• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Bidang unggulan: Pendidikan

LAPORAN PENELITIAN

Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

TIM PENELITI : 1. Dr. UMI ZULFA, M.Pd

2. WAHYU NUNING BUDIARTI, M.Pd 3. SUSILAWATI, M.Pd

4. YUNI AMALIA R

PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA AL GHAZALI CILACAP

TAHUN 2020

(2)

2

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENELITIAN UNUGHA CILACAP

Judul Penelitian : Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

Bidang Unggulan : Pendidikan

Ketua Peneliti :

a. Nama Lengkap : Dr. Umi Zulfa, M.Pd

b. NIP/NIDN : 2117047401

c. Pangkat/Golongan : Lektor / IIId d. Jabatan Fungsional : Lektor

e. Jurusan : Manajemen Pendidikan f. Alamat Rumah : Karangjengkol

g. Telp Rumah/HP : 081327097472 h. E-mail : [email protected] Jumlah Anggota Peneliti : 2 Orang

Jumlah Mahasiswa : 1 Orang Lama Penelitian : 6 Bulan

Jumlah Biaya : Rp 2.000.000,00

Cilacap, Desember 2020 Ketua Program Studi

( MAWAN AKHIR RIWANTO, M.Pd.) NIDN 0628098501

Ketua Peneliti

( UMI ZULFA, M.Pd ) NIDN. 2117047401

Mengetahui, Kepala LP2M

(Fahrur Rozi, M.Hum ) 951011074

(3)

4

1. Judul Usulan Penelitian : Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

2. Bidang Unggulan : Pendidikan 3. Ketua Peneliti :

a. Nama Lengkap : Umi Zulfa b. NIP/NIDN : 2117047401 c. Pangkat/Golongan : Lektor / IIId d. Jabatan Fungsional : Lektor

e. Jurusan : Manajemen Pendidikan f. Alamat Rumah : Karangjengkol

g. Telp Rumah/HP : 081327097472 h. E-mail : [email protected] 4. Anggota peneliti

No Nama Bidang Keahlian Alokasi Waktu (Jam/ Minggu)

1 Umi Zulfa Manajemen Pendidikan 10 jam

2 Wahyu Nuning Budiarti Pendidikan Dasar 8 jam

3 Susilawati Bimbingan dan

Konseling

8 jam

4 Yuni Amalia R Bimbingan dan

Konseling

6 jam

5. Objek penelitian yang diteliti : Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

6. Masa pelaksanaan penelitian :

7. Anggaran yang diusulkan : Rp 2.000.000,- 8. Lokasi penelitian :

9. Hasil yang ditargetkan :

(4)

5

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Umi Zulfa

NIDN : 2117047401

Judul Penelitian : Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penelitian ini merupakan hasil karya sendiri dan benar keasliannya. Apabila ternyata di kemudian hari penelitian ini merupakan hasil plagiat atau penjiplakan atas karya orang lain, maka saya bersedia bertanggung jawab sekaligus menerima sanksi.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaaan sadar dan tidak dipaksakan.

Ketua Peneliti

( UMI ZULFA, M.Pd ) NIDN. 2117047401

(5)

6

ABSTRAK

Pendidikan inklusi mempermudah guru dalam menerapkan pendidikan karakter pada siswa inklusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping siswa inklusi sebagai informan kunci, serta orang tua siswa inklusi. dapun hasil penelitian diperoleh melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penanaman pendidikan karakter dilakukan oleh guru kelas melalui proses belajar mengajar di kelas. Aspek utama yang ditanamkan kepada siswa adalah religius, sopan santun, tanggung jawab, dan kemandirian. Pendidikan karakter yang ditanamkan kepada siswa diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dan meningkatkan prestasi siswa. Penanaman pendidikan karakter juga diberikan kepada siswa inklusi. Pada tahun ajaran 2019/2020, terdapat total 5 siswa inklusi diantaranya penyandang slow learner (lambat belajar) dan speech delay (lamban bicara). Penanaman pendidikan karakter pada siswa inklusi dilakukan oleh guru kelas yang dibantu oleh guru pendamping siswa inklusi. (2) Faktor yang mendukung implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi ialah adanya guru pendamping yang berkompeten siswa sehingga memudahkan dalam mengenal karakter siswa serta menanamkan pendidikan karakter kepada siswa inklusi. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat adalah kurangnya kelengkapan sarana dan prasarana penunjang untuk siswa inklusi serta keberagaman sifat peserta didik yang membuat para guru pendamping harus lebih memahami karakter siswa guna mempermudah penyampaian pembelajaran

Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Siswa Inklusi

(6)

6

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas berkas Rahmat dan KaruniaNya, Kami dapat menyelesaikan kegiatan Penelitian Internal. Pengembangan Fun Science Activity Learning Berbasis Phbs Untuk Siswa Sekolah Dasar. Penelitian ini merupakan perwujudan salah satu Tri Dharma Pergururan tinggi yang dilaksanakan oleh civitas akademikauniversitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap.

Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal November 2022. Penelitian ini dilakukan berdasarkan kebutuhan peserta didik dimasa pandemi, terutama dalam Peran Manajemen Pendidikan Karakter dan Inklusi di Sekolah Dasar. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap yang telah memberikan kemudahan dalam pelaksanaan pengabdian.

2. LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap yang telah memberikan dukungan dan bimbingan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini.

3. Seluruh civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap yang telah membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pengabdian ini.

Akhir kata semoga hasil penelitian dapat bermanfaat bagi lembaga dan masyarakat secara umum.

Cilacap, Desember 2020 Ketua Pelaksana

(7)

7

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... 2

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ... 5

ABSTRAK ... 6

KATA PENGANTAR ... 6

DAFTAR ISI... 7

BAB I ... 9

PENDAHULUAN ... 9

1.1 Latar Belakang ... 9

1.2 Pembatasan Masalah ... 10

1.3 Rumusan Masalah ... 10

1.4 Tujuan Penelitian ... 10

1.5 Urgensi Penelitian ... 11

BAB II... 12

STUDI PUSTAKA ... 12

2.1 Pendidikan Karakter... 12

2.2 Manajemen Pendidikan Karakter ... 13

2.3 Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa Inklusi ... 15

2.4 Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa Inklusi 2.5 Penelitian terdahulu dan keterkaitannya dengan penelitian ini ... 17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 18

3.1 METODE ... 18

3.2 Teknik pengumpulan data serta analisis data ... 18

BAB IV ... 19

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 19

4.1 HASIL ANALISIS ... 19

BAB V ... 21

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 21

5.1 Kesimpulan ... 21

5.2 Rekomendasi ... 21

Daftar Pustaka ... 22

a. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 23

b. Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Peneliti ... 24 Pendidikan Formal ... Error! Bookmark not defined.

Pendidikan Formal ... Error! Bookmark not defined.

a. Surat Pernyataan Peneliti ... Error! Bookmark not defined.

(8)

8

b. Bukti submit ... Error! Bookmark not defined.

c. Kwitansi ... Error! Bookmark not defined.

(9)

9 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3, menjelaskan bahwa pendidikan nasional memiliki fungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan guna berkembangnya potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka demikian, lembaga pendidikan memerlukan penanaman pendidikan karakter bagi siswanya. Dapat diartikan secara sederhana, Pendidikan karakter merupakan hal bersifat positif apa saja yang dilakukan oleh guru dan memberi pengaruh pada karakter siswa yang diajarnya. Pendidikan karakter merupakan upaya secara sadar dan sungguh-sunnguh dari seorang guru untuk memberikan ajaran nilai-nilai kepada para siswanya.

Tidak semua anak tumbuh dengan sempurna. Banyak dari mereka yang tumbuh dengan kekurangan maupun kelebihan yang membuat mereka memerlukan perlakuan khusus. Pendidikan kelas reguler tidak hanya dibutuhkan bagi siswa normal saja, namun juga dibutuhkan oleh mereka yang berkebutuhan khusus. Dengan demikian, pemerintah mengeluarkan kebijakan penyetaraan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.

Kebijakan tersebut dijelaskan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 Tahun 2009, pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dankemampuannya dan mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.

(10)

10

Hingga saat ini, pemerintah telah mengupayakan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dengan memberikan perhatian atas pemahaman pada diri mereka. Beberapa saat lalu, pemerintah hanya menyediakan sekolah khusus bagi siswa yang cacat fisik, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun saat ini pemerintah memberikan perhatian lebih untuk menempatkan mereka layaknya orang umum dengan menciptakan Pendidikan inklusif.

Sedangkan di Indonesia, pendidikan inklusif diartikan sebagai sistem layanan pendidikan di mana anak berkebutuhan khusus diikutsertakan untuk belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah regular yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Program sekolah inklusif bertujuan untuk menyetarakan kualitas pendidikan antara siswa inklusi dengan siswa reguler agar siswa inklusi dapat bersaing di masyarakat terutama pada dunia pendidikan.

1.2 Pembatasan Masalah

Penelitian dibatasi pada manajemen pendidikan karakter dan inklusi meliputi konsep perencanaan menejemen pendidikan karakter, implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi, dan faktor pendukung dan penghambat implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah;

1. Bagaimana konsep perencanan manajemen pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak peserta?

2. Bagaimana implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi?

3. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah ;

1. Mendeskripsikan konsep perencanaan manajemen pendidikan karakter dalam pembinaan akhlak peserta

2. Untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi

3. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi

(11)

11 pendidikan karakter pada siswa inklusi.

1.5 Urgensi Penelitian 1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan akan membawa manfaat untuk dijadikan sebagai bahan referensi dalam penerapan pendidikan karakter terhadap siswa inklusi.

b. Penelitian ini diharapkan membawa manfaat untuk menjadi sumber informasi guna menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam penerapan pendidikan karakter terhadap siswa inklusi.

2. Manfaat praktis a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini nantinya akan memberikan tambahan wawasan juga pengalaman baru bagi peneliti mengenai implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi. Serta dapat diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari peneliti, khususnya dalam ranah pendidikan.

b. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi rujukan, sumber informasi serta bahan referensi penelitian di kemudian hari agar dapat lebih baik dalam upaya implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi.

(12)

12 BAB II STUDI PUSTAKA

2.1 Pendidikan Karakter 1. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya.

pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, cara guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Dapat dikatakan bahwa karakter adalah segala sesuatu yang telah terukir pada diri manusia yang dilahirkan melalui sikap ataupun sifat tanpa adanya suatu perencanaan (kesengajaan) yang dapat dilihat oleh orang lain secara langsung, ada karakter positif maupun karakter negatif. Maka karakter positiflah yang harus ditanamkan dan dikembangkan pada diri peserta didik menyangkut dalam tingkat sebagai anak bangsa atau warga negara yang dijadikan cermin dari kesejahteraan sebuah bangsa itu sendiri. Sehingga dari sinilah muncul adanya konsep pendidikan karakter. Pendidikan karakter juga dihubungkan dengan sikap rencana sekolah, yang dirancang bersama lembaga masyarakat yang lain, untuk membentuk secara langsung perilaku peserta didik. Dengan demikian, idealnya pelaksanaa pendidikan

karakter merupakan bagian yang terintegrasi dengan manajemen pendidikan di sekolah.

2. Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang mempunyai kedudukan sabagai makhluk individu dan sekaligus juga menjadi makhluk sosial tidak begitu saja terlepas dari lingkungannya. Pendidika merupakan upaya memperlakukan manusia untuk mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan. Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha telah dilakukan. Adapun tujuan pendidikan yang diharapkan adalah adanya perubahan tingkah laku, sikap dan kepribadian yang

(13)

13

baik. Berkaitan dengan tujuan pendidikan karakter baik yang bersifat internal maupun eksternal bahwa tujuan pendidikan secara umum adalah sama. Artinya, tujuan pendidikan harus dapat menjadikan manusia untuk menjadi lebih baik serta dapat mengembangkan segala kemampuannya.

2.2 Manajemen Pendidikan Karakter 1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan pendidikan inklusi merupakan kegiatan menentukan tujuan serta merumuskan pendayagunaan manusia, keuangan, metode, peralatan serta seluruh sumber daya yang ada untuk efektifitas pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Dijelaskan langkah langkah perencanaan yaitu (1) merencanakan kelembagaan seperti visi, misi, fungsi organisasi, tujuan kelembagaan dan strategi mencapai tujuan, (2) merencanakan bagaimana kurikulum yang akan digunakan dalam pendidikan inklusi. Kurikulum sebagai panduan yang mengatur isi program dan proses pendidikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran, (3) mengadakan rekrutmen anak berkebutuhan khusus (peserta didik) yang akan mengikuti pendidikan inklusi, (4) mengenalkan anak pada lingkungan di mana mereka akan belajar (sarana prasarana untuk mendukung proses pembelajaran), (5) melakukan penilaian dalam pembelajaran inklusi, (6) merencanakan strategi inklusi dalam pembelajaran secara umum utamanua pembiayaan pendidikan, (7) merencanakan evaluasi belajar, dan (8) merencanakan pengadaan tindak lanjut dari hasil evaluasi.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorgsnisasian pendidikan inklusi menyangkut pembagian tugas untuk diselesaikan setiap anggota dalam upaya pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Dijelaskan bahwa pengorganisasian meliputi: (1) mengelompokan guru yang akan mengajar anak usia dini sesuai dengan jenis ketentuan ABK, dan (2) meningkatkan kompetensi guru melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kualifikasi keahliah pendidik.

3. Pelaksanaan/ Pengelolaan (Actuating)

Pelaksanaan atau pengelolaan pendidikan inklusi meliputi kepemimpinan, pelaksanaan supervisi, serta pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, sehingga tujuan sekolah inklusi dapat tercapai. Dijelaskan bahwa ruang lingkup pengelolaan manajemen pendidikan inklusi sekurang-kurangnya

(14)

14 mencakup:

a. Pengelolaan peserta didik difokuskan pada pendidikan bagi anak yang berkelainan

b. Pengelolaan kurikulum menggunakan kurikulum sekolah regular yang dimodifikasi sesuai dengan tahap perkembangan anak berkebutuhan khusus dengan pertimbangan karaktristik dan tingkat kekhususannya, sehingga kurikulum harus secara fleksibel, responsive dan terpadu.

c. Pengelolaan pembelajaran yang ramah, kurikulum dan system evaluasi yang fleksibel serta desain pembelajaran yang fleksibel.

d. Pengelolaan penilaian pendidikan inklusi dilakukan untuk menilai apakah segala kegiatan yang telah dilakukan telah mencapai tujuan yang ditetapkan.

e. Pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan, tenaga professional dibidang mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, mengevaluasi peserta didik yang melaksanakan program inklusi.

Termasuk di dalam pendidik meliputi: guru, orangtua, wali/ pengasuh dan guru pembimbing hkusus. Tenaga kependidikan meliputi: tenaga terapi, tenaga medis, dokter, psikologi, dan tenaga laboran, guru selalu berkomunikasi dengan anak-anak di kelas sebagai perwujudan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak ABK.

f. Pengelolaan sarana prasarana merupakan pengelolaan perangkat keras dan lunak yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan pendidikan inklusi pada pendidikan tertentu.

g. Pengelolaan pembiayaan dalam penyelenggarakan pendidikan inklusi dapat diproleh dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, swasta, maupun lembaga-lembaga lain, bahkan dana juga bisa didapatkan dari luar negeri.

h. Pengelolaan sumber daya masyarakat dalam hal ini peran orang dan masyarakat dalam memajukan pendidikan dengan berperan mengawasi proses pendidikan yang ada di lembaga pendidikan inklusi.

4. Pengawasan (Controling)

Rencana yang telah disusun dengan matang dan dikerjakan secara organisiator, kedua hal ini belum menjamin sebuh rencana dapat terealisasikan dengan baik. Ditegaskan bahwa sebuah rencana dapat terealisasi dengan baik,

(15)

15

maka perlu adanya kontrol atau pengawasan yang dilakukan oleh lembaga.

2.3 Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa Inklusi

Pendidikan karakter merupakan pengembangan dari nilai-nilai kehidupan yang berawal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang dirumuskan ke dalam tujuan pendidikan nasional.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasi memiliki asal dari empat sumber:

a. Agama b. Pancasila c. Budaya

d. Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan karakter memfokuskan pada keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pembiasaan; melalui bermacam-macam tugas keilmuan dengan kegiatan kondusif. Berdasarkan hal tersebut, hal yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan oleh peserta didik bisa mendukung pembentukan karakter mereka.

Tidak hanya menjadikan keteladanan dan pembiasaan, penciptaan iklim dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga tidak kalah penting dan ikut membmentuk karakter peserta didik

Siswa inklusi merupakan siswa berkebutuhan khusus yang sedang mengikuti program belajar mengajar di kelas reguler. Anak berkebutuhan khusus memiliki kebutuhan khusus baik sementara, atau permanen sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan yang lebih intens. Dengan memberikan pelayanan pendidikan khusus yang relevan sesuai kebutuhannya, diharapkan anak berkebutuhan khusus mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan optimal.

Proses pembelajaran pendidikan karakter pada sekolah inklusi perlu memperhatikan 5 hal sebagai berikut:

a. Membentuk dan menjaga kelompok belajar dengan tujuan agar siswa dapat menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan, yang kemudian akan tercipta keterbukaan dan penghargaan yang baik tanpa menyudutkan satu sama lain.

b. Pembaharuan dari pembelajaran kompetitif menjadi pembelajaran kooperatif harus dilakukan oleh guru sebagai bentuk pembaruan

(16)

16

kurikulum dengan melibatkan kerja sama antar siswa

c. Model pembelajaran iteraktif harus diupayakan sehingga siswa dapat saling bekerja sama, berpartsipasi, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun teman sebayanya.

d. Melakukan pengajaran secara tim ataupun kolaboras dengan banyak cara untuk mengukur pengetahuan dan keteramapilan guru sebagai cara untuk menghapus hambatan dalam proses belajar mengajar.

e. Proses belajar mengajar maupun perencanaan pembelajaran di sekolah harus melibatkan partisipasi orang tua.

2.4 Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa Inklusi

Pendidikan karakter di sekolah merupakan implementasi pendidikan karakter yang diperoleh dari lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, dan media massa.156 Keluarga merupakan lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter yang pertama yang harus terlebih dahulu diberdayakan, sedangkan pendidikan karakter di sekolah ditekankan pada penanaman moral, nilai-nilai estetika, budi pekerti yang luhur. Di samping itu lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter atau watak seseorang. Mengingat keberhasilan pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Keberadaan contoh (role model) sangat penting, misalnya orang tua, guru, dan para public figur harus menjadi contoh langsung bagi anak atau peserta didik, sebaliknya role mode yang buruk di sekolah, keluarga dan masyarakat juga menjadi faktor penghambat pendidikan karakter itu sendiri.

Pendekatan dalam membelajarakan siswa tentang pendidikan karakter juga akan menjadi kelemahan pendidikan karakter itu sendiri. Disisi lain keberhasilan/tantangan pendidikan karakter salah satunya pandangan bahwa karakter adalah tanggung jawab guru agama dan guru kewarganegaraan. Apabila pandangan ini masih menjadi alasan para pendidik dalam melakukan atau mengajarkan pendidikan karakter bagi siswa, maka sulit kiranya pendidikan karakter itu berhasil. Sesungguhnya keberhasilan pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama sehingga semua guru harus membangun sinergi antar mata pelajaran. Mulyasa memiliki pendapat yang senada bahwa pengintegrasian pendidikan karakter melalui proses pembelajaran semua mata pelajaran,

(17)

17

merupakan model yang banyak diterapkan. Model ini ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pendidik karakter (character educator). Artinya guru adalah contoh nyata bagi anak didik dalam menerapkan nilai-nilai karakter yang diajarkan.

2.5 Penelitian terdahulu dan keterkaitannya dengan penelitian ini

Ikramullah dan Akhmad Sirojuddin melakukan penelitian yang berjudul

“Optimalisasi Manajemen Sekolah Dalam Menerapkan Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar” pada tahun 2020 yang memiliki tujuan untuk mendeskripsikan manajemen sekolah dalam menerapkan pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar.

Mashun melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Manajemen Pendidikan Inklusi Pada SD Al Firdaus Surakarta dan SDN Karanganyar Yogyakarta: Suatu Evaluasi Program” pada tahun 2020 yang bertujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan inklusi di SD Al Firdaus Surakarta dan SDN Karanganyar Yogyakarta, dilihat dari aspek konteks, input, proses, produk.

Evi Isna Yunita, Sri Suneki, dan Husni Wakhyudin penelitian berjudul

“Manajemen Pendidikan Inklusi dalam Proses Pembelajaran dan Penanganan Guru Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus” pada tahun 2019 bertujuan untuk mengetahui manajemen pendidikan inklusi dalam proses pembelajaran dan penanganan guru terhadap anak berkebutuhan khusus SDN Barusari 01 Semarang.

(18)

18 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 METODE

Pada penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang dilakukan terhadap kondisi objek yang alami, peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, data yang dikumpulkan bersifat deskriptif lalu analisis data dilakukan dengan cara induktif. Penelitian kualitatif biasanya merumuskan hipotesis sebagai bagian dari penelitiannya. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan makna paling dalam, upaya menjelaskan prosess, memberi deskripsi atas kultur atau budaya dengan legkap dan rinci. Dalam penelitian kualitatif tidak dilakukan pengujian hipotesis. Hal ini dikarenakan penelitian kualitatif tidak memecah ataupun membagi realitas ke dalam berbagai variabel. Sehingga pada penelitian ini, peneliti melakukan terhadap implementasi pendidikan karakter pada siswa inklusi.

3.2 Teknik pengumpulan data serta analisis data

Pada penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, banyak metode yang dapat dipilih guna memeperoleh dan menghimpun data. Penelitian ini akan menggunakan metode:

1. Observasi

Pada proses awal, pengamat atau peneliti yang akan masuk membutuhkan adanya ijin dan penerimaan yang baik terhadap aksesabilitas lingkungan. Peneliti yang bekerja secara individu bisa memulai kegiatannya secara mandiri, namun peneliti yang bekerja dalam suatu tim harus melengkapi pelatihan kepada anggota timnya guna menciptakan persamaan pandangan mengenai hal yang akan diamati dan bagaimana cara pengamatan akan dilakukan.

2. Wawancara

Wawancara diartikan sebagai suatu dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) guna mendapatkan sebuah informasi dari pihak narasumber.

3. Dokumentasi

Dokumen dapat dikatakan sebgai alat yang dipergunakan untuk menghimpun data pada penelitian kualitatif. Dokumen merupakan berkas catatan berbentuk tulisan yang berisi pernyataan tertulis yang disusun oleh individu ataupun Lembaga atas kepentingan pengujian atau kejadian yang menampilkan akunting.

(19)

19

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL ANALISIS

Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan manajemen pendidikan:

a. Kurikulum

Guru kelas bekerja sama dengan guru pembimbing khusus (GPK) telah memodifikasikan kurikulum sesuai dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik. Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi pada dasarnya menggunakan kurikulum reguler yang berlaku di sekolah umum yaitu kurikulum 2013 untuk kelas 1, 2, 4, dan 5. untuk kelas 3 dan 6 masih menggunakan kurikulum KTSP. Bentuk modifikasi kurikulum yang dilakukan berupa mengakomodasi indikator siswa regular menjadi bentuk yang lebih sederhana disesuaikan dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus. Namun karena keragaman hambatan yang dialami peserta didik berkebutuhan khusus sangat bervariasi, masih ada beberapa materi pembelajaran dalam kurikulum yang disesuaikan dengan siswa reguler.

b. Peserta didik

Peserta didk berkebutuhan khusus berjumlah 19 orang. Yang terdiri dari jenis kebutuhan tunagrahita, slow leaner, disleksia, dan hiperaktif (ADHD). Adapun sistem penerimaan peserta didik dilakukan secara penyuluhan/promosi. Hal ini sesuai dengan pendapat Imron yang menyatakan bahwa sistem promosi adalah penerimaan peserta didik, yang sebelumnya tanpa menggunakan seleksi. Karena itu, mereka yang mendaftar menjadi peserta didik, tidak ada yang ditolak. Persyaratan umum dalam penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus mengutamakan ABK yang jarak tempat tinggalnya dengan sekolah lebih dekat serta jumlah peserta didik berkebutuhan khusus maksimal 10 % dari jumlah siswa regular di kelas.

c. Kegiatan Pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada guru kelas dan guru pembimbing khusus secara umum kegiatan pembelajaran di kelas bersifat fleksibel. Peserta didik berkebutuhan khusus yang pada kondisi stabil dapat bersama-sama mengikuti penbelajaran di kelas regular. Guru kelas sebagai penghandel pembelajaran secara klasikal untuk siswa regular sedangkan peserta didik berkebutuhan khusus di bombing oleh guru pembimbing khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus yangpada kondisi tidak stabil, bisa mengikuti pembelajaran di ruang sumber bersama guru pembimbing

(20)

20

khusus (GPK) dan sementara waktu keluar dari kegiatan pembelajaran di kelas reguler.

d. Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Menurut pengamatan peneliti berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada wali murid ABK bahwa ikatan sosial antara orang tua murid sangat tinggi. Pada saat pertemuan dengan komite beberapa orang tua siswa menyumbang alat bantu seperti pengadaan buku dan alat music angklung yang digunakan pada kegiatan ekstrakulikuler peserta didik berkebutuhan khusus.

(21)

21

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan

Simpulan dari kegiatan penelitian ini adalah program kepala sekolah dalam menyukseskan pendidikan inklusi program yang sangat penting dan program tersebut didukung oleh semua staf. Pendidikan inklusi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar kepada anak berkebutuhan khusus dalam bidang pendidikan, jadi tidak ada lagi anak berkebutuhan khusus yang tidak mendapatkan layanan pendidikan di sekolah. Terkait dengan implementasi program pendidikan inklusi merupakan kurikulum modifikasi yang disesuaikan dengan jenis kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

kegiatan pembelajaran bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus. Kendala yang dihadapi dalam menyelenggarakan pendidikan inklusi adalah jumlah guru pembimbing khusus yang masih kurang dibandingkan jumlah peserta didik berkebutuhan khusus.

5.2 Rekomendasi

Hasil dari penelitian ini bisa digunakan sebagai penelitian eksperimen maupun penelitian tindakan. Untuk pemerintah diharapkan membantu menyediakan guru pendamping siswa inklusi agar siswa inklusi dapat mudah belajar ketika mendapatkan pendampingan yang tepat dari guru pendamping yang berkompeten. Untuk Kepala Sekolah terus memberikan pelatihan kepada guru pendamping siswa inklusi agar dapat mengembangkan kompetensi guru pendamping. Untuk Guru Kelas saling bertukar pikiran dengan guru pendamping siswa inklusi agar memudahkan dalam pembelajaran. Untuk pendamping siswa inklusi lebih membangun kedekatan kepada siswa inklusi sehingga lebih mengenal karakter siswa inklusi. Untuk sekolah diharapkan dapat melengkapi fasilitas pendukung baik dalam pembelajaran juga fasilitas lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan inklusi.

(22)

22

Daftar Pustaka

Amka. (2017). Evaluasi PendidikanKarakter Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Reguler. Sagacious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial Vol. 3, 71-72.

Andini, D. W. (2020). Pengembangan Kurikulum dan Implementasi Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar. Yogyakarta: PT. Kanisus.

Andriyani, Winda. (2017). Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar Taman Muda Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Yogyakarta.

Asiyah, Dewi. Dampak Pola Pembelajaran Sekolah Inklusi terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Studi Kasus Sekolah Dasar Sada Ibu Cirebon. Cirebon: IAIN Cirebon, 2012.

Ardy Wiyani, Novan. Manajemen Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya di Sekolah. Yogyakarta: Pedagogia, 2012.

Imron, A. 2012.Manajemen Peserta Didik Barbais Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara.

Suyadi. Psikologi Belajar Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pedagogia, 2012, h, 75

(23)

23 a. Jadwal Kegiatan Penelitian

NO KEGIATAN WAKTU / MINGGU

1 2 3 4 5-12 13 14 15-19 20-22 23-24 PERSIAPAN PENELITIAN

1 Studi pustaka

2 Pengembangan kerangka penelitian

PELAKSANAAN PENELITIAN 3 Pembuatan instrumen

4 Pengujian instrumen PASCA PENELITIAN

5 Pembuatan laporan penilitian 6 Pembuatan jurnal penelitian

(24)

24

b. Riwayat Hidup Ketua dan Anggota Peneliti Data Pribadi

Nama lengkap : Umi Zulfa Tempat dan Tgl Lahir : Cilacap Jenis Kelamin : Pria / Wanita

Alamat : Karangjengkol, Kesugihan, Cilacap Telp/email : [email protected]

Telp Rumah/HP : 081327097472

Pendidikan Formal

S-1 S-2 S-3

Universitas S1 Institut Agama Islam Negeri Purwokerto

S2 Universitas Negeri Yogyakarta,

S3 Universitas Pendidikan Indonesia

Program Studi Pendidikan Agama Islam Manajemen Pendidikan Manajemen Pendidikan

Kota Purwokerto Yogyakarta Bandung

Negara Indonesia Indonesia Indonesia

Cilacap, 5 November 2020

( UMI ZULFA, M.Pd ) NIDN. 2117047401

Referensi

Dokumen terkait

Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015. Nomor

Dengan demikian maka hipotesis Ho ditolak dan terima Ha yang menyatakan bahwa “terdapat hubungan yang segnifikan antara sumber daya alam dengan pertumbuhan ekonomi pada usaha

terdapat batu pasir atau terletak pada kedalaman 5 - > 15 m di bawah permukaan tanah setempat Kondisi geologi baik vertikal-horizontal di permukaan di rencana tapak

Penelitian ini mencoba memberikan sebuah alternatif model administrasi rawat jalan dengan menggunakan sistem informasi dengan arsitektur aplikasi client/server

Kustodian Sentral Efek Indonesia announces ISIN codes for the following securities :..

di inkubasi selama 1 hari dan yang telah di pilh (yang memiliki gelembung udara yang banyak) dengan menggunakan pipet mikro lalu tuangkan kedalam 1 tabung

Hal ini dilihat berdasarkan hasil penurunan tanahnya sebesar 0,0226 m dengan daya dukung ultimate sebesar 2476,283 kN, dengan jumlah tiang sebanyak 215 tiang dan estimasi biaya

(2012) Teaching writing skills based on a genre approach to L2 primary.. school students: An