• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFFECT OF TOTAL POPULATION, HUMAN DEVELOPMENT INDEX, THE LEVEL OF UNEMPLOYMENT POVERTY IN WEST SUMATRA PROVINCE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFFECT OF TOTAL POPULATION, HUMAN DEVELOPMENT INDEX, THE LEVEL OF UNEMPLOYMENT POVERTY IN WEST SUMATRA PROVINCE"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

EFFECT OF TOTAL POPULATION, HUMAN DEVELOPMENT INDEX, THE LEVEL OF UNEMPLOYMENT POVERTY IN WEST SUMATRA PROVINCE

Pri Ramadhani1, Antoni1, Kasman Karimi2

Department of Development Economics, Faculty of Economics, University of Bung Hatta Faculty of Economics, University of Bung Hatta, Padang

Email: Pripriramadani @ yahoo.com

Abstract

The proverties problem in the West Sumatera Province still high. This situation happen cause of population, unemployment and quality of human resources. The low of Human Development Index (HDI) will effect in low productivity of the population. Low productivity effecting to lower revenue. Low incomes led to high number of poor people in the West Sumatera Province.

Data analysis used for this study is analysis of multiple linear regression method. Using partial test (T test), simultaneous test (F test), and coefficient of determination test (R2). Classic assumption test with multicolinearity test, and heteroskidasticity. The data used in the study is the population, IPM, unemployment level, and proverty level.

The result showed that the variables of total population, unemployment level will be positive and significant effect on proverty in West Sumatera, while IPM will be negative and significant effect on proverty in West Sumatera.

(2)

2 Pendahuluan

Permasalahan kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat adalah masih tingginya angka kemiskinan jika dibandingkan dengan provinsi lain di pulau Sumatera. Hasil dari upaya penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat memperlihatkan keadaan yang berflu-ktuasi. Hal ini terlihat dari perkembangan penduduk miskin yang jumlahnya 48.250 ribu Orang pada tahun 2000 mengalami peningkatan pada tahun berikutnya menjadi 64.330 ribu Orang pada tahun 2001, namun pada tahun 2002 jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan dengan jumlahnya sebesar 49.640 ribu orang. Dan pada tahun 2006 merupakan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat dengan jumlah mencapai 57.870 ribu orang. sedangankan pada tahun berikutnya mengalami keadaan yang menurun hingga akhir tahun 2011 jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat hanya mencapai sebanyak 44.180 ribu Orang.(BPS, Sumatera Barat. 2000-2011)

Selanjutnya berdasarkan data BPS Provinsi Sumatera Barat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sumatera Barat mengalami peningkatan dari tahun 2000 sampai dengan 2008, yaitu sebesar 67,50 persen pada tahun 2002, 70,50 persen pada tahun 2004, 72,23

persen pada tahun 2007, dan 72,96 persen pada tahun 2008, 73,44 persen pada tahun 2009. Sedangkan pada tahun 2010 IPM di Provinsi Sumatera Barat mengalami penurunan dengan nilai sebesar 73,28 persen pada tahun 2010dan kembali meningkat pada akhir tahun 2011 dengan IPM sebesar 74,28 persen.

Selain IPM pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembangunan ekonomi yaitu kesejahteraan rakyat serta menekan angka kemiskinan. Dan berdasarkan data dari BPS Sumatera Barat bahwa jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2011 bergerak naik dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap supply bahan pangan, namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan, cadangan devisa, dan sumberdaya manusia (Maier dan Mudrajad Kuncoro,1997).

Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan adalah Tingkat pengangguran. Salah satu unsur yang menentukan kemakmuran suatu masyarakat adalah tingkat pendapatan. Pendapatan masyarakat mencapai maksimum apabila kondisi tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) dapat terwujud. Menurut Sadono Sukirno (2000), Pengangguran

(3)

3 akan menimbulkan efek mengurangi

pendapatan masyarakat, dan itu akan mengurangi tingkat kemakmuran yang telah tercapai. Semakin turunnya tingkat kemakmuran akan menimbulkan masalah lain yaitu kemiskinan. tingkat pengan-gguran di Sumatera Barat tergolong masih tinggi, tingkat pengangguran di sumatera barat tidak stabil, mengalami beberapa kali fase naik turun. Pada tahun 2000, tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,82 persen, kemudian naik menjadi 13,34 persen pada tahun 2005. Namun pada tahun 2007 sampai akhir 2011 mengalami penurunan dengan nilai akhir pada tahun 2011 mencapai hanya sebesar 7,05 persen(BPS, Sumatera Barat). Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara. Pengangguran dapat mempen-garuhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan (2001) dan Whisnu Adhi Saputra . 2011).

Dari latar belakang diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh jumlah penduduk terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat?

2. Bagaimana pengaruh indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat? 3. Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat?

Adapun yang menjadi tujuan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh jumlah penduduk terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat.

2. Untuk mengetahui pengaruh indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat. 3. Untuk mengetahui pengaruh

pengangguran terhadap kemiskinan di Propinsi Sumatera Barat.

Metodologi Penelitian

Teknik pengumpulan data adalah melakukan pencatatan langsung mengenai data yang dipergunakan seperti data pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat, IPM, pengangguran, dan kemsikinan dalam bentuk time series data dari tahun 2000-2011.

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jumlah penduduk, IPM, pengangguran terhadap tingkat kemsikinan di Propinsi Sumatera Barat sebagai variabel dependen dapat dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut:

(4)

4 Dengan metode statistik

ekonometrika, selanjutnya fungsi diatas secara linear dapat dibentuk kepersamaan regresi, sehingga fungsi diatas dapat dituliskan persamaanya sebagai berikut: (J. Suprapto,2001)

Y =b0+b1X1 +b2X2+b3 X3+ μ...(2)

dimana:

Y = Tingkat Kemiskinan ( Persen) X1 = Jumlah Penduduk (Persen)

X2 = IPM (Persen)

X3 = Pengangguran (Persen)

b0 = koefisien konstanta

b1 = koefisien regresi Jumlah Penduduk

b2 = koefisien regresi IPM

b3 = koefisien regresi Pengangguran

u = disturbance terms

- Untuk melihat pengaruh antara variabel indipenden secara individual terhadap variabel dependen, digunakan uji t.

- Untuk melihat seberapa besar proporsi sumbangan seluruh variable bebas terhadap naik turunnya variabel tidak bebas digunakan koefesien determinasi (R2).

- sedangkan untuk menguji kelayakan model digunakan uji F. selanjutnya dalam pemilihan ini juga digunakan uji asumsi klasik yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas.

Hasil Dan Pembahasan

Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance-nya. Nilai dari VIF yang kurang dari 10 dan tolerance yang lebih dari 0,10 maka menandakan bahwa tidak terjadi adanya gejala multikolinearitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat multikolinieritas.

Tabel 1 Uji Multikolinearitas Collinearity Statistics Tolerance VIF Jumlahpenduduk ,987 1,013 Ipm ,822 1,216 Pengangguran ,818 1,222 Sumber : data diolah dengan SPSS,15,0.

Uji Heteroskesdastisitas

Regression Standardized Predicted Value

1.5 1.0 0.5 0.0 -0.5 -1.0 -1.5 Regression St udenti zed Del eted ( Press) Residual 4 3 2 1 0 -1 -2 Scatterplot

(5)

5 Gambar :1 Uji Heteroskesdastisitas

Dari hasil analisis dengan mengunakan SPSS 15 diatas dapat diketahui bahwa titik-titik yang menyebar secara acak baik diatas maupun dibawah angka nol, pada sumbu Y serta tidak membentuk pola atau kecenderungan tertentu pada diagram plot, sehingga dapat mengidentifikasikan tidak terjadi adanya heteroskedisitas dan model regresi layak digunakan untuk memprediksi Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat.

Berdasarkan hasil analalisis regresi, maka dapat dilihat pengaruh Jumlah Penduduk, IPM, dan Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan di Propvinsi Sumatera Barat.

Persamaan regresi linear berganda diperoleh hasil sebagai berikut :

Y = 0,96 + 0,414 X1- 0,015 X2 + 0,046 X3 t-hitung= (2,426) (-2,509) (16,693) t-tabel = 2,306 F- hitung =100,759 F-tabel = 4,07 R2 = 0,974 α = 5% Pembahasan

Beberapa pengujian telah dilakukan sebelumya ternyata menunjukan bahwa model regresi yang digunakan sudah baik, terbebas dari penyakit asumsi klasik.

Interprestasi ekonomi dari persamaan yang diperoleh adalah Nilai

konstanta sebesar 0,96 menunjukan bahwa jika variabel Jumlah Penduduk, IPM, dan Pengangguran dianggap konstan/nol. Maka tingkat kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat adalah sebesar 0,96 persen yang disebabkan oleh faktor-faktor diluar model.

1. Koefisien dari Jumlah Penduduk adalah 0,414 dan nilai tersebut positif, maka peningkatan Jumlah Penduduk berpengaruh positif terhadap Tingkat Kemiskinan Provinsi Sumatera Barat. Artinya setiap kenaikan Jumlah Penduduk sebesar 1 Persen, maka Tingkat KemsikinanProvinsi Sumatera Barat akan meningkat sebesar 0,414 Persen.

Hal ini dikarenakan semakin tinggi jumlah penduduk sementara lapangan pekerjaan yang ada di Provinsi Sumatera Barat terbatas, maka akan meningkatkan jumlah pengangguran di Provinsi Sumatera Barat. Dan akan mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat 2. Koefisien dari IPM adalah–

0,015dan nilai tersebut adalah Negatif, maka peningkatan IPM berpengaruh Negatif terhadap Tingkat Kemiskinan Provinsi Sumatera Barat. Jika IPM meningkat sebesar 1 Persen, maka akan

(6)

6 menggurangi Tingkat Kemiskinan di

Provinsi Sumatera Barat sebesar 0,015 Persen.

Hal ini dikarenakan jika terjadi oeningkatan IPM di Provinsi Sumatera Barat tentunya akan meningkatkan SDM di Provinsi Sumatera Barat hal ini tentunya akan menunjang perekonomian di Sumatera Barat. Walapun lowongan pekerjaan terbatas tentunya dengan SDM ynag berkualitas akan memikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan dlam mengatasi lowongan pekerjaan yang terbatas dengan cara membuka usaha yang sesuai dengan kondisi di Provinsi Sumatera Barat. Sehingga akan meningkatkan bias menurunkan jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat. 3. Koefisien dari Tingkat

Pengangguran adalah 0,046 dan nilai tersebut positif, maka peningkatan Pengangguran berpengaruh positif terhadap Tingkat Kemsikinan di Provinsi Sumatera Barat. Jika Pengangguran meningkat sebesar1Persen, maka Tingakt Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat akan meningkat sebesar 0,046 Persen.

Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya jumlah pengangguran

di Provinsi Sumatera Barat tentunya akan meningkatkan jumlah penduduk miskin. Hal ini karena dengan meningkatnya pengangguran sementara biaya kehidupan dari tahun-ketahun selalu meningkat tentunya hal ini akan meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Uji Koefisien Determinasi (R2) digunakan untuk melihat seberapa besar proporsi sumbangan seluruh variabel bebas / independen terhadap naik turunya variabel bebas/dependen yang dilihat melalui R square.

Untuk mengetahui tingkat perkembangan Kemiskinan Provinsi Sumatera Barat disebabkan beberapa faktor antara lain Jumlah Penduduk, IPM, dan tingkat Pengangguran dapat dilihat melalui koefisien determinasi. Dari perhitungan Nilai R square adalah 0,974. Variansi naik turunnya Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat dapat dijelaskan oleh Jumlah Penduduk, IPM, dan Pengangguran Sebesar 97,40 persen sedangkan 2,60 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.

Uji Parsial (Uji t-test) dengan nilai kritis (critis Value) pada df =(n-k-1), dimana n = jumlah sempel/ jumlah tahun penelitian dan k = Jumlah variabel. Untuk menguji koefisien regresi parsial secara individual dari masing-masing variabel bebas akan di uji sebagai berikut :

(7)

7 1. Pengaruh Jumlah Penduduk

terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat tahun 2000-2011.

Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai t-hitung untuk Jumlah Penduduk sebesar 2,426 dan t-tabel dengan tingkat kepercayaan 95% (α =5%) , df = 8 diperoleh 2,306. Terlihat t- tabel lebih kecil dari t-hitung, maka H0 ditolak, Ha

diterima yang berarti bahwaJumlah Penduduk berpengaruh signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat pada tingkat kepercayaan 95%. 2. Pengaruh IPM terhadap Tingkat

Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat tahun 2000-2011.

Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai hitung IPM sebesar -2,509 dan t-tabel dengan tingkat kepercayaan 95% (α =5%) , df = 8 diperoleh -2,306. Terlihat t- hitung lebih besar dari t-tabel, maka Ho

ditolak, Ha diterima yang berarti IPM berpengaruh signifikan terhadap Tingkat kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat. 3. Pengaruh Pengangguran terhadap

Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat.

Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai t-hitung untuk Pengangguransebesar 16,693 dan t-tabel dengan tingkat kepercayaan 95% (α =5%) , df = 8 diperoleh 2,306. Terlihat t- tabel lebih kecil dari t-hitung, maka H0 ditolak, Ha

diterima yang berarti bahwaPengangguran berpengaruh signifikan terhadap Tingkat Kemsikinan di Provinsi Sumatera Barat.

Uji Signifikan Parameter Simultan (Uji F-test) digunakan untuk mengetahui apakah varabel independen/bebas secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen/terikat.

Uji F- hitung/statistik secara serempak ditunjukan oleh perbandingan F-hitung dengan F-tabel. F-tabel (F α/2 k-1(n-k),

dengan derajat kepercayaan sebesar 95%. Adalah F0,025,(3)(8) = 4,07. Sedangkan

F-hitung sebesar 100,759. karena F-F-hitung lebih besar dari F-tabel (100,759>4,07). Ini berarti bahwa Jumlah Penduduk, IPM, dan Pengangguran berpengaruh signifikan dalam menjelaskan perkembangan Tingkat Kemsikinan di Provinsi Sumatera Barat.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penemuan empiris yang diperkuat oleh hasil perhitungan statistik, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Koefisien dari Jumlah Penduduk adalah 0,414 dan nilai tersebut positif, maka peningkatan Jumlah Penduduk berpengaruh positif terhadap Tingkat Kemiskinan Provinsi Sumatera Barat. Artinya setiap kenaikan Jumlah Penduduk sebesar 1 Persen, maka Tingkat KemiskinanProvinsi Sumatera Barat akan meningkat sebesar 0,414 Persen.

(8)

8 2. Koefisien dari IPM adalah – 0,015 dan

nilai tersebut adalah Negatif, maka peningkatan IPM berpengaruh Negatif terhadap Tingkat Kemiskinan Provinsi Sumatera Barat. Jika IPM meningkat sebesar 1 Persen, maka akan menggurangi Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat sebesar 0,015 Persen.

3. Koefisien dari Pengangguran adalah 0,046 dan nilai tersebut positif, maka peningkatan Pengangguran berpengaruh positif terhadap Tingkat Kemsikinan di Provinsi Sumatera Barat. Jika Pengangguran meningkat sebesar 1 Persen, maka Tingakt Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat akan meningkat sebesar 0,046 Persen. 3 Secara umum Jumlah Penduduk, IPM,

dan Pengganguran bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat. Hasil ini diperkuat oleh pengujian F-test, dimana F-hitunglebih besar dari F-tabel (100.759> 4,) pada tingkat kepercayaan 95% dan didukung dengan perolehan nilai koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,974 yang berarti Tingkat Kemsikinan di Provinsi Sumatera Barat dipengaruhi oleh ketiga variabel tersebut yaitu Jumlah Penduduk, IPM, dan Pengangguran sebesar 97,40 persen dan sisanya sebesar 2,60 persen merupakan

faktor-faktor lain yang mempengaruh Tingkat Kemiskinan di Provinsi Sumatera Barat. 4 Pada pengujian parsial (Uji t-test)

masing-masing variabel independen. Jumlah Penduduk, IPM dan Pengangguran menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap Tingkat Kemsikina di Provinsi Sumatera Barat pada tingkat kepercayaan 95%.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2000. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Barat 2000.BPS. Sumatera Barat. Padang.

Anonymous, 2000-2011. Indek Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Barat 2000.BPS. Sumatera Barat. Padang.

__________________. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Sumatera Barat berbagai edisi. Padang:Badan Pusat Statistik

Deny Tisna A., 2008, Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan,Pertumbuhan

Ekonomi, dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan diIndonesiatahun 2003-2004. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang.

Dian Octaviani, 2001, Inflasi, Pengangguran, dan Kemiskinan di Indonesia :Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke, Media Ekonomi, Hal. 100-118, Vol. 7, No. 8.

(9)

9 Didit Purnomo, 2000, Distribusi

Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataandan Pemiskinan, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Hal. 47 - 59, Vol. 1,No. 1.

Gujarati, Damodar N. 2009, Basic Econometrics, Fifth Edition. McGraw Hill, USA.

Hermanto S., Dwi W., 2006, Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan, Direktur Kajian Ekonomi, Institusi Pertanian Bogor

Insukindro. 1999, Pemilihan Model Ekonomi Empirik dengan Pendekatan Korelasi Kes lahan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Imdonesia, Vol. 14

Lincolin Arsyad, 1997, Ekonomi Pembangunan, Edisi Ketiga,

Penerbit BP STIE

YKPN,Yogyakarta.

Mudrajad Kuncoro, 1997, Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan, Edisi Ketiga, Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Dermoredjo, 2003, Produksi Domestik Bruto, Harga, dan Kemiskinan, Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Hal. 191 - 324, Vol. 51, No. 3

Sadono Sukirno, 2000, Makro Ekonomi Modern, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Supranto, J. 2001.”statistik: teori dan aplikasi edisi keenam”. Erlangga, Jakarta.

Susanti Tasri., Evi. “Perekonomian Indonesia Sebuah Konsep, Data dan Kebijakan”. Uniersitas Bung Hatta Press.Padang.

S., Mulyadi., 2003.” Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Pembangunan”. PT Raja Grafindo Persada”. Jakarta.

Todaro, Michael P, 2000, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh, Terjemahan Haris Munandar, Penerbit Erlangga,Jakarta.

Tulus H. Tambunan, 2001, Perekonomian Indonesia, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Usman, dkk. 2009, Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal, Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertanian Bogor.

Kumpulan arti, cara, dan makna kemiskinan : http://Adi Satria.blog

www.google.com//artikel kemiskinan www.bappenas.go.id.

http://Wikipedia.com

www.worlbank.org

Gambar

Tabel 1   Uji Multikolinearitas  Collinearity Statistics  Tolerance  VIF  Jumlahpenduduk  ,987  1,013  Ipm  ,822  1,216  Pengangguran  ,818  1,222  Sumber : data diolah dengan SPSS,15,0

Referensi

Dokumen terkait

Mekanisme penyaluran dana Biaya Operasional Kesehatan (BOK) tahun 2012 menggunakan mekanisme Tugas Pembantuan oleh karena itu pelaporan keuangan dalam pelaksanaan

Dari grafik solusi Gambar 3.2 dan 3.4 serta Gambar 3.3 dan 3.5 terlihat bahwa pada kasus nilai eigen kompleks dengan faktor eksternal tidak memiliki pengaruh yang besar

Hasil studi ini sejalan dengan studi yang telah dilakukan oleh Batubara, Ginting & Lubis (2014), Lestari (2012), dan Andayani (2016) pada variabel kepuasan pelanggan

Data akan dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan atau gejala yang sedang terjadi pada saat penelitian

Bil. Nombor Kes Plaintif / Pemohon Defendan Kand Pendengaran Jenis Pendengaran Waktu Keputusan Giliran No.. Nombor Kes Plaintif / Pemohon Defendan Kand Pendengaran Jenis

Responden kedua SP, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan wawancara yang dilakukan dengan guru BK menunjukan bahwa saat ini SP sudah

Jika kita dapat merasakan bagaimanakah sesungguhnya kabar baik itu, kita tidak akan melupakan bagaimana hal yang diumumkan dalam Lukas 2: 10-11: “Lalu kata malaikat itu kepada

Hanna Djumhana Bastaman(1997) dalam Integrasi Psikologi dengan Islam mengatakan manusia adalah makhluk yang senantiasa berhubungan dengan manusia lain dalam wadah