• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Mahkamah Agung Nomor : 1578/B/PK/PJK/2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Putusan Mahkamah Agung Nomor : 1578/B/PK/PJK/2017"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PUTUSAN

Nomor 1578/B/PK/PJK/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan Jenderal AF Nomor 40-42, Jakarta XXXX0, dalam hal ini memberikan kuasa kepada:

1. AA, jabatan Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;

2. BB, jabatan Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

3. CC, jabatan Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

4. DD, jabatan Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1061/PJ./2015, tanggal 13 Maret 2015;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;

melawan:

PT. DFG, beralamat di FG Lantai 5, Jalan Jenderal AF Kavling 21 Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta XXXX0;

Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor PUT-

58589/PP/M.VIB/12/2014, tanggal 17 Desember 2014, yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, dengan posita perkara sebagai berikut:

Menimbang, bahwa Pemohon Banding dalam Surat Banding Nomor 024/TX-PET/VII/2011 tanggal 20 Juli 2011, pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut ini;

KETENTUAN FORMAL

Bahwa Pemohon Banding dengan surat Nomor 014/TX-PET/VI/2010 tertanggal 16 Juni 2010 mengajukan permohonan keberatan atas SKPKB PPh Pasal 23 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 05 April 2010 yang diterima oleh KPP Penanaman Modal Asing Satu tanggal 17 Juni 2010, sedangkan Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-1028/WPJ.07/2011 tanggal 28 April 2011 telah Pemohon Banding terima tidak melebihi dari 12 bulan, hal ini berarti bahwa Surat Keputusan tersebut di atas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Pasal 26 ayat (1) tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1994, keputusan atas keberatan yang diajukan Pemohon Banding harus diberikan dalam jangka waktu dua belas bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima;

MATERI SENGKETA PAJAK

Penjelasan Surat Nomor S-350/WPJ.07/KP.0205/2010 tanggal 11 Mei 2010

URAIAN MENURUT

KOREKSI (Rp) SPT/PB ( Rp) Terbanding (Rp)

PPh PASAL 23 - KPP PMA SATU

Objek PPh 24.126.871.364 12.370.701.329 (4.871.374.664)

PPh Terhutang 863.621.095 676.826.926 (186.794.169)

kredit Pajak 863.621.095 579.545.747 284.075.348

(2)

PPh yang Kurang (Lebih) Dibayar

- 97.281.179 97.281.179

Sanksi Administrasi - 29.184.354 29.184.354

PPh Ymh (Lebih) Dibayar

- 126.465.533 126.465.533

KEP-1028/WPJ.07/2011 tertanggal 28 April 2011 sebagai berikut:

Uraian Semula

(Rp)

Ditambah/

(Dikurang) (Rp)

Menjadi (Rp)

Dasar Pengenaan Pajak 12.370.701.329 0 12.370.701.329

PPh Terhutang 676.826.926 0 676.826.926

Kredit Pajak 579.545.747 0 579.545.747

Kompensasi Tahun Pajak/Masa Pajak Sebelumnya

97.281.179 0 97.281.179

PPh Kurang (Lebih) Bayar

29.184.354 0 29.184.354

Sanksi Administrasi 126.465.533 0 126.465.533

Jumlah PPh

Ymh(Iebih) dibayar

0

Bahwa materi Sengketa Pajak Sesuai surat S-350/WPJ.07/KP.0205/2010 tanggal 11 Mei 2010 Menurut Terbanding dapat diringkas dalam tabel di bawah ini:

No. Objek PPh Pasal 23

cfm PPh Badan Menurut Fiskus Menurut

Wajib Pajak

Selisih

KPP PMA Satu 24.126.871.364 24.126.871.364 -

KPP Pratama Cilegon

3.628.721.533 3.628.721.533 -

Jumlah 27.755.592.897 27.755.592.897 -

Reklas Jasa Konstruksi ke PPh Pasal 4 ayat 2

KPP PMA Satu (13.984.035.257) (13.984.035.257) -

KPP Pratama Cileqon

(101.400.000) (101.400.000) -

(14.085.435.257) (14.085.435.257) -

Jumlah Objek PPh Pasal 23 yg dilaporkan

-

Di SFT Masa 13.670.157.640 13.670.157.640 -

Objek PPh Pasal 23 am PPh Badan:

- 1 Waste Water

Treatment

18.980.000 18.522.968 457.032

2 Vechicle Maintenance

42.684.900 41.727.598 957.302

3 Office Maintenance

57.755.750 46.042.589 11.713.161

4 Equipment Maintenance

184.501.025 184.501.025

5 Recruitment 4.590.000 4.590.000

6 Training &

Seminar

187.941.042 187.941.042

7 Equipment Rental 45.821.725 39.770.000 6.051.725

(3)

8 Cleaning and Security

1.876.335.644 1.768.908.971 107.426.673

9 Profesional Fee 243.500.237 243.500.237

10 Trucking 10.653.375.776 9.024.647.404

11 Biaya Profesional 4.190.704.927 4.190.704.927 -

12 Biaya Sandar Pelabuhan

2.928.099.357 2.928.099.357

13 Biaya Komisi 638.600.925 638.600.925

14 Kebersihan &

Keamanan

221.057.425 221.057.425

15 Jasa Konstruksi 101.400.000 101.400.000 -

Reklas ke objek PPh Pasal 4(2)

(101.400.000) (101.400.000) -

24.126.871.364 16.422.574.069 4.871.374.664

*) SELISIH 7.623.791.093 2.752.416.429 4.871.374.664

Selisih merupakan objek PPh Pasal 23 yang kurang dilaporkan yang terdiri dari:

Sewa Kendaraan (trucking) telah dilaporkan:

KPP PMA Satu 3.849.179.905 3.849.179.905

KPP Pratama Cilegon

1.408.270.000 1.408.270.000 5.257.449.905 5.257.449.905 Objek Sewa

Trucking

10.653.375.776 10.653.375.776

*) Yg menjadi Objek PPh Pasal 23 di KPP Pratama Cilegon

5.395.925.871 5.395.925.871

*) Ojek PPh Pasal 23 lainnya yang belum dilaporkan

2.227.865.222 (2.643.509.442)

Bahwa Pemohon Banding mengajukan Surat Keberatan atas pokok pajak dan sanksinya yang masih dalam waktu diperkenankan Undang-Undang;

Bahwa perhitungan yang dilakukan oleh Terbanding terhadap objek PPh Pasal 23 adalah sebagai berikut:

Bahwa menurut Terbanding sesuai dengan surat Nomor S-350/WPJ.07/KP.0205/2010 objek PPh Pasal 23 adalah sebesar Rp12.370.701.329,00 sedangkan menurut Pemohon Banding Cfm Pemeriksa adalah sebesar Rp24.126.871.364,00 sehingga menurut Fiskus terdapat objek PPh Pasal 23 yang lebih dilaporkan sejumlah Rp4.871.374.664,00;

Bahwa berdasarkan butir 1 di atas, maka menurut Fiskus terdapat pajak kurang bayar sebesar Rp97.281.179,00 dan setelah ditambah dengan sanksi administrasi menjadi Rp126.465.533,00;

Bahwa menurut Pemohon Banding Objek PPh Pasal.23 di KPP PMA 1 (Rp24.126.871.364,00) dan Objek PPh Pasal 23 di KPP Pratama Cilegon (Rp3.628.721.533,00) Jumlahnya sebesar Rp27.755.592.897,00

Bahwa alasan keberatan dan jumlah menurut Pemohon Banding:

Bahwa Pemohon Banding keberatan terhadap SKPKB tersebut karena menurut perhitungan, Pemohon Banding tidak

(4)

mempunyai kewajiban Objek PPh Pasal 23 atau pajak terhutang adalah Nihil;

Bahwa menurut Fiskus pajak terhutang sebesar Rp126.465.533,00 dan Objek PPh Pasal 23 menurut fiskus sebesar

Rp12.370.701.329,00 dari objek PPh Pasal 23 cfm PPh Badan Rp24.126.871.364, dikurangkan Rp13.670.157.640 (reklas jasa Konstruksi ke PPh Pasal 4 ayat (2)) = Rp7.623.791.093 seharusnya dikurangkan lagi yang telah menjadi Objek PPh Pasal 23 (biaya trucking) yang belum dilaporkan Di KPP Pratama Cilegon sebesar Rp5.395.925.871,00 = Rp2.227.865.222,00 (Menurut Fiskus Objek PPh Pasal 23 lainnya yang belum dilaporkan);

Bahwa menurut Pemohon Banding biaya trucking yang telah menjadi objek SKPKB PPh Pasal 23 KPP Serang Masa Pajak Januari - Desember 2008 Nomor 00008/203/08/417/10 tanggal 16-04-2010 adalah sebesar Rp9.024.647.404,00 (Penghasilan Kena Pajak/DPP) dengan demikian seharusnya yang dikurangkan objek PPh Pasal 23 (biaya trucking) bukan

Rp5.395.925.871,00 melainkan sebesar Rp9.024.647.404,00;

Bahwa menurut Pemohon Banding Biaya Training dan seminar sebesar Rp187.941.042,00 dan Biaya sandar Pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357,00 bukan objek PPh Pasal 23;

Bahwa biaya training di seminar bukan objek PPh Pasal 23 dikarenakan materi dan penyelenggaraannya dilakukan diluar perusahaan dengan kata lain karyawan perusahaan ikut serta didalam penyelenggara dengan materi umum;

Bahwa biaya Sandar Pelabuhan bukan objek PPh Pasal 23 karena bukan di daerah Lini Satu;

Bahwa koreksi Objek PPh Pasal 23 sebesar Rp4.871.374.664,00 dan dikoreksi Kredit Pajak sebesar Rp284.075.348,00 dikarenakan adanya di reklas dari Objek PPh Pasal 23 ke jasa konstruksi;

Bahwa Pemohon Banding tidak dapat menerima Koreksi Kredit Pajak sebesar Rp284.075.348,00 dikarenakan tarif Pajak jasa konstruksi hanya sebesar 2%;

Bahwa seharusnya Rp4.871.374.664,00 X 2 % = Rp235.123.400,00;

Bahwa dikarenakan Objek Pajak Pasal 23 yang dijadikan Objek Temuan dan hitungannya tidak benar dan Tepat yang diuraikan di Penjelasan atas Hasil Pemeriksaan Pajak Tahun 2008 dengan surat Nomor S-350/WP107/KP.0205/2010 tanggal 11 Mei 2010 tidak sinkron satu dengan lainnya sehingga Surat Ketetapannya menjadi salah dengan demikian Permasalahannya menjadi tidak jelas;

Bahwa Terbanding tidak dapat memberikan angka yang tepat mana Objek Temuan PPh Pasal 23 yang wajib di Laporkan di KPP PMA Satu dan mana Objek PPh Pasal 23 KPP Cilegon;

Bahwa dengan demikian Pemohon Banding,mohon kepada Majelis untuk membatalkan SKPKB PPh Pasal 23 Masa Pajak Januari - Desember 2008 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 05-04-2010 sejumlah Rp126.465.533,00 dan dipertahankan dengan SK-DJP Nomor KEP-1028/WPJ.07/2011 tanggal 28 April 2011;

Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, maka Pemohon Banding mohon agar SKPKB PPh Pasal 23 Masa Pajak Januari - Desember 2008 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 05-04-2010 sejumlah Rp126.465.533,00 mohon dicabut dan dinyatakan batal demi hukum;

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor PUT-58589/PP/M.VIB/12/2014, tanggal 17 Desember 2014 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

MENGADILI

Menyatakan mengabulkan sebagian banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP- 1028/WPJ.07/2011 tanggal 28 April 2011, tentang keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 5 April 2010 Masa Pajak Januari - Desember 2008 atas nama: PT DFG, NPWP:

0X.XXX.XXX.X-0XX.000 alamat: Jalan Jenderal AF Kavling 21 FG Lantai 5, Jakarta XXXX0, sehingga pajak yang masih harus dibayar menjadi sebagai berikut:

(5)

Dasar Pengenaan Pajak PPh Pasal 23 terutang Kredit Pajak

PPh Pasal 23 yang masih harus dibayar

Rp 10.142.836.107,00 Rp 576.545.747,00 Rp 576.545.747,00 Rp 0,00

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor PUT-58589/PP/M.VIB/12/2014, tanggal 17 Desember 2014, diberitahukan kepada Terbanding pada tanggal 09 Januari 2015, kemudian terhadapnya oleh Terbanding dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU- 1061/PJ./2015, tanggal 13 Maret 2015, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 20 Maret 2015, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal itu juga;

Menimbang, bahwa tentang permohonan Peninjauan Kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 24 Juni 2016, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan Jawaban Memori Peninjauan Kembali yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 22 Juli 2016;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan-alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:

I. Tentang Pokok Sengketa Pengajuan Peninjauan Kembali

Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan Peninjauan Kembali ini adalah Koreksi Objek PPh Pasal 23 yang terdiri dari:

A. Koreksi negatif Objek PPh Pasal 23 Masa Pajak Januari - Desember 2008 sebesar (Rp11.756.170.035,00) B. Koreksi kredit pajak PPh Pasal 23 Rp284.075.348,00

II. Tentang Pembahasan Pokok Sengketa Peninjauan Kembali

Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, meneliti, dan mempelajari lebih lanjut atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.58589/PP/M.IVB/15/2014 tanggal 17 Desember 2014 tersebut, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas putusan Pengadilan Pajak tersebut, karena Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah salah dan keliru dengan telah mengabaikan fakta-fakta hukum (rechtsfeit) dan peraturan perundang-undangan

perpajakan yang berlaku dalam pemeriksaan Banding di Pengadilan Pajak (tegenbewijs) atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan baik berupa error facti maupun error juris dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya, sehingga pertimbangan hukum dan penerapan dasar hukum yang telah digunakan menjadi tidak tepat serta menghasilkan putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (contra legem), khususnya peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, dengan dalil-dalil dan alasan-alasan hukum sebagai berikut:

A. Koreksi Negatif Objek PPh Pasal 23 Masa Pajak Januari – Desember 2008 sebesar (Rp11.756.170.035,00) 1. Bahwa pendapat dan kesimpulan Majelis Hakim Pengadilan Pajak atas sengketa a quo sebagaimana

tertuang dalam putusan a quo yang berbunyi sebagai berikut:

bahwa dalam sidang yang diselenggarakan tanggal 22 Juni 2012, Pemohon Banding menyatakan mengajukan banding hanya yang tercantum dalam matrik sengketa saja;

bahwa atas koreksi sebesar Rp2.227.865.222,00 Terbanding menyatakan bahwa koreksi karena berdasarkan equalisasi antara objek PPh Pasal 23 yang telah dilaporkan Pemohon Banding pada SPT Masa PPh Pasal 23 berdasarkan pos laporan keuangan yang dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2008, terdapat selisih objek PPh Pasal 23 yang belum dilaporkan;

bahwa berdasarkan matriks sengketa yang diserahkan oleh Pemohon Banding pada persidangan 12 Juli

(6)

2012, diketahui bahwa menurut Pemohon Banding perbedaan equalisasi adalah atas biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.227.865.222,00 dimana menurut Pemohon Banding biaya sandar pelabuhan yang terutang PPh Pasal 23 adalah sebesar Rp700.234.135,00 namun menurut Terbanding adalah sebesar Rp2.928,099.357,00;

bahwa dalam proses uji bukti Pemohon Banding menyampaikan daftar biaya sandar pelabuhan dengan total sebesar Rp2.931.599.044,00 dimana sebesar Rp2.227.889.491,00 bukan merupakan objek PPh Pasal 23;

bahwa atas bukti-bukti yang diserahkan berupa invoice dan shipping line, Terbanding berpendapat:

Jumlah sanggahan Pemohon Banding dalam proses uji bukti sebesar Rp2.227.889.491,00 berbeda dengan jumlah koreksi Terbanding sebesar Rp2.227.865.222,00;

Berdasarkan pemeriksaan Terbanding diketahui bahwa biaya-biaya yang terdapat dalam daftar biaya sandar pelabuhan yang disampaikan oleh Pemohon Banding adalah sama. Menurut Pemohon Banding yang merupakan objek PPh Pasal 23 adalah sebesar Rp700.234.135,00 sebagaimana telah dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 23 dan selisihnya sebesar Rp2.227.889.491,00 bukan merupakan objek PPh Pasal 23.

Terbanding berpendapat bahwa dengan dilaporkannya biaya sandar pelabuhan sebesar Rp700.234.135,00 sebagai objek PPh Pasal 23 didalam SPT PPh Pasal 23, Pemohon Banding mengakui bahwa Biaya Sandar Pelabuhan merupakan objek Pajak yang terutang PPh Pasal 23, dengan demikian, biaya sebesar

Rp2.227.889.491,00 yang merupakan bagian dari Biaya sandar pelabuhan yang terutang PPh Pasal 23 yang harus dipotong, disetor dan dilaporkan oleh Pemohon Banding karena biaya tersebut merupakan biaya yang sama dan sejenis dengan biaya sebesar Rp700.234.135,00 yang telah dilaporkan sebagai objek PPh Pasal 23 oleh Pemohon Banding;

bahwa dalam uji bukti, Pemohon Banding menyatakan biaya sandar pelabuhan adalah merupakan biaya- biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran kepada shipping line (perusahaan pelayaran) untuk

pengangkutan barang jadi (PET), terminal handling charge (THC), document fee (biaya dokumen) kepada konsumen luar negeri;

bahwa dari hasil uji bukti yang dilakukan antara Pemohon Banding dengan Terbanding diketahui bahwa dari dokumen-dokumen yang ditunjukkan Pemohon Banding berupa:

Bank Disbursement Payment Request Bill of Lading

Invoice Delivery Order Payment Letter;

bahwa berdasarkan bukti dokumen yang disampaikan Pemohon Banding dalam uji bukti diperoleh informasi bahwa pembayaran sebesar Rp2.227.889.491,00 yang dilakukan oleh Pemohon Banding dibayarkan kepada perusahaan pelayaran seperti APL Logistic, PT A, PT B International, PT C, PT D Indonesia, GH, PT H, dan PT HK;

bahwa hasil pemeriksaan dan penelitian Majelis atas dokumen-dokumen yang diserahkan Pemohon Banding tersebut di atas, Majelis berpendapat pembayaran sebesar Rp2.227.889.491,00 adalah pembayaran kepada perusahaan pelayaran bukan merupakan biaya sandar pelabuhan;

bahwa dengan demikian Majelis berpendapat bahwa terbukti biaya sebesar Rp2.227.865.222,00 bukan merupakan objek PPh Pasal 23 dengan demikian Majelis memutuskan koreksi sebesar

Rp2.227.865.222,00 tidak dapat dipertahankan, sedangkan koreksi negatif sebesar Rp(Rp13.984.035.257,00) tetap dipertahankan;

bahwa oleh karenanya maka Pajak terutang juga berkurang yaitu Pajak terutang menurut Pemohon Banding sebesar Rp863.621.095,00 dikurangkan sebesar Rp287.075.348,00 yaitu jumlah PPh Pasal 23 atas koreksi yang tidak dapat dipertahankan, sehingga Pajak terutang menurut Majelis menjadi sebesar Rp576.545.747,00;

2. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa Banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.58589/PP/M.IVB/15/2014 tanggal 17 Desember 2014 serta berdasarkan fakta-fakta yang nyata-nyata terungkap pada persidangan, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) menyatakan sangat keberatan dengan pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tidak mempertahankan Koreksi Negatif Objek PPh Pasal 23 Masa Pajak Januari – Desember 2008 sebesar (Rp11.756.170.035,00) sebagaimana diuraikan di atas dengan penjelasan sebagai berikut:

(7)

2.1. Bahwa pokok sengketa adalah terkait pembuktian Koreksi yang dilakukan Pemeriksa atas Objek PPh Pasal 23 sebesar Rp11.756.170.035,00 yang terdiri dari:

Koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa konstruksi yang direklas sebagai objek PPh Pasal 4 ayat (2) PPh Pasal 23 sebesar Rp13.984.035.257,00;

Koreksi positif objek PPh Pasal 23 jenis Jasa lainnya sebesar Rp2.227.865.222,00 karena ekualisasi antara objek PPh Pasal 23 yang telah dilaporkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) pada SPT Masa PPh Pasal 23 baik di pusat maupun di cabang dengan Objek PPh Pasal 23 berdasarkan pos pada laporan keuangan yang dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan tahun 2008;

2.2. Bahwa dalam persidangan yang diselenggarakan tanggal 22 Juni 2012, Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) menyatakan mengajukan banding hanya yang tercantum dalam matrik sengketa saja, yaitu sebesar Rp2.227.865.222,00

2.3. Bahwa dengan demikian, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) setuju dengan pendapat Majelis untuk tetap mempertahankan koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa konstruksi yang direklas sebagai objek PPh Pasal 4 ayat (2) PPh Pasal 23 sebesar Rp13.984.035.257,00;

2.4. Bahwa atas koreksi sebesar Rp2.227.865.222,00 Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) menyatakan bahwa koreksi karena berdasarkan equalisasi antara objek PPh Pasal 23 yang telah dilaporkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) pada SPT Masa PPh Pasal 23 berdasarkan pos laporan keuangan yang dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2008, terdapat selisih objek PPh Pasal 23 yang belum dilaporkan;

2.5. Bahwa berdasarkan matriks sengketa yang diserahkan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) pada persidangan 12 Juli 2012, diketahui bahwa menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) perbedaan equalisasi adalah atas biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.227.865.222,00 dimana menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) biaya sandar pelabuhan yang terutang PPh Pasal 23 adalah sebesar Rp700.234.135,00 namun menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) adalah sebesar Rp2.928,099.357,00;

2.6. Bahwa berdasarkan matrik sengketa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dan bukti yang disampaikan, dalam proses uji bukti Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) melakukan penelitian mengenai rincian biaya sandar pelabuhan serta dokumen-dokumen yang disampaikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam persidangan

2.7. Bahwa berdasarkan dokumen dalam berita acara uji bukti, diketahui bahwa biaya-biaya yang terdapat dalam daftar biaya sandar pelabuhan yang disampaikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dengan total sebesar Rp2.928.099.357,00 adalah pembayaran kepada Shipping Line seperti APL Logistic, PT A, PT B International, PT C, PT D Indonesia, GH, PT H, dan PT HK;

2.8. Bahwa sesuai dengan dokumen dalam berita acara uji bukti, menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), biaya sandar pelabuhan adalah biaya- biaya yang dikeluarkan Perusahaan untuk pelayaran kepada Shipping Line (Pelayaran) untuk pengangkutan barang jadi, terminal handling charges, document fee kepada costumer luar negeri

2.9. Bahwa atas daftar biaya sandar pelabuhan yang disampaikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dengan total sebesar Rp2.928.099.357,00 menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) yang merupakan objek PPh Pasal 23 adalah sebesar Rp700.234.135,00 sebagaimana telah dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 23 dan selisihnya sebesar Rp2.227.889.491,00 bukan merupakan objek PPh Pasal 23.

2.10. Bahwa atas pernyataan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tersebut, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat bahwa seluruh rincian biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357,00 adalah sama;

2.11. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) meneliti data dalam berita acara uji bukti, dan setuju dengan pendapat Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) bahwa tidak ada data lain yang dapat memberikan informasi adanya perbedaan jasa yang diserahkan oleh Shipping Line dalam setiap transaksi yang merupakan bagian dari total biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357;

(8)

2.12. Bahwa dengan dilaporkannya biaya sandar pelabuhan sebesar Rp700.234.135,00 sebagai objek PPh Pasal 23 didalam SPT PPh Pasal 23, Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) mengakui bahwa Biaya Sandar Pelabuhan merupakan objek Pajak yang terutang PPh Pasal 23, dengan demikian, biaya sebesar Rp2.227.889.491,00 yang merupakan bagian dari Biaya sandar pelabuhan total sebesar Rp2.928.099.357,00 terutang PPh Pasal 23 yang harus dipotong, disetor dan dilaporkan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) karena biaya tersebut merupakan biaya yang sama dan sejenis dengan biaya sebesar Rp700.234.135,00 yang telah dilaporkan sebagai objek PPh Pasal 23 oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding);

2.13. Bahwa dengan demikian, berdasarkan data dan fakta bahwa atas biaya sandar pelabuhan sebesar Rp700.234.135,00 telah dilaporkan sebagai objek PPh Pasal 23 didalam SPT PPh Pasal 23, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat bahwa biaya sebesar Rp2.227.889.491,00 juga terutang PPh Pasal 23 karena merupakan bagian dari Biaya sandar pelabuhan total sebesar Rp2.928.099.357,00. Sehingga koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sudah sesuai dengan data dan fakta sampai dengan persidangan;

2.14. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tidak setuju dengan pendapat Majelis untuk tidak mempertahankan koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dengan alasan bahwa berdasarkan dokumen yang diserahkan Pemohon Banding, Majelis berpendapat pembayaran sebesar Rp2.227.889.491,00 adalah pembayaran kepada perusahaan pelayaran bukan merupakan biaya sandar pelabuhan.

Bahwa kesimpulan Majelis adalah hanya berdasarkan pernyataan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), tanpa melihat adanya fakta pembuktian bahwa pembayaran sebesar Rp2.227.889.491,00 merupakan bagian dari seluruh rincian biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357,00 yang disampaikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam uji bukti.

Bahwa dalam rincian biaya sandar pelabuhan yang ditunjukkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), tidak terdapat data lain yang dapat memberikan informasi adanya perbedaan jasa yang diserahkan oleh Shipping Line dalam setiap transaksi yang merupakan bagian dari total biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357,00.

Bahwa atas biaya sandar pelabuhan sebesar Rp700.234.135,00 yang merupakan bagian dari Biaya sandar pelabuhan sebesar Rp2.928.099.357,00 telah dilaporkan sebagai objek PPh Pasal 23 di dalam SPT PPh Pasal 23, sehingga bagian lainnya, yaitu biaya sebesar Rp2.227.889.491,00 juga terutang PPh Pasal 23.

3. Bahwa Undang-undang Nomor 14 tentang Pengadilan Pajak menyebutkan bahwa:

Pasal 76:

“Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1).”

Memori penjelasan Pasal 76 menyebutkan:

“Pasal ini memuat ketentuan dalam rangka menentukan kebenaran materiil, sesuai dengan asas yang dianut dalam Undang-undang perpajakan.

Oleh karena itu, Hakim berupaya untuk menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian, penilaian yang adil bagi para pihak dan sahnya bukti dari fakta yang terungkap dalam persidangan, tidak terbatas pada fakta dan hal-hal yang diajukan oleh para pihak.”

Pasal 78:

“Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan hakim.”

Memori penjelasan Pasal 78 menyebutkan:

“Keyakinan Hakim didasarkan pada penilaian pembuktian dan sesuai dengan peraturan perundang- undangan perpajakan.

Bahwa berdasarkan ketentuan UU Pengadilan Pajak, Majelis Hakim memiliki kewenangan untuk menentukan beban pembuktian dan alat bukti yang digunakan (bersifat aktif), sehingga sudah seharusnya Majelis meneliti dan memberikan pertimbangan terhadap bukti-bukti dan fakta-fakta yang ada, Majelis juga harus mempertimbangkan pendapat kedua belah pihak (Asas Audio Et Alteram partem) namun dalam sengketa a quo Majelis Hakim telah bersikap tidak berimbang dalam pembuktian di persidangan,

(9)

karena tanpa adanya pertimbangan atas dalil yang sudah disampaikan oleh Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dalam persidangan

Bahwa atas putusan Majelis Hakim Pengadilan a quo, Pemohon Peninjauan Kembali (semula

Terbanding) ajukan Permohonan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung karena tidak sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 78 UU PP;

B. Koreksi Kredit Pajak PPh Pasal 23 sebesar Rp284.075.348,00

1. Bahwa pendapat dan kesimpulan Majelis Hakim Pengadilan Pajak atas sengketa a quo sebagaimana tertuang dalam putusan a quo yang berbunyi sebagai berikut: bahwa menurut Majelis jumlah kredit pajak PPh Pasal 23 sebesar Rp863.621.095,00 harus dikurangkan dengan nilai kredit pajak atas koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa Konstruksi sebesar Rp287.075.348,00;

bahwa jika dilakukan penghitungan, maka nilai kredit pajak setelah penyesuaian akibat koreksi negatif a quo adalah seharusnya menjadi sebesar Rp576.545.574 (Rp863.621.095 00- Rp287.075.348.00);

bahwa dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23 Masa Pajak Januari- Desember 2008 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 5 April 2010 nilai kredit pajak setelah penyesuaian koreksi negatif objek PPh Pasai 23 berupa Jasa Konstruksi menurut Terbanding adalah sebesar

Rp579.545.747,00;

bahwa nilai kredit pajak menurut Terbanding a quo yang diperoleh dari penghitungan hasil konfirmasi atas Surat Setoran Pajak atas pembayaran yang telah dilakukan Pemohon Banding sesuai dengan penghitungan yang tercantum dalam dokumen Surat Uraian Banding halaman 9 dan 10 serta dokumen Laporan Pemeriksaan Pajak halaman 11 dan 12 sebesar Rp579.545.747,00 dengan penghitungan sebagai berikut:

1. Januari 2008 2. Februari 2008 3. Maret 2008 4. April 2008 5. Mei 2008 6. Juni 2008 7. Juli 2008 8. Agustus 2008 9. September 2008 10. Oktober 2008 11. November 2008 12. Desember 2008

- Reklas ke kredit PPh Pasal 4 ayat (2)

- Jumlah - Menurut SPT Koreksi

Rp 23.920.454,00 Rp 98.045.380,00 Rp 79.236.325,00 Rp 79.288.566,00 Rp 46.280.792,00 Rp 96.177.167,00 Rp 71.027.919,00 Rp 97.053.861,00 Rp 62.905.881,00 Rp 81.894.100,00 Rp 47.385.617,00 Rp 83.405.033.00 Rp (287.072.348,00) Rp 579.545.747,00 Rp 863.621.095,00 Rp 284.072.348,00

bahwa dalam persidangan, Pemohon Banding telah memberikan bukti pendukung berupa fotocopy SSP PPh Pasal 23 Tahun 2008 dengan rincian penghitungan sebagai berikut:

(10)

1. Januari 2008 2. Februari 2008 3. Maret 2008 4. April 2008 5. Mei 2008 6. Juni 2008 7. Juli 2008 8. Agustus 2008 9. September 2008 10. Oktober 2008 11. November 2008 12. Desember 2008 13. Jumlah

14. Reklas ke kredit PPh Pasal 4 ayat (2)

15. Jumlah Kredit Pajak

Rp 23.920.454,00 Rp 95.045.380,00 Rp 79.236.325,00 Rp 79.288.566,00 Rp 46.280.792,00 Rp 96.177.167,00 Rp 71.027.919,00 Rp 97.053.861,00 Rp 62.905.881,00 Rp 81.894.100,00 Rp 47.385.617,00 Rp 83.405.033.00 Rp 863.621.095,00 Rp (287.072.348,00) Rp 579.545.747,00

bahwa berdasarkan hasil penelitian atas rincian tersebut di atas, Majelis berpendapat bahwa perbedaan penghitungan kredit Pajak antara Pemohon Banding dengan Terbanding tersebut terjadi pada bulan Februari yaitu menurut Terbanding Pajak yang dilaporkan Pemohon Banding adalah sebesar

Rp98.045.380,00 sedangkan berdasarkan jumlah SSP yang diserahkan Pemohon Banding pada bulan Februari adalah sebesar Rp95.045.380,00 (terjadi perbedaan sebesar Rp3.000.000,00);

bahwa atas penjelasan penghitungan kredit pajak tersebut dia atas, Majelis dapat meyakini penghitungan Kredit Pajak yang dikemukakan Pemohon Banding karena Pemohon Banding mendasarkan pada fotocopy SSP sebenarnya yang telah dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak terkait;

bahwa berdasarkan fakta data dan keterangan terkait dengan kredit pajak setelah penyesuaian karena dilakukannya koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa Konstruksi yang direklas sebagai objek PPh Pasal 4 ayat (2), Majelis berpendapat bahwa seharusnya kredit pajak yang dapat diperhitungkan adalah sebesar Rp576.545.747,00;

bahwa jika mendasarkan pada nilai kredit pajak yang telah dilaporkan Pemohon Banding sebesar

Rp863.621.095,00 dan kemudian dikurangkan dengan kredit pajak akibat koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa Konstruksi sebesar Rp287.075.348,00 akan menghasilkan kredit pajak yang telah

dilaporkan Pemohon Banding sebesar Rp576.545.747,00 (Rp863.621.095,00 - Rp287.075.348,00);

2. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa Banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.58589/PP/M.IVB/15/2014 tanggal 17 Desember 2014 serta berdasarkan fakta-fakta yang nyata-nyata terungkap pada persidangan, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) menyatakan sangat keberatan dengan pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tidak mempertahankan Koreksi Kredit Pajak PPh Pasal 23 sebesar Rp284.075.348,00 sebagaimana diuraikan di atas dengan penjelasan sebagai berikut:

2.1. Bahwa pokok sengketa adalah terkait dengan pembuktian koreksi pajak terutang.

2.2. Bahwa koreksi pajak terutang adalah terkait dengan koreksi negatif yang dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) atas Objek PPh Pasal 23 sebesar Rp11.756.170.035,00 yang terdiri dari:

Koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa konstruksi yang direklas sebagai objek PPh Pasal 4 ayat (2) PPh Pasal 23 sebesar Rp13.984.035.257,00;

Koreksi positif objek PPh Pasal 23 jenis Jasa lainnya sebesar Rp2.227.865.222,00 karena ekualisasi antara objek PPh Pasal 23 yang telah dilaporkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) pada SPT Masa PPh Pasal 23 baik di pusat maupun di cabang dengan Objek PPh Pasal 23 berdasarkan pos pada laporan keuangan yang dilaporkan pada SPT Tahunan PPh Badan tahun 2008;

2.3. Bahwa atas Koreksi negatif objek PPh Pasal 23 berupa Jasa konstruksi yang direklas sebagai objek PPh Pasal 4 ayat (2) PPh Pasal 23 sebesar Rp13.984.035.257,00, PPh yang telah dipotong adalah sebesar Rp287.075.348,00

2.4. Bahwa atas koreksi negatif reklas menjadi objek PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp13.984.035.257,00, Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) telah setuju dengan koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding)

(11)

2.5. Bahwa perhitungan kredit pajak menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) setelah koreksi reklas yang telah disetujui Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), seharusnya menjadi sebagai berikut:

Uraian Rp

Kredit Pajak cfm SPT Pemohon Banding

863.621.095 Kredit Pajak yang

direklas menjadi PPh Pasal 4 ayat (2)

287.075.348

Kredit P ajak setelah dikurangi kredit pajak yang direklas ke PPh Pasal

576.545.747

2.6. Bahwa dengan demikian, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat bahwa koreksi negatif kredit Pajak sebesar Rp284.075.348,00 (selisih Rp3.000.000,00 berdasarkan data pembayaran menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sebesar Rp287.075.348,00), adalah sebagai konsekuensi adanya koreksi negatif sebesar Rp13.984.035.257,00 yang direklas menjadi Objek PPh Pasal 4 ayat (2);

2.7. Bahwa nantinya Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dapat melakukan pembetulan dalam SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tahun 2008 untuk melaporkan objek sebesar Rp13.984.035.257,00, dan dapat melakukan pemindahbukuan atas kredit pajak sebesar Rp284.075.348,00 dari pembayaran PPh Pasal 23 menjadi pembayaran PPh Pasal 4 ayat 2;

2.8. Bahwa putusan Majelis untuk tidak mempertahankan koreksi negatif sebesar Rp287.075.348,00 namun menyatakan bahwa kredit pajak yang dapat diperhitungkan adalah sebesar Rp576.545.747,00, menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) merupakan pendapat yang tidak konsisten dan kontradiktif.

Bahwa apabila menurut Majelis, kredit pajak yang dapat diperhitungkan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) menjadi sebesar Rp576.545.747,00, maka artinya koreksi negatif sebesar Rp284.075.348,00 (selisih Rp3.000.000,00 berdasarkan data pembayaran menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sebesar Rp287.075.348) harusnya tetap dipertahankan atas kredit pajak yang telah dilaporkan menurut SPT Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) sebesar Rp863.621.095,00;

3. Bahwa dengan demikian, putusan Majelis untuk tidak mempertahankan koreksi negatif kredit pajak yang dapat diperhitungkan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), namun

menyatakan bahwa kredit pajak yang dapat diperhitungkan adalah sebesar Rp576.545.747,00, menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) merupakan pendapat yang kontradiktif, dan tidak sesuai dengan data fakta;

Bahwa menurut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding), koreksi negatif kredit pajak sebesar Rp284.075.348,00 harus tetap dipertahankan;

Atas putusan Majelis untuk tidak mempertahankan koreksi negatif kredit pajak, Pemohon Peninjauan Kembali mengajukan permohonan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung karena tidak sesuai dengan Pasal 78 UU PP;

Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum (fundamentum petendi) tersebut di atas secara keseluruhan telah membuktikan secara jelas dan nyata-nyata bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah memutus perkara a quo tidak berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga pertimbangan dan amar putusan Majelis Hakim pada pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak nyata-nyata telah salah dan keliru serta tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (contra legem), khususnya dalam bidang perpajakan, sehingga putusan Majelis Hakim a quo tidak memenuhi ketentuan Pasal 78 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.

Oleh karena itu maka Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.58589/PP/M.IVB/15/2014 tanggal 17 Desember 2014 harus dibatalkan.

III. Bahwa dengan demikian, putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak Nomor Put.58589/PP/M.IVB/15/2014 tanggal 17 Desember 2014 yang menyatakan:

(12)

Menyatakan mengabulkan sebagian banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-1028/WPJ.07/2013 tanggal 28 April 2011, tentang keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23 Nomor 00008/203/08/052/10 tanggal 5 April 2010 Masa Pajak Januari – Desember 2008 atas nama: PT DFG, NPWP: 0X.XXX.XXX.X-0XX.000, alamat: Jalan Jenderal AF Kavling 21, FG Lantai 5, Jakarta XXXX0, dengan perhitungan sebagaimana tersebut di atas;

adalah tidak benar dan nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku;

PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan sebagian banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Terbanding Nomor KEP- 1028/WPJ.07/2011, tanggal 28 April 2011, mengenai keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan Pasal 23, Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2008, Nomor 00008/203/08/052/10, tanggal 05 April 2010, atas nama Pemohon Banding, NPWP: 0X.XXX.XXX.X-0XX.000, sehingga pajak yang masih harus dibayar menjadi nihil adalah sudah tepat dan benar, dengan pertimbangan:

a. Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu alasan butir A tentang Koreksi Negatif Objek Pajak Penghasilan Pasal 23, Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2008, sebesar (Rp11.756.170.035,00) dan alasan butir B tentang Koreksi Kredit Pajak Penghasilan Pasal 23 Rp284.075.348,00 tidak dapat dibenarkan, karena setelah meneliti dan menguji kembali dalil-dalil yang diajukan dalam Memori Peninjauan Kembali oleh Pemohon Peninjauan Kembali dihubungkan dengan Kontra Memori Peninjauan Kembali tidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan bukti-bukti yang terungkap dalam persidangan serta pertimbangan hukum Majelis Pengadilan Pajak, karena dalam perkara a quo berupa Kredit Pajak telah dilaporkan dalam SPT yang didukung dengan bukti Surat Setoran Pajak (SSP) telah diperiksa, diputus, dan diadili oleh Majelis Pengadilan Pajak dengan benar, sehingga Majelis Hakim Agung mengambil alih pertimbangan hukum dan menguatkan putusan Pengadilan Pajak a quo, dan oleh karenanya koreksi Terbanding (sekarang Pemohon Peninjauan Kembali) dalam perkara a quo tidak dapat dipertahankan karena tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 26 ayat (4) dan Penjelasan Pasal 29 ayat (2) Alinea Ketiga Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan juncto Pasal 23 dan Pasal 24 Undang-Undang Pajak Penghasilan;

b. Bahwa dengan demikian, tidak terdapat putusan Pengadilan Pajak yang nyata-nyata bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 91 huruf e Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali: Direktur Jenderal Pajak tersebut tidak beralasan sehingga harus ditolak;

Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan peninjauan kembali, maka Pemohon Peninjauan Kembali dinyatakan sebagai pihak yang kalah, dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam peninjauan kembali;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, serta peraturan perundang-undangan yang terkait;

MENGADILI,

Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali: DIREKTUR JENDERAL PAJAK tersebut;

Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam pemeriksaan Peninjauan Kembali ini sebesar Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu Rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis, tanggal 14 September 2017, oleh Dr. H. XYZ, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. H. M. FFF, S.H., M.S., dan Dr. GGG, S.H., M.Hum., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka

(13)

S.H., M.H., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.

Anggota Majelis : ttd/

Dr. H. M. FFF, S.H., M.S., ttd/

Dr. GGG, S.H., M.Hum.,

Biaya – biaya :

1. M e t e r a i……….. Rp 6.000,00 2. R e d a k s i……….. Rp 5.000,00 3. Administrasi ………..…. Rp 2.489.000,00 Jumlah ………. Rp 2.500.000,00

Ketua Majelis:

ttd/

Dr. H. XYZ, S.H., M.H.,

Panitera Pengganti ttd/

HHH, S.H., M.H.,

Untuk salinan Mahkamah Agung RI

atas nama Panitera, Panitera Muda Tata Usaha Negara,

H. RTY, S.H.

NIP XXXX0XXX XXXX0X X 00X

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu koreksi Dasar Pengenaan Pajak sebesar Rp619.239.996.597,00, yang tidak disetujui oleh Pemohon

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu Koreksi Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan PPN Masa Pajak April 2014 sebesar Rp3.198.635,00

bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu Koreksi Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Masa Pajak Desember

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu dikabulkannya gugatan Termohon Peninjauan Kembali (semula Penggugat) terhadap Keputusan

bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu koreksi atas Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Penghasilan Pasal 26 Masa Pajak Februari 2012

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu Koreksi Pajak Masukan Masa Pajak November 2012 sebesar Rp9.385.381,00 (merupakan bagian dari

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu tidak dapat diterimanya permohonan banding Pemohon Banding (sekarang Pemohon Peninjauan

Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu Koreksi Pajak Masukan yang merupakan Koreksi Pajak Masukan berdasarkan hasil penelitian dan