1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 1980 berkisar 52,2 tahun, tahun 1990 menjadi 59,8 tahun, pada tahun 2000 bertambah menjadi 64,5 tahun dan pada tahun 2010 mengalami kenaikan menjadi 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 71,1. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk Lanjut Usia (Lansia) mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 terdapat 15.1 juta jiwa, dan di tahun 2010 telah mencapai 18,04 juta jiwa. Peningkatan jumlah Lanjut Usia mencapai 7,6 persen dan diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 29 juta atau menjadi 11,04%. Selanjutnya, berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 21 juta penduduk Lanjut Usia pada tahun 2015. Jumlah tersebut diprediksi meningkat menjadi 33 juta pada tahun 2025 dan 48 juta pada tahun 2035 (15.77 %) atau hampir 16 persen dari total penduduk saat itu (BPS:Stranas Kelanjutusiaan 2015-2025).
Peningkatan jumlah Lanjut Usia berpotensi menimbulkan implikasi terhadap kondisi sosial ekonomi, baik dalam keluarga, masyarakat maupun kemampuan negara dalam memberikan rehabilitasi kepada Lanjut Usia. Implikasi ekonomi dari peningkatan jumlah penduduk Lanjut Usia adalah bertambahnya ratio ketergantungan (old age ratio dependency), dimana ratio ketergantungan Lanjut Usia pada tahun 2010 adalah 11,95 artinya setiap penduduk usia produktif (usia 15 - 59 tahun) akan menanggung sekitar 11-12 orang penduduk Lanjut Usia.
Perhatian Pemerintah terhadap penduduk Lanjut Usia sesungguhnya mempunyai landasan yang kuat. Pasal 27 ayat (2)
2
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 secara tegas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Kemudian dipertegas lagi oleh UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM Pasal 41 mengamanatkan (1) Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh.
(2) Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus, dan Pasal 42 menyatakan bahwa “Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Dalam Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tersebut, Lanjut Usia dibedakan menjadi dua, yaitu Lanjut Usia potensial dan Lanjut Usia tidak potensial. Lanjut Usia Potensial adalah Lanjut Usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa. Sedangkan Lanjut Usia Tidak Potensial adalah Lanjut Usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. Sementara itu WHO membagi Lanjut Usia menurut tingkatan umur Lanjut Usia, yaitu:
(1) Usia pertengahan (midle age, antara 45-59 tahun), (2) usia lanjut (elderly, antara 60-70 tahun), (3) Usia lanjut (old, antara 75-90 tahun), dan (4) Usia sangat tua (very old, di atas 90 tahun)
Khusus bagi Lanjut Usia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, khususnya Pasal 1 dan Pasal 4, lalu dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 36 dan Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Upaya
3
Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia. Selanjutnya diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial semakin menegaskan perlu pemberian jaminan dan kesejahteraan bagi Lanjut Usia. Amanat konstitusi tersebut dijadikan dasar bagi usaha untuk memberikan jaminan dan perlindungan sosial kepada Lanjut Usia.
Populasi penduduk Lanjut Usia di Kota Bandung dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tahun 2015 jumlah Lanjut Usia tercatat sebanyak 212.898 jiwa atau sebesar (8,95%) dari jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.378.627 jiwa, kemudian tahun 2016 jumlah Lanjut Usia naik menjadi 246.800 jiwa (10,29%) dari penduduk Kota Bandung sebesar 2.397.396 jiwa. Selanjutnya tahun 2017 tercatat sebanyak 264.415 jiwa (10,96 %) dari jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.412.458 jiwa, kemudian tahun 2018 jumlah Lanjut Usia naik menjadi sebanyak 275.140 jiwa (11,22%) dari jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.452.179 jiwa, dan hingga tahun 2019 jumlah Lanjut Usia naik menjadi 294.178 jiwa (11,86%) dari keseluruhan penduduk Kota Bandung sebanyak 2.480.464 jiwa (Disdukcapil Kota Bandung:2019).
Sementara itu dilihat dari aspek sosial-ekonomi, jumlah penduduk Lanjut Usia di Kota Bandung yang tergolong kurang mampu sebagaimana tercatat dalam Basis Data Terpadu (BDT), juga dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tahun 2016 jumlah Lanjut Usia kurang mampu tercatat sebanyak 41.668 jiwa atau sebesar (16,88%) dari keseluruhan jumlah Lanjut Usia sebanyak 246.800 jiwa, tahun 2017 jumlah Lanjut Usia kurang mampu menjadi 44.361 jiwa (16,78%) dari jumlah Lanjut Usia sebanyak 264.415 jiwa. Kemudian tahun 2018 jumlah Lanjut Usia kurang mampu naik menjadi sebanyak 46.174 jiwa (16,78%) dari jumlah Lanjut Usia sebanyak 275.140 jiwa, dan tahun 2019 jumlah Lanjut Usia kurang mampu naik menjadi 60.542 jiwa (20,58%) dari keseluruhan Lanjut Usia sebanyak 294.178 jiwa (Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung:2019).
4
Sementara itu capaian Angka Harapan Hidup (AHH) Kota Bandung juga mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2017 sebesar 73,84 tahun, kemudian tahun 2018 naik menjadi 74 tahun, dan pada tahun 2019 AHH Kota Bandung naik menjadi 74,14, lebih tinggi dari usia harapan hidup nasional yang hanya mencapai 70.7 tahun (BPS Kota Bandung: 2019). Angka Harapan Hidup adalah data yang menggambarkan usia kematian pada suatu populasi. Data ini merupakan ringkasan pola usia kematian yang terjadi pada seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga Lanjut Usia.
Visi Daerah Kota Bandung yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Tahun 2018-2023 yaitu:
“Terwujudnya Kota Bandung Yang Unggul, Nyaman, Sejahtera, dan Agamis”. Visi tersebut selaras dengan Visi Kota Bandung dalam RPJP Tahun 2005-2025 yaitu “Mewujudkan Kota Bandung sebagai Kota Bermartabat 2025. Kriteria capaian Visi Daerah tahun 2005-2025 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2008 tentang RPJPD Kota Bandung Tahun 2005-2025 yaitu
“Mewujudkan Kota Bandung Sebagai Kota Bermartabat 2025”, secara jelas direfleksikan pada Visi Kota Bandung Yang Unggul, Nyaman dan Sejahtera. Untuk mewujudkan visi daerah pembangunan jangka panjang “Kota Bandung Bermartabat” (Bandung Dignified City), ditempuh melalui 6 (enam) misi pembangunan yaitu:
1. Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang handal dan religius.
2. Mengembangkan Perekonomian kota yang berdaya saing.
3. Mengembangkan kehidupan sosial budaya kota yang kreatif, berkesadaran tinggi serta berhati nurani.
4. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup kota.
5. Meningkatkan tatakelola Pemerintahan yang efektif, efisien, akuntabel, transparan.
6. Mengembangkan sistem pembiayaan kota terpadu.
Dalam upaya mencapai visi dan misi Kota Bandung tersebut, berbagai kegiatan kelanjutusiaan di Kota Bandung baik yang
5
dilaksanakan pemerintah kota melalui Perangkat Daerah maupun oleh masyarakat dan perguruan tinggi, telah menunjukkan adanya upaya peningkatan kualitas hidup Lanjut Usia yang mengarah pada perwujudan kota ramah Lanjut Usia. Kegiatan kelanjutusiaan tersebut antara lain: terbentuknya Komisi Daerah Lanjut Usia (KOMDA Lansia) Kota Bandung, dengan berbagai kegiatan dalam meningkatkan kesejahteraan Lanjut Usia oleh Perangkat Daerah Kota Bandung sebagai anggota KOMDA Lansia.
Selanjutnya terbentuknya dinas baru yaitu Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (P3APM), dengan salah satu Bidang yang secara khusus menangani Lanjut Usia yaitu Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Lanjut Usia, sebagai wujud perhatian pemerintah kota terhadap kehidupan Lanjut Usia di Kota Bandung. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan DP3APM antara lain; Kongres Lansia Kota Bandung, launching Minggu Lansia, pembentukan Sahabat Lansia, dan kegiatan lainnya. Kemudian berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah lainnya yang ada di Kota Bandung yang ditujukan bagi peningkatan kesejahteraan Lanjut Usia di Kota Bandung, akan diuraikan pada bagian selanjutnya di Bab II.
Di tingkat masyarakat, telah terbentuk berbagai organisasi kelanjutusiaan dengan berbagai kegiatan yang telah berlangsung, yaitu: Lembaga Lanjut Usia (LLI) Kota Bandung, Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kota Bandung, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandung, Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata (PEPABRI) Kota Bandung, KPAE Kota Bandung, HIWALA, Paguyuban Juang Kencana, Lansia UNPAD.
Berdasarkan realitas obyektif di Kota Bandung dan idealitas pelayanan kesejahteraan sosial Lansia, maka menjadi penting Pemerintah Kota Bandung memiliki Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia, yang berfungsi untuk mengkoordinasi, mengkonsolidasi dan melaksanakan seluruh proses Kota Ramah Lansia di Kota Bandung.
6 1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka identifikasi masalah mengenai rancangan Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia adalah:
1. Permasalahan apa saja yang dihadapi pemerintah dan masyarakat Kota Bandung dalam Kota Ramah Lansia?
2. Mengapa perlu Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia?
3. Apa yang menjadi pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis terhadap Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia?
4. Apa sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan dari Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia?
1.3. Tujuan dan Kegunaan
Penyusunan Naskah Akademik ini bertujuan untuk melakukan analisis sebagai landasan ilmiah bagi penyusunan rancangan Peraturan Daerah, yang memberikan arah, dan menetapkan ruang lingkup bagi penyusunan Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia. Selain itu juga dapat merupakan dokumen resmi yang menyatu dengan konsep Rancangan Peraturan Daerah yang akan dibahas bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Adapun kegunaan penyusunan naskah akademik ini adalah:
1. Merumuskan permasalahan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat Kota Bandung dalam Kota Ramah Lansia.
2. Merumuskan permasalahan hukum yang dihadapi Pemerintah Kota Bandung, sebagai alasan pengajuan Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia.
3. Merumuskan pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis tentang perlunya Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia
7
4. Merumuskan sasaran yang akan diwujudkan, ruang lingkup pengaturan, jangkauan, dan arah pengaturan dalam Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Ramah Lansia ke depan.
1.4. Metode
Penyusunan naskah akademik ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, yaitu dilakukan melalui studi pustaka yangg menelaah (terutama) data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, dokumen hukum lainnya, hasil penelitian, dan referensi lainnya. Dengan demikian data yang diperoleh berupa data sekunder. Data sekunder ialah data yang diperoleh dari bahan bacaan bukan diperoleh langsung dari lapangan.
Data sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. Bahan hukum primer ialah bahan-bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat. Bahan hukum sekunder ialah bahan hukum yang membantu menganalisis bahan hukum primer. Bahan hukum tertier ialah bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus (hukum), ensiklopedia.
Data dan informasi diperoleh dari literatur, peraturan perundang-undangan, hasil kajian, dan hasil penelitian, yang kemudian dideskripsikan secara terstruktur dan sistematis.
Selanjutnya akan dilakukan analisa dari data dan informasi yang disajikan. Analisa akan menyangkut isi dari data dan informasi yang disajikan serta keterkaitannya dengan peraturan perundang-undangan yang berada pada tingkat yang sama maupun peraturan perundang- undangan yang berada di atasnya.
BAB II
KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
8 2.1. Kajian Teoretis
1. Masalah dan Kebutuhan Lanjut Usia
Lanjut Usia merupakan salah satu peristiwa utama dalam rentang kehidupan seseorang. Usia 65 tahun umumnya merupakan usia pertengahan antara usia menengah dan usia tua (Santrock, 1999). Para ahli gerontologi yang mengkhususkan perawatan medik pada orang Lanjut Usia, membagi usia tua menjadi 2 kelompok, yaitu usia tua pertengahan (65-74 tahun) dan usia tua (75 tahun ke atas).
Sementara menurut Pasal 1 Undang-Undang RI Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia memberikan pengertian, “Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas”.
Lanjut Usia sebagai manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan sebagaimana umumnya, yaitu kebutuhan makanan, perlindungan, perawatan kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan sosial dalam mengadakan hubungan dengan orang lain.
Kebutuhan-kebutuhan utama (primer) Lanjut Usia meliputi:
a. kebutuhan biologis/fisik; yang meliputi kebutuhan makanan yang bergizi, seksual, pakaian dan perumahan/tempat berteduh.
b. kebutuhan ekonomi; yaitu berupa penghasilan memadai.
c. kebutuhan kesehatan; berupa kesehatan fisik, mental, perawatan dan keamanan.
d. kebutuhan psikologis; yang meliputi kasih sayang, adanya tanggapan dari orang lain, ketentraman, merasa berguna, memiliki jati diri serta status yang jelas.
e. kebutuhan sosial; yaitu berupa peranan-peranan dalam hubungan dengan orang lain, hubungan antar pribadi dalam keluarga, teman- teman sebaya dan hubungan dengan organisasi-organisasi sosial.
Kebutuhan-kebutuhan kedua (sekunder) Lanjut Usia antara lain meliputi;
a. kebutuhan dalam melakukan aktivitas.
b. kebutuhan dalam pengisian waktu luang dan rekreasi.
9
c. kebutuhan yang bersifat kebudayaan, seperti informasi dan pengetahuan, keindahan, dan lain-lain.
d. kebutuhan yang bersifat politis, yaitu meliputi status, perlindungan hukum, partisipasi dan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan negara atau pemerintah.
e. kebutuhan yang bersifat keagamaan/spiritual seperti memahami akan makna kehadiran dirinya di dunia ini dan memahami hal-hal yang tidak diketahui atau di luar kehidupan, termasuk kematian.
Berdasarkan uraian kebutuhan Lanjut Usia tersebut di atas, secara ringkas permasalahan yang dialami Lanjut Usia meliputi :
a. Biologis; Lanjut Usia mengalami perubahan fisik dengan tanda- tanda fisik antara lain: lambatnya tanggapan, kehilangan keberfungsiaan motorik dan sensori, keletihan yang lebih cepat, penurunan tenaga, timbulnya penyakit-penyakit kronik atau progresif dari suatu sifat ketidakmampuan.
b. Psikologis; Lanjut Usia mengalami perubahan-perubahan dalam proses sensori, persepsi dan keberfungsian mental (seperti memori, pembelajaran dan intelegensi), kapasitas penyesuaian, dan kepribadian.
c. Sosial; Lanjut Usia mengalami perubahan-perubahan peranan dan hubungan individu dalam struktur sosial (keluarga, masyarakat, pemerintah/negara).
d. Religius; agama dipandang sebagai faktor penting yang mencerminkan kesejahteraan atau kesehatan emosional dalam kehidupan Lanjut Usia. Namun tidak sedikit pula diantara Lanjut Usia terutama karena perubahan fisiologi, psikologi dan sosial yang drastis menyebabkan mereka kehilangan keyakinan akan Tuhannya.
2. Pelayanan Sosial dan Perlindungan Sosial bagi Lanjut Usia
Pelayanan sosial (social service) merupakan istilah yang digunakan untuk semua pelayanan (services) dan manfaat (benefits)
10
yang berorientasi orang (Wickenden, 1976). Spicker (1995), menyatakan bahwa pelayanan sosial meliputi jaminan sosial, perumahan, kesehatan, pekerjaan sosial, dan pendidikan (sebagai lima besar). Ini merupakan pelayanan sosial secara luas. Selanjutnya, Romanyshyn (1971) memberikan arti pelayanan sosial sebagai usaha- usaha untuk mengembalikan, memertahankan, dan meningkatkan keberfungsian sosial individu-individu dan keluarga-keluarga melalui (1) sumber-sumber sosial pendukung, dan (2) proses-proses yang meningkatkan kemampuan individu-individu dan keluarga-keluarga untuk mengatasi stress dan tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang normal. Pengertian yang dikemukakan oleh Romanyshyn ini mendekati pengertian dalam UU No 11 Tahun 2009 (pasal 1, ayat2) yang menyatakan pelayanan kesejahteraan sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga Negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial. Berdasarkan pengertian di atas maka pelayanan sosial pada hakekatnya mempunyai fungsi pencegahan (preventive), perawatan dan pemulihan (curing), dan pengembangan (developmental).
Dalam konteks pelayanan sosial Lanjut Usia maka pelayanan tersebut juga sejalan dengan fungsi-fungsi pelayanan sosial di atas sehingga pelayanan sosial kepada Lanjut Usia ada yang bersifat pencegahan dari timbulnya masalah pada Lanjut Usia, perawatan dan pemulihan dari permasalahan yang dihadapi dan pengembangan potensi sesuai dengan kemampuan agar tetap menjadi Lanjut Usia yang aktif. Pelayanan yang bersifat pencegahan termasuklah kegiatan yang bersifat kampanye guna penyadaran masyarakat tentang perlakuan yang manusiawi terhadap Lanjut Usia, penanaman nilai- nilai luhur penghormatan kepada orang yang berusia lanjut dan program perlindungan dan pelayanan luar panti yang ditujukan guna mencegah Lanjut Usia mengalami keterlantaran dan permasalahan
11
sosial lainnya. Pelayanan sosial yang bersifat perawatan dan pemulihan kepada Lanjut Usia dapat dilakukan dalam pelayanan panti maupun luar panti. Manakala pelayanan yang bersifat pengembangan ditujukan untuk mengembangkan potensi Lanjut Usia khususnya Lanjut Usia yang produktif agar tetap aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Strategi pelayanan sosial bagi Lanjut Usia antara lain melalui perlindungan sosial. Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Pasal 1 butir 9 disebutkan bahwa
“Perlindungan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan sosial”. Perlindungan sosial tersebut merupakan skema yang dirancang secara terencana baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk melindungi anggotanya dari berbagai risiko dalam kehidupannya. Secara konseptual, perlindungan sosial mencakup;
bantuan sosial (social assistance), asuransi sosial (social insurance), kebijakan-kebijakan pasar kerja (labour market policies), dan jaring pengaman sosial berbasis masyarakat (community-based social safety nets).
Perlindungan sosial bagi Lanjut Usia dilaksanakan melalui:
a. pendampingan sosial, baik yang dilaksanakan di kediaman Lansia maupun di lembaga konsultasi kesejahteraan Lansia yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat;
b. penyediaan pusat-pusat konsultasi kesejahteraan bagi Lansia terutama di unit-unit pelayanan sosial baik dikelola pemerintah maupun masyarakat;
c. pemberian jaminan sosial dalam bentuk santunan langsung di luar panti bagi Lansia yang hidup dan dipelihara ditengah-tengah keluarga atau masyarakat lainnya yang dalam keadaan jompo sedangkan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga dan terlantar diberikan santunan melalui sistem panti;
d. bantuan pemakaman terhadap Lansia yang meninggal dunia dan tidak diketahui identitasnya dilakukan secara bermartabat adalah
12
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan / atau masyarakat setempat.
e. Untuk memberikan perlindungan kepada Lansia terlantar, masyarakat dan dunia usaha dapat membentuk Panti Werda.
3. Rehabilitasi Sosial bagi Lanjut Usia
Salah satu fungsi dari Pelayanan Sosial adalah Rehabilitasi Sosial, bahkan istilah pelayanan sering disatukan dengan istilah rehabilitasi sosial, karena rehabilitasi sosial itu sendiri sudah merupakan suatu pelayanan. Namun ada beberapa pelayanan yang bukan merupakan proses refungsionalisasi atau pengembangan potensi individu, seperti pelayanan akomodasi, kesehatan dan terapi khusus. Thomas.M & Pierson J (1995:318) mendefinisikan rehabilitasi sebagai kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki kapasitas fisik, mental dan sosial klien secara optimal. Sementara itu Scott Allan (1958:1,2) mengemukakan bahwa: “rehabilitasi adalah suatu proses untuk membantu seseorang menyadari potensi dan kemudian mempersiapkan orang tersebut untuk mencapai potensi yang dimilikinya”. Rehabilitasi juga mempunyai arti memulihkan kapasitas fisik maupun mental seseorang. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa rehabilitasi sosial adalah proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan klien mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pengertian rehabilitasi sosial di atas, dapat dipahami bahwa yang menjadi sasaran garapan rehabilitasi sosial adalah orang-orang yang mengalami hambatan atau keterbatasan dalam pelaksanaan fungsi-fungsinya, sebagai akibat adanya penurunan fungsi atau struktur tubuh atau psikologis, dan atau lingkungan yang menghambat.
Donald Briland (Naomi Brill: 1978) mengemukakan 3 indikator sehat dalam konteks rehabilitasi, yaitu:
13
a. Kapasitas Adaptif ; kemampuan orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial, termasuk norma-norma dan nilai-nilai sosial.
b. Kapasitas Fungsional ; menyangkut tingkat keberfungsian secara fisik, intelektual, ekpresi emosional, dan keberfungsian sosial.
c. Optimasi Abilitas ; kemampuan orang untuk menyadari potensi- potensi yang dimilikinya, serta kemampuan untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut secara optimal.
Dalam konteks pelayanan sosial bagi lanjut usia, tugas yang berkaitan dengan rehabilitasi sosial adalah memperbaiki atau mengembalikan keberfungsian sosial lanjut usia. Konsep keberfungsian sosial lanjut usia pada intinya menunjuk pada kapabilitas lanjut usia, keluarga atau masyarakat dalam menjalankan peran-peran sosial di lingkungannya. Konsepsi ini mengedepankan nilai bahwa lanjut usia adalah subyek pembangunan; lanjut usia memiliki kapabilitas dan potensi yang dapat dikembangkan dalam proses pembangunan, lanjut usia memiliki dan/atau dapat menjangkau, memanfaatkan, dan memobilisasi asset dan sumber- sumber yang ada di sekitar dirinya.
Dalam Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia khususnya Pasal 11 disebutkan bahwa: “...Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia dilaksanakan dalam bentuk: a) motivasi dan diagnosis psikososial; b) perawatan dan pengasuhan; c) pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; d) bimbingan mental spiritual; e) bimbingan fisik; f) bimbingan sosial dan konseling psikososial; g) pelayanan aksesibilitas; h) bantuan dan asistensi sosial; i) bimbingan resosialisasi; j) bimbingan lanjut; dan/atau, k) rujukan.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Standar Nasional Rehabilitasi Sosial, khususnya BAB II tentang Rehabilitasi Sosial Dasar, pada Pasal 8 dijelaskan bahwa:”Rehabilitasi Sosial Dasar
14
merupakan upaya yang dilakukan untuk memulihkan keberfungsian sosial Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), keluarga PPKS, dan masyarakat yang dilaksanakan di dalam dan di luar Panti Sosial”. Rehabilitasi Sosial Dasar tersebut menjadi tanggung jawab gubernur dan bupati/wali kota. Kemudian dalam Pasal 10 tentang Rehabilitasi Sosial Dasar di Luar Panti Sosial, dijelaskan pula bahwa:
“Rehabilitasi Sosial Dasar Penyandang Disabilitas Telantar, Anak Telantar, dan Lanjut Usia Telantar di luar Panti Sosial, dilakukan dengan kriteria: a) tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, tidak terpelihara, tidak terawat, dan tidak terurus; dan b) masih ada perseorangan, keluarga, dan/atau masyarakat yang mengurus”.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Rehabilitasi Sosial Dasar di Luar Panti Sosial, menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
4. Konsep tentang Kota Ramah Lansia
Lanjut Usia merupakan sumber daya bagi keluarga, komunitas dan perekonomian dalam lingkungan yang mendukung dan memberikan peluang. Dalam kaitan tersebut World Health Organization (WHO) menganggap ”penuaan aktif” sebagai suatu proses seumur hidup yang dibentuk oleh beberapa faktor yaitu; kesehatan, partisipasi, dan jaminan kehidupan sampai masa tua. Berdasarkan pendekatan WHO tentang penuaan aktif tersebut, bahwa sebuah
”kota” diharapkan lebih ramah Lansia dalam menggali potensi sumber daya Lansia bagi kemanusiaan.
Konsep Kota Ramah Lansia yang disusun oleh WHO didasarkan pada “delapan area kehidupan kota”, yaitu; 1) ruang terbuka dan bangunan, 2) transportasi, 3) perumahan, 4) partisipasi sosial, 5) penghormatan dan inklusi sosial, 6) partisipasi dan pekerjaan, 7) komunikasi dan informasi, 8) dukungan komunitas dan layanan kesehatan. Setiap area dari 8 dimensi kota ramah lansia tersebut masing-masing memiliki indikator tersendiri. Sementara itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang
15
Kesejahteraan Lanjut Usia, disebutkan bahwa Lanjut Usia mempunyai hak untuk memperoleh: 1) pelayanan keagamaan dan mental spiritual, 2) pelayanan kesehatan, 3) pelayanan kesempatan kerja, 4) pelayanan pendidikan dan pelatihan, 5) kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana umum, 6) kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum, 7) perlindungan sosial, dan 8) bantuan sosial.
Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 4 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Ramah Lanjut Usia, disebutkan bahwa kriteria Kawasan Ramah Lanjut Usia meliputi: 1) memiliki kebijakan kelanjutusiaan, 2) perumahan dan kawasan permukiman, 3) ruang terbuka dan bangunan yang ramah Lanjut Usia, 4) transportasi yang ramah Lanjut Usia, 5) penghormatan dan inklusi sosial, 6) partisipasi sosial, 7) partisipasi sipil, 8) pekerjaan yang ramah Lanjut Usia, 9) dukungan komunitas dan pelayanan sosial, 10) pelayanan kesehatan, 11) layanan keagamaan dan mental spiritual, 12) komunikasi dan informasi, 13) advokasi sosial, 14) bantuan hukum, 15) perlindungan Lanjut Usia dari ancaman dan tindak kekerasan. Permensos No. 4 Tahun 2017 tersebut telah diadaptasi oleh Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) Provinsi Jawa Barat, dengan menerbitkan buku Pedoman Kawasan Ramah Lanjut Usia di Jawa Barat, yang telah disosialisasikan dalam Rapat Koordinasi Komda Lansia se Jawa Barat pada bulan Desember 2017.
Dalam konteks kelanjutusiaan di Kota Bandung, konsep Bandung Kota Ramah Lansia mengacu pada Peraturan Menteri Sosial Nomor 4 Tahun 2017, dan Pedoman Kawasan Ramah Lanjut Usia di Jawa Barat yang telah diterbitkan oleh Komda Lansia Provinsi Jawa Barat, serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi kedaerahan di Kota Bandung.
5. Perspektif Pelayanan Publik dalam Kota Ramah Lansia
Tugas utama pemerintah adalah memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakatnya, melayani kepentingan masyarakat
16
secara merata dan berkeadilan, memberikan perlindungan dan rasa aman serta kemudahan dalam memberikan pelayanan. Pengertian Layanan Publik, Sesungguhnya yang menjadi produk dari organisasi pemerintahan adalah pelayanan masyarakat (public service). Pelayanan tersebut diberikan untuk memenuhi hak masyarakat, baik itu merupakan layanan civil maupun layanan publik. Artinya kegiatan pelayanan pada dasarnya menyangkut pemenuhan suatu hak. Ia melekat pada setiap orang, baik secara pribadi maupun berkelompok (organisasi), dan dilakukan secara universal. Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan organisasi yang menyelenggarakannya, pelayanan publik atau pelayanan umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Pelayanan publik atau pelayanan umum yang diselenggarakan oleh organisasi privat, adalah semua penyediaan barang atau jasa publik yang diselenggarakan oleh swasta, seperti misalnya rumah sakit swasta, PTS, perusahaan pengangkutan milik swasta.
b. Pelayanan publik atau pelayanan umum yang diselenggarakan oleh organisasi publik, yang dapat dibedakan lagi menjadi:
1) Bersifat primer, adalah semua penyediaan barang/jasa publik yang diselenggarakan oleh pemerintah yang di dalamnya pemerintah merupakan satu-satunya penyelenggara dan pengguna/klien mau tidak mau harus memanfaatkannya.
Misalnya adalah pelayanan di kantor imigrasi, pelayanan penjara dan pelayanan perizinan.
2) Bersifat sekunder, adalah segala bentuk penyediaan barang/jasa publik yang diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi yang di
17
dalamnya pengguna/ klien tidak harus mempergunakannya karena adanya beberapa penyelenggara pelayanan.
Ada lima karakteristik yang dapat dipakai untuk membedakan ketiga jenis pelayanan publik tersebut, yaitu:
1. Adaptabilitas layanan. Ini berarti derajat perubahan layanan sesuai dengan tuntutan perubahan yang diminta oleh pengguna.
2. Posisi tawar pengguna/klien. Semakin tinggi posisi tawar pengguna/klien, maka akan semakin tinggi pula peluang pengguna untuk meminta pelayanan yang lebih baik.
3. Tipe pasar. Karakteristik ini menggambarkan jumlah penyelenggara pelayanan yang ada, dan hubungannya dengan pengguna/klien.
4. Locus kontrol. Karakteristik ini menjelaskan siapa yang memegang kontrol atas transaksi, apakah pengguna ataukah penyelenggara pelayanan.
5. Sifat pelayanan. Hal ini menunjukkan kepentingan pengguna atau penyelenggara pelayanan yang lebih dominan.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Moenir (1998:41) bahwa “hak atas pelayanan itu sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apa pun juga yang tugasnya menyelenggarakan pelayanan.” Tugas pemerintah adalah untuk melayani dan mengatur masyarakat, menurut Thoha (1995:4) bahwa tugas pelayan lebih menekankan kepada mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik, mempersingkat waktu proses pelaksanaan urusan publik. Sedangkan tugas mengatur lebih menekankan kepada kekuasan atau power yang melekat pada posisi jabatan birokrasi
2.2. Kajian terhadap Asas-asas Penyusunan Peraturan Daerah
Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, sebagaimana yang dikehendaki oleh tujuan hukum, yakni adanya keadilan dan kepastian hukum, telah diberlakukan/dipositipkan dalam
18
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Dalam undang-undang sebagaimana dimaksud, asas yang bersifat formal diatur dalam Pasal 5 dan asas yang bersifat materiil diatur dalam Pasal 6. Pengertian masing-masing asas ini dikemukakan dalam penjelasan pasal dimaksud.
Menurut Hamid S. Attamimi bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, setidaknya ada beberapa pegangan yang harus dikembangkan guna memahami asas-Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (algemene beginselen van behorlijke regelgeving) secara benar, meliputi:Pertama, Asas yang terkandung dalam Pancasila selaku asas-Asas hukum umum bagi peraturan perundang-undangan; Kedua, asas-Asas negara berdasar atas hukum selaku asas-Asas hukum umum bagi perundang- undangan; Ketiga, asas-Asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi selaku asas-Asas umum bagi perundang-undangan, dan Keempat, asas-Asas bagi perundang-undangan yang dikembangkan oleh ahli.
Berkenaan dengan hal tersebut pembentukan peraturan daerah yang baik selain berpedoman pada asas-Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behoorlijke wetgeving), juga perlu dilandasi oleh asas-Asas hukum umum (algemene rechtsbeginselen), yang didalamnya terdiri dari Asas negara berdasarkan atas hukum (rechtstaat), pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi, dan negara berdasarkan kedaulatan rakyat.
Menurut Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dalam membentuk peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan Daerah (Perda), harus berdasarkan pada asas-Asas pembentukan yang baik (Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto) meliputi:
a. Asas Kejelasan Tujuan adalah bahwa setiap pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai;
b. Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat adalah bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh
19
lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum, apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang;
c. Asas Kesesuaian antara jenis dan materi muatan, adalah bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar- benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya;
d. Asas dapat dilaksanakan, adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis.
1) Aspek Filosofis adalah terkait dengan nilai-nilai etika dan moral yang berlaku di masyarakat. Peraturan Daerah yang mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi dibentuk berdasarkan semua nilai- nilai yang baik yang ada dalam masyarakat;
2) Aspek Yuridis adalah terkait landasan hukum yang menjadi dasar kewenangan pembuatan Peraturan Daerah;
3) Aspek Sosiologis adalah terkait dengan bagaimana Peraturan Daerah yang disusun tersebut dapat dipahami oleh masyarakat, sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat yang bersangkutan.
e.Asas kedayagunaan dan kehasilgunaan, adalah bahwa setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
f. Asas kejelasan rumusan, adalah bahwa setiap peraturan perundang- undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan. Sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaanya.
g. Asas keterbukaan, adalah bahwa dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai perencanaan, persiapan,
20
penyusunan dan pembahasan bersifat transparan. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas- luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan;
h. Asas materi muatan adalah materi muatan peraturan perundang- undangan menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mengandung asas-asas sebagai berikut:
1) Asas pengayoman, adalah memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat;
2) Asas kemanusiaan, adalah mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta hakekat dan martabat setiap warga negara secara proporsional;
3) Asas kebangsaan, adalah mencerminkan sifat dan watak Bangsa Indonesia yang pluralistik dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4) Asas kekeluargaan, adalah adalah mencerminkan musyawarah untuk mufakat dalam setiap pengambilan keputusan;
5) Asas kenusantaraan, adalah bahwa setiap materi muatan Peraturan Daerah senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila;
6) Asas bhineka tunggal ika, adalah bahwa materi muatan Peraturan Daerah harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku, dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
7) Asas keadilan, adalah mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali ;
8) Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, adalah bahwa setiap materi muatan peraturan daerah tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar
21
belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender atau status sosial;
9) Asas ketertiban dan kepastian hukum, adalah bahwa setiap materi muatan peraturan daerah harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum;
10) Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan daerah harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan Negara.
2.3. Kajian terhadap Praktik Penyelenggaraan Kota Ramah Lansia di Kota Bandung, Kondisi yang Ada Serta Permasalahan yang Dihadapi.
1. Gambaran Umum Kota Bandung
Kota Bandung merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat, dimana Kota Bandung terkenal dengan “Kota Kembang”. “Kota Kembang” merupakan sebutan lain untuk kota Bandung, karena pada jaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. Kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner.
Secara geografis Kota Bandung terletak pada posisi 107º36’
Bujur Timur dan 6º55’ Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Bandung adalah 16.729,65 Ha. Perhitungan luasan ini didasarkan pada
22
Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung.
Secara administratif, Kota Bandung berbatasan dengan beberapa daerah kabupaten/kota lainnya, yaitu:
1. sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat;
2. sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi;
3. sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung; dan 4. sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.
Secara demografi, jumlah penduduk Kota Bandung selama periode 2013-2017, terus mengalami peningkatan. Catatan data tahun 2013 relatif belum valid, karena saat itu ada pergantian sistem aplikasi. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.322.010 jiwa, pada tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi sebanyak 2.412.458 jiwa, dan pertahun mengalami trend pertumbuhan yang terus mengecil. Dalam hal ini rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) Kota Bandung periode 2014-2017 mencapai 1,67% (Sumber:RPJMD Kota Bandung Tahun 2018-2023).
Sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu bahwa jumlah Lanjut Usia di Kota Bandung dalam lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan sebagaimana tampak pada grafik berikut:
Grafik 2.1
23
Berdasarkan grafik 1 di atas tampak bahwa pada tahun 2019 jumlah Lanjut Usia sebanyak 294.178 jiwa atau 11,86 % dari jumlah penduduk Kota Bandung di tahun yang sama sebanyak 2.480.464 jiwa. Sementara itu jumlah Lanjut Usia yang termasuk dalam kategori miskin yang terdaftar dalam Basis Data Terpadu (BDT) pada tahun 2019 sebanyak 60.542 jiwa atau sebesar 20,58% dari keseluruhan jumlah Lanjut Usia (Dinsosnangkis:2019).
Mengenai persebaran peningkatan jumlah Lanjut Usia di tiap kecamatan, dapat dilihat pada rekapitulasi sebagai berikut:
REKAPITULASI JUMLAH PENDUDUK LANSIA TAHUN 2015 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA BANDUNG
NO
KEC KECAMATAN
LANSIA KOTA BANDUNG USIA
60-64
USIA 65-69
USIA 70-74
USIA 75-79
USIA 80-84
USIA 85-89
USIA 90-94
USIA 95-99
DIATAS
100 JUMLAH LANSIA
1 SUKASARI 1.280 913 775 506 175 86 31 4 4 3.774
2 COBLONG 2.375 1.488 1.347 1.042 566 312 173 74 36 7.413
3 BABAKAN CIPARAY 2.044 1.060 786 383 139 44 12 3 1 4.472
4 BOJONGLOA KALER 1.897 1.067 780 420 193 65 12 3 1 4.438
5 ANDIR 2.027 1.360 1.110 749 386 216 93 42 19 6.002
6 CICENDO 1.825 1.075 868 575 272 118 61 21 5 4.820
7 SUKAJADI 1.652 1.015 752 484 190 87 33 15 3 4.231
8 CIDADAP 894 492 439 274 83 46 17 - - 2.245
9 BANDUNG WETAN 914 518 426 376 232 175 88 38 18 2.785
10 ASTANA ANYAR 1.341 947 635 373 184 76 16 3 - 3.575
11 REGOL 1.992 1.386 1.031 756 387 224 88 34 20 5.918
24
12 BATUNUNGGAL 1.993 1.201 939 696 289 151 68 14 9 5.360
13 LENGKONG 1.525 1.055 886 682 379 200 79 30 16 4.852
14 CIBEUNYING KIDUL 1.977 1.064 856 577 242 113 47 5 2 4.883
15 BANDUNG KULON 1.790 1.007 735 394 144 70 17 3 2 4.162
16 KIARACONDONG 2.262 1.321 1.017 673 254 131 57 16 4 5.735
17 BOJONGLOA KIDUL 1.259 765 589 311 134 50 10 - 2 3.120
18 CIBEUNYING KALER 1.238 721 664 477 191 117 29 7 6 3.450
19 SUMUR BANDUNG 822 546 378 282 125 100 24 18 3 2.298
20 ANTAPANI 1.809 875 470 228 71 50 8 1 1 3.513
21 BANDUNG KIDUL 828 516 375 197 82 42 8 3 - 2.051
22 BUAH BATU 1.982 1.239 812 524 204 91 24 7 2 4.885
23 RANCASARI 1.640 1.070 825 452 184 85 29 14 3 4.302
24 ARCAMANIK 1.256 703 440 279 120 53 17 3 - 2.871
25 CIBIRU 1.360 797 656 393 191 115 47 20 7 3.586
26 UJUNGBERUNG 1.223 670 535 282 112 65 16 11 1 2.915
27 GEDEBAGE 580 312 224 108 61 37 12 3 - 1.337
28 PANYILEUKAN 719 316 187 116 44 19 7 2 1 1.411
29 CINAMBO 347 179 153 88 29 16 2 1 - 815
30 MANDALAJATI 1.265 636 514 308 137 78 21 7 7 2.973
JUMLAH 44.116 26.314 20.204 13.005 5.800 3.032 1.146 402 173 114.192
REKAPITULASI JUMLAH PENDUDUK LANSIA TAHUN 2016 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA BANDUNG
NO
KEC KECAMATAN
LANSIA KOTA BANDUNG USIA
60-64
USIA 65-69
USIA 70-74
USIA 75-79
USIA 80-84
USIA 85-89
USIA 90-94
USIA 95-99
DIATAS
100 JUMLAH LANSIA
1 SUKASARI 1.373 923 771 511 208 82 32 5 1 3.906
2 COBLONG 2.085 1.175 973 680 339 140 57 7 6 5.462
3 BABAKAN CIPARAY 2.276 1.254 875 451 180 68 18 7 1 5.130
4 BOJONGLOA KALER 2.170 1.268 847 495 245 86 19 6 1 5.137
5 ANDIR 1.915 1.197 888 568 279 136 42 2 - 5.027
6 CICENDO 1.851 1.084 813 539 296 114 41 7 4 4.749
7 SUKAJADI 1.887 1.147 825 500 221 98 35 11 2 4.726
8 CIDADAP 1.021 571 445 323 115 63 22 3 1 2.564
9 BANDUNG WETAN 712 383 286 231 124 69 27 5 1 1.838
10 ASTANA ANYAR 1.503 1.065 737 441 228 112 24 5 1 4.116
11 REGOL 1.584 1.082 769 507 252 103 31 6 - 4.334
12 BATUNUNGGAL 2.144 1.226 889 643 294 102 31 10 1 5.340
13 LENGKONG 1.330 938 727 514 294 129 35 13 3 3.983
14 CIBEUNYING KIDUL 2.184 1.150 856 591 253 112 46 3 4 5.199
15 BANDUNG KULON 2.049 1.128 822 456 196 90 18 6 2 4.767
16 KIARACONDONG 2.373 1.238 944 582 213 88 26 1 1 5.466
17 BOJONGLOA KIDUL 1.411 810 587 342 155 54 15 4 1 3.379
18 CIBEUNYING KALER 1.284 724 624 402 201 92 20 1 1 3.349
19 SUMUR BANDUNG 705 456 288 192 99 44 11 5 1 1.801
20 ANTAPANI 1.991 1.019 528 269 86 54 10 1 - 3.958
21 BANDUNG KIDUL 957 589 429 200 113 49 14 4 - 2.355
22 BUAH BATU 1.904 1.105 703 414 157 64 16 1 - 4.364
23 RANCASARI 1.556 956 715 369 147 63 16 5 1 3.828
24 ARCAMANIK 1.420 778 468 295 132 54 16 2 1 3.166
25 CIBIRU 1.159 557 439 241 108 53 11 4 3 2.575
26 UJUNGBERUNG 1.350 766 505 305 130 58 18 10 1 3.143
27 GEDEBAGE 623 346 245 112 45 33 15 1 - 1.420
28 PANYILEUKAN 801 323 183 118 52 17 8 1 - 1.503
29 CINAMBO 391 194 153 91 39 16 7 - - 891
30 MANDALAJATI 1.247 616 438 238 105 38 4 - - 2.686
25
JUMLAH 45.256 26.068 18.772 11.620 5.306 2.281 685 136 38 110.162
REKAPITULASI JUMLAH PENDUDUK LANSIA TAHUN 2017 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA BANDUNG
NO
KEC KECAMATAN
LANSIA KOTA BANDUNG USIA
60-64
USIA 65-69
USIA 70-74
USIA 75-79
USIA 80-84
USIA 85-89
USIA 90-94
USIA 95-99
DIATAS
100 JUMLAH LANSIA
1 SUKASARI 1.387 1.014 737 590 245 86 33 8 2 4.102
2 COBLONG 2.132 1.373 868 750 362 153 62 13 7 5.720
3 BABAKAN CIPARAY 2.325 1.497 835 547 211 75 25 9 1 5.525
4 BOJONGLOA KALER 2.259 1.403 768 559 242 91 25 6 1 5.354
5 ANDIR 1.961 1.346 811 650 306 139 54 7 - 5.274
6 CICENDO 1.920 1.232 746 611 298 140 42 9 5 5.003
7 SUKAJADI 1.960 1.293 764 569 243 111 38 11 4 4.993
8 CIDADAP 1.077 660 403 361 137 65 23 7 2 2.735
9 BANDUNG WETAN 710 426 266 250 147 69 26 7 1 1.902
10 ASTANA ANYAR 1.580 1.130 731 487 231 124 27 7 - 4.317
11 REGOL 1.611 1.167 770 536 263 120 35 9 - 4.511
12 BATUNUNGGAL 2.226 1.419 826 751 303 120 45 11 1 5.702
13 LENGKONG 1.432 981 655 578 295 144 49 13 3 4.150
14 CIBEUNYING KIDUL 2.266 1.343 755 665 253 124 51 5 1 5.463
15 BANDUNG KULON 2.132 1.290 776 526 216 86 24 4 1 5.055
16 KIARACONDONG 2.481 1.451 876 683 233 93 35 5 2 5.859
17 BOJONGLOA KIDUL 1.463 933 543 423 153 71 17 4 1 3.608
18 CIBEUNYING KALER 1.348 829 565 455 217 106 20 7 1 3.548
19 SUMUR BANDUNG 738 509 279 213 127 44 17 3 1 1.931
20 ANTAPANI 2.060 1.187 558 311 96 59 18 2 - 4.291
21 BANDUNG KIDUL 1.010 640 395 251 123 41 19 3 1 2.483
22 BUAH BATU 1.985 1.272 718 483 182 80 20 4 - 4.744
23 RANCASARI 1.590 1.121 683 455 157 64 30 5 1 4.106
24 ARCAMANIK 1.477 949 482 331 167 73 22 4 1 3.506
25 CIBIRU 1.223 710 396 340 112 65 16 3 4 2.869
26 UJUNGBERUNG 1.397 886 477 373 140 57 29 11 2 3.372
27 GEDEBAGE 663 383 236 141 45 35 17 3 - 1.523
28 PANYILEUKAN 840 422 177 142 53 22 8 2 - 1.666
29 CINAMBO 418 236 137 123 41 19 6 2 - 982
30 MANDALAJATI 1.299 753 397 312 117 46 10 1 - 2.935
JUMLAH 46.970 29.855 17.630 13.466 5.715 2.522 843 185 43 117.229
REKAPITULASI JUMLAH PENDUDUK LANSIA TAHUN 2018 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA BANDUNG
NO
KEC KECAMATAN
LANSIA KOTA BANDUNG USIA
60-64
USIA 65-69
USIA 70-74
USIA 75-79
USIA 80-84
USIA 85-89
USIA 90-94
USIA 95-99
DIATAS
100 JUMLAH LANSIA
1 SUKASARI 1.439 1.058 712 611 274 98 41 8 1 4.242
2 COBLONG 2.183 1.479 880 788 386 168 57 13 5 5.959
3 BABAKAN CIPARAY 2.380 1.636 847 586 208 77 26 8 2 5.770
4 BOJONGLOA KALER 2.306 1.546 813 565 274 115 28 7 - 5.654
5 ANDIR 2.007 1.376 797 642 320 139 44 7 - 5.332
6 CICENDO 1.905 1.320 758 594 320 140 52 9 2 5.100
7 SUKAJADI 2.010 1.316 799 557 261 89 44 9 6 5.091
8 CIDADAP 1.059 727 419 366 169 62 22 10 - 2.834
9 BANDUNG WETAN 666 443 260 233 151 71 21 5 2 1.852
10 ASTANA ANYAR 1.605 1.182 724 516 248 119 37 6 - 4.437