BAB II
KERJASAMA DAN SISTEM BAGI HASIL PERIKANAN ANTARA NELAYAN JURAGAN DAN NELAYAN BIDAK
DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH
A. Kerjasama dalam Islam (Syirkah) 1. Pengertian Syirkah
Kerjasama dalam ekonomi Islam disebut Syirkah terdapat beberapa definisi mengenai syirkah. Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhâri’), dan mashdar (kata dasar)nya, boleh dibaca dengan salah satunya, yaitu:
syirkatan/syarikatan/syarakatan; yang artinya persekutuan atau perserikatan. Menurut istilah para ulama fikih, syirkah adalah suatu akad kerjasama antara dua orang atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan kerugian akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Seseorang pengamat dan praktisi ekonomi Islam indonesia yaitu Muhammad Syafi’i Antonio mendefinisikan syirkah sebagai berikut:
“Syirkah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko ditanggung bersama sesuai kesepakatan.”1
Secara terminologi, ada beberapa definisi syirkah yang dikemukakan oleh para ulama fiqh, yaitu pertama, menurut ulama Malikiyah, syirkah adalah suatu keizinan untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang bekerjasama terhadap mereka. Kedua, definisi yang dikemukakan oleh ulama Syafi’iyah dan Hanbaliyah, menurut mereka syirkah adalah hak bertindak hukum bagi dua orang atau lebih pada sesuatu yang mereka sepakati. Ketiga, definisi yang dikemukakan oleh
1 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Wacana Ulama dan Cendekiawan (Jakarta:
Tazkia Institut, 1999), 187.
Ulama Hanafiyah, syirkah adalah akad yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerjasama dalam keuntungan.2
Sekalipun definisi yang dikemukakan di atas itu secara redaksional berbeda, pada dasarnya definisi mereka memiliki esensi sama yaitu ikatan kerjasama yang dilakukan dua orang atau lebih dalam usaha dan perdagangan. Apabila akad syirkah telah disepakati, maka semua pihak berhak bertindak hukum dan mendapat keuntungan terhadap serikat harta itu. Syirkah dimaksudkan untuk mewujudkan sikap tolong menolong yang saling menguntungkan.
2. Dasar Hukum a. Al-Quran
Secara etimologis, kata syirkah tertera jelas di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
اوُلِمَعَو اوُنَمآ َنيِذَّلا َّلَِّإ ٍضْعَب ىَلَع ْمُهُضْعَب يِغْبَيَل ءاَطَلُخْلا ْنِّم ًاريِثَك َّنِإَو (ص: ٢٤ ) ْمُه اَّم ٌليِلَقَو ِتاَحِلاَّصلا
“sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh;
dan amat sedikitlah mereka ini...” (Q.S Shaad: 24)
اَعَتَو َّنِإ َ هاللّ ْاوُقَّتاَو ِناَوْدُعْلاَو ِمْثِلإا ىَلَع ْاوُنَواَعَت َلََّو ىَوْقَّتلاَو ِّربْلا ىَلَع ْاوُنَو
(ةدئاملا : ٢) ِباَقِعْلا ُديِدَش َ هاللّ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidaah:2)
(ءاسنلا : ١٢) ِثُلُّثلا يِف ءاَكَرُش ْمُهَف َكِلَذ نِم َرَثْكَأ ْاَوُناَك نِإَف
“Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.” (Q.S An-Nisaa: 12)
2 Azharudin Lathif, Fiqh Muamalat (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), Cet 1, 129.
Dalam surah An-Nisa’ ayat 12, pengertian syaraka’ adalah bersekutu dalam memiliki harta yang diperoleh dari warisan.
Sedangkan dalam Surah Shaad ayat 24, lafal al-khulathaa’ diartikan syuraka’, yakni orang-orang yang mencampurkan harta mereka untuk dikelola bersama.3
b. Hadits
1) Hadits Abu Hurairah
Syirkah hukumnya jâ’iz (mubah), berdasarkan dalil Hadits Nabi SAW, berupa taqrîr (pengakuan) beliau terhadap syirkah. Pada saat beliau diutus sebagai Nabi, orang-orang pada saat itu telah bermuamalah dengan cara ber-syirkah dan Nabi SAW.
membenarkannya.
“Dari Abu Hurairah RA berakata bersabda Rsulullah SAW, bahwa Allah SWT berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya”. (HR. Abu Daud no.3383, dan Al-Hakim no.2322).4
Maksud dari Hadits di atas, sesungguhnya Allah bersama keduanya, yaitu bersama keduanya penjagaan, bimbingan dan bantuan dengan pertolongan-Nya terhadap keduanya serta penurunan berkah dalam perniagaan kedaunya. Dalam hadits tersebut terdapat anjuran kerjasama dalam penghianatan keras tethadap orang yang yang bersekutu terhadap penghianatan itu.
2) Hadits As-Saib Al-Mukhzumi
“Dari As-Saib Al-Makhzumi bahwa sesungguhnya ia adalah sekutu Nabi” sebelum Nabi diutus. Kemudian ia datang pada hari pembebasan Kota Mekkah maka Nabi bersabda : selamat datang kepada saudaraku dan teman serikatku. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)5
3 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalah (Jakarta: Amzah, 2013), 342.
4 Abu Dawud. Sulaiman bin al-Asy’ab as-Sajstaani, Sunan Abu Dawud (Beirut-Libanon:
Daar al-Fikr, 1994) Juz 3, 226.
5 Muhammad bin Isma’il Al-Kahlani, Subul As-Salam, Juz 3, Maktabah wa Mathba’ah Musthafa Al-Babiy Al-Halabi, Mesir, cet. IV, 1960), 64.
3) Hadits Abdullah bin Mas’ud
“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata “saya bersekutu dengan ‘Ammar dan Sa’ad dalam hasil yang kami peroleh pada perang badar, kemudian Sa’ad datang dengan membawa dua orang tawanan, sedangkan saya dan ‘Ammar datang dengan tidak membawa apa-apa.” (HR. An-Nasa’i)6
Dari beberapa Hadits tersebut jelaslah bahwa syirkah merupakan akad yang diperbolehkan oleh syara’. Bahkan dalam syara’. Bahkan dalam Hadits yang kedua dijelaskan bahwa syirkah merupakan akad yang sudah dilaksanakan sebelum Islam datang.
Setelah Islam datang, kemudian akad tersebut ditetapkan sebagai akad yang berlaku dan dibolehkan dalam Islam. Di samping dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, para ulama juga sepakat tentang dibolehkannya syirkah secara global.
c. Ijma’
Ibnu Qudamah berkata: “kaum muslimin telah berkonsensus terhadap legtimasi syirkah secara global walaupun terdapat beberapa perbedaan pendapat dalam beberapa elemen dariny.” (Al-Mughni V/109)
Maksudnya ialah Masyarakat Arab telah menjadikan syirkah sebagian dari usaha jauh sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Para Ulama bersepakat bahwa tidak ada yang menolak legtimasi syirkah.7 Para Ulama berijma’ mengenai bolehnya hal ini, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai jenis-jenisnya.8
3. Rukun dan Syarat Syirkah
Rukun syirkah diperselisihkan oleh para Ulama. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun syirkah ada dua, yaitu ijab dan kabul (akad) yang menentukan adanya syirkah. Adapun yang lain seperti dua orang atau pihak yang berakad dan harta berada di luar pembahasan akad seperti terdahulu dalam akad jual beli.
6 Muhammad bin Isma’il Al-Kahlani, Subul As-Salam, 64.
7 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (Kairo: Maktabah al-Khitmad al-Haditsah, 1407 H, 1986 M), jilid tiga, 377.
8 Rachmat Syafe’i, Fiqh Muamalah, 186.
Syarat-syarat yang berhubungan dengan syirkah menurut Hanafiyah dibagi menjadi empat bagian, sebagai berikut9:
a. Sesuatu yang bertalian dengan semua bentuk syirkah, baik dengan harta maupun dengan yang lainnya. Dalam hal ini terdapat dua syarat, yaitu:
1) Berkenaan dengan benda, maka benda yang diakadkan harus dapat diterima sebagai perwakilan.
2) Berkenaan dengan keuntungan, yaitu pembagian keuntungan harus jelas dapat diketahui dua pihak, misalnya setengah, sepertiga dan seterusnya.
b. Sesuatu yang bertalian dengan syirkah mal (harta). Dalam hal ini terdapat dua perkara yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Bahwa modal yang dijadikan objek akad syirkah adalah alat pembayaran (nuqud), seperti junaih, riyal, rupiah.
2) Benda yang dijadikan modal (harta pokok) ada ketika akad syirkah dilakukan, baik jumlahnya sama maupun berbeda.
c. Sesuatu yang bertalian dengan syarikat mufawadhah, bahwa dalam mufawadhah disyaratkan
1) Modal (pokok harta) dalam syirkah muawadah harus sama.
2) Orang bersyirkah adalah ahli untuk kafalah.
3) Orang yang dijadikan objek akad, disyaratkan melalui syarat umum, yakni pada semua macam jual beli atau perdagangan.
d. Adapun syarat bertalian dengan syirkah ‘inan sama dengan syarat- syarat syirkah mufawadhah.
Menurut Malikiyah, syarat-syarat yang bertalian dengan orang yang melakukan akad ialah merdeka, baligh dan pinter (rusyd). Imam Sayfi’i berpendapat, bahwa syirkah yang sah hukumnya hanyalah syirkah ‘inan, sedangkan syirkah yang lainnya batal.
Dijelaskan pula oleh Abd al-Rahman Al-Jaziri, bahwa rukun syirkah adalah dua orang (pihak) yang berserikat, shighat, dan objek akad syirkah baik harta maupun kerja. Syarat-syarat syirkah seperti yang dijelaskan oleh Idris Ahmad adalah berikut ini:
9 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah (Jakarta: Raja Grafindo Pesada, 2005), 11.
1) Mengeluarkan kata-kata yang menunjukan izin masing-masing anggota serikat kepada pihak yang akan mengendalikan harta itu.
2) Anggota serikat itu saling mempercayai, sebab masing masing mereka adalah wakil yang lainnya.
3) Mencampurkan harta sehingga tidak dapat dibedakan hak masing- masing, baik berupa mata uang maupun bentuk yang lainnya.
4. Macam-Macam Syirkah
Mengenai macam-macam syirkah para Ulama Mazhab berbeda pendapat yaitu sebagai berikut:
Secara garis besar syirkah terbagi menjadi dua bagian : a. Syirkah Amlak (perserikatan dalam kepemilikan)
Menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud dengan syirkah amlak adalah bila lebih dari satu orang yang memiliki suatu jenis barang tanpa akad baik bersifat ikhtiari atau jabari.10 Artinya, barang tersebut dimiliki oleh dua orang atau lebih tanpa didahului oleh akad. Hak kepemilikan tanpa akad itu disebabkan oleh dua sebab:
1) Ikhtiari atau disebut (syirkah amlak ikhtiari) yaitu perserikatan yang muncul akibat tindakan hukum orang yang berserikat, seperti dua orang yang sepakat membeli sesuatu barang atau keduanya menerima hibah, wasiat, atau wakaf dari orang lain, maka benda- benda ini menjadi harta serikat bagi mereka berdua.
2) Jabari (syirikah amlak jabari) yaitu perserikatan yang muncul secara paksa bukan keinginan orang yang berserikat, artinya hak milik bagi mereka berdua atau lebih tanpa dikehendaki oleh mereka. Seperti harta warisan yang mereka terima dari bapaknya yang telah wafat.
Harta warisan ini menjadi hak milik bersama bagi mereka yang memiliki hak warisan.
10 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqih Muamalat (Jakarta:
Kencana, 2010), 130-131.
b. Syirkah Al-Uqud (perserikatan dalam aqad)
Yang dimaksud syirkah uqud adalah dua orang atau lebih yang melakukan akad untuk bekerjasama (berserikat) dalam modal dan keuntungan. Artinya kerjasama ini didahului oleh transaksi dalam penanaman modal dan kesepakatan pembagian keuntungan.
Menurut An-Nabhani, berdasarkan kajian beliau terhadap berbagai hukum syirkah dan dalil-dalilnya, terdapat lima macam syirkah dalam Islam yaitu:
a. syirkah inân;
b. syirkah abdan;
c. syirkah mudhârabah;
d. syirkah wujûh; dan
e. syirkah mufâwadhah (An-Nabhani, 1990: 148).
An-Nabhani berpendapat bahwa semua itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya.
Pandangan ini sejalan dengan pandangan Mazhab Fiqih tentang syirkah Mazhab Hanafiyah dan Zaidiyah. Menurut Mazhab Hanabilah, yang sah hanya empat macam, yaitu: syirkah inân, abdan, mudhârabah, dan wujûh. Menurut Mazhab Malikiyah, yang sah hanya tiga macam, yaitu:
syirkah inân, abdan, dan mudhârabah. Menurut Mazhab Syafi’iyah, Zahiriyah, dan Imamiyah, yang sah hanya syirkah inân dan mudhârabah. Berikut pembagian syirkah uqud:
1) Syirkah Inân
Syirkah inân adalah11 syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah dan Ijma Sahabat.
Contoh syirkah inân: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjual belikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi
11 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah (Jakarta: Kencana, 2012), 225.
modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut. Dalam syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqûd); sedangkan barang (‘urûdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad. Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (syarîk) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%. Diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam kitab Al-Jâmi’, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata,
“Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah).”
Para ulama fiqih sepakat bahwa bentuk perserikatan ini hukumnya boleh dan syirkah inan termasuk kedalam macam-macam syirkah.12 2) Syirkah ‘Abdan
Syirkah ‘abdan adalah13 syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya). Syirkah ini disebut juga syirkah ‘amal.
Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.
Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah
‘abdan terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan
12 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalah , 345-347.
13 Maulana Hasanudin and Jaih Mubarok, Perkembangan Akad Musyarakah (Jakarta:
Kencana, 2012), 46.
halal, tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan (celeng).
Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama diantara mitra-mitra usaha (syarîk). Syirkah ‘abdan hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah. Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata,
“Aku pernah berserikat dengan Ammar bin Yasir dan Sa’ad bin Abi Waqash mengenai harta rampasan perang pada Perang Badar. Sa’ad membawa dua orang tawanan, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa pun.” (HR. Abu Dawud dan al- Atsram].
Hal itu diketahui Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dan beliau membenarkannya dengan taqrîr beliau. Ulama fiqih yang sepakat bahwa bentuk perserikatan ini masuk kedalam macam- macam syirkah adalah Hanabilah, Malikiyah, dan Syafi’iyah.
3) Syirkah Mudhârabah
Syirkah mudhârabah adalah14 syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl).
Istilah mudhârabah dipakai oleh ulama Irak, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya qirâdh. Contoh: A sebagai pemodal (shâhib al- mâl/rabb al-mâl) memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal (‘âmil/mudhârib) dalam usaha perdagangan umum (misal, usaha toko kelontong).
Ada dua bentuk lain sebagai variasi syirkah mudhârabah.
Pertama, dua pihak (misalnya, A dan B) sama-sama memberikan konstribusi modal, sementara pihak ketiga (katakanlah C) memberikan konstribusi kerja saja. Kedua, pihak pertama (misalnya A) memberikan konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan konstribusi modal, tanpa konstribusi kerja. Kedua bentuk syirkah ini masih tergolong syirkah mudhârabah.
14 Maulana Hasanudin and Jaih Mubarok, Perkembangan Akad Musyarakah, 47-48.
Hukum syirkah mudhârabah adalah jâ’iz (boleh) berdasarkan dalil as-Sunnah (taqrîr Nabi Shalallahu alaihi wasalam) dan Ijma Sahabat. Dalam syirkah ini, kewenangan melakukan tasharruf hanyalah menjadi hak pengelola (mudhârib/‘âmil).
Pemodal tidak berhak turut campur dalam tasharruf. Namun demikian, pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.
Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan diantara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudhârabah berlaku hukum wakalah (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya.
Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.
Syirkah mudharabah adalah persetujuan antara pemilik modal dan seorang pekerja untuk mengelola uang dari pemilik modal dalam suatu perdagangan tertentu yang keuntungannya dibagi sesuai dengan kesepakatan. Adapun kerugian ditanggung oleh pemilik modal saja.15 Ulama fiqih sepakat bahwa bentuk perserikatan ini masuk kedalam macam-macam syirkah adalah Hanabilah, sedangkan menurut Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Syiah Imamiyah tidak memasukan transaksi mudharabah sebagai salah satu bentuk perserikatan, karena mudharabah menurut mereka merupakan akad tersendiri dalam bentuk kerjasama yang lain yang tidak dinamakan perserikatan.16
15 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqih Muamalat, 134.
16 Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah, Jilid II, 253.
4) Syirkah Wujûh
Syirkah wujûh17 disebut juga syirkah ‘ala adz-dzimam Disebut syirkah wujûh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujûh) seseorang ditengah masyarakat.
syirkah antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (‘amal), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (mâl). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudhârabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkah mudhârabah padanya.
Syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak. Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-syirkah wujûh, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang (misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C (pedagang). Dalam syirkah wujûh ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki; sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan. Syirkah wujûh kedua ini hakikatnya termasuk dalam syirkah ‘abdan.
Hukum kedua bentuk syirkah di atas adalah boleh, karena bentuk pertama sebenarnya termasuk syirkah mudhârabah, sedangkan bentuk kedua termasuk syirkah ‘abdan. Syirkah mudhârabah dan syirkah ‘abdan sendiri telah jelas kebolehannya dalam syariat Islam.
17 Maulana Hasanudin and Jaih Mubarok, Perkembangan Akad Musyarakah, 43-45.
Namun demikian, An-Nabhani mengingatkan bahwa ketokohan (wujûh) yang dimaksud dalam syirkah wujûh adalah kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan keuangan. Sebaliknya, sah syirkah wujûh yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan finansial (tsiqah mâliyah) yang tinggi, misalnya dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan keuangan. Ulama fiqih sepakat bahwa bentuk perserikatan ini masuk kedalam macam- macam syirkah.18
5) Syirkah Mufâwadhah
Syirkah mufâwadhah adalah19 syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inân, ‘abdan, mudhârabah, dan wujûh). Syirkah mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya.
Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkah-nya; yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal (jika berupa syirkah inân), atau ditanggung pemodal saja (jika berupa syirkah mudhârabah), atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki (jika berupa syirkah wujûh).
Contoh: A adalah pemodal, berkonstribusi modal kepada B dan C, dua insinyur teknik sipil, yang sebelumnya sepakat, bahwa masing-masing berkonstribusi kerja. Kemudian B dan C juga sepakat
18 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqih Muamalat, 130-131
19 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 226.
untuk berkonstribusi modal, untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C.
Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah syirkah
‘abdan, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing ber-syirkah dengan memberikan konstribusi kerja saja. Lalu, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud syirkah mudhârabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola. Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan konstribusi modal, di samping konstribusi kerja, berarti terwujud syirkah inân diantara B dan C.
Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujûh antara B dan C. Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenis syirkah yang ada, yang disebut syirkah mufâwadhah.20 Ulama fiqih sepakat bahwa bentuk perserikatan ini masuk kedalam macam-macam syirkah.21
5. Asas-Asas Syirkah
Menurut Ibnu Taimiyah, prinsip dasar dalam melakukan berbagai akad adalah kerelaan keduabelah pihak yang melakukan akad atau akibat hukum yang timbul dari akad itu didasarkan atas tuntutan yang disepakati mereka dalam akad.22
Syirkah dan semua jenis transaski lainnya haruslah berdasarkan asas-asas al-‘uqud sebagai berikut:
a. Asas Ibahah (bekerjasama dalam barang-barang dibolehkan/dihalalkan), barang atau jenis pekerjaan yang diperbolehkan atau di halalkan oleh syara’. Karena dari barang atau pekerjaan yang halal akan mendatangkan rezeki yang halal pula.
20 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 227.
21 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, Fiqih Muamalat, 130-131.
22 Ibnu Taimiyah, al-Qawa’id al-Nuraaniyyah al-Fiqhiyyah (Lahore-Pkistan: Idarah Tarjumahal-Sunnah, tth), 255.
b. Asas Amanah. Dalam bekerjasama, keduabelah pihak hendaklah saling percaya satu sama lain dan menjaga amanah (tugas dan kewajiban) masing-masing dengan baik.
c.
Asas ‘Antaroodhin (suka sama suka). Sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:ٍضاَرَت نَع ًةَراَجِت َنوُكَت نَأ َّلَِّإ ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلاَوْمَأ ْاوُلُكْأَت َلَّ ْاوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي (ءاسنلا : ٢٩) ًاميِحَر ْمُك ِب َناَك َ هاللّ َّنِإ ْمُكَسُفنَأ ْاوُلُتْقَت َلََّو ْمُكنِّم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S An-Nisaa: 29)
d. Asas al-‘Adlu, Allah SWT memerintahkan kita semua untuk berbuat adil dan menegakan keadilan, baik itu dalam rumah tangga, dalam berpolitik maupun dalam berbisnis. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa keadilan merupakan inti dari semua ajaran yang ada di dalam al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri secara tegas mengatakan bahwa maksud diwahyukannya, adalah untuk membangun keadilan dan persamaan. Mauludi mengatakan bahwa hanya Islamlah yang mampu menghadirkan sistem yang realistic dan keadilan social yang sempurna.
6. Mengakhiri Syirkah
Hendi Suhendi menjelaskan, bahwa syirkah akan berakhir apabila terjadi hal-hal berikut23 :
a. Salah satu pihak membatalkannya meskipun tanpa persetujuan pihak yang lain. Sebab syirkah adalah akad yang terjadi atas dasar rela sama rela dari keduabelah pihak yang tidak ada kemestian untuk dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. Hal ini menunjukan pencabutan kerelaan syirkah oleh salah satu pihak.
b. Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk mengolah harta, baik karena gila maupun karena alasan lainnya.24
23 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah, 13.
c. Salah satu pihak meninggal dunia, tetapi apabila anggota syirkah lebih dari dua orang, yang batal hanyalah yang meninggal saja. Syirkah berjalan terus pada anggota-anggota yang masih hidup. Apabila ahli waris anggota yang meninggal menghendaki turut serta dalam syirkah tersebut, maka dilakukan perjanjian baru bagi ahli waris yang bersangkutan.
d. Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah. Bila modal tersebut lenyap sebelum terjadi percampuran harta hingga tidak dapat dipisah-pisahkan lagi, maka yang meananggung risiko adalah para pemiliknya sendiri. Apabila hartanya lenyap setelah terjadi percampuran yang tidak bisa dipisahkan lagi, maka hal ini menjadi risiko bersama. Kerusakan yang terjadi setelah dibelanjakan menjadi risiko bersama, apabila masih ada sisa harta, syirkah masih dapat berlangsung dengan kekayaan yang masih ada.
e. Salah satu pihak ditaruh di bawah pengampunan, baik karena boros yang terjadi pada waktu perjanjian syirkah tengah berjalan maupun sebab yang lain.
f. Salah satu pihak jatuh bangkrut yang berakibat tidak bisa berkuasa lagi atas harta yang menjadi saham syirkah. Pendapat ini dikemukakan oleh mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, Hanafi berpendapat, bahwa keadaan bangkrut itu tidak membatalkan perjanjian yang dilakukan oleh yang bersangkutan.25
B. Kerjasama Perikanan Secara Umum
Kerjasama berasal dari bahasa inggris yaitu “coorperate”,
“coorperation”, atau: “coorperative”. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah kerjasama/bekerjasama. Adapun pengertian kerjasama adalah
24 Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1996), jilid ke-4, 36.
25 Sohari Sahrani and Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 183.
kegiatan/usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (lembaga, pemerintah) untuk mencapai tujuan bersama.26
Secara sederhana istilah kerjasama menggambarkan orang atau lembaga dalam mencapai tujuannya tidak bekerja sendiri, akan tetapi melibatkan orang/pihak lain agar harapan dan tujuannya mendapatkan hasil yang lebih baik bersama dengan menggunakan sistem bagi hasil. Dalam undang-undang No. 9 tentang perikanan tahun 1985 dijelaskan bahwa usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial. Usaha perikanan terdiri dari usaha perikanan besar dan usaha perikanan kecil.
Adapun ciri usaha perikanan skala kecil adalah keterbatasan nelayan dalam menyediakan sarana dan modal. Sedangkan ciri usaha perikanan tangkap skala besar adalah modal yang dibutuhkan cukup besar, manajemen yang baik serta tenaga kerja yang professional.
Pembangunan ekonomi harus mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat berdasarkan atas asas kesejahteraan bagi seluruh masyarakat berdasarkan asas demokrasi, kebersamaan dan kekeluargaan yang melekat, serta mampu memberikan kesempatan yang seluas luasnya kepada semua pelaku ekonomi untuk berperan sesuai dengan bidang usaha masing- masing.
Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, dibutuhkan sebuah bentuk kemitraan yang diartikan sebagai kerjasama pihak yang mempunyai modal dengan pihak yang mempunyai keahlian atau peluang usaha dengan prinsip saling memperhatikan, saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.
Pada dasarnya kemitraan secara alamiah akan mencapai tujuannya jika kaidah saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan dapat dipertahankan dan dijadikan komitemen dasar yang kuat diantara para pelaku kemitraan. Implementasi kemitraan yang berhasil harus bertumpu
26 Afandi Yazid, Fiqh Muamalah (Yogjakarta: Logung Pustaka, 2009), .34.
kepada persaingan sehat dan penyegahan posisi dominan dalam persekutuan untuk menghindari persaingan.
Sebagaimana teori sosial pengembangan masyarakat yang sedang berkembang akhir-akhir ini, maka dalam menetapkan suatu program pembangunan ekonomi harus memperhatikan faktor-faktor yang berkembang dan sesuai situasi dan kondisi masyarakat, adat, budaya, tradisi, moral, dan keyakinan agama yang dianut oleh masyarakat itu sendiri.27
Kerjasama dalam konsep ekonomi Islam dengan kerjasama yang berkembang dengan aturan lain tidak memiliki banyak perbedaan keduanya sama-sama mempunyai tujuan profit oriented.
Menurut hukum adat, pelaksanaan bagi hasil secara adat telah berlangsung secara turun temurun dan masyarakat perikanan (nelayan) menganggap pola bagi hasil tersebut sudah sangat adil, hal ini dikarenakan, pola bagi hasil perikanan secara adat lebih mengutamakan kepada pembagian yang sama antara pemilik dan penggarap yaitu 50-50.28
Menurut undang-undang no. 31 tahun 2004, yaitu pengusaha perikanan mendorong kemitraan usaha yang saling menguntungkan dengan kelompok nelayan kecil dalam kegiatan usaha perikanan.29
Menurut hukum Islam, untuk menentukan keadilan dalam suatu usaha, apakah terjadi proses eksploratif atau tidak ditentukan oleh seberapa jauh pertukaran sosial yang bersangkutan menerima resiprositas. Norma resiprositas dalam Islam dikenal dengan istilah profit and loss sharing, yaitu untung yang sama-sama memikul risiko, dalam suatu bentuk kerjasama (partenership) antara pemilik dan pengguna.30 Baik pemilik dan pengguna modal harus jelas persentase keuntungan yang akan mereka peroleh.
Bagi hasil merupakan suatu langkah inovatif dalam transaksi ekonomi Islam yang tidak hanya sesuai dengan perilaku masyarakat, namun lebih dari itu bagi hasil merupakan langkah keseimbangan sosial dalam memperoleh kesempatan ekonomi dengan demikian, sistem bagi hasil dapat dipandang
27 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 226.
28 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 227.
29 Sohari Sahrani and Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, 183.
sebagai langkah yang lebih efektif untuk mencegah potensi terjadinya konflik kesenjangan antara kaya dan miskin di dalam kehidupan masyarakat. Selain itu ketidakadilan sosial ekonomi dari menumpuknya kekayaan serta terkonsentrasinya sosial ekonomi pada pihak-pihak tertentu saja dengan sendirinya dapat lebih teratasi.
Kerjasama yang menggunakan sistem bagi hasil (antara pemodal dan pengusaha) adalah aktivitas yang sangat dianjurkan dalam perekonomian yang Islami, karena aktivitas ini tidak didanai dari pinjaman yang mengandung bunga.
Selain itu, pola seperti ini dapat mengatasi langkanya pendanaan dari investor konvensional. Argumentasi logis yang menyadarinya adalah bahwa dengan bagi hasil, risiko yang ditangggung masing-masing pihak akan lebih kecil dibandingkan dengan bukan bagi hasil. Modal yang diperlukan masing- masing pihak akan lebih sedikit karena ditanggung bersama, untuk itulah pengelolaan usaha harus lebih transparan.
Selain itu bagi hasil akan menghilangkan keberpihakan kepada pemodal, sekaligus membuka peluang yang sama antara pemodal dengan pengusaha. Karena itu setiap transaksi dengan dasar bagi hasil yang dilakukan harus berpegang pada prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, transparan, dan menghindari pranata riba31. Dalam Islam, kerjasama yang meggunakan pola bagi hasil bisa saja mengacu kepada tiga pola, yaitu production sharing, reveneu sharing dan profit and loss sharing. Production sharing pola kerjasama dimana pemilik langsung membagi hasil usaha walaupun masih berupa barang, pola ini sering dilakukan dalam bidang MIGAS, revenue sharing adalah sistem bagi hasil berdasarkan tingkat perolehan usaha, dan profit and loss sharing adalah sistem bagi hasil berdasarkan pada tingkat laba rugi dalam usaha.32 Dalam garis besarnya, investasi bagi hasil uang berkembang dimasyarakat dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu pertama dimana pemodal ditawarkan pembagian sekian persen dari keuntungan usaha. Ini berarti bagi hasil hanya diberikan kalo usahanya
31 Afandi Yazid, Fiqh Muamalah, 34.
32 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, 377.
untung. Kalau usaha itu kebetulan merugi, tidak ada bagi hasil yang didapatkan. Kedua, dimana pemodal mendapatkan pembagian sebesar sekian persen dari uang yang diinvestasikan, terlepas apakah usahanya untung atau tidak. Jadi, pemodal tidak turut menanggung risiko usaha, kerugianya ditanggung pengusaha.
Dari hasil pengamatan ini, biasanya metode kedualah yang paling banyak digunakan dalam penawaran investasi usaha bagi hasil. Pilihan ini karena metode tersebut dinggap tidak terlalu merespon, sedangkan bagi hasil yang dilakukan hanya tinggal mengikuti jadwal yang sudah disepakati sebelumnya.33 Namun, pola bagi hasil yang Islami hanyalah pola yang pertama. Pada awal perjanjian yang ditentukan adalah nisbah (ratio) bagi hasil. Sementara nilai nominal bagi hasil tergantung dari besarnya proyek yang belum diketahui saat perjanjian ini dibuat. Perhitungan jumlah rill bagi yang diperoleh masing-masing pihak hanya dapat diketahui setelah proyek selesai atau setelah berakhirnya periode perhitungan pendapatan teretntu ataupun lainnya sesuai kesepakatan bersama.
C. Konsep Mudharabah 1. Pengertian Mudharabah
Secara etimologi berasal dari kata darb. Dalam bahasa arab, kata ini mempunyai banyak arti diantaranya memukul, berdetak, mengalir, berenang, bergabung, menghindar, berubah, mencampur, berjalan dan lain sebagainya. Perubahan makna tersebut tergantung pada kata yang mengikutinya dan konteks yang membentuknya. Secara terminologi mudharabah adalah kontrak (perjanjian) antara pemilik modal (rab al- amal) dan pengguna dana (mudharib) untuk digunakan aktifitas yang produktif dimana keuntungan dibagi dua antara pemodal dan pengelola modal. Kerugian jika ada ditanggung oleh pemilik modal, jika kerugian itu terjadi dalam keadaan normal, pemodal (rab al-amal) tidak boleh
33 Rachmat Syafe’i, Fiqh Muamalah, 186.
intervensi kepada pengguna dana (mudharib) dalam menjalankan usahanya.34
Adapun pengertian mudharabah menurut Ulama Madzhab diantaranya menurut Ulama Madzhab Hanafi, “suatu perjanjian untuk berkongsi di dalam keuntungan dengan modal dari salah satu pihak dan kerja (usaha) dari pihak lain.” Sedangkan Madzhab Maliki menamainya sebagai penyerahan uang dimuka oleh pemilik modal dalam jumlah uang yang ditentukan kepada seseorang yang akan menjalankan usaha dengan uang itu dengan imbalan sebagian dari keuntungan. Ulama Hijaz menamakan mudharabah dengan qiradh. Menurut jumhur, mudharabah adalah bagian dari musyarakah. Sedangkan menurut Wahbah Az-Zuhaily mengemukakan “pemilik modal menyerahkan hartanya kepada pengusaha untuk diperdagangkan dengan pembagian keuntungan yang disepakati dengan ketentuan bahwa kerugian ditanggung oleh pemilik modal, sedangkan pengusaha tidak dibebani kerugian, kecuali kerugian berupa tenaga dan kesungguhannya.”
Mudharabah suatu bentuk kontrak yang lahir sejak zaman Rasullah SAW sejak zaman jahiliah/sebelum Islam. Dan Islam menerimanya dalam bentuk bagi hasil dan investasi. Dalam bahasa Arab ada tiga istilah untuk bentuk organisasi bisnis ini yaitu qiradh, muqaradhah, dan mudharabah.
Ketiga istilah ini tidak ada perbedaan yang prinsip. Perbedaan istilah ini mungkin disebabkan oleh faktor geografis. Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal di Irak menggunakan istilah mudharabah, sebaliknya Imam Malik dan Syafi’i menggunakan istilah qiradh atau muqaradhah, mengikuti kebiasaan di Hijaz.35
Menurut pasal 20 ayat (4) kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, mudharabah adalah kerjasama antara pemilik dana dengan pengelola modal untuk melakukan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah.36
34 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah, 11.
35 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah, 11.
36 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah, 11
2. Dasar Hukum Mudharabah
Dasar kebolehan praktik mudharabah adalah Q.S al-Baqarah 2:198.
(١٩٨ : ةرقبلا) . ْمُكِّبَّر نِّم ًلاْضَف ْاوُغَتْبَت نَأ ٌحاَن ُج ْمُكْيَلَع َسْيَل
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (Al-Baqarah : 198)
Adapun dalil sunah adalah bahwasanyya Nabi pernah melakukan akad mudharabah (bagi hasil) dengan harta Khadijah belum menjadi istri Rasulullah SAW). Dan hadits HR. Ibnu Majah yaitu sebagai berikut:
“Dari shuhaibah Rasulullah SAW bersabda: ada tiga perkara yang diberkati jual beli yang ditangguhkan, memberi modal, dan mencampur gandum dengan kurma untuk keluarga, bukan untuk dijual”
(HR. Ibnu Majah).37
“Dari al-A’la Ibn Abdul rahman Ibn Yakub dari kakeknya, bahwa
‘Utsman bin Affan memberinya harta dengan cara qiradh yang dikelolanya, dengan ketentuan keuntungan dibagi antara mereka berdua”.(HR. Imam Maliky)38
Dari ayat Al-Qur’an dan Hadits di atas jelaslah bahwa mudharabah atau qiradh merupakan akad yang diperbolehkan. Dalam Hadits yang pertama dijelaskan bahwa muqaradah atau qiradh atau mudharabah merupakan salah satu akad yang di dalamnya terdapat keberkahan, karena membuka lapangan kerja, dalam Hadits kedua dijelaskan tentang praktik mudharabah oleh Utsman sebagai pemilik modal dengan pihak lain sebagai pengelola.39
Adapun dalil dari Ijma’, pada zaman sahabat sendiri banyak para sahabat yang melakukan akad mudharabah dengan cara memberikan harta anak yatim sebagai modal kepada pihak lain, seperti Umar, Utsman, Ali, Abdullah, Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Amir, dan Siti
37 Muhammad bin Isma’il Al-Kahlani, Subul As-Salam, Juz 3, 76.
38 Imam Malik, Al-Muwaththa Riwayat Yahya Al-Laitsiy, Juz 2, Nomor hadits 13735, CD Room, Maktabah Kutub Al-Mutun, Silsilah Al-‘Ilm An-Nafi’ Seri IV, Al-Ishdar Al-Awwal, 1426, 688.
39 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalah, 370.
Aisyah, dan tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa para sahabat yang lain mengingkarinya. Oleh karena itu hal ini dapat disebut dengan Ijma.
Kebolehan mudharabah juga dapat di qiyas-kan dengan kebolehan praktik musaqah (bagi hasil dalam bidang perkebunan). Karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal tersebut karena dalam realita kehidupan sehari-hari, manusia ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang kaya yang memiliki harta tetapi ia tidak memiliki keahlian berdagang, dan begitupun sebaliknya. Dengan adanya kerjasama antara keduabelah pihak maka kebutuhan masing-masing akan dipadukan sehingga menghasilkan keuntungan.40
3. Rukun Mudharabah
Menurut Ualma Syafi’iyah, rukun qiradh atau mudharabah ada enam41 yaitu:
a. Pemilik barang yang menyerahkan barang-barang.
b. Orang yang bekerja, yaitu mengelola harta yang diterima dari pemilik barang.
c. Akad mudharabah, dilakukan oleh pemilik dengan pengelola barang.
d. Maal, yaitu harta pokok atau modal.
e. Amal, yaitu pekerjaan pengelolaan harta sehingga menghasilkan laba.
f. Keuntungan.
Menurut pasal 232 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, rukun mudharabah ada tiga, yaitu sebagai berikut:
a. Shahibul al-mal/pemilik modal.
b. Mudharib/pelaku usaha.
c. Akad.
Menurut Sayid Sabiq, rukun mudharabah adalah ijab dan kabul yang keluar dari orang yang memiliki keahlian.
40 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalah, 370.
41 Afandi Yazid, Fiqh Muamalah, 36.
4. Syarat Mudharabah
Syarat-syarat sah mudharabah berhubungan dengan rukun-rukun mudharabah itu sendiri. Syarat-syarat sah mudharabah adalah sebagai berikut42:
a. Modal atau barang yang diserahkan itu bebentuk uang tunai. Apabila barang itu berbentuk emas hiasan atau barang dagangan lainnya, mudharabah tersebut batal.
b. Bagi orang yang melakukan akad diisyaratkan mampu melakukan tasaruf, maka dibatalkan akad anak-anak yang masih kecil, orang gila, dan orang-orang yang berada di bawah pengampuan.
c. Modal harus diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara modal yang diperdagangkan dan laba atau keuntungan dari dagangan tersebut yang akan dibagikan kedua belah pihak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
d. Keuntungan yang akan menjadi milik pengelola dan pemilik modal harus jelas presentasinya, umpamanya setengah, sepertiga atau seperempat.
e. Melafazkan ijab dari pemilik modal misalnya aku serahkan uang ini kepadamu untuk dagang jika ada keuntungan akan dibagi dua dan kabul dari pengelola.
f. Mudharabah bersifat mutlak, pemilik modal tidak mengikat pengelola harta untuk berdagang di negara tertentu, memperdagangkan barang- barang tertentu. Pada waktu-waktu tertentu, sementara diwaktu lain tidak dikena persyaratan yang mengikat sering menyimpang dari tujuan akad mudharabah, yaitu keuntungan. Bila dalam mudharabah ada persyaratan-persyaratan, maka mudharabah tersebut menjadi rusak (fasid) menurut pendapat al-Syafi’i dan Malik. Adapun menuurt Abu Hanifah dan Ahmad Ibn Hambal, mudharabah tersebut sah.43
42 Sohari Sahrani and Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah, 185.
43 Afandi Yazid, Fiqh Muamalah, 34.
Menurut pasal 231 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, syarat-syarat mudharabah, yaitu seagai berikut:
a. Pemilik modal wajib menyerahkan dana dan, atau barang yang berharga kepada pihak lain untuk melakukan kerjasama dalam usaha.
b. Penerima modal menjalankan usaha dalam bidang yang disepakati.
c. Kesepakatan bidang usaha yang akan dilakukan ditetapkan dalam akad.
5. Jenis-Jenis Mudharabah
Secara umum mudharabah terbagi kepada dua jenis: mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah44.
a. Mudharabah muthlaqah
Yang dimaksud dalam transaksi mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahib al-mal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fiqih ulama Salafus Saleh sering kali dicontohkan dengan ungkapan if’al maa syi’ta (lakukan sesukamu) dari shahib al-mal yang memberi kekuasaan yang sangat besar.
b. Mudharabah muqayyadah
Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restric-ted mudharabah/specified mudahrabah adalah kebalikan dai mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini sering kali shahib al-mal dalam memasuki jenis dunia usaha.
6. Ketentuan Mudharabah
Ketentuan mudharabah menurut kompilasi hukum ekonomi syariah adalah sebagai berikut:
Pasal 238.
a. Status benda yang berada ditangan mudharib yang diterima dari shahib al-mal adalah modal.
44 Afandi Yazid, Fiqh Muamalah,.36.
b. Mudharib berkedudukan sebagai wakil shahib al-mal dalam menggunakan modal yang diterimanya.
c. Keuntungan yang dihasilkan dalam mudharabah menjadi milik bersama.
Pasal 239.
a. Mudharib berhak membeli barang dengan maksud menjualnya kembali dengan maksud memperoleh untung.
b. Mudharib berhak menjual dengan harga tinggi atau rendah, baik dengan tunai maupun cicilan.
c. Mudharib berhak menerima pembayaran dari harga barang dengan pengalihan piutang.
d. Mudharib tidak boleh menjual barang dalam jangka waktu yang tidak biasa dilakukan oleh para pedagang.45
Pasal 240.
Mudharib tidak boleh menghabiskan, menyedehkakan dan atau meminjamkan harta kerjasama kecuali bila mendapatkan izin dari pemilik modal.
Pasal 241
a. Mudharib berhak memberi kuasa kepada pihak lain untuk bertindak sebagai wakilnya untuk membeli dan menjual barang jika telah disepakati dalam akad mudharabah.
b. Mudharib berhak mendepositokan dan meninvestasikan harta kerjasama dengan sistem syariah.
c. Mudharib berhak menghubungi pihak lain untuk melakukan jual beli barang sesuai kesepakatan dalam akad.
Pasal 242
a. Mudharib berhak atas keuntungan sebagai imbalan pekerjaannya yang disepakati dalam akad.
b. Mudharib tidak berhak mendapatkan imablan jika usaha yang dilakukan rugi.
45 Hendi Suhendi, Fikih Muamalah, 17.
Pasal 243
a. Pemiilik modal berhak atas keuntugan berdasarkan modalnya yang disepakati dalam akad
b. Pemilik modal tidak berhak mendapatkan keuntungan jika usaha yang dilakukan oleh mudharib merugi.
Pasal 244
Mudharib tidak boleh mencampurkan kekayaannya sendiri dengan harta kerjasama dalam melakukan mudharabah, kecuali bila sudah menjadi kebiasaan dikalangan pelaku usaha.
Pasal 245
Mudharib dibolehkan mencampurkan kekayaannya sendiri dengan harta mudharabah jika mendapat izin dari pemilik modal dalam melakukan usaha-usaha khusus tertentu.
Pasal 246
Keuntungan hasil usaha yang menggunakan modal campuran/shahib al-mal dengan mudharib, dibagi secara profesional atau atas dasar kesepakatan semua pihak.
Pasal 247
Biaya perjalanan yang dilakukan oleh mudharib dalam rangka menjalankan bisnis kerja sama, dibebankan pada modal dari shahib al-mal.
Pasal 248
Mudharib wajib menjaga dan melakuakn ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemilik modal dalam akad.
Pasal 249
Mudharib wajib bertanggungjawab terhadap risiko kerugian dan atau kerusakan yang diakibatkan oleh usahanya yang melampaui batas yang diizinkan dan atau tidak sejalan dengan ketentuan-ketentuan dalam akad.
Pasal 250
Akad mudharabah selesai apabila waktu kerjasama yang disepakati dalam akad telah berakhir.
Pasal 251
a. Pemilik modal dapat memberhentikan atau memecat pihak yang melanggar kesepakatan dalam akad mudharabah
b. Pemberhentian kerjasama oleh pemilik modal diberhentikan kepada mudharib.
c. Mudharib wajib mengembalikan modal dan keuntungan kepada pemilik modal yang menjadi hak pemilik modal dalam kerjasama mudharabah.
d. Perselisihan antara pemilik modal dengan mudharib dapat diselesaikan dengan pendamaian/al-shulh/atau melalui pengadilan
pasal 252
Kerugian usaha dan kerusakan barang dagangan dalam kerjasama mudharabah yang terjadi bukan karena kelalaian mudharib, dibebankan pada pemilik modal.
Pasal 253
Akad mudharabah berakhir dengan sendirinya jika pemilik modal akad mudharib meninggal dunia, atau tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
Pasal 254
a. Pemilik modal berhak melakukan penagihan terhadap pihak-pihak lain berdasarkan bukti dari mudharib yang telah meninggal dunia.
b. Kerugian yang diakibatkan oleh meninggalnya mudharib, dibebankan pada pemilik modal.
7. Pembatalan Mudharabah
Mudharib menjadi batal apabila ada perkara-perkara sebagai berikut46: a. Tidak terpenuhinya salah satu atau beberapa syarat mudharabah. Jika
salah satu syarat mdharabah tidak terpenuhi, sedangkan modal sudah dipegang oleh pengelola dan sudah diperdagangkan, maka pengelola mendapatkan sebagian keuntungannya sebagai upah, akrean tindakan atas izin pemilik moal dan ia melakukan tugas berhak menerima upah.
Jika terdapat keuntungan, keuntungan tersebut untuk pemilik modal.
46 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 77.
Jika ada kerugian, kerugian itu menjadi tanggungjawab pemilik modal karena pengelola adalah sebagai buruh yang hanya berhak menerima upah dan tidak bertanggungjawab sesuatu apa pun, kecuali atas kelalaiannya.
b. Pengelola dengan sengaja meninggalkan tugasnya sebagai pengelola modal atau pengelola modal berbuat sesuatu yang bertentangan dengan tujuan akad. Dalam keadan ini pengelola modal bertanggungjawab jika terjadi kerugian karena dialah penyebab kerugian.
c. Apabila pelaksana atau pemilik modal meninggal dunia, mudharabah menjadi batal.
D. Masyarakat Nelayan
Masyarakat nelayan merupakan panduan antara dua kata masyarakat dan nelayan, agar lebih jelas penulis akan memberikan pengertian dari masing-masing kata tersebut kemudian arti secara keseluruhan.
1. Pengetian Masyarakat
Pengertian masyarakat sendiri berasal dari kata “syaraka” yang artinya ikut serta atau berperan serta, berpartisipasi, atau “musyaraka”
yang berarti saling bergaul dalam bahasa inggris dipakai istilah “society”
yang bearsal dari kata laitin “socius” yang berarti “kawan”. Jadi masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi antara satu sama lainnya”. 47
Menurut Maclaver, masyarakat ialah suatu sistem, dari kebiasaan dari suatu cara kewenangan dan kerjasama antara berbagai kelompok dan pergolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan manusia.48
Menurut Koentjaraningrat dalam “ilmu sosial dasar”, masyarakat ialah sekelompok manusia yang saling berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterkaitan untuk mencapai tujuan bersama. Dan masyarakat adalah tempat kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai (input) bagi keluarga, keluarga
47 Basrowi, Pengantar Sosiologi (Bogor: Ghalia Indonesia 2005), 34
48 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, 24.
sebagai tempat prosesnya, dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil (output) dari proyeksi tersebut.49
Adapun kesimpulan dari paparan di atas bahwasannya masyarakat ialah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi dan terikat membuat aktivitas yang sama, serta mempunyai kesamaan tujuan, kesamaan perolehan ekonomi secara berkelanjutan.
2. Pengertian nelayan
Undang-undang No 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU No 31 tahun 2004 tentang perikanan. Pasal 1 angka 10 yang mendefinisikan
“Nelayan adalah orang yang mata penchariannya melakukan penangkapan ikan”. Serta ketentuan pasal 1 angka 13 mendefinisikan nelayan yaitu perorangan warga negara Indonesia yang mata penchariannya melakukan penangkapan ikan.
3. Masyarakat nelayan
Pengertian masyarakat nelayan dalam buku yang berjudul
“sosiologi masyarakat kota dan desa” M. Kholil Mansyur mengatakan bahwa masyarakat nelayan dalam hal ini bukan berarti mereka dalam hal yang mengatur hidupnya hanya mencari ikan di laut untuk menghidupi keluarganya akan tetapi juga orang-orang integral dalam lingkungan itu sendiri.50
Dari beberapa definisi masyarakat dan definisi nelayan yang telah dipaparkan dapat diatrik kesimpulan pengertain keduanya ialah masyarakat nelayan ialah sekelompok manusia yang mempunyai mata pencharian menangkap ikan di laut. masyarakat nelayan bukan hanya mereka yang mengatur kehidupannya hanya bekerja dan mencari di laut melainkan mereka juga yang tinggal disekitar pantai walaupun mata pencharian mereka ialah bercocok tanam dan berdagang.
Dari paparan di atas mengenai definisi masyarakat dan definisi nelayan dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu sekelompok manusia yang mempunyai mata pencharian pokok mencari ikan di laut dan hidup di
49 Hartomo and Arnicun Azis, Ilmu Sosial Dasar (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), 102.
50 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan. 22.
sekitar pantai, bukan mereka yang bertempat tinggal di perdalaman, walaupun tidak menutup kemungkinan mereka juga mencari ikan di laut karena mereka bukan termasuk komunitas orang yang memiliki ikatan budaya masyarakat pantai.
Di Desa Eretan Wetan masyarakat nelayan dibagi menjadi dua yaitu dengan sebutan nelayan juragan dan nelayan bidak, juragan disini ialah pemilik kapal sekaligus pemilik modal, sedangkan bidak merupakan tenaga kerja yang membantu juragan dalam melaut.51
F. Tinjauan Mengenai Perjanjian Bagi Hasil Perikanan Laut Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1964.
1. Pengertian Perjanjian Bagi Hasil
Dalam pasal 1 undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan disebutkan bahwa:
“Perjanjian bagi hasil adalah perjanjian yang diadakan dalam usaha penangkapan ikan atau pemeliharaan ikan antara nelayan pemilik dan nelayan penggarap atau pemilik tambak dan penggarap tambak, menurut perjanjian mana mereka masing-masing menerima pembagian hasil usaha tersebut menurut timbangan yang telah disetuji sebelumnya”52
2. Subjek Perjanjian Bagi Hasil Perikanan Laut
Subjek dari perjanjian bagi hasil adalah orang atau badan hukum secara umum subjek perjanjian bagi hasil perikanan laut dapat digolongkan menjadi dua golongan sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 undang-undang nomor 16 Tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan, ialah:
a. Nelayan pemilik ialah orang atau badan hukum yang dengan hak apapun berkuasa atau sesuatu kapal/prahu yang dipergunakan dalam usaha penangkapan ikan dan alat-alat penagkapan ikan.
b. Nelayan penggarap ialah semua orang yang sebagai kesatuan dengan menyediakan tenaganya turut serta dalam usaha penangkapan ikan laut.
51 Wawancara dengan bapak Casmudi di Tempat Pelelangan Ikan Misaya Mina Eretan- Wetan Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, pada, Jumat, 21 Oktober 2016 pukul 14.06 WIB.
52Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1964 Tentang Bagi Hasil Perikanan Bab 1 Pasal 1 Poin a.2.
3. Bentuk Perjanjian Bagi Hasil
Dalam pasal 2 Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang perjanjian bagi hasil perikanan disebutkan bahwa:
“Usaha perikanan laut maupun darat atas dasar perjanjian bagi hasil harus diselenggarakan berdasarkan kepentingan bersama dari nelayan-nelayan pemilik dan nelayan-nelayan penggarap serta pemilik tambak dan penggarap tambak yang bersangkutan, sehingga mereka menerima bagian dari usaha itu sesuai dengan jasa yang diberikan.”
Dari bunyi pasal 2 Undang-undang nomor 16 tahun 1964 tersebut di atas dapat diambil pengertian bahwa pembagian bagi hasil tersebut dapat berbentuk lisan (tidak tertulis) yang mendasarkan pada rasa saling percaya dan itikad baik antara nelayan pemilik kapal dan nelayan penggarap, akan tetapi sebaiknya perjanjian bagi hasil tersebut bentuknya tertulis atau dapat berupa akta sebagai alat bukti yang secara hukum sah dan kuat.53
4. Jangka Waktu Perjanjian Bagi Hasil
Dalam pasal 7 Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan disebutkan sebagai berikut:
“Ayat (1): Perjanjian bagi hasil diadakan untuk waktu yang paling sedikit 2 (dua) musim, yaitu 1 satu tahun berturut turut bagi perikanan darat, dengan ketentuan bahwa jika setelah waktu itu berakhir diadakan pembaharuan perjanjian maka para nelayan penggarap dan nelayan penggarap tambak lamalah yang diutamakan.
“Ayat (2): Perjanjian dan bagi hasil tidak terputus karena pemindahan hak atas perahu/kapal, alat-alat penangkapan ikan atau tambak yang bersangkutan kepada orang lain. Di dalam hal yang demikian maka semua hak dan kewajiban pemiliknya yang lama beralih kepada pemilik yang baru.
53 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1964 Tentang Bagi Hasil Perikanan Bab 2 Pasal 2.2
“Ayat (3): Jika seorang nelayan penggarap tambak meninggal dunia, maka ahli warisnya yang sanggup dan dapat menjadi nelayan penggarap dan mengehendakinya, berhak untuk melanjutkan perjanjian bagi hasil yang bersangkutan, dengan hak dan kewajiban yang sama hingga jangka waktunya berakhir.54
5. Besarnya Perjanjian dalam Bagi Hasil
Dalam pasal 3 Undang-undang Nomor 19 tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan disebutkan bahwa:
“Ayat (1): Jika suatu usaha perikanan diselenggarakan atas perjanjian bagi hasil, maka dari hasil usaha itu kepada pihak nelayan penggarap dan penggarap tambak paling sedikit harus diberikan bagian sebagai berikut:
a. Perikanan Laut
1) Jika dipergunakan perahu layar, minimum 75% dari hasil bersih.
2) Jika dipergunakan kapal motor, minimum 40% dari hasil bersih.
b. Perikanan Darat
1) Mengenai hasil ikan pemeliharaan, minimum 40% dari hasil bersih.
2) Menegnai hasil ikan liar: minimum 60% dari hasil kotor.
“Ayat (2): Pembagian hasil diantara para nelayan penggarap dari bagian yang mereka terima menurut ketentuan dalam ayat 1 (satu) pasal ini diatur oleh mereka sendiri, dengan diawasi oleh Pemerintah Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk menghindarkan terjadinya pemerasan, dengan ketentuan bahwa perbandingan antar bagian yang terbanyak dan yang paling sedikit tidak boleh lebih dari 3 (tiga) lawan 1 (satu).”55
54 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1964 Tentang Bagi Hasil Perikanan Bab 2 Pasal 7 Ayat 1,2 dan 3,4.
55 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1964 Tentang Bagi Hasil Perikanan Bab 2 Pasal 3 Ayat 1 dan 2.2.
Pengertian mengenai hasil bersih dapat diketahui dari pasal 1 Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang bagi Hasil Perikanan, yaitu:56
a. Bagi perikanan laut
Hasil ikan yang diperoleh dari penangkapan yang setelah diambil sebagai untuk “lawuhan” para nelayan penggarap kebiasaan setempat dikurangi dengan beban-beban yang menjadi tanggungan bersama dari nelayan pemilik dan nelayan penggarap sebagai yang ditetapkan pasal 4 ayat (1).
b. Bagi perikanan darat
Sepanjang mengenai ikan pemeliharaan yang diperoleh usaha tambak yang bersangkutan dikurangi dengan beban-beban yang menjadi tanggungan bersama dari pemilik tambak dan penggarap tambak, sebagai yang ditetapkan dalam pasal 4 Ayat (2) huruf a.
Apabila bagian yang diterima oleh nelayan penggarap dan penggarap tambak lebih besar dari yang dientukan oleh pasal 3, maka aturan yang diapaki adalah yang lebih menguntungkan bagi pihak nelayan penggarap atau penggarap tambak tersebut.
6. Kewajiban Nelayan dan Nelayan Penggarap dalam Perjanjian Bagi Hasil
Dalam pasal 4 Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang bagi hasil Perikanan disebutkan bahwa:
“Angka bagian pihak nelayan penggarap dan penggarap tambak sebagai yang tercantum dalam pasal 3 ditetapkan dengan ketentuan bahwa beban-beban yang bersangkutan dengan usaha perikanan itu harus dibagi”sebagai berikut:
a. Perikanan Laut
1) Beban-beban yang menjadi tanggungan bersama dari nelayan pemilik dan pihak nelayan penggarap: ongkos lelang, uang rokok/jajan, dan biaya pembekalan untuk para nelayan penggarap
56 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1964 Tentang Bagi Hasil Perikanan Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 dan 2 huruf a.2.2.
selama di laut, biaya untuk disedekah laut (selamatan bersama) serta iuran-iuran yang disahkan oleh Pemerintahan Daerah Tingkat II yang bersangkutan seperti koperasi dana pembangunan perahu, dana kesejahteraan, kematian dan lain-lain.
2) Beban yang menjadi tanggapan nelayan pemilik: ongkos pemeliharaan dan perbaikan perahu/kapan serta alat-alat lain yang dipergunakan, penyusutan, dan biaya eksploitasi usaha penangkapan, seperti pembelian solar, minyak, es dan lain sebagainya.
b. Perikanan darat
1) Bahan-bahan yang menjadi tanggungan bersama dari pemilik tambak dan penggarap tambak: uang, pembekalan bersih ikan pemeliharaan, biaya untuk pengeduk saluran, biaya-biaya untuk penumpukan dan perawatan pada pintu air serta yang mengairi tambak yang diusahakan itu.
2) Bahan-bahan yang menjadi tanggungan pemilik tambak:
disediakannya tambak dengan pintu air dalam keadaan yang mencukupi kebutuhan, biaya untuk memperbaiki dan mengganti pintu air yang tidak dapat dipakai lagi serta pembayaran pajak tanah yang bersangkutan.
3) Bahan-bahan yang menjadi tanggungan penggarap tambak: biaya untuk menyelenggarakan pekerjaan sehari-hari yang berhubungan dengan pemeliharaan ikan di dalam tambak dan penangkapan waktu pesan.
7. Berakhirnya Perjanjian Bagi Hasil Perikanan
Mengenai berakhirnya perjanjian bagi hasil perikanan karena berakhirnya jangka waktu perjanjian bagi hasil ataupun karena hal-hal sebagaimana ditentukan dalam pasal 7 Undang-undang Nomor 16 tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan sebagai berikut:
Ayat (4): Penghentian perjanjian bagi hasil sebelum berakhirnya jangka waktu perjanjian hanya mungkin di dalam hal-hal dan menurut ketentuan di bawah ini:
a. Atas persetujuan keduabelah pihak yang bersangkutan.
b. Dengan izin panitia landerform desa jika mengenai perikanan darat atau suatu panitia desa yang akan dibentuk jika mengenai perikanan lau, atas tuntutan pemilik, jika nelayan penggarap atau penggarap tambak bersangkutan tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya.
c. Jika penggarap tambak tanpa persetujuan pemilik tambak menyerahkan pengusahaan tambaknya kepada orang lain.
“Ayat (5): pada akhirnya perjanjian bagi hasil baik karena berakhirnya jangka waktu perjanjian maupun karena salah satu sebab tersebut pada Ayat (4) pasal ini, nelayan penggarap dan penggarap tambak wajib menyerahkan kembali kapal, alat-alat penangkapan ikan dan tambak yang bersangkutan kepada nelayan pemilik dan nelayan pemilik tambak dalam keadaan baik.