14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Efektifitas Hukum
Efektifitas adalah suatu kosa kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa inggris yaitu “efective” yang berarti berhasil ditaati, mengesahkan, mujarab dan mujur. Dari sederetan arti di atas, maka yang paling tepat adalah berhasil ditaati. Efektifitas menurut Amin Tunggul Widjaya adalah hasil membuat keputusan yang mengarahkan melakukan sesuatu dengan benar, yang membantu memenuhi misi suatu perusahaan atau pencapaia tujuan1
Sedangkan menurut Permata Wesha efektfitas adalah keadaan atau kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberi guna yang diharapkan.
Untuk dapat melihat efektivitas kerja pada umumnya dipakai empat macam pertimbangan yaitu: Pertimbangan ekonomi, fisiologi, psikologi dan pertimbangan sosial. Efektivitas juga dikatakan merupakan suatu keadaan yang menunjukan keberhasilan kerja yang telah ditetapkan. Sarwoto mengistilahkan efktifitas dengan “berhasil guna” yaitu pelayanan yang baik corak dan mutunya benar-benar sesuai kebutuhan dalam pencapaian tujuan suatu organisasi.2
Menurut Cambel J.P, Pengukuran efektivitas secara umum dan yang paling menonjol adalah :
1. Keberhasilan Program 2. Keberhasilan sasaran
3. Kepuasan terhadap program
1 Soerjono Soekanto,1983, Penegakan hukum, bina cipta, Bandung, hal.80
2 Ibid.
15 4. Tingkat input dan output
5. Pencapaian tujuan menyeluruh
Sehingga efektivitas program dapat dijalankan degan kemampuan operasioal dalam melaksanakan program-program kerja yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa efektifitas merupakan kemampuan untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas suatu lembaga secara fisik dan non fisik untuk mencapai tujuan serta meraih keberhasilan maksimal.
Efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto adalah bahwa efektif atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5(lima) faktor, yaitu:
1. Faktor Hukumnya itu sendiri (Undang-Undang)
Hukum mengandung unsur keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Dalam praktik penerapannya tidak jarang terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Kepastian Hukum sifatnya konkret berwujud nyata, sedangkan keadilan bersifat abstrak sehingga ketika seseorang hakim memutuskan suatu perkara secara penerapan undang-undang saja, maka ada kalanya nilai keadilan itu tidak tercapai. Maka, ketika melihat suatu permasalahan mengenai hukum setidaknya keadilan menjadi prioritas utama. Karena hukum tidak semata-mata dilihat dari sudut hukum tertulis saja, melainkan juga ikut mempertimbangkan faktor-faktor lain yang berkembang dalam masyarakat. Sementara dari sisi lain, keadilan pun masih menjadi perdebatan disebabkan keadilan mengandung unsur subyektif yang sangat tergantung pada nilai-nilai intrinsik subyektif dari masing- masing orang.
16 2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan
hukum
Ada tiga elemen penting yang memengaruhi mekanisme bekerjanya aparat dan aparatur penegak hukum, antara lain: (a) institusi penegak hukum beserta berbagai perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya; (b) budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya; dan (c) perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaanya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materiilnya maupun hukum acaranya. Upaya penegakan hukum secara sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan, sehingga proses penegakan hukum dan keadilan secara internal dapat diwujudkan secara nyata.
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum
Fasilitas pendukung secara sederhana dapat dirumuskan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ruang lingkupnya terutama adalah sarana fisik yang berfungsi sebagai faktor pendukung. Fasilitas pendukung mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan sebagainya. Selain ketersediaan fasilitas, pemeliharaan pun sangat penting demi menjaga keberlangsungan. Sering terjadi bahwa suatu peraturan sudah difungsikan, padahal fasilitasnya belum tersedia lengkap. Kondisi semacam ini hanya akan menyebabkan kontra-produktif yang harusnya memperlancar proses justru mengakibatkan terjadinya kemacetan.
17 4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan
diterapkan
Penegakan hukum bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat.
Masyarakat mempunyai pendapat-pendapat tertentu mengenai hukum. Artinya, efektivitas hukum juga bergantung pada kemauan dan kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran yang rendah dari masyarakat akan mempersulit penegakan hukum, adapun langkah yang bisa dilakukan adalah sosialisasi dengan melibatkan lapisan-lapisan sosial, pemegang kekuasaan dan penegak hukum itu sendiri.
Perumusan hukum juga harus memerhatikan hubungan antara perubahan- perubahan sosial dengan hukum yang pada akhirnya hukum bisa efektif sebagai sarana pengatur perilaku masyarakat.
5. Faktor kebudayaan,3
Faktor kebudayaan yang sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat sengaja dibedakan, karena di dalam pembahasannya diketengahkan masalah sistem nilai-nilai yang menjadi inti dari kebudayaan spiritual atau nonmaterial. Hal ini dibedakan sebab sebagai suatu sistem (atau subsistem dari sistem kemasyarakatan), maka hukum mencakup, struktur, subtansi, dan kebudayaan. Struktur mencangkup wadah atau bentuk dari sistem tersebut, umpamanya, menyangkup tatanan lembaga-lembaga hukum formal, hukum antara lembaga-lembaga te sebut, hak-hak dan kewajiban-kewajibanya, dan seterusnya4
3 Soerjono Soekanto, Loc. cit
4 Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Rajawali Press, Jakarta 1982 hal 115
18 Kelima faktor di atas sangat berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur dari pada kepatuhan Masyarakat terhadap hukum.
Membicarakan tentang efektivitas hukum berarti membicarakan daya kerja hukum itu dalam mengatur dan atau memaksa masyarakat untuk taat terhadap hukum. Hukum dapat efektif kalau faktor-faktor yang mempngaruhi hukum tersebut dapat berfungsi dengan sebaik- baiknya. Ukuran efektif atau tidaknya suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dilihat dari perilaku masyarakat. Suatu hukum atau peraturan perundang-undangan akan efektif apabila warga masyarakat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan atau dikehendaki oleh atau peraturan perundang-undangan tersebut mencapai tujuan yang dikehendaki, maka efektivitas hukum atau peraturan perundang-undangan tersebut telah dicapai.
B. Tinjauan Umum Pemerintah Daerah 1. Pengertian Pemerintah Daerah
Pemerintah Daerah adalah penyelenggara pemerintahan daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar 1945. Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Wali kota, dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintah daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah, yaitu pemerintah dan DPR.
Peraturan daerah dan ketentuan lainnya yang bersifat mengatur dengan menetapkan di dalam Undang-undang tentang pemerintah daerah, peraturan daerah tertentu yang mengatur pajak darah, retrebusi daerah, APBD, perubahan APBD, dan tata ruang,
19 berlakunya setelah melalui tahapan evalusi oleh pemerintah. Hal itu ditempuh dengan pertimbangan antara lain untuk melindungi kepentingan umum, menyelaraskan dan menyesuaikan dengan perundang- undangan yang lebih tinggi dan peraturan daerah lainnya, terutama peraturan daerah mengenai pajak daerah dan retrebusi daerah.
Peran pemerintah dalam mengembangkan pariwisata secara garis besarnya adalah menyediakan infrastruktur (tidak hanya dalam bentuk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, kegiatan koordinasi antara aparatur pemerintah dengan pihak swasta, pengaturan dan promosi umum ke daerah lain maupun ke luar negeri. Pemerintah mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan, dan peruntukan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata. Tidak hanya itu, pemerintah bertanggung jawab dalam menentukan arah yang dituju perjalanan pariwisata.
Kebijakan makro yang ditempuh pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang lain didalam memainkan peran masing-masing.
2. Tugas Pemerintah Daerah
Pemerintah Daerah selain menjaga keamanan dan ketertiban tapi juga memberikan pelayanan-pelayanan untuk mengimbangi perkembangan tuntutan-tuntutan pelayanan dari masyarakat saat ini. Prof. Davey mengelompokan fungsi Pemerintah daerah yaitu:
a. Pemberian pelayanan, yaitu funsi-fungsi pemerintah yang berkaitan dengan penyediaan pelayanan yang berorientasi pada lingkungan dan masyarakat.
b. Fungsi pengaturan, yaitu fungsi yang berkaitan dengan perumusan dan penegakkan peraturan-peraturan.
c. Fungsi pembangunan, yaitu fungsi yang berkaitan dengan keterlibatan
20 pemerintah dalam kegiatan ekonomi.
d. Fungsi perwakilan, yaitu mewakili masyarakat di luar wilayah mereka.
e. Fungsi koordinasi dan perencanaan, yaitu berkaitan dengan peran pemerintah dalam pengkoordinasiaan, perencanaan, investasi dan tata guna lahan.
3. Fungsi Pemerintah Daerah
Fungsi pemerintah dalam mengembangkan kegiatan pariwisata diperlukan suatu organisasi yang efektif di daerah, organisasi pariwisata yang berguna untuk memberikan fasilitas dan kenyamanan yang memuaskan bagi wisatawan, meningkatkan daerah sehingga pariwisata diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, sehingga memerlukan organisasi yang dapat diandalkan mengelola pariwisata sebagai objek unggulan, kebutuhan wisata yang dimiliki setiap orang menyebabkan pariwisata semakin berkembang pesat.
Organisasi yang telah diberikan wewenang dalam pengembangan pariwisata di wilayahnya harus dapat menjalankan kebijakan organisasi pariwisata pada umumnya adalah:
a. Berusaha memberikan kepuasan kepada wisatawan dengan segala fasilitas dan potensi yang dimiliki.
b. Melakukan koordinasi diantara bermacam-macam usaha, lembaga, instansi dan jabatan yang ada dan bertujuan untuk mengembangkan industry pariwisata.
Mensosialisaikan kepada masyarakat pengertian pariwisata, sehingga mereka mengetahui untung dan ruginya bila pariwisata dikembangkan sebagai suatu industry.
c. Mengadakan program riset yang bertujuan untuk memperbaiki produk wisata
21 dan pengembangan produk-produk baru guna dapat menguasai pasaran diwaktu-waktu yang akan datang.
d. Menyediakan semua perlengkapan dan fasilitas untuk kegiatan pariwisata.
e. Merumuskan kebijakan tentang pengembangan kepariwisataan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan secar teratur dan berencana
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa peran merupakan fungsi penyesuaian yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang mempunyai kedudukan dimasyarakat. Apabila konsep tersebut dikaitakan dengan fungsi pemerintah maka, dapat disimpulkan definisi peranan adalah organisasi pemerintah yang menjalankan tugas-tugas Negara dan fungsi pemerintah daerah. Pemerintah yang dimaksud dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.
4. Kewenangan Daerah Dalam Bidang Pariwisata
Dengan terbitnya Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang baru yakni Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, maka pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah terbagi seperti yang ditegaskan dalam Pasal 9 ayat (1), ayat (3) dan ayat (4), sebagai berikut :
(1) Urusan Pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan pemerintahan umum;
(3) Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota;
(4) Urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan ke Daerah menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah”.
22 Lebih lanjut, urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan Daerah terdiri atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan. Urusan Pemerintahan Wajib terdiri atas Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Sedangkan pariwisata merupakan urusan yang termasuk dalam Urusan Pemerintahan Pilihan.5
Pemerintahan daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan otonomi daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah. Aspek hubungan wewenang memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aspek hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras. Di samping itu, perlu diperhatikan pula peluang dan tantangan dalam persaingan global dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar mampu menjalankan perannya tersebut, daerah diberikan kewenangan yang disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara.6
Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menganut prinsip otonomi secara luas, nyata dan bertanggung jawab. Hal ini berarti daerah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di luar urusan pemerintahan pusat yang telah ditetapkan undang-undang. Penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam melaksanakan tugas, wewenang, kewajiban dan tanggung jawabnya serta atas kuasa peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dapat membuat peraturan perundang- undangan tingkat daerah atau menetapkan kebijakan daerah yang dirumuskan dalam peraturan daerah, peraturan kepala daerah dan ketentuan daerah lainnya.
5 Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
6 Penjelasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
23 Kaitan dengan kewenangan pemerintahan daerah dalam pengelolaan kepariwisataan daerah, dimana pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung memberi, menyentuh dan melibatkan masyarakat sehingga mambawa dampak terhadap masyarakat setempat.7 Pariwisata juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat antara lain sosial ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Selain itu industri pariwisata tidak hanya terkait pada atraksi wisata, tetapi juga terkait dengan industri lain, seperti perhotelan, restoran, angkutan (darat, laut, dan udara) dan produk-produk industri lainnya. Perkembangan pariwisata dewasa ini sangat pesat dan memberikan peluang terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun regional. Untuk itu pembangunan pariwisata terus dipacu dan pemerintah mempunyai keyakinan bahwa pariwisata dapat menjadi sektor andalan menggantikan minyak dan gas bumi yang selama ini menjadi tumpuan pemerintah dalam menunjang penerimaan negara
C. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
1. Pengertian PAD
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retrebusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan kelulusan pada daetah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas disentralisasi.8
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah pendapatan asli daerah yaitu sumber keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, retrebusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang
7 Gde Pita dan Putu G. Gayatri, Sosiologi Pariwisata, Kajian Sosiologis terhadap Struktur, Sistem dan Dampak-Dampak Pariwisata, Andi Offset, Yogyakarta, 2005, hlm.109.
8 Yuliati, Akutansi sektor public cetakan kelima, salemba empat, Jakarta, 2000, hal.97
24 sah.9
Salah satu upaya untuk melihat kemampuan daerah dari segi keuangan daerah dalam rangka mengurangi ketergantungan tehadap pemerintah pusat, adalah dengan melihat komposisi dari penerimaan daerah yang ada.Semakin besar komposisi pendapatan asli daerah, maka semakin pula kemampuan pemerintah daerah untyk memikul tanggungjawab yang lebih besar.
2. Sumber PAD
Dalam upaya memperbesar peran pemerintah daerah dalam pembangunan, pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai kegiatan operasional rumah tangganya. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan asli daerah tidak dapat dipisahkan dengan belanja daerah, karena adanya saling terkait dan merupakan satu alokasi anggaran yang disusun dan dibuat untuk melancarkan roda pemerintah daerah. Sebagaimana dengan Negara, maka daerah dimana masing-masing pemerintah daerah mempunyai fungsi dan tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan jalan melaksanakan pembangunan disegala bidang.
Sumber pendapatan asli daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dalam daerah yang bersangkutan, yang terdiri dari :10
1) Pajak daerah
Pajak daerah yang selanjutnya di sebut pajak merupakan kontribusi wajib kepada daerah yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
9 Ibid.
10 Ibid.
25 digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak daerah ditinjau dari segi lembaga pemungut pajak dalam undangundang nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dalam pasal 1 menerangkan bahwa pajak daerah terdiri dari:11
a) Pajak hotel
b) Pajak restoran dari rumah makan c) Pajak hiburan
d) Pajak reklame
e) Pajak penerangan jalan
f) Pajak pengambilan bahan galian golongan c g) Pajak pemanfaatan air bawah tanah
Setelah berakhirnya era booming minyak di akhir tahun 1970 atau awal tahun 1980 pemerintah mulai mendorong dan meningkatkan penerimaan non migas.12 penerimaan yang telah banyak menghasilkan devisa setelah era minyak bumi dan gas adalah bidang hasil hutan serta industry tekstil, namun sejalan dengan kampanye lingkungan hidup pembabatan hutan yang tidak terkendali mendapat reaksi kera dari masyarakat internasional sehingga menyebabkan sumber keuangan menurun drastis.
Kondisi yang menyebabkan sumber keuangan menurun drastic menyebabkan pemerintah beralih kepada sumber keuangan yaitu perpajakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pajak yang merupakan sumber keuangan pemerintah salah
11Sjafrizal, Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Era Otomi, Rajawali Pers, Jakarta, 2014, hal 393
12 Rahardja adisasmita, Pembiayaan Pembangunan Daerah,Graha,Yogyakarta,2011.hal 87
26 satunya adalah pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah untuk membiayai pembangunan daerah yang bersangkutan.
2) Retribusi daerah13
Dalam undang-undang nomor 28 tahun 2009 tentang retribusi daerah menyebutkan bahwa retribusi daerah adalah pungutan sebagai pembayaran dari jasa dan pemberian izin tertentu yang khusus di sediakan oleh pemerintah daerah demi kepentingan orang pribadi atau hokum.
Retribusi daerah terdiri dari retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu. Retribusi daerah adalah iuran daerah sebagai pembayaran atas jasa tau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Peningkatan retribusi daerah yang memiliki potensi yang baik akan meningkatakan pendapatan asli daerah, retribusi yang diterima oleh pemerintah daerah digunakan untuk membiayai kembali pembangunan daerah yang bersangkutan ,Ciri-ciri retribusi daerah:
a) Retribusi di pungut oleh pemerintah daerah
b) Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis c) Adanya kontraprestasi yang secara langsung dapat ditunjuk
d) Retribusi dikenakan pada setiap orang atau badan yang menggunakan atau mengayam jasa-jasa yang disiapkan negara.
Retribusi daerah digolongkan dalam tiga kelompok retribusi, yang terdiri dari:
13 Ibid. hal 88
27 (1) Retribusi jasa umum14
Retribusi jasa umum adalah retribusi atas jasa yang di sediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan, adapun retribusi jasa umum di tentukan sebagai berikut:
(a) Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa usaha atau perizinan tertentu
(b) Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi
(c) Jasa tersebut memberikan manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum
(d) Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi
(e) Retribusi tersebut tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelengaraan
(f) Retribusi tersebut dapat dipungut secara efektif dan efisien serta merupakan satu sumber pendapatan daerah yang potensial
(g) Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dana atau kualitas pelayanan yang lebih baik
14 Ibid. hal 88
28 Adapun jenis retribusi jasa umum meliputi:15
1) Retribusi pelayanan kesehatan 2) Retribusi pelayanan kebersihan
3) Retribusi pengantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akte catatan sipil
4) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat 5) Retribusi pelayanan parker di tepi jalan umum
6) Retribusi pelayanan pasar
7) Retribusi pengujian kendaraan bermotor
8) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran 9) Retribusi pengantian biaya cetak peta
10) Retribusi pengujian kapal perikanan (2) Retribusi jasa usaha
Retribusi jasa usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sector swasta. Jenis retribusi jasa khusus atau usaha adalah:
(a) Retribusi pemakaian kekayaan daerah (b) Retribusi pasar grosir atau pertokoan
15 Ibid.
29 (c) Retribusi tempat pelelangan
(d) Retribusi terminal
(e) Retribusi tempat khusus parker (f) Retribusi tempat penginapan (g) Retribusi penyedotan kakus (h) Retribusi rumah potong hewan (i) Retribusi pelayanan pelabuhan kapal
3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang di pisahkan
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan adalah susunan kegiatan dan tindakan yang meliputi perencanaan, penentuan kebutuhan, pengendalian, pemeliharaan, pengamanan, pemanfaatan, dan perubahan status hokum serta penatausahaannya. Hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan meliputi bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik negara.
Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan meliputi:16
a) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah atau BUMD
b) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah atau BUMN
16 Ibid. hal 89
30 c) Bagian laba atas penyertaan modal milik swasta atau kelompok usaha
masyarakat.
4) Lain-lain PAD yang sah
Menurut Undang-undang No. 3 tahun 2004 menyebutkan bahwa pendapatan asli daerah yang sah adalah hasil daerah yang didapat dari usaha diluar kegiatan dan pelaksanaan tugas daerah.17
Adapun jenis pendapatan asli daerah yang sah meliputi:
a) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan b) Jasa giro
c) Pendapatan bunga
d) Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah
e) Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan pengadaan barang dana tau jasa oleh daerah
f) Penerimaan keuntungan dan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
g) Pendapatan denda atas pelaksanaaan keterlambatan pekerjaan h) Pendapatan denda pajak
i) Pendapatan denda retribusi
j) Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan
17 Ibid.
31 k) Pendapatan dari pengembalian
l) Fasilitas social dan fasilitas umum
m) Pendapatan dari penyelengaraan pendidikan dan pelatihan n) Pendapatan dari angsuran atau cicilan penjualan
5. Dana Perimbangan
Dana perimbangan adalah penerimaan daerah dalam bentuk pendapatan transfer yaitu pendapatan yang diperoleh pemerintah daerah yang bersumber dari transfer pemerintah atasan yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Pendapatan ini meliputi : Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
a. Dana Alokasi Umum
Dengan terbitnya Peraturan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2005 tentang dana perimbangan antara perimerintah Pusat dan Daerah menyebutkan Dana Alokasi Umum (DAU) yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah untuk membiayai pelaksanaan desentralisasi18
Dana Alokasi Umum ini bersifat Block Grant yang berarti penggunaan dana ini diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah
18 Situngkir, Anggiat, Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU dan DAK terhadap alokasi Anggaran Belanja Modal(Pemerintah Kabupaten Daerah, Sumatera Utara). Skripsi Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. 2009, hal 35
32 untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dimana dasar hukum pengalokasian dana ini sesuai dengan 19 Undang-undang nomor 33 tahun 2003 tentang perimbangan dana antara pusat dan daerah besaran Dana Alokasi Umum (DAU) ini sekurang-kurangnya 26 % dari pendapatan dalam negeri (PDN) Netto yang ditetapkan dalam APBN.
Sedangkan proporsi DAU untuk daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota sesuai dengan kebutuhan dan kewenangan antara propinsi dan Kabupaten/kota formula DAU menggunakan pendekatan celah fiskal (fiskal gap) yaitu selisih antaara kebutuhan. Penyaluran DAU,DAK dan DBH disalurkan dengan cara pemindah bukuan dari rekening Kas Umum Negara ke Kas Umum Daerah.
Hal ini berkaitan dengan perimbangan antara pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan antara pusat dan daerah lebih lanjut menurut Darwanto dan Yustikasari hal tersebut menunjukkan terjadinya transper yang cukup signifikan di dalam APBN dari Pemerintah Pusat dan Daerah, dimana dana tersebut secara leluasa dapat dipergunakan untuk pelaksanaan desentralisasi.20
b. Dana Bagi Hasil
Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU
19 Ibid.
20 Darwanto dan Yulia Yustikasari, 2007. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap Pengalokasian Anggaran Belanja Modal, Simposium Nasional Akuntansi X.
Makasar.
33 No.33 Tahun 2004, Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah). DBH yang ditransfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah terdiri dari dua (2) jenis, yaitu DBH pajak dan DBH Sumber Daya Alam (SDA). Pola bagi hasil penerimaan tersebut dilakukan dengan prosentase tertentu yang didasarkan atas daerah penghasil. Penerimaan DBH pajak bersumber dari21:
1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
2. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
3. Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh WPOPDN) dan Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21).
4. Sedangkan penerimaan DBH SDA bersumber dari: Kehutanan, Pertambangan Umum, Perikanan, Pertambangan Minyak Bumi, Pertambangan Gas Bumi, dan Pertambangan Panas Bumi
Pada umumnya setiap daerah memiliki sektor unggulan sendiri-sendiri dalam hal keuangan dan hal ini sangat bergantung pada pemerintah daerah itu sendiri dalam menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada.
Demikian halnya dalam sistem DBH yang bersumber dari pajak dan SDA. 22 Mekanisme bagi hasil SDA dan pajak bertujuan untuk mengurangi ketimpangan vertikal (vertical imbalance) pusatdaerah. Namun, pola bagi hasil
21 Ibid.
22 Halim, Abdul, Akuntansi Sektor Publik; Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi ketiga: Salemba Empat, Jakarta. 2007, hal 55
34 tersebut dapat berpotensi mempertajam ketimpangan horisontal (horizontalimbalance) yang dialami antara daerah penghasil dan non penghasil.
23 Hal tersebut disebabkan karena dalam kenyataannya karakteristik daerah di Indonesia sangat beraneka ragam.
B. Tinjauan Umum Pengelolaan Destinasi Wisata 1. Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “management”, terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut ke dalam bahasa Indonesia, isilah inggris tersebut lalu di Indonesia menjadi manajemen. Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur, pengeturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemn. Jadi manajemn itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang di inginkan melalui aspek-aspeknya antara lain planning, organising, actuating, dan controling.24
Dalam kamus Bahasa indonesia lengkap disebutkan bahwa pengelolaan adalah proses atau cara perbuatan mengelola atau proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain, proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi atau proses25
Menurut Suharsimi arikunta pengelolaan adalah subtantifa dari mengelola, sedangkan mengelola berarti suatu tindakan yang dimulai dari penyususnan data, merencana, mengorganisasikan , melaksanakan, sampai dengan pengawasan dan
23 Ibid.
24 Daryanto, kamus indonesia lengkap, Surabaya : Apollo, 1997. hal 348
25 Ibid.
35 penilaian. Dijelaskan kemudia pengelolaan menghasilkan suatu dan sesuatu itu dapat merupakan sumber penyempurnaan dan peningkatan pengelolaan selanjutnya.26
Pengelolaan menurut Leiper, Pengelolaaan merujuk pada seperangkat peran yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, atau bisa juga merujuk pada funsi-fungsi yang melekat pada peran tersebut. Fungsi-fungsi manajemen tersebut yaitu:
a. Planning (perencanaan)
b. Directing(Pengarahan) Organizing (Termasuk coordinating) c. Controling (pengawasan)
Pengelolaan (managemen) adalah sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,pengorganisasian dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumberdaya lainnya.
Liang lee juga mendefinisikan manajemen sebagai seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengontrolan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan lebih dahulu. Pengelolaan merupakan suatu proses kegiatan yang meliputi perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan
Jadi dapat disumpukan bahwa pengelolaan (manajemen) adalah suatu cara atau proses yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan agar berjalan efektif dan efisien.
2. Pengertian Destinasi Wisata
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009
26 Erni Tisnawati Sule, Kurniwan Saefullah, pengantar manajemen, Jakarta : Kencana Perdana Media Goup, 2009 hal 9
36 tentang kepariwisataan, daerah tujuan wisata yang juga disebut destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administrasi yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.27
Menurut Prof. Mariotti dalam Oka A Yoeti, daerah tujuan wisata harus memiliki hal menarik yang dapat ditawarkan kepada wisatawan. Destinasi pariwisata harus memenuhu tiga syarat, yaitu:
a. Harus memiliki something to see, yaitu di tempat tersebut harus ada obyek dan atraksi wisata khusus, yang berbeda dengan apa yang dimiliki daerah lain untuk dilihat.
b. Harus menyediakan something to do, yaitu di tempat tersebut harus disediakan fasilitas untuk melakukan kegiatan rekreasi yang dapat membuat nyaman wisatawan
c. Harus menyediakan something to buy, yaitu tempat tersebut harus tersedia fasilitas untuk berbelanja, terutama oleh-oleh dan barang kerajinan khas yag dapat dibawa pulang ke tempat asal wisatawan.
Kualitas objek daya tarik wisata merupakan hal yang penting dalam pariwisata.
Mutu objek daya tarik wisata yang baik akan berdampak positif pada besaran jumlah wisatawan dan lama tinggal di suatu destinasi wisata. Di dalam hal ini persepsi wisatawanlah yang menjadi tolak ukur untuk melihat tingkat mutu objek daya tarik
27 Undang Undang tentang Kepariwisataan, UU No. 10 Tahun 2009. Jakarta: Direktorat Jenderal Hukum dan HAM
37 wisata tersebut. 28
James J. Spillane berpendapat bahwa suatu objek wisata harus meliputi lima unsur penting agar wisatawan merasa puas dalam menikmati perjalanannya, yaitu sebagai berikut : 29
1) Atraksi
Atraksi adalah pusat dari industri pariwisata. Atraksi merupakan sesuatu yang mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya. Motivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat tujuan wisata adalah untuk memenuhi atau memuaskan beberapa kebutuhan atau permintaan. Biasanya para wisatawan tertarik pada suatu lokasi karena ciri-ciri khas tertentu. Kriteria ini dapat diuraikan menjadi beberapa indikator sebagai berikut. A) Memiliki daya tarik wisata khususnya daya tarik wisata budaya., B) Memiliki setidaknya lebih dari satu atraksi yang memanfaatkan dan menjunjung tinggi budaya lokal
2) Fasilitas
Unsur fasilitas cenderung berorientasi pada atraksi disuatu lokasi karena fasilitas harus dekat dengan pasarnya. Fasilitas cenderung mendukung dan bukan mendorong pertumbuhan dan cenderung berkembang pada saat yang sama atau sesudah atraksi berkembang. Suatu atraksi juga dapat merupakan fasilitas. Jumlah dan jenis fasilitas tergantung kebutuhan wisatawan. Menurut Gunn dan Turgut. fasilitas merupakan fasilitas pelayanan dan sarana prasarana penunjang pariwisata yang nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan selama berwisata di suatu tempat. Dalam karakteristik
28 Gelgel, I Putu, Industri Pariwisata Indonesia dalam Globalisasi Perdagangan Jasa Implikasi Hukum dan Antisipasinya. Bandung, PT. Refika Aditama, 2009, hal 46
29 Ibid. hal 65
38 ini, fasilitas yang dimaksud meliputi fasilitas dasar dan penunjang kegiatan wisata.
3. Konsep Umum Pengelolaan Destinasi Wisata
Menurut Fandeli, wisata adalah perjalanan atau sebagai kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.30 Maka dari itu diperlukan perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi untuk mencapai tujuan wisata yang baik.31
Dalam rangka menciptakan pengelolaan destinasi wisata yang baik dan berkelanjutan, maka setidaknya pihak pengelola harus memenuhi du unsur destinasi wisata. Yaitu unsur Atraksi dan fasilitas. Kedua unsur tersebut tidak dapat tercapai dengan mudah jika belum terdapat infrastruktur dasar. Salah satu upaya masyarakat pengelola destinasi wisata adalah mengajukan diri sebagai nasabah mudharabah di bank Syariah dan Bank Syariah di sana menjadi Investor dalam pengembangannya
Dalam membangun infrastruktur destinasi wisata. Mayoritas Pengelola destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi menggunakan prinsip Bagi Hasil. Menurut Pengelola yang menggunakan Prinsip bagi hasil ini. Prinsip bagi hasil dinilai dapat menguntungkan kedua belah pihak. Sebab tidak hanya mengejar keuntungan dan terikat oleh bunga yang besar. Melainkan sama-sama menerima untung dan menanggung rugi dalam porsi yang sama.32
30 Bawazir, Tohir. Panduan Praktis Wisata Syariah. Jakarta, Pustaka AlKautsar, 2013, hal 99
31 Ibid, hal 105
32 Andriani, Dini, dkk. Kajian Pengembangan Wisata Syariah. Tugas Akhir. Asisten Deputi Penelitian Dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan
Kementerian Pariwisata. 2015.