UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK PANGAN
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN JL PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA PUSAT
PERIODE 1 APRIL – 24 APRIL 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DONNY LUKMANTO, S. Farm. 1306343523
ANGKATAN LXXVIII
PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI U N I V E R S I T A S I N D O N E S I A
DEPOK JUNI 2014
i
UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK PANGAN
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN JL PERCETAKAN NEGARA NO. 23 JAKARTA PUSAT
PERIODE 1 APRIL – 24 APRIL 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
DONNY LUKMANTO, S. Farm. 1306343523
ANGKATAN LXXVIII
PROGRAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK JUNI 2014
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia.
Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan plagiarisme, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.
Depok, 27 Juni 2014
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Laporan Praktek Kerja ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Donny Lukmanto
NPM : 1306343523
Tanda Tangan :
i I i I i i i
Laporan Praktek Ke{a Profesi Apoteker ini diajukan oleh Nama
NPM
Program Studi Judul Laporan
: Donny Lukmanto, S. Farm. :1306343523
: Apoteker
:Laporan Praktek Ke{a Profesi Apoteker di Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan periode 1 April
-24 Aprrl2014Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian pers-yaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Apoteker Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Indonesia
DEWAN PENGUJI Pembimbing I Pembimbing II Penguji I Penguji tr Penguji III Ditetapkan di Tanggal '-j
Dra. Deksa Presian&, M. Kes., Apt. Sutriyo, M.Si.,Apt.
Dr. Berna Elyo, t\t.Si., Aet .
?.{.
h. Erdang ltonanr; t'l's' , APt .Dro
.
trlrdiastvti /drputra, APt.Depok
.fi Juni 1p1t1
. (.,...:. ('"'''.',
iii
Puji syukur penulis panjatkan kepada Sang Tri Ratna karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan.. Penulisan laporan ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, penulis tidak bisa menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dra. Deksa Presiana, Apt., M.Kes, selaku Ka. Sub. Dit. Standardisasi Produk Pangan, juga selaku pembimbing dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia atas kesempatan dan bimbingan yang diberikan selama pelaksanaan PKPA;
2. Bapak Sutriyo, M,Si. ,Apt. selaku pembimbing dari Universitas Indo-nesia yang telah dengan sabar banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan k ep ada p enul i s selama melaksanakan PKPA.
3. Bapak Dr. Roy A. Sparringga M.App.Sc, selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
4. Bapak Drs. Suratmono, MP, selaku Plt. Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.
5. Ir. Tetty H. Sihombing., MP, Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia atas kesempatan yang diberikan selama pelaksanaan PKPA di Direktorat Standardisasi Produk Pangan
6. Dr. Mahdi Jufri, M. Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
7 . Dr. H a y u n , M s i . , Apt., selaku ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UI yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menjalankan Program Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
iv
Republik Indonesia, khususnya Direktorat Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, yang telah memberikan bantuan dan perhatian selama pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker.
9. Teman teman PKPA di Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia ( Mila Febrina, Mutia Sari, Bu Renny L., Rita Asepta, dan Tatu Ratna) atas bantuan, kerja sama dan kepercayaanya kep ad a penul i s selama penulis menjalan-kan PKPA.
10.Keluarga penulis (Papa, Mami, Ryan Gustomo, Vincent) atas dukungan yang tidak ternilai ke p ada pe nul i s selama penulis menjalankan PKPA.
11.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan pengarahan kepada penulis selama penulisan laporan PKPA ini.
Penulis
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Donny Lukmanto NPM : 1306343523 Program Studi : Profesi Apoteker Fakultas : Farmasi
Jenis Karya : Laporan Praktek Kerja
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exclusive Royalty Free
Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Direktorat Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat Periode 1 April - 24 April 2014
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok Pada Tanggal : 27 Juni 2014
Yang menyatakan
Nama : Donny Lukmanto Program Studi : Profesi Apoteker
Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Direktorat Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat Periode 1 April - 24 April 2014.
Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM ) bertujuan agar calon apoteker memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan makanan dalam lembaga pemerintahan, memberi kesemaptan kepada calon apoteker untuk melihat, mempelajari, dan memahami peran dan fungsi yang dilakukan oleh Direktorat Standardisasi Produk Pangan dalam rangka menjalankan tugas di pemerintahan, dan meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang Badan POM. Tugas khusus yang diberikan berjudul Penyusunan Konsep Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) Keripik Apel dengan tujuan untuk mempelajari dan mengetahui proses perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI), mempelajari dan mengetahui tujuan penyusunan RSNI 1keripik apel, dan menyusun RSNI 1 keripik apel.
Kata Kunci : Laporan PKPA, Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Pemerintahan, Badan POM, Keripik Apel
Tugas umum : viii +58 halaman; 7 gambar, 4 tabel,
Tugas khusus : v +54 halaman; 3 gambar, 1 tabel, 1 lampiran Bibliografi Tugas Umum : 34 (1997-2013)
ABSTRACT
Name : Donny Lukmanto
Study Program : Apothecary Professional Program
Title : Report of Apothecary Internship at Food Products Standardization Directorate National Agency Drug and Food Control Percetakan Negara No. 23 Central Jakarta 1 April - 24 April 2014 Period
Apothecary Internship at Food Products Standardization Directorate National Agency Drug and Food Control aims are: pharmacist trainee to have proper knowledges, skills, and experiences to work in field of pharmacy and food at government institution; to observe, to learn, and understand role and function of Food Products Standardization Directorate; and to enhance knowledge of pharmacist trainee about National Agency Drug and Food Control (NADFC/Badan POM). Special assignment given titled Drafting of Indonesia National Standars for Apple Chips aims for pharmacist trainee to learn drafting of Indonesia National Standards; to learn aims of drafting Indonesia National Standards for Apple Chips; and draft a concept of Indonesia National Standards for Apple Chips.
Keywords : Report of Apothecary Internship, NADFC, Food Products Standardization Directorate, Apple Chips
Internship Report : viii +58 pages; 7 pictures, 4 tables
Special Assignment : v +54 pages; 3 pictues, 1 tables, 1 appendixes Bibliography of Internship Report : 34 (1997-2013)
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 3
1.3 Manfaat ... 3
BAB 2 TINJAUAN UMUM BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN ... 4
2.1 Visi Dan Misi ... 4
2.2 Tugas Pokok Dan Fungsi ... 4
2.3 Budaya Organisasi ... 5
2.4 Kewenangan ... 5
2.5 Logo Badan POM ... 5
2.6 Struktur Organisasi ... 6
2.7 Sistem Pengawasan Obat Dan Makanan Badan POM (SISPOM). 9 2.8 Kebijakan dan Strategis... 10
BAB 3 TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK PANGAN ... 17
3.1 Visi Dan Misi ... 17
3.2 Tugas Pokok Dan Fungsi ... 17
3.3 Dasar Hukum ... 18
3.4 Arah Kebijakan ... 18
3.5 Strategi ... 19
3.6 Program ... 19
3.7 Sistem Manajemen Standardisasi ... 20
3.8 Struktur Organisasi ... 21
Produk Pangan ... 28
3.12 Kerjasama Internasional ... 28
3.13 Definisi yang Digunakan di Direktorat Standardisasi Produk Pangan ... 29
BAB 4 PELAKSANAAN PKPA ... 32
4.1 Direktorat Standardisasi Produk Pangan ... 33
4.2 Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan ... 34
4.3 Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus ... 35
4.4 Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku Dan Bahan Tambahan Pangan ... 36
BAB 5 TEORI DAN PEMBAHASAN ... 37
5.1 Direktorat Standardisasi Produk Pangan ... 37
5.2 Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan ... 38
5.3 Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus ... 44
5.4 Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku Dan Bahan Tambahan Pangan ... 47
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 51
6.1 Kesimpulan ... 51
6.2 Saran ... 52
Gambar 2.1. Logo Badan POM ... 6
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Badan POM ... 7
Gambar 3.1. Siklus Sistem Manajemen Standardisasi Produk Pangan ... 20
Gambar 3.2. Struktur Organisasi Direktorat Standardisasi Produk Pangan... 21
Gambar 3.3. Tahap Perumusan SNI ... 26
Gambar 5.1. Logo Pangan Iradiasi ... 46
Tabel 2.1. Unit Pelaksana Teknis Badan POM ... 8 Tabel 2.2 Tujuh Strategi Dalam Melaksanakan Arah Kebijakan Badan POM .... 14 Tabel 5.1. Perbedaan Pedoman Periklanan Pangan dengan Etika Priwara Indonesia
... 41 Tabel 5.2 Perbedaan antara Pedoman kriteria cemaran pada pangan siap saji dan Pangan Industri Rumah Tangga dan Peraturan kepala Badan POM Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dan Kimia Dalam Makanan ... 49
1.1. Latar Belakang
Obat dan makanan merupakan komoditi vital yang diperlukan dalam kehidupan seseorang. Obat dapat menjadi kebutuhan vital seseorang ketika ia menderita suatu penyakit, sedangkan makanan (pangan) merupakan komoditi vital karena makanan adalah kebutuhan primer yang dikonsumsi masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Perkembangan teknologi telah membawa perubahan signifikan pada industri farmasi, makanan, kosmetik dan alat kesehatan yang ikut mengubah tingkat konsumsi masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya pengetahuan masyarakat saat ini masih belum memadai dan merata untuk dapat memilih dan menggunakan produk tersebut secara aman, tepat, dan benar. Dengan melihat fenomena tersebut, pemerintah menetapkan suatu lembaga pemerintah untuk mengawasi obat dan makanan yang beredar di Indonesia yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (Badan POM).
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. 02001/SK/KBPOM tertanggal 26 Februari 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan POM, Badan POM adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) untuk melaksanakan tugas Pemerintah tertentu dari Presiden(1). Status ini kemudian diubah menjadi Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) berdasarkan Peraturan Presiden No 03 tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No 103 tahun 2001(2). Badan POM dipimpin oleh Kepala Badan POM yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala Badan POM berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan(3).Dengan adanya landasan hukum di atas, Badan POM menjalankan fungsinya di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
Komoditi yang diawasi Badan POM meliputi obat, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya. Selain mengawasi produk obat dan makanan yang diproduksi dalam negeri, Badan POM juga mengawasi produk obat dan makanan yang masuk dan beredar di wilayah Republik Indonesia (RI).
Dewasa ini dengan adanya kerjasama ekonomi antara negara-negara di dunia seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), Asia Pasific Economic Cooperation
(APEC), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), dan Word Trade
Organization (WTO) telah menciptakan sistem perdagangan dunia yang bebas
sehingga memungkinkan berbagai komoditi masuk ke wilayah Republik Indonesia (RI).
Dengan banyaknya komoditi yang diawasi, maka diperlukan sumber daya manusia yang kredibel, profesional, tanggap, berintegritas, dan mampu bekerja sama serta mampu menghadapi tantangan dan mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, terutama di bidang kebijakan-kebijakan yang mengatur bidang farmasi dan pangan. Salah satu praktisi yang mampu berperan dalam bidang ini antara lain adalah Apoteker.
Dalam rangka membentuk dan melatih sumber daya Apoteker handal, materi yang diberikan di bangku kuliah saja tidaklah cukup. Mahasiswa program profesi Apoteker juga memerlukan pembekalan berupa penerapan dalam bentuk praktek di lapangan tempat pekerjaan kefarmasian dan makanan dilakukan. Oleh karena itu, dilaksanakanlah program praktek kerja profesi Apoteker (PKPA) hasil kerja sama antara Program Profesi Apoteker dari beberapa Universitas dan Institut dengan Badan POM, sebagai salah satu lembaga pemerintah di mana pekerjaan kefarmasian dan makanan dilakukan.
Kegiatan PKPA ini dilaksanakan di Badan POM Republik Indonesia yang terletak di Jl. Percetakan Negara No 23 Jakarta Pusat, dengan peserta PKPA dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Pancasila (UP) dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) dan pelaksanaannya di bagi dalam tiga tahap.
Tahap I dilaksanakan pada tanggal 01 – 03 April 2014 berupa pembekalan berupa presentasi dari Biro Umum, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat, Pusat-Pusat, Balai Besar Badan POM di Jakarta, dan 14 Direktorat yang terdapat di Badan POM. Tahap 2 merupakan pelaksanaan PKPA di unit kerja eselon 2 yang dilaksanakan pada tanggal 07 – 21 April 2014 di Deputi Bidang Pengawasanan Pangan dan Bahan Berbahaya, khususnya di Direktorat Standardisasi Produk
Pangan. Tahap 3 diadakan pada tanggal 23 – 24 April 2014 dengan presentasi dari masing-masing peserta PKPA.
1.2. Tujuan
Tujuan dari Kerja Praktek Profesi Apoteker di Badan POM bagi mahasiswa program profesi apoteker adalah:
1. Membekali calon Apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan makanan dalam lembaga pemerintahan.
2. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat, mempelajari, dan memahami peran dan fungsi yang dilakukan oleh Direktoat Standardisasi Produk Pangan dalam rangka mejalankan tugas di pemerintahan.
3. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang Badan POM.
1.3. Manfaat
Manfaat dari adanya PKPA di Badan POM RI adalah:
1. Memahami peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker di dalam lembaga pemerintahan.
2. Mendapat wawasan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan makanan di dalam lembaga pemerintahan.
3. Calon apoteker dapat memberikan informasi dan mensosialisasikan program kerja dan layanan publik yang terdapat di Badan POM kepada masyarakat. 4. PKPA menjadi kesempatan bagi BPOM untuk melakukan talent scouting
dalam rangka menjaring sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas.
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
2.1. Visi dan Misi (4)
Visi Badan POM adalah menjadi institusi pengawas obat dan makanan yang inovatif, kredibel dan diakui secara Internasional untuk melindungi masyarakat.
Misi Badan POM adalah :
1. Melakukan pengawasan pre-market dan post-market berstandar Internasional 2. Menerapkan Sistem Manajemen Mutu secara konsisten
3. Mengoptimalkan kemitraan dengan pemangku kepentingan di berbagai lini 4. Memberdayakan masyarakat agar mampu melindungi diri dari Obat dan
Makanan yang berisiko terhadap kesehatan
5. Membangun organisasi pembelajar (Learning Organization).
2.2. Tugas Pokok dan Fungsi (5)
Tugas pokok Badan POM adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sedangkan fungsi Badan POM adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan obat
dan makanan.
2. Pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan obat dan makanan. 3. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas Badan POM. 4. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi
pemerintah di bidang pengawasan obat dan makanan.
5. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
2.3. Budaya Organisasi (6)
Budaya organisasi merupakan nilai-nilai luhur yang diyakini dan harus dihayati dan diamalkan oleh seluruh anggota organisasi dalam melaksanakan tugas.
Nilai-nilai luhur yang hidup dan tumbuh kembang dalam organisasi menjadi semangat bagi seluruh anggota organisasi dalam berkarsa dan berkarya. Budaya organisasi Badan POM adalah sebagai berikut:
1. Profesional
Menegakkan profesionalisme dengan integritas, objektivitas, ketekunan dan komitmen yang tinggi.
2. Kredibel
Dapat dipercaya dan diakui oleh masyarakat luas, nasional dan Internasional. 3. Cepat Tanggap
Antisipatif dan responsif dalam mengatasi masalah. 4. Kerjasama Tim
Mengutamakan keterbukaan, saling percaya dan komunikasi yang baik. 5. Inovatif
Mampu melakukan pembaruan sesuai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
2.4. Kewenangan Badan POM (1)
Badan POM memiliki beberapa kewenangan, antara lain :
1. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidang pengawasan obat dan makanan.
2. Perumusan kebijakan di bidang pengawasan obat dan makanan untuk mendukung pembangunan secara makro.
3. Penetapan sistem informasi di bidang pengawasan obat dan makanan. 4. Penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk
makanan dan penetapan pedoman pengawasan peredaran obat dan makanan. 5. Pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri
farmasi.
6. Penetapan pedoman penggunaan konservasi, pengembangan dan pengawasan tanaman obat.
2.5. Logo Badan POM (7)
Gambar 2.1. Logo Badan POM Deskripsi filosofi logo Badan POM adalah sebagai berikut :
Unsur pertama dalam logo Badan POM adalah tameng yang melambangkan perlindungan terhadap masyarakat dari penggunaan obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan, dan mutu;
Selain sebagai tameng unsur tersebut dapat juga dilihat sebagai tanda
checklist yang mempresentasikan trust atau rasa kepercayaan;
Pengambilan makna filosofis mata elang sebagai unsur kedua adalah karena elang memiliki pandangan yang tajam sesuai dengan fungsi Badan POM yang bertanggung jawab melindungi masyarakat dengan mengawasi penggunaan obat dan makanan di Indonesia;
Garis yg bergerak dari tipis menjadi semakin tebal melambangkan langkah ke depan yaitu Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM) yg berubah menjadi Badan POM. Selain itu dapat juga dilihat sebagai representasi keadaan Badan POM sebagai lembaga yang memberikan perlindungan (dilambangkan dengan garis hijau) terhadap masyarakat (garis biru tebal) dari pengusaha Obat dan Makanan (garis biru tipis);
Tampak logo secara keseluruhan memadukan unsur-unsur tersebut dalam satu kesatuan yang padu dan serasi sehingga peletakan tulisan Badan POM secara tipografis menjadi lebih bebas. Sedangkan pemilihan warna biru pekat
(dark blue) menggambarkan perlindungan dan warna hijau (green)
menggambarkan scientific-base.
2.6. Struktur Organisasi
Secara struktural komponen Badan POM terdiri atas Kepala Badan, Sekretariat Utama, Inspektorat, 3 Deputi yaitu Deputi I,II, dan III, Pusat Pengujian Obat dan Makanan, Pusat Penyidikan Obat dan Makanan, Pusat Riset Obat dan Makanan, Pusat Informasi Obat dan Makanan, dan Unit Pelaksana Teknis.(8) Deputi I bertanggung jawab dalam bidang pengawasan Produk Terapeutik dan Napza, Deputi II bertanggung jawab terhadap bidang pengawasan Obat Tradisional,
Kosmetik dan Produk Komplemen, sedangkan Deputi III bertanggung jawab terhadap bidang pengawasan keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Struktur inti Badan POM dapat dilihat pada gambar 2.2.
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Badan POM
Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) pada struktur organisasi Badan Pengawas Obat dan Makanan terdiri dari Balai Besar POM dan Balai POM. Secara umum, Balai Besar/Balai POM merupakan ujung tombak Pengawasan Obat dan Makanan, sehingga lebih dititik beratkan pada operasi pengawasan di lapangan.(9) Perbedaan antara Balai Besar POM dengan Balai POM adalah pada segi struktur organisasi, kegiatan laboratorium serta luas jangkauan kerjanya. Pembagian UPT dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Unit Pelaksana Teknis Badan POM Unit Pelaksana Teknis Badan POM
Balai Besar POM Balai POM
Tipe A Tipe B Tipe A Tipe B
1. Bidang Pengujian Produk Terapetik, Narkotik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen. 1. Bidang Pengujian Produk Terapetik, Narkotik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen 1.Bidang Pengujian Produk Terapetik, Narkotik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen 1. Seksi Pengujian Produk Terapetik, Narkotik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen 2. Bidang Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya 2. Bidang Pengujian Pangan, Bahan Berbahaya dan Mikrobiologi 2.Bidang Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya 2. Seksi Pengujian Pangan, Bahan Berbahaya dan Mikrobiologi 3. Bidang Pengujian Mikrobiologi 3. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan 3.Bidang Pengujian Mikrobiologi 3. Seksi Pemeriksaan, Penyidikan, Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen 4. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan 4. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen 4.Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
4. Sub Bagian Tata Usaha
5. Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen
5. Sub Bagian Tata Usaha. 5.Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen 5. Kelompok Jabatan Fungsional
6. Sub Bagian Tata Usaha
6. Kelompok Jabatan Fungsional
6.Sub Bagian Tata Usaha 7. Kelompok Jabatan Fungsional 7.Kelompok Jabatan Fungsional
2.7. Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SISPOM) (10)
Pengawasan obat dan makanan memiliki aspek permasalahan berdimensi luas dan kompleks. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengawasan obat dan makanan yang komprehensif, semenjak awal proses suatu produk hingga produk tersebut beredar ditengah masyarakat. Prinsip dasar Badan POM dalam sistem pengawasan obat dan makanan adalah sebagai berikut:
1. Tindakan pengamanan cepat, tepat, akurat dan profesional.
2. Tindakan dilakukan berdasarkan atas tingkat risiko dan berbasis bukti-bukti ilmiah.
3. Lingkup pengawasan bersifat menyeluruh, mencakup seluruh siklus proses. 4. Berskala nasional/lintas propinsi, dengan jaringan kerja Internasional. 5. Otoritas yang menunjang penegakan supremasi hukum.
6. Memiliki jaringan laboratorium nasional yang kohesif dan kuat yang berkolaborasi dengan jaringan global.
7. Memiliki jaringan sistem informasi keamanan dan mutu produk.
Dalam pelaksanaan sistem pengawasan obat dan makanan, untuk menekan sekecil mungkin risiko yang bisa terjadi, dilakukan SISPOM tiga lapis yakni: 1. Sub-sistem Pengawasan Produsen
Sistem pengawasan internal oleh produsen melalui pelaksanaan cara-cara produksi yang baik atau good manufacturing practices agar setiap bentuk penyimpangan dari standar mutu dapat dideteksi sejak awal. Secara hukum produsen bertanggung jawab atas mutu dan keamanan produk yang dihasilkannya. Apabila terjadi penyimpangan dan pelanggaran terhadap standar yang telah ditetapkan maka produsen dikenakan sanksi, baik administratif maupun pro-justisia.
2. Sub-sistem Pengawasan Konsumen
Sistem pengawasan oleh masyarakat konsumen sendiri melalui peningkatan kesadaran dan peningkatan pengetahuan mengenai kualitas produk yang digunakannya dan cara-cara penggunaan produk yang rasional. Pengawasan oleh masyarakat sendiri sangat penting dilakukan karena pada akhirnya masyarakatlah yang mengambil keputusan untuk membeli dan menggunakan suatu produk. Konsumen dengan kesadaran dan tingkat pengetahuan yang
tinggi terhadap mutu dan kegunaan suatu produk, di satu sisi dapat membentengi dirinya sendiri terhadap penggunaan produk-produk yang tidak memenuhi syarat dan tidak dibutuhkan sedang pada sisi lain akan mendorong produsen untuk ekstra hati-hati dalam menjaga kualitasnya.
3. Sub-sistem Pengawasan Pemerintah/Badan POM
Sistem pengawasan oleh pemerintah melalui pengaturan dan standardisasi; penilaian keamanan, khasiat dan mutu produk sebelum d2jinkan beredar di Indonesia; inspeksi, pengambilan sampel dan pengujian laboratorium produk yang beredar serta peringatan kepada publik yang didukung penegakan hukum. Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat konsumen terhadap mutu, khasiat dan keamanan produk maka pemerintah juga melaksanakan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi.
2.8. Kebijakan dan Strategis (11)
Sasaran strategis Badan POM selama lima tahun (2010-2014) adalah sebagai berikut :
Pengawasan obat dan makanan terlaksana secara efektif untuk melindungi konsumen di dalam dan di luar negeri dengan sistem yang tergolong terbaik di ASEAN.
Terwujudnya laboratorium pengawasan obat dan makanan yang modern dengan jaringan kerja di seluruh indonesia dengan kompetensi dan kapabilitas terunggul di ASEAN.
Meningkatnya kompetensi, kapabilitas dan jumlah modal insani yang unggul dalam melaksanakan pengawasan obat dan makanan.
Diterapkannya sistem manajemen mutu di semua unit kerja Badan POM. Arah kebijakan dan strategi nasional bidang kesehatan terdiri dari 4 fokus, yaitu:
Fokus 1 : Peningkatan Kesehatan Ibu, Bayi, Balita Dan Keluarga Berencana
Fokus 2 : Perbaikan Status Gizi Masyarakat
Fokus 3 : Pengendalian Penyakit Menular Serta Penyakit Tidak Menular
Fokus 4 : Peningkatan Ketersediaan, Keterjangkauan, Pemerataan, Mutu Dan Penggunaan Obat Serta Pengawasan Obat Dan Makanan
Berdasarkan arah kebijakan dan strategi nasional bidang kesehatan tersebut, yang menjadi acuan pembangunan bidang Pengawasan Obat dan Makanan yaitu:
Fokus 4 : Peningkatan Ketersediaan, Keterjangkauan, Pemerataan, Mutu Dan Penggunaan Obat Serta Pengawasan Obat Dan Makanan
Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, mutu dan penggunaan obat, serta pengawasan Obat dan Makanan, yang dilaksanakan melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan :
a. Pengawasan produksi produk terapetik dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT)
b. Pengawasan produk dan bahan berbahaya
c. Pengawasan obat dan makanan di 31 Balai Besar/Balai POM
d. Pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian keamanan, manfaat dan mutu obat dan makanan serta pembinaan laboratorium POM
e. Standardisasi produk terapetik dan PKRT
f. Penyelidikan dan penyidikan terhadap pelanggaran di bidang obat dan makanan
g. Inspeksi dan sertifikasi obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen
h. Inspeksi dan sertifikasi makanan
i. Standardisasi obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen j. Standardisasi makanan
k. Surveilan dan penyuluhan keamanan makanan l. Pengawasan distribusi produk terapetik dan PKRT
m. Pengawasan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat adiktif n. Penilaian produk terapetik dan produk biologi
o. Penilaian obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen p. Penilaian makanan
q. Riset keamanan, khasiat, mutu obat dan makanan r. Pengembangan Obat Asli Indonesia.
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (PerKa. Badan POM) Nomor : HK.04.1.21.11.10.10507 Tahun 2010 tentang Rencana
Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan, ada empat arah kebijakan Badan POM. Pada tahun 2013 Arah Kebijakan Badan POM mengalami perubahan yang berdasarkan PerKa. Badan POM Nomor 29 Tahun 2013 tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat Dan Makanan Tahun 2010-2014 yaitu: (10)
1. Memperkuat Sistem Regulatori Pengawasan Obat dan Makanan Nasional Sistem Pengawasan Obat dan Makanan diperkuat dengan mekanisme operasional dan infrastruktur yang andal dengan kapabilitas berkelas dunia
(world class) dan menggunakan teknologi informasi yang modern Regulatori
dan seluruh fungsi pengawasan, dilakukan revitalisasi yang diterapkan secara terintegrasi dan menyeluruh (comprehensive).
2. Mewujdukan Laboratorium Badan POM yang Modern dan Handal
Kapabilitas laboratorium Badan POM ditingkatkan terunggul di ASEAN dengan jaringan kerja (networking) nasional dan Internasional. Cakupan dan parameter pengujian laboratorium, serta kompetensi personil laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan ditingkatkan dengan menerapkan Good
Laboratory Practices secara konsisten serta mengembangkan sistem rujukan
laboratorium nasional.
3. Meningkatkan Daya Saing Mutu Produk Obat dan Makanan di Pasar Lokal dan Global
Mekanisme pasar bebas menuntut Sistem Pengawasan Obat dan Makanan yang dapat menapis produk Obat dan Makanan yang masuk ke Indonesia. Pada saat yang sama Sistem Pengawasan Obat dan Makanan dikembangkan untuk mendukung upaya pencapaian daya saing Obat dan Makanan produksi dalam negeri di pasar lokal dan global. Upaya ini dilakukan melalui penyusunan standar Obat dan Makanan yang mempertimbangkan kemampuan industri dalam negeri dan peningkatan pemberdayaan pelaku usaha termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pangan, kosmetik dan Obat Tradisional, untuk memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku. Pemberdayaan dilakukan antara lain melalui kerjasama dengan lintas sektor terkait.
4. Meningkatkan Kompetensi, Profesionalitas, dan Kapabilitas Modal Insani Modal Insani merupakan asset intangible yang sangat penting dalam suatu organisasi karena merupakan mesin penggerak organisasi, sehingga perlu dirancang sistem manajemen modal insani (Human Capital Management). Untuk menghasilkan modal Insani Badan POM yang andal, adaptif, dan kredibel, antara lain melalui pendidikan dan pelatihan terstruktur dan berkelanjutan (continous training and education) baik di dalam maupun di luar negeri. Bersamaan dengan itu diciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan atraktif untuk melakukan inovasi dalam pelaksanaan tugas dan mendorong serta memberikan kesempatan yang luas kepada setiap modal insani untuk meningkatkan kapabilitas diri melalui pembelajaran yang berkelanjutan.
5. Meningkatkan Kapasitas Manajemen dan Mengembangkan Institusi Badan POM yang Kredibel dan Unggul
Kapasitas manajemen Badan POM dikembangkan untuk menjamin penerapan good governance dan clean government sesuai sistem mutu yang dilaksanakan secara konsisten dan terus dikembangkan/dipelihara dalam rangka penerapan Reformasi Birokrasi. Right sizing organization
dilakukan untuk menjamin efektivitas Sistem Pengawasan Obat dan Makanan baik di Pusat maupun di daerah.
6. Memantapkan Jejaring Lintas Sektor dalam Pengawasan Obat dan Makanan Pengawasan Obat dan Makanan lebih diperkuat dengan memantapkan jejaring kerjasama lintas sektor terkait baik di dalam negeri maupun melalui kerjasama bilateral, regional, dan multilateral.
7. Memberdayakan Masyarakat dalam Pengawasan Obat dan Makanan
Melalui komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan pemberdayaan kepada masyarakat luas agar mampu mencegah dan melindungi diri sendiri dari penggunaan Obat dan Makanan yang berisiko terhadap kesehatan. Bersamaan dengan itu diciptakan ruang publik yang kondusif untuk memfasilitasi komunikasi interaktif antara Badan POM dengan masyarakat luas.
Badan POM melakukan tujuh strategi dalam melaksanakan arah kebijakan Badan POM yang dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Tujuh Strategi Dalam Melaksanakan Arah Kebijakan Badan POM
No. Strategi Fokus Prioritas
1. Peningkatan intensitas pengawsan pre market Obat dan Makanan, untuk
menjamin, khasiat/manfaat dan mutu produk
a. Penapisan penilaian produk Obat dan Makanan sebelum beredar sebagai antisipasi globalisasi, termasuk ACFTA. b. Peningkatan pelayanan publik terkait
pendaftaran produk Obat dan Makanan melalui online registration.
c. Pengawasan pengembangan vaksin baru produksi dalam negeri, untuk
mempercepat pencapaian target Millenium
Development Goals (MDG’s).
d. Peningkatan technical regulatory advice
untuk pengembangan jamu, herbal standar dan fitofarmaka.
e. Pengawasan pengembangan teknologi pangan (PPRG, iradiasi), untuk
perlindungan konsumen dan ketersediaan pangan.
f. Peningkatan pemenuhan GMP industri Obat dan Makanan dalam negeri dalam rangka meningkatkan daya saing. 2. Penguatan sistem, sarana, dan
prasarana laboratorium Obat dan Makanan
a. Pemantapan penerapan Quatity
Management System dan persyaratan
Good Laboratory Prictices (GLP) terkini.
b. Peningkatan sarana dan prasarana laboratorium di pusat dan daerah, sesuai dengan kemajuan IPTEK.
c. Pemenuhan peralatan laboratorium sesuai standar GLP terkini.
d. Peningkatan kompetensi SDM Laboratorium.
3. Peningkatan pengawasan post
market Obat dan Makanan
a. Pemantapan sampling dan pengujian Obat dan Makanan, berdasarkan risk based
approaches.
b. Intensifikasi pemberantasan produk ilegal, termasuk produk palsu.
c. Perluasan cakupan pengawasan pangan jajanan anak sekolah (PJAS), melalui operasionalisasi mobil laboratorium. d. Pengawasan sarana post market sesuai
e. Perkuatan pengawasan post market
kosmetik melalui audit kepatuhan dan evaluasi keamanan kosmetika
4. Pemantapan regulasi dan standar di bidang pengawasan Obat dan Makanan
a. Penyelarasan regulasi terkait dengan perubahan lingkungan strategis di bidang pengawsan Obat dan Makanan.
b. Peningkatan penerapan standar Obat dan Makanan yang terharmonisasi.
5. Pemantapan peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di bidang tindak pidana Obat dan Makanan
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas PPNS. b. Peningkatan pelaksanaan penyidikan Obat
dan Makanan.
c. Peningkatan koordinasi dengan sektor terkait dalam rangkaian CJS untuk
sustainable law enforcement tindak pidana
Obat dan Makanan.
6. Penguatan Institusi a. Implementasi Reformasi Birokrasi Badan POM termasuk peningkatan pelayanan publik.
b. Perkuatan sistem pengelolaan data serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK) termasuk strategi media komunikasi. c. Perkuatan human capital management
Badan POM.
d. Restrukturisasi Organisasi untuk menjawab tantangan perubahan lingkungan strategis.
e. Peningkatan dan penguatan peran dan fungsi Balai POM, Integrated Bottom Up
Planning dan Quality System Evaluation.
f. Perkuatan legislasi di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
7. Meningkatkan Kerjasama Lintas Sektor dalam Rangka Pembagian Peran Badan POM dengan Lintas Sektor terkait
a. Pemantapan koordinasi pengawasan Obat dan Makanan.
b. Pemantapan Sistem Kerjasama Operasional Pengawasan Obat dan Makanan.
c. Peningkatan operasi terpadu pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Makanan d. Perkuatan jejaring komunikasi
e. Pemantapan koordinasi pengembangan jamu brand Indonesia, pengeintegrasian dengan pelayanan kesehatan
f. Pemberdayaan masyarakat melalui
DIREKTORAT STANDARDISASI PRODUK PANGAN
3.1. Visi dan Misi (1)
Visi Direktorat Standardisasi Produk Pangan adalah terwujudnya standardisasi produk pangan dalam mendukung daya saing produk pangan nasional serta mendukung terlindungnya konsumen dari pangan yang tidak layak, tidak aman, dan dipalsukan.
Misi Direktorat Standardisasi Produk Pangan adalah sebagai berikut : 1. Mewujudkan jaminan mutu dan keamanan produk pangan nasional. 2. Mendukung dihasilkannya produk pangan yang berdaya saing tinggi.
3. Melindungi kepentingan masyarakan sesuai dengan ketentuan Internasional yang telah disepakati.
4. Memberdayakan sumber daya dalam negeri.
3.2. Tugas Pokok dan Fungsi (1)
Direktorat Standardisasi Produk Pangan mempunyai tugas penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi produk pangan.
Direktorat Standardisasi Produk Pangan menyelenggarakan fungsi :
1. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang pengaturan dan standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan.
2. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang pengaturan dan standardisasi pangan khusus.
3. Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang pengaturan dan standardisasi pangan olahan.
4. Penyusunan rencana dan program standardisasi produk pangan.
5. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di standardisasi produk pangan.
6. Evaluasi dan penyusunan laporan standardisasi produk pangan.
7. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.
3.3. Dasar Hukum (12)
1. Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 2. Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Undang-Undang No. 18 tahun 2012 tentang Pangan.
4. Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. 5. Peraturan Pemerintah No. 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. 6. Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi
Pangan.
7. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK02001/SK/KBPOM tanggal 26 Februari 2001 tentang Organisasi Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam pasal 249.
8. SK Kepala BSN No:07.A/KEP/BSN/1/2010 tentang Penyusunan Pembentukan Panitia Nasional Codex Indonesia, Kelompok Kerja Codex
Indonesia, Mirror Committee dan sekretariat Contak Point Codex Indonesia. 3.4. Arah Kebijakan
Arah kebijakan Direktorat Standardisasi Produk Pangan didasarkan pada arah kebijakan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya yang mengacu pada arah dan kebijakan Badan POM RI. Dari tujuh arah kebijakan Badan POM maka yang terkait dengan Direktorat Standardisasi Produk Pangan adalah arah kebijakan pertama, yaitu: (12)
Berdasarkan arah kebijakan Badan POM, dibuatlah arah kebijakan untuk Direktorat Standardisasi Produk Pangan, antara lain:(13)
1. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap standar dan budaya mutu dan keamanan produk pangan.
2. Peningkatan perlindungan masyarakat dan lingkungan melalui penerapan standar jaminan mutu dan keamanan pangan serta penegakan hukum.
3. Peningkatan perumusan standar dan penyelarasan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk pangan dengan Standar Internasional.
4. Peningkatan infrastruktur standardisasi produk pangan. 3.5. Strategi(12)
Arah kebijakan Direktorat Standardisasi Produk Pangan dilakukan melalui strategi keempat dan strategi ketujuh dari tujuh strategi Badan POM yang telah ditetapkan.
1. Strategi keempat:
Pemantapan Regulasi dan Standar di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan, diselenggarakan melalui fokus prioritas :
a) Penyelarasan regulasi terkait dengan perubahan lingkungan strategis di bidang pengawasan Obat dan Makanan.
b) Peningkatan pemenuhan regulasi dan standar obat dan makanan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan terkini.
2. Strategi ketujuh :
Meningkatkan Kerja Sama Lintas Sektor dalam Rangka Pembagian Peran Badan POM dengan Lintas Sektor terkait, yang diselenggarakan melalui fokus prioritas:
d) Penguatan Jejaring Komunikasi. 3.6. Program(12)
Program yang dilakukan oleh Direktorat Standardisasi Produk Pangan dari tahun 2010-2014 antara lain:
1. Pengkajian dan evaluasi standar produk pangan.
2. Penyusunan dan revisi peraturan, standar, pedoman dan code of practice di bidang pangan.
3. Perkuatan jejaring nasional, regional dan Internasional, sosialisasi dan advokasi standar pangan dalam penerapan informasi untuk tujuan review
peraturan, standar, pedoman dan code of practice. 4. Pemantauan standar pangan.
5. Pengembangan kualitas penyusunan standar pangan.
6. Pengembangan sistem standardisasi dan penyusunan dokumen perencanaan, penganggaran dan evaluasi program standardisasi produk pangan.
7. Pengembangan pegawai dan peningkatan, pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana direktorat.
8. Penyusunan NSPK dalam rangka dukungan program rencana aksi nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS).
9. Implementasi pedoman gizi seimbang pada PJAS.
10. Kajian kesenjangan kemampuan UMKM terhadap harmonisasi ASEAN. 11. Tindak lanjut kegiatan peningkatan keamanan dan mutu produk pangan
UMKM dalam rangka harmonisasi ASEAN.
3.7. Sistem Manajemen Standardisasi(12)
Direktorat Standardisasi Produk Pangan dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya mengembangkan sistem manajemen standardisasi produk pangan melalui siklus:
3.8.Struktur Organisasi
Direktorat Standardisasi Produk Pangan terdiri atas tiga Subdirektorat yaitu Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan, Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus, Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan, yang masing-masing Subdirektorat mempunyai bagian/seksi nya yang dapat dilihat pada gambar 3.2.
3.8.1. Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan
Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan pengaturan dan standardisasi pangan olahan. Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan rencana dan program standardisasi pangan olahan.
b. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi produk pangan.
c. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta penyusunan kodex pangan. d. Evaluasi dan penyusunan laporan standardisasi pangan olahan.
e. Pelaksanaan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan terdiri dari : a. Seksi Standardisasi Produk Pangan
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi produk pangan.
b. Seksi Kodeks Pangan
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penyusunan kodeks pangan.
c. Seksi Tata Operasional
Mempunyai tugas melakukan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
3.8.2. Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus
Subdirektorat Standardisas Pangan Khusus mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan pengaturan dan standardisasi pangan khusus. Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan rencana dan program standardisasi pangan khusus.
b. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi pangan hasil rekayasa genetika dan iradiasi.
c. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi produk pangan fungsional.
d. Evaluasi dan penyusunan laporan standardisasi pangan khusus. Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus terdiri dari :
a. Seksi Standardisasi Pangan Hasil Rekayasa Genetika dan Iradiasi
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi pangan hasil rekayasa genetika dan iradiasi.
b. Seksi Standardisasi Produk Pangan Fungsional
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi produk pangan fungsional.
3.8.3 Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan. Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan rencana dan program standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan.
b. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan sandardisasi bahan baku.
c. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi bahan tambahan pangan.
d. Evaluasi dan penyusunan laporan standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan.
Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan terdiri atas:
a. Seksi Standardisasi Bahan Baku
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi bahan baku.
b. Seksi Standardisasi Bahan Tambahan Pangan
Mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi bahan tambahan pangan.
3.9. Penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI)
Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, dilaksanakan secara tertib dan kerjasama semua pihak.(14) Badan Standardisasi Nasional (BSN) adalah Badan yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.(15)
Sistem Standardisasi Nasional (SSN) adalah tatanan jaringan sarana dan kegiatan standardisasi yang serasi, selaras dan terpadu serta berwawasan nasional, yang meliputi penelitian dan pengembangan standardisasi, perumusan standar, penetapan standar, pemberlakuan standar, penerapan standar, akreditasi, sertifikasi, metrologi, pembinaan dan pengawasan standardisasi, kerjasama, informasi dan
dokumentasi, pemasyarakatan, pendidikan dan pelatihan standardisasi. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang dibuat oleh panitia teknis yang dikoordinasikan oleh instansi teknis sesuai dengan kewenangannya, ditetapkan oleh BSN dan berlaku secara nasional. Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI), adalah rancangan standar yang dirumuskan oleh panitia teknis setelah tercapai konsensus dari semua pihak yang terkait (15).
Direktorat Standardisasi Produk Pangan mempunyai dua panitia teknis untuk menyusun SNI di bidang pangan yaitu :
1. Panitia teknis 67.01 : Pangan Olahan Tertentu
Ruang Lingkup : Pangan olahan tertentu termasuk makanan untuk bayi (makanan dalam kemasan dan makanan siap saji untuk pangan bayi, pangan balita, pangan ibu hamil dan menyusui, pangan orang yang menjalankan diet khusus, pangan manula, pangan bagi penderita penyakit tertentu).
2. Panitia teknis 67.02 : Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan Ruang Lingkup:
a. Bahan tambahan pangan
b. Bahan dan benda yang bersentuhan dengan pangan.
3.9.1 Tahap Perumusan SNI
Tahap-tahap perumusan SNI meliputi kegiatan penyusunan dan konsep RSNI baru atau revisi SNI, rapat konsensus, serta penetapan atau hasil revisi RSNI menjadi SNI. Kegiatan penyusunan konsep RSNI baru atau revisi SNI dilaksanakan oleh panitia teknis yang ditunjuk oleh BSN berdasarkan usul komisi perumusan standar dan informasi standardisasi, yang secara teknis dikoordinasikan oleh instansi teknis yang membawahinya. Tahapan penyusunan SNI dapat dilihat pada gambar 3.5.
Gambar 3.3. Tahap Perumusan SNI
Dalam perumusan Rancangan SNI (RSNI) atau revisi SNI, instansi teknis penanggung jawab perumusan SNI pada umumnya memerlukan keterlibatan instansi teknis lain atau wakil unsur-unsur terkait lainnya. Keterlibatan tersebut diperlukan karena untuk setiap SNI yang dibuat harus dikonsensuskan sebelum diajukan ke BSN. Untuk melaksanakan maksud tersebut, instansi teknis penanggung jawab harus membentuk panitia teknis (pantek) yang anggotanya mencakup wakil dari seluruh unsur terkait yang terdiri atas sektor pemerintahan, produsen, konsumen, dan lembaga penelitian.
Panitia teknis bertugas membantu instansi teknis untuk membuat RSNI atau revisi serta melaksanakan rapat konsensus di bawah pengawasan pejabat yang berwenang di instansi terkait sehingga dihasilkan rancangan standar yang siap ditetapkan. Selain itu, pantia teknis juga bertugas untuk mengevaluasi dan mengadopsi standar nasional atau Internasional yang ada.
3.10. Jenis Produk Standardisasi a. Peraturan/Regulasi
Peraturan/regulasi adalah sumber hukum formal berupa peraturan perundang-undangan yang memiliki beberapa unsur, yaitu suatu keputusan yang tertulis, dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang, dan mengikat umum. Dalam hal ini peraturan mengenai keamanan, mutu dan gizi pangan yang bersifat mandatory (wajib) untuk dilaksanakan karena ada perundangundangannya dan mengikat secara hukum. Contoh : Peraturan Kepala Badan POM RI No HK 00.05.52.4040 Tentang Kategori Pangan.
b. Standar
Standar Nasional Indonesia, bersifat voluntary (sukarela), terutama untuk acuan syarat mutu, dikecualikan untuk SNI yang wajib dan diberlakukan dengan SK institusi terkait. Contoh: SNI 01-7152-2006 Bahan Tambahan Pangan Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan.
c. Pedoman
Pedoman adalah hal (pokok) yg menjadi dasar (pegangan, petunjuk) untuk menentukan atau melaksanakan sesuatu. Pedoman bersifat voluntary (sukarela). Contohnya: Pedoman PJAS Untuk Pencapaian Gizi Seimbang – Pengawas dan/atau Penyuluh.
d. Kode Praktis
Pedoman yang lebih bersifat teknis. Contohnya: Petunjuk Memimalkan Terbentuknya Cemaran Kimia pada Pangan siap Saji dan Pangan Industri Rumah Tangga sebagai Pangan Jajanan Anak Sekolah.
3.11. Jenis Standar Pelayanan Publik Direktorat Standardisasi Produk Pangan (16)
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan POM RI No. 39 tahun 2013 tentang Standar pelayanan publik di lingkungan badan pengawas obat dan makanan, maka dalam hal pelayanan publik Direktorat Standardisasi Produk Pangan melakukan empat standar pelayanan publik antara lain :
1. Permohonan Pengkajian Keamanan, Mutu, Gizi dan Manfaat Pangan Untuk Kategori Pangan, Label dan Iklan Pangan.
2. Permohonan Pengkajian Keamanan, Mutu, Gizi dan Manfaat Pangan Untuk Bahan Tambahan Pangan dan Bahan Penolong.
3. Permohonan Pengkajian Keamanan, Mutu, Gizi dan Manfaat Pangan Untuk Klaim Gizi dan Kesehatan, Bahan Baku, Zat Gizi dan Non-gizi.
4. Permohonan Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik (PRG).
3.12. Kerjasama Internasional(9)
Dalam mengahadapi era globalisasi pasar Internasional yang memerlukan kredibilitas dan transparansi, maka Badan POM turut berpartisipasi dalam kegiatan Standardisasi Internasional, salah satu diantarnya adalah dalam kegiatan Codex
Allimentarius Commission (CAC), biasanya cukup disebut Codex. CAC merupakan
suatu badan yang dibentuk oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan
Word Health Organization (FAO) dan Word Health Organization (WHO) pada
tahun 1962 yang bertangungjawab untuk melaksanakan program Standar Pangan dari FAO/WHO. Sampai saat ini, CAC telah beranggotakan 186 negara termasuk Indonesia.
Codex menetapkan Codex text yang terdiri dari standar, pedoman, petunjuk
pelaksanaan dan rekomendasi lainnya di bidang komoditi pangan.Kegiatan Codex
khususnya di Direktorat Standardisasi Produk pangan, antara lain menyusun posisi delegasi RI untuk disampaikan sidang Codex, mengikuti sidang Codex (Physical
Working Group/PWG), memberikan masukan terhadap materi-materi yang dibahas
dalam Elektronic Working Group (EWG). Badan POM dalam hal ini Direktorat Standardisasi Produk Pangan, bertindak sebagai mirror committee di bidang:
2. Codex Committee on Food Labelling (CCFL)
3. Codex Committee on Contaminant in Foods (CCCF)
4. Codex Committee on Nutrition and Food for Special Dietary Uses (CCNFSDU)
3.13. Definisi yang Digunakan di Direktorat Standardisasi Produk Pangan Berikut ini adalah definisi yang digunakan di Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
a. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.(17)
b. Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.(17)
c. Cemaran adalah bahan yang tidak dikehendaki ada dalam makanan yang mungkin berasal dari lingkungan atau sebagai akibat proses produksi makanan, dapat berupa cemaran biologis, kimia dan benda asing yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. (18) d. Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat
dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan.(17)
e. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan.(17
f. Cara Produksi Pangan Yang Baik adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaimana memproduksi pangan agar bermutu, aman dan layak untuk dikonsumsi. (19)
g. Pangan Olahan Tertentu adalah pangan olahan untuk konsumsi bagi kelompok tertentu dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan kelompok tersebut.(20)
h. Pangan olahan organik adalah makanan atau minuman yang berasal dari pangan segar organik hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan yang diizinkan.(21)
i. Pangan Siap Saji adalah makanan dan/atau minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar pesanan.(22)
j. Pangan IRT adalah pangan olahan hasil produksi Industri Rumah Tangga (IRT) yang diedarkan dalam kemasan eceran dan berlabel. (19)
k. Pangan Produk Rekayasa Genetika (PRG) adalah pangan yang berasal dari PRG yang meliputi pangan segar, bahan tambahan pangan dan bahan lain yang digunakan untuk produksi pangan dan pangan olahan.(23)
l. Produk Rekayasa Genetik atau organisme hasil modifikasi yang selanjutnya disingkat PRG adalah organisme hidup, bagian-bagiannya dan/atau hasil olahan yang mempunyai susunan genetik baru dari hasil penerpan bioteknologi modern.(23)
m. Pangan iradiasi adalah setiap pangan yang dengan sengaja dikenai radiasi pengion tanpa memandang sumber atau jangka waktu iradiasi ataupun besar energi yang digunakan.(24)
n. Iradiasi pangan adalah metode penyinaran terhadap pangan, baik dengan menggunakan zat radioaktif maupun akselerator untuk mencegah terjadinya pembusukan dan kerusakan serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen.(24)
o. Kategori pangan adalah pengelompokan pangan berdasarkan jenis pangan tersebut. (8)
p. Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan yang ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.(25)
q. Batas Maksimum adalah jumlah maksimum BTP yang d2zinkan terdapat pada pangan dalam satuan yang ditetapkan.(25)
.
yang lazimnya tidak dikonsumsi sebagai pangan, digunakan dalam proses pengolahan pangan untuk memenuhi tujuan teknologi tertentu dan tidak meninggalkan residu pada produk akhir, tetapi apabila tidak mungkin dihindari, residu dan ada turunannya dalam produk akhir tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan serta tidak mempunyai fungsi teknologi.(23)
s. Iklan pangan adalah setiap keterangan atau pernyataan mengenai pangan dalam bentuk gambar, tulisan, atau bentuk yang lain yang dilakukan dengan berbagai cara untuk pemasaran dan atau perdagangan pangan.(15) t. Klaim adalah segala bentuk uraian yang menyatakan, menyarankan atau
secara tidak langsung menyatakan perihal karakteristik tertentu suatu pangan yang berkenaan dengan asal usul, kandungan gizi, sifat, produksi, pengolahan, komposisi atau faktor mutu lainnya. (26)
u. Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. (15)
v. Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat, baik untuk diperdagangkan maupun tidak.(20)
w. Cara ritel pangan yang baik adalah kegiatan pada tempat penjualan pangan baik di toko modern maupun di pasar tradisional agar pangan yang dijual bermutu, aman, dan layak dikonsumsi. (27)
x. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan, dan merevisi standar, yang dilakukan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak.(28)
BAB 4
PELAKSANAAN PKPA
Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) pada periode ini dimulai sejak tanggal 01-24 April 2014 diikuti oleh mahasiswa dari enam Universitas dan Institut yang membuka program studi Apoteker, antara lain: Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Pancasila (UP). Pada angkatan ini, mahasiswa peserta PKPA dibagi dalam tujuh belas kelompok dan kemudian ditempatkan di berbagai Direktorat Badan POM. Pada kesempatan ini, PKPA dibagi ke dalam tiga tahap, yakni tahap pembukaan dan pembekalan, tahap PKPA di unit kerja eselon 2 untuk masing-masing kelompok, dan tahap presentasi hasil dan penutupan PKPA.
Tahap pertama berlangsung pada tanggal 01-03 April 2014 di mana peserta PKPA diberikan pembekalan berupa pemaparan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Badan POM yang dipresentasikan oleh perwakilan masing-masing Direktorat, Pusat-pusat, Biro Umum dan Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat serta Balai Besar dan Balai POM. Pembekalan ini dilakukan di lantai 6 gedung F Badan POM dan direncanakan untuk diikuti oleh seluruh peserta PKPA. Kemudian, tahap kedua berlangsung selama tanggal 07 April 2014 sampai dengan 21 April 2014, di mana peserta kelompok 12 mendapat kesempatan melakukan PKPA di Direktorat Standardisasi Pangan, Badan POM RI selaku unit kerja eselon 2 di Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Direktorat ini menangani penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria, dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi produk pangan dengan pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya. Pada direktorat ini terdapat tiga Subdirektorat untuk mendukung tugas pokok dan fungsinya, yaitu Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan (SPO), Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus (SPK), serta Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan (SBB dan BTP). Tahap akhir PKPA berlangsung pada tanggal 23 April 2014 sampai dengan
24 April 2014, dengan agenda kegiatan berupa presentasi hasil PKPA di direktorat masing-masing dan penutupan PKPA.
Berikut ini adalah rincian kegiatan yang dilakukan penulis sebagai peserta PKPA di Direktorat Standardisasi Pangan.
4.1. Direktorat Standardisasi Produk Pangan
Pada tanggal 7 April 2014 penyusun diterima oleh Kepala Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan selaku pembimbing lapangan kami. Pada pagi itu, penyusun mendapatkan pengarahan tentang tugas pokok dan fungsi, kegiatan-kegiatan, luaran, struktur organisasi yang terdapat pada Deputi III dan Direktorat Standardisasi Pangan. Selain itu, penulis juga dijelaskan mengenai tata tertib yang berlaku selama PKPA.
Setelah itu, penulis menemui Kepala Seksi Tata Operasional untuk dijelaskan mengenai tugas-tugas Seksi Tata Operasional antara lain: mengkoordinir perencanaan dan penganggaran di Direktorat Standardisasi Produk Pangan, mengelola Sumber Daya Manusia (SDM), mengelola sarana prasarana, dan menangani surat masuk untuk Standardisasi Produk Pangan dan surat keluar dari Standardisasi Produk Pangan. Selain itu, penulis juga mendapat penjelasan tentang sistem manajemen mutu Badan POM yang menjadi bussines process dan telah tersertifikasi ISO 9001:2008. Dalam hal ini, Direktorat Standardisasi Produk Pangan termasuk ke dalam POM 01 yang merupakan proses penyusunan standar dan hal setara lainnya dan terdiri dari berbagai Standard Operational Procedure
(SOP).
Penulis kemudian mempelajari kegiatan - kegiatan yang terdapat di Subdirektorat-Subdirektorat dalam Direktorat Standardisasi Pangan. Di sela-sela kegiatan penulis, penulis juga berkumpul dengan teman sekelompok untuk mendiskusikan laporan PKPA dan materi yang didapatkan dari masing-masing Subdirektorat yang terdapat di Direktorat Standardisasi Pangan serta mempelajari alur izin khusus seperti alur izin khusus penggunaan BTP yang belum diatur dalam regulasi yang ada.
4.2. Subdirektorat Standarisasi Pangan Olahan
1. Membaca dan mempelajari peraturan/regulasi tentang pangan, standardisasi pangan, keamanan, gizi dan mutu pangan, label dan iklan pangan.
2. Membaca dan mempelajari Peraturan Kepala Badan POM tentang katagori pangan, pedoman periklanan pangan, label pangan, pedoman cara ritel pangan yang baik, pedoman jajanan anak sekolah (PJAS), Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Rencana Strategis, dan lain sebagainya.
3. Mendapat penjelasan dan pengarahan dari Kepala Seksi Standardisasi Produk Pangan mengenai tugas pokok, target, luaran dari Seksi Standardisasi Produk Pangan, pedoman periklanan pangan, penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI), Program Nasional Penyusunan Standardisasi (PNPS) dan introduksi mengenai Codex Allimentarius. 4. Mendapat penjelasan dan pengarahan dari Staf Seksi Kodeks Pangan
mengenai Codex Alimentarius Commission, tugas pokok dan kegiatan yang dilakukan Seksi Kodeks Pangan.
5. Mengikuti rapat yang dihadiri oleh stakeholder dalam rangka penyusunan draft Pedoman Cara Ritel Pangan pada Pasar Tradisional. 6. Mencari referensi berupa landasan hukum tentang hal-hal yang
didiskusikan dalam rapat penyusunan draft Pedoman Cara Ritel Pangan pada Pasar Tradisional antara lain: regulasi pangan siap saji, regulasi tentang pasar tradisional dan modern, peraturan daerah mengenai peredaran unggas potong pada pasar tradisional di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan beberapa daerah lainnya, regulasi yang mengatur penyajian pangan siap saji, regulasi yang mengatur cara ritel ikan hidup untuk dimakan, dsb.
7. Melakukan kaji banding pedoman periklanan pangan menurut Badan POM dengan Etika Pariwara Indonesia.
8. Memberikan masukan dan opini untuk draft “Tanya Jawab Seputar Pelabelan Pangan Olahan” dan draft “Tanya Jawab Seputar Bahan