Nama
Tempat, tanggal lahir
dr. Kalsum Komaryani, MPPM
Cirebon, 17 Januari 1963
[email protected]
Jabatan/Institusi
Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kemenkes
Alamat Gedung Prof A.Sujudi Kementerian Kesehatan RI Jalan HR Rasuna Said Blok X5 Kav 4-9
Lantai 14, Jakarta, 12950, Indonesia
Phone +62 21 5221229 ; Fax +62 21 52922020 Pendidikan - S 1, Fakultas Kedokteran UI, 1987
- S 2, School of Planning, Policy and Development, University of Southern California, USA, 2001
Riwayat Pekerjaan:
- Kepala Puskesmas di Kota Cirebon & Kab Bekasi (1987 – 1997) - Staf di Kanwil/Dinkes Provinsi Jateng ( 1997 – 2002)
- Staf di Direktorat JPKM Depkes ( 2003 – 2006)
- Kepala Subbidang Kelompok Informal Dit JPKM ( 2006 – 2009)
- Kepala Bidang Pembiayaan Kesehatan PPJK Kemenkes ( 2010 -2011)
- Kepala Bidang Kendali Mutu & Pengembangan Jaringan Pelayanan PPJK Kemenkes (2011 – 2012)
- Kepala Bidang Pembiayaan Kesehatan PPJK Kemenkes (Jan 2013 – Jan 2016) - Kepala Bidang Jaminan Kesehatan PPJK Kemenkes (Jan – Juni 2016)
- Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (Juni 2016 – sekarang) - Narasumber pada berbagai Pelatihan dan Seminar Kesehatan di Universitas,
Kementerian, Perhimpunan Ahli, dll.
Curriculum Vitae
Pembiayaan Kesehatan di Daerah
dalam Penguatan Upaya Promotif dan Preventif termasuk SPM
Jakarta, 20 Februari 2020
2
Disampaikan oleh:
dr. Kalsum Komaryani, MPPM
Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
Kebijakan Pembiayaan Kesehatan
Gambaran Belanja Kesehatan di Indonesia 2013-2018
Gambaran Pembiayaan Daerah termasuk Promotif dan Preventif Pembiayaan SPM Bidang Kesehatan
Kesimpulan
OUTLINE
01
02 03
04
05
01 Kebijakan Pembiayaan Kesehatan
5 Prioritas
Program Kerja
Jokowi-Ma’ruf
ARAH KEBIJAKAN RPJMN BIDANG KESEHATAN 2020-2024
Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dan peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh inovasi
dan pemanfaatan teknologi
Peningkatan kesehatan ibu, anak
KB, dan kesehatan reproduksi
Percepatan perbaikan gizi
masyarakat
Peningkatan pengendalian
penyakit
Penguatan Gerakan Masyarakat Hidup
Sehat (Germas)
Peningkatan
pelayanan kesehatan dan pengawasan obat dan makanan
STRATEGI RPJMN 2020-2024
Penguatan Sistem Kesehatan, Pengawasan Obat
dan Makanan
Meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta terutama penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dengan mendorong
peningkatan upaya promotif dan preventif, didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi.
Pembudayaan Gerakan Masyarakat
Hidup Sehat
(GERMAS)
UNIVERSAL HEALTH COVERAGE (UHC)
Pengertian UHC yang telah disepakati secara global melalui WHO : Universal Health Coverage atau Cakupan Kesehatan Semesta
adalah seluruh masyarakat memiliki akses ke pelayanan
kesehatan yang mereka butuhkan, kapan saja dan dimana saja mereka membutuhkannya tanpa kesulitan finansial.
Ini mencakup berbagai pelayanan kesehatan esensial termasuk pelayanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif.
PROGRAM PROMOTIF PREVENTIF
UHC JKN
Pada saat pelaksanaan The UN HLM on UHC, telah dicanangkan komitmen
global menuju pencapaian UHC di tahun 2030, dan hal ini juga sejalan
dengan target pencapaian indicator SDGs target 3.8: UHC for All by 2030
Subsistem Pembiayaan Kesehatan Sebagai Bagian Dari Sistem Kesehatan
(PP No.72 Tahun 2012)
Upaya Kesehatan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
PEMBIAYAAN KESEHATAN
Sumber Daya Manusia Kesehatan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat
Subsistem pembiayaan kesehatan adalah
pengelolaan berbagai upaya penggalian, pengalokasian,
dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
penyelenggaraan pembangunan kesehatan
guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
Tujuan: tersedianya dana kesehatan dalam
jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil,
merata, dan termanfaatkan secara berhasil
guna dan berdaya guna, tersalurkan sesuai
peruntukannya.
PASAL 171
Pada pasal 171 yang menyatakan bahwabesar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% dari
anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji
PASAL 170 ayat 1
Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil,
dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat setinggi-tingginya
UU 36/2009 BAB XV
PEMBIAYAAN KESEHATAN
Pembiayaan Kesehatan
% Anggaran:
5% APBN & 10% APBD di luar gaji (UU No.36/2009)
Biakes per kapita meningkat
(
WHO, THE 10% of GDP, OOP max 18,6%, per capita per year $ 1.038)
PIS PK
UKM
Sistem Jaminan Kesehatan
PROGRAM UKM LAINNYA
UKP
JKN menuju UHC
Pemerintah / Pemda Masyarakat
SPM
, SDG’SPENGUATAN INFRASTRUKTUR DAN MANAJEMEN
GERMAS
1. Fasilitas Kesehatan
2. Alat Kesehatan 3. SDM Kesehatan 4. Akreditasi
5. Manajemen 6. dll
Pembiayaan Kesehatan Nasional
Pembiayaan kesehatan harus memiliki tujuan untuk menyediakan pembiayaan kesehatan secara terus menerus dalam jumlah yang cukup, dialokasikan secara adil dan dimanfaatkan secara efektif dan efisien
untuk menjamin pelaksanaan pembangunan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi mungkin.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN)
• Dialokasikan minimal 5% diluar gaji.
• Alokasi APBN
diperuntukan untuk:
• Program-program kesehatan di
Kementerian Kesehatan dan Kementerian/Lemb aga Negara lainnya
• Program JKN bagi peserta PBI
• Dana alokasi
khusus (DAK) yang ditransfer ke
pemerintah daerah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD)
• Dialokasikan minimal 10% diluar gaji.
• Alokasi APBD
diperuntukkan untuk :
• Program-program (promotif
preventif) kesehatan dari Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota
• Pembiayaan Iuran PBI Daerah
Rumah Tangga
• Kesehatan pribadi (pembayaran premi JKN, obat-obatan pribadi tidak
termasuk asuransi, dll)
Sektor Swasta
• Premi JKN
• Kerjasama
Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU)
• Coorporate Social Responsibility (CSR)
• Asuransi
Swasta/Mandiri
Sumber-sumber lain
• Bantuan donor untuk program-program khusus yang
diprioritaskan seperti HIV / AIDS, TB dan malaria.
02 Gambaran Belanja
Kesehatan Indonesia
Gambaran Belanja Kesehatan Indonesia, 2010-2018*
Sumber Pembiayaan sektor
Non Publik
: a) Swasta,b) KPBU atau PPP infrastruktur, c) Filantropi, CSR dan CSO
d) Blended Finance
Porsi Pembiayaan
Kesehatan Masih Rendah
(< 5% per
Tantangan Pembiayaan PDB)
Publik 53,8%
Non Publik (Swasta)
46,2%
INOVASISKEMA PEMBIAYAAN Total Belanja Kesehatan
Tahun 2018 455,5 T
• Belanja Publik
• Belanja Non Publik
245,11 T (53,8 %) 210,44 T (46,2 %) Proporsi Belanja
Kesehatan terhadap PDB
3,1 %
Belanja Kesehatan
per Kapita / Tahun Rp 1,7 Juta
Komparasi Belanja Kesehatan Indonesia dengan Negara ASEAN, 2013-2017
Sumber: WHO Global Health Expenditure Database, data terupdate tahun 2017
3,033 3,133 3,236 3,331
3,119
00 01 02 03 04 05 06 07 08
2013 2014 2015 2016 2017
Proporsi Belanja Kesehatan terhadap PDB di Negara ASEAN, 2013-2017
Brunei Darussalam Cambodia
Indonesia Lao People's Democratic Republic
Malaysia Myanmar
Philippines Singapore
Thailand Viet Nam
1,073
1,192
1,443
1,640 1,607
00 01 01 02 02 03 03 04
2013 2014 2015 2016 2017
Proporsi Belanja Kesehatan Sektor Publik terhadap PDB, 2013-2017
Brunei Darussalam Cambodia
Indonesia Lao People's Democratic Republic
Malaysia Myanmar
Philippines Singapore
Thailand Viet Nam
Gambaran Skema Pembiayaan menurut Sumber Pendanaan, 2018
4,397%
1,891% 2,678%
14,232%
11,333%
,306%
2,466%
1,277%
,358%
3,699%
1,347%
,186%
,015%
,195%
4,914%
2,206%
,155%
10,348%
5,164%
,351%
,401%
31,992%
0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
35%
Skema Kemenkes Skema K/L Lainnya Skema Pemerintah Provinsi
Skema Pemerintah Kab/Kota
Skema Jaminan Sosial
Skema Asuransi Kesehatan Swasta
Skema LNPRT Skema Korporasi Skema Pembiayaan dari Kantong RT APBN APBD Provinsi APBD Kab/Kota Donor Korporasi LNPRT Rumah Tangga
Skema Publik Skema Non Publik
Belanja Kesehatan menurut Provider dan Fungsi, 2018*
03 Gambaran Pembiayaan Daerah
(termasuk Promotif dan Preventif)
Berbagai sumber pembiayaan yang dikelola oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota dan Puskesmas
APBD
- pemanfaatan fleksibel, sebagian besar untuk gaji
Out-of-pocket (e.g. user fees) - pemanfaatan
fleksibel JKN
-60% jasa pelayanan -40% biaya operasional DAK non-fisik
-biaya operasional -akreditasi
DAK fisik
-pemeliharaan -pembelian alkes
DAK fisik obat -obat PKD
-obat program
DAK
PAD DAU
Dekon
JKN
Hibah &
transfer Lain Rp
Anggaran Dinas Kesehatan
Puskesmas Sumber Pembiayaan Dinas Kesehatan
APBN mendominasi sumber pendanaan di Daerah (2017)
Belanja kesehatan pemerintah thd total belanja
pemerintah Proporsi sumber dana pada skema pemda
Skema Publik
Proporsi fungsi layanan preventif tahun 2015 – 2018*
(Belanja Kesehatan Indonesia)
Secara trend, proporsi fungsi paling besar berada pada fungsi kuratif
ranap dan rajal.
Fungsi preventif terlihat makin meningkat pada kisaran diatas prosentase
12,3 %
Benefit Package
Aktifitas Promotif & Preventif
PAKET MANFAAT
UHC
Paket Manfaat Public Health
Non-SPM
PAKET MANFAAT JKN
Jampersal DAK Fisik DAK Non-Fisik
Program (Ex. TB, Promkes, KIA, dll)
SPM DAU
DBH
Donor dan Private Lainnya (CSR, CSO, dll)
PAD
Paket Manfaat di FKTP
Paket Manfaat di FKRTL
Iuran JKN
GAMBARAN BELANJA FUNGSI
PROMOTIF PREVENTIF DI 9 DAERAH DHA, 2018
Disparitas Belanja Promotif Preventif sangat berbeda antar
Kabupaten/Kota
04 Pembiayaan SPM
Bidang Kesehatan
Dasar Hukum Implementasi SPM Bidang Kesehatan
Urusan Wajib Pelaksanaan SPM Mekanisme dan Strategi Penerapan
1. Pasal 12
Urusan Pemerintahan Wajib yang menjadi Kewenangan Daerah berkaitan dengan Pelayanan Dasar salah satunya Kesehatan.
2. Pasal 18
Penyelenggara Pemerintahan Daerah memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar berpedoman pada standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
3. Pasal 298
Belanja Daerah diprioritaskan untuk mendanai Urusan Pemerintahan Wajib yang terkait Pelayanan Dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal
Pasal 6
SPM kesehatan mencakup SPM kesehatan Daerah provinsi (2 indikator) dan SPM kesehatan Daerah kabupaten / kota (12 indikator).
UU 23/2014
tentang Pemerintah Daerah
PP 2/2018
tentang Standar Pelayanan Minimal
Pasal 1
Penerapan SPM adalah pelaksanaan SPM yang dimulai dari tahapan pengumpulan data, penghitungan kebutuhan pemenuhan Pelayanan Dasar, penyusunan rencana pemenuhan Pelayanan Dasar dan pelaksanaan pemenuhan Pelayanan Dasar.
Pasal 3
Mutu pelayanan setiap jenis pelayanan dasar pada SPM bidang Kesehatan ditetapkan dalam standar teknis yang terdiri atas:
a. standar jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa;
b. standar jumlah dan kualitas personel/sumber daya manusia kesehatan; dan
c. petunjuk teknis atau tata cara pemenuhan standar.
(1) Pernyataan Standar (2) Pengertian
(3) Langkah Kegiatan
(4) Mekanisme Pelaksanaan (5) Capaian Kinerja
(6) Teknik Penghitungan Pembiayaan
Permendagri 100/2018
tentang Penerapan SPM
Permenkes 4/2019
tentang Standar Teknis Penerapan SPM Bidang Kesehatan
Mekanisme Pemenuhan
& Mutu SPM Kes
Sumber Kemendagri, Ditjen Bina Bangda, disampaikan pada Rapat Koordinasi Hasil Pelaksanaan Monev SPM 2019, Jakarta, 22 Oktober 2019
Penyelenggara Pemerintah Daerah Memprioritaskan Pelaksanaan Urusan Pemerintah Wajib yang Berkaitan dengan Pelayanan Dasar
yang dilaksanakan Berdasarkan SPM (Pasal 18 ayat (1) dan (2)
1 Belanja Daerah Diprioritaskan
untuk Mendanai Urusan
Pemerintahan Wajib yang Terkait Pelayanan Dasar yang Ditetapkan
dengan Standar Pelayanan Minimal (Pasal 298 ayat (1))
2
Kebijakan/Mandat Standar Pelayanan Minimal
Pemerintah Daerah dalam Penyusunan
Anggaran Belanja Daerah
Memperioritaskan
Belanja untuk SPM
Standar Pelayanan Minimal Prov, Kab/Kota Bidang Kesehatan
SPM KESEHATAN PROVINSI SPM KESEHATAN KABUPATEN/KOTA
1. Pelayanan kesehatan bagi penduduk terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan/atau berpotensi
bencana provinsi.
2. Pelayanan kesehatan bagi penduduk pada kondisi kejadian luar biasa provinsi.
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil 2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin 3. Pelayanan Kesehatan pada Bayi
Baru Lahir
4. Pelayanan Kesehatan Balita 5. Pelayanan Kesehatan pada Usia
Pendidikan Dasar
6. Pelayanan Kesehatan pada Usia Produktif
7. Pelayanan Kesehatan pada Usia Lanjut
SIKLUS HIDUP PENYAKIT TIDAK MENULAR
PENYAKIT MENULAR
1. Pelayanan Kesehatan Penderita Hipertensi
2. Pelayanan Kesehatan Penderita Diabetes Melitus
3. Pelayanan Kesehatan Orang Dengan Gangguan Jiwa Berat
1. Pelayanan Kesehatan Orang Terduga Tuberkulosis
2. Pelayanan Kesehatan Orang dengan risiko terinfeksi HIV
1. Pendataan
2. Skrining kesehatan a) Kit lansia b) Strip uji gula
darah dan kolesterol c) Instrumen GDS,
AMT dan ADL dalam paket P3G 4. Pencatatan dan
pelaporan a) Buku Lansia b) Formulir dan ATK 5. Rujukan
1. Skrining factor risiko PTM
a) Kit Skrining PTM b) Kit Pemeriksaan
IVA
2. Konseling faktor risiko PTM
3. Rujukan ke FKTP a) Kit Peralatan PTM b) Paket pemeriksaan
laboratorium 4. Pencatatan dan
pelaporan 1. Pendataan
2. Skrining Kesehatan a) UKS Kit
b) Instrumen pencatatan c) Formulir
rekapitulasi hasil skrining
3. Tindak lanjut hasil skrining kesehatan 1. Pendataan
2. Pelayanan Kesehatan Balita
a) Set Pemeriksaan Kesehatan Anak b) Set imunisasi c) SDIDTK KIT d) Formulir DDTK e) Formulir kuesioner
Pra skrining perkembangan f) Kit Posyandu g) Kit Imunisasi 3. Buku KIA 4. Pencatatan dan
pelaporan
a) Register Kohort b) Formulir dan ATK 5. Rujukan
1. Pendataan
2. Pelayanan Kesehatan BBL
a) Formulir BBL b) Formulir MTBM c) Set Pelayanan BBL d) Set
Kegawatdaruratan Neonatal
e) Vit. K1 Injeksi f) Salep/tetes mata g) Pedoman
pelayanan kes.
neonatal 3. Buku KIA 4. Pencatatan dan
pelaporan
a) Register Kohort b) Formulir SIP c) Formulir dan ATK 5. Rujukan
1. Pendataan 2. Pelayanan
Persalinan a) Set Persalinan b) Set Resusitas
Bayi c) Set
Perawatan Pasca Persalinan d) Paket obat
dan BHP persalinan e) Formulir
Partograf 3. Buku KIA 4. Kartu Ibu dan
Kohort 5. Rujukan 1. Pendataan
2. Pemeriksaan ANC
a) Set
Pemeriksaan b) Tablet Fe c) Vaksin Td 3. Buku KIA 4. Kartu Ibu dan
Kohort 5. Rujukan
Ibu Hamil Ibu Bersalin Bayi Baru Lahir Balita
Usia Sekolah
Dasar Usia Produktif
Usia Lanjut
Pembiayaan Kesehatan yang Harus Disediakan
Kab/Kota untuk SPM
1. Pemeriksaan Klinis 2. Pemeriksaan
Penunjang a) Pot dahak b) Formulir c) Kaca Slide d) Reagen
e) Cartridge Tes cepat molekuler f) Bahan Lab.
Lainnya (Oase, oil imersi, dll)
g) Masker rumah tangga
h) Masker N95 3. Edukasi
4. Rujukan 1. Penentuan orang
yang berisiko terinfeksi HIV
2. Pemetaan penemuan kelompok sasaran 3. Promosi kesehatan
dan Penyuluhan 4. Jejaring Kerja dan
Kemitraan 5. Sosialisasi
Pencegahan 6. deteksi dini HIV 7. Pencatatan dan
Pelaporan
8. Monitoring dan Evaluasi
9. Peniaian kinerja SPM 10. Rujukan
1. Pendataan 2. Materi KIE
3. Buku Kerja ODGJ 4. Paket Pencatatan
dan pelaporan
5. Melakukan diagnosis terduga ODGJ (Buku PPDGJ– III (ICD-10)) 6. Pelaksanaan
kunjungan rumah 7. Melakukan rujukan
ke FKRTL
a) Kit Berisi 2 Alat Fiksasi
b) Laporan 1. Pendataan
2. Melakukan skrining penderita DM
a) Pelayanan Skrining b) Pengadaan
Glukometer 3. Pelayanan kesehatan
sesuai standar c) Media KIE d) Obat DM
e) Kit Posbindu PTM 4. Melakukan rujukan
ke FKRTL
5. Penyediaan peralatan kesehatan DM
a) Alat dan Reagen b) Obat DM
1. Pendataan
2. Penemuan kasus Hipertensi
a) Pelayanan Skrining b) Pengadaan
Tensimeter digital 3. Edukasi perubahan
gaya hidup dan kepatuhan minum obat atau terapi farmakologi.
c) Media KIE d) Obat
4. Melakukan rujukan ke FKRTL
Hipertensi DM ODGJ HIV TB
Pembiayaan Kesehatan yang Harus Disediakan
Kab/Kota untuk SPM
1. Tahap Pra Krisis Kesehatan
(Edukasi pengurangan risiko krisis ) 2. Tahap Tanggap Darurat
3. Mobilisasi tim penanggulanga n krisis kesehatan c) Pelayanan kesehatan dasar di fasilitas pelayanan
kesehatan
d) Pelayanan kesehatan rujukan
e) Kebutuhan logistik kesehatan (paket obat, paket hygiene Kit/family Kit, dan Paket Makanan
pendamping 1. Kajian Epidemiologi
2. Penemuan kasus dan identifikasi faktor risiko 3. Penatalaksana an penderita
4. pencegahan dan pengebalan 5. pemusnahan penyebab penyakit 6. penanganan jenazah
7. Komunikasi Risiko
8. Upaya penanggulangan lainnya
KLB BENCANA KRISIS/
Pembiayaan Kesehatan yang Harus Disediakan
Provinsi untuk SPM
53%
78%
44% 50% 50%
71%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
% Tahap Pendataan
Pendidikan Kesehatan PU PR Trantibumlinmas Sosial
24%
37%
19%
31%
21%
31%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
% Tahap Penghitungan
Pendidikan Kesehatan PU PR Trantibumlinmas Sosial
Hasil Monev Kemendagri
1.
Pengumpulan Data
2.
Perhitungan Biaya
3.
Penyusunan Rencana
4.
Pelaksanaan
• Jumlah dan identitas Warga Negara yang berhak menerima
• Jumlah barang dan/atau jasa yg sudah tersedia dan yg dibutuhkan
• Jumlah sarana, prasarana, dan sumber daya lainnya yang tersedia dan yg masih dibutuhkan
• Menghitung selisih kebutuhan terhadap ketersediaan barang dan/atau jasa dan sarana dan/atau prasarana berdasarkan jumlah Warga Negara penerima
• Menyusun kebutuhan untuk pemenuhannya
• RPJMD dan RKPD
• Renstra PD dan Renja PD sesuai dengan tugas dan fungsi
58% 64%
57% 63%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
Daerah yang Mengintegrasikan SPM kedalam Dokumen Perencanaan Daerah Tahun 2019
RJPMD RENSTRA RKPD RENJA
• Menyediakan barang/jasa dan sarana prasarana sesuai dengan standar teknis SPM
• Kerjasama antar daerah dalam pemenuhan pelayanan dasar sesuai ketentuan PUU
Sumber:
PP No 2/2018 tentang SPM
Permendagri No 100/2018 tentang Penerapan SPM
9 25 42
472
0 100 200 300 400 500
Provinsi Kaupaten Kota
Sudah Membuat SK Tim Belum Membuat SK Tim
SK TIM PENERAPAN SPM
26,5% 8,2%
SK PENETAPAN SASARAN SPM
34
514
0 100 200 300 400 500 600
Provinsi Kaupaten Kota
Sudah Membuat SK Sasaran Belum Membuat SK Sasaran
0,0%
0,0%
Bagi daerah, merencanakan SPM masih menjadi permasalahan terbesar (36%). Di sini termasuk pengumpulan data, penghitungan kebutuhan, dan prioritas pimpinan daerah sendiri.
• Dari diskusi intensif terpotret bahwa kemungkinan beberapa pimpinan masih kurang aware akan prioritas SPM dalam perencanaan dan penganggaran. Lebih fokus pada pemenuhan janji politik yang kadang kurang inline dgn SPM.
• Dipandang perlu ada focusing pemerintah pusat untuk sosialisasi SPM khusus bagi kepala daerah dan DPRD.
Permasalahan terbesar berikutnya adalah pendanaan (26%), diikuti oleh permasalahan koordinasi (24%) dan lainnya (14%).
36%
24%
26%
14%
Perencanaan Koordinasi Pendanaan Lainnya
Hasil Monev Kemendagri
PERMASALAHAN SPM
Tim Penerapan SPM Prov/Kab/Kota
PENANGGUNG JAWAB : GUBERNUR/BUPATI/WALI KOTA.
KETUA :
SEKRETARIS DAERAH
WAKIL KETUA:
KEPALA BAPPEDA
SEKRETARIS:
KEPALA BAGIAN TATA PEMERINTAHAN
ANGGOTA:
KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG MEMBIDANGI URUSAN SPM, INSPEKTORAT, PENGELOLA KEUANGAN
DAN ATAU SESUAI KEBUTUHAN.
DITETAPKAN OLEH :
KEPALA DAERAH.
Implementasi SPM melalui “Perhitungan pembiayaan SPM bidang Kesehatan”
Prinsipnya, dengan memperhatikan sumber pembiayaan agar tidak terjadi duplikasi Anggaran (double costing) dengan menggunakan
Tools Costing SPM bidang kesehatan “SISCOBIKES”.
03
Tools ini mempermudah perhitungan perkiraan pembiayaan SPM bidang kesehatan di daerah melalui sistem informasi perencanaan pelaksanaan SPM
dan juga sebagai instrumen untuk memperkuat Performance Based Budgeting
dalam proses perencanaan penganggaran daerah, sehingga alokasi pembiayaan dapat efis ien dan efektif atau tercapai Alokatif Efisiensi Pembiayaan.
Costing SPM
Tools Penginputan Data Tools Penggabungan Data Puskesmas Tools Uploading Data
Berbasis Excel Berbasis Web
• Menghitung biaya per aktivitas layanan SPM menurut komponen
– Total Anggaran = orang * frekuensi * jumlah lokasi * hari * satuan biaya
– Satuan Biaya = Total Anggaran / output
• Proyeksi Total Aggaran untuk 5 tahun ke depan
– Proyeksi total anggaran = Satuan biaya * output (pada tahun yang sama)
• Hasil Analisis
– Total Kebutuhan Anggaran dan Satuan Biaya per tahun per layanan SPM
– Proyeksi kebutuhan biaya lima tahun ke depan per layanan SPM (tanpa/dengan faktor inflasi)
• Menggabungkan tools penginputan data yang diisi oleh puskesmas untuk menjadi data Kabupaten/Kota
• Hal ini dikarenakan Dinas Kesehatan kesulitan dalam pengisian data yang rinci
Sebagai alat yang mempermudah pemerintah pusat seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Keungan dalam
menganalisis
kebutuhan daerah untuk memenuhi impelementasi SPMTool Costing SPM
Evaluasi Advokasi dan Sosialisasi Tools SPM Kesehatan
Tingkat Nasional 33/34 Provinsi yang dapat hadir
• 2 orang perwakilan Dinkes Provinsi
• 2 orang perwakilan Dinkes Kab/Kota (2 Kab/Kota per Provinsi)
Tingkat Provinsi 19/34 Provinsi
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, NTB, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Bali
Tingkat Kab/Kota 10 Kab/Kota
• Temanggung
• Kulon Progo
• Depok
• Kab Bogor
• Belitung Timur
• Kota Bogor
• Kota Bandung
• Kediri
• Jombang
• Kab Karawang
Kalimantan Selatan 7 Kab/Kota Aceh
1 Kab/Kota
Bali 8 Kab/Kota Banten
4 Kab/Kota Bengkulu
5 Kab/Kota
Jawa Barat
12 Kab/Kota Jawa Tengah 1 Kab/Kota
Maluku Utara 6 Kab/Kota
Sulawesi Selatan 4 Kab/Kota Sumatera Barat
1 Kab/Kota
Sumatera Selatan 14 Kab/Kota Riau
1 Kab/Kota
Kab/Kota yang telah Input dalam Website SPM
Analisis data Costing SPM (1)
• Ada 64 Kabupaten/Kota yang melakukan upload tools costing ke SISCOBIKES
• Namun hanya 26 kab/kota yang datanya dianggap lengkap
• Sebagian data tidak bisa di analisis lanjut karena pengisian tools belum lengkap, dimana layanan SPM yang terisi kurang dari 3 layanan.
Kondisi Data
Ada perbedaan yang lebar usulan kebutuhan total anggaran SPM antar daerah
- 10 20 30 40 50 60 70 80
Total Biaya SPM (dlm Milyaran Rp)
Rerata kebutuhan SPM sekitar Rp.19 milyar per tahun per daerah, dengan standar deviasi sekitar 12 milyar per tahun
Biru= Nilai Mean; Merah=nilai STDev ; N=24 kab/kota
Variasi Besar Unit Cost
Ada variasi yang lebar untuk besaran biaya satuan per layanan SPM antar daerah pada layanan: Ibu Hamil, ODGJ, dan HIV
Rasio Alokasi Anggaran SPM terhadap Alokasi Dinkes
- 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Rasio Biaya SPM thd Anggaran Dinkes (%)
2019 2020
Rerata rasio usulan anggaran SPM sekitar 12%-13% dari anggaran Dinkes, tetapi ada yang jauh lebih tinggi
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
APBD - DAU APBD - DBH APBD - PAD DAK Fisik DAK Non Fisik Donor Agency Lainnya
Sumber Pendanaan Layanan SPM
Alokasi Anggaran dalam Jenis Kegiatan
Sumber pendanaan layanan SPM semuanya mengandalkan dari DAK, terutama DAK Non-Fisik
- 20 40 60 80 100 120
Dalam Milyaran (Rp)
Alokasi anggaran SPM terbanyak untuk transportasi, bahan habis pakai, alat kesehatan, buku, alat tes, obat, dan formulir
Potret 5 Pembiayaan Terbesar pada SPM
0%
20%
40%
60%
80%
100%
Transpot Bahan habis pakai Alat Kesehatan Buku Formulir Alat tes
Setiap layanan SPM memiliki komponen biaya terbesar: Program KIA banyak belanja Alkes & BHP, PTM untuk transportasi, sedangkan P2M lebih ke BHP dan transportasi.