DATIN LAW JURNAL
Volume. 3 Nomor. 1, Februari-Juli 2022.ISSN 2722-9262 http://dx.doi.org/10.36355/dlj.v1i1 Open Access at: https://ojs.umb-bungo.ac.id/index.php/DATIN/index
35
Perlindungan Hukum Terhadap Anak dari Bahaya Tembakau di Tinjau dari Hukum Internasional dan Hukum Nasional
Trie Rahmi Gettari1
Fakultas Hukum, UniversitasEkasakti, Padang
Jl. Veteran No.26B, Purus, Kec. Padang Barat. Telpon 0751-28859 [email protected]
ABSTRACT
A person's human rights are limited by the rights of others, in this case the public's right not to smoke cigarettes. WHO says the age limit for children is between 0-19 years. Important agreements between countries that promise to protect children's rights are contained in the Convention on the Right of the Child which was passed by the United Nations. If children do not smoke, the industry will go bankrupt like a society that does not give birth to the next generation. The impact of using cigarettes will be felt in the next 15-20 years, when children reach their productive age. In this type of legal research, law is often conceptualized as what is written in laws and regulations (law in books) or law is conceptualized as a rule or norm which is a benchmark for human behavior that is considered appropriate. The international community has regulated the protection of children's rights in several conventions, especially the issue of smoking as outlined in the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) and Monitor, Protect, Offer, Warn, Enforce, and Raise (MPOWER) where this convention aims to protect current and future generations from the impact bad tobacco consumption and exposure to tobacco smoke on health, social, environment and economy. One of the problems that are still faced by children in Indonesia, one of which is the protection of children's health. The government as the bearer of the nation's development mandate as stated in the 1945 Constitution is obliged to erase this gap.
Keywords: Framework Convention on Tobacco Control, Child Protection, Cigarettes.
ABSTRAK
Hak asasi manusia seseorang dibatasi hak asasi orang lain, dalam hal ini hak publik untuk tidak ikut menghisap asap rokok. WHO mengatakan, batasan usia anak antara 0-19 tahun.
Kesepakatan penting negara-negara yang berjanji melindungi hak-hak anakterdapat dalam ConventionontheRightoftheChild yang disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.Jika anak tidak merokok, maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus. Dampak dari penggunaan rokok akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, yaitu saat anak menginjak usia produktif. Pada penelitian hukum jenis ini, acapkali hukumdikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in
1Dosen Fakultas Hukum UniversitasEkasakti
36
books) atauhukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas. Dunia internasional telah mengatur perlindungan hak anak dalam beberapa konvensi, terkhusus masalah rokok dituangkan dalam bentuk FrameworkConventiononTobaccoControl (FCTC) dan Monitor, Protect, Offer, Warn, Enforce, dan Raise (MPOWER)dimana konvensi ini bertujuan untuk melindungi generasi saat ini dan mendatang dari dampak buruk konsumsi tembakau dan paparan asap tembakau terhadap kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi. Salah satu masalah yang masih dihadapi oleh anak- anak di Indonesia salah satunya adalah perlindungan terhadap kesehatan anak. Pemerintah sebagai pengemban amanat pembangunan bangsa sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 berkewajiban menghapus kesenjangan tersebut.
Kata kunci : Frame work Convention on Tobacco Control, Perlindungan Anak, Rokok.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam proses pertumbuhannya agar anak dapat tumbuh sebagai manusia yang tangguh, memiliki potensi dan dapat diandalkan sebagai penerus cita-cita bangsa, maka sebagai generasi penerus bangsa anak harus mendapat perlindungan oleh Negara dan Pemerintah. dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) melalui Pembukaan Alinea Ke Empat yang mengamanatkan kepada Pemerintah untuk: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.2Menurut FranzMagnis Suseno, Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang secara hakiki dimiliki oleh manusia karena martabatnya sebagai manusia yang dimilikinya sejak lahir, yang artinya anak juga memiliki hak-hak asasi manusia sebagaimana mestinya. Pasal 25 Ayat 2
Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan bahwa
“Mother hood and childhood are entitled to special care and assistance. All children, whetherborn in or out of wedlock, shall enjoy the same social protection”, artinya ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan khusus, juga disebutkan bahwa semua anak yang dilahirkan di dalam dan/atau di luar pernikahan harus
2 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Pembukaan Alinea Ke Empat.
37 mendapat perlindungan sosial yang sama.
Tingkat kepetingan hak asasi manusia dalam ranah internasional adalah berada pada skala prioritas yang sangat tinggi, mengingat hak asasi manusia ditempatkan di bawah jaminan internasional dalam piagam PBB yaitu dalam Convention on the Right of the Child(Konvensi Hak Anak), sehingga negara yang menjadi anggota dalam PBB tidak dapat melepaskan diri dalam isu pentingnya Hak Asasi Manusia.3
Batasan usia anak dalam WHO adalah antara 0-19 tahun dan kesepakatan penting negara-negara yang berjanji melindungi hak-hak anak, sejak dalam kandungan sampai berusia 18 tahun terdapat dalam yang disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Konvensi Hak Anak telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Right soft the Child (Konvensi Hak Anak), menyebutkan keluarga menjadi yang pertama dan utama dalam melakukan perlindungan terhadap anak termasuk salah satunya perlindungan dari bahaya rokok, sementara dalam Anak dalam Undang-Undang Kesejahteraan Anak adalah seseorang yang belum mencapai
3Philips C. Jessup, A Modern Law ofNations Pengantar Hukum Modern Antarbangsa, Alih Bahasa: FitriaMayasari,Bandung:
Nuansa Cendekia, 2012 hlm. 108.
umur 21 tahun dan belum pernah kawin,4 sedangkan dalam Undang-Undang tentang Perlindungan anak, adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.5 Banyak hal yang harus dikerjakan pemerintah untuk hukum perlindungan anak, di dalamnya meliputi persyaratan kelengkapan aturan hukum, kemampuan aparat yang bertugas untuk perlindungan anak, dan juga kesadaran masyarakat atas hak-hak anak.
Pasal 28 B UUD 1945 menegaskan bahwa Negara menjamin setiap anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 28 G yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaan, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Pasal 52 dan 66 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menyebutkan mengenai hak-hak sipil, politik, dan cultural anak yang perlu dihargai dan dilindungi.
Pasal dalam Konvensi Hak Anak dirangkum ke dalam empat prinsip umum untuk mewujudkan kesetaraan
4Pasal 1 (2), UU No. 4 Tahun 1974 Tentang Kesejahteraan Anak
5UU No 23 tahun 2002 tentang Perlingan Anak
38 nilai sekaligus menjamin perlindungan terhadap anak juga agar anak dapat mengembangkan potesnsi sepenuhnya, yakni; Nondiskriminasi; Kepentingan terbaik bagi anak; Hak untuk tumbuh dan berkembang; serta Penghargaan terhadap pendapat anak. Empat prinsip ini kemudian di diratifikasi ke dalam UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang secara garis besar meliputi empat hak, yakni hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi.
Lahirnya generasi perokok baru sangatlah penting bagi industri tembakau karena merekalah yang menjaga industri agar tetap sukses menjaga profit dari masa ke masa. Sebuah memo internal industri rokok yang sudah dibuka kepada publik di Amerika Serikat menyebutkan
“Jika para remaja tidak merokok, maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah” (RJ. Reynolds Tobacco Company Memo Internal, 29 Februari 1984). 6 Artinya, anak adalah target dari industri rokok, dan jika remaja tidak merokok maka industri akan mengalami kebangkrutan. Jika anak tidak merokok,
6 Koran Tempo
https://koran.tempo.co/read/opini/238291/m engapa-indonesia-harus-melarang-iklan- rokok?. Diakses pada 20 Mei 2020
maka industri akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus akan punah.
Rokok merupakan tiga faktor risiko yang paling banyak berkontribusi pada kematian. Kemungkinan perokok meninggal karena beberapa jenis penyakit yang terkait dengan kebiasaan merokok akan meningkat.
Nilai hilangnya nyawa dikenal sebagai biaya mortalitas. Satu ukuran yang digunakan untuk mengikuti nilai kehidupan yang dibuat berdasarkan nilai moneter kehidupan. Perhitungan bisa dilakukan menggunakan human capital approach, yang menghargai nyawa berdasarkan apa yang dihasilkan oleh individu. Ada pula pendekatan keinginan untuk membayar (willing ness to pay approach), yang menghargai nyawa berdasarkan apa yang mereka berani tanggung untuk menghindari penyakit atau kematian.7
Banyaknya bukti ilmiah bahwa paparan asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak bahkan bagi bayi yang masih dalam kandungan.
Padahal dampak dari penggunaan rokok akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, yaitu saat anak menginjak usia produktif.
Sebanyak 225.700 orang meninggal dunia
7Soewarta Kosen, Kerugian Ekonomi Di Balik Konsumsi Rokok Di Indonesia Hampir Rp.600Thttps://theconversation.com/riset- terbaru-kerugian-ekonomi-di-balik-
konsumsi-rokok-di-indonesia-hampir-rp600- triliun-89089diakes pada 7 Mei 2019
39 setiap tahun akibat rokok di Indonesia, dan 7% nya, atau sekitar 15.844 orang adalah perempuan.8 Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya anak, perempuan juga termasuk kelompok rentan, yang menjadi second- handsmoke (perokok pasif) dan berisiko sama bahayanya dengan first-handsmoke (perokok aktif). Untuk itu, perlindungan terhadap dampak tembakau tidak hanya ditargetkan kepada anak, tetapi juga kepada perempuan.”9
Di Amerika serikat, lebih kurang 10% dari penduduk mulai terbiasa merokok pada saat mereka berumur 10 tahun, 65%
perokok mulai kecanduan merokok pada saat mereka berada di sekolah menengah.
Sedangkan di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995, kebiasaan merokok penduduk sudah dimulai pada usia remaja, dimana 53,2% dari mereka yang merokok memulai perilaku merokoknya pada usia 15-19 tahun. Bahkan sebanyak 0,55% dari mereka telah mulai merokok pada usia 5-9 tahun, suatu usia yang sangat muda.10Pada tahun 2001, di kota Bandung,
8 Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, 2018
9 WebsiteKemenppa;
https://www.kemenpppa.go.id, diakses pada 3 maret 2020
10M.Ayus Astoni, M. Zulkarnaen,Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Merokok serta Prevalensi Perokok pada Remaja di Kelurahan Marianan Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Musi Banyuasin, Jurnal Kedokteran Universitas Sriwijaya, 1999,
hlm. 505, dalam
26,48% dari penduduk memulai perilaku merokoknya di usia 10-17 tahun dan angka ini meningkat setahun kemudian, yaitu menjadi 43,42%.11
Merokok bukanlah salah satu bagian dari hak baik hak sipil maupun hak ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga merokok bukanlah hak asasi manusia.
Merokok adalah pilihan darisetiap orang.
Namun, dalam sebuah pilihan ada konsekuensi yang harus dilakukan, yaitu menghormati orang ain agar tidak terkena dampak (asap rokok). Dalam hal ini, negara selaku pemilik otoritas kebijakan dan hukum, wajib memberikan perlindungan dan pemenuhan hak atas kesehatan dan yang lingkungan yang sehat, kepada tiap warga negara, termasuk bebas dari asap rokok ini. Untuk itu kebijakan seperti Kawasan Tanpa Rokok ini harus dilakukan.12
Tembakau dan rokok telah menjadi keprihatinan dan epidemi umum global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
https://journal.binus.ac.id/index.php/Humani ora/article/download/3355/2737 diakses pada 3 Mei 2020
11Dwi Kencana Wulan, Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Remaja,https://media.neliti.com/media/publi cations/167030-ID-faktor-psikologis-yang- mempengaruhi-peri.pdf diakses pada 23 Maret 2020
12 Komnas HAM. Naskah Akademik RUU Pengesahan
FrameworkConventiononTobaccoControl.
Tahun 2012. hlm. 52
40 meyakini bahwa cara yang efektif untuk mengatasinya adalah melalui hukum internasional. Pada 16 Juni 2003, WHO menyimpulkan Konvensi Kerangka Kerja tentang Pengendalian Tembakau (FCTC)13 yang bertujuan untuk melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak paparan rokok. FCTC berawal pada tahun 1999, yang diinisiasi oleh negara- negara berkembang, Amerika Latin, India, Thailand dan Indonesia. Karena merupakan masalah global diperkirakan 70% orang akan meninggal pada abad 21 diantaranya di negara berkembang. Pada tanggal 21 Mei 2003 FCTC disetujui dalam sidang dunia, namun Indonesia batal menandatanganinya.
Tujuan lain dibuatnya FCTC adalah untuk menghadapi globalisasi epidemi tembakau. Penyebaran tembakau yang difasilitasi melalui faktor yang kompleks dengan efek lintas batas dan investasi asing yang langsung. Faktor lain seperti pemasaran global, iklan promosi dan sponsor tembakau yang bersifat lintas bangsa dan pergerakan internasional rokok ilegal dan palsu juga telah berkontribusi pada meledaknya peningkatan penggunaan tembakau.14
13 Sukanda Husin, Legal
AspectonPublicHealthProtectionfromTobacc oConsumptionandExposure in Indonesia, hlm. 3
14 Konvensi Mengenai Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, hlm. iv
Beberapa kerugian yang dialami Indonesia karena belum menandatangani dan mengaksesi FCTC, diantaranya 15 : Pertama, saat ini Indonesia merupakan target market atau tujuan utama pemasaran industri rokok multi nasional yang berisiko merusak kesehatan generasi bangsa dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kedua, konsumsi rokok di Indonesia akan semakin meningkat tajam terutama di kalangan kelompok rentan seperti anak- anak, ibu hamil dan penduduk miskin. Hal ini akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian terkait penyakit akibat konsumsi rokok. Ketiga, Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti ConferenceofParty, yaitu konferensi negara- negara yang telah meratifikasi FCTC untuk memperjuangkan kepentingannya dan terlibat dalam negosiasi penerapan panduan dan protokol FCTC. Keempat, Indonesia kehilangan harkat dan martabat sebagai negara yang melindungi dan bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tindakan hukum perlu dilakukan sebagai strategi pengendalian dampak tembakau. FCTC melihat bahwa pertanggungjawaban merupakan program
15Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia Merugi Bila Tidak Aksesi FCTC,http://www.depkes.go.id/article/print/
2369/indonesia-merugi-bila-tidak-aksesi- fctc.html. diakses pada 6 Mei 2019
41 yang penting dalam pengendalian dampak tembakau.16
Pengakuan yang didapat oleh suatu negara lain berhubungan erat dengan pergaulan yang dilakukan oleh suatu negara di dalam dunia internasional. Dengan aktifnya suatu negara di dalam dunia internasional, maka pergaulan negara tersebut juga akan semakin meningkat dengan negara lain maupun di dalam organisasi internasional. Hal itu akan berdampak mudahnya suatu negara untuk membuat suatu perjanjian internasional serta kerja sama lainnya yang menguntungkan bagi negara tersebut.
Sehingga dengan tidak diratifikasinya FCTC oleh pemerintah Indonesia, menyebabkan kerugian dalam hubungan bilateral dengan negara lain terutama dengan negara yang sudah meratifikasi FCTC ataupun organisasi internasional. Indonesia akan dikucilkan oleh negara lain dalam hal pergaulan internasional, karena indonesia merupakan negara yang ikut serta aktif di dalam FCTC dari awal hingga akhir pembahasan.17
16 TCSC, Indonesia Adalah Satu –Satunya Negara di Asia Pasifik dan Anggota OKI yang Belum Tergabung dalam FCTC
17 Aditia Bagus Santoso. Analisis Hukum Dampak Belum Diratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (FrameworkConventononTobaccoControl) Bagi Indonesia. Fiat Justiisa Jurnal Ilmu Hukum. Vol. 8 No.4. Oktober-Desember 2014.
Dari beberapa alasan mengapa Indonesia belum meratifikasi FCTC salah satunya adalah dari segi budaya dan sejarah. Yang mana orang dahulu merokok dengan menggunakan kretek. Kretek merupakan rokok tradisional yang di buat dari tembakau, kuncup cengkeh, dan bumbu
“saus” baik yang dibuat tradisional oleh tangan maupun oleh mesin. Jenis rokok ini merupakan satu-satunya yang diprosuksi di dunia oleh Indonesia, dan kretek juga menggunakan tembakau dengan kualitas yang terbaik yang hanya dapat dihasilkan di daerah tertentu di Indonesia, sehingga kretek menjadi suatu budaya.18
FCTC jelas ditentang oleh industri tembakau. Mereka menyatakan bahwa FCTC adalah obsesi negara maju yang dipaksakan kepada negara berkembang. Mereka menyangkal bahwa FCTC adalah hasil negosiasi dari banyak negara, tidak hanya negara-negara berkembang, mereka menyatakan bahwa FCTC hanya akan merampas hak pemerintah dalam menentukan kebijakan pengendalian dampak tembakau nasional.
Meskipun industri rokok telah diatur secara ketat di beberapa negara, namun di Indonesia masih menjadi masala yang serius. Dengan mengaksesi FCTC, Indonesia dapat menunjukkan kepedulian dan tanggung jawabnya dalam memberikan
18Aditia Bagus. Op.cit
42 perlindungan terhadap hak masyarakat guna mencapai derajat kesehatan optimal dan sekaligus menyelamatkan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda dari bahaya penyakit akibat konsumsi rokok.19
Data WHO menyatakan, tembakau membunuh lebih dari 5 juta orang pertahun, dan di proyeksikan akan membunuh 10 juta sampai tahun 2020, dengan 70% kematian terjadi di negara berkembang. Berdasarkan gambaran tersebut menunjukkan rokok telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara serius. Indonesia merupakan negara terbesar ke-5 di dunia yang memproduksi tembakau. Dari segi jumlah perokok, Indonesia merupakan negara terbesar ke-3 di dunia setelah China dan India.20
Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, di mana dalam Bab III Pasal 1 ayat (1) dan pasal 4 menyebutkan: pasal 1 (1): “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”
Selanjutnya dalam pasal 4 dinyatakan:
“Setiap orang mempunyai hak yang sama
19Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia Merugi Bila Tidak Aksesi FCTC,http://www.depkes.go.id/article/print/
2369/indonesia-merugi-bila-tidak-aksesi- fctc.html. diakses pada 6 Mei 2019
20Kementria Kesehatan RI. 2010. Pedoman Teknis Pengembangan
dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.”
Dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, salah satunya mengatakan bahwa Setiap kebijakan publik harus selalu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan. Mengacu pada poin tersebut, maka segala sektor pembangunan harus mempertimbangkan aspek kesehatan.
Tajuk utama FCTC selalu membicarakan mengenai kesehatan, maka pemerintah harus memperhatikan masalah kesehatan di Indonesia. Selama ini, hanya kementrian kesehatan yang menjadi leading sektor dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan, terutama dalam masalah penyakit akibat rokok.
Indonesia sudah memiliki Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Indonesia Pasal 46 Ayat 3 meski belum meratifikasi FCTC dimana menjadikan Iklan, promosi dan sponsor produk tembakau menjadikan remaja sebagai targetnya, meskipun begitu tetap harus mempercepat upaya peningkatan status kesehatan masyarakat terutama memberikan perlindungan terhadap anak- anak dengan mengendalikan salah satu faktor resiko utama sehingga dapat menahan epidemi penyakit tidak menular
43 dengan cara mengaksesi atau menyetujui FCTC.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana implementasi aturan hukum Internasional di Indonesia dalam melindungi anak dari bahaya rokok?
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif.
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pendekatan undang- undang (statuteapproach), pendekatan konseptual (conceptualapproach) dan pendekatan kasus (caseapproach).
Penelitian yuridis normatif adalah penelitian yang mengkaji penerapan kaidah atau norma dalam hukum positif sehubungan dengan implementasi undang-undang ite yang dianggap keluar dari sosio politik atau tujuan undang-undang tersebut.21 Metode penelitian yuridis normatif biasa disebut penelitian hukum doktriner atau penelitian kepustakaan. Disebut sebagai penelitian yuridis normatif dikarenakan penelitian ini ditujukan
21Ali, Metode Penelitian Hukum, Cet. 6, Sinar Grafika, Jakarta, 2015,hal. 105
pada peraturan-peraturan tertulis sehingga penelitian ini sangat erat hubungannya dengan perpustakaan karena membutuhkan data yang bersifat sekunder.
44 I. PEMBAHASAN
A. PengaturanInternasionalMengenaiP erlindungan HakAnak
Upaya perlindungan anak dalam Deklarasi Hak Anak pada 20 November 1959 yang dapat dilihat dalam Asas 1, Asas 2, Asas 9, yang pada prinsipnya:22
1. Asas 1, “anak hendaknya menikmati semua hak yang dinyatakan dalam deklarasi ini. Setiap anak tanpa pengecualian apapun harus menerima hak-ahak ini tanpa perbedaan atau diskriminasi rasm warna kulit, asal usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, kelahiran aau status sosial lainnya baik dirinya maupun keluarganya”
2. Asas 2, “anak harus menikmati perlindungan khusus dan harus diberikan kesempatan fasilitas oleh hukum ataupun peraturan lainnya untuk memungknkan tumbuh jasmaninya, rohaninya, budinya,
kejiwaannya dan
kemasyarakatannya dalam keadaan sehat dan wajar dalam kondisi yang bebas dan bermartabat. Dalam penetapan hukum untuk tujuan inim perhatian yang terbaik adalah pada
22M. Nasir, Op.cit, hlm 27
saat anak harus menjadi pertimbangan pertama”
3. Asas 9, “anak harus dilindungi dari semua bentuk kelalaian , kekejaman, dan eksploitasu. Anak tidakbolehmenjadisasaranperdagan gandalamsegalabentuknya.”
ConventionontheRightsoftheChild(CRC), yang didklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada 20 November 1989, sehingga menjadi Traktat internasional utama yang mengatur hak-hak anakyang mengakui perlunya jaminan dan perawatan khusus, termasuk perlindungan hukum yang tepat bagi anak sebelum dan setelah kelahirannya. Anak berhak atas hak dan kebebasan yang sama dengan orang dewasa.
“States
Partiesrecognizetheimportantfunctionpe
rformedbythemass media
andshallensurethatthechild has accesstoinformationand material from a diversityofnationalandinternationalsour ces,
especiallythoseaimedatthepromotionof his orhersocial, spiritual and moral well- beingandphysicaland mental health.”
(Article 17)
Pasal 17 KonvensiHak Anak tersebutmengatakanbahwaAtas dasar hak anak untuk kesehatan secara khusus, pemerintah harus memberikan informasi
45 yang tepat untuk melindungi anak-anak dari dampak berbahaya dari penggunaan tembakau. Sementara akses ke informasi terkait kesehatan adalah bagian dari hak atas kesehatan, kewajiban khusus pada bagian dari negara harus dieksplorasi dalam konteks sifat dan ruang lingkup hak atas informasi untuk anak-anak. Pemerintah juga harus melindungi anak-anak dari tembakau dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi penggunaannya di kalangan anak-anak.
States
Partiesshallprotectthechildagainstallot herformsofexploitationprejudicialtoan yaspectsofthechild'swelfare.(Article 36)
Negara juga didesakuntuk mengatur industri tembakau dengan membatasi iklan, pemasaran, dan penjualan tembakau kepada anak-anak. Penelitian menunjukkan bahwa remaja lebih rentan terhadap pemasaran tembakau daripada orang dewasa. Oleh karena itu, tanggung jawab pemerintah untuk melindungi anak-anak dari pemasaran tembakau juga harus dieksplorasi dengan jelas perlindungan terhadap eksploitasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 36 CRC.23
23Brigit Toebesdkk, A missingvoice: the human rightsofchildrento a tobacco- freeenvironment,
https://tobaccocontrol.bmj.com/content/27/1/
3.full diakses pada 10 Maret 2020
Prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Piagam PBB, pengakuan atas martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut oleh siapapun merupakan landasan dari kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di seluruh dunia. Menurut John Rawls "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran."24 Dalam bukunya, A Theory of Justice, Rawls mengemukakan pandangan terhadap suatu penggabungan yang prinsipil antara
“kebebasan” dan “persamaan.” Hal terpenting menurutnya adalah pertimbangan mengenai keadaan-keadaan di sekeliling keadilan itu dan suatu pilihan yang adil atas situasi oleh pihak-pihak yang berhadapan dengan keadaan tersebut.
Prinsip-prinsip keadilan diperlukan sebagai pedoman tingkah laku para pihak, tujuan- tujuan yang dicari untuk memajukan, dan menginginkan untuk bekerjasama dengan orang lain dengan cara saling menguntungkan.
Ada 4 prinsip utama dalam Konvensi Hak Anak, yakni:
1. Non-diskriminasi Pasal 2
1. States
Partiesshallrespectandensure therights set forth in
24John Rawls, A TheoryofJustice. United State of America: TwentiethPrinting, 1971, hlm. 4
46 thepresentConventiontoeachc
hildwithintheirjurisdictionwit houtdiscriminationofanykind, irrespectiveofthechild'sor his orherparent'sor legal guardian'srace, colour, sex, language, religion, politicalorotheropinion, national, ethnicorsocialorigin, property, disability, birth or other status.
2. States
Partiesshalltakeallappropriat emeasurestoensurethatthechi ldisprotectedagainstallformso fdiscriminationorpunishment onthe basis ofthe status, activities, expressedopinions, orbeliefsofthechild'sparents,
legal guardians,
orfamilymembers.
Pasalinibermaksud agar semuaanakharusmendapatkanhakt anpaperbedaanapapun.
2. Prinsip yang terbaik bagi anak Pasal 3 ayat 1
In
allactionsconcerningchildren, whetherundertakenbypublico rprivatesocialwelfareinstituti ons, courtsoflaw, administrativeauthoritiesorle
gislativebodies,
thebestinterestsofthechildshal lbe a primaryconsideration.
Pasal
tersebutmerupakanbagiandarithe Best Interestof The Child atau kepentingan terbaik bagi anak. Jadi apa pun yang dilakukan terkait
dengan anak harus
mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak. Bentuk keterlibatan anak dengan rokok bersifat aktif maupun pasif.
Prinsipinimengingatkan pada seluruhpenyelenggaraperlinfungan anakbahwapertimbangan-
pertimbangandalampengambilank eputusanmenyangkut masa depananakbukandenganukuran orang dewasa, apalagiberpusat pada kepentigan orang dewasa.
Maka prinsip the Best Interestof The Child dipakai karena berkaitan dengan hak untuk hidup, tumbuh dan kembang anak secara komprehensif dari segi fisik, spiritual, intelektual, dan moral.
3. Hak untuk hidup dan berkembang Pasal 6 ayat 1
States
Partiesrecognizethateverychil d has theinherentrighttolife
47 Artinya segala potensi yang akan membahayakan anak harus diminimalisir di setiap lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat.
Rumah dan sekolah harus menjadi tempat yang bersahabat dengan anak agar mereka nyaman untuk belajar, bermain, memanfaatkan waktu luang dan lain sebagainya.
Negara harus memastikan setiap anak akan terjamin kelangsungan hidupnya karena hak hidup adalah sesuatu yang melekat dalam dirinya, bukan merupakan sesuatu yang yang diberikan oleh negara atau orang-perorangan,
sehingganegara harus
menyediakan lingkungan yang kondusif dan memadai serta akses setiap anak untuk mengangkses kebutuhan dasar.
4. Hak untuk ikut berpartisipasi.25 Pasal 12 ayat 1
States
Partiesshallassuretothechildw hoiscapableofforming his orherownviewstherighttoexpr essthoseviewsfreely in allmattersaffectingthechild, theviewsofthechildbeinggiven
25Elfina Sahetapy, “Perlindungan Hak Anak
Kewajiban Siapa,” 2010,
http://www.perkantasjatim.org/index.php?g=
articles&id=70, diakses pada 4 juni2020
dueweight in
accordancewiththeageandma turityofthechild.
Prinsip pengharganterhadp anak menegaskan bahwa anak tidak bisa dipandang sebagai posisi yang lemah, menerima dan pasif tapi anak juga memiliki penalaman, keinginan, imajinasi, obsesi dan aspirasi yang belum tentu sama dengan orang dewasa. Sejatinya anak membutuhkan pihak-pihak tertentu, baik orang tua/keluarga, masyarakat pemerintah, dam negara selaku pembuat regulasi, pelaksana pemenuhan hak-hak anak, dan pengemban kewajiban negara.26
B. Pengaturan Hukum
InternasionalDalamPengendalianTe mbakau
1. FrameworkConventiononTobaccoCon trol
Negara-negara di dunia sepakat membuat sebuah Konvensi/perjanjian internasional yangmengatur tentang kesehatan masyarakat. Konvensi ini dikenal sebagai
FrameworkConventiononTobaccoControl(FC TC) yang berada di bawah naungan
26M. Nasir, Op.cit,hlm. 25
48 WorldHealthOrganization(WHO) dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dari bahaya dampak rokok.
Peredaran rokok yang sangat bebas di Indonesia ini telah menjatuhkanwibawa dan citra Indonesia di mata internasional, karena di saat semua negaraberamai-ramai berusaha untuk mengendalikan penjualan dan dampak rokok,tindakan Indonesia malah sebaliknya, sehingga tak heran jika Indonesiadigunjingkan di forum-forum internasional dan terlebih lagi Indonesia jugamerupakan satu-satunya negara di Asia yang belum mengaksesi FCTC.27
Naskah FCTC sudah dirancang sejak tahun 1999 dan selesai pada bulan Februari 2003 dengan melalui enam kali pertemuan- pertemuan regional. Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam semua pertemuan Internasional yang diselenggarakan oleh IntergovernmentalNegotiatingBody(INB) di Geneva, maupun dalam pertemuan regional antara negara-negara anggota WHO Kawasan Asia Tenggara (WHO SEARO) dan ASEAN.28
Proses penyusunan FCTC pada tahap awal melibatkan banyak pihak antara lain para ahli dalam bidang kesehatan
27Lula Nadia, Op.cit
28Santoso, Aditia Bagus, Analisa Hukum Belum diratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, Jurnal Hukum, 2014, Vol VIII, hlm. 1
masyarakat, pemerintah, perusahaan tembakau milik negara, dan juga perusahaan tembakau multinasional.
Indonesia berperan penting dalam pembuatan FCTC. Mawarwaty, sekretaris Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau BPOM di bawah Kementrian Kesehatan Republik Indonesia secara aktif mengambil bagian dalam penyusunan FCTC.29Delegasi Indonesia untuk FCTC sangat menyadari urgensi tentang kesehatan masyarakat terutama yang kaitannya dengan upaya pengendalian tembakau yang bertujuan untuk melindungi generasi muda yang mulai kecanduan rokok dan kebiasaan merokok. Indonesia bersama India dan Thailand dan beberapa negara berkembang dan negara-negara Amerika Latin merupakan pemrakarsa dari FCTC.
Indonesia berkontribusi pada isi dari kerangka kerja tersebut dan juga memberi saran serta menyampaikan aspirasi dari banyak kelompok kepentingan yang sebagian besar mendukung FCTC. Akhirnya FCTC secara resmi ditetapkan sebagai perjanjian internasional pertama di bawah WHO dalam bidang kesehatan publik pada tanggal 21 Mei 2003.
29Mengapa Indonesia TidakMeratifikasi FCTC dari WHO
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t73707.pdf diakses pada 20 Juni 2020
49 FCTC selanjutnya ditandatangani pada 16-22 Juni 2003 di Geneva dan pada Juni 2003-2004 di New York oleh negara-negara yang bersedia mengadopsi isi dari FCTC sebagai bentuk komitmen politiknya.
Negara-negara yang masih ingin menandatangani FCTC setelah tahun 2004 melalui proses aksesi yang setara dengan ratifikasi. Pada bulan Februari tahun 2005 FCTC secara resmi diberlakukan. Karena telah ditandatangani oleh lebih dari 40 negara, FCTC menjadi konvensi di bawah hukum internasional terkait pengendalian tembakau yang bersifat mengikat terhadap negara- negara yang meratifikasinya.30
Menurut Dina Kania, 31 FCTC memungkinkan perlindungan bagi kesehatan masyarakat, melalui pengendalian permintaan, harga dan cukai, kemasan dan pelabelan, iklan atau promosi dan sponsor rokok, serta perlindungan dari asap. Selain pengendalian permintaan, perlu juga dilakukan pengendalian penawaran, termasuk upaya melarang penjualan rokok pada anak dibawah umur. Ini sesuai dengan teori perlindungan hukum menurut Satjipto Raharjo perlindungan hukun adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang
30Dina
Kania,WHOFrameworkConventiononTobac coControl
31 National Profesional
OfficerforTobaccoFreeInitiative
lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum. Hukum hadir dalam masyarakat adalah untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan yang bisa bertubrukan satu sama lain.
Pengkoordinasian kepentingan-kepentingan tersebut dilakukan dengan cara membatasi dan melindungi kepentingan-kepentingan tersebut.32
Analisis terbaru dari 117 laporan pelaksanaan nasional, hampir 80 persen dari Pihak ke Konvensi melarang penjualan produktembakau kepada anak-anak dan 70 persen,33 peringatan kesehatan yang jelas dan terlihat pada paket produk tembakau, tingkat penggunaan tembakau menurun di negara-negara maju, dan meningkat di negara-negara berkembang yang dianggap sebagai gerbang baru untuk pemasaran produk tembakau terutama bagi anak perempuan dan perempuan.
Penggunaan Pajak adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi penggunaan tembakau, hanya 21 negara memiliki tingkat pajak tembakau yang lebih besar dari 75 persen dari harga eceran
32SatjiptoRahardjo,Op.cit.hlm. 54
33siteresources.worldbank.org/INTETC/Resourc es/..sebuah lembaga utama internasional yang menangani isu kesehatan, Laporan Kemajuan Pengawasan Penggunaan Rokok, diakses pada1 Juni 2020
50 Protokol pertama Konvensi yang bertujuan untuk memerangi perdagangan gelap tembakau sedang dinegosiasikan, bahwa industri tembakau menggambarkan dirinya yang bertanggung jawab dan meminta untuk ikut menjadi bagian dalam bernegosiasi.
Di dalam FCTC dinyatakan bahwa upaya penurunan penggunaan tembakau dilakukan melalui beberapa upaya, yang meliputi:
a. penggunaanmekanismepengendalianhar ga dan pajak
b. pengendalian/penghentianiklan, promosi dan sponsor
c. pemberian label dalamkemasanrokok yang mncantumkanperingatankesehatan dan tidakmenggunakanistilah yang mnenyesatkan
d. pengaturanudarabersih
(proteksiterhadappaparan asap rokok)
e. pengungkapan dan
pengaturanisiproduktembakau
f. edukasi, komunikasimpelatihan dan penyadarnpublik
g. upayamengurangiketergantungan dan menghentikankebiasaanmerokok
Dalammereduksipasokandincantumkan beberapaupaya, yaitu yang berhubungandengan:
a. perdangangelap/penyelundupanprodukt embakau
b. penjualankepada dan
olehanakdibawahumur
c. upayamengembangkankegiatanekonomi salternatif (economically viable alternative solutions”)
Sebagaimana tertulis dalam pembukaannya, tujuan FCTCadalah untuk
"melindungi generasisekarang dan mendatangdarikerusakankesehatan, sosial, lingkungan dan konsekuensi ekonomi dari konsumsi tembakau sertapaparanterhadap asap tembakau."
FCTC terdiri dari 11 Bab dan 38 Pasal.Secara umum, pasal-pasal dalam FCTC dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok kebijakan. Pertama tentang Kebijakan Pengendalian permintaan konsumsi tembakau (demandreduction) dan kedua tentang Kebijakan Pengendalian
Pasokan Produk tembakau
(supplyreduction).34
a. Kebijakanpengendalianpermintaankons umsitembakau (demand reduction) 1. Secondhand Smoke (Pasal 8)
1) Partiesrecognizethatscientif
icevidence has
unequivocallyestablishedtha texposuretotobaccosmokeca usesdeath,
diseaseanddisability
34Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Selayang Pandang FCTC
51 2) EachPartyshalladoptandim
plement in
areasofexistingnationaljuris diction as
determinedbynationallawan dactivelypromoteatotherjuri sdictionallevelstheadoption andimplementationofeffecti velegislative, executive, administrativeand/orother measures,
providingforprotectionfrom exposuretotobaccosmoke in indoorworkplaces,publictra nsport,
indoorpublicplacesand, as appropriate,
otherpublicplaces.
Paparan asap
rokoktelahterbuktisecarailmiahmen yebabkankematian, penyakit dan
kecacatan. FCTC
mensyaratkanseluruh negara pesertauntukmengambillangkahefek tifdalammelindungi yang bukanperokokdari asap rokok di ruangpublik, termasuktempat- tempatkerja, kendaraanumum, sertaruanganpubliklainnya. Langkah efektifdalammelindungibukanperok okadalahdenganmenerapkan
Kawasan TanpaRokoksecara total.Ini
demi tercapainyahakkesehatan dan kenyamanan.
2. Iklan, Promosi dan
PemberianSponsor (Pasal 13) 2) EachPartyshall, in accordancewithitsconstitu tionorconstitutionalprinci ples,undertake a comprehensive ban ofalltobaccoadvertising, promotionandsponsorship.
Thisshallinclude,
subjecttothe legal environmentandtechnical meansavailabletothatPart y, acomprehensive ban oncross-border
advertising,
promotionandsponsorship originatingfromitsterritor y. In thisrespect, withintheperiodoffiveyears afterentryintoforceofthisC onventionforthatParty, eachPartyshallundertakea ppropriatelegislative, executive,administrativean d/orothermeasuresandrep ortaccordingly in conformitywithArticle 21 FCTC mensyaatkan negara anggotamelaksanakanlarangan total
52 terhadapsegalajenisiklan, pemberian
sponsor dan promosiproduk- produktembakaubaiksecaralangsung maupuntidaklangsungdalamkurunw
aktu 5
tahunsetelahmeratifikasiKonvensi.
Laranganini juga
termasukiklanlintas batas yang berasaldarisalahsatu negara anggota.Bagi negara-negara yang memiliki hambatan konstitusional, larangan terhadap iklam, promosi dan sponsor dilakukan dengan pertimbangan hukum yang berlaku di negara tersebut.
3. Pajak dan Penyelundupan Bebas Bea (Pasal 6)
1) The
Partiesrecognizethatprice andtaxmeasures are aneffectiveandimportantm eansofreducingtobaccocon sumptionbyvarioussegmen tsofthepopulation, in particularyoungpersons
FCTC menghimbau negara-negara anggotuntukmenaikkanpajaktembak
au dan
mempertimbangkantujuankesehatan masyrakatdalammenetapkankebijak ancukai dan hargaproduktembakau.
Penjualantembakaubebasbea juga
dilarang.
Kenaikanhargatembakauterbuktime rupakanlangkahefektifdalammengur angikonsumsitembakau, terutama di kalangananak-anak dan remaja.
4. Pengemasan dan Pelabelan (Pasal 11)
(a) tobaccoproductpackagi ngandlabellingdo not
promote a
tobaccoproductbyanym eansthat are false, misleading,
deceptiveorlikelytocrea teanerroneousimpressi onaboutitscharacteristi cs, healtheffects, hazardsoremissions, includinganyterm, descriptor, trademark, figurativeoranyothersi gnthatdirectlyorindirec tlycreatesthefalseimpre
ssionthat a
particulartobaccoprod uctislessharmfulthanot hertobaccoproducts.
Thesemayincludeterms such as “low tar”,
“light”, “ultra-light”, or“mild”; and
(b) each unit
packetandpackageofto
53 baccoproductsandanyo
utsidepackagingandlab ellingofsuchproductsals ocarryhealthwarningsd escribingthearmfuleffe ctsoftobaccouse, andmayincludeotherap propriatemessages.
Dalamwaktutigatahunsetelah negara meratifikasi, negara para pihaksebagaimanaditetapkandalamp eraturanperundang-
undangannasional, waibmengikuti dan
melaksanakankebijakanefektiftentan
gkemasan dan
pelabelanproduktembakau.
Pasal 11 mensyaratkan agar
sedikitnya 30%
daripermukaankemasanprodukroko
kdigunakanuntuk label
peringatankesehatan. Pasalini juga mengharuskanpeeringatankesehatan tersebutdigantisetiapsaat dan dapatmenggunakangambar.peringat an yang mengandng kata-kata menyesatkanseolah-
olahproduknyaamanseperti “light,
mild, dan low tar”
tidakbolehdigunakan.
5. Pengungkapan dan
PengaturanKandunganRokok (Pasal
9 dan Pasal 10) Pasal 9
The
ConferenceoftheParties, in consultationwithcompeten tinternationalbodies,shallp roposeguidelinesfor testing
andmeasuringthecontents andemissionsoftobaccopro ducts,
andfortheregulationofthes econtentsandemissions.
EachPartyshall,
whereapprovedbycompete ntnationalauthorities, adoptandimplementeffecti velegislative,executiveand administrativeorothermea suresforsuch testing andmeasuring,
andforsuchregulation.
Pasal 10
EachPartyshall, in accordancewithitsnational law,
adoptandimplementeffecti velegislative, executive, administrativeorothermea suresrequiringmanufactur ersandimportersoftobacco productstodisclosetogover
54 nmentalauthoritiesinform
ationaboutthecontentsand emissionsoftobaccoproduc ts.
EachPartyshallfurtherado ptandimplementeffectivem easuresforpublicdisclosure ofinformationaboutthetoxi cconstituentsofthetobacco productsandtheemissionst hattheymayproduce.
Produktembakaumemangperludiada kanpengaturannya.Negara anggota sepakat untuk menyusun suatu acuan yang dapat digunakan oleh seluruh negara dalam mengatur
kandungan produk
tembakau.Negara-negara anggota juga harus mewajibkan pengusaha tembakau untuk mengungkapkan kandungan produk tembakau.
6. Edukasi, Komunikasi, Pelatihan dan KesadaranPublik (Pasal 12)
EachPartyshallpromotean dstrengthenpublicawarene ssoftobaccocontrolissues,u singallavailablecommunic ationtools, as appropriate.
Towardsthisend,
eachPartyshalladoptandi mplementeffectivelegislati ve, executive
FCTC mendorong negara pesertamembuatkeijakanuntukmeni ngkatkankesadaranpubliktentangpe ngendaliantembakaumelaluiberbaga ikegiatanantara lain:
kegiatanmeningkatkankesadaranpub liktentangbahayamerokok dan
paparan asap
rokoksertamanfaatberhentimerokok
;
pelatihanpengendaliantembakaubagi tenagakesehatanmpekerjasosial,
media, pendidik,
pengambilkebijakanterkaiylainnya;
kegiatanuntukmeningkatkankesadar an dan partisipasilintassektor (pihakswasta, pemerintah dan LSM) dalammengimplementasikanpengen daliantembakau.
7. Program MengatasiKetergantungan dan berhentiMerokok (Pasal 14)
EachPartyshalldevelopand disseminateappropriate, comprehensiveandintegrat edguidelinesbasedonscient ificevidenceandbestpractic es,
takingintoaccountnational circumstancesandprioritie s,
andshalltakeeffectivemeas urestopromotecessationoft
55 obaccouseandadequatetre
atmentfortobaccodepende nce.
FCTC mendorong negara para pihakuntukmengembangkanpedoma n yang tepat, menyeluruh dan terpaduberdasarkanbuktiilmiahdala mmengatasimasalahketergantungan konsumsitembakau.Pelaksanaannya diselenggarakan dengan mempertimbangkan kondisi dan prioritas nasional, yang efektif dalam mempromosikan upaya pengehntian konsumsi produk tembakau serta pengobatan yang memadai terhapa ketergantungannya.
b. Kebijakanpengendalianpasokanprodukt embakau (supply reduction)
1) Penyelundupan (Pasal 15) The
Partiesrecognizethattheeli minationofallformsofillicit trade in tobaccoproducts, includingsmuggling, illicitmanufacturingandco unterfeiting,
andthedevelopmentandim plementationofrelatednati onallaw, in additionto subregional,regional and global agreements, are
essentialcomponentsoftob accocontrol.
FCTC
mensyaratkanuntukmelakukansuatu tindakandalamrangkamengatasipen yelundupantembakau.Tindakan tersebut termasuk meniuliskan asal pengiriman di semua kemasan tembakau.Selain itu, negara-negara anggota juga dihimbau untuk menegakkan hukum terhadap penyelundupan tembakau lintas negara.
2) PembatasanPenjualan pada anak (Pasal 16)
EachPartyshalladoptandi mplementeffectivelegislati
ve, executive,
administrativeorothermea suresattheappropriategov
ernment level
toprohibitthesalesoftobacc oproductstopersonsundert heage set bydomesticlaw, nationallaworeighteen.
FCTC menghimbau negara para pihak untuk melarang penjualan produk tembakau kepada anak di bawah umur 18 tahun, melarang pemberian produk tembakau secara cuma-cuma, melarang penjualan
56 rokok batangan atau rokok dengan
kemasan kecil yang memudahkan anak di bawah umur untuk membelinya, serta membuat peraturan yang disertai sanksi kepada penjual dan distributor yang melanggar ketentuan di atas.
Para pihak harus menetapkan aturan untuk melarang penjualan produk tembakau kepada anak yang di bawah umur, produk tembakau harus mencantumkan dengan jelas larangan penjualan kepada anak di bawah umur, menempatkan tempat penjualan rokok di tempat yang sulit dijangkau anak-anak, dan melarang penjualan rokok batangan per batang atau dalam paket kecil. Kebijakan- kebijakan tersebut sejalan dengan teori perlindungan hukum Perlindungan anak adalah perlindungan terhadap bagian penting dalam hal kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, karena anak adalah generasi mendatang yang diharapkan kehidupannya jauh lebih baik dari generasi saat ini.
2. MPOWER
Berpacu pada dampak buruk merokok terhadap kesehatan dan ekonomi, diperlukan suatu upaya penanggulangan.
Sebagai upaya memerangi epidemi penggunaan tembakau secara global, WHO dalam FTCT telah menyusun strategi yang digunakan oleh negara-negara anggota dalam melakukan pengendalian epidemi tembakau.
MPOWER adalah paket kebijakan yang dimaksudkan untuk membantu implementasi intervensi efektif di tingkat negara untuk mengurangi permintaan akan tembakau , sebagaimana diratifikasi oleh (WHO) tentang Pengendalian Tembakau.35
Dinamakan strategi MPOWER, berisi langkah-langkah berupa M untuk Monitor tobaccouseandpreventionpolicies, P untuk Protectpeoplefromtobacco, O untuk Offerhelptoquittobaccouse, W untuk Warnaboutthedangersoftobacco, E untuk Enforcebansontobaccoadvertising,
promotionandsponsorship, dan R untuk Raisetaxesontobacco, yaitu:36
1. Monitor
tobaccouseandpreventionpolicies(Monit or Penggunaan Tembakau dan Pencegahannya) sistem pengawasan
35 WHO Reporton Global TobaccoEpidemic 2008, MPOWER Final Report, versi onlinehttp://tobaccofreecenter.org/files/pdfs/
reports_articles/mpowerReport- final.pdfdiakses pada 25 Juli 2020
36KebijakanPengendalianTembakau
https://lephieisme.files.wordpress.com/2014/08/
tobacco_initiative_bab_5-
kebijakan_pengendalian_tembakau-doc- doc.pdfdiakses pada 12 Juni 2020
57 tembakau menggunakan indikator berupa prevalensi penggunaan tembakau, dampak implementasi kebijakan pengendalian tembakau, serta iklan, promosi, dan perkembangan industri rokok.Monitor penggunaan tembakau dan dampak yang ditimbulkannya harus diperkuat untuk kepentingan perumusan kebijakan. Saat ini 2/3 negara berkembang di seluruh dunia tidak memiliki data dasar penggunaan tembakau pada anak muda dan orang dewasa. Hampir 2/3 perokok tinggal di 10 negara dan Indonesia menduduki posisi ketiga.
2. Protectpeoplefromtobaccouse(Perlindun gan terhadap Asap Tembakau) perlindungan masyarakat dari paparan asap rokok, dilakukan dalam bentuk larangan merokok di ruangan ataupun tempat kerja. Di Irlandia, penetapan kawasan tanpa rokok telah mengurangi konsentrasi nikotin di udara pada ruangan tertutup sebesar 83%.10 Perlindungan efektif untuk perokok pasif hanyalah dengan menetapkan kawasan bebas asap rokok. Namun, implementasinya perlu diawali dengan edukasi publik terlebih dahulu agar memunculkan kesadaran masyarakat.
3. Offerhelptoquittobaccouse (Optimalkan Dukungan untuk Berhenti Merokok)
Tiga dari 4 perokok di seluruh dunia menyatakan ingin berhenti merokok namun bantuan komprehensif yang tersedia baru dapat menjangkau 5%
nya. Bantuan yang dapat diberikan adalah:
1) Pelayanan konsultasi bantuan berhenti merokok yang terintegrasi di pelayanan kesehatan primer;
2) Quitline: Telepon layanan bantuan berhenti merokok yang mudah diakses dan cuma-cuma;
3) Terapi obat yang murah dengan pengawasan dokter.
4. Warnaboutthedangersoftobacco
(Waspadakan Masyarakat akan Bahaya Tembakau)
Walaupun sebagian besar perokok tahu bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, namun kebanyakan dari mereka tidak tahu apa bahayanya.
Karena itulah, pesan kesehatan wajib dicantumkan dalam bentuk gambar.
Eliminasi iklan, Promosi dan Sponsor terkait Tembakau Pemasaran tembakau memiliki peranan besar dalam meningkatkan gangguan kesehatan dan kematian karena tembakau. Larangan terhadap promosi produk tembakau adalah senjata yang ampuh untuk memerangi tembakau. Sepuluh tahun sejak inisiasi larangan iklan rokok dijalankan, konsumsi rokok di negara
58 dengan larangan iklan turun 9 kali lipat dibandingkan dengan negaratanpa larangan iklan.
5. Enforcebansontobaccoadvertising(Elimi nasi iklan, Promosi dan Sponsor terkait Tembakau)
Pemasaran tembakau memiliki peranan besar dalam meningkatkan gangguan kesehatan dan kematian karena tembakau. Larangan terhadap promosi produk tembakau adalah senjata yang ampuh untuk memerangi tembakau.
Sepuluh tahun sejak inisiasi larangan iklan rokok dijalankan, konsumsi rokok di negara dengan larangan iklan turun 9 kali lipat dibandingkan dengan negaratanpa larangan iklan
6. Raisetaxesontobacco (Raih Kenaikan Cukai Tembakau)
Dengan menaikkan cukai tembakau, harga rokok menjadi lebih mahal. Hal ini merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan pemakaian tembakau dan mendorong perokok untuk berhenti.
Sejak diluncurkan di New Yorkoleh WHO pada 7 Februari 2008, MPOWER telah menjadi ringkasan yang dapat diterapkan secara internasional dan sekarang diakui secara luas tentang elemen-elemen penting dari strategi pengendalian tembakau. "MPOWER adalah satu-satunya dokumen yang agak strategis yang
merupakan sumber informasi tentang penyebaran epidemi tembakau, serta saran mengenai tindakan spesifik untuk mendukung perang melawan epidemi ini."37
37 MPOWERtobaccocontrol,
https://en.wikipedia.org/wiki/MPOWER_tob acco_control
59 II. KESIMPULAN
Masyarakat Internasional menyadari betul bahwa anak adalah generasi penerus bangsa yang harus mendapatkan hak selayaknya orang dewasa tanpa terkecuali.
Sehingga terciptalah Universal Declarationof Human Rights, yang mana dalam Pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa ibu dan anak-anak berhak mendapatkan perawatan dan bantuan khusus. Kemudian juga dalam ConventionontheRightsoftheChild
dirumuskan bahwa hak anak itu “melekat”
atas kehidupan, yangartinya anak bukan pemberian Negara, tetapi hak menjadi bagian dari kehidupan anak. Terkhusus dibidang perlindungan anak terhadp rokok, masyarakat internasional kemudian membentuk suatu kerangka perjanjian yang
disebut dengan
FrameworkConvenentiononTobaccoControly ang merupakan perjanjian internasional yang mengatur tentang pengendalian produksi, distribusi dan konsumsi rokok yang dipaksa untuk ditaati oleh negara- negara Organisasi Kesehatan Dunia.
Indonesia memilki banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perlindungan anak, namun tetap saja hak-hak anak tidak dapat dilindungi.
Indonesia selaku negara yang meratifikasi CRC tentu saja harus mematuhi prinsip dan ketentuan di dalam menetapkan kebijakan-
kebijakan dalam rangka perlindungan hak- hak anak. Keterlibatan Indonesia sebagai salah satu negara yang meratifikasi CRC merupakan bentuk perhatian serius Indonesia terhadap anak-anak, atas hal itu setiap peraturan dan kebijakan yang dibuat Regulasi tentang pengendalian masalah penggunaan tembakau/merokok di Indonesia berupa Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Peraturan Gubernur.
60 DAFTAR PUSTAKA
Aditia Bagus Santoso. Analisis Hukum Dampak Belum Diratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau
(FrameworkConventononTobaccoCont rol) Bagi Indonesia. Fiat Justiisa Jurnal Ilmu Hukum. Vol. 8 No.4. Oktober- Desember 2014.
Ali, Metode Penelitian Hukum, Cet. 6, Sinar Grafika, Jakarta, 2015
Brigit Toebesdkk, A missingvoice: the human rightsofchildrento a tobacco- freeenvironment,
https://tobaccocontrol.bmj.com/cont ent/27/1/3.full diakses pada 10 Maret 2020
Dwi Kencana Wulan, Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Pada Remaja,https://media.neliti.com/med ia/publications/167030-ID-faktor- psikologis-yang-mempengaruhi- peri.pdf diakses pada 23 Maret 2020 Elfina Sahetapy, “Perlindungan Hak Anak
Kewajiban Siapa,” 2010, http://www.perkantasjatim.org/inde x.php?g=articles&id=70, diakses pada 4 juni2020
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t73707.
pdf diakses pada 20 Juni 2020 https://lephieisme.files.wordpress.com/20
14/08/tobacco_initiative_bab_5- kebijakan_pengendalian_tembakau- doc-doc.pdfdiakses pada 12 Juni 2020 John Rawls, A TheoryofJustice. United State
of America: TwentiethPrinting, 1971, hlm. 4
Kementria Kesehatan RI. 2010. Pedoman Teknis Pengembangan
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia Merugi Bila Tidak Aksesi FCTC,http://www.depkes.go.id/articl e/print/2369/indonesia-merugi-bila- tidak-aksesi-fctc.html. diakses pada 6 Mei 2019
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Indonesia Merugi Bila Tidak Aksesi FCTC,http://www.depkes.go.id/articl e/print/2369/indonesia-merugi-bila- tidak-aksesi-fctc.html. diakses pada 6 Mei 2019
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Selayang Pandang FCTC
Komnas HAM. Naskah Akademik RUU Pengesahan
FrameworkConventiononTobaccoContr ol. Tahun 2012. hlm. 52
Koran Tempo
https://koran.tempo.co/read/opini/2 38291/mengapa-indonesia-harus- melarang-iklan-rokok?. Diakses pada 20 Mei 2020
M.Ayus Astoni, M. Zulkarnaen,Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Merokok serta Prevalensi Perokok pada Remaja di Kelurahan Marianan Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Musi Banyuasin, Jurnal Kedokteran Universitas Sriwijaya, 1999, hlm. 505, dalam
https://journal.binus.ac.id/index.php /Humaniora/article/download/3355 /2737 diakses pada 3 Mei 2020 MPOWERtobaccocontrol,
https://en.wikipedia.org/wiki/MPOW ER_tobacco_control
61
National Profesional
OfficerforTobaccoFreeInitiative Philips C. Jessup, A Modern Law ofNations
Pengantar Hukum Modern Antarbangsa, Alih Bahasa: Fitria Mayasari,Bandung: Nuansa Cendekia, 2012 hlm. 108.
Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, 2018
Santoso, Aditia Bagus, Analisa Hukum Belum diratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau, Jurnal Hukum, 2014, Vol VIII, hlm. 1
siteresources.worldbank.org/INTETC/Reso urces/..sebuah lembaga utama internasional yang menangani isu kesehatan, Laporan Kemajuan Pengawasan Penggunaan Rokok, diakses pada1 Juni 2020
Soewarta Kosen, Kerugian Ekonomi Di Balik Konsumsi Rokok Di Indonesia Hampir
Rp.600Thttps://theconversation.com/
riset-terbaru-kerugian-ekonomi-di- balik-konsumsi-rokok-di-indonesia- hampir-rp600-triliun-89089diakes pada 7 Mei 2019
Sukanda Husin, Legal
AspectonPublicHealthProtectionfromT obaccoConsumptionandExposure in Indonesia, hlm. 3
TCSC, Indonesia Adalah Satu –Satunya Negara di Asia Pasifik dan Anggota OKI yang Belum Tergabung dalam FCTC
WebsiteKemenppa;
https://www.kemenpppa.go.id, diakses pada 3 maret 2020
WHO Reporton Global TobaccoEpidemic 2008, MPOWER Final Report, versi onlinehttp://tobaccofreecenter.org/fi les/pdfs/reports_articles/mpowerRe port-final.pdfdiakses pada 25 Juli 2020