commit to user
ANALISA
SEA LEVEL RISE
DARI DATA SATELIT
ALTIMETRI
TOPEX/POSEIDON
,
JASON
-
1
DAN
JASON-2
DI PERAIRAN LAUT PULAU JAWA
PERIODE 2000 – 2010
Disusun Oleh:
HASTHO WURIATMO
M0206041
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Sains
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
HALAMAN PENGESAHANSkripsi ini dibimbing oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
Sorja Koesuma, S.Si, M.Si.
NIP. 19720801 200003 1 001
Mohtar Yunianto, S.Si, M.Si.
NIP. 19800630 200501 1 001
Dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 20 Juli 2011
Anggota Tim Penguji
1. Budi Legowo, S.Si, M.Si. (...)
NIP. 19730510 199903 1 002
2. Dra. Riyatun, M.Si. (...)
NIP. 19680226 199402 2 001
Disahkan oleh
Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Ketua Jurusan Fisika,
commit to user
iii
PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“ANALISA SEA LEVEL RISE DARI DATA SATELIT ALTIMETRI
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN JASON-2 DI PERAIRAN LAUT PULAU
JAWA PERIODE 2000 – 2010” belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga
belum pernah ditulis atau dipublikasikan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
PERNYATAAN PUBLIKASISebagian dari skripsi saya yang berjudul “ANALISA SEA LEVEL RISE
DARI DATA SATELIT ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN
JASON-2 DI PERAIRAN LAUT PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010” telah
dipresentasikan dalam :
Seminar dan Konferensi Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Bervisi
SETS “Kerjasama Antarbidang Ilmu Berlandaskan Visi SETS” oleh Ikatan
Cendekiawan SETS Indonesia (ICSI) UNNES Semarang pada tanggal 30 April
2011 dengan Judul “ANALISA SEA LEVEL RISE DARI DATA SATELIT
ALTIMETRI DI PERAIRAN PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010”
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
v
ANALISA SEA LEVEL RISEDARI DATA SATELIT ALTIMETRI
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN JASON-2
DI PERAIRAN LAUT PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010
ABSTRAK
Meningkatnya suhu global bumi yang sering disebut dengan Global Warmingmerupakan faktor utama yang menyebabkan peningkatan ketinggian air laut (sea level rise). Kenaikan permukaan air laut ini dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pemuaian air laut sehingga meningkatkan intensitas dan frekuensi banjir serta dapat terjadi penggenangan suatu wilayah daratan. Karena dampak yang diakibatkan cukup signifikan, maka perlu dilakukan pemantauan kedudukan tinggi permukaan air laut di wilayah perairan laut Indonesia khususnya di perairan laut pulau Jawa.
Pemantauan ini dilakukan pada perairan pulau Jawa dalam kurun waktu 10 tahun dengan menggunakan data satelit altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 dan Jason-2. Pengamatan dan analisanya dipilih 6 lokasi penelitian, yaitu di perairan laut Jakarta, Semarang, Surabaya, Pangandaran, Jogjakarta dan Prigi. Data satelit tersebut merupakan data global, untuk mendapatkan data penelitian dilakukan konversi data dan pemfilteran sesuai dengan posisi lintang dan bujur daerah penelitian dengan luasan 0,5ox0,5o. Dalam penelitian ini, software Matlab digunakan untuk pengolahan datanya.
Berdasarkan hasil penelitian telah terjadi fenomena sea level rise (SLR) yang bervariasi. Diperoleh sea level risedi Jakarta sebesar 2,5 ± 0,24 mm/tahun, Semarang sebesar 2,16 ± 0,20 mm/tahun, Surabaya 2,72 ± 0,19 mm/tahun, Pangandaran 0,71 ± 0,33 mm/tahun, Jogjakarta 0,91 ± 0,38 mm/tahun dan Prigi 1,3 ± 0,38 mm/tahun. Sehingga rata – rata sea level rise di wilayah perairan laut utara pulau jawa sebesar 2,46 ± 0,21 mm/tahun dan di wilayah perairan laut selatan pulau jawa sebesar 0,97 ± 0,36 mm/tahun. Berdasarkan pola grafik altimetri dan grafik pasang surut terdapat adanya korelasi antara data altimetri dan data pasang surut, dimana terbentuk pola grafik yang sama. Sehingga grafik altimetri telah menunjukkan kenaikan muka laut dengan benar.
commit to user
SEA LEVEL RISE FROM SATELLITE ALTIMETRY
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 ANDJASON-2DATA
IN THE JAWA ISLAND IN 2000 – 2010 PERIOD
ABSTRACT
Global Warming is caused by global temperatures of the earth. It is the main factor causing sea level rise. Sea level rise will cause expansion of the sea, so that it will increase the intensity and frequency of floods and inundation occur in the land. Because it significant impact, it is important to monitor the sea level in Indonesia sea. Especially in the sea of the Jawa island.
Monitoring of sea level rise is done in the sea of the Java island at the past 10 years using data of altimetry satellite: Topex/Poseidon, Jason-1 and Jason-2. Observation and analysis are selected in six sites, Jakarta, Semarang, Surabaya, Pangandaran, Jogjakarta and Prigi. Data of the satelitte is global data, for getting data research done by data conversing and data filtering according to the latitude and longitude of the research with 0,5ox0,5o interval. In this research, Matlab software used for data processing.
Based on the research, it have happened a sea level rise phenomena variously. Retrieved sea level rise in Jakarta at 2,5 ± 0,24 mm / year, Semarang of 2,16 ± 0,20 mm / year, Surabaya 2,72 ± 0,19 mm / year, Pangandaran 0,71 ± 0,33 mm / year, Jogjakarta 0.91 ± 0,38 mm / year and Prigi 1,3 ± 0,38 mm / year. So the average of sea level rise in the north sea of Java island equal 2,46 ± 0,21 mm / year and in the south sea of Java island equal 0,97 ± 0,36 mm / year. Based on pattern of the altimetry graph and tide graph where got the same pattern.
commit to user
vii MOTTO
”Sapa Kang Teteken Kanthi Tekun,
Bakal Katekan Kang Dadi Tekade”
”Siapa yang berusaha dengan sungguh – sungguh,
akan tercapai yang menjadi cita – citanya”
Kupersembahkan untuk :
Ibu tercinta, Sudarmi, Bapak tercinta, Sarwanto, Kakak – kakak ku,
commit to user
UCAPAN TERIMA KASIHPenulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penelitian ini. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Sudarmi,
2. Alm. Sarwanto,
3. Sorja Koesuma, M.Si,
4. Mohtar Yunianto, S.Si,
5. Artono Dwijo Sutomo, M.Si,
6. Prihastuti Heru Saputri,
7. Kasikun,
8. Endang Wijayanti,
9. Danu Harjanto,
10. Sri Handayani,
11. Fuad Purnomo,
12. Fathoni Sukma H.,
13. Rosyid,
14. Ismail S.Si,
15. Fajriyah Mawar S.Si,
16. Sigit Winanto S.Si,
17. Nanang Agus S. S.Si,
18. Mukhlis Herwin M.,
19. Sumaryanti S.Si,
20. Ari Yuni Ani,
21. Ahmad Toriq,
commit to user
ix
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaykum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir (TA) yang berjudul ” Analisa Sea Level Rise Dari
Data Satelit Altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 Dan Jason-2 Di Perairan Laut
Pulau Jawa Periode 2000 – 2010 “ ini dengan baik. Tugas Akhir (TA) ini menjadi
salah satu persyaratan akademis untuk menyelesaikan jenjang perkuliahan
program strata 1 (S-1) di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret.
Dalam pelaksanaan dan penyusunan laporan Tugas Akhir (TA) ini,
tentunya tidak terlepas dari adanya dorongan dan bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ahmad Marzuki, S. Si., Ph.D., selaku ketua jurusan Fisika FMIPA
UNS.
2. Bapak Sorja Koesuma, S.Si, M. Si., selaku pembimbing I di jurusan Fisika
FMIPA UNS.
3. Bapak Mohtar Yunianto, S.Si., M.Si., selaku pembimbing II di jurusan
Fisika FMIPA UNS.
4. Alm. Bapak Sarwanto dan Ibu Sudarmi tercinta, yang selalu memberi
dukungan, doa, semangat dan kasih sayang.
5. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik dalam
pelaksanaan Tugas Akhir maupun dalam penyusunan laporan Tugas Akhir
yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Tiada gading yang tak retak dan penyusun menyadari bahwa laporan yang
commit to user
materi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan di
masa mendatang.
Akhir kata, semoga laporan Tugas Akhir (TA) ini bermanfaat bagi
semuanya, khususnya bagi penulis, instansi terkait dan bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaykum Wr.Wb.
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
TIALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini dibimbing oleh :
NIP. 19720801 200003
I 001
Dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi pada :
Hari
: RabuTanggai : 20 Juli 20i
i
Anggota Tim Penguji
I Rrrrli f .ponu'n S Si M Si I\nP. 19730510 199903 1002
2.
Dra. Riyatun. M.Si.NrP. 19680226 t994A2 2 A0l
Nm. 19800630
200501I 001
dan Ilmu Pengetahuan Alam
tot*\ft
a{;q
\
'*,,?commit to user
PERNYATAAN KEASLIANDengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“ANALISA SEA LEVEL RISE DARI DATA SATELIT ALTIMETRI
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN JASON-2 DI PERAIRAN LAUT PULAU
JAWA PERIODE 2000 – 2010” belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga
belum pernah ditulis atau dipublikasikan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
iv
PERNYATAAN PUBLIKASI
Sebagian dari skripsi saya yang berjudul “ANALISA SEA LEVEL RISE
DARI DATA SATELIT ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN
JASON-2 DI PERAIRAN LAUT PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010” telah
dipresentasikan dalam :
Seminar dan Konferensi Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Bervisi
SETS “Kerjasama Antarbidang Ilmu Berlandaskan Visi SETS” oleh Ikatan
Cendekiawan SETS Indonesia (ICSI) UNNES Semarang pada tanggal 30 April
2011 dengan Judul “ANALISA SEA LEVEL RISE DARI DATA SATELIT
ALTIMETRI DI PERAIRAN PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010”
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
ANALISA SEA LEVEL RISEDARI DATA SATELIT ALTIMETRI
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 DAN JASON-2
DI PERAIRAN LAUT PULAU JAWA PERIODE 2000 – 2010
ABSTRAK
Meningkatnya suhu global bumi yang sering disebut dengan Global Warmingmerupakan faktor utama yang menyebabkan peningkatan ketinggian air laut (sea level rise). Kenaikan permukaan air laut ini dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pemuaian air laut sehingga meningkatkan intensitas dan frekuensi banjir serta dapat terjadi penggenangan suatu wilayah daratan. Karena dampak yang diakibatkan cukup signifikan, maka perlu dilakukan pemantauan kedudukan tinggi permukaan air laut di wilayah perairan laut Indonesia khususnya di perairan laut pulau Jawa.
Pemantauan ini dilakukan pada perairan pulau Jawa dalam kurun waktu 10 tahun dengan menggunakan data satelit altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 dan Jason-2. Pengamatan dan analisanya dipilih 6 lokasi penelitian, yaitu di perairan laut Jakarta, Semarang, Surabaya, Pangandaran, Jogjakarta dan Prigi. Data satelit tersebut merupakan data global, untuk mendapatkan data penelitian dilakukan konversi data dan pemfilteran sesuai dengan posisi lintang dan bujur daerah penelitian dengan luasan 0,5ox0,5o. Dalam penelitian ini, software Matlab digunakan untuk pengolahan datanya.
Berdasarkan hasil penelitian telah terjadi fenomena sea level rise (SLR) yang bervariasi. Diperoleh sea level risedi Jakarta sebesar 2,5 ± 0,24 mm/tahun, Semarang sebesar 2,16 ± 0,20 mm/tahun, Surabaya 2,72 ± 0,19 mm/tahun, Pangandaran 0,71 ± 0,33 mm/tahun, Jogjakarta 0,91 ± 0,38 mm/tahun dan Prigi 1,3 ± 0,38 mm/tahun. Sehingga rata – rata sea level rise di wilayah perairan laut utara pulau jawa sebesar 2,46 ± 0,21 mm/tahun dan di wilayah perairan laut selatan pulau jawa sebesar 0,97 ± 0,36 mm/tahun. Berdasarkan pola grafik altimetri dan grafik pasang surut terdapat adanya korelasi antara data altimetri dan data pasang surut, dimana terbentuk pola grafik yang sama. Sehingga grafik altimetri telah menunjukkan kenaikan muka laut dengan benar.
commit to user
vi
SEA LEVEL RISE FROM SATELLITE ALTIMETRY
TOPEX/POSEIDON, JASON-1 ANDJASON-2DATA
IN THE JAWA ISLAND IN 2000 – 2010 PERIOD
ABSTRACT
Global Warming is caused by global temperatures of the earth. It is the main factor causing sea level rise. Sea level rise will cause expansion of the sea, so that it will increase the intensity and frequency of floods and inundation occur in the land. Because it significant impact, it is important to monitor the sea level in Indonesia sea. Especially in the sea of the Jawa island.
Monitoring of sea level rise is done in the sea of the Java island at the past 10 years using data of altimetry satellite: Topex/Poseidon, Jason-1 and Jason-2. Observation and analysis are selected in six sites, Jakarta, Semarang, Surabaya, Pangandaran, Jogjakarta and Prigi. Data of the satelitte is global data, for getting data research done by data conversing and data filtering according to the latitude and longitude of the research with 0,5ox0,5o interval. In this research, Matlab software used for data processing.
Based on the research, it have happened a sea level rise phenomena variously. Retrieved sea level rise in Jakarta at 2,5 ± 0,24 mm / year, Semarang of 2,16 ± 0,20 mm / year, Surabaya 2,72 ± 0,19 mm / year, Pangandaran 0,71 ± 0,33 mm / year, Jogjakarta 0.91 ± 0,38 mm / year and Prigi 1,3 ± 0,38 mm / year. So the average of sea level rise in the north sea of Java island equal 2,46 ± 0,21 mm / year and in the south sea of Java island equal 0,97 ± 0,36 mm / year. Based on pattern of the altimetry graph and tide graph where got the same pattern.
commit to user
MOTTO”Sapa Kang Teteken Kanthi Tekun,
Bakal Katekan Kang Dadi Tekade”
”Siapa yang berusaha dengan sungguh – sungguh,
akan tercapai yang menjadi cita – citanya”
Kupersembahkan untuk :
Ibu tercinta, Sudarmi, Bapak tercinta, Sarwanto, Kakak – kakak ku,
commit to user
viii
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penelitian ini. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Sudarmi,
2. Alm. Sarwanto,
3. Sorja Koesuma, M.Si,
4. Mohtar Yunianto, S.Si,
5. Artono Dwijo Sutomo, M.Si,
6. Prihastuti Heru Saputri,
7. Kasikun,
8. Endang Wijayanti,
9. Danu Harjanto,
10. Sri Handayani,
11. Fuad Purnomo,
12. Fathoni Sukma H.,
13. Rosyid,
14. Ismail S.Si,
15. Fajriyah Mawar S.Si,
16. Sigit Winanto S.Si,
17. Nanang Agus S. S.Si,
18. Mukhlis Herwin M.,
19. Sumaryanti S.Si,
20. Ari Yuni Ani,
21. Ahmad Toriq,
commit to user
KATA PENGANTARAssalamu’alaykum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Tugas Akhir (TA) yang berjudul ” Analisa Sea Level Rise Dari
Data Satelit Altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 Dan Jason-2 Di Perairan Laut
Pulau Jawa Periode 2000 – 2010 “ ini dengan baik. Tugas Akhir (TA) ini menjadi
salah satu persyaratan akademis untuk menyelesaikan jenjang perkuliahan
program strata 1 (S-1) di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret.
Dalam pelaksanaan dan penyusunan laporan Tugas Akhir (TA) ini,
tentunya tidak terlepas dari adanya dorongan dan bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Ahmad Marzuki, S. Si., Ph.D., selaku ketua jurusan Fisika FMIPA
UNS.
2. Bapak Sorja Koesuma, S.Si, M. Si., selaku pembimbing I di jurusan Fisika
FMIPA UNS.
3. Bapak Mohtar Yunianto, S.Si., M.Si., selaku pembimbing II di jurusan
Fisika FMIPA UNS.
4. Alm. Bapak Sarwanto dan Ibu Sudarmi tercinta, yang selalu memberi
dukungan, doa, semangat dan kasih sayang.
5. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik dalam
pelaksanaan Tugas Akhir maupun dalam penyusunan laporan Tugas Akhir
yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Tiada gading yang tak retak dan penyusun menyadari bahwa laporan yang
commit to user
x
materi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran guna perbaikan di
masa mendatang.
Akhir kata, semoga laporan Tugas Akhir (TA) ini bermanfaat bagi
semuanya, khususnya bagi penulis, instansi terkait dan bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaykum Wr.Wb.
Surakarta, 4 Juli 2011
commit to user
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iii
PERNYATAAN PUBLIKASI ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
MOTTO ... vii
PERSEMBAHAN... vii
UCAPAN TERIMA KASIH ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang... 1
I.2. Perumusan Masalah ... 2
I.3.Batasan Masalah ... 2
I.4.Tujuan Penelitian... 3
I.5. Manfaat Penelitian ... 3
I.6.Sistematika Penulisan ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. 1. Gelombang Mikro ... 5
II. 2. Pemantulan Gelombang... 7
II. 3. Prinsip Dasar Satelit Altimetri ... 9
II. 4. SatelitTopex/Poseidon... 12
II. 5. SatelitJason-1... 13
II. 6. SatelitJason-2... 14
commit to user
xii
II. 8. Mean Sea LeveldanGeoid... 17
II. 9. Sea Surface Height(SSH) danSea Level Anomaly(SLA) 18 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. 1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 19
III. 2. Peralatan Penelitian ... 19
III. 3. Bahan Penelitian... 20
III. 4. Prosedur dan Pengumpulan Data ... 20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV. 1. Hasil Penelitian ... 25
IV. 2. Pembahasan ... 28
IV. 2. 1. Trend Linier Sea Level Risedi Laut Pulau Jawa 28 IV. 2. 2. Keterkaitan antara Arus Laut Indonesia dan Sea Level Risedi Perairan Laut Pulau Jawa... 32
IV. 2. 3. Korelasi antara Data Satelit Altimetri dan Data PasangSurut ... 33
IV. 2. 4. Pengaruh FenomenaEl – NinodanLa – Nina terhadap Sea Level Risedi Perairan Laut Pulau Jawa... 35
BAB V PENUTUP V. 1. Kesimpulan ... 42
V. 2. Saran ... 43
DAFTAR PUSTAKA ... 44
commit to user
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Spektrum gelombang elektromagnet (Pain H.J ,2005) ... 5
Gambar 2.2. Panjang gelombang dan frekuensi gelombang elektromagnet
(CNES & CLS, 2010) ... 6
Gambar 2.3. Arah gelombang pada batas dua medium yang berbeda... 8
Gambar 2.4. Satelit Altimetri (Fu and Cazenave , 2001)... 10
Gambar 2.5. Koreksi – koreksi pada satelit altimetri
(Fu and Cazenave , 2001) ... 11
Gambar 2.6. Geoid dan elipsoid (Fraczek, 2003)... 18
Gambar 3.1. Lokasi penelitian analisa sea level rise... 19
Gambar 3.2. Diagram alir penelitian ... 21
Gambar 3.3. Diagram alir pemrograman ... 22
Gambar 4.1. Sea level riseJakarta periode 2000-2010... 26
Gambar 4.2. Sea level riseSurabaya periode 2000-2010 ... 26
Gambar 4.3. Sea level riseSemarang periode 2000-2010 ... 27
Gambar 4.4. Sea level risePangandaran periode 2000-2010... 27
Gambar 4.5. Sea level riseJogjakarta periode 2000-2010... 28
Gambar 4.6. Sea level risePrigi periode 2000-2010 ... 28
Gambar 4.7. Sea level riseutara pulau Jawa... 31
Gambar 4.8. Sea level riseselatan pulau Jawa... 31
Gambar 4.9. Arus Laut Indonesia (www.ilmukelautan.com, 2011) ... 32
Gambar 4.10. (a) Perbandingan sea level rise(SLR) data pasut dan
data altimetri di Prigi ... 34
(b) Perbandingan sea level rise(SLR) data pasut dan
data altimetri di Pangandaran ... 35
Gambar 4.11. Fenomena El-Nino (Aviso CNES, 2010)... 36
Gambar 4.12. Fenomena La-Nina (Aviso CNES, 2010) ... 36
Gambar 4.13. Sea Surface TemperatureSamudera Pasifik
bulan November 2002 (Aviso CNES, 2010) ... 37
commit to user
xiv
(Aviso CNES, 2010) ... 38
Gambar 4.15. Sea level riseutara pulau Jawa... 38
Gambar 4.16. Sea level riseselatan pulau Jawa... 39
Gambar 4.17. Sea Level AnomalySamudera Pasifik, Desember 2006
commit to user
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Karakteristik dari satelitTopex/Poseidon
(NASA & CNES, 1992) ... 12
Tabel 2.2. Karakteristik dari satelitJason-1(NASA, 2001)... 14
Tabel 2.3. Karakteristik dari satelitJason-2(NASA, 2008)... 15
Tabel 3.1. Lokasi penelitiansea level rise... 19
Tabel 4.1.Sea level riseperairan utara pulau Jawa... 29
Tabel 4.2.Sea level riseperairan selatan pulau Jawa... 30
Tabel 4.3. Perbedaan nilaisea level riseperairan utara pulau Jawa
dansea level riseperairan selatan pulau Jawa ... 33
Tabel 4.4. Perbandingan antara SLA hasil penelitian di utara pulau Jawa
dan SLA dariCentre National d’Etudes Spatiales(CNES)... 39
Tabel 4.5. Perbandingan antara SLA hasil penelitian
Di selatan pulau Jawa dan SLA dari
commit to user
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I. A. Data Sea Level Anomaly(SLA) Utara Pulau Jawa
Periode 2000-2010... 48
B. Data Sea Level Anomaly (SLA) Selatan Pulau Jawa
Periode 2000-2010... 51
Lampiran II. Data Pasang Surut Cilacap dan Prigi 2008-2010... 54
Lampiran III. LISTING PROGRAM MATLAB... 55
Lampiran IV. DATA PENGUBAHAN CYCLEDAN PASS
commit to user
BAB IPENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang Masalah
Secara umum bumi dapat dibagi menjadi 3 struktur, yaitu terdiri dari
lapisan atmosfer, litosfer dan hidrosfer. Lapisan atmosfer merupakan lapisan
udara yang menyelubungi lapisan litosfer dan hidrosfer pada lapisan ini
merupakan tempat terjadinya hujan. Lapisan litosfer berupa lapisan padat yang
terdiri dari tanah dan batuan sedangkan lapisan hidrosfer merupakan lapisan air
yang menutupi sebagian lapisan litosfer dan juga meresap di dalam lapisan litosfer
misalkan laut, sungai, dan danau.
Pemanasan global yang sering disebut dengan istilah Global Warming
dapat terjadi karena meningkatnya kadar gas CO2, CH4, CFC dan gas lainnya yang mempengaruhi lapisan ozon di atmosfer. Pemanasan global ini akan
menyebabkan mencairnya es abadi di pegunungan es serta di daerah kutub utara
dan kutub selatan (Artik dan Antartika). Hal ini merupakan faktor yang
menyebabkan kenaikan permukaan air laut (sea level rise). Pemuaian air laut yang
diakibatkan oleh pemanasan global ini dalam kurun waktu yang cukup lama akan
menimbulkan kenaikan ketinggian muka air laut sehingga akan mempertinggi
abrasi pantai, erosi garis pantai, dapat terjadi penggenangan suatu wilayah daratan
dan bahkan dapat menenggelamkan pulau – pulau kecil serta meningkatnya
intensitas dan frekuensi banjir.
Pemanasan global dapat menyebabkan terjadinya perubahan kedudukan
muka laut termasuk di Indonesia yang memiliki luas perairan sekitar 70% dari
luas keseluruhan wilayahnya (UNEP dalam Shinta, 2009). Indonesia yang
merupakan negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau dengan total
luas daratan 195 juta hektar. Terdapat 5 pulau terbesar yaitu Kalimantan,
Sumatera, Irian Jaya (Papua), Sulawesi dan Jawa. Indonesia mempunyai garis
pantai yang panjang kira – kira 81.000 km. Sebagian besar kota – kota besar di
Indonesia berada di kawasan pesisir pantai. Sehingga pengaruh dari mean sea
level rise (MSLR) bagi Indonesia dapat menjadi bencana (Hadikusumah, 1995).
commit to user
Mayoritas penduduk Indonesia yang berada di pesisir pantai akan merasakan efek
yang cukup signifikan dari adanya kenaikan permukaan air laut tersebut.
Khususnya di daerah pulau Jawa yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di
Indonesia, 58,70% dari total jumlah penduduk Indonesia(BPS,2010).
Secara geografis pulau Jawa terletak 6°00′ LS- 8°38′ LS dan 105°00′BT
- 114°30′ BT. Pulau Jawa di sebelah utara dibatasi oleh Laut Jawa, di sebelah
timur dibatasi oleh selat Bali, di sebelah selatan dibatasi oleh Samudra Hindia dan
di sebelah barat dibatasi oleh selat Sunda. Pulau Jawa yang sebagian besar
memiliki kota – kota besar yang berhadapan langsung dengan perairan akan
merasakan efek yang cukup signifikan, misalnya ibu kota Jakarta dan Semarang
yang setiap tahunnya dilanda banjir. Hal ini sangat berpengaruh terhadap stabilitas
pembangunan di pulau Jawa. Karena meningkatnya intensitas dan frekuensi
banjir, kerusakan ekosistem di pesisir pantai dan meningkatnya dampak badai di
pesisir.
Dengan berkembangnya teknologi satelit, dalam hal ini dengan adanya
satelit altimetri yang khusus diperuntukkan untuk pengamatan kedudukan
ketinggian muka laut secara terus menerus, termasuk dalam hal ini pemantauan
ketinggian muka laut di pulau Jawa.
I. 2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dibuat rumusan
masalah yaitu bagaimana proses dan analisa untuk memperoleh data sea level rise
(SLR) untuk wilayah perairan laut pulau Jawa dengan menggunakan software
Matlab7.0 dari data satelitTopex/Poseidon, Jason-1 danJason-2.
I. 3. Batasan Masalah
Batasan masalah dari penelitian ini adalah :
1. Lokasi penelitian mengambil 6 titik daerah studi di wilayah perairan laut
Pulau Jawa yaitu di perairan laut sekitar Jakarta, Semarang, Surabaya,
commit to user
2. Data satelit altimetri yang digunakan dalam jangka waktu 10 tahun yaitu data
dari tahun 2000 sampai tahun 2010.
3. Data yang digunakan adalah data dari satelit altimetri Topex/Poseidon,
Jason-1 dan Jason-2.
I.4. Tujuan Penelitian
Adapun untuk tujuan dari Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Mengolah data yang diperoleh dari satelit altimetri sehingga diperoleh data
sea level rise(SLR) untuk perairan laut pulau Jawa.
2. Mengetahui fenomena alam perubahan ketinggian permukaan air laut di
perairan laut pulau Jawa.
3. Dapat menganalisa tingkat kenaikan permukaan air laut di perairan laut
pulau Jawa per tahunnya dalam kurun waktu 10 tahun (2000 – 2010).
I. 5. Manfaat Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai gambaran untuk studi – studi mengenai pemanfaatan teknologi satelit
altimetri.
2. Mendapatkan indikasi awal mengenai trend kenaikan muka laut di
beberapa wilayah perairan laut pulau Jawa.
3. Memberikan wawasan tentang pemanfaatan data satelit altimetri untuk
diterapkan bagi studi-studi fenomena kelautan pulau Jawa (seperti El Nino,
La Nina, Global Warming, dll).
I. 6. Sistematika Penulisan
Penulisan laporan Tugas Akhir (TA) ini mengikuti sistematika penulisan
sebagai berikut :
BAB I . Pendahuluan, bab ini berisi latar belakang Tugas Akhir (TA), tujuan,
manfaat pelaksanaan Tugas Akhir (TA), perumusan masalah, dan terdapat pula
commit to user
BAB II . Tinjauan Pustaka, bab ini berisi tentang beberapa teori yang mendukung
proses pengolahan data kenaikan tinggi muka laut atau sea level rise (SLR) dari
satelit altimetri dan keterangan-keterangan yang dapat mempermudah pengertian
tentang beberapa istilah yang menyangkut sea level rise (SLR). Selain itu juga
terdapat teori tentang satelit altimetri yang bisa menyediakan informasi data satelit
altimetri.
BAB III. Metodologi Penelitian, dalam bab ini membahas tentang metode
pengolahan data dan keterangan yang mendukung pengolahan data tersebut.
BAB IV. Pembahasan, bab ini berisi tentang pembahasan hasil dan analisa dari
Tugas Akhir (TA) yang disesuaikan berdasarkan tujuan dari penulisan Tugas
Akhir (TA) ini.
BAB V . Penutup, pada bab ini memuat beberapa kesimpulan dan saran dari
commit to user
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Gelombang Mikro
Di dalam sebuah atom, elektron bergerak dari tingkat energi tinggi ke
tingkat energi rendah sehingga akan menghasikan gelombang elektromagnet yang
mempunyai frekuensi dan panjang gelombang (Pain, 2005). Karena terjadi
perubahan kecepatan muatan listrik maka akan menimbulkan gelombang
elektromagnet. Spektrum gelombang elektromagnet dapat diklasifikasi menurut
panjang gelombang dan frekuensinya, salah satu jenis spektrum gelombang
elektromagnet yaitu gelombang mikro. Gelombang ini tidak dapat dilihat oleh
mata manusia karena mata manusia hanya peka terhadap radiasi elektromagnetik
kira – kira 4 x 1014 – 7,5 x 1014 Hz yaitu cahaya tampak. Dalam spektrum elektromagnet, gelombang mikro mempunyai frekuensi pada rentang 0,3 – 300
GHz antara gelombang inframerah dan gelombang radio. (J. Anwar et al, 2011).
Gelombang mikro memiliki panjang gelombang yang berorde beberapa sentimeter
dan frekuensi yang mendekati frekuensi resonansi alami molekul air dalam zat
[image:30.612.129.508.209.620.2]padat dan cairan (Tipler, 2001).
Gambar 2.1.Spektrum gelombang elektromagnet (Pain H.J ,2005)
Dalam teknologi satelit altimetri sinyal yang dipancarkan untuk
mengetahui fenomena lautan oleh pemancar pada satelit altimetri merupakan
commit to user
dan dipantulkan oleh lautan kemudian gelombang hasil pemantulan diterima
kembali oleh satelit altimetri. Frekuensi dalam gelombang mikro yang digunakan
[image:31.612.169.470.176.466.2]oleh satelit altimetri dapat dilihat pada Gambar 2.2:
Gambar 2.2.Panjang gelombang dan frekuensi gelombang elektromagnet (CNES & CLS, 2010)
Adapun gelombang mikro yang digunakan yaitu (CNES & CLS, 2010):
1. Kuband(13.6 GHz)
Kuband merupakan frekuensi gelombang mikro yang paling sering
digunakan (digunakan untukTopex/Poseidon,Jason-1, Envisat, ERS, dll).
Penggunaan bandwidth frekuensi ini sesuai dengan aturan internasional untuk
aplikasi khusus, frekuensi ini peka terhadap gangguan atmosfer, dan gangguan
elektron ionosfer.
2. C band(5.3 GHz)
C banddikenal lebih peka daripada Ku banduntuk gangguan ionosfer, dan
kurang peka terhadap efek air di atmosfer. Fungsi utamanya adalah untuk
commit to user
3. S band(3.2 GHz)S bandjuga digunakan dalam pengukuran bersama dengan Ku band, untuk
alasan yang sama seperti C band.
4. Kaband(35 GHz)
Sinyal frekuensi Ka band memungkinkan pengamatan yang lebih baik
pada es, hujan, zona pesisir, daratan (hutan, dll) dan gelombang tinggi. Karena
peraturan internasional yang mengatur penggunaan bandwidth gelombang
elektromagnetik, pada frekuensi ini tersedia bandwidth yang lebih besar
dibandingkan untuk frekuensi yang lainnya, sehingga memungkinkan resolusi
yang lebih tinggi, terutama di dekat pantai. Frekuensi ini juga terpantul lebih baik
di atas es. Namun, karena kepekaan terhadap air atau uap air di troposfer yang
tinggi, yang berarti bahwa tidak ada hasil pengukuran yang dihasilkan ketika
tingkat hujan lebih tinggi dari 1,5 mm3/jam.
5. Dual-frequency altimeters
Menggunakan dua frekuensi adalah cara untuk memperkirakan jumlah
elektron pada ionosfer dan untuk memperkiraan tingkat hujan.
II. 2. Pemantulan Gelombang
Jarak antara dua nilai puncak gelombang yang berurutan (gelombang
transversal) atau jarak dari dua bagian pemampatan gelombang yang berurutan
(gelombang longitudinal) disebut panjang gelombang (λ). Waktu yang dibutuhkan
untuk menempuh satu gelombang penuh atau waktu yang ditempuh sepanjang
gelombang tersebut disebut periode (T). Sehingga hubungan antara panjang
gelombang dengan periode ini adalah :
= . ( 2.1 )
Sebuah gelombang datang dengan frekuensi sudut ω, merambat pada
medium 1 searah dengan sumbu x positif mendekati bidang batas dari arah kiri,
commit to user
Gambar 2.3.Arah gelombang pada batas dua medium yang berbeda (Supriyanto, 2007)
Pada Gambar 2.3 diperlihatkan x merupakan bidang batas antara dua
medium yang berbeda dan y merupakan garis normalnya. Gelombang yang tiba
pada bidang batas tersebut pada umumnya akan mengalami pemantulan dan
pembiasan. Andaikan gelombang datang dan gelombang pantul masing – masing
diungkapkan oleh gelombang datar sebagai berikut (Tjia, 1994):
Ei( , )= ( ) ( 2.2 )
Bi( , )= ( ) ( 2.3 )
dimana,
v =cepat rambat gelombang
k = bilangan gelombang ω= frekuensi sudut t =waktu
x =jarak
E=medan listrik
B=medan magnet
Saat bertemu bidang batas, akan terbentuk
E' ( , )= ′ ( ′ ) ( 2.4 )
E1
B1
k1
k’1
B’1
E’1 y
commit to user
B'1( , )= ′ ( ′ ) ( 2.5 )
dan diperoleh,
= ′ = / ( 2.6 )
= ′ ′ ( 2.7 )
dari kedua persamaan 2.6 dan 2.7 diatas diperoleh persamaan 2.8 yang berlaku
hukum fisika seperti halnya cahaya yakni hukum pemantulan (hukum Snellius)
dimana sudut datang ( ) sama dengan sudut pantul ( ′ ).
= ′ ( 2.8 )
II. 3. Prinsip Dasar Satelit Altimetri
Satelit altimetri merupakan salah satu teknologi yang terus dikembangkan
sampai saat ini untuk mengetahui dan mendapatkan data permukaan laut serta
fenomenanya. Satelit altimetri mempunyai jangkauan hampir seluruh bumi ini
merupakan gabungan dari teknik radar (mengukur jarak vertikal satelit dengan
permukaan laut) dan teknik penentuan posisi teliti ( orbit ). Satelit altimetri
mengirimkan pulsa radiasi dan mengukur interval waktu antara perambatan
gelombang radar yang dipancarkan satelit dan gelombang radar yang dipantulkan
oleh permukaan laut, kemudian diterima kembali oleh satelit sehingga ketinggian
permukaan laut dapat diketahui. Hasil pengukuran ini disebut jarak altimeter, nilai
R’ menyatakan suatu ketinggian satelit di atas permukaan laut. Seperti yang
ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini (Fu and Cazenave, 2001).
R = R’ -∑∆Rj ( 2.9)
dimana,
R’ : merupakan jarak satelit dengan permukaan laut yang dihitung berdasarkan
kecepatan cahaya dengan mengabaikan refraksi.
commit to user
Gambar 2.4. Satelit Altimetri (Fu and Cazenave , 2001)
Dikarenakan muka air laut yang selalu dinamis, pengukuran tidak sebatas
pada satu titik namun didapat dari hasil rerata nilai dari area footprint sinyal.
Dengan asumsi refraksi pada kecepatan cahaya diabaikan, maka persamaan
berikut menggambarkan jarak yang ditempuh sinyal satelit (Chelton et al dalam
Fu dan Cazenave, 2001).
= ∆ − − − − ( 2.10 )
dimana,
d = jarak yang ditempuh sinyal antara satelit menuju permukaan air laut
c = cepat rambat gelombang elektromagnet
Δt = interval waktu yang dibutuhkan gelombang untuk perjalanan dari satelit
ke permukaan laut kembali lagi ke satelit
Wtrop = koreksi troposfer elemen basah (Wet Troposphere Correction)
Dtrop = koreksi troposfer elemen kering (Dry Troposphere Correction)
hiono = koreksi ionosfer (Ionosphere Correction)
[image:35.612.128.512.123.509.2]commit to user
Jika tinggi satelit terhadap bidang referensi ellipsoidaadalah H, dan jarak
antara muka laut dan satelit adalah R, maka h merupakan perbedaan muka laut
dengan bidang referensi ellipsoidasehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
h = H – d ( 2.11 )
Penentuan ketelitan dari tinggi orbit H merupakan bagian dari penentuan
tinggi muka laut h. Ketelitian dari H dan d belum cukup untuk aplikasi yang
berkaitan dengan oseanografi. Tinggi permukaan air laut h pada persamaan 2.11
masih merupakan tinggi terhadap permukaan bidang referensi ellipsoida yang
masih dipengaruhi oleh efek geofisika sehingga masih diperlukan koreksi. Tinggi
muka laut (sea surface height) dipengaruhi oleh undulasi geoid terhadap bidang
ellipsoida (hg), variasi tinggi pasang surut (hT) dan pengaruh permukaan laut
terhadap tekanan atmosfer (ha). Faktor tekanan udara mengindikasikan bahwa
setiap kenaikan tekanan 1 mbar pada atmosfer akan mengakibatkan turunnya
ketinggian permukaan air laut sebesar 1 cm. dengan begitu tinggi muka laut
dinamik dapat diestimasi menggunakan persamaan sebagai berikut (Handoko,
2004) :
= − − − − ( 2.12 )
[image:36.612.135.504.213.678.2]commit to user
II. 4. Satelit Topex/Poseidon
Satelit Topex/Poseidon yang diluncurkan pada 10 Agustus 1992
merupakan hasil kerjasama antara badan antariksa Amerika NASA (National
Aeronatics and Space Administration) dengan badan antariksa Prancis CNES
(Centre National d’Etudes Spatiales). Dengan menggunakan sistem radar
altimetri, satelit mengukur ketinggian muka air laut untuk mempelajari perubahan
air laut di dunia (Fu et al, 1994). Satelit ini mempunyai sudut inklinasi orbit 66o, dengan periode 1 kali mengelilingi bumi selama 10 hari. Tujuan utama dari misi
Topex/Poseidonadalah (Benada, 1997) :
1. Mengukur tinggi muka air laut untuk tujuan studi dinamika laut yang
mencakup hitungan rerata maupun variasi arus permukaan dan pasang surut
lautan secara global
2. Memproses, memverifikasi, dan mendistribusikan data Topex/Poseidon
beserta data geofisika lainnya kepada pengguna
3. Meletakkan pondasi bagi keberlanjutan program pengamatan sirkulasi laut
dan variasinya dalam jangka waktu yang panjang.
Karakteristik dari satelit Topex/Poseidondigambarkan dalam tabel berikut
[image:37.612.185.451.487.686.2]ini :
Tabel 2.1.Karakteristik dari satelit Topex/Poseidon(NASA & CNES, 1992)
Karakteristik Data
Design lifetime 3 tahun
Panjang x lebar 5,5 m x 2,8 m
Panel surya 8,7 m x 3,3 m
Power 2100 Watt
Massa 2500 kg
Tinggi referensi (ekuatorial) 1336 km
Periode satu lintasan orbit 9,9156 hari
Jarak antar lintasan pada ekuator 315 km
commit to user
Satelit Topex/Poseidonmemberikan data terakhirnya pada 4 Oktober 2005
pada cycle ke-481. Misi Topex/Poseidon berakhir secara resmi pada tanggal 18
Januari 2006 untuk kemudian dilanjutkan oleh satelit Jason-1. (Aviso CNES,
2010).
II. 5. Satelit Jason-1
Satelit Jason-1 yang diluncurkan pada tanggal 7 Desember 2001
merupakan hasil kerjasama antara Amerika dan Perancis yaitu badan antariksa
Amerika NASA (National Aeronatics and Space Administration) dan badan
antariksa Prancis CNES (Centre National d’Etudes Spatiales). Satelit Jason-1
adalah misi lanjutan dari satelit altimetri yang sangat sukses yaituTopex/Poseidon
(Luthcke et al, 2003). Karakteristik serta tujuan yang sama dengan pendahulunya
yaitu untuk mengamati tinggi muka air laut secara global.
Berat sekitar 500 kilogram, Jason-1 hanya seperlima
berat Topex/Poseidon. Setelah peluncuran, Jason-1 akan memasuki orbit sekitar
10 sampai 15 kilometer (6 sampai 9 mil) di bawah ketinggian Topex/Poseidon,
satelit ini juga mempunyai sudut inklinasi orbit 66o. Selama beberapa minggu berikutnya, Jason-1 akan menggunakan pendorong untuk menaikkan dirinya
menjadi sama dengan ketinggian orbit Topex/Poseidon, dan kemudian bergerak di
belakang pendahulunya. (NASA, 2001).
Semua instrumen yang ada di satelit ini sama dengan yang berasal dari
Topex/Poseidontetapi beratnya lebih ringan dan lebih hemat energi. Orbitnya pun
tidak berubah dibandingkan dengan Topex/Poseidon sehingga melanjutkan
akuisisi pengukurannya (NASA, 2001). Karakteristik dari satelit Jason-1
commit to user
Tabel 2.2.Karakteristik dari satelit Jason-1 (NASA, 2001)
Karakteristik Data
Design lifetime 3 tahun
Ukuran 95,4 cm x 95,4 cm x 100 cm
Panel surya 2 buah 1,5 m x 0,8 m
Power 450 Watt
Massa 500 kg
Tinggi referensi (ekuatorial) 1336 km
Periode satu lintasan orbit 9,9156 hari
Jarak antar lintasan pada ekuator 315 km
Kecepatan di orbit 7,2 km/detik
Mengamati variasi lautan global merupakan misi utama dari Jason-1.
Orbit dari Jason-1, yang identik dengan Topex/Poseidon, dapat mencakup 90%
dari seluruh lautan di dunia setiap 9,9156 hari. Dalam klimatologi dan prediksi
iklim data altimetrik sangat dibutuhkan dalam mempelajari dan memprediksi
iklim, pada fenomena-fenomena seperti El Nino dan La Nina.
II. 6. Satelit Jason-2
Satelit Jason-2 yang diluncurkan pada tanggal 20 Juni 2008 yang
mempunyai misi yang sama dengan pendahulunya Jason-1 yaitu untuk
mengamati tinggi muka air laut secara global. Orbit dari satelit ini sama dengan
orbit Jason-1 sehingga kedua satelit ini bekerja secara tandem atau bekerja
bersama dalam 1 orbit. Periode 1 kali mengelilingi bumi yaitu 10 hari. Instumen
yang terdapat pada Jason-2pada dasarnya sama dengan instrumen yang terdapat
pada Jason-1 hanya lebih diperbarui teknologinya. Karakteristik dari satelit
commit to user
Tabel 2.3.Karakteristik dari satelit Jason-2 (NASA, 2008)
Karakteristik Data
Design lifetime 3 tahun
Ukuran 100 cm x 100 cm x 370 cm
Panel surya 2 buah 1,5 m x 0,8 m
Power 620 Watt
Massa 505 kg
Tinggi referensi (ekuatorial) 1336 km
Periode satu lintasan orbit 9,9156 hari
Jarak antar lintasan pada ekuator 315 km
Kecepatan di orbit 7,2 km/detik
II. 7. Koreksi pada Pengukuran Satelit Altimetri
Dalam proses pengukuran satelit altimetri masih dipengaruhi oleh
beberapa gangguan atau noise yang terjadi pada atmosfer maupun pada
permukaan bumi. Hal tersebut tidak dapat dihindari dan harus dihilangkan. Oleh
karena itu dibutuhkan koreksi untuk mengeliminasi gangguan tersebut. Koreksi
yang digunakan pada pengukuran satelit altimetri antara lain (NASA & CNES,
2003):
1. Koreksi Troposfer
Koreksi pada media rambat perlu dilakukan karena adanya gangguan
selama gelombang melewati atmosfer. Pada koreksi troposfer ini meliputi koreksi
troposfer kering (dry troposphere correction) dan koreksi troposfer basah (wet
troposphere correction). Kecepatan rambat sinyal diperlambat oleh gas dan
jumlah uap air di troposfer. Gas kering memberikan kontribusi kesalahan
perhitungan ketinggian mendekati konstan yaitu sekitar -2,3 m. Uap air pada
troposfer bervariasi dan tidak bisa diprediksi, memberikan kesalahan perhitungan
ketinggian -6 cm sampai -40 cm. Namun kesalahan tersebut dapat dikoreksi,
commit to user
dengan -2,277 mm/mbar. Adapun persamaan dari koreksi troposfer kering
ditunjukkan oleh persamaan dibawah ini (NASA & CNES, 2003):
dry corr = -2,277. Patm . (1 + 0,0026 . cos(2 phi)) (2.13)
Dimana Patmadalah tekanan pada atmosfer dalam mbar, phi merupakan
lintang dan koreksi troposfer kering dalam mm. Uap air juga mempengaruhi
jalannya sinyal di troposfer. Untuk mengoreksi gangguan tersebut dengan
memperkirakan pengukuran uap air dengan frekuensi 22,2356 GHz. Pada Jason-1
Microwave Radiometer (JMR) menggunakan frekuensi 23,8 GHz untuk
mengukur pengaruh uap air di troposfer, sedangkan 18,7 GHz digunakan untuk
mengurangi pengaruh kecepatan angin dan 34 GHz mengurangi pengaruh
atmosfer lainnya (pengaruh mendung).
2. Koreksi Ionosfer
Kecepatan rambat sinyal di ionosfer juga diperlambat oleh adanya
pengaruh besarnya kerapatan elektron bebas pada ionosfer di bumi yang sering
disebut Total Electron Content(TEC). Besarnya densitas elektron dan ion bebas
pada lapisan ionosfer ini bergantung pada besarnya intensitas radiasi matahari
serta densitas gas pada lapisan tersebut (Abidin, 2001). Untuk mempekecil
pengaruhnya maka perlu koreksi ionosfer dengan menggunakan sinyal Ku band
dengan frekuensi 13,575 GHz sehingga diperoleh koreksi sebesar ± 0,5 cm.
(NASA & CNES, 2003)
3. Pembiasan Gelombang Laut (Sea State Bias)
Bias ini dikarenakan bentuk dan tinggi muka air laut yang selalu bergerak
dan sangat heterogen. Sehingga gelombang laut dapat menghamburkan sinyal
yang dipancarkan oleh satelit. Untuk mengoreksi adanya pembiasan gelombang
laut digunakan sinyal Ku band dan C band yang dipancarkan, koreksi akibat
pengaruh gelombang air laut sekitar 1-2 cm (NASA & CNES, 2003).
4. Efek Pasang Surut
Efek pasang surut (pasut) sangat mempengaruhi dalam pengambilan data
commit to user
tide/pasut lautan (GOT), load tide, solid earth tide/pasut daratan (SET) and the
pole tide/pasut kutub (PT). secara keseluruhan efek pasang surut dapat dihitung
melalui persamaan dibawah ini (NASA & CNES, 2003) :
Tide Effect = GOT+SET+PT (2.14)
5. Efek Inversi Barometer
Tekanan atmosfer yang dapat naik ataupun turun dapat mempengaruhi
dalam proses pengambilan data. Dimana pengaruh tersebut ketika tekanan naik 1
mbar maka mempengaruhi kenaikan permukaan air laut 1 cm. sehingga inversi
barometer dapat dihitung melalui persamaan (NASA & CNES, 2003) :
IB= -9,948 (P_atm - P) (2.15)
Dimana faktor skala 9,948 adalah nilai empiris, P_atmnilai tekanannya dan P
nilai tekanan rata – rata.
II. 8. Mean Sea Level dan Geoid
Fenomena kenaikan muka laut dapat dipresentasikan dengan mean sea
level (MSL). MSL ini merupakan permukaan air laut yang dianggap tidak
dipengaruhi oleh keadaan pasut dan biasanya ditentukan melalui pengamatan
kedudukan air laut secara kontinyu. Umumnya MSL digunakan untuk referensi
nol bagi komponen pasut serta merupakan acuan standar bagi elevasi daratan
ketinggian titik – titik diatas permukaan bumi (Widiayanti, 2009).
Geoid merupakan garis menyerupai bentuk asli permukaan bumi yang
sebenarnya bumi tidak bulat sempurna. Untuk mempermudah dalam pengamatan
ketinggian muka laut maka disepakati dibuat garis acuan pada bumi yang disebut
commit to user
Gambar 2.6. Geoid dan elipsoid(Fraczek, 2003)
II. 9. Sea Surface Height(SSH) dan Sea Level Anomaly(SLA)
Sea Surface Height (SSH) adalah tinggi (atau topografi atau relief) dari
permukaan laut. Setiap hari, SSH yang paling jelas dipengaruhi oleh gaya pasang
surut dari bulan dan matahari terhadap bumi. Selama rentang waktu lebih lama,
SSH dipengaruhi oleh sirkulasi laut.
Sea Level Anomaly (SLA) didefinisikan sebagai tinggi permukaan laut di
atas permukaan geofisik dikurangi efek pasang surut dan inverse barometer
(pengaruh tekanan atmosfer) (NASA & CNES, 2003).
SLA = SSH – permukaan geofisik – koreksi ( 2.16 )
Permukaan geofisik dapat berupa geoidataupun mean sea surface (MSS).
Koreksi digunakan untuk mengkoreksi terjadinya kesalahan dalam pengambilan
data. Koreksi tersebut dapat berupa efek pasut, inversi barometer, koreksi
commit to user
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN
III. 1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dari tanggal 2 September 2010
sampai 20 Januari 2011. Lokasi penelitian ini mengambil 6 titik daerah studi di
[image:44.612.130.510.221.551.2]wilayah perairan laut pulau Jawa, yaitu :
Tabel 3.1.Lokasi Penelitian sea level rise
Lokasi Penelitian Posisi Geografis Pass yang digunakan Perairan Jakarta 5o- 5,5oLS dan 106o- 106,5oBT 229 dan 242 Perairan Semarang 6o- 6,5oLS dan 109o- 109,5oBT 64 Perairan Surabaya 6,5o- 7oLS dan 112o- 112,5oBT 140 Perairan Pangandaran 8o- 8,5oLS dan 108o- 108,5oBT 51 Perairan Jogjakarta 8o- 8,5oLS dan 109,5o- 110oBT 64 Perairan Prigi 8,5o- 9oLS dan 111o- 111,5oBT 127
Gambar 3.1.Lokasi Penelitian analisa sea level rise
III. 2. Peralatan Penelitian
Pada penelitian ini digunakan peralatan sebagai berikut:
1. Seperangkat komputer / PC
2. Perangkat lunak Matlab 7.0 digunakan sebagai konversi serta pengolahan
data.
3. Perangkat lunak pendukung: Microsoft Excel 2007dan Origin 8.
242 064 140
229 051
127
commit to user
III. 3. Bahan PenelitianPenelitian ini menggunakan data Sea Level Anomaly(SLA) Monomission
yang diperoleh dengan cara mengunduh di salah satu serverpenyedia data satelit
altimetri yaitu di CNES (Centre National d’Etudes Spatiales), Perancis dengan
alamat www.aviso.oceanobs.com.Data tersebut terdiri dari :
1. DataTopex/Poseidontahun 2000-2002 (dari cycle269 –cycle364)
2. DataJason-1 tahun 2002-2008 (dari cycle20 –cycle242)
3. DataJason-2 tahun 2008-2010 (dari cycle3 –cycle87)
Sebagai data pembanding yaitu data pasang surut yang diunduh dari
www.vliz.be/vmdcdata/iode/blist.php, data pasang surut ini merupakan data dari
sensor pasang surut milik BAKOSURTANAL di Cilacap dan Prigi.
III. 4. Prosedur dan Pengumpulan Data
Prosedur kerja dalam penelitian ini dideskripsikan dalam diagram alir
seperti pada berikut:
Studi literatur
Penentuan lokasi penelitian
Pengolahan data SLA TOPEX/Poseidon
Persiapan
Pengolahan data SLA Jason-1
Pengolahan data SLA Jason-2
Pengumpulan data satelit Altimetri TOPEX/Poseidon,Jason-1 danJason-2
commit to user
Gambar 3.2.Diagram alir penelitian
Adapun penjelasan dari diagram di atas adalah sebagai berikut :
1. Persiapan
Persiapan ini meliputi persiapan perangkat yang dibutuhkan untuk
pengolahan. Pencarian buku referensi yang terkait dengan penelitian ini. Serta
meng-installperangkat lunak yang digunakan.
2. Tahap Identifikasi Awal
Dilakukan studi literatur yang terkait dan menentukan lokasi perairan laut
pulau Jawa yang akan diambil data satelit altimetrinya. Diperoleh 6 lokasi
penelitian, 3 titik di utara pulau Jawa dan 3 titik di selatan pulau Jawa. Adapun
keenam lokasi tersebut adalah di Jakarta, Semarang, Surabaya, Pangandaran,
Jogjakarta dan Prigi. Pada tahap ini dilakukan juga penentuan posisi lintang dan
bujur untuk 6 daerah penelitian dengan luasan 0,5ox 0,5o dimana pada luasan tersebut berada pada jalur (track) satelit.
3. Tahap Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang berupa data satelit
altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 dan Jason-2 dari tahun 2000-2010. Data
didapat dengan cara download dari server penyedia data satelit tersebut. Diperoleh Sea Level Risedi 6 lokasi
perairan laut pulau Jawa
Laporan
Visualisasi Sea Level Rise6 lokasi perairan laut pulau Jawa
A
commit to user
Topex/poseidonuntuk data SLA tahun 2000-2002, Jason-1untuk data SLA tahun
2002-2008 dan Jason-2untuk data SLA tahun 2008-2010.
4. Tahap Pengolahan Data
Tahapan ini merupakan tahapan utama yang dilakukan untuk pemrosesan
data agar mendapatkan hasil pada penelitian ini. Data sea level anomaly (SLA)
merupakan hasil perhitungan yang telah dihitung oleh Aviso Altimetry, sehingga
nilai SLA telah dikoreksi oleh koreksi – koreksinya.
[image:47.612.137.471.210.693.2]Adapun flowchartpemrograman pada penelitian ini sebagai berikut :
Gambar 3.3.Diagram alir pemrograman ya
Ekstraksi data dan konversi data
Pemfilteran data berdasarkan lokasi penelitian
Data telah sesuai lokasi penelitian
Data satelit telah terfilter
Nilai SLA per-cycle
Nilai SLA per bulan
tidak Mulai
Data Satelit Altimetri (T/P, J1, J2)
Selesai
commit to user
Data SLA yang telah didownload kemudian diekstraksi dan dikonversi
menggunakan Matlab.Data SLA masih dalam bentuk data dengan format network
common (.nc) sehingga masih perlu diekstraksi dan dikonversi ke dalam format
lain yang dapat dibaca datanya menggunakan Matlab. Program untuk
mengkonversi data tersebut dituliskan perintah untuk menjalankan toolbox yang
telah dipasang di Matlab. Adapun perintahnya adalah sebagai berikut :
b=ncdataset(a);
b.attributes % identitas data satelit
b.variables; % variabel data satelit
Kemudian untuk memperoleh data SLA yang sesuai dengan lokasi yang
telah ditentukan maka dilakukan pemfilteran data dengan luasan 0,5o x 0,5o. Untuk pemilihan lokasinya yaitu :
Lokasi Penelitian Posisi Geografis Perairan Jakarta 5o- 5,5oLS dan 106o- 106,5oBT Perairan Semarang 6o- 6,5oLS dan 109o- 109,5oBT Perairan Surabaya 6,5o- 7oLS dan 112o- 112,5oBT Perairan Pangandaran 8o- 8,5oLS dan 108o- 108,5oBT Perairan Jogjakarta 8o- 8,5oLS dan 109,5o- 110oBT Perairan Prigi 8,5o- 9oLS dan 111o- 111,5oBT
Pemfilteran ini dengan menambahkan perintah pada Matlab saat
melakukan konversi data. Pada proses pemfilteran ini menggunakan sistem index
dalam memilih data yang diinginkan. Sehingga data yang diinginkan akan diberi
tanda 1 dan yang diabaikan diberi tanda 0. (Valentine, 2010). Perintah
peng-index-an seperti dibawah ini :
indA= x(:,1)>=106 & x(:,1)<=106.5
Selanjutnya dilakukan proses pembacaan tanggal pada cycledanpassyang
digunakan pada cycle/pass locator yang ada di www.aviso.oceanobs.com.
commit to user
tersebut diambil. Kemudian penggabungan data dari masing-masing satelit
sehingga menghasilkan nilai SLA dalam rentang 10 tahun. Kemudian nilai SLA
dihitung untuk mendapatkan rata-rata perbulan. Dari nilai SLA tiap bulan
tersebut dibuat plot grafik dan dihitung kenaikan tinggi muka air lautnya tiap
bulan untuk kemudian mendapatkan trend linier kenaikan tinggi muka air laut
dititik-titik tersebut selama 10 tahun. Untuk listingprogramnya dapat dilihat pada
lampiran dalam skripsi ini.
5. Tahap Analisa
Pada tahap ini dilakukan analisa hasil visualisasi dari 6 grafik lokasi
penelitian sehingga dapat diketahui kecenderungan perubahan tinggi muka air laut
yang kemudian dapat dianalisa kenaikan tinggi muka air lautnya (sea level rise).
Analisa pola sea level anomaly (SLA) karena arus laut, El-Nino dan kesamaan
pola dalam satu wilayah. Serta korelasi grafik sea level rise (SLR) dengan data
pasang surut.
6. Laporan
Pada tahap ini dilakukan pembuatan laporan dari hasil penelitian yang
commit to user
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1. Hasil Penelitian
Dalam penelitian tugas akhir ini diperoleh beberapa hasil penelitian yang
didapatkan setelah melalui beberapa tahapan penelitian dan pengolahan data. Pada
proses konversi data satelit menggunakan toolbox nctoolbox yang telah dipasang
pada Matlab. Untuk menjalankannya dengan menulis perintah
ncdataset(‘data satelit’) pada Matlab. Dengan begitu data dapat ditampilkan pada Matlab, untuk menampilkan keterangan datanya dengan menulis
perintah ncdataset.attributes. Sedangkan untuk menampilkan variabel
datanya dengan menuliskan perintah ncdataset.variables sehingga kita
dapat memilih variabel yang mana yang akan digunakan.
Pada tahap pemfilteran data perintah yang digunakan yaitu dengan metode
indeks data sehingga data dengan koordinat geografis yang diinginkan akan
ditandai dengan nilai 1 sedangkan yang tidak diinginkan akan ditandai dengan
nilai 0 yang nantinya data tersebut akan dihilangkan. Dimana dalam penelitian ini
pemfilteran datanya menggunakan luasan 0,5o x 0,5o. Contoh perintah programnya seperti di bawah ini :
% pangandaran
inda=x(:,1)>=108 & x(:,1)<=108.5 & x(:,2)>=-8.5 & x(:,2)<=-8
& isfinite(x(:,3));
f=x(inda,:);
Data yang telah terfilter menghasilkan nilai sea level anomaly (SLA)
setiap cycle (periode 10 hari) untuk dapat mengetahui pola kenaikan muka air
lautnya (sea level rise), maka data tersebut diolah menjadi data SLA bulanan
terlebih dahulu. Waktu pada data SLA merupakan waktu satelit sehingga data
waktu satelit harus diubah ke dalam format kalender atau tanggal - bulan - tahun
(dd-mm-yyyy). Pengubahan waktu tersebut berdasarkan perhitungan waktu satelit
yang beroperasi yang berkelanjutan dimulai dari waktu satelit Topex/Poseidon
bulan Agustus 1992. Setelah semua data menjadi data SLA bulanan maka data
commit to user
tersebut dibuat visualisasi grafiknya sehingga membentuk pola sea level rise
(SLR). Berikut ini grafik hasil analisis dan pengolahan data sea level anomaly
[image:51.612.175.467.164.655.2](SLA) dari 6 daerah penelitian :
Gambar 4.1. Sea level riseJakarta periode 2000-2010
Gambar 4.2. Sea level riseSurabaya periode 2000-2010 2,50 ± 0,24 mm/tahun
commit to user
Gambar 4.3. Sea level riseSemarang periode 2000-2010
Gambar 4.4. Sea level risePangandaran periode 2000-2010 2,16 ± 0,20 mm/tahun
commit to user
Gambar 4.5.Sea level rise Jogjakarta periode 2000-2010
Gambar 4.6. Sea level rise Prigi periode 2000-2010
IV. 2. Pembahasan
IV. 2. 1. TrendLinier Sea Level Risedi Laut Pulau Jawa
Penelitian yang berjudul ”Analisa Sea Level Rise dari Data Satelit
Altimetri Topex/Poseidon, Jason-1 dan Jason-2 di Perairan Laut Pulau Jawa
Periode 2000 – 2010 “ ini mempunyai beberapa tujuan utama, diantaranya yaitu:
mengolah data yang diperoleh dari satelit altimetri sehingga diperoleh data sea
0,91 ± 0,38 mm/tahun
commit to user
level rise (SLR) untuk perairan laut pulau Jawa, mengetahui fenomena alam
perubahan ketinggian permukaan air laut di perairan laut pulau Jawa serta dapat
menganalisa tingkat kenaikan permukaan air laut di perairan laut pulau Jawa per
tahunnya dalam kurun waktu 10 tahun (2000 – 2010).
Penelitian ini menggunakan data Sea Level Anomaly(SLA) Monomission
yang diperoleh dengan cara mengunduh di salah satu serverpenyedia data satelit
altimetri yaitu di CNES (Centre National d’Etudes Spatiales), Perancis dengan
alamat www.aviso.oceanobs.com.
Berdasarkan dari grafik sea level rise yang dihasilkan pada penelitian ini
diperoleh nilai kenaikannya dalam satuan mm/tahun. Pada penelitian ini nilai sea
level rise dapat dibagi menjadi 2 kelompok daerah penelitian, yaitu bagian
perairan utara pulau Jawa dan bagian perairan selatan pulau Jawa. Nilai sea level
rise ini diperoleh dari perhitungan trendline pada grafik. Nilai trendline tersebut
berasal dari nilai sea level riseyang diperoleh berdasarkan luasan area yang sama
yaitu 0,5ox 0,5odengan periode dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010. Nilai trend linier ini menunjukkan tingkat kenaikan muka air laut dalam setiap
tahunnya. Untuk perairan utara pulau Jawa dihasilkan sea level rise dari grafik
[image:54.612.130.510.207.471.2]seperti berikut :
Tabel 4.1. Sea level rise perairan utara pulau Jawa
Lokasi pemantauan Trendline (mm/thn)
Jakarta 2,50 ± 0,24
Semarang 2,16 ± 0,20
Surabaya 2,72 ± 0,19
Rata-rata 2,46 ± 0,21
Sedangkan untuk perairan selatan pulau Jawa dihasilkan sea level risedari
[image:54.612.196.443.493.592.2]commit to user
Tabel 4.2. Sea level rise perairan selatan pulau Jawa
Lokasi pemantauan Trendline (mm/thn)
Pangandaran 0,71± 0,33
Jogjakarta 0,91± 0,38
Prigi 1,30± 0,38
Rata-rata 0,97± 0,36
Pada Tabel 4.1 menunjukkan nilai kenaikan muka air laut di perairan utara
pulau Jawa yang terdiri dari perairan Jakarta, Semarang dan Surabaya.
Berdasarkan dari ketiga data tersebut dapat dihasilkan nilai sea level riserata –
rata sebesar 2,46 ± 0,21 mm/tahun. Sedangkan pada Tabel 4.2 menunjukkan nilai
kenaikan muka air laut untuk perairan selatan pulau Jawa yang terdiri dari
perairan Pangandaran, Jogjakarta dan Prigi. Berdasarkan dari ketiga data tersebut
dihasilkan nilai sea level rise rata – rata sebesar 0,97 ± 0,36 mm/tahun. Nilai
kenaikan tersebut menunjukkan nilai sea level rise untuk perairan bagian selatan
pulau Jawa dalam periode 2000 - 2010.
Pada penelitian ini diperoleh grafik yang terdapat kesamaan pola naik
turun grafik sea level rise-nya yang dapat menunjukkan bahwa suatu daerah satu
dengan daerah yang lain masih berada pada suatu wilayah perairan yang sama.
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8. Dimana terdapat
kemiripan pola sea level rise di perairan Jakarta, Semarang dan Surabaya yang
dapat menunjukkan bahwa ketiga daerah penelitian tersebut merupakan dalam
suatu wilayah perairan laut yang sama. Ketika nilai sea level anomaly(SLA) pada
salah satu daerah tersebut mengalami penurunan, maka daerah yang lainnya juga
mengalami penurunan nilai. Sehingga nilai trendlinepada ketiga daerah penelitian
di bagian utara juga hampir sama seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 4.1.
Demikian juga terdapat kemiripan pola sea level rise di perairan Pangandaran,
Jogjakarta dan Prigi juga menunjukkan bahwa ketiga daerah penelitian tersebut
merupakan dalam suatu wilayah perairan laut yang sama. Ketika nilai sea level
anomaly (SLA) di Pangandaran mengalami kenaikan, maka daerah yang lainnya
commit to user
SLA-nya pun juga mendekati sama, sehingga nilai trendline pada ketiga daerah
penelitian di bagian utara juga hampir sama seperti yang ditunjukkan oleh Tabel
[image:56.612.176.455.181.657.2]4.2.
Gambar 4.7.Sea level rise utara pulau Jawa
commit to user
Nilai sea level rise yang dihasilkan dalam penelitian ini untuk wilayah
utara pulau Jawa sebesar 2,46 ± 0,21 mm/tahun dan di wilayah selatan pulau Jawa
sebesar 0,97 ± 0,36 mm/tahun. Hal ini masih terdapat perbedaan nilai sea level
risepada penelitian yang dilakukan oleh Shinta (2009) yaitu di Laut Jawa sebesar
6,08 mm/tahun dan di Samudera Hindia sebesar 5,4 mm/tahun. Perbedaan ini
dikarenakan terdapat perbedaan kurun waktu data sea level rise-nya, kurun waktu
data dalam penelitian ini selama 10 tahun sedangkan pada penelitian yang
dilakukan oleh Shinta (2009) selama 3 tahun dari tahun 2002-2005. Dalam
Solomon et al (2007) menunjukkan bahwa nilai sea level rise dari tahun 1993 –
2003 di kawasan pulau Jawa dalam rentang 0 – 3 mm/tahun. Dengan begitu nilai
sea level rise dalam penelitian ini sesuai dengan nilai sea level rise yang
ditunjukkan oleh Solomon et al(2007).
IV. 2. 2. Keterkaitan antara Arus Laut Indonesia dan Sea Level Rise
di Perairan Laut Pulau Jawa
Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke
tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan
ke samping) (Stewart, 2008). Arus laut ini diakibatkan karena adanya perbedaan
tekanan, angin dan perbedaan densitas (Pariwono, 1998). Arus laut di Indonesia
ini sering disebut dengan istilah Arlindo. Arlindo adalah suatu sistem arus yang
menghubungkan Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia yang disebabkan
[image:57.612.203.441.535.687.2]karena adanya perbedaan tinggi paras air laut.
commit to user
Dengan adanya Arlindo ini sehingga akan mempengaruhi naik turunnya
tinggi permukaan air laut. Di perairan laut pulau Jawa Arlindo tadi mengalir dari
selatan selat Makasar menuju ke laut Jawa kemudian mengalir ke Samudera
Hindia. Ar