• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENDALI SUHU AIR BERBASIS RANGKAIAN DIGITAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGENDALI SUHU AIR BERBASIS RANGKAIAN DIGITAL"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Program Studi Teknik Elektro

Oleh:

Nama : Andi Wicaksono

NIM :

025114048

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

FINAL PROJECT

Presented as Partial Fulfillment of the Requirements

To Obtain the Sarjana Teknik Degree

In Electrical Engineering Study Program

By:

Name : Andi Wicaksono

Student ID Number : 025114048

ELECTRICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM

DEPARTMENT OF ELECTRICAL ENGINEERING

FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)

Kupersembahkan karya tulis ini kepada :

” Tuhan Yesus Kristus terkasih,

Bapak dan Ibu Tercinta,

Kedua saudaraku Esti dan Ica tercinta,

Keluarga besarku tercinta,

Kekasihku tersayang,

Teman-temanku elektro 2002,

(7)

“ Dari berbagai permasalahan yang ada pasti ada

satu j alan keluarnya,

walaupun untuk menyelesaikannya diperlukan

perj uangan”

“ Ubahlah suatu hambatan menj adi suatu

tantangan, dan

suatu kegagalan menj adi suatu awal dari

(8)

INTISARI

Sistem Pengendali Suhu Air Berbasis Rangkaian Digital ini merupakan suatu

usaha memperoleh suhu air dengan mengaplikasikan rangkaian digital. Rangkaian

elektronik dari sistem Pengendali Suhu Air Berbasis Rangkaian Digital ini terdiri

dari beberapa bagian utama yaitu : (1) sensor suhu, (2) rangkaian

set point

, (3)

pengondisi sinyal, (4) pengubah tegangan analog ke digital, (5) komparator, (6)

kontroler, (7) penggerak, (8) plan/pemanas, dan (9) rangkaian penampil.

Pada penerapan pengendalian ini suhu akan dibatasi dengan beberapa nilai

set

point

yaitu

: set point

I: 40°C,

set point

II: 70°C, dan

set point

III: 90°C. Jadi pada

saat

set point

I: 40°C ditekan, maka plan/pemanas akan menyala menghasilkan suhu

sebesar 40°C dan suhu tersebut akan dipertahankan sesuai dengan perbandingan nilai

biner antara

set point

dengan sensor sama dimana plan/pemanas akan mati, dan suhu

perlahan-lahan akan turun sehingga perbandingan nilai biner menjadi berbeda maka

plan/pemanas akan hidup sampai nilai biner antara

set point

dengan sensor sama .

Pada saat sistem dilakukan pengujian, dapat diketahui bahwa perangkat

elektronis yang dibuat sudah dapat digunakan sebagai piranti pengendali untuk

mengatur batasan suhu air yang diinginkan.

(9)

Abstract

This Digital Connecting Structure-based Water Temperature Controlling

System is an excretion to get the determined water temperature by applying the

digital connecting structure. The electronic circuit of Digital Connecting

Structure-based Water Temperature Controlling System is divided into several main parts: (1)

the temperature sensor, (2) set point connecting structure, (3) signal conditioner, (4)

analog to digital conversion, (5) comparator, (6) controller, (7) driver, (8) heater,

and (9) projector circuit.

In applying this controlling system, the temperature is limited with several set

point: set point I: 40°C, set point II: 70°C, and set point III: 90°C. Therfore,

whwnever set point I: 40°C is pressed, it will turn on the heater cusing 40°C

temperature and the temperature will be kept appropriately in accordance to the

comparison between binary value and set point using the same sensor in which the

heater is turned off and the temperature will slowly decrease, so that the comparison

of the binary value will be different. Thus, the heater will be turned on until the

binary value of the set point and the sensor reach the same value.

When the system was tested, can be known that periperal electronis which

made have earned to be used as controller apparatus to arrange wanted water

temperature constrain

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas

Anugerah-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan

lancar.

Dalam proses penulisan tugas akhir ini penulis menyadari bahwa ada begitu

banyak pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan dengan caranya

masing-masing sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis ingin

mengucapkan terima kasih antara lain kepada :

1.

Tuhan Yesus atas penyertaan dan bimbingannya.

2.

Bapak Ir. Greg. Heliarko, S.J., S.S., B.S.T., M.A., M.Sc. selaku Dekan Fakultas

Teknik.

3.

Bapak Augustinus Bayu Primawan, S.T., M.Eng. selaku Ketua Jurusan Teknik

Elektro.

4.

Ibu B. Wuri Harini, S.T., M.T. selaku pembimbing I atas ide-ide yang berguna,

bimbingan, dukungan, saran dan kesabaran bagi penulis dari awal sampai tugas

akhir ini bisa selesai.

5.

Ibu Ir. Th Prima Ari Setyani, M.T. selaku pembimbing II yang telah bersedia

meluangkan waktu serta memberikan bimbingan dan saran yang tentunya sangat

(11)

7.

Seluruh dosen teknik elektro atas ilmu yang telah diberikan selama penulis

menimba ilmu di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

8.

Bapak dan Ibu tercinta atas semangat, doa serta dukungan secara moril maupun

materiil.

9.

Kedua saudaraku, Esti dan Ica atas dukungan, cinta, bantuan yang sangat

berguna.

10.

Kekasihku tersayang

, atas segala waktu, bantuan dan dukungannya.

11.

Teman-teman elektro ”2002” : Nango, Dhanny, Bhul’s, Gepeng, Deri, Plenthonx,

Memet, Lambe’z, Roby, Broto, Wawan, Hari, P-K, Lele, Dhika, Sinung, Oscar,

Ido, Kobo, Ari W, Denny, Yoga, Koten, Ahok, Iyok, Erick, Andi S, Alex, Pandu,

Heri S dan teman-teman seperjuangan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu

persatu di sini. Saya ucapkan banyak terima kasih atas dukungannya.

12.

Dan seluruh pihak yang telah ambil bagian dalam proses penulisan tugas akhir ini

yang terlalu banyak jika disebutkan satu-persatu.

Dengan rendah hati penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih kurang dari

sempurna, oleh karena itu berbagai kritik dan saran untuk perbaikan tugas akhir ini

sangat diharapkan. Akhir kata, semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak. Terima kasih.

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...

i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...

iii

HALAMAN PENGESAHAN...

iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...

v

HALAMAN PERSEMBAHAN ...

vi

HALAMAN MOTTO ...

vii

INTISARI ...

viii

ABSTRACT ...

ix

KATA PENGANTAR...

x

DAFTAR ISI...

xii

DAFTAR GAMBAR

...

xvi

DAFTAR TABEL ...

xix

BAB I. PENDAHULUAN

1.1

Judul……… 1

1.2

Latar Belakang ... 1

(13)

1.7

Metodologi Penelitian ... 3

1.8

Sistematika Penulisan ... 4

BAB II. DASAR TEORI

2.1 Sensor

Temperature

LM35 ... 5

2.2 Gerbang-gerbang

Logika ...

6

2.2.1 Gerbang Logika AND ... 6

2.2.2 Gerbang Logika OR ... 7

2.2.3 Gerbang Logika NOT ... 8

2.2.4 Gerbang Logika NAND ... 8

2.2.5 Gerbang Logika NOR ... 9

2.2.6 Gerbang Logika OR-Eksklusif... 9

2.2.7 Gerbang Logika NOR-Eksklusif... 10

2.3

Set point

... 11

2.3.1 Pembagi Tegangan ... 11

2.3.2

Buffer

Tegangan ... 12

2.4 ADC(

Analog to Digital Converter

) ... 13

2.5 Karakteristik Dasar Alat Pengendali... 17

2.6

Triac

... 18

(14)

2.11 Tanggapan

Sistem

... 28

2.12 Metode

Ziegler-Nichols

... 30

BAB III PERANCANGAN

3.1 Diagram Blok ... 33

3.2

Plan Pengendali Suhu Air... 34

3.3 Sensor

LM35 ...

35

3.4

Set point

... 37

3.4.1 Pembagi Tegangan ... 37

3.4.2

Buffer

Tegangan ... 39

3.5 Antarmuka

Set Point

dengan ADC0804... 40

3.6

Analog to Digital Converter

(ADC

0804) ...

40

3.7 Antarmuka LM35 dengan ADC0804 ... 43

3.8 Pembanding

(

Comparator)

Sebagai Kontroler... 44

3.9

Driver

... 45

3.10 Pengkode BCD ke Tujuh Segmen ... 47

3.11 Pengondisi Sinyal ... 49

(15)

4.2.2

Pengujian

Set Point

70

o

C ... 56

4.2.3 Pengujian

Set Point

90

o

C ... 59

4.2.4 Perbandingan Respon Hasil Pengujian ... 63

4.3

Pengamatan Rangkaian Pengondisi Sinyal ... 64

4.4 Pengamatan

Rangkaian

ADC...

66

4.5 Pengamatan

Rangkaian

Pembanding ...

67

4.6 Pengamatan

Rangkaian

Driver

……… ... 68

4.7

Pengamatan Rangkaian BCD ke Tujuh Segmen ………... 70

4.8

Pengamatan Tampilan Tujuh Segmen ... 71

BAB V. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

...

73

5.2 Saran

...

74

DAFTAR PUSTAKA

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1

Pin koneksi LM 35... 5

Gambar 2.2.a

Sistem pensaklaran gerbang logika AND... 6

Gambar 2.2.b

Gerbang logika AND... 6

Gambar 2.3.a

Sistem pensaklaran gerbang logika OR... 7

Gambar 2.3.b

Gerbang logika OR... 7

Gambar 2.4.a

Sistem pensaklaran gerbang logika NOT... 8

Gambar 2.4.b

Gerbang logika NOT... 8

Gambar 2.5

Gerbang logika NAND... 9

Gambar 2.6

Gerbang logika NOR... 9

Gambar 2.7

Gerbang OR-

eksklusif

... 10

Gambar 2.8

Gerbang NOR-

eksklusif

... 10

Gambar 2.9

Rangkaian pembagi tegangan ... 12

Gambar 2.10

Konfigurasi

buffer

tegangan ... 12

Gambar 2.11

Diagram blok pengubah analog ke digital... 13

Gambar 2.12

Konfigurasi pin-pin IC ADC 0804... 13

Gambar 2.13

Bentuk fisik

triac

... 18

(17)

Gambar 2.18

Untai penampil tujuh segmen... 26

Gambar 2.19

Bentuk bilangan desimal tampilan tujuh segmen... 27

Gambar 2.20

Rangkaian pengkondisi sinyal... 28

Gambar 2.21

Kurva respon tangga satuan yang menunjukkan

td, tr, tp

Mp,

dan

ts

... 30

Gambar 2.22

Kurva respons tangga satuan yang memperlihatkan 25%

,

lonjakan. maksimum... 31

Gambar 2.23

Respon tangga satuan sistem... 31

Gambar 3.1

Diagram blok pengendali suhu air berbasis rangkaian digital... 33

Gambar 3.2

Papan tampilan dan

set point

... 34

Gambar 3.3

Plan... 34

Gambar 3.4

Input

dan

output

tegangan pada sensor suhu LM35... 35

Gambar 3.5

Rangkaian pembagi tegangan

dan

buffer

... 39

Gambar 3.6

Antarmuka set point dengan ADC 0804... 40

Gambar 3.7

Rangkaian ADC... 43

Gambar 3.8

Antarmuka sensor LM 35 dengan ADC 0804... 43

Gambar 3.9

Gambar pembanding (komparator) 4 bit... 45

Gambar 3.10 Interfacing triac

dengan rangkaian MOC 3021... 46

(18)

Gambar 4.3

Respon sistem untuk

set point

40

o

C... 55

Gambar 4.4

Grafik hubungan antara waktu dan suhu untuk

set point

70

o

C... 57

Gambar 4.5

Respon sistem untuk

set point

70

o

C... 59

Gambar 4.6

Grafik hubungan antara waktu dan suhu untuk

set point

90

o

C... 61

(19)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Tabel kebenaran gerbang logika... 11

Tabel 2.2 Macam-macam MOC30XX... 22

Tabel 2.3 Karakteristik masukan dan keluaran BCD... 24

Tabel 2.4 segmen yang aktif untuk setiap angka desimal... 27

Tabel 3.1 Konversi suhu ke tegangan pada sensorLM35... 36

Tabel 4.1 Hasil pengambilan data untuk

set point

40

o

C... 52

Tabel 4.2 Hasil pengambilan data untuk

set point

70

o

C... 56

Tabel 4.3 Hasil pengambilan data untuk

set point

90

o

C... 60

Tabel 4.4 Data

Maximum overshoot, Delay Time, Rise Time, Settling Time

dan

Steady-state Error

... 63

Tabel 4.5 Hasil pengukuran tegangan keluaran sensor dan pengkondisi sinyal... 65

Tabel 4.6 Hasil pengamatan

input

dan

output

ADC... 66

(20)
(21)

1.1 Judul.

Pengendali Suhu Air Berbasis Rangkaian Digital

1.2

Latar Belakang Masalah.

Di dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti sering mendengar kata

”heater”

di mana kata tersebut berasal dari bahasa asing yang berarti pemanas dan

Heater

tersebut dapat diperoleh di supermarket-supermarket. Perangkat elektronik

tersebut sering digunakan manusia untuk mempermudah dan mempercepat suatu

proses pemanasan air tawar namun dengan suhu yang tidak dapat ditentukan oleh si

pengguna. Pengguna hanya bisa mengetahui bahwa suhu air ± 100 derajat celcius,

saat air telah mendidih. Di dalam sistem pengendali suhu air berbasis rangkaian

digital dibuat dengan beberapa nilai

set point

supaya dapat memperoleh suhu air

yang diinginkan, dimana

set point

suhu air yang diinginkan meliputi : 40

o

C, 70

o

C,

dan 90

o

C. Alat tersebut selain dirancang untuk mendapatkan suhu air yang diinginkan

(22)

1.3. Perumusan Masalah.

Di dalam pembuatan pengendali suhu air ini muncul beberapa perumusan

masalah diantaranya sebagai berikut :

a.

Apakah di dalam pemilihan komponen yang tepat dapat mempengaruhi proses

perancangan pengendali alat ini ?

b.

Apakah kinerja sistem sudah sesuai dengan yang diharapkan ?

c.

Apakah suhu air yang ditetapkan sudah sesuai dengan

set point

?

1.4. Batasan Masalah.

Dalam pembuatan Tugas Akhir dengan judul Pengendali Suhu Air Berbasis

Rangkaian Digital dibatasi pada masalah-masalah sebagai berikut :

a.

Pengukuran suhu dengan menggunakan sensor temperatur LM35

b.

Proses pengubahan sinyal dari sinyal analog ke sinyal digital dengan

menggunakan ADC0804.

c. Pemanas

(Heater)

akan dihidupkan dan dimatikan secara otomatis oleh suatu

penggerak

(driver)

dimana digunakan suatu komponen MOC 3021

.

d. Dipakai untuk kenaikan suhu yang ditentukan yakni : 40

o

C, 70

o

C, dan 90

o

C.

(23)

1.5. Tujuan penelitian.

Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :

Membuat perangkat elektronis berbasis Rangkaian Digital sebagai piranti

pengendali yang dapat digunakan untuk mengatur batasan temperatur suhu air yang

diinginkan.

1.6. Manfaat Penelitian.

Pembuatan pengendali suhu air berbasis Rangkaian Digital ini supaya dapat

mempermudah dalam mengatur batasan suhu air yang diinginkan. Sehingga apabila

pemakai menginginkan keadaan air yang bersuhu konstan dapat mempergunakan

peralatan ini.

1.7. Metodologi Penelitian.

Penulis melakukan penelitian dengan melakukan metodologi sebagai berikut:

a.

Mengumpulkan referensi dan literatur dari perpustakaan dan internet.

b.

Pembuatan

plant

yang terkonsep.

c.

Pengambilan data dari

plant

.

d.

Perancangan pengendali sesuai dengan yang diinginkan.

(24)

1.8. Sistematika penulisan

Sistematika

penulisan

laporan

tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB I

Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, tujuan dan manfaat

dari penelitian, batasan masalah, metodologi penelitian, serta

sistematika penulisan

BAB II

Dasar Teori

Bab ini berisi tentang dasar teori yang digunakan untuk membuat

Pengendali suhu air yang disertai dengan penjelasan.

BAB III

Rancangan Penelitian

Bab ini berisi tentang rancangan peralatan yang dibuat,

pemilihan komponen, serta penjelasan singkat tentang cara kerja

peralatan.

BAB IV

Hasil dan Pembahasan

Bab ini berisi tentang pembahasan dan analisis mengenai hasil

penelitian yang telah dilaksanakan.

BAB V

Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan spesifikasi peralatan yang

dibuat serta saran-saran untuk perbaikan alat dan penilitian

(25)

2.1 Sensor

Temperature

LM35

Sensor merupakan perangkat elektronik yang dapat difungsikan

sebagai pengubah besaran fisik(suhu) menjadi besaran listrik(tegangan) [1].

Pembuatan sensor

temperature

bergantung pada pemanfaatan beberapa

material yang mengalami perubahan sebagai fungsi perubahan

temperature

.

Suatu pendekatan telah dikembangkan dimana perbedaan tegangan

basis dan emitter dari dua transistor yang bekerja pada kerapatan arus yang

berbeda sebagai ukuran

temperature

. Pin koneksi sensor LM 35 ditunjukkan

pada gambar 2.1 berikut ini :

Gambar 2.1 Pin koneksi LM 35.

Sensor LM 35 ini mempunyai tegangan masukan sebesar 4V sampai

20V. Dan sensor tersebut menghasilkan tegangan keluaran sebesar 0 mV + 10

(26)

2.2

Gerbang-gerbang Logika

Gerbang logika adalah suatu rangkaian logika dengan satu atau beberapa

masukan dan satu keluaran dengan sinyal keluaran hanya terjadi untuk

kombinasi-kombinasi sinyal masukan tertentu [3]. Gerbang logika merupakan

rangkaian yang dirancang untuk menghasilkan fungsi-fungsi logika dasar seperti

AND, OR, dan NOT. Empat gerbang logika yang lain yang bermanfaat dapat

dibuat dari piranti dasar ini. Gerbang-gerbang tersebut diantaranya gerbang

NAND, gerbang NOR, gerbang OR-eksklusif, dan gerbang NOR-eksklusif.

2.2.1 Gerbang Logika AND

Rangkaian gerbang AND adalah gerbang logika yang memiliki

masukan dua atau lebih dan memiliki satu keluaran. Gerbang AND

mempunyai keluaran tinggi jika semua masukannya tinggi, sebaliknya jika

salah satu atau semua masukannya berlogika rendah maka keluarannya

berlogika rendah [2]. Perhatikan gambar 2.2a, bila salah satu dari saklar

tersebut tidak terhubung, maka tidak ada arus yang akan mengalir pada

rangkaian. Gerbang yang diperlihatkan pada gambar 2.2b merupakan gerbang

(27)

Gambar 2.2 Gerbang logika AND : ( a ) sistem pensaklaran; ( b ) sistem

pensaklaran dengan menggunakan transistor

Tabel kebenaran gerbang AND dapat dilihat pada tabel 2.1.

2.2.2 Gerbang Logika OR

Gerbang logika OR dianalogikan dengan sistem pensaklaran yang

dipasang secara parallel. Perhatikan gambar 2.3a, bila salah satu dari saklar

tersebut tidak terhubung, maka akan ada arus yang mengalir melalui cabang

yang lain pada rangkaian. Gerbang OR akan menghasilkan keluaran tinggi

bila pada satu atau beberapa masukannya berada dalam kondisi

tinggi.Gerbang yang diperlihatkan pada gambar 2.3b merupakan gerbang

logika OR yang menggunakan 2 ( dua ) buah transistor yang dipasang secara

paralel.

Gambar 2.3 Gerbang logika OR : ( a ) sistem pensaklaran; ( b ) sistem

pensaklaran dengan menggunakan transistor.

(28)

2.2.3 Gerbang Logika NOT

Gerbang logika NOT disebut juga inverter( pembalik ). Gerbang

logika ini hanya memiliki sebuah masukan dan sebuah keluaran. Perhatikan

gambar 2.4a, bila saklar dalam keadaan tertutup, maka relai tidak akan bekerja.

Sebaliknya, bila saklar dalam keadaan terbuka, maka relai akan bekerja dan

membuat arus mengalir pada rangkaian. Gerbang yang diperlihatkan pada gambar

2.4b merupakan gerbang logika NOT yang menggunakan sebuah transistor

sebagai saklar.

Gambar 2.4 Gerbang logika NOT : ( a ) sistem pensaklaran; ( b ) sistem

pensaklaran dengan menggunakan transistor.

Tabel kebenaran gerbang NOT dapat dilihat pada tabel 2.1.

2.2.4 Gerbang Logika NAND

Gerbang logika NAND seperti gerbang AND dengan penambahan

inverter pada keluaran. Simbol dari gerbang logika NAND yaitu gerbang

logika AND dengan lingkaran kecil pada keluarannya seperti yang

(29)

Gambar 2.5 Gerbang NAND

Tabel kebenaran gerbang NAND dapat dilihat pada tabel 2.1.

2.2.5 Gerbang Logika NOR

Gerbang logika NOR seperti gerbang OR dengan penambahan inverter

pada keluarannya. Simbol dari gerbang logika NOR yaitu gerbang logika OR

dengan lingkaran kecil pada keluarannya seperti yang ditunjukkan pada

gambar 2.6 di bawah ini.

Gambar 2.6 Gerbang NOR

Tabel kebenaran gerbang NOR dapat dilihat pada tabel 2.1.

2.2.6 Gerbang Logika OR-Eksklusif

Gerbang OR-

eksklusif

sering kali disingkat sebagai

XOR, dimana

hanya akan berlogika 1 bila mempunyai satuan bilangan ganjil(01 dan 10) dan

akan berlogika 0 bila mempunyai satuan bilangan genap(00 dan 11). Gerbang

(30)

dan inverter(pembalik). Untuk lebih jelasnya dapat ditunjukkan pada gambar

2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7 Gerbang OR-

eksklusif

Tabel kebenaran gerbang OR-

eksklusif

dapat dilihat pada tabel 2.1.

2.2.7 Gerbang Logika NOR-Eksklusif

Gerbang logika NOR-

eksklusif

(XNOR) seperti gerbang XOR dengan

penambahan inverter pada keluarannya. Berbeda dengan XOR yang

merupakan pendeteksi satuan bilangan ganjil. Gerbang XNOR mendeteksi

satuan bilangan genap, dimana hanya akan berlogika 1 bila mempunyai satuan

bilangan genap(00 dan 11) dan akan berlogika 0 bila mempunyai satuan

bilangan ganjil(01 dan 10). Simbol dari gerbang logika NOR-

eksklusif

yaitu

gerbang logika XOR dengan lingkaran kecil pada keluarannya seperti yang

ditunjukkan pada gambar 2.8 di bawah ini.

(31)

Tabel kebenaran gerbang NOR-

eksklusif

dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tabel kebenaran gerbang logika

A B

AND

OR NAND

NOR

XOR

KELUARAN

MASUKAN

0

0 0 0 1 1 0 1 1 1

1

0 0 1 1 0 1 0 0 1

0

1 0 1 1 0 1 0 1 0

1

1 1 1 0 0 0 1 0 0

NOT

XNOR

A B

2.3

Set Point

Set Point

adalah harga yang diinginkan bagi variabel yang dikontrol

selama pengontrolan [7]. Rangkaian

set point

terdiri dari rangkaian pembagi

tegangan dan

buffer

.

2.3.1 Pembagi Tegangan

Rangkaian pembagi tegangan merupakan rangkaian yang

dibangun dari susunan potensiometer dan resistor, dengan konfigurasi

(32)

Gambar 2.9 Rangkaian Pembagi Tegangan

Untuk persamaan V

out

ditentukan sebagai berikut :

Vcc

R

R

V

2 1

2

out

x

R

+

=

………...…...(2.1)

2.3.2

Buffer

Tegangan

Buffer

tegangan berfungsi untuk mempertahankan tegangan

output

agar tidak terbebani oleh beban. Nilai amplitudo tegangan

output

sama dengan nilai amplitudo tegangan

input

yang diberikan.

Konfigurasi

buffer

tegangan seperti pada gambar 2.10.

(33)

2.4 ADC (

Analog to Digital Converter

)

Pengubah sinyal analog ke sistem digital disebut pengkode atau

encoder

[2]. Gambar 2.11 memperlihatkan diagram blok pengubah analog ke

digital yang dapat memberikan gambaran mengenai pengubahan sinyal analog

ke digital.

Gambar 2.11 Diagram blok pengubah analog ke digital

Dari diagram blok gambar 2.11, masukan berupa sinyal listrik analog

yang harus diubah menjadi keluaran biner dari bit paling rendah (LSB) sampai

ke bit yang paling tinggi (MSB).

(34)

Pada gambar 2.12 ditunjukkan konfigurasi pin-pin IC ADC 0804.

Fungsi masing-masing pin tersebut adalah sebagai berikut:

1.

Pin1 dan pin 2 (CS dan RD).

Jika CS rendah dan RD tinggi, maka pin 11 sampai 18 (D0 – D7)

mengambang dan tidak mengeluarkan data digital.

2.

Pin 3 (WR).

Merupakan sinyal konversi. Jika WR rendah, konversi mengalami

reset dan jika WR tinggi maka konversi segera dimulai.

3.

Pin 4 dan pin 19 (Clk In dan Clk R)

Frekuensi detak konverter harus terletak dalam daerah frekuensi 100

KHz sampai 1460 KHz. Clk In dapat diturunkan dari detak CPU. Jika

sistem beroperasi pada detak frekuensi lebih besar daripada 800 KHz

maka dapat diturunkan dengan menyambung rangkaian RC antara Clk

In dan Clk R untuk mendapatkan frekuensi yang diinginkan dan dapat

dirumuskan sebagai berikut:

f

Clk

=

×

×

R

C

1

,

1

1

………...…... (2.2)

4.

Pin 5 (INTR)

Sinyal INTR merupakan sinyal selesai konversi. Bila INTR bernilai

tinggi maka hal itu akan menandakan konversi dimulai, dan sebaliknya

jika INTR bernilai rendah maka hal itu menandakan konversi telah

(35)

5.

Pin 6 [Vin(+)].

Merupakan tegangan masukan analog positif.

6.

Pin 7 [Vin(-)].

Merupakan tegangan masukan analog negatif.

7.

Pin 8 dan 10 (Agnd dan Vgnd).

Pin 8 merupakan pin Agnd dan pin 10 merupakan Vgnd. Kedua pin ini

harus dihubungkan ke tanah

(ground)

.

8.

Pin 9 (V

ref

/

2

).

Merupakan tegangan masukan analog maksimum, yaitu tegangan yang

menghasilkan suatu keluaran digital maksimum FFH. Apabila pin 9 ini

tidak dihubungkan maka V

ref

bernilai sama dengan tegangan catu

(V

cc

).

9.

Pin 11 – 18 (D

7

– D

0

)

Pin 11 – 18 atau D

7

– D

0

merupakan keluaran ADC yang

berupa sinyal digital.

10.

Pin 20 (V

cc

)

Sebagai masukan tegangan catu maksimum sebesar 5 volt.

Hal-hal yang juga perlu diperhatikan dalam penggunaan ADC ini

adalah tegangan maksimum yang dapat dikonversikan oleh ADC dari

rangkaian pengkondisi sinyal, resolusi, pewaktu eksternal ADC, tipe keluaran,

(36)

Beberapa karakteristik penting ADC :

1.

Waktu konversi

2.

Resolusi

3.

Ketidaklinieran

4.

Akurasi

Sesuai dengan rumusan pada data sheet ADC 0804, frekuensi

clock

dan waktu konversi dengan konfigurasi

typical

pada

datasheet.

C

x

R

1,1

1

×

=

clock

f

Tc =

fclock

1

...(2.3)

Resolusi ADC dinyatakan dengan persamaan 2.3.

255

V

-V

Resolusi

=

ref(+) ref(-)

...(2.4)

Keterangan :

Resolusi = Ketelitian ADC

V

ref(+)

= Referensi tegangan atas

V

ref(-)

= Referensi tegangan bawah

Sesuai dengan penggunaan

typical

pada

datasheet

ADC 0804 dengan

2

reff

V

(37)

ADC

Resolusi

konversi

Tegangan

Level

=

...(2.5)

Perubahan ADC tiap bit dinyatakan dengan persamaan 2.5.

Tegangan konversi = Level x Resolusi ADC...(2.6)

Dengan konfigurasi kaki 7 (Vin

(-)

) mendapat masukan tegangan

referensi bawah sebesar 0Volt, dan kaki 9 (V

ref/2

) mendapat masukan tegangan

sebesar 1,275 Volt. Dari hal itu diperoleh persamaan :

2

Vref(-)

-)

Vref(

V

ref/2

+

=

...(2.7)

2.5 Karakteristik Dasar Alat Pengendali.

Suatu alat pengendali dirancang untuk menjalankan suatu perintah

masukan dan kemudian menjalankan sesuai dengan perintah masukan tersebut

[6]. Untuk menjalankan perintah masukan, suatu alat pengendali harus

mempunyai suatu kemampuan mengolah atau menterjemahkan perintah secara

tepat dan benar. Dalam pengerjaan tugas akhir ini, perintah diolah dan

dikendalikan oleh suatu rangkaian digital yang kemudian hasil dari pengolah

tersebut dijalankan oleh penggerak dalam hal ini penggerak yang dimaksud

adalah

driver

.

Alat pengendali akan dinyatakan bekerja secara baik apabila mampu

menjalankan perintah secara benar dan proses jalan perintah harus sesuai

(38)

mempengaruhi baik atau tidak suatu alat pengendali. Yang dimaksud dengan

faktor waktu disini adalah kemampuan alat untuk menjalankan perintah secara

cepat dan tepat, yakni jika diberi perintah maka alat akan langsung

menjalankan perintah pada saat itu juga.

Jadi suatu alat kendali akan dinyatakan mampu bekerja secara baik

jika alat tersebut mampu menjalankan perintah masukan sesuai dengan

perintah yang diberikan dan perintah tersebut dijalankan oleh alat tersebut

dengan cepat. Disamping itu harus mempunyai ketepatan yang baik yaitu

sesuai atau mendekati dengan perancangan, dan juga mempunyai keakuratan

yang baik. Keakuratan ditentukan dengan cara mengkalibrasi alat tersebut

sesuai dengan syarat yang telah ditentukan.

2.6

Triac

Triac

atau AC

switch

, merupakan saklar arus bolak–balik bentuk

(39)

Keunggulan

triac

adalah dapat digunakan untuk mengatur daya dalam

batas–batas lebih lebar, artinya dengan

triac

arus dapat mengalir ke arah bolak

– balik,

triac

dipakai untuk pengaturan daya gelombang penuh, triac juga

dapat dipakai untuk pengemudian arus yang relative besar, dari sumber

berdaya kecil dan keunggulannya adalah mudah dan sederhana dalam

pemakaian.

Triac

mempunyai tiga terminal; dua terminal utama yakni MT1

dan MT2 serta satu gerbang G (

gate

). Terminal MT1 dan MT2 dirancang

demikian sebab aliran arus adalah dua arah.

Jika terminal MT1 dan MT2 diberi tegangan AC dan

gate

dalam

kondisi mengambang maka tidak ada arus yang dilewatkan oleh

triac

sampai

pada tegangan

breakover

triac

tercapai. Pada kondisi ini

triac

OFF

. Pada saat

gate

diberi arus positif atau negatif maka tegangan

breakover

ini akan turun.

Semakin besar nilai arus yang masuk ke

gate

maka semakin rendah tegangan

breakover-

nya. Pada kondisi ini

triac

menjadi

ON

selama tegangan pada

MT1 dan MT2 di atas nol volt. Apabila tegangan pada MT1 dan MT2 sudah

mencapai nol volt maka kondisi kerja

triac

akan berubah dari

ON

ke

OFF

.

Ketika

triac

sudah menjadi

OFF

kembali, triac akan selamanya

OFF

sampai

ada arus

trigger

ke

gate

dan tegangan MT1 dan MT2 melebihi tegangan

(40)

Gambar 2.14 Kurva karakteristik

triac

2.7

Solid-State Relay(Optoisolator)

.

Pada relai yang berjenis relai solid state

(solid-state relay =

SSR

)

ini

tidak mempunyai kumparan dan kontak sesungguhnya dibandingkan dengan

relai elektromekanis

(Electromechanics relay =

EMR

)

[4]

.

Sebagai pengganti

digunakan alat penghubungan semikonduktor seperti transistor bipolar,

MOSFET, SCR, atau

triac

,

misalnya MOC 30XX seperti pada gambar 2.15.

(41)

kelembaban. SSR merupakan aplikasi pada pengisolasian rangkaian kontrol

tegangan-rendah dari rangkaian beban-daya-tinggi. Dioda yang memancarkan

cahaya(LED) yang digabungkan pada rangkaian input menyala mengeluarkan

cahaya apabila kondisi pada rangkaian benar-benar untuk mengaktifkan relai.

Cahaya LED pada fototransistor, yang kemudian menghantar, menyebabkan

arus trigger diberikan pada

triac

.

Solid-state Relay

dapat digunakan untuk mengontrol beban ac atau dc.

Jika relai dirancang untuk mengontrol beban ac, digunakan

triac

untuk

menghubungkan ke beban (

heater)

. Tegangan kontrol untuk SSR dapat arus

searah dan bolak-balik, dan biasanya berkisar antara 3 sampai 32 V untuk DC

dan 80 dan 280 V untuk AC. Arus beban maksimum mencapai 50 A adalah

mungkin pada ukuran kerja tegangan beban (

heater)

120, 240, dan 480 Vac.

Pada sebagian besar aplikasi, SSR digunakan sebagai perantara antara

rangkaian kontrol tegangan rendah dengan tegangan beban(

heater)

ac yang

lebih tinggi. Macam-macam MOC beserta karakteristik arus dan tegangan

dapat di lihat pada tabel 2.2.

SSR mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan EMR.

SSR lebih terpercaya dan mempunyai umur pemakaian yang lebih panjang.

karena SSR tidak mempunyai bagian yang berputar, dapat juga digabungkan

(42)

interferensi elektromagnetis. SSR lebih tahan terhadap goncangan dan

terhadap getaran, mempunyai waktu respon yang lebih cepat.

Gambar 2.15 Skema dari MOC30XX (SSR)

(43)

2.8 Pengkode BCD ke tujuh segmen

Pengkode merupakan suatu penerjemah kode [5]. Pengkode

merupakan rangkaian logika gabungan dengan beberapa masukan dan

keluaran. Kebanyakan berisi 20 sampai 50 gerbang. Kebanyakan pengkode

dipaketkan dalam paket IC tunggal.

Untuk menyalakan tampilan tujuh segmen, keluaran sistem digital

harus diubah ke dalam isyarat yang sesuai. Masukan dari sistem digital

biasanya dalam bentuk sandi biner (BCD) sehingga harus diubah menjadi

isyarat tujuh jalur untuk menyalakan masing-masing segmen. Perubahan ini

dilakukan oleh pengkode BCD ke tujuh segmen. Jika karakter 1 akan

ditampilkan, maka jalur keluaran B, C akan berlogika 1 untuk menghidupkan

LED yang sesuai dengan segmen B, C. Jalur yang lain tetap 0. Jika karakter 2

akan ditampilkan maka jalur keluaran A, B, D, E, G akan di-

set

berlogika 1

untuk menghidupkan LED yang sesuai dengan segmen A, B, D, E, G. Jalur

yang lain tetap berlogika 0. Jika karakter 3 akan ditampilkan maka jalur

keluaran A, B, C, D, G akan berlogika 1 untuk menghidupkan LED yang

sesuai dengan segmen A, B, C, D, G. Jalur yang lain tetap berlogika 0. Jika

karakter 4 akan ditampilkan maka jalur keluaran B, C, F, G akan berlogika 1

untuk menghidupkan LED yang sesuai dengan segmen B, C, F, G. Jalur yang

(44)

Tabel 2.3 Karakteristik masukan dan keluaran BCD

Masukan BCD

D

C

B

A

Keluaran BCD yang

diaktifkan

Desimal

0 0 0 0

A,B,C,D,E,F

0

0 0 0 1

B,C

1

0 0 1 0

A,B,D,E,G

2

0 0 1 1

A,B,C,D,G

3

0 1 0 0

B,C,F,G

4

0 1 0 1

A,C,D,F,G

5

0 1 1 0

A,C,D,E,F,G

6

0 1 1 1

A,B,C

7

1 0 0 0

A,B,C,D,E,F,G

8

(45)

Contoh IC pengkode BCD ke tujuh segmen adalah IC 4511. IC

tersebut memiliki 4 masukan yang akan mengubah 4 bit masukan

tersebut menjadi 7 buah isyarat tujuh jalur. IC 4511 mempunyai

keluaran aktif berlogika 0. Gambar IC 4511 ditunjukkan pada Gambar

2.16.

Gambar 2.16 IC 4511

2.9 Penampil Tujuh Segmen

Salah satu bentuk tampilan digital adalah penampil tujuh segmen, yang

terdiri atas tujuh ruas LED di mana dapat di lihat pada gambar 2.17 [5].

a

b

f

g

c

e

Gambar 2.17 Tujuh ruas LED

(46)

Menurut cara pemberian tegangan maka suatu tujuh segmen terdiri

dari dua macam, yaitu

common

anoda dan

common

katoda. Perbedaan antara

keduanya hanya terletak pada penyambungan antara LED yang terdapat pada

segmen yang satu dengan yang lain. Pada

common

anoda, anoda dari ketujuh

LED terhubung menjadi satu (Gambar 2.18a) sedangkan pada

common

katoda, katoda dari ketujuh LED yang terhubung menjadi satu (Gambar

2.18b).

a)

Common A

noda

b)

Common

Katoda

Gambar 2.18 Untai penampil tujuh segmen

(47)

Gambar 2.19 Bentuk bilangan desimal tampilan tujuh segmen

Tabel 2.4 di bawah ini menunjukkan tabel segmen yang aktif untuk setiap

angka desimal.

Tabel 2.4 segmen yang aktif untuk setiap angka desimal

Desimal

Segmen yang aktif

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

A,B,C,D,E,F

B,C

A,B,D,E,G

A,B,C,D,G

B,C,F,G

A,C,D,F,G

A,C,D,E,F,G

A,B,C

A,B,C,D,E,F,G

(48)

2.10 Pengondisi Sinyal

Pengkondisi sinyal pada umumnya mencakup rangkaian penunjang

bagi tranduser[7]. Rangkaian ini dapat memberikan daya eksitasi, rangkaian

imbang, dan elemen kalibrasi. Pengkondisi sinyal digunakan untuk

memperkuat, memodifikasi, atau memilih bagian tertentu dari sinyal tersebut.

Salah satu contoh rangkaian pengkondisi sinyal yang sering digunakan adalah

rangkaian penguat

yang terdiri dari hambatan Ri dan Rf seperti ditunjukkan

pada gambar 2.20

Gambar 2.20 Rangkaian pengondisi sinyal

2.11 Tanggapan Sistem

Sebagian besar sistem kontrol adalah sistem wawasan waktu; yang

(49)

Respon sistem kontrol sering menunjukkan osilasi teredam sebelum mencapai

keadaan tunak. Dalam menentukan karakteristik tanggapan

system control

terhadap masukan tangga satuan, biasanya dicari parameter-parameter berikut:

1.

Waktu Tunda (

Delay Time

), t

d

Yaitu waktu yang diperlukan tanggapan mencapai setengah harga akhir

yang pertama kali.

2.

Waktu Naik (

Rise Time

), t

r

Yaitu waktu yang diperlukan tanggapan untuk naik dari 10% hingga 90%

dari harga akhirnya.

3.

Waktu Penetapan (

Settling Time )

, t

s

Yaitu waktu yang diperlukan kurva tanggapan dan menetap dalam daerah

disekitar harga akhir yang ukurannya ditentukan dengan persentase mutlak

dari harga akhir (biasanya 5% atau 2%).

4.

Waktu Puncak (

peak time

), t

p

Yaitu waktu yang diperlukan respon untuk mencapai puncak lewatan

pertamakali.

5.

Lewatan maksimum (

maximum overshoot

), M

p

Yaitu harga puncak maksimum dari kurva respon yang diukur dari satu.

Jika harga keadaan tunak respon tidak sama dengan satu, maka biasa

digunakan persen lewatan maksimum.

(50)

Persen lewatan maksimum =

100

%

)

(

)

(

)

(

×

c

c

t

c

p

...(2.7)

Besarnya (persen) lewatan maksimum secara langsung menunjukkan

kestabilan relatif sistem.

Untuk mengetahui karakteristik tanggapan

system control

terhadap

masukan tangga satuan dapat ditunjukkan contoh pada gambar 2.21.

Gambar 2.21 Kurva respon tangga satuan yang menunjukkan

td, tr, tp,

Mp,

dan

ts

2.12 Metode Ziegler-Nichols

Ziegler-Nichols pertama kali memperkenalkan metodenya pada tahun

1942 [9]. Metode ini memiliki dua cara, metode osilasi dan kurva reaksi.

(51)

maksimum sebesar 25%. Gambar 2.22 memperlihatkan kurva respons tangga

satuan dengan lonjakan maksimum 25%.

Gambar 2.22 Kurva respons tangga satuan yang memperlihatkan 25%

lonjakan maksimum

(52)

Metode yang digunakan adalah metode kurva reaksi, di mana metode

kurva reaksi didasarkan terhadap reaksi sistem untaian terbuka.

Plant

sebagai

untaian terbuka dikenai sinyal fungsi tangga satuan, gambar 2.23

(53)

BAB III

PERANCANGAN

3.1 Diagram Blok.

Gambar 3.1 menunjukkan diagram blok perancangan pengendali suhu air

berbasis rangkaian digital.

Gambar 3.1 Diagram blok pengendali suhu air berbasis rangkaian digital

Pengendalian

suatu

plan

membutuhkan papan tombol sebagai pengontrol

manual. Papan tombol pengendali suhu air pada penelitian ini dirancang berisi :

tampilan

set point

,

output sensor, power, dan

saklar

set point

seperti ditunjukkan

(54)

Gambar 3.2 Papan tampilan dan

set point

3.2 Plan Pengendali Suhu Air.

Plan pengendali suhu air pada penelitian ini berupa

heater

yang

mempunyai

daya sebesar 300Watt dan menggunakan tegangan AC masukan sebesar 220Volt

.

Plan

heater

tersebut dapat ditunjukkan seperti gambar 3.3.

Tangki

air

Heater

air

220Vac

(55)

3.3 Sensor LM 35.

Sensor temperatur yang berjenis LM 35 memiliki konversi untuk setiap suhu

1ºC sama dengan tegangan ±10 mV. Sensor LM 35 ini bekerja dari suhu 0

o

C sampai

dengan 100

o

C. Sensor

temperature

LM35 merupakan salah satu sensor yang

mempunyai proporsional linear terhadap

o

C. Konversi dari IC LM35 mengikuti

kaidah berikut: Setiap kenaikan suhu 1

o

C, tegangan keluaran dari IC naik 10 mV.

Sebagai contoh: Pada suhu kamar 25

o

C dan sensor LM 35 diberi tegangan 5 Volt

pada terminal-terminalnya ,maka tegangan keluarannya akan sebesar 250mV. Untuk

lebih jelas dapat ditunjukkan pada tabel 3.1. Sensor suhu LM35 menggunakan chip

silikon untuk elemen yang merasakan. Untuk

input

dan

output

tegangan pada sensor

suhu LM35 dapat ditunjukkan pada gambar 3.4.

(56)

Tabel 3.1 Konversi suhu ke tegangan pada sensorLM35

Suhu

Tegangan

(

o

C}

(V)

28 0,288

29 0,298

30 0,308

31 0,318

32 0,328

33 0,338

34 0,348

35 0,358

36 0,368

37 0,378

38 0,388

39 0,398

40

0,408

41 0,418

42 0,428

43 0,438

44 0,448

45 0,453

46 0,462

47 0,475

48 0,486

49 0,499

50 0,505

51 0,516

52 0,527

53 0,534

54 0,545

55 0,554

56 0,563

57 0,574

58 0,582

59 0,593

60 0,6

61 0,612

62 0,621

(57)

3.4

Set point

Set point

berfungsi untuk menentukan batasan suhu air yang diinginkan.

Dalam perancangan rangkaian pendukung

set point

terdiri dari pembagi tegangan

dan

buffer

.

3.4.1 Pembagi Tegangan

Untuk mendapatkan nilai R

1

dan R

2

dengan V

out

sesuai suhu yang

ditentukan dan tegangan catu sebesar 5 Volt, maka nilai R

1

dan R

2

dengan

mengacu persamaan 2.1 serta dari gambar 2.9 adalah sebagai berikut :

1.

Set Poin I : Suhu 40

o

C dengan

output

tegangan 0,4V

Dipilih R2 = 1k

V

out

=

Vcc

R

R

R

2 1

2

×

+

0,4V

=

x

V

k

R

k

5

1

1

1

+

Ω

Ω

0,08R

1

+ 80

= 1k

R

1

=

08

,

0

80

1

k

Ω

Ω

(58)

2.

Set poin II : Suhu 70

o

C dengan

output

tegangan 0,7V

Dipilih R2 = 1k

V

out

=

Vcc

R

R

R

2 1 2

×

+

0,7 V

=

x

V

k

R

k

5

1

1

1

+

Ω

Ω

0,14R1+ 140

= 1 k

R

1

=

14

,

0

140

1

k

Ω

Ω

=

6,14

k

3.

Set poin III : Suhu 90

o

C dengan

output

tegangan 0,9V

Dipilih R2 = 1k

V

out

=

Vcc

R

R

R

2 1 2

×

+

0,9 V =

x

V

k

R

k

5

1

1

1

+

Ω

Ω

0,18R

1

+ 180

= 1 k

R

1

=

18

,

0

180

1

k

Ω

k

Ω

=

4,5

k

Bila nilai R

2

masing-masing batasan suhu ditentukan 1 k

, maka nilai R

1
(59)

Berhubung nilai resistor yang diperoleh tidak ada maka menggunakan resistor

variabel.

3.4.2 Buffer Tegangan

Untuk

mempertahankan

tegangan

output

agar tidak terbebani oleh

beban, maka tegangan keluaran perlu di

buffer

.

Berdasarkan

rangkaian

pendukung

set point

yaitu pembagi tegangan

dan

buffer

, maka rangkaian pembagi tegangan dan

buffer

dapat

dikonfigurasikan seperti pada gambar 3.6.

(60)

3.5 Antarmuka

Set Point

dengan ADC0804

Dalam aplikasinya antarmuka antara sensor suhu

set point

dengan ADC 0804

dapat ditunjukkan pada gambar 3.5. Nilai resistor dan kapasitor yang digunakan

sesuai dengan aplikasi ADC 0804 pada

datasheet

ADC 0804.

Gambar 3.6 Antarmuka set point dengan ADC 0804

3.6

Analog to Digital Converter

(ADC 0804)

ADC 0804 digunakan sebagai pengubah masukan analog menjadi keluaran

digital. ADC ini hanya membutuhkan dua komponen luar sebagai pembangkit

frekuensi (Clk R dan Clk In) yaitu sebuah hambatan dan sebuah kapasitor. Bila

(61)

maka

f

clock

dan waktu konversi(Tc) dapat dihitung besarnya menggunakan persamaan

(2.2) dan (2.3).

f

clock

=

pF

150

K

10

1

,

1

1

×

Ω

×

f

clock

=

606 KHz

Tc =

fclock

1

=

KHz

606

1

=

1,6501

μ

s

Waktu konversi(Tc) yang dibutuhkan ADC untuk mengatur perubahan tiap bit

pada keluarannya sebesar 1,6501

μ

s. Pada sistem ini untuk ADC 0804 tegangan

referensi bawah yaitu: 0 Volt dimana keluaran dari ADC akan diubah menjadi 0000

0000, Dengan demikian tegangan referensi atas dapat diperoleh sesuai persamaan

(2.7) :

=

+

)

(

)

(

Vref

Vref

Resolusi . 255

)

(

+

Vref

= Resolusi . 255 +

Vref

(

)

= 19,6mV . 255 + 0

= 4,998 Volt

Maka tegangan referensi atas dapat diketahui sebesar 2,55 Volt. Maka besar

tegangan yang masuk ke kaki 9 (

Vref

/

2

) adalah:

Vref

(62)

Tegangan di atas dapat diperoleh dengan menggunakan rangkaian pembagi

tegangan sesuai dengan persamaan (2.1)

V

out

=

2 1

2

R

R

R

+

V

cc

; digunakan V

cc

= 5 Volt

2 1

2

R

R

R

V

V

cc out

+

=

5

2,499

R

R

2 1

2

=

+

R

; dipilih R

2

sebesar 10K

(R

1

+10K

) 0,4998 = 10K

0,4998 R

1

= 10K

– 499,8

=

9k5

R

1

= 29,215

/0,255

= 19,007k

Karena resistor dengan nilai 19,007k

tidak dijumpai di pasaran maka dalam

perancangan ini digunakan resistor variabel.

Tegangan yang masuk ke kaki 7 (Vin

(-)

) merupakan tegangan referensi bawah yakni

sebesar 0Volt. Berdasarkan perhitungan diatas maka dapat diperoleh rangkaian

seperti gambar 3.5 berikut.

Sesuai resolusi ADC pada

typical

ADC sebesar 19,6mV, maka dengan

persamaan 2.6 dapat diperoleh menjadi:

Level x Resolusi ADC = Tegangan konversi

(63)

Gambar 3.7 Rangkaian ADC

3.7 Antarmuka LM35 dengan ADC0804

Dalam aplikasinya antarmuka antara sensor suhu LM 35 dengan ADC 0804

dapat ditunjukkan pada gambar 3.8.

(64)

Nilai resistor dan kapasitor yang digunakan sesuai dengan aplikasi ADC 0804

pada

datasheet

ADC 0804 dimana resistor dan kapasitor tersebut berfungsi sebagai

pewaktu internal IC ADC 0804. Prinsip kerja dari IC ADC 0804 menggunakan

teknik aproksimasi suksesif atau metode pendekatan berturut-turut sehingga

mempunyai resolusi yang tinggi, yaitu 0,39 persen (

typical

pada

datasheet

). Misal

digunakan tegangan 5V maka kenaikan tegangannya menjadi 5V × 0,39 persen =

0,0195 Volt atau 0,02 Volt. Jadi, bila tegangan masukan sebesar 0,02 V, maka terjadi

hitungan biner 1 atau kenaikan biner bertambah 1.

3.8 Pembanding (

Comparator)

Sebagai Kontroler

Pengendali menggunakan pembanding (

comparator

). Pembanding

(

comparator

) akan membandingkan data yang masuk dari tombol (

set point

) dengan

keluaran dari sensor. Pembanding (

comparator

) yang digunakan dalam rancangan ini

adalah IC 74LS85. IC tersebut merupakan IC pembanding 4 bit. Cara pemakaian dari

IC 74LS85 ini adalah tampak pada Gambar 3.9. Keluaran dari pembanding sebelum

dihubungkan dengan

driver

(MOC 3021) akan dihubungkan dengan 2 buah gerbang

NAND dimana fungsi dari 2 buah gerbang tersebut untuk membalik keluaran dari

pembanding , yang kemudian mengendalikan pemanas (

Heater

) untuk memanaskan

(65)

Gambar 3.9 Gambar pembanding (komparator) 4 bit

3.9

Driver

Untuk mengatur ON/OFF pada

heater

, digunakan

triac

.

Triac

ini terhubung

langsung dengan pemanas / beban dan tegangan jala-jala PLN, 220 VAC, sehingga

diperlukan

isolator

antara rangkaian

driver

(MOC3021) dengan

triac

. MOC3021

merupakan

optoisolator

yang terdiri atas sebuah LED yang terhubung secara optis

dengan

triac

. Rangkaian

internal

IC MOC 3021 sebagai

driver

ini dapat dilihat pada

gambar 2.15.

MOC3021 dipilih berdasarkan kemampuan menahan tegangan ketika dalam

(66)

Driver

ini dapat dioperasikan untuk menahan tegangan sampai 400 VAC dan

memerlukan arus minimum sebesar 15 mA untuk membuatnya

ON

.

Antarmuka rangkaian

driver

(MOC3021) dengan

triac

dibentuk oleh

komponen resistor R6, MOC3021,

triac

, dan pemanas air 300 Watt sebagai beban.

Bagian masukan dari MOC3021 merupakan LED yang dinyala-padamkan oleh

pengendali dan mengalirkan arus melalui resistor R1, sehingga LED menyala.

Cahaya LED menyebabkan

triac

di bagian

output

MOC3021 menjadi

on

dan

mengalirlah arus

gate

triac

lewat R1, selanjutnya

triac

akan

on

dan pemanas mulai

bekerja.

Interfacing triac

dengan rangkaian MOC 3021 ditunjukkan dalam gambar

3.10.

Gambar 3.10

Interfacing triac

dengan rangkaian MOC 3021

Resistor R6 digunakan sebagai pembatas arus masukan LED. Led ini

memiliki batasan arus masukan antara 15 - 60 mA dan tegangan panjar maju kurang

(67)

R

6

=

MOC

Iforward

MOC

Vforward

Vcc

_

_

-V forward = 1,5 -Volt (

datasheet

MOC)

I forward = 15 mA (

datasheet

MOC)

Menentukan nilai R6:

R

6

maks =

mA

Vfd

Vcc

15

R

6

=

mA

v

v

15

5

,

1

12

R

6

= 700

Karena nilai resistor maksimal adalah 700

, sehingga didapatkan nilai

I

Forward_MOC

= 15 mA.

Menentukan nilai R

1

:

Vin(pk) = 220 X 2

Vin(pk) = 311,12 Volt

R

1

=

ax

pk

Vin

Im

)

(

R

1

=

2

,

1

126

,

311

(68)

3.10 Pengkode BCD ke Tujuh Segmen

Output

dari ADC selain digunakan sebagai masukan pada pembanding juga

digunakan sebagai masukan pada pengkode BCD ke tujuh segmen. Supaya dapat

membuat keluaran suatu pengkode BCD membentuk tujuh segmen tertentu menyala

sesuai dengan angka biner yang diterima, maka digunakan suatu IC 4511.

Output

ADC

pada pin 11-14 digunakan sebagai masukan untuk nilai puluhan,

Output

ADC

pada pin 15-18 digunakan sebagai masukan untuk nilai satuan.

Output

ADC

pin 11

sampai pin 14 dihubungkan ke masukan pengkode BCD ke tujuh segmen untuk nilai

puluhan pada pin 6, pin 2, pin 1 dan pin 7.

Output

ADC

pin 15 sampai pin 18

dihubungkan ke masukan pengkode BCD ke tujuh segmen untuk nilai satuan pada

pin 6, pin 2, pin 1 dan pin 7. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada gambar

3.11.

(69)

IC 4511 hanya menggunakan masukan Vcc sebesar 5V dan untuk tiap ruas

keluaran pin 13, pin 12, pin 11, pin 10, pin9, pin 15 dan pin 14 pada pengkode BCD

diberi hambatan sebesar 120

sesuai

datasheet

. Tiap–tiap LED pada penampil tujuh

segmen menggunakan katoda bersama (

Common Katode

), karena IC 4511

mempunyai keluaran yang aktif berlogika 1.

3.11 Pengondisi Sinyal

Agar keluaran LM35 dapat diterima ADC0804 maka digunakan rangkaian

pengkondisi sinyal seperti gambar 3.12. Dari gambar tersebut maka perancangan

rangkaian pengkondisi sinyal meliputi perhitungan nilai R1 dan R2 menggunakan

persamaan (2.1).

Sedangkan dalam rangkaian penguat, digunakan rangkaian penguat

non

inverting.

Penguat ini digunakan karena keluaran dari rangkaian penguat

non

inverting

mempunyai keluaran nilai positif. Dengan menggunakan rangkaian penguat

non inverting

maka

penguatan sebesar 2 kali dapat diperoleh dengan perhitungan

sebagai berikut :

I F

R

R

1

+

=

A

;

A = penguatan (sebesar 2 kali), dipilih R

I

sebesar 10 K

I F

R

R

1

=

A

R

F

= (A -1).R

I
(70)

Dalam perancangan ini digunakan resistor variabel

(potentiometer)

untuk

mendapatkan resistansi dengan nilai 10k

.

(71)

Bab ini membahas perihal pengamatan atas implementasi rancangan

pengendali suhu berbasis rangkaian digital yang berupa pengujian perangkat

keras. Pengujian tersebut akan dilakukan pada setiap blok rangkaian. Agar dapat

mengetahui karakteristik tiap-tiap blok rangkaian perlu diketahui karakteristik

mulai dari transduser suhu, pengondisi sinyal, ADC, pembanding,

driver

dan pada

pengkode BCD ke tampilan tujuh segmen. Pengujian, pengamatan dan

pengambilan data dengan menggunakan multimeter digital dengan seri PC 510

dan Termometer air raksa

4.1 Perangkat Keras

Perangkat keras pengendali suhu air berbasis rangkaian digital terdiri dari

beberapa rangkaian diantaranya :

set point

, sensor suhu, ADC, pembanding,

Driver

,

plan

/heater, pengkode BCD ke tujuh segmen dan penampil. Perangkat

keras pengendali suhu air berbasis rangkaian digital dibuat supaya dapat

mengaplikasikan perancangan yang sesuai pada BAB III, dan kemudian diamati

serta dianalisa untuk mengetahui tingkat kesalahan yang terjadi antara

perancangan dengan hasil implementasi perangkat keras. Gambar perangkat keras

(72)

Gambar 4.1 Perangkat keras

4.1.1 Cara Kerja Perangkat Keras

Pertama kali masukkan nilai suhu air yang diinginkan melalui

set

point

yang ada kemudian tampilan

set point

akan berubah sesuai dengan

nilai suhu yang dimasukkan, sedangkan nilai sensor akan menunjukkan

nilai suhu air saat itu. Jika nilai pada tampilan sensor kurang dari nilai

pada tampilan

set point

, maka indikator lampu

heater

dan

plan

/pemanas

akan hidup. Jika nilai tampilan

set point

dan sensor sudah sama atau lebih

dari(

overshoot

), maka indikator lampu

heater

dan

plan

/pemanas akan mati

(73)

4.2 Hasil Pengujian Sistem

4.2.1 Pengujian

Set Point

40

o

C

Tabel 4.1 diperoleh dari pengamatan pada tampilan suhu sensor,

tampilan suhu termometer, indikator

heater

dan mengukur waktu pada

setiap kenaikan suhu pada termometer.

Tabel 4.1 Hasil pengambilan data untuk

set point

40

o

C

Waktu

(detik)

Tampilan

Suhu Sensor

(

o

C)

Tampilan

Suhu

Termometer

o

Indikator

Heater

Error

Tampilan

Suhu

0 28

28

ON

0,0000

30

29

29

ON

0,0000

42 30

33

ON

9,0909

55 31

34

ON

8,8235

63 32

34

ON

5,8823

71 33

35

ON

5,7142

86 34

35

ON

2,8571

97 35

36

ON

2,7777

126

36 37

ON

2,7027

133

37 37

ON

0,0000

147

38 38

ON

0,0000

152

39 39

ON

0,0000

164

40 43

OFF

6,9767

176

41 44

OFF

6,8181

182

42 44

OFF

4,5454

192

43 44

OFF

2,2727

204

44 44

OFF

0,0000

235

45 44

OFF

2,2727

260

44 43

OFF

2,3255

287

43 43

OFF

0,0000

308

42 42

OFF

0,0000

325

41 41

OFF

0,0000

336

40 41

OFF

2,4390

352

39 40

ON

2,5000

367

40 42

OFF

4,7619

382

41 42

OFF

2,3809

396

40 42

OFF

4,7619

416

39 41

ON

2,4390

(74)

Pada saat

set point

40

o

C ditekan tampilan suhu sensor

menunjukkan nilai 40

o

C dan tampilan suhu termometer menunjukkan suhu

awal air 28

o

C.

Berdasarkan data dari tabel 4.1 dapat diperoleh gambar 4.2 yang

menunjukkan grafik hubungan antara suhu keluaran sensor berbanding

dengan lama waktu

heater

pada saat memanaskan air dari suhu awal air

dengan kenaikan suhu tiap 1

o

C sampai kira-kira stabil sesuai

set point

suhu 40

o

C.

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

0

50

100 150 200 250 300 350 400 450

Waktu (detik)

s

uhu

(o

C

)

Gambar 4.2 Grafik hubungan antara waktu dan suhu untuk

set point

40

o

C

Dari grafik gambar 4.2 dapat diketahui, bahwa sistem mengalami

overshoot

hal tersebut disebabkan oleh masih adanya sisa pemanasan air

yang tidak merata. Suhu maksimal mencapai sebesar 45

o

C, sedangkan

(75)

Dari hasil implementasi diperoleh hasil yang stabil sesuai dengan

toleransi yang diizinkan (±5%), dengan karakteristik sebagai berikut:

a.

t

d

= t

50%

- t

0%

=t{28

o

C + 50%(40

o

C - 28

o

C)}- t{0}

= t 34

o

C

= ±86 detik

b. t

r

= t

90%

- t

10%

- t

90%

= t{28

o

C + 90%(40

o

C - 28

o

C)}

= t 38,8

o

C

= ±150 detik

- t

10%

= t{28

o

C + 10%(40

o

C - 28

o

C)}

= t 29,2

o

C

= ±30detik

maka nilai t

r

= ±150 detik - ±30detik

= ±120 detik

c.

t

s

= 28

o

C + 98%(40

o

C - 28

o

C)}

= t 39,76

o

C

= ±362 detik

d.

Overshoot

yang terjadi sebesar (M

p

)

100

%

40

40

45

x

=

100

%

40

5

x

=

(76)

e.

Error steady state =

100

41

39

41

×

%

= 4,8780 %

Dari karakteristik performansi yang dinyatakan dalam bentuk

kawasan waktu yang diperoleh di atas, dapat dikatakan bahwa sistem dapat

menunjukkan respon waktu yang dapat diterima. Hal itu dapat ditunjukkan

pada saat

overshoot

yang terjadi kurang dari 25%(

metode Ziegler-Nichols

)

yaitu sebesar 12,5% dengan

Error steady state

sebesar 4,8780 %. Di

samping itu diperoleh nilai t

d

= ±86detik

,

t

r

= ±120detik

,

t

s

= ±362 detik,

nilai tersebut dicari supaya dapat mengetahui tanggapan

system control

terhadap tangga satuan(pada bab III), dalam hal ini saat sistem

mengendalikan suhu air 40

o

C.

Sehingga didapatkan gambar 4.3 yang menunjukkan letak dari

rise

time, delay time

dan

settling time

.

28 29 30 31

Gambar

Gambar 2.8 Gerbang NOR-eksklusif
Tabel 2.1 Tabel kebenaran gerbang logika
Gambar 2.9 Rangkaian Pembagi Tegangan
Gambar 2.13 Bentuk fisik triac
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan perangkat keras (hardware) purwarupa sistem pengendali lampu efek panggung berdasar sinyal audio ini terdiri dari: masukan

Dari hasil perancangan dan pengujian alat didapat kesimpulan bahwa sistem pengendali suhu, kelembaban, dan cahaya dalam rumah kaca yang dibangun telah dapat bekerja dengan

Sebelum dilakukannya pengujian rancangan alat yang dilakukan beberapa hari sebelum penelitian dimulai dengan menggunakan mikroalga secara langsung terlebih dahulu dilakukan

Sebelum dilakukannya pengujian rancangan alat yang dilakukan beberapa hari sebelum penelitian dimulai dengan menggunakan mikroalga secara langsung terlebih dahulu dilakukan

Berdasarkan pentingnya untuk mengukur suhu dan kelembaban dalam kumbung jamur, penulis bermaksud untuk memberikan sentuhan teknologi dengan membuat sebuah pengendali suhu

Sistem pengendali ini terdiri dari beberapa blok yaitu tranduser yang mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik yang menjadi masukan bagi sistem,

Pengujian alat ukur suhu dan kelembaban pada sistem pemanas TBSSugriwan et al., 2019 HASILDANPEMBAHASAN Perangkat Keras Hardware Hasil realisasi perangkat keras yang telah dibuat

vi ABSTRAK RANCANG BANGUN MODEL SISTEM PENGENDALI SUHU DAN TINGGI PERMUKAAN AIR PADA BEJANA BERBASIS ARDUINO MEGA 2560 Ahmad Kerismajaya* *Email : [email protected]