POTENSI DAN RISIKO MOBILITAS MAHASISWA ULM KETIKA PTM DI MASA PANDEMI COVID-19
Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI, PGD
Anggota Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM https://covid19.ulm.ac.id/hidayatullah-muttaqin
Dr. H. Iwan Aflanie, dr., M.Kes, Sp.F., SH
Ketua Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM Dekan Fakultas Kedokteran ULM
https://covid19.ulm.ac.id/iwan-aflanie
Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat
OUTLINE
1. Latang belakang
2. Situasi Gelombang Kedua pandemi Covid-19 Indonesia
3. Situasi Gelombang Ketiga pandemi Covid-19 Kalimantan Selatan 4. Risiko mobilitas mahasiswa di masa pandemi
5. Potensi mobilitas mahasiswa ULM jika PTM diselenggarakan 6. Kesimpulan dan Rekomendasi
Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat
LATAR BELAKANG
COVID19.ULM.AC.ID
Rektor ULM Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc pada bulan Juni mengemukakan optimisme akan diterapkannya Perkuliahan Tatap Muka atau PTM mulai Semester Ganjil 2021/2022 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat (Antara Kalsel,
4/6/2021).
Namun situasi pandemi Covid-19 di Kalimantan Selatan berubah secara dramatis pada bulan Juli dan Agustus. Dalam periode 1 Juli hingga 31 Agustus 2021, tercatat sebanyak 29.840 penduduk
dikonfirmasi positif Covid-19 dan 1.088 orang dilaporkan
meninggal dunia. Lonjakan kasus ini memicu ditundanya rencana PTM ULM di awal Semester Ganjil.
Pelaksanaan PTM di masa
pandemi Covid-19 penting dikaji secara komprehensif agar
kegiatan perkuliahan luring tidak menjadi sumber penularan di lingkungan kampus maupun di tingkat masyarakat.
Salah satu permasalahan yang perlu ditelaah adalah
bagaimana potensi dan risiko mobilitas mahasiswa ULM jika PTM dilaksanakan?
SITUASI GELOMBANG KEDUA COVID-19 NASIONAL
JUNI - JULI - AGUSTUS 2021
GELOMBANG KEDUA COVID-19 NASIONAL
Indonesia mengalami Gelombang Kedua mulai pertengahan Mei 2021 setelah liburan panjang
lebaran dan masuknya varian Delta.
Lonjakan kasus konfirmasi pada Gelombang Kedua terjadi pada bulan Juni-Juli- Agustus. Gelombang Kedua tersebut menyebabkan lebih dari 2,27 juta penduduk
terkonfirmasi Covid-19 hanya dalam waktu 3 bulan saja.
0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000
1-Mar 16-Mar 31-Mar 15-Apr 30-Apr 15-May 30-May 14-Jun 29-Jun 14-Jul 29-Jul 13-Aug 28-Aug 12-Sep 27-Sep 12-Oct 27-Oct 11-Nov 26-Nov 11-Dec 26-Dec 10-Jan 25-Jan 9-Feb 24-Feb 11-Mar 26-Mar 10-Apr 25-Apr 10-May 25-May 9-Jun 24-Jun 9-Jul 24-Jul 8-Aug 23-Aug
PERKEMBANGAN HARIAN KASUS KONFIRMASI COVID-19 INDONESIA AWAL PANDEMI--31 AGUSTUS 2021
Sumber: Kawal Covid-19, diolah (2021) Dalam periode Juni-Agustus 2021
2.268.098warga dikonfirmasi positif Covid-19 atau setara 8.394kasus per 100 ribu penduduk.
Banyaknya jumlah penduduk yang terinfeksi Covid-19
dalam waktu singkat secara bersamaan menyebabkan rumah sakit di sebagian wilayah Indonesia
menghadapi situasi sangat berat dan terjadi
keterbatasan ketersediaan oksigen.
Kondisi ini di Gelombang Kedua tersebut memakan korban sebanyak 82.445 penduduk meninggal dunia.
0 500 1000 1500 2000 2500
1-Mar 16-Mar 31-Mar 15-Apr 30-Apr 15-May 30-May 14-Jun 29-Jun 14-Jul 29-Jul 13-Aug 28-Aug 12-Sep 27-Sep 12-Oct 27-Oct 11-Nov 26-Nov 11-Dec 26-Dec 10-Jan 25-Jan 9-Feb 24-Feb 11-Mar 26-Mar 10-Apr 25-Apr 10-May 25-May 9-Jun 24-Jun 9-Jul 24-Jul 8-Aug 23-Aug
PERKEMBANGAN HARIAN KASUS KEMATIAN COVID-19 INDONESIA AWAL PANDEMI--31 AGUSTUS
Sumber: Kawal Covid-19, diolah (2021) Selama Juni-Agustus 2021 dilaporkan
82.445 warga meninggal dunia atau 306kasus per 100 ribu penduduk.
GELOMBANG KEDUA COVID-19 NASIONAL
SEBARAN KASUS COVID-19 NASIONAL
Secara absolut, kasus
konfirmasi terkonsentrasi di pulau Jawa dan
sejumlah wilayah di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa
Tenggara Timur.
Dari sisi insiden jumlah kasus per 100 ribu
penduduk, tertinggi di alami Jakarta, sebagian wilayah Kalimantan,
Sumatera dan Papua Barat.
KASUS KONFIRMASI BARU JUNI - AGUSTUS 2021
INSIDEN KASUS KONFIRMASI BARU JUNI - AGUSTUS 2021
Sumber: Kawal Covid-19 dan BPS, diolah (2021)
INSIDEN KASUS KEMATIAN BARU JUNI - AGUSTUS 2021 Kasus kematian yang
dilaporkan selama peridoe Gelombang Kedua menyebar ke seluruh wilayah di
Indonesia dengan konsentrasi kasus paling banyak terjadi di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di luar Jawa, seluruh provinsi juga menghadapi lonjakan kasus kematian yang sangat masif.
KASUS KEMATIAN BARU JUNI - AGUSTUS 2021
Sumber: Kawal Covid-19 dan BPS, diolah (2021)
SEBARAN KASUS COVID-19 NASIONAL
SITUASI GELOMBANG KETIGA
COVID-19 KALIMANTAN SELATAN
JULI - AGUSTUS 2021
GELOMBANG KETIGA COVID-19 KALSEL
Lonjakan penularan Covid-19 Indonesia juga berdampak di Kalimantan Selatan. Ledakan Gelombang Ketiga di Kalsel terlambat satu bulan dari situasi awal Gelombang Kedua nasional.
Sepanjang bulan Juli-Agustus 2021, dilaporkan sebanyak 29.840 warga terkonfirmasi positif Covid-19 atau setara dengan 733 insiden kasus per
100 ribu penduduk. -200
0 200 400 600 800 1.000 1.200
1-Mar 16-Mar 31-Mar 15-Apr 30-Apr 15-May 30-May 14-Jun 29-Jun 14-Jul 29-Jul 13-Aug 28-Aug 12-Sep 27-Sep 12-Oct 27-Oct 11-Nov 26-Nov 11-Dec 26-Dec 10-Jan 25-Jan 9-Feb 24-Feb 11-Mar 26-Mar 10-Apr 25-Apr 10-May 25-May 9-Jun 24-Jun 9-Jul 24-Jul 8-Aug 23-Aug
PERKEMBANGAN HARIAN KASUS KONFIRMASI COVID-19 KALSEL AWAL PANDEMI--31 AGUSTUS 2021
Sumber: Kawal Covid-19, diolah (2021) Dalam periode Juli-Agustus 2021
29.840warga dikonfirmasi positif Covid-19 atau setara 733kasus per 100 ribu penduduk.
Seperti situasi nasional, tingginya penularan Covid-19 di Kalsel juga menyebabkan peningkatan
pasien di rumah sakit dan kasus kematian secara dramatis.
Sepanjang Juli-Agustus kasus kematian yang dilaporkan mencapai 1.088 orang atau 27 kasus per 100 ribu penduduk.
Ini artinya dua bulan kasus kematian tersebut sudah
mencakup 51% kasus kematian selama 17 bulan pandemi Covid- 19 di Kalsel.
0 10 20 30 40 50 60
1-Mar 16-Mar 31-Mar 15-Apr 30-Apr 15-May 30-May 14-Jun 29-Jun 14-Jul 29-Jul 13-Aug 28-Aug 12-Sep 27-Sep 12-Oct 27-Oct 11-Nov 26-Nov 11-Dec 26-Dec 10-Jan 25-Jan 9-Feb 24-Feb 11-Mar 26-Mar 10-Apr 25-Apr 10-May 25-May 9-Jun 24-Jun 9-Jul 24-Jul 8-Aug 23-Aug
PERKEMBANGAN HARIAN KASUS KEMATIAN COVID-19 KALSEL AWAL PANDEMI--31 AGUSTUS
Sumber: Kawal Covid-19, diolah (2021) Selama Juli-Agustus 2021 dilaporkan
1.088 warga meninggal dunia atau 27kasus per 100 ribu penduduk.
GELOMBANG KETIGA COVID-19 KALSEL
SEBARAN KASUS COVID-19 KALSEL
Seluruh kabupaten dan kota di Kalsel alami lonjakan kasus yang sangat masif selama Gelombang Ketiga pandemi.
Sebaran kasus secara absolut pada bulan Juli-Agustus didominasi
wilayah Banjar Bakula plus Tanah Bumbu dan Kotabaru. Paling besar kasus konfirmasi terjadi di
Banjarmasin, yaitu sebanyak 5.896 kasus.
Insiden kasus konfirmasi paling tinggi terjadi di Banjarbaru dengan jumlah 1.732 kasus per 100 ribu penduduk.
KASUS KONFIRMASI BARU JULI- AGUSTUS INSIDEN KASUS KONFIRMASI BARU JULI-AGUSTUS
Sumber: Dinas Kesehatan Prov. Kalsel dan BPS, diolah (2021)
INSIDEN KASUS KEMATIAN BARU JULI-AGUSTUS
Lonjakan kasus kematian Covid- 19 menyebar ke seluruh
kabupaten dan kota.
Secara absolut konsentrasi
kematian terjadi di Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Bumbu dan Tanah Laut. Kasus kematian
terbanyak yang dilaporkan dalam periode Juli-Agustus di
Banjarmasin dengan jumlah 262 kasus.
Insiden kasus tertinggi terjadi di Banjarbaru dengan jumlah 61 kasus per 100 ribu penduduk.
KASUS KEMATIAN BARU JULI-AGUSTUS
Sumber: Dinas Kesehatan Prov. Kalsel dan BPS, diolah (2021)
SEBARAN KASUS COVID-19 KALSEL
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA
DI MASA PANDEMI
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA DI MASA PANDEMI
Keputusan PTM berada pada posisi Trade-off karena harus memilih antara pertimbangan epidemiologis dengan
kebutuhan dan keinginan untuk melanjutkan kegiatan
perkuliahan secara normal.
▪ Meskipun kita memiliki harapan agar secepatnya dapat melakukan kembali PTM, hendaknya
pertimbangan keselamatan para mahasiswa, staf akademik dan masyarakat menjadi faktor utama pertimbangan.
▪ Keeling dkk (2021) mengemukakan pembukaan
kegiatan belajar secara luring meningkatkan risiko
penularan Covid-19 di sekolah dan di masyarakat.
Pembukaan perguruan tinggi untuk kegiatan Perkuliahan Tatap Muka akan mendorong lonjakan mobilitas mahasiswa dan staf akademik.
Potensi dan risiko mobilitas mahasiswa di masa pandemi perlu mendapat perhatian serius.
▪ Studi yang dilakukan Badr dkk (2020),
Hadjidemetriou dkk (2020) dan Yilmazkuday, (2020) menemukan kaitan mobilitas penduduk dengan
peningkatan kasus konfirmasi dan kematian karena Covid-19.
▪ Sementara kajian yang dilakukan Wellenius dkk
(2021) di Amerika Serikat menunjukkan jika mobilitas penduduk dapat dikurangi sebesar 10% maka potensi pertumbuhan kasus akan menurun sebanyak 17%.
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA DI MASA PANDEMI
Berbeda dengan sekolah, PTM di perguruan tinggi akan
mendorong mobilitas
mahasiswa pada tingkat lokal, regional, nasional bahkan
internasional.
Akibatnya, PTM perguruan tinggi berpotensi menarik
kasus impor dan menimbulkan klaster mahasiswa atau klaster kampus di samping juga dapat mendorong penularan yang lebih masif di masyarakat.
▪ Pengalaman klaster mahasiswa karena PTM dialami Kota Chicago Amerika Serikat. Lonjakan kasus paska liburan musim semi terjadi antara Maret hingga Mei 2021.
▪ Doyle dkk (2021) mengemukakan mayoritas
mahasiswa yang terinfeksi Covid-19 tersebut belum divaksin dan baru saja melakukan perjalanan dari luar Chicago. Sebagian lagi tertular melalui kegiatan berkumpul dalam ruangan, makan-makan dan
kegiatan belajar tanpa mengenakan masker.
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA DI MASA PANDEMI
PTM di perguruan tinggi harus dikaji secara matang dan
komprehensif tidak hanya membuat SOP bagaimana pencegahan penularan di
ruang kuliah dan kampus tetapi juga ketika mobilitas
mahasiswa sebelum
kedatangan dan saat berada di lingkungan masyarakat.
▪ Menurut Rennert dkk (2021), perguruan tinggi sebaiknya tidak melakukan PTM sekaligus untuk seluruh mahasiswa tetapi
dilakukan secara bertahap. Tujuannya agar perguruan tinggi dapat menyiapkan sumber daya yang memadai dalam
memberikan pelayanan kepada mahasiswa dan memitigasi penularan Covid-19.
▪ Langkah mitigasi adalah dengan melakukan testing sebelum kedatangan, testing dan tracing rutin di kampus, menyiapkan tempat isolasi sebagai langkah treatment jika ditemukan
mahasiswa terkonfirmasi Covid-19.
▪ Langkah mitigasi dengan sumber daya yang memadai tersebut penting untuk mencegah dampak buruk terjadinya kasus impor, klaster kampus dan penularan di masyarakat.
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA DI MASA PANDEMI
Menurut Cipriano dkk (2021), mahasiswa memiliki jumlah kontak yang lebih tinggi, yaitu hampir dua kali lipat dari
masyarakat umum. Sebagian mahasiswa tinggal bersama dan memiliki intensitas
interaksi sosial yang besar.
▪ Karena itu kedatangan mahasiswa di wilayah perkotaan yang menjadi lokasi kampus berpotensi meningkatkan kasus infeksi, kebutuhan layanan kesehatan dan rumah sakit, serta kematian Covid-19 di masyarakat.
▪ Cipriano dkk mengemukakan potensi risiko tersebut perlu dimitigasi dengan melakukan skrining secara rutin. Skrining tidak hanya dilakukan sebelum
kedatangan mahasiswa, tetapi juga setiap pekan.
Skrining memang akan memakan biaya tetapi hal ini lebih ekonomis dibandingkan dampak buruk PTM tanpa strategi mitigasinya.
RISIKO MOBILITAS MAHASISWA DI MASA PANDEMI
MOBILITAS MAHASISWA ULM
JIKA PTM DISELENGGARAKAN
POTENSI MOBILITAS MAHASISWA ULM
Sumber: ULM, diolah (2021)
Berbeda dengan PTM sekolah yang cenderung menciptakan mobilitas
lokal dengan cakupan area sangat terbatas,
pelaksanaan PTM di
tingkat perguruan tinggi dapat menarik mobilitas mahasiswa pada tingkat lokal, regional dan
nasional.
Pelaksanaan PTM di ULM yang harus diperhatikan dan dikaji secara komprehensif tidak hanya mengenai bagaimana penerapan protokol kesehatan ketika masuk kampus dan di ruang kelas, tetapi juga mobilitas para mahasiswa. Kegiatan perkuliahan luring meskipun tidak dilaksanakan secara penuh, misalnya 25% luring dan 75% daring tetap akan menarik dan mendorong terjadinya mobilitas para mahasiswa. Berikut ini adalah
mobilitas yang akan terjadi jika PTM dilaksanakan:
1. Mobilitas kampus; aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus
2. Mobilitas lokal; mobilitas mahasiswa di luar kampus ketika berada di Banjarmasin atau Banjarbaru karena adanya PTM.
3. Mobilitas regional; mobilitas mahasiswa dari daerah asalnya di Kalsel dan Kalteng ke Banjarmasin dan Banjarbaru.
4. Mobilitas nasional; mobilitas mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Banjarmasin dan Banjarbaru
POTENSI MOBILITAS MAHASISWA ULM
COVID19.ULM.AC.ID
PTM akan menarik mahasiswa ULM di luar Banjarmasin dan Banjarbaru
sehingga menciptakan mobilitas regional dan nasional.
Terdapat kemungkinan mahsiswa yang tinggal di Kalsel dan Kalteng melakukan mobilitas pulang pergi dari daerahnya ke Banjarmasin dan Banjarbaru sekali dalam sebulan atau lebih. Karena itu PTM berpeluang menciptakan
mobilitas regional secara intens.
Selain berpotensi menarik seluruh mahasiswa untuk ke kampus, PTM juga dapat menciptakan mobilitas lokal secara massif di Banjarmasin dan Banjarbaru.
LOKAL
KAMPUS REGIONAL
MOBILITAS NASIONAL
Sumber: Muttaqin dan Aflanie (2021)
SEBARAN MAHASISWA ULM MENURUT PROVINSI DOMISILI
Jumlah mahasiswa ULM per 16 Juli 2021 tercatat 31.597 orang.
Sebanyak 87,47% berasal dari Kalimantan Selatan, 8,46%
Kalimantan Tengah, 1,78%
Kalimantan Timur. Selebihnya tersebar di 30 provinsi lainnya.
Jumlah mahasiswa dari luar Kalimantan Selatan adalah 3.959 orang atau 12,53% dari total mahasiswa.
Sumber: ULM, diolah (2021) 562
2.673
27.638
Kaltim Kalteng Kalsel
12 23 24 37 38 39 43 63 68 73 74 97 133
Banten Papua Pabar Jakarta Lampung Kaltara Jateng Kalbar Sulsel 19 Provinsi Sumut Jatim Jabar
JUMLAH MAHASISWA ULM BERDASARKAN PROVINSI
SEBARAN MAHASISWA ULM MENURUT FAKULTAS
Sumber: ULM, diolah (2021)
PROPORSI MAHASISWA LUAR KALSEL (%)
21 17 16 13 12 12 12 11 11 10 10 8
FKG FK FT FPK FKIP FISIP Fahutan Faperta FMIPA FH Pascasarjana FEB
JUMLAH MAHASISWA PER FAKULTAS DAN PASCASARJANA
SEBARAN MAHASISWA ULM MENURUT PROGRAM STUDI
Semakin besar jumlah mahasiswa dari setiap
Program Studi dan Fakultas maka semakin tinggi pula mobilitas lokal, regional dan nasional yang tercipta karena PTM.
Karena itu Program Studi dan Fakultas, serta pihak Rektorat perlu memiliki rancangan
strategi pelaksanaan PTM secara bertahap yang tidak menyebabkan mobilitas yang tidak terkontrol risikonya.
Sumber: ULM, diolah (2021) 572
575 578 599 612 638
692 693 702
853 866
1.030 1.223 1.225
2.264
Ekonomi Pembangunan Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Jasmani, Kesehatan…
Ilmu Administrasi Bisnis Pendidikan Dokter Ilmu Pemerintahan Pendidikan Profesi Guru Ilmu Komunikasi Psikologi Kehutanan Teknik Sipil Pendidikan Guru Sekolah Dasar Akuntansi Manajemen Ilmu Hukum
PROPORSI LUAR KALSEL (%)
6
13 11 8
33 17
27 9
9 12
14 9 8 7
10
15 PRODI DENGAN JUMLAH MAHASISWA TERBANYAK
SEBARAN MAHASISWA ULM MENURUT PROGRAM STUDI
Program Studi dan Fakultas yang memiliki mahasiswa dari luar Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru perlu memberikan perlakuan khusus dalam
pelaksanaan PTM.
Sebab mobilitas mahasiswa dari luar daerah cukup berisiko
membawa bibit virus Corona sehingga dapat menyebabkan terjadinya kasus impor.
Sumber: ULM, diolah (2021) 62
63 64 67
73 89 89 99
101 109
118 119
184 200
220
Agroekoteknologi Pendidikan Jasmani,…
Psikologi Administrasi Publik Pendidikan Bahasa Inggris
Pendidikan Guru Sekolah…
Manajemen Kehutanan Akuntansi Ilmu Pemerintahan Teknik Sipil Kedokteran Gigi Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Dokter Ilmu Hukum
15 PRODI DENGAN JUMLAH MAHASISWA LUAR KALSEL TERBANYAK
21 21 21 23 24 24 27
28 29
33 40
44 45
47 50
Keguruan Olahraga Pulmonologi Kenotariatan Magister Ilmu Kesehatan…
Teknik Pertambangan Ilmu Pertanian Pendidikan Profesi Guru Penyakit Dalam Kedokteran Gigi Pendidikan Dokter Magister Ilmu Pemerintahan Pendidikan Profesi Insinyur Obstetri dan Ginekologi Anestesiologi Kesehatan Anak
15 PRODI DENGAN PROPORSI MAHASISWA LUAR KALSEL TERBANYAK (%)
Sumber: Muttaqin dan Aflanie (2021)
POTENSI MOBILITAS NASIONAL
SEBANYAK 3.959* MAHASISWA AKAN DATANG KE BANJARMASIN DAN BANJARBARU
* asumsi data mahasiswa ULM per 16 Juli 2021
POTENSI MOBILITAS NASIONAL
Sumber: Muttaqin dan Aflanie (2021)
SEBANYAK 3.959 MAHASISWA AKAN DATANG KE BANJARMASIN DAN BANJARBARU
COVID19.ULM.AC.ID
Peta ini menggambarkan potensi mobilitas mahasiswa ULM dari luar Kalsel jika PTM dilaksanakan. Simulasi jumlah mahasiswa dan rute mobilitas nasional tersebut berdasarkan pada asumsi jika pelaksanaan PTM dilakukan secara serentak. Mahasiswa dari berbagai daerah akan datang melalui pintu transit di Jakarta, Surabaya, Makasar dan Balikpapan. Sedangkan mahasiswa dari Kalteng dan Kaltim masuk langsung ke perbatasan Kalsel.
136 160
389 601
2.673
Makasar Surabaya Jakarta Kaltim Kalteng
POTENSI MOBILITAS NASIONAL
PETA RUTE KEDATANGAN MAHASISWA LUAR KALSEL JUMLAH MAHASISWA MASUK
Sumber: Muttaqin dan Aflanie (2021)
POTENSI MOBILITAS REGIONAL
Banjarmasin
Banjarbaru Martapura
Pelaihari
Batulicin
Kotabaru Tanjung
Paringin Amuntai
Kandangan Barabai
Rantau Marabahan
Kuala Kapuas
Pulang Pisau Palangkaray
Pelaksanaan PTM meskipun hanya untuk 1 pertemuan saja di kampus juga akan
menyebabkan mobilitas regional.
Mobilitas regional berasal dari pergerakan mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Potensi mobilitas regional tidak hanya terjadi dengan kedatangan mahasiswa untuk mengikuti PTM di Banjarmasin dan Banjarbaru. Mobilitas ini muncul karena ada kemungkinan mahasiswa pulang secara rutin setiap bulan atau lebih. Hal ini
didorong oleh jarak dan biaya transportasi yang tidak terlalu jauh.
Karena itu mobilitas regional berpotensi mendorong penularan dari daerah asal ke Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, serta sebaliknya ke kampung asal mahasiswa.
Mobilitas regional berpotensi menggerakan 30 ribu mahasiswa di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dalam satu kali kedatangan ke kampus jika PTM tidak
dilaksanakan secara bertahap. Asumsi perhitungan ini belum mengeluarkan jumlah mahasiswa yang berdomisili di Banjarmasin dan Banajrbaru.
Sumber: Muttaqin dan Aflanie (2021)
POTENSI MOBILITAS LOKAL
Jika PTM dilaksanakan serentak maka sebanyak 31.597 mahasiswa (data per 16 Juli 2021) akan berada di Kota
Banjarmasin dan Kota Banjarbaru.
Jumlah mahasiswa yang sangat besar tersebut akan menciptakan terjadinya mobilitas lokal. Karena ULM tidak memiliki sarana asrama terpadu di dalam kampus, maka sebagian besar mahasiswa dari luar Banjarmasin dan Banjarbaru akan tinggal di rumah kontrakan, kost dan asarama daerah.
Itu artinya potensi mobilitas dan interaksi sosial mahasiswa dengan masyarakat tinggi sehingga tinggi pula risiko penularan di masyarakat akibat PTM.
KESIMPULAN
DAN REKOMENDASI
KESIMPULAN
1. Pelaksanaan PTM ULM akan menyebabkan terjadinya mobilitas lokal, regional dan nasional.
2. Jika PTM dilaksanakan serentak, maka akan terjadi mobilitas nasional dari 3.959 mahasiswa, mobilitas regional 30.311 mahasiswa dan mobilitas lokal 31.597 mahasiswa ULM.
3. Potensi mobilitas mahasiswa tersebut berisiko tinggi
menghasilkan kasus impor, klaster mahasiswa/ klaster kampus, dan penularan di masyarakat.
4. Risiko penularan tidak hanya terjadi di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru tetapi juga di kampung asal mahasiswa ketika mereka pulang secara rutin dalam bentuk mobilitas regional atau pun pulang karena liburan semester.
Sumber: ULM, diolah (2021)
REKOMENDASI
1. Rencana PTM ULM dikaji secara matang dan komprehensif sehingga memiliki kesiapan dari sisi sumber daya dan strategi mitigasi penularan Covid-19 di lingkungan kampus dan
masyarakat. Jika belum siap, sebaiknya ditunda dulu.
2. Pelaksanaan PTM di samping memperhatikan terpenuhinya syarat epidemiologis juga dilakukan secara bertahap.
3. ULM perlu membentuk crisis center sebagai wadah bagi para mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatannya serta Satgas Covid-19 di tingkat universitas dan fakultas sebagai alat untuk memastikan jalannya protokol kesehatan di kampus.
4. ULM membangun sistem dan aplikasi digital yang terintegrasi antara portal akademik, presensi online dan monitoring kondisi kesehatan, vaksinasi dan lokasi keberadaan mahasiswa guna memudahkan jalannya surveilans.
Sumber: ULM, diolah (2021)
REKOMENDASI
5. Dosen dan mahasiswa yang mengikuti PTM adalah yang telah divaksinasi sebanyak dua kali suntikan.
6. Mahasiswa dari luar daerah yang telah tiba di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru melakukan isolasi mandiri terlebih dahulu dengan durasi waktu sesuai rekomendasi Satgas Covid-19 universitas.
7. Mahasiswa sebelum mengikuti PTM terlebih dahulu menjalani skrining yang sifatnya wajib jika memasuki wilayah kampus. Hal ini berlaku juga untuk dosen dan staf.
8. Untuk menjamin perkuliahan luring aman, skrining ini dilakukan secara rutin satu minggu sekali.
9. Pelaksanaan PTM tidak bersifat wajib. Artinya tersedia pilihan bagi dosen untuk memberikan kuliah secara daring dan begitu pula bagi mahasiswa.
Sumber: ULM, diolah (2021)