• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI SIRUP SALAK BANGKALAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI SIRUP SALAK BANGKALAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI SIRUP

SALAK BANGKALAN

Jakfar Abdul Azis Dosen pengampu Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fak. Pertanian Universitas Trunojoyo

Abstrak

Salak merupakan salah satu produk pertanian di Kabupaten Bangkalan yang mempunyai produksi melimpah. Potensi sektor pertanian ini kurang mempunyai nilai ekonomis tinggi karena pada masa panen mengalami kelebihan produksi. Sehingga meski mempunyai produksi yang melimpah tapi kesejahteraan petani masih kurang. Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai ekonominya, maka dilakukan pengolahan salak menjadi sirup. Industri ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat baik petani salak maupun non petani salak.

Penelitian ini berusaha untuk mengkaji prospek industri sirup dengan bahan baku salak Bangkalan. Kajian kelayakan dilakukan dari berbagai sisi, termasuk dari aspek pasar, teknis, dan finansial.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dipandang dari berbagai aspek-aspek yang mempengaruhi produksi, industri sirup salak layak untuk dikembangkan menjadi sebuah industri yang modern. Hal ini dikarenakan industri sirup salak mempunyai pangsa pasar yang normal dengan kebutuhan rata-rata dalam setahun sebesar 900 botol. Dari segi aspek teknis, kapasitas produksi industri salak sebesar 437 unit per tahun. Segi aspek finansial, industri ini menghasilkan profit sebesar Rp. 2.051.000,- per tahun dengan produksi sebanyak dua kali. Kriteria investasi memberikan gambaran bahwa payback periode selama 1,2 tahun, koefisien profitability index sebesar 5,1, memberikan net present value sebesar Rp. 1.526.115,-, indikator internal rate of return sebesar 25%, dan benegit cost rasio sebesar 1,2. Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut, maka industri sirup salak Bangkalan layak dikembangkan lebih lanjut.

Kata Kunci : salak, sirup, investasi, prospek

PENDAHULUAN

Implementasi sistem pengolahan bahan pangan yang dilakukan di Indonesia hingga dewasa ini belum sebaik dan sesempurna yang dilakukan di negara lain. Sistem pengolahan yang demikian menyebabkan bahan makanan rusak sebelum dikonsumsi. Hal ini mengindikasikan meski Indonesia mempunyai bahan pangan yang melimpah baik sektor pertanian, perikanan maupun

peternakan, namun mengalami kerusakan sebelum sempat dikonsumsi masyarakat. Ambil contoh, produksi Salak di Bangkalan. Ketika musim panen tiba, Salak mengalami over produksi sehingga dalam jangka waktu yang tidak lama mengalami kerusakan, dan jika dijual untuk menghindari kerusakan, ditawar dengan harga yang murah. Oleh karena itu, dilakukan pengolahan Salak menjadi sirup Salak. Prospek industri sirup salak

(2)

memungkinkan untuk dikembangkan mengingat pada tahun 1999, jumlah produksi Salak mencapai 11.255,5 ton meningkat menjadi 18.187,9 ton pada tahun 2003. Disamping itu, ketersediaan yang melimpah akan tenaga kerja menyebabkan industri sirup Salak mempunyai prospek yang baik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan peranan sektor pertanian khususnya Salak bidang industri dan perdagangan sehingga meningkatkan kesejahteraan petani Salak.

Penelitian ini berusaha untuk menganalisa pentingnya dilakukan pengembangan industri sirup salak di Bangkalan. Alasan pengembangan industri ini karena di Bangkalan belum pengolahan salak menjadi sirup sehingga industri sirup salak akan terbuka lebar. Untuk mengetahui prospek pengembangan industri salak, maka dilakukan studi kelayakan sirup salak baik dari aspek teknis, aspek pasar maupun aspek finansial.

KERANGKA PIKIR

Kabupaten Bangkalan merupakan salah saru kabupaten yang memiliki potensi cukup besar sektor pertanian khususnya Salak. Salak Madura merupakan buah-buahan tropis yang

tergolong dalam produk holtikultura dan bersifat musiman sehingga ketika masa panen tiba akan mengalami kelebihan produksi. Jenis salak yang ada di Bangkalan ada empat, yaitu nasek, kerbau, manggis dan penjalin. Sedangkan daerah penghasil salak adalah Kecamatan Bangkalan, Socah, Geger, Tanah Merah dan Kamal. Perkembangan rata-rata produksi tanaman Salak dari tahun 1999 hingga tahun 2003 mencapai 73,75%. Besarnya produksi ini akan menjadi tidak bermanfaat jika tidak dilakukan usaha pengembangan yang berorientasi ekonomis. Kandungan zat-zat yang terkandung dalam 100 gram tanaman salak adalah 77 mg kalori, 2 mg vitamin C, o,o4 mg vitamin B, 28 mg kalsium, 77,9% air, 0,4% protein, 20,9% karbohidrat, dan selebihnya kandungan zat-zat lain (Sulistyowati, 2001).

Industri sirup salak merupakan sebuah proses membuat atau menghasilkan sirup dengan bahan dasar salak. Industri ini sebenarnya di awali oleh Bpk Slamet pada tahun 90-an dalam skala industri rumah tangga. Selama setahun, bapak Slamet panen salak 2 kali dan memproduksi sirup salak hanya 50 botol, dan dalam setahun memproduksi hanya 400 botol dengan kualitas super. Kelayakan dalam

(3)

memproduksi sirup salak memperhatikan aspek-aspek yang mempengaruhi produksi makanan jadi, meliputi aspek pasar, aspek teknis, dan aspek finansial.

METODE PENELITIAN

Penelitian mengenai prospek pengembangan industri sirup dengan bahan baku salak ini mengambil responden sebanyak 50 orang yang bertempat tinggal di Kampung Mlajah, Kecamatan Bangkalan. Faktor yang diamati dalam penelitian ini adalah

1. Aspek pasar, meliputi permintaan produk dan peluang pasar, dan strategi pemasaran

2. Aspek Teknis, meliputi proses produksi, uji oraganoleptik, kapasitas produksi dan tata letak pabrik.

3. Aspek Finansial, meliputi besarnya biaya produksi, harga jual dan besarnya investasi.

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan langsung, penyebaran kuesioner dan studi pustaka. Proses pengambilan data dilakukan dengan penyebaran daftar pertanyaan (kuesioner), melakukan wawancara dan melakukan studi pustaka. Untuk mendukung analisa data, maka data-data yang diperlukan adalah peramalan

permintaan, jumlah dan jenis bahan baku, fasilitas produksi, harga produk dan bahan baku, dan proses produksi yang dilakukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisa

a. Aspek Pasar

Penelitian ini mengambil data dari referensi responden dan data penjualan sirup disalah satu pasar swalayan. Peluang permintaan sirup diperoleh dari hasil peramalan terhadap data penjualan tiap bulan. Rentang bulan Januari hingga April 2005, total penjualan sirup salak mencapai 289 botol dengan rata-rata penjualan sebesar 73,25%. Data ini menunjukkan bahwa rata-rata permintaan sirup salak mencapai 74 botol tiap bulan.

Namun, sirup salak yang beredar di pasaran kurang memasyarakat dan kurang diminati oleh masyarakat. Sirup salak Bangkalan tersebut memiliki ciri-ciri antara lain warna coklat agak keruh, aroma khas salak, rasa khas salak agak kecut, kurang jernih dan agak kental. Penjualannya pun masih bersifat eceran per botol sehingga produk sirup salak Bangkalan kurang dikenal luas masyarakat. Saluran distribusi sirup salak hingga saat ini hanya dikenal lokal di Bangkalan. Dengan harga yang hanya Rp. 6.500,- per

(4)

botol menyebabkan sirup ini mampu dijangkau oleh masyarakat.

b. Aspek Teknis

Dalam prosesnya, produksi sirup salak yang dilakukan di Bangkalan masih menggunakan teknologi sederhana dan dikerjakan secara manual. Proses produksi dikerjakan berdasarkan pesanan dari pembeli (make to order). Proses yang dilakukan meliputi tahapan pengupasan, penghancuran, penyaringan, pemanasan dan pengemasan. Pengupasan dilakukan pertama kali untuk membuang kulit salak, kemudian memisahkan biji dengan daging. Pada tahap berikut dilakukan penghancuran dengan menambah sedikit air sesuai kebutuhan. Sebelum mendidihkan sari-sari yang diperoleh, terlebih dahulu dilakukan pemerasan dan penyaringan. Kemudian, memasak sari salak tersebut pada air hingga mendidih dengan memasukkan campuran gula, asam sitrat dan CMC. Sambil menunggu air masak, maka dilakukan pengadukan hingga homogen.

Proses produksi sirup ini merupakan proses produksi yang dilakukan secara terus menerus dan tidak terhenti. Dalam proses yang demikian, dengan melakukan uji organoleptik, hasil penelitian ini

mampu mendapatkan sifat-sifat yang dimiliki sirup salak, antara lain

1. Warna. Sebanyak 44% responden menyatakan tertarik pada warna yang lebih muda, 48% menyukai warna lebih tua dan 8% suka warna cerah. 2. Aroma. 40% responden menyuaki

aroma harum, sedikit harum sebanyak 48% dan warna khas tidak kecut sebanyak 12%.

3. Kenampakan. 48% responden menyukai warna bening, coklat sebanyak 34%, coklat benaing sebanyak 18%.

4. Kejernihan. Sebayak 76% responden menyukai warna cerah/jernih, 20% menyukai warna gelap, bening sebesar 2% dan 2% abstain.

5. Bentuk. Sebanyak 76% responden menyuaki botol kaca, dan 24% responden menyukai botol plastik. 6. Ukuran. Sebanyak 40% responden

menyukai ukuran botol kecil, yang menyukai ukuran besar sebanyak 38%, suka botol sedang sebesar 18% dan botol praktis sebanyak 4%.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran waktu yang diperlukan untuk memproses sirup salak dengan bahan dasar seberat 1 kg. Untuk memproduksi sebanyak tersebut diperlukan waktu 120

(5)

menit (2 jam). Sedangkan untuk 6 kg salak dibutuhkan waktu sekitar 3 hingga 3,5 jam. Rata-rata penjualan sirup salak selama januari hingga April 2005 adalah 74 botol. Kapasitas aktual perhari diperoleh sebesar 18 botol.

Tata letak yang dilakukan dalam memproduksi sirup salak yang selama ini dilakukan sudah cukup baik karena pemakaian ruangan telah optimal dan jarak berpindah bahan minimal. Ruang produksi merupakan tempat melakukan proses produksi mulai dari pengupasan hingga pengemasan dan penyimpanan. Semua peralatan produksi penempatannya dalam satu ruangan sehingga mempermudah aliran bahan. Hanya kelemahan pada tata letak industri sirup ini adalah kurang jelasnya proses dan penempatan alat dan bahan.

c. Aspek Finansial

Hasil penelitian ini berkaitan dengan perhitungan seberapa besar biaya yng dibutuhkan untuk melakukan proses produksi ini. Biaya-biaya tersebut adalah biaya investasi, biaya produksi, dan biaya lain-lain. Total investasi yang dibutuhkan untuk membeli sarana dan peralatan memproduksi sirup salak berdasarkan hasil penelitian ini sebesar Rp. 578.500,-. Total

investasi ini meliputi biayas tetap, dan biaya tidak tetap.

1. Biaya Tidak Tetap

Biaya tidak tetap pada industri salak merupakan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi yang meliputi bahan baku, bahan bakar, biaya transportasi, biaya pemeliharaan dan kemasan. Untuk memproduksi sirup salak dengan bahan baku sebesar 6 kg, dalam sekali produksi dibutuhkan biaya sebesar Rp. 74.750,-, jika dihitung satu bulan dengan masa hari kerja sebanyak 25 hari, maka dalam saru bulan dibutuhkan biaya sebesar Rp. 1.868.750,-. Salak dalam satu tahun panen dua kali, sehingga produksi juga dilakukan sebanyak 2 kali. Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 4.337.500,-. Total ini sudah termasuk upah tenaga kerja dan ongkos pemeliharaan.

2. Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan untuk industri yang besarnya tidak tergantung pada volumen produksi. Biaya tetap yang dikeluarkan meliputi investasi, biaya listrik dan biaya promosi. Biaya tetap yang dikeluarkan dalam setahun

(6)

sebesar Rp. 773.500,-. Dengan harga per botol sebesar Rp. 6.500,-, dengan dua kali proses produksi sehari maka pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 5.850.000,-.

Untuk mengetahui layak atau tidaknya industri sirup salak dikembangkan, maka dilakukan analisa kelayakan sebuah usaha yang meliputi payback periode,

profitability index, net present value, internal rate of return, benegit cost rasio.

1. payback periode (PBP). Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dalam penelitian ini, payback periode usaha sirup salak adalah 1. Hal ini menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian modal atau investasi awal adalah 1,2 tahun, kondisi industri normal, dan mendapatkan keuntungan setelah 3 kali produksi.

2. profitability index (PI). PI merupakan perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan kas bersih yang akan datang dengan nilai investasi sekarang. Kodefisien nilai ini adalah sebesar 5,1.

artinya, industri tersebut menguntungkan, karena PI > 1.

3. net present value (NPV). Investasi dikatakan menguntungkan atau layak apabila NPV bernilai positif (NPV >

0). NPV yang diperoleh sebesar Rp. 1.526.115. Hal ini menunjukkan bahwa industri ini layak untuk dikembangkan. Industri dikatakan menguntungkan bila penerimaan di masa yang akan datang lebih besar daripada nilai investasi. 4. internal rate of return (IRR). Tingkat

IRR sistem yang dicapai untuk periode investasi sebesar 25,75% per tahun. Jika tingkat bunga lebih besar daripada tingkat bunga relevan (0,75%), maka investasi dianggap menguntungkan. 5. benegit cost rasio (BCR). BCR

digunakan untuk mengukur rasio antara nilai pendapatan dan pengeluaran. Dalam industri ini nilai BCR adalah 1,2. Hal ini berarti bahwa industri ini layak untuk dikembangkan dengan penerimaan sebesar 1,2 kali investasi.

B. Strategi Pengembangan a. Aspek Pasar

Perluasan pasar pada dasarnya merupakan penambahan jangkau pemasaran dari jenis barang yang diproduksi. Penambahan yang dilakukan adalah dengan menambah pasara sasaran, memodifikasi saluran distribusi, dan memperbaiki intensitas promosi.

(7)

Pengembangan produk sirup salak Bangkalan diharapkan adanya perubahan-perubahan produk menyangkut

- Warna. Warna yang ada sekarang kurang menarik konsumen sehingga perlu adanya perubahan warna produk. Adapun warna yang menarik adalah warna coklat.

- Aroma. Untuk aroma sirup salak sebisa mungkin tidak terlalu harum dan tidak terlalu kecut. Aroma ditekankan pada aroma salak yang khas, yaitu manis, tidak kecut, sedikit harum dan aroma masir. - Rasa. Rasa sirup salak yang ada

dirasa cukup sehingga tidak perlu adanya perubahan-perubahan, hanya sebisa mungkin untuk tetap dipertahankan dengan rasa khas salak asli.

- Kejernihan. Kejernihan produk sirup dinilai dari bening tidaknya cairan apabila dilihat dalam kemasan botol bening. Sirup salak sintesis warnanya agak keruh sehingga harus dijernihkan dengan warna coklat bening agar lebih menarik.

- Kekentalan. Kekentalan ditinjau dari produk yang menyerupai

karamei. Sirup salak Bangkalan kurang kental dengan sedikit penambahan gula atau pemansan yang kurang lama.

- Kenampakan umum. Sirup salak Bangkalan memiliki keunggulan pada kekentalan, aroma dan rasa. 2. Saluran Distribusi

Saluran distribusi sirup salak hingga saat ini masih bersifat lokal Bangkalan, apabila sampai ke daerah lain hanya melayani pesanan. Itu pun hanya dalam jumlah yang sangat kecil. Saluran distribusi perlu dikembangkan lebih jauh sehingga mampu menjangkau masyarakat dalam skup regional, nasional bahkan jika memungkinkan internasional. Pemasaran yang lebih luas diharapkan

mampu meningkatkan produksi sirup Salak yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

3. Promosi

Promosi yang besar akan meningkatkan loyalitas konsumen sehingga industri akan tetap terus berjalan dan berkembang dengan pesat. Dengan mengembangkan citra yang unik, maka sirup salak akan terus dikenang dan dikonsumsi oleh masyarakat. Promosi bisa dilakukan

(8)

dengan menggunakan selebaran, pamflet dan diskon.

4. Harga

Menekan harga jual merupakan salah satu langkah untuk memperbesar pangsa pasar, selain itu bisa dilakukan dengan memberi diskon-diskon yang tidak melampaui harga pokok atau harga minimal atau dengan permainan harga. Harga disesuaikan dengan kemampuan daya beli masyarakat.

b. Aspek Teknis 1. Proses produksi

Produksi sirup salak yang dilakukan di Bangkalan masih menggunakan teknologi yang sederhana dan dikerjakan secara manual. Oleh karena itu, pengembangan produksi sirup salak dilakukan dengan melakukan pendekatan sistematik dengan membuat peta kerja, yaitu peta proses operasi yang bertujuan untuk mengeliminasi atau mengurangi pekerjaan yang tidak penting, dan menyimpan dengan baik. Industri yang ada tidak mempunyai peta produksi sehingga belum mempunyai efisiensi mesin, peralatan yang ada dan alur inspeksi setiap proses belum jelas.

2. Uji Mutu

Selain aspek di atas, maka juga perlu diperhatikan adalah mutu produk yang menyangkut komposisi, peningkatan kualitas dan kuantitas, kemasan yang menarik, kandungan sirup ada tidaknya fiber atau serat. Pengembangan perlu dilakukan secara menyeluruh menyangkut bahan indrawi. Dengan demikian, maka dapat digunakan untuk mengetahui kesukaan atau selera masyarakat dalam rangka memperbaiki produk yang dikembangkan.

3. Luas Kapasitas

Luas kapasita atau kapasitas produk sirup salak selama ini mampu menampung permintaan disamping menampung tenaga kerja yang ada. Secara garis besar, kapasitas industri sirup salak melihat lingkungan dan menilai bukan dari satu aspek tapi beberapa aspek yang berkaitan, yaitu aspek pasar, teknis dan finansial.

4. Layout Pabrik

Tata letak industri sudah cukup baik karena dapat meminimalisasi biayas dan arus produksi. Untuk pengembangan lebih baik, maka akan lebih baik jika menggunakan diagram aliran agar lebih terstruktur dan

(9)

terkoordinasi antara satu alat dengan alat lain.

c. Aspek Finasial

Untuk menghasilkan sebuah produk, maka perusahaan akan mengeluarkan biaya. Biaya produksi timbul karena adanya kebutuhan bahan dasar yang digunakan untuk menghasilkan produk. Sehingga hubungan antara output dengan input produk merupakan hubungan yang linier, artinya semakin besar ourput yang dihasilkan semakin besar pula input yang dibutuhkan sehingga akan memperbesar finansial yang dikeluarkan. Begitu juga dengan keuntungan, pengembalian investasi akan semakin cepat dan industri akan berkembang dengan pesat.

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa industri sirup salak mempunyai pangsa pasar yang normal dengan kebutuhan rata-rata dalam setahun sebesar 900 botol. Aspek teknis menunjukkan bahwa kapasitas produksi industri salak sebesar 437 unit per tahun. Segi aspek finansial, industri ini menghasilkan profit sebesar Rp. 2.051.000,- per tahun dengan produksi sebanyak dua kali. Berdasarkan kriteria investasi menunjukkan bahwa payback

periode selama 1,2 tahun, koefisien profitability index sebesar 5,1, memberikan net present value sebesar Rp. 1.526.115,-,

indikator internal rate of return sebesar 25%, dan benegit cost rasio sebesar 1,2. Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut, maka industri sirup salak Bangkalan layak dikembangkan lebih lanjut.

Untuk meraih peluang permintaan, maka perusahaan harus meningkatkan usaha pemasaran produk seperti promosi dan saluran distribusi. Disisi lain, agar industri sirup salak lebih berkembang seharusnya pengusaha memperhatikan selera konsumen dengan meningkatkan mutu produk menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2005. Dinas Pertanian dan

Peternakan Kabupaten Bangkalan.

Bangkalan.

Baroto, T. 2002. Perencanaan dan

Pengendalian Produksi. Chalia

Indonesia. Jakarta.

Ferdinan, A. 2002. Structur Equation

Modelling. BPFE Universitas

Diponegoro. Semarang.

Masduki. 2003. Produktivitas dan

Peningkatan Ekonomi. Suara

Merdeka. Semarang.

Sinungan. 2003. Produktivits : Apa dan

Bagaimana Mestinya. Bumi Aksara.

(10)

Sulistyowati. 2001. Membuat Keripik Buah

dan Sayur. Puspa Swara. Jakarta.

Syafar, A. 2004. Analisis Manajemen

Sumber Daya Manusia. Tidak

Dipublikasikan. JBPT ITB Bandung.

Trihendrardi, Cornellius. 2004. SPSS 14 :

Teori Dasar dan Aplikasi. Andi

Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan membaca teks yang memuat ukuran berat benda, siswa dapat menyebutkan ukuran berat benda yang satu lebih berat daripada benda yang lain dengan benar.. Dengan membaca teks

Bahkan bila kita amati masih banyak lagi film-filam yang dikonsumsi oleh pemirsa (mad’u) seperti film Rahasia Illahi, Demi Masa, Insyaf, Taubat, dan masih banyak lagi film yang

Berdasarkan simpulan tersebut, maka dapat disarankan kepada (1) para guru untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berbasis penilaian kinerja dalam

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa data merupakan suatu kejadian yang menggambarkan kenyataan yang terjadi dimasukkan melalui elemen input kemudian data tersebut

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita telah memberikan hak kepada warga negaranya untuk melapor atau mengadu apabila mereka melihat,

Dengan menggunakan CFD, kita dapat mensimulasikan aliran batu bara pada saat melewati V Flow, sehingga kita dapat mengetahui bentuk konstruksi yang paling optimal

[r]

Keterangan Level Sebuah rancangan anggaran tambahan (suplemen) diperlukan sebelum perubahan material terhadap total belanja yang dianggarkan sebelumnya atau secara