BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan selama 3 hari di fakultas psikologi UKSW terhadap mahasiswa angkatan 2012. Persiapan lainnya meminta izin kepada dekan fakultas dan memperbanyak skala psikologi. Selain itu terdapat juga hasil perhitungan dengan menggunakan korelasi Pearson, uji t- 2 sampel bebas dan anava 2 arah. Terdapat 6 variabel yang diuji, dimana 1 variabel korelasi, 2 variabel pengaruh, dan 3 variabel tentang perbedaan.
1.1Orientasi Kancah Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 3 hari dari tanggal 7 – 9 mei 2014, sampel penelitiannya diambil dari mahasiswa angkatan 2012 yang mengikuti 2 kelas paralel mata kuliah statistika lanjutan (II) semester antara 2013-2014 berjumlah 55 orang (19 laki-laki dan 36 perempuan) di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Fakultas Psikologi merupakan salah satu Fakultas yang berada dalam Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Pelaksanaan perkuliahan dalam Fakultas psikologi mengikuti kurikulum yang di berikan oleh DIKTI dan dikembangkan oleh Fakultas Psikologi. Kurikulum yang diberikan menuntut untuk mahasiswa bukan hanya menerima pelajaran, tetapi juga untuk berperan aktif dalam perkuliahan seperti berani menyampaikan pendapat di kelas, aktif bertanya, berani
berdebat, berani berbicara di depan kelas dan juga dalam kelompok, serta percaya diri. Fakultas Psikologi juga membuat Gaftar Alir Sistem kredit Semester yang bertujuan untuk mempermudah mahasiswa dalam mengambil mata kuliah sesuat dengan bakat dan minatnya.
1.2Persiapan Penelitian 1.2.1 Penyusunan Alat Ukur
Alat ukur penelitian ini menggunakan tiga angket yaitu skala Kecerdasan Emosi, Konsep Diri dan Perilaku Asertif.
1.2.2 Skala Emotional Intellegence
Skala Emotional Intellegence dibagi menjadi 2 yaitu favourable dan unfavourabel. Item pernyataan terdapat 20 item dengan perincian 11 untuk favourable dan 9 untuk unfavoriabel. Kriteria skoring untuk item favourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 4, Sesuai (Skala) mendapat skor 3, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 2, dan untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 1. Kriteria skoring untuk aitem unfavourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 1, jawaban Sesuai (Skala) akan mendapat skor 2, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 3, dan Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 4, kemudian peneliti
menghitung dan menganalisis skor item dari skala kecerdasan emosi (emotional intellegence)
Tabel 4.1
Sebaran Item Emotional Intellegence
Aspek Favorable Unfavorable Total
Memotivasi diri sendiri 11, 16, 20 1, 6 5
Mengelola emosi 2, 12 9,10,19 5
Mengenali emosi diri 3, 8, 18 7, 15 5 Mengenali emosi orang
lain atau empati
5, 14, 17 4, 13 5
Total 11 9 20
1.2.3 Skala Self Concept
Skala Konsep Diri menggunakan semua item favourable. Item pernyataan terdapat 17 item dengan perincian 17 item semuanya untuk favourable. Kriteria skoring untuk item favourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 4, Sesuai (Skala) mendapat skor 3, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 2, dan untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 1. Kriteria skoring untuk aitem unfavourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 1, jawaban Sesuai (Skala) akan mendapat skor 2, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 3, dan Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 4, kemudian peneliti menghitung dan menganalisis skor item dari skala konsep diri.
Tabel 4.2
Sebaran Item Konsep Diri
Aspek Favorable Total
Konsep diri fisik 1,5,9,12,14,16 6 Konsep diri akademik 2,4,6,8,10,13,15 7 Konsep diri sosial 3,7,11,17 4
Total 17 17
1.2.4 Skala Perilaku Asertif
Skala Perilaku Asertif dibagi menjadi 2 yaitu favourable dan unfavourabel. Item pernyataan terdapat 28 item dengan perincian 16 untuk favourable dan 12 untuk unfavoriabel. Kriteria skoring untuk item favourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 4, Sesuai (Skala) mendapat skor 3, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 2, dan untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 1. Kriteria skoring untuk aitem unfavourabel adalah untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) akan mendapat skor 1, jawaban Sesuai (Skala) akan mendapat skor 2, Tidak Sesuai (TS) mendapat skor 3, dan Sangat Tidak Sesuai (STS) akan mendapat skor 4, kemudian peneliti menghitung dan menganalisis skor item dari skala konsep diri dan skala perilaku asertif.
Tabel 4.3
Sebaran Item Perilaku Asertif
Aspek Favorable Unfavorable Total
Isi 5, 10, 15, 19 12, 24, 28 7
Paralinguistic 2, 9, 17, 21 8, 14, 22 7 perilaku non verbal 6, 11, 16, 25 3, 18, 27 7 kemampuan
berinteraksi yang baik dengan lingkungan.
1, 23, 26, 13 4, 7, 20 7
Total 16 12 28
1.3 Persiapan Perijinan Penelitian
Sebelum penelitian dilaksanakan peneliti terlebih dahulu perlu memperoleh ijin dari lembaga yang diteliti. Peneliti meminta surat permohonan ijin penelitian pada Dekan Fakultas Psikologi UKSW untuk disampaikan kepada Fakultas Psikologi UKSW.
1.4 Tahap Analisis Data
Setelah semua data telah terkumpul, maka langkah selanjutnya melakukan analisa data. Tahapan analisa data yaitu sebagai berikut:
a. Pengecekan semua data yang terkumpul b. Penskoran jawaban
c. Data diinput dalam komputer dan dihitung menggunakan SPSS 17
d. Analisa data dan interpretasi hasil yang telah diperoleh
1.5 Pelaksanaan Penelitian
Setelah melaksanakan beberapa persiapan, selanjutnya penelitian ini dilakukan selama 3 hari dari tanggal 7 – 9 mei 2014, sampel penelitiannya diambil dari 2 kelas paralel mata kuliah statistika lanjutan (II) semester antara 2013-2014 berjumlah 55 orang (19 laki-laki dan 36 perempuan) di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Jumlah skala atau angket yang disebar adalah sebanyak 55 angket, 19 laki-laki dan 36 perempuan. Maka hanya 55 skala yang dapat dikumpulkan kembali dalam keadaan baik, valid dan dapat dianalisis. Setelah dilakukan skoring, langkah selanjutnya adalah menginput data secara komputerisasi dan kemudian melakukan perhitungan dengan bantuan aplikasi SPSS 17.
1.6 Hasil Uji Coba Alat Ukur
1.6.1 Validitas Aitem Skala Emotional Intellegence
Pada suatu kesempatan, Azwar (2012; 95) menjelaskan bahwa item-item yang memiliki item total correlation kurang dari 0,3 dianggap kurang valid sehingga harus dikeluarkan atau gugur, sementara item-item yang memiliki item total correlation yang lebih besar dari 0,3 dianggap valid atau sebagai aitem yang validitasnya memuaskan.
Analisa koefisien korelasi aitem total dalam penelitian ini dicari dengan criteria internal yaitu mengkorelasikan skor masing-masing dengan skor totalnya. Cara yang digunakan untuk menghitung korelasi skor masing-masing item dengan skor totalnya adalah dengan program SPSS versi 17 memakai teknik korelasi product moment. Analisis korelasi product moment merupakan analisis untuk menguji seleksi aitem instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data penelitian yang dimaksud (Azwar, 2012; 81). Uji asumsi dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson.
Dari hasil pengujian terhadap 20 item skala emotional intellegence, diperoleh 3 item yang gugur dan 17 item yang valid. Item-item yang gugur adalah, 3, 7, 11. Selanjutnya dari 17 item yang sahih diperoleh nilai seleksi aitem dari skala emotional intellegence berkisar pada rit antara 0,353 - 0,657. Adapun rincian sebaran item Skala emotional intellegence setelah dilakukan seleksi aitem dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4
Skala Emotional Intellegence setelah Seleksi Aitem
1.6.2 Validitas Aitem Skala Self Concept
Pada suatu kesempatan, Azwar (2012; 95) menjelaskan bahwa item-item yang memiliki item total correlation kurang dari 0,3 dianggap kurang valid sehingga harus dikeluarkan atau gugur, sementara item-item yang memiliki item total correlation yang lebih besar dari 0,3 dianggap valid atau sebagai aitem yang validitasnya memuaskan.
Analisa koefisien korelasi aitem total dalam penelitian ini dicari dengan criteria internal yaitu mengkorelasikan skor masing-masing dengan skor totalnya. Cara yang digunakan untuk menghitung korelasi skor masing-masing item dengan skor totalnya adalah dengan program SPSS versi 17 memakai teknik korelasi product moment. Analisis korelasi product moment merupakan analisis untuk menguji seleksi aitem instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data penelitian yang dimaksud (Azwar, 2012; 81).
No Aspek Aspek Favoriable Unfavorable Jumlah Sahih
Sahih Gugur Sahih Gugur
1 Memotivasi diri sendiri 16, 20 11 1, 6 4
2 Mengelola emosi 2, 12 10, 9, 19 5
3 Mengenali emosi diri 8, 18 3 15 7 3
4 Mengenali emosi orang lain atau empati
5, 14, 17
4,`13 5
Dari hasil pengujian terhadap 17 item skala self concept, diperoleh 1 item yang gugur dan 16 item yang valid. Item yang gugur adalah 6. Selanjutnya dari 17 item diperoleh nilai seleksi aitem dari skala self concept berkisar rit antara 0,348 – 0,704. Adapun rincian sebaran item Skala self concept setelah dilakukan uji validitas dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.5
Skala Self Concept Setelah Uji Seleksi Aitem
1.6.3 Validitas Aitem Skala Perilaku Asertif
Pada suatu kesempatan, Azwar (2012; 95) menjelaskan bahwa item-item yang memiliki item total correlation kurang dari 0,3 dianggap kurang valid sehingga harus dikeluarkan atau gugur, sementara item-item yang memiliki item total correlation yang lebih besar dari 0,3 dianggap valid atau sebagai aitem yang validitasnya memuaskan.
Analisa koefisien korelasi aitem total dalam penelitian ini dicari dengan criteria internal yaitu mengkorelasikan skor masing-masing dengan skor totalnya. Analisis korelasi
No Aspek Aspek Favoriable Jumlah
Sahih Sahih Gugur
1 Konsep diri fisik 1, 5, 9, 12, 14, 16
6 2 Konsep diri akademik 2, 4, 8, 10,
13, 15
6 6
3 Konsep diri sosial 3, 7, 11, 17 4
product moment merupakan analisis untuk menguji seleksi aitem instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data penelitian yang dimaksud (Azwar, 2012; 81). Uji asumsi dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson.
Dari hasil pengujian terhadap 28 item skala perilaku asertif, diperoleh 8 item yang gugur dan 28 item yang valid. Item-item yang gugur adalah, 3, 4, 15, 16, 18, 19, 20, 26. Selanjutnya dari 28 item yang sahih diperoleh nilai seleksi aitem dari skala perilaku asetif berkisar pada rit antara 0,323 - 0,618. Adapun rincian sebaran item Skala perilaku asertif setelah dilakukan seleksi aitem dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini.
Tabel 4.6
Skala Perilaku Asertif setelah Seleksi Aitem
No Aspek Aspek Favoriable Unfavorable Jumlah Sahih
Sahih Gugur Sahih Gugur
1 Isi 5,10 15, 19 12, 24, 28 5 2 Paralinguistic 2,9,17, 21 8,14,22 7
3 perilaku non verbal 6,11,25 16 27 3, 18 4 4 kemampuan berinteraksi yang baik dengan lingkungan. 1,23,13 26 7 4, 20 4 Total 12 4 8 4 20
1.7 Hasil Uji Reliabilitas
Alat ukur dikatakan reliabel bila mampu menunjukkan sejauh mana alat ukur tersebut memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan metode “internal consistency” yang merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menguji sampai sejauh mana pengukuran memberikan hasil yang relatif tidak beda bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama, salah satu formulanya yang popular adalah formula koefisien alpha (
) yang diperoleh melalui sekali penyajian data pada sekelompok responden, (Azwar, 2012: 115). Dalam penelitian ini, perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS versi 17.Uji reliabilitas emotional intellegence menggunakan teknik analisis Alpha Cronbach dengan bantuan SPSS 17. Hasil perhitungan reliabilitas emotional intellegence menunjukkan alpha sebesar 0,855 artinya reliabel.
Sedangkan dari hasil perhitungan reliabilitas self concept menunjukkan alpha sebesar 0, 899 artinya sangat reliabel. Perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada lampiran.
Sedangkan dari hasil perhitungan reliabilitas Perilaku Asertif menunjukkan alpha sebesar 0,844 artinya sangat reliabel. Perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada lampiran.
1.8 Hasil Uji Asumsi
Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis korelasi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas sebaran dan uji linearitas.
1.8.1 Uji Normalitas
Dalam penelitian ini pengujian normalitas dilakukan dengan melihat grafik P-P Plot. Normalitas dideteksi dengan melihat titik-titik yang mendekati garis linear yang bergerak dari kiri ke bawah ke kanan atas. Bila titik-titik tersebut mengikuti garis linear, berarti data terdistribusi secara normal dan analisa dapat dilanjutkan (Santoso, 2000). Uji normalitas diperlukan untuk menjawab pertanyaan apakah syarat sampel yang representative terpenuhi atau tidak, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi (Yulius, 2010: 142). Data akan dikatakan normal jika nilai p > 0,05. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan tehnik One Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test dengan menggunakan aplikasi SPSS 17 (Yulius, 2010: 143).
Hasil uji normalitas terhadap ketiga variabel akan dijelaskan pada Tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.7
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 55
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 3.11183716
Most Extreme Differences Absolute .105
Positive .078
Negative -.105
Kolmogorov-Smirnov Z .778
Asymp. Sig. (2-tailed) .580
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan data hasil uji normalitas dapat diketahui bahwa distribusi skor subjek pada skala emotional intellegence, self concept dan skala perilaku asertif mempunyai sebaran normal. Untuk lebih jelas dapat di lihat dari histogram dan p-p plot berikut ini.
4.8.2 Uji Linearitas
Pengujian linearitas di maksudkan untuk mengetahui linearitas hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung, selain itu uji linearitas ini juga diharapkan dapat mengetahui taraf signifikansi penyimpangan dari linearitas hubungan tersebut. Apabila penyimpangan yang dilihat
tidak signifikan, maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah linier (Hadi, 2000).
Tabel 4.8
Hasil Uji Linearitas EI Dengan Prilaku Asertif
ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. perilaku.asertif * emotional.intell egence Between Groups (Combined) 1422.456 20 71.123 3.781 .000 Linearity 262.524 1 262.524 13.957 .001 Deviation from Linearity 1159.932 19 61.049 3.246 .011
Within Groups 639.544 34 18.810
Total 2062.000 54
Berdasarkan tabel 4.8 hasil pengujian linearitas variabel emotional intelligence dengan prilaku asertif di atas, di peroleh nilai deviation from linearity F= 3.246 dengan p= 0,011 ( p > 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara emotional intelligence dan skala perilaku asertif berkorelasi linier.
Tabel 4.9
Hasil Uji Linearitas SC Dengan Prilaku Asertif
ANOVA Table Sum of Squares Df Mean Square F Sig. perilaku.asertif * self.concept Between Groups (Combined) 1594.833 22 72.492 4.966 .000 Linearity 1331.321 1 1331.32 1 91.193 .000 Deviation from Linearity 263.513 21 12.548 .860 .636
Within Groups 467.167 32 14.599
Total 2062.000 54
Berdasarkan tabel 4.9 hasil pengujian linearitas variabel self concept dengan prilaku asertif di atas, di peroleh nilai deviation from linearity F= 0.860 dengan p= 0,636 ( p > 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara self concept dan skala perilaku asertif berkorelasi linier.
1.9 Hasil Analisis Deskriptif
Deskripsi data disajikan untuk mengetahui karakteristik data pokok yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Deskripsi data yang dimaksud diantaranya adalah skor terendah dan skor tertinggi sehingga nampak rentang datanya, nilai rata-rata, standar deviasi, modus, median, varian dan distribusi frekuensi yang disertai histogram. Data-data tersebut dihitung secara komputerisasi dengan program SPSS 17.
1.9.1Kecerdasan emosi
Dalam Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel kecerdasan emosi mempunyai item valid 17 item dengan jumlah subyek (N) sebanyak 55, dengan penilaian pada setiap item dengan pemberian angka berjenjang dari skor 1 sampai 4 menurut jenis itemnya: favourabel dan unfavourabel.
Dalam penentuan tinggi dan rendahnya hasil pengukuran variabel kecerdasan emosi digunakan 2 kategori yaitu tinggi dan rendah. Jumlah pilihan pada masing-masing item adalah 4. Skala kecerdasan emosi terdiri atas 20 item pertanyaan dengan jumlah skor maksimal yang diperoleh skor maksimal yaitu 80 dan skor minimal yaitu 51, maka diperoleh interval sebagai berikut :
i = skor maksimum – skor minimum banyaknya ketegori i = 5 51 80 i = 5 29 i = 5.8
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditentukan kategori sebagai berikut :
51
x < 56.8 :sangat rendah 56.8
x < 62.6 :rendah62.6
x < 68.4 :sedang 68.4
x < 74.2 :tinggi74.2
x < 80 :sangat tinggiFrekuensi dan prosentase hasil pengukuran variabel kecerdasan emosi berdasarkan kategori tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10
Hasil Pengukuran Variabel Kecerdasan Emosi
Skor Kategori F % Mean SD Max Min
51
x < 56.8 Sangat rendah 5 2.75 56.8
x < 62.6 Rendah 22 12.1 87.7 6.8 109 77 62.6
x < 68.4 Sedang 20 11 68.4
x < 74.2 Tingi 6 3.3 74.2
x < 80 Sangat tinggi 2 1.1Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kecerdasan emosi pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW, memiliki rata-rata 87.7 dengan standart deviasi 6.8. Terdapat mahasiswa Psikologi yang memiliki kecerdasan emosi sangat rendah 2.75%, kategori rendah 12.1%, kategori sedang 11%, kategori tinggi 3.3% dan kategori sangat tinggi 1.1%. Jadi dapat dikatakan bahwa tingkat kecerdasan emosi mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW termasuk dalam kategori rendah.
1.9.2 Konsep Diri
Dalam Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel konsep diri mempunyai item valid 17 item dengan jumlah subyek (N) sebanyak 55, dengan penilaian pada setiap item dengan pemberian angka berjenjang dari skor 1 sampai 4 menurut jenis itemnya: favourabel dan unfavourabel.
Dalam penentuan tinggi dan rendahnya hasil pengukuran variabel konsep diri digunakan 5 kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Jumlah pilihan pada masing-masing item adalah 4. Skala konsep diri terdiri atas 17 item pertanyaan dengan jumlah skor maksimal yang diperoleh skor maksimal yaitu 68 dan skor minimal yaitu 39, maka diperoleh interval sebagai berikut :
i = skor maksimum – skor minimum banyaknya ketegori i = 5 39 68 i = 5 29 i = 5.8
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditentukan kategori sebagai berikut :
39
x < 44.8 :sangat rendah 44.8
x < 50.6 :rendah56.4
x < 62.2 :tinggi62.2
x < 68 :sangat tinggiFrekuensi dan prosentase hasil pengukuran variabel konsep diri berdasarkan kategori tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11
Hasil Pengukuran Variabel Konsep Diri
Skor Kategori F % Mean SD Max Min
39
x < 44.8 Sangat rendah 6 10.9 44.8
x < 50.6 Rendah 24 43.6 63.1 5.8 80 51 50.6
x < 56.4 Sedang 16 29 56.4
x < 62.2 Tinggi 6 10.9 62.2
x < 68 Sangat tinggi 3 5.4Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa konsep diri pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW, memiliki rata-rata 63.1 dengan standart deviasi 5.8. Terdapat mahasiswa Psikologi yang memiliki kecerdasan emosi sangat rendah 10.9%, kategori rendah 43.6%, kategori sedang 29%, kategori tinggi 10.9% dan kategori sangat tinggi 5.4%. Jadi dapat dikatakan bahwa tingkat konsep diri mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW termasuk dalam kategori rendah.
1.9.3 Perilaku Asertif
Dalam Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel perilaku asertif mempunyai item valid 20 item dengan jumlah subyek (N) sebanyak 55, dengan penilaian
pada setiap item dengan pemberian angka berjenjang dari skor 1 sampai 4 menurut jenis itemnya: favourabel dan unfavourabel.
Dalam penentuan tinggi dan rendahnya hasil pengukuran variabel perilaku asertif digunakan 5 kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Jumlah pilihan pada masing-masing item adalah 4. Skala perilaku asertif terdiri atas 28 item pertanyaan dengan jumlah skor maksimal yang diperoleh skor maksimal yaitu 109 dan skor minimal yaitu 77, maka diperoleh interval sebagai berikut :
i = skor maksimum – skor minimum banyaknya ketegori i = 5 77 109 i = 5 32 i = 6.4
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditentukan kategori sebagai berikut : 77
x < 83.4 :sangat rendah 83.4
x < 89.8 :rendah 89.8
x < 96.2 :sedang 96.2
x < 102.6 :tinggi 102.6
x < 109 :sangat tinggiFrekuensi dan prosentase hasil pengukuran variabel perilaku asertif berdasarkan kategori tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 4.12
Hasil Pengukuran Variabel Perilaku Asertif
Skor Kategori F % Mean SD Max Min
77
x < 83.4 Sangat rendah 19 34.5 83.4
x < 89.8 Rendah 12 21.8 89.8
x < 96.2 Sedang 20 36.4 51 6.2 68 39 96.2
x < 102.6 Tinggi 2 3.6 102.6
x < 109 Sangat tinggi 2 3.6Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa perilaku asertif pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW, memiliki rata-rata 51 dengan standart deviasi 6.2. Terdapat mahasiswa Psikologi yang memiliki kecerdasan emosi sangat rendah 34.5%, kategori rendah 21.8%, kategori sedang 36.4%, kategori tinggi 3.6% dan kategori sangat tinggi 3.6%. Jadi dapat dikatakan bahwa tingkat perilaku asertif mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW termasuk dalam kategori sedang.
1.10 Uji Korelasi
Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosi (X1), Konsep diri (X2) dan perilaku asertif (Y). Maka, penelitian ini menggunakan analisis korelasi ganda (multiple correlation). Korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah dan
kuatnya hubungan antara dua variabel independen secara bersama-sama atau lebih dengan satu variabel dependen, oleh Sugiono (2010: 231-232).
.
Hipotesa 1: Ada hubungan yang positif antara emotional intelligence dan self concept dengan perilaku asertif pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW.
Tabel 4.13
Hasil Uji Korelasi Berganda
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1539.089 2 769.545 76.526 .000a
Residual 522.911 52 10.056
Total 2062.000 54
a. Predictors: (Constant), self.concept, emotional.intellegence
b. Dependent Variable: perilaku.asertif
Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .864a .746 .737 3.171
a. Predictors: (Constant), self.concept, emotional.intellegence
Berdasarkan hasil analisis data variabel emotional intelligence diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.864; t.s < 0.05,
sumbangan efektifnya 74.6%. Jadi dengan demikian terdapat hubungan yang positif antara emotional intelligence dan self concept dengan perilaku asertif pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW.
1.11 Analisis Varians (Anava)
Analisis varians dalam penelitian ini menggunakan anava 2 arah. Hal ini di karenakan, sampel penelitian berasal dari kelompok yang independen yaitu; mahasiswa fakultas psikologi angkatan 2013 yang mengambil mata kuliah statistika lanjutan (II) semester antara 2013-2014 berjumlah 55 orang (19 laki-laki dan 36 perempuan). Apabila nilai signifikansinya < 0.05 maka Ho diterima atau terdapat interaksi oleh Yulius (2010: 97).
Hipotesis 2: Ada pengaruh interaksi antara emotional intellegence dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW.
Gambar 4.2 Hasil Uji Interaksi
Dari gambar 4.2 diatas, dapat dilihat bahwa tidak ada interaksi antara emosional intellegence dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif. Hal ini dapat dilihat dari garis pada gambar yang tidak bersilangan sehingga, menunjukkan tidak ada interaksi.
Levene's Test of Equality of Error Variancesa
Dependent Variable:perilaku.asertiff
F df1 df2 Sig.
56.833 3 51 .000
Tests the null hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across groups.
Tabel 4. 14
Hasil Uji Anava 2 Arah
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:perilaku.asertiff
Source
Type III Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 2.190a 2 1.095 12.254 .000 Intercept 64.490 1 64.490 721.726 .000 emotional.intellegence 2.067 1 2.067 23.132 .000 jenis.kelamin .062 1 .062 .692 .409 Error 4.646 52 .089 Total 79.000 55 Corrected Total 6.836 54
a. R Squared = .320 (Adjusted R Squared = .294)
Hasil uji anova 2 arah antara variabel emotional intellegence dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif tidak menunjukkan interaksi yang signifikan F = 0.692 dan signifikansi 0.409 (t.s > 0.05), adjust R Squared 0.294 berarti sebesar 29.4%.
Hipotesis 3: Ada pengaruh interaksi antara self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW.
Gambar 4.3
Levene's Test of Equality of Error Variancesa
Dependent Variable:perilaku.asertiff
F df1 df2 Sig.
10.117 3 51 .000
Tests the null hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across groups.
a. Design: Intercept + self.conceptt + jenis.kelamin
Gambar 4.4 Hasil uji Interaksi
Dari gambar 4.4 diatas, dapat dilihat bahwa tidak ada interaksi antara self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif. Hal ini dapat dilihat dari garis pada gambar yang tidak bersilangan sehingga, menunjukkan tidak ada interaksi.
Tabel 4. 15
Hasil Uji Anava 2 Arah
Hasil uji anova 2 arah antara variabel self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif tidak menunjukkan interaksi yang signifikan F = 0.189 dan signifikansi 0.666 (t.s > 0.05), adjust R Squared 0.075 berarti sebesar 75 %.
1.12 Uji –t 2 sampel bebas
Hubungan variabel independen secara parsial dengan variabel dependen, akan diuji dengan uji t dengan membandingkan ttabel dengan thitung, oleh Yulius, (2010: 79).
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:perilaku.asertiff
Source
Type III Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
Corrected Model .750a 2 .375 3.204 .049 Intercept 61.603 1 61.603 526.325 .000 self.conceptt .627 1 .627 5.359 .025 jenis.kelamin .022 1 .022 .189 .666 Error 6.086 52 .117 Total 79.000 55 Corrected Total 6.836 54
Hipotesis 4: Ada perbedaan yang signifikan emotional intelligence ditinjau dari jenis kelamin.
Tabel pertama uji t 2 sampel bebas data rata-rata emosional intelligence terhadap jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) di UKSW.
Tabel 4.16
Rata-rata emosional intelligence terhadap jenis kelamin
Group Statistics jenis.kelam in N Mean Std. Deviation Std. Error Mean emotional.in tellegence Laki-laki 36 86.5833 5.98749 .99791 perempuan 19 89.7895 7.94131 1.82186
Pada tabel diatas diketahui bahwa perempuan memiliki rata-rata emotional intelligence lebih tinggi dari pada laki-laki. Pada perempuan emotional intelligence rata-rata sebesar 89.789 dan pada laki-laki 86.587.
Tabel 4.17
Hasil Uji t- 2 sampel bebas emotional intellegence
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper emotional .intellege nce Equal variances assumed .369 .546 -1.684 53 .098 -3.20614 1.90417 -7.02542 .61314 Equal variances not assumed -1.543 29.075 .134 -3.20614 2.07726 -7.45414 1.04186
Berdasarkan tabel diatas, maka pertama dilakukan uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 0.369 > 0.05 maka kedua varian adalah beda (varian data kecerdasan emosi laki-laki dan perempuan adalah beda). Maka uji t menggunakan output equal variances not assumed (diasumsikan varians beda). Lalu dilakukan uji t 2 sampel bebas. Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006. Sedangkan thitung = 1.684. Jadi 1.684 < 2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan emotional intelligence ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.546 > 0.05.Hipotesis 5: Ada perbedaan yang signifikan self concept ditinjau dari jenis kelamin.
Tabel pertama uji t 2 sampel bebas data rata-rata self concept terhadap jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) di UKSW.
Tabel 4.18
Rata-rata self concept terhadap jenis kelamin
Pada tabel diatas diketahui bahwa perempuan memiliki rata-rata self concept lebih tinggi dari pada laki-laki. Pada perempuan self concept rata-rata sebesar 64.631 dan pada laki-laki 62.305. Group Statistics jenis.kelam in N Mean Std. Deviation Std. Error Mean self.concept Laki-laki 36 62.3056 6.09833 1.01639 Perempua n 19 64.6316 5.10131 1.17032
Tabel 4.20
Hasil Uji t- 2 sampel bebas self concept
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T Df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper self.concept Equal variances assumed 1.033 .314 -1.419 53 .162 -2.32602 1.63874 -5.61291 .96087 Equal variances not assumed -1.501 42.85 .141 -2.32602 1.55006 -5.45233 .80029
Berdasarkan tabel diatas, maka pertama dilakukan uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 1.033 > 0.05 maka kedua varian adalah beda (varian data konsep diri laki-laki dan perempuan adalah beda). Maka uji t menggunakan output equal variances not assumed (diasumsikan varians beda). Lalu dilakukan uji t 2 sampel bebas. Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006 Sedangkan thitung = 1.419 Jadi 1.419 < 2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan self concept ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.314 > 0.05.Hipotesis 6: Ada perbedaan yang signifikan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin.
Tabel pertama uji t 2 sampel bebas data rata-rata perilaku asertif terhadap jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) di UKSW.
Tabel 4.21
Rata-rata perilaku asertif terhadap jenis kelamin
Group Statistics jenis.kelami n N Mean Std. Deviation Std. Error Mean perilaku.asertif Laki-laki 36 50.3889 6.24856 1.04143 Perempuan 19 52.1579 6.03934 1.38552
Pada tabel diatas diketahui bahwa perempuan memiliki rata-rata perilaku asertif lebih tinggi dari pada laki-laki. Pada perempuan perilaku asertif rata-rata sebesar 52.157 dan pada laki-laki 50.388.
Tabel 4.22
Hasil Uji t- 2 sampel bebas periaku asertif
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T Df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper perilaku. asertif Equal variances assumed .035 .852 -1.010 53 .317 -1.76901 1.75195 -5.28298 1.74496 Equal variances not assumed -1.021 37.868 .314 -1.76901 1.73327 -5.27823 1.74022
Berdasarkan tabel diatas, maka pertama dilakukan uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 0.035 < 0.05 maka kedua varian adalah sama (varian data perilaku asertif laki-laki dan perempuan adalah sama). Maka uji t menggunakan output equal variances assumed (diasumsikan varians sama). Lalu dilakukan uji t 2 sampel bebas. Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006 Sedangkan thitung = 1.010 Jadi 1.010 <2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.852 > 0.05.1.13 Pembahasan
Hipotesis pertama berbunyi “Ada hubungan yang positif emotional intelligence dan self concept dengan perilaku asertif pada mahasiswa di UKSW. Berdasarkan hasil analisis data variabel emotional intelligence diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.864 (t.s < 0.05), sumbangan efektifnya 74.6%. Jadi dengan demikian terdapat hubungan yang positif antara emotional intelligence dan self concept dengan perilaku asertif pada mahasiswa Fakultas Psikologi di UKSW.
Ada dua kemungkinan, pertama, pada umumnya mahasiswa fakultas psikoogi menyadari bahwa pada umumnya mereka memiliki kecerdasan emosi yang cukup stabil dan konsep diri yang positif sehingga menyebabkan mereka mempunyai perilaku asertif yang cukup tinggi. Kedua, sebagian besar mereka mempunyai kecerdasan emosi yang relatif dapat diandalkan dalam mengendlikan diri dan konsep diri yang sama sehingga memunculkan perilaku asertif yang positif. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dari Shabgard, dkk. (2011) menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif antara emotional intellegence mempengaruhi self-assertive. Kecerdasan emosi yang baik dapat menunjukkan self-assertive yang kuat, hal itu dapat dilihat dari hasil validitas = 0.76 dan reliabilitas = 0.88, persentasi positif di mana ada 83% yang menunjukkan memiliki emotional intellegence yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi dapat mempengaruhi perilaku asertif seseorang, karena seseorang yang mampu menampilkan dirinya secara bebas,
langsung dan jujur tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain dapat meningkatkan kecerdasan emosinya dengan cara lebih mengenali emosi diri, mengelola emosi serta membina hubungan baik dengan orang lain.
Hasil perhitungan variabel self concept didukung oleh hasil analisis data konsep diri sejalan dengan penelitian dari Hergina, (2012) menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri dengan perilaku asertif pada siswa MAN Wonokromo. Semakin tinggi konsep diri pada siswa maka semakin tinggi perilaku asertif yang dimiliki, sebaliknya semakin rendah konsep diri pada siswa maka semakin rendah perilaku asertif yang dimiliki. Konsep diri memberi sumbangan efektif sebesar 11,8% dalam mempengaruhi perilaku asertif siswa MAN Wonokromo, sedangkan sisanya 88,2% faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku asertif.
Hipotesis kedua berbunyi ”Ada pengaruh interaksi antara emotional intellegence (kecerdasan emosi) dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa di UKSW.” Hasil uji anova 2 arah antara variabel emotional intellegence dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif tidak menunjukkan interaksi yang signifikan F = 0.692, t.s > 0.05,. Jadi tidak ada pengaruh yang signifikan antara emotional intellegence dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa di UKSW.
Ada dua kemungkinan mengapa tidak ada pengaruh. Pertama, sebagian besar mahasiswa (laki-laki dan perempuan) beranggapan sama bahwa diri merekabelum memiliki kecerdasan emosi yang
stabil, sehingga tidak memberi peran munculnya interaksi terhadap perilaku asertif. Kedua, pada umumnya mahasiswa Fakultas Psikologi menganggap bahwa diri mereka baik laki-laki maupun perempuan mempunyai pemahaman bahwa mereka menganggap sama bahwa mereka kurang berfikir secara cerdas dalam menghadapi persoalan sehingga tidak berpengaruh terhadap perilaku asertif. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dari merda (2012) yang menunjukkan hasil yang sama 0.000 yang disebabkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosi subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Hipotesis ketiga berbunyi ”Ada pengaruh interaksi antara self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa di UKSW”. Hasil uji anova 2 arah antara variabel self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif tidak menunjukkan interaksi yang signifikan F = 0.189, t.s > 0.05. Jadi tidak ada pengaruh yang signifikan antara self concept dan jenis kelamin terhadap perilaku asertif mahasiswa di UKSW.
Ada dua kemungkinan mengapa tidak ada pengaruh. Pertama, pada dasarnya setiap mahasiswa Fakultas psikologi baik laki-laki atau perempuan beranggapan sama bahwa mereka masih kurang memiliki self concept yang dapat diandalkan sehingga tidak ada interaksi erhadap perilaku asertif. Kedua, sebagian besar mahasiswa (laki-laki dan perempuan) berpendapat bahwa masih sama memiliki pandangan bahwa mereka mempunyai self concept kurang
berkembang secara positif sehingga tidak mempunyai pengaruh interaksi terhadap perilaku asertif.
Hipotesis keempat berbunyi “Ada perbedaan kecerdasan emosi (emotional intelligence) ditinjau dari jenis kelamin”. Hasil analisis menunjukkan; uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 0.369, t.s > 0.05. Jadi uji t menggunakan output equal variances not assumed (diasumsikan varians beda). Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006. Sedangkan thitung = 1.684. Jadi t = 1.684 < 2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan emotional intelligence ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.546 t.s > 0.05.Ada dua kemungkingan. Pertama, pada umumnya mahasiswa laki-laki dan perempuan beranggapan sama bahwa mereka kurang mempunyai kecerdasan emosi yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya. Kedua, sebagian besar mahasiswa berpendapat sama bahwa mereka mempunyai kecerdasan emosi yang masih belum stabil sehingga tidak menunjukkan perbedaan di antara mereka. Hal ini di dukung oleh penelitian dari Siti dan Felix, (2010) tentang rendah atau kurangnya kontribusi kecerdasan emosional terhadap perilaku asertif pada remaja. Hasil analisis data penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara remaja laki-laki dan perempuan dan juga adanya sumbangan efektif kecerdasan emosi terhadap perilaku asertif sebesar 30,3 % sebagaimana ditunjukkan oleh R squared 0,303. Hal ini dapat diartikan masih terdapat 69,7% faktor lain yang
mempengaruhi asertivitas selain kecerdasan emosi, seperti faktor lingkungan, dan usia.
Hipotesis kelima berbunyi “Ada perbedaan konsep diri (sefl concept) ditinjau dari jenis kelamin”. Hasil analisis menunjukkan; uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 1.033 t.s > 0.05. Jadi uji t menggunakan output equal variances not assumed (diasumsikan varians beda). Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006 Sedangkan thitung = 1.419 Jadi t = 1.419 < 2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan self concept ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.314 t.s > 0.05.Ada dua kemungkinan. Pertama, pada umumnya mahasiswa fakultas psikologi (laki-laki dan perempuan) berpandangan sama bahwa memiliki self concept yang belum terbentuk dengan baik. Kedua, setiap mahasiswa fakultas psikologi (laki-laki dan perempuan) memiliki self concept yang positif. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dari Landazabal, (1999) kepada anak-anak di SMA di Provinsi Guipúzcoa, Spanyol Utara tentang dampak perilaku asertif pada konsep diri. terdapat penurunan yang signifikan (79% tingkat penurunan) dalam perilaku yang pasif, dan meningkatnya perilaku asertif dalam berinteraksi dengan sahabat lain dalam segala situasi sosial. Pada variabel konsep diri terdapat mayoritas subyek (58,82%) termasuk dalam kategori sedang dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan.
Hipotesis keenam berbunyi “ada perbedaan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin”. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin; uji Levene’s (uji homogenitas) diketahui nilai signifikansi pada F = 0.035 t.s > 0.05. Tabel distribusi t dengan
= 0.05, dengan derajat kebebasan (df) n-2 atau 55-2 = 53. Dengan uji t 2 sampel bebas ini diperoleh ttabel = 2.006 Sedangkan thitung = 1.010 Jadi t = 1.010 <2.006 ( thitung < ttabel ), maka tidak ada perbedaan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin, signifikansi 0.852 > 0.05.Ada dua kemungkinan perilaku asertif tidak signifikan dengan jenis kelamin. Pertama, setiap mahasiswa fakultas psikologi (laki-laki dan perempuan) berpadangan sama bahwa memiliki perilaku asertif yang tidak berbeda satu sama lainnya. Kedua, pada umumnya mereka berpendapat bahwa mereka memiliki perilaku asertif yang cukup tegas dalam mengambil keputusan. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dari Wilen dan Liod (dalam Tanggela, 2012) yang mengemukakan bahwa kesulitan untuk berperilaku lebih banyak terjadi pada wanita (berdasarkan penelitian pada siswa tentang pengembangan perilaku asertif yang positif), karena secara sosial wanita telah dibentuk untuk submisif (tunduk dan mengalah), bersiakap baik dan tidak membuat masalah. Beberapa pandangan tentang pria dan wanita lebih cenderung menunjukkan sifat pasivitas, sangat emosional atau tempramental dan subjektivitas. Pria dipandang menunjukkan sifat-sifat maskulin, seperti; mandiri, bertindak secara aktif, kecendrungan agresi dan pola pikir analitis.
Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk mengembangkan perilaku asertif secara efektif dalam interaksi sosial di dalam lingkungannya, terutama dalam interaksi sosialnya dalam situasi akademis. Ninggalih, (2011), akibat dari non-asertifan individu antara lain: membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi yang sedang di alami, berperilaku agresif terhadap orang lain bahkan tidak menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka, kedua belah pihak yang berkomunikasi tidak merasa nyaman ada yang merasa ingin menyakiti lawan bicaranya dan tidak ada yang merasa disakiti hatinya, akan ada pihak yang merasa disalahkan dan dihina oleh keberadaan emosi negatif yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
Pentingnya perilaku asertif pada mahasiswa karena apabila seorang mahasiswa tidak dapat berperilaku asertif, maka dimasa yang akan datang (dalam pekerjaan atau organisasi kemasyarakatan) mahasiswa tersebut akan merasa merasa rendah diri dan tidak berani mengemukakan perasaanya dan pendapat kepada orang lain. Menurut Made & Awaluddin (2008) karena perilaku asertif sangat penting bagi mahasiswa, apabila seorang mahasiswa tidak memiliki keterampilan untuk berperilaku asertif atau bahkan tidak dapat berperilaku asertif, disadari ataupun tidak, mahasiswa ini akan kehilangan hak-hak pribadi sebagai individu dan cenderung tidak dapat menjadi individu yang bebas dan akan selalu berada dibawah kekuasaan orang lain. Alasan seorang mahasiswa tidak dapat berperilaku asertif adalah karena mereka
belum menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku asertif.