PROFESIONALISME POLISI DALAM PENEGAKAN HUKUM
Agus Raharj o dan Angkasa
Fakult as Hukum Unviersit as Jenderal Soedirman Purwokert o E-mail: agus. raharj o007@gmail. com
Abst r act
Vi olence i s of t en done by pol i ce i n t he i nvest i gat ion t o get a conf ession t he suspect . Thi s behavi or has become a habi t t hat can be r ef er enced f r om var ious r esear ch r esul t s, whi ch ar e caused by l ack of super vi sor y agency i nvest i gat i on, an i ncompl et e l egal i nst r ument s, t he pr ot ect ion of t he i nst it ut ion, and t he unpr of essi onal at t it ude of t he pol i ce. Thi s si t uat ion causes no chance t o f i ght f or a suspect hi s r i ght s and t he per pet r at or s of vi olence i naccessi bl e. Pr of essional i sm associ at ed wit h st andar di zed mor al i ssues i nt o t he code of conduct , and any vi olat i on of et hi cs code i ndi cat es a pr obl em i n t he body of mor al pol i ce. Ther e shoul d be a mor al i mpr ovement i n t he i nvest i gat or f or i nvest i gat ion can t ake pl ace pr oper l y and cor r ect l y accor di ng t o expect at i ons.
Key wor ds: pol i ce viol ence, i nvest i gat ion, cr i mi nal j ust i ce syst em, code of conduct
Abst rak
Kekerasan seringkali dilakukan oleh polisi dalam penyidikan unt uk mendapat kan pengakuan t ersangka. Perilaku ini t elah menj adi kebiasaan yang dapat dit unj ukkan dari berbagai hasil penelit ian, yang disebabkan oleh ket iadaan lembaga pengawas penyidikan, inst rumen hukum yang t idak lengkap, adanya perlindungan dari inst it usi, dan sikap t idak pr of essional dari polisi. Keadaan ini menyebabkan t idak ada kesempat an t ersangka unt uk memperj uangkan hak-haknya dan pelaku kekerasan t ak t erj amah. Prof esionalit as berkait an dengan masalah moral yang dibakukan menj adi kode et ik, dan adanya pelanggaran kode et ik menunj ukkan adanya masalah moral dalam t ubuh polisi. Perlu ada perbaikan moral pada penyidik agar penyidikan dapat berlangsung dengan baik dan benar sesuai harapan.
Kat a kunci: kekerasan polisi, penyidikan, sist em peradilan pidana, kode et ik
Pendahuluan
Masalah moralit as penegak hukum dari wakt u ke wakt u masih merupakan persoalan yang relevan unt uk dibicarakan, karena apa yang disaj ikan oleh media massa seringkali bersif at paradoksal.1 Pada sat u sisi, penegak hukum di t unt ut unt uk menj alankan t ugas sesuai dengan amanat undang-undang yang beruj ung pada pemberian put usan dengan subst ansi berupa ke-adilan bagi para pihak, akan t et api di sisi lain dij umpai penegak hukum yang j ust ru melakukan
Art ikel ini merupakan sebagi an Hasil Penel i t i an/ Ri set
Per-cepat an Guru Besar yang dil aksanakan at as Biaya DIPA Uni versit as Jender al Soedir man Tahun Anggaran 2011, No-mor Kont rak 2616. 18/ H23. 9/ PN/ 2011t anggal 27 Mei 2011. Penel i t i mengucapkan t eri ma kasih kepada 2 (dua) maha-sisw a: Muhammad Abduh dan Hezron Sabar Rot ua Ti nam-bunan at as part i si pasi nya dal am penel it ian ini.
1 Thomas Barker & David L. Cart er. 1999. Pol i ce Devi ance.
Anderson Publ ishing Co, Cincinat i OH, hl m. 3.
kej ahat an dan ini menyebabkan cit ra lembaga penegak hukum dan penegakan hukum Indonesia t erpuruk di t engah-t engah arus perubahan j a-man.2
Salah sat u penegak hukum yang seringkali mendapat sorot an adalah polisi, karena polisi merupakan garda t erdepan dalam penegakan hu-kum pidana, sehingga t idaklah berlebihan j ika polisi dikat akan sebagai hukum pidana yang hi-dup,3 yang ment erj emahkan dan menaf sirkan
2 Agus Raharj o, “ Hukum dan Dil ema Pencit r aannya (Tr ansi si
Par adigmat i s Il mu Hukum dal am Teor i dan Pr akt ik” , art i-kel dal am Jur nal Hukum Pr o Just i t i a Vol . 24 No. 1 Januari 2006. Bandung: FH Unpar; dan Agus Raharj o, “ Fenomena Chaos dal am Kehi dupan Hukum Indonesia” , ar t ikel dal am
Jur nal Syi ar Madani No. IX No. 2 Jul i 2007. Bandung: FH Uni sba;
l aw i n t he book menj adi l aw i n act ion. Meskipun Adj i mengemukakan bahwa perilaku sedemikian t elah membudaya, t erut ama dalam penyidikan ngan penelit ian yang dilakukan oleh Abdurrach-man membukt ikan bahwa masih dij umpai anya kekerasan yang dilakukan oleh penyidik da-lam penyidikan di wilayah Tegal dan di Bandung penegak hukum, bukan hanya harus t unduk pada hukum yang berlaku sebagai aspek luar, mereka dibekali pula dengan et ika kepolisian sebagai as-pek dalam kepolisian. Et ika kepolisian adalah norma t ent ang perilaku polisi unt uk dij adikan pedoman dalam mewuj udkan pelaksanaan t ugas yang baik bagi penegakan hukum, ket ert iban umum dan keamanan masyarakat .10 Polisi yang t idak beret ika dan t ak berint egrit as dalam t ugas t elah menj adi parasit -parasit keadilan yang mencipt akan Sist em Peradilan Pidana (SPP) se-bagai lingkaran set an maf ia peradilan. Masyara-kat menj adi enggan berhubungan dengan polisi/ lembaga kepolisian karena keduanya t elah men-j adi mesin t error dan horror. Inilah cont oh nya-t a bahwa SPP bersif anya-t kriminogen.11
Permasalahan
Ada dua permasalahan yang hendak diba-has pada art ikel ini. Per t ama, mengenai bent uk-bent uk kekerasan yang dilakukan oleh penyidik dalam penyidikan; dan kedua mengenai penilai-an prof esionalisme polisi (penyidik) berdasarkpenilai-an
pada kinerj a penyidik dalam penyidikan di Jawa Tengah.
Met ode Penelitian
Penelit ian ini merupakan penelit ian hukum sebagai l aw i n act ion yang bersif at empiris. Spe-sif ikasi penelit ian adalah kualit at if dengan sum-ber dat anya sum-berupa dat a primer dan dat a sekun-der. Lokasi penelit ian di Jawa Tengah yang meli-put i beberapa kabupat en/ kot a yang dit ent ukan secara purposive. Inf orman penelit ian t erdiri da-ri penyidik, t ersangka, t erdakwa, narapidana, mant an narapidana, advokat / penasehat hukum, dan akademisi. Dat a primer dan sekunder di-kumpulkan melalui met ode int erakt if dan non int erakt if . Dat a yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis int erakt if dan analisis mengalir.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Kekerasan Polisi sebagai Perilaku Menyimpang
Kepolisian merupakan lembaga sub sist em dalam SPP yang mempunyai kedudukan pert ama dan ut ama. Kedudukan yang demikian oleh Har-krist ut i Harkrisnowo dikat akan sebagai t he gat e keeper of t he cr imi nal j ust i ce syst em.12 Tugas polisi dalam rangkaian SPP adalah melakukan penyidikan yang beruj ung pada dihasilkannya Berit a Acara Pemeriksaan (BAP). Dalam penyi-dikan ini polisi sering melakukan kekerasan pada t ersangka. Penggunaan kekerasan oleh polisi merupakan salah sat u aspek dari paradigma gan-da polisi, yait u sebagai t he st r ong hand of socie-t y dan t he sof t hand of societ y.13
Konsep t ent ang kekerasan sebagaimana di int rodusir oleh Kief er, mengacu kepada dua hal. Per t ama, menunj uk kepada suat u t indakan un-t uk menyakiun-t i orang lain, sehingga menyebabkan
12
Harkrist ut i Harkrisnowo, Rekonst r uksi Konsep Pemi danaan: Suat u Gugat an Ter hadap Pr oses Legi sl asi dan Pemi -danaan di Indonesi a, Or asi pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tet ap dal am Il mu Hukum di FH UI Depok, 8 Maret 2003, hl m. 2.
13 Penggunaan kekerasan ini menempat kan pol isi sebagai
pe-negak hukum j al anan yang ber beda dengan pepe-negak hukum gedongan dal am per adil an pidana, yai t u kej aksaan dan pengadil an . Sat j i pt o Rahardj o, op. ci t, hl m. 41 dan 87; dan Yesmil Anwar dan Adang. 2009, Si st em Per di l an Pi dana: Konsep, Komponen dan Pel aksanaannya dal am Penegakan Hukum di Indonesi a, Wi dya Padj aj ar an, Bandung, hl m. 78
luka-luka at au mengalami kesakit an. Kedua, me-nunj uk kepada penggunaan kekuat an f isik yang t idak lazim dalam suat u kebudayaan.14 Keke-rasan dalam pengert ian yang luas t idak hanya meliput i dimensinya yang bersif at f isik, akan t e-t api j uga dimensi yang bersif ae-t psikologis. Da-lam hubungan ant ara kekerasan personal dan ke-kerasan st rukt ural, Nasikun dengan mengikut i konsep Galt ung, menyat akan bahwa kendat i ke-dua bent uk kekerasan it u secara empiris dapat berdiri sendiri-sendiri t anpa mengandaikan sat u sama lain, t umbuh melalui pengalaman hist oris sosiologis yang panj ang. Keduanya secara empi-ris mempunyai hubungan dialekt is. Mereka yang memperoleh keunt ungan dari penggunaan ke-kuasaan st rukt ural (t erut ama yang berada pada puncak st rukt ur kekuasaan) pada umumnya akab berusaha mempert ahankan kekuasaannya (st at us quo) melalui kekerasan st rukt ural yang dilaku-kan secara t ersembunyi (unt uk menj aga cit ra kekuasaanya) melalui penggunaan inst rumen ke-kuasaan yang dimilikinya sepert i kepolisian, t en-t ara dan hukum.15
Penyimpangan perilaku polisi merupakan gambaran umum t ent ang kegiat an pet ugas polisi yang t idak sesuai dengan wewenang resmi pet u-gas, wewenang organisasi, nilai dan st andar pe-rilaku sopan. Dapat dikat akan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh polisi it u merupakan pe-rilaku menyimpang yang t erkait erat dengan ke-kuasaan dan wewenang yang ada padanya. Bar-ker dan Cart er mengkat egorikan perilaku me-nyimpang dalam t iga bent uk, yait u penggunaan kekuat an, penyelewengan, dan korupsi. Kania
14 A. Lat ief Wi j aya, 2002, Car ok, Konf l i k Keker asan dan Har ga Di r i Or ang Madur a, LKIS, Yogyakart a, hl m. 7. Bandingkan dengan Bar da Nawawi Ar ief yang mengat akan bahw a ist il ah “ t i ndakan kekerasan” mengandung makna “ per buat an seseorang/ kel ompok orang yang menyebabkan ceder a, mat i , at au kerusakan f isik/ barang orang l ain” . Tindakan kekerasan ini sangat dekat dengan perbuat an yang mengandung si f at penyiksaan (t or t ur e) dan penge-naan pender it aan at au r asa sakit yang sangat berat . Bar-da Naw awi Ar ief , 1998, Beber apa Aspek Kebi j akan Pene-gakaan dan Pengembangan Hukum Pi dana. Ci t ra Adit ya Bakt i, Bandung, hl m. 20 dan I. Warsana Windu, 1992, Ke-kuasaan dan Keker asan Menur ut John Gal t ung. Kani sius, Yogyakart a, hl m. 62-63
15
dan Mackey lebih ekst rem menggunakan ist ilah kekerasan polisi dengan ist ilah brut alit as polisi. Brut alit as polisi merupakan kekerasan yang ber-lebihan, hingga ke t ingkat yang lebih ekst rem, dan mencakup kekerasan yang digunakan polisi yang t idak mendukung f ungsi polisi yang sah.16
Barker dan Cart er mendef inisikan penyim-pangan perilaku polisi dalam suat u t ipologi yang t erdiri dari dua hal, yait u penyimpangan peker-j aan dan penyalahgunaan wewenang. Penyimpa-ngan pekerj aan polisi adalah perilaku menyim-pang – kriminal dan non kriminal – yang dilaku-kan selama serangkaian kegiat an normal at au dilakukan dengan memanf aat kan wewenang pe-t ugas polisi. Penyimpangan ini muncul dalam dua bent uk – korupsi polisi dan penyelewengan polisi – yang secara spesif ik dilakukan dalam pe-ran pet ugas sebagai pegawai dibanding dengan sekadar prakt ik kegiat an biasa. Beberapa bent uk penyimpangan pekerj aan sering dianggap biasa oleh orang-orang dalam lingkngan kerj a yang sa-ma. Unsur-unsur yang sama dalam semua t in-dakan ini adalah bahwa t inin-dakan t ersebut dila-kukan oleh orang-orang normal selama kegiat an pekerj aan mereka dan perilaku t ersebut meru-pakan hasil kekuasaan yang melekat dalam pe-kerj aan mereka.17
Penyalahgunaan wewenang dapat didef ini-sikan sebagai segala bent uk t indakan yang dila-kukan polisi t anpa mengindahkan mot if , maksud at au rasa dendam yang cenderung unt uk melu-kai, menghina, menginj ak-inj ak mart abat manu-sia, menunj ukkan perasaan merendahkan, dan/ at au melanggar hak-hak hukum seorang pendu-duk dalam pelaksanaan “ pekerj aan polisi” . Bar-ker dan Cart er menyorot i adanya t iga bidang pe-nyimpangan perilaku polisi ini, yait u: per t ama, penyiksaan f isik, t erj adi j ika seorang polisi menggunakan kekuat an lebih dari yang dibut uh-kan unt uk melakuuh-kan penangkapan at au pengge-ledahan resmi, dan/ at au penggunaan kekuat an f isik yang berlebihan oleh pet ugas polisi t erha-dap orang lain t anpa alasan dengan menyalahgu-nakan wewenang; kedua, penyiksaan psikologis, t erj adi j ika pet ugas polisi secara lisan
16 Thomas Barker & David L. Cart er . op. ci t , hl m. 6 17
Ibi d, hl m. 8
rang, mengolok-olok, memperlakukan secara t erbuka at au melecehkan seseorang dan/ at au menempat kan seseorang yang berada di bawah kekuasaan polisi dalam sit uasi di mana penghar-gaan at au cit ra orang t ersebut t erhina dan t idak berdaya; dan ket i ga, penyiksaan hukum, berupa pelanggaran t erhadap hak-hak konst it usional se-seorang, hak yang dilindungi oleh hukum, oleh seorang pet ugas polisi.18
Di ant ara sekian banyak bent uk penyim-pangan perilaku polisi – menurut krit eria Barker dan Cart er – yang banyak dij umpai di wilayah Kepolisian Daerah Jawa Tengah adalah penyiksa-an f isik. Bent uk penyiksapenyiksa-an f isik ini sudah dimu-lai sej ak penangkapan sampai pada penyidikan. Seorang inf orman bahkan menyat akan bahwa set elah ia dit angkap, mat anya dilakban dan di-t embak kaki kirinya.19 Bent uk kekerasan lain adalah t ersangka/ inf orman penelit ian dit empe-leng/ dit ampar, dipukul anggot a badannya (kepa-la), dit endang, dihaj ar, disundut pakai rokok, dit odong pist ol, disikut di perut , dan ancaman kekerasan lain.20
Kekerasan psikologis banyak dilakukan nyidik dengan maksud unt uk mendapat kan pe-ngakuan at au ket erangan dari t ersangka. Melalui ungkapan kat a-kat a yang kasar, t idak sopan, at aupun melalui gest ure yang menunj ukkan ej e-kan, hinaan, bahkan umpat an at au sumpah sera-pah. Seorang t ersangka mengungkapkan bahwa selama ia diperiksa, ia dipandang rendah, sebe-lah mat a oleh penyidik, dan t ak menghargainya sebagai manusia.21 Perilaku lain adalah dengan cara dipermainkan psikologisnya dengan men-j adikannya sepert i bola ping-pong. Perkara yang
18
Ibi d, hl m. 10-11, 394-396
19
Wawancar a dengan i nf orman X8 di Tegal , 5 Agust us 2011, yang w akt u it u di sangka mel akukan t indak pi dana peni-puan (Pasal Pasal 378 KUHP)
20
Wawancar a dengan inf or man X3 di Surakart a, 17 Jul i 2011 yang di sangka mel akukan t i ndak pidana pencuri an (Pasak 363 KUHP); i nf orman X5 di Semar ang, 2 Agust us 2011), di sangka mel akukan t i ndak pidana pembunuhan diancam pi dana pada Pasal 340, 338, dan 365 KUHP; i nf orman X6 di Semar ang, 2 Agust us 2011), disangka mel akukan t indak pi dana pencuri an (362 KUHP); i nf orman X12 di Banyumas, 10 Agust us, 2011), yang di sangka mel akukan t i ndak pi dana Pencabul an (Pasal 81 UU Perl indungan Anak); dan inf or-man X13 diBanyumas, 10 Agust us, 2011, di sangka mel aku-kan t indak pidana Pencuri an (Pasak 363 KUHP).
21 Wawancar a dengan inf orman X5 di Semarang, 2 Agust us
seharusnya perkara perdat a malah dipaksa unt uk menj adi perkara pidana. Bukt i-bukt i sudah me-ngarah ke sana, akan t et api penyidik t idak mau t ahu.22 Ada pula t ersangka yang mengaku diper-mainkan nasibnya dengan j anj i-j anj i hendak diringankan bahkan dibebaskan dari hukuman, dengan t ipu muslihat it u penyidik berharap t er-sangka mau mengaku at au memberi ket erangan sesuai keinginan penyidik.23 Bent uk kekerasan psikologis yang lain adalah pemeriksaan dilaku-kan pada malam hari, di mana secara psikologis t ersangka dalam keadaan lelah secara f isik, dan secara psikis t idak dapat berkonsent rasi men-j alani pemeriksaan.24
Bent uk penyimpangan perilaku penyidik yang paling banyak adalah penyiksaan hukum. Sebagian besar inf orman mengat akan bahwa pada awal penyidikan, hak-hak konsit usionalnya sebagai t ersangka t idak dipenuhi. Hak unt uk mendapat pendampingan penasehat hukum t idak dit awarkan sej ak awal pemeriksaan.25 Modus yang dilakukan oleh penyidik adalah memberi-kan hak t ersangka at as bant uan hukum set elah proses pemeriksaan selesai. Meski demikian, ada j uga t ersangka yang menolak didamping penase-hat hukum yang disebabkan karena kurangnya penget ahuan dalam proses pemeriksaan perkara pidana di Kepolisian, dan pendampingan baru dilakukan set elah berkas dilimpahkan ke kej ak-saan at au pun ket ika di persidangan.
22 Wawancar a dengan X4 di Semarang, 2 Agust us 2011, yang
di sangka mel akukan t indak pidana penipuan (Pasal 378), di mana sebenarnya perkar anya adal ah perkar a kepail it an.
23 Wawancar a dengan X14 – X15 di Banyumas, 18 Juni 2011
yang disangka mel akukan keker asan yang menyebabkan mat i (Pasal 170 ayat (2) ke 3 KUHP). Kedua t ersangka me-rupakan anggot a Pol ri dij anj ikan akan diringankan hukum-annya dan t i dak akan di pecat dar i kepol i si an.
24
Wawancar a dengan i nf orman X7 di Tegal , 5 Agust us 2011, yang di sangka mel akukan t indak pidana Pencabul an (Pasal 82 UU No. 23 Tahun 2002 t ent ang Perl indungan Anak); wawancaran dengan inf orman X8 di Tegal , 5 Agust us 2011; wawancara dengan inf or man X9 di Tegal , 5 Agust us 2011, yang disangka mel akukan t indak pi danan narkot ika (Pasal 127 UU Narkot ika); dan i nf orman X12 (Banyumas, 10 Agus-t us, 2011),
25 Wawancar a dengan inf or man X2 di Surakart a, 27 Jul i
2011; inf or man X4 di Semar ang, 2 Agust us 2011; i nf orman X4 di Semar ang, 2 Agust us 2011; i nf orman X5; inf or man X8 di Tegal , 5 Agust us 2011; i nf orman X10 di Banyumas, 10 Agust us, 2011, inf orman X11 di Banyumas, 10 Agust us, 2011, yang disangka mel akukan t indak pi dana keker asan dal am rumah t angga (Pasal 44 UU KDRT); dan X13 di Ba-nyumas, 10 Agust us, 2011, yang di sangka mel akukan t in-dak pi dana pencurian (Pasal 363 KUHP).
Bent uk-bent uk perlakuan t erhadap t er-sangka yang berupa kekerasan it u t ernyat a “ ha-nya” dilakukan t erhadap mereka yang memiliki t ingkat pendidikan yang rendah (paling t inggi SMA), penget ahuan hukumnya kurang, dan t in-dak pidana yang dilakukan adalah t inin-dak pidana biasa, kecuali beberapa t ersangka yang melaku-kan t indak pidana Kekerasan dalam Rumah Tang-ga dan Narkot ika. Hal ini berbeda denTang-gan perla-kuan t erhadap t ersangka yang memiliki t ingkat pendidikan t inggi dan kekuasaan at au pengaruh polit ik yang besar, sehingga kasus t ersebut me-miliki nuansa polit ik lokal yang kent al. Terhadap t ersangka yang sedemikian, polisi memberi per-lakuan yang baik, t idak ada kekerasan. Akan t e-t api hal ini e-t ak lepas pula dari kecepae-t an dan kecekat an t ersangka dalam mewuj udkan hak-haknya unt uk segera didampingi penasehat hu-kum dalam penyidikan, sert a sorot an media ma-ssa yang cukup besar dalam pemberit aan kasus t ersebut .26
Beberapa inf orman advokat / penasehat hu-kum mengemukakan bahwa pada umumnya hak-hak t ersangka dihormat i oleh penyidik meski be-lum t ent u dilaksanakan at au segera dilaksana-kan. Misalnya hak unt uk mendapat kan at au didampingi penasehat hukum belum t ent u diberi -kan pada awal penyidi-kan at au segera set elah penangkapan. Seringkali penasehat hukum diha-dirkan at au diberikan set elah pemeriksaan sele-sai sehingga t idak t ahu menahu mengenai j alan-nya pemeriksaan, meski hal it u merupakan ke-waj iban bagi penyidik unt uk memenuhi hak t er-sangka t erut ama t erhadap kasus yang ancaman pidananya lebih dari 5 t ahun. Kekerasan dalam penyidikan masih sering t erj adi, t erut ama apa-bila pemeriksaan t idak didampingi oleh penase-hat hukum, bahkan ada penyidik yang berani melakukan kekerasan berupa menyabet kan sa-buknya ke t ersangka.27
26 Wawancar a dengan t ersangka X1, pada 27 Juni 2011 di
Purwokert o. Ter sangka yang memil iki pengar uh pol it ik yang cukup t inggi dal am dinamika per pol it ikan Banyumas di dakwa mel akukan korupsi dengan mel anggar PP No. 110 dan ol e Pengadil an dij at uhi pi dana 1 t ahun 4 bul an. Inf or-man kemudian mendir ikan Per saudaraan Eks Narapi dana Sej aht era (PENS).
27 Simpul an wawancara dengan beber apa advokat di Jawa
Pada umumnya penasehat hukum men-dampingi pemeriksaan t erhadap t ersangka apa-bila pemeriksaan it u dilakukan siang hari, dan ada beberapa keberat an yang diaj ukan oleh pe-nasehat hukum apabila pemeriksaan dilakukan pada malam hari bahkan sampai pagi hari. Alas-an yAlas-ang dikemukakAlas-an adalah alasAlas-an kesehat Alas-an t ersangka dan konsent rasi t ersangka pada ma-lam hari yang t idak f okus, lagi pula mama-lam hari adalah j am ist irahat . Meski demikian ada pena-sehat hukum yang bersedia mendampingi t er-sangka dalam pemeriksaan sampai pagi hari.28
Beberapa penasehat hukum menilai bahwa sebenarnya undang-undangnya sudah baik, akan t et api dalam prakt iknya masih perlu disempur-nakan. Kemampuan penyidik perlu dit ingkat kan keahliannya. Berkait an dengan pengawasan, pandangan penasehat hukum t erbelah. Ada yang beranggapan pengawasan ekst ernal t idak diper-lukan apabila penyidik sudah memiliki kemam-puan yang memadai dalam t eknik penyidikan. Akan t et api beberapa penasehat hukum lain ber-pendapat perlunya pengawasan ekst ernal meski kemampuan penasehat hukum sudah meningkat . Hal ini t ak bisa dilepaskan dari perilaku polisi yang masih mau menerima uang dan perlakuan yang diskriminat if t erhadap t ersangka apabila di ant ara mereka mempunyai hubungan kekerabat -an.29
Fakt a lain yang perlu dikemukakan sehu-bungan dengan perilaku penyidik it u adalah be-lum adanya keberanian dari t ersangka unt uk melaporkan kekerasan yang dit erimanya kepada pihak yang berwaj ib. Hal ini t erj adi karena t er-sangka t akut menerima resiko yang lebih besar yang berkait an dengan penanganan perkaranya. Penasehat hukum dalam hal ini hanya mencat at perlakuan penyidik dan melaporkan kepada at as-an penyidik baik di t ingkat Polres at aupun ke t ingkat yang lebih t inggi. Resiko ada pada t er-sangka, bukan penasehat hukum. Penyangkalan t erhadap ket erangan t ersangka dalam
(t anggal 7 Jul i 2011), Advokat C di Sur akart a (20 Jul i 2011), Advokat D di Semar ang (28 Jul i 2011), Advokat E di Tegal (4 Agust us 2011), dan Advokat F di Purwokert o (10 Agust us 2011)
28 Ibi d. 29
Ibi d.
an dalam persidangan bagi hakim t idak dit erima begit u saj a, karena hakim lebih percaya pada apa yang ada dalam BAP dan cenderung menco-cokkan saj a, padahal hakim seharusnya meme-riksa secara seksama t erhadap t ersangka dengan memperhat ikan ket erangan yang diberikan da-lam persidangan.30
Berdasarkan f akt a t ersebut di at as, nam-pak bahwa kekerasan dalam penyidikan sebagai salah sat u bent uk perilaku menyimpang masih menj adi kebiasaan bagi polisi dalam menj alan-kan t ugas. Pengakuan at au inf ormasi yang dibe-rikan oleh inf orman polisi selama penelit ian me-rupakan inf ormasi st andar dan seragam, yait u selalu berupaya menyangkal at au t idak meng-akui adanya kekerasan dalam penyidikan. Ada inf orman yang mengat akan bahwa kekerasan dalam penyidikan bukan hal yang ut ama dilaku-kan karena t elah t erj adi pergeseran, di mana pengakuan t ersangka bukan hal yang ut ama da-lam penyidikan. Akan t et api j ikapun ada keke-rasan, it u dikat akan oleh inf orman sebagai ba-gian dari diskresi, at au penggunaan hak polisi unt uk bert indak sesuai sit uasi dan kondisi yang diij inkan oleh perundang-undangan.31 Penaf siran mengenai diskresi dan penggunaannya dalam pe-nyidikan sebenarnya dapat diperdebat kan, apa-lagi j ika penggunaanya it u melanggar hak asasi t ersangka.
Kondisi yang sedemikian diperparah de-ngan t idak adanya pengawasan ekst ernal dalam penyidikan. Pengawasan yang dilakukan adalah pengawasan dari rekan sendiri sesama penyidik-an. Hal ini sangat rent an dan mudah t erj adi ke-kerasan t erhadap t ersangka yang disebabkan adanya pemakluman dari rekan sej awat sert a semangat korps yang mendukung apa yang di-lakukan oleh penyidik. Dikat akan oleh salah sat u inf orman bahwa pengawas ekst ernal adalah pe-nasehat hukum, padahal berdasarkan perat uran
30 Ibi d.
31 Simpul an dari beberapa inf or man pol i si yang t el ah
yang ada, t idak ada sat u pasalpun yang menem-pat kan penasehat hukum sebagai pengawas da-lam penyidikan. Penasehat hukum hanya bert u-gas sebagai at au melakukan pendampingan t er-hadap t ersangka yang sebagian besar bersikap pasif saj a. Pengawasan int ernal dari t ingkat yang lebih t inggi semisal dari Kepolisian Daerah, j arang dilakukan, demikian pula dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Kondisi-kondisi sepert i it u mendukung pelest arian perilaku polisi yang berupa kekerasan dalam penyidikan t et ap ada dan t erpelihara sampai kini.32
Polisi adalah kepercayaan masyarakat de-ngan kekuat an dan t anggung j awab besar. Tun-t uTun-t an yang alamiah Tun-t erhadap kepolisian adalah polisi harus memberi imbalan, dengan memelih-ara st andar et ika t ert inggi. Terkadang, pelaksa-naan dari kegiat an polisi dikat akan sebagai “ ran-j au moral” , karena banyak pekerran-j aan polisi ha-rus melibat kan diri pada konf lik orang lain dan harus menangani berbagai macam perilaku me-nyimpang. Terkadang dalam beberapa t ugasnya, polisi lalu harus menggunakan t indakan dis-kresi.33
Profesionalisme Polisi dalam Penegakan Hu-kum
Penegakan hukum bukan sepert i menarik garis lurus yang selesai dengan dibuat nya un-dang-undang dan dit erapkan sepert i sebuah me-sin saj a, sehingga t ampak sederhana dan mudah (model mesin ot omat ). Kompleksit as penegakan
32Ibi d. Dikat akan ol eh Supant o – Guru Besar Hukum Pi dana
FH UNS – bahw a pengawasan i nt ernal t ak berj al an ef ekt if karena adanya sol idarit as dan semangat korps, demiki an pul a dengan pengawasan ekst ernal dar i Kompol nas yang sif at nya hanya member i rekomendasi t anpa menj at uhkan sanksi. Unt uk menghindari kekerasan dal am penyi dikan, menurut Supant o yang harus di per baiki adal ah kemam-puan penyidik, baik kemamkemam-puan akademik maupun t eknik penyidikan dan psikol ogisnya. Secara normat i f , perat ur an yang di buat sudah i deal , akan t et api dal am pr akt iknya sering t er j adi penyi mpangan. Waw ancara dengan Supant o di Sur akart a, 25 Jul i 2011.
33 Kunart o dan Har iadi Kuswaryono (ed). 1998. Pol i si dan Masyar akat : Hasi l Semi nar Kepal a Pol i si Asi a Pasi f i k ke VI Tai pei, 14 Januar i . Cipt a Manunggal , Jakart a, hl m. 64-65; l ihat j uga Pet er Vil l iers, 1999, Bet t er Pol i ce Et hi cs, A Pr act i cal Gui de. Ci pt a Manunggal , Jakart a, hl m. 72-75; John R. Sni bbe and Homa M. Snibbe (ed). 1999. Ur ban Pol i ce i n Tr ansi t i on, A Psychol ogi cal & Soci ol ogi cal Re-vi ew. Charl es C. Thomas Publ i sher , Il l ioni s USA, hl m. 124-147; dan Erl yn Indart i, 2000, Di skr esi Pol i si , BP Undi p, Semar ang.
hukum disebabkan adanya ket erlibat an manusia dalam proses penegakan hukum. Dimensi ket er-libat an manusia ini oleh Black dinamakan mobili-sasi hukum, yait u proses yang melalui it u hukum mendapat kan kasus-kasusnya. Tanpa mobilisasi at au campur t angan manusia, kasus-kasus t erse-but t idak akan ada, sehingga hukum hanya akan menj adi huruf mat i di at as kert as belaka.34
Hukum memberi wewenang kepada polisi unt uk menegakkan hukum dengan berbagai cara, dari cara yang bersif at pre-empt if sampai rep-resif berupa pemaksaan dan penindakan. Tugas polisi dalam ruang lingkup yang kebij akan krimi-nal yang pekrimi-nal berada pada ranah kebij akan ap-likat if , yait u ranah penerapan hukum pidana yang cenderung represif . Kecenderungan ini me-nyebabkan t ugas polisi lekat dengan penggunaan kekerasan sebagai salah sat u cara unt uk meng-at asi hambmeng-at an dalam proses penyidikan unt uk memperolah pengakuan at au ket erangan t erdak-wa mengenai suat u t indak pidana.
Tindakan polisi mest i selalu mengandung kebenaran hukum, bukannya hukum dij adikan pembenaran t indakan kepolisian at au merekaya-sa hukum bagi t indakan kepolisian, hal ini dapat t erj adi penyesat an hukum. Dengan kat a lain elast isit as hukum dieksploit asi unt uk kepent ing-an t indaking-an polisi, ying-ang berbent uk upaya paksa unt uk memenuhi t arget kepent ingan polit ik, ke-pent ingan kelompok, keke-pent ingan pribadi at au perorangan, dan kepent ingan lainnya. Upaya paksa pada sisi yang benar adalah t indakan ke-polisian berdasarkan undang-undang unt uk mem-bat asi kebebasan seseorang yang melakukan t in-dak pidana (khususnya) yang dilakukan secara obj ekt if , j uj ur dan benar, berdasarkan pert im-bangan hukum dan kepent ingan hukum.35
Pemeriksaan t ersangka oleh penyidik (re-serse) dalam proses penyidikan berdasarkan pa-da berbagai hasil penelit ian memperlihat kan bahwa budaya kekerasan di kalangan polisi
34 Donal d Bl ack dal am Sat j i pt o Rahardj o, 2002, op. ci t, hl m.
175. Baca j uga A. Reni Widyast ut i, “ Penegakan Hukum: Mengubah St rat egi dari Supremasi Hukum ke Mobil isasi Hu-kum unt uk Mewuj udkan Kesej aht er aan dan Keadil an” ,
Jur nal Hukum Pr o Just i t i a Vol . 26 No. 3 Juni 2008, FH Uni versit as Par ahyangan Bandung, hl m. 240-247
35 S. A. Soehardi, 2008, Pol i si dan Pr of esi, PD. PP Pol ri Jawa
sih ada, bahkan menj adi kelaziman unt uk mem-peroleh pengakuan t ersangka. Pendekat an dan perlakuan yang dilakukan oleh polisi t erhadap t ersangka lebih bersif at non-scient i f i c, seolah menj adi akar budaya pola pemeriksaan bagi po-lisi yang menemui j alan bunt u. Pola pemeriksa-an ypemeriksa-ang berdasar pada scient if i c i nvest i gat i on akan menghindari aneka bent uk int imidasi, an-caman, kekerasan f isik, maupun psikologis. In-vest igasi di sini diart ikan secara ekst ensif , t er-masuk pola penanganan Polri t erhadap permasa-lahan publ i c mass yang berkait an dengan masa-lah perlindungan HAM.36
James Welsh, anggot a Amnest y Int ernat io-nal dari Aust ralia, dalam sebuah seminar pernah menyat akan bahwa di mana pun, penyiksaan dan perlakuan t idak waj ar dialami para kriminal saat diperiksa polisi, t ermasuk di negara yang men-j unmen-j ung t inggi HAM. Penyiksaan dimen-j adikan alat unt uk mendapat kan pengakuan.37 Pola kerj a Pol-ri pernah dikiPol-rit isi oleh P. Kooij mans, selaku Speci al Rappor t eur dari Komisi Hak Asasi PBB yang khusus mempelaj ari dugaan adanya pelang-garan HAM di Indonesia yang berkait an dengan Hukum Acara Pidana Indonesia. Kooij mans berikan evaluasi dan konklusi bahwa polisi mem-punyai kewenangan penuh selama 20 hari pena-hanan, memungkinkan t erj adinya pelanggaran HAM. Bila t idak ada lembaga khusus yang dapat menampung keluhan at as penganiayaan dan ke-kerasan yang banyak t erj adi dalam i nit i al phases i nvest i gat ion, baik pada t ahap penanganan di lapangan maupun penyidikan.38
Sebenarnya, sikap dan t indakan ant isipat if t elah dit uangkan melalui inst rument int ernasio-nal. Dikat akan oleh Luhut Pangaribuan bahwa asas yang melekat pada konvensi it u adalah non-der ogabl e human r i ght (hak asasi manusia yang t ak boleh dikurangi), art inya kekerasan maupun
36 Indr iyant o Seno Adj i, 2009. Humani sme dan Pembar uan Penegakan Hukum. Kompas Gramedi a, Jakart a, hl m. 36 dan 59.
37 Indr iyant i Seno Adj i, 2009, op. ci t , hl m. 60
38 Ibi d, hl m. 61. Bandingkan dengan pendapat Gunart o yang
j ust ru menganggap KUHAP (yang di dal amnya memuat bat as w akt u penahanan) sebagai t it ik t ol ah perl i ndungan HAM, meski sebat as pada t er sangka. Mar cus Pr iyo Gunar-t o, “ Perl indungan Hak Asasi Manusi a di Indonesia dal am Dinamika Gl obal ” , Jur nal Mi mbar Hukum Vol . 19 No. 2 Juni 2007, FH UGM Yogyakart a, hl m. 265.
penyiksaan dalam bent uk apapun (f isik maupun psikis) t idak mempunyai sikap eksepsional se-hingga set iap percobaan penyiksaan at au penyik-saan t anpa kecuali dan dalam keadaan bagai-manapun (dalam keadan perang, inst abilit as polit ik dalam negeri) t idaklah dibenarkan dan sebagai pelanggaran berat hukum pidana.39
Kekerasan yang dilakukan oleh penyidik dalam penyidikan bermuara pada moralit as poli-si. Moralit as menunj uk pada perilaku manusia sebagai manusia yang dikait kan dengan t indakan seseorang, sehingga norma moral merupakan norma yang dipakai unt uk mengukur bet ul salah-nya t indakan manusia sebagai manusia.40 Ilmu yang membahas t ent ang moralit as at au t ent ang manusia sej auh berkait an dengan moralit as at au yang menyelidiki t ingkah laku moral adalah et i-ka.41
Pedoman perilaku yang bagi pemegang prof esi t erangkum dalam Kode Et ika yang di da-lamnya mengandung muat an et ika, baik et ika deskript if , normat if dan met a-et ika.42 Jadi kode et ik berkait an dengan prof esi t ert ent u sehingga set iap prof esi memiliki kode et iknya sendiri-sendiri. Akan t et api t idak semua okupasi dapat dikat akan sebagai prof esi yang berhak dan layak
39
Inst rumen t ersebut ant ara l ain Cr i me Pr event i on and Cr i -mi nal Just i ce (pencegahan kej ahat an dan per adil an pida-na), yang berkait an dengan t r eat ment , puni shment , and ext r a l egal execut i ons yait u dengan dikemukakannya Dec-l ar at i on agai nst Tor t ur e and Ot her Cr ueDec-l , Inhuman or Degr adi ng Tr eat ment or Puni shment sebagai Opt i on Pr o-t ocol dari The Int er nat i onal Covenant on Ci vi l and Pol i -t i cal Ri gh-t (ICCPR) yang disahkan Maj el i s Umum PBB, 9 Desember 1975. Dekl arasi ini dit ingkat kan menj adi Con-vent i on agai nst Tor t ur e and Ot her Cr uel Inhuman or Deg-r adi ng TDeg-r eat ment oDeg-r Puni shment yang diset uj u Maj el is Umum PBB, 10 Desember 1984 di mana Indonesi a t urut menandat angani 23 Okt ober 1985. Ibi d, hl m. 199-200. Baca j uga Indr iyant o Seno Adj i, “ Cat at an Tent ang Penga-dil an HAM dan Masal ahnya” , Maj al ah Hukum Pr o Just i t i a
Tahun XIX No. 1 Januar i 2001, FH Unpar Bandung, hl m. 31-38
40
W. Poespoprodj o, 1988, Fi l saf at Mor al , Kesusi l aan dal am Teor i dan Pr akt i k, Bandung: Remadj a Kar ya, 102; K. Bert ens, 2005, Et i ka, Jakart a: Gramedia Pust aka Ut ama, hl m. 11-15; Pet er Vil l ier s, 1999, Bet t er Pol i ce Et hi cs, A Pr act i cal Gui de, Jakart a: Ci pt a Manunggal , hl m. 48-50; Franz Magniz-Suseno, 1994, Et i ka Pol i t i k Pr i nsi p-pr i nsi p Mor al Dasar Kenegar aan Moder n, Jakart a: Gr amedia Pust aka Ut ama, hl m. 14
41
K. Bert ens, op. cit , hl m. 15; Franz Magnis-Suseno, 1987,
Et i ka Dasar : Masal ah-masal ah Pokok Fi l saf at Mor al, Yogyakart a: Kani sius, hl m. 18
42 Lihat penj el asan t ent ang j enis-j enis et ika ini pada K.
memiliki kode et ik t ersendiri. Ada t iga krit eria yang dapat digunakan unt uk mengukur apakah suat u okupasi it u dikat akan suat u prof esi at au bukan. Per t ama, prof esi it u diaksanakan at as dasar keahlian t inggi dank arena it u hanya dapat dimasuki oleh mereka yang t elah menj alani pendidikan dan pelat ihan t eknis yang amat lan-j ut . Kedua, prof esi mensyarat kan agar keahlian yang dipakainya selalu berkembang secara nalar dan dikebambangkan dengan t erat ur seiring de-ngan kebut uhan masyarakat yang mint a dilayani oleh prof esi yang menguasai keahlian prof ession-nal t ersebut , at au dengan kat a lain ada st andar keahlian t ert ent u yang dit unt ut unt uk dikuasai. Ket i ga, prof esi selalu mengembangkan pranat a dan lembaga unt uk mengont rol agar keahlian-keahlian prof essional didayagunakan secara ber-t anggungj awab, berber-t olak dari pengabdian yang t ulus dan t ak berpamrih, dan semua it u dipikir-kan unt uk kemaslahat an umat .43
Prof esi adalah suat u mor al communi t y (masyarakat moral) yang memiliki cit a-cit a dan nilai-nilai bersama. Mereka j uga membent uk suat u prof esi disat ukan karena lat ar belakang pendidikan yang sama dan bersama-sama memi-liki keahlian yang t ert ut up bagi orang lain. De-ngan demikian, prof esi menj adi suat u kelompok yang mempunyai kekuasaan t ersendiri dan kare-na it u mempunyai t anggung j awab khusus. Oleh karena memiliki monopoli at as suat u keahlian t ert ent u, selalu ada bahaya prof esi menut up diri bagi orang dari luar dan menj adi suat u kalangan yang sukar dit embut .44
Kode et ik dapat mengimbangi segi negat if prof esi dan dengan adanya kode et ik kepercaya-an masyarakat akkepercaya-an suat u prof esi dapat diper-kuat , karena set iap kliem mempunyai kepast ian bahwa kepent ingannya akan t erj amin. Kode et ik ibarat kompas yang menunj ukkan arah moral bagi suat u prof esi dan sekaligus j uga menj amin mut u moral prof esi it u di mat a masyarakat . Su-paya kode et ik berf ungsi dengan baik, kode et ik harus menj adi sel f -r egul at i on (pengat uran diri) dari prof esi. Dengan membuat kode et ik, prof esi
43 Soet andyo Wignyosoebrot o, 2003, Hukum: Par adi gma, Me-t ode dan Di nami ka Masal ahnya, Jakart a: ELSAM dan Hu-MA, hl m. 316-317
44
K. Bert ens, op. ci t, hl m. 280.
sendiri akan menet apkan hit as at as put ih niat -nya unt uk mewuj udkan nilai-nilai moral yang di-anggapnya hakiki, yang t idak pernah dipaksakan dari luar. Syarat lain adalah bahwa pelaksana-annya diawasi t erus menerus.45
Polisi sebagai suat u prof esi memiliki kode et ik sebagai pedoman t ingkah laku dalam pelak-sanaan t ugas. Kode et ik polisi t erumus dalam t iga kat egori, yait u et ika pengabdian, et ika ke-lembagaan, dan et ika kenegaraan. Berkait an de-ngan t ema t ulisan ini, maka hanya akan dising-gung but ir-but ir et ika yang berkait an saj a pada et ika pengabdian dan kelembagaan. Beberapa et ika yang t ermasuk dalam et ika pengabdian, dirumuskan sebagai berikut , t idak menimbulkan penderit aan akibat penyalahgunaan wewenang dan sengaj a menimbulkan rasa kecemasan, ke-bimbangan dan ket ergant ungan pada pihak-pi-hak yang t erkait dengan perkara; bersikap hor-mat kepada siapapun dan t idak menunj ukkan si-kap congkak/ arogan karena kekuasaan; bert ut ur kat a kasar dan bernada kemarahan; menyalahi dan at au menyimpang dari prosedur t ugas; me-rendahkan harkat dan mart abat manusia. Salah sat u et ika yang t erumus dalam et ika kelembaga-an adalah set iap kelembaga-anggot a Kepolisikelembaga-an Negara Re-publik Indonesia dalam melaksanakan perint ah kedinasan t idak dibenarkan melampaui bat as ke-wenangannya dan waj ib menyampaikan pert ang-gungj awaban t ugasnya kepada at asan langsung-nya.
Berdasarkan uraian t ersebut di at as, dapat dij umpai bahwa t indak kekerasan yang dilakukan oleh polisi/ penyidik dalam penyidikan t idak di-benarkan baik oleh et ika polisi, bahkan dapat menj adi t indak pidana. Ungkapan kat a-kat a yang kasar dan j orok, disert ai dengan siksaan f isik merupakan pelanggaran kode et ik yang mest inya t idak dilakukan dalam upaya mencari ket erang-an t erserang-angka. Di sinilah t erlihat bahwa prof esio-nalisme penyidik dalam penyidikan perlu sekali unt uk kembali dit inj au ulang, at au dibangun kembali agar perilaku yang sedemikian t idak berulang dan menj adi kebiasaan.
Ada beberapa sebab perilaku yang penyi-dik dibiarkan begit u saj a dan t idak memberikan
45
perlindungan hukum t erhadap t ersangka. Per t a-ma, upaya unt uk menghent ikan kekerasan mela-lui proses peradilan t ak diat ur dalam perundang-undangan. Pra peradilan sebagai salah sat u cara unt uk menghent ikan proses penyidikan (Pasal 77 KUHAP) hanya diperunt ukkan unt uk menilai sah at au t idaknya penangkapan, penahahan, penghent ian penyidikan dan pengpenghent ian penunt ut -an. Tersangka biasanya menggunakan cara lain unt uk memperoleh hak-hak yang dirampas oleh polisi dalam penyidikan dengan membuat penga-kuan yang berbeda at au mencabut pengapenga-kuan yang diberikan pada saat penyidikan46 yang t elah dicant umkan dalam Berit a Acara Pemeriksaan di persidangan. Akan t et api langkah ini pun sering-kali gagal, karena hakim 99% lebih percaya ke-pada BAP yang dibuat polisi. Negara melalui polisi yang seharusnya memberi perlindungan kepada t ersangka t elah gagal menj alankan misi-nya.
Kedua, berkait an dengan syarat ef ekt ivit as pelaksanaan kode et ik, yait u pengawasan. Pada persoalan ini, t idak ada lembaga at au orang yang mengawasi j alannya pemeriksaan. Unt uk it ulah perlu dipikirkan kembali keberadaan ha-kim komisaris (commi sar i s r echt er), yang kewe-nangannya melebihi praperadilan. Unt uk it u, yang perlu diubah adalah perundang-undangan-nya, agar keberadaan lembaga hakim komisaris memperoleh legit imasi.47
Ket i ga, berkait an dengan adanya dukung-an dari Inst it usi Kepolisidukung-an t erhadap penyidik yang melakukan kekerasan dalam penyidikan,
46 Bahkan, ekspl i sit as penj el asan Pasal 52 KUHAP
menya-t akan bahw a supaya pemeriksaan dapamenya-t mencapai hasil yang t i dak menyimpang dari pada yang sebenarnya, maka t ersangka at au t erdakwa harus dij auhkan dari r asa t akut . Ol eh karena it u, waj i b dicegah adanya paksaan at au t eka-nan t erhadap t ersangka at au t er dakwa. Seor ang saksi yang mencabut ket er angan di persi dangannya dij amin ol eh undang-undang, sepanj ang al asan pencabut an it u dapat dit er i ma ol eh pengadil an. Indriyant o Seno Adj i, 2009,
op. ci t, hl m. 37.
47 Harapan unt uk memil iki l embaga haki m komi sar is saat i ni
sedang diupayakan mel al ui RUU KUHAP yang sampai saat ini bel um j el as keberl anj ut annya. Ol eh Adj i dikat akan bahw a Recht er Commi ssar i s (Hakim Komisari s) dapat me-l akukan i nvest i gat i ng j udge, sel ai n exami nat i ng j udge, t erhadap pel aksanaan upaya paksa yang menyi mpang dari pol isi (at au apar at ur penegak hukum l ainnya), baik soal penangkapan, penahanan, penggel edahan, maupun penyi-t aan dan pol a penanganan kerusuhan publ i c. Ibi d, hl m. 62.
sehingga pert anyaan mengenai apakah ada t in-dakan yang dilakukan oleh int it usi t erhadap poli-si yang melakukan kekerasan dalam penyidikan, menj adi t iada berj awab. Jika melihat kepada peran yang harus dimainkan oleh polisi, maka ini merupakan sebuah ironi yang sayangnya dipan-dang ef isien oleh polisi.
Peran polisi membent uk ident it as, yait u sebagai t he l egal i st i c abusive of f i cer, yait u po-lisi yang menyadari perannya sebagai penj aga, pelindung masyarakat sert a nilai-nilai masyara-kat , dan dengan cepat menggunakan kekuat an dan sangat ot orit er.48 Semua yang dimiliki polri saat ini belum mampu menj adikan polri pro-f essionnal. Bahkan t erdapat keraguan masyara-kat t ent ang kinerj a at au per f or mance yang akan diwuj udkan polri di masa yang akan dat ang.49
Persoalan yang ada polisi bukan hanya melulu pada penguasaan t eknis (har dski l l), akan t et api j uga kemampuan yang bersif at sof t ski l l, salah sat unya adalah komunikasi. Hal ini disadari bet ul oleh Mabes Polri50 yang berpendapat bah-wa polisi memiliki karakt er t ert ent u yang meng-hambat komunikasi disebabkan oleh kondisi pe-kerj aan mereka yang penuh st ress dan berkait an dengan konf lik. Sit uasi t ersebut membuat polisi mengembangkan karakt er at au cenderung bersi-kap negat if dalam berkomunikasi, sepert i pra-sangka buruk, kecurigaan berlebihan, gaya yang opresif , agresif , dorongan unt uk menonj olkan diri, sikap t idak menghargai, sok berkuasa, dan t idak berempat i.51
48 Ini berkait an dengan t ipe pol i si . Dua t i pe pol i si yang l ain,
yai t u t he t ask of f i cer, yang menj al ankan t ugasnya t anpa menggunakan nil ai -nil ainya sendir i dan hanya menj al an-kan hukum, dan The communi t y ser vi ce of f i cer, yait u yang t i dak menerapkan hukum dan bert indak sebagai pe-negak hukum, mel ainkan berusaha membant u masyar akat dan memecahkan persoal an. Li hat dal am Sat j i pt o Rahar-dj o, 2002, op. ci t, hl m. 65
49
Suwarni, 2009, Per i l aku Pol i si , St udi at as Budaya Or gani -sasi dan Pol a Komuni kasi. Nusa Medi a, Bandung, hl m. 10. Lihat dan bandingkan dengan Harkr ist ut i Harkr isnowo, 2003, Mendor ong Ki ner j a POLRI Mel al ui Pendekat an Si s-t em Manaj emen Ter padu. PTIK Press, Jakart a, hl m. 10.
50 Mabes Pol ri, 2006. Per pol i si an Masyar akat. Mabes Pol ri,
Jakart a, hl m. 110-111
51 Suwarni, op. ci t, hl m. 16. Kul t ur pol isi t ert anam sej ak
Cara yang paling baik unt uk menggambar-kan sosok polisi adalah dengan melukismenggambar-kannya sebagai “ moral yang dibalut kekerasan” at au “ kekerasan dengan int i moral” . Pekerj aan polisi memang berpij ak dari gambaran t ersebut dan karena it u banyaklah ambivalensi di dalamnya.52 Sikap dan perilaku polisi sepert i it u menurut Ba-ker dan Cart er sangat berbahaya, karena prak-t ik-prakprak-t ik polisi dipandang sebagai ukuran yang kit a gunakan unt uk menilai kesucian pemerin-t ah, pemerin-t ekanan dan kesepemerin-t iaan pemerin-t erhadap j aminan konst it usional dan dalam banyak hal, int egrit as polisi adalah j endela yang kit a gunakan unt uk menilai kej uj uran semua t indakan pemerint ah.
Simpulan
Ada dua simpulan yang dapat diberikan berdasar pada permasalahan, hasil dan pemba-hasan penelit ian sebagaimana t ersebut di at as. Per t ama, Polisi masih menggunakan kekerasan unt uk mendapat kan pengakuan at au ket erangan dari t ersangka dalam penyidikan. Bent uk rasan yang dilakukan oleh penyidik adala keke-rasan f isik, psikis, maupun hukum. Negara t elah gagal memberi perlindungan hukum kepada t er-sangka yang disebabkan oleh ket iadaan perat ur-an yur-ang dapat digunakur-an oleh t ersur-angka unt uk memperj uangkan hak-hak yang t elah dilanggar oleh penyidik; kinerj a lembaga pengawas dalam penyidikan t idak bekerj a secara opt imal; dan adanya perlindungan dari inst it usi kepolisian t er-hadap penyidik yang melakukan kekerasan.
Kedua, semua f akt a t ersebut di at as me-nunj ukkan bahwa polisi dalam melakukan penyi-dikan belum prof essional, sehingga upaya unt uk menj adikan polisi yang prof esional menj adi t u-gas berat bagi inst it usi kepolisian. Upaya unt uk membangun at au mencipt akan polisi yang prof e-sional harus dimulai dari awal, yait u pada t araf seleksi dan pendidikan, bahkan upaya ini mest i harus t erus dipupuk karena pelaksanaan t ugas-t ugas kepolisian memiliki sugas-t andar keahlian dan st andar et ika yang t inggi.
52 Sat j i pt o Rahar dj o dan Ant on Tabah, 1993, Pol i si , Pel aku dan Pemi ki r. Gramedi a Pust aka Ut ama, Jakar t a, hl m. 187-188.
Daft ar Pust aka
Abdurrahman, Hamidah. 2000. Upaya Per l i ndu-ngan Hak Asasi Manusi a Ter hadap Ti ndak-an Keker asndak-an Ol eh Pol i si dal am Penyi di kndak-an di Wi l ayah Tegal. Tesis. Semarang: PPS Ilmu Hukum UNDIP;
Adj i, Indriyant o Seno. “ Cat at an Tent ang Penga-dilan HAM dan Masalahnya” . Maj al ah Hu-kum Pr o Just i t i a Tahun XIX No. 1 Januari 2001, Bandung: FH Unpar;
Adj i, Indriyant o Seno. 1998. Penyi ksaan dan HAM dal am Per spekt if KUHAP. Jakart a: Pust aka Sinar Harapan;
---. 2009. Humani sme dan Pembar uan Pene-gakan Hukum. Jakart a: Kompas Gramedia; Ananda, Suadarma. “ UU No. 2 Tahun 2002 t en-t ang Kepolisian dan Doken-t rin Communien-t y Policing” . Jur nal Hukum Pr o Just i t a Vol. 26 No. 2 April 2008. Bandung: FH Univer-sit as Parahyangan;
Anwar, Yesmil dan Adang. 2009. Si st em Per di l an Pi dana: Konsep, Komponen dan Pel aksana-annya dal am Penegakan Hukum di Indo-nesi a. Bandung: Widya Padj aj aran;
Arief , Barda Nawawi. 1998. Beber apa Aspek Ke-bi j akan Penegakaan dan Pengembangan Hukum Pi dana. Bandung: Cit ra Adit ya Bakt i;
Barker, Thomas & David L. Cart er. 1999. Pol i ce Devi ance. Cincinat i OH: Anderson Pub-lishing Co;
Bert ens, K. 2005. Et i ka. Jakart a: Gramedia Pus-t aka UPus-t ama;
Brewst er, JoAnne; Michael St olof f ; and Nicole Sanders. “ Police Academies in Changing t he At t it udes, Belief s, and Behavior of Cit izen Part icipat ion” . Amer i can Jour nal of Cr imi nal Just i ce, Spring 2005: 30, 1;
Gat ot (ed). 2008. Mengungkap Kej ahat an dengan Kej ahat an, Sur vey Penyi ksaan di Tingkat Kepol i si an Wi l ayah Jakar t a Tahun 2008, Jakart a: LBH Jakart a;
Gunart o, Marcus Priyo “ Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia dalam Dinamika Global” , Jur nal Mimbar Hukum Vol. 19 No. 2 Juni 2007, Yogyakart a: FH UGM;
Harkrisnowo, Harkrist ut i. 2003. Mendor ong Ki -ner j a POLRI Mel al ui Pendekat an Si s-\ t em Manaj emen Ter padu. Jakart a: PTIK Press;
Upaca-ra Pengukuhan Guru Besar Tet ap dalam Ilmu Hukum di FH UI Depok, 8 Maret 2003;
Indart i, Erlyn. 2000. Di skr esi Pol i si . Semarang: BP Undip;
Kunart o, 1997, Et i ka Kepol i si an. Jakart a: Cipt a Manunggal;
--- dan Hariadi Kuswaryono (ed). 1998. Po-l i si dan Masyar akat : Hasi l Semi nar Kepal a Po-l i si Asi a Pasi f i k ke VI Tai pei, 14 Januar i . Jakart a: Cipt a Manunggal;
Mabes Polri. 2006. Per pol i si an Masyar akat. Ja-kart a: Mabes Polri;
Magnis-Suseno, Franz. 1987. Et i ka Dasar : Masa-l ah-masaMasa-l ah Pokok Fi Masa-l saf at Mor aMasa-l. Yogya-kart a: Kanisius;
---. 1994. Et i ka Pol i t i k Pr i nsi p-pr i nsi p Mor al Dasar Kenegar aan Moder n. Jakart a: Gra-media Pust aka Ut ama;
Muladi. 1995. Kapi t a Sel ekt a Si st em Per adi l an Pi dana. Semarang: BP Undip;
Nasikun. Hukum. Kekuasaan dan Keker asan: Sua-t u PendekaSua-t an Sosi ologi s. Makalah pada Seminar t ent ang Pendayagunaan Sosiologi Hukum dalam Masa Pembangunan dan Rest rukt urisasi Global dan Pembent ukan ASHI. FH Undip, Semarang, 20 Desember 1996;
Poespoprodj o, W. 1988. Fi l saf at Mor al , Kesusi l a-an dal am Teor i da-an Pr akt i k. Bandung: Remadj a Karya;
Purwant i, Ani. 1996. Pr of esional i sme Pol i si di Bi dang Penyi di kan, Tesis. Semarang: Prog-ram Magist er Ilmu Hukum Undip;
Raharadj o, Sat j ipt o. 2002. Pol i si Si pi l dal am Pe-r ubahan Sosial di Indonesia. Jakart a: Pe-nerbit Buku Kompas;
---. 2009. Penegakan Hukum, Suat u Ti nj auan Sosiol ogi s. Yogyakart a: Gent a Publishing; ---. St udi Kepol i si an Indonesi a: Met ode dan
Subst ansi. Makalah pada Simposium Nasio-nal Polisi Indonesia yang diselenggarakan oleh PSK FH Undip, AKPOL dan Mabes Polri, Semarang, 19-20 Juli 1993;
--- dan Ant on Tabah, 1993, Pol i si , Pel aku dan Pemi ki r. Jakart a: Gramedia Pust aka Ut a-ma;
Raharj o, Agus. “ Fenomena Chaos dalam Kehi-dupan Hukum Indonesia” . Jur nal Syi ar Madani No. IX No. 2 Juli 2007. Bandung: FH Unisba;
---. “ Hukum dan Dilema Pencit raannya (Tran-sisi Paradigmat is Ilmu Hukum dalam Teori dan Prakt ik” . Jur nal Hukum Pr o Just it i a Vol. 24 No. 1 Januari 2006. Bandung: FH Unpar;
---. “ Mediasi sebagai Basis dalam Penyelesai-an Perkara PidPenyelesai-ana” . Jur nal Mi mbar Hu-kum, Vol 20 No. 1 Februari 2008. FH UGM;
--- dan dan Angkasa. 2010. Per l i ndungan Hukum t er hadap Ter sangka dar i Keker as-an yas-ang Di l akukas-an ol eh Penyi di k dal am Penyi di kan di Kepol i sian Resor t Banyumas. Laporan Penelit ian Hibah Pascasarj ana. Purwokert o: Unsoed;
--- dkk, 2007, Si st em Per adi l an Pi dana (St udi t ent ang Pengembangan Model Penyel esai an Per kar a Pi dana mel al ui Jal ur Non Li t i -gasi di Jawa Tengah). Laporan Penelit ian Hibah Bersaing XV/ I, Purwokert o: FH Unsoed:
Reksodiput ro. Mardj ono. 1994. Hak Asasi Manu-si a dal am Si st em Per adi l an Pi dana. Jakar-t a: PusaJakar-t Pelayanan Keadilan dan Pe-ngabdian Hukum UI;
Sadj ij ono. 2008. Et i ka Pr of esi Hukum, Suat u Te-l aah Fi Te-l osof i s t er hadap Konsep dan Im-pl ement asi Kode Et i k Pr of esi POLRI. Ja-kart a: Laksbang Mediat ama;
Sidhart a, B. Arief . “ Et ika dan Kode Et ik Prof esi Hukum” . Maj al ah Hukum Pr o Just i t i a, Tahun XIII No. 2 Tahun 1995, Bandung: FH Universit as Parahyangan;
Snibbe, John R. and Homa M. Snibbe (ed). 1999. Ur ban Pol i ce i n Tr ansi t ion, A Psychol ogi cal & Sociol ogi cal Revi ew. Illionis USA: Charles C. Thomas Publisher;
Soehardi, S. A. 2008. Pol i si dan Pr of esi. Sema-rang: PD. PP Polri Jawa Tengah;
Susant o, Ant hon F. 2004. Waj ah Per adi l an Kit a, Konst r uksi Sosi al t ent ang Penyi mpangan, Mekanisme Kont r ol dan Akunt abi l i t as Pe-r adi l an Pi dana. Bandung: Ref ika Adit ama; Suwarni. 2009. Per i l aku Pol i si , St udi at as
Buda-ya Or gani sasi dan Pol a Komuni kasi. Ban-dung: Nusa Media;
Villiers, Pet er. 1999. Bet t er Pol i ce Et hi cs, A Pr act i cal Gui de. Jakart a: Cipt a Manung-gal;
Widyast ut i, A. Reni. “ Penegakan Hukum: Meng-ubah St rat egi dari Supremasi Hukum ke Mobilisasi Hukum unt uk Mewuj udkan Kese-j aht eraan dan Keadilan” . Jur nal Hukum Pr o Just i t i a Vol. 26 No. 3 Juni 2008. Bandung: FH Universit as Parahyangan; Wignyosoebrot o, Soet andyo. 2003. Hukum: Par
a-di gma, Met ode dan Di nami ka Masal ahnya, Jakart a: ELSAM dan Hu-MA;
Wij aya, A. Lat ief . 2002, Car ok, Konf l i k Keker as-an das-an Har ga Di r i Or as-ang Madur a. Yogya-kart a: LKIS;
Wilson, St eve and Jana L. Jasinksi. “ Public Sat isf act ion wit h t he Police in Domest ic Violance Cases: The Import ance of Ar-reest , Expect at ion, and Involunt ary Con-t acCon-t ” . Amer i can Jour nal of Cr i mi nal Jus-t i ce, Spring 2004: 28, 2;