• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Toksisitas Ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Uji Toksisitas Ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Farmasi Jurusan Farmasi

pada Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

ANUGRAH YUNIARTI SAID NIM. 70100110023

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2014

(2)

UJI TOKSISITAS EKSTRAK KLIKA ANAK DARA (Croton oblongus Burm f.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Farmasi Jurusan Farmasi

pada Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

ANUGRAH YUNIARTI SAID NIM. 70100110023

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2014

(3)

ii

Mahasiswa yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Anugrah Yuniarti Said

NIM : 70100110023

Tempat/Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 04 Juni 1993 Jur/Prodi/Konsentrasi : Farmasi

Alamat : Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Jl. Kejayaan Selatan Blok K no. 100

Judul : Uji Toksisitas Ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Gowa, 25 Agustus 2014 Penyusun,

ANUGRAH YUNIARTI SAID NIM. 70100110023

(4)

iii

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “Uji Toksisitas Ekstrak Metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test” yang disusun oleh Anugrah Yuniarti Said, NIM : 70100110023, Mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar, diuji dan dipertahankan dalam Ujian Sidang Skripsi yang diselenggarakan pada hari Senin, 25 Agustus 2014 M yang bertepatan dengan 29 Syawal 1435 H, dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dalam Fakultas Ilmu Kesehatan, Jurusan Farmasi.

Gowa, 25 Agustus 2014 M 29 Syawal 1435 H DEWAN PENGUJI

Ketua : Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc (...) Sekretaris : Drs. Wahyuddin G, M.Ag. (...) Pembimbing I : Haeria, S.Si., M.Si. (...) Pembimbing II : Surya Ningsi ,S.Si., M.Si., Apt. (...) Penguji I : Nursalam Hamzah, S.Si., M.Si, Apt. (...) Penguji II : Dr. Abdullah, S.Ag., M.Ag. (...)

Diketahui oleh:

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar,

Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc NIP. 19530203 198312 1 001

(5)

iv

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Segala puji dan syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah_Nya yang telah diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Farmasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Shalawat serta salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad SAW, yang termulia dari para Nabi dan Rasul. Dan semoga pula tercurah atas keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Penghargaan yang setinggi-tingginya dan rasa terimakasih penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda Drs. H. M. Said A dan Ibunda Dra. Hj. Syamsiah Rahman yang tak henti-hentinya memberi doa dan motivasi serta dukungannya baik dalam bentuk moril terlebih lagi dalam bentuk materil, sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik karena kasih sayang dan bimbingan beliau, dan buat saudara-saudariku tercinta serta seluruh keluarga besar penulis yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, terima kasih atas doa, kasih sayang dan bimbingannya kepada penulis, tiada kata yang pantas untuk mengungkapkan betapa besar cinta dan kasih sayang yang telah kalian berikan.

Mereka adalah semangat terbesar bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

(6)

v

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan perlindungan_Nya kepada kalian.

Sebagai ungkapan kebahagiaan, penulis menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Haeria S.Si, M.Si selaku pembimbing pertama dan Ibu Surya Ningsi, S.Si, M.Si, Apt., selaku pembimbing kedua atas segala keikhlasannya memberikan bimbingan, motifasi serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran kepada penulis sejak rencana penelitian sampai tersusunnya skripsi ini, semoga bantuan dan bimbingannya selama penulis menempuh pendidikan dan melakukan penelitian mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah swt.

Penulis tak lupa menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu :

1. Prof. Dr. H. A. Qadir Gassing, HT, M.S selaku Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang telah memberikan kesempatan menyelesaikan studi di UIN Alauddin Makassar

2. Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc. selaku Pelaksana Tugas Dekan Fakulas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

3. Fatmawaty Mallapiang, S.KM., M.Kes. selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar

4. Dra. Hj. Faridha Yenny Nonci, M.Si., Apt. selaku Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

5. Drs. Wahyudin G., M.Ag. selaku Wakil Dekan III Fakulas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.

(7)

vi Alauddin Makassar.

7. Haeria, S.Si, M.Si. selaku pembimbing pertama atas segala keikhlasannya memberikan bimbingan, motivasi serta meluangkan waktu, tenaga, pikiran kepada penulis sejak rencana penelitian sampai tersusunnya skripsi ini.

8. Surya Ningsi, S.Si, M.Si., Apt selaku pembimbing kedua atas segala keikhlasannya memberikan bimbingan, motivasi serta meluangkan waktu, tenaga, pikiran kepada penulis sejak rencana penelitian sampai tersusunnya skripsi ini.

9. Nursalam Hamzah, S.Si., M.Si., Apt selaku penguji kompetensi yang telah memberi masukan dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.

10. Dr. Abdullah, S.Ag., M.Ag selaku penguji agama yang telah memberikan tuntunan dan pengarahan dalam mengoreksi seluruh kekurangan pada skripsi ini.

11. Dosen yang dengan ikhlas membagi ilmunya, semoga jasa-jasanya mendapatkan balasan dari Allah SWT. serta seluruh staf jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan yang telah memberikan bantuan kepada penulis.

12. Kepada seluruh Laboran Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar yang senantiasa membimbing dan mengarahkan penulis selama penelitian.

13. Kepada teman-teman seperjuangan yang telah banyak membantu penulis teman- teman seperjuangan “Corrigensia 2010” khususnya kelas Farmasi A, kakak- kakak angkatan 2005-2009, dan adik-adik angkatan 2011-2013 Farmasi UIN Alauddin Makassar.

(8)

vii

Untuk sahabat-sahabatku (Said Asrul Adjmi Assagaf, Fredela, Clara, Aprilya, Hardianti, Fathiah, Ince Nur Mustika, Rosita, Utami, Rara; Indah Amanda, Renitha, Fitriani) satu dari banyak terima kasihku adalah karena kalian sempat hadir dan memberikan warna dalam hidupku serta selalu membuat penulis tersenyum, terima kasih atas doa, semangat dan persaudaraan yang di bina selama ini. Semoga tidak akan pudar oleh jarak dan waktu. Serta semua pihak yang telah berjasa yang tidak sempat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Namun besar harapan kiranya dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wassalam Wr.Wb

Gowa, 25 Agustus 2014

ANUGRAH YUNIARTI SAID

(9)

viii

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Hipotesis ... 4

D. Defenisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian ... 5

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Uraian Tanaman ... 7

B. Uraian Artemia salina Leach ... 8

C. Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) ... 13

D. Metode Ekstraksi Bahan Alam... 15

E. Toksisitas ... 25

F. Lethal Concentration (LC50) ... 32

G. Tinjauan Islam Mengenai Uji Toksisitas ... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 42

(10)

ix

B. Pendekatan Penelitian ... 42

C. Sampel ... 42

D. Metode Pengumpulan Data ... 42

E. Uji Toksisitas dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test ... 44

F. Instrumen Penelitian... 45

G. Validasi dan Reabilitasi Penelitian... 45

H. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 47

B. Pembahasan ... 47

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 51

B. Implikasi Penelitian ... 51

KEPUSTAKAAN ... 52

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 55

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 63

(11)

x

Tabel Halaman

1. Hasil Perhitungan LC50 dan Jumlah Rata-Rata Larva Udang Yang

Mati Berdasarkan Tiap Konsentrasi... 43 2. Data Hasil Pengamatan Kematian Larva Udang Artemia salina Leach

Setelah 24 Jam Perlakuan... 57 3. Harga Probit Sesuai Persentasenya... 58 4. Data Hasil Pengamatan Kematian Larva Udang Artemia salina Leach... 59

(12)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Skema kerja ekstraksi ... 55 2. Pelaksanaan uji Brine Shrimp Lethality Test ... 56 3. Hasil uji toksisitas ekstrak metanol klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) .. 57 4. Harga probit sesuai persentasenya ... 58 5. Data hasil perhitungan LC50 ekstrak metanol klika anak dara (Croton oblongus

Burm f.) menurut metode grafik probit log-konsentrasi ... 59 6. Foto tanaman klika anak dara (Croton oblongus Burm f.)... ... 61 7. Gambar Siklus Larva Udang Artemia salina Leach ... 62

(13)

xii

Gambar Halaman

1. Skema Kerja Ekstraksi Senyawa Ekstrak Metanol Klika Anak Dara (Croton

oblongus Burm f.)... 55

2. Pelaksanaan Uji Brine Shrimp Lethality Test (BST) Ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.)... 56

3. Hasil Perhitungan LC50 Ekstrak Metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) Menurut Metode Grafik Probit Log-Konsentrasi... 59

4. Tanaman Anak Dara (Croton oblongus Burm f.)... 61

5. Klika anak dara (Croton oblongus Burm f.)... 61

6. Siklus Hidup Larva Udang Artemia salina Leach... 62

(14)

xiii ABSTRAK

Nama : Anugrah Yuniarti Said NIM : 70100110023

Judul : Uji Toksisitas Ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test

Telah dilakukan penelitian Uji Toksisitas Ekstrak Metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) dengan tujuan untuk menentukan efek toksisitas dan menentukan potensi antikanker dari ekstrak metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test terhadap Artemia salina Leach.

Ekstrak metanol klika anak dara (Croton oblongus Burm f.), dibuat dengan konsentasi 10, 100, dan 1000 µg/ml. Untuk kontrol negatif menggunakan air laut.

Selanjutnya masing-masing konsentrasi dimasukkan 10 ekor larva udang. Perlakuan dilakukan sebanyak 5 replikasi pada setiap konsentrasi. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam perlakuan dengan menghitung jumlah larva yang mati.

Hasil pengamatan dihitung dengan menggunakan analisis probit, menunjukkan nilai LC50 dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu 3,89 µg/ml.

(15)

xiv Nama : Anugrah Yuniarti Said

NIM : 70100110023

Judul : Toxicity Assay of Methanol Extract of Cortex Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) By Method of Brine Shrimp Lethality Test

Toxicity test have been conducted research Methanol Extract of Cortex Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) with the aim of determining the effects of toxicity and anticancer potential of methanol extract of tubers of Cortex Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) by Brine Shrimp Lethality Test method against Artemia salina Leach. Methanol extract of cortex anak dara (Croton oblongus Burm f.), made with concentrations of 10, 100, and 1000 µg/ml. Negative control using sea water.

Furthermore, each concentration put 10 tail shrimp larvae. The treatment is done by 5 replication at each concentration. Observations were made after 24 hours of treatment by counting the number of dead larva.

Observations calculated using probit analysis, showed LC50 values with 95%

confidence level is 3,89 µg/ml.

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan alam dan isinya seperti hewan dan tumbuhan dengan hikmah yang amat besar, semuanya tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya.

Manusia diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengambil manfaat dari hewan dan tumbuhan (Ahmad, 2006). Masyarakat Indonesia telah lama mengenal serta menggunakan obat-obatan alami atau yang dikenal dengan obat tradisional. Obat tradisional lebih mudah diterima oleh masyarakat karena selain telah akrab dengan masyarakat, obat ini lebih murah dan mudah didapat (Hyeronimus, 2006). Terdapat berbagai macam obat tradisional yang berasal dari tanaman dan telah banyak diteliti kandungan kimia dan khasiat yang berada di dalamnya. Namun masih banyak tanaman yang belum diketahui kadar toksisitasnya, sehingga perlu diteliti lebih lanjut (Agus, 2008).

Semua yang diciptakan Allah SWT memiliki manfaat, termasuk tumbuh- tumbuhan. Untuk pemanfaatan tumbuhan tersebut, diperlukan ilmu dan pengalaman (teoritis dan empiris) dengan penelitian dan eksperimen. Salah satunya dalam pemanfaatannya sebagai obat.

Tumbuhan merupakan salah satu sumber daya alam yang penting. Tumbuhan merupakan tempat terjadinya sintesis senyawa organik yang kompleks sehingga menghasilkan senyawa dengan berbagai macam struktur. Usaha pencarian senyawa

(17)

baru terhadap tumbuhan yang belum banyak diteliti akan lebih menarik dan prospektif karena kemungkinan lebih besar menemukan senyawa baru.

Tumbuhan obat telah digunakan sejak dahulu secara turun–temurun untuk mencegah, menyembuhkan serta memelihara kesehatan. Dewasa ini penggunaan obat tradisional sebagai alternatif pengobatan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan kecendrungan masyarakat menerapkan gaya hidup back to nature atau kembali ke alam serta ditunjang oleh efek samping obat tradisional yang relatif kecil dan harganya dapat dijangkau oleh masyarakat luas (Djauhariya,2004 : 4).

Toksisitas adalah efek berbahaya dari suatu bahan obat pada organ target. Uji toksisitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan zat yang akan diuji. Adapun sumber zat toksik dapat berasal dari bahan alam maupun sintesis (Anonim, 2011).

Toksisitas diukur dengan mengamati kematian pada hewan coba. Kematian merupakan salah satu diantara beberapa kriteria toksisitas. Salah satu caranya ialah menggunakan senyawa dengan dosis maksimal, kemudian kematian hewan uji dicatat. Angka kematian hewan dihitung sebagai harga median Lethal Dose (LD50) atau median Lethal Concentration (LC50). Pada hewan percobaan untuk harga LC50

dibedakan menjadi toksik (LC50 < 1000 µg/ml) dan tidak toksik (LC50 > 1000 µg/ml) (Meyer et al., 1982). Penentuan potensi bioaktif dilakukan dengan membandingkan nilai LC50 masing-masing ekstrak dengan ketentuan McLaughin (1991) dimana jika LC50 < 30 ppm, maka ekstrak berpotensi sebagai antikanker (sitotoksik); LC50 30-200 ppm, ekstrak berpotensi sebagai anti mikroba; dan LC50 200-1000 ppm berarti ekstrak berpotensi sebagai pestisida.

(18)

3 Uji toksisitas larva udang dapat digunakan sebagai uji penapisan senyawa bioaktif tahap awal dari rangkaian uji toksisitas untuk mendapatkan dosis yang aman bagi manusia. Beberapa kelebihan dari uji bioaktivitas dengan Brine Shrimp Test (BST) menggunakan larva udang adalah waktu ujinya cepat, sederhana (tanpa teknik aseptik), murah (tidak perlu serum hewan), jumlah organisme banyak, memenuhi kebutuhan validasi statistik dengan sedikit sampel (Meyer, 1982).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ekstrak metanol klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) memiliki aktivitas antioksidan terhadap DPPH (Samrina, 2013) dimana antioksidan dapat menanggulangi kemungkinan terjadinya sel kanker (Lisdawati, 2002). Uji toksisitas menggunakan larva Artemia salina dianalogikan dengan kemampuan suatu bahan obat yang memiliki efek antikanker.

Metode ini disarankan untuk digunakan pada skrining awal senyawa bioaktif bahan alam karena menunjukkan adanya korelasi dengan metode sitotoksik in vitro lainnya (Carballo, 2002).

Penelitian dengan menggunakan klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) belum banyak dilaporkan. Berdasarkan fakta di atas maka salah satu fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas klika anak dara (Croton oblongus Burm f.).

BST merupakan pengujian senyawa secara umum yang dapat mendeteksi beberapa bioaktivitas dalam suatu ekstrak. Bioaktivitas yang dapat dideteksi dari skrining awal dengan metode BST diantaranya adalah antikanker, antitumor, antimalaria, antimikroba, immunosuppressive, antifeedant dan residu pestisida (Colegate dan Molyneux, 2007). Senyawa yang mempunyai kemampuan membunuh

(19)

larva udang diperkirakan juga mempunyai kemampuan membunuh sel kanker dalam kultur sel (Mclaughlin, 1991).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi toksisitas akut pada ekstrak klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) menurut metode Brine Shrimp lethality Test (BST). Bentuk ekstrak dipilih dengan harapan akan didapatkan kandungan senyawa aktif yang ada dalam klika anak dara (Croton oblongus Burm f.). Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi tentang potensi toksisitas akut pada ekstrak klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) sebagai salah satu tanaman yang telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) berefek toksik terhadap larva Artemia salina Leach?

2. Berapakah nilai LC50 dan potensi toksisitas dari ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.)?

3. Bagaimana tinjauan Islam tentang penelitian uji toksisitas ekstrak metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.)?

C. Hipotesis

1. Ekstrak metanol Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) berefek toksik terhadap larva Artemia salina Leach.

(20)

5 2. Nilai LC50 ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) kurang dari 1000

μg/ml dan berpotensi sebagai antikanker.

D. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian 1. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini digunakan beberapa istilah, diantaranya uji toksisitas akut, Brine Shrimp Lethality Test (BST), Artemia salina Leach, ekstrak klika anak dara dan LC50 . Agar tidak terjadi kekeliruan penafsiran pembaca terhadap variabel- variabel dalam judul, dengan demikian penjelasan mengenai istilah yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

a. Uji toksisitas akut: Uji tunggal dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat setelah pemberian dosis uji.

b. Brine Shrimp Lethality Test (BST): Metode uji toksisitas akut dengan menggunakan larva Artemia salina sebagai hewan coba dan digunakan sebagai suatu bioassay yang sederhana untuk penelitian bahan alam.

c. Artemia salina Leach: Sejenis udang-udangan primitif yang termasuk dalam filum Arthropoda.

d. Ekstrak klika anak dara: Sediaan yang dibuat dengan mengekstraksi klika anak dara dengan menggunakan pelarut metanol dengan metode maserasi, lalu pelarutnya diuapkan dan didapatkan ekstrak kental.

e. LC50 (Lethal Concentration 50): konsentrasi zat yang menyebabkan terjadinya kematian pada 50% hewan percobaan.

(21)

2. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dibatasi hanya untuk pengujian toksisitas ekstrak metanol klika anak dara (Croton oblongus Burm f.) dan penentuan LC50 dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST).

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian

a. Menentukan toksisitas ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) terhadap larva Artemia salina Leach.

b. Menentukan nilai LC50 dan potensi toksisitas dari ekstrak Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.).

c. Mengetahui pandangan Islam mengenai Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.).

2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini menambah data ilmiah tentang efek toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach dari Klika Anak Dara (Croton oblongus Burm f.) sebagai sumber senyawa anti kanker baru.

(22)

7 BAB II

TINJAUAN TEORITIS A. Uraian Tumbuhan

1. Klasifikasi Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Bangsa : Euphorbiales Suku : Euphorbiaceae Marga : Croton

Jenis : Croton oblongus Burm f. (herbarium bogoriense, 2011) 2. Nama Daerah

Simalakian (Sumatera Barat), ceraken (Jawa), roengkok (Sumatera Utara), semoeki (Ternate), kowe (Tidore), dan Ana’ Dara (Makassar) (Anonim, 2008).

3. Morfologi

Tanaman anak dara (Croton oblongus Burm f.) berupa tanaman semak dengan tinggi tanaman sekitar 2-3 m. Bentuk batang tegak, bulat, berambut dan berwarna hijau, dengan daun tunggal, berseling dan lonjong. Bentuk tepi daun bergerigi dengan ujung yang runcing. Panjang daun sekitar 3-5 cm, dengan lebar daun sekitar 1-4 cm.

Bentuk tangkai silindris dengan panjang 2-3 cm, bentuk pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Bunga tanaman majemuk dengan bentuk bulir, berada diujung batang dengan kelopak membulat, memiliki banyak benang sari dengan mahkota berbentuk

(23)

corong. Buah tanaman berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 cm dan berwarna hijau, akar tanaman adalah akar tunggang (Anonim, 2008).

4. Ekologi

Dalam hutan sampai pada ketinggian 700 m. Sebagian besar di lereng bukit dan pegunungan, kadang-kadang aluvial. Biasanya pada tanah berpasir, kadang juga di tanah liat dan batu kapur (Anonim, 2008).

B. Uraian Artemia Salina Leach 1. Klasifikasi

Filum : Arthropoda Kelas : Crustaceae Anak Kelas : Branchiopoda Bangsa : Anostraca Suku : Artemiidae Marga : Artemia

Jenis : Artemia salina Leach (Mudjiman, 1988) 2. Morfologi

Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari phylum Arthropoda, Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruh dunia. Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam. Apabila kadar garam kurang dari 6% telur Artemia akan tenggelam hingga telur tidak dapat menetas, sedangkan apabila kadar garam lebih dari 25% telur

(24)

9 akan berada dalam kondisi tersuspensi, sehingga dapat menetas dengan normal (Purwakusuma,2009)

Tingkat hidup Artemia salina Leach mengalami beberapa tingkatan, tetapi secara jelas dapat dilihat dalam 3 bentuk yang sangat berlainan yaitu bentuk telur, nauplius (larva) dan artemia dewasa.

Artemia salina Leach adalah sejenis udang air asin. Telurnya merupakan makanan ikan tropis dan telur tersebut dapat dijumpai di toko-toko yang menjual ikan hias tropis dengan nama brine shrimp eggs. Telur ini dapat bertahan selama bertahun- tahun dalam keadaan kering. Setelah ditempatkan dalam larutan air laut, telur-telur akan menetas dalam waktu 48 jam dan menghasilkan sejumlah nauplii. Nauplii Artemia salina Leach ini dapat dipakai sebagai alat yang baik untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang memiliki aktivitas biologi (McLaughlin, 1998).

Istilah untuk telur Artemia yang benar adalah siste yaitu telur yang telah berkembang lebih lanjut menjadi embrio dan kemudian diselubungi oleh cangkang yang kuat dan tebal. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan. Cangkang telur Artemia secara garis besar dibagi dua bagian yaitu korion yang di bagian luar dan kutikula embrionik yang dibagian dalam. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikula luar (Mudjiman, 1989).

Korion sendiri yang tebalnya 6-8 µm, masih dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan paling luar yang dinamakan lapisan peripheral (terdiri dari selaput dan

(25)

lapisan kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di bawahnya. Selaput kutikula luar yang tebalnya 0,5 µm, merupakan selaput biologis yang bersusun tiga (Mudjiman, 1989).

Kutikula embrionim yang tebalnya 1,8 – 2,2 µm, dibagi menjadi dua bagian lagi, yaitu lapisan fibrosa di bagian atas dan selaput kutikula dalam di bawahnya.

Selaputnya ini nantinya merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio.

Bagian luar korion banyak mengandung hematin (derivat hemoglobin) yaitu sejenis lipoprotein. Karena hematin itulah maka telurnya jadi berwarna coklat. Ini penting untuk melindungi embrio dari pengaruh buruk sinar ultraviolet (Mudjiman, 1989).

Diameter sebutir telur Artemia berkisar antara 200-350 µm (0,2 – 0,3 mm), sedangkan berat keringnya sekitar 3,65 µg yang terdiri dari 2,9 µg embrio dan 0,75 µg cangkang (Mudjiman, 1989).

Secara berkala, pada saat air laut atau danau menguap, partikel-partikel yang berwarna coklat, berdiameter sekitar 0,2-0,3 mm akan naik kepermukaan, oleh angin akan dibawa hanyut ke darat. Partikel tersebut merupakan telur-telur yang inaktif atau tidur dari Artemia salina. Sepanjang telur-telur tersebut terhidrasi dan dalam keadaan diapauze, akan memiliki ketahanan dan kestabilan dalam penyimpanan yang lama.

Jika telur-telur tersebut (yang embrionya dalam keadaan dispauze) direndam dalam larutan bergaram (air laut), telur akan menyerap air laut hingga menggembung.

Proses penyerapan ini berlangsung secara hiperosmotik yaitu adanya tekanan osmose di dalam telur yang lebih tinggi daripada diluarnya.

(26)

11 Setelah telur menggembung dan metabolisme berlangsung terus, untuk mencapai tingkatan ini dibutuhkan waktu sekitar 15 jam. Terjadinya pemecahan cangkang telur yang keras itu dibantu oleh kegiatan enzim yaitu enzim penetasan pada pH lebih dari 8. Sekitar 17 jam perendaman, embrio yang keluar dari cangkang yang masih dibungkus oleh selaput penetasan tumbuh terus hingga akhirnya keluar dari selaputnya menjadi makhluk hidup baru, yaitu waktu 19 jam, hingga rata-rata berkisar 24-36 jam. Dalam pengembangan selanjutnya, burayak mengalami metamorfosis. Pada tingkatan Instar I, kandungan energi masih cukup tinggi. Sekitar 24 jam kemudian, mereka sudah berubah menjadi Instar II mulai mempunyai mulut, saluran pencernaan dan dubur. Oleh karenanya mereka sudah menncari makanan.

Demikian seterusnya sampai Instar XV. Setelah itu berubah menjadi artemia dewasa.

Proses ini biasanya berlangsung 1-3 minggu.

Tubuh terbagi atas bagian kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala terdapat 2 tungkai mata, 2 antena dan 2 antenula. Dada terbagi atas 11 segmen yang masing- masing mempunyai sepasang kaki renang, sedangkan perut terbagi atas 8 segmen.

Artemia salina dewasa bentuknya telah sempurna. Reproduksi artemia salina dapat dengan bertelur atau dengan melahirkan anak. Pergantian reproduksi ini dimungkinkan oleh jumlah klorofil dalam makanannya dan faktor oksigen dalam lingkungan. Konsentrasi oksigen yang rendah dan klorofil yang tinggi dalam makanannya menyebabkan reproduksi dengan telur, dan sebaliknya akan menyebabkan reproduksi dengan melahirkan anak (Mudjiman, 1988).

(27)

Kandungan kimia yang terdapat dalam tubuh Artemia salina adalah protein dan asam lemak yang tinggi. Nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yaitu kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47% pada nauplius menjadi 60%

pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan (Gebon, 2000).

3. Lingkungan Hidup

Artemia salina hidup planktonik diperairan berkadar garam tinggi antara 15- 30 permil, suhu yang dikehendaki berkisar antara 25oC-30oC, oksigen terlarut sekitar 3 mg/L dan pH antara 7,3-8,4. Artemia salina Leach tidak dapat mempertahankan diri dari pemangsa musuh-musuhnya karena tidak mempunyai alat atau cara untuk membela diri, salah satu cara menghindarkan diri dari pemangsa hewan lain dengan berpindah kekondisi alam berupa lingkungan hidup berkadar garam tinggi. Pada umumnya pemangsa tidak dapat hidup lagi pada kondisi itu (Mudjiman, 1995).

Makanan Artemia salina terdiri atas ganggang renik, bakteri dan cendawan. Dalam pemeliharaan makanan yang diberikan adalah katul padi, tepung terigu, tepung kedelai dan ragi (Mudjiman, 1995).

4. Perkembangan dan Siklus Hidup

Perkembangannya yaitu jenis biseksual dan jenis pertenogenenetik. Keduanya dapat terjadi ovovivipar atau ovipar. Pada ovovivipar keluar dari induknya sudah berupa anak yang dinamakannaplius, sedangkan pada ovipar anak keluar dari induknya berupa telur, bercangkang tebal yang dinamakan siste. Perkembangbiakan jenis biseksual harus melalui proses perkawinan antara induk jantan dan induk betina.

Pada jenis parthenogenesis tidak ada perkawinan karena memang tidak pernah ada

(28)

13 jantannya. Jadi, betina akan beranak dengan sendirinya tanpa perkawinan (Mudjiman, 1995).

5. Pengggunaan Artemia salina leach dalam Penelitian

Suatu metode uji hayati yang tepat dan murah untuk skrining dalam menentukan toksisitas suatu ekstrak tanaman aktif dengan menggunakan hewan uji Artemia salina Leach. Artemia sebelumnya telah digunakan dalam bermacam-macam uji hayati seperti uji pestisida, polutan, mikotoksin, anastetik, komponen seperti morfin, kekarsinogenikan dan toksikan dalam air laut. Uji dengan organisme ini sesuai untuk aktifitas fakmakologi dalam ekstrak tanaman yang bersifat toksik.

Penelitian menggunakan Artemia salina memiliki beberapa keuntungan antara lain cepat, murah, mudah dan sederhana.

Penelitian dengan larva Artemia salina Leach telah digunakan oleh Pusat Kanker Purdue, Universitas Purdue di Lafayette untuk senyawa aktif tanaman secara umum dan tidak spesifik untuk zat anti kanker. Namun demikian hubungan yang signifikan dari sampel yang bersifat toksik terhadap larva Artemia salina Leach ternyata juga mempunyai aktifitas sitotoksik. Berdasarkan hal tersebut maka larva Artemia salina Leach dapat digunakan untuk uji sitotoksik (Mayer et al., cit Wahyuni,S., 2002).

C. Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)

Belakangan ini telah banyak pengujian tentang toksisitas yang dikembangkan untuk pencarian produk alam yang potensial sebagai bahan antineoplastik. Metode pengujian tersebut antara lain Simple Brench-Top Bioassay (terdiri dari Brine Shrimp

(29)

Lethality test, Lemna Minor Bioassay dan Crown-Gall Potato disc bioassay) dan pengujian pada sel telur bulubabi. Pengujian efek toksik dengan larva udang Artemia salina dihitung dengan metode LC50 yang mana kematian setelah 6 jam pemaparan dimasukkan dalam kategori LC50 akut dan pemaparan setelah 24 jam digolongkan LC50 kronis, dan dalam pengerjaannya biasanya digunakan LC50 setelah 24 jam mengingat kelarutan ekstrak yang sukar larut membutuhkan waktu lebih panjang (Mc Laughlin 1991, 2: 107-110).

Metode ini sering digunakan untuk praskrining terhadap senyawa aktif yang terkandung di dalam ekstrak tanaman karena murah, mudah (tidak perlu kondisi aseptis) dan dapat dipercaya. Sifat sitotoksik dapat diketahui berdasarkan jumlah kematian larva pada konsentrasi tertentu. Suatu ekstrak dikatakan toksik jika memiliki nilai LC50 kurang dari 1000 µg/ml setelah waktu 24 jam (Indrayani, Soetjipto, dan Sihasale 2008). Pengujian ini dipertimbangkan sebagai uji pendahuluan toksisitas dan digunakan untuk mengetahui toksin jamur, toksisitas ekstrak tanaman, logam berat, toksin cyanobacteria, pestisida, dan uji sitotoksisitas bahan pembuatan gigi (Carballo, et al., 2002).

Uji toksisitas larva Artemia salina (Brine Shrimp Lethality Test) sering dianalogkan dengan kemampuan suatu bahan obat yang memiliki efek antikanker.

Metode ini disarankan untuk digunakan pada skrining senyawa bioaktif bahan alam karena menunjukkan adanya korelasi dengan metode sitotoksik in vitro lainnya (Carballo, et al., 2002). Brine Shrimp Lethality Test (BST) merupakan salah satu metode untuk menguji bahan-bahan yang bersifat toksik dan digunakan sebagai suatu

(30)

15 bioassay yang pertama untuk penelitian bahan alam. Metode ini menggunakan larva Artemia salina Leach sebagai hewan coba. Uji toksisitas dengan metode BST ini merupakan uji toksisitas akut dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat, yaitu rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji.

Suatu ekstrak dikatakan toksik berdasarkan metode BST jika harga LC50 <1000 μg/ml. Pemikiran bahwa efek farmakologi adalah toksikologi sederhana pada dosis yang rendah dan sebagian besar senyawa anti tumor adalah sitotoksik, maka digunakan “Brine Shrimp Lethality Test”. Akan tetapi pengujian lethalitas yang sederhana tidak spesifik untuk anti tumor, tetapi merupakan indikator sitotoksisitas yang baik dengan pengujian anti tumor lainnya, seperti uji leukemia tikus. Prosedur ini menentukan nilai LC50 dalam μg/ml dari ekstrak dan senyawa aktif dalam medium air asin. Aktivitas yang luas dari senyawa aktif yang diketahui dianggap terhadap udang, akan tetapi prosedur yang sederhana, biaya yang rendah, dan korelasinya terhadap pengujian sitotoksitas dan pengujian anti tumor membuat pengujian ini sebagai uji pendahuluan untuk aktivitas anti tumor yang sesuai dan dapat dilakukan secara rutin di laboratorium dengan fasilitas sederhana (Meyer et al.1982 : 31-34).

D. Metode Ekstraksi Bahan Alam

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dari massa atau serbuk yang tersisa

(31)

diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Dirjen POM, 1995: 7).

1. Tujuan Ekstraksi

Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam bahan alam baik dari tumbuhan, hewan dan biota laut dengan pelarut organik tertentu.

Dinding sel dan masuk dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dalam pelarut organik dan karena adanya perbedaan antara konsentrasi di dalam dan konsentrasi di luar sel, mengakibatkan terjadinya difusi pelarut organik yang mengandung zat aktif keluar sel. Proses ini berlangsung terus menerus sampai terjadi keseimbangan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel (Dirjen POM, 1986).

2. Jenis-jenis Ekstraksi

Proses ekstraksi dapat dilakukan secara panas dan secara dingin. Ekstraksi secara panas yaitu dengan metode refluks dan destilasi uap air, sedangkan ekstraksi dingin yaitu dengan maserasi, perkolasi dan soxhletasi (Sudjadi, 1988).

a. Ekstraksi Secara Maserasi

Maserasi adalah cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar.

Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan (Dirjen POM, 1986).

(32)

17 Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, strirak dan lain-lain.

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian.

Keuntungan cairan penyari dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaan lama dan penyariannya kurang sempurna.

Pada penyarian dengan cara maserasi, perlu dilakukan pengadukan.

Pengadukan diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia, sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel.

Hasil penyarian dengan cara maserasi perlu dibiarkan selama waktu tertentu.

Waktu tersebut diperlukan untuk mengendapkan zat-zat yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari seperti malam dan lain-lain (Dirjen POM, 1986).

Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya : 1) Digesti

Digesti adalah maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40o-50o C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.

(33)

Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain :

a) Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan- lapisan batas.

b) Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan. Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan berbanding terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan. Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik.

2) Maserasi dengan mesin pengaduk

Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus menerus, waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.

3) Remaserasi

Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.

4) Maserasi melingkar

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu bergerak dan menyebar.

Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.

(34)

19 Keuntungan cara ini adalah :

a) Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas

b) Cairan penyari akan secara seragam, sehingga akan memperkecil kepekatan setempat

c) Waktu yang diperlukan lebih pendek.

5) Maserasi melingkar bertingkat

Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (Dirjen POM, 1986).

b. Ekstraksi Secara Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.

Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut :

Serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang dibagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan. Kekuatan yang berperang pada perkolasi antara lain: Gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (Friksi).

(35)

Cara perkolasi lebih baik dibandingkan cara maserasi karena :

a. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.

b. Ruangan di antara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

Alat yang digunakan untuk perkolasi desebut perkolator. Cairan yang digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum. Larutan zat aktif yang keluar dari perkulator disebut sari atau perkolat, sedang sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi. Bentuk perkolator ada 3 macam yaitu perkolator berbentuk tabung, perkolator berbentuk paruh, dan perkolator berbentuk corong. Pemilihan perkolator tergantung pada jenis serbuk simplisia yang akan disari. Pada pembuatan tingtur dan ekstrak cair, jumlah cairan penyari yang tersedia lebih besar dibandingkan jumlah cairan penyari yang diperlukan untuk melarutkan zat aktif. Pada keadaan tersebut, pembuatan sediaan digunakan perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi (Dirjen POM, 1986).

1. Reperkolasi

Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari, maka cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Pada perkolasi dilakukan pemekatan sari dengan pemanasan. Pada reperkolasi tidak dilakukan pemekatan. Reperkolasi

(36)

21 dilakukan dengan cara: simplisia dibagi dalam beberapa perkolator pertama dipisahkan menjadi perkolat 1 dan sari selanjutnya disebut susulan 2. Susulan 2 digunakan untuk menyari perkolator 2. Hasil perkolator kedua dipisahkan menjadi perkolat dua dan sari selanjutnya disebut susulan 2. Pekerjaan tersebut diulang sampai mendapat perkolat yang diinginkan. Untuk cara reperkolasi dapat dilakukan pada herba timi.

a) Perkolasi bertingkat

Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia, maka terjadi aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai kebawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses selanjutnya tersebut akan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan pertama dan pada tetesan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.

Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dilakukan cara perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna. Sebaliknya serbuk simplisia yang baru, disari dengan perkolat jenuh. Dengan demikian akan diperoleh perkolat akhir yang jenuh. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.

Cara ini cocok jika digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar diperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan. Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan:

1) Jumlah perkolator yang diperlukan

2) Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi 3) Jenis cairan penyari

(37)

4) Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi 5) Besarnya tetesan dan lain-lain.

Perkolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan dengan perkolator biasa. Perkolator ini harus dapat diatur sehingga:

a) Perkolat dari suatu perkolator dapat dialirkan ke perkolator lainnya b) Ampas dengan mudah dapat dikeluarkan (Dirjen POM, 1986).

c. Ekstraksi Secara Refluks

Proses yang diuraikan dimuka adalah proses untuk menghasilkan ekstrak cair, yang akan dilanjutkan dengan proses diatas. Cairan penyari dipanaskan hingga mendidih, penyari akan naik keatas melalui serbuk simplisia tiap penyari akan mengembun karena didinginkan oleh pendingan balik embun turun melalui serbuk simplisia sambil melarutkan zat aktifnya dan kembali ke labu cairan akan menguap kembali berulang proses seperti diatas (Dirjen POM, 1986).

Keuntungan:

a. Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit, dan secara langsung diperoleh hasil yang lebih pekat.

b. Serbuk simplisia disari oleh cairan penyari yang murni, sehingga dapat menyari zat aktif lebih banyak.

c. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan, tanpa menambah volume cairan penyari.

(38)

23 Kerugian:

a. Larutan dipanaskan terus menerus, sehingga zat aktif yang tidak tahan pemanasan kurang cocok. Ini dapat diperbaiki dengan menambah peralatan untuk mengurangi tekanan udara.

b. Cairan penyari dididihkan terus menerus, sehingga cairan penyari yang baik harus murni atau campuran azeotrop (Dirjen POM,1986).

d. Ekstraksi Secara Destilasi Uap

Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih pada tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut maka penyarian dilakukan dengan destilasi uap.

Dengan adanya uap zat air yang masuk, maka tekanan kesetimbangan uap zat kandungan akan diturunkan menjadi sama dengan tekanan bagian dalam sistem, sehingga produk akan terdestilasi dan terbawa oleh uap air yang mengalir. Destilasi uap bukan semata-mata suatu proses penguapan pada titik didihnya, tetapi suatu proses perpindahan massa ke suatu media yang bergerak. Uap jenuh yang membasahi permukaan bahan, melunakkan jaringan dan menembus ke dalam melalui dinding sel dan zat aktif akan pindah ke rongga uap air yang aktif dan selanjutnya akan pindah ke rongga uap yang bergerak melalui antar fase. Proses ini disebut hidrodifusi (Dirjen POM, 1986).

(39)

e. Infundasi

Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit. Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.

Cara ini sangat sederhana dan sering digunakan oleh perusahaan obat tradisional. Dengan beberapa modifikasi, cara ini sering digunakan untuk membuat ekstrak.

Infus dibuat dengan cara:

a. Membasahi bahan bakunya, biasanya dengan air 2 kali bobot bahan, untuk bunga 4 kali bobot bahan dan untuk keragen 10 kali bobot bahan.

b. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit pada suhu 90o- 98o C. Umumnya untuk 100 bagian sari diperlukan 10 bagian bahan.

c. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambah bahan kimia misalnya:

1) Asam sitrat

2) Kalium atau natrium karbonat

3) Penyarian dilakukan pada saat cairan masih panas, kecuali bahan yang mengandung bahan yang mudah menguap (Dirjen POM, 1986).

(40)

25 E. Toksisitas

Toksisitas adalah efek berbahaya dari suatu bahan obat pada organ target. Uji toksisitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan zat yang akan diuji. Adapun sumber zat toksik dapat berasal dari bahan alam maupun sintesis (Anonim, 2011).

Toksisitas diidentifikasikan sebagai kemampuan suatu zat untuk menimbulkan kerusakan. Toksisitas merupakan kemampuan racun untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk ke dalam tubuh atau organ yang rentan terhadapnya (Soemirat, 2009).

Toksisitas merupakan suatu sifat relatif dari zat kimia dan sejauh menyangkut diri manusia secara langsung maupun tidak langsung. Toksisitas selalu menunjukkan ke suatu efek berbahaya atau mekanisme biologi tertentu. Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa dipergunakan dalam membandingkan suatu zat kimia lebih toksik dari zat kimia lainnya. Perbandingan antara zat kimia seperti itu sangat tidak informatif, kecuali jika pernyataan itu melibatkan informasi tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya. Karena itu, pendekatan toksikologi adalah dari segi tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem biologi dengan penekanan pada sistem mekanisme efek berbahaya zat kimia itu dan kondisi dimana efek berbahaya itu terjadi. Kematian merupakan salah satu diantara beberapa kriteria toksisitas. Salah satu caranya ialah menggunakan senyawa dengan dosis maksimal, kemudian kematian hewan uji dicatat. Angka kematian hewan dihitung sebagai harga median Lethal Dose (LD50) atau median Lethal Concentration (LC50).

(41)

Toksisitas diukur dengan mengamati kematian pada hewan coba. Kematian merupakan salah satu diantara beberapa kriteria toksisitas. Salah satu caranya ialah menggunakan senyawa dengan dosis maksimal, kemudian kematian hewan uji dicatat. Dengan adanya kenyataan bahwa beberapa zat kimia akan menimbulkan kematian dalam dosis mikrogram, maka zat kimia seperti itu biasanya dianggap sebagai sangat toksik (beracun) zat kimia yang lain mungkin relatif kurang berbahaya setelah diberikan dengan dosis yang melebihi beberapa gram karena mungkin banyak kisaran kadar atau dosis berbagai zat kimia yang menghasilkan bahaya, maka telah dirumuskan penggolongan toksisitas atas dasar jumlah besarnya zat kimia yang diperlukan untuk menimbulkan bahaya.

Suatu contoh penggolongan tersebut yaitu (Loomis, 1978):

a. Luar biasa toksik (1 mg/Kg atau kurang) b. Sangat toksik (1-59 mg/Kg)

c. Cukup (50-500 mg/Kg) d. Sedikit (0,5-5 mg/Kg)

e. Praktis tidak toksik (5-15 mg/Kg)

f. Relatif kurang berbahaya (lebih dari 15 g/Kg)

Penggolongan ini hanya berlaku untuk harga LD50 pada hewan percobaan untuk harga LC50 hanya dibedakan menjadi (Meyer et al., 1982):

a. Toksik (LC50 < 1000 µg/ml) b. Tidak toksik (LC50 > 1000 µg/ml)

(42)

27 Meyer, et al., (1982) menyatakan bahwa senyawa uji dikatakan toksik jika harga LC50 lebih kecil dari 1000 μg/mL. Penentuan potensi bioaktif dilakukan dengan membandingkan nilai LC50 masing-masing ekstrak dengan ketentuan McLaughin (1991):

a. LC50 < 30 ppm ekstrak berpotensi sebagai antikanker (sitotoksik) b. LC50 30-200 ppm ekstrak berpotensi sebagai anti mikroba

c. LC50 200-1000 ppm ekstrak berpotensi sebagai pestisida

Taraf toksisitas dapat digunakan untuk menilai toksisitas suatu racun yang sedang diuji coba pada berbagai organisme. Tetapi toksisitas ini sangat beragam bagi berbagai organisme, tergantung dari beberapa faktor antara lain (Soemirat, 2009) :

1. Spesies uji

2. Cara racun memasuki tubuh 3. Frekuensi dan lamanya paparan 4. Konsentrasi zat pemapar

5. Bentuk, sifat kimia/fisika zat pencemar

6. Kerentanan berbagai spesies terhadap pencemar

Ada 2 jenis sifat toksik, yakni reversible dan irreversible. Ciri-ciri efek toksik reversible meliputi (Priyanto, 2009) :

1. Bila jumlah zat toksik dalam tempat kerjanya atau reseptornya telah habis, maka reseptor akan kembali seperti keadaan semula.

2. Efek toksik yang diakibatkan akan cepat hilang atau kembali ke normal.

(43)

3. Ketoksikan sangat tergantung pada dosis, kecepatan absorpsi, distribusi, dan eliminasi zat racun.

Sedangkan ciri-ciri dari sifat efek toksik yang irreversible adalah (Priyanto, 2009):

1. Kerusakan yang terjadi sifatnya permanen.

2. Paparan berikutnya akan menimbulkan kerusakan yang sifatnya sama sehingga memungkinkan terjadinya akumulasi efek toksik.

3. Paparan dengan takaran yang sangat kecil dalam jangka panjang akan menimbulkan efek toksik yang sama efektifnya dengan yang ditimbulkan oleh paparan dosis besar jangka pendek. Ini menunjukkan zat yang dapat menimbulkan efek toksik irreversible adalah zat racun yang terakumulasi atau sangat sukar dieliminasi.

Uji toksisitas dibagi 2 golongan yaitu uji toksisitas tak khas (akut, subkronis dan kronis) dan uji toksisitas khas yang meliputi potensi teratogenik, mutagenik dan karsinogenik.

a. Uji Toksisitas Akut.

Uji ini dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa yang akan terjadi dalam masa pemejanan dengan waktu yang singkat atau pemberiannya dengan takaran tertentu. Uji ini dilakukan dengan cara pemberian konsentrasi tunggal senyawa uji pada hewan uji. Takaran konsentrasi yang dianjurkan paling tidak empat peringkat konsentrasi, berkisar dari konsentrasi terendah yang tidak atau hampir tidak mematikan seluruh hewan uji sampai dengan konsentrasi tertinggi yang dapat

(44)

29 mematikan seluruh atau hampir seluruh hewan uji. Biasanya pengamatan dilakukan selama 24 jam, kecuali pada kasus tertentu selama 7-14 hari.

b. Uji Toksisitas Subkronis atau Subakut

Dilakukan dengan memberikan zat kimia yang sedang diuji tersebut secara berulang-ulang terhadap hewan uji selama kurang dari 3 bulan. Uji ini ditujukan untuk mengungkapkan spektrum efek toksik senyawa uji, serta untuk melihatkan apakah spektrum toksik itu berkaitan dengan takaran konsentrasi.

c. Uji Toksisitas Kronis

Dilakukan dengan memberikan zat kimia secara berulang-ulang pada hewan uji selama lebih dari 3 bulan atau sebagian besar dari hidupnya. Meskipun pada penelitian digunakan waktu lebih pendek, tetapi tetap lebih lambat dibandingkan Uji Toksisitas Akut maupun Uji Toksisitas Sub Akut.

Belakangan ini telah banyak pengujian tentang toksisitas yang dikembangkan untuk pencarian produk alam yang potensial sebagai bahan antineoplastik. Metode pengujian tersebut antara lain Simple Brench-Top Bioassy (terdiri dari Brine Shrimp Lethality test, Lemna Minor Bioassy dan Crown-Gall Potato disc bioassay) dan pengujian pada sel telur Bulubabi.

Dengan berdasarkan pemikiran bahwa efek farmakologi adalah toksikologi sederhana pada dosis yang rendah dan sebagian besar senyawa antitumor adalah sitotoksik, maka Brine Shrimp Lethality Test dapat digunakan sebagai uji pendahuluan senyawa antitumor. Senyawa yang mempunyai kemampuan membunuh sel kanker dalam kultur sel. Pengujian ini adalah pengujian letalitas yang sederhana

(45)

dan tidak spesifik untuk aktifitas tumor, tetapi merupakan indikator toksisitas yang baik dan menunjukan korelasi yang kuat dengan pengujian antitumor lainnya seperti uji sitotoksitas dan uji leukemia tikus. Karena kesederhanaan prosedur pengerjaan, biaya yang rendah serta korelasinya terhadap pengujian toksisitas dan pengujian antitumor menjadikan Brine Shrimp Lethality Test sebagai uji hayati pendahuluan untuk aktifitas antitumor yang sesuai dan dapat dilakukan secara rutin di Laboratorium dengan fasilitas sederhana. Uji toksisitas sebagai skrining awal dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain adalah metode Brine Shrimp Lethality Test (BST). Metode BST adalah suatu metode uji guna untuk menentukan toksisitas suatu senyawa bahan alam dengan cepat, murah dan cukup akurat untuk penapisan ekstrak bahan aktif dengan menggunakan hewan uji Artemia Salina Leach yang berumur 48 jam.

1) Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)

Pengujian efek toksik dengan larva udang Artemia salina dihitung dengan metode LC50 yang mana kematian setelah 6 jam pemaparan dimasukkan dalam kategori LC50 akut dan pemaparan setelah 24 jam digolongkan LC50 kronis, dan dalam pengerjaannya biasanya digunakan LC50 setelah 24 jam mengingat kelarutan ekstrak yang sukar larut membutuhkan waktu yang lebih panjang (McLaughlin 1991, 2: 107-110).

Uji toksisitas menggunakan larva A. salina (Brine Shrimp Lethality Test) sering dianalogkan dengan kemampuan suatu bahan obat yang memiliki efek antikanker. Metode ini disarankan untuk digunakan pada skrining senyawa bioaktif

(46)

31 bahan alam karena menunjukkan adanya korelasi dengan metode sitotoksik in vitro lainnya (Carballo, et al., 2002).

Metode ini sering digunakan untuk praskrining terhadap senyawa aktif yang terkandung di dalam ekstrak tanaman karena murah, mudah (tidak perlu kondisi aseptis) dan dapat dipercaya. Sifat sitotoksik dapat diketahui berdasarkan jumlah kematian larva pada konsentrasi tertentu. Uji pendahuluan toksisitas digunakan untuk mengetahui toksin jamur, toksisitas ekstrak tanaman, logam berat, toksin cyanobacteria, pestisida, dan uji sitotoksisitas bahan pembuatan gigi (Carballo, et al., 2002).

Uji toksisitas akut dengan hewan uji A. Salina dapat digunakan sebagai uji pendahuluan pada penelitian yang mengarah ke uji sitotoksik, karena ada kaitan antara uji sitotoksik akut dengan uji sitotoksik jika harga LC50 dari toksisitas akut <

1000 µg/mL (Mayer et al.,1982).

2) Lemna Minor Bioassay

Metode ini terutama digunakan sebagai uji pendahuluan terdapat bahan yang dapat menghambat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan pengujian ini dapat diamati bahwa senyawa antitumor alami juga dapat menghambat pertumbuhan Lemna, walaupun korelasinya dengan pengujian antitumor lainnya kurang baik. Oleh karena itu pengujian ini lebih diarahkan untuk mencari herbisida dan stimulant pertumbuhan tanaman baru.

(47)

3) Crown-Gall Potato Bioassay

Metode ini merupakan metode pengujian toksisitas yang relative cepat pengerjaannya, tidak mahal, tidak memerlukan hewan percobaan serta menunjukkan korelasi yang sangat baik dengan uji antitumor lainnya. Crown-Gall merupakan suatu penyakit neoplastik pada tumbuhan yang disebabkan bakteri gram negatif Agrobacterium tumefaciens yang selanjutnya menyebabkan pertumbuhan jaringan tumor secara otonom dan tidak dipengaruhi oleh mekanisme kontrol normal tumbuhan. Pengujian dilakukan dengan mengukur kemampuan suatu senyawa menghambat pertumbuhan tumor Crown-Gall pada umbi kentang yang diinfeksikan dengan bakteri Agrobacterium tumefaciens.

F. Lethal Concentration (LC50)

Suatu variasi dari LD50 adalah LC50 yaitu konsentrasi bahan yang menyebabkan kematian 50% organisme yang terpapar. Parameter ini sering digunakan jika suatu organisme dipaparkan terhadap konsentrasi bahan tertentu dalam air atau udara yang dosisnya tidak diketahui. Dalam hal ini waktu pemaparan dan konsentrasi harus dinyatakan dengan jelas (Mukono, 2005).

Nilai kematian 50% per hari (LC50 dalam unit waktu) ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi antara log konsentrasi dan mortalitas (%) (Ismail, 2007).

Klasifikasi Lethal Concentration 50 (LC50) berdasarkan ketoksikan relatifnya yaitu (Meyer, 1982) :

1. Sangat toksik pada LC50 = 0-1 µg/ml

(48)

33 2. Toksik pada LC50 = 1-10 µg/ml

3. Medium toksik pada LC50 = 10-100 µg/ml 4. Ketoksikan rendah pada LC50 = 100-1000 µg/ml G. Tinjauan Islam Mengenai Uji Toksisitas

Kesehatan merupakan sumber daya yang paling berharga, serta kekayaan yang paling mahal harganya. Ada sebagian orang yang menganggap bahwa agama tidak memiliki kepedulian terhadap kesehatan manusia. Anggapan semacam ini didasari oleh pandangan bahwa agama hanya memperhatikan aspek-aspek rohania belaka tanpa mengindahkan aspek jasmania. Agama hanya memperhatikan hal-hal yang bersifat ukhrawi dan lalai terhadap segala sesuatu yang bersifat duniawi. Anggapan seperti ini tidak dibenarkan dalam ajaran agama Islam. Sebab pada kenyataannya Islam merupakan agama yang memperhatikan dua sisi kebaikan yaitu kebaikan duniawi dan ukhrawi.

Islam senantiasa mengisyaratkan kepada manusia untuk mengembangkan dan memperluas ilmu pengetahuan. Hal inilah yang mendorong umat muslim untuk mengenal banyak ilmu salah satunya adalah ilmu pengobatan yang menggunakan bahan alam khususnya tumbuhan. Peradaban islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat- obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim juga tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

(49)

Para ahli dalam bidang ini mengetahui formula obat-obatan, karakteristik dan cara penggunaannya. Diiringi dengan keyakinan mereka bahwa obat itu hanya penyebab perantara kesembuhan saja. Dan Allah lah yang menjadikan penyebab itu semua. Oleh karena itu, hukumnya boleh mempelajari ilmu pengobatan ini dan berobatlah dengannya (Ar-Rumaikhon, 2008).

Allah berfirman dalam QS al-Luqman/31 ayat 10:

Terjemahnya:

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Departemen Agama RI, 2005: 58).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala yang diciptakan di bumi ini termasuk tumbuh-tumbuhan ada manfaatnya, tugas manusia mencari dan meneliti manfaat dari tumbuh-tumbuhan tersebut.

Allah SWT menciptakan tumbuhan dan menumbuhkannya di bumi tak lain untuk kebaikan bagi manusia karena banyak tumbuhan yang memberikan banyak manfaat bagi manusia. Untuk itu pentingnya ilmu pengetahuan dalam hal ini.

Sehingga pengolahan dan pemanfaatan tanaman termasuk tanaman Klika Anak Dara ini dapat dilakukan secara maksimal dan sesuai dengan tuntutan Islam.

(50)

35 Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyatullahu Anhu bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda

ﱠﻞَﺟ َﻭ ﱠﺰَﻋ ِ ﱠX ِﻥْﺫِﺈِﺑ َﺃ َﺮَﺑ ِءﺍﱠﺪﻟﺍ ُءﺍ َﻭَﺩ َﺐﻴ ِﺻُﺃ ﺍَﺫِﺈَﻓ ٌءﺍ َﻭَﺩ ٍءﺍَﺩ ِّﻞُﻜِﻟ

Artinya :

“Setiap penyakit ada obatnya. Dan jika suatu obat mengena tepat pada penyakitnya ia akan sembuh dengan izin Allah ta’ala”.

Hadist tersebut menjelaskan bahwa semua penyakit memiliki obat dan obat yang diberikan sesuai dengan penyakitnya. Oleh karena itu manusia harus senantiasa berusaha dan mencari tahu, meneliti obat untuk memperoleh pengobatan yang sesuai.

Namun, tidak lupa bahwa kesembuhan dari suatu penyakit hanya karena izin Allah swt.

Konsep pengobatan Islam adalah menggunakan obat yang halal dan baik. Ada hal yang penting dari apa yang disampaikan Rasulullah saw, bahwa tidak mungkin obat-obat yang digunakan seseorang adalah sesuatu yang haram, karena pastinya ketika Allah menciptakan suatu penyakit, Allah juga menurunkan obatnya, namun karena Allah Maha Suci (Al-Quddus), tidaklah mungkin Allah akan menurunkan penawarnya dari benda yang haram.

Hal ini patut menjadi perhatian, karena perihal halal haram menjadi suatu hal yang sangat penting dalam Islam yang bisa membuat amalan seseorang tidak diterima oleh Allah swt karena permasalahan obat yang diminum. Selain itu, suatu obat selain halal juga baik, antara lain tidak membawa mudharat yang akan mencacatkan tubuh atau berbau takhayul, bid’ah, dan khurafat.

(51)

Dalam pengobatan Islam, dianjurkan untuk tidak melakukan pengobatan yang membawa kemudharatan dan menimbulkan masalah baru seperti merusak tubuh.

Terlebih bila pengobatan tersebut bisa mengakibatkan pelakunya jatuh dalam jurang kekafiran. Oleh karena itu, dalam kitan Thibbun Nabawi diajurkan semampu mungkin umat manusia menjaga tubuh kesehatan secara jasadi dan rohani dengan tetap berpegang teguh pada tuntunan syariat Islam dan landasan normatif (Zaidul Akbar, 2011).

Islam sangat menghargai bentuk-bentuk pengobatan yang didasari oleh ilmu pengetahuan, penelitian, eksperimen ilmiah dan hukum sebab akibat. Pengobatan menurut Rasulullah adalah pengobatan yang merujuk pada ilmu pengetahuan dan eksperimen, bukan pada perkiraan dan fatamorgana belaka. Rosulullah SAW bersabda :

ٌﻦِﻣﺎَﺿ َﻮُﻬَﻓ َﻚِﻟَﺫ َﻞْﺒَﻗ ﱞﺐِﻁ ُﻪْﻨِﻣ ْﻢَﻠْﻌُﻳ ْﻢَﻟ َﻭ َﺐﱠﺒَﻄَﺗ ْﻦَﻣ

Artinya :

“barang siapa yang mengobati tanpa pengetahuan, maka ia tidak menguasai ilmu pengobatan, maka ia harus bertanggung jawab (HR,Abu Daud)”.

Dengan kalimat “maka ia harus bertanggung jawab” tersebut dapat dipahami sebagai isyarat Allah swt kepada ummatNya untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuannya.

Dalam Islam kita dituntut untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam surat al-Anbiyaa’ ayat 7:

(52)

37

Terjemahnya:

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.

Dari ayat tersebut kita sebagai umat manusia senantiasa diperintahkan untuk menuntut dan memperdalam ilmu pengetahuan dengan bertanya kepada orang-orang yang berilmu, membaca banyak buku serta melakukan berbagai penelitian untuk mengetahui lebih banyak lagi.

Kebutuhan akan obat-obatan di era modern seperti sekarang ini sangat besar seiring dengan munculnya berbagai macam penyakit dikalangan masyarakat (Ali Al- Ju’aisin 2001, 59).

Hal ini juga mengajak kita berfikir bahwa penyakit akan sembuh dengan izin Allah SWT sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Asy-Syu’araa (26) ayat 80:

Terjemahnya:

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,”.

Jadi setiap penyakit yang diturunkan oleh Allah swt ada obatnya, dan setiap pengobatan itu harus sesuai dengan penyakitnya. Kesembuhan seseorang dari penyakit yang diderita memang Allah swt yang menyembuhkan, akan tetapi Allah

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan kandungan kimia dari Tamarindus indica L tersebut maka akan dilakukan penelitian untuk mengetahui toksisitas dari ekstrak kloroform dan ekstrak metanol

Namun sampai saat ini belum ada penelitian yang menyatakannya secara ilmiah, maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti ekstrak benalu kopi dengan uji toksisitas

Analisis Kandungan Fitokimia Dari Uji Toksisitas Ekstrak Metanol Daun Soyogik (Sauraula bracteosa DC) Dengan Menggunakan Metode Maserasi.. Jurnal Ilmiah

Uji toksisitas yang dilakukan dengan metoda Brine Shrimps Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina Leach terhadap ekstrak total n-heksana, metanol,

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan potensi toksisitas akut ekstrak biji dan klika kelor terhadap larva udang dengan menggunakan metode

Uji toksisitas ekstrak metanol dan pigmen kasar (metanol-aseton dan fraksi dietil eter) dilakukan dengan menghitung nilai LC 50 -24 jam dengan metode uji BSLT (Brine Shrimp..

Telah dilakukan penelitian tentang Uji efek toksisitas ekstrak etanol akar awar-awar (ficus septica Burm.F) dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT), penelitian ini

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan potensi toksisitas akut ekstrak biji dan klika kelor terhadap larva udang dengan menggunakan metode