MODUL PRAKTIKUM KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3 Penulis : Retno Sumara, S.Kep,Ns.,M.Kep, Septian Galuh, S.Kep,Ns.,M.Kep Eny Sumarliyah, S.Kep,Ns, M.Kes Editor : Ratna Agustin
Tata Letak : Nurhidayatullah.r Design cover : Syarifuddin
Hak Cipta Penerbit UMSurabaya Publishing Jl Sutorejo No 59 Surabaya 60113
Telp : (031) 3811966, 3811967
Faks : (031) 3813096
Website : http://www.p3i.um-surabaya.ac.id Email : [email protected] Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
UNDANG- UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak/atau tanpa ijin pencipta atau pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta yang meliputi Penerjemah dan Pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00
( lima ratus juta rupiah)
2. Setiap Orang yang dengan tanap hak dan/atau tanpa ijin Pencipta atau pemgang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi Penerbitan, Penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Pengunaan Secara Komersial, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) 3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada poin kedua diatas
yang dilakukan dalam bentuk Pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah)
Surabaya: UMSurabaya Publishing, 2021
MODUL PRAKTIKUM KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3 Penulis :Retno Sumara, S.Kep,Ns.,M.Kep, Septian Galuh, S.Kep,Ns.,M.Kep Eny Sumarliyah, S.Kep,Ns, M.Kes Editor : Ratna Agustin
Tata Letak : Nurhidayatullah.r Design cover : Syarifuddin
Hak Cipta Penerbit UMSurabaya Publishing Jl Sutorejo No 59 Surabaya 60113
Telp : (031) 3811966, 3811967
Faks : (031) 3813096
Website : http://www.p3i.um-surabaya.ac.id Email : [email protected] Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
UNDANG- UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak/atau tanpa ijin pencipta atau pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta yang meliputi Penerjemah dan Pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00
( lima ratus juta rupiah)
2. Setiap Orang yang dengan tanap hak dan/atau tanpa ijin Pencipta atau pemgang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi Penerbitan, Penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Pengunaan Secara Komersial, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) 3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada poin kedua diatas
yang dilakukan dalam bentuk Pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah)
Surabaya: UMSurabaya Publishing, 2021
SURAT KEPUTUSAN
Nomor : ……../KEP/III.3.AU/F/FIK/2018 Tentang
PENYUSUNAN MODUL PRAKTIKUM KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3 PROGRAM STUDI S1 KEPERWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UMSURABAYA Bismillahirrohmanirrohim
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, setelah:
Menimbang : a. Bahwa guna atmosfir akademik serta peningkatan Kompetensi Akademik di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan maka diperlukan adanya Panduan Modul Panduan Praktikum Keperawatan Medikal Bedah 3 b. Bahwa guna ketertiban dan kelancaran
pelaksanaan kegiatan sebagaimana yang di maksud pada butir a, perlu di tetapkan Panduan Modul Praktikum Keperawatan Medikal Bedah 3
Mengingat : 1. UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. UU RI Nomor 12 tahun 2012.
3. Peraturan Pemerintah RI nomor 60 tahun 1999 tentang pendidikan Tinggi
4. Pedoman PP Muhammadiyah No.
02/PED/I.0/B/2012 tentang Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
5. Ketentuan Majlis Dikti PP Muhammadiyah Nomor 178/KET/1.3/D/2012.
6. Statuta Universitas Muhammadiyah Surabaya.
M E M U T U S K A N Menetapkan :
Pertama : Berlakunya Pedoman Modul Praktikum Keperawatan Keperawatan Medikal Bedah 3 pada Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya sebagaimana tersebut dalam lampiran keputusan ini.
Kedua : Pedoman Modul Praktikum Keperawatan Keperawatan Medikal Bedah 3 tersebut pada diktum pertama keputusan ini sejak pada tanggal ditetapkan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari putusan ini.
Ketiga : Apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan dibetulkan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di Surabaya
Tanggal : September 2018 Dekan,
Dr. Mundakir, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Tembusan :
1. Rektor UMSurabaya
2. Dosen Pembimbing FIK UMSurabaya
VISI MISI PRODI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURABAYA VISI :
Menjadi Program Studi S1 Keperawatan yang mengedepankan nilai moralitas, intelektualitas dan berjiwa entrepreuner dengan unggulan keperawatan kritis.
MISI :
Misi dari Program Studi S1 Keperawatan FIK UMSurabaya adalah:
1. Mengembangkan dan memajukan program pendidikan dan pembelajaran keperawatan kritis yang islami sehingga menghasilkan lulusan berkemampuan akademik, profesional, manajerial, kepemimpinan dan berkepribadian islam.
1. Mengembangkan inovasi dan penerapan teknologi melalui penelitian-penelitian di bidang keperawatan kritis yang islami sehingga meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Melaksanakan jiwa pengabdian kepada masyarakat dalam bidang keperawatan kritis 3. Mengembangkan karakter dan profesionalisme
yang Islami.
4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswa dengan mengembangkan jiwa entrepreuner.
TUJUAN:
Tujuan dari Program Studi S1 Keperawatan, adalah menghasilkan Ners yang memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Menghasilkan Ners yang memiliki kemampuan dan profesionlisme dalam keperawatan kritis 2. Memiliki karakter dan profesionalisme yang
Islami.
3. Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan Profesional dengan kemampuan komunikasi secara efektif dan terapeutik.
4. Menguasai tehnologi yang lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan
5. Menerapkan aspek etik dan legal dalam praktik keperawatan
6. Mengaplikasikan kepemimpinan dan manajemen keperawatan
7. Mampu bekerja sebagai anggota tim kesehatan 8. Mampu melakukan penelitian keperawatan
khususnya keperawatan kritis
9. Mampu melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
10. Mampu berkarya mandiri dan bersaing di dunia kerja.
iv
VISI MISI PRODI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURABAYA VISI :
Menjadi Program Studi S1 Keperawatan yang mengedepankan nilai moralitas, intelektualitas dan berjiwa entrepreuner dengan unggulan keperawatan kritis.
MISI :
Misi dari Program Studi S1 Keperawatan FIK UMSurabaya adalah:
1. Mengembangkan dan memajukan program pendidikan dan pembelajaran keperawatan kritis yang islami sehingga menghasilkan lulusan berkemampuan akademik, profesional, manajerial, kepemimpinan dan berkepribadian islam.
1. Mengembangkan inovasi dan penerapan teknologi melalui penelitian-penelitian di bidang keperawatan kritis yang islami sehingga meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Melaksanakan jiwa pengabdian kepada masyarakat dalam bidang keperawatan kritis 3. Mengembangkan karakter dan profesionalisme
yang Islami.
4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswa dengan mengembangkan jiwa entrepreuner.
TUJUAN:
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Modul Keperawatan Medikal Bedah 3 ini selesai dibuat. Modul ini diterbitkan dengan tujuan untuk mempermudah mahasiswa S1 keperawatan dalam melaksanakan praktikum.
Dalam penyusunan Modul Praktikum Keperawatan Medikal Bedah 3 masih banyak kekurangan. Untuk itu, kami memerlukan kritik dan saran dari pembaca agar kami bisa memperbaiki di waktu mendatang.
Semoga modul ini dapat bermanfaat dan memberikan andil bagi pengembangan pendidikan Program Studi S1 keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMSurabaya, sekaligus pengembangan IPTEK bagi mahasiswa.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Surabaya, September 2018
Penyusun
IDENTITAS MAHASISWA
NAMA :……….
NIM :……….
NO. TLP : ………
EMAIL : ………
ALAMAT:..………
……….
……….
viii
DAFTAR ISI
Surat Keputusan ... ii
Visi Misi Prodi S1 Keperawatan ... iv
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya... iv
Kata Pengantar ... vi
Identitas Mahasiswa ... vii
Daftar Isi ... viii
Tata Tertib Praktikum ... ix
Praktikum 1 Range Of Motion (Rom)... 1
Praktikum 2 Luka (Wound) ... 5
Praktikum 3 Perawatan Luka Kronis (Infeksi) ... 17
Praktikum 4 Perawatan Luka Post Operasi Dan Angkat Jahitan ... 20
Praktikum 5 Perawatan Luka Bakar... 24
Praktikum 6 Pemberian Obat Pada Mata ... 31
Praktikum 7 Irigasi Mata ... 40
Praktikum 8 Irigasi Telinga ... 44
Praktikum 9 Pemberian Obat Telinga ... 47
Daftar Pustaka ... 50
TATA TERTIB PRAKTIKUM
1. Apabila mahasiswa akan melakukan praktik dimohon untuk konfirmasi kepada pembimbing yang bersangkutan tentang waktu pelaksanaan.
2. Sebelum melakukan praktik Keperawatan Medikal Bedah 3, satu mahasiswa wajib mempelajari tujuan dilaksanakan praktik
3. Mahasiswa wajib melakukan ketrampilan keperawatan secara mandiri dengan didampingi oleh pembimbing pendidikan
4. Apabila mahasiwa tidak melakukan ketrampilan secara mandiri maka mahasiswa tidak diperbolehkan mengikuti ujian praktik.
5. Setiap akan melakukan praktik mahasiswa mempersiapkan alat
6. Setelah selesai melakukan praktik mahasiswa wajib membersihkan dan meletakkan alat yang telah digunakan ke tempatnya
7. Mahasiswa wajib melaporkan buku evaluasi kepada koordinator mata ajaran pada akhir praktik
8. Setiap melakukan praktikum mahasiswa
diwajibkan memakai jas laboratorium.
CASE STUDY:
Tn. A dirawat di ruang syaraf selama seminggu. Tn. A menderita stroke dan mengalami penurunan kesadaran. Tn. A sudah seminggu bed rest total dan tidak dilakukan mobilisasi miring kanan miring kiri.
MINIMAL QUESTION:
1. Apakah latihan ROM yang cocok dilakukan pada Tn. A?
2. Apakah tujuan dilakukan ROM pada Tn. A?
TEORI:
ROM adalah suatu tindakan untuk melatih persendian dan otot pada pasien yang mengalami keterbatasan aktivitas dan mobilitas akibat adanya penyakit.
Indikasi dilakukan ROM adalah untuk menghindari kekakuan sendi dan kelemahan pada pasien dengan keterbatasan aktivitas dan mobilitas.
Prosedur Persiapan
1. Jelaskan prosedur ke pasien tentang tindakan yang dilakukan
2. Kaji sejauh mana latihan ROM dapat dilakukan, apakah ROM dilakukan secara aktif atau pasif.
3. Cuci tangan
RANGE OF MOTION (ROM)
Praktikum 1
Prosedur Tindakan 1. Leher
2. Bahu
3. Siku
4. Pergelangan tangan
5. Jari tangan
6. Lutut
7. Pergelangan kaki
8. Jari kaki
TUGAS MAHASISWA:
Lakukan pengkajian sistem muskuloskeletal dengan benar!
Surabaya, ( ……….)
5
Case Study:
Seorang perempuan berusia 42 tahun di rawat di rumah sakit karena mengeluh luka di kakinya nyeri dan terdapat luka pada telapak kaki sebelah kanan. Telapak kaki kena paku ± 8 hari yang lalu, luka menghitam terdapat nanah, bau khas dan bengkak. Nyeri dirasakan panas, terus menerus, Hasil pemeriksaan TD130/80 mm/Hg, RR 25 x/m, N 80 x/m, S 38oC. ± 6 tahun yang lalu pasien menderita penyakit DM, Questions:
1. Apa yang dimaksud dengan luka?
2. Sebutkan klasfikasi luka berdasarkan lama penyembuhannya!
3. Sebutkan klasfikasi luka menurut tingkat Kontaminasinya!
4. Sebutkan tujuan dilakukan rawat luka!
5. Jelaskan perbedaan perawatan luka konvensional dan perawatan luka modern!
LUKA (WOUND)
Praktikum 2
KONSEP LUKA A. Luka
Rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal termasuk kerusakan kontinuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh akibat proses patalogis yang berasal dari internal dan eksternal yang akan menimbulkan hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stress simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan kematian sel.
B. Klaifikasi
1. Berdasarkan lama waktu penyembuhannya, luka dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Luka Akut
Luka akut adalah luka trauma yang biasanya segera mendapat penanganan dan biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi komplikasi.
Kriteria luka akut adalah luka baru, mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan. Contohnya adalah luka sayat, luka bakar, luka tusuk
b. Luka Kronik
Luka akut adalah luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali atau terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya disebabkan oleh masalah multi faktor dari penderita. Pada luka kronik luka gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk timbul kembali. Contohnya adalah ulkus tungkai, ulkus vena, ulkus arteri (iskemi), penyakit vaskular perifer ulkus dekubitus, neuropati perifer ulkus dekubitus (Briant, 2007).
2. Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka:
a. Clean Wounds (Luka bersih)
Yaitu luka bedah tak terinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi (luka yang tertutup)
b. Clean - contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi) merupakan luka pembedahan.
c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi)
Termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar.
d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi) yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.
3. Berdasarkan sifatnya:
a. Luka Akut.
Luka akut adalah luka yang sembuh sesuai dengan periode waktu yang diharapkan atau dengan kata lain sesuai dengan konsep penyembuhan. Luka akut dapat dikategorikan sebagai:
a. Luka akut pembedahan, contoh: insisi, eksisi dan skin graft.
b. Luka akut bukan pembedahan, contoh: Luka bakar.
c. Luka akut akibat faktor lain, contoh:abrasi, laserasi, atau injuri pada lapisan kulit superfisial.
b. Luka Kronis.
Luka kronis adalah luka yang proses penyembuhannya mengalami keterlambatan atau bahkan kegagalan. Contoh: Luka decubitus, luka diabetes, dan leg ulcer.
4. Berdasarkan Kehilangan Jaringan.
a. Superfisial; luka hanya terbatas pada lapisan epidermis.
b. Parsial (partial-thickness); luka meliputi lapisan epidermis dan dermis.
c. Penuh (full-thickness); luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan subcutan bahan dapat juga melibatkan otot, tendon, dan tulang.
5. Berdasarkan Stadium.
a. Stage I.
Lapisan epidermis utuh, namun terdapat eritema atau perubahan warna.
b. Stage II.
Kehilangan kulit superfisial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis. Eritema di jaringan sekitar yang nyeri, panasa, dan edema. Exudate sedikit sampai sedang.
c. Stage III.
Kehilangan jaringan sampai dengan jaringan sub cutan, dengan terbentuknya rongga (cavity), exudate sedang sampai banyak.
d. Stage IV.
Hilangnya jaringan sub cutan dengan terbentuknya rongga (cavity) yang melibatkan otot, tendon dan atau tulang. Exudat sedang sampai banyak.
C. Pengkajian luka (Wound Assessment) 1. Exudate (jumlah dan tipe)
2. Odor (bau)
3. Wound edges (tepi luka) 4. Periwound skin
1. Warna (erythema, putih, kebiruan)
2. Teksture (moist, kering, indurasi, macerasi) 3. Temperatur kulit (hangat, dingin)
4. Integritas area luka
5. Presence or absence of local signs of infection (tanda-tanda infeksi)
6. Wound pain (nyeri pada luka)
D. Tipe jaringan pada luka
1. Nekrotik (jaringan mati berwarna hitam disekitar luka)
2. Escar (jaringan kering, tebal dan keras berwarna hitam)
3. Kallus (jaringan keras disekitar luka)
4. Slough (Jaringan nekrotik, Fibrinosa, berwarna kuning)
5. Jaringan granulasi
E. Fase Penyembuhan Luka
1. Fase Koagulasi dan Inflamasi (0-3 hari).
Koagulasi merupakan respon yang pertama terjadi sesaat setelah luka terjadi dan melibatkan platelet.
Pengeluaran platelet akan menyebabkan vasokonstriksi. Proses ini bertujuan untuk homeostatis sehingga mencegah perdarahan lebih lanjut.
Pengeluaran platelet akan menyebabkan vasokonstriksi. Fase inflamasi selanjutnya terjadi beberapa menit setelah luka terjadi dan berlanjut hingga sekitar 3 hari. Fase inflamasi memungkinkan pergerakan leukosit (utamanya neutrofil). Neutrofil selanjutnya memfagosit dan membunuh bakteri dan masuk ke matriks fibrin dalam persiapan pembentukan jaringan baru.
2. Fase Proliferasi atau Rekonstruksi (2-24 hari).
Apabila tidak ada infeksi atau kontaminasi pada fase inflamasi, maka proses penyembuhan selanjutnya memasuki tahapan Proliferasi atau rekonstruksi. Tujuan utama dari fase ini adalah:
a. Proses granulasi (untuk mengisi ruang kosong pada luka).
b. Angiogenesis (pertumbuhan kapiler baru).
Secara klinis akan tampak kemerahan pada luka. Angiogenesis terjadi bersamaan dengan fibroplasia. Tanpa proses angiogenesis sel-sel penyembuhan tidak dapat bermigrasi, replikasi, melawan infeksi dan pembentukan atau deposit komponen matrik baru.
c. Proses kontraksi (untuk menarik kedua tepi luka agar saling berdekatan).
Menurut Hunt (2003) kontraksi adalah peristiwa fisiologi yang menyebabkan terjadinya penutupan pada luka terbuka. Kontraksi terjadi bersamaan dengan sintesis kolagen. Hasil dari kontraksi akan tampak dimana ukuran luka akan tampak semakin mengecil atau menyatu.
3. Fase Remodelling atau Maturasi (24 hari-1tahun).
Fase ini merupakan fase yang terakhir dan terpanjang pada proses penyembuhan luka. Aktifitas sintesis dan degradasi kolagen berada dalam keseimbangan. Serabut-serabut kolagen meningkat secara bertahap dan bertambah tebal kemudian disokong oleh proteinase untuk perbaikan sepanjang garis luka. Kolagen menjadi unsur yang utama pada matrks. Serabut kolagen menyebar dengan saling terikat dan menyatu serta berangsur-angsur menyokong pemulihan jaringan.
F. Perawatan Luka
Teknik aseptik yang bertujuan membersihkan luka dari debris untuk mempercepat proses penyembuhan luka.
Perawatan yang diberikan bersifat memberikan kehangatan dan lingkungan yang lembab pada luka.
Kondisi yang lembab pada permukaan luka dapat meningkatkan proses perkembangan perbaikan luka, mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel. Kondisi ini juga dapat meningkatkan interaksi antara sel dan faktor pertumbuhan.
1. Tujuan Perawatan Luka
a) Meningkatakan proses penyembuhan luka b) Mencegah infeksi
2. Jenis Perawatan Luka
a) Perawatan Luka Konvensional
Balutan konvensional merupakan balutan luka yang menggunakan kasa sebagai balutan utama.
Balutan ini termasuk material pasif dengan fungsi utamanya sebagai pelindung, menjaga kehangatan dan menutupi penampilan yang tidak meyenangkan. Disamping itu balutan kasa juga dipakai untuk melindungi luka dari trauma, mempertahankan area luka, atau untuk penekanan luka dan area sekitar luka dan mencegah kontaminasi bakteri. Balutan konvensional diganti setiap 2 kali sehari.
b) Perawatan Luka Modern
Balutan modern memiliki prinsip kerja dengan menjaga kelembaban dan kehangatan area luka.
Kondisi ini dapat meningkatkan proses angiogenesis, proliferasi sel, granulasi dan epitelisasi.Jenis balutan yang digunakan dalam perawatan luka modern adalah Calcium Alginat, ,Hidrogel, Hidrocoloid, Foam, Transparant film, dll.
Dressing luka disesuaikan dengan kondisi dan hasil exudasi pada luka. Balutan modern diganti 2- 3 hari sekali.
Perawatan luka modern menggunakan balutan semi occlusive, full occlusive dan impermeable dressing berdasarkan pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety).
Manfaat Perawatan luka modern
a) Mencegah luka menjadi kering dan keras.
b) Menurunkan nyeri saat ganti balutan.
c) Meningkatkan laju epitelisasi.
d) Mencegah pembentukan jaringan parut e) Dapat menurunkan kejadian infeksi.
f) Balutan tidak perlu diganti setiap hari (Cost effective).
g) Memberikan keuntungan psikologis.
h) Mudah digunakan dan aman
(Schulitz, et al. 2005., Hana, 2009., Saldy, 2010)
G. JENIS BALUTAN MODERN (MODERN DRESSING) 1. HYDROCOLLOIDS
Balutan hidrokoloid bersifat “water-loving”
dirancang elastis dan merekat yang mengandung jell.
Balutan hidrokoloid bersifat semipermiabel, mengandung partikel hidroaktif yang akan mengembang atau membentuk jel karena menyerap cairan luka. Bila dikenakan pada luka, drainase dari luka berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan untuk membentuk seperti jel yang menciptakan lingkungan yang lembab yang dapat merangsang pertumbuhan jaringan sel untuk penyembuhan luka.
Balutan hidrokoloid ada dalam bermacam bentuk, ukuran, dan ketebalan. Balutan hidrokoloid digunakan pada luka dengan jumlah drainase sedikit atau sedang. Balutan jenis ini biasanya diganti satu kali selama 5-7 hari, tergantung pada metode aplikasinya, lokasi luka. Balutan ini tidak digunakan pada luka yang terinfeksi.
Keunggulannya adalah:
1. Menjaga kestabilan kelembaban luka dan daerah sekitar luka bersamaan dengan fungsinya sebagai penyerap cairan luka
2. Pembalut dapat diganti tanpa menyebabkan trauma atau rasa sakit, dan tidak lengket pada luka 3. Nyaman untuk permukaan kulit
4. Ekonomis dan hemat waktu pengobatan, meminimalkan penggantian pembalut dibanding
dengan menggunakan pembalut konvensional (tahan 5-7 hari tanpa penggantian pembalut baru tergantung karakter eksudat)
2. HYDROGELS
Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran (seperti serat kasa, atau jel) yang tidak berperekat yang mengandung polimer hidrofil berikatan silang yang dapat menyerap air dalam volume yang cukup besar tanpa merusak kekompakkan atau struktur bahan. Jel akan memberi rasa sejuk dan dingin pada luka, yang akan meningkatkan rasa nyaman pasien. Jel diletakkan langsung diatas permukaan luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder (foam atau kasa) untuk mempertahankan kelembaban sesuai level yang dibutuhkan untuk mendukung penyembuhan luka. Indikasi balutan ini adalah digunakan pada jenis luka dengan cairan yang sedikit sedangkan kontraindikasinya adalah luka yang banyak mengeluarkan cairan
Fungsinya hydrogel adalah:
1. Menciptakan lingkungan luka yang tetap lembab 2. Lembut dan fleksibel untuk segala jenis luka
14
3. Melunakkan dan menghancurkan jaringan nekrotik, tanpa merusak jaringan sehat
4. Mengurangi rasa sakit karena mempunyai efek pendingin.
3. ALGINATE
Berasal dari rumput laut, berubah menjadi gel jika bercampur dengan cairan luka, jenis balutan yang dapat menyerap jumlah cairan luka yang berlebihan dan menstimulasi proses pembekuan darah jika terjadi perdarahan minor, jika bercampur dengan eksudate, berubah menjadi gel. Balutan ini dindikasi untuk luka superfisial dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat sedang sampai banyak. Alginat adalah balutan primer dan membutuhkan balutan sekunder seperti film semi- permiabel, foam sebagai penutup.
4. FOAM
Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang direkatkan, pada permukaan yang kontak dengan luka. Silikon membantu mencegah balutan foam melekat pada permukaan luka atau sekitar kulit pada pinggir luka. Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat mengganti balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.
Mengandung Polyurethane foam, tersedia dalam kemasan sheets (lembaran) atau cavity filling.
Keuntungan menggunakan Foam
1. Foam memiliki kapasitas yang tinggi untuk mengabsorbsi eksudat yang banyak
2. Foam juga mampu menyerap kelebihan kelembaban sehingga mengurangi resiko maserasi 3. Tidak menimbulkan nyeri dan trauma pada jaringan
luka saat penggantian.
5. Transparant Films Dressing
1. Transparan, perkembangan penyembuhan luka dapat di monitor tanpa membuka pembalut
2. Tidak tembus bakteri dan air, elastis dan tahan air, sehingga bisa dipakai pada saat mandi
3. Ekonomis, tidak memerlukan penggantian balutan dalam jangka waktu yang pendek
TUGAS MAHASISWA:
Carilah gambar-gambar luka dan sebutkan bagian-bagian luka!
Surabaya, ( ……….)
Persiapan pasien:
1. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan.
4. Memberikan pasien posisi menciptakan suasana yang nyaman
Persiapan alat :
1. Bak Instrumen yang berisi : a) Pinset Anatomi
b) Pinset Chirurgis
c) Sarung tangan steril 2 pasang d) Gunting Debridemand
e) Kasa Steril f) Depers g) Kom: 3 buah
2. Peralatan lain terdiri dari:
a) Perlak (pengalas) b) Gunting plester c) Plester atau perekat d) Alkohol 70%
e) NaCl 0,9%
f) Bengkok: 2 buah,1 buah berisi larutan desinfektan g) Verband
h) Dressing luka sesuai kebutuhan
PERAWATAN LUKA KRONIS (INFEKSI) Praktikum 3
Prosedur Pelaksanaan:
a) Menjaga Privacy
b) Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat jelas
c) Meletakkan perlak di bawah area luka
d) Meletakkan bengkok dibawah atau didekat area luka.
e) Membuka peralatan dan dekatkan dengan pasien f) Memakai sarung tangan
g) Membasahi plaster dengan alkohol/ NaCl 0,9 % dan buka dengan menggunakan pinset
h) Membuka balutan luka.
i) Mengobservasi keadaan luka (warna luka, kedalaman luka, luas luka, tepi luka)
j) Membersihkan area disekitar luka dan melakukan irigasi luka dengan menggunakan cairan NaCl 0,9 % k) Menekan tepi luka (sepanjang luka) untuk
mengeluarkan pus (apabila ada)
l) Membersihkan kembali area luka dengan cairan NaCl 0,9 %.
m) Mengeringkan area luka dengan menggunakan kassa steril.
n) Mengganti sarung tangan steril
o) Mengambil pinset dan gunting nekrotomi.
p) Melakukan debridement/nekrotomi (mengambil jaringan mati)
q) Membersihkan kembali luka dengan menggunakan cairan NaCl 0,9 %
r) Memberikan primary dressing pada luka sesuai dengan kebutuhan dan ditutup dengan secondary dressing/kassa steril.
s) Menutup luka dengan memasang plester atau verband.
t) Merapikan pasien
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan 2. Membersihkan alat-alat
3. Mencuci tangan
4. Melakukan dokumentasi dengan mencatat kegiatan dalam lembar/ catatan keperawatan.
TUGAS MAHASISWA:
Carilah pasangan teman saudara kemudian lakukan perawatan luka kronis!
Surabaya,
( ……….)
Persiapan pasien:
1. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan.
4. Memberikan pasien posisi menciptakan suasana yang nyaman
Persiapan Alat
1. Bak instrument steril berisi : a) Sarung tangan steril.
b) Pinset 4 (2 anatomis, 2 cirurgis) c) Gunting hatting up.
d) Lidi waten.
e) Kom 2 buah.
f) Kasa steril.
g) Plester
h) Gunting perban i) Bengkok 2 buah j) Larutan NaCl k) Perlak dan alas l) Betadin
m) Korentang n) Alkohol 70%
o) Kapas bulat dan sarung tangan bersih
PERAWATAN LUKA POST OPERASI DAN ANGKAT JAHITAN
Praktikum 4
Prosedur Pelaksanaan
1. Jelaskan prosedur pada klien tentang tindakan perawatan luka.
2. Dekatkan semua peralatan yang diperlukan.
3. Letakkan bengkok dekat pasien.
4. Tutup ruangan / tirai di sekitar tempat tidur.
5. Bantu klien pada posisi nyaman.
6. Cuci tangan secara menyeluruh.
7. Pasang perlak dan alas.
8. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester. Angkat balutan dengan pinset.
9. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan.
10.Dengan sarung tangan/pinset, angkat balutan.
11.Bila balutan lengket pada luka, lepaskan dengan memberikan larutan NaCl 0,9 %
12.Observasi karakter luka dan jumlah drainase 13.Buang balutan kotor pada bengkok, lepaskan
sarung tangan dan buang pada bengkok yang berisi Clorin 5%.
14.Buka bak instrumen, siapkan betadin dan larutan NaCl pada kom, siapkan plester, siapkan depres.
15.Kenakan sarung tangan steril.
16.Inspeksi luka, perhatikan kondisinya, letak drain, integritas jahitan dan karakter drainase serta palpasi luka (kalau perlu).
17.Bersihkan luka dengan larutan NaCl 0,9 % dengan menggunkan pinset. Gunakan satu kasa untuk setiap kali usapan.
18.Gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka/insisi.
19.Melepaskan jahitan satu persatu selang seling dengan cara: menjepit simpul jahitan dengan
pinset cirurgis dan ditarik sedikit ke atas kemudian menggunting benang tepat dibawah simpul yang berdekatan dengan kulit/pada sisi lain yang tidak ada simpul.
20.Bersihkan luka dengan cairan NaCl 0,9 % kembali dan keringkan.
21.Berikan dressing luka dengan (tule) atau langsung menutup luka dengan kasa steril.kemudian di plester
22.Merapikan pasien.
Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan 2. Membersihkan alat-alat
3. Mencuci tangan
4. Melakukan dokumentasi dengan mencatat kegiatan dalam lembar/ catatan keperawatan
TUGAS MAHASISWA:
Carilah teman atau pasangan dan lakukanlah perawatan luka post operasi dan angkat jahitan
Surabaya, ( ……….)
Case Study :
Seorang perempuan berusia 40 tahun, dirawat 2 hari di RS karena mengalamai luka bakar terkena lampu minyak dirumahnya pada lengan atas kanan terkena air panas.
Pasien mengatakan, “lengan saya nyeri sekali, apalagi kalo digerakkan. Pengkajian didapatkan luka bakar di bagian tangan kanan, dada depan dan kaki kanan bawah, warna luka kemerahan tampak melepuh. Hasil vital sign TD : 100/80 mmHg, Nadi : 70 X/menit, suhu 37°C
Questions :
1. Jelaskan apa penyebab luka bakar!
2. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi luka bakar!
3. Berapa persenkah luas luka bakar pasien tersebut?
4. Sebutkan dan gambarkan cara menghitung luas luka bakar!
5. Sebutkan masalah keperawatan yang muncul pada pasien tersebut?
PERAWATAN LUKA BAKAR Praktikum 5
KONSEP LUKA BAKAR Pengertian
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.
Klasifikasi Luka bakar berdasarkan kedalamannya 1. Luka bakar grade I
a. Disebut juga luka bakar superficial
b. Mengenai lapisan luar epidermis, tetapi tidak sampai mengenai daerah dermis. Sering disebut sebagai epidermal burn
c. Kulit tampak kemerahan, sedikit oedem, dan terasa nyeri.
d. Pada hari ke empat akan terjadi deskuamasi epitel (peeling).
2. Luka bakar grade II
a. Superficial partial thickness:
1) Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan atas dari dermis
2) Kulit tampak kemerahan, oedem dan rasa nyeri lebih berat daripada luka bakar grade I
3) Ditandai dengan bula yang muncul beberapa jam setelah terkena luka
b. Deep partial thickness
1) Luka bakar meliputi epidermis dan lapisan dalam dari dermis disertai juga dengan bula
2) permukaan luka berbecak merah muda dan putih karena variasi dari vaskularisasi pembuluh darah (bagian yang putih punya hanya sedikit pembuluh darah dan yang merah muda mempunyai beberapa aliran darah)
3. Luka bakar grade III
a. Luka bakar meliputi kulit, lemak subkutis sampai mengenai otot dan tulang
b. Menyebabkan kerusakan jaringan yang permanen c. Rasa sakit kadang tidak terlalu terasa karena ujung-
ujung saraf dan pembuluh darah sudah mati.
Luas luka bakar Rule of Nine
PROSEDUR PERAWATAN LUKA BAKAR Persiapan pasien:
1. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan.
4. Memberikan pasien posisi menciptakan suasana yang nyaman
Persiapan Alat
1. Bak instrument yang berisi:
a) Pinset anatomis b) Pinset chirurgis c) Gunting debridemand d) Kassa steril
e) Kom: 3 buah
f) Peralatan lain terdiri dari:
g) Spuit 5 cc atau 10 cc h) Sarung tangan 2. Gunting plester 11. Plester atau perekat 12. NaCl 0,9%
13. Bengkok 2 buah, 1 buah berisi larutan desinfektant 14. Verband
15. Obat luka sesuai kebutuhan
PROSEDUR PELAKSANAAN A. Tahap Pra Interaksi
1. Melakukan verifikasi program pengobatan klien 2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan therapeutic 2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada
klien/keluarga
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
C. Tahap Kerja
1. Tahap mandi rendam a. Menjaga privacy
b. Sebelum mandi pasien diberikan analgesic supositoria
c. Membersihkan badan pasien terlebih dahulu dengan mandi rendam.
d. Menyiapkan air steril dan antiseptic.
e. Guyur dengan air sambil melepaskan jaringan- jaringan kulit mati (eskar) yang mudah dilepas dengan menggunakan pinset dan gunting (jangan dipaksakan apabila belum lepas)
f. Mengeringkan dengan kain lembut dengan cara ditekan perlahan (jangan di usapkan).
2. Tahap rawat luka
a. Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat jelas
b. Membuka peralatan dan mendekatkan alat
c. Memasang perlak/pengalas dan dekatkan bengkok ke pasien
d. Memakai sarung tangan steril
29
e. Apabila luka masih tertutup : buka balutan dengan hati-hati, bila sulit basahi dengan NaCl 0,9%
f. Observasi kondisi luka (warna, luas, kedalaman) g. Membersihkan luka dengan menggunakan NaCl
0,9%
h. Melakukan debridemand bila terdapat jaringan nekrotik. (Bila ada bula aspirasi dengan menggunakan spuit steril setelah bula maksimal) i. Membersihkan kembali luka dengan NaCl 0,9%
j. Mengeringkan luka dengan menggunakan kassa steril
k. Memberikan obat topical sesuai kondisi pada luka (dapat diberikan salep Silver Sulfa Diasil / SSD/
Burnazin cream) dengan ketebalan kurang lebih 0,5 cm di seluruh permukaan luka bakar.
l. Menutup luka dengan kassa steril, kemudian dipasang kasa (gulung )dan diplester
m. Merapikan pasien D. Tahap Terminasi
1. Mengevaluasi hasil tindakan 2. Membereskan dan kembalikan alat 3. Mencuci tangan
4. Dokumentasi
TUGAS MAHASISWA:
Carilah teman atau pasangan dan lakukanlah perawatan luka bakar!
Surabaya, ( ……….)
Case study :
Tn. A 35 tahun datang ke poli klinik dengan keluhan mata merah. Klien sering melalukan perjalanan dengan motor dan kena debu.
Questions:
1. Jelaskan tujuan pemberian obat pemberian mata ! 2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis obat tetes mata!
PEMBERIAN OBAT PADA MATA Praktikum 6
TEORI OBAT PADA MATA Pengertian
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata.
Tujuan pemberian obat pada mata diantaranya:
a. digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa,
b. digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
c. Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau kornea mata yang luka/ ulkus.
d. Obat mata kortikosteroid digunakan untuk radang atau alergi mata atau juga bengkak yang bisa disebabkan oleh alergi itu sendiri atau oleh virus. Karena infeksi mata oleh virus itu resisten terhadap pengobatan biasanya digunakan obat mata golongan kortikosteroid untuk menghilangkan gejalanya saja. Kalaupun dengan antiseptik hal itu menghindari infksi sekunder.
e. Gabungan antiseptik dengan kortikosteroid digunakan untuk masalah mata yang disebabkan oleh mikroba dan dengan keluhan bengkak/ radang juga gatal atau alergi.
f. Digunakan untuk keluhan mata karena habis operasi.
Prinsip pemberian obat mata
a. Kornea mata banyak disuplai serabut nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap apapun yang diberikan ke kornea. Oleh karena itu, perawat atau bidan menghindari obat mata apapun secara langsung ke kornea.
b. Resiko penularan infeksi dari satu mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat atau bidan menghindari menyentuh kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan alat tetes mata atau tube salep.
c. Perawat atau bidan menggunakan obat mata hana untuk mata yang terinfeksi.
Jenis- jenis obat mata
1. Antiseptik dan antiinfeksi mata
Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau kornea mata luka/ulkus. Kandungan obat antiseptik dan antiinfeksi mata selain pembawa yang harus steril dan inert (tidak menimbulkan efek pada mata atau tidak bereaksi dengan zat aktifnya/obat) dalam bentuk tetes atau salep, juga zat aktifnya merupakan antibiotik/antiseptik atau antivirus dengan berbagai golongan.
a. Sulfacetamid Na (Albucid®) a. Ciprofloxacin HCl (Baquinor® TM)
b. Ulkus kornea yang disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa, Serratia marcescens, Staphyllococcus aureus, Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae, Streptococcus viridans.
c. Tobramycin (Tobradex®)
d. Chloramphenicol dan kombinasinya
e. Sediaan Chloramphenicol: Colsancetine®, Cendo Fenicol®, Ikamicetin®.
f. Sediaan dgn kombinasi: Cendo Mycos® (dgn Hydrocortison).
g. Dibekacin Sulfat (Dibekacin Meiji® TM) h. Ofloxacin (Tarivid® TM, Cendo Floxa®)
i. Gentamycin Sulfat (Garamycin® TM, Sagestam®
TM, Cendo Gentamycin® TM)
j. Oxytetracycline dan turunannya (Terra-cotril®) k. Kombinasi Neomycin Sulfat dan antibiotik lainnya l. Untuk sediaan tetes mata Neomisin Sulfat dikombinasi
dengan Polymixin B Sulfat dan Phenylephrine atau Polymixin B Sulfat dan Gramicidin.
Sedangkan sediaan salep matanya Neomycin Sulfat dikombinasi dengan Polymixin B Sulfat atau Bacitracin m. Ofloxacin (Tarivid® TM)
n. Acyclovir
2. Anti Inflamasi
Peradangan pada mata sering disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur dan alergi. Gejala yang dirasakan pasien misalnya mata berair dan gatal, tampak kemerahan, adanya secret/kotoran mata, silau, buram atau kelopak mata bengkak. Pengobatan bergantung kepada penyebabnya dapat berupa antibiotika,anti inflamasi, anti alergi, anti jamur dan anti virus. Misalnya Cendo Lyteers®, Cendo Vision®, Vision® dan Voltaren Opthma®.
3. Midriatik Dan Cycloplegic
Digunakan untuk memperlebar pupil mata, biasanya digunakan bila akan dilakukan pemeriksaan pada mata untuk melihat detail mata.
Tetes mata midriatik secara temporer akan menstimulasi pelebaran otot iris pada mata.
Midriatik biasa digunakan untuk alasan berikut ini:
1. Relaksasi otot lensa mata dalam melakukan fokus mata.
2. Dalam operasi mata untuk menghindari luka gores dengan memperlebar pupil mata (misal: operasi katarak).
3. Untuk menghindari operasi katarak pada penderita katarak kecil yang masih kecil.
4. Post operatif Glaukoma.
5. Pada anak-anak penderita amblyopia (mata malas), midriatik digunakan sebagai terapi untuk pandangan mata agar otak anak terstimulasi.
Penggunaan Midriatik menyebabkan pelebaran pupil mata sehingga lebih sensitif terhadap cahaya. Oleh sebab itu penggunaan kacamata UV dapat membantu. Misalnya : Cendo Mydriatil ®
4. Miotik Dan Anti Glaukoma
Miotik digunakan dengan tujuan konstriksi/memperkecil pupil mata. Obat jenis ini bertolak belakang dengan penggunaan tetes mata midriatik. Sedangkan antiglaukoma digunakan untuk mencegah peningkatan Tekanan Intra Okular yang berakibat pada perubahan patologis optik mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Contoh sediaan,
misalnya: Azopt ® TM, Betoptima ® TM, Cendo Carpine ® TM, Cendo Timolol ®.
5. Anastetik Lokal
Anastetik local mata biasa digunakan untuk menimbulkan kekebalan atau mati rasa. Biasanya digunakan sebelum mengukur tekanan pada mata, menghilangkan objek asing dari mata dan sebelum melakukan beberapa pemeriksaan mata. Efek dari tetes mata anastetik biasanya selama 20 menit. Contoh sediaan Pantocain®.
6. Tonik
Tonik mata berfungsi sebagai penyegar dan mengatasi kelelahan pada mata. Penggunaannya juga mampu mempertajam penglihatan. Contoh sediaan, misalnya : Cendo Augentonic ®.
Indikasi dan kontra indikasi pemberian obat pada mata.
a. Indikasi
1. meredakan sementara mata merah akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari, pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang.
2. antiseptik dan antiinfeksi.
3. radang atau alergi mata.
b. Kontraindikasi
Obat tetes mata yang mengandungnafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak.
Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter.
Pemberian Obat Tetes Mata
Pemberian obat melalui mata adalah memberi obat kedalam mata berupa cairan dan salep.
Tujuan
a. Untuk mengobati gangguan pada mata
b. Untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan struktur internal mata
36
tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat di bawah kelopak mata.
b. Jika memasukan obat tetes atau salep mata, dengan tisu atau kapas diletakkan dibawah kelopak mata bawah, tekan kebawah dengan lembut, dengan ibu jari atau telunjuk pada lingkaran tulang mata.
c. Minta klien melihat kelangit-langit.
Obat tetes mata
a. Dengan tangan yang dominan pada dahi klien, pegang alat tetes mata berisi obat kira-kira sampai 2 cm diatas kantong konjungtiva.
b. Teteskan sejumlah tetesan yang diresepkan ke dalam kantong konjungtiva.
c. Jika klien mengedip atau menutup mata atau jika tetes mata jatuh dibatas mata luar, ulangi prosedur.
d. Ketika memberikan obat yang dapat menimbulkan efek sistemik, lindungi jari anda dengan tisu bersih dan beri tekanan lembut pada duktus nasolakrimalis klien selama 30 sampai 60 detik.
e. Setelah memasukkan obat, minta klien untuk menutup mata dengan lembut.
Obat tetes mata
a. Dengan memegang aplikator salep diatas batas kelopak mata, berikan aliran salep tipis merata disepanjang sisi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.
b. Minta klien melihat kebawah.
c. Berikan aliran tipis salep konjungtiva di sepanjang kelopak atas mata.
d. Minta klien menutup mata dan menggosok kelopak dengan lembut dalam gerakan memutar menggunakan kapas.
e. Jika terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, seka obat tersebut dengan lembut dari bagian dalam ke bagian luar kantus.
f. Plester dengan baik tanpa menekan mata.
36
c. Untuk melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi mata
d. Untuk mencegah ke keringan pada mata Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2. Pipet.
3. Pinset anatomi dalam tempatnya.
4. Korentang dalam tempatnya.
5. Plestier.
6. Kain kasa.
7. Kertas tisu.
8. Balutan.
9. Sarung tangan.
10. Air hangat/kapas pelembab.
a. Tetes atau salep mata
1. Botol obat dengan tetes mata steril atau tube salep.
2. Patch dan plester mata (bila perlu).
3. Kartu, format, atau huruf cetak nama obat.
4. Bola kapas atau tisu.
5. Wadah cuci berisi air hangat atau lap.
6. Sarung tangan sekali pakai.
Prosedur Pemberian Obat Pada Mata
1. Tinjau kembali program obat dari dokter, termasuk nama klien, nama obat, konsentrasi obat, jumlah tetesan obat (jika dalam bentuk cair), waktu dan mata (kanan atau kiri) yang menerima obat.
2. Jelaskan prosedur kepada klien
3. Minta klien untuk berbaring terlentang atau duduk dikursi dengan kepala sedikit hiperekstensi.
4. Cuci tangan
5. Siapkan peralatan dan suplai obat tetes atau salep mata 6. Kaji kondisi stuktur mata luar.
7. Bersihkan mata sebelum pemberian obat 8. Masukan obat tetes atau salep :
a. Jika memasukkan obat tetes atau salep mata, dengan tangan yang tidak dominan, pegang bola kapas atau
37
37
tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat di bawah kelopak mata.
b. Jika memasukan obat tetes atau salep mata, dengan tisu atau kapas diletakkan dibawah kelopak mata bawah, tekan kebawah dengan lembut, dengan ibu jari atau telunjuk pada lingkaran tulang mata.
c. Minta klien melihat kelangit-langit.
Obat tetes mata
a. Dengan tangan yang dominan pada dahi klien, pegang alat tetes mata berisi obat kira-kira sampai 2 cm diatas kantong konjungtiva.
b. Teteskan sejumlah tetesan yang diresepkan ke dalam kantong konjungtiva.
c. Jika klien mengedip atau menutup mata atau jika tetes mata jatuh dibatas mata luar, ulangi prosedur.
d. Ketika memberikan obat yang dapat menimbulkan efek sistemik, lindungi jari anda dengan tisu bersih dan beri tekanan lembut pada duktus nasolakrimalis klien selama 30 sampai 60 detik.
e. Setelah memasukkan obat, minta klien untuk menutup mata dengan lembut.
Obat tetes mata
a. Dengan memegang aplikator salep diatas batas kelopak mata, berikan aliran salep tipis merata disepanjang sisi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.
b. Minta klien melihat kebawah.
c. Berikan aliran tipis salep konjungtiva di sepanjang kelopak atas mata.
d. Minta klien menutup mata dan menggosok kelopak dengan lembut dalam gerakan memutar menggunakan kapas.
e. Jika terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, seka obat tersebut dengan lembut dari bagian dalam ke bagian luar kantus.
f. Plester dengan baik tanpa menekan mata.
9. Observasi resons klien terhadap pengobatan, perhatikan tanda dan gejala efek sistemik yang potensial dan kondisi mata.
10. Catat konsentrasi obat, jumlah tetesan atau cakram waktu pemberian dan mata yang menerima obat (kanan atau kiri).
TUGAS MAHASISWA:
Carilah pasangan teman saudara kemudian lakukan pemberian obat pada mata!
Nama Observer Hasil Observasi
Surabaya, Observer
( ……….)
Case study :
Tn. A 35 tahun datang ke poli klinik dengan keluhan mata sakit karena terkena air detergen. Klien kesakitan dan tidak bisa membuka mata.
Questions :
1. Apa yang harus dilakukan dengan pasien tersebut ! 2. Sebutkan indikasi dilakukan irigasi mata!
IRIGASI MATA Definisi
Irigasi mata adalah suatu cara untuk membersihkan dan atau mengeluarkan benda asing dari mata. Irigasi mata diberikan untuk mengaluarkan sekret atau kotoran dan benda asing dan zat kimia dari mata. Larutan garam fisiologis atau RL biasa dipergunakan karena merupakan larutan isotonik yang tidak merubah komposisi elektrolit yang diperlukan mata. Bila hanya memerlukan sedikit cairan, kapas steril dapat dipergunakan untuk meneteskan cairan kedalam mata.
Indikasi
Irigasi okuler diindikasikan untuk menangani berbagai inflamasi konjungtiva, mempersiapkan pasien untuk pembedahan mata, dan untuk mengangkat sekresi inflamasi.
Juga dipergunakan untuk efak antiseptiknya. Irigan yang dipakai bergantung pada kondisi pasien.
Indikasinya yaitu:
a. Cidera kimiawi pada mata b. Benda asing dalam mata c. Implamasi mata
IRIGASI MATA Praktikum 7
Kontraindikasi
Luka karna tusukan pada mata Komplikasi
1. Kemungkinan terjadi cidera perforasi pada mata bila irigasi dilakukan dengan tidak hati-hati
2. Kontaminasi silang pada mata yang sehat bila terdapat infeksi
konjungtiva
PROSEDUR IRIGASI MATA A. Pesiapan Pasien
1. Beri tahu informasi tentang rencana tindakan dengan komunoikasi teurapetik
2. Atur posisi pasien sesuai kebutuhan dengan memperhatikan kenyamanan dan privacy klien.
B. Alat irigasi terdiri atas:
1. Botol irigasi berisi larutan oftalmik steril (Blinx, Dacrios) 2. Mangkuk lengkung kecil
3. Sarung tangan
4. Kapas untuk menyerap cairan dan eksresi
5. Dispenser plastik dengan penutup dan label untuk tempat larutan
C. Prosedur kerja:
1. Tahap Pra Interaksi
a. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada b. Mencuci tangan
c. Meletakan alat – alat di dekat pasien dengan benar 2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakanpada
keluarga/ klien
c. Menanyakan kesiapan pasien sebelum kegiatan dilakukan
3. Tahap Kerja
a) Menjaga privacy
b) Posisikan pasien telentang (supinasi) atau duduk dengan kepala dicondongkan ke belakang dan sedikit miring ke samping
c) Bila pasien diduduk, mangkuk dapat dipegang oleh pasien. Bila pasien berbaring, letakkan mangkuk di dekat pasien sehingga dapat menampung cairan dan sekret.
d) Perawat berdiri di depan pasien.
e) Bersihkan kelopak mata dengan teliti untuk mengangkat debu, sekresi, dan keropeng (memegang kelopak dengan ibu jari dan satu jari tangan).
f) Bilas mata dengan lembut, mengarahkan cairan menjauhi hidung dan kornea.
g) Keringkan pipi dan mata dengan kapas.
4. Tahap Terminasi
a) Melakukan evaluasi tindakan
b) Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya c) Berpamitan dengan klien
d) Membereskan alat – alat dan mencuci tangan
e) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
TUGAS MAHASISWA:
Lakukanlah prosedur irigasi mata!
Nama Observer Hasil Observasi
Surabaya, Observer
( ……….)
44
CASE STUDY :
Mahasiswa akan melakukan tindakan irigasi telinga QUESTIONS :
1. Jelaskan pengertian irigasi telinga 2. Jelaskan tujuan irigasi telinga
3. Sebutkan Indikasi dan kontraindikasi irigasi telinga TINJAUAN TEORI
IRIGASI TELINGA Pengertian
Irigasi telinga adalah suatu tindakan medis yang bertujuan untuk membersihkan liang telinga luar dari nanah, serumen, dan benda – benda asing dengan cara memasukkan cairan (air hangat kuku) ke dalam telinga.
Tujuan
Untuk membersihkan atau mengeluarkan benda asing dari dalam telinga.
Indikasi:
1. Sumbatan serumen.
2. Adanya benda asing dalam telinga.
Kontra Indikasi:
Gangguan pada membran tympani.
Kemungkinan Komplikasi:
Ruptur (pecah) pada membran tympani.
IRIGASI TELINGA Praktikum 8
Irigasi Telinga Persiapan Alat:
1. Alat irigasi telinga dengan penghisap (peralatan dapat bervariasi dari sprit balon sampai water pik) bila tersisa.
2. Sediakan forset telinga.
3. Air (sama dengan suhu tubuh)
4. Basin (bengkok) untuk menampung cairan.
5. Handuk/laken untuk menutupi pakaian pasien.
Prosedur Kerja:
1. Kumpulkan semua peralatan.
2. Identifikasi pasien.
3. Jelaskan prosedur tindakan pada pasien.
4. Cuci tangan.
5. Tutupi pasien dengan handuk/laken.
6. Berikan pasien posisi duduk.
7. Tarik aurikel (daun telinga) ke atas dan ke belakang.
8. Arahkan aliran cairan dari bagian atas liang telinga menggunakan spuit balon/water pik.
9. Keringkan bagian luar telinga setelah irigasi telinga dilakukan.
Tindak Lanjut:
1. Kaji keberhasilan irigasi telinga.
2. Kaji rasa nyaman pasien.
3. Bersihkan peralatan.
Dokumentasi:
1. Tanggal dan waktu prosedur.
2. Tipe dan jumlah cairan.
3. Toleransi pasien terhadap prosedur.
4. Karakter cairan yang keluar.
5. Intruksi-intruksi yang diperlukan oleh pasien atau keluarga.
TUGAS MAHASISWA:
Carilah pasangan teman saudara kemudian lakukan irigasi telinga!
Nama Observer Hasil Observasi
Surabaya, Observer
( ……….)
CASE STUDY :
Mahasiswa akan melakukan tindakan pemberian obat telinga QUESTIONS :
TINJAUAN TEORI Pemberian Obat Telinga:
Memberikan obat pada telinga dilakukan dengan obat tetes telinga atau salep. Pada umumnya obat tetes telinga yang dapat berupa obat antibiotik diberikan pada gangguan infeksi telinga, khususnya otitis media pada telinga tengah.
Tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat ke dalam telinga dalam bentuk larutan, suspensi atau salep yang digunakan pada telinga dengan cara diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga. Pada umumnya obat tetes telinga yang dapat berupa obat antibiotik diberikan pada gangguan infeksi telinga, khususnya otitis media pada telinga tengah.
Bahan obat yang dimasukkan ke dalam saluran telinga, yang dimaksudkan untuk efek lokal, dimana bahan – bahan obat tersebut dapat berupa anestetik lokal, peroksida, bahan – bahan antibakteri dan fungisida, yang berbentuk larutan, digunakan untuk membersihkan, menghangatkan, atau mengeringkan telinga bagian luar.
Persiapan Alat dan Bahan : 1. Obat dalam tempatnya.
2. Penetes.
PEMBERIAN OBAT TELINGA Praktikum 9
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kassa.
8. Kertas tissu.
9. Balutan.
Prosedur Kerja : 1. Cuci Tangan.
2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan kepala miring ke kanan atau ke kiri sesuai dengan daerah yang akan diobati, usahakan agar lubang telinga pasien ke atas.
4. Luruskan lubang telinga dengan menarik daun telinga ke atas/ ke belakang pada orang dewasa dan ke bawah pada anak.
5. Apabila obat berupa obat tetes, maka teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dosis pada dinding saluran untuk mencegah terhalang oleh gelembung udara.
6. Apabila berupa salep, maka ambil kapas lidi dan masukkan atau oleskan salep pada liang telinga.
7. Pertahankan posisi kepala selama 2-3 menit.
8. Tutup telinga dengan kassa dan plester kalau perlu 9. Cuci tangan
10. Catat jumlah, tanggal dan dosis pemberian
TUGAS MAHASISWA:
Carilah pasangan teman saudara kemudian lakukan pemberian obat pada telinga!
Nama Observer Hasil Observasi
Surabaya, Observer
( ……….)
DAFTAR PUSTAKA