KAJIANKEPUSTAKAAN Sejarah dan Karakteristik Domba Lokal di Indonesia. pertanian dan industri, mudah dikembangbiakan dan pasarnya selalu tersedia

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

II

KAJIANKEPUSTAKAAN

2.1. Sejarah dan Karakteristik Domba Lokal di Indonesia

Ternak domba atau sering juga dikenal sebagai ternak ruminansia kecil, merupakan ternak herbivora yang sangat populer di kalangan petani Indonesia. Ternak ini lebih mudah dipelihara, dapat dimanfaatkan limbah dan hasil ikutan pertanian dan industri, mudah dikembangbiakan dan pasarnya selalu tersedia setiap saat serta memerlukan modal yang relatif sedikit dibandingkan ruminansia besar (Setiadi, 1987). Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil domestikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis Vignei) yang berasal dari Asia. Taksonomi domestikasi domba menurut Ensminger (2002) adalah:

Kingdom : Animalia (hewan)

Phylum : Chordata (hewan bertulang belakang) Class : Mammalia (hewan menyusui)

Ordo : Artiodactyla (hewan berkuku genap) Family : Bovidae (memamah biak)

Genus : Ovis (domba)

Species : Ovis aries (domba yang didomestikasi)

Ternak domba mempunyai beberapa keuntungan dilihat dari segi pemeliharaannya, yaitu cepat berkembangbiak, dapat beranak lebih dari satu ekor dan dapat beranak dua kali dalam setahun, berjalan dengan jarak yang lebih dekat saat digembalakan sehingga mudah dalam 5 pemberian pakan, pemakan rumput, kurang memilih pakan yang diberikan dan kemampuan merasa tajam sehingga

(2)

lebih mudah dalam pemeliharaan, sumber pupuk kandang dan sebagai sumber keuangan untuk membeli keperluan peternak atau memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendadak.

Karakteristik domba atau biri (Ovis) adalah ruminansia dengan wol tebal dipelihara untuk dimanfaatkan wol, daging dan susunya. Domba yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar yang berada di wilayah Asia Tengah Selatan dan Barat Daya. Domba dengan umur 2,5 bulan, pertumbuhan absolut akan berjalan lambat dan domba umur 2,6 bulan sampai dengan masa pubertas, terjadi kenaikan pertumbuhan yang cepat dan saat domba mencapai pubertas, terjadi kembali perlambatan pertumbuhan dan kurva akan menjadi lebih landai pada saat mencapai titik balik (Anggorodi, 1990).

2.1.1 Klasifikasi Domba Lokal

Domba lokal mempunyai posisi yang strategis di masyarakat karena mempunyai fungsi ekonomis, sosisial dan budaya, merupakan sumber genetik yang khas untuk digunakan dalam perbaikan bangsa domba lokal maupun dengan domba impor (Sumantri. dkk., 2007). Bangsa-bangsa ternak lokal penting untuk dilindungi karena mempunyai keunggulan antara lain mampu bertahan hidup pada tekanan iklim dan pakan yang berkualitas rendah, tahan terhadap penyakit dan gangguan caplak, sumber gen yang khas, produktif dipelihara dengan biaya relatif rendah, mendukung keragaman pangan, pertanian dan budaya.

Domba Indonesia umumnya berekor tipis (thin-tailed), namun ada pula yang berekor gemuk (fat-tailed) seperti domba Donggala dan domba-domba yang 6 berada di daerah Jawa Timur. Menurut Mulyaningsih (1990) domba di Indonesia

(3)

dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Domba Ekor Tipis (javanesa thin tailed), Domba Priangan (priangan of west java) dikenal juga dengan Domba Garut, dan Domba Ekor Gemuk (javanesa fat tailed) sedangkan menurut Bradfrod dan Inounu (1996) hanya dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu Domba Ekor Tipis (DET) dan Domba Ekor Gemuk (DEG). Domba ekor tipis diduga berasal dari India/Bangladesh dan domba Ekor Gemuk diduga berasal dari daerah Asia Barat.

2.1.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Tubuh Ternak Domba

Pertumbuhan merupakan proses terjadinya perubahan ukuran tubuh dalam suatu organisme sebelum mencapai dewasa. Perubahan ukuran meliputi perubahan bobot hidup dan komposisi tubuh termasuk pola perubahan pada komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak tulang dan organ dalam serta komponen kimia terutama air, lemak, protein dan abu. Pada proses selama pertumbuhan terjadi dua hal yang mendasar yaitu pertambahan bobot hidup yang disebut pertumbuhan dan perubahan bentuk yang disebut perkembangan. Pertumbuhan pada umumnya dinyatakan dengan mengukur kenaikan bobot hidup yang mudah dilakukan dan biasanya dinyatakan sebagai pertambahan bobot hidup harian atau average daily gain (ADG). Pertumbuhan yang diperoleh dengan memplotkan bobot hidup terhadap umur akan menghasilkan kurva pertumbuhan.

Domba mengalami proses pertumbuhan yang pada awalnya berlangsung cepat kemudian semakin lama semakin meningkat lebih cepat sampai domba berumur 3-4 bulan, namun pertumbuhan tersebut akhirnya kembali lambat pada saat domba mendekati kedewasaan tubuh (Sudarmono dan Sugeng, 2007). Pertumbuhan umumnya diukur dengan berat dan tinggi. Domba muda mencapai

(4)

75% bobot dewasa pada umur satu tahun dan 25% lagi setelah enam bulan 9 kemudiannya yaitu pada umur 18 bulan dengan pakan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan domba antara lain spesies, pakan, genetik, kesehatan menajemen dan iklim. Rata-rata pertambahan bobot badan (PBB) domba lokal yang dipelihara di peternakan rakyat sebesar 30 gram/hari (Gatenby dan Prawoto, 1995). Pertumbuhan kompensasi seringkali lebih cepat dari pada pertumbuhan normal sebelum terjadi penurunan bobot badan. Pertumbuhan kompensasi terkadang dapat terjadi dengan sempurna atau bahkan lebih daripada sempurna, tetapi yang sering terjadi adalah kompensasi tidak sempurna yang disebut “stuntin” atau kompensasi gagal.

2.2 Program Hilirisasi Domba Padjadjaran

Pada awalnya domba Priangan terbentuk dari persilangan antara domba lokal dengan domba Merino dan kemudian disilangkan kembali dengan domba Kapstaad dari Afrika. Hasil persilangan ini sudah permanen, terjadi beberapa puluhtahun yang lalu.Domba lokal yang berada di daerah Cibuluh mengarah ke Dombatangkas kemudian di sertifikasi menjadi domba Garut, sementra itu yang berada di daerah Wanaraja ini menjadi tipe pedaging yang kemudian menjadi asal usul domba Padjadjaran. Domba Padjadjaran mengalami pemurnian dan pemantapan dalam sifat-sifat objektif lainnya. Pada bagian lain perkembangan permintaan pasar domba masih sangat besar, domba di Indonesia sebagai sumber daging, suber pupuk kandang, sebagai ternak tabungan dan kesenangan .

Permasalahan yang dihadapi adalah sejauh mana produksi domba Padjadjaran dapat dikembangkan di berbagai daerah yang berbeda, setelah

(5)

berhasil dimurnikan dan distandarisasi terutama untuk produksi yang berorientasi pasar, sehingga memberikan keuntungan karena nilai tambah ternak yang di dapat pasca permurnian. Implementasi bioteknologi reproduksi (sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan) dapat mempercepat tercapainya populasi dasar, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam Program Suasembada Kecukupan Domba di Jawa Barat 2014 (Bandiati, dkk, 2009).

Pengembangan domba Padjadjaran setelah mengalami keseragaman pada beberapa sifat kuantitatif, maka perlu adanya pengarahan yang biasanya dikerjakan dilapangan atau dipeternak domba, maka terbentuklah VBC dengan penerapan program hilirisasi domba Padjadjaran melalui perluasan village breeding center (VBC) merupakan salah satu upaya pengembangan domba Padjadjaran secara berkesinambungan. Adanya program perluasa village breeding center dilakukan selain untuk pengembangan domba Padjadjaran juga untuk meningkatkan kesejahteraan Desa melalui komoditi peternakan yaitu domba Padjadjaran. Perluasan dilakukan dengan hilirisasi domba Padjadjaran dibeberapa kabupaten di Jawa Barat yaitu, Bandung Barat, Indramayu, pruwakarta, Majalengka, dan Tasikmalaya. Domba padjadjaran berbasis pinjaman ini diberikan kepada satu kelompok VBC di Desa masing-masing Kabupaten tersebut. Duapuluh ekor domba untuk satu kelompok peternak dengan maksimal anggota duapuluh orang. Dengan demikian, satu orang memelihara satu domba yang pemeliharaannya ditanggung oleh masing-masing peternak. Pada saat beternak dan anak yang dihasilkan sudah cukup besar, anakan tersebut akan dibeli kambali oleh peneliti (pelaksana program). Domba yang baik akan dilibatkan lagi dalam seleksi. Adapun cara pembelian anakan domba tersebut

(6)

ditentukan berapa berat badannya lalu dikalikan dengan harga perkilo hidup dan 60% akan dibayarkan kepada peternak.

2.2 Respons

2.2.1 Pengertian Stimulus- Respons

Respons berasal dari kata response, yang berarti jawaban, balasan atau tanggapan (reaction) dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga di jelaskan definisi respon adalah berupa tanggapan, reaksi dan jawaban. Setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan atau balasan (respon) terhadap rangsangan atau stimulus (Sarlito,1995). Menurut Gulo (1996), respon adalah suatu reaksi atau jawaban yang bergantung kepada stimulus atau merupakan hasil dari stimulus tersebut. Individu manusia berperan serta sebagai pengendalian antara stimulus dan respon sehingga yang menentukan bentuk respon individu terhadap stimulus adalah faktor individu itu sendiri (Azwar, 1998).

Menurut Skinner dalam Notoadmojo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena itu terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons maka teori dari Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-Respon.

Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan. Perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya, (Sarwono, 2007).

(7)

Perilaku adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari batasan ini dapat diuraikan lagi bahwa reaksi manusia berbentuk macam-macam yang pada hakekatnya digolongkan menjadi dua yakni dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau abstrak) dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan kongkrit). Pada dasarnya perilaku dapat diamati melalui sikap dan tindakan juga dalam sikap potensial yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi (Notatmodjo, 2003).

Sarlito (1987), yang menyatakan bahwa antara respon tertutup dan respon terbuka terdapat suatu keterikatan namun hubungan tersebut ada yang selaras dan tidak selaras. Selaras artinya sistem kognitif dan komponen afektif mempunyai sifat yang sama disemua seginya maka tindakan maka timbulah keadaan yang selaras dengan psikomotorik dan tidak ada dorongan untuk berubah, sedangkan tidak selaras artinya system kognitif dan komponen afektif itu mempunyai segi-segi yang tidak bisa berjalan bersama-sama, maka terjadilah ketidak selarasan dan timbul tekanan yang mendorong atau mengubah sistem kognitif sedemikian rupa sehingga tercapai keadaan selaras.

Berlo (1960), menyatakan respon sebagai sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil atau akibat dari menerima stimulus. Stimulus tersebut merupakan yang dapat diterima oleh seseorang melalui salah satu penginderanya. Respon dibagi menjadi dua jenis, yaitu tidak nampak (covert response) dan tampak (overt response). Respon yang tidak nampak diwujudkan oleh seseorang kedalam aspek kognitif (pengetahuan) dan afeksi (sikap) sedangkan respon yang nampak diwujudkan seseorang dalam psikomotorik (tindakan).

Thondike, dkk yang dikutip Sarlito (1987) menyatakan bahwa rangsangan memberikan akibat positif atau memberi “rewarsing” maka tingkah laku balas

(8)

terhadap rangsangan pada kesempatan yang lain. Sebaliknya kalau rangsangan negatif atau menghukum “punishing”, maka hubungan rangsangan balas itu akan dihindari pada kesempatan yang lain.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Steven M Caffe respon dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Kognisi, respon yang berkaitan erat dengan pengetahuan keterampilan dan informasi seseorang mengenai sesuatu. Respon ini timbul apabila adanya perubahan terhadap yang di pahami atau di persepsi khalayak.

2. Afeksi, yaitu respon yang berhubungan dengan emosi, sikap dan menilai seseorang terhadap sesuatu. Respon ini timbul apabila ada perubahan yang disenangi oleh khalayak terhadap sesuatu.

3. Konatif (psikomotorik), yaitu respon yang berhubungan dengan perilaku nyata yang meliputi tindakan atau perbuatan.

Respon juga merupakan predis posisi (keadaan mudah terpengaruh) untuk memberikan tanggapan terhadap rangsangan lingkungan, yang dapat memulai atau membimbing tingkah laku orang tersebut. Respon hanya akan ada bila ditampakkan dalam bentuk tindakan atau perilaku, lalu timbul proses evaluasi yang menentukan apakah menerima atau menolak terhadap objek yang di hadapi (Marait, 1984).

2.2.2 Pengetahuan (Kognitif)

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan sesorang (overt behavior).

(9)

A. Proses Adopsi Perilaku

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akanlebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmojo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang diadopsiperilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

1. Awareness (kesadaran), yakini orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.

3. Evaluation (menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4. Trial, orang telah mencoba perilaku baru.

5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahn perilakutidak selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilakumelalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, makaperilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak disadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

B. Tingkat Pengetahuan Didalam Domain Kognitif.

Pengetahuan yang tercakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :

(10)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dariseluruh bahan yang dipelajari atau rangangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu inimerupakan tingkatan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentangapa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telahpaham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (aplication)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisi (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisi ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

(11)

Sintesis menunjuk kepada sesuatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teoriatau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.2.3 Sikap (Afektif)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut salah seorang ahli psikologis social, Newcomb, yang dikutip oleh Notoatmodjo, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, akantetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.

Sikap adalah bagian hakiki dari kepribadian seseorang. Namun, sejumlah teori mencoba memperhitungkan pembentukan dan perubahan sikap.Salah satu teori menyatakan bahwa orang mencari kesesuaian dan keyakinannya dengan perasaanya terhadap obyek dan mengemukakan bahwa perubahan sikap tergantung pada perubahan perasaan atau keyakinan (Rosenberg, 1960) yang

(12)

dikutip oleh Gibson dkk, (1994). Selanjutnya teori itu mengasumsikan bahwa orang mempunyai sikap yang berstruktur yang tersusun dari berbagai komponen afektif dan kognitif. Pertalian dari komponen tersebut berarti bahwa perubahan pada suatu komponen menggerakan perubahan pada komponen lain. Jika komponen-komponen ini tidak sesuai atau melampaui tingkat toleransi orang yang bersangkutan, maka akan timbul ketidakstabilan. Ketidakstabilan itu dapat dikoreksi oleh (1) pengingkaran dari pesan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap, (2) pemecahan atau fragmentasi sikap, atau (3) penerimaan ketidak konsistenan sehingga terbentuk sikap baru.

Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Notoatmodjo, menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen pokok, yaitu :

1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek. 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.

3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Seperti halnya pengetahuan, sikap terdiri atas empat tingkatan, yaitu : 1) Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2) Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikanadalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berartibahwa orang menerima ide tersebut.

(13)

3) Menghargai (Valuring)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan sesuatu masalah adalah suatuindikasi dari sikap menghargai.

4) Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Sikap yang dilihat pada penelitian ini berbentuk perasaan peternak terhadap program hilirisasi domba Padjadjaran yaitu perasaan senang, tidak senang, suka atau tidak suka. Perasan itu akan di perlihatkan secara tertutup atau tidak nampak sehingga orang lain belum tentu mengetahuinya dan sikap dapat dilihat dari bagaimana penilaian peternak terhadap fasilitas serta kegiatan yang di berikan. Apakah peternak merasa perlu dan merasa bermanfaat dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diadakan seperti penyuluhan, monitoring dan evaluasi. Ketika seseorang menilai baik dengan merasa bahwa apa yang diberikan itu dibutuhkan seseorang akan merasa senang dalam mengikuti kegiatan tersebut.

2.2.4 Psikomotorik (Tindakan)

Tindakan yaitu keseluruhan respon (reaksi) yang mencerminkan sipelaku dan mempunyai akibat (efek) terhadap lingkungannya (Sarlito, 1995). Suatu tindakan dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian sesuatu agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Psikomotor ini berhubungan dengan kebiasaan bertindak yang merupakan aspek perilaku yang menetap (Rakhmat, 1989). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan

(14)

faktor pendukung atau suatu kondisi memungkinkan, antara lain adalah fasilitas (Notoatmojo, 2003). Tindakan ini mempunyai beberapa tingkatan.

1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

2. Respons terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu dengan sesuai urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.

3. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

4. Adopsi (adoption)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah di modifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Tindakan pada penelitian ini dilihat dari dua aspek yaitu partisipasi dan keterampilan.

A. Partisipasi

Dalam jurnal yang ditulis oleh Achma Hendra Setiawan (2004), Partisipasi sendiri adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan ikut berbagi tanggung jawab atas tercapainya tujuan tersebut. Istilah partisipasi dikembangkan untuk menyatakan atau menunjukkan peran serta

(15)

(keikutsertaan) seseorang atau sekelompok orang dalam aktifitas tertentu. Partisipasi pada penelitian ini dilihat dari kegiatan – kegiatan yang di berikan kepada peternak, apakah peternak mengikuti (berpartisipasi) dalam kegiatan – kegiatan yang diadakan yaitu sosialisasi kegiatan meliputi penyuluhan dan pre-test, serta kegiatan monitoring dan evaluasi.

B. Keterampilan

Keterampilan diartikan sebagai kemampuan seseorang terhadap suatu hal yang meliputi semua tugas-tugas kecakapan, sikap, nilai dan kemengertian yang semuanya dipertimbangkan sebagai suatu yang penting untuk menunjang keberhasilannya didalam penyelesaian tugas

Keterampilan pada penelitian ini dilihat sejauhmana peternak lebih meguasai terhadap aspek zooteknis seperti breeding, feeding, dan manajemen, keterampilan peternak dalam aspek produktivitas kelahiran, yang dilihat dari bobot lahir anak yang di hasilkan, kondisi fisik anak tersebut dan jumlah anak yang lahir, dan keterampilan peternak terhadap kemampuan pencatatan (recording).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :