KEMENTERI AN KESEHATAN RI
DI REKTORAT JENDERAL BI NA UPAYA KESEHATAN
DI REKTORAT BI NA PELAYANAN PENUNJANG MEDI K DAN SARANA KESEHATAN TAHUN 201 4
PEDOMAN TEKNI S AMBULANS
KEMENTERI AN KESEHATAN RI
DI REKTORAT JENDERAL BI NA UPAYA KESEHATAN
DI REKTORAT BI NA PELAYANAN PENUNJANG MEDI K DAN SARANA KESEHATAN TAHUN 201 4
PEDOMAN TEKNI S AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen.BUK, KEMKES- RI
i KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Karunia-Nya buku Pedoman Teknis Ambulans dapat diselesaikan dengan baik.
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan harus memberikan rasa aman baik bagian pasien maupun petugas dan lingkungan. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang telah dicanangkan Kementerian Kesehatan sejak tahun 2000 menyebabkan pentingnya ambulans sebagai salah satu sarana evakuasi medik.
Penyusunan “Pedoman Teknis Ambulans” ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yaitu dalam rangka memenuhi standar pelayanan dan persyaratan mutu, keamanan dan keselamatan.
Pedoman ini disusun dengan partisipasi berbagai pihak termasuk rumah sakit, organisasi profesi penyelenggara ambulans, dan instansi terkait lainnya. Pedoman Teknis Ambulans ini bertujuan untuk menjadi salah satu referensi teknis dalam pengadaan/pembelian ambulans di Republik Indonesia baik pemerintah maupun masyarakat sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan.
Pedoman teknis ini dimungkinkan untuk dievaluasi dan dilakukan penyempurnaan- penyempurnaan terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta hal-hal lainnya yang tidak sesuai lagi dengan kondisi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu diterbitkannya Pedoman Teknis Ambulans. Diharapkan Pedoman ini dapat menjadi petunjuk bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Jakarta, 2014
Direktur Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
dr. Deddy Tedjasukmana B., Sp.KFR(K), MARS, MM NIP. 196004301989011001
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen.BUK, KEMKES- RI
SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya Pedoman Teknis Ambulans dapat disusun.
Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan harus memberikan rasa aman baik bagian pasien maupun petugas dan lingkungan. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang telah dicanangkan Kementerian Kesehatan sejak tahun 2000 menyebabkan pentingnya ambulans sebagai salah satu sarana evakuasi medik.
Pedoman Teknis Ambulans ini bertujuan untuk menjadi salah satu referensi teknis dalam pengadaan/pembelian ambulans di Republik Indonesia baik pemerintah maupun masyarakat sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pasal 9(b) menyatakan bahwa persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan usia lanjut.
Dengan demikian kami sangat mengharapkan peran bersama dari stake holder terkait, yaitu asosiasi profesi, pengelola rumah sakit, konsultan perencanaan rumah sakit dan pihak lainnya dalam membantu Kementerian Kesehatan mendukung amanat Undang-Undang tersebut.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu diterbitkannya Pedoman Teknis Ambulans.
Demikian kami sampaikan, semoga bermanfaat dan dapat meningkatkan mutu fasilitas rumah sakit di Indonesia.
Jakarta, 2014
Direktur Jederal Bina Upaya Kesehatan
Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Sp.U(K) NIP 195507271980101001
ii
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI iii Daftar Isi
Judul Halaman
Sambutan i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Ketentuan Umum 1
1.2 Latar Belakang 1
1.3 Tujuan 2
1.4 Sasaran 2
1.5 Ruang Lingkup 2
BAB II GAMBARAN UMUM AMBULANS
2.1 Definisi Ambulans 3
2.2 Tujuan Penggunaan Ambulans 3
2.3 Jenis Ambulans 3
BAB III SPESIFIKASI TEKNIS AMBULANS
3.1 Spesifikasi Ambulans Transport 6
3.2 Spesifikasi Ambulans Gawat Darurat 8
3.3 Spesifikasi Kereta Jenazah 10
BAB IV PENUTUP 12
BAB V LAMPIRAN
5.1 Tabel Spesifikasi Teknis 13
5.2 Contoh Gambar Ambulan Transport 31
5.3 Contoh Ambulans Gawat Darurat 32
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI 1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 KETENTUAN UMUM
Di dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau, artinya setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam pelayanan kesehatan. Hal ini dirasakan bagi masyarakat kurang mampu yang bertempat tinggal di daerah yang jauh dari perkotaan sehingga kebutuhan akan transportasi bagi orang sakit dirasakan kurang.
Sebagai amanat UU No. 44 Tahun 2009 tentang RS terutama pasal 11 ayat (1) menerangkan bahwa Ambulans merupakan salah satu prasarana Rumah Sakit.
Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 menerangkan bahwa prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana adalah: cepat dan tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, pemberdayaan, nondiskriminatif, dan nonproletisi. Berdasarkan Undang-Undang diatas maka ambulans adalah salah satu sarana penanggulangan bencana yang sesuai prinsip-prinsip di atas.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2013 Pasal 20 menerangkan bahwa manfaat non medis menyangkut akomodasi dan ambulans. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari fasilitas pelayanan kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan BPJS. Hal tersebut juga diperkuat dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 Pasal 29 yang berbunyi Pelayanan Ambulans merupakan pelayanan transportasi rujukan dengan kondisi tertentu antar fasilitas pelayanan kesehatan disertai dengan upaya atau kegiatan menjaga kestabilan kondisi pasien untuk kepentingan keselamatan pasien.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nemor 106/Menkes/SK/I/2004 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)/ General Emergency Life Support (GELS) Tingkat Pusat. Dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 882/Menkes/SK/X/2009 tentang Pedoman Penanganan Evakuasi Medik adalah salah satu dasar dikeluarkannya Pedoman Persyaratan Teknis Ambulans ini.
1.2 LATAR BELAKANG
Suatu fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, prefentif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Salah satu pelayanan yang berbentuk kuratif adalah melakukan penyembuhan penyakit pada pasien artinya melakukan penanganan cepat guna penyembuhan bagi si pasien. Penanganan pasien dapat dilakukan pada suatu tempat pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas.
Penanganan cepat pada pasien harus didukung oleh system rujukan yang baik. Salah satu penunjang system rujukan adalah pelayanan ambulans. Pelayanan ambulans yang baik tercermin dari mobil ambulans yang memenuhi persyaratan teknis, peralatan medis yang terkalibrasi, petugas ambulans yang terlatih, dan Standar Pemeliharaan dan Operasional yang terimplementasikan.
Data yang bersumber dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menyatakan bahwa jumlah korban luka berat dalam kecelakaan lalu lintas periode itu tahun 2012 sebanyak 36.710 orang, atau turun 0,15 % dibandingkan tahun 2011. Jumlah korban luka ringan tahun 2012 sebanyak 118.152 orang atau naik 7,9 % dibandingkan tahun 2011.
Angka tersebut di atas menjelaskan salah satu kejadian akibat kecelakaan lalu lintas dan belum dikaitkan dengan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit.
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI 2 Data dari PPKK Kementerian Kesehatan tentang data kegawatdaruratan dan bencana di Indonesia tahun 2004-2009; Tahun 2004 terdapat 37 kasus di 18 propinsi dan 81 kabupaten/kota dengan korban meninggal 129.103 orang, luka berat 173.452 orang, dan luka ringan 570.185 orang; Tahun 2009 terdapat 415 kasus di 30 propinsi dan 493 kabupaten/kota denagn korban meninggal 310 orang, luka berat 16.955 orang, luka ringan 250.010 orang, dan hilang 151 orang.
Data-data tersebut menjelaskan banyaknya kejadian kegawatdaruratan angka korban dapat diminimalisir dengan penanganan korban yang lebih tepat. Salah satu sarana kesehatan dalam menunjang pelayanan pasien pada saat kejadian kegawatdaruratan di tempat adalah ambulans.
Di Indonesia, banyak penderita cedera, keracunan, serangan jantung atau kegawatdaruratan lain yang meninggal di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit karena penatalaksanaan yang tidak memamadai. Padahal angka kematian di rumah atau dalam perjalanan ke rumah sakit dapat dikurangi jika ada pelayanan gawat darurat yang dapat segera menghampiri penderita, dan dalam perjalanan penderita kemudian didampingi oleh petugas dan ambulans yang memadai.
Pedoman teknis ambulans ini disusun untuk memenuhi standar pelayanan yang baik.
Pedoman teknis ini berdasarkan data dan masukan dari stake holder penyelenggara pelayanan ambulans. Persyaratan teknis ambulans ini disusun karena perkembangan ambulans, baik mobil ambulans maupun peralatan yang ada didalamnya, yang tidak sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan sehingga perlu pengontrolan.
1.3 TUJUAN
Pedoman Teknis Ambulans ini bertujuan untuk menjadi salah satu referensi teknis dalam pengadaan/pembelian ambulans di Republik Indonesia baik pemerintah maupun masyarakat sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan.
1.4 SASARAN
Pedoman Teknis Ambulans ditujukan kepada penyelenggara pelayanan ambulans baik pemerintah maupun nonpemerintah.
1.5 RUANG LINGKUP
Lingkup materi persyaratan teknis ambulans ini adalah berisi persyaratan teknis ambulans darat sebagai berikut :
(1) Pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan, sasaran dan lingkup materi pedoman.
(2) Gambaran umum ambulans yang meliputi tujuan penggunaan ambulan dan jenis ambulan baik darat, air, maupun udara.
(3) Persyaratan Teknis Ambulans darat yang meliputi ambulans transport dan ambulan gawat darurat
(4) Lampiran yang berisi detail persyaratan teknis ambulans dan contoh gambar ambulans
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI 3 BAB II
GAMBARAN UMUM AMBULANS 2.1 Definisi Ambulans
Secara terminologi ambulans adalah suatu kendaraan untuk memindahkan orang sakit atau cidera ke suatu tempat untuk mendapatkan pengobatan. Kendaraan tersebut dilengkapi dengan lampu tanda darurat dan sirine. Ambulans digunakan untuk kepentingan urgen maupun non urgen dengan jenis kendaraan yang bervariasi, termasuk:
truck, van, bus, kereta api, station wagon, sepeda motor, helikopter, pesawat terbang, dan kapal. Ambulans merupakan alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut pasien yang dilengkapi dengan peralatan medis sesuai dengan standar.
Pelayanan ambulans berada dalam Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) khususnya pra Rumah sakit dan antar Rumah sakit. Sehingga semua kegiatan ambulans harus terkoneksi dengan system tersebut dan ditunjang sistem komunikasi dan informasi yang handal.
2.2 Tujuan Pembuatan Ambulans Tujuan penggunaan ambulans adalah :
1. Pertolongan Penderita Gawat Darurat Pra Rumah Sakit dan antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
2. Pengangkutan penderita gawat darurat dari lokasi kejadian ke tempat tindakan definitive atau ke Rumah Sakit
3. Sebagai kendaraan transport rujukan 2.3 Jenis Ambulans
Jenis Ambulans yang digunakan harus mempertimbangkan jarak tempuh, waktu, cuaca, dan intervensi medis yang harus dilakukan.
Ambulans dibagi menjadi 3 (tiga) jenis yaitu : 1. Ambulans Darat
a. Ambulans Transport
b. Ambulans Gawat Darurat/ medical emergency c. Kereta Jenazah
2. Ambulans Air 3. Ambulans Udara
Ambulans darat juga dapat berupa bus, kereta api, dll. Ambulans Air dan Ambulans Udara sama dengan ambulans transport dan untuk penanganan pasien gawat darurat akan ditambah dengan peralatan dan SDM yang mempunyai spesifikasi teknis dan pelayanan seperti Ambulans Gawat Darurat.
Pada pedoman ini dibahas hanya spesifikasi teknis mengenai ambulans transport darurat/
medical emergency, dan kereta jenazah. Sedangkan Ambulans Air dan Ambulans Udara tidak dibahas secara detail dan untuk spesifikasi teknis baik interior maupun peralatan kesehatan mengikuti persyaratan teknis Ambulans Darat. Petugas ambulans air dan ambulans udara mempunyai spesifikasi khusus sesuai dengan peraturan perundang- undangan berlaku.
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI 4 A. Ambulans Transport
Ambulans transport (patient transport ambulansce) adalah ambulans yang tidak dilengkapi dengan peralatan untuk bantuan hidup/ life support, dengan kru yang sedikit memiliki kualifikasi. kendaraan ini hanya digunakan untuk mengantar pasien dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan pengobatan.
Dalam keadaan tertentu ada Fly car/ respons unit/ quick response vehicle, seorang petugas Ambulans dengan kendaraan yang akan melakukan penanganan di lokasi dan tidak membawa pasien dengan kendaraannya, tetapi akan memanggil ambulans transport ke tempat yang dituju. Kendaraan yang digunakan bisa van, mobil standar, kendaraan roda dua, kuda, atau sesuai daerah masing-masing.
Ambulans transport juga bisa berupa ambulans khusus yang digunakan secara cuma- cuma dari yayasan non profit tertentu yang disebut Charity ambulansce. Bariatic ambulansce; kendaraan khusus sebagai ambulans transport diperuntukkan untuk pasien gemuk/ obese dengan peralatan sesuai dengan keperluan pasien.
B. Ambulans Gawat Darurat/ medical emergency
Ambulans Gawat Darurat/ medical emergency merupakan salah satu kendaraan yang digunakan untuk mengantar pasien yang siap melakukan tindakan pertolongan life support /life saving/ bantuan hidup.
Ambulans Gawat Darurat merupakan bagian dari rangkaian pelayanan kedaruratan/
emergency medical service.
Kru Ambulans terdiri dari :
1. Petugas Ambulans sudah mendapatkan pelatihan life saving.
2. Pengemudi yang sudah mendapatkan pengetahuan basic life support (BLS) dan pelatihan mengemudi yang aman (Defensive Driving)
Di dalam ambulans gawat darurat , perawat harus ada dan siap melakukan tindakan medis yang diperlukan.
Ambulans Gawat Darurat dapat dibedakan menjadi Ambulans Gawat Darurat General dan Ambulans Gawat Darurat khusus.
Ambulans Gawat Darurat khusus adalah ambulans gawat darurat yang ditambah peralatan medis khusus untuk pelayanan penyakit tertentu.
C. Kereta Jenazah
Kereta jenazah adalah kendaraan yang digunakan untuk mengangkut jenazah D. Ambulans Air
Ambulans air dapat berupa kapal (boat) dan Kapal laut (ship).
Kapal (boat) dapat dipakai sebagai ambulans untuk pelayanan antar pulau, atau daerah dengan banyak kanal, jenis ambulans ini termasuk ambulans transport. Untuk pelayanan kegawatdaruratan akan sulit dilakukan di boat karena faktor ombak.
PEDOMAN TEKNIS AMBULANS
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Ditjen. BUK, KEMKES-RI 5 Kapal laut (ship) adalah ambulans biasanya di gunakan oleh militer untuk jarak jauh, biasanya digunakan dalam keadaan perang. Pelayanan kegawatdaruratan dapat dilakukan disini bahkan untuk kasus tertentu dapat digunakan juga sebagai rumah sakit . E. Ambulans Udara
Ambulans udara dapat berupa helikopter maupun pesawat terbang. Ambulans udara dapat berfungsi sebagai ambulans transport maupun ambulans gawat darurat tergantung pelayanan yang dilakukan dan peralatan yang tersedia.