Modul 7 ESDH 2019
Modul 7
K EHUTANAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
Kompetensi yang ditawarkan:
Setelah membaca Modul ini mahasiswa dapat memahami dan memiliki kompetensi tentang peranan ekonomi kehutanan dalam analisis ekonomi regional serta memiliki karakter sebagai sosok yang lebih bijak dalam kehidupan sosial.
Rencana perkuliahan untuk pertemuan 14 dan 15:
Rencana Perkuliahan 2 x 120 menit
Aktivitas Pertemuan 14
Langkah 1 10 menit
Aktivitas: menjelaskan kompetensi yang akan dicapai dan menyepakati perubahan yang diperlukan sesua hasil refleksi pembelajaran.
1. Menjelaskan hasil dan rekomendasi refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Langkah 2 90 menit
Aktivitas: memahami konsep stimulasi dan manfaat ekonomi sektor kehutanan.
1. Mahasiswa dibagi kedalam dua kelompok diskusi, yaitu kelompok stimulasi ekonomi dan kelompok manfaat ekonomi sektor kehutanan;
2. Masing-masing kelompok membaca dengan cepat bagian modul yang relevan dengan tugas masing-masing;
3. Masing-masing kelompok mengutarakan ide dan gagasan mereka yang relevan dengan tugas masing-masing.
Langkah 3 20 menit
Aktivitas: membuat rangkuman hasil diskusi.
Pertemuan 15 Langkah 1 100 menit
Aktivitas: menjelaskan stabilitas masyarakat, distribusi pendapatan dan inpu-output.
1. Mahasiswa dibagi kedalam tiga kelompok diskusi, yaitu kelompok stabilitas, kelompok distribusi dan kelompok input-output;
2. Setiap kelompok menginisiasi diskusi sesuai tema masing-masing.
Langkah 2 10 menit
Aktivitas: membuat rangkuman.
Semua kelompok secara bersama-sama merangkum hasil diskusi.
Langkah 3 10 menit
Aktivitas: refleksi pembelajaran.
Mahasiswa secara bersama sama mengisi kusioner refleksi yang tersedia kemudian merumuskan rekomendasi perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
A. Stimulasi Ekonomi Regional
Setiap aktivitas dalam menejemen hutan memiliki dampak ekonomi, misalnya pada pemanenan atau eksploitasi hutan serta pengolahan hasil hutan di industri kehutanan, bahkan aktivitas lainnya seperti kegiatan penanaman pohon, perbaikan kondisi tegakan hutan melalui penjarangan, pemangkasan dan sebagainya, serta membangun kondisi alami sehingga wisatawan datang dan membelanjakan uang
182 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
mereka di lokasi wisata termaksud. Kalau aktivitas-aktivitas menejemen hutan tersebut dikatakan sebagai sebuah proyek, maka setiap proyek baru akan memiliki manfaat langsung maupun tidak langsung. Dampak atau manfaat langsung yaitu manfaat yang diperoleh langsung dari pembangunan atau pelaksanaan proyek, misalnya terbukanya lapangan pekerjaan baru, pembayaran upah atau pendapatan, perolehan pajak, dan lain sebagainya. Sedangkan dampak tidak langsung adalah manfaat yang diperoleh secara tidak langsung dari adanya proyek atau manfaat yang disebabkan oleh manfaat langsung proyek. Contohnya, karena adanya lapangan pekerjaan baru maka pendapatan masyarakat dapat meningkat dan hal ini dapat menimbulkan manfaat bagi aktivitas ekonomi lainnya seperti toko yang berada di sekitar proyek akan meningkat omsetnya, dan lain sebagainya. Bahkan hal ini akan berdampak kepada sektor publik seperti sekolah, jalan, keamanan, dan lain sebagainya. Kesimpulannya, sebuah proyek baru dapat memiliki multiplier effect. Multiplier effect (rambatan ganda) artinya dampak yang sifatnya merambat sehingga memiliki banyak manfaat pada banyak aktivitas ekonomi.
Misalkan dalam suatu wilayah daerah atau provinsi dimana dilakukan sebuah proyek penanaman pohon dengan upah penanaman pohon adalah Rp 1.000.000 per bulan. Tidak semua uang yang diterima setiap bulan oleh pekerja akan dibelanjakan sehingga uang yang dibelanjakan tersebut akan menjadi pendapatan baru dalam sistem perekonomian di daerah tersebut. Uang yang tidak dibelanjakan dapat disimpan di sebuah bank atau digunakan untuk membayar pajak yang kesemuannya disebut leakages. Leakage (bocoran) adalah bagian dari pendapatan wilayah yang dibelanjakan di luar wilayah, sebagai contoh, membayar pajak, membeli barang impor, atau ongkos yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke luar daerah. Misalkan dari setiap upah yang diterima terdapat 75% menjadi leakage dan 25% dibelanjakan maka 100% upah disebut manfaat langsung dan yang tersimpan ke negara akan memiliki multiplier effect. Sehingga Rp 1.000.000 sebagai pendapatan baru dalam sebuah wilayah (provinsi, kabupaten, atau kecamatan) sebenarnya menjadi lebih dari Rp 1.000.000 bila kita memperhitungkan multiplier effect yang ditimbulkannya.
Kalau kita sederhanakan angka Rp 1.000.000 menjadi Rp 100 maka Gambar X-1 memperlihatkan manfaat langsung dan manfaat merambat dari Rp 100 di provinsi yang telah dijelakan di atas.
183 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Gambar X-1. Manfaat langsung dan manfaat merambat dari Rp 100 (Rp 1.000.000).
Gambar di atas memulai dengan Rp 100 sebagai upah baru dan bagaimana pembelanjaan kembali menghasilkan sejumlah kecil pendapatan baru bagi aktivitas ekonomi lainnya di wilayah setempat. Pada putaran awal manfaat langsung adalah Rp 100 dan pada pembelanjaan ulang pertama menghasilkan Rp 75 leakage dan Rp 25 dibelanjakan di wilayah bersangkutan. Pada pembelanjaan ulang kedua menghasilkan Rp 18,75 leakage dan Rp 6,26 dibelanjakan di wilayah bersangkutan, dan begitu seterusnya hingga hanya tersisa Rp 0,02 setelah pembelanjaan ulang ke enam. Kalau semua multiplier effect dijumlahkan maka diperoleh Rp 33,32 dan menambahkan jumlah ini ke Rp 100 sebagai pendapatan baru yang asli maka efek langsung dan multiplier efek sebesar Rp 133,32. Hal ini berarti bahwa multiplier pendapatan adalah 1,33. Jadi untuk memperoleh efek langsung dan multiplier efek dari sebuah pendapatan baru pada sebuah wilayah dapat dilakukan dengan mengalikan pendapatan baru dengan multiplier pendapatan wilayah. Menghitung multiplier dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:
langsung efek
effect multiplier ditambah
langsung efek
Multiplier= (X-1)
100
25
6.25 1.56 0.39 0.1 0.02
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
1 2 3 4 5 6 7
Leakage
Leakage= 75%
Leakage Total dampak =
100 + 25 + 6,25 + 1,56 + 0,39 + 0,10 + 0,02 = 133,32
184 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Rumus di atas merupakan format dasar yang dapat digunakan dalam berbagai kasus seperti kasus pendapatan, tenaga kerja, dan penjualan. Untuk contoh di atas, multiplier pendapatan adalah (100 + 33,32)/100 = 1,33.
00 leakage)/1 (persen
multiplier 1 income
Regional = (X-2)
Setiap pembelanjaan ulang dapat menghasilkan leakage yang berbeda.
Prosentase leakage untuk pendapatan rumah tangga biasanya akan sangat berbeda dengan leakage yang dihasilkan oleh tokoh grosir atau pompa bensin. Sehingga proporsi leakage adalah sebuah rerata regional. Persamaan X-2 menjelaskan bahwa semakin kecil leakage maka semakin besar multiplier. Sebagai contoh, bila leakage adalah 50% maka multiplier menjadi 2.
Di sektor kehutanan biasanya leakagenya besar karena banyak menggunakan barang import, sehingga multiplier effectnya akan kecil. Oleh karena itu pembangunan hutan misalnya HPH hutan alam atau HTI (Hutan Tanaman Industri) biasanya tidak begitu memberikan stimulus kepada pembangunan pedesaan di sekitarnya karena pertumbuhan hutan tidak begitu memerlukan banyak tenaga kerja.
Ukuran wilayah juga merupakan hal penting dalam persoalan multiplier dan leakage. Semakin luas suatu wilayah maka leakage akan semakin rendah. Jadi, provinsi umumnya memiliki multiplier pendapatan lebih besar dari pada kabupaten.
Setiap multiplier didasarkan kepada wilayah regional yang spesifik sehingga harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh cakupan wilayah dalam perhitungan multiplier.
Perlu untuk difahami bahwa bila wilayah kecil, misalnya sebuah kecamatan mungkin multipliernya tidak lebih dari dua. Semakin besar wilayah suatu daerah maka multipliernya semakin besar. Terkadang seorang yang mempromosikan proyek mengatakan bahwa multiplier yang akan ditimbulkan oleh proyek yang dipromosikannya akan lebih dari 5. Hal ini dapat merupakan kesalahan dalam perhitungan atau hanya semata-mata untuk tujuan promosi proyek atau juga dapat berupa sebuah kesalahpahaman. Misalnya sebuah bisnis keutanan dimana tegakan terjual seharga Rp 100 juta, kemudian kayu dimasukkan ke industri kehutanan
185 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
lokal untuk menghasilkan forniture dengan harga Rp 700 juta. Maka yang diperoleh adalah Rp 600 juta berupa nilai tambah (value added) dan hal ini tidak berarti bahwa bisnis kehutanan tersebut memiliki multiplier 7.
Mempromosikan hutan wisata, sesuai hasil penelitian, promotor dapat saja mengatakan bahwa setiap pengunjung akan membelanjakan uangnya sebesar Rp 2.500.000 di sekitar hutan wisata tersebut dan hal ini merupakan stimulan ekonomi yang utama di daerah tersebut. Seberapa banyak hal tersebut benar-benar menjadi stimulan ekonomi tergantung kepada leakage belanja pengunjung. Bila pada kawasan wisata tersebut sebagian besar barang merupakan barang import, misalnya bensin, peralatan olah raga, makanan, maka sebagian besar uang yang dibelanjakan oleh pengunjung hanya akan lewat sementara di wilayah wisata hutan tersebut.
Uang yang tinggal secara permanen di wilayah tersebut hanya merupakan nilai tambah dalam jumlah yang sedikit, yaitu uang yang diperoleh oleh tenaga kerja atau penggunaan kapital secara lokal. Stimulan yang dihasilkan oleh proyek berasal dari upah, pajak lokal dan pembelanjaan lokal serta semua pembelanjaan dan pembelanjaan kembali yang tertinggal di wilayah tersebut.
B. Manfaat Lokal dan Manfaat Nasional Bersih
Manfaat suatu pendapatan dan lapangan pekerjaan pada suatu wilayah tertentu dapat atau tidak dapat berpengaruh secara signifikan pada skala atau tingkat nasional. Hal ini tergantung kepada luas negara yang bersangkutan dan tingkat pengangguran yang terjadi. Untuk memahami hal ini kita dapat mempelajari dua skenario berikut:
1. Full employment. Hal ini tidak berarti bahwa pada wilayah dengan kondisi full employment tidak akan ada pengangguran, karena zero pengangguran adalah sesuatu yang imposibel maka kita menggunakan sebagaimana ilmu ekonomi mengistilahkan sebagai natural rate of unemployment, yaitu nilainya berkisar 6%. Bila pengangguran jauh di bawah 6% maka tenaga kerja dalam kondisi langka dan upah atau gaji tenaga kerja akan tinggi, bahkan melebihi produktivitas tenaga kerja tersebut.
2. Pengangguran. Hal ini terjadi bila natural rate of unemployment berada di atas 6%.
186 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Bila tenaga kerja sebuah proyek sebelumnya merupakan pengangguran maka terdapat manfaat proyek baik pada tingkat lokal maupun pada tingkat nasional.
Tetapi pada kondisi full employment dimana tingkat pengangguran sangat rendah dan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja maka proyek menawarkan pekerjaan kepada orang yang telah bekerja, kondisi ini akan memberikan sedikit manfaat pada tingkat nasional. Perolehan nasional pada kondisi seperti ini dapat diketahui dengan menghitung selisih pendapatan dari pekerjaan yang lama dengan pendapatan dari pekerjaan baru tenaga kerja bersangkutan.
Dalam kondisi resesi ekonomi dimana tingkat pengangguran sangat tinggi, bila sebuah proyek baru menyewa tenaga kerja yang menganggur dan menghasilkan pendapatan langsung dan multiplier sebesar Rp 2 milyar per tahun.
Bila kita membuat suatu asumsi yang tidak realistis yaitu bahwa manfaat nasional bersih per tahun tidak pernah berubah, dengan present value yang menggunakan 5% bunga adalah 2/0.05= 40 milyar. Perhitungan ini menggunakan rumus pada Tabel III-1 dimana Vo = P/r. Yang lebih realistis adalah manfaat seharusnya dihitung selama periode resesi dan setelah resesi berakhir maka semuanya akan kembali ke kondisi semula. Artinya proyek memiliki jangka waktu (terminating).
Pada Tabel III-1 terdapat pendekatan lain yang di sini disebut sebagai “with and without principle”. Misalkan pada kasus tadi berada pada kondisi proyek dengan waktu 3 tahun, maka present value manfaat yang dihasilkan adalah:
milyar 45 , 0,05 5
(1,05) - 21 Value Present
-3 =
=
Bila sebuah industri penggergajian yang baru saja didirikan dapat menyerap 100 tenaga kerja dan selanjutnya akibat dari beroperasinya industri tersebut menyebabkan multiplier tenaga kerja menjadi 150. Bila beberapa tahun kemudian 100 tenaga kerja tersebut hilang karena industri telah ditutup, maka total tenaga kerja sebanyak 150 orang pun dapat hilang, yaitu tenaga kerja yang timbul sebagai dampak langsung dari beroperasinya industri dan 50 tenaga kerja sebagai dampak tidak langsung. Berapa lama dampak yang ditimbulkan oleh pengangguran yang disebabkan penutupan industri tersebut akan tergantung kepada tingkat pengangguran sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada kondisi full
187 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
employment maka sistem ekonomi akan dapat segera memulihkan pengangguran tersebut, dan dampak negatif dan langsung dari pemutusan tenaga kerja bukan merupakan persoalan serius. Sebaliknya pada kondisi ekonomi dimana tingkat pengangguran tinggi dan lagi-lagi terjadi pemutusan tenaga kerja maka hal ini akan dapat menimbulkan trauma.
C. Stabilitas Komunitas
Masyarakat selalu menginginkan stabilitas perekonomian yaitu dimana kondisi sebuah perekonomian yang memperlihatkan keragaman atau diversitas. Stabilitas perekonomian seperti ini menghindari suatu perekonomian yang dikembangkan oleh hanya satu usaha ekonomi (one industry towns). Sebagai contoh ketika kejayaan industri Boeing di Seatle pada tahun 1970an maka ketika itu pendapatan masyarakat kota Seatle tinggi, pengangguran rendah, nilai rumah mahal. Tetapi ketika permintaan pesawat terbang boeing menurun maka perekonomian seluruh Seatle terpengaruh karena semua sektor yang mendukung atau berhubungan dengan industri boeing pun terpengaruh. Perekonomian merosot, tenaga kerja banyak yang meninggalkan kota Seatle sehingga banyak perumahan yang dijual dengan harga murah. Hal ini juga dapat terjadi ketika sebuah industri kehutanan ditutup.
Beragamnya pekerjaan dapat mengurangi dampak seperti yang diceritakan di atas, yang biasa juga disebut dampak yo-yo. Ketika satu sektor menurun, sering lainnya meningkat dan dapat sedikit memperkuat sektor yang lain. Bisa jadi beberapa industri tidak berjalan dengan baik akibat resesi ekonomi, tetapi yang dapat bertahan dan memperlihatkan performansi yang lebih baik karena memiliki daya tahan terhadap resesi ekonomi yang sedang berlangsung juga ada. Sebagai contoh, bisnis ekowisata dapat mengalami masa-masa sulit karena sektor transportasi mengalami permasalahan akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak. Beda halnya dengan industri makanan akan memiliki resistensi yang lebih kuat karena manusia selalu harus membutuhkan makanan.
Masyarakat juga berkeinginan untuk menghindari ketidakstabilan pekerjaan musiman, misalnya usaha rekreasi terbuka atau katakanlah camping resort.
Biasanya pengunjung akan datang pada hari-hari liburan kerja atau liburan sekolah.
Yang penting di sini adalah perlu adanya upaya diversifikasi usaha misalnya
188 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
dengan membuat lapangan tennis dekat lahan perkemahan, lapangan golf, melakukan festival musik, dan lain sebagainya. Sama halnya dengan sektor industri kehutanan. Hutan Tanaman Industri dapat memiliki industri kayu primer seperti industri untuk menghasilkan papan dan balok, kayu panel, pulp dan kertas, dan lain sebagainya. Tetapi sering terjadi industri sekunder seperti industri furniture, kabinet, rumah pre-pabrik atau rumah mobail cenderung berada pada lokasi yang berdekatan dengan wilayah perkotaan dimana konsumen barang-barang tersebut banyak sehingga ongkos transportasi barang dari industri ke pasar akan dapat diperkecil. Oleh sebab itu HTI dan industri primer di pedalaman bila ingin dipadukan dengan industri sekunder bukan merupakan sebuah pilihan yang baik.
Stabilitas masyarakat dapat dirasionalkan dengan mengembangkan ide tentang penyediaan kayu yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam jumlah yang sama antara kebutuhan dan produksi. Namun hal ini tidak mudah untuk dilaksanakan karena kendala-kendala misalnya karena menurunya jumlah industri yang mengolah kayu dari hutan menjadi produk yang dimintai oleh masyarakat. Juga permintaan akan produk kayu berpluktuasi seiring dengan siklus pakai bangunan rumah yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat dikontrol.
D. Distribusi Pendapatan
Kebanyakan kebijakan kehutanan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi memiliki beberapa dampak atau efek terhadap distribusi pendapatan. Sebagai contoh: kebijakan tentang mengurangi penebangan hutan dan kebijakan tentang meningkatkan pembangunan ekowisata pada lahan publik cenderung akan mengurangi peluang kerja pada sektor produksi kehutanan yang memiliki gaji atau pendapatan tinggi, dan sebaliknya meningkatkan peluang kerja sektor jasa wisata dengan tingkat upah atau gaji yang lebih rendah. Sektor ekowisata biasanya berhubungan dengan upah pedesaan dan biasanya ini lebih rendah dengan tingkat upah industri kehutanan yang biasanya terdapat di wilayah perkotaan. Namun dengan meningkatkan sektor jasa ekowisata maka pendapatan akan terdistribusi ke desa dan di samping itu sektor ini menunjang kelestarian lingkungan yang juga meningkatkan rasa nyaman masyarakat. Rendahnya pendapatan dari sektor jasa ekowisata di perdesaan mungkin juga bukan merupakan masalah oleh karena biaya
189 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
hidup di perdesaan jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya hidup yang harus ditanggung oleh pekerja pabrik di wilayah perkotaan.
Perdesaan dapat menjadi sumber input tenaga kerja bagi industri kehutanan di perkotaan sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya urbanisasi. Hal ini dapat mendorong pengurangan degradasi ekosistem hutan oleh tekanan jumlah penduduk di perdesaan dan tentunya kemudian dapat memudahkan bagi pemerintah dalam mengelola hutan negara. Bahkan beberapa kasus di Jawa dimana penduduk desa melakukan penanaman jati dan meninggalkannya ke kota untuk membuka usaha lain di sektor informal. Keuntungan diperoleh dari sektor informal di kota dan asset berupa tanaman jati di desa terus tumbuh. Namun permasalahan akan banyak timbul seiring dengan meningkatnya laju urbanisasi. Populasi kota sulit dikontrol sehingga berdampak kepada perencanaan pembangunan perkotaan, termasuk stabilitas keamanan kota.
Oleh sebab itu peranan pemerintah dalam distribusi pendapatan sangatlah penting oleh karena pendapatan berhubungan dengan masalah kemiskinan. Desa di mana sumber daya hutan biasanya dikelola, identik dengan kemiskinan. Oleh sebab itu di sektor kehutanan, pemerintah seharusnya memikirkan berbagai jenis insentif yang dapat diberikan kepada masyarakat agar hutan dapat dikelola dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kurva Lorenz
E. Analisis Input-Output
Analisis Input-Output digunakan secara luas untuk mengukur dampak hutan berhubungan dengan aktivitas-aktivitas dalam pekerjaan, pendapatan, pajak, eksport, dan import pada berbagai sektor yang berbeda. Hal ini akan sangat berguna untuk menjelaskan bagaimana pentingnya sebuah segmen industri hutan dalam sebuah wilayah atau untuk penerapan berbagai akibat dari dibangunnya sebuah industri baru atau kawasan rekreasi, atau perubahan-perubahan tentang pemanenan hutan.
Analisis input-output yang juga dapat disebut sebagai ekonomi input-output sering disebut sebagai interindustry economics. Analisis ini telah muncul dan berkembang dengan pesat sebagai salah satu cabang metode kuantitatif dalam
190 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
permasalahan ekonomi. Ekonom yang bekerja pada banyak bidang yang berbeda akan memiliki sebuah kesimpulan bahwa analisis input-output merupakan sebuah alat analisis yang bernilai tinggi.
Wassily Leontief pada tahun 1930-an mengembangkan Analisis Input-Output untuk pertama kalinya. Ide analisisini cukup sederhana namun mampu menjadi salah satu alat analisis yang efektif untuk mengkaji hubungan antarsektor dalamsuatu perekonomian. Analisis antar sektormenjadi sangat penting oleh karena pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga mulai melihat pembagian pertumbuhan di antara faktor-faktor produksi, dan juga berbagai sumber pertumbuhan yang ada.
Dasar dari analisis input-output adalah tabel input-output atau “interindustry transaction table”. Tabel input-output sangat berguna sebagai basis perencanaan ekonomi baik pada negara sedang berkembang maupun pada negara maju dalam sebuah sistem dimana perencanaan dilakukan secara terpusat. Analisis input-output merupakan alat analisis yang sangat menarik dalam ekonomi makro karena kekayaan sektoral disediakan secara detail. Teknik ini terasa sangat praktis dan telah digunakan untuk mempelajari efek kebijakan lalulintas, perubahan tingkatan gaji, pergerakan permintaan konsumen, dampak perdagangan luar negeri, pendapatan regional, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.
Untuk mendapatkan beberapa ide tentang apa gerangan analisis input-output, kita bisa membayangkan bahwa ekonomi dapat diagregasi menjadi beberapa industri yang berbeda-beda. Setiap industri menjual outputnya ke konsumen akhir, dan ke industri lainnya yang menggunakan outputnya sebagai faktor produksi. Pada waktu yang bersamaan, setiap industri akan membeli output industri lainnya sebagai sebuah kebutuhan atau input untuk melakukan proses industrinya sendiri.
Dengan demikian setiap industri akan dicirikan oleh inflow input yang diperoleh dari industri lain dan outflownya akan dapat masuk ke industri lainnya atau ke pasar dimana konsumen akhir akan membeli output tersebut.
Aliran input bagi setiap sektor dalam sistem ekonomi regional, tidak hanya berasal dari dalam sistem yang bersangkutan, tetapi dapat pula berasal dari luar sistem dalam bentuk import. Demikian pula aliran outputnya dapat juga menuju keluar sistem dalam bentuk eksport, disamping digunakan oleh sektor-sektor lain dalam wilayah sendiri.
191 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Hubungan keterkaitan antara sektor industri pengelolaan hasil hutan dengan sektor-sektor lain dalam sistem ekonomi wilayah tersebut di atas dapat digambarkan pada Gambar X-2.
Gambar X-2. Keterkaitan antar industri dalam sistem perekonomian wilayah.
Pada keadaan macam industri, tingkat teknologi, lokasi industri dan sistem pemasaran tertentu, sistem perekonomian wilayah akan menuju suatu keseimbangan, yakni suatu keadaan dimana jumlah permintaan seluruh sektor sama dengan penyediaannya. Dalam keadaan keseimbangan tersebut, jumlah nilai pengeluaran input dari seluruh sektor sama dengan jumlah nilai pendapatan dari seluruh sektor. Walaupun kesamaan tersebut tidak harus terjadi pada setiap industrinya sendiri. Dengan perkataan lain dalam keadaan keseimbangan, jumlah supply yang merupakan jumlah produksi dan impor seluruh sistem akan sama dengan jumlah permintaannya, yang meliputi unsur-unsur konsumsi dalam sistem dan ekspor ke luar wilayah.
Pada proses menuju keseimbangan tersebut, terjadi perambatan atau putaran- putaran aktivitas ekonomi yang menimbulkan rangkaian dampak berganda (multiplier effect) dalam hal penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan
INPUT OUTPUT
Pembelian Industri di Wilayah yang bersangkutan
Pembayaran rumah tangga, pajak, penyusutan, surplus usaha
Import dari wilayah lain
Penjualan di wilayah yang bersangkutan
Konsumsi keluarga dan pemerintah
Pembentukan modal
Eksport Proses Kegiatan
Industri
192 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
seluruh sektor. Peranan sektor industri pengolahan hasil hutan terhadap lapangan kerja dan pendapatan masyarakat seluruh sistem ekonomi dapat dinilai dengan kerangka tersebut di atas dengan menggunakan model input-output.
Ciri terpenting dari suatu sistem ekonomi wilayah adalah adanya ketergantungan setiap unsur-unsur atau sektor atau bahkan keseluruhannya terhadap sumber-sumber rangsangan penggerak dari luar. Hal itu berkaitan erat dengan adanya spesialisasi dalam kehidupan masyarakat yang semakin maju.
Dengan adanya spesialisasi sektoral maka ketergantungan terhadap pihak luar menjadi suatu keharusan dan dengan demikian akan terjadi pertukaran atau perdagangan (trade system) mulai dari bentuk yang sangat sederhana antara individu, sampai bentuk yang kompleks, berupa perdagangan antara wilayah, nasional dan internasional.
Dengan asumsi tidak terjadi pertukaran antara peserta ekonomi (economic agent) yang sejenis, maka sistem ekonomi wilayah dapat disederhanakan dengan mengelompokkan faktor-faktor atau unsur-unsurnya kedalam kelompok, yang disebut sebagai sektor atau industri. Pengelompokkan atau delineasi, atau disebut juga agregasi tersebut dapat didasarkan kepada kriteria:
1. keasamaan dalam hal ciri input, output dan perdagangannya;
2. dapat difahami dan komunikatif;
3. kesesuaian dengan tingkat ketersediaan atau kedalaman datanya.
Pengelompokan sektor-sektor ekonomi tersebut untuk kepentingan analisis ekonomi wilayah, lebih baik dan bermanfaat apabila juga didasarkan pada kriteria sub wilayah, sehingga keseimbangan struktur ekonomi wilayah tidak hanya antar sektor ekonomi tetapi juga antar sub wilayahnya.
Tabel X-1 merupakan contoh hipotetik yang sederhana untuk sebuah wilayah.
Tabel tersebut memperlihatkan output (juta rupiah/tahun) yang terjual dari masing- masing industri atau sektor pada kolom kiri ke masing-masing industri atau sektor di lajur atas dari tabel. Sebagai contoh, pada lajur 1 industri A menjual Rp 7 juta barang output terhadap dirinya sendiri di kolom 1, katakanlah untuk operasional dan manufaktur perusahaan. Industri A juga menjual Rp 1 juta barang ke industri B, dan Rp 2 juta ke industri C, Rp 5 juta ke rumha tangga yang ada di wilayah sekitar industri, serta Rp 21 juta untuk ekspor. Ekspor di sini dapat berarti semua barang yang diperjualbelikan keluar wilayah dimana industri A berlokasi.
193 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Tabel X-1. Tabel hipotetik transaksi regional—output dari sektor di sebelah kiri ke sektor pada bagian atas tabel(juta rupiah/tahun)
Penjualan
Pembelian Permintaan Akhir Ind. A Ind. B Ind. C Rumah
Tangga
Ekspor Total Output
Prosesing
Ind. A 7 1 2 5 21 36
Ind. B 0 6 3 22 29 60
Ind. C 6 9 0 23 14 52
Pembayaran
Rumah
Tangga 13 25 20 1 57 116
Impor 10 19 27 65 0 121
Pengeluaram (outlay) 36 60 52 116 121 385
Tabel input-output atau tabel transaksi selalu memperlihatkan banyak industri, bahkan dapat mencapai ratusan industri dalam suatu analisis besar. Sering industri dibagi berdasarkan sektor misalnya loging, pulp, kertas, paperboard, kayu gergajian, kayu lapis, atau papan partikel. Selanjutnya tabel dapat melingkupi sebuah wilayah kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara secara keseluruhan.
Tabel transaksi memperlihatkan interdependensi dalam ekonomi. Perlu dicatat bahwa pengeluaran total (total outlay) yang berada pada bagian bawah tabel selalu sama dengan output total pada bagian sebelah kanan tabel. Pada pembayaran dan permintaan akhir tidak selalu perlu memiliki nilai atau angka-angka yang sama, karena mungkin dapat disebabkan oleh adanya utang dan ketidakseimbangan perdagangan. Kategori pembayaran normalnya juga termasuk entri lainnya selain dari apa yang pada Tabel X-1. misalnya yang dapat dikategorikan sebagai pembayaran adalah pajak ke pemerintah dan investasi kapital.
Tabel X-2 memperlihatkan pembelanjaan langsung output atau penjualan oleh industri pada lajur atas dari industri di bagian kiri tabel. Koefisien teknis dihitung dari setiap kolum pada Tabel X-1 sebagai pembelanjaan dari setiap industri atau sektor dibagi dengan total pengeluaran (outlay) pada bagian bawah tabel. Sebagai contoh, kita perhatikan kolom 1 pada Tabel X-1 dimana industri A membeli Rp 7 juta outputnya sendiri sebagaimana yang dijelaskan terdahulu, sehingga koefisien teknis yang dihasilkan adalah 7/36 = 0,19 sebagaimana tercantum pada Tabel X-2.
Industri A tidak membeli barang dari industri B sehingga nol pada lajur 2 kolom 1 pada Tabel X-2. Selanjutnya A membeli Rp 6 juta output industri C sehingga diperoleh 6/36 = 0,17. Kemudian A membeli Rp 10 juta berupa import dari luar wilayah sehingga diperoleh koefisien teknis sebesar 13/36 = 0,28.
194 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Tabel X-2. Tabel hipotetik pembelanjaan langsung
Penjualan Pembelian Permintaan Akhir
Ind. A Ind. B Ind. C Rumah Tangga Eksport
Ind. A 0.19 0.02 0.04 0.04 0.17
Ind. B 0 0.10 0.06 0.19 0.24
Ind. C 0.17 0.15 0 0.20 0.12
Rumah
Tangga 0.36 0.42 0.38 0.01 0.47
Import 0.28 0.32 0.52 0.56 0.00
Pengeluaran Total 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
Tahap berikutnya kita dapat memprediksi manfaat seperti pada Tabel X-3.
Tabel tersebut memperlihatkan efek multiplier dari penjualan ekspor dari setiap industri atau sektor. Analisis input-output menghitung manfaat yang dimaksud dengan menggunakan matriks aljabar berbasis komputer terhadap koefisien teknis dari rumah tangga dan industri sehingga dapat disimulasikan efek dari pembelanjaan kembali oleh rumah tangga dan oleh industri satu dengan lainnya.
Sebagai contoh, pada Tabel X-2, ketika industri A meningkatkan penjualannya menjadi Rp 1 juta, maka ia membeli output industri C seharga Rp 0,17 juta. Oleh karena itu industri C harus membeli lebih banyak output dari industri lainnya, demikian seterusnya, industri lainnya membeli output ke industri yang lain lagi.
Tabel X-3. Output atau penjualan mulitplier regional
Penjualan Pembelanjaan Multiplier
Ind. A Ind. B Ind. C Rumah Tangga
Ind. A 1.30 0.08 0.09 0.09
Ind. B 0.17 1.28 0.19 0.29
Ind. C 0.38 0.34 1.16 0.31
Rumah Tangga 0.69 0.70 0.56 1.29
Output atau Penjualan
Multiplier 2.54 2.41 2.00 1.29
Untuk memperlihatkan efek multiplier secara penuh, Tabel X-3 memasukkan rumah tangga sebagai sebuah industri; sehingga penjualan yang relevan pada tabel adalah mengeksport. Dengan menggunakan efek multiplier pada Tabel X-3, ketika industri A meningkatkan penjualan eksport Rp 1 juta, output industri C meningkat menjadi Rp 0,38 juta dari Rp 0,17 juta seperti pada Tabel X-2. Menjumlahkan efek multiplier pada setiap kolum memberikan output multiplier atau penjualan multiplier pada lajur terakhir dari Tabel X-3. Sebagai contoh, bila penjualan
195 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
eksport industri B meningkat Rp 1 juta maka penjualan dalam bisnis regional dan pendapatan rumah tangga juga akan meningkat menjadi Rp 2,41 juta, termasuk jumlah uang awal dari penjualan eksport. Penjualan eksport merupakan kenaikan utama secara lokal sebab penjualan eksport menyebabkan masuknya uang dari luar wilayah dan hal ini dapat kita bisa katakan sebagai ”uang import”.
Tabel X-3 memperlihatkan bagaimana efek multiplier yang ditimbulkan oleh penjualan dapat berbeda, tergantung kepada sektor yang terlibat. Untuk sektor yang luas sehingga wilayah-wilayah memiliki sebuah pilihan, bila ekonomi wilayah tersebut meragukan, maka wilayah-wilayah tadi bermaksud melakukan stimulasi pembangunan di sektor-sektor dengan multiplier penjualan yang besar. Tetapi yang terpenting adalah multiplier pada pendapatan dan ketenagakerjaan. Sektor yang memiliki multiplier penjualan terbesar tidak selamanya yang memiliki mulitplier pendapatan dan ketenagakerjaan yang terbesar.
Tabel X-2, pada lajur ”rumah tangga” diperlihatkan koefisien langsung untuk pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari setiap rupiah penjualan oleh sektor atau industri yang tercantum pada bagian atas Tabel (0,36; 0,42; 0,38; 0,01).
Mengalikan koefisien-koefisien tersebut dengan nilai-nilai yang terdapat dalam kolom pada Tabel X-3 akan menghasilkan efek multiplier pendapatan rumah tangga per juta penjualan eksport pada kolom tersebut. Sebagai contoh, pada kolom industri A Tabel X-3, mengalikan setiap koefisien dengan koefisien langsung tersebut di atas dan menjumlahkan hasilnya memberikan Rp 0,6907 juta pendapatan rumah tangga langsung dan pendapatan rumah tangga multiplier per juta penjualan eksport pada industri A:
0,36(1,30) + 0,42(0,17) + 0,38(0,38) + 0,01(0,69) = 0,6907
Perlu diingat bahwa efek pendapatan rumah tangga langsung industri A adalah Rp 0,36 juta per Rp 1 jjuta penjualan (dari Tabel X-2), multiplier pendapatan rumah tangga untuk industri A, menggunakan persamaan X-1 adalah 0,6907/0,36 = 1,92. Hal ini berarti bahwa, katakanlah, Rp 10 juta pendapatan rumah tangga dihasilkan oleh industri A dapat menjadi Rp 19,200 juta dengan memasukkan semua efek multiplier.
196 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Bila kita mengetahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan per Rp 1 juta penjualan pada setiap industri, maka kita akan dapat menghitung multiplier tenaga kerja dengan Tabel X-3, dengan cara yang sama dengan prosedur multiplier pendapatan yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya di atas. Katakanlah industri A mempekerjakan 0,05 orang per Rp 1 juta penjualan tahunan, industri B:
0,03, industri C: 0,02, dan rumah tangga mempekerjakan 0,002. Angka-angka tersebut merupakan koefisien ketenagakerjaan langsung yang timbul sebagai efek pertama dari kegiatan ekonomi. Dalam setiap kolom Tabel X-3, mengalikan koefisien untuk industri A, B, dan C dengan koefisien ketenagakerjaan akan memberikan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan pada setiap industri dengan Rp 1 juta penjualan eksport tambahan untuk industri yang terdapat pada bagian atas tabel. Menjumlahkan jumlah tersebut pada setiap kolom memberikan efek ketenagakerjaan multiplier per Rp 1 juta dari penjualan eksport tambahan.
Multiplier input-output untuk penjualan, pendapatan, dan ketenagakerjaan merupakan efek jangka pendek dan tidak melibatkan dampak jangka panjang.
Sebagaimana multiplier penjualan pada Tabel X-3, multiplier ketenagakerjaan dan pendapatan dapat sangat bervariasi antara industri. Jadi analisis ini dapat memberikan keleluasaan kepada para perencana untuk melihat industri yang mana yang memiliki dampak ekonomi yang paling besar.
Soal Latihan:
1. Jelaskan pemahaman anda tentang multiplier effect.
2. Jelaskan hubungan antara stabilitas masyarakat dengan distribusi pendapatan.
Rangkuman:
Petunjuk:
Perhatikan gambar di bawah. Gambar tersebut sudah ada dalam modul.
Buatlah rangkuman di dalam Box dengan merujuk kepada Gambar di bawah.
197 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
... ... ...
... ...
... ...
.. ... ...
... ...
.... ... ...
.... ... ... ...
... ... ...
... ... ...
... ... ... ...
... ... ...
... ... ...
... ... ... ...
... ... . ... ... ...
... ... ... ...
... ...
... ... ... ...
... ... ... .
INPUT OUTPUT
Pembelian Industri di Wilayah yang bersangkutan
Pembayaran rumah tangga, pajak, penyusutan, surplus usaha
Import dari wilayah lain
Penjualan di wilayah yang bersangkutan
Konsumsi keluarga dan pemerintah
Pembentukan modal
Eksport Proses Kegiatan
Industri
198 | P a g e
Modul 7 ESDH 2019
Refleksi Pembelajaran
No Deskripsi/Pertanyaan Jawaban
SS CS RR B SB
1. Capaian pembelajaran yang ditawarkan
2. Antusiasme mahasiswa
mengikuti kuliah di dalam kelas
3. Core content yang diberikan 4. Proses perkuliahan
5. Metode evaluasi perkuliahan 6. Tingkat kehadiran mahasiswa
dalam perkuliahan Keterangan:
SS: sangat sempurna CS: cukup sempurna RR: ragu-ragu B : buruk
SB: sangat buruk
Rekomendasi perbaikan:
...
... .... ...
... ...
...
...
...
...
...
199 | P a g e