• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISBN : PROSIDING SEMINAR NASIONAL PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN MENDUKUNG BIOINDUSTRI DI LAHAN SUB OPTIMAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISBN : PROSIDING SEMINAR NASIONAL PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN MENDUKUNG BIOINDUSTRI DI LAHAN SUB OPTIMAL"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

ISBN : 978-979-1415-96-5

PROSIDING SEMINAR NASIONAL

PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN MENDUKUNG BIOINDUSTRI DI LAHAN SUB OPTIMAL

Palembang, 16 September 2014

BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

KEMENTERIAN PERTANIAN 2015

(3)

iii PROSIDING SEMINAR NASIONAL PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN MENDUKUNG BIOINDUSTRI DI LAHAN SUB OPTIMAL

Hak cipta dilindungi undang-undang

©Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2015 Isi prosiding dapat disitasi dengan menyebutkan sumbernya

ISBN 978-979-1415-96-5

Penyunting Ahli

Hasbi (PUR-PLSO, Universitas Sriwjaya) Wiratno (Balai Penelitian Tanah)

Harmanto (BPTP Sumatera Selatan) Agung Prabowo (BPTP Sumatera Selatan) Suwandi (PUR-PLSO, Universitas Sriwijaya) Yanter Hutapea (BPTP Sumatera Selatan)

Penyunting Pelaksana Budi Raharjo

Tumarlan Thamrin NP. Sri Ratmini Imelda S. Marpaung Yeni E. Maryana Syahri

Diterbitkan oleh :

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Kementerian Pertanian

Jl. Tentara Pelajar No. 10 Bogor

(4)

iv DAFTAR ISI

Halaman Kata Pengantar... iv Daftar Isi ... v Rumusan Seminar... xii MAKALAH UTAMA

Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bio-Industri di Lahan Suboptimal

Haryono... ... 1 Sustainable Management of Suboptimal Wetlands for Strengthening Bioindustry in

Indonesia

Benyamin Lakitan... 7 Peningkatan Daya Saing Agroindustri Melalui Pengembangan Teknologi Inovasi

Hasbi... ... 14 SUMBERDAYA LAHAN

Kajian Kesuburan Tanah Lahan Rawa di Provinsi Bengkulu

Wahyu Wibawa,Nurmegawati, Dedi Suganti ………... 39 Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian dan Rekomendasi Teknologi

Aplikatif di Kabupaten Bengkulu Tengah, Indonesia

Hamdan, Irma Calista Siagian………... 47 Faktor Predominan Anasir Perubahan Iklim Terhadap Rizozfer Perakaran Tanaman

Jeruk

Oka Ardiana Banaty, B. Al Fanshuri, O. Endarto, Joni Karman………... 62 Peran Mulsa Organik pada Lahan Tadah Hujan Khususnya dalam Menekan Serangan

Hama Pertanian

Wiratno, Rohimatun………... 71

Identifikasi dan Karakterisasi Sumberdaya Lahan pada Tanaman Pangan di Lahan Sub- Optimal Muaro Jambi

Lutfi Izhar, Salwati, D. Novalinda... 80 Rekomendasi Pemupukan Tanaman Jagung untuk Kabupaten Bengkulu Selatan

Nurmegawati, Yahumri, Yong Farmanta ………... 89 Analisis Optimalisasi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi Pasang Surut

di Desa Muliasari Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin

Gusti Fitriyana ... 808 Potensi Pengembangan Kedelai Melalui Varietas Adaptif di Lahan Sub Optimal,

Sumatera Selatan

Zakiah, Budi Raharjo……….. 818

LAMPIRAN

Daftar Peserta... 829

(5)

v

(6)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

808

Analisis Optimalisasi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi Pasang Surut di Desa Muliasari Kecamatan Tanjung Lago

Kabupaten Banyasin

The Optimum Used Production Factors Analysis of Paddy farm-management at Tidal Land in Muliasari Village Tanjung Lago Subdistrict Banyuasin

Regency

Gusti Fitriyana1*)

1) Fakultas Pertanian Universitas Tridinanti Palembang

*) Penulis Korespendensi : Telp +628117882773, Email :[email protected] ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menghitung pendapatan usahatani padi pada lahan pasang surut , (2) Menganalisis alokasi penggunaan faktor produksi optimal pada kegiatan usahatani padi lahan pasang surut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus.

Populasi pada penelitian ini adalah petani padi lahan pasang surut yang dalam pengadaan saprodinya dilakukan dengan sistem bayar tunai (cash) dan sistem ”yarnen” atau pembayaran dilakukan setelah panen. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Nopember sampai Desember 2012. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : Pendapatan usahatani padi pasang surut di Desa Mulyasari dengan sistem tunai sebesar Rp. 5,619,603.39/musim tanam lebih tinggi 50,7% daripada pendapatan usahatani padi dengan sistem yarnen yang hanya sebesar Rp 2,850,680.94/musim tanam. Faktor Produksi yang teliti adalah faktor produksi modal (terdiri dari penggunaan pupuk urea, TSP dan KCL) dan tenaga kerja.

Penggunaan faktor produksi modal dan tenaga kerja untuk menghasilkan keuntungan maksimal pada usahatani dengan sistem tunai adalah sebanyak 222,2 Kg/ha dan 50,45 HOK/ha, sedangkan untuk sistem sistem yarnen adalah 105,7 Kg/ha dan 24,00 HOK/ha

Kata kunci : Sistem tunai dan yarnen, pendapatan, lahan pasang surut, alokasi optimal PENDAHULUAN

Kabupaten Banyuasin memiliki potensi untuk pengembangan usahatani padi karena sebagian wilayah kabupaten ini memiliki kondisi geografis yang sesuai. Tingginya potensi pengembangan usahatani padi terlihat dari masih tingginya potensi pengembangan usahatani padi di Kabupaten Banyuasin. Berdasarkan data dari Badan Litbang Sumatera Selatan (2007), dari total luas lahan di Kabupaten Banyuasin yang sudah direklamasi seluas 362.000 hektar, luas tanam hanya seluas153.000 hektar, dan dari jumlah tersebut yang baru dapat ditanami dua kali setahun baru 5.000 hektar sedangkan sisanya masih ditanami satu kali setahun, yang sebagian besar berupa lahan pasang surut. Dengan sistem penanaman yang demikian maka produksi padi Kabupaten Banyuasin sebenarnya masih bisa ditingkatkan lagi mengingat sebagian besar lahan baru ditanam satu sekali setahun dengan cara mengotimalkan penggunaan lahan rawa pasang surut di kabupaten tersebut, apalagi sejak beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah terhadap pengembangan lahan pasang surut terus meningkat untuk mendukung program peningkatan produksi pangan

Di Kecamatan Tanjung Lago pengembangan usahatani tersebar di beberapa desa yang salah satunya di Desa Muliasari. Desa Muliasari yang merupakan Kota Terpadu Mandiri (KTM) merupakan areal penempatan transmigrasi tahun 1979-1980 yang berasal dari Pulau Jawa, dengan luas areal 1.840 Ha, dan sebagian besar digunakan untuk pengembangan usahatani padi. Meskipun merupakan daerah penghasil padi ternyata desa ini merupakan daerah yang terkategori miskin yang sebagian besar penduduknya merupakan penerima bantuan raskin.

(7)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

809 Tingkat kesejahteraan yang rendah didaerah ini menggambarkan pendapatan usahatani padi di wilayah pasang surut tersebut masih rendah. Perkiraan ini sesuai dengan hasil penelitian Tim Puslitbangtan di Kecamatan Pulau Rimau (1991), produktivitas sawah pada lahan rawa pasang surut sangat beragam antara 1 sampai 5 ton dengan rata-rata 2 ton perhektar per musim tanam. Jika diasumsikan tingkat produktivitas tanaman padi 3-4 ton per hektar per musim tanam dengan harga gabah rata-rata Rp. 2.500-2.700/kg berarti dalam satu tahun petani hanya mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 7.500.000 per tahun atau Rp.625.000 per bulan.

Tingkat pendapatan usahatani yang rendah mengakibatkan kemampuan petani dalam hal penyediaan modal tunai menjadi terbatas baik itu untuk membeli sarana produksi, maupun untuk biaya kegiatan usahatani lainnya semisal untuk pengolahan lahan, upah tenaga kerja dan lain-lain.

Keterbatasan modal ini mengakibatkan kegiatan usahatani yang dilakukan belum optimal, sehingga tingkat kesejahteraan petani di daerah ini masih terbilang rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu ada upaya untuk meningkatkan produksi usahatani, salah satunya dengan jalan mengetahui secara riil sejauh mana tingkat optimalisasi kegiatan usahatani tersebut.

Berdasarkan alasan tersebut maka sangat menarik untuk dilakukan penelitian mengenai

“Analisis Optimalisasi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Padi Lahan Pasang Surut”.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Muliasari Kecamatan Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menghitung pendapatan usahatani padi pada lahan pasang surut , (2) Menganalisis alokasi penggunaan faktor produksi optimal pada kegiatan usahatani padi lahan pasang surut. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka pemikiran

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan di desa Muliasari Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin yang dilaksanakan pada bulan Nopember sampai Desember 2012. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (Purposive) mengingat desa ini merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang seyogyanya sudah bisa memenuhi kebutuhan pangan terutama beras sendiri, namun kenyataannya desa ini masih mendapatkan bantuan beras raskin. Sedangkan penentuan responden dilakukan dengan metode stratifikasi acak tak berimbang (disproportioned Stratified Random Sampling). Adapun jumlah petani contoh yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 30 petani untuk masing-masing kelompok.

Usahatani Padi

Faktor Produksi :

1.Modal (Pupuk urea,TSP) 2. Tenaga Kerja

Produksi

Usahatani Pendapatan

Alokasi Penggunaan Faktor Produksi optimal dengan kendala keuntungan Sistem Tunai

Sistem Yarnen

(8)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

810 Tabel 1. Populasi Petani yang Berusahatani dengan Sistem Tunai dan Yarnen di Desa Muliasari

Kecamatan Tanjung Lago

No Sistem Pengadaan Saprodi Populasi Petani Petani Contoh Persentase 1

2

Tunai (cash)

Yarnen (bayar setelah panen)

52 205

30 30

57,6 14,6

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung terhadap petani contoh dengan menggunakan daftar pertanyaan.

Data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti: Kantor Pemerintahan Kecamatan Tanjung Lago, Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin dan instansi lainnya yang terkait dengan penelitian ini.

Metode Pengolahan Data. Data yang dikumpulkan dari lapangan diolah secara tabulasi dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif.

Untuk menjawab permasalahan pertama, yaitu: menghitung pendapatan usahatani padi pasang surut, digunakan rumus sebagai berikut :

Pd = Pn – BT Pn = Y x Hy

BT = BTp + BV, dimana : Pd = pendapatan (Rp/mt)

Pn = penerimaan (Rp/mt) T = biaya produksi (Rp/mt) Hy = harga produksi (Rp/mt) Y = hasil produksi (kg/mt) BT = biaya total (Rp/mt) BTp = biaya tetap (Rp/mt) BV = biaya variable (Rp/mt)

Sedangkan untuk melihat perbedaan pendapatan petani yang membeli saprodi dengan sistem yarnen dan tunai digunakan uji Beda Dua Rata-Rata dengan rumus sebagai berikut:

t hit =

2 2 1 2

2 1 2 1

/ /

) (

n S n S

X X

 

S2 =

2 ) 1 ( )

1 (

2 1

2 2 2

2 1 1

n n

S n

S n

df = n1 + n2 -2 Keterangan:

X1 = Rata-rata pendapatan petani dengan sistem tunai X2 = Rata-rata pendapatan dengan sistem yarnen n1 = Jumlah contoh yang menanam dengan sistem tunai n2 = Jumlah contoh yang menanam dengan sistem yarnen S2 = Standar deviasi Gabungan S1 dan S2

Dengan hipotesis sebagai berikut:

H1; µ1 = µ2 ; H0; µ1 > µ2

Kaidah keputusannya yaitu :

Jika thit > ttab, maka H0 ditolak, H1 diterima

Artinya : Pendapatan petani yang membeli saprodi dengan sistem tunai lebih besar daripada yang membeli dengan sistem yarnen

Jika thit < ttab, maka H0 diterima, H1 ditolak

(9)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

811 Artinya : Tidak terdapat perbedaan pendapatan petani yang membeli saprodi dengan sistem tunai dan yang membeli dengan sistem yarnen

Untuk menjawab permasalahan kedua yaitu alokasi penggunaan faktor produksi optimal yang memaksimumkan keuntungan, menggunakan rumus sebagai berikut :

Maks Penerimaan = Hy . Y + λ (M0 – X1 Hx1 – X2 Hx2)

Maks Penerimaan (R) = Hy . f(X1, X2) + λ (M0 – X1 Hx1 – X2 Hx2) Dimana : Y = Produksi

X1 = Modal (pupuk urea, TSP dan KCL) X2 = Tenaga Kerja

Agar fungsi R menjadi maksimum, maka derivatif pertama terhadap X1, X2 dan λ harus samaa dengan nol.

X1

R

 = Hy. f1 – λ Hx1 = 0  λ =

1

. 1

Hx f Hy =

1 1

Hx

NPM ...(2.1)

X2

R

 = Hy. f2 – λ Hx2 = 0  λ =

2

. 2

Hx f Hy =

2 2

Hx

NPM ...(2.2)

R = M0 – X1Hx1 – X2Hx2 = 0  M0 = X1Hx1 + X2Hx2 ...(2.3)

dari hasil turunan pertama secara parsial diatas diperoleh tiga persamaan :

NPM1 = Hx1 adalah persamaan 1

NPM2 = Hx2 adalah persamaan 2

M0 = X1Hx1 + X2Hx2 adalah persamaan 3 HASIL

Pendapatan Usahatani. Perhitungan pendapatan bersih usahatani padi ini baik sistem tunai maupun yarnen dilakukan dengan cara mengurangkan pendapatan kotor dari usahatani padi dengan pengeluaran yang dibeli dari luar. Pendapatan kotor merupakan penerimaan yang diperoleh dari produksi padi yang dihasilkan dari sawah petani selama satu kali panen (satu musim tanam) dikalikan dengan harga jual yang berlaku pada saat itu, dimana harga jual yang digunakan adalah harga gabah kering panen, karena petani di Desa Muliasari sebagian besar menjual hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran yang dibeli dari luar terdiri dari pengeluaran untuk pembelian benih, pupuk, pestisida dan pembayaran upah tenaga kerja. Dengan demikian menurut konsep ini bunga modal miliki sendiri atau yang dipinjam dari pihak lainnya tidak dihitung sebagai pengeluaran. Input produksi yang digunakan dalam kegiatan usahatani padi di Desa Muliasari baik sistem tunai maupun sistem yarnen terdiri dari lahan, benih, pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCL, herbisida, insektisida, dan tenaga kerja.

Tabel 2. Penggunaan Faktor Produksi (Input) per Hektar

Uraian Tunai Yarnen Selisih (%) Kesimpulan

Benih (kg) Urea (kg) TSP (kg) KCL (kg) Herbisida (ltr) Insektisida (ltr) T.Kerja (HOK)

30,3 174,2 157,9 78,8 3,6 1,1 26,5

39,6 154,7 153,2 82,9 4,1 2,6 26,1

30,6 -11,1 -2,9 5,2 13,8 136,3 -1,5

T < Y T > Y T > Y T < Y T < Y T < Y T > Y

Pendapatan petani sawah pasang surut yang berusahatani dengan sistem tunai dari hasil penelitian secara rata-rata adalah sebesar Rp. 5,619,603.39/musim tanam, sedangkan pendapatan petani yang berusahatani dengan sistem yarnen rata-rata adalah sebesar Rp.2,850,680.94/musim tanam. Hasil

(10)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

812 penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan petani dengan sistem tunai lebih besar Rp.2,768,922.

dibandingkan dengan petani yang berusahatani dengan sistem yarnen.

Tabel 3. Biaya dan Pendapatan per Hektar

Uraian Tunai (Rp) Yarnen (Rp) Kesimpulan

Biaya Produksi Harga Produksi Penerimaan Pendapatan

3,288,869 3.600,5 2.477 8.918.438,5 5.619.603,3

3,985,948 3.045,2 2.240 6.836.629 2,850,680

T < Y T > Y T > Y T > Y T > Y

Selanjutnya perbedaan pendapatan usahatani padi sawah pasah surut dengan sistem tunai dan yarnen diuji menggunakan uji t. Berdasarkan hasil uji t tersebut terlihat bahwa nilai t hitung sebesar 10,151 lebih besar dari t tabel sebesar 2,040. Keputusan terhadap hipotesis berdasarkan analisis ini adalah tolak H0 yang artinya rata-rata pendapatan petani padi dengan sistem tunai berbeda nyata dengan pendapatan petani padi dengan sistem yarnen.Dari segi biaya produksi, perbedaan biaya produksi masing-masing sistem diuji dengan menggunakan uji t. Dari hasil pengujian dengan uji t terlihat bahwa t hitung sebesar -6,199 lebih kecil daripada nilai t tabel 2,040, hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan biaya yang signifikan pada kedua sistem usatahani.

Alokasi Penggunaan Faktor Produksi Optimal pada Usahatani Padi.

Alokasi penggunanaan input optimal atau bisa juga disebut kombinasi optimum adalah kombinasi penggunaan input yang memberikan keuntungan maksimum dengan memperhitungkan keterbatasan modal yang dimiliki ( Husin dan Lifianthi,2008). Tujuan dari perhitungan alokasi input optimal ini untuk mengetahui jumlah penggunaan faktor produksi yang memberikan keuntungan maksimum.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa rata –rata penggunaan faktor produksi modal (yang terdiri dari penggunaan pupuk urea, TSP dan KCL) dan penggunaan faktor produksi tenaga kerja dari usahatani padi dengan sistem tunai maupun yaren, tercermin dalam Tabel berikut :

Tabel 4. Rata-rata Produksi, Harga Produksi,Penggunaan Faktor Produksi, Harga Faktor Produksi usahatani Padi sistem Tunai dan Yarnen di Desa Mulyasari MT.2012

Uraian Sistem Tunai Sistem Yarnen

Faktor Produksi 1. Pupuk (X1) 2.Tenaga Kerja (X2) Produksi

137,0 (kg) 26,5 (HOK) 3.600 (kg)

130,2 (kg) 26,1 (HOK) 3.042,5 (kg) Harga Faktor Produksi

1.Pupuk 2.Tenaga Kerja

Rp. 1.975 Rp.52.875

Rp. 3.677 Rp.44.909

Hubungan antara input output dalam produksi usahatani padi dengan sistem tunai dieksposisikan dalam fungsi produksi sebagai berikut :

Y = 3,080 X10.045

X20,258

Sehingga berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hasil X1 sebesar 222,2 dan X2 sebesar 50,45. Hasil ini menunjukkan bahwa jumlah penggunaan input modal (dalam hal ini adalah faktor produksi pupuk) yang optimal yang dapat menghasilkan output sebesar 3.600 kg adalah sebanyak 222,2 kilogram, dan jumlah penggunaan tenaga kerja yang optimalnya adalah sebanyak 50,45 HOK.

Sedangkan hubungan input output dalam produksi usahatani padi dengan sistem yarnen dieksposisikan dalam fungsi produksi sebagai berikut :

Y = 2,984 X10,085

X20,236

(11)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

813 Sehingga berdasarkan hasil perhitungan didapatkan hasil X1 sebesar 105,7 dan X2 sebesar 24,0. Hasil ini menunjukkan bahwa jumlah penggunaan input modal (dalam hal ini adalah faktor produksi pupuk) yang optimal yang dapat menghasilkan output sebesar 3.042,5 kg adalah sebanyak 105,7 kilogram, dan jumlah penggunaan tenaga kerja yang optimalnya adalah sebanyak 24 HOK. Besaran alokasi input yang optimal ini tergambar dalam Tabel 5 berikut :

Tabel 5. Alokasi Penggunaan Input dan Output yang Memaksimumkan Keuntungan Usahatani Padi dengan Sistem Tunai dan Yarnen di Desa Muliasari MT. 2012

Uraian Tunai Yarnen

X1 (Pupuk) 222,2 (Kg) 105,7 (Kg)

X2 (Tenaga Kerja) 50,45 (HOK) 24,00 (HOK)

Output 10.390 (Kg) 9.356 (Kg)

Modal Rp.3.082.595 Rp.1.446.474.9

PEMBAHASAN

Pendapatan Usahatani. Tidak signifikannya perbedaan biaya produksi antara sistem tunai dan sistem yarnen ini disebabkan oleh pada komponen biaya yang jumlahnya cukup besar adalah pada biaya tenaga kerja dan biaya pengolahan lahan, dimana kedua biaya itu dikeluarkan secara tunai. Jika dilihat pada komponen biaya yang dibayar dengan sistem tunai dan yarnen, terlihat perbedaan jumlahnya, yaitu pada biaya pupuk (urea, TSP dan KCL). Hal ini disebabkan harga faktor produksi dalam sistem yarnen dikenakan bunga implisit sebagai konsekuensi dari penundaan pembayaran sebesar 80,3% per musim tanam.

Di tingkat harga produksi, harga yang diterima petani yarnen lebih rendah dibandingkan petani tunai, hal ini disebabkan karena petani yarnen terikat transaksi dengan pemberi pinjaman, dalam artian petani yarnen mempunyai perjanjian untuk menjual hasil panennya kepada para pemberi pinjaman (tengkulak) dengan harga yang ditentukan oleh tengkulak, sedangkan petani yang berusahatani dengan sistem tunai bebas memilih pembeli dengan tingkat harga tertinggi. Perbedaan harga produksi ini dapat dilihat pada Tabel 9 dimana harga produksi yang diterima oleh petani sistem tunai adalah sebesar Rp.

2.477/kg GKP dan harga yang diterima oleh petani sistem yarnen sebesar Rp.2.240/kg GKP.

Alokasi Penggunaan Faktor Produksi Optimal pada Usahatani Padi. Berdasarkan perhitungan secara ekonomis dengan mengalokasikan penggunaan input produksi modal (pupuk) sebanyak 222,2 kg dan tenaga kerja sebanyak 50,45 HOK untuk usahatani dengan sistem tunai, bisa mendapatkan output yang mengnghasilkan keuntungan maksimum dalam hal ini adalah produksi padi sebanyak 10.390 kg (10,3 ton). Sedangkan untuk usahatani sistem yarnen dengan mengalokasikan penggunaan modal (pupuk) sebanyak 105,7 kg dan tenaga kerja sebanyak 24 HOK bisa mendapatkan output yang menghasilkan keuntungan maksimum dalam hal ini produksi padi sebanyak 9.356 kg (9,3 ton). Namun pada kenyataannya output yang optimum ini sulit tercapai karena disebabkan beberapa kendala diantaranya adalah faktor modal dan faktor lingkungan.

Berdasarkan hasil perhitungan, usahatani dengan sistem tunai harus menyediakan modal untuk penyediaan input pupuk dan tenga kerja sebesar Rp.3.082.595 agar mendapatkan produksi yang optimum. Namun kenyataan di lapangan petani dengan sistem tunai hanya mampu menyediakan modal sebesar Rp. 1.666.007,6 sehingga dengan modal yang tersedia itu tidak mampu memenuhi penyediaan input yang optimal. Modal yang harus ditambah oleh petani adalah sebanyak Rp.1.416.587,4.

Tambahan modal ini jika tidak direncanakan dengan baik di awal waktu akan menyebabkan petani yang berusahatani dengan sistem tunai akan beralih ke sistem yarnen untuk mencukupi kebutuhan modalnya.

Sedangkan petani yang berusahatani dengan sistem yarnen berdasarkan hasil perhitungan sebetulnya sudah mengeluarkan modal cukup untuk mendapatkan produksi yang optimum. Adapun

(12)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

814 modal yang telah dikeluarkan petani untuk menyediakan input pupuk dan tenaga kerja adalah sebesar Rp. 1.744.906. Namun meskipun mengeluarkan modal cukup tinggi, sesungguhnya usahatani dengan sistem yarnen ini belum optimal karena sebagaian besar modal tersebut terutama untuk penyediaan input pupuk dikeluarkan petani setelah panen dengan jumlah yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya karena terkait dengan pola pembayaran yarnen yang jumlah riil yang harus dibayar oleh petani baru bisa diketahui dengan pasti setelah panen (tergantung harga gabah pada saat panen). Sistem ini tentunya merugikan petani karena menyebabkan petani kurang perhitungan dalam melaksanakan kegiatan usahataninya, sebagai contoh ada yang beranggapan karena sudah terlanjur yarnen dan optimis dengan hasil yang akan dicapai maka mereka (petani yarnen) membeli pupuk dalam jumlah yang berlebihan, ada juga yang sebaliknya karena belum bisa memperkirakan hasil dan harga gabah pada saat panen mereka menggunakan pupuk sekadarnya, sehingga resiko ketidakpastian harga pada petani yarnen ini menjadi tinggi. Selain itu petani dengan sistem yarnen ini belum bisa menghasilkan produksi yang optimum disebabkan oleh aspek teknis dan lingkungan.

Lahan di Desa Mulyasari ini adalah lahan pasang surut dimana lahan rawa pasang surut merupakan lahan marjinal yang secara umum mempunyai kesuburan yang rendah serta kendala agrofisik yang beragam. Pengolahan tanah, pemupukan, dan tata air merupakan komponen dari sistem pengelolaan lahan harus dilakukan dengan hati-hati dalam pengembangan pertanian tanaman pangan di lahan rawa pasang surut. Pengelolaan tanah dilahan sulfat masam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan pirit tidak terangkat ke permukaan.

Berbagai kendala belum optimalnya produksi padi dilahan pasang surut di Desa Mulyasari berdasarkan aspek lingkungan dan teknis terutama disebabkan 1). Pengelolaan air dalam hal ini jaringan reklamasi dan tata air di lahan pasang surut masih belum berfungsi optimal, kondisi rill di lapangan sekarang sulit untuk mengatur kebutuhan air sesuai dengan keperluan tanaman. 2) Lapisan pirit yang relatif dangkal, (< 40 cm) sehingga pada saat pengolahan tanah berpotensi terangkat keatas dan menjadikan racun bagi tanaman jika teroksidasi oleh udara. 3) Teknologi pemupuk tidak optimum, baik dari dosis, bentuk dan cara pemberiannya sangat beragam, serta dilihat dari tipologi lahan maupun jenis tanaman yang diusahakan, semuanya diberi perlakukan yang sama, 4). Teknologi budidaya yang belum disesuaikan dengan karakteristik hidrotopografi lahan rawa.

Oleh karena itu, untuk membantu petani agar keluar dari sistem yarnen dan mengantisipasi petani yang beralih dari sistem tunai ke sistem yarnen, dibutuhkan dukungan dari banyak pihak, terutama dari pemerintah. Upaya-upaya penyuluhan tentang manajemen usahatani dan teknis budidaya sangat diperlukan untuk mengubah pola pikir petani yang umumnya masih konvensional berpikir jangka pendek. Selain itu perbaikan jaringan tata air untuk membantu menciptakan kondisi yang optimal untuk usahatani padi dan penataan organisasi ekonomi di tingkat petani seperti koperasi diharapkan mampu menjadi solusi bagi peningkatan kesejahteraan petani di lahan pasang surut.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa 1)Pendapatan usahatani padi pasang surut di Desa Mulyasari dengan sistem tunai sebesar Rp. 5,619,603.39/musim tanam lebih tinggi 50,7% daripada pendapatan usahatani padi dengan sistem yarnen yang hanya sebesar Rp 2,850,680.94/musim tanam dan berbeda nyata secara statistic, 2)Penggunaan sarana produksi pupuk dan tenaga kerja untuk menghasilkan keuntungan maksimal pada usahatani dengan sistem tunai adalah sebanyak 222,2 Kg dan 50,45 HOK, sedangkan untuk sistem sistem yarnen adalah 105,7 Kg dan 24,00 HOK

UCAPAN TERIMA KASIH

(13)

Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan Mendukung Bioindustri di Lahan Sub Optimal Palembang, 16 September 2014

815 Ucapan terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan kepada Bapak Dr.Ir.M.Yamin,M.P dan Ibu Dessy Adriani, S.P, M.Si atas segala arahan, bimbingan , bantuannya serta waktu luang yang diberikan kepada saya mulai dari awal penelitian hingga penelitian ini diselesaikan. Selanjutnya kepada Bapak Wakidi selaku kepala desa/tokoh masyarakat di Desa Muliasari Kecamatan Tanjung Lago Kabupaten Banyuasin yang telah banyak membantu saya dalam mencari data dan menggali informasi di lapangan. Tak lupa kepada teman-teman di Fakultas Pertanian Universitas Tridinanti serta keluarga yang telah banyak memberikan dukungan dan motivasi dalam penyelesaian penelitian ini. Mudah- mudahan penelitian ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2011. Banyuasin dalam Angka. Palembang

BPTP Sumsel. 2007. Laporan PRA Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian pada Lahan Rawa Pasang Surut Kabupaten Banyuasin. Laporan pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Palembang

BPTP Sumsel. 2007. Rancang Bangun Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyaratan Inovasi Teknologi Pertanian Pada Lahan Rawa Pasang Surut di Kabupaten Banyuasin. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan. Palembang.

Hadisapoetra,S. 1994. Biaya dan Pendapatan dalam Usahatani. Departemen Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Hernanto,F. 1996. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta

Husin,L dan Lifianthi. 2008. Ekonomi Produksi Pertanian (Analisis secara teorotis dan kuantitatif).

Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Indralaya.

Gambar

Gambar 1. Kerangka pemikiran
Tabel 2. Penggunaan Faktor Produksi (Input) per Hektar
Tabel 3. Biaya dan Pendapatan per Hektar

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam kriteria pengukuran efisiensi energi pada gedung dengan menghitung OTTV, sebagai salah satu sebagai pedoman perancangan

Setiap Individu atau Institusi membutuhkan Visi dan Misi dalam meraih tujuan yang ditetapkan, dan hal tersebut harus disosialisasikan kepada seluruh anggotanya secara sabar dan

industri kreatif untuk inovasi yang menjadi prioritas utama adalah pentingnya ketersediaan sumber daya potensial dengan nilai sebesar 15,862 dilanjutkan dengan

Penggunaan metode juga harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang telah disusun melalui RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran). Jadi pemilihan dan penggunaan

konvensi yang berhubungan dengan Anak dengan cara meratifikasi konvensi namun ratifikasi tetap berpedoman pada ketentuan Undang- Undang Dasar Republik Indonesia

11 Lanjutan Tabel 1.1 No Judul Penulis Tahun Metodologi Kesimpulan 10 Main Findings from the Impact Evaluation of Indonesia’s Pilot Household Conditional Cash

Analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang

Kurangnya pendidikan di kalangan orang tua, khususnya ibu, meningkatkan risiko infeksi cacing pada anak-anak karea orang tua dengan tingkat pendidikan yang tinggi