• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANAK. 3.1.Definisi Anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III ANAK. 3.1.Definisi Anak"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III ANAK

3.1.Definisi Anak

Terdapat beberapa pengertian “anak-anak” yang secara harafiah didapatkan dari beberapa kamus internasional, diantaranya:

1. Laki- laki atau perempuan pada masa sebelum pubertas1 2. Manusia antara bayi dan pubertas2

3. Anak laki- laki atau perempuan3

Pada dasarnya istilah ‘anak’ (jamak: anak-anak) sangat variatif dengan berdasarkan waktu dan tempat, seperti juga pada beberapa kondisi (hukum, psikologis, biologis, agama, dll) ketika istilah tersebut digunakan.

Biasanya istilah anak-anak mengacu pada kondisi ataupun umur seseorang4, yang dapat merupakan manusia antara kelahiran dan masa pubertas, atau menunjuk kepada sifat kekanakan dari seseorang. Sedangkan definisi legal tentang anak-anak menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK BAB I PASAL 15: Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Perilaku sosial anak- anak berbeda di seluruh dunia, dan selalu berubah seiring berjalannya waktu. Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar anak- anak di Amerika Serikat mendapat perlakuan over protected6, sedangkan studi yang dilakukan pada tahun 1988 pada benua Eropa menunjukkan bahwa Italia merupakan Negara yang paling ‘child-centric’ dan Belanda merupakan Negara kebalikan dari Italia.

1

Michael Agnes, Webster’s College Dictionary, Wiley Publishing,Inc.Cleveland,Ohio USA,2002, page 254 2 http://www.thefreedictionary.com/child 3 http://www.thefreedictionary.com/child 4

The Oxford English Dictionary Compact Disc, 7 Desember 2007

5

6

Rachel K. Jones dan April Brayfield, European Attitudes Toward the Centrality of Children. Social Forces, Vol.75, No.4,Jun 1997.1,239-69 pp.Chapel Hill,North Carolina

(2)

Umur dimana anak- anak dipertimbangkan untuk bertanggung jawab pada tindakan mereka juga berubah setiap waktu, dan hal ini mempengaruhi perlakuan terhadap mereka di mata hukum. Pada masa Romawi anak- anak dianggap tidak bersalah terhadap kejahatan yang mereka lakukan, sedangkan pada abad ke sembilan belas, hal ini berubah. Anak- anak diatas umur tujuh tahun dianggap bertanggung jawab terhadap tindakan mereka. Anak- anak yang melakukan tindak kejahatan akan menghadapi tuntutan kriminal, dengan dikirim ke penjara dan mendapatkan hukuman1.

3.2.Klasifikasi Usia Anak

Dalam tingkatan hidup manusia, seorang anak memiliki batasan umur tertentu. Namun ternyata batasan tersebut tidak hanya muncul secara hirearkis, namun juga muncul berdasarkan kegiatan dan perkembangan tertentu pada anak.

3.2.1. Posisi Usia Anak berdasarkan Klasifikasi umur manusia

Terdapat beberapa pembagian usia manusia menurut beberapa tokoh- tokoh psikologi maupun humanis dunia, diantaranya:

3.2.1.1. L.C.T. Bigot. Ph. Kohnstam & B.G. Palland2

Masa kehidupan dibagi menjadi: 1. Masa bayi dan kanak (0-7 tahun)

Bayi : 0-1 tahun

Kanak : Masa Vital 1-2 tahun

Masa Estitis 2-7 tahun

2. Masa Sekolah/ intelektuil : 7-13 tahun

3. Masa Sosial : 13-21 tahun

3.2.1.2. Elizabeth B. Hurlock3

11 masa dalam rentang hidup manusia:

1

Jouvenile Courts

2

B. Simanjuntak, Latar Belakang Kenakalan Remaja, Alumni, Bandung, 1979, h.65

3

Arthur T. Jersild, Judith S. Brook, dan David W. Brook. The Psychology of Adolescenes, Macmillan Publishing Co,.Inc,New York,1978,h.5

(3)

1. Prenatal : Sejak konsepsi sampai lahir

2. Masa Neonatus : Lahir sampai usia 2 minggu

3. Masa bayi : 2 minggu-2 tahun

4. Masa kanak- kanak awal(early childhood): 2-6 tahun 5. Masa kanak- kanak akhir (late childhood): 6-10/11 tahun 6. Pubertas/ prodolescence : 10-12/13 tahun

7. Masa remaja awal : 13/14-27 tahun

8. Masa remaja akhir : 17-21 tahun

9. Masa dewasa awal : 21-40 tahun

10.Masa setengah baya : 40-60 tahun

11.Masa tua : 60 tahun atau lebih

3.2.1.3. Aristoteles1

0-7 tahun : masa kanak- kanak (infancy) 7-14 tahun : masa anak- anak (boyhood)

14-21 tahun : masa dewasa muda (young manhood)

3.2.2. Klasifikasi Usia Bermain Anak

Selain usia anak secara harafiah, terdapat juga klasifikasi usia bermain anak yang menunjukkan perkembangan dan kecenderungan anak pada usia tertentu, yang terkait pada lingkungan dan cara anak- anak tersebut bermain. Namun, sangat memungkinkan bahwa tiap anak memiliki kecenderungan yang variatif, diantaranya perbedaan dalam criteria umur seperti yang ditunjukkan pada gambar dan keterangan berikut:

1

(4)

Gambar 12. Klasifikasi Usia Bermain Anak (sumber: Design for Fun, Playspaces., h.4)

1. Usia 0-3 tahun

Anak- anak menghasilkan pengalaman awal yang digunakan untuk mengontrol gerakan pada 3 tahun kehidupan pertama mereka. Anak pada usia ini cenderung bermain sendiri dan suka bereksperimen melalui sentuhan, pandangan, dan pendengaran. Bermain dengan pasir, clay, dan benda kreatif lainnya merupakan contoh permainan yang dilakukan anak pada usia ini.

2. Usia 3-6 tahun

Pada usia ini, anak- anak mulai memiliki kesadaran sosial, dan mereka mulai bermain dalam kelompok, menciptakan relasi sosial dan kemampuan bersosialisasi.

Anak pada usia ini menikmati aktivitas yang merepresentasikan sesuatu yang lain, seperti bermain dengan elemen abstrak, meja, bangku, ayunan,papan seluncur, dan benda- benda bergerak.

3. Usia 6-8 tahun

Pada usia ini anak banyak melakukan kegiatan yang melibatkan gerakan dan aksi. Pada tahap ini juga anak banyak melatih kemampuan motorik dan kognitifnya.

4. Usia 8-12 tahun

Dalam tahap menuju remaja, anak- anak biasanya bermain dalam kelompok anak seusia. Permainan terstruktur dengan peraturan yang jelas mendominasi dalam umur ini, selain demonstrasi anak terhadap kemampuan dan kerjasama dalam permainan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

(5)

3.3. Psikologi Perkembangan Anak pada masa Late Childhood

Terdapat beberapa faktor psikologi perkembangan anak yang memiliki hubungan dengan tema penelitian dalam laporan ini, yang kemudian dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:

3.3.1. Perkembangan Jasmani dan Psiko-Motorik

Secara fisik, sesudah usia 6 tahun anak mengalami pertumbuhan badan yang agak lambat daripada waktu sebelumnya. Sampai dengan umur 12 tahun anak bertambah panjang 5-6 cm setiap tahunnya, sedangkan berat badan anak bertambah lebih banyak dari panjang badannya. Pada akhir periode ini ditemukan lebih banyak perbedaan individual diantara anak-anak, seperti perbedaan fisik yang khas. Sedangkan dalam jenis seks hampir tidak ditemukan adanya perbedaan fisik yang khas.

Pada umur 6 tahun keseimbangan badan anak relatif berkembang baik. Penguasaan badan seperti membongkok, melakukan bermacam- macam gerakan senam serta aktivitas olah raga berkembang dengan baik pada masa sekolah. Juga koordinasi antara mata-tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar, dan menangkap. Dalam masa ini terdapat perbedaan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus. Kecakapan motorik ini, faktanya, makin disesuaikan dengan ’keleluasaan’ lingkungan. Gerakan motorik makin tergantung pada aturan formal dan bersifat kurang spontan. Gerakan yang sangat banyak dilakukan anak pada masa sebelumnya berkurang pada akhir masa ini.

3.3.2. Perkembangan Sosial dan Kepribadian

Perkembangan sosial anak pada masa ini ditandai dengan meluasnya lingkungan sosial. Anak- anak mulai melepaskan diri dari keluarga, dan makin mendekatkan diri pada orang lain disamping anggota keluarga. Hal ini menyebabkan anak menjumpai banyak pengaruh diluar pengawasan orang tua. Ia bergaul dengan teman- teman, memiliki guru- guru yang berpengaruh besar dalam proses emansipasi1. Dalam proses emansipasi dan individu teman sebaya juga memiliki peranan yang besar. Di samping itu perkembangan motif prestasi dan identitas seks sangat penting, dan perkembangan pengertian norma

1

(6)

dalam masa ini juga mengalami kemajuan yang essensial. Aspek-aspek tersebut akan dibahas berikut ini.

3.3.2.1. Interaksi dengan Anak- Anak Sebaya

Dalam masa pendidikan TK dan SD anak memiliki kontak intensif dengan teman- teman sebaya. Dalam tahap ini anak-anak saling mempenaruhi satu sama lain. Anak biasanya berusaha untuk menjadi anggota suatu kelompok. Pada awalnya mereka tidak mengetahui perilaku yang dipuji atau dihargai untuk diterima dalam suatu kelompok. Sering terlihat bahwa anak menirukan perilaku anggota kelompok yang paling aktif dan berkuasa. Dalam tahap ini kelompok- kelompok tersebut belum memiliki struktur dan aturan, dan masih berupa kelompok- kelompok informal. Sejumlah tingkah laku timbul dengan cara mnirukan, belajar model, dan oleh reinforsemen dari pihak teman sebaya.

Interaksi dengan teman sebaya merupakan permulaan hubungan persahabatan dan hubungan dengan peer1. Persahabatan antar anak selanjutnya terjadi atas dasar interes dan aktivitas bersama. Hubungan tersebut bersifat timbal balik dan memiliki sifat- sifa sebagai berikut:

1. Ada saling pengertian, 2. Saling membantu, 3. Saling percaya, dan

4. Saling menghargai atau menerima.

3.3.2.2. Perkembangan Motivasi Prestasi

Setiap tingkah laku memiliki motif tersendiri, dan salah satu aspek kepribadian seseorang yang paling banyak diteliti adalah mengenai motivasi prestasi. Pada umumnya motivasi dibedakan menjadi dua, yakni motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik datang dari diri orang itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik timbul akibat dorongan atau paksaan dari luar. Namun, ada kalanya motivasi ekstrinsik berubah menjadi intrinsik.Dorongan untuk berprestasi pada manusia terlihat sejak usia tiga setengah tahun. Anak usia ini sudah mulai menunjukkan ciri- ciri tingkah laku kompetisi, dengan

1

(7)

membandingkan hasil pekerjaan mereka dengan anak- anak lain. Anak- anak mencoba melakukan sesuatu lebih baik, dibanding dengan suatu standar keunggulan.

Standar keunggulan tersebut dapat berhubungan dengan

1. Prestasi orang lain, dimana anak ingin berbuat lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang lain

2. Prestasi diri sendiri yang lampau, anak ingin berbuat melebihi prestasinya yang dulu

3. Tugas yang harus dilakukan, dimana anak ingin menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin. Jadi, tugas tersebut merupakan tantangan bagi anak.

Dipandang dari segi psikologi perkembangan anak dapat ditentukan bahwa kecenderungan berprestasi ini harus diberi stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi anak.

3.3.2.3. Perkembangan Kognitif

3.3.2.4. Psikologi Rasa Takut Pada Anak1

Dalam psikologi, dipercaya bahwa ketakutan dan tekanan terbesar pada anak ditimbulkan akibat pengalaman pada tiga tahun pertama hidup anak Pada saat anak tumbuh dewasa, ketakutan tersebut mulai muncul dari pengalaman anak tersebut dengan lingkungan, baik realistis maupun fantasi. Pada dasarnya ketakutan pada anak dapat dibagi menjadi empat. Namun, jenis fobia ini bervatiasi pada tiap anak, tergantung pada perkembangan anak yang dipengaruhi oleh perkembangan kognisi dan lingkungan.

1. Fobia pada Binatang Tertentu

Ketakutan ini biasanya muncul pada usia 3-5 tahun. 2. Ketakutan akan situasi tertentu

1

(8)

Ketakutan yang dimaksud adalah ketakutan pada bermacam situasi yang pernah dialami anak, seperti ketakutan akan ketinggian (acrophobia), ketakutan pada benda tajam (aichmophobia), ketakutan akan kesendirian (menophobia), dan ketakutan akan situasi gelap (nyctophobia).

3. Keasingan Sosial

Adalah ketakutan anak pada situasi sosial di sekitarnya, seperti ketakutan pada orang asing (xenophobia), dan bahkan ketakutan pada manusia pada umumnya (anthropobhia). Salah satu contoh nyata ketakutan ini adalah fobia sekolah, dimana anak- anak takut untuk meninggalkan rumah dan keluarga.

4. Agoraphobia

Adalah ketakutan pada tempat terbuka, seperti ketakutan untuk meninggalkan perasaan aman yang didapatkan di rumah.

3.4.Antropometri anak usia 6-12 tahun

Sebagai user, diperlukan data antropometri yang relevan dengan kegiatan anak- anak dalam paralayang. Data antropometri tersebut antara lain tinggi badan, berat badan, dan rentang tangan seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 13. Studi antropometri anak pada SD Coblong VI, Bandung (sumber: koleksi penulis)

Gambar

Gambar 12. Klasifikasi Usia Bermain Anak   (sumber: Design for Fun, Playspaces., h.4)
Gambar 13. Studi antropometri anak pada SD Coblong VI, Bandung   (sumber: koleksi penulis)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil menunjukkan bahwa terdapat berbedaan yang signifikan antara kecemasan sebelum diberikan terapi bermain dan sesudah dilakukan terapi bermain pada anak usia

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zen (2013) menunjukkan ada pengaruh terapi bermain puzzle terhadap kecemasan anak usia prasekolah

Bermain adalah serangkaian kegiatan atau aktifitas anak untuk bersenang-senang apapun kegiatannya, selama itu terdapat unsur kesenangan atau kebahagian bagi anak

Dengan demikian bermain adalah sesuatu yang perlu bagi perkembangan anak dan dapat digunakan sebagai suatu cara untuk memacu perkembangan anak.. Bermain merupakan

Bermain konstruksi lego berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah, karena dengan bermain konstruksi lego akan menstimulasi gerakan jari

Dalam penelitian ini metode analitik korelasional digunakan untuk menganalisis hubungan antara durasi bermain gadget anak dengan perkembangan sosial anak pra sekolah usia 4- 6 tahun

Anak pada usia sekolah sedang dalam masa perkembangan dimana mereka sedang dibina untuk mandiri, berperilaku menyesuaikan dengan lingkungan, peningkatan berbagai kemampuan dan berbagai

Pengaruh terapi bermain plastisin terhadap perkembangan motorik halus anak usia 3-5 tahun Berdasarkan tabel 2 diperoleh bahwa sebelum diberikan terapi bermain plastisin seluruh