• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PESERTA ARISAN BERBASIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PESERTA ARISAN BERBASIS"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PESERTA ARISAN BERBASIS ONLINE

(Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Fakultas Syari’ah dan Hukum

TANIA RAHMATIKA 11820720535

PROGRAM S1 ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2023 M/1444 H

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Tania Rahmatika, (2022): Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Berbasis Online (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang)

Skripsi ini membahas mengenai perlindungan hukum terhadap peserta arisan online G’mes Gemilang di Tanjungpinang. Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh tidak adanya kejelasan dalam bertransaksi melalui media elektronik sehingga menimbulkan kerugian bagi peserta arisan online G’mes Gemilang mengenai jaminan pengembalian uang apabila uang tidak kunjung cair.

Untuk itu diperlukan adanya perlindungan hukum sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang) dan faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang). Penelitian ini merupakan jenis penelitian sosiologis dengan pendekatan efektivitas hukum. Analisis data yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik memberikan upaya perlindungan hukum preventif (Pasal 40 Ayat 2 & 2b) dan perlindungan hukum represif (Pasal 38 Ayat (1&2) dan Pasal 45 Ayat (1)). Adapun upaya perlindungan hukum yang diberikan oleh pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang kepada 3 peserta arisan online G’mes Gemilang yang melapor yaitu berupa perlindungan hukum preventif (dengan menghimbau masyarakat melalui media sosial agar berhati-hati meggunakan arisan online dan melakukan sosialisasi dalam hal penyuluhan serta pencegahan dari dampak negatif sistem arisan online) dan perlindungan hukum represif (dengan menerima laporan pengaduan, meneliti kasus yang dilaporkan, dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan serta memperoleh hasil dari proses yang dilakukan bahwa kasus arisan online G’mes Gemilang diselesaikan secara restorative justice dengan ketentuan yang telah disepakati). Sementara 7 peserta lainnya tidak diberikan perlindungan hukum, dikarenakan tidak adanya pelaporan. Sehingga perlindungan hukum yang diberikan Satreskrim Polres Tanjungpinang sudah dilaksanakan, akan tetapi tidak maksimal.

Kata Kunci: Arisan Online, Perlindungan Hukum, Peserta.

(6)

ii

KATA PENGANTAR Bismillahhirrahmannirrahim Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dengan mengucapkan “Allahhumma Sholli’ala Sayyidina Muhammad Wa’ala Sayyidina Muhammad”.

Penulisan skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar sarjana hukum di Fakultas Syari’ah dan Hukum, Prodi Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Dengan begitu, penulis menyusun skripsi ini dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PESERTA ARISAN BERBASIS ONLINE (STUDI KASUS ARISAN ONLINE G’MES GEMILANG)”.

Mengingat keterbatasan kemampuan penulis, dalam proses penulisan skripsi ini penulis menemui beberapa hambatan, akan tetapi dengan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu, penulis sangat berterimakasih kepada pihak-pihak yang menjadi bagian dari penyelesaian skripsi ini. Adapun pihak-pihak tersebut yaitu:

1. Teruntuk keluarga kecilku yakni Ayahanda Selamat Riadi, Ibunda Kasmawati, Adik-adik ku Nadia Rahmadhanty dan Widya Andina, terimakasih atas segala do’a yang selalu dipanjatkan, nasehat yang selalu diberikan, serta dukungan

(7)

iii

tiada henti kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan sebaik-baiknya.

2. Bapak Prof. Dr. Khairunnas, M.Ag selaku Rektor Universitas Sultan Syarif Kasim Riau beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu.

3. Bapak Dr. Zulkifli, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum beserta jajarannya yang telah memberikan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Ketua Program Studi Ilmu Hukum Bapak Asril S.H., M.H dan Sekretaris Jurusan Bapak Dr. M. Alpi Syahrin S.H., M.H serta staff Jurusan Ilmu Hukum yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak Dr. M. Alpi Syahrin S.H., M.H selaku pembimbing I dan Bapak Irfan Ridha, S.H., M.H selaku pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Joni Alizon S.H., M.H selaku Pembimbing Akademik (PA) yang telah memberikan nasehat dan dukungan kepada penulis dalam proses perkuliahan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

7. Bapak/Ibu dosen yang telah memberikan ilmunya kepada penulis. Semua ilmu yang diberikan tentunya sangat berarti dan berharga untuk penulis dimasa yang akan datang.

8. Bapak/Ibu Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Riau yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) serta ilmu dan bimbingan dalam pengalaman kerja kepada penulis.

(8)

iv

9. Kepada pihak Penyidik Satreskrim Polres Tanjungpinang, terutama Bapak Briptu Diky Triananda S.H yang telah memberikan kesempatan serta meluangkan waktu untuk melakukan wawancara guna memperoleh data informasi yang diperlukan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

10. Kepada pihak konsumen yang melapor ke Satreskrim Polres Tanjungpinang, yang telah memberikan kesempatan dan bersedia melakukan wawancara dalam memberikan data yang dibutuhkan melalui via telepon kepada penulis.

11. Kepada teman-teman Ilmu Hukum B 2018 yang telah berjuang bersama dalam proses perkuliahan.

12. Kepada seluruh pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah menjadi bagian dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Harapan penulis, semoga Allah SWT senantiasa menerima amal kebaikan mereka dan membalas dengan kebaikan lainnya. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat, wawasan, dan ilmu pengetahuan.

Wassalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Pekanbaru, 01 November 2022

TANIA RAHMATIKA NIM. 11820720535

(9)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Perlindungan Hukum ... 8

B. Tinjauan Umum Informasi dan Transaksi Elektronik ... 11

C. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Arisan Online ... 19

D. Penelitian Terdahulu ... 22

BAB III METODE PENELITIAN ... 27

A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 27

B. Pendekatan Penelitian ... 28

C. Lokasi Penelitian ... 29

D. Populasi dan Sampel ... 29

E. Jenis dan Sumber Data ... 30

F. Teknik Pengumpulan Data ... 31

G. Analisis Data ... 32

(10)

vi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34

A. Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Berbasis Online (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang) ... 34

B. Faktor Penghambat Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Berbasis Online (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang) ... 62

BAB V PENUTUP ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Populasi dan Sampel ... 30 Bagan IV.1 Arisan Online G’mes Gemilang ... 41

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Seiring perkembangan zaman, kecanggihan teknologi juga semakin pesat dan tentunya mempermudah semua orang untuk melakukan kegiatan atau aktivitas yang menggunakan internet. Tidak sedikit manfaat dari internet namun tidak sedikit juga penyalahgunaan internet sendiri hingga saat ini.

Berbagai macam cara untuk menghasilkan uang dari internet, salah satunya yaitu kegiatan arisan secara online. Kegiatan tersebut bisa dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung antara satu pihak dengan pihak yang lainnya.

Kegiatan arisan yang diselenggarakan secara online sudah sangat menjamur dan menjadi salah satu cara untuk mempermudah jalannya kegiatan.

Arisan online merupakan suatu rangkaian kegiatan arisan yang dilakukan secara online atau melalui media sosial sebagai perantara. Sesama anggota arisan online bisa jadi saling kenal, bisa juga tidak. Kemudian, sistemnya bisa saja flat dan bisa juga menurun. Anggotanya bisa memilih urutan dan nominal setoran yang disanggupinya.1 Secara teknis, cara arisan online dijalankan sama dengan arisan konvensional, hanya saja melibatkan penggunaan perangkat digital dalam pelaksanaan kegiatannya. Akibatnya,

1Nita Hidayati, “Bukan Cuma Kocok Nama, Inilah Sistem Arisan Yang Juga Mantap Buat Diikuti”, artikel dari https://berita.99.co/sistem-arisan/. Diakses pada 10 November 2022.

(13)

2

arisan online menjadi berisiko tinggi serta rawan terhadap kasus penipuan berkedok arisan online.2

Salah satu arisan online yang ada di Indonesia khsususnya di Tanjungpinang yaitu G’mes Gemilang. Sebagaimana yang penulis temukan melalui berita dan telah melakukan prariset di Satreskrim Polres Tanjungpinang, bahwa G’mes Gemilang merupakan arisan berbasis online yang mana peserta akan diberikan pilihan jenis arisan yang akan dimainkan.

Para peserta mengetahui arisan online ini melalui media sosial yang digunakan yaitu berupa Instagram dengan nama @gmes_gemilang dan membuat group WhatsApp sebagai jalannya komunikasi antara owner dan para peserta.3

Dalam arisan online G’mes Gemilang, ada 200 peserta yang mengikuti kegiatan arisan online dan para peserta tidak hanya berasal dari Tanjungpinang, tetapi juga berasal dari daerah lain. Kegiatan arisan online ini dijalankan sesuai dengan jumlah nominal uang dan tempo waktu yang telah ditentukan. Arisan online G’mes Gemilang menawarkan beragam jenis arisan seperti regular dan group. Arisan yang menggunakan group nilainya jauh lebih besar dibanding regular. Satu group arisan beranggotakan tiga orang. Seluruh anggota dikenakan biaya administrasi yang diberikan kepada owner.4 Tiga anggota group arisan online itu terdiri dari nomor 1, 2, dan 3. Nomor 1 disebut sebagai

2Gea, “Ingin Mengikuti Arisan Online? Simak Beberapa Tipsnya Agar Terhindar Dari Penipuan”, artikel dari https://www.orami.co.id/magazine/arisan-online. Diakses pada 12 Januari 2023.

3M Bunga Ashab, “Owner Arisan Online G’mes Arisan Online Dilaporkan ke Polres Tanjungpinang”, artikel dari https://ulasan.co/owner-arisan-online-gmes-gemilang-dilaporkan-ke- polres-tanjungpinang/. Diakses pada 26 Oktober 2021.

4Wawancara dengan Briptu Diky Triananda Satreskrim Tanjungpinang, pada 05 Januari 2022.

(14)

zonker, sedangkan nomor 2 dan 3 disebut sebagai investor. Zonker menanamkan modal lebih besar dibanding nomor 2 dan 3. Modal nomor 2 lebih besar dari nomor 3. Seluruh anggota group arisan online mendapatkan hasil yang sama. Kemudian, pada arisan online G’mes Gemilang penarikan uang dilakukan setiap 10 hari sekali.

Pada arisan online G’mes Gemilang, owner menutup arisan tersebut secara sepihak. Peserta menunggu itikad baik dari owner namun uang tersebut tidak dikembalikan setelah owner menutup arisan online. Pada tanggal 27 September 2021 atau sehari setelah owner menyatakan tidak mengelola lagi arisan online itu, owner masih membuka beberapa group baru arisan. Hingga pada tanggal 28 September 2021 owner G’mes Gemilang tidak bisa dihubungi.

Terdapat 3 kasus dari 200 peserta arisan online G’mes Gemilang yang melapor ke Satreskrim Polres Tanjungpinang yang haknya dirugikan dan membutuhkan perlindungan hukum dengan harapan dapat dipertemukan dengan owner arisan online G’mes Gemilang serta mendapatkan haknya sebagaimana mestinya tanpa harus melalui proses hukum.5

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, peserta arisan online G’mes Gemilang melakukan pembayaran uang arisan melalui media elektronik atau transfer melalui bank. Berdasarkan Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik bahwa: “Transaksi

5Wawancara dengan Briptu Diky Triananda Satreskrim Tanjungpinang, pada 05 Januari 2022.

(15)

4

Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya.”6

Berdasarkan Pasal 45A Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan bahwa : “Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).7 Pada arisan online G’mes Gemilang, perbuatan hukum melalui media elektronik ini tidak kunjung ada kejelasan dalam bertransaksi dan menimbulkan kerugian bagi para peserta yang mengikuti arisan online tersebut sehingga peserta tidak mendapatkan hak nya sebagaimana mestinya mengenai jaminan pengembalian uang apabila uang tidak kunjung cair. Maka dari itu, diperlukan norma-norma hukum yang diharapkan dapat memberikan perlindungan hukum terhadap peserta arisan online G’mes Gemilang.

Di Indonesia sendiri, masih marak terjadi owner arisan online yang tidak memberikan hak pesertanya sehingga menimbulkan kerugian dalam bertransaksi melalui media elektronik. Terkhususnya, peserta arisan online G’mes Gemilang tentu membutuhkan perlindungan hukum untuk

6Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 1 Ayat (2).

7Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 45A Ayat (1).

(16)

mendapatkan haknya yang telah dirugikan dalam bertransaksi melalui media elektronik.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PESERTA ARISAN BERBASIS ONLINE (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang)”.

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, perlu adanya pembatasan masalah agar penelitian ini berjalan dengan baik dan terarah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu memfokuskan pada hak-hak peserta yang dirugikan dalam bertransaksi melalui media elektronik dan bagaimana upaya perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang). Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Selain itu, penulis melakukan penelitian di kota Tanjungpinang sebagaimana penulis menemukan masalah di lapangan dan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

(17)

6

1. Bagaimana perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang)?

2. Apa saja faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang)?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini yaitu:

a. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang).

b. Untuk mengetahui apa saja faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang).

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Secara Teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini yaitu dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti dan untuk menambah pengetahuan khususnya mengenai bagaimana perlindungan hukum terhadap pesertasdel;vb-[arisan berbasis online.

b. Secara Praktis

Manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu untuk menjadi acuan referensi bagi penelitian selanjutnya dan menjadi sumber bacaan bidang hukum khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap

(18)

peserta dalam arisan berbasis online. Berikut pemaparan manfaat praktis secara lebih lengkap dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagi Peserta

Untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana upaya- upaya untuk memperoleh haknya dan lebih berhati-hati kedepannya dalam memilih arisan online untuk menghindari timbulnya kerugian.

2. Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan khususnya tentang mendapatkan hak-hak yang dirugikan dalam bermain arisan berbasis online.

(19)

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Kegunaan dari teori dalam suatu penelitian yaitu untuk memprediksi apa yang akan terjadi jika menggunakan teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian karena teori-teori tersebut telah teruji kebenarannya.

Teori berfungsi untuk memperjelas masalah penelitian sehingga para penulis dan pembaca hasil penelitian dapat dengan mudah mengidentifikasi masalah yang ada dalam objek penulis.8 Adapun teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

A. Perlindungan Hukum

Menurut Fitzgerald sebagaimana dikutip Sajipto Raharjo awal mula dari munculnya teori perlindungan hukum ini bersumber dari teori hukum alam atau aliran hukum alam. Aliran ini dipelopori oleh Plato, Aritoteles (murid Plato), dan Zeno (pendiri aliran Stoic). Menurut aliran hukum alam menyebutkan bahwa hukum itu bersumber dari tuhan yang bersifat universal dan abadi, serta antara hukum dan moral tidak boleh dipisahkan. Para penganut aliran ini memandang bahwa hukum dan moral adalah cerminan dan aturan secara internal dan eksternal dari kehidupan manusia yang diwujudkan melalui hukum dan moral.

Menurut Sajipto Raharjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dirugikan orang lain

8Ence Surahman, et.al., “Kajian Teori Dalam Penelitian”, Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, Volume 3., No. 1., (2020), h.50.

(20)

dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum. Hukum dapat difungsikan untuk mewujudkan perlindungan yang sifatnya sekedar adaptif dan fleksibel, melainkan juga predektif dan antisipatif. Hukum dibutuhkan untuk mereka yang lemah dan belum kuat secara sosial, ekonomi, dan politik untuk memperoleh keadilan sosial.

Menurut pendapat Philipus M.Hadjon bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan represif.

Perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan diskresi, dan perlindungan yang represif bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penanganan nya dilembaga peradilan.9

Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu

9Annisa Justisia.T. dan M. Rusli Arafat, “Penerapan Teori Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Atas Penyiaran”, Jurnal Media Komunikasi dan Kajian Hukum, Volume 18., No. 1., (2019), h.4-5.

(21)

10

pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.

2. Perlindungan Hukum Represif

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.10

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perlindungan adalah (1) tempat berlindung; (2) hal (perbuatan dan lain sebagainya) melindungi.11 Sedangkan yang dimaksud perlindungan hukum adalah suatu perbuatan untuk menjaga dan melindungi subyek hukum, berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.12

Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.13

10Muchsin. Perlindungan dan Kepastian Hukum Bagi Investor di Indonesia, (Surakarta:

Universitas Sebelas Maret, 2003), h. 14-20.

11Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h.932.

12Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Buku Satu, Balai Pustaka Utama, 1989), h.874.

13Sajipto Raharjo, “Penyelenggaraan Keadilan Dalam Masyarakat yang Sedang Berubah”, Jurnal Masalah Hukum., h. 74.

(22)

Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya.14

Berdasarkan beberapa definisi mengenai perlindungan hukum menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum merupakan suatu tindakan untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat (subyek hukum) atas sesuatu hal (hak-hak) yang telah dirugikan atau dilanggar dengan tujuan untuk mendapatkan hak-haknya kembali.

B. Tinjauan Umum Informasi dan Transaksi Elektronik 1. Pengertian Informasi Elektronik

Informasi Elektronik menurut Pasal 1 Angka (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan bahwa: “Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda,

14Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), h. 25.

(23)

12

angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”15

Istilah informasi elektronik pada dasarnya dibentuk dari dua kata yaitu kata informasi dan kata elektronik. Menurut Shanon dan Weaver sebagaimana terpetik dalam Edmon Makarim mengemukakan information adalah: “The amount of uncertainty that is reduced when a received.”

Yang artinya: “Jumlah ketidakpastian yang berkurang ketika diterima”.

Kemudian, Gordon B, Davis mendefinisikannya sebagai: “Information is data that has been processed into a form that is meaningful to the recipient and is used of real or proceived value in current or prospective action or decision.”16 Yang artinya: “Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan digunakan sebagai nilai nyata atau yang diperoleh dalam tindakan atau keputusan saat ini atau yang akan datang”.

Pada dasarnya, menggunakan sumber informasi elektronik terdapat beberapa keuntungan salah satunya yaitu memudahkan kita dalam mencari informasi apapun dengan cepat dan akurat. Akan tetapi, selain memberikan sisi pemanfaatan teknologi informasi, salah satu kelemahan dalam informasi elektronik yaitu menjadi sarana efektif dalam perbuatan melawan hukum.

15Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 1 Ayat (1).

16Abdul Halim Barkatullah, Hukum Transaksi Elektronik, (Bandung: Nusa Media, 2017), Cet. Ke-1., h. 13.

(24)

Sistem elektronik juga digunakan untuk menjelaskan keberadaan sistem informasi yang merupakan penerapan teknologi informasi yang berbasis jaringan telekomunikasi dan media elektronik, yang berfungsi merancang, memproses, menganalisis, menampilkan, dan mengirimkan atau menyebarkan informasi elektronik.17

Informasi elektronik merupakan salah satu hal yang diatur secara substansial dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Perbuatan yang dilarang dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) berkaitan dengan informasi elektronik diantaranya adalah mendistribusikan, atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik, yang muatannya berisi melanggar kesusilaan, muatan perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik atau pemerasan dan/atau pengancaman.18

2. Pengertian Transaksi Elektronik

Transaksi Elektronik menurut Pasal 1 Angka (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eelektronik menyatakan bahwa: “Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media

17Legality, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), (Yogyakarta: PT. Anak Hebat Indonesia, 2017), h. 57.

18Raida L. Tobing, Penelitian Hukum Tentang Efektivitas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, (Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2012), h.22.

(25)

14

elektronik lainnya.”19 Adapun yang dimaksud perbuatan hukum menurut R. Soeroso, yaitu: “Setiap perbuatan subyek hukum (manusia atau badan hukum) yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan hak dan kewajiban”.20

Transaksi elektronik seringkali dikatakan electronic transaction atau e-commerce. Penyelenggaraan transaksi elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik ataupun privat. Keberadaan lingkup penyelenggara tersebut dimaksud untuk memberikan peluang pemanfaatan teknologi informasi oleh penyelenggara negara, orang, badan usaha, dan/atau masyarakat. Pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut harus dilakukan secara baik, bijaksana, bertanggungjawab, efektif dan efisien agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.21

Berdasarkan beberapa definisi transaksi elektronik yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa transaksi elektronik merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum dengan menggunakan media elektronik.

3. Ruang Lingkup Informasi dan Transaksi Elektronik

Secara umum, materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dibagi menjadi dua bagian besar yaitu pengaturan

19Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 1 Ayat (2).

20Made Wahyu Arthaluhur, “Perbedaan Perdagangan Elektronik dengan Transaksi Elektronik”, artikel dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/perbedaan-perdagangan- elektronik-dengan-transaksi-elektronik-lt56751b3083cb0. Diakses pada 12 Januari 2023.

21Lihat ketentuan dan penjelasan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

(26)

mengenai informasi dan transaksi elektronik dan pengaturan mengenai perbuatan yang dilarang.22

a. Asas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan berdasarkan asas yang termuat dalam Pasal 3 Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik:23

1. Asas Kepastian Hukum

(Landasan hukum bagi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik serta segala sesuatu yang mendukung penyelengaraannya yang mendapatkan pengakuan hukum didalam dan diluar pengadilan).

2. Asas Manfaat

(Asas bagi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik diupayakan untuk mendukung proses berinformasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat).

3. Asas Kehati-hatian

(Landasan bagi pihak yang bersangkutan harus memperhatikan segenap aspek yang berpotensi mendatangkan kerugian,baik bagi

22Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Informasi_dan_Transaksi_Elektronik. Diakses pada 12 Januari 2023.

23Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah ke Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 3.

(27)

16

dirinya maupun bagi pihak lain dalam pemanfaatan teknlogi informasi dan transaksi elektronik).

4. Asas Itikad Baik

(Asas yang digunakan para pihak dalam melakukan transaksi elektronik tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakibatkan kerugian bagi pihak lain tanpa sepengetahuan pihak lain tersebut).

5. Asas Kebebasan Memilih Teknologi atau Netral Teknologi (Asas pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik tidak terfokus pada penggunaan teknologi tertentu sehingga dapat mengikuti perkembangan pada masa yang akan datang).

b. Tujuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik dilaksanakan dengan tujuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu:24

1. Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;

2. Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

24Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah ke Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 4.

(28)

3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;

4. Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan

5. Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.

c. Perbuatan Yang Dilarang Dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik

Perbuatan yang dilarang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang dijelaskan pada Bab VII (Pasal 27-37):25

1. Pasal 27

(Mengenai Kesusilaan, Perjudian, Penghinaan dan/atau Pencemaran nama baik, Pemerasan dan/atau Pengancaman).

2. Pasal 28

(Mengenai Berita Bohong dan Menyesatkan yang mengakibatkan kerugian, Kebencian atau Permusuhan (SARA)).

3. Pasal 29

(Mengenai Ancaman Kekerasan atau Menakut-nakuti).

25Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27-37.

(29)

18

4. Pasal 30

(Mengenai Mengakses Komputer dan/atau sistem Elektronik milik orang lain terkait Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tanpa izin dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan).

5. Pasal 31

(Mengenai Penyadapan, Perubahan, Penghilangan dan/atau Penghentian Informasi dan/atau Dokumen Elektronik).26

6. Pasal 32

(Mengenai mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Doukmen Elektronik milik orang lain, pemindahan, serta terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia).

7. Pasal 33

(Mengenai terganggunya Sistem Elektronik dan Sistem tidak bekerja sebagaimana mestinya).

26Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27-37.

(30)

8. Pasal 35

(Mengenai Manipulasi, Penciptaan, Perubahan, Penghilangan, Pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik).

9. Pasal 36

(Mengenai perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain).

10. Pasal 37

(Mengenai perbuatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 diluar wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah yurisdiksi Indonesia).27

C. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Arisan Online

Arisan merupakan kegiatan muamalah yang tidak diatur secara khusus dalam Al-Qur’an maupun Hadits, namun hal tersebut tidak serta-merta kegiatan arisan online tidak bisa dihukumi. Berikut merupakan firman Allah swt dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan kegiatan arisan, sebagaimana firman Allah swt dalam QS Al-Maidah/ 5:2

ِح ُ ت ا َ

ل ا ْوُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ

لا اَهُّي َ آٰي َدِٕىۤا َ

ل ق َ ْ لا ا َ

ل َو َي ْد َه ْ لا ا َ

ل َو َما َرَح ْ

لا َر ْه َّ شلا ا َ ل َو ِ ه

للّٰا َرِٕىۤا َع َش ا ْو ُّ

ل ْمُت ْ

ل َ

ل َح ا َذ ِا َوۗ اًنا َو ْض ِر َو ْم ِهِ ب َّر ْنِ م ا ً ل ْض َ

ف َ

ن ْو ُغَتْبَي َما َرَح ْ

لا َت ْيَب ْ

لا َنْي ِ م ٰۤ

ا ٓا َ ل َو

27Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27-37.

(31)

20

َ ا ٍم ْو َ ق ُ ن ٰ اَن َش ْم ُ

كَّنَمِر ْج َي اَلَوۗ اْوُدا َط ْصاَف ۘا ْو ُدَت ْعَت ن ْ َ

ا ِماَرَح ْ

لا ِد ِج ْس َم ْ

لا ِن َع ْمُكْو ُّد َص ْن َ ه

للّٰا َّ

ن ِاۗ َ ه للّٰا او ُ

قَّتا َوۖ ِنا َو ْد ُعْلاَو ِمْث ِاْلا ىَلَع اْوُنَوا َعَت اَلَو ۖىٰوْقَّتلاَو ِ رِب ْ لا ى َ

لَع اْوُن َوا َعَت َو ِبا َ

ق ِع ْ

لا ُدْي ِد َش ٢

Terjemahan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar- syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-nya dan binatang-binatang qala-id dan jangan (pula) menggangu orang-orang yang mengunjungi. Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhan-Nya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah swt, sesungguhnya Allah swt amat berat siksa- Nya.”28

Pada dasarnya setiap muamalah yang dilakukan hukumnya adalah mubah atau boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dengan hukum arisan di dalam Islam adalah mubah (boleh) apabila dalam melakukan transaksi muamalah tidak mengandung unsur-unsur maisir, gharar, dan riba. Selain itu, transaksi muamalah juga harus berjalan sesuai dengan prinsip dasar ekonomi Islam yaitu prinsip nubuwwah, prinsip khilafah, prinsip keadilan, dan prinsip tanggung jawab.29

Dalam arisan online tentunya terdapat transaksi antara owner arisan dan peserta arisan yang diselenggarakan melalui media elektronik, tanpa bertemu antara satu sama lain. Berkaitan dengan hal ini, hukum islam mempunyai dasar

28Kementrian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h. 156.

29Muin, R & Hadi, Perilaku Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Arisan Lelang Dalam Perspektif Ekonomi Islam, (LAA MASYIR, 2018), h. 74.

(32)

tersendiri tentang akad yaitu Al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S Al-Maidah ayat (1):

ْي َ لَع ى ٰ

لْتُي ا َم ا َّ

ل ِا ِما َعْن َ ا ْ

لا ُة َم ْي ِهَب ْم ُ ك َ

ل ْت َّ

ل ِح ُ ا ِۗد ْو ق ُع ُ ْ

لاِب ا ْو ُ ف ْو َ

ا آ ْوُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ

لا اَهُّي َ آٰي َرْي َ

غ ْم ُ ك

ْي ِرُي ا َم ُم ُ ك ْح َ

ي َ ه للّٰا َّ

ن ِا ۗ م ُر ُح ْمُتْن َ

ا َو ِدْي َّصلا ى ِ ل ِح ُ م ُد

١

Terjemahan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah).

Sesungguhnya Allah swt menetapkan hukum sesuai dengan yang dia kehendaki.”

Kemudian, dalam Q.S Al-Imron ayat (76):

َنْي ِق ت ُم َّ ْ لا ُّب ِح ُ

ي َ ه للّٰا َّ

نِا َ

ف ى ٰقَّتا َو ٖه ِد ْه َعِب ى ٰ ف ْو َ ا ْن َم ى ٰ

لَب ٧٦

Terjemahan:

“Sebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”30

Adanya rukun akad adalah adanya para pihak yang membuat akad, adanya tujuan akad, adanya objek akad, pernyataan kehendak dari para pihak.

Adapun syarat akad adalah, objeknya harus jelas, harus sama ridha dan ada pilihan, tidak menyalahi hukum syariah yang telah disepakati.31

Syarat-syarat secara umum suatu akad adalah, pihak-pihak yang melakukan akad telah cukup bertindak hukum, objek akad diakui oleh syara’

akad itu bermanfaat, pernyataan ijab tetap utuh, dilakukan dalam majelis.

30Kementrian Agama, op. cit.

31Siti Masithah, Tinjauan Hukum Islam Tentang Pelaksanaan Arisan Online Handphone di Instagram, (Skripsi: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2018), h. 75.

(33)

22

Syarat umum ini akan dianggap sah jika terpenuhi syarat khususnya. Orang yang mengucapkan ijab qobul telah baliqh dan berakal, qobul sesuai dengan ijab, dilakukan dalam suatu majelis, ada barang yang diperjual belikan (barangnya berada dalam kekuasaan penjual, jelas dzatnya, diserahkan langsung, suci bendanya, bermanfaat menurut syara’).

D. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan judul penulis mengenai “Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Berbasis Online (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang)”

terdapat beberapa judul skripsi yang sekiranya berkaitan dengan judul penulis.

Namun, secara khusus terdapat perbedaan dalam pembahasan dari beberapa judul skripsi tersebut. Adapun beberapa judul skripsi yang berkaitan dengan judul penulis diantaranya seperti yang tertera dibawah ini:

No. Judul Penelitian Terdahulu Perbedaan 1. Akibat Hukum Terhadap

Pelaksanaan Arisan Online Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 (Restu Wicaksono, 2019).

- Dalam penelitian ini membahas tentang bagaimana hak dan kewajiban para pihak arisan online berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 dan bagaimana tanggung jawab seorang bandar arisan online jika terjadi wanprestasi. Jenis penelitian yang digunakan dalam

(34)

penelitian tersebut yaitu penelitian yuridis normatif dengan menggunakan teknik pengolahan data yang dititikberatkan pada studi kepustakaan.

- Pada penelitian yang penulis lakukan, lebih difokuskan pada perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang) berdasarkan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kemudian, penulis menggunakan jenis penelitian hukum sosiologis serta teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan studi kepustakaan.

2. Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Yang Dirugikan Dalam Arisan Online (Dia Prastya, 2021).

- Dalam penelitian ini, menggunakan jenis penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan

(35)

24

perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Kemudian, bahan hukum yang dianalisis dengan metode interpretasi gramatikal dan interpretasi sistematis.

Penelitian ini membahas kasus yang ditangani oleh Mahkamah Agung pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 2071 K/Pdt/2006, menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Nganjuk dan Pengadilan Tinggi Surabaya.

- Pada penelitian yang penulis lakukan, membahas mengenai bagaimana perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang) dan apa saja faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilangjo09u). Kemudian, jenis

(36)

penelitian yang dilakukan penulis yaitu penelitian hukum sosiologis.

3. Legalitas Perjanjian Arisan Online Ditinjau dari Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Gelam Destra, 2021).

- Dalam penelitian ini, membahas mengenai kedudukan dari perjanjian dalam arisan online secara elektronik dan bagaimana kekuatan hukumnya serta upaya hukum apa yang dilakukan jika terjadi cidera janji. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif- perskriptif yaitu dengan meneliti bahan pustaka yang telah ada dan disusun serta disajikan secara preskriptif.

- Pada penelitian yang penulis lakukan, lebih difokuskan pada hak-hak peserta yang dirugikan dalam bertransaksi melalui media elektronik pada arisan online

G’mes Gemilang di

Tanjungpinang. Kemudian, jenis penelitian yang digunakan yaitu

(37)

26

penelitian hukum sosiologis dengan pendekatan efektivitas hukum.

(38)

27 BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan serangkaian kegiatan dalam mencari kebenaran suatu studi penelitian, yang diawali dengan suatu pemikiran yang membentuk rumusan masalah sehingga menimbulkan hipotesis awal, dengan dibantu dan persepsi penelitian terdahulu, sehingga penelitian bisa diolah dan dianalisis yang akhirnya membentuk suatu kesimpulan.32

A. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum sosiologis atau hukum empiris. Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang menganalisis tentang penerapan hukum dalam kenyataannya terhadap individu, kelompok, masyarakat, lembaga hukum dalam masyarakat dengan menitikberatkan pada perilaku individu atau masyarakat, organisasi atau lembaga hukum dalam kaitannya dengan penerapan atau berlakunya hukum.33 Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian di Kota Tanjungpinang sebagaimana penulis menemukan permasalahan di lapangan mengenai hak peserta yang dirugikan dalam bertransaksi melalui media elektronik pada arisan online G’mes Gemilang.

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Sifat analisis deskriptif maksudnya yaitu memberikan gambaran

32Syafrida Hafni Sahir, Metodologi Penelitian, (Jogjakarta: KBM Indonesia, 2021), Cet.

Ke-1., h.1.

33Muhaimin, Metode Penelitian Hukum, (Mataram: Mataram University Press, 2020), Cet.

Ke-1., h.83.

(39)

28

atau pemaparan atas subyek dan obyek penelitian sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan apa adanya tanpa melakukan justifikasi terhadap hasil penelitian.34 Maka, dalam hal ini penulis mencoba memaparkan yang berkaitan dengan subyek dan obyek penelitian arisan online G’mes Gemilang sebagaimana dengan hasil penelitian di lapangan.

B. Pendekatan Penelitian

Metode pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan efektivitas hukum. Dikarenakan penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang data dan informasinya diperoleh dari kegiatan diwilayah kerja penelitian.35 Dalam hal ini khusus membahas mengenai efektivitas perlindungan hukum yang diberikan oleh negara kepada peserta arisan online G’mes Gemilang. Sehubungan dengan sifat penelitian yang digunakan yaitu analisis deskriptif, penulis memberikan gambaran atau pemaparan atas subyek dan obyek penelitian sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan apa adanya tanpa justifikasi terhadap hasil penelitian. Menurut Hans Kelsen, efektivitas hukum berarti bahwa orang benar-benar berbuat sesuai dengan norma-norma hukum sebagaimana mereka harus berbuat, bahwa norma-norma itu benar-benar diterapkan dan dipatuhi.36

34Ibid., h.128.

35Supardi, Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis, (Yogyakarta: UII Press, 2005), h.34.

36Nur Fitryani Siregar, “Efektivitas Hukum”, Al-Razi, Volume 18., No. 2., (2018), h. 2.

(40)

C. Lokasi Penelitian

Dalam memperoleh informasi mengenai data yang diperlukan, maka penulis melakukan penelitian di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Selain itu, merupakan tempat atau lokasi sebagian peserta arisan G’mes Gemilang yang diselenggarakan secara online dan owner arisan online merupakan seorang wanita asal Kota Tanjungpinang serta mempermudah penulis untuk memperoleh informasi problematika yang diteliti.

D. Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekelompok atau sekumpulan orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu dengan masalah penelitian.37 Populasi dalam penelitian ini yaitu keseluruhan peserta arisan online G’mes Gemilang di Tanjungpinang dan pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang.

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dipilih sebagai sampel.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling.

Purposive Sampling yaitu pengambilan sampel dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya.38 Dari populasi diatas, maka penulis mengambil sampel dalam penelitian ini yaitu beberapa peserta arisan online G’mes Gemilang dan pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang.

37Muhaimin, loc. cit., h.111.

38H. Ishaq, Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Skripsi, Tesis, Serta Disertasi, (Bandung: Alfabeta, 2017), Cet. Ke-1., h.114.

(41)

30

Tabel III. 1 Populasi dan Sampel

No. Responden Populasi Sampel Presentasi

1. Peserta Arisan Online

G’mes Gemilang 200 10 5%

2. Satreskrim Polres

Tanjungpinang 6 1 16,6%

Sumber: Data olahan penelitian tahun 2022 E. Jenis dan Sumber Data

Data merupakan serangkaian informasi atau keterangan-keterangan yang berkaitan dengan penelitian yang diteliti sesuai dengan yang diperlukan oleh penulis berdasarkan informasi atau keterangan yang diperoleh dari lapangan maupun kajian pustaka. Adapun yang menjadi jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh sumbernya langsung dari lapangan, seperti (1) lokasi penelitian yaitu lingkungan tempat dilakukannya penelitian. Dengan demikian data primer sering juga disebut data lapangan, (2) peristiwa hukum yang terjadi dilokasi penelitian dan (3) responden yang memberikan informasi kepada penulis, dengan wawancara, kuisioner dan angket.39 Menurut Bungin, data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian.40

39Ibid., h. 71.

40Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian, (Banjarmasin: Antasari Press, 2011), Cet.

Ke-1, h.71.

(42)

Dalam penelitian ini data yang diperoleh merupakan data yang berasal dari peserta arisan online G’mes gemilang dan pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang secara langsung yang sekaligus merupakan responden dalam penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh bersumber dari studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian yang diteliti seperti buku-buku, jurnal, laporan hasil penelitian dan lain sebagainya.41

3. Data Tersier

Data tersier adalah data yang memberi penjelasan terhadap data primer dan data sekunder (rancangan undang-undang, kamus hukum dan ensiklopedia)42 yang berhubungan dengan problematika penelitian yang di teliti oleh penulis.

F. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang merupakan suatu metode pengumpulan data pada penelitian hukum sosiologis.43 Dalam penelitian ini, penulis melakukan observasi terlebih dahulu yaitu dengan melihat

41Y. Sari Murti Widiyastuti, Buku Pedoman Penulisan Hukum, (Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2019), h.6.

42Bachtiar, Metode Penelitian Hukum, (Tangerang Selatan: Unpam Press, 2018.

43Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h.l67

(43)

32

beberapa berita di Website terkait arisan online G’mes Gemilang yang menimbulkan kerugian kepada peserta arisan online tersebut dalam bertransaksi melalui media elektronik sebelum melakukan wawancara kepada peserta arisan online G’mes Gemilang dan pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang dalam memperoleh informasi data yang dibutuhkan.

b. Wawancara

Wawancara merupakan kegiatan yang dilakukan secara langsung oleh penulis kepada pihak yang berkaitan dengan penelitian yakni responden. Dalam hal ini yang menjadi responden adalah peserta arisan online G’mes Gemilang dan penyidik Satreskrim Polres Tanjungpinang.

Kemudian, penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan yang sekiranya menjadi sebuah tanda tanya dalam penelitian yang dikaji dan penulis mendapat informasi yang diperoleh dari responden.

c. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan metode pengumpulan data yang diperoleh berdasarkan sumber-sumber tertentu seperti peraturan perundang-undangan dan buku-buku yang berkaitan dengan problematika penelitian yang diteliti dengan tujuan memperoleh informasi yang diperlukan penulis.

G. Analisis Data

Metode deskriptif kualitatif merupakan metode yang digunakan dalam menganalisis data penelitian yang diteliti oleh penulis, dimana penulis mendeskripsikan hasil yang telah didapatkan dari lapangan (wawancara)

(44)

kemudian di analisis berdasarkan peraturan yang terkait. Setelah itu, penulis dapat menarik kesimpulan mengenai perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang) dan faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang).

(45)

70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan di dalam penulisan skripsi ini tentang Perlindungan Hukum Terhadap Peserta Arisan Berbasis Online (Studi Kasus Arisan Online G’mes Gemilang), maka dapat dijabarkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Perlindungan hukum yang diperoleh peserta arisan online G’mes Gemilang yang mengalami kerugian dalam bertransaksi melalui media elektronik mengenai jaminan pengembalian uang apabila uang tidak kunjung cair dengan berlandaskan pada (Pasal 40 Ayat (2) & (2b)) dan (Pasal 38 Ayat (1&2) dan Pasal 45A Ayat (1)) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Adapun upaya perlindungan hukum yang dilakukan oleh pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang yaitu berupa perlindungan hukum secara preventif berupa menghimbau masyarakat melalui media sosial (menyampaikan peringatan, himbauan, dan larangan agar lebih berhati-hati dalam menggunakan jasa arisan online), melakukan sosialisasi kepada masyarakat (penyuluhan, pencegahan dari dampak negatif sistem arisan online serta pemberian informasi terhadap masyarakat yang minim akan kesadaran hukum) dan perlindungan hukum secara represif berupa menerima laporan pengaduan dari peserta arisan, meneliti kasus arisan yang dilaporkan, dilakukan

(46)

proses penyelidikan dan penyidikan hingga setelah melalui berbagai proses, kasus arisan online G’mes Gemilang diselesaikan secara restorative justice dengan ketentuan yang telah disepakati. Sementara untuk 7 peserta arisan online G’mes Gemilang yang tidak melakukan pelaporan tidak mendapatkan perlindungan hukum, sehingga perlindungan hukum yang diberikan kepada peserta arisan online G’mes Gemilang telah dilaksanakan, akan tetapi tidak maksimal.

2. Faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap peserta arisan berbasis online (studi kasus arisan online G’mes Gemilang), yaitu faktor dari sisi peserta arisan online (tidak melaporkan kerugian yang dialami dan kurangnya pemahaman serta kesadaran hukum mengenai permasalahan yang dihadapi) dan faktor dari sisi kebudayaan (peserta arisan online G’mes Gemilang tidak mengerti nilai-nilai mana yang merupakan konsepsi mengenai apa saja yang dianggap baik dan buruk bagi dirinya sendiri karena cenderung menerapkan budaya kompromistis, dikarenakan rasa segan untuk melaporkan owner arisan online yang merupakan teman dekat, sehingga lebih memilih tidak melaporkan).

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan mengenai arisan G’mes Gemilang berbasis online, maka penulis ingin menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Perlunya kesadaran diri dari pelaku (owner arisan online) yang melakukan pelanggaran terhadap hak-hak peserta arisan online nya. Mengingat,

(47)

72

peraturan yang telah dibuat sebagaimana yang diatur dalam Undang- Undang dan ketentuan terkait lainnya tidak cukup kuat untuk memberikan efek jera terhadap pelaku (owner arisan online).

2. Perlunya peran aktif dari peserta arisan online itu sendiri terhadap hak-hak sebagai peserta dalam bertransaksi melalui media elektronik yang harus dilindungi sehingga melakukan tindakan lebih lanjut yakni melaporkan kepada pihak yang berwenang. Dengan tujuan agar pelaku (owner arisan online) lebih memperhatikan kewajibannya dan tidak semena-mena terhadap hak peserta nya.

3. Perlunya peran pemerintah dalam hal membuat peraturan khusus mengenai praktik arisan, terkhususnya arisan berbasis online dikarenakan hingga saat ini, hanya ada Undang-Undang dan peraturan yang terkait.

(48)

73

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Bachtiar. Metode Penelitian Hukum, Tangerang Selatan: Unpam Press, 2018.

Barkatullah, Abdul Halim. Hukum Transaksi Elektronik Sebagai Panduan Dalam Menghadapi Era Digital Bisnis E-Commerce di Indonesia, Bandung: Nusa Media, 2017.

Hadjon, Philipus M. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya:

Bina Ilmu, 1987.

Ishaq. Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Skripsi, Tesis, serta Disertasi, Bandung: Alfabeta, 2017.

Kementrian Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: CV. Toha Putra, 1989.

Legality, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Yogyakarta: PT. Anak Hebat Indonesia, 2017.

Muin, R., & Hadi. Perilaku Masyarakat Terhadap Pelaksaan Arisan Lelang dalam Perspektif Ekonomi Islam, LAA MASYAR, 2018.

Muchsin. Perlindungan dan Kepastian Hukum Bagi Investor di Indonesia, Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2003.

Muhaimin. Metode Penelitian Hukum, Mataram: Mataram University Press, 2020.

Rahmadi. Pengantar Metodologi Penelitian, Banjarmasin: Antasari Press, 2011.

Sahir, Syafrida Hafni. Metodologi Penelitian, Jogjakarta: KBM Indonesia, 2021.

Supardi. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis, Yogyakarta: UII Press, 2005.

Tobing, Raida L. Penelitian Hukum Tentang Efektivitas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2012.

(49)

74

Waluyo, Bambang. Penelitian Hukum dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.

Widiyastuti, Y. Sari Murti. Buku Pedoman Penulisan Hukum, Yogyakarta:

Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2019.

B. Jurnal/Kamus

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka Utama, 1989.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

Rahardjo, Satjipto. Penyelenggaraan Keadilan Dalam Masyarakat Yang Sedang Berubah, Jurnal Masalah Hukum.

Sanggo, Priskilia Askahlia dan Diana Lukitasari, Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Penipuan Arisan Online Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Jurnal Recidive, Volume 3, No. 2, 2014.

Siregar, Nur Fitriyani. Efektivitas Hukum, Al-Razi, Volume 18, No. 2, 2018.

Surahman, Ence. Et. Al, Kajian Teori Dalam Penelitian, Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, Volume 3. No. 1, 2020.

Tirtakoesoemah, Annisa Justisia. Penerapan Teori Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Atas Penyiaran, Jurnal Media Komunikasi dan Kajian Hukum, Volume 18, No. 1, 2019.

C. Peraturan Perundang-Undangan

Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Peraturan Polri Nomor 8 Tahun 2021 Tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif (Restorative Justice).

(50)

D. Skripsi

Masithah, Siti. “Tinjauan Hukum Islam Tentang Pelaksanaan Arisan Online Handphone di Instagram”, Skripsi: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2018.

E. Website

https://www.jurnalhukum.com/hukum-perlindungan-konsumen-di-indonesia/

Diakses, tanggal 8 Juni 2022.

https://ulasan.co/owner-arisan-online-gmes-gemilang-dilaporkan-ke-polres- tanjungpinang/. Diakses tanggal 26 Oktober 2021.

https://berita.99.co/sistem-arisan/. Diakses tanggal 10 November 2022.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Undang-

undang_Informasi_dan_Transaksi_Elektronik. Diakses pada 12 Januari 2023.

https://pn-

kualakurun.go.id/images/penerapan_restorative_justice_dalam_penanga nan_perkara_pidana_pada_pengadilan_tingkat_pertama.pdf. Diakses pada 12 Januari 2023.

https://www.hukumonline.com/klinik/a/perbedaan-perdagangan-elektronik- dengan-transaksi-elektronik-lt56751b3083cb0. Diakses pada 12 Januari 2023.

https://www.orami.co.id/magazine/arisan-online. Diakses pada 12 Januari 2023.

(51)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Daftar Pertanyaan Wawancara

a. Wawancara kepada pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang

1. Bagaimana upaya perlindungan hukum yang diberikan dari pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang kepada peserta yang melaporkan kasus atau kerugian yang dialami dalam bermain arisan online G’mes Gemilang?

2. Apa saja hambatan bapak dalam memberikan perlindungan hukum terhadap peserta yang mengalami kerugian dalam bermain arisan online G’mes Gemilang tersebut?

b. Wawancara kepada 3 peserta arisan G’mes Gemilang (yang melapor) 1. Dari mana ibu mengetahui arisan online G’mes Gemilang tersebut?

2. Mengapa akhirnya ibu bergabung dalam arisan online G’mes Gemilang?

3. Siapakah owner dari arisan online G’mes Gemilang tersebut?

4. Bagaimana sistem arisan online G’mes Gemilang itu?

5. Berapa jumlah uang yang telah ibu setorkan?

6. Mengapa akhirnya ibu memilih melaporkan owner arisan kepada pihak Satreskrim Polres Tanjungpinang?

7. Bagaimana kronologi kerugian yang ibu alami dalam bermain arisan online G’mes Gemilang tersebut?

8. Berapa jumlah kerugian yang ibu alami selama bergabung dalam arisan online G’mes Gemilang tersebut?

(52)

9. Mengapa pada akhirnya ibu memilih menyelesaikan permasalahan terkait kerugian yang dialami melalui restorative justice?

10. Bagaimana ketentuan atau isi kesepakatan dalam restorative justice tersebut?

2. Dokumentasi

a. Instagram Arisan G’mes Gemilang

(53)

b. Group Whatsapp Arisan G’mes Gemilang

c. Riset di Satreskrim Polres Tanjungpinang

(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam analisis hukum Islam, maka praktik arisan uang yang diganti barang di Desa Panaikang Kabupaten Sinjai telah sesuai dengan hukum Islam karena sebelum

bahwa berdasarkan Pasal 85 Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang dan sebagai pelaksanaan Peraturan

Pengaruh Effective Inoculant PROMI dan EM4 terhadap Laju Dekomposisi dan Kualitas Kimia Kompos dari Sampah Kota Ambon, dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel

Sebagaimana yang dikatakan diatas bahwa dalam praktiknya arisan tersebut dilaksanakan dengan berbasis daring (online) yang menggunakan aplikasi Chat WAG (WhatsApp Group),

Fokus masalah dari penelitian ini adalah bagaimana praktek arisan beranak berupa uang pada setiap pengundian terdapat tambahan di Desa Sidorejo Kecamatan Wonomulyo

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang, arisan online sistem menurun yang dilaksanakan oleh akun instagram @arisan_gadgetmurah memiliki perbedaan dengan pelaksanaan

merujuk pada pola-pola interaksi sosial yang terjadi dalam sebuah kelompok sosial, yaitu kelompok atau kumpulan orang yang terbentuk atas dasar kesamaan kumpulan orang yang

Seiring dengan berkembangnya waktu, arisan yang dulu dilakukan dengan bertatap secara langsung, sekarang lahirlah inovasi yaitu arisan berbasis online. Namun,