Angkat Ekonomi Rakyat, PT Greenfields Indonesia Farm 2 Buka Peluang Kemitraan untuk Warga
Blitar
Oct 28, 2021 19:24
PT Greenfields Indonesia terus melakukan terobosan untuk masyarakat sekitar sehingga dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan. Salah satu dari program- program kemitraan yang digagas PT Greenfields Indonesia Farm 2 Blitar adalah Kemitraan Sapi Perah Greenfields (KSG). Serah terima program ini ditandai dengan serah terima pembelian sapi perah bersubsidi oleh masyarakat, Kamis (28/10/2021).
Aditya Heppy Christiawan selaku Partnership Manager menjelaskan, sejauh ini kemitraan hanya ada di lingkungan peternakan PT Greenfields Indonesia yang berlokasi di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Dalam mengembangkan pemberdayaan masyarakat PT Greenfields Indonesia Farm 2 membuka peluang kemitraan
yang lebih luas lagi untuk masyarakat diKabupaten Blitar.
"Jadi, bagi warga yang ingin bermitra dengan Greenfields hanya menyiapkan kandang. Kandang itu nantinya akan kita lihat untuk standarnya. Jika tidak standar maka akan kita arahkan terkait besar kecilnya kandang tersebut.
Untuk bermitra, warga hanya butuh menyiapkan satu sapi saja sudah cukup,"
kata Aditya Heppy.
Dia menambahkan, dengan adanya kemitraan diharapkan dapat membantu masyarakat dan membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat Blitar.
"Peluang kemitraan ini sangat penting bagi PT Greenfields Indonesia Farm 2 Blitar. Pasalnya, program kemitraan ini membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar khususnya peternak," imbuhnya.
Sementara salah satu warga yang bermitra dengan PT Greenfelds Indonesia,
Susono Warga Dusun Babadan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar mengaku,
pihaknya dan warga lainya sangat berterimakasih dengan kemitraan yang
digagas oleh Greenfields.
Baca Juga : Peringati Hari Sumpah Pemuda, Mak Rini Ajak Pemuda Bangun Kabupaten Blitar
“Dengan kemitraan ini, kami mempunyai lapangan pekerjaan baru dan
mendapatkan penambahan ekonomi. Peluang ini sangat kami apresiasi, kami sebagai warga sangat membutuhkan," tegasnya.
Susono menambahkan, teroboson kemitraan seperti ini adalah yang pertama kali sejak PT Greenfieds Farm 2 beroperasi di Blitar. Warga sangat terbantu secara ekonomi karena proses kemitraan sangat mudah. Saat ini sudah cukup banyak warga di sekitaran PT Greenfields Farm 2 yang menjalin kemitraan.
Khususnya warga di Desa Ngadirenggo.
"Kami harapkan dengan kemitraan ini, ke depannya kami akan lebih baik lagi karena mempunyai lapangan pekerjaan di rumah tidak perlu merantau,"
pungkasnya (ADV).
Pemerintah Canangkan Kemitraan Industri Olahan Susu dengan Peternak Sapi Kamis, 4 Mei 2017 (Kementrian Perindustrian RI)
Pemerintah telah mencanangkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak sapi lokal untuk meningkatkan integrasi dalam proses produksi sehingga mampu mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Upaya ini sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor domestik strategis sebagaimana yang diamanatkan pada Nawa Cita.
“Diharapkan program kemitraan dapat meningkatkan suplai bahan baku susu segar dari peternak sapi kita, yang ditargetkan dari 23 persen di tahun 2016 menjadi 41 persen tahun 2021dengan kualitas semakin baik,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada peresmian Manufacturing Unit PT.
GreenfeldsIndonesia di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5).
Guna mencapai sasaran tersebut, Menperin meminta pelaku industri supaya bermitra dengan koperasi atau kelompok usaha bersama (KUB). Misalnya, satu industri membina minimal 3-5 peternak sapi untuk meningkatkan penyerapan susu segar dari dalam negeri. Kemitraan ini mendorong program pemerataan kesejahteaan masyarakat.
“Kami juga mengimbau kepada pelaku industri agar terus berkomitmen mengembangkan susu segar dalam negeri dengan pendekatan asistensi untuk peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas, dan budidaya ternak yang lebih baik,” paparnya.
Selanjutnya, Kementerian Perindustrian aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koperasi dan UKM. “Mengenai kebijakan penetapan harga susu, idealnya untuk pertenak sekitar Rp5.500-6.000 per liter, sehingga apabila peternak memiliki 10 sapi bisa dapat penghasilan sebesar Rp2 juta per bulan,”
tegas Airlangga.
Kemenperin pun siap membantu peralatan produksi yang dibutuhkan oleh peternak sapi lokal. “Bahkan, kami memberikan apresiasi kepada Greenfields yang akan membangun institut pelatihan bagi pertenak sapi untuk memberdayakannya,” lanjut Airlangga. Kemenperin akan memfasilitasi kemudahan investasi apabila Greenfield minat mendirikan pabrik di luar Jawa seperti Sulawesi, Kalimantan atau Sumatera.
Menperin mengungkapkan, dari 58 industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia, hanya delapan perusahaan yang bermitra dengan peternak dan menyerap susu segar di dalam negeri.
Pasalnya, produksi susu segar cenderung terus turun dan dan kualitasnya masih rendah.Kemenperin mencatat, pada tahun 2016, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri untuk industri pengolahan susu sebanyak 3,7 juta ton.
Sementara itu, lanjut Airlangga, pasokan bahan baku susu segar dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 852 ribu ton atau 23 persen, dan sisanya impor sebesar 2,8 juta ton dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
PT. Greenfields Indonesia merupakan salah satu anak perusahaan AustAsia Dairy Group yang mampu mengembangkan industri pengolahan susu di dalam negeri secara terintegrasi mulai dari pembibitan, budidaya sapi perah, pemerahan sapi hingga industri pengolahan susu segar menjadi produk susu Ultra High Temperature (UHT), susu Extended Self Life (ESL), dan keju mozarella. Total kapasitas produksi perusahaan untuk mengolah susu segar bisa mencapai mencapai 120 ton per hari.
Investasi Rp335 miliar
Pada kesempatan yang sama, Menperin meminta kepada pelaku industri pengolahan susu di dalam negeri untuk menjalankan komitmen investasinya sehingga akan berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional. “Selain memenuhi kebutuhan produk susu olahan bagi masyarakat, ekspansi usaha akan menimbulkan multiplier effectyang akan
mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Greenfields Indonesia yang telah
mendirikanpabrik baru di Kabupaten Malang serta memproduksi berbagai produk makanan dan minuman berbasissusu segar. “Ini patut dicontoh, pabriknya terintegrasi dengan peternakan sapi dan proses produksinyatelah berstandar internasional,” ujarnya.
Pabrik baru yang dibangun tersebut seluas tujuh hektare dengan nilai investasi sebesar Rp335miliar dan saat ini menambah tenaga kerja sekitar 200 orang. Kapasitas produksi dari ekspansi inimampu mengolah susu segar mencapai 72 juta liter per tahun yang dihasilkan oleh 20 ribu ekorsapi perah. Capaian ini akan mendukung posisi Greenfields sebagai merek susu segar nomor satu diIndonesia.
Menurut CEO of AustAsia Dairy Group, Edgar Collins, Greenfields telah menghasilkan produk susu segar dan olahannya untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang masyarakat Indonesia sejak tahun 2000.
“Pabrik baru Greenfields di Desa Palaan ini akan meningkatkan produksi susu segar dalam negeri dan mendukung usaha meningkatkan konsumsi susu per kapita di Indonesia,” ungkapnya.
Selain itu, lanjutnya, perusahaan bertekad akan meningkatkan penetrasi brand Greenfields ke pasar luar negeri. Saat ini produk Greenfields telah diekspor ke Hong Kong,Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja.
Greenfields Indonesia memiliki fasilitas peternakan sapi perah dan pengolahan susu terintegrasi yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan 100 persen susu segar yang berasal dari peternakan sendiri tersebut, perusahaan ini menjadi salah satu produsen olahan susu di Indonesia yang secara total tidak bergantung pada hasil susu impor. Bahkan, pabrik baru ini ramah lingkungan karena menggunakan cangkang kelapa sawit dan cangkang kemiri sebagai bahan bakar untuk menghidupkan boiler.
Sementara itu, Dirjen Industri Agro Panggah Susanto menyampaikan, industri pengolahan susu merupakan salah satu bagian dari subsektor industri makanan dan minuman. Subsektor
ini sebagai kelompok industri strategis dan mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan.
Hal tersebut ditunjukkan dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun 2016 sebesar 8,46 persen, diatas pertumbuhan industri pengolahan non migas sekitar 4,42 persen.“Peran subsektor industri makanan dan minuman pada PDB industri non migas juga terbesar dibandingkan subsektor lainnya, yaitu mencapai 37,42 persen pada tahun 2016,” imbuhnya.
Dari segi perdagangan internasional, lanjut Panggah, sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2016 mencapai USD26,39 miliar. Dengan imporpada tahun yang sama sekitar USD9,65 miliar, sehingga subsektor industri ini mengalami neraca perdagangan yang positif. Disamping itu, perkembangan realisasi investasi subsektor ini terus mengalami kenaikan hingga Rp32triliun untuk PMDN dan USD2,1miliar untuk PMA di tahun 2016.
Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah tingkat konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kg/kapita/tahun setara susu segar. Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.
”Kondisi tersebut menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar, sehingga secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku susu untuk industri pengolahan susu di dalam negeri,” papar Panggah.
Greenfields sudah gandeng 180 mitra industri pengolah susu
Senin, 05 Maret 2018
Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - MALANG. Minat investasi dan bisnis industri susu lokal di Indonesia kian menurun. Implementasi peraturan Inpres Nomor 4 tahun 1998 serta larangan impor sapi pada tahun 2012 telah mengguncang bisnis tersebut.
Padahal terdapat sejumlah industri pengolah susu (IPS) dan importir yang memiliki kemampuan produksi yang besar. Dus, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyediaan dan Peredaran Susu, mewajibkan IPS dan importir untuk menggandeng kemitraan dengan peternak sapi perah lokal pada awal pekan ini.
PT Greenfields Indonesia menjadi salah satu contoh IPS dan importir yang telah mengimplementasikan peraturan tersebut jauh hari.
Heru Prabowo, Head of Farm PT Greenfields Indonesia mengatakan larangan impor sapi yang diterapkan pemerintah pada tahun 2012 membuat minat pada bisnis susu sapi menjadi semakin lesu. "Tahun 2012 terjadi pelarangan impor sapi, sehingga sapi perah dijual jadi sapi daging karena lebih mahal," jelasnya, Senin (5/3).
Padahal, dalam data Kementerian Pertanian (Kemtan) tahun 2017, total kebutuhan nasional sebesar 4,4 juta ton setara susu segar, sedangkan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) hanya mampu memasok 20,74% atau 922,970 ton. Sisanya yang hampir capai 80% berasal dari impor.
Bagi PT Greenfields yang memiliki hingga 10.000 sapi pada peternakan pertama mereka di Malang, perusahaan ini mampu menyediakan 8% dari kebutuhan nasional.
Perusahaan susu asal Indonesia ini mampu memproduksi 115 ton
susu sehari sepanjang tahun. 80% produk mereka didistribusikan
untuk pasar domestik, sedangkan sisanya untuk ekspor kawasan Asia Tenggara.
Greenfields kini memiliki 180 mitra yang memiliki hingga 1.000 sapi dan kemampuan produksi susu 8 ton sehari. Kemitraan ini, menurut Heru telah dijalin perusahaan jauh hari sebelum kementerian
meneken peraturan tersebut.
Syahbantha Sembiring Indonesia Country Head bagian Sales &
Marketing PT. AustAsia Food menyatakan, kemitraan Greenfields dengan peternak lokal telah dibangun sejak berdiri di tahun 1997.
"Tidak hanya dengan peternak susu lokal, tapi dengan penyedia pakan dan rumput sekitar," jelasnya.
Skema kemitraan yang dilakukan Greenfields adalah dengan
memberikan pelatihan, jasa kesehatan ternak, menawarkan pakan ternak dengan harga diskon serta membeli produk susu yang
dihasilkan oleh mitra.
Hasil susu tersebut kemudian dijual oleh Greenfields ke perusahaan IPS lainnya. Menurut Heru, pembeli terbesar produk susu mitra dari Greenfields ini adalah Nestle.
"Kami tidak membeli produk susu mitra karena standar susu kami harus menggunakan susu hasil ternak sendiri. Namun program kemitraan ini sudah kami jalankan sejak lama karena menimbang aspek sosial masyarakat," kata Heru.
Menurutnya, Greenfields belum berencana untuk menambah jumlah mitra. Tapi, perusahaan yang merupakan bagian dari holding Japfa Pte Ltd yang terdaftar di bursa saham Singapura ini akan
meresmikan peternakan Indonesia kedua dalam waktu dekat. Selain
di Indonesia, Greenfields juga memiliki 7 peternakan sapi di China
yang memproduksi susu segar untuk pasar global.
Greenfield Farming Philosophy : Perkuat Ketahanan Pangan Dengan Bangkitkan Kiprah Peternak Sapi Perah Lokal
Shanty Briliani
Jumat, 2 September 2022
ANALISNEWS, JAWA TIMUR – Di tengah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang semakin mengancam ketahanan pangan susu nasional, PT Greenfields Dairy Indonesia, integrated dairy farm yang memproduksi susu segar terbesar di Indonesia. Dan menegaskan komitmen ekstranya untuk senantiasa bertumbuh dan berkembang bersama para peternak sapi perah lokal. Dalam berbagai kondisi melalui perluasan program Kemitraan Sapi Perah Greenfields (KSG).
Dalam kesempatan ini, Greenfields juga meresmikan salah satu fasilitas unggulan dari KSG, yaitu tempat penampungan susu atau milk collection center (MCC) yang ketiga di daerah Pijiombo,
Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Heru Setyo Prabowo, Head of Dairy Farm Development &
Sustainability, Government, Environment and Safety Farm Greenfields Indonesia menjelaskan, “Dengan visi ‘Greenfields Farming Philosophy’, Greenfields selalu menjamin terjaganya kesegaran dan kualitas seluruh produk mulai dari peternakan, proses produksi hingga tiba di tangan konsumen. Lebih dari itu, Greenfields juga memiliki komitmen ekstra memajukan
perekonomian dan industri susu melalui program KSG yang diinisiasi sejak 2007 untuk memacu geliat para peternak sapi perah lokal di sekitar area dua peternakan kami.”
“Selama 14 tahun, KSG telah memberikan sejumlah dukungan seperti penyuluhan, pembinaan, hingga pelayanan kesehatan
kepada para mitra peternak, termasuk ketika wabah PMK merebak.
Program KSG tidak hanya menyasar untuk meningkatkan
kesejahteraan para peternak, tetapi juga menyokong hasil produksi
susu sapi perah dalam negeri guna memperkuat ketahanan pangan susu nasional,” tambahnya.
Hingga kini, produksi susu dalam negeri masih belum bisa
memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Terdapat kesenjangan yang besar antara kebutuhan susu masyarakat Indonesia sebesar hampir 4,4 juta ton per tahun dengan jumlah susu segar dalam negeri (SSDN) yang hanya sebanyak 997,35 ribu ton per tahun.
Kondisi ini mengakibatkan ketergantungan kita terhadap susu impor hingga 80%. Dari jumlah pasokan susu dalam negeri, 51%-nya
berasal dari Provinsi Jawa Timur yang telah dikenal sebagai tulang punggung produksi susu sapi perah di Indonesia.
r. Ir. Jumadi, M.MT, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Timur yang hadir mewakili Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si, Gubernur Jawa Timur, memaparkan, “Jawa Timur merupakan provinsi agribisnis yang menjadi lumbung pangan dan gudang ternak nasional. Namun, wabah PMK telah memberikan dampak yang signifikan pada produksi sapi perah dan perekonomian peternak.
Berbagai upaya pemerintah untuk mengatasi wabah ini tentu perlu didukung kolaborasi dan peran seluruh pihak. Untuk itu, kami sangat mengapresiasi program KSG dari Greenfields yang menargetkan untuk kembali membangkitkan peranan para peternak rakyat dalam menopang ketahanan susu nasional melalui sejumlah inisiatif.
Diharapkan kolaborasi dan sinergi lebih lanjut antara Greenfields dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi pelaku industri lainnya, sehingga bersama-sama kita dapat
membantu meringankan permasalahan wabah PMK dan memulihkan kembali semangat peternak serta produktivitas sapi perah,
khususnya di Jawa Timur.”
Dr. Ir. Epi Taufik, S.Pt, MVPH, M.Si, IPM, Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor turut berbagi
pandangan, “Produksi susu sapi nasional yang tidak sebanding
dengan kebutuhan masyarakat semakin mengancam ketahanan
pangan bangsa, yang kini peringkatnya menurun ke posisi 69 dari 113 negara.
Apalagi, susu adalah sumber nutrisi terlengkap yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia yang kedepannya akan didominasi oleh penduduk muda. Faktanya, Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) melaporkan bahwa dari 161.943 ekor sapi peternak GKSI di Jawa Timur, sebanyak 65.157 ekor terpapar wabah PMK, yang mengakibatkan penurunan produksi susu sebesar 30%
menjadi 918 ton/hari.
Menyikapi hal ini, semua stakeholders perlu saling berkolaborasi untuk menopang pilar kecukupan, stabilitas, ketersediaan, akses, dan kualitas keamanan susu nasional.”
“Greenfields menjadi salah satu contoh pelaku industri yang
membantu memenuhi pilar-pilar tersebut melalui komitmen untuk berinvestasi penuh di kedua peternakannya sehingga dapat
memproduksi susu segar yang senantiasa terjaga kualitasnya, disertai upaya dalam memberdayakan para peternak sapi perah lokal.
Terlebih di masa recovery seperti sekarang, dibutuhkan dukungan dan pendampingan agar para peternak sapi perah lokal mampu bangkit dari wabah PMK dan kembali memainkan peranan penting mereka dalam memenuhi kebutuhan susu nasional,” tambah Dr. Epi.
Kardani, salah seorang peternak sapi perah mitra KSG turut berbagi kisah, “Sebelum bergabung dengan KSG, saya bekerja secara
serabutan dengan penghasilan yang tidak tetap. Seiring waktu, saya melihat adanya peluang meningkatkan perekonomian keluarga
dengan beralih profesi menjadi peternak.
Pada 2008, dengan pinjaman usaha mikro dari perbankan yang
bekerja sama dengan KSG, saya mulai memelihara 2 ekor sapi
perah. Dengan pembinaan rutin dan juga pelayanan kesehatan
hewan ternak yang lengkap serta tanpa biaya dari KSG, kini saya
hidup lebih sejahtera dengan 10 ekor sapi perah, dan dipercaya
mempimpin kelompok ternak di wilayah Jambuwer, Malang.Selain
itu, saya juga memberikan apresiasi khusus pada KSG atas
dukungan yang tak pernah surut saat kami ikut terdampak wabah PMK.”
Selama wabah PMK, KSG gesit melaksanakan rangkaian
pendampingan kepada mitra peternak, antara lain upaya sosialisasi dan terus mengingatkan peternak untuk tidak menjual atau
membeli sapi dari luar daerah, mendistribusikan banner edukasi PMK, melakukan penyemprotan desinfektan, membagikan
disinfektan, hingga menyusun sejumlah langkah mitigasi untuk melindungi aktivitas harian para peternak.
Selain itu, KSG juga memberikan subsidi kepemilikan sapi perah sebanyak 50 ekor dengan persyaratan ringan, sebagai langkah jitu untuk mendorong produktivitas para peternak susu sapi lokal.
Kali ini Greenfields juga kian memperluas manfaat program KSG dengan menambah akses milk collection center (MCC) baru di Pijiombo. MCC adalah fasilitas penting yang mengatur seluruh
proses penanganan susu segar dari para mitra peternak, mulai dari pengujian, analisa, pendinginan dan proses pengiriman susu ke pabrik atau pembeli.
“Dengan program subsidi sapi perah dan kehadiran MCC Pijiombo,
kini kesempatan bagi masyarakat untuk menjalankan usaha di
bidang peternakan sapi perah makin terbuka. Kami harap seluruh
dukungan ini mampu membangkitkan kiprah para peternak sapi
perah lokal, meningkatkan produksi susu sekaligus meningkatkan
kesejahteraan hidup seluruh mitra peternak KSG,” tutup Heru.
Kementan Ajak Pelaku Usaha
Peternakan Komitmen Gencarkan Kemitraan
LEH DISNAKKESWAN PROV.NTB · 8 AGUSTUS 2020