• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI STEGANOGRAFI MODIFIED LEAST SIGNIFICANT BIT (MLSB) UNTUK ENKRIPSI PESAN PADA CITRA DENGAN ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI STEGANOGRAFI MODIFIED LEAST SIGNIFICANT BIT (MLSB) UNTUK ENKRIPSI PESAN PADA CITRA DENGAN ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

SKRIPSI

SHINDI WULANDARI 130803005

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

SKRIPSI

Diajukan untk melengkapi tugas dan memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains

SHINDI WULANDARI 130803005

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(3)

Judul : Implementasi Steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) Untuk Enkripsi Pesan Pada Citra Dengan Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher

Kategori : Skripsi

Nama : Shindi Wulandari

Nomor Induk Mahasiswa : 130803005

Program Studi : Sarjana (S1) Matematika

Departemen : Matematika

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara

Disetujui di Medan, Agustus 2017

Komisi Pembimbing:

Pembimbing 2, Pembimbing 1,

Dr. Mardiningsih, M.Si Dr. Syahriol Sitorus, M.IT NIP. 19630405 198811 2 001 NIP. 19710310 199703 1 004

Disetujui oleh

Departemen Matematika FMIPA USU Ketua,

Dr. Suyanto, M.Kom

(4)

IMPLEMENTASI STEGANOGRAFI MODIFIED LEAST SIGNIFICANT BIT (MLSB) UNTUK ENKRIPSI PESAN PADA CITRA DENGAN

ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Agustus 2017

SHINDI WULANDARI 130803005

(5)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Pada skripsi ini penulis mengambil judul tentang Implementasi Steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) Untuk Enkripsi Pesan Pada Citra Dengan Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak. Sehingga dengan segala hormat penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibunda tercinta Syamsinar Miati dan ayahanda tercinta Berlin Purba serta kedua saudara penulis yaitu abangda tercinta Ade Linhar Purba dan adik tercinta Shella Miranda, atas segala pengertian, kesabaran, dukungan, semangat, dan kasih sayang yang telah diberikan kepada penulis. Mereka adalah penyemangat terbesar dalam hidup penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Syahriol Sitorus, M.IT, selaku dosen pembimbing satu yang berkenan dan rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran, guna memberikan petunjuk, arahan, dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini.

3. Ibu Dr. Mardiningsih, M.Si selaku dosen pembimbing dua yang juga berkenan dan rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran, guna memberikan petunjuk, arahan, dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini.

4. Bapak Syawaluddin, M.IT dan Bapak Drs. Marihat Situmorang, M.Kom, selaku komisi penguji atas masukan dan saran yang telah diberikan demi perbaikan skripsi ini.

5. Bapak Dr. Kerista Sebayang, MS, selaku dekan FMIPA USU.

(6)

penulis yang membuat penulis terinspirasi untuk masuk di jurusan matematika ini.

8. Erfi Indriani, Putri Annisa, M. Rizky Ananda, dan Kakanda Fariza Zulmividya, sahabat penulis yang menemani perjuangan penulis dari awal hingga saat ini, selalu memotivasi serta memberikan kekuatan spiritual.

9. Abangda Hafizh Al-Kautsar Aidilof, Abangda Zulfikri Lubis, dan Kakanda Hasina Tony. Abang−kakak senior yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi mengenai metode yang penulis gunakan dalam skripsi ini.

10. Sahabat-sahabat Muslimah Kece (Dilla, Indri, Fitri, Mia, dan Dhirah) dan Ghaaziyah Circle. Walau baru mengenal mereka selama perkuliahan ini, namun mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi penulis.

11. Teman-teman matematika 2013 tersayang terutama Ema Sri Rezeki dan Agustiany, serta teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu penulis dengan memberikan dukungan dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT yang akan membalas segalanya. Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam pembuatan skripsi ini, baik dalam teori maupun penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dari pembaca demi perbaikan bagi penulis. Semoga segala kebaikan dalam bentuk bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Agustus 2017 Penulis

Shindi Wulandari

(7)

ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

ABSTRAK

Steganografi merupakan teknik menyembunyikan pesan rahasia di dalam media digital agar orang lain tidak menyadari ada suatu pesan rahasia di dalam media tersebut. Agar pesan rahasia yang disembunyikan lebih aman, dapat menggunakan teknik kriptografi untuk menyandikan pesan rahasia ke dalam karakter yang tidak dapat mengerti maknanya. Algoritma yang digunakan dalam penelitian ini adalah algoritma Steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) dan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher. MLSB merupakan metode LSB yang telah dimodifikasi dengan mengubah data dari bilangan 8 bit menjadi 5 bit, kemudian disisipkan ke dalam cover image. Teknik Triple Transposition Vigenere Cipher juga merupakan modifikasi dari teknik Vigenere Cipher dengan melakukan proses substitusi dan transposisi sebanyak 3 kali. Meskipun hasil yang diperoleh sama dengan panjang plainteks, cipherteks hasil enkripsi dengan metode ini agak sulit untuk dipecahkan karena dilakukan tiga kali proses pengenkripsian pesan yang setiap plainteksnya memiliki kunci yang berbeda. Kualitas citra steganografi dengan metode ini menunjukkan kualitas yang cukup baik, karena nilai Means Square Error (MSE) yang dihasilkan sebesar 3.9 yang artinya hanya sedikit nilai piksel error yang ditimbukan akibat penyisipan pesan menggunakan metode MLSB. File citra sebelum dan sesudah disisipi pesan, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dan pesan yang diekstrak tidak mengalami perubahan.

Kata Kunci: Kriptografi, Steganografi, Triple Transposition Vigenere Cipher, Modified Least Significant Bit (MLSB).

(8)

ENCRYPTION WITH TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER ALGORITHM

ABSTRACT

Steganography is a technique to hide secret messages in digital media so that others don’t realize there is a secret message in the media. For hidden secret messages to be more secure, use Cryptographic techniques to encrypt secret messages into characters who can’t understand it’s meaning. Algorithm used in this research is Steganography Modified Least Significant Bit (MLSB) algorithm and Triple Transposition Vigenere Cipher algorithm. MLSB is a modified LSB method by converting data from an 8 bit number to 5 bit, then inserted into the cover image. Triple Transposition Vigenere Cipher Technique is also a modification of Vigenere Cipher technique by substitution and transposition process 3 times. Although the results obtained are the same as the length of the plaintext, the encrypted ciphertext with this method is somewhat difficult to solve because three encryption processes are performed which each plaintext has a different key. The quality of steganographic image with this method shows good enough quality, because the value of Means Square Error (MSE) generated is 3.9 which means only a few pixel error value caused by message insertion using MLSB method. The image file before and after the message inserted, didn’t show any significant difference and the extracted message didn’t change.

Keywords: Cryptography, Steganography, Triple Transposition Vigenere Cipher, Modified Least Significant Bit (MLSB).

(9)

Halaman

PERSETUJUAN i

PERNYATAAN ii

PENGHARGAAN iii

ABSTRAK v

ABSTRACT vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Perumusan Masalah 3

1.3 Batasan Masalah 4

1.4 Tujuan Penelitian 4

1.5 Manfaat Penelitian 4

1.6 Kerangka Pemikiran 4

1.7 Metodologi Penelitian 5

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Keamanan Informasi 7

2.2 Kriptografi 7

2.2.1 Pengertian Kriptografi 7

2.2.2 Sejarah Kriptografi 8

2.2.3 Terminologi dan Konsep Dasar Kriptografi 9 2.2.4 Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher 12

2.3 Steganografi 15

2.3.1 Pengertian Steganografi 15

2.3.2 Sejarah Steganografi

2.3.3 Terminologi dan Konsep Dasar Steganografi 16

2.3.4 Proses Steganografi 16

2.3.5 Modified Least Significant Bit (MLSB) 17 2.4 Citra Digital

2.4.1 Pengertian Citra Digital 18

2.4.2 Jenis-jenis Citra Digital 18

2.5 Means Square Error (MSE) 20

2.6 Penelitian Terdahulu 21

BAB 3 ANALISI DAN PERANCANGAN APLIKASI

3.1 Analisis Sistem 23

(10)

BAB 4 IMPLEMENTASI

4.1 Kebutuhan Perangkat Lunak dan Perangkat Keras 33

4.2 Implementasi 33

4.2.1 Proses Enkripsi dan Encoding 34

4.2.2 Proses Decoding dan Dekripsi 38

4.3 Analisis dalam Aplikasi 41

4.4 Means Square Error (MSE) 66

4.5 Hasil Pengujian 67

4.5.1 Hasil Kriptografi 67

4.5.2 Hasil Steganografi 68

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 73

5.2 Saran 73

DAFTAR PUSTAKA 75

LAMPIRAN 77

(11)

Nomor Tabel

Judul Halaman

2.1 Hasil Penelitian Terdahulu 21

4.1 Proses Memasukkan Plainteks 1 42

4.2 Proses Transposisi Pertama 42

4.3 Kode ASCII Plainteks dan Kunci Pertama 43

4.4 Hasil Konversi Plainteks dan Kata Kunci Pertama 44 4.5 Hasil Penjumlahan Plainteks dengan Kata Kunci Pertama 44 4.6 Hasil Pengurangan Plainteks pada Proses Pertama 45 4.7 Pengembalian Plainteks ke Bentuk Semula pada Proses

Pertama

45 4.8 Hasil Proses Enkripsi pada Transposisi Pertama 46

4.9 Proses Memasukkan Plainteks 2 46

4.10 Proses Transposisi Kedua 47

4.11 Kode ASCII Plainteks dan Kunci Kedua 47

4.12 Hasil Konversi Plainteks dan Kata Kunci Kedua 48 4.13 Hasil Penjumlahan Plainteks dengan Kata Kunci Kedua 49 4.14 Pengembalian Plainteks ke Bentuk Semula pada Proses

Kedua

49 4.15 Hasil Proses Enkripsi pada Transposisi Kedua 50

4.16 Proses memasukkan plainteks 3 51

4.17 Proses Transposisi Ketiga 51

4.18 Kode ASCII Plainteks dan Kunci Ketiga 52

4.19 Hasil Konversi Plainteks dan Kata Kunci Ketiga 52 4.20 Hasil Penjumlahan Plainteks dengan Kata Kunci Ketiga 53 4.21 Hasil Pengurangan Plainteks pada Proses Ketiga 53 4.22 Pengembalian Plainteks ke Bentuk Semula pada Proses

Ketiga 54

4.23 Hasil Proses Enkripsi pada Transposisi Ketiga 54

4.24 Nilai RGB Citra Cover 57

4.25 Citra Cover Dalam Bentuk Biner 58

4.26 Biner Citra Setelah Disisipkan Pesan 58

4.27 Nilai Piksel Citra Stego 59

4.28 Hasil Ekstraksi Citra Stego 60

4.29 Pengambilan Karakter Control Symbol dari Komponen RGB 60 4.30 Konversi Control Symbol Menjadi Nilai Hexadecimal 60 4.31 Hasil Proses Dekripsi pada Substitusi Ketiga 63 4.32 Proses Dekripsi pada Proses Substitusi Ketiga 63 4.33 Pengurangan Plainteks dan Kunci pada Proses Dekripsi

Ketiga 64

4.34 Pengurangan Plainteks dengan Kata Kunci pada Proses

(12)

4.37 Perbandingan antara Citra Cover dan Citra Stego 68 4.38 Kapasitas Maksimum Karakter yang Mampu Ditampung

Tanpa Merusak Citra Cover 70

4.39 Kapasitas Maksimum Citra 72

(13)

Nomor Gambar

Judul Halaman

1.1 Diagram Konsep Penyembunyian Pesan 5

2.1 Scytale, Media Kriptografi yang Digunakan Oleh Bangsa

Yunani Kuno 8

2.2 Mesin Enigma 9

2.3 (a) Plainteks; (b) Cipherteks 10

2.4 Skema Enkripsi dan Dekripsi 11

2.5 Proses Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher 12

2.6 Bujursangkar Vigenere Cipher 13

2.7 (a) Skema Encoding; (b) Skema Decoding 17

2.8 Control Symbol 17

2.9 (a) Citra Biner; (b) Representasi Citra Biner 19

2.10 Citra Grayscale 19

2.11 Citra Warna 20

3.1 (a) Flowchart Enkripsi dan Encoding; (b) Flowchart

Decoding dan Dekripsi 23

3.2 Flowchart Proses Enkripsi 25

3.3 Flowchart Proses Dekripsi 26

3.4 Flowchart Proses Encoding 29

3.5 Flowchart Proses Decoding 30

3.6 Flowchart Proses Perhitungan Means Square Error (MSE) 32

4.1 Menu Utama 34

4.2 Bebatuan.png 35

4.3 Halaman Enkripsi dan Encoding 1 35

4.4 Pop-up Window Pilih Gambar 1 36

4.5 Halaman Enkripsi dan Encoding 2 36

4.6 Halaman Enkripsi dan Encoding 3 37

4.7 Halaman Enkripsi dan Encoding 4 37

4.8 Pop-up Window Simpan Gambar 38

4.9 Bebatuan_Stego.png 38

4.10 Halaman Decoding dan Dekripsi 1 39

4.11 Pop-up Window Pilih Gambar 2 39

4.12 Halaman Decoding dan Dekripsi 2 40

4.13 Halaman Decoding dan Dekripsi 3 40

4.14 Halaman Decoding dan Dekripsi 4 41

4.15 Citra Cover 57

4.16 Citra Stego 59

4.17 Pixel Citra Cover dan Citra Stego 66

(14)

Nomor Lamp

Judul Halaman

1 Fungsi Menu Utama 77

2 Fungsi Enkripsi dan Encoding 79

3 Fungsi Decoding dan Dekripsi 84

4 Fungsi Means Square Error (MSE) 88

(15)

ALGORITMA TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER

ABSTRAK

Steganografi merupakan teknik menyembunyikan pesan rahasia di dalam media digital agar orang lain tidak menyadari ada suatu pesan rahasia di dalam media tersebut. Agar pesan rahasia yang disembunyikan lebih aman, dapat menggunakan teknik kriptografi untuk menyandikan pesan rahasia ke dalam karakter yang tidak dapat mengerti maknanya. Algoritma yang digunakan dalam penelitian ini adalah algoritma Steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) dan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher. MLSB merupakan metode LSB yang telah dimodifikasi dengan mengubah data dari bilangan 8 bit menjadi 5 bit, kemudian disisipkan ke dalam cover image. Teknik Triple Transposition Vigenere Cipher juga merupakan modifikasi dari teknik Vigenere Cipher dengan melakukan proses substitusi dan transposisi sebanyak 3 kali. Meskipun hasil yang diperoleh sama dengan panjang plainteks, cipherteks hasil enkripsi dengan metode ini agak sulit untuk dipecahkan karena dilakukan tiga kali proses pengenkripsian pesan yang setiap plainteksnya memiliki kunci yang berbeda. Kualitas citra steganografi dengan metode ini menunjukkan kualitas yang cukup baik, karena nilai Means Square Error (MSE) yang dihasilkan sebesar 3.9 yang artinya hanya sedikit nilai piksel error yang ditimbukan akibat penyisipan pesan menggunakan metode MLSB. File citra sebelum dan sesudah disisipi pesan, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dan pesan yang diekstrak tidak mengalami perubahan.

Kata Kunci: Kriptografi, Steganografi, Triple Transposition Vigenere Cipher, Modified Least Significant Bit (MLSB).

(16)

ENCRYPTION WITH TRIPLE TRANSPOSITION VIGENERE CIPHER ALGORITHM

ABSTRACT

Steganography is a technique to hide secret messages in digital media so that others don’t realize there is a secret message in the media. For hidden secret messages to be more secure, use Cryptographic techniques to encrypt secret messages into characters who can’t understand it’s meaning. Algorithm used in this research is Steganography Modified Least Significant Bit (MLSB) algorithm and Triple Transposition Vigenere Cipher algorithm. MLSB is a modified LSB method by converting data from an 8 bit number to 5 bit, then inserted into the cover image. Triple Transposition Vigenere Cipher Technique is also a modification of Vigenere Cipher technique by substitution and transposition process 3 times. Although the results obtained are the same as the length of the plaintext, the encrypted ciphertext with this method is somewhat difficult to solve because three encryption processes are performed which each plaintext has a different key. The quality of steganographic image with this method shows good enough quality, because the value of Means Square Error (MSE) generated is 3.9 which means only a few pixel error value caused by message insertion using MLSB method. The image file before and after the message inserted, didn’t show any significant difference and the extracted message didn’t change.

Keywords: Cryptography, Steganography, Triple Transposition Vigenere Cipher, Modified Least Significant Bit (MLSB).

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dunia informatika saat ini berkembang sangat pesat dan membawa dunia ke era teknologi, karena itulah saat ini informasi menjadi sangat penting. Maka mulai bermunculan berbagai media untuk mengakses informasi dan mengelola informasi sehingga banyak kemudahan-kemudahan yang kemudian didapat untuk mengakses suatu informasi. Dari kemudahan akses informasi ini membawa pengaruh terhadap tingkat keamanan informasi yang dapat berakibat pada keamanan pesan itu sendiri. Sehingga informasi penting yang seharusnya rahasia menjadi sangat beresiko diketahui dan disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak berhak. Hal itu menyebabkan munculnya rasa ketidakyakinan pada penerima maupun pengirim informasi tersebut. Terjadilah kekhawatiran penerima apakah informasi benar adanya dari sumber yang dimaksudkan, dan keraguan pengirim akankah informasi yang dikirim diterima oleh pihak yang dimaksudkan.

Bahkan berdasarkan CSI/FBI Computer Crime and Security Survey 2005, mayoritas perusahaan memberikan anggaran untuk pengembangan sistem dan keamanan data sekitar 5% dari total anggaran perusahaan tersebut. Salah satu contoh masalah keamanan komputer yang pernah terjadi di Amerika, kasus perusahaan film terkemuka di dunia, yakni Sony Pictures Entertaiment yang diretas oleh hacker yang disinyalir berasal dari Korea Utara.

Contoh lainnya di Indonesia, ada beberapa kasus sehubungan dengan kejahatan komputer. Salah satu kasusnya adalah seorang cracker Indonesia (yang dikenal dengan nama HC) tertangkap di Singapura ketika mencoba menjebol sebuah perusahaan di Singapura pada September dan Oktober 2000. Setelah berhasil membobol bank Lippo, kembali Fabian Clone beraksi dengan menjebol web milik Bank Bali. Perlu diketahui bahwa kedua bank ini memberikan layanan

(18)

Oleh karena itu dengan adanya kriptografi diharapkan informasi akan tetap terjaga kerahasiaannya hingga informasi tersebut sampai pada tujuannya, serta memberikan keyakinan pada penerima bahwa informasi tersebut memang benar berasal dari pengirim yang tepat begitu pula sebaliknya pengirim yakin bahwa penerima informasi adalah pihak yang tepat.

Kriptografi merahasiakan informasi dan menyandikannya ke dalam informasi acak yang tidak dimengerti kecuali oleh penerima yang tepat. Hal ini dikarenakan kriptografi itu sendiri ialah ilmu dan seni untuk menjaga keamanan pesan atau data. Kriptografi mengubah sebuah data atau informasi menjadi pesan acak yang sesuai dengan kunci pengacaknya. Di mana kunci ini diketahui oleh pengirim dan penerima informasi saja. Tentunya pengaplikasian kriptografi akan mengamankan sebuah informasi. Namun, saat ini jika informasi hanya dienkripsi saja dengan kriptografi, informasi tersebut masih rentan terhadap bahaya pencurian informasi. Di tambah lagi saat ini metode pengiriman pesan dan informasi bisa melalui email yang dapat diakses oleh siapa saja. Oleh karena itu pesan perlu disembunyikan ke dalam wadah berupa citra agar pesan tersebut tidak diketahui keberadaannya oleh orang yang tidak diinginkan. Proses penyisipan pesan ke dalam suatu wadah seperti citra inilah yang disebut dengan steganografi.

Penggunaan teknik steganografi dan kriptografi secara bersamaan ini dimaksudkan untuk memberikan keamanan berlapis dalam keamanan pertukaran.

Sehingga penulis mempunyai ide untuk mengkombinasikan metode kriptografi dan steganografi. Adapun pada metode kriptografi yang digunakan yaitu algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher. Dengan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher, informasi yang bersifat rahasia tersebut dienkripsi menjadi sebuah bentuk persandian di mana dalam prosesnya setiap plainteks informasi tersebut dilakukan transposisi terlebih dahulu sebanyak tiga kali dengan menggunakan kunci yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga informasi tersebut tidak mudah dipecahkan. Dan dikombinasikan dengan metode steganografi yaitu algoritma Modified Least Significant Bit (MLSB). Metode MLSB ini bekerja dengan menggantikan 8 bit LSB citra penampangnya (citra cover) dengan 5 bit dari data citra penyisipan (citra embed) yang sudah

(19)

dimodifikasi. Modifikasi ini dilakukan dengan mengkonversi byte-byte citra penyisip dengan nilai ASCII (American Standart Code for Information Interchange) heksadesimal. Setelah bit-bit penyisip dikonversikan ke dalam ASCII heksadesimal, kemudian data penyisip digabung dengan kode control simbolnya (Control Symbol). Sebelum disisipkan ke dalam citra, pesan penyisip dikonversikan ke dalam biner yang menghasilkan 5 bit setiap nilai pesan.

Penulis berharap dengan adanya penelitian yang berjudul “Implementasi Steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) Untuk Enkripsi Pesan Pada Citra Dengan Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher” ini keberadaan informasi menjadi lebih aman.

1.2 Perumusan Masalah

Kasus peretasan atau penyadapan menjadi masalah yang serius bagi setiap negara, sehingga dibutuhkan cara untuk menjaga kerahasiaan pesan. Banyaknya metode penyandian tidak menjamin pesan akan tetap aman, sehingga dibutuhkan pengembangan dari metode-metode penyandian yang ada. Seperti pada penelitian terdahulu telah digunakan metode Vigenere Cipher pada penyisipan pesan LSB- SIFT menyimpulkan bahwa setelah dilakukan penyerangan dengan scratch dan salt & pepper kualitas stego-image menurun drastis, dilihat dari MSE yang tinggi mencapai lebih dari 130 dan PSNR yang rendah mencapai 24 desibel (Khotimah dan Shidiq, 2012). Adanya kekurangan dari penelitian terdahulu, membuat perlu pengembangan teknik dalam mengamankan informasi tersebut dengan cara mengubah informasi ke dalam bentuk sandi dengan menggunakan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher. Di mana dalam prosesnya setiap plainteks informasi tersebut dilakukan transposisi terlebih dahulu sebanyak tiga kali dengan menggunakan kunci yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga informasi tersebut tidak mudah dipecahkan oleh pihak lawan bisnis. Selanjutnya informasi yang telah diubah akan disisipkan ke dalam citra digital dengan mengkonversikan terlebih dahulu byte-byte citra ke dalam ASCII heksadesimal. Pengembangan dua

(20)

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menyembunyikan pesan rahasia atau pesan teks ke pada citra digital berekstensi *png.

2. Penelitian ini hanya membahas tentang kombinasi dua teknik pengamanan data yaitu menggunakan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher dan MLSB.

3. Menggunakan citra RGB dengan format *png sebagai wadah penampung pesan.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menyembunyikan pesan rahasia dalam bentuk teks dengan Modified Least Significant Bit (MLSB) dan algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher sehingga pesan rahasia tidak diketahui keberadaannya.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat merahasiakan pesan tanpa diketahui keberadaan pesan tersebut.

2. Dapat digunakan sebagai referensi bacaan untuk mahasiswa Matematika, terlebih bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian serupa.

1.6 Kerangka Pemikiran

Adapun diagram konsep penelitian adalah sebagai berikut:

(21)

Gambar 1.1 Diagram Konsep Proses Penyembunyian Pesan

1.7 Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1. Studi Literatur

Pada tahap ini dilakukan dengan mempelajari bahan-bahan ataupun buku- buku referensi, skripsi, jurnal dan sumber lain yang berkaitan dengan kriptografi Triple Transposition Vigenere Cipher dan steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB).

2. Analisis

Pada tahap ini digunakan untuk mengolah data hasil studi literatur dan kemudian melakukan analisis terhadap permasalahan sehingga menjadi suatu informasi.

Input pesan, kunci public TTVC, citra

cover

Enkripsi TTVC

A

A

Cipherteks TTVC

Mulai

Proses MLSB

Citra stego

Selesai

(22)

3. Perancangan Sistem

Pada tahap ini dilakukan analisis sesuai dengan kebutuhan seperti cara membangun aplikasi yang mengimplementasikan kombinasi algoritma kriptografi Triple Transposition Vigenere Cipher dan algoritma steganogafi Modified Least Significant Bit (MLSB), jenis perangkat yang digunakan, pembuatan desain interface (antarmuka), dan hasil yang diinginkan (citra yang telah disisipkan pesan).

4. Implementasi

Dalam tahap ini dilakukan penerjemahan ke dalam bahasa pemrograman dari hasil analisis dan perancangan yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan software MATLAB.

5. Pengujian Sistem

Pada tahap ini dilakukan implementasi dari kombinasi algoritma kriptografi Triple Transposition Vigenere Cipher dan steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) dalam memberikan keamanan pesan dengan format file citra berekstensi png.

6. Dokumentasi

Pada tahap ini berisi laporan dan kesimpulan akhir dari pengujian dalam bentuk penulisan tugas akhir beserta kesimpulannya dan menampilkan data- data sebagai bukti dalam bentuk hard copy.

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keamanan Informasi

Informasi saat ini sudah menjadi sebuah komoditi yang sangat penting bagi sebuah organisasi, perguruan tinggi, lembaga pemerintahan maupun individual, kemampuan dalam mengakses dan menyediakan informasi secara cepat (Rahardjo, B 2005). Karena pentingnya sebuah informasi, sering kali informasi yang diinginkan hanya dapat diakses oleh orang tertentu misalnya pihak penerima yang diinginkan, dan jika informasi ini sampai diterima oleh pihak yang tidak diinginkan akan berdampak kerugian pada pihak pengirim. Keamanan informasi adalah bagaimana kita dapat mencegah penipuan, atau paling tidak mendeteksi adanya penipuan di sebuah sistem yang berbasis informasi, di mana informasinya sendiri tidak bersifat fisik (Rahardjo, B 2005). Untuk itu diperlukanlah sebuah pendekatan dalam melakukan pengamanan pada informasi, seperti melakukan enkripsi, steganografi, cipher dan hashing terhadap informasi tersebut.

2.2 Kriptografi

2.2.1 Pengertian Kriptografi

Kriptografi (cryptography) berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata crypto dan graphia yang berarti ‘penulisan rahasia’. Kriptografi adalah ilmu ataupun seni yang mempelajari bagaimana membuat suatu pesan yang dikirim oleh pengirim dapat disampaikan kepada penerima dengan aman (Schneier, 1996, dalam Setyaningsih, 2015).

(24)

2.2.2 Sejarah Kriptografi

Kriptografi mempunyai sejarah yang panjang dan mengagumkan. Sejarah lengkap kriptografi dapat ditemukan di dalam buku David Kahn, The Codebreakers.

Penulisan rahasia ini dapat dilacak kembali mulai dari 4000 tahun sebelum Masehi sampai pada abad ke-20.

Sejarah kriptografi sebagian besar merupakan sejarah kriptografi klasik, yaitu metode enkripsi yang menggunakan kertas dan pensil atau menggunakan alat bantu mekanik sederhana. Kriptografi klasik secara umum dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu algoritma transposisi (transposition cipher) dan algoritma substitusi (substitution cipher). Algoritma transposisi adalah algoritma yang mengubah susunan – susunan huruf di dalam pesan, sedangkan algoritma substitusi yaitu mengganti setiap huruf atau kelompok huruf dengan sebuah huruf atau kelompok huruf yang lain.

Gambar 2.1 Scytale, Media Kriptografi yang Digunakan Oleh Bangsa Yunani Kuno

Sekitar 400 SM algoritma transposisi digunakan oleh bangsa Sparta dalam bentuk sepotong papyrus atau scytale, perkamen yang dibungkus dengan batang kayu silinder. Pada media tersebut pesan ditulis secara horizontal (baris per baris).

Apabila kertas dilepas, maka setiap huruf akan tersusun secara acak membentuk pesan rahasia. Agar pesan tersebut dapat dibaca, maka kertas harus kembali dililitkan ke silinder yang diameternya sama dengan diameter silinder pengirim.

(Setyaningsih, 2015)

Sedangkan algortima substitusi paling awal dan paling sederhana adalah Caesar cipher, yaitu digunakan oleh raja Yunani kuno, Julius Caesar. Caranya adalah dengan mengganti setiap karakter di dalam alfabet dengan karakter yang terletak pada tiga posisi berikutnya di dalam susunan alfabet. Pada perang dunia

(25)

ke II, Pemerintah Nazi Jerman membuat mesin enkripsi yang dinamakan dengan Enigma. Mesin ini melakukan proses enkripsi yang sangat rumit. Namun Enigma cipher berhasil dipecahkan oleh pihak Sekutu dan keberhasilan memecahkan Enigma sering dikatakan sebagai faktor yang memperpendek perang dunia ke – 2.

Gambar 2.2 Mesin Enigma

Perkembangan peralatan komputer digital inilah yang memicu terbentuknya kriptografi modern. Dengan menggunakan komputer digital, akan sangat mungkin menghasilkan cipher yang lebih kompleks dan rumit. Tidak seperti kriptografi klasik yang mengenkripsi karakter per karakter, kriptografi modern beroperasi pada string biner.

2.2.3 Terminologi dan Konsep Dasar Kriptografi

Di dalam kriptografi akan sering ditemukan beberapa istilah atau terminologi.

Berikut merupakan istilah penting untuk diketahui dalam memahami kriptografi (Munir, 2006).

a. Plainteks dan Cipherteks

Pesan (message) adalah data atau informasi yang dapat dibaca dan dimengerti maknanya. Nama lain untuk pesan adalah plainteks atau teks jelas (cleartext) (Setyaningsih, 2015). Pesan dapat berupa data atau informasi yang dikirim

(26)

media perekaman (kertas, storage, dan sebagainya). Pesan yang tersimpan tersebut tidak hanya berupa teks, tetapi juga dapat berbentuk citra (image), suara (audio), dan video.

Agar plainteks (message) tidak dapat dimengerti oleh pihak yang tidak diinginkan, maka pesan tersebut perlu disandikan ke bentuk lain yang tidak dapat dipahami. Bentuk pesan yang telah berbentuk sandi inilah yang disebut dengan cipherteks atau kriptogram. Berikut ini adalah contoh pesan asli (plainteks) dan pesan yang telah disandikan (cipherteks).

(a) (b)

Gambar 2.3 (a) Plainteks; (b) Cipherteks

b. Pengirim dan Penerima

Komunikasi data melibatkan pertukaran pesan antara dua entitas. Pengirim (sender) adalah entitas yang mengirim pesan kepada entitas lainnya. Penerima (receiver) adalah entitas yang menerima pesan. Pengirim tentu menginginkan pesan dapat dikirm secara aman, yaitu pengirim yakin bahwa pihak lain tidak dapat membaca isi pesan yang dikirim. Solusinya adalah dengan cara menyandikan pesan menjadi cipherteks.

c. Enkripsi dan Dekripsi

Proses untuk menyandikan plainteks (message) menjadi cipherteks disebut dengan enkripsi (encryption). Sedangkan dekripsi (decryption) adalah kebalikan dari

(27)

enkripsi yaitu proses untuk memperoleh kembali plainteks (message) dari cipherteks (Setyaningsih, 2015). Proses enkripsi dan deskripsi membutuhkan kunci sebagai parameter yang digunakan untuk transformasi.

Gambar 2.4 Skema Enkripsi dan Dekripsi

d. Penyadap

Penyadap (eavesdropper) adalah orang yang mencoba menangkap pesan selama ditransmisikan. Tujuan penyadap adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak- banyaknya mengenai sistem kriptografi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan maksud untuk memecahkan cipherteks.

e. Kriptanalisis

Kriptografi berkembang dengan sangat pesan hingga melahirkan suatu bidang yang berlawanan yaitu kriptanalisis. Kriptanalisis (cryptanalysis) adalah ilmu yang mempelajari upaya-upaya untuk memperoleh plainteks dari cipherteks tanpa informasi tentang kunci yang digunakan. Tujuan serangan kriptanalisis adalah untuk mengetahui beberapa plainteks yang sesuai dengan cipher teks yang ada dan berusaha menentukan kunci yang memetakan satu dengan yang lainnya.

Jika suatu plainteks diduga berada dalam suatu pesan, posisinya mungkin tidak diketahui. Namun, suatu pesan lazimnya cukup pendek sehingga memungkinkan penyerang (kriptanalis) menduga plainteks yang diketahui dalam setiap posisi yang mungkin dan melakukan penyerangan pada setiap kasus secara paralel.

(28)

2.2.4 Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher

Banyak cara perusahaan mengamankan informasi di antaranya dengan menggunakan algoritma Blowfish, algoritma Elgamal, tetapi masih punya beberapa kelemahan yang dapat membuat pesan dapat disusupi oleh orang yang tidak bertanggung jawab sehingga muncul algoritma terbaru yaitu Triple Tranposition Vigenere Cipher.

Triple Transposition Vigenere Cipher adalah metode enkripsi dengan cara mengulang teknik Vigènere Cipher yang setiap plainteksnya dilakukan transposisi terlebih dahulu sebanyak tiga kali dengan menggunakan kunci yang tiap kuncinya harus berbeda satu dengan yang lainnya (Caroline, 2010). Metode Triple Transposition Vigènere Cipher dapat digambarkan seperti Gambar 2.7.

Gambar 2.5 Proses Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher

Proses yang terjadi pada Triple Transposition Vigènere Cipher terbagi menjadi dua bagian. Metode transposisi dapat disimbolkan dengan T dan metode substitusi menggunakan vigenere yang disimbolkan dengan E serta kunci untuk melakukan vigenere K.

Secara matematis metode Triple Transposition Vigènere Cipher ini dapat dituliskan sebagai:

Proses enkripsi: CS3(T3(S2(T2(S1(T1(P)))))) (2.1) Plainteks

Transposisi

Substitusi

Enkripsi

3 kali pengulangan

(29)

Bila dijabarkan, ciphertext diperoleh dengan mentransposisikan plaintext, kemudian hasilnya disubstitusi menggunakan kunci pertama, lalu ditransposisikan kembali, lalu disubstitusi dengan menggunakan kunci yang berbeda dari kunci pertama, disebut saja kunci kedua, setelah itu dilakukan transposisi lagi yang kemudian di akhiri dengan proses substitusi menggunakan kunci ketiga. Substitusi di sini menggunakan Vigenere Cipher.

Ketiga algoritma transposisi sudah didefinisikan terlebih dahulu dengan suatu kunci atau suatu aturan tertentu setiap kali proses enkripsi metode transposisinya akan selalu tetap. Untuk metode enkripsi ini, spasi tidak diperhitungkan sehingga lebih baik dihilangkan saja. Rumus untuk transposisi adalah membagi panjang ciphertext dengan suatu kunci tertentu yang ditentukan oleh pengguna yang kemudian teks dibaca secara vertikal dari kolom pertama.

Berikut adalah tabel bujur sangkar vigenere cipher.

Gambar 2.6 Bujursangkar Vigenere Cipher

Cara menggunakan bujursangkar vigenere adalah sebagai berikut: baris paling atas menyatakan huruf-huruf plainteks dan kolom paling kiri menyatakan huruf-huruf pada kunci. Pertama tarik garis vertikal dari huruf plainteks ke bawah.

Setelah itu tarik garis horizontal dari huruf kunci ke kanan. Cari titik

(30)

perpotongannya. Perpotongan kedua garis tersebut menyatakan huruf cipherteks dari huruf plainteks yang bersangkutan.

Secara matematis, misalkan p adalah karakter ke − i i pada plainteks, c i adalah karakter ke − i pada cipherteks, dan k adalah karakter ke − i i pada kunci, maka enkripsi pada vigenere cipher dapat dinyatakan sebagai berikut:

) ( i i

i p k

c   mod 26 (2.2)

sedangkan untuk dekripsi pada vigenere cipher dapat dinyatakan sebagai:

) ( i i

i c k

p   mod 26 (2.3)

Perbedaan antara teknik vigenere cipher dengan triple transposition vigenere cipher ini adalah jika pada teknik vigenere cipher hanya bisa menampung plainteks dan kunci yang terdiri dari huruf A – Z, maka pada teknik Triple Transposition Vigenere Cipher tabel vigenere dimodifikasi sehingga plainteks dan kunci dapat menampung printable character (karakter dengan kode ASCII 20h – 7Eh). Teknik ini juga dapat dikombinasikan dengan metode steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB), karena mempunyai batasan masalah yang sama, yaitu hanya dapat menampung printable character (karakter dengan kode ASCII 20h – 7Eh).

Kemudian untuk proses dekripsi dapat dilakukan dengan arah sebaliknya.

Bila dirumuskan maka akan terlihat sebagai berikut:

Proses dekripsi: PT1'(S1'(T2'(S2'(T3'(S3'(C)))))) (2.4)

Maksud T di sini adalah transposisi kebalikkannya dan ' S' adalah substitusi kebalikannya. Maka proses dekripsinya adalah sebagai berikut:

Pengacakan posisi plainteks dan kunci membuat metode ini terasa seperti memiliki sebuah kunci yang benar-benar teracak dengan panjang kunci yang sama dengan panjang kunci plainteks. Namun disamping kelebihan tersebut, teknik ini juga terdapat kelemahan yaitu masih ada kemungkinan kunci dapat dipecahkan

(31)

oleh kriptanalis menggunakan metode Kasiski walaupun kemungkinan tersebut lebih kecil dibandingkan algoritma Vigenere Cipher sederhana ataupun cipher transposisi (Caroline, 2010).

2.3 Steganografi

2.3.1 Pengertian Steganografi

Steganografi (steganography) berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “steganos” yang artinya menyembunyikan dan “graphein” yang artinya tulisan. Jadi steganografi berarti juga tulisan yang disembunyikan. Steganografi adalah ilmu dan seni untuk menyembunyikan pesan rahasia di dalam media digital sedemikian rupa sehingga orang lain tidak menyadari ada suatu pesan rahasia di dalam media tersebut (Rakhmat dan Fairuzabadi, 2010).

2.3.2 Sejarah Steganografi

Herodotus adalah seorang sejarawan Yunani pertama yang menulis tentang steganografi, yaitu ketika seorang raja kejam Yunani bernama Histaeus dipenjara oleh Raja Darius di Susa pada abad ke-5 sebelum Masehi. Histaeus harus mengirim pesan rahasia kepada anak laki-lakinya, Aristagoras, di Militus.

Histaues menulis pesan dengan cara menato pesan pada kulit kepala seorang budak. Ketika rambut budak itu mulai tumbuh, Histaues mengutus budak itu ke Militus untuk mengirim pesan di kulit kepalanya tersebut kepada Aristagoras.

Cerita lain yang ditulis oleh Herodotus, yaitu Demeratus seorang Yunani yang akan mengabarkan berita kepada Sparta bahwa Xerxes bermaksud menyerbu Yunani. Agar tidak diketahui pihak Xerxes, Demartus menulis pesan dengan cara mengisi tabung kayu dengan lilin dan menulis pesan dengan cara mengukirnya pada bagian bahwah kayu. Papan kayu tersebut dimasukkan ke dalam tabung kayu, kemudian tabung kayu ditutup kembali dengan lilin.

(32)

Teknik steganografi yang lain adalah tinta yang tak terlihat. Teknik ini pertama digunakan pada zaman Romawi kuno, yaitu dengan menggunakan air sari buah jeruk, urin, atau susu sebagai tinta untuk menulis pesan. Cara membacanya adalah dengan dipanaskan di atas nyala lilin. Tinta yang sebelumnya tidak terlihat, ketika terkena panas akan berangsur – angsur menjadi gelap sehingga pesan dapat dibaca (Sutoyo, 2009).

2.3.3 Terminologi dan Konsep Dasar Steganografi

Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan steganografi (Sutoyo, 2009) yaitu:

1. Embedded Message

Pesan atau informasi yang disembunyikan. Contohnya dapat berupa teks, gambar, suara, video, dll.

2. Cover – object

Pesan yang digunakan untuk menyembunyikan embedded message. Contohnya dapat berupa teks, gambar, suara, video, dll.

3. Stego – object

Pesan yang sudah berisi pesan embedded message.

Steganografi membutuhkan dua properti, yaitu wadah penampung dan pesan rahasia yang akan disembunyikan. Steganografi digital menggunakan media digital sebagai wadah penampung, misalnya gambar, suara, teks, dan video. Pesan rahasia yang disembunyikan juga dapat berupa gambar, suara, teks, dan video (Sutoyo, 2009).

2.3.4 Proses Steganografi

Secara umum, terdapat dua proses didalam steganografi, yaitu proses encoding untuk menyisipkan pesan ke dalam cover – object dan proses decoding untuk ekstraksi pesan dari stego – object. Kedua proses ini mungkin memerlukan kunci

(33)

Stego-object Stego-object

Pesan Stego-object Pesan

rahasia (stegokey) agar hanya pihak yang berhak saja yang dapat melakukan penyisipan pesan dan ekstraksi pesan (Munir, 2006).

(a) (b)

Gambar 2.7 (a) Skema Encoding; (b) Skema Decoding

2.3.5 Modified Least Significant Bit (MLSB)

Metode Modified Least Significant Bit (MLSB) adalah suatu metode dari hasil pengembangan metode LSB yang sudah ada. Di mana dalam penyisipan pesannya dilakukan sama persis dengan LSB (menyisipkan pada bit paling kanan), yang membedakan antara MLSB dan LSB adalah pada pesan yang ingin disisipkan.

Pada LSB pesan yang disisikan masih dalam bentuk 8 bit, sementara pada MLSB, pesan dikonversi ke dalam 5 bit. Pengubahan 8 bit menjadi 5 bit dilakukan dengan menggunakan control symbol. Misalnya embed yang akan disisipkan berupa pesan “STEGO with 05 bits” di mana jika embed tersebut diubah ke biner membutuhkan memori sebesar 18 x 8 bit = 144 bit. Pada metode MLSB, pesan di atas diubah menjadi ASCII heksadesimal (5 bit), maka pesan berubah menjadi:

53h, 54h, 45h, 47h, 4fh, 20h,77h, 69h,74h, 68h, 20h, 30h, 35h, 20h, 62h, 69h,74h,73h. 20h menerangkan spasi pada tabel ASCII. Kemudian data embed tersebut ditambahi dengan keterangan control symbol yang sudah ditetapkan (Zaher, 2011). Adapun tabel control symbol adalah sebagai berikut:

Encoding Decoding

Kunci Kunci

Wadah Penampung Wadah Penampung

(34)

Gambar 2.8 Control Symbol

Adapun kelebihan dari metode Modified Least Significant Bit (MLSB) ini adalah pada penyisipan ke dalam citra digital menggunakan metode MLSB telah memenuhi kriteria steganografi yang baik, yakni memiliki imperceptibility (keberadaan citra embed di dalam citra stego tidak dapat dideteksi secara kasat mata), fidelity (mutu citra tidak berubah walaupun setelah mengalami proses penyisipan) dan memiliki recovery (citra embed dapat diekstrak kembali) (Lubis, H. 2012). Di samping itu metode Modified Least Significant Bit (MLSB) ini juga memiliki kelemahan yaitu keamanan pada stego image menggunakan metode MLSB masih bisa terdeteksi oleh aplikasi. Namun walau begitu, pesan tidak akan bisa langsung dibaca oleh pihak ketiga (Nurwanto dan Sudarmawan, 2015).

2.4 Citra Digital

2.4.1 Pengertian Citra Digital

Citra digital adalah citra yang bersifat diskrit yang dapat diolah oleh komputer yang merupakan suatu array dari bilangan yang merepresentasikan intensitas terang pada point yang bervariasi (pixel). Citra ini dapat dihasilkan melalui kamera digital dan scanner ataupun citra yang telah mengalami proses digitalisasi.

Citra digital disimpan juga secara khusus di dalam file 24 bit atau 8 bit. Citra 24 bit menyediakan lebih banyak ruang untuk menyembunyikan informasi (Sutoyo, 2009).

2.4.2 Jenis-Jenis Citra Digital

(35)

Berdasarkan warna – warna penyusunannyan, citra digital dapat dibagi menjadi tiga macam (Wildan, 2010) yaitu:

1. Citra Biner

Citra biner adalah citra yang hanya memiliki 2 warna, yaitu hitam dan putih. Oleh karena itu, setiap pixel pada citra biner cukup direpresentasikan dengan 1 bit.

(a) (b)

Gambar 2.9 (a) Citra Biner; (b) Representasi Citra Biner

Alasan penggunaan citra biner adalah karena citra biner memiliki sejumlah keuntungan sebagai berikut:

a. Kebutuhan memori kecil karena nilai derajat keabuan hanya membutuhkan representasi 1 bit.

b. Waktu pemrosesan lebih cepat di bandingkan dengan citra hitam – putih ataupun warna.

2. Citra Grayscale

Citra grayscale adalah citra yang nilai pixel-nya merepresentasikan derajat keabuan atau intensitas warna putih. Nilai intensitas paling rendah merepresentasikan warna hitam dan nilai intensitas paling tinggi merepresentasikan warna putih. Pada umumnya citra grayscale memiliki kedalaman pixel 8 bit (256 derajat keabuan), tetapi ada juga citra grayscale yang kedalaman pixel-nya bukan 8 bit, misalnya 16 bit untuk penggunaan yang memerlukan ketelitian tinggi. Gambar 2.10 adalah contoh citra grayscale.

(36)

Gambar 2.10 Citra Grayscale

3. Citra Warna

Citra warna adalah citra yang nilai pixel-nya merepresentasikan warna tertentu.

Setiap pixel pada citra warna memiliki warna yang merupakan kombinasi dari tiga warna dasar RGB (red, green, blue). Setiap warna dasar menggunakan penyimpanan 8 bit = 1 byte, yang berarti setiap warna mempunyai gradasi sebanyak 255 warna. Berarti setiap pixel mempunyai kombinasi warna sebanyak 28.28.28 = 224 = 16 juta warna lebih. Itulah yang menjadikan alasan format ini disebut dengan true color karena mempunyai jumlah warna yang cukup besar sehingga bisa dikatakan hampir mencakup semua warna di alam. Gambar 2.13 adalah contoh citra warna.

Gambar 2.11 Citra Warna

2.5 Means Square Error (MSE)

Means Squared Error (MSE) digunakan untuk mengukur kinerja algoritma steganografi pada sebuah citra. Citra cover dibandingkan dengan citra sisipan

(37)

dengan memeriksa selisih nilainya. Perhitungan nilai MSE dari citra berukuran 𝑀𝑥𝑁 pixel dilakukan sesuai dengan rumus pada persamaan 2.5 di bawah ini.

   

 



M

x N

y

y x f y x MxN f

MSE

1

2

1

, ' 1 ,

2.5

di mana:

M dan N = ukuran panjang dan lebar citra

 

x y

f , = intensitas citra di titik

 

x,y dari citra asli

 

x y

f' , = intensitas citra di titik

 

x,y dari citra hasil penyisipan

Semakin kecil nilai MSE, maka semakin bagus prosedur yang dilakukan.

Artinya kualitas citra setelah dilakukan penyisipan pesan hampir sama dengan kualitas aslinya.

2.6 Penelitian Terdahulu

Dalam melakukan penelitian, penulis membutuhkan beberapa bahan penelitian yang sudah pernah dilakukan peneliti – peneliti lainnya mengenai masalah implementasi steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB) dan kriptografi Triple Transposition Vigenere Cipher.

Tabel 2.1 Hasil penelitian terdahulu

No. Peneliti Metode Penelitian dan Hasil

1. Mazen Abu Zaher (2011)

Modified Least Significant Bit (MLSB)

Algoritma MLSB ini menyediakan skema yang disempurnakan dari metode LSB tradisional. Tujuan utama dari pekerjaan yang disajikan adalah untuk meningkatkan jumlah data yang akan disembunyikan pada cover image dan

(38)

melakukan enkripsi data.

2. Hazuar Nurwanto dan Sudarmawan (2015)

Implementasi Penyandian Dan Penyembunyian Pesan Pada Citra Menggunakan Algoritma RSA Dan Modified LSB

Keamanan pada stego image menggunakan metode Modified LSB masih bisa terdeteksi oleh aplikasi StegSpy, Namun walaupun pesan bisa terdeteksi oleh aplikasi StegSpy, pesan tidak akan bisa langsung di baca oleh pihak ketiga. Karena sebelum pesan disisipkan, pesan dienkripsi terlebih dahulu menggunakan algoritma RSA.

Penggunaan kunci asimetris yaitu kunci publik tidak sama dengan kunci privat, sehingga pesan masih tetap terjaga keamanannya.

3. Maureen Linda Caroline (2010)

Metode Enkripsi baru : Triple Transposition Vigènere Cipher

Proses enkripsi/dekripsinya relatif fleksibel dan mudah untuk dilakukan secara manual ataupun dengan bantuan program komputer. Untuk prosesnya, cukup digunakan metode transposisi dan sebuah bujursangkar Vigènere yang akan digunakan sebanyak tiga kali.

Karena itu, mudah untuk diimplementasikan sebagai sebuah

program komputer.

Pengimplementasian tidak akan sulit berhubung sudah banyak perangkat lunak yang mengimplementasikan Vigènere Cipher di dunia maya dan hanya tinggal diunduh saja. Dan untuk pengguna, tidak diperlukan perangkat lunak bantuan lainnya.

4. Hasina Toni (2011)

Implementasi Steganografi Least Significant Bit (LSB) Dengan Modifikasi Vigenere Cipher Pada Citra Digital

Algoritma vigenere cipher yang telah dimodifikasi lebih sulit dipecahkan dibandingkan dengan algoritma vigenere cipher biasa.

5. Fatkhurul Dewi Khotimah dan Guruh Fajar Shidik (2012)

Vigenere Cipher Pada Penyisipan Pesan LSB-SIFT

Setelah dilakukan penyerangan dengan scratch dan salt & pepper kualitas stego-image menurun drastis, dilihat dari MSE yang tinggi mencapai lebih dari 130 dan PSNR yang rendah mencapai 24 desibel

Sumber: Beberapa penelitian sebelumnya.

(39)

BAB 3

PERANCANGAN APLIKASI

3.1 Analisis Sistem

Analisis sistem berfungsi untuk melihat hasil kombinasi dari kedua algoritma yang digunakan yaitu algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher dan algoritma Modified Least Significant Bit (MLSB) yang akan disisipkan dalam citra berformat png.

Secara garis besar penelitian ini terdiri dari dua proses, yaitu proses enkripsi dan proses encoding. Di mana untuk proses enkripsi penulis akan menggunakan algoritma triple transposition vigenere cipher. Sedangkan untuk proses encoding penulis akan menggunakan metode steganografi Modified Least Significant Bit (MLSB). Di samping kedua proses tersebut, penulis juga akan melengkapi penelitian ini dengan proses decoding dan dekripsi. Hal ini bertujuan agar pesan yang telah dienkripsi dan disembunyikan dapat kembali menjadi pesan awal yang dapat dimanfaatkan oleh orang yang berhak.

Input citra, plainteks, kunci

Enkripsi

Encoding

Citra stego

Mulai Mulai

Input citra stego, kunci

Dekripsi

Decoding

Plainteks

(40)

3.2 Analisis Algoritma Triple Transposition Vigenere Cipher

Pada teknik Triple Transposition Vigenere Cipher, tabel bujursangkar vigenere cipher ditambahkan jumlah karakter sehingga dapat menampung printable character (karakter dengan kode ASCII 20h – 7Eh). Untuk mengacaukan pengulangan serta memanipulasi kemunculan huruf –huruf pesan, penulis memilih cara yaitu dengan perulangan transposisi kunci sebanyak tiga kali.

Berikut adalah langkah-langkah dari proses enkripsi:

1. Masukkan pesan (plainteks).

2. Masukkan kunci.

3. Dapatkan nilai panjang kunci secara acak untuk digunakan sebagai jumlah kolom pada saat proses transposisi pertama.

4. Lakukan proses transposisi.

5. Ulang kunci sepanjang plainteks hasil transposisi.

6. Ubah huruf plainteks dan kunci menjadi kode ASCII.

7. Lakukan penggantian indeks bit dari plainteks dan kata kunci dengan cara mengurangi setiap bit dengan 30 (20h-1-1).

8. Lakukan pergeseran indeks plainteks dengan cara menambahkan indeks plainteks dengan indeks kata kunci.

9. Periksa apakah nilai setiap indeks plainteks lebih besar dari 96. Jika lebih besar dari 96, maka indeks plainteks dikurangi dengan 96 sehingga akan menghasil cipherteks hasil transposisi ketiga. Jika tidak lebih besar dari 96 maka lakukan langkah selanjutnya.

10. Apabila nilai indeks berada di luar dari jumlah maksimum karakter yang tersedia maka kembalikan nilai indeksnya menjadi indeks awal (tambah kembali dengan 30).

11. Kembalikan menjadi karakter plainteks.

12. Lakukan perulangan sebanyak tiga kali dari langkah nomer 2 sampai langkah nomer 11.

13. Hasil akhir proses yaitu cipherteks.

Gambar 3.2 merupakan flowchart proses enkripsi dari suatu pesan dengan menggunakan Triple Transposition Vigenere Cipher.

(41)

Ya

Tidak

3 kali pengulangan

Gambar 3.2 Flowchart Proses Enkripsi

Setelah diperoleh cipherteks, dengan begitu pesan tersebut tidak akan dapat dibaca oleh pihak yang tidak berhak tanpa melalui proses deskripsi. Proses deskripsi pada modifikasi vigenere cipher ini memerlukan kunci yang sama pada saat proses enkripsi.

Langkah – langkah dari proses deskripsi adalah sebagai berikut:

1. Masukkan cipherteks 2. Masukkan kunci

Mulai

Input plainteks, kunci

Tentukan jumlah kolom

Transposisi plainteks

Ulang kunci sepanjang plainteks

hasil transposisi

Ubah kunci dan plainteks → ASCII

Kurangi plainteks dan kunci dengan

30

Tambahkan kunci dan plainteks

piki

piki

96 pi ki96

Kembalikan plainteks awal (menambahkan

dengan 30 )

Kembalikan menjadi karakter plainteks (pesan)

Cipherteks

A

A

Selesai

(42)

5. Lakukan penggantian indeks byte dari plainteks dan kata kunci ketiga dengan cara mengurangi setiap byte dengan 30.

6. Lakukan pergeseran indeks plainteks dengan cara menambahkan indeks plainteks dengan indeks kata kunci.

7. Periksa apakah nilai setiap indeks plainteks lebih kecil 96. Jika lebih kecil dari 96, maka indeks plainteks ditambahkan dengan 96. Jika lebih besar dari 96 maka lakukan langkah selanjutnya.

8. Kembalikan nilai indeksnya menjadi indeks awal (tambah kembali dengan 30).

9. Kembalikan ke bentuk karakter semula berdasarkan kode karakter ASCII.

10. Dapatkan nilai panjang kunci secara acak untuk digunakan sebagai jumlah kolom pada saat proses transposisi.

11. Lakukan proses transposisi hingga menghasilkan plainteks.

12. Lakukan perulangan sebanyak tiga kali dari langkah nomer 2 sampai langkah nomer 11.

13. Hasil dari ekstraksi yaitu plainteks atau pesan asli.

Gambar 3.3 merupakan flowchart dari proses deskripsi pada triple transposition vigenere cipher.

Mulai

Input cipherteks, kunci

Ulang kunci sepanjang cipherteks

1 Ubah cipherteks,

kunci → ASCII

(43)

3 kali pengulangan

Ya

Tidak

Gambar 3.3 Flowchart Proses Dekripsi

Kurangi cipherteks dan kunci dengan

30

Kurangi cipherteks dan kunci

ciki

ciki

96

Kembalikan ke plainteks awal (menambahkan dengan 30 )

Konversi kembali kode ASCII setiap

plainteks menjadi karakter

Tentukan jumlah kolom

Transposisi cipherteks

Plainteks 1

Selesai

ci ki

96

(44)

3.3 Analisis Algoritma Modified Least Significant Bit (MLSB)

Strategi penyisipan pesan ke dalam citra yang digunakan adalah dengan metode Modified Least Significant Bit (MLSB). Di mana dalam penyisipan pesannya dilakukan sama persis dengan LSB (menyisipkan pada bit paling kanan), yang membedakan antara MLSB dan LSB adalah pada pesan yang ingin disisipkan.

Pada LSB pesan yang disisikan masih dalam bentuk 8 bit, sementara pada MLSB, pesan dikonversi ke dalam 5 bit. Pengubahan 8 bit menjadi 5 bit dilakukan dengan menggunakan control symbol.

Berikut adalah langkah – langkah dari proses encoding:

1. Masukan pesan (cipherteks).

2. Masukkan citra.

3. Jika ukuran teks pesan lebih besar daripada ukuran citra, maka akan diminta untuk memasukan kembali citra yang lebih besar. Jika tidak, proses akan berlanjut ke langkah selanjutnya.

4. Ubah pesan menjadi kode ASCII.

5. Gabungkan semua kode karakter tersebut dan gunakan tanda spasi sebagai pemisah antar kode karakter.

6. Lakukan konversi masing-masing karakter ke dalam karakter kontrol simbol.

7. Lakukan proses pengurangan masing-masing kontrol simbol dengan nilai terendah dari masing-masing rentang nilai dari karakter kontrol simbol.

8. Dapatkan nilai biner dari daftar kontrol simbol tersebut dengan cara melakukan konversi hexadecimal menjadi nilai biner.

9. Dapatkan nilai biner dari masing-masing nilai pixel pada citra cover.

10. Pilih lokasi pixel dari citra.

11. Lakukan penyisipan 5 bit data karakter kontrol simbol ke dalam 5 bit nilai binary dari citra cover.

12. Ubah biner citra yang telah mengandung bit pesan ke pixel.

13. Ubah pixel menjadi citra, maka akan diperoleh citra baru yang mengandung pesan (stego-image).

Gambar 3.4 merupakan flowchart dari proses encoding

(45)

Ya

Tidak

Gambar 3.4 Flowchart Proses Encoding

Dari proses encoding akan dihasilkan citra baru yang telah mengandung pesan. Jika diperhatikan dengan mata manusia, tidak terdapat perbedaan antara citra tidak mengandung pesan dengan citra yang telah mengandung pesan.

Untuk dapat mengambil kembali pesan yang terkandung dalam citra harus

Mulai

Input pesan

Input citra

Ukuran pesan

>

Ukuran citra

Ubah pesan → ASCII

Gabungkan semua kode karakter → tanda spasi (pemisah)

Konversi karakter pesan → control

symbol

Ubah control symbol

→ biner

Ubah pixel citra → biner

Pilih lokasi pixel dari citra

Ganti MLSB citra dengan bit pesan

Ubah biner citra → pixel

Stego-image

A

A

Selesai Pengurangan masing-

masing control symbol dengan nilai

terendah

(46)

1. Masukkan citra yang mengandung pesan (stego-image).

2. Ubah citra stego menjadi nilai biner.

3. Pilih lokasi pixel dari citra

4. Ambil MLSB citra sehingga menghasilkan biner pesan.

5. Ubah nilai biner ke dalam karakter simbol dengan cara mengkonversi nilai biner menjadi nilai hexadecimal.

6. Lakukan pembuangan karakter kontrol pertama dan terakhir dari daftar karakter kontrol simbol.

7. Lakukan proses penambahan masing-masing kontrol simbol dengan nilai terendah dari masing-masing rentang nilai dari karakter kontrol simbol yang berada sebelum masing-masing karakter.

8. Ubah karakter kontrol simbol menjadi nilai desimal.

9. Lakukan pengambilan nilai kode ASCII karakter dengan cara memecah pesan berdasarkan karakter spasi.

10. Ubah kode ASCII pesan menjadi karakter, sehingga menghasilkan pesan (cipherteks).

Gambar 3.5 merupakan flowchart proses decoding

Mulai

Pilih lokasi pixel dari citra Ubah citra stego →

biner

Ambil MLSB citra

→ biner pesan

1 Input stego-

image

(47)

Gambar 3.5 Flowchart Proses Decoding

3.4 Analisis Means Square Error (MSE)

Mean Square Error (MSE) pada penelitian ini digunakan untuk melihat perbandingan nilai antara citro cover dengan citra stego. Dalam analisis ini jika

Pembuangan karakter control symbol

Penambahan masing- masing control symbol dengan nilai

terendah

Ubah control symbol → desimal

Pengambilan nilai kode ASCII karakter

→ tanda spasi (pemisah) Ubah ASCII pesan

→ karakter

Cipherteks

Selesai Ubah biner → karakter control

symbol 1

Referensi

Dokumen terkait

Tahap selanjutnya setelah mendapatkan data dari objek penelitian dan dilengkapi dengan teori-teori pendukung dari studi pustaka adalah perumusan masalah dilakukan untuk

Melakukan Stock Opname secara berkala dan menganalisa jumlah dan jenis persediaan produk di gudang Logistik untuk mengontrol akurasi data persediaan dan tingkat

Hasil dari algoritma tersebut adalah apabila dalam ruangan tersebut tidak ada gas berbahaya yang terdeteksi maka akan dianggap aman dengan indicator LED warna hijau

Manajemen Konflik Partai Golkar dalam Pemilukada Kabupaten Pinrang Tahun 2013.. Skripsi Porgram Sarjana Ilmu Pemerintahan

pekerjaan.Macro di Excel dibuat dalam macrosheet atau dengan bahasa Visual. Basic

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebab wisatawan memilih daerah wisata yang akan dikunjungi.. Jenis penelitian yang digunakan

Selain itu, dengan adanya Sejarah Pemikiran Islam ini, kita dapat mengkaji secara historis terkait berbagai kejadian yang dalam studi tentang Islam dari berbagai perspektif, yang

beberapa fauna endemik yang hanya terdapat di satu wilayah, yaitu.. Tuatara ( Sphenodon punctatus ) sejenis amphibi purba yang hanya