dikenalnya sistem religi pada periode prehistori akhir, ketika manusia mengalami apa yang disebut cultural revolution, yaitu transformasi budaya dari food gathering ke food producing,

dimana manusia memulai hidup sedenter setelah cukup lama nomaden. Pada periode ini ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya konsepsi keyakinan terhadap kerbau sebagai sumber kekuatan magis yang mampu mengusir dan menolak kekuatan jahat, sehingga kerbau banyak digunakan sebagai hewan kurban dalam ritual pemujaan roh nenek moyang (Fadillah, 2010).

Kerbau merupakan hewan terpenting dalam kebudayaan Nusantara, karena selain binatang pekerja dan hewan peliharaan, kerbau juga dianggap sebagai the sacred animal, yang secara turun temurun menjadi binatang persembahan dalam berbagai

(24)

41 ritual ancestor workship. Pandangan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa pengurbanan kerbau diyakini sebagai sumber kekuatan magis (als magische krachbron) dalam menjaga keseimbangan kosmik antara makrokosmos (jagad raya) dan mikrokosmos (dunia manusia). Begitu kuatnya asosiasi kerbau dengan budaya suku-

suku bangsa di Indonesia, sehingga muncul sebutan kepulauan Nusantara sebagai centrum van buffecultus (Fadillah, 2010).

Kerbau diyakini secara mistis-simbolis. Dilihat dari perspektif mitos, kerbau dalam masyarakat agraris memiliki fungsi sosialkultural, yang dapat dijelaskan dan bahkan digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia dan kontradiksi- kontradiksinya secara ajaib. Kerbau dalam ritual-ritual adat dan bahkan simbol-simbol kebudayaan masyarakat tertentu menunjukkan bagaimana masyarakat mengkonseptualisasikan pesan kepentingannya untuk divisualisasikan dan disimbolkan dalam bentuk kerbau untuk disampaikan kepada masyarakat lain. Kerbau dalam konteks ini dihadirkan sebagai perwujudan konseptualisasi keyakinan sosial secara simbolik dan bahkan lebih dari itu kerbau dijadikan sebagai medium untuk menyatakan identitas diri, status, prestise dan nilai-nilai simbolik lainnya. Upacara Keboan di Desa Aliyan menggunakan mitos kerbau sebagai media visualisasi yang menunjukkan hubungan manusia.

3.2.3. Upaya Masyarakat Osing Dalam Pelestarian Lingkungan Melalui Ritual Suku Osing

Lingkungan sosial budaya adalah lingkungan antar manusia yang meliputi pola- pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan spasial ruang, yang ruang lingkupnya ditentukan oleh keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut termasuk perilaku manusia di dalamnya, dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya. Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Lingkungan sosial budaya lebih menekankan aspek manusia dalam lingkup budaya. Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya (Purba & Pasaribu, 2006).

Masyarakat suku Osing memiliki berbagai macam ritual yang masih dijalankan hingga saat ini. Ritual yang dimiliki oleh masyarakat suku Osing diantaranya yaitu ider bumi, petik laut, seblang, Keboan, barongan dan lainnya, dimana ritual tersebut sebagaian besar berhubungan dengan lingkungan. Masyarakat Osing sebagai penduduk asli desa-desa di wilayah Banyuwangi hidup cukup makmur dan sejahtera karena

(25)

42 kesuburan tanahnya, oleh sebab itu tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Osing menggambarkan nilai tradisi budaya bertani yang terkenal mumpuni dan ulet dalam bercocok tanam. Masyarakat Osing memiliki strategi dalam mengelola lingkungan dan memiliki pola-pola yang unik terutama terkait dengan penataan ruang lingkungannya sebagai bentuk strategi beradaptasi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Keunikan ini tercermin dalam budaya mereka ketika mengelola dan memanfaatkan sumber daya hayati beserta lingkungannya yang kemudian diaplikasikan dalam ritual yang dijalankannya.

Ritual yang dijalankan masyarakat Osing bisa dikatakan sebagai upaya dalam pelestarian lingkungan, khususnya pada lingkungan sosial budaya. Ritual yang melibatkan manusia dan kebudayaan merupakan salah satu unsur dalam lingkungan sosial budaya. Ritual yang dijalankan oleh masyarakat Osing ini melibatkan masyarakat secara langsung dan sebagain besar tradisi dari masyarakat Osing berkaitan dengan lingkungan, seperti ritual untuk ucap syukur atas panen yang didapat, bersyukur atas keselamatan nelayan dan hasil laut yang berlimpah serta sebagai tolak balak untuk masyarakat Osing tersebut. Ritual masyarakat Osing juga untuk melihat hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik.

2.3. Kerangka Teori

Untuk menjelaskan konstruksi sosial atas ritual Keboan, penelitian ini menggunakan landasan teori konstruksi sosial milik Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Pendekatan konstruksi sosial atas realitas sosial (social construction of reality) merupakan pendekatan yang pertama kali dikemukakan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckman. Melalui bukunya yang berjudul “The social Construction of Reality, A Treatise in the Sociological of Knowledge” yang diterbitkan pada tahun 1966 dan diterjemahkan kembali dalam bahasa Indonesia oleh Frans M Parera. Berger dan Luckman yang berjudul “Tafsir Sosial atas Kenyataan, Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan”. Buku tersebut menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu menciptakan terus menerus realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif. (Berger & Luckman, 1990).

Pemikiran Berger dan Luckmann tentu juga terpengaruh oleh banyak pemikiran ilmuan lain, baik yang langsung menjadi gurunya atau sekedar terpengaruh oleh pemikiran pendahulunya. Jika dirunut, dapat kita identifikasi bahwa Berger

(26)

43 terpengaruh langsung oleh gurunya yang juga tokoh fenomenologi Alfred Schutz.

Schutz sendiri merupakan murid dari Edmund Husserl. Dia merupakan pendiri aliran fenomenologi di Jerman. Atas dasar itulah pemikiran Berger dikatakan terpengaruh oleh pemikiran fenomenologi. Didalam sosiologi pengetahuan Berger dan Luckman terdapat dua istilah pengetahuan yaitu kenyataan (realitas) dan pengetahuan (knowledge). Realitas didefinisikan sebagai suatu kualitas yang terdapat didalam fenomena-fenomena yang kita akui sebagai memiliki keberadaan (being) dan tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata dan memiliki kharakteristik yang spesifik (Berger & Luckman, 1990).

Kenyataan sosial adalah hasil (ekternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadap pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dipahami bahwa ekternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge dan sosialisasi-resosialisasi yang dialaminya. Menurut Berger dan Luckman, kenyataan sosial tersebut merupakan pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.

Seperti: konsep, kesadaran masyarakat, tradisi, sebagai hasil dari konstruksi sosial.

Berger menegaskan realitas kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi subjektif dan objektif. Realitas dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Konstruksi mengimplikasikan sesuatu yang berubah-ubah dan tidak normatif (Berger & Luckman, 1990).

Kehidupan sehari-hari telah menyimpan dan menyediakan kenyataan, sekaligus pengetahuan yang membimbing perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan sehari-hari telah menampilkan realitas obyektif yang ditafsirkan oleh individu dan memiliki sebuah makna yang subyektif. Kehidupan sehari hari juga berasal dari pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan individu, serta dipelihara sebagai

“yang nyata” oleh pikiran dan tindakan itu. Dasar-dasar pengetahuan tersebut diperoleh melalui obyektivasi dari proses makna-makna subyektif yang membentuk dunia akal sehat intersubyektif (Berger & Luckman, 1990).

Dua pokok realitas yang berkaitan dengan pengetahuan yaitu realitas subyektif dan realitas obyektif. Realitas subyektif berupa pengetahuan individu. Selain itu, realitas subyektif merupakan hasil kostruksi definisi realitas yang dimiliki individu dan dikonstruksikan melalui proses internalisasi. Realitas subyektif merupakan basis untuk melibatkan diri dalam proses ekternalisasi, atau proses interaksi sosial dengan individu lain dalam sebuah struktur sosial. Melalui proses ekternalisasi tersebut individu secara

(27)

44 kolektif berkemampuan melakukan obyektivikasi dan memunculkan sebuah konstruksi realitas obyektif yang baru.

Masyarakat yang hidup dalam konteks sosial tertentu, melakukan proses interaksi secara simultan dengan lingkungan sosialnya. Dengan proses interaksi tersebut, masyarakat memiliku sebuah dimensi kenyataan sosial ganda yang dapat menyebabkan saling membangun dan bisa juga sebaliknya saling meruntuhkan.

Masyarakat hidup dalam ruang-ruang dimensi dan realitas objektif yang dikonstruksikan melalui tiga momen ekternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Ketiga momen konstruksi sosial menurut Berger dan Luckman (1990) akan berproses secara dialektis. Berikut merupakan proses tiga dialektika momen konstruksi sosial (eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi) Peter L. Berger dan Thomas Luckman:

1. Ekternalisasi

Momen ekternalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses pencurahan kedirian manusia secara terus-menerus kedalam dunia, baik dalam aktifitas fisik maupun mentalnya sampai mengalami habitualisasi. Kedirian manusia adalah yang terjadi sejak awal, karena ia dilahirkan belum selelsai (mengalami berkembangan dan tumbuk baik dari segi sosial maupun biologis). Momen ini juga dapat diartikan sebagai penerapan dari hasil proses internalisasi yang selama ini dilakukan secara terus menerus kedalam dunia. Pada momen ini manusia atau individu melakukan penyesuaian diri dengan produk-produk sosial yang telah dikenalkan kepadanya. Karena pada dasarnya sejak individu lahir, ia akan mengenal dan berinteraksi dengan produk-produk sosial.

Sedangkan produk sosial itu sendiri merupakan hasil dari sosialisasi dan interaksi didalam masyarakat.

2. Objektivasi

Momen objektivasi merupakan sebuah proses dimana individu mengalami pengkristalan kedalam pikiran tentang suatu obyek, atau segala bentuk sesuatu eksternalisasi yang telah dilakukan dilihat kembali pada kenyataan dilingkuan objektif. Pada momen ini dapat memunculkan sebuah pemaknaan baru/tipifikasi. Momen ini merupakan hasil dari kenyataan ekternalisasi yang kemudia mengejawantah (mewujudkan) sebagai suatu kenyataan objektif yang sui generis (unik).

Pada momen ini juga terdapat proses pembedaan antara dua realitas sosial yaitu realitas diri individu (subyektif) dan realitas sosial lain yang berada

(28)

45 diluarnya, sehingga menyebabkan realitas sosial itu menjadi sebuah realitas yang objektif. Dalam proses konstruksi sosial, proses ini disebut sebagai interaksi sosial melalui pelembagaan dan legitimasi. Dalam pelembagaan dan legitimasi tersebut, individu menarik subyektifitasnya menjadi dunia objektif melalui interaksi sosial yang dibangun secara bersama.

3. Internalisasi

Momen internalisasi adalah sebuah proses suatu pemahaman atau penafsiran individu secara langsung atas peristiwa objektif sebagai pengungkapan makna atau tipifikasi. Dalam proses internalisasi, individu mengidentifikasikan diri dengan berbagai lembaga sosial, dimana individu tersebut menjadi anggotanya. Selain itu, proses internalisasi diperoleh individu melalui proses sosialisasi primer yang didapat individu pada saat masa kecil dan sosialisasi sekunder didapat individu pada usia dewasa pada dunia objektif masyarakatnya.

Proses internalisasi berlangsung karena adanya upaya untuk identifikasi.

Individu mengoper peranan dan sikap orang-orang yang berpengaruh, serta menginternalisasikan dan menjadikannya peranan sikap dirinya. Dengan mengidentifikasi orang-orang yang berpengaruh itulah individu mampu mengidentifikasi dirinya sendiri, untuk memperoleh suatu identitas yang secara subjektif koheren dan masuk akal. Ujung dari fase internalisasi adalah terbentunya sebuah identitas. Identitas dianggap sebagai unsure kunci dari kenyataan subyektif, yang juga berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas tersebut dibentuk oleh proses-proses sosial. maka, bentuk proses sosial yang terjadi mempengaruhi bentuk identitas seorang individu, apakah identitas dipertahankan, dimodifikasi, atau bahkan dibentuk ulang.

Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dengan masyarakat. Pada tahap ini pula individu melakukan sosialisasi dan resosialisasi kepada masyarakat (Berger & Luckman, 1990).

Ketiga momen atau proses dialektika tersebut akan berjalan dan saling berkaitan satu sama lain, sehingga pada prosesnya semua akan kembali ke tahap internalisasi dan begitu seterusnya. Kenyataan hidup sehari-hari dialami bersama oleh individu-individu.

Pengalaman terpenting individu-individu berlangsung dalam situasi tatap muka, sebagai proses interaksi sosial. Dalam situasi seperti ini individu terus-menerus saling

(29)

46 bersentuhan, berinteraksi dan berekspresi. Dalam situasi ini pula terjadi interpretasi dan refleksi. Interaksi tatap muka sangat memungkinkan mengubah skema-skema tipifikasi individu. Skema tipifikasi adalah bernegosiasi terus-menerus dalam situasi tatap muka.

Tipifikasi yang ada dan baru terbentuk secara berkesinambungan. Hingga pada akhirnya individu membentuk tipifikasi dalam sebuah makna atau konstruksi dan perilaku baru apabila terdapat nilai-nilai baru didalamnya.

Teori ini dapat dijadikan acuan dalam melihat realitas ritual Keboan. Konstruksi sosial erat kaitannya dengan hubungan sosial yang terbentuk melalui interaksi antara individu dengan keluarga maupun lingkungannya. Dalam hal ini pelaku ritual Keboan mulai mengenal dan memahami ritual Keboan setelah disosialisasikan oleh keluarga maupun lingkungan terdekatnya. Kemudian proses ini berlanjut pada saat individu mulai meyakini dan mempelajari ritual Keboan sebagai realitas subjektif. Caranya dengan mengikuti ritual Keboan. Hal ini menurut berger dinamakan proses internalisasi.

Berlangsungnya proses eksternalisasi, di mana hal ini sudah menjadi sifat dasar dari manusia. Saat individu berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan sosio kultural. Individu akan memiliki pemahaman dan pemaknaan yang berbeda dari setiap individu. Pemahaman yang didapat saat proses internalisasi akan mengalami perbedaan makna atas kepercayaan masyarakat sesuai dengan individu yang mengkonstruksi tradisi tersebut. Kemudian akan menjadi sebuah kenyataan subjektif dalam konstruksi individu. Proses eksternalisasi ini erat kaitannya dengan ritual Keboan dan lingkungannya. Kemudian membentuk sebuah realitas obyektif. Proses objektivasi ketika masyarakat melakukan upaya pelestarian ritual Keboan. Hal ini terjadi karena ritual Keboan sudah diketahui oleh seluruh warga masyarakat dan dijalankan oleh masyarakat suku Osing Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Berikut kerangka berfikir penelitian:

(30)

47 Gambar 2.1 Peta Konsep Teori Kontruksi Sosial Peter L. Berger

Ritual Keboan Internalisasi

Eksternalisasi Objektifikasi

Gambar

Tabel 2.1 Literatur Review

Referensi

Dokumen terkait

manfaat penelitian, telah pustaka, kerangka teoritik, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika bembahasan. Bab kedua, penyusun memaparkan tinjauan umum

Di bawah ini merupakan kerangka pikir penulis dalam menelaah penulisan tersebut, dimana keseluruhan konteks dasar struktur isi dari penulisan ini adalah bagaimana

Abstrak: Buku ajar IPA yang digunakan saat pembelajaran dilakukan oleh guru bersama peserta didik seharusnya mampu mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajari, membiasakan

1. Pada kondisi lingkungan ekstrem, yang dipengaruhi oleh beban angin, gelombang, dan operasional respon maksimum pada struktur yang sebenarnya terjadi adalah σ max = 96

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas

Pada saat transformator memberikan keluaran sisi positif dari gelombang AC maka dioda dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC tersebut

Sehingga di dalam sebuah jaringan komputer snort dapat kita manfaatkan untuk mendeteksi adanya serangan pada sistem kita berdasarkan signature yang dimilikinya dan

Mahasiswa juga melakukan konsultasi dengan guru pembimbing guna persiapan perangkat pembelajaran yang meliputi: program tahunan, program semester, silabus, Rencana