• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN. Dari penelitian yang dilakukan terhadap 5 orang mahasiswa yang tidak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KESIMPULAN. Dari penelitian yang dilakukan terhadap 5 orang mahasiswa yang tidak"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan terhadap 5 orang mahasiswa yang tidak perokok di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa non perokok tersebut merasa terganggu dengan perilaku merokok mahasiswa perokok, kaitannya . Mahasiswa non perokok tidak mau melakukan perlawanan dalam bentuk tindakan maupun dalam bentuk kata-kata, mereka mencari titik tengah dengan berakomodasi dengan para perokok sehingga tidak merusak hubungan. Mahasiswa non perokok berinteraksi dengan non perokok hanya untuk menghormati , menjaga pertemanan dan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang dimilikinya,walaupun mereka mendapat gangguan asap dari mahasiswa perokok.

Dari penelitian yang dilakukan terhadap 5 orang mahasiswa perokok di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,mahasiswa perokok cenderung ingin bebas melakukan perilakunya tanpa memperhatikan hak-hak non perokok untuk menghirup udara segar, Mahasiswa perokok tidak merasa mengganggu mahasiswa yang tidak merokok. Mahasiswa perokok tidak peduli kepada mahasiswa non perokok yang menghirup asap rokoknya,padahal menurut penelitian para perokok pasif (menghirup asap yang dikeluarkan perokok) terkena dampak yang lebih berbahaya

(2)

dibandingkan para perokok. Mahasiswa perokok cenderung merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ketika bertemu dengan teman-temannya baik sesama perokok maupun mahasiswa non perokok.

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik merupakan Kawasan Tanpa Rokok yang diatur dalam peraturan daerah Kabupaten Sleman, dapat dinyatakan dalam kawasan ini perilaku merokok tidak bisa dilakukan secara bebas. Harus dilakukan dalam tempat-tempat tertentu. Mahasiswa ada yang memiliki respon menolak, menerima dan tidak memihak terhadap perilaku merokok dengan adanya peraturan daerah tersebut. Adapun respon yang diberikan mahasiswa dapat dilihat dalam alur respon, berikut:

Bagan 5.1.1 Bagan respon terhadap Perilaku Merokok

Mahasiswa memberikan respon yang menolak perilaku merokok dan tidak merugikan orang lain, baik perokok maupun merokok dikarenakan mahasiswa memiliki kesadaran akan perlunya pengawasan dan pengarahan terhadap aktivitas merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan

RESPON Respon Civitas Akademik terhadap

Perilaku Merokok

Tidak Menerima maupun Menolak Perilaku Merokok

Menerima Perilaku Merokok STIMULUS

Kawasan Tanpa Rokok

Tidak Menerima Perilaku Merokok

(3)

Politik. Adapun respon-respon menolak perilaku merokok yang diberikan mahasiswa terhadap perilaku merokok yaitu;

1. Untuk dapat mengarahkan perilaku merokok mahasiswa diperlukan adanya peningkatan fasilitas-fasilitas merokok di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dikarenakan fasilitas merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sangatlah sedikit jumlahnya, dan ruangan merokoknya pun sempit dan tidak nyaman.

2. Untuk dapat mempengaruhi kenyamanan bersama bagi para perokok maupun non perokok penting untuk menjaga kebersihan dalam merokok. Untuk meningkatkan kebersihan dalam melakukan aktivitas merokok dapat dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan sarana kebersihan untuk para perokok seperti asbak (tempat abu dan puntung rokok) dan tempat sampah di ruangan merokok.

3. Ketidakmampuan fasilitas merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk menampung mahasiswa perokok menyebabkan para perokok tersebut melakukan perilaku merokoknya di luar ruangan merokok. Perlu ditingkatan fasilitas merokok agar mahasiswa maupun civitas akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang bukan perokok dapat terjaga kesehatannya dengan tidak menghirup asap rokok yang dikeluarkan para perokok.

Civitas akademik bertindak (act) terhadap perilaku merokok dikarenakan atas dasar makna (meaning) adanya kepentingan terhadap

(4)

kesehatan dan kebersihan di ruang publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Untuk itu diperlukan peningkatan fasilitas merokok dan peraturan merokok yang tepat sebagai alat kontrol sosial terhadap perilaku merokok.

Mahasiswa memberikan respon yang menerima perilaku merokok tanpa mempedulikan kesehatan para anggota civitas akademik non perokok. Respon menerima perilaku merokok cenderung diberikan oleh mahasiswa perokok, yaitu :

1. Mahasiswa perokok merasa memiliki hak sebagai perokok, hak tersebut adalah merokok dengan bebas di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Mahasiswa perokok tidak mempedulikan kesehatan civitas akademik yang bukan non perokok yang penting mereka bebas merokok kapan saja dan dimana saja.

2. Civitas akademik non perokok tidak mengawasi para perokok dalam melakukan perilaku merokoknya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Pengawasan civitas akademik non perokok terhadap perilaku merokok sangatlah lemah, hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki keberanian atau “segan” untuk menegur mahasiswa yang merokok secara bebas di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

3. Tidak adanya peraturan yang mengikat civitas akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dalam mengarahkan maupun membatasi perilaku merokok. Perokok merasa “terintimidasi” (terganggu) dengan adanya peraturan ataupun pengawasan,dan juga perokok

(5)

merasa peraturan ataupun pengawasan tidak akan berjalan dengan membandingkan kepada kegagalan dalam mengatur mahasiswa dalam memarkirkan kendaraannya.

Mahasiswa memberikan respon tidak memihak (tidak menolak maupun menerima perilaku merokok) di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada dikarenakan civitas mahasiswa non perokok menganggap mahasiswa itu sudah memiliki kematangan dalam berfikir dan bertindak (dewasa) sehingga tidak perlu untuk diatur untuk melakukan kebiasaan merokoknya. Mahasiswa memberikan respon tidak memihak dikarenakan merasa tidak apa-apa jika mahasiswa perokok merokok maupun tidak merokok dikarenakan itu merupakan hak para perokok yang bebas untuk mereka tentukan. Mahasiswa memberikan respon terkesan pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan adanya pengaruh dari luar fakultas yang membentuk rasa acuh tak acuh terhadap perilaku merokok.

Berdasarkan peraturan bupati sleman no. 42 Bab II, pasal 3 ayat 1 tahun 2012 menjelaskan bahwa yang berkaitan dengan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ,tempat proses belajar mengajar seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Politik merupakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pengamatan terhadap fasilitas yang dimiliki Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dapat disimpulkan bahwa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik memiliki fasilitas merokok yang sangat minim yaitu; terdapat 2 ruangan merokok, 14 banner larangan merokok, 15 tempat sampah namun hanya 2 yang

(6)

digunakan dalam ruangan merokok, dan hanya 2 asbak tempat puntung rokok yang terdapat di kantin gedung BD.

Kategorisasi diri merupakan kesadaran terhadap keanggotaan dalam kelompok yang digunakan untuk membedakan satu individu dengan individu lainnya. Pemilihan individu terhadap kategorisasi dirinya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan individu dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di kelompoknya,hanya kategori identitas yang menguntungkan yang akan dipilih individu. Berdasarkan perilaku merokoknya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dibagi atas dua yaitu mahasiswa perokok dan mahasiswa non perokok.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik memilih kategorisasinya sebagai mahasiswa non perokok dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan kesehatan. Mahasiswa non perokok melihat bahwa perokok cenderung lebih boros daripada non perokok, dikarenakan uang yang dikeluarkan oleh para perokok tanpa disadari dapat mengurangi simpanan uang yang dimiliki. Selain merokok membuat boros, mahasiswa non perokok juga memandang bahwa merokok itu dapat merusak kesehatan seperti kanker, sakit paru-paru, gangguan pernapasan, dan lain-lain. Mahasiswa disadari maupun memiliki identitas sebagai mahasiswa yang tidak merokok dikarenakan hal tersebut merupakan hal yang menguntungkan bagi mereka. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik mengkategorisasikan dirinya sebagai non perokok dikarenakan merokok

(7)

jauh lebih boros daripada tidak merokok dan merokok juga dapat membahayakan kesehatan.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sebelum terdaftar sebagai anggota civitas akademik sudah memilik kebiasaan merokok. Mahasiswa perokok Fakultas Ilmu Sosial dan Politik memilih kategorisasinya sebagai mahasiswa perokok dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu ajakan dari teman-teman sepermainan dan lingkungan sekitar, dan dipengaruhi oleh faktor internal yaitu dorongan diri sendiri untuk merokok. Mahasiswa perokok merokok sejak SD maupun SMP,mereka tidak dapat berhenti dikarenakan kecanduan dan adanya pengaruh dari teman-teman sepergaulan. Mahasiswa perokok memilih kategori sebagai mahasiswa perokok dikarenakan merokok menjadi hal yang menguntungkan,seperti untuk meningkatkan pertemanan dan pergaulan yang dimiliknya.

Untuk menilai fasilitas merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dimanfaatkan oleh mahasiswa dapat dinilai dari pandangan mahasiswa terhadap kualitas maupun kuantitas fasilitas itu sendiri dan perilaku para perokok dalam memanfaatkan fasilitas merokok. Mahasiswa perokok tidak memanfaatkan fasilitas merokok di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dikarenakan mahasiswa perokok cenderung lebih suka merokok sehabis makan dan mahasiswa perokok suka bergaul dan berteman, fasilitas merokok minim dan pengawasan terhadap perokok lemah, dan

(8)

ruangan merokok tidak strategis dan mahasiswa perokok cenderung ingin bebas.

Mahasiswa perokok memiliki kebiasaan merokok sehabis makan, kebiasaan tersebut sering dilakukan di kantin sebagai fasilitas untuk tempat makan dan minum di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Mahasiswa melihat bahwa para perokok suka bergaul dengan mahasiswa lainnya di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik seperti di kantin, di taman dan di tempat lainnya. Pergaulan yang dilakukan oleh mahasiswa perokok dilakukan untuk meningkatkan pertemanan terhadap mahasiswa lainnya, baik perokok maupun tidak merokok.

Mahasiswa melihat bahwa penyediaan fasilitas merokok di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik merupakan suatu langkah yang baik, namun fasilitas tersebut sangatlah minim. Fasilitas merokok yang ada tidak mampu menampung perokok yang ingin melakukan kebiasaan merokoknya di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,sehingga mereka tidak menggunakan fasilitas merokok. Hal ini juga ditambahkan dikarenakan lemahnya pengawasan terhadap mahasiswa perokok itu sendiri, seperti anggota civitas akademik yang tidak mengarahkan atau memperingati mahasiswa perokok ketika mereka merokok di luar ruangan merokok dan tidak adanya peraturan yang jelas dari pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk mengatasi perilaku merokok tersebut.

(9)

Mahasiswa sering berkumpul dan berinteraksi di area kampus paling bawah seperti di kantin,di taman, di selasar dan tempat lainnya, namun ruangan merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik hanya ada satu ruangan di kantin dan satu ruangan di lantai 3. Ruangan merokok di lantai 3 ditempatkan tidak strategis sebab mahasiswa tidaklah sering berkumpul di lantai 3 namun cenderung berkumpul di lantai satu. Walaupun ruangan merokok ditingkatkan bukan berarti mahasiswa akan tertib untuk merokok di dalam ruangan tersebut, para mahasiswa perokok cenderung ingin bebas dan mereka merasa terisolasi bahkan seperti merasa menjadi pajangan di dalam ruangan merokok. Mahasiswa cenderung ingin bebas dan melihat-lihat pemandangan di sekitar kampus ketika mereka melakukan kebiasaan merokoknya di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

B. Kritik dan Saran

1. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Dalam mengarahkan perilaku merokok di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik diperlukan berbagai pengawasan, pengaturan dan peningkatan fasilitas di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Pengawasan terhadap perilaku merokok dari pihak kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sangatlah lemah dan bahkan tidak ada, para perokok bebas melakukan aktivitas merokoknya dengan perasaan tidak acuh dan tidak begitu peduli terhadap mahasiswa yang tidak merokok.

(10)

Peraturan yang tegas dan memberikan sanksi yang berat kepada para anggota civitas perokok akan dapat mempengaruhi perilaku merokok mahasiswa di area kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Peraturan untuk mengarahkan para perokok di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada saat ini sangatlah tidak jelas, ini menunjukkan bahwa pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tidak mengutamakan masalah perilaku merokok di area kampus. Seharusnya pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini dan bisa menjadi penengah bagi mahasiswa yang merokok dan yang tidak merokok. Pengawasan dapat ditingkatkan dengan menggunakan dan memanfaatkan alat kampus, alat kampus di sini adalah seperti Satuan Keamanan Kampus (SKK) /satpam kampus yang bertugas di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan pekerja akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik seperti pengatur parkir dan Unit Pelayanan Perkuliahan (UPP). Dengan ditingkatkannya pengawasan dan pengaturan tentu akan mempengaruhi dan membatasi civitas akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk melakukan aktivitas merokoknya.

Mahasiswa umunya memandang bahwa ketika merokok mahasiswa perokok cenderung ingin bebas dan melihat pemandangan sekitar. Bukan hanya diperlukan untuk meningkatkan fasilitas merokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik unutk mengarahkan mahasiswa perokok namun diperlukan juga langkah-langkah inovatif seperti menambahkan menempatkan ruangan merokok di tempat yang strategis, menambahkan

(11)

banner-banner di tempat yang mudah terlihat dan membentuk area merokok yang dapat menampung jumlah perokok seperti di taman ataupun di kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

2. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Sangatlah baik untuk tidak hanya mengharapkan kedewasaan para perokok, dikarenakan tidak semua mahasiswa yang sudah dewasa secara mental, namun ada mahasiswa masih dalam situasi yang labil dan masih mencari jati diri, sehingga masih merasa bebas untuk berekspresi tanpa memikirkan tempat yang tepat untuk berekspresi. Untuk mengarahkan mahasiswa perokok diperlukan pengawasan dari mahasiswa perokok maupun non perokok. Mahasiswa seharusnya mengawasi dan mengarahkan mahasiswa perokok untuk merokok di tempat-tempat yang telah disediakan.

Non perokok memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih dari polusi, oleh karena itu diharapkan kepada mahasiswa yang tidak merokok maupun non perokok saling memiliki tenggang rasa dan kesadaran dalam mengatasi masalah perilaku merokok ini. Mahasiswa non perokok seharusnya lebih berani untuk menegur mahasiswa perokok untuk mematikan rokoknya ataupun berpindah tempat ke ruangan merokok, serta mahasiswa perokok diharapkan memiliki kesadaran untuk mengarahkan perilaku merokoknya sendiri. Kenyamanan antara mahasiswa perokok dan non perokok sangatlah diperlukan, perbedaan kepentingan adalah hal yang

(12)

wajar namun menghargai kepentingan satu sama lain sangatlah sulit dilakukan. Diharapkan sebagai mahasiswa yang berpendidikan tinggi dan memiliki pikiran yang kritis dapat menjadi pemecah masalah perilaku merokok bukan hanya untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada namun untuk seluruh mahasiswa di universitas-universitas lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Pejabat Pengadaan Barang / Jasa Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

Sebelum menjelaskan pengertian active learning, perlu dijelaskan lebih dahulu tentang strategi pembelajaran. Sebagai pengajar guru dituntut untuk terampil dan ahli

Akan tetapi hasil ini tidak dapat mendukung penelitian yang dilakukan Mishra (2007) pada BSE yang menemukan terjadi perubahan yang signifikan terhadap volume setelah

Inseminasi buatan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas rusa Timor melalui proses perbaikan genetiknya. Penerapan inseminasi buatan akan

diteliti, berdasarkan dampak negatif terbesar, sehingga data tersebut sudah terlihat dapat menentukan urutan klausul yang paling berdampak pada sasaran proyek, data penentuan

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa MSPE merupakan ukuran yang lebih tidak reliabel untuk mengevaluasi kecocokan suatu model regresi dibandingkan dengan MSE, terutama

Makanan yang dimakan sangat berpengaruh pada kesehatan dan kecantikan rambut. Misalnya makanan yang banyak mengandung lemak/pedas, dapat memicu kelenjer lemak dipori-pori

memberikan kontribusi memainkan peran dan menciptakan gerakan- gerakan baru untuk memunculkan kosa kata, kalimat, atau frasa baru yang memancing rasa ingin