• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK PROGRAM RUMAH PINTAR TERHADAP KARAKTER ANAK YANG DIJALANKAN YAYASAN FAJAR SEJAHTERA INDONESIA (YAFSI) DI KELURAHAN AMPLAS KECAMATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAMPAK PROGRAM RUMAH PINTAR TERHADAP KARAKTER ANAK YANG DIJALANKAN YAYASAN FAJAR SEJAHTERA INDONESIA (YAFSI) DI KELURAHAN AMPLAS KECAMATAN"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

INDONESIA (YAFSI) DI KELURAHAN AMPLAS KECAMATAN MEDAN AMPLAS

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

HERU PLANSYAH 160902022

DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

INDONESIA (YAFSI) DI KELURAHAN AMPLAS KECAMATAN MEDAN AMPLAS

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dalam Program Studi Kesejahteraan Sosial

pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Oleh

HERU PLANSYAH 160902022

DEPARTEMEN KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Agus Suriadi, S.Sos, M.Si

Anggota : 1. Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos 2. Hairani Siregar, S.Sos,MSP

(5)

Judul Skripsi

DAMPAK PROGRAM RUMAH PINTAR TERHADAP KARAKTER ANAK YANG DIJALANKAN YAYASAN FAJAR SEJAHTERA INDONESIA (YAFSI) DI KELURAHAN AMPLAS KECAMATAN

MEDAN AMPLAS

Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, September 2020 Penulis,

(6)

MEDAN AMPLAS

ABSTRAK

Tindak kenakalan remaja yang tidak terkontrol akan menjerumuskan seseorang remaja pada perilaku kejahatan remaja (juvenile deliquency) yang merupakan salah satu penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat merupakan segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat istiadat, hukum formal, atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum. Itu sebabnya anak-anak membutuhkan pendidikan karakter sebagai sarana untuk mengarahkan perkembangan karakter ke arah yang baik serta mencegah anak dalam berperilaku salah. Program pendidikan karakter saat ini banyak berkembang di masyarakat baik itu di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan yang diselenggarakan oleh pemerintah, organisasi sosial, lembaga sosial maupun yayasan sosial seperti Program Rumah Pintar yang dijalankan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI). Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Informan utama dalam penelitian ini adalah tiga orang anak yang mengikuti Program Rumah Pintar, informan kunci dalam penelitian ini yaitu ketua YAFSI, dan informan tambahan dalam penelitian ini yaitu kepala lingkungan satu Kelurahan Amplas. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, wawancara mendalam dan observasi. Data yang didapat di lapangan kemuadian di analisis oleh peneliti yang dijelaskan secara kualitatif. Hingga akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut. Hasil penelitian menunjukkan Program Rumah Pintar yang dijalankan YAFSI berdampak terhadap karakter anak di Kelurahan Amplas dengan meningkatnya perilaku peduli sosial, peduli lingkungan, gemar membaca dan disiplin.

Kata Kunci : Dampak, Program Rumah Pintar, Karakter Anak

(7)

DISTRICT

ABSTRACT

Uncontrolled juvenile delinquency will plunge a teenager into more serious problem or even social disease. Social or community disease is all forms of behavior that are deemed inappropriate, violate general norms, customs, formal laws, or cannot be integrated into general behavior patterns. That is why children need character building as a means to direct character development in a good direction and prevent children from misbehaving. Character building programs are currently being developed by many communities, both in urban and rural areas, organized by the government, social organizations, social institutions and social foundations such as the Smart House Program run by Fajar Sejahtera Indonesia Foundation (YAFSI). This study was conducted in Amplas Urban Village, Medan Amplas Sub District. The method used in this study was descriptive research method with a qualitative approach. The main informants in this study were three children who participated in the Smart House Program, the key informant was the head of YAFSI, and additional informant was the head of the neighborhood one of Amplas Urban Village. Data collecting techniques were literature study, deep interviews and observation. The data obtained in the field were analyzed by researcher which then being described qualitatively. Until finally conclusions could be drawn from the results of the study. The results showed that the Smart Home Program run by YAFSI had an impact on the character of children in Amplas Urban Village by the increasing behavior of social care, environmental protection, fond of reading and discipline.

Keywords : Impact, Smart House Program, Children's Character

(8)

memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. DR. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Ketua Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Hairani Siregar, S.Sos,MSP selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih banyak penulis sampaikan karena telah bersedia membimbing, mengarahkan, dan memberi dukungan serta saran dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Bang Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos selaku Dosen Penguji. Abang yang selalu sabar memberikan bimbingan kepada saya, yang sangat teliti dalam memberikan masukan dengan baik sehingga skripsi saya menjadi suatu penelitian yang baik.

6. Seluruh Dosen dan Pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu selama perkuliahan dan membantu adminitrasi penulis.

(9)

doa yang tulus yang tidak pernah berhenti. Sehat selalu ayah dan ibu serta selalu dalam lindungan Allah SWT.

8. Teristimewa abangda Ferry Irawan, abangda Rio Candra, adik Sofyan Kadri. Terima kasih banyak untuk dukungannya selalu, semoga kita selalu akur.

9. Teristimewa istri saya tercinta Ceceh Sri Wahyuni yang sangat mengertiin semua kondisi saya, serta buat jagoan kecil saya Muhammad Al Fatih yang telah menjadi motivasi terbesar buat papa, dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

10. Teristimewa mertua dan keluarga besar yang selalu mendukung saya dan selalu memberikan wejangan dalam semangat menyelesaikan perkuliahan.

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

11. Keluarga besar Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) yang telah memberikan pengalaman berharga selama praktikum I dan II hingga sampai saat ini.

12. Bang Bambang Febriandi Wibowo, S.ST dan Kak Badriyah, S.Sos. Terima kasih banyak untuk motivasi, dukungan serta wejangan dalam penelitian dan pengerjaan skripsi ini.

13. Bapak Muhid Alfin Sinaga selaku Kepala Lingkungan Kelurahan Amplas, terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada saya selama berproses di Kelurahan Amplas dalam mendampingi anak-anak rumah pintar.

(10)

15. Kepada Teman-teman Himpunan mahasiswa Islam (HmI) Komisariat FISIP USU. Terima kasih banyak sudah sampai saat ini berproses. Yakin Usaha Sampai.

16. Sahabat kontrakan ALUMNUS. Ibu Niar, Madhan, Budi, Beni yang selalu jadi teman ribut dan diskusi. Terima kasih atas dukungan sahabat sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

17. Keluarga besar saya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang selalu memberikan kasih sayang, masukan, semangat, dukungan. Terima kasih banyak untuk semua.

18. Semua pihak yang telah memberikan dukungan atas selesainya skripsi ini yang belum penulis tuliskan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih banyak.

Penulis menyadari skripsi ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.

Amin

Medan, September 2020 Penulis,

Heru Plansyah

(11)

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 10

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 10

1.4 Sistematika Penulisan ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1 Landasan Teoritis ... 13

2.1.1 Dampak ... 13

2.1.1.1 Pengertian Dampak ... 13

2.1.2 Program Rumah Pintar (RUPIN) ... 13

2.1.2.1 Pengertian Program ... 13

2.1.2.2 Program RUPIN ... 14

2.1.2.3 Tujuan Program RUPIN ... 16

2.1.2.4 Sasaran Program RUPIN ... 16

2.1.2.5 Strategi Dan Kegiatan ... 16

2.1.2.6 Dampak Program RUPIN ... 17

2.1.3 Pendidikan Karakter ... 17

2.1.3.1 Pengertian Karakter ... 17

2.1.3.2 Pendidikan Karakter ... 20

2.1.3.3 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter ... 23

2.1.4 Anak ... 25

2.1.4.1 Pengertian Anak ... 25

2.2 Penelitian Yang Relevan ... 26

2.3 Kerangka Pemikiran ... 28

2.4 Defenisi Konsep ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

3.1 Jenis Penelitian ... 33

3.2 Lokasi Penelitian ... 33

3.3 Informan Penelitian ... 34

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 35

(12)

4.1 Letak Geografis Lokasi Penelitian ... 37

4.2 Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian ... 37

4.3 Profil Lokasi Penelitian ... 38

4.4 Visi, Misi, dan Tujuan Penelitian ... 39

4.5 Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penelitian ... 40

4.6 Kondisi Umum Tentang Klien ... 40

4.7 Kondisi Umum Tentang Petugas ... 41

4.8 Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian ... 44

BAB V HASIL PENELITIAN ... 47

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 48

5.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 62

5.4 Keterbatasan Penelitian ... 72

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

6.1 Kesimpulan ... 73

6.2 Saran ... 76 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

4.3 Peta Kelurahan Amplas ... 38 4.5 Struktur Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) ... 40

(14)

2. Surat Pengajuan Judul ... 82 3. Berita Acara Seminar Proposal ... 83 4. Pedoman Wawancara ... 84

(15)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Membicarakan karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar.

Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang.

Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. Mengingat begitu urgennya karakter maka pendidikan karakter dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di negara kita.

Diakui atau tidak diakui saat ini terjadi krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan milik kita yang paling berharga, yaitu anak- anak. (Zubaedi, 2011:1)

Anak sebagai generasi penerus keluarga dan bangsa. Sebagai generasi penerus, setiap anak perlu mendapat pendidikan yang baik sehingga potensi- potensi dirinya dapat berkembang dengan pesat, tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian tangguh dan memiliki berbagai macam kemampuan serta keterampilan yang bermanfaat.

Penting bagi orang tua dan lembaga-lembaga pendidikan berperan serta bertanggung jawab dalam memberikan berbagai macam stimulasi dan bimbingan yang tepat, sehingga akan tercapai generasi penerus yang cerdas dan berkarakter.

Sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) Pasal 3 (tiga) yang berbunyi:

“Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan

(16)

potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

Amanah sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter. Sehingga, kelak akan melahirkan penerus bangsa yang memiliki karakter yang baik sesuai nilai-nilai agama.

Saat ini pendidikan karakter menjadi salah satu isu pendidikan nasional dengan sasaran peserta didik. Sejauh ini sedang mengemuka upaya mencari format pendidikan karakter yang diperlukan dalam membangun karakter bangsa.

Oleh sebab itu, banyak harapan supaya pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam keseluruhan program pendidikan nasional dewasa ini. Dengan formulasi pendidikan karakter yang jelas konsep dasar dan program pelaksanaannya maka diharapkan pembentukan karakter bangsa sesuai yang diharapkan akan menjadi kenyataan. (Aunillah, 2011:13)

Pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik agar peserta didik mampu mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga mampu berperilaku sebagai insan kamil. Dengan begitu pendidikan karakter menjadi sebuah upaya untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang membimbing perilaku manusia menuju standar-standar tertentu atau aturan-aturan yang berdasarkan nilai-nilai karakter sehingga akan tercipta manusia Indonesia yang madani. (Samani dan Hariyanto, 2011:46)

(17)

Membangun karakter bersifat memperbaiki, membina, mendirikan, mengadakan sesuatu. Sedangkan "Karakter" adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Dalam konteks disini adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak mulia, insan manusia sehingga menunjukan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Membangun karakter anak tidak hanya disekolah, Orang Tua juga harus terlibat dalam membentuk dan menanamkan karakter yang baik pada anak. (Saleh, 2012:1)

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal perlu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan karakter. Dalam buku Lickona menjelaskan bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengemban tugas mengembangkan nilai karakter. Nilai-nilai karakter itu antara lain kejujuran, keterbukaan, toleransi, tanggung jawab, kebijaksanaan, disiplin diri, kemanfaatan, saling menolong dan kasih sayang, keberanian, dan nilai-nilai demokrasi.

Pembentukan karakter ibarat mengukir. Sifat ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir, tidak mudah usang tertelan waktu atau halus karena gesekan. Menghilangkan ukiran sama saja dengan menghilangkan benda yang di ukir itu, karena ukiran melekat dan menyatu dengan bendanya. Demikian juga dengan karakter yang merupakan sebuah pola, baik itu pikiran, perasaan, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan. Proses pembentukan karakter pada anak juga ibarat mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga akan unik, menarik, dan berbeda antara satu dan lainnya.

(18)

Membentuk karakter memang tidak semudah membalik telapak tangan, jika karakter ibarat sebuah bangunan yang kokoh, butuh waktu yang lama dan energi yang tidak sedikit untuk mengubahnya berbeda dengan bangunan yang tidak permanen yang menggunakan bahan-bahan rapuh, maka mengubahnya pun akan lebih cepat dan mudah. Tetapi karakter bukanlah sesuatu yang mudah diubah, maka tidak ada pilihan lain bagi kita semua kecuali membentuk karakter anak mulai sejak dini.

Medan adalah kota metropolitan dan kota terbesar ke-3 di Indonesa setelah Jakarta dan Surabaya. Berdasarkan data BPS, penduduk kota Medan sebesar 2.264.145 jiwa yang tersebar di 21 Kecamatan. Jumlah penduduk yang besar dan terus meningkat ini akan mengakibatkan kemampuan sumber daya alam menjadi menurun. (Statistik, 2019)

Berdasarkan dokumen Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Medan tahun 2016-2020, tingkat pengangguran di Kota Medan masih sangat tinggi yakni sebesar 9,8% dengan tingkat kemiskinan jika dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara, 6,71%, dan tingkat Nasional sebesar 6,18%. Kondisi ini perlu mendapatkan penanganan yang lebih intensif lagi di masa yang akan datang. Upaya pelatihan kewirausahaan dan kreativitas bagi para pencari kerja dan peningkatan produktivitas tenaga kerja secara kontinue dan konsisten harus dilakukan dalam upaya peningkatan daya saing tenaga kerja sesuai bakat dan kompetensinya. (Dokumen RPJMD Kota Medan Tahun 2016)

Ciri masyarakat perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan kebudayaan sosial yang berbeda serta memiliki angka kemiskinan yang

(19)

cukup tinggi dan sangat minimnya fasilitas fisiknya, ditambah dengan banyaknya kasus penyakit dan pengangguran yang dapat memberikan tekanan-tekanan tertentu, dapat memberikan rangsangan kuat kepada anak untuk melakukan tindakan kriminal. Kehidupan di wilayah-wilayah yang padat penduduknya biasanya ditandai dengan adanya saling mempengaruhi, termasuk di dalamnya adanya pengaruh buruk dari lingkungan. Pengaruh yang buruk itulah yang dapat menjadi perilaku menyimpang bagi anak dan remaja.

Kenakalan remaja khususnya geng motor di kota Medan merupakan masalah memprihatinkan. Tingginya perhatian publik terhadap munculnya fenomena geng motor di kalangan remaja di kota Medan berawal pada saat geng motor mulai melakukan aksi-aksi brutalnya di beberapa titik di kota Medan.

Beberapa pelaku geng motor paling banyak melibatkan remaja yang pada umumnya berstatus sebagai pelajar SMA.

Tidak dapat dipungkiri, kasus kenakalan remaja seperti geng motor terus saja terjadi di kota medan. Dilansir dari Detik.com Kapolsek Medan Area menangkap 20 remaja yang terlibat tawuran antar-geng di kawasan Jalan AR Hakim, Medan, Sumatera Utara. Kapolsek Medan Area Kompol Kristian Sianturi, mengatakan kelompok yang bertikai itu melibatkan 15 geng yang anggotanya masih berusia belia. Kelompok remaja itu, menurut dia terlibat keributan saling lempar batu di daerah sukaramai. Adanya tawuran antara kelompok anak remaja Halat melawan Sukaramai berawal dari saling ejek mengejek di facebook dan berlanjut dengan anak Halat bergabung dengan mengendarai sepeda motor mendatangi anak Sukaramai dan melakukan pelemparan dan saling balas.

(Wahyono, 2019)

(20)

Tindakan kenakalan remaja yang tidak terkontrol akan menjerumuskan seorang remaja pada perilaku kejahatan remaja (juvenile deliquency) yang merupakan salah satu penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat merupakan segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat istiadat, hukum formal, atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum. Hal ini disebut juga sebagai penyakit masyarakat karena gejala sosialnya yang terjadi di tengah masyarakat itu meletus menjadi penyakit. (Kartono, 2017:4)

Perilaku kenakalan lain yang sangat mencemaskan saat ini adalah menyangkut masalah Narkoba. Data Badan Nasional Narkotika (BNN) Sumaterata Utara menunjukkan, dari 4 jutaan pecandu Narkoba, sebanyak 70% di antaranya adalah anak usia sekolah yaitu yang berusia 14 sampai dengan 20 tahun..

Itu sebab nya anak-anak membutuhkan pendidikan karakter sebagai sarana untuk mengarahkan perkembangan karakter ke arah yang baik. Orang tua, sekolah dan masyarakat memiliki peranan vital dalam perkembangan karakter anak mereka. Pengembangan karakter efektif untuk membangun benteng bagi anak- anak untuk mengurangi resiko keterlibatan dalam perilaku negatif seperti penggunaan alkohol dan obat-obatan.

Tiap anak memiliki hak untuk mengembangkan karakternya supaya mereka bisa memahami mana yang “baik” dan “buruk” dan membuat keputusan mandiri dalam mengasah bakatnya serta menyalurkan minat positifnya. Mereka tidak tiba-tiba dengan sendirinya berperilaku tidak hormat dan tidak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai individu. Mereka belajar hal-hal jelek seperti

(21)

itu dari mengamati perilaku kurang baik orang-orang dewasa yang hidup di sekitar mereka seperti merokok, berkata-kata kasar, berbohong, atau merendahkan seseorang. Dari media televisi mereka juga mengamati perilaku bintang film, artis, atau figur publik yang kurang pantas dijadikan role model.

Seperti teori Differential Association yang dikemukakan oleh Edwin H.

Sutherland bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, tidak ada yang diturunkan berdasarkan pewarisan orang tua. Tegasnya, pola perilaku jahat tidak diwariskan tapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. (Utari, 2012:91)

Para orang dewasa harus mengajarkan dan mencontohkan nilai-nilai yang baik pada anak-anak dan remaja. Masyarakat kita memiliki masalah dalam menyediakan perkembangan positif untuk anak-anak dan remaja. Dalam banyak cara, orang dewasa memberikan pesan yang salah kepada remaja. Banyak orang dewasa yang cenderung tidak terlalu peduli pada anak-anak dan remaja di sekitarnya dan mereka kurang menjalin komunikasi yang baik. Anak-anak dan remaja kita benar-benar membutuhkan perkembangan yang bersifat positif. dan mereka harus diberikan fasilitas untuk mengembangkan karakter mereka.

Kompleksnya permasalahan sosial di Kota Medan, tanpa kita sadari telah menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi proses tumbuh kembang anak.

Mereka dihadapkan dengan masalah-masalah serius seperti vandalisme, bullying, pelecehan seksual, genk motor, tawuran, dan ketergantungan obat-obatan terlarang. Dan itu semua adalah termasuk dalam kategori masalah etika dan moral.

Di sinilah pentingnya peranan pengembangan karakter bagi anak-anak dan remaja. Masyarakat harus paham dan mengerti bahwa mengembangkan karakter

(22)

anak-anak dan remaja bukanlah suatu hal yang boleh disepelekan serta harus menjadi tanggung jawab bersama.

Tujuan pendidikan karakter yang dilaksanakan di lingkungan anak dan remaja dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian anak agar memahami lingkungan, peduli dan peka terhadap lingkungan, berperilaku sesuai dengan nilai dan moral secara umum (jujur, adil, sopan, peduli, dermawan).

Pengembangan pendidikan karakter anak merupakan sinergitas antara pendidikan keluarga (informal), pendidikan di sekolah (formal), dan pendidikan di masyarakat (nonformal). Sekolah dan orangtua harus membangun komunikasi yang baik dalam membangun, membentuk, dan menciptakan anak yang berkarakter. Peran masyarakat dalam mendidik anak-anak adalah mengasah sisi sosial dari anak yang didapatnya dari pendidikan di rumah dan di sekolah.

Pendidikan yang bertujuan membangun karakter anak sangat dibutuhkan untuk mengembangkan dan menguatkan sifat kemanusiaan seorang anak agar menjadi individu yang menusiawi dan berguna bagi sesama, bangsa dan Negara.

YAFSI (Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia) yang beralamatkan jalan Raya Menteng Gang Abadi/Pribadi No. 2B Kel Binjai Kec Medan Denai Kota Medan merupakan salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang menjalankan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA).

Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) merupakan sebagai salah satu unit pelaksanan PKSA, tercatat ada 6.161 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang telah dibentuk oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan kepada anak dari kekerasan, penelantaran, eksploitasi dan perlakuan salah. (Mulyati, 2017)

(23)

Melihat hal tersebut, Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) turut andil dalam mengembangkan program pendidikan karakter di tengah-tengah masyarakat melalui program RUMAH PINTAR (RUPIN) yang berada di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas. Program ini menyediakan akses kepada anak dan remaja sebagai wahana pembentukan karakter anak dengan menyediakan kegiatan-kegiatan positif dan kreatif seperti bahasa Inggris, fotografi, videografi, literasi media audio-visual, nilai-nilai pendidikan karakter, dinamika kelompok dan kepemimpinan. Program ini sudah dimulai pada tahun 2018 melalui Corporate social Responsibility (CSR) PT DOW Agrosciences Indonesia dan sudah mencetak 20 orang anak sebagai pendidik sebaya. Mereka ini yang diharapkan akan menjadi inspirator dan motivator untuk membangkitkan semangat dan menggugah pikiran anak-anak seumuran mereka untuk menjadi individu yang berkarakter.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka peneliti tertarik untuk melihat sejauh mana dampak terhadap karakter anak melalui program RUMAH PINTAR, untuk itu peneliti melakukan penelitian yang dituangkan dalam skripsi “Dampak Program Rumah Pintar Terhadap Karakter Anak Yang Dijalankan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) Di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis merumuskan masalah “Apa Dampak Program Rumah Pintar Terhadap karakter Anak Yang Dijalankan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) Di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas”?

(24)

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Dampak Program Rumah Pintar Terhadap Karakter Anak Yang Dijalankan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) Di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dalam rangka :

a. Menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan Dampak Program Rumah Pintar Terhadap Karakter Anak.

b. Secara akademis, bagi Departemen Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara, untuk memperkaya referensi dalam rangka pengembangan konsep-konsep, teori-teori dan ilmu pengetahuan pada umumnya dan Ilmu Kesejahteraan Sosial pada khususnya.

1.4 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 4. Sistematika Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Landasan Teoritis

2. Penelitian Yang Relevan

(25)

3. Kerangka Pemikiran 4. Definisi Konsep

BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

2. Lokasi Penelitian 3. Informan Penelitian 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum

1. Letak Geografis Lokasi Penelitian 2. Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian 3. Profil Lokasi Penelitian

4. Visi, misi, dan tujuan Lokasi Penelitian

5. Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penelitian 6. Kondisi Umum Tentang Klien

7. Kondisi Umum Tentang Petugas

8. Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian BAB V HASIL PENELITIAN

1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 2. Pembahasan Hasil Penelitian 3. Keterbatasan Penelitian

(26)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

2. Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Dampak

2.1.1.1 Pengertian Dampak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dampak adalah benturan atau pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik negatif maupun positif. Pengaruh tersebut diakibatkan karena adanya benturan yang cukup hebat antara dua benda/orang.

Adapun dampak memberikan pengaruh berupa:

1. Dampak positif, yaitu dampak yang berpengaruh positif 2. Dampak negatif, yaitu dampak yang berpengaruh negatif

3. Dampak langsung, yaitu dampak yang dirasakan langsung dan berkaitan dengan dampak positif

4. Dampak tidak langsung, yaitu dampak tidak langsung yang dirasakan dengan adanya suatu pengaruh

2.1.2 Program Rumah Pintar (RUPIN) 2.1.2.1 Pengertian Program

Secara umum pengertian program adalah penjabaran dari suatu rencana dalam hal ini program merupakan bagian dari perencanaan sering pula diartikan bahwa program adalah kerangka dasar dari pelaksanaan suatu kegiatan. Program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan. Program merupakan sebuah sistem, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali tetapi berkesinambungan.

(28)

Program adalah cara tersendiri dan khusus yang dirancang demi pencapaian suatu tujuan tertentu. Dengan adanya suatu program, maka segala rancangan akan lebih teratur dan lebih mudah untuk dilaksanakan. Program adalah unsur pertama yang harus ada demi berlangsungnya aktivitas yang teratur, karena dalam program telah dirangkum berbagai aspek seperti:

1. Adanya tujuan yang ingin dicapai

2. Adanya berbagai kebijakan yang diambil dalam upaya pencapaian tujuan tersebut

3. Adanya prinsip-prinsip dan metode-metode yang harus dijadikan acuan dengan prosedur yang harus dilewati

4. Adanya pemikiran atau rancangan tentang anggaran yang diperlukan 5. Adanya strategi yang harus diterapkan dalam pelaksanaan aktivitas

Unsur kedua yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan program ialah adanya kelompok orang yang menguji sasaran program sehingga kelompok orang tersebut merasa ikut melibatkan dan membawa hasil dari program yang dijalankan dan adanya perubahan serta peningkatan dalam kehidupannya. Tanpa memberikan manfaat pada kelompok orang, boleh dikatakan program tersebut telah gagal dilaksanakan. Berhasil atau tidaknya suatu program dilaksanakan tergantung dari unsur pelaksanaannya. Unsur pelaksanaan itu merupakan unsur ketiga. Pelaksana adalah hal terpenting dalam mempertanggung jawabkan pengolahan maupun pengawasan dalam pelaksanaan, baik itu organisasi ataupun perorangan.

2.1.2.2 Program Rumah Pintar

Program Rumah Pintar (RUPIN) adalah suatu program pendidikan karakter berbasis masyarakat untuk anak dan remaja melalui “Rumah Pintar”.

(29)

Program Rumah Pintar (RUPIN) sudah ada sejak tahun 2018 dengan angkatan ke- 1 dengan jumlah peserta didik 20 orang anak, dan pada saat ini tahun 2019 dengan angkatan ke-2 dengan jumlah peserta didik 43 orang anak.

Dengan adanya Program Rumah Pintar (RUPIN) yang dijalankan oleh Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) ini dapat membangun karakter dan kreatifitas anak serta meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan pendidikan karakter.

Dalam rangka pelaksanaan Program Rumah Pintar (RUPIN), YAFSI menerapkan beberapa pendekatan community organizing dan community development (CO-CD). Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subyek dan bukan sebagai objek implementasi program. Pelibatan partisipasi elemen masyarakat akan menggunakan metode Appreciative Community Mobilization (ACM). Pendekatan ini merupakan pengembangan masyarakat yang mengkombinasikan dua pendekatan. Pendekatan pertama Apreciative Inquiry (AI), yakni proses yang berbasiskan kepada kekuatan untuk melakukan perubahan positif dan penggunaan nilai-nilai kearifan lokal. Pendekatan kedua adalah Community Mobilization (CM) yakni proses pelibatan secara aktif dan partisipatif masyarakat dalam melakukan perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi program. Appreciative Community Mobilization (ACM) berbeda dengan mobilitas berbasis masalah, karena ACM dibangun diatas nilai-nilai positif yang ada dan sumber daya di masyarakat.

Dengan demikian, Pendekatan ACM yang digunakan dalam pelaksanaan program Rumah Pintar (RUPIN), memungkinkan masyarakat untuk mencapai impian mereka khususnya terhadap karakter anak.

(30)

2.1.2.3 Tujuan Program Rumah Pintar (RUPIN)

Adapun tujuan dari Program Rumah Pintar (RUPIN) yaitu:

1. Terwujudnya pendidikan karakter dan kreativitas anak yang cerdas sehingga terhindar dari perilaku menyimpang.

2. Terwujudnya kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan pendidikan karakter dan isu-isu perlindungan anak.

2.1.2.4 Sasaran Program Rumah Pintar (RUPIN)

Adapun kelompok sasaran dari program Rumah Pintar (RUPIN) yaitu:

1. Anak yang rawan berperilaku menyimpang 2. Orang tua, tokoh masyarakat, tokoh pemuda 3. Organisasi masyarakat sipil (OMS)

2.1.2.5 Strategi Dan Kegiatan

Adapun strategi yang diterapkan dalam Program Rumah Pintar (RUPIN) yakni:

1. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui kampanye media sosial 2. Rapat koordinasi Stakeholder (Stakeholder Coordination Meeting)

3. Membangun dan menjalin sinergitas dengan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha dan stakeholder lainnya

4. Meningkatkan akses pelayanan yang berkelanjutan

Program Rumah Pintar (RUPIN) melaksanakan berbagai kegiatan diantaranya yaitu:

1. Pelatihan pendidik sebaya (Peer Educator)

2. Workshop literasi media, kampanye pendidikan karakter

3. Pendampingan kegiatan pembangunan karakter (Character Building)

(31)

4. Sesi “Group Support Parenting”

5. Monitoring dan evaluasi partisipatif 2.1.2.6 Dampak Program Rumah Pintar (RUPIN)

Adapun dampak dengan adanya program Rumah Pintar (RUPIN) oleh YAFSI yakni:

1. Peningkatan kapasitas masyarakat melalui Rumah Pintar berbasis pendidikan karakter

2. Peningkatan pengetahuan stakeholder dan masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak

3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pentingnya parenting skill

4. Terbentuknya pendidik sebaya (Peer Educator) dalam masyarakat 2.1.3 Pendidikan Karakter

2.1.3.1 Pengertian Karakter

Karakter atau watak adalah ciri khas seseorang sehingga menyebabkan ia berbeda dari orang lain secara keseluruhan (Sastrowardoyo, Kamus ilmu jawa).

Sedangkan J.P. Chaplin mengatakan bahwa karakter atau fiil, hati, budi pekerti, tabiat, adalah suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal dan dapat dijadikan ciri untuk mengidenfikasikan seorang pribadi, suatu objek atau kejadian. (Said, 2011:1)

Musfiroh dalam Aunillah, menjelaskan karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitude), perilaku (behaviors), motivasi (motivation) dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”

atau menandai dan memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk

(32)

tindakan atau tingkah laku sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan berperilaku jelek sebagai orang yang berkarakter jelek, sebaliknya orang yang bertindak sesuai dengan kaidah moral dikatakan berkarakter baik. (Aunillah, 2011:19-20)

Karakter artinya mempunyai kualitas positif seperti peduli, adil, jujur, hormat terhadap sesama, rela memaafkan, sadar akan hidup berkomunikasi, dan sebagainya. Kita sebut semua ini adalah ciri karakter. Di sini karakter ini lebih banyak menyangkut nilai-nilai moral. Dalam kaitan ini bahwa karakter adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma-norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat dan estetika. (Sani, 2012:3)

Bagaimanapun, dalam kehidupan manusia, kebiasaan memiliki pengaruh yang besar. Apakah setiap orang selalu digerakkan oleh kebiasaan? Dapat di simpulkan bahwa sebenarnya kehidupan manusia diatur oleh berbagai macam kebiasaan. Di antara kebiasaan- kebiasaaan ada yang baik dan bermanfaat, ada pula yang tidak baik dan tidak bermanfaat. Dalam hal ini, sesungguhnya dapat diperkokoh kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat dengan melatihnya berulang- ulang, sebagai mana halnya seseorang juga dapat menjatuhkan diri dari kebiasaan- kebiasaan yang membahayakan. (Said, 2011:2)

Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa kebiasaan adalah sesuatu yang biasa dilakukan, seperti bekerja tepat waktu, disiplin, kerja keras dan sebagainya.

Begitu pula kebiasaan-kebiasaan ini dapat berupa sesuatu yang dapat diamati seperti ke suatu tempat tertentu, duduk di tempat tertentu, atau makan-makanan tertentu. Tetapi dapat juga berupa sikap, karakter, perilaku atau perasaan periang, optimis, menghormati orang lain, suka menolong dan sebagainya.

(33)

Para ahli ilmu jiwa menjelaskan bahwa kebiasaan terdiri atas tiga unsur yang saling berkaitan erat. Pertama; pengetahuan, yaitu pengetahuan yang bersifat teoritis, mengenai sesuatu yang ingin dikerjakan. Kedua; keinginan, yaitu adanya motivasi atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Ketiga; keahlian, maksudnya kemampuan untuk melakukannya. Jika ketiga unsur tersebut bertemu pada suatu perbuatan, maka perbuatan tersebut dapat di katagorikan sebagai kebiasaan. Akan tetapi, jika kurang salah satunya, maka perbuatan itu tidak dapat dikatagorikan sebagai kebiasaan. (Said, 2011:2)

Kebiasaan-kebiasaan yang baik, sebagaimana halnya budi pekerti yang luhur, dan karakter yang positif merupakan suatu unsur-unsur penting suatu negara. Seperti apa yang di ungkapkan oleh James Dale Davidson dan Rees-Mog (1990) bahwa “seluruh masyarakat yang kokoh mempunyai pondasi moral yang kokoh”. Semua studi tentang sejarah pembangunan ekonomi menunjukkan adanya hubungan yang erat antara faktor moral, kebiasaan dan faktor ekonomi. Negara- negara dan kelompok-kelompok yang sukses meraih prestasi pembangunan bisa menjadi demikian sebagian disebabkan mereka mempunyai etika yang mendorong timbulnya semangat kemandirian, kerja keras, tanggung jawab keluarga dan sosial, perilaku hemat (menabung), dan kejujuran. (Said, 2011:3)

Spektrum nilai karakter yang baik ini sangat luas, mencakup: (1) nilai karakter yang berhubungan dengan Tuhan, suatu nilai religius yang dimanifestasikan pada pola pikiran, perkataan dan tindakan sesuai dengan nilai agama, (2) nilai karakter yang hubungannya dengan diri sendiri, yang mencakup:

jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiawa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, ingin tahu,

(34)

dan cinta ilmu, (3) nilai karakter yang hubungannya dengan sesama manusia, yang menckup nilai: sadar hak dan kewajiban pada orang lain, patuh pada aturan- aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun, dan demokratis, (4) Nilai karakter dan hubungannya dengan lingkungan, (5) nilai kebangsaan;

yang mencakup nasionalisme, dan menghargai keberagaman. (Asmani, 2011:37- 41)

Sesungguhnya kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan satu keluarga, masyarakat, dan bangsa perlu dilembagakan melalui pendidikan karakter yang komprehensif dan integral. Itu artinya, formulasi pelembagaan kebiasaan yang baik memang perlu dilaksanakan oleh keluarga. Begitu juga sosialisasi dan pelembagaan nilai-nilai kebaikan harus dirancang dan dikontrol sebaik mungkin sehingga masyarakat dalam perilakunya dapat terkendali dan benar-benar eksis dan harmonis.

2.1.3.2 Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan gejala kebudayaan manusia, karena itu pendidikan khas manusia. Bahkan pendidikan adalah suatu proses untuk mendewasakan manusia. Dalam hal ini dapat dipahami juga pendidikan berkenaan dengan proses mempersiapkan pribadi yang utuh sehingga fokus pada masa depan bangsa.

Dengan kata lain, pendidikan merupakan suatu upaya secara sengaja dengan terarah untuk “memanusiakan” manusia. Melalui pendidikan manusia dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan “sempurna” sehingga ia dapat melaksanakan tugas sebagai manusia serta memeliahara sekelilingnya secara baik dan bermanfaat. Definisi pendidikan sebagaimana Soltis yaitu: “A society attempts to develop in its young the capacity to recognize the good and worthwile in life”.

(35)

Pendapat ini menekankan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha masyarakat untuk mengembangkan kemampuan generasi muda untuk mengenali kebaikan dan kemuliaan dalam kehidupan. Dengan kata lain, seorang terdidik dapat menyadari nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan yang seharusnya dipedomani dalam hidupnya.

Pendidikan karakter adalah proses menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalankan kehidupannya. Dengan kata lain, peserta didik tidak hanya memahami pendidikan nilai sebagai bentuk pengetahuan, namun juga menjadikannya sebagai bagian dari hidup dan secara sadar hidup berdasarkan pada nilai tersebut. (Q-Anees dan Hambali, 2009:103)

Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendididkan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik- buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena itu muatan pendidikan karakter menurut Lickona bahwa secara psikologis mencangkup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behavior, atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral judgment and moral behavior baik yang bersifat prohibition oriented morality maupun pro-sosial morality. Secara pedagogik, pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapnya holistic approach, dengan pengertian bahwa pendidikan karakter tidak hanya penambahan program tetapi lebih dari itu suatu proses transformasi budaya ke dalam kehidupan sekolah. Karakter itu dibentuk melalui pengalaman, dalam konteks membangun sifat kejujuran dan semangat untuk kehidupan.

(36)

Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar, mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar, mana yang salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotorik). (Gunawan, 2012:27)

Pendidikan dapat mengubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik, dan mengerti apa yang baik dan apa yang buruk, dari tidak bisa menjadi bisa. Dengan begitu akhirnya pendidikan mengarahkan anak menjadi orang dewasa yang memiliki kematangan kepribadian, kematangan intelektual, kematangan sosial, dan kematangan spiritual.

Pendidikan karakter bertujuan untuk penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu.

Tujuan jangka panjang yang lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya yang pada gilirannya mempertajam visi hidup yang diraih dalam proses pembentukan diri secara terus menerus (on going formation). (Asmani, 2011:42)

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. (Asmani, 2011:43)

Nilai-nilai karakter yang ditanamkan dalam proses pendidikan karakter meliputi spektrum yang sangat luas. Baik yang berhubungan dengan Tuhan, maupun yang berhubungan dengan manusia. Tentu saja hal yang pasti bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk memantapkan perkembangan pribadi anak

(37)

secara komporehensif dan integral, dengan kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual.

2.1.3.3 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Dalam pelaksanaannya nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa, menurut Kemendiknas adalah sebagai berikut:

a. Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain,dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

c. Toleransi yaitu sikap tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari durinya.

d. Disiplin yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

f. Kreatif yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

g. Mandiri yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

h. Demokratis yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

(38)

i. Rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan didengar.

j. Semangat kebangsaan yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan, yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara, diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

k. Cinta tanah air yaitu cara berpikir, bertindak, berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan, yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

l. Menghargai pretasi adalah sikap, dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilaan orang lain.

m. Bersahabat atau komunikatif adlah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja, sama dengan orang lain.

n. Cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

o. Gemar membaca adalaha kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

p. Peduli lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

q. Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

(39)

r. Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban nya,yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.

2.1.4 Anak

2.1.4.1 Pengertian Anak

Pasal 1 Konvensi Hak anak secara umum mendefinisikan anak sebagai orang yang belum mencapai usia 18 tahun, namun dalam pasal tersebut juga mengakui kemungkinan adanya perbedaan atau variasi dalam penentuan batas usia kedewasaan didalam peraturan perundang-undangan dari tiap-tiap negara peserta.

Selain definisi anak yang tertuang dalam Pasal 1 Konvensi Hak Anak, dalam konteks hukum nasional yaitu Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak didefinisikan sebagai berikut:

“Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Sedangkan berdasarkan fungsi dan kedudukannya, menurut Undang- Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang N0. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah:

“amanah sekaligus karunia Tuhan yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak hak sebagai manusia yang harus dijungjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi

(40)

Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.”

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, berdasarkan fungsi dan kedudukannya anak merupakan potensi serta penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah ditetapkan oleh generasi sebelumnya. Berdasarkan kedudukan tersebut, menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, anak didefinisikan sebagai berikut:

Bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumberdaya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang memiliki peranan strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus, memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial secara utuh, selaras, serasi dan seimbang. (Hadiwijoyo, 2015:2- 3)

2.2 Penelitian Yang Relevan

Kajian penelitian yang relevan/telaah pustaka merupakan deskripsi hubungan antara masalah yang diteliti dengan kerangka/landasan teoritik yang dipakai serta hubungannya dengan penelitian yang terdahulu yang relevan.

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Desi Eka Rustiana, dengan judul ”Strategi Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Di Tk Al-Hikmah Limbangan

(41)

Kecamatan Kutasari Kabupaten Purblingga Tahun Pelajaran 2014-2015”.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa, dalam pembentukan karakter anak usia dini dilakukan dengan mengacu 18 nilai-nilai karakter dengan strategi keteladanan, penanaman kedisiplinan, pembiasaan, menciptakan suasana kondusif, integrasi dan internalisasi yang diterapkan kedalam pembelajaran, pengembangan budaya sekolah (kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan dan pengondisian), ekstrakurikuler dan kegiatan di rumah.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Irna Purba, dengan judul ”Strategi Pendidikan Character Building Dalam Proses Pendidikan Masyarakat Pinggiran Oleh Yayasan Peduli Karakter Bangsa” (Studi Kasus: Sekolah Talitaku Kum Jl. Pabrik Tenun Gg. Cikditiro No.16 Medan Sumatera Utara). Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa, penerapan karakter di usia dini merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Karena yang dunia perlukan saat ini bukan hanya orang pintar melainkan orang yang berkarakter. Dimana masyarakat pinggiran yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam berbagai hal, terutama dalam pendidikan karakter untuk dapat melakukan mobilitas sosial di dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu Yayasan Peduli Karakter Bangsa mengimplementasikan pendidikan karakter bagi masyarakat pinggiran.

Dalam hal ini pendidikan karakter itu dapat didefinisikan sebagai sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral, yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik,

(42)

jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain serta karakter mulia lainnya..

3. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Umaroh, dengan judul ”Membangun karakter Anak Usia Dini Melalui Budaya Sekolah Usia 5-6 Tahun Di Raudhatul Athfal Nurul Huda Suban Lampung selatan”. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa, membangun karakter anak disekolah harus dengan pembiasaan, keteladanan guru dan semua pihak sekolah maupun orang tua dirumah. Dalam melaksanakan pembelajaran dalam mengembangkan membangun karakter anak melalui budaya sekolah, dengan menggunakan pembiasaan dan keteladanan disekolah sebagai berikut: 1) mengajarkan perbuatan jujur, 2) mengajarkan anak tentang sikap tanggung jawab, 3) mengajarkan anak tentang perbuatan disiplin, 4) bekerja sama dengan temannya.

2.3 Kerangka Pemikiran

Karakter merupakan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Atau karakter dapat pula dinyatakan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Dengan memperhatikan makna karakter dan pendidikan, maka pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam

(43)

kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warganegara.

Pendidikan karakter harus ditumbuhkembangkan sejak dini dan berkelanjutan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga lingkungan masyarakat luas.

Pendidikan karakter di sekolah harus melibatkan semua komponen termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Keberhasilan pendidikan karakter dilakukan dalam tiga tahap, dimulai dengan pemahaman karakter yang baik, mencintainya, dan melaksanakan atau meneladani karakter tersebut sebagai suatu kebiasaan. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak sekedar diajarkan tapi yang terpenting adalah dicontohkan dan diamalkan. Karena itu, keteladanan orang tua (di rumah), guru (di sekolah) dan pemimpin (di masyarakat) menjadi hal yang urgen dalam mewujudkan tujuan pendidikan karakter.

Penanganan kondisi terhadap karakter anak saat ini banyak berkembang di masyarakat baik itu di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan yang diselenggarakan oleh pemerintah, organisasi sosial, lembaga sosial maupun yayasan sosial seperti Rumah Pintar (RUPIN) oleh Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI).

Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) turut serta membangun karakter dan kreatifitas anak, meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dengan program pendidikan karakter berbasis masyarakat untuk anak dan remaja melalui “Rumah Pintar”.

(44)

Dalam uraian tersebut, maka penulis merumuskan kerangka pemikiran ke dalam bagan alur pikir sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Bagan Alur Pikir

YAFSI

Program Rumah Pintar

Anak Dampingan

18 Nilai Karakter Berdasarkan Kemendiknas, Dan Hanya Memfokuskan 4 Nilai Karakter : 1. Rendahnya kepedulian sosial 2. Rendahnya kepedulian lingkungan 3. Rendahnya minat membaca

4. Kurangnya disiplin

Sesudah Sebelum

18 Nilai Karakter Berdasarkan Kemendiknas, Dan Hanya Memfokuskan 4 Nilai Karakter : 1. Meningkatnya kepedulian sosial 2. Meningkatnya kepedulian lingkungan

3. Meningkatnya minat membaca 4. Meningkatnya disiplin

(45)

2.4 Definisi Konsep

Konsep adalah istilah khusus yang digunakan para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang dikaji, untuk menghindari salah pengertian atas konsep-konsep yang dijadikan objek penelitian. Definisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari satu konsep yang dianut dalam suatu penelitian. Karena kajian konsep itu sangat multidimensional dan abstrak maka diperlukan proses dan upaya penegasan dan pembatasan makna konsep dalam suatu penelitian yang disebut dengan definisi konsep. (Siagian, 2011:138)

Untuk lebih mengetahui pengertian mengenai konsep-konsep yang akan digunakan, maka peneliti membatasi konsep yang akan digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1. Dampak adalah benturan atau pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik negatif maupun positif. Pengaruh tersebut diakibatkan karena adanya benturan yang cukup hebat antara dua benda/orang.

2. Program adalah suatu kebijakan yang berisi suatu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

3. Rumah Pintar (RUPIN) adalah suatu program pendidikan karakter berbasis masyarakat untuk anak dan remaja.

4. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

(46)

5. Pendidikan karakter adalah upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya.

6. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono metode penelitian kualitatif adalah suatu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi. (Sugiyono, 2008:15)

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan obyek dan fenomena yang diteliti.

Termasuk didalamnya bagaimana unsur-unsur yang ada dalam variabel penelitian itu berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung.

(Siagian, 2011:52)

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas. Peneliti memilih lokasi tersebut karena di Kelurahan Amplas terdapat banyak permasalahan salah satunya banyak anak yang berperilaku menyimpang sehingga cukup penting dan menarik untuk dilakukan penelitian. Pentingnya dilakukan sebuah penelitian karena adanya masalah yang terjadi yang ketika dibiarkan dapat merusak kehidupan yang akan datang. Dan kenapa juga menarik, karena peneliti belum tahu, maka dari itu peneliti ingin melakukan sebuah

(48)

penelitian dilokasi tersebut. Serta di Kelurahan Amplas ini pula mendapat Program Rumah Pintar (RUPIN) dalam membangun karakter dan kreatifitas anak oleh Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI), sehingga peneliti semakin tertarik untuk melakukan penelitian disini.

3.3 Informan Penelitian

Informan adalah orang-orang yang dipilih untuk diobservasi dan diwawancarai sesuai dengan tujuan peneliti untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian. (Suyanto & Sutinah, 2005:171-172)

Orang-orang yang dapat dijadikan sebagai informan adalah orang-orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini meliputi informan utama, informan kunci dan informan tambahan.

1. Informan utama, adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial dengan memberikan dampak terhadap permasalahan tersebut. Informan utama dalam penelitian ini adalah tiga orang anak penerima manfaat yang tergabung dalam program Rumah Pintar oleh YAFSI minimal satu tahun di Kelurahan Amplas.

2. Informan kunci, adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. (Suyanto & Sutinah, 2005:171- 172)

Informan kunci dalam penelitian ini adalah Ketua Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI).

3. Informan tambahan, adalah orang yang tidak mengetahui tetapi bisa memberikan informasi secara langsung dengan objek yang diteliti.

(49)

Informan tambahan dalam penelitian ini adalah Kepala Lingkungan satu Kelurahan Amplas.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan sebagai berikut:

1. Data Pimer

Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut :

a. Observasi, yaitu peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data peneliti atau mengumpulkan data dengan mengadakan pengamatan langsung.

b. Wawancara, yaitu percakapan atau tanya jawab yang dilakukan pengumpul data dengan responden sehingga responden memberikan data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian. (Siagian, 2011:207).

c. Dokumentasi, adalah mempelajari dokumen ysng relevan dimana dokumen bisa berasal dari lembaga, bisa juga berasal dari informan kunci dan informan utama.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui:

a. Studi Kepustakaan, yaitu proses memperoleh data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti melalui penelaah buku, jurnal, dan karya tulis lainnya.

(50)

b. Studi lapangan adalah pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. (Siagian, 2011:206)

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono, 2008:335)

(51)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum

4.1 Letak Geografis Lokasi Penelitian

Kelurahan Amplas merupakan salah satu wilayah yang berada didalam cakupan Kecamatan Medan Amplas. Secara geografis dan secara administratif Kelurahan Amplas berbatasan dengan :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Medan Tenggara b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Timbang Deli c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Desa Amplas d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Bataran Sungai Deli

Kelurahan Amplas terletak di jalan Selambo No. 20 Medan. Kelurahan Amplas adalah sebuah kelurahan padat penduduk yang secara administratif dibagi menjadi 6 (enam) lingkungan. Tiap-tiap lingkungan dikepalai oleh Kepala Lingkungan atau biasa disebut Kepling. Luas wilayah yang dimiliki kelurahan amplas sebesar 80 Ha. Mata pencaharian penduduk Kelurahan Amplas pada umumnya adalah sebagai pedagang, buruh harian, tukang becak, karyawan swasta.

4.2 Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian

Sejarah berdirinya Kelurahan Amplas sampai saat ini belum ada secara tertulis, hanya saja penulis mendapatkan informasi melalui wawancara dengan staff kelurahan dan informan di Kelurahan Amplas. Sebelum menjadi Kelurahan Amplas, kelurahan ini pada dahulunya bernama Kampung Amplas bagian dari Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Pada tahun 1973 berubah

(52)

menjadi Desa Amplas bagian dari Kecamatan Medan Denai (Kodya Medan/Kota Madya Medan). Sampai dengan tahun 1998 berubah menjadi Kelurahn Amplas bagian dari wilayah Kecamatan Medan Amplas sampai saat ini.

Mayoritas masyarakat Kelurahan Amplas sebenarnya berasal dari suku Bangsa Melayu. Namun dalam perkembangannya mereka tergerus oleh suku atau etnis lain di luar Sumatera yang juga menghuni di Kelurahan Amplas misalnya etnis Jawa, Minangkabau, Mandailing, Toba, dan Nias. Agama Islam awalnya agama satu-satunya yang dianut oleh masyarakat Kelurahan Amplas, seiring berkembangnya waktu, Islam bukan satu-satunya agama yang dianut oleh mereka, agama Kristen juga tumbuh menjadi agama terbesar kedua yang dianut oleh etnis Toba.

4.3 Profil Lokasi Penelitian

Gambar 4.1 Peta Kelurahan Amplas

Gambar Peta Kelurahan Amplas Kecamatan Medan Amplas.

(53)

Kelurahan Amplas merupakan salah satu dari 7 (tujuh) kelurahan yang ada di wila yah Kecamatan Medan Amplas dengan luas wilayah 80 Ha. Kelurahan Amplas terdiri dari 6 (enam) lingkungan dan terdiri dari berbagai jenis agama dan suku (etnis) yang beragam, dengan perbedaan agama serta suku yang beragam namun kelurahan amplas tetap satu dan saling menghargai. Jumlah penduduk Kelurahan Amplas yaitu sebanyak 15.104 jiwa dengan mata pencaharian penduduk kelurahan amplas yang pada umumnya adalah sebagai pedagang, buruh harian, tukang becak dan karyawan swasta.

4.4 Visi, misi, dan tujuan Lokasi Penelitian 4.4.1 Visi

a. Terwujudnya masyarakat yang sejahtera 4.4.2 Misi

a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik sebagai pelaku maupun penerima manfaat pembangunan kesejahteraan sosial.

b. Meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

c. Meningkatkan pelayanan dasar dan pelayanan kesejahteraan sosial.

4.4.3 Tujuan

a. Terlaksananya pelayanan sosial dan advokasi bagi anak, lanjut usia dan masyarakat.

b. Terlaksanannya pemberdayaan masyarakat.

c. Terlaksanannya penyelenggaraan pendidikan baik formal maupun nonformal bagi masyarakat.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Gambar 4.1 Peta Kelurahan Amplas

Referensi

Dokumen terkait

Desain pembelajran berbasis karakter merupakan usaha dalam merancang, menata dan menatur bagaimana agar pembelajaran pendidikan agama mengembangkan nilai-nilai budaya

Pasal 57: Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain merusak, menghilangkan atau mengubah baik sebagian

Pengertian sistem agroforestri mencakup upaya untuk memperoleh hasil atau produksi dari kombinasi tanaman (semusim), pepohonan, dan/atau ternak (hewan) secara bersama baik

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, dengan ini saya menyatakan dengan sebenar-benarnya, bahwa skripsi saya berjudul: DIPLOMASI PEMERINTAH AUSTRALIA DALAM UPAYA

Tujuan pembelajaran bukanlah penugasan materi ajar, akan tetapi proses untuk mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itulah

Salah satu model pembelajaran komputer adalah model pengulangan dan latihan (Drill and practice model) yang merupakan sebuah model pembelajaran multimedia yang dalam

Ketahanan Pangan (UU NO.18 Tahun 2012) adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang

Pada hari ini Rabu Tanggal Satu Bulan Juni Tahun 2016... BERITA ACARA SERAH