• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN KELOMPOK KECIL DENGAN PENGUATAN PENDAMPINGAN KELUARGA PADA PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBELAJARAN KELOMPOK KECIL DENGAN PENGUATAN PENDAMPINGAN KELUARGA PADA PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN KELOMPOK KECIL DENGAN PENGUATAN PENDAMPINGAN KELUARGA PADA PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR

Oleh : Eni Utami, M.Pd

Pamong Belajar Madya ABSTRAK

Tujuan dari model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendidikan keluarga pada pendidikan keaksaran dasar bertujuan : 1). Membantu memperlancar proses penyelenggaraan pembelajaran keaksaraan dasar; 2). Mengimplementasikan langkah-langkah penggunaan pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar; 3). Mengimplementasikan capaian pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar; 4). Mengimplementasikan pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar.

Penyusunan model ini diawali dengan studi pendahuluan secara daring ( video conference ) dengan dibantu penyebaran instrumen. Kegiatan validasi judul dilaksanakan pada tanggal 6 juli 2020 dihadiri oleh direktorat PMPK dan memperoleh judul “Pembelajaran Kelompok kecil dengan Penguatan Pendampingan Keluarga pada Pendidikan Keaksaraan Dasar ‘’ pada tanggal 14 September melaksanakan FGD draf model secara dari dihadiri narasumber dari PMPK Ibu Johan Winarni, M.Pd.

Tahapan selanjutnya dilaksanakan orientasi dan ujicoba operasional di Kabupaten Kuburaya dan Kabupaten Sintang yang dilaksanakan pada tanggal 21 s/d 30 September 2020 pelaksanaan orientasi dan melaksanakan ujicoba konseptual pada bulan oktobrt 2020. Kemuadian dilanjutkan dengan orientasi dan ujicoba operasional yang dilaksanakan di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kuburaya dilaksanakan pada tanggal 9 s/d 18 November 2020.

A. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam meningkatkan kualitas manusia. Melalui pendidikan masyarakat dapat mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Selain itu, pendidikan juga dapat memberikan manfaat berupa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, serta meningkatkan kwalitas hidup. Pendidikan juga merupakan salah satu sarana untuk menanggulangi kemiskinan, meningkatkan kesadaran dan kesetaraan gender, memahami niai-nilai dan keberagaman budaya serta meningkatkan keadilan sosial.

Untuk memberikan layanan pendidikan pada masyarakat pada jenjang usia 15-59 tahun maka pendidikan yang diberikan adalah layanan pendidikan keaksaraan dasar. Layanan pelaksanaan penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan dasar dalam rangka penuntasan buta aksara dilakukan atas kerja sama dengan satuan pendidikan non formal yang berada di kabupaten / kota di Kalimantan Barat dengan dukungan anggaran baik dari APBD maupun dari APBN setiap tahunnya, kemudian dilakukan perhitungan pencapaian sasaran program pendidikan keaksaraan dasar yang dapat dihitung dari jumlah peserta didik yang sudah mampu membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa Indonesia atau bagi peserta didik yang mampu mendapatkan SUKMA diakhir program.

Pendidikan keaksaraan dasar adalah layanan pendidikan bagi warga masyarakat buta aksara latin pada usia 15-59 tahun, prioritas pada usia 45 tahun ke atas agar memiliki sikap,

(2)

pengetahuan, keterampilan dalam menggunakan Bahasan Indonesia membaca, menulis dan berhitung untuk mendukung aktifitas sehari-hari dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sehingga dapat mengaktualisasikan diri.

Pendidikan keaksaraan tidak bermakna apabila berdiri sendiri. Pendidikan keaksaraan akan berdampak sangat luas dan menjadi lokomotif dalam perbaikan sosial, ekonomi, dan budaya. Pendidikan keaksaraan dapat menjadi instrumen penting dalam rangka perbaikan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan program pembelajaran yang tepat dengan melibatkan masyarakat sekitar agar timbul kesadaran, pemberdayaan dan mandiri. Pendidikan keaksaraan merupakan suatu pendekatan untuk mengembangkan kemampuan warga belajar dalam menguasai dan menggunakan membaca, menulis dan berhitung ( calistung), berpikir, mengamati, mendengar dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan. Tujuan pendidikan keaksaraan yaitu mengupayakan kemampuan, pemahaman, serta penyesuaian diri guna mengatasi kondisi hidup dan pekerjaannya. Pendidikan keaksaraan tidak hanya membelajarkan calistung tetapi juga membelajarkan pemanfaatan hasil belajar untuk kehidupan.

Berdasarkan data Susena tahun 2019 secara Nasional angka prosentase buta aksara di Indonesia usia 15 – 59 tahun sebesar 1,78% ( 3.053.353 orang ) yang ada di Indonesia dengan gambaran sebagai berikut :

Gambar 1

Data Prosentase Buta Aksara Secara Nasional Tahun 2019

Terdapat 6 provinsi yang memiliki persentase buta aksara tertinggi ( zona merah ) di atas 3%, yaitu Papua sebesar 21,90% ( 484.592 orang) , Nusa Tenggara Barat sebesar 7,46% ( 227,888 orang ), Nusa Tenggara Timur sebesar 4,24%( 173,466 orang ), Sulawesi Selatan sebesar 4,22% ( 39.098 orang ), Sulawesi Barat sebesar 3,98% ( 252.539 orang ) dan presentase terendah berada pada provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,81% ( 133.988 orang).

(3)

Pada provinsi Kalimantan Barat presentase buta aksara usia 15 – 59 tahun sebesar 3,81 % ( 133.988 orang ) dimana angka ini berada diatas rata-rata nasional 1,78% ( 3.053.353 ). Hal ini berarti jumlah persentase buta aksara di provinsi Kalimantan Barat lebih besar jika dibandingkan rata-rata nasional. Dilihat dari sebaran di masing-masing wilayah, persentase buta aksara tertinggi berada di wilayah Kab. Kayong Utara sebesar 10,17% (6.964 orang ), diikuti Ka. Bengkayang sebesar 5,66% ( 8.778 orang ), kemudian Kab. Sintang 5,51% ( 14.425 orang ) dan presentase terendah adalah Kota Pontianak sebesar 1,59% ( 6.725 orang ).

Salah satu upaya yang diakukan untuk menuntaskan permasalahan buta aksara di Provinsi Kalimantan Barat adalah dengan mengadakan penyelenggaraan pembelajaran program pendidikan keaksaraan dasar yang bertujuan untuk melayani penduduk buta aksara supaya memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung dalam bahasa Indonesia.

Tabel 3 Rincian

Kab/Kota yang mendapat anggaran BOP Keaksaraan Dasar Tahun2020

N0 Kabupaten /Kota Jumlah Kuota Ket

1 Sambas 800 2 Sanggau 800 3 Sintang 800 4 Ketapang 800 5 Bengkayang 1.100 6 Landak 800 7 Melawi 1.100 8 Kayong Utara 1.300 9 Kubu Raya 1.000 10 Kota Singkawang 400 Sumber : Direktorat Diksus dan Dikmas

Dari kab/kota yang satuan pendidikan menyelenggarakan program Pendidikan Keaksaraan Dasar tersebut kami gunakan untuk melaksanakan ujicoba konseptual dan operasional pengembangan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar yang dikembangkan oleh Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kalimantan Barat dengan tujuan model tersebut dapat membantu satuan pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar dapat terbantu pelaksanaannya pembelajarannya sehingga dapat menuntaskan pembelajarannya dan warga belajar selesai dalam mengikuti pembelajaran.

(4)

B. KAJIAN PUSTAKA

1. Pembelajaran Kelompok kecil

Pembelajaran kelompok kecil pada dasarnya merupakan bagian integral dari pembelajaran kooperatif. Untuk memahaminya lebih jauh, pada BAB ini akan dikaji secara deduktif.

Metode belajar bersama-sama dalam kelompok sudah biasa ditemui dalam proses belajar mengajar. Namun sering kali pelaksanaan metode ini berjalan tidak efektif karena kurangnya pemberdayaan setiap peserta didik/warga belajar dalam kelompoknya. Belajar kooperatif dapat mengoreksi kekurangan dari metode belajar kelompok ini melalui teknik dan prosedur tertentu.

Menurut Dewi Salma Prawiradilaga (2014:305) bahwa belajar kooperatif dapat dipandang sebagai suatu strategi pembelajaran yang menekankan kegiatan belajar peserta didik dalam tim. Seluruh anggota tim bertanggung jawab atas kesuksesan setiap anggotanya selain keberhasilan masing-masing sebagai individu. Komposisi tim berasal dari berbagai tingkat kemampuan yang beragam.

Hasan, 1996 dalam Dr. Rusman, M.Pd (2014:204) mendefinisikan belajar kooperatif sebagai pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yakni :

1. Adanya peserta didik dalam kelompok. 2. Adanya aturan main (rule) dalam kelompok. 3. Adanya upaya belajar dalam kelompok.

4. Adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Ditinjau dari jumlah peserta didik dalam satu tim setiap model belajar kooperatif memiliki struktur keanggotaan yang berbeda dengan rentang antara 2-6 orang peserta didik. Ditinjau dari kegiatan yang diarsipkan, belajar kooperatif dirancang dalam bentuk permainan, pengembangan kreativitas, pelaksanaan proyek atau pemecahan masalah tertentu (Dewi Salma Prawiradilaga, 2014:314).

Roger dan David Johnson dalam Dr. Rusman, M.Pd (2014:212) menyatakan ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :

1. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya.

3. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari kelompok lain.

4. Partisipasi dan komunikasi (participation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam pembelajaran.

(5)

5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu : penjelasan materi, belajar kelompok, penilaian dan pengakuan tim.

Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif. Jenis-jenis model tersebut menurut Dr. Rusman, M.Pd (2014:213-225) adalah sebagai berikut :

1. Model Student Teams Achievement Division (STAD). 2. Model Jigsaw.

3. Investigasi kelompok.

4. Model make a match (membuat pasangan). 5. Model TGT (Teams Games Tournaments). 6. Model Struktural.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli dan hasil analisis kualitatif dan kuantitatif pada penelitian pendahuluan yang kami lakukan, tim pengembang memutuskan untuk mempergunakan pembelajaran dikelompok kecil dengan pertimbangan sebagai berikut : a. Model tersebut belum pernah ada yang mengembangkan

b. Tempat tinggal pendidik jauh dengan peserta didik c. Tempat tinggal peserta didik juga terpencar-pencar d. Kondisi darurat untuk melaksanakan pembelajaran e. Mempermudah mengkoordinir pembelajaran

f. Mempermudah mencapai tujuan belajar yaitu peserta didik dapat membaca, menulis dan berhitung sesuai dengan kosakata bahasa Indonesia yang baku.

Dari kesimpulan diatas maka pengembang mengambil keputusan bahwa pembelajaran kelompok kecil adalah pembelajaran yang peserta didiknya satu kelompok berjumlah sepuluh orang dibagi menjadi dua kelompok kecil dengan satu kelompok berjumlah lima orang dengan kemampuan dalam hal membaca, menulis dan berhitung mendekati sama.

2. Pendidikan Keaksaraan

Keaksaraan sebagai suatu konsep memiliki makna yang sangat luas, dinamik dan selalu berubah, karena pemahaman terhadap keaksaraan dipengaruhi oleh pengalaman personal, pemikiran, temuan-temuan penelitian, kebijakan pemerintah dan nilai-nilai budaya di masyarakat. Keaksaraan (literacy) secara sederhana diartikan sebagai kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung. Bagi orang dewasa yang buta aksara, kecakapan keaksaraan tidak hanya sekedar dapat membaca, menulis dan berhitung akan tetapi lebih menekankan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengertian di atas maka pengertian pendidikan keaksaraan dasar adalah layanan Pendidikan bagi penduduk buta aksara agar memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa Indonesia dan menganalisis sehingga memberikan peluang untuk aktualisasi potensi diri.

Pendidikan keaksaraan dasar bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca, menulis dan berhitung warga masyarakat buta aksara, agar melek aksara latin

(6)

dan angka arab, serta meningkatkan kemampuan agar melek Bahasa Indonesia dan pengetahuan dasarnya sehingga mutu dan taraf hidupnya menjadi lebih baik.

Penyelenggara program pendidikan keaksaraan dasar berasal dari unsur masyarakat atau unsur lain yang peduli terhadap permasalahan buta aksara, baik perorangan maupun secara lembaga. Secara kelembagaan Pendidikan keaksaraan dasar dapat dikelola oleh:

a. Satuan Pendidikan Non Formal: PKBM, LKP, Kelompok Belajar dan Majelis Taklim; b. Satuan Pendidikan Non Formal Sejenis: Rumah Pintar, Balai Belajar Bersama,

Lembaga Bimbingan Belajar, Sanggar Kegiatan Belajar, Pesantren serta bentuk Lembaga lain yang berkembang di masyarakat.

c. Satuan Pendidikan Formal: SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK, dan Perguruan Tinggi (untuk kondisi tertentu).

Metode, Media dan Sumber Belajar Pendidikan keaksaraan Dasar

Keberhasilan Pendidikan keaksaraan dasar sangat dipengaruhi oleh metode, media dan sumber belajar dalam melaksanakan pembelajarannya. Pendekatan dan strategi belajar pendidikan keaksaraan dasar antara lain: Participatory Rural Apprasial (PRA), Reflect, Probling Possing, Belajar Dari Pengalaman Sendiri (BDPS), Pembelajaran Berbasis Teks. Metode belajar yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan keaksaran dasar yaitu: Metode Abjad, Transliterasi, Kata Kunci, Drill, Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB), Global, Struktur Analitik Sintetik (SAS), dan Assosiasi. Bentuk media pembelajaran Pendidikan keaksaraaan dasar yang digunakan dalam pembelajaran keaksaraan dasar antara lain: Poster tunggal, Poster seri, Poster abjad, Poster lipat, Kartu tempel. Sumber-sumber belajar dalam pembelajaran Pendidikan keaksaraan dasar berbentuk antara lain: formulir-formulir, artikel dan surat kabar /majalah, media elektronik, lingkungan alam sekitar, benda, Orang memiliki keahlian tertentu, buku yang dapat dibaca peserta didik, peristiwa dan fakta yang terjadi

Kurikulum Pendidikan keaksaraan dasar merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi, didalamnya mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam hal membaca, menulis, dan berhitung dengan menggunakan Bahasa Indonesia untuk aktifitas kehidupan sehari-hari sehingga dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas kehidupan peserta didik program keaksaran dasar. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ketuntasan belajar pendidikan keaksaraan dasar adalah 114 jam @60 menit yang terbagi menjadi 80 jam waktu memcaca dan menulis, serta 34 jam untuk belajar berhitung

3. Penguatan Pendampingan Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari beberapa orang yang terkait hubungan darah dalam pernikahan, berkumpul dan tinggal di satu tempat /atap dalam keadaan saling ketergantungan dan bertanggungjawab terhadap pengasuhan, perawatan dan pendidikan anak-anak dan merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan orang tua merupakan pendidik paling utama. Akan tetapi dalam kenyataannya ada sebagian dari keluarga yang tidak siap sebagai pendidik yang utama dikarenakan keterbatasannya dalam pendidikan , yaitu ada keluarga yang menyandang buta huruf. Oleh karena itu pengertian keluarga didalam pendampingan pendidikan keaksaraan dasar disini penulis simpulkan bahwa anggota keluarga atau orang terdekat yang mampu untuk

(7)

membantu peserta didik pendidikan keaksaraan dasar dalam mendampingi pembelajaran yang dilanjutkan setelah melaksanakan proses belajar dengan pendidik /pendidiknya.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar. Sesuai dengan tujuan tersebut maka metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian pengembangan ( reseach and developmen). Metode penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan dari produk tersebut.

Menurut Borg and Gall ( 2003) prosedur pengembangan dengan sepuluh langkah penelitian, yang dirangkum dalam empat langkah sesuai dengan Perdirjen nomor 2 tahun 2016, antara lain :

Pertama, melaksanakan studi pendahuluan dan studi kepustakaan yang selanjutnya dilakukan FGD studi pendahuluan dan validasi judul.

Kedua, penyusunan draf model konseptual, fgd draf model konseptual, revisi dan validasi draf model konseptual oleh akademisi dan praktisi, orientasi dan ujicoba konseptual yang melibatkan akademisi, praktisi yang sesuai dengan model yang dikembangkan serta calon pengguna dari model tersebut (tutor keaksaraan dasar dan peserta didik /warga belajar), dalam tahap ini dilakukan uji keefektifan, kemenarikan dan keterlaksanaan dari model dan perangkatnya yang kemudian dilaksanakan review /revisi hasil ujicoba konseptual oleh tim pengembang, akademisi dan praktisi. Kegiatan orientasi dan ujicoba konseptual ini dilaksanakan pada 3 wilayah yang berbeda.

Ketiga, melakukan orientasi dan ujicoba operasional, pada tahap ini juga dilaksanakan uji keefektifan, uji kemenarikan dan uji keterlaksanaan. Ujicoba operasional dilaksanakan dengan menetapkan pada dua kelompok yaitu kelompok kelas kontrol dan kelompok kelas eksperimen kedua kelompok tersebut terdapat pada tiga wilayah yang berbeda. Ujicoba operasional dilaksanakan di kabupaten Sambas dan Kabupaten Kuburaya di kelompok pembelajaran SKB dan PKBM yang menyelenggarakan pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar, dengan menggunakan kelas kontrol 30 warga belajar dan kelas ekperimen 30 warga belajar. Pada kelas eksperimen dilaksanakan test awal selanjutnya dilakukan test akhir. Hasil dari test awal dan test akhir dianalisis dengan uji t (SPSS). Dalam pelaksanaan ujicoba operasional juga dilaksanakan monitoring pelaksanaan ujicoba operasional dengan menggunakan instrumen monitoring.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Validasi Konseptual

Validasi konseptual dilaksanakan di 3 wilayah yang berbeda yaitu di Kabupaten Kuburaya, dan kabupaten Sintang pada lembaga SKB dan PKBM yang menyelenggarakan pembelajaran keaksaraan dasar.

a. Hasil uji keefektifan dengan hasil sangat efektif , uji kemenarikan dengan hasil sangat menarik dan uji keterlaksanaan dengan hasil sangat bisa dilaksanakan.

(8)

1) Hasil analisis t-test sampel independen (independent sample Test) pada saat test awal (Pre Test) yaitu mean kelompok eksperimen 21,60 dan mean kelompok kontrol 21,33. Hasil uji t-test sampel independent dihasilkan F hitung 0, 734 tingkat signifikansi (Sig. 0,395).

Group Statistics

Uji Beda_Pre_Tes N Mean Std. Deviation

Std. Error Mean

Pre_test Klp.Eksperimen 30 21,60 8,950 1,634 Klp.Kontrol 30 21,33 7,954 1,452

Dengan demikian tidak ada perbedaan yang signifikan kemampuan warga belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dalam penguasaan membaca, menulis dan berhitung sebelum dilaksanakan pembelajaran.

2) Hasil analisis t-test sampel berpasangan (paired samples test) pada tes awal dan tes akhir pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa perbandingan mean tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen sebesar 23,77 berbanding 71,60. Hasil analisis t-test sampel berpasangan menunjukkan tingkat signifikansi (Sig. = 0,000) berarti terdapat berbedaan yang signifikan sebelum pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga dengan setelah meggunakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga, kemampuan dan penguasaan warga belajar meningkat secara signifikan.

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1

Skor Post Tes Klp Eksperimen

71,60 30 6,468 1,181

Pre Test Klp Eksperimen

23,77 30 3,481 ,636

Selanjutnya hasil analisis t-test sampel berpasangan (paired samples test) pada tes awal dan tes akhir pada kelompok kontrol menghasilkan mean tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen sebesar 24,27 berbanding 63,47. Hasil analisis t-test sampel berpasangan menunjukkan tingkat signifikansi (Sig. = 0,000) berarti terdapat berbedaan yang signifikan sebelum pembelajaran menggunakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga dan setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga dengan setelah menggunakan model

(9)

pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga kemampuan dan penguasaan warga belajar terhadap pembelajaran meningkat secara signifikan. Namun demikian kenaikan skor test akhir kelompok kontrol tidak setinggi skor test akhir kelompok eksperimen.

Paired Samples Statistics

Mean N Std.

Deviation

Std. Error Mean

Pair 1

Skor Post Tes Klp Kontrol

63,47 30 8,278 1,511

Skor Pre Test Klp Kontrol

24,27 30 5,349 ,977

3) Hasil analisis t-test sampel independent (independent sample Test) skor tes akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah dilaksanakan Pembelajaran model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga Pendidikan Keaksaraan, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Skor rata-rata kelompok eksperimen 72,53 lebih tinggi dibandingkan skor rata-rata kelompok kontrol 63,47. Dengan demikian pengusaan dan kemampuan kelompok eksperimen terhadap pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Hasil uji t-test sampel independent dihasilkan F hitung 5,129 tingkat signifikansi (Sig. 0,027). Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan warga belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dalam penguasaan pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada Pendidikan Keaksaraan Dasar. Kelompok ekperimen lebih tinggi kemampuan dan penguasaan pembelajarannya.

2. Validasi Operasional

Validasi operasional dilaksanakan di 3 (tiga) wilayah yaitu wilayah Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kuburaya

a. Hasil uji keefektifan dengan hasil sangat efektif , uji kemenarikan dengan hasil sangat menarik dan uji keterlaksanaan dengan hasil sangat bisa terlaksana.

b. Hasil analisis operasional

Sebelum dilaksanakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar terlebih dahulu dilakukan test awal (Pre Test) untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Hasil analisis t-test sampel independen (independent sample Test) menunjukkan mean kelompok eksperimen 35,93 dan mean kelompok kontrol 30,80. Hasil uji t-test sampel independen dihasilkan F hitung 1, 781 tingkat signifikansi (Sig. 0,187).

(10)

Group Statistics

Uji beda Klp Eks dan Kontrol N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Pre_test Klp.Eksperimen 30 35,93 13,498 2,464 Klp.Kontrol 30 30,80 11,272 2,058

Dengan demikian tidak ada perbedaan yang signifikan kemampuan warga belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dalam penguasaan membaca, menulis dan berhitung.

c. Analisis data menggunakan rumus t-test sampel berpasangan (paired samples test) pada tes awal dan tes akhir pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa perbandingan mean tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen sebesar 35,93 berbanding 75,43. Hasil analisis t-test sampel berpasangan menunjukkan tingkat signifikansi (Sig. = 0,000) berarti terdapat berbedaan yang signifikan sebelum pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga dan setelah pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada saat uji coba operasional. Setelah meggunakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga, kemampuan dan penguasaan warga belajar terhadap pembelajaran pendidikan keaksaraan Dasar meningkat secara signifikan.

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1

Skor Post Tes Klp Eksperimen

75,43 30 3,963 ,723

Pre_Test_Klp_Ekspe rimen

35,93 30 13,498 2,464

Selanjutnya hasil analisis t-test sampel berpasangan (paired samples test) pada tes awal dan tes akhir pada kelompok kontrol menunjukkan mean tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen sebesar 30,80 berbanding 65,73. Hasil analisis t-test sampel berpasangan menunjukkan tingkat signifikansi (Sig. = 0,000) berarti terdapat berbedaan yang signifikan sebelum pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga dan setelah pembelajaran kelompok kecil dengan

(11)

penguatan pendampingan keluarga pada saat uji coba operasional. Setelah meggunakan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga kemampuan dan penguasaan warga belajar terhadap pembelajaran meningkat secara signifikan. Namun demikian kenaikan skor test akhir kelompok kontrol tidak setinggi skor test akhir kelompok eksperimen.

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviati on Std. Error Mean Pair 1

Skor Post Tes Klp Kontrol

65,73 30 6,286 1,148

Pre Test Klp Kontrol 30,80 30 11,272 2,058

d. Analisis statistik menggunakan rumus t-test sampel independent (independent sample Test) bertujuan membandingkan skor tes akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah dilaksanakan pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Skor rata-rata kelompok eksperimen 75,43 lebih tinggi dibandingkan skor rata-rata kelompok kontrol 65,73. Dengan demikian pada saat ujicoba operasional menunjukkan bahwa penguasaan dan kemampuan kelompok eksperimen terhadap pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Group Statistics

Uji beda_Klp Eks dan Kontrol N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Post_test Klp.Eksperimen 30 75,43 3,963 ,723 Klp.Kontrol 30 65,73 6,286 1,148 E. PENUTUP

Kesimpulan dari hasil pelaksanaan pengembangan model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar adalah : 1. Bahwa untuk membantu memperlancar proses penyelenggaraan pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar sangat diperlukan model pembelajaran yang tepat yang dapat mendukung untuk mempercepat dan mempermudah pembelajaran keaksaraan dasar sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

2. Implementasi model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar melalui kegiatan dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap tindak lanjut, dan model pembelajaran tersebut dijabarkan pada kegiatan pelaksanaan Rencana Kegiatan Pembelajaran ( RPP ).

3. Model pembelajaran kelompok kecil dengan penguatan pendampingan keluarga pada pendidikan keaksaraan dasar dalam penyusunannya mengacu pada

(12)

Permendikbud Nomor 86 Tahun 2014 Pendidikan Keaksaraan Dasar. Hasilnya terdiri dari model dan perangkatnya yang terdiri dari :

a) Model Pembelajaran b) Silabus

c) RPP

d) Bahan Ajar

e) Panduan Penilaian

4. Harapannya model yang dihasilkan dapat membantu satuan pendidikan dalam menyelenggarakan pembelajaran pendidikan keaksaraan dasar sehingga proses pembelajaran berjalan dengan cepat dan dapat mengatasi permasalahan sekarang yaitu saat pandemi covid 19

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian P&K, 2014 Permendikbud Nomor 86 tahun 2014, Jakarta : Kementerian P&K ______________, 2016, Panduan Penyelenggaraan Penilaian Akhir Keaksaraan Dasar, Jakarta :

Dirjen PAUD dan Dikmas

______________, 2017, Silabus Pendidikan Keaksaraan Dasar, Jakarta : Dirjen PAUD dan Dikmas ______________, 2017, Juknis Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan,

Jakarta: Dirjen PAUD dan Dikmas

_____________, 2018, Panduan Penyelenggaraan Keaksaraan Dasar, Jakarta : Dirjen PAUD dan Dikmas

Robert E. Slavin, 2010, Cooperative Learning, Bandung : Nusa Media

Rusman, 2016, Model-Model Pembelajaran, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Sugiono, 2016, Metode Penelitian dan Pengembangan, Bandung ; CV. Alfaberta _______, 2014, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung ; CV. Alfaberta

Gambar

Tabel 3  Rincian

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Menteri Kesehatan No 49 Tahun 2013 tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit menyatakan bahwa setiap rumah sakit harus membentuk komite keperawatan dan wajib

Selain itu ketiga benteng itu (Benteng Rotterdam, Benteng Vredeburg, Benteng Vastenburg) bentuknya sangat mirip yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka

Kebocoran pada ulangan ketiga hanya ditemukan pada renceng sachet yang berasal dari filling tube 6 dengan jumlah yang bocor sebanyak 3 renceng.. Ulangan

danDefuzzifikasidari hasil penilaian pelamar pada masa training guna menunjang keputusan untuk pengambilan keputusan seleksi kedua, di samping menampilkan hasil

kontrol fuzzy kita gunakan diringkas dalam Tabel 1 yaitu, jika Tingkat Penjualan Rendah (Low) dan Stok Barang Menengah (Medium) maka Tingkat Diskon adalah Menengah

planci yang direpresentasikan oleh diameter dan berat tubuh, jumlah lengan, sedangkan kepadatan, distribusi dan jenis karang yang dimangsa oleh hewan ini di rataan

Bagi pembaca dan peneliti sebagai tambahan referensi terkait dengan metode jaringan syaraf tiruan prog- ram Neurosolution 6 dan MATLAB 7.10.0 R2010a dapat

Dari gambar di atas juga bisa dilihat bahwa nilai R yang dihasilkan juga termasuk ke dalam kriteria yang sangat kuat, maka dari itu disimpulkan bahwa model yang